FALLING (CHAPTER THREE) BY ATTALOCKSMITH



CHAPTER 1 | CHAPTER 2

TITLE : FALLING

AUTHOR : ATTA

GENRE : ROMANCE, PAIN, YURI

DATE PUBLISHED : –

EMAIL TO CONTACT ME : attalocksmith@gmail.com

**

“You are my everything to me.. you are my everything to me..”

**

Preview Chapter 2 (Best Friends?)

 Sesekali ia tertawa melihat sosok itu tertawa dan sesekali ia terlihat tidak mempunyai ekspresi ketika berita hubungan Baekyeon tidak kunjung reda. Ia sangat merindukan sosok mungil itu, sosok yang selalu menggodanya, sosok yang selalu memperhatikannya, ia sangat merindukan setiap sentuhan atau bahkan ketika kulit mereka bersentuhan sedikitpun. Ia sangat merindukan genggaman tangannya.

Ia terus memberi tahu dirinya sendiri ‘get over it’ tetapi itu bukan perkara yang mudah, setiap malam iahanya menghabiskan malamnya terlarut dalam fikirannya lalu menangis sejadijadinya tanpa ada satuorang pun yang mengetahuinya.

“Ddrrrrrrtt.” Bel pintu berbunyi pertanda ada seseorang yang datang, ia yakin itu pasti Managernya yang membawa sarapan untuknya. Dilangkahkan kakinya menuju pintu, tanpa ia memegang gagang pintu, pintu itu sudah terbuka. Betapa terkejutnya ia melihat sosok yang kini ada di hadapannya.

“Pannie-Ah…” Ujar sosok itu dengan matanya yang memerah seperti ingin menangis. Tiffany berjalan mundur menjauhi sosok itu. jangan. Jangan lagi. Ia sudah cukup tersakiti.

“Ada apa..” Lanjut sosok itu, bisa dilihat tangannya membawa bubur kesukaan Tiffany, di letakkannya di meja yang pendek itu. dengan cepat ia merengkuh tubuh Tiffany dalam pelukannya.

“Aku sangat merindukanmu!” Cetus sosok mungil itu, bisa dilihat ia terlihat menjijit kakinya untuk memeluk gadis berambut hitam itu.

“Kenapa kau tidak membalas satu pesanpun dariku…” Ujar gadis mungil itu sembari terisak.

“Kau tahu aku tidak bisa menjalankan satu haripun tanpamu. Ara!?” amarah serta kesedihan bercampur aduk menjadi satu membuat Tiffany merasa sesak karena sulit bernafas akan pelukan gadis mungil itu.

ia mencoba melepaskannya tetapi disisi lain ia sangat senang bisa merasakan sentuhan itu kembali, ia sangat senang masih bisa merakan pelukan itu disisi lain ia sangat sedih dan kecewa bahwa ia bertemu dengannya ketika ia belum bisa melupakannya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba melepaskan pelukan itu.

“Andwae! Ada apa denganmu!? Aku sangat merindukanmu!” Suara sosok mungil itu semakin meninggi, ia sangat marah dan kecewa pada gadis yang sedang ia peluk.

“Nado……” jawab Tiffany lalu meneteskan airmatanya dan membalas pelukan gadis mungil itu perlahan, perlahan juga ia memeluk gadis mungil itu sangat kencang.

“Kau membuatku bingung tae….”

Mendengar itu Taeyeon perlahan melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Tiffany.

“Apa maksudmu? Aku merindukanmu.” Taeyeon masih menatap Tiffany sebaliknya Tiffany.

“Kau membuatku bingung akan perasaanku. Aku tidak tahu kapan persisnya perasaan ini datang. Yang aku tahu, aku sangat menyayangimu, aku sangat merindukanmu, aku merindukan pelukanmu, aku rindu bagaimana kau menggenggam tanganku. Kau.. selalu memperhatikanku, kau selalu membuatku senang dan tersenyum Tae.. kau juga yang membuat ku sakit..”

“Biar bagaimana pun tidak ada yang bisa aku lakukan selain memandangimu dari jauh.. memandangi mu bahagia bersama orang lain. Aku.. sangat sakit Tae. Hari dimana aku merasakan pelukanmu bukan pelukan yang biasanya.. pelukan mu membuat tidurku sangat nyaman.. kehangatan yang dibuatmu sangat membuat ku sangat nyaman Tae..”

“Kau tahu siapa yang aku maksud di foto itu..? yang menyakitiku? Sekarang kau tahu jawabannya bukan..? you gave me so much butterflies Tae. But you also gave me that pain..kau membuatku bingung.. disisi lain kau selalu membuatku bahagia tetapi setelah itu tibatiba kau membuatku sangat sakit.. “

“Kau memperkenalkanku sebagai sahabatmu.. dan itu sangat menyakitkan bagiku karena kita memang hanya sebatas sahabat.. ini menyakitkan ku lebih lagi ketika aku tahu bahwa aku tidak bisa memilikimu, Tae.. “

“When you were introduced me as your best friend, I always hated that you were only my best friend. I wanted something more between us, I wanted you. However, I told myself that this was just a stupid one-sided crush that I have on you, but it apparently ir isn’t. setiap kali aku melihatmu kelelahan karena jadwal atau lainnya, aku ingin menjadi penghilang rasa lelah dan stressmu.. seperti yang kau lakukan kepadaku..”

“Apa maksudmu…”

“AKU MENCINTAMU KIM TAEYEON! TIDAK BISAKAH KAU MELIHAT ITU!?”

**

CHAPTER 3

 

(You are my everything to me.)

 

**

Sepertinya jantung seseorang kini sedang berdetak, bukan, bukan punya Tiffany, tetapi Taeyeon. Keduanya bergeming. Tidak ada satupun diantara mereka mengeluarkan satu kata patahpun. Tiffany masih diam sementara air matanya terus mengalir, begitupun dengan Taeyeon, wajahnya Nampak mengekspresikan rasa terkejutnya sembari menumpahkan air matanya.

Detik kemudian, Taeyeon mulai menggerakan kakinya.. kebelakang. Sementara “Sahabat” nya ituterus mengikuti langkahnya untuk mendekatinya. ‘Jangan, bukan ini yang kumau’. Hati Tiffany tidak bisa menahannya.

“Jangan berani kau melangkahkan satu langkah kebelakang lagi Tae!” Sahut Tiffany, kini perasaannya campur aduk, sedih, marah juga sekaligus takut ia akan kehilangan sosok yang sangat di sayanginya akibat perkataannya beberapa menit yang lalu.

“Aku mohon jangan seperti ini..” Tiffany menundukan kepalanya berusaha berbicara setenang mungkin. Ia sangat takut akan Taeyeon yang sedang berada di hadapannya dengan tatapan tidak percaya.

Taeyeon merasa dirinya benar benar jahat, bagaimana bisa ia tidak merasakan itu.. sekali lagi kakinya melangkah kebelakang, dilihatnya sahabatnya itu terus menumpahkan air matanya, hatinya sakit melihat nya menangis, hatinya sakit melihat ia sakit. Bodoh. Hanya itu yang terlintas difikirannya tentang dirinya sendiri. Betapa bodoh nya dia tidak mengetahui tentang sahabat yang sudah lama bersamanya selama 10 tahun.

Keduanya kini terdiam. Tiffany benarbenar kehabisan katakata. Seakan mulutnya tibatiba tidak bisa bergerak dan mati rasa tetapi tidak dengan matanya yang sedari tadi mengeluarkan air mata itu. sementara Taeyeon terus menghindar, dan akhirnya ia menunduk.

“Maafkan aku.. Tiff.” Tiffany terbelalak mendengar Taeyeon memanggil namanya dengan benar, selama 10 tahun ia selalu mengganti ‘f’ dengan ‘p’ karena ketidak lancarannya Taeyeon dulu dalam huruf alphabet formal. Keduanya lalu berfikir sejak itu juga menandakan bagaimana dekatnya Taeyeon dan Tiffany dan seberapa dekat mereka.

“Buat apa meminta maaf.. kau sama sekali tidak salah, Tae..” Ujar Tiffany sembari terisak sesekali meminta Taeyeon untuk menatap matanya.

“Maafkan aku.. aku pasti sering menyakitimu..” Lanjut Taeyeon masih menunduk, air matanya seakan tidak mempunyai hulu untuk di akhiri. Detik selanjutnya, Taeyeon mendongakkan kepalanya dan mendapati Tiffany menggeleng pelan pertanda menolak pernyataan Taeyeon yang baru saja di katakannya sembari terus menangis.

Hatinya sakit, bukan, bukan karena ia tau ini adalah penolakan dari pihak lainnya, tetapi sakit karena Taeyeon mengira ia telah menyakitinya sementara Taeyeon lah yang selama ini membuat nya senang, membuat hari harinya terasa begitu ringan dan membuat senyum di wajahnya sampai pipinya sakit karena tersenyum.. dan itu semua karena Taeyeon..

“Appo.. Taeyeon-ah..” Ujar Tiffany sembari terus mengeluarkan air matanya, tangannya mencengkram baju di dadanya, kini matanya tidak berani bertemu mata yang selalu memberinya rasa sejuk itu.

“Neomu..Apaseo…” lirih Tiffany sembari menyeka air matanya. Taeyeon yang sedari tadi bergeming juga mulai menyeka air matanya. Sekali lagi, hatinya sakit melihat sahabatnya menangis..

Perlahan tapi pasti, kaki kaki itu sudah berada di depan pintu dan siap berlari sekencang mungkin. “And..w…a..e….” Tiffany yang baru beberapa detik yang lalu sudah menenangkan dirinya sendiri kini kembali terisak bahkan sesegukan.. seakan meminta Taeyeon untuk tetap disini.

“Maafkan aku..” Dengan secepat kilat, Taeyeon membuka pintu itu lalu membantingnya, ia lari dengan sekuat tenaga hingga menuju Lift, ia mencoba menenangkan dirinya, masih tidak percaya apa yang baru saja di lakukannya, ia kemudian menyeka air matanya dan langsung memakai kacamata hitam yang sedari tadi tergantung di kerah bajunya. Tentu saja ia tidak bisa keluar dari hotel ini dengan keadaannya tadi. Masih terbayang bagaimana keadaan Tiffany di benaknya

Hatinya sangat sakit melihat sahabatnya menangis seperti itu dan bahkan bertambah rasa sakitnya ketika ia mengetahui ialah alasan di balik kesedihan, perubahan pada Tiffany akhir akhir ini, ia terus menahan air matanya. Di langkahkan kakinya menuju luar gedung ini dan menuju mobil yang tidak terparkir jauh dari tempatnya..rasa bersalah menyeruak keseluruh tubuhnya..ia sadar ia meninggalkan luka yang sangat dalam pada sahabatnya… sahabatnya..

**

Bukan, bukan ini yang ia mau. Gadis itu terus memperhatikan jalan yang ada disebrangnya. Dengan masker Hitam dan Topi hitam yang menempel di kepalanya tidak mampu membuat orang orang di sekitarnya untuk tidak dapat mengenalinya. Orang orang terus mengambil beberapa momen nya yang terlihat seperti orang yang tidak mempunyai alasan untuk hidup. Beberapa orang yang berlalu sangat terkejut pasalnya salah satu member dari Group yang sangat terkenal itu sudah absen selama 2 minggu lamanya.

Sesekali ia menyeruput Pure Cocoa nya itu. hatinya masih sakit, mengingat kejadian itu, membuat matanya kembali memanas. Belum lagi gadis yang sangat di sayanginya tidak dapat dihubingi olehnya. Kini ia benarbenar kehilangan arah. Diraihnya kacamata Hitamnya segera yang sedari tadi hanya ia mainkan, maklum saja, matanya terlihat jelas bengkak karena menangis semalaman dan ia hanya bisa tertidur selama 3 jam.

“Tiff!” Tangan yang melambai dihadapan wajahnya membuyarkan lamunannya begitu saja, ia menoleh dan mendapati sahabatnya Hyoyeon yang sudah ada di depannya.

“Mianhe.. aku baru sampai dari Airport dan langsung menuju kesini” Lanjutnya lalu menarik kursi dan berhadapan dengan Tiffany. Ia hanya tersenyum melihat sahabat yang sudah hampir 2 minggu berada di Jepang.

“Dimana Taeyeon? Ia sangat mengkhawatirkanmu selama kami di jepang! Pagi, siang, malam yang ia bicarakan hanya namamu! Bukankah itu menyebalkan?” Jelas Hyoyeon lalu menyesap minuman yang ada didepannya dan ia sangat yakin minuuman itu dipesan untuknya, jelas sekali karena itu adalah minuman kesukaannya, tidak perduli dengan orang sekitar yang memperhatikan mereka, Hyoyeon bersikap seperti biasa.

“Sampai 4 hari yang lalu ia memutuskan untuk pulang lebih awal untuk menemuimu! Yakan? Dia benar benar merindukanmu Fanny-ah!”

Antusias Hyoyeon yang membuat orang sekitarnya sedikit terkejut karena melihat 2 artis papan atas di negri gingseng tersebut dengan santainya mengobrol dan tidak di awasi penjaga tertentu.

“Pelan pelan, aku tidak ingin semua orang mengetahuinya. Dan soal Taeyeon…”

Hyoyeon terdiam mendengar suara Tiffany yang terdengar parau, perlahan ia mulai berhenti meminum minumannya dan meletakannya di meja. Tidak lupa ia siap mendengarkan cerita sahabat yang di yakini nya sedang sepertinya tidak dalam mood yang bagus.

“Aku mengatakan semuanya..” Lirih Tiffany mencengkram erat botol minumnya, hatinya kembali teriris mengingat apa yang baru baru ini saja terjadi padanya.

“Cukup.” Jawab Hyoyeon seakan mengerti maksud Tiffany dan mengetahui bagaimana kelanjutan cerita sahabatnya, sudah jelas akhirnya bukan berita yang bagus melihat sahabatnya yang terlihat sangat sedih dan berantakan, emosinya bahkan tak karuan.

“Lebih baik kita ke SM, disini banyak orang.” Hyoyeon bangkit dari kursinya lalu menarik tangan Tiffany, sementara sahabatnya itu hanya menuruti perkatannya.

Tidak peduli seberapa banyak gambar yang sudah di ambil dan berapa banyak pasang mata yang melihat keadaan Tiffany seperti orang yang baru saja patah hati, Tiffany tetap tersenyum sesekali melambai kepada orang orang yang memanggil namanya.

**

Baru saja mobil gagah itu berhenti tepat di gedung dimana artis artis berbakat dilahirkan, sudah banyak yang mengambil beberapa gambar, gadis dengam rambut berwarna coklat itu lalu muncul dari pintu mobil itu. Suara riuh para penggemarnya semakin terdengar, ia hanya melemparkan senyumnya lalu berlalu memasuki gedung itu. dilangkahkan kakinya menuju satu ruangan dimana ia akan berlatih vokalnya untuk duet selanjutnya.

Ia terus mencoba membuang fikirannya tentang apa yang baru saja terjadi beberapa hari kemarin, ia terus mencoba melupakan hal itu, tetapi semakin ia berusaha membuangnya, semakin teringat kembali bagaimana setiap detiknya ketika ia melihat satusatunya gadis yang selama ini ia anggap sahabat menangis dan ia tau pasti ia telah menyakitinya, sangat, sangat menyakitinya.

Dilain sisi ia merasa itu adalah keputusan yang tepat, biar bagaimanapun ia benar benar hanya menganggap gadis itu sebagai sahabat dekatnya.. dan mungkin saja tidak lebih.. mungkin..? hatinya terus bertanya Tanya akan kepastiannya sendiri.

Dilain sisi ia merasakan hati nya yang teriris ketika bayangan itu kembali menghantuinya, dilain sisi juga, ia merasa hatinya tersayat sangat dalam membayangkan ia tidak akan bisa sedekat sebelumnya dengan-nya, bagaimana ia bisa menjalankan harinya tanpa sosok itu..? ia merasa..gundah. ia tidak tau harus berbuat apa.. ia tidak ingin menyakiti… Tiffany..

Taeyeon View

“Noona, kau melamun?” Suara yang sangat kukenal itu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, senyumnya mulai mengembang, detik selanjutnya ice cream vanilla itu sudah mendarat di meja yang berada didepanku, aku hanya dapat tersenyum melihat tingkahnya, perlahan kuarahkan kursi ku kearahnya.

“Aku membawakan Ice cream kesukaanmu, noona.” Cetusnya lalu duduk dihadapanku, disentuhnya kedua pipiku, matanya menatap mataku dalam, dengan sekerjap aku merasakan ada sesuatu yang baru saja mendarat tepat di bibirku.

“Yyyaa! Bisakah kau lihat situasi!?” sahutku lalu memukul pelan kepala bocah itu. dasar, Baekhyun. Baekhyun.. dia kekasihku, tepatnya kami baru menjalani hubungan beberapa waktu yang lalu, entah mengapa waktu itu aku merasa nyaman ketika bersamanya, matanya membuat ku merasa sangat tenang.

~chu

Ciumanku yang sedikit dalam mendarah di bibir pria itu. tentu si pria dengan senang hati menerimanya, tergurat senyum tipis di bibirnya, detik selanjutnya, aku melepasnya karena niatku hanya menggodanya, haha.

Ia terkekeh lalu tersenyum, kubalas dengan senyumanku, perlahan aku membuka bungkusan itu, kucicip sedikit demi sedikit ice cream itu. melihat Baekhyun tersenyum sembari memperhatikanku yang memakan ice cream pemberiannya ini.. rasanya sedikit berbeda. Kenapa rasanya berbeda.. kenapa hari ini aku merasa sangat kosong, seakan dunia ku sudah benar benar berubah. Aku merasa ada yang kurang..

“Yyya! Seharusnya Taeyeon-unnie tidak seperti itu pada Tippany-unnie!”

“Iya kan!? Aku juga berfikiran seperti itu! aku benar benar tidak menyukai hubungan Taeyeon dengan pria itu!” bisa kudengar suara Yoona diluar ruangan ini dan terlihat ia sedang berjalan melalui lorong itu setelahnya terdengar suara Sooyoung yang menjawab pertanyaannya, mungkin mereka tidak menyadari pintu ruangan ini terbuka sedikit lebar dan aku didalamnya. Aku rasa Tiffany sudah menceritakannya…

Tiffany.. sahabatku.. sahabat dekatku, aku menyakiti hatinya, sekali lagi.. aku menyakitinya.. aku sama sekali tidak mempunyai petunjuk jika ia, mencintaiku. Sementara aku bahkan tidak memberikannya kabar bahwa aku sedang dekat seseorang atau bahkan aku sudah jarang menceritakan banyak hal padanya. Hatiku terasa sakit mengingat semua yang terjadi beberapa hari yang lalu.

Ketika ia menyatakanperasaannya kepadaku dan aku yang meninggalkannya begitu saja.. maafkan aku Pannie-ah.. aku benar benar tidak tau apa yang harus aku lakukan.. aku tidak ingin menyakitimu lagi.. sungguh bukan ini yang kumau..

Aku bahkan.. membawanya untuk menemaniku mencari dress yang tepat untuk bertemu pria yang sedang berada di hadapanku ini. Bagaimana bisa aku begitu bodoh tidak menyadari perasaannya? Tapi aku benarbenar hanya menganggapnya sebagai sahabat.. dan aku merasa itu tidak lebih dari seorang sahabat.. tetapi tetap saja, hatiku sangat sakit mengetahui aku tidak akan bisa bersama Tiffany lagi

aku.. merindukannya.. setelah 2 minggu lamanya tidak bertemu dengannya, aku ingin memeluknya dan seperti tidak akan melepasnya.. tetapi kemarin. Aku merindukannya, sangat, sangat merindukannya. Apa itu salah setelah semua yang sudah ku lakukan padanya?..

Aku harusnya mengetahui mengapa Tiffany benarbenar berubah ketika hubunganku dengan Baekhyun keluar di banyak kabar berita.. harusnya aku mengetahui perubahan akan dirinya setiap kali nama Baekhyun keluar dari mulut.. harusnya aku mengetahui ketika ia tibatiba pulang ketika Baekhyun menjemputku.. bagaimana bisa aku hanya mengira jika ia memang benar benar hanya sedang sakit..? mungkin benar.. sakit hati.. Harusnya aku menyadari ketika satu pesanku tidak dibalas olehnya.. harusnya aku menyadari perubahan wajahnya setiap kali.. sudahlah ini menyakitkan.. terlintas di bayanganku bagaimana ia menangis ketika menghadapiku.. itu sangat membuat hatiku.. sangat sangat sakit.. melihatnya sakit dikarenakan aku.. yang menyakitinya.

Author View

“jadi yang sedang ramai dibicarakan benar? Benarkah kau sedang bertengkar dengan Tiffany-noona?” Tanya Baekhyun sembari masih memperhatikan kekasihnya yang sedari tadi melamun itu.

“Ah..Ne..” Taeyeon lalu melanjutkan melahap ice cream yang masih berada di genggamannya.

“Jadi ini mengapa kau seharian melamun, Taengoo..” Gadis itu kini sudah berada di pelukan kekasihnya yang mempunyai proporsi tubuh yang lebih tinggi dari nya. Gadis itu memejamkan kedua matanya, merasakan kehangatan yang ia rasa semakin lama semakin berbeda. Seakan akan hatinya ingin mendobrak keluar dan melepaskan pelukan itu.

“Memangnya ada apa dengan kalian? Sepertinya sangat serius.”

“Sudahlah, aku tidak sedang ingin membicarakannya, aku harus pergi, aku akan menghubungimu nanti.” Gadis itu melepaskan pelukannya lalu dengan cepat ia mengecup pipi kiri kekasihnya itu dan berlalu begitu saja. Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang 3 tahun lebih tua dari dirinya.

Di pijakkan kakinya pada pintu yang terpampang gagah bertuliskan “TTS Rehearsal Room.”

Pintu itu perlahan terbuka.. bisa di lihat gadis dengan warna rambut hitam dan coklat tua itu sedang memperhatikan layar ponselnya. Ia menoleh ketika ia mengetahui seseorang telah membuka pintu.

Taeyeon beringsut masuk lalu duduk dihadapan kaca sembari membenahi meja nya yang berantakan sementara gadis itu hanya memperhatikannya, seakan berharap Taeyeon akan menoleh padanya.

“Taeyeon-ah..” Suara gadis itu membuka percakapan, ia meletakan ponselnya lalu perlahan menghampiri Taeyeon yang masih bergeming.

“Jangan sekarang Tiff.” Jawab Taeyeon singkat yang mengetahui Tifany berjalan mendekatinya, diambilnya tas yang sudah di benahinya, tanpa pandangan sedikit pun melihat Tiffany, ia lalu berlalu begitu saja, meninggalkan sedikit rasa sakit lagi.

Yang Tiffany inginkan hanyalah perhatian dari Taeyeon, tentu itu bukan perkara mudah baginya, setelah tempo hari kemarin ia menyatakan perasannya yang jelas akan merusak persahabatannya dengan gadis yang selalu ia rindukan itu. Sejak hari itu, mereka sama sekali belum pernah berbicara secara langsung ataupun maya.

Bagaimana bisa, Tiffany selalu mengirim pesan setiap malam, pagi dan siang, dah bahkan tadi ia hanya sedang menunggu balasan dari Taeyeon, hasilnya nihil. Taeyeon sama sekali tidak meresponnya, bahkan ia tidak memberi walaupun hanya memandangnya sekilas, berbicara mengenai sesuatu? itu sangat tidak mungkin.

Mungkin Taeyeon hanya terkejut dan ia belum siap mendengar itu, mengingat kedekatan mereka yang sudah terjalin lama, itulah kata Hyoyeon pada Tiffany. Tiffany hanya tersenyum melihat tingkah Taeyeon, bagaimana pun juga, ia merasa senang bisa melihat Taeyeon dari jauh.. memperhatikannya membuat jantungnya berdetak kencang, walaupun ia sangat ingin memeluk sosok itu dan hanya sekedar mengenggam tangannya.

Taeyeon View

Demi tuhan. Aku sangat merindukannya, aku sangat ingin memeluknya, aku hanya tidak ingin menyakitinya lagi. Aku tidak sanggup melihat kedua matanya, kedua mata yang tanpa aku sadari akulah penyebab bekas luka- luka di matanya, di hatinya, di dirinya.

Di lain sisi, aku hanya ingin keadaan kembali kenormal. Aku ingin selalu dekat dengannya, entah mengapa ada sesuatu yang membuatku serasa semakin jahat karena telah mengabaikannya.. aku tidak tau apa yang harus benar benar aku lakukan.

Aku hanya bisa menunggu.. Tiffany.. sahabatku. Aku harap seiring waktu berjalan, semua akan baik baik saja. Kulangkahkan kaki ku menuju kamar, dan terlihat Yoona yang sudah menungguku di depan pintu, tergurat senyum di bibirnya setelah melihat ku yang baru saja keluar dari lift.

Hari sudah semakin gelap, orang orang mulai menghentikan aktifitasnya, begitu juga denganku, seharian ini aku hanya berlatih vokalku mengingat aku adalah main vocal di group ku ini, belum lagi ada beberapa projek duet yang harus aku selesaikan.

“Anyeong, unnie!” Yoona tersenyum lebar lalu mempersilahkan ku masuk. Benar, ini adalah dorm ku dengannya. Aku hanya membalas senyumannya dengan senyuman singkatku.

“Tadi kau diantar hoon-oppa ,Unnie?”

“Ani, Baekhyun yang mengantarku.” Kataku setelah melepas alas kaki ku dan berjalan ke arah meja dan meneguk segelas air putih, berharap ini akan menghilangkan nyeri di kepalaku.

Sorot mata Yoona berubah menjadi tajam, oh tidak. Baru saja aku berkata kata sandi yang akan memulai peperangan.

“Mwo!? Neo.. Micheoseo!?” Tanya Yoona terkejut lalu menghampiri ku dengan ekspresi wajahnya yang lucu. Aku hanya tersenyum lebar melihat tingkah gadis yang sudah ku anggap seperti adik kandung ku ini.

“Tenang saja, aku pastikan tidak ada paparazzi yang mengikuti kami.” Jawab ku santai lalu menghempaskan tubuhku ke sofa, mengambil beberapa cemilan dan menyalakan televisi yang berada di hadapanki.

“Mwoya!?” Lagi lagi Yoona terkejut seakan akan aku sudah mengetahui apa yang ada di fikirannya tentang paparazzi- paparazzi itu. di mulai ocehannya… yang mengingatkanku akan hal hal yang sudah aku ketahui.

“Unnie!” Sahut Yoona kepadaku karena sedari tadi aku tidak memperhatikan perkatannya melainkan sibuk mengganti channel tv. Dan aku hanya terkekeh melihatnya seperti itu.

“Tidak usah di permasalahkan, yoong.”

“Unnie! Bagaimana jika kau di terror lagi oleh fansfans pria itu!? atau bahkan kau akan dicaci maki dan lebih parahnya lagi, kau mau dilempari air busuk itu lagi?”

“Uh kau terlalu berlebihan Yoong, mereka sudah mulai menerimaku, dan satu lagi, namanya Baekhyun bukan ‘pria itu’ kau mengenalnya” Bisa ku dengar ia menggerutu kesal atas jawaban ku sementaa aku hanya tertawa kecil melihatnya, tangan ku terus mengganti statiun tv, serius, apa tidak ada satu hiburan pun untukku?

“Bagaimana dengan Tiffany-unnie..?” Tanya Yoona seperti raguragu, aku berhenti akan aktifitasku dengan remot itu, segera ku alihkan pandanganku pada layar ponsel yang sedari tadi terus bergetar.

34 messages from Tiffany

21 Missed Call from Tiffany

“Unnie, Tiffany-unnie sangat menyayangimu. Biarkan ia berbicara padamu, aku tau kau marah, tapi ia–.”

“Ara, Yoong.” Jawabku singkat memotong pembicaraannya. Aku mendesah berat, hati ku sangat gelisah, kepalaku semakin terasa berat.

“aku tahu kau merindukannya, unnie..” ige mwo-ya… apa tebakanku benar jika Yoona bisa membaca fikiran seseorang!? Aku hanya menggeleng lemah, tidak tau apa yang harus ku katakan, aku memang merindukannya, tetapi tekadku sudah bulat, Tiffany.. hanya sahabatku..

“Unnie, tidak bisakah kau menyadari nya? Dia bahkan tadi siang melihatmu mencium pria itu, tidak bisakah kau bayangkan bagaimana perasaannya?” Aku terbelalak mendengar pernyataan sahabatnya itu. ada sesuatu yang aneh dengan hatinya, ia semakin merasa gelisah..

Flashback

 

Suara sepatu hak menggema di lorong itu, rupanya suara itu berasal dari ketiga gadis cantik yang sedang berbincang. Tawa mereka seperti terpantul oleh dinding. Mereka melangkahkan kaki nya untuk menuju ruang Latihan dikarenakan ada beberapa event yang harus mereka hadiri ini, tentunya itu akan membutuhkan sedikit latihan demi tampil baik untuk para penggemar mereka.

“Yya! Kenapa lampu di ruang itu menyala? Bukankah hari ini semua staff sedang libur?” Sooyoung memperhatikan jendela yang memancarkan cahaya lampu agak kekuningan membuat Yoona dan Tiffany menoleh.

“Molla. Sepertinya seseorang lupa mematikan la—“ Ucapan Yoona seketika terpotong olehnya sendiri melihat pemandangan yang baru sama ketiga gadis itu saksikan. Dua pasangan yang sedang merajut kasih sangat jelas didepan pandangan mereka.

Kedua mata gadis berambut coklat yang berada di tengah itu sedikit memanas atas apa yang dilihatnya, ingin sekali ia berlari secepat mungkin sekarang dan menghabiskan satu set tissue dikamarnya, tentu saja niatnya di kurungkan berhubung ada dua sahabatnya disekitarnya.

“Mwoya!? Fany-ah kau duluan jalan pelan pelan, ppali!” Ujar Sooyoung pada Tiffany yang mengisyaratkan bahwa ‘ia-punya-ide” itu, Tiffany hanya menurutinya lagipula inilah yang dia inginkan daripada melihat kedua orang itu yang membuat hatinya sangat sakit.

“Yoong, kau tau kan, dialogmu”

“Ne Unnie! Kajja!”

            Flashback End

“Kau bertindak seakan tidak ada yang terjadi diantara kalian, unnie..”

“Setidaknya, bicaralah pada Tiffany-unnie.” Yoona lalu meninggalkanku sendiri di ruangan yang tenang ini, fikiranku sangat kacau. Bukan ini yang aku harapkan, bisa kurasakan hati ku semakin gelisah, tidak tau harus berbuat apa. Tidak tau yang mana harus kuselesaikan, aku bahkan tidak tau bagaimana cara menyelesaikannya..

From : Tiffany

 

Jebal, Taeyeon-ah.. maafkan aku..

 

 

 

From : Tiffany

 

You are my everything to me, tae…

 

 

 

From : Tiffany

 

Tae…

 

 

Membaca tulisan demi tulisan yang dikirimkan Tiffany padaku membuat dadaku sesak.. mataku memanas, ingin sekali aku memeluknya untuk kali ini, tidak terasa air mata ku lolos begitu saja menuruni kedua pasang pipiku.. menyakitkan melihatnya seperti ini, maafkan aku Pannie-ah.. ini untuk kebaikanmu juga..

Ku langkahkan kaki ku menuju kamar, ku hempaskan tubuhku kini yang sudah berbalut baju yang nyaman untuk tidur untuk memulai petualangan mimpiku, sesekali ku lihat ponsel yang terus berbunyi pertanda ada pesan masuk, tentu saja itu Tiffany.. aku.. merindukannya.

baekhyun-and-taeyeon

“Selamat malam” – @taeyeon_ss

 

Entah apa yang merasukiku sampai sampai aku berani mengunggah fotoku bersama Baekhyun. Sudah jelas aku akan mendapat banyak komentar komentar negative, entahlah aku hanya merasa aku ingin mengunggahnya setelah melewati hari ini. Ku lempar ponselku dan mencoba memejamkan mataku, kenapa mata ini tidak terasa berat? Apa aku harus tidur larut lagi hanya karena mataku tidak bisa diajak kompromi?

Kuraih ponselku untuk sekedar membaca artikel artikel yang baru baru ini keluar, tidak heran, nama ku dan Baekhyun masih menjadi Headlines di beberapa halaman artikel. Ya, tidak sedikit yang membenci hubunganku dengan Baekhyun, terlebih lagi, dia adalah member dari group yang mempunyai banyak penggemar yang berlebihan akan dirinya. Tidak jarang aku mendapat terror, entah itu berhubungan darah ataupun pisau. Jujur, kadang aku sangat khawatir akan hubungan ini. Belum lagi perasaanku yang akhir akhir ini sangat kacau…

(Awwwww so cute!)

Aku bisa rasakan bibirku menggambar senyum pada dirinya sendiri setelah tidak sengaja membaca salah satu komentar di foto yang baru saja ku unggah.

(Aku kecewa padamu Kim Taeyeon. )

(Hati ku sakit melihat ini)

(Apakah kau sedang mempermainkan kami?)

(Aku sangat kecewa..)

(Akhir akhir ini tidak ada taeny moment satupun.. tidak ada.. aku menunggunya sangat lama.. inikah balasan penantianku..? #hardcorelocksmith)

(Aku ingin foto ini di hapus.)

(Apakah kau tidak memikirkan perasaan-nya? Dan perasaan kami?)

(Stupid enough to think that taeny will come back…)

(Appo..)

(Ini mimpi burukku.)

(Aku sakit hati, tapi aku bisa apa? Jika kau bahagia, tidak ada yang bisaku lakukan Unnie.)

(Kim Taeyeon, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya.)

(Setidaknya jangan diumbar umbar diakun “khusus untuk penggemarmu”, ini menyakitkan.)

(Baiklah, aku resmi keluar dari fandom ini, aku sangat kecewa.)

(Aku…… apa kah ini mimpi? Mimpi buruk..?)

(Haruskah aku menyerah menjadi penggemar setia mu?..)

(Aku mohon jangan terlalu jelas seperti ini, aku tau kau dan dia mempunyai hubungan, tapi apa kau tidak berfikir bagaimana perasaan kami yang sangat menyayangimu..?)

(Jika kau senang, aku senang unnie.)

**

2 Bulan berlalu..

Hari – hari selanjutnya, hanyalah lanjutan dari hari – hari sebelumnya, begitulah dan terus terulang terjadi. Taeyeon yang semakin acuh kepada Tiffany, dan Tiffany yang selalu sabar menghadapinya. Luka dihatinya tak kunjung sembuh, terlebih lagi ia harus bertemu Taeyeon dan berpurapura kepada semua orang setiap hari seakan tidak ada yang terjadi dan ia baik baik saja. Luka yang dibuat Taeyeon sangat dalam, yang ia inginkan hanya Taeyeon untuk mulai berbicara kepadanya, bahkan jika Taeyeon memandang matanya saja ia sudah merasa cukup.

Seperti penampilan-penampilan sebelumnya, kedekatan keduanya semakin lama semakin terasa jauh. Tidak ada lagi moment moment yang ditunggu sebagian banyak orang seperti beberapa waktu yang lalu. Bahkan hanya sekedar untuk berdiri bersebelahan satu sama lain, itu sangat tidak mungkin. Tidak sedikit yang berspekulasi bahwa kedua idola mereka sedang di landa perpecahan, entah itu alasan pribadi atau lainnya, tidak sedikit juga yang menyangka ini semua dimulai ketika ada sosok baru yang masuk ke dalam cerita.

Banyak juga yang menyimpulkan bahwa Taeyeon lah yang menjauhi Tiffany, terlihat dari beberapa gambar Tiffany yang selalu mencuri pandang kea rah Taeyeon sementara Taeyeon bahkan tidak menoleh sedikitpun. Tidak sedikit juga foto Tiffany yang sedang memperhatikan Taeyeon yang berada beberapa meter di depannya ketika Group yang tengah naik daun itu berjalan keluar mobil.

Bukan hanya itu bukti yang dikumpulkan, terlebih lagi post-post Tiffany di akun media sosialnya yang menggambarkan ia sedang menjalani hari yang buruk, atau bahkan kutipan kutipan yang menggambarkan kesedihan hatinya. Belum lagi Tiffany sempat mengunggah foto dirinya bersama Taeyeon yang menikmati susu berwarna pink itu dalam satu gelas dengan 2 sedotan… ya.. foto itu sudah setahun lamanya.. yang baru baru ini ia unggah.. makin banyak suara bersimpati pada Tiffany.

Tidak sedikit pula, penggemar yang menentang hubungan Taeyeon dengan kekasihnya itu, bahkan beberapa hari belakangan Taeyeon selalu mendapat terror dari penggemar penggemarnya atau bahkan kekasihnya.

Terlebih lagi terambil beberapa gambar dan terekspos ke awak media ketika berita kekasihnya itu yang mengantar nya hingga hotel. Bukan hanya itu, skandal yang menimpa keduanya ketika foto selca merekadi unggah oleh Taeyeon di akun social media yang memicu kemarahan para penggemar. Seiring waktu berlalu, para penggemar melupakan rasa kesakitan itu dan Taeyeon yang sudah meminta maaf secara langsung di siaran tv sembari menangis karena menyesal.

Komentar komentar negative hamper memenuhi halaman akun social media keduanya, dan jumlahnya kian meningkat seiring berjalannya waktu.

Dari ribuan pesan yang dikirim Tiffany, tidak satupun mendapat respon dari Taeyeon. Taeyeon benar benar seperti.. tidak memperdulikannya. Perlahan tapi pasti Tiffany mampus menyembuhkan luka di hatinya karena ia meyibukan dirinya bertemu penggemar penggemarnya, entah itu secara individu atau bersama group.

Hatinya sakit ketika ia tidak bisa lagi dekat dengan orang yang sangat di sayanginya itu, tidak sampai disitu, ia harus merasakan sakit lagi ketika melihat momen momen gadis itu dengan kekasihnya, entah itu di panggung ataupun di belakang panggung.

Entah ia lihat secara langsung ataupun lewat media. Hatinya bahkan tersayat lebih dalam lagi ketika melihat Taeyeon mendapat musibah seperti terror ataupun kecaman dari para penggemar penggemar yang menentang hubungannya ataupun yang tidak menyukainya.

**

“Tap tap tap”

Derap langkah kaki yang tergesa gesa menggema di ruangan yang memanjang itu, langkahnya di percepat ketika ia berhasil melihat waktu di jam tangannya. Ruangan ini sangat sepi. Tidak ada satu orangpun.

Kepalanya semakin lama semakin berat, tangannya tak henti hentinya mencengkram bagian kiri sisi kepalanya. Matanya mulai sayu, di raihnya tas yang sedari tadi dicarinya, tangannya merogoh merogoh lalu menghamburkan seluruh isi didalam tas nya, tidak dilihatnya barang kecil yang dicarinya.

Kepalanya semakin lama semakin terasa pening, ia meraih kursi lalu berusaha menunggu perih di kepalanya hilang. Belum lagi ia di kejar kejar oleh jadwal hari ini yang belum kunjung selesai.

“Taeyeon-ah, ini..” suara itu membuyarkan fikirannya. Gadis berambut blonde itu menghampirinya memberikan tabung kecil berisi pil berwarna merah.

“Bagaimana bisa kau membawanya, Hyoyeon-ah?” Tanya Taeyeon lalu menerima tabung kecil itu, Hyoyeon tidak menjawabnya lalu meraih segelas air di meja dan memberikannya pada Taeyeon. dengan cepat Taeyeon meminumnya.

“Ah, Tiffany yang membawanya, ia selalu mempersiapkan itu untukmu..” Mendengar pernyataan Hyoyeon, Taeyeon merasa lehernya sedikit tercekat pasal nya air itu baru saja mendarat di tenggorokannya.

“pelan pelan taeyeon-ah. Ia melihatmu seperti ini dengan cepat ia menyuruhku memberikannya ini padamu, ia takut jika ia yang memberikannya kau tidak akan menerimanya.” Jelas Hyoyeon sembari menepuk nepuk pelan punggung Taeyeon yang melanjutkan meminum pilnya.

“Ne.. Gomawo Hyoyeon-ah”

“Aku akan sampaikan itu pada Tiffany.” Hyoyeon tersenyum lalu membantu sahabatnya itu berdiri, kedua gadis itu melangkahkan kakinya keluar ruangan dan sedikit berlari karena dalam beberapa menit acara akan segera di mulai.

“Ppali! 5 menit lagi akan dimulai, kau sudah merasa baikan Taeyeon-ah?” Tanya Sunny yang menyadari kedua sahabatnya baru saja kembali dan segera duduk di sampingnya, Taeyeon hanya menjawab nya dengan senyuman, diliriknya gadis berambut hitam yang duduk di ujung ruangan ini yang sedang serius membaca suatu kertas, ya, itu Tiffany.

Tiffany yang sadar ada yang memperhatikannya hanya menyunggingkan senyum pada sosok yang selama ini ia rindukan. Hatinya sangat senang akan apa yang baru saja terjadi, akhirnya, satu pandangan berhasil di dapatkannya. Setelah sekian lama sosok itu bungkam.

Walaupun pada akhirnya Taeyeon lalu mengalihkan pandangannya. Kecanggungan diantara kedua belah pihak dirasakan oleh member lainnya. Mereka memilih untuk diam setelah mendengar pernyataan Taeyeon bahwa ia ingin memiliki waktunya sendiri untuk beberapa saat dan ia meminta member lain untuk tidak terlalu ikut campur untuk urusannya.

member lain hanya menerimanya dan mereka berfikir masalah ini akan cepat selesai seiring berjalannya waktu, bagaimanapun juga Taeyeon dan Tiffany sudah dekat selama 10 tahun lamanya, ini tidak akan berlangsung lama, tidak lupa sisa dari member selalu disana untuk Tiffany maupun Taeyeon. mereka benar benar group yang.. tidak bisa dipisahkan.

**

So Nyu Shi Dae, Dorm at SM Building.

“Sunny pernah ingin mengelabuiku!”

           

            “Ah! Jinjja?”

 

            “Ne! Waktu itu aku sedang ada latihan dan Sunny di Dorm. dia pernah mengirimi ku pesan.. “ASTAGA ASTAGA ASTAGA ASTAGA” Lalu ku balas.. “ADA APA ADA APA?” lalu aku menunggu balasan dari nya karena sangat penasaran apa yang terjadi padanya.”

 

            “Aku dapat balasan, “Kang Joon Oppa mengajakku berkencan!” Lalu aku seperti.. ige mwoya.. apakah ia serius? Aku tau dia sangat mengidolakannya! Lalu ku balas. “MWO!? JINJJA!?”


“Tidak lama Sunny membalasku. “Ne! KAMI AKAN BERKENCAN TANGGAL 30 FEBRUARI NANTI!” kirakira seperti itu.. lalu aku terdiam memikirkan sesuatu..”

 

            “Apakah ini anak bodoh sekali.. lalu ku balas “Yya….. tidak ada tanggal 30 dibulan February…” dan sampai saat ini ia tidak pernah membahasnya”

 

            Tawa semua member seketika meledak mendengar penjelasan cerita Hyoyeon yang sedang disiarkan di acara radio yang baru saja mereka selesaikan sekitar 2 jam yang lalu.

Sementara yang bersangkutan diRadio tidak menunjukan batang hidungnya sedari tadi sampai di Dorm. Kali ini, semua member di beri waktu istirahat berkumpul besama di Dorm, sekedar bercanda dan tertawa. Masing masing member mempunyai aktifitas nya sendiri, entah itu bermain ponsel, laptop atau pun berbincang satu sama lain.

“YYAA! Dimana aku harus menyembunyikan snack snack ku!” Ucap Sunny yang tibatiba muncul entah darimana sembari memasang wajah yang terlihat kesal.

“Waegeraeu?” Sahut Sooyoung sementara yang lain tidak ada yang memperhatikannya.

“Hyoyeon selalu mendapatkan snack snack ku tidak peduli dimana pun aku menyimpannya! Dia selalu menemukannya!” Oh tidak lagi, konflik diantara Sunny dan Hyoyeon nampaknya belum selesai, dan mungkin saja ini kelanjutan dari Radio.

“Kau simpan saja di selipan buku, ia tidak pernah menyentuhnya kan.” Sahut Tiffany polos seakan mengingatkan Sunny bahwa Hyoyeon sangat tidak menyukai buku, buku apapun itu. membuat semua member tertawa mendengar pernyataan polos Tiffany. Sesekali ia melihat sosok yang dirindukannya itu. Seperti ada kupu kupu yang terbang di dalam perutnya memandangi pemandangan yang sangat ia rindukan.

            Tiffany View

Perihnya selalu hilang ketika melihatnya tertawa seperti itu, terlebih lagi alasan di balik tawa itu ada sangkut pautnya denganku. Taeyeon-ah.. aku merindukanmu. Tidak bisakah kau melihat ku walaupun hanya sebentar..? aku tau Taeyeon masih marah kepadaku atas apa yang telah aku katakan, tapi aku benar benar tidak menyangka akan selama ini. Aku merindukannya, sangat merindukannya.

Yang aku bisa lakukan hanya memandangnya dari jauh sesekali melihat matanya, ketika kami di van, tidak pernah lagi Taeyeon mengambil seat di sampingku, di panggung, tidak ada lagi saat saat aku dan Taeyeon tertawa, yang ada hanya menambah luka ku ketika melihatnya bercanda dengan kekasihnya.

“Pannie-ah.” Suara Hyoyeon menghamburkan lamunan ku yang masih memperhatikan Taetae.

“Neo! Kau memperhatikan Taeyeon lagi!?” Tidak disangka ternyata semua member telah memperhatikanku termaksud Taeyeon…

Andwae! Aku bisa rasakan wajahku memerah. Omo.. aku sangat malu sementara member lainnya hanya tertawa kecil melihatku.

“Yyyaa! Pannie-ah! Aku sudah bilang jangan terus memperhatikan si boncel itu! nanti kau tidak bisa move-on!” Canda Sunny makin membuatku malu, aku menundukkan kepalaku sementara yang lain malah tertawa. Ah jinjja!

“Taeyeon! lihatlah penggemarmu ini! Kalian sekarang seperti tidak mengenal satu sama lain, ara!?” Sahut Hyeyeon lalu mendorong tubuh Taeyeon pelan dan membuatnya tertawa.

“Aku tau apa yang difikirkan Tiffany selama ini, “Taeyeon! lihatlah aku! Aku penggemarmu! Aku ingin tanda tanganmu!” Sahut Yuri sembari meniru suara Aegyo sunny. Ah.. ne.. teman temanku sudah mulai menggila..

“Taeyeon-ah, apa kau tau, hanya namamu yang disebut Tiffany di dorm kami.” Hyoyeon menghampiri Taeyeon lalu duduk disebelahnya dan meletakkan kedua tangannya di bahu Taeyeon sembari menaikan turunkan kedua alisnya padaku, ah lamalama aku bisa gila! Hentikan atau aku akan seperti udang rebus.

“Ayolah Taeyeon-ah, sebut saja namanya!” Sahut Sooyoung sembari melempar bantal kecil pada Taeyeon.

“Yya! Hentikan, jugulle!?” Jawabku lalu melempar semua bantal yang ada disekililing ku pada si duo menyebalkan itu.

“Tiffany-ah.”

            DEG.

2 Bulan aku tidak pernah mendengar suaranya memanggilku.. kau percaya itu.. 2 bulan..

“Mwoya!? Tidak seperti itu!” Semua member membanting pelan bantal yang mereka genggam mendengar Taeyeon memanggil namaku secara formal. Aku hanya dapat tersenyum, setidaknya.. dia memanggil namaku. Itu sudah cukup bagiku, apakah kalian tau, rasa sakitnya mencintai tetapi kita sangat mengetahui bahwa kita tidak bisa memilikinya?

“Anyeonghaseyo!” Sosok pria berbadan kecil dan sedikit lentik itu menyembul dari sisi pintu yang baru saja terbuka, aku menoleh, ternyata Hoon Oppa yang sedang menunjukan sisi menggelikannya.

“O’Oppa! Wae? Bukankah kami tidak ada jadwal lagi?” Yuri lalu bangkit dari sofanya membukakan Oppa pintu.

“Ah..Ne.. tentang itu memang benar, tapi Taeyeon-ah.. Joengmal Mianhe.. CEO Su Ra baru saja memberitahukanku, kalau.. jam 5 nanti kau ada jadwal solo di Gwahundong…” Ujar Hoon Oppa dan membuat Taeyeon sedikit terkejut, mungkin karena ia baru kali ini mengambil nafas karena jadwal kami yang cukup padat.

“Mwo!? Shireo!” Jawab Taeyeon sembari mengerucutkan bibirnya, dia lucu sekali.

“Ne!? kau harus Taeyeon-ah! Aku janji ini yang terakhir!” Dengan segala bujuk rayunya, Hoon Oppa hampir saja berlutut depan Taeyeon dan membuat kami semua tertawa.

“Oppa.. aku baru saja beristirahat, lagipula, aku tidak ingin kalau hanya aku sendiri..” Taeyeon lalu memperhatikan sekitarnya, matanya seakan berbicara ‘ayolah-satu-orang-tidak-apa-apa-menemaniku’ ‘aku-tidak-ingin-sendiri’ melihat itu, semua member malah memalingkan pandangannya dan perhatiannnya pada ponsel masing masing ataupun mengobrol dengan yang lainnya, sementara aku hanya tertawa kecil melihat tingkah ke 7 sahabatku itu.

“Mwoya!? Tidak ada yang mau menemaniku!? Kalau begitu aku tidak mau!” Jawab Taeyeon lalu melipatkan kedua tangannya membuat semua member cekikikan.

“Kata siapa?” Hyoyeon sepertinya mengajukan diri, lalu ia berdiri dan bersiap mengambil tasnya membuat semua member lega karena tidak perlu menemani Taeyeon.

“Tiffany pasti dengan senang hati menemanimu! Aku ada urusan di kamar dengan film film dan drama baru ku.” Lanjut Hyoyeon, lagi lagi semua member tertawa terbahal bahak melihat tingkah Hyoyeon. Sementara Taeyeon malah menoleh padaku dan aku hanya tersenyum.

“Benarkah Fany-ah!? Kau mau menemani Taeyeon!?”

            (‘Ya! Tentu saja OPPA! Dengan senang hati!’)

“Aku rasa Taeyeon yang tidak mau, Oppa.” Jawabku cengengesan karena merasa sudah tahu jawaban apa yang akan Taeyeon berikan.

“Ani! Aku mau! Kajja.”

“Yya! Taeyeon-ah! Jaga Tiffany untuk kami! Kalau tidak, hanya akan tinggal namamu yang akan kuserahkan ke eomma mu!” Cetus Sooyoung lalu menunjukan kepalan tangannya sementara aku dan Taeyeon hanya tertawa. Entah kenapa, mendengar suaranya membuatku tenang. Aku harap, aku bisa mendengar suaranya selamanya.

Aku dan Taeyeon berjalan keluar Dorm diikuti Manager Oppa, hanya ada kecanggungan di antara kami, tidak ada yang memulai pembicaraan, lagi pula aku tidak ingin Taeyeon merasa terganggu dengan keberadaanku. Berjalan beriringan dengannya saja sudah cukup bagiku. Aku tidak berharap lebih.

Ketika sampai lantai pertama, bisa kulihat semua orang sedang sibuk dengan aktifitas mereka masing masing, dan itu disana, ada group namja da nada baekhyun yang sedang duduk bercanda, ketika kami melewatinya, Taeyeon sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun sementara kekasihnya itu terlihat bingung dan memperhatkan Taeyeon sampai kami sampai di pintu utama, aku bisa mengerti itu, mungkin ia merasa akan lebih berhati hati terlepas dari skandal nya yang terakhir kali. Jujur, meskipun hubungan mereka membuatku ingin mati, Hati ku sangat sakit ketika banyak orang memberi kutukan dan kebenciannya pada Taeyeon.. aku hanya ingin dia senang dan aku tidak ingin sedikitpun ia tersakiti ataupun merasa sakit. Aku sangat, menyayanginya.

“Kau duluan saja Taeyeon-ah. Aku akan menyusulmu setelah 5 menit agar tidak ada yang mengambil gambar kita.” Kataku pada Taeyeon ketika kami hanya diam sampai didepan pintu ini, aku mengerti jika ia tidak mau keluar dan terlihat berjalan bersamaku.

“Wae?” Tanyanya bingung sembari menaikkan sebelah alisnya. Dan aku hanya menjawabnya dengan senyumanku mengisyaratkan bahwa aku baik baik saja.

DEG

Taeyeon mengenggam tanganku! Seketika aku merasa darahku berdesis berhenti mengalir, jantung ku seperti berhenti berdetak. Apa yang baru saja ia lakukan? Ia menarikku berjalan keluar, senyumnya mengembang lembar, sudah kuduga, didepan sangat ramai para penggemar, entah itu berasal dari fandom mana.

Aku hanya tersipu malu dan berusaha menunduk setidaknya aku berfikir dengan begini mereka tidak mengetahui ku, tetapi tetap saja,baru saja kututupi kepalaku dengan kupluk, sepertinya Taeyeon menyadarinya lalu ia menarik kupluk-ku dan malah menarikku lebih dekat dengannya, aku hanya mengikuti arah yang sudah ditentukan Taeyeon.

“Ckrak! Ckrek!” Aku rasa sudah puluhan foto diambil hanya dalam beberapa detik ini. Dengan sedikit berlari untuk menghindari hal hal yangtidak diinginkan, kami segera menaiki Mobil Taeyeon dikarenakan Hoon Oppa tidak bisa hadir bersma kami dan dia akan menyusul nanti, jadi Taeyeonlah yang menyetir mengingat mobil ini miliknya.

“Taeyeon-ah.. maafkan aku sepertinya mereka berhasil mengambil gambar kita..”

“Kenapa kau meminta maaf..Fany-ah?” Tanya Taeyeon sembari memandangku. Oh Gosh. Bawa aku terbang sekarang juga! Aku tidak bisa melihat matanya! Ini mengingatkan aku akan semuanya.. ketika ia masih memperlakukanku dengan segala perhatiannya dan selalu membuatku seperti melayang, atau bahkan ketika ia menjauhi ku dan membuat ku merasakan sakit yang teramat sangat.

“A-ani.. aku dengar dari Yoona kalau kau tidak mau ada seorangpun mengambil gambarku ketika sedang bersamamu..” untuk pertama kalinya kami benar benar mempunyai percakapan yang sedikit berlanjut setelah di Dorm tadi selama 2 bulan lebih ini. Aku.. merindukannya..

“Mianhe..” Ucapnya lirih lalu menoleh dan memperhatikan pemandangan yang ada di depannya.

“Ani! Gwenchana Taeyeon-ah! Bukan maksud ku seperti itu! jinjja!” Taeyeon tersenyum kearahku! Sekali lagi! Tersenyum… aku sangat merindukan senyumannya! Ah situasi ini semakin membuat jantungku berdegup kencang!

**

Author View

Langit sore di Seoul terlihat seperti biasanya, seakan tidak mau berpisah dengan siang, Matahari masih melayang walaupun hanya tinggal beberapa menit lagi akan tenggelam. Seperti biasanya aktifitas di tengah kota Seoul selalu sibuk, terlebih dimenit menit ini adalah waktunya warga Seoul menghentikan aktifitas dan pulang ke rumah.

“Sepertinya akan hujan” Taeyeon membuka percakapan diantara keduanya yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan beberapa music di radio mobil.

“Aku rasa begitu.” Jawab Tiffany singkat lalu tersenyum setelah mendengar perkataan Taeyeon.

“Fany-ah”

“N-ne?”

“Biasanya ketika kita sedang di mobil seperti ini, kau sangat berisik, kenapa sekarang bahkan satu katapun tidak keluar dari mulutmu?”

“Benarkah? Bukankah kau yang seperti itu, Tae?”Jawaban Tiffany membuat Taeyeon tertawa kecil, bahwa jawaban itu tepat sekali karena di awal, memang Taeyeon lah yang sama sekali tidak membuka mulut bahkan ketika Tiffany mengirim ribuan pesan, tidak satupun di balasnya.

“Aku bercanda, aku hanya bingung apa yang harus aku bicarakan.” Membuat Taeyeon terkekeh.

“Mengapa kau disini Fany-ah?” Tanya Taeyeon sembari mematikan radio nya, kini hanya deru nafas keduanya yang menghiasi mobil berwarna kuning ini.

“Ah.. M-mian.. seharusnya aku didorm saja biar yang lain yang menemanimu.. mianhe Teaeyeon-ah aku ha—“

“Maksudku, mengapa kau disini? Bersamaku? siapa yang mengambil alih surga ketika kau disini?”

DEG

Taeyeon tersenyum karena baru saja ia mendengar detak jantung Tiffany yang menderu mengikuti irama bunyi jam tangan yang terletak di tangannya. Keduanya hanya terdiam, jujur saja, Tiffany seperti melayang di buatnya, setelah berbulan bulan lamanya mereka tidak mempunyai percakapan se intens ini, setelah berbulan bulan lamanya Tiffany tidak mendengar godaan atau candaan Taeyeon, ia sangat merindukannya.

“Mianhe.. aku rasa suaranya terlalu keras..” Ujar Tiffany tersipu malu karena ia menyadari detak jantungnya semakin cepat dan semakin keras sementara ia hanya mencengkram bagian dadanya sembari mengigit bawahnya.

“Bisakah kau berhenti mengatakan maaf Fany-ah?”

“A-ah.. Ne.. Mianh—-“ Taeyeon menatap mata Tiffany tajam karena mobil mereka sedang berhenti di lampu merah ketika Tiffany mencoba mengatakan maaf lagi dan membuat Tiffany terkekeh.

“Lagipula..”

“Aku menyukainya.”

“Aku menyukai suara itu.”

Oh joengmal! Taeyeon benar benar tidak ada henti hentinya membuat degup jantung Tiffany berlomba lomba semakin cepat dan semakin keras. Dengan cepat Tiffany yan menyadari itu lalu tertawa sedikit keras dan mengajak berbicara Taeyeon tentang topic lain.

Sore ini, bukan sore dimana Tiffany biasanya memperhatikan ponselnya selama berjam jam ketika dirinya tidak sedang berada di sekitar Taeyeon hanya untuk memastikan bahwa Taeyeon membals pesannya. Sore ini bukan sore dimana Tiffany terus memperhatika Taeyeon yang sedang tertawa, tersenyum ataupun berbincang dengan orang lain. Sore ini bukan seperti sore tempo hari ketika dirinya merasakan sakit yang sangat… menyakitkan ketika orang yang sangat disayanginya bercumbu dihadapannya. Sore ini bukan sore dimana ia menghabiskan seluruh air mata nya di kamar yang sunyi.

Sore ini adalah sore dimana ia merasakan yang namanya hidup lagi, sore ini adalah sore dimana semua bayangan di masa lalu yang membuatnya senang kembali terasa, sore ini dimana sore yang membuatnya lupa akan sakit yang selama ini ia rasakan. Dengan rasa gembira nya, akhirnya ia dapat berbincang kembali dengan gadis itu, walaupun rasanya ia sangat ingin menghamburkan tubuhnya pada tubuh sosok gadis kecil itu dan memeluknya hingga gadis itu tidak bisa bernafas.

**

“Omo, ramai sekali.” Ujar Tiffany melihat kerumunan yang ada didepannya seperti sedang menggila. Para remaja itu membawa banner yang sangat besar bergambarkan pria pria cute beranggotakan lebih dari 8 orang yang sangat diyakini Tiffany adalah baekhyun salahsatunya, ya, itu penggemar EXO yang sedang berteriak satu sama lain meneriaki namanama idola mereka.

“Baekhyun juga disini?” Tanya Tiffany setelah melihat poster jelas kekasih ‘sahabat’ nya itu terpampang jelas di hadapannya. Ya, kerumunan itu menyadari jika ada mobil seorang artis yang sangat mereka kenal di belakang mereka. detik kemudian, kerumunan itu langsung berhambur malah mengelilingi mobil Taeyeon.

“A-ah.. n-ne…” Jawab Taeyeon ragu seakan ia sangat takut membahas kekasihnya itu dengan sahabatnya. Tidak lama menjawab pertanyaan Tiffany, Taeyeon sangat terkejut karena tibatiba penggemar kekasihnya itu memukul kaca dan badan mobilnya sedikt keras, tidak sedikit juga yang mengubah ekspresi yang tadinya senyum menjadi kesal melihat Taeyeon.

Tiffany yang melihat Taeyeon mengigit bibir bawahnya menjadi khawatir karena ia takut para sesaeng fans itu makin menjadi-jadi. Tanpa sadar ia menggenggam tangan Taeyeon yang terasa sedikit gemetar.

“Gwenchana Taeyeon-ah.. aku akan menjagamu.”

DEG

Bukan.. kini bukan jantung milik Tiffany yang siap meledak.. ini.. milik Taeyeon.

Detik kemudian, para ajussi berseragam hitam dan gagah mengelilingi mobil ini dan memberi jalan, salah satunya membuka pintu Taeyeon dan pintu Tiffany, baru saja satu kaki keluar dari permukaan mobil ini, sorak sorai tanda kebencian terngiang di telinga Taeyeon. dengan cepat Tiffany menghampiri Taeyeon dan berjalan persis di sampingnya.

“YYAAAA! KAU TIDAK PANTAS UNTUKNYA!”

“TAEYEON KAU HANYA SAMPAH!”

“TAEYEON KAU BUKAN APA APA UNTUK OPPA KAMI!”

“AKU MENGINGINKAN KALIAN PUTUS!”

Telinga Taeyeon sangat panas mendengarnya, begitu juga matanya, dengan sigap Tiffany mengangkat kedua tangannya dan meletakkanya pada dua telingaTaeyeon sembari berjalan disampingnya dan menekan kepala Taeyeon kebawah agar ia tidak melihat sekitarnya karena banyak foto Taeyeon di coret dengan tinta merah.

1 meter.. 2 mete mereka berjalan.. mata Tiffany tertuju pada sesaeng fans yang berada sekitar 2 meter di depannya yang masing masing membawa kantong plastic berwarna hitam da nada juga yang berwarna putih. Lagi, lagi, Tiffany dengan cermatnya menunjuk sesaeng fans itu pada penjaga yang berada di samping kanannya memberi isyarat, detik kemudian penjaga itu langsung mengamankan Plastik – plastic itu yang sudah pasti akan dilemparkan pada Taeyeon.

Dugaan Tiffany salah ketika hanya ia berfikir bahwa hanya mereka yang membawanya, terlihat sudah melayang kantong plastic berwarna hitam dari kerumunan sesaeng fans sebelah kanan dan siap mendarat, bagaikan angin ia sudah berdiri depan Taeyeon dan menatapnya.

“PUK!”

Cairan hitam seperti bau saluran air dan telur yang berbau sangat busuk kini mendarat sempurna di punggung Tiffany. Sedangkan hanya sedikit bekas lemparan tadi mengenai rambut Taeyeon karena seluruh isi nya sudah mendarat di Tiffany. Ia hanya tersenyum pada Taeyeon, setidaknya hanya inilah yang dapat ia lakukan agar Taeyeon tidak tersakiti oleh kerumunan itu. Taeyeon membuka mulutnya terkejut atas apa yang sedang terjadi didepannya, detak jantugnya terasa sangat kencang dan cepat.

“Pannie-ah!” hanya itu yang dapat keluar dari mulut Taeyeon, dengan segala perasaan yang campur aduk, ia menarik tangan Tiffany membuat mereka sedikit berlari. Semua mata tertuju pada keduanya ketika mereka berhasil masuk pintu utama, banyak kalangan artis papan atas termasuk kekasihnya, Baekhyun.

Tidak peduli berapa pasang mata yang melihat Taeyeon dan Tiffany iba karena perlakukan kerumumnan gila itu, ia terus menarik Tiffany untuk mengikutinya sampai pada ruang ganti baju yang sudah di sediakan untuk Taeyeon. ia menarik Tiffany untuk duduk dan langsung melepaskan jaket yang dikenakan Tiffany, bukan hanya itu, ia bahkan mengunci pintu lalu membuka baju yang Tiffany kenakan yang ternyata tembus oleh kotoran itu. ia melemparnya kesegala arah.

Diraihnya air minum botol kemasan yang cukup besar yang terdapat di tepi ruangan, sementara Tiffany hanya menampakkan senyumnya ketika melihat tingkah Taeyeon yang sangat perhatian padanya. Ketika Taeyeon berbalik, ia baru sadar bahwa ia telah melepas baju.. Tiffany.. yang menyisakan bra hitam yang dikenakan Tiffany, ia menelan saliva nya untuk pertama kalinya melihat pemandangan ini.

Berpura pura ia tidak memperdulikan hal itu, ia duduk di hadapan Tiffany lalu ia segera meraih handuk bersih yang ada di tasnya dan mulai membersihkan punggung dan tubuh atas Tiffany perlahan. Ia.. gugup.. lagi lagi situasi berhasil membuat jantung Taeyeon berdegup kencang. Tiffany sedikit terkejut merasakan handuk lembut itu menyentuh punggungnya.

“A-ah.. mian.. jika kau tidak nyaman, kau bisa membersihkannya sendiri..” Ujar Taeyeon ragu setelah melihat ekspresi Tiffany dan menarik tangannya sendiri menjauh dari punggung Tiffany.

“Ani! Malah sebaliknya!” Bulan sabit itu terpampang jelas di wajah Tiffany. Gigihnya yang putih seputih porselen terjajah rapih. Melihat itu Taeyeon melanjutkan aksinya lalu tersenyum, mungkin ia menyadari jika wajahnya berubah sedikit menjadi merah.

“Taeyeon-ah! Fany-ah! Apa kalian didalam!?” Suara di balik pintu membuat kedua insang itu terkejut.

“Ppali! 20 menit lagi Taeyeon harus kepanggung!” Lanjutnya, detik kemudian suara itu menghilang, sepertinya manager mereka sudah duluan mengurus hal hal yang di perlukan untuk performa Taeyeon.

“Mianhe Pannie-ah.. jika bukan karena ak—“

“Sssh, cepat kau harus bersiap siap” suara husky dan telunjuk tiffany yang mendarat di depan mulut Taeyeon membuat Taeyeon merasa sengatan listrik kecil di tubuhnya. Dengan cepat Tiffany meraih handuk yang ada di tangan Taeyeon dan membersihkan tubuhnya sendiri. Taeyeon yang sadar akan hal itu segera bangkit dengan perasaannya yang campur aduk.

Ia tergesa gesa mengambil baju dan alat make up nya yang sudah tergantung di hanger baju-bajunya.

“Apakah kau keberatan jika aku menggantinya disini?” Tanya yang Taeyeon yang sudah siap membuka pakaiannya pada Tiffany yang masih sibuk meletakkan pakaiannya yang kotor di plastic.

“Ani Taeyeon-ah, ganti disini saja, kau tidak memiliki banyak waktu, bukankah itu malah keuntungan bagiku, jika saja aku membawa kameraku.. pasti aku akan…” Perkataan Tiffany diptong oleh dirinya sendiri dan dilanjutkan dengan kedipan sebelah matanya lalu dengan santai memakai kaos Taeyeon yang sudah tersedia dihanger dan membuat Taeyeon terkekeh sekaligus meleleh melihatnya.

**

“Mwo!?”

“Mianhe Taeyeon-ah! Aku sudah memaksa PD-nim untuk memisahkan panggung mu dengan EXO tapi mereka menolaknya karena alasan keamanan.”

“Apa benarbenar tidak ada jalan lain Oppa? Aku khawatir sesaeng fans EXO akan melakukan hal hal aneh lagi pada Taeyeon” Tiffany yang sedari tadi hanya mendengarkan Taeyeon dengan Hoon oppa sang manager kini angkat bicara.

“Ah! Tentang itu, mereka sudah pastikan di panggung akan aman, kalian tidak perlu khawatir.”

Taeyeon hanya terdiam, begitupun juga Tiffany yang masi khawatir akan hal yang mungkin saja terjadi nantinya.

“Dan, uh tiffany, maafkan aku sekali lagi, tapi bisakah kau menemani Taeyeon sekali lagi dan memberi arahan untuknya ketika ia dipanggung? Semua manager sangat sibuk begitupun aku, kau tau sendiri kan artis SM kali ini banyak sekali yang hadir disini.” Mendengar itu Tiffany mengangguk lalu tersenyum, sang manager kemudian mengambil koper kecil yang berisi dua buah pasang ear speaker.Diberikannya masing masing speaker itu pada Taeyeon dan Tiffany untuk dipakainya.

“Ini, lewat ini kalian bisa berbicara satu sama lain tanpa tonggakan tertentu, kalian pasang ini ditelinga kalian lalu nyalakan, dengan ini kalian akan bisa komunikasi langsung.”

“Ah… Nee!” Sahut Tiffany semangat sementara Taeyeon masih terlihat sangat khawatir sembari memasangkan earspeaker pada telinganya. Ia lalu menggenggam tangan Tiffany sangat kuat dan dibalas hangat olehnya, Tiffany tau bahwa Taeyeon sangat khawatir,sudah dipastikan ia takut akan penggemar EXO yang menggila.

Ini sudah ke 5 kalinya Tiffany menemani Taeyeon untuk aktifitas solo-nya. Tiffany dengan senang hati mengajukan dirinya sendiri karena tidak bisa dipungkiri bahwa ia sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama Taeyeon, itu adalah titik kebahagiannya.

Sudah 3 minggu ini juga hubungan Taeyeon dan Tiffany kembali dekat, bahkan momen momen yang selama ini dirindukan Taeny Shipper bukan lagi mimpi melainkan nyata. Sudah puluhan Taeny moment yang kini beredar di internet selaama 3 minggu ini.

Bukan hanya itu, Selama itu juga Taeyeon menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya terhadap Tiffany.. Sesuatu yang selama ini ia rasakan namun baru kali ini bahwa ia merasa perasaanya adalah nyata…

Ia sangat senang ketika tangan mereka terpaut satu sama lain, ia sangat senang ketika senyum Tiffany mengembang, ia seperti merasakan ribuan kupukupu terbang di perutnya ketika ia berada didekat Tiffany..tentu berulangkali Taeyeon menyangkal perasaannya, setidaknya, ia berfikir mungkin ia merasa sangat senang karena sudah lama ia dan sahabatnya itu tidak menghabiskan waktu bersama.

Ia selalu mempertanyakan itu semua..

Dan tentu saja untuk Tiffany ini bagaikan mimpi menjadi kenyataan, akhirnya ia bisa melepas rindu pada orang yang sangat disayanginya, yang sangat dicintainya.

“Noona, kemarilah.” 

Bagaikan tersambar petir, Tiffany kini terdiam mendengar apa yang ia dengan dari telinga sebelah kanannya. ia segera mengalihkan pemandangannya ke belakang. benar saja, suara itu berasal dari seorang pria yang ia kenali sebagai kekasih sahabatnya. Ditariknya lengan Taeyeon oleh Baekhyun sementara Taeyeon hanya mengikutinya, sementara Tiffany hanya mematungkan diri dan menekan earspeakernya lebih dalam agar terdengar lebih jelas.

“Ada apa?” – T

“Aku merindukanmu, noona.” – B 

“Yya! Baekhyun-ah! lepaskan, ini di publik” -T

“Tapi tidak ada yang melihat kita.. kenapa kau mengabaikan ku?” – B

“Ani.. aku hanya menghindari semua rumor yang ada dan penggemarmu yang sakit hati karenaku.” – T

“Tapi aku menyayangimu. aku merindukanmu, noona.” – B

“biar bagaimanapun aku kekasihmu, noona.” – B

“Akhir akhir ini aku cemburu” – B 

“Wae?” – T 

“Karena kau sepertinya tampak dekat dengan Tiffany-unnie” – B

“Yya! yang benar saja! Bukankah kau tau dia itu sahabatku sejak dulu?” – T

“Tetap saja.. jangan purapura bodoh noona, bukankah lebih banyak yang mendukung hubunganmu dengan Tiffany-unnie daripada denganku?” – B 

“Tapi aku menyayangimu Baekhyun-ah.. tidak mungkin aku bersamanya, kau kan tau aku dan Tiffany sudah bersahabat sejak dulu.” – T

“Jinjja!?” – B

“N-ne..” T 

“Jadi.. bisakah aku menciummu?” – B

“Ani!” – T

“Dan satu lagi, tolong sampaikan maafku pada Tiffany-Unnie atas kelakuan penggemarku tempo hari.” – B

“N-ne.. akan ku sampaikan, dan bisakah kau memanggilku dengan nama saja ketika kita sedang berdua seperti ini” – T

“Saranghae Taeyeon-ah..” B

“Nado..” – T

Chu..

“Mmmh..” – T

Ia ingin berlari sekencang mungkin dan melepas sepatu hak nya, tapi yang bisa ia lakukan hanya berdiri mematung. mendengar percakapan yang baru saja terjadi di telinganya membuat bumi seakan berputar di kepalanya. ingin rasanya menumpahkan semua amarahnya. Ingin rasanya melempar jauh jauh alat yang ada di telinganya.

Hatinya sekali lagi.. teriris sangat dalam. Kemungkinan yang baru saja akhirakhir ia fikirkan ternyata salah besar. Ia memang berencana tidak akan menyerah untuk mendapatkan Taeyeon, belum lagi sikap Taeyeon yang akhir akhir ini seperti dulu yang membuat Tiffany yakin bahwa Taeyeon akan semakin membuat harapannya menjadi nyata..

Itu semua salah.. kini ia sadar, sangat tidak mungkin dengan segala hal yang ada di sekitarnya ia bisa memiliki sahabat nya secara utuh.. dan untuk kesekian kalinya, pedang tajam menghunus hatinya begitu saja…

ia kini sadar.. dari awal… bahwa mencintai sosok itu.. bukan pilihan yang tepat untuknya.. 

dan selamanya.. akan seperti itu..

**

Taeyeon View.

Aku tidak mengerti.. sudah 8 hari semenjak pesan terakhir Tiffany.. dan aku tidak pernah menerima pesan pesan lainnya.. ketika kucoba mengajaknya bicara, ia bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun, sudah banyak pesan kukirim tapi ia bahkan tidak membalasnya satupun. entah mengapa aku merasa sangat.. sangat.. kehilangan sosok Tiffany.. aku.. ingin sekali memeluknya, aku sangat merindukannya. aku tidak tau apa yang telah dilakukannya hingga membuatku seperti ini.

kupandangi layar ponselku yang berisi pesan terakhir dari Tiffany untukku

“Apa.. aku benar benar.. kehilanganmu..?”

Member-member bahkan tidak menceritakan apa apa padaku tentangnya, bahkan yang biasanya selalu menggoda kami.. sekarang tidak ada lagi. aku merasa sangat.. sangat.. tidak berguna.. ketika dalam Talk Show tertentu, beberapa namja mengatakan bahwa mereka menyukai Tiffany, entah kenapa hati ku merasa takut dan khawatir ketika mendengarnya..

“O’Taeyeon-ah!” Rupanya Hyoyeon sudah menerima pesanku. aku memintanya untuk menemuiku.

“Wae? kenapa kau memanggilku? ada yang ingin kau bicarakan?” Hyoyeon lalu menarik kursi dan duduk dihadapanku.

“Aku.. ingin membicarakan..Tiffany..” Hyoyeon mengangguk seakan mengerti apa yang akan aku bicarakan.

“Kau merindukannya?”

“A-ani..”

“geojimal! aku tau kau merindukannya, di berubah, kan?” Hyoyeon lalu tersenyum padaku dan meraih ponselnya.

“Kau seharusnya tau kenapa ia seperti itu, Taeyeon-ah.” Lanjutnya lalu tertawa kecil.

“Maksudmu?”

“Dia sangat..sangat menyayangimu. dan ia tau ia tau bagaimanapun caranya ia tidak bisa memilikimu, yang ia rasakan hanya sakit jika ia sedang bersamamu, terlebih lagi melihat kau dengan kekasihmu itu, kau fikir apa yang dapat di lakukannya selain menjauh untuk melupakanmu?..”

“Jadi… kau mendukungnya untuk menjauhiku..?” Tanya ku ragu ragu, sorot mata Hyoyeon seakan ingin membunuhku, baru kali ini ia terlihat begitu serius..

“Tentu saja! ini akan hanya menyakitinya jika berlanjut, bahkan aku yang menyuruhnya untuk menjauhimu dan melupakanmu..”

“Kenapa kau melakukan itu.. Hyoyeon-ah..?”

“Kau fikir apa yang harus kulakukan ketika melihat sahabatku yang akan terus tersakiti!? aku tidak mau ia menyengsarakan dirinya sendiri hanya karena rasa sayangnya padamu!” Bisa kurasakan suara Hyoyeon yang meninggi tanda ia sangat marah padaku..

Tidak kusadari air mataku lolos begitu saja, mendengar pernyataan Hyoyeon membuat hati ku sangat sakit.. semua yang ia katakan.. semuanya benar. Tiffany menyayangi ku dan aku saja yang terlalu bodoh kadang karena tidak menyadarinya..aku yang terlalu bodoh dan terlalu lelet untuk menyadari perasaanku..

“Kau menyayanginya, apa aku benar?”

“A-ani..”

“Geojimal! sekali lagi! apa kau menyayanginya!?”

“N-ne..” Aku mengangguk lemah sembari menunduk, malu akan diriku sendiri karena sangat bodoh telah menyakiti orang yang sangat menyayangiku.

“Tidak mungkin, jika kau mencintainya, tidak mungkin kau bercumbu dengan kekasihmu dihadapannya.” Lanjut Hyoyeon setelah melihat jawaban ku dengan cara mengangguk. aku menatapnya bingung, apa yang ia bicarakan?

“Kau tidak ingat!?”

“Di backstage! Tiffany yang menceritakannya padaku.. ah aku ingat sekali bagaimana ia menangis ketika ia mencurahkan isi hatinya padaku!” Aku masih terdiam mencerna setiap perkataannya sampai ia mengarahkan jari telunjuk nya ketelinganya.

Ah! betapa bodohnya aku bahkan tidak menyadarinya! ku tekan kepalaku sedikit keras dan membuat Hyoyeon tertawa kecil.

“Sekarang kau mengerti Taeyeon-ah.. dan sekali lagi.. jika kau benar benar tidak mempunyai perasaan apa apa padanya, aku harap kau bisa membantunya untuk menghapus perasaannya padamu. setidaknya jangan mencoba apa apa sampai ia benar benar melupakanmu..”

“Aku mengerti.. tapi apa sekarang ia sudah berhasil melupakanku..?”

“Melupakanmu!? bahkan tidak sedikitpun, setiap malam ia masih membahasmu bahkan ia berencana untuk membalas pesanmu! tentu saja aku larang! dan dia sangat kecewa padamu.. kau tau kan..” Aku mengangguk mengerti dan Hyoyeon menyeka air mataku. Hati ku sedikit lega mendengarnya.. aku.. menyayanginya.. aku bahkan mencintainya.. entah sejak kapan perasaan ini muncul.. aku.. benar benar bodoh..

Lagi lagi pusing dikepalaku menyeruak kasar di seluruh urat di kepalaku. Aku mencengkram rambutku sangat kencang, Hyoyeon terlihat khawatir lalu membantuku untuk berdiri. mungkin aku hanya kelelahan mengingat belakangan ini aku sangat sibuk dengan aktifitas soloist ku.,

Pandanganku kabur…

gelap..

gelap…

Hitam.

“Brak..”

“Taeyeon-ah!!!”

**

Author View

Dirasakannya hangat yang menjalari lengannya. Perlahan kehangatan itu menghilang ia kemudian membuka kedua matanya melihat sinar lampu yang sangat terang. Sakit di kepalanya lama kelamaan memudar begitu saja. Bisa dilihat seorang gadis sedang membawa tempat air kecil yang sedang mengisinya membelakanginya.

“Pannie-ah..?” Lirihnya lalu bangkit setengah duduk. pening dikepalanya kembali terasa sedikit demi sedikit.

Gadis itu menoleh lalu tersenyum. ia berjalan mendekati Taeyeon yang masih terduduk lalu mengompress kepalanya.

“Maafkan aku karena datang telat.”

“Apa yang terjadi..?”

“Kau pingsan Taeyeon-ah.. Hoon Oppa lalu menyuruhku menemanimu sementara member lainnya ada jadwal yang harus dihadiri..” Jawabnya lembut sembari membersihkan lengan.. kaki.. leher Taeyeon dengan handuk hangatnya.

“Pannie-ah..mianhe..”

“Untuk apa?”

“Semuanya…” Tiffany terlihat bingung mendengar pernyataan Taeyeon.

“Dan untuk yang di Backstage it–”

“Sudahlah Taeyeon-ah kau tidak perlu meminta maaf soal itu, bukankah itu wajar, kalian kan sepasang kekasih, sekarang aku juga sudah proses melupakanmu Taeyeon-ah. kau selama ini menghindari Baekhyun karena takut menyakitiku kan? kau tidak usah khawatir. aku akan berusaha untuk melupakanmu.. tapi maafkan aku jika itu akan memakan waktu yang lama ” Tiffany tersenyum.senyumnya membuat hati Taeyeon teriris. ia kini sadar ia sangat sangat menyayangi sosok yang ada di hadapannya sekarang.

hatinya sakit ketika ia mendengar bahwa ia akan melupakannya, hatinya sakit mengetahui gadis yang ada didepannya berusaha untuk meninggalkannya. bukan meninggalkannya.. lebih tepatnya.. menghilangkan perasaannya sementara Taeyeon yang sangat bingung karena ia benarbenar.. telah.. jatuh. tidak disadari air mata jatuh ke pelupuk matanya.

“Taeyeon-ah! waegereu!? uljima..” Tiffany yang menyadari akan hal itu menyeka air mata Taeyeon perlahan. membuat Taeyeon malah semakin merasakan sakit di hatinya.

“Aku mohon jangan lakukan itu..” Lirih Taeyeon lemah sembari menangkap mata hitam tiffany dengan matanya..

“W-wae..?” Tangan Tiffany masih berada di wajah lembut Taeyeon.

“Aku mencintaimu Pannie-ah..”

“Sakit sekali ketika kau bilang kau akan melupakanku..” 

**

Halloo! saya atta 🙂

terimakasih sudah membaca chapter ini!!

dan oh yaa! saya akan mengapresiasikan jika kalian meninggalkan komentar di chapter inii! enggak cuman keren thor lanjut hehehe, karena itu ngebuat aku makin semangat untuk ngetik ehehehe! dan maaf soal ngelanjutnya lamaa darikemaren belum ada pencerahan kelanjutan cerita inii! hehehehe! 

DITUNGGU KOMENN  NYAA YAA 🙂

ONE COMMENT GIVE ME A MILLION REASON TO KEEP DOIN THIS :3

TERIMAKASIHH 🙂

Advertisements

138 thoughts on “FALLING (CHAPTER THREE) BY ATTALOCKSMITH

  1. Gregetan bget sama tae, tlat bget sih menyadari perasaannya.
    Setelah di tarik ulur kyak lyangan baru sadar akn perasaannya,.
    Suka bget ma nih ff, feel nya dpet, udah gitu pnjang lagi,.
    Lnjut thor ^^

    Like

  2. Ane bisa ngerasain apa yg fany rasain, tulisannya ngena, itulah cinta datang karna terbiasa haha alay banget ane tpi gpp yg penting taeny saliang tau prasaannya skarang huaaaaa

    Like

  3. Kasian banget si tippachan. Gue ampir mau nangis ngerasainnya…kalo si taetae sama tippa udah jadi pasti banyak konflik lagi dong thor/?’-‘ moga” jangan :’)

    Like

  4. butuh waktu lama bnget buat taeyeon mengakui klu dia jg cinta sm fany..kasian fany hrus denger mesra2anx baekyeon..next

    Like

  5. Setelahh ngerasaiin sakit hati yg mendalan kbpa bru skrng sii taeng sadar klo dia juga pnya rasa yg sama kyk ppany,huaa gw jdii kasian sama ppany tp gw prcya sii author akan menyatukan taeny..

    Like

  6. Bagian yg gue benci dr yg namanya baekyeon scandal —
    taeng yg kena imbas si anu cuma ngumpet di ketek ginger. Btw si anu pas ngebut tae pake noona, tp nyebut tiff kok pake unnie?? Atta typo haha gue suka ff yg perih2 ngiris. Tp gue lebih ke masokis taeng. Cuma yg ini bagus kok haha

    Like

  7. huwaaaa…. 😥
    gua baca sampe mewek thor 😥
    tae tae akhirny lu kena karma kan -_-
    lu jd cinta dh sma panny :v
    ahh ini chap yg melow thor 😦
    pas bnget gua bca mlem2..

    Like

  8. Kan sakit hati lgi, kasihan lhat fany..
    Tae bru nyadar stlah fany udah mau mulai melupakan prsaannya..
    Jujur thor, ini ceritanya kek asli!!! Author Jjang!!! 👍👏

    Like

  9. gila fany bener” berkorban bgt buat tae, ae nya telat ngerasain perasaan nya fany yg tulus. semoga baekyeon putus!

    Like

  10. THORRRRR WAAAAAAAA. KEMBALI LAGI DENGAN SAYA YANG KALO KOMEN PAKE CAPSLOK MOLUEEEE. GILA ATTA GILAAAAAAA. BENER-BENER BIKIN CAMPUR ADUK PERASAAN PEMBACAAAAAA. JUJUR AJA SAYA JADI KESEL SAMA BAEKHYUN. DAN SAYA KESEL SAMA TAETAE WAKTU BILANG DIA BILANG MASIH SAYANG SAMA BAEKHYUN. DAAAAN RASANYA TUH SAYA IKUT SENENG WAKTU TAETAE PADA AKHIRNYA NYEBUT NAMA TIFFANY-UNNIE. AH BENER-BENER. TAPI TYPO TETEP ADA:p YA ITU SIH WAJAR YA. GAPAPALAAHH. KEEP WRITING, JAZZATTA!!!!!!!! BUBUYYYY MUAHHHH. *SEKETIKAMUNTAH *OKESIP

    Like

  11. Tau lah mau comment apa.. nie hati di aduk aduk mele dgn baekyeon sdng pany hanya bs mrskn sakitnya 😧😧😧 masa ia sahabat sendiri gak peka sih dgn perasaan yg sllu di bw pany ke pd tae.. dih ngenes amat sosok pany yg sllu mau dgn tae stlh semua yg terjadi di bilang baek baek saja😬

    Like

  12. Membacaya bikin baper bgt,,,,saat fany sakit melihat dan mendengar tae dan baek bersama,rasanya ikut sangat sakit bgt,,,yaaa tae bilag cinta ma fany,lanjut

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s