FALLING (CHAPTER FIVE) BY ATTALOCKSMITH

­



TITTLE : FALLING CHAPTER FIVE

AUTHOR : ATTA

DATE PUBLISHED : UNKNOWN

EMAIL TO CONTACT ME : attalocksmith@gmail.com

id line : (@LCK7866O) PAKE @ YA HEHE 🙂

maapin sebelumnya kalo banyak salah atau typo, ini bikinnya ngebut takut pada kecel kalo updatenya lebih lama dari ini :3 

**

FALLING CHAPTER 5

IMG_5096

Di perhatikan setiap lekuk pahatan wajah itu, tanpa ia sadari ia senyuman tulus tergambar jelas di wajahnya, ia benar benar mengagumi sosok itu. irama detak jantungnya benar benar tidak bisa dikontrol, sosok yang sedang ia amati ini benar benar sempurna. Ia semakin sadar bahwa ia telah jatuh.. untuknya.. dia benar benar jatuh cinta pada gadis brownie itu.

Senyumnya seperti menghipnotisnya, membawa dia keaalam bawah sadar, seandainya saja senyuman itu hanya “untuknya”. Andai saja gadis itu adalah miliknya,ia akan memeluknya sekarang juga tidak peduli siapa yang akan memperhatikannya, ia merindukan sosok itu. ia benar benar bersyukur ketika mengingat kembali bahwa gadis itu menyatakan jika ia menyayanginya.. ani.. ia mencintai dirinya yang tidak tahu apa kelebihannya.

Ia merasa benar benar beruntung mempunyai sosok bak malaikat itu. Tidak henti-hentinya senyum terlepas dari bibirnya.

Detik demi detik, seiring waktu berjalan, senyuman pudar dari bibir nya yang lembut, berubah menjadi datar ketika beberapa namja dan yeoja mendekati sosok yang sedari tadi ia perhatikan, mereka menggodanya,

membuatnya tertawa, membuatnya tersenyum, terlebih lagi ada beberapa namja dan Yeoja yang bahkan membenahkan helai rambut yang keluar dari garisnya ataupun mengenggam sengaja tangan.. Tiffany.. ia merasakan hawa panas seperti.. jealous…

Hyoyeon yang memperhatikan sahabatnya yang sedang terpana pada gadis pujaannya segera mendekatkan bibirnya ke telinga gadis blonde itu.

                  “Sangat di sayangkan.. kau melepaskannya.”

Taeyeon terhenyak dari lamunannya, mendengar itu, hatinya berdebar sangat cepat, ketakutan menghampirinya seakan-akan ia akan kehilangan sosok itu lagi. Lalu senyum tipis tergurat di wajahnya.

                  “Percayalah, aku tidak akan melepaskannya lagi.”

 

Ucapnya pada Hyoyeon lembut lalu kembali memperhatikan gadis itu, sementara sahabatnya itu hanya tersenyum memperhatikan Taeyeon seperti anak kecil sedang melihat pemandangan yang sangat indah. Membiarkan ia terbang dengan lamunannya.

**

Musik itu terus bermain dengan sendirinya, membawa fikiran gadis itu terbang. Sesekali ia memperhatikan bintang yang berada jauh di atasnya. Masker hitam itu tetap menempel di wajahnya, Kain kecil tipis itu rupanya mampu membantunya untuk melihat bintang malam ini. Tanpa ada seorangpun yang akan menganggunya. Tanpa ada seorangpun yang mengenalnya.

Orang orang berlalu lalang melewatinya, senyuman tidak lepas dari wajah mereka yang begitu merindukan suasana malam di dekat sungai yang sangat fenomenal di Seoul, Korea Selatan.

Screen Shot 2015-07-25 at 11.33.11 PM

Tangannya sedikit menggigil, ia mulai merapatkan jaket pada tubuhnya. Ia benar benar merindukan saat saat ini, saat dimana ia akhirnya bisa sendiri dengan fikirannya tanpa ada seorangpun yang menganggunya. Sudah 3 bulan ini ia benar benar merasa kehilangan dirinya. Aneh memang melihat gadis seorang diri, duduk dengan tatapan kosong pada sungai Han yang ada didepannya.

Matanya menunjukan bagaimana lelah jiwanya menghadapi semua masalah yang nampaknya menunggunya dihadapannya. Terkadang ia merasa ia benar benar tidak berguna, semua yang dilakukannya akan selalu salah. Semuanya.

Bahkan hanya dengan membaca kalimat benci yang ditujukan padanya dapat membuatnya sangat sakit, sangat terpuruk, yang ia inginkan hanyalah ketenangan dalam sehari seumur hidupnya tanpa harus di caci satu hari atau bahkan tanpa dapat hal hal aneh yang dilemparkan padanya. Ia benarbenar tidak sanggup lagi.

Ini adalah keputusan tepat, setelah melakukan hal yang baru beberapa jam dilakukannya. Senyum tulus tergurat di bibirnya. Satusatunya hal yang bisa membuatnya kembali bertahan, kembali tersenyum, hanya senyum, senyum yang selalu dapat mengembalikan semua moodnya, senyum yang dapat membuat senyum tergurat di bibirnya sendiri.

“Kim Taeyeon.” Ia terhenyak dari lamunannya, sedikit terkejut ketika ia menyadari ada seseorang yang mengenalinya. Bagaimana bisa, ia benarbenar telah menyiapkan ini, hoodie yang tebal hamper menutupi seluruh atasan tubuhnya benarbenar ampuh selama 1,5 jam yang lalu. Ia menoleh kebelakang, mencari asal suara itu.

“Nampaknya kau datang lebih awal, Kim Taeyeon. Atau.. haruskah aku memanggilmu the Broken-Hearted Girl Kim Taeyeon.” Gadis itu sembari masih berusaha menutupi wajahnya dengan masker perlahan duduk disamping gadis blonde itu yang tersenyum masih sahabatnya sudah datang rupanya. Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya pada sungai yang tenang.

“Jadi, bagaimana Nona Kim? Apa yang kalian berdua putuskan?” tanya gadis yang baru saja datang itu. membuat Taeyeon sekali lagi tersenyum. “Aku memutuskan untuk berpisah walaupun ia tidak menginginkannya, tapi aku rasa ini keputusan yang terbaik yang pernah aku buat.” Sahabatnya itu tersenyum lebar mendengar perkataan Taeyeon. ia sangat antusias, akhirnya beban yang dipikul gadis blonde itu sudah sekian lama akan segera hilang.

“Benarkah!? Aku sangat senang mendengarnya! Kau berhak untuk bahagia Taeyeon-ah. Apa yang lain sudah tahu?” Taeyeon menggeleng lemah, ia belum siap untuk memberitahukannya pada yang lain, ia akan membiarkan mereka untuk tahu sendiri, cepat atau lambat itu akan terbongkar.

“Baiklah aku mengerti, biar bagaimana pun kau benar benar berhak untuk bebas Tae. kau berhak untuk merasakan kupu – kupu yang akan di perutmu…” “…tentunya kupu kupu yang akan di berikan Tiffany.” Lanjut Gadis berambut pendek itu lalu memukul pelan lengan Taeyeon.

“Yya! Choi Sooyoung! Berhenti menggodaku.” Rupanya gadis yang beberapa menit baru menduduki kursi itu adalah sahabat sekaligus rekan kerja Taeyeon, Sooyoung dari Girls Generation, salah satu member di group yang Taeyeon ada di dalamnya.

Sooyoung hanya tertawa kecil, entah mengapa ia senang melihat Taeyeon akhirnya tersenyum lebar, tertawa seperti yang pernah ia lakukan dulu. Ia benar benar tidak berhak atas segala cacian yang di berikan orang orang padanya, ia tidak pantas di pandang sebelah mata oleh orang orang.

“Aku merindukanmu Taeyeon-ah. Semua merindukanmu. Tiffany merindukanmu.”

Semua ini bermula ketika company yang selama ini merawat mereka memikirkan keuntungan yang bisa diraup sebanyak mungkin dari gadis mungil yang tidak berdaya. Perlahan tapi pasti merenggut segala kebahagian dan ketenanngannya. Mengongkrak popularitas beberapa group dengan meletakkan gadis itu dititik paling rendah dihidupnya.

Membuat berbagai kebohongan hanya untuk menarik perhatian masyarakat luas.. ia benar benar telah menjadi umpan. Dan untuk kali ini gadis itu kini berani untuk berdiri membela dirinya sendiri.

Flashback

 

“Kim Taeyeon, dari Girls Generation memulai peperangannya dengan beberapa fans kekasihnya. “

“Taeyeon Girls Generation memberi cacian pada penggemar nya dan penggemar Baekhyun dari EXO”

“Taeyeon Girls Generation memanfaatkan kepopularan Mr. B untuk mendongkrak popularitasnya.”

“Leader dari Girls Generation belum juga angkat bicara atas skandal di Hotel berbintang dengan kekasih tercintanya.”

“Taeyeon SNSD mendapat ribuan kebencian lewat social medianya.”

“Taeyeon Girls Generation disebut sebut pemilik haters terbanyak dipenghujung tahun 2015.”

“Taeyeon Girls Generation masih terdiam atas semua skandal yang muncul.”

“Bukan hanya penggemar dari suatu club penggemar dari salah satu boyband ternama di korea, Taeyeon SNSD juga mendapat sindiran pedas dari beberapa penggemar fanatiknya juga beberapa artis lainnya.”

“Girls Generation Taeyeon harus dirawat di rumah sakit sepekan untuk pemulihan cedera pada bagian tangannya setelah menghadiri acara untuk mensupport group kekasihnya.”

“Kekerasan yang ditimbulkan para penggemar fanatic dan beberapa orang misterius tetap berlanjut, keamanan semakin diketatkan untuk Taeyeon Girls Generation”

“Girls Generation Taeyeon mengalami pelecehan seksual ketika mencoba melewati kerumunan yang sangat ramai disuatu acara minggu ini.”

Gadis brownie itu masih terdiam, hatinya hancur berkeping-keping, hatinya benar benar tidak bisa mengatasi semua ini. Ia masih mengelus rambut gadis blonde yang masih bersandar di bahunya. Gadis blonde itu benarbenar jengah, ia terlihat sangat lemah, wajahnya sangat pucat, suhunya tinggi, keringat memenuhi seluruh tubuhnya. Tangannya tidak pernah lepas dari tangan gadis blonde itu.

Ia terus menciumi puncak kepala Taeyeon yang masih terdiam dengan tatapan kosong dan mata yang letih. Mencoba menenangkan sosok yang disayanginya itu. Tak henti-hentinya gadis brownie meneteskan air matanya melihat orang yang sangat disayangi terlihat sangat kacau dan hancur. Ia benar benar tidak mengira akan menjadi seperti ini. Hatinya sangat perih melihat gadis yang sangat dicintainya hancur begitu saja di hadapannya.

                  “Fany-ah uljima.. aku baik-baik saja..” lirih Taeyeon lemah masih mengistirahatkan kepalanya di selasela leher Tiffany dan menyandarkan tubuhnya di pundak gadis yang sedari tadi meneteskan airmatanya itu.

                  “Berhenti mengatakan itu Tae! kita berdua tahu kau sedang tidak baik baik saja! Dan jangan bertingkah seolah kau baik baik saja!” Tiffany meninggikan sedikit suaranya, ia benar benar marah, marah akan situasi yang sedang Taeyeon hadapi. Membuat Taeyeon terdiam. Sesungguhnya, Taeyeon benar benar baik –baik saja, baginya, Tiffany yang ada siampingnya benar benar cukup untuknya.

                  Tanpa mendengar balasan apapun dari Taeyeon, Tiffany kini yang terdiam, mencoba menyeka semua air matanya, mengambil nafas panjang, masih merengkuh tubuh Taeyeon dengan tangan kiri dan tangan kanannya masih memainkan rambut gadis blonde itu. ia sadar ia telah salah salah karena menaikan suaranya dan terdengar emosi, padahal yang dibutuhkan Taeyeon saat ini hanya ketenangan. Fikirnya.

“Maafkan aku. Aku tidak bermasud—“ “Ssshh… aku baik baik saja Fany-ah selama kau ada disini.” Taeyeon mengecup pipi Tiffany cepat setelah dia menyelesaikan omongannya.

“Kau tahu Tae.. kau orang yang paling kuat yang pernah kukenal..” Ujar gadis brownie itu lembut lalu kembali mengecup puncak kepala Taeyeon hangat.

Taeyeon tersenyum, merasakan kehangatan yang kini menjalar keseluruh bagian tubuhnya. “Aku kuat karena kau disini fany-ah.” Lirih Taeyeon, senyuman tidak lepas dari bibirnya kali ini, begitu juga gadis brownie itu. entah sudah berapa kali kupu kupu itu menekan perut sampai ke hatinya.

“Tae.. kau harus istirahat.. kau hari hari ini benar benarsibuk.. 34 jadwal sudah kau selesaikan dalam seminggu!? Itu benar benar gila.” Tiffany kembali mengambil tissue dan handuk bersih yang ada di meja tanpa berdiri kemudian membersihkan semua keringat yang ada di kening, leher, telinga bahkan tangan Taeyeon.

“I will Fany-ah.. biar kuselesaikan jadwal yang ini dulu.. ne..?” Tiffany terbelalak, ia benar benar tidak ingin membiarkan Taeyeon menari dan mengerahkan sisa tenaganya seperti orang linglung di panggung nanti. Ia sangat tahu gadis itu kini sangat lemah, lelah dan kehilangan control akan dirinya sendiri.

“Tidak, kau tidak akan kemanamana dan kau tidak akan menghadiri acara itu hari ini, aku tidak akan membiarkanmu.” Tiffany masih mencoba berbicara setenang mungkin seiring ia membersihkan sisa sisa kotoran yang berada di punggung Taeyeon akibat lemparan bahan sisa sisa makanan busuk dari orang orang yang benar benar telah terhanyut dalam kehidupan hiburan.

“Tapi—“

“Tidak ada tapi-tapian Tae. Semua member dan Oppa saat ini sedang berbicara ke direksi, kau tidak perlu khawatir, bahkan orang tuamu, Ji-woon oppa. Semua Taeyeon-ah. Kami disini, untukmu” Tanpa disadari Air mata Taeyeon yang beku kini mencair membasahi pelupuk matanya jatuh mengalir ketempat yang lebih rendah, senyum tipis tergurat dibibirnya. Ia merasa sangat…beruntung.

 

Flashback Off

“Dimana Hyunnie?” Tanya Taeyeon lalu menegak bir kalengan yang ada ditangannya begitu juga Sooyoung yang sedari tadi berhasil menghibur Taeyeon untuk kesekian kalinya. Dan untuk kesekian kalinya juga ia melihat Taeyeon setenang ini. Tanpa ada beban yang harus di pikulnya.

Sooyoung lalu melempar beberapa kerikil kesungai. “Oh, dia sedang menjemput Sunny di gerbang depan. Sunny memaksa kami untuk ikut. Kau tahu, hanya kita berempat yang tidak hadir di acara itu.” Menikmati suara yang tercipta ketika permukaan kasar itu melawan permukaan cair dan tenggelam untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

“Maafkan aku, jika bukan karena aku memintamu untuk kesini—“

“Apa apaan itu Taeyeon-ah. Kau ini keluargaku, kau kakakku, kau sahabatku, kau rekan kerjaku, jadi berhenti mengatakan itu. aku akan selalu berada disana dimanapun kau memintaku untuk menemanimu. Kau tahu, bahkan kelima member lainnya memaksa untuk membatalkan jadwal hari ini karena mereka ingi kita menghabiskan malam ini bersama, merayakan hari jadimu.”

Sooyoung menghela nafas berat.

“Tapi apa daya mereka tidak mungkin bisa melakukan itu, setidaknya Aku, Seohyun dan Sunny masih bisa disini untukmu sementara yang lain mewakilkan kita.”

Sooyoung lalu memukul pelan kepala Taeyeon yang tertutupi kupluk dari hoodienya itu, merasakan tawa kecil Taeyeon yang tulus. Sama halnya dengan Taeyeon, ia tidak henti-hentinya berterimakasih kepada siapapun itu yang sudah membiarkannya memiliki orang orang yang ada disekelilingnya yang akan selalu menemaninya. Kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun

“Taeyeon-ah”

“Hm?”

“Kau lihat pria itu.. hmm… yummie” Sooyoung menunjuk pria di sebrang sungai dengan telunjuknya, pria dengan burger besar yang ada ditangannya, mengelus perutnya yang mengeluarkan suara aneh sembari menegak salivanya, menahan rasa keinginannya.

“Yya! Dasar! Kau baru saja makan besar tadi sore!” Taeyeon terkekeh melihat sahabatnya yang benar benar terlihat menginginkan burger itu untuk segera dimulutnya, untuk segera mengunyahnya.

“Taeyeon-ah.. kalau aku meminta sedikit padanya, mungkin ia akan memberikan se—“

“Anyeong! Apa yang aku lewatkan?” 2 gadis yang sudah lengkap dengan jaket yang tebal menyelimuti tubuhnya sudah berada di hadapan Sooyoung dan Taeyeon. Sooyoung sekali lagi menelan ludahnya.

“t-tidak a-ada.” Taeyeon terkekeh melihat gelagat Sooyoung yang hampir tertangkap basah karena menginginkan burger yang jelas di larang oleh sang maknae, Seohyun.

“Taeyeon-unnie! Aku sudah lihat beritanya! Akhirnya, kau resmi menyelesaikan semuanya!”

“Kau berhak mendapatkan ini Tae..” Sunny melanjutkan kalimat Soehyun. Mereka berempat bergerak lalu duduk diatas rumput yang melambai karena angina, menikmati bintang di atas dengan langit yang gelap, malam yang indah dengan beberapa bir dan ayam.

“Satu yang membuatku penasaran, bagaimana ia bisa melepaskanmu? Aku kira dia benar benar tidak akan melepaskanmu Tae. dan bagaimana company membiarkannya?” Taeyeon menoleh pada sahabatnya yang sibuk mengunyah hingga tulang tulang ayam itu lalu terkekeh. “Oh itu mudah. Aku membawa pengacaraku dan meminta keringanan pada mereka, terimakasih juga kepada kalian sudah meyakinkan mereka, dan soal Baekhyun, aku rasa ia sudah lelah melihatku sengsara” Tawa Taeyeon kecil, membuat ketiga ekpresi sahabatnya merasa iba akan apa yang telah dilalui gadis blonde itu.

“Si brengsek itu! aku masih benar benar belum selesai dengannya! Bagaimana bisa ia tidak ingin melepaskanmu dan memaksa company, hanya karena groupnya sedang naik daun, direksi menyetujuinya!”

“Maja! Ia bahkan yang membuat beberapa berita tentang-mu! Kekasihnya! Hanya agar kau tidak meninggalkannya! Pengecut! Mengancammu dengan licik seperti itu! Jika ia benar benar menginginkanmu, ia pasti akan melakukan sesuatu! Bukannya membuatmu seperti ini!” Taeyeon malah terkekeh mendengar sumpah serapah yang ditujukan untuk pria yang baru beberapa jam ini ia temui.

“Baiklah unnie. Aku rasa cukup sampai disini kita membahas si brengsek itu”

“Apa!? Apa aku tidak salah dengar!?” ketiga sahabatnya itu menoleh pada Soehyun yang baru saja..

“Kalian dengar itu!? apa yang dikatakan Seohyun!?” Taeyeon antusias karena baru pertama kali mendengar Sang Maknae berbicara sesuatu yang sedikit kasar, sementara dua gadis lainnya menganga, ini nyata.

“Akhirnya! Our maknae!” Tawa keempat sahabat itu seketika meledak ketika mendengar sekali lagi Seohyun mengatakan kata itu. ini benar benar sesuatu yang baru.

“Aku sangat beruntung memiliki kalian.. aku benar benar beruntung..” Lirih Taeyeon masih memandangi sungai yang tenang dengan senyum diwajahnya.

“Kami yang beruntung karena memiliki sosok yang sangat kuat Taeyeon-ah. Kami sangat beruntung mempunyai leader terbaik didunia. Sahabat paling kuat, kau melindungi kami dari berbagai macam masalah, bahkan ketika kau tidak melakuka kesalahan apapun, kau lah yang melindungi kami, kau yang selalu menjadi bahan pembicaraan, kau lah yang menanggung semua ini..”

“Maafkan kami Taeyeon-ah.. karena tidak bisa melakukan apa apa..” Sunny menundukan wajahnya mendengar perkataan Sooyoung yang seratus persen benar adanya. Taeyeonlah yang selalu menjadi pelindung mereka.

“Unnie maafkan kami.. tidak banyak yang bisa kami lakukan unnie..” Taeyeon menoleh pada ketiga sahabatnya, membelalakan matanya, yang dilakukan ke8 gadis itu benar benar banyak untuknya. Kenapa mereka bisa berkata seperti itu.

“Itu tidak benar. Aku yang beruntung memiliki kalian semua. Aku benar benar beruntung, jika bukan karena kalian aku tidak akan sampai seperti ini, dan jika bukan karena kalian juga aku akan lepas dari semuanya. Jika bukan kalian, aku tidak tahu harus pergi kemana. Kalian lah yang selalu ada disisiku, membelaku, percaya padaku dan tidak pernah meninggalkanku.” Keempat sahabat itu saling berpelukan, berbagi kehangatan di malam yang dingin, merasakan kehangatan dan merasakan ketenangan pada diri mereka.

“Taeyeon-unnie” Panggil Seohyun ketika menyudahi pelukan hangat diantara keempat sahabat itu. Taeyeon menoleh lalu tersenyum. “Hmm?”

“Apa ini artinya kau dan Fany-unnie akhirnya bisa….”

“Ah! Benar! Aku sampai lupa! Akhirnya”

“Benar! Aku setuju! Aku memberi kalian restu Taeyeon-ah!” Bukan jawaban Taeyeon yang didapat Soehyun sebaliknya malah kedua unnienya yang sangat antusias ketika kembali mengingat, inilah saatnya, Taeyeon sudah bebas, tidak ada yang melilitnya, ia berhak bahagia setelah semua yang ia lewati.

“Yya. Jangan bercanda. Tidak mungkin.” Taeyeon menghela nafas panjang, mengalihkan pandangannya pada keluarga di sebrang sungai yang terlihat sangat bahagia dengan tawa mereka. membuat ketiga sahabatnya bertanya tanya mengapa. Ini sudah waktunya untuk Taeyeon merasa bahagia, benar benar waktunya.

Taeyeon menegak birnya, merasakan sedikit kepuasan di kepalanya. “Aku tidak yakin ia akan menerimaku setelah semua yang telah aku lakukan padanya.”

“Mwo!? Kau berfikir sepert itu!? itu sudah lalu Taeyeon-ah! Dan apa kau lupa, Tiffany bahkan menolak dan menjauhi semua orang yang mendekatinya untukmu, kalian selalu bersama sama. Selalu.” Sooyoung benar benar meyakinkan sahabatnya itu.

“Ne! Maja! Jangan lupa tentangmu juga Taeyeon-ah! Sudah berapa banyak air mata yang kau habiskan untuk Tiffany ketika ia dekat dengan 2 pm dude itu! atau bahkan ketika ketika ia dikabarkan dekat dengan orang lain. atau bahkan ketika beberapa namja dan yeoja yang benar benar mendekatinya, kau benar benar cemburu. Kau melakukan segalanya untuknya. Kau selalu ada untuknya. Dan dia selalu ada untukmu.”

“Benar Taeyeon-unnie! Dan jangan lupa sudah berapa malam kau menghabiskan malammu dengan Fany-unnie!” ketiga sahabat itu menoleh pada maknae mereka yang begitu polos.. membuat sang maknae terlihat bingung akan unnie –unnie nya. “Apa? Benarkan? Fany-unnie akhir akhir ini tidur disamping Taeyeon-unnie..” ucap sang maknae membuat ketiga sahabat itu tertawa.

“Semua yang kulakukan untuknya, tidak ada apa apanya di banding apa yang telah ia lakukan untukku. Aku tidak pantas mendapatkannya.” Ujar Taeyeon kecewa kembali menenggak birnya.

Sooyoung terhenyak. “Cukup! Hentikan omong kosong itu! kau sepertinya mendadak pikun! You’ve done so much for her!”

“Yya! Taeyeon-ah! Apa kau lupa ketika kau selalu ada disamping Tiffany tidak peduli kapanpun itu, kau yang selalu ada untuknya ketika kami tidak bisa disisinya. Kau yang rela untuk melewatkan jam makanmu ketika menjaganya sakit, kau yang membelanya mati matian ketika beberapa kabar melayang, kau yang membuat Tiffany bangkit dari keterpurukannya, kau tahu itu!?”

“Ne unnie! Maja! Dan kau harus tahu berapa kali Fany-unnie memberitahuku ia tidak akan pernah cukup berterimakasih karena kau selalu ada disisinya, kau selalu ada untuknya, dan seberapa beruntungnya dia untuk memilikimu disisinya. Dia sangat menyayangimu, dan aku yakin kau juga sangat menyayanginya.”

Taeyeon diam diam tersenyum. Mendengar nama sosok itu saja sudah berhasil membuatnya melayang, mengingat bagaimana rasanya ketika tubuh mereka merengkuh satu sama lain. Benar benar membuatnya gila.

Bisa dirasakan ponselnya terus bergetar. Ia segera meraih ponselnya, membiarkan ketiga sahabatnya berbincang dan bercanda menikmati malam yang indah ini.

To : My Taetae<3

Taetae! Apa kau sudah makan malam? Jangan coba coba melewatinya! Dan ohya, bagaimana dengan obatmu? Aku tidak ingin kau sakit! Bagaimana malammu? Disini sangat membosankan tetapi tadi ada beberapa penggemar fanatikmu memintaku untuk menitipkan salamnya padamu. Jangan lupa kabari aku. Aku merindukanmu. Love. Fany.

                  To : Yeppeuni^^

Jangan khawatir Fany-ah. Aku bahkan sudah meminum obatku. Ohya? Katakan pada mereka aku menyayangi mereka! hehe. Kau bosan? Cepatlah pulang agar aku bisa memelukmu! Kau juga jangan lupa untuk malam! Malam ku indah! Sooyoung, Sunny dan Seohyun sangat menghiburku^^aku juga merindukanmu Fany-ah.

                  To : My Taetae ❤

Kau sudah meminum obatmu!? Jinjja!? Aw good girl <3. Ah serunya. Maafkan aku tidak bisa hadir menemanimu.. tapi aku akan menggantinya besok. What about some Lunch time with me?^^ I miss you a lot Tae. dan ohya! Aku sudah melihat beritanya! Akhirnya.. kau berhak untuk bahagia Tae.. akhirnya kau lepas. Dari… ugh that bastard! i’ll punch him for you<3

                  To : Yeppeuni^^

Lunch? Hmm maafkan aku tetapi besok siang ada beberapa hal yang harus kuurus fany-ah. Bagaimana dengan makan malam? Kau sudah melihatnya? Benarkah? Ahahaha kau lucu fany-ah. Aku memang bahagia, karenamu. Jadi sekarang aku resmi single. Aku single. Kau single. Apa itu kebetulan? Aku rasa tidak xp. I miss you so much more Fany-ah.

                  To : My TaeTae ❤

Hahaha aku senang mendengarmu seperti ini Tae. sudah lama ak merindukan senyummu. Maafkan aku karena tidak bisa melakukan apa apa. Hanya bisa melihatmu seperti ini. I love you Tae. I love you. (: Dinner? Sounds good to me. Just the two of us right? (;

                  To : Yeppeuni^^

Ani Fany-ah. Kau sudah melakukan segalanya untukku. Dan aku sangat berterimakasih untuk itu. terimakasih karena selalu ada disisiku. I love you too. I love you so much more fany-ah. I love you. Yes. Just the two of us (: lebih baik kau simpan dulu ponselnya, ne? focus pada sone untuk saat ini (:

                  To : My Taetae<3

Berada di sisimu adalah hal yang paling indah yang pernah kurasakan Tae. Arasseo! ^^ semoga malammu menyenangkan! aku akan menunggumu dirumah, Ne?^^

 

                  To : My Taetae ❤

Ohya Tae. aku hampir lupa..

 

                  To : Yeppeuni^^

Sampai jumpa dirumah fany-ah, semoga malammu menyenangkan. Ne? ^^

 

                  To : My Taetae ❤

Happy Birthday Tae (: I love you.

 

                  To : Yeppeuni^^

No wishes? :p gomawo ^^ I love you too. Serius, simpan ponselmu :p

 

                  To : My Taetae ❤

Naah… we’ll see :p. baiklah! Bye!

 

Gadis blonde itu masih tersenyum, membaca ulang percakapan singkatnya dengan sosok yang dirindukannya saat ini. Sosok yang belum ia temui sepekan ini. Ia benar benar merindukan Tiffany, ia merindukan bagaimana hangatnya tubuh Tiffany ketika malam tiba dan Tiffany selalu menenangkannya, bagaimana Gadis brownie itu akan memeluknya setiap saat.

Memberi perhatian yang sangat ia sukai. Merindukan gadis itu kadang membuatnya sesak. Mengingat lagi beberapa minggu kebarin jadwal yang mencekiknya tidak memungkinnya untuk bertemu gadis brownie itu. ia hampir lupa bagaimana rasanya ketika Tiffany menyuapinya dengan sabar. Menjaganya ketika sakit. Ia semakin yakin, bahwa ia sudah benar benar jatuh untuk Tiffany. Dan ia akan selalu ada untuk Tiffany, tidak peduli siapapun yang akan masuk ke kehidupan gadis brownie itu.

Ia benar benar tidak akan melepaskan sosok itu lagi. Ia tidak akan bertindak bodoh lagi. Meskipun Tiffany tidak akan menerimanya, ia akan ada disana. Untuknya. Untuk Tiffany. Meskipun harus melepaskannya untuk orang lain sekalipun. Ia akan tetap disana. Menunggunya.

“Lihatlah. Aku bertaruh ia baru saja mendapat pesan dari Tiff.” Sooyoung angka bicara menyadari sahabatnya yang sedari tadi tersenyum kuda. Sibuk dengan ponselnya sampai sampai ia tidak menangkap jelas apa yang di bicarakan ketiga sahabatnya.

Seohyun juga sunny tergelak. Itu sangat jelas ia menerima pesan dari Tiffany. Siapa lagi yang dapat membuatnya tersenyum itu hanya karena ponsel. Bisa dirasakan kedua pipi Taeyeon yang memerah, segera menyingkirkan benda kecil itu dan menenggak birnya, memperhatikan sungai yang tenang.

“Kau masih mau menyangkal?” Taeyeon tersenyum. Entah apa arti dibalik senyumnya itu. “Biarkan saja unnie. Mau bagaimanapun aku yakin takdir mereka bersama. Jadi mau sebanyak apapun Taeng-unnie menyangkal..” “Ya! Benar! You two are like a match made in heaven.” belum selesai sang makna berbicara sudah dipotong oleh sunny.

Untuk beberapa saat keempat sahabat itu menghabiskan waktu mereka untuk bercanda, berbincang, melepas semua beban yang selama ini mereka pikul, mengeluarkan semua angan-angan yang mungkin akan di capai, memberi ruang di hati mereka untuk merasakan lebih lega.

**

**

Flashback

Gadis itu berjalan tergesa gesa dilorong yang sepi, langkahnya sangat cepat,sadar akan seseorang yang sedari tadi mengawasinya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, perasaan takut, sedih, gelisah menjadi satu.

Pekerjaan yang menuntutnya untuk selesai selalu malam menjelang pagi ini benar benar membuatnya frustasi dan lelah. Tentu saja gedung ini sudah sepi, gedung dimana para bintang melakukan aksinya, tidak lain adalah gedung performa yang sejak sore menuntutnya untuk tetap tampil. Lorong ini sangat sepi, mengingat hari yang sudah semakin larut, tidak banyak orang yang melakukan aktifitas termasuk dirinya.

Manager yang selama ini menjemputnya tidak kunjung datang, perasaan takut semakin menghampirinya, ia terus berjalan, mencari secercah cahaya, entahlah, cahaya apa saja yang bisa ia jadikan tempat amannya. Giginya bergemeletuk merasakan hawa dingin pendingin lorong. Lampu menyala redup menambah suasana menjadi tegang untuknya.

Sudah sejak siang ia merasa di awasi sampai beberapa menit lalu ia melihat sekelebat bayangan pria yang bersembunyi di arah belakangnya, menutupi dirinya sendiri di balik pajangan pohon besar.

Bukan hanya hari ini ia merasa di awasi, mengingat banyak skandal yang menimpanya membuat tidak sedikit orang membencinya, bahkan ingin menyakitinya. Yang ia takutkan kali ini hanya orang itu melakukan hal hal yang tidak diinginkan.

Hatinya terus berdoa, mencengkram kuat bajunya, sesekali memejamkan mata mencoba menenangkan jantung yang sedari tadi berdetak sangat kencang tanpa jeda.

Ia terus berjalan, hentakan sepatu nya menggema di lorong yang sunyi, matanya mencoba mencari seseorang, mencoba membuka satu persatu pintu yang terdapat di lorong ini, sampai akhirnya pada ujung lorong. Ia menghentikan langkahnya, tidak ada satu ruangpun untuk nya bersembunyi.

Ia memejamkan matanya, tidak tau harus berbuat apa, derap langkah kecil itu terdengar kian mendekat.

“Siapa disana.” Ujar gadis blonde itu masih belum berbalik mencari tahu siapa sosok yang ada di belakangnya.

“Kim Taeyeon. rupanya kau sadar.” Jantung gadis blonde itu kian berdetak lebih cepat dari biasanya. Mencoba mencari keberanian untuk mengangkat suaranya.

“Apa yang kau mau.”

“Kim Taeyeon.”

Gadis blonde itu bisa merasakan hembusan nafas hangat mengelitik leher yang terekspos dikarenakan kuncirannya. Memejamkan matanya, mengenggam rasa takut, air matanya terus mengalir membasahi bajunya.

“Menjauh dariku!” Sahutnya ketika ia merasakan tangan yang memeluk pinggangnya, tidak mampu melakukan apa apa, bahkan tidak mampu bergerak sedikitpun. Pria itu mengeratkan genggamannya, mendorong tubuh Taeyeon pada tembok lebih keras, merobek kerah gadis blonde itu dengan kasar.

Tidak perduli seberapa kuat pukulan pada dada bidang pria itu, tidak akan cukup untuk melawannya. Ia terus berteriak, mencari pertolongan. “Kau harus membayar atas semua yang telah kau lakukan, Kim Taeyeon.” “A-aku tidak melakukan a-apa- a-apa.” “Sssh jangan menangis.” Pria itu menyeringai ngeri, semakin membuat hati gadis mungil itu menjerit, berharap seseorang akan menolongnya.

“Aku tidak bisa membalas satu persatu membermu, haruskah aku membalasnya hanya pada pemimpinnya. Ide bagus bukan?” Taeyeon terus menjerit, entah itu berguna atau tidak. mencoba mengeluarkan seluruh tenaganya.

Pria itu terus membabi buta menghirup aroma kulit Taeyeon, mencoba melepaskan Kemejanya, perlahan ia membuka kancing baju gadis blonde itu.

“Taeyeon-ah!” Pria itu menoleh kebelakang, dengan cepat ia mendorong tubuh Taeyeon pada tembol cukup keras. Meloncat kearah jendela, berlari sekencang munkin melarikan dirinya. Taeyeon jatuh begitu saja, menahan sakit di punggungnya. Gadis brownie itu berlari, merengkuh tubuh Taeyeon, menciumi kening gadis blonde yang masih mengeluarkan air matanya.

3 pria berjas hitam ikut meloncati jendela itu, mencoba mengejar pria bertopi itu. “Sshh… you’re safe. Taeyeon.” Tiffany mengeratkan pelukannya, berharap dapat menenangkan Taeyeon. “a-Aku..” “Sssh Tae. maafkan aku lagi lagi terlambat.” Tiffany menahan sakit didirinya melihat orang yang sangat di sayanginya jatuh begitu saja di hadapannya, menangis dengan pakaian yang sudah sedikit berantakan.

Gadis blonde itu merasa takut, disisi lain merasa aman, pelukan dan kehangatan yang menyelimuti tubuhnya membuatnya merasa nyaman. Merasakan setiap kecupan yang mendarat di dahinya. Dari seseorang yang berarti penuh dihidupnya.

                  FLASHBACK OFF

**

Keempat gadis itu masih bergurau selagi berjalan kearah dorm mereka. tertawa cukup keras karena beberapa hal yang menurut mereka lucu, suara mereka menggema di lorong ini, sadar akan kebisingan yang mereka buat sendiri, perlahan mereka merendahkan suara tawa mereka.

Gadis blonde itu menekan beberapa angka pada gagang pintu, membukanya perlahan ketika sudah tidak terkunci. Matanya mencoba menerobos ruangan, sepertinya satu orangpun belum ada yang kembali karena kini didepannya sangat gelap. Tidak ada penerangan sedikitpun.

Sementara di lain sisi, ke tiga sahabatnya, Sooyoung, Sunny dan Seohyun melangkah sedikit kebelakang. Tersenyum melihat gadis blonde yang sedikit kebingungan meraba-raba mencari saklar lampu.

“Hey, sepertinya semua orang belum pul—“

“HAPPY BIRTDAY TAEYEON!” Gadis blonde itu membuka mulutnya, ia sangat terkejut melihat apa yang ada di hadapannya. Kelima gadis masih menggunakan kostum perform mereka dengan wajah sedikit letih tersenyum sangat lebar. Balon berwarna warni dengan ucapan selamat untuk Taeyeon karena sudah menaiki satu level umur dalam hidupnya.

Hiasan warna-warni dan dan mengkilat menghiasi seluruh ruangan, potongan kertas warna warni berserakan di seluruh lantai. Bertangkai-tangkai mawar ikut meriahkan hiasan lantai. Lampu yang agak redup menambah suasana sedikit mendukung. Dengan topi ala badut dihari ulang tahun anak kecil kini sudah berada di kepala ketiga sahabat yang baru saja memasuki ruangan. Taeyeon masih terdiam, lalu senyum tergurat di bibir tipisnya.

Kedelapan sahabatnya itu terus bernyanyi lagu ulang tahun untuknya. Dengan senyum tidak lepas dari paras malaikat mereka. hanya ini yang dibutuhkannya saat ini, terlepas dari banyak masalah yang menimpa dirinya, dari banyak kutukan yang dilemparkan pada gadis blonde itu, ia masih memiliki delapan gadis yang akan selalu ada untuknya, disaat apapun, hatinya sangat senang, bukan hanya senang, ia sangat berterimakasih kepada mereka. jika bukan karena kedelapan gadis itu, ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaannya seperti saat ini.

Sejujurnya ia sangat merindukan saat ini, saat dimana gadis blonde itu bisa mengahabiskan dengan kedelapan sahabatnya, menceritakan bagaimana riuhnya konser mereka, bagaimana senangnya ketika mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk bercanda ria dengan penggemar mereka. saat dimana ia tidak perlu untuk tergesa gesa berjalan kepanggung dan berakhir sendiri diatas panggung yang besar.

Kegiatannya sebagai soloist akhir akhir ini memang benar benar mencekiknya, jadwal yang benar benar padat, bahkan ia bisa menghadiri 5 jadwal dalam satu hari, benar benar membuatnya tidak memiliki waktu untuk meghabiskan waktu dengan sahabat sahabat yang selama ini dirindukannya, ia benar benar kewalahan bahkan sudah beberapa kali jatuh sakit dan ia harus terus menampilkan penampilannya.

Ia benar benar rindu saat saat ini, sahabatnya kini mengelilinginya. Terutama gadis berambut coklat yang sedang memerkan senyum indahnya, senyum yang akan membuat matanya melengkung seperti bulan sabit. Kue dua tingkat berwarna putih dengan hiasan hiasan float yang menarik juga tulisan hari ulang tahun kid leader itu terpampang jelas di atas kue yang di buat sendiri oleh pemilik senyuman indah itu.

Detik kemudian, gadis blonde itu menutup matanya, perlahan meniup lilin yang menyala di atas kue itu, menuangkan harapan harapan dalam angina yang di hembuskannya seiring api yang membara di lilin padam. Sorak sorai para sahabat yang sudah lama ia rindukan kini akhirnya benar benar dapat ia dengar, bukan hanya sekedar lewat jaringan telefo yang sangat membosankan.

Saengil Chukae Taeyeon-ah!” Kedelapan sahabat itu kini bertepuk tangan, gadis berambut merah itu segera meraih stereo yang ada di meja dan mennyalakan music yang terdengar nyaru.

Tiffany benar benar menjaga Taeyeon, buktinya baru saja gadis blonde itu selesai meniup lilin itu. Tiffany segera meletakkan kuenya, ia lalu mengambil handuk kecil hangat yang yang ada di sofa dan segera membersihkan baju dan wajah Taeyeon yang kotor karena hal biasa yang akhir akhir ini di alami Taeyeon, tidak lain tidak bukan yaitu Haters dari Taeyeon yang sudah menunggu si gadis blonde di depan gedung dorm mereka. Gadis brownie itu perlahan membersihkan lengan, leher, wajah Taeyeon, entah sudah berapa kali ia melakukan hal ini, yang jelas, perlakuan Tiffany akan gadis blonde itu benar benar membuat Taeyeon merasa nyaman dan hangat.

Ketujuh sahabatnya hanya dapat memeperhatikan keduanya dengan senyum dan siulan, sedangkan ketiga sahabat yang sedari tadi bersama Taeyeon hanya mendengus kesal.

“Yah! Pany-ah! ”

“Bagaimana dengan kami!?” Gadis blownie itu menoleh, mendapatkan ketiga sahabatnya dengan ekspresi sedikit kesal karena ia hanya memperhatikan gadis blonde itu, padahal ketiganya juga terkena beberapa bahan bahan dapur yang dilempar beberapa menit yang lalu karena ikut melindungi Taeyeon terkena lebih banyak. Tiffany dan gadis blonde itu terkekeh memperhatikan ketiga sahabatnya sementara yang lain malah tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana berantakannya ketiga gadis itu.

“Kalian bisa membersihkan sendiri bukan?” Canda gadis brownie itu lalu menaikkan sebelah alisnya sembari masih sibuk membersihkan belakang telinga Taeyeon.

Sooyoung mengerucutkan bibirnya, memang benar mereka bisa membersihkan sendiri, tapi bukan kah lebih senang ketika ada yang mau memperhatikan mereka. “Mwo!? Taeyeon juga bisa membersihkan dirinya sendiri!” ujarnya lalu mencolek sediit cream kue yang di letakkan di atas meja.

“Ne! Maja!” Sahut Sunny dan Maknae lalu membersihkan lengan mereka dengan handuk membuat Taeyeon terkekeh, ia benar benar merasa bahagia kali ini, bagaimana lucunya kedelapan sahabatnya, dan bagaimana bahagianya ia mengetahui ada seseorang yang memperhatikanya seperti Tiffany, ini sempurna.

“Kalau begitu….” Tiffay perlaham membuka kancing baju Taeyeon..satu kancing.. dua kancing… tangannya berhenti melepas ikatan benda kecil bulat itu dari kain baju dan mengarahkan kepalanya ke telinga gadis blonde itu yang sedikit terkejut. “Kalian mau seperti ini..?” Ujar gadis brownie itu dengan suara husky khasya yang dapat membuat semua orang seketika serangan jantung.

“Omo! YAH!”

“Uhuk! Uhuk!”

“YAH! Cari ruangan sendiri!”

“Aish! You two!”

Taeyeon dan gadis brownie hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya, tentu saja adegan barusan membuat Taeyeon sedikit terkejut, karena tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa Tiffany bisa membuatnya merasakan suhu tubuhnya naik dan kekurangan udara di sekitarnya seperti barusan.

“Mr. B yah! Kau brengsek! Aku lelah!” Gadis brownie itu menghempaskan tubuhnya ke sofa yang lembut membuat gadis blonde menghampirinya lalu membelai setiap helai rambutnya sembari tersenyum kepada sosok yang telah memejamkan matanya dengan sebotol minuman yang berada di tangannya.

“Fany-ah. You’re drunk.”

“No. You’re drunk.”

“Yoona. Kiss me.”

“Unnie You’re drunk.”

“Kucing.. aku.. suka..”

“Yah…. Apa itu bintang….?”

“Bukan.. itu atap..”

“Omo! Ada monster tinggi sekali.”

“Hyoyeon-ah itu bukan monster itu Sooyoung.”

“Fany-ah. Bangun.”

“Andwae!…….”

“Sica-ah.. you’re drunk”

“No.. You’re drunk..”

“Unnie you’re drunk”

“Junghyungi! You’re drunk”

Gadis blonde itu lagi lagi terkekeh memperhatikan sekitarnya, semua sahabatnya kini benar benar telah kehilangan sadar karena sudah 2 jam ini mereka bermain permainan dengan minuman kesukaan mereka yang dapat membuat mereka linglung, belum lagi semua tubuh gadis itu dan hal yang dilakukan sangat berantakan, seperti Tiffany dan Jessica yang sudah terlentang dilantai.

Sooyoung juga Sunny menempati meja dapur sebagai alas tempat tidurnya, Hyoyeon yang bernyayi menggunakan sapu, dua maknae yang melakukan kardio sembari tidak sadarkan diri. Memang benar hanya Taeyeon dan Yuri kini yang terjaga.

“Everybody is drunk.” Taeyeon tertawa kecil memperhatikan bagaimana indahnya makhluk di hadapannya yang tengah tertidur itu. tidak disadar senyum tulus tergurat dibibir tipisnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak setiap detiknya ketika melihat sosok yang sedang di amatinya itu. sementara Yuri hanya tersenyum.

sosok yang tengah memperhatikan Taeyeon dan Tiffany itu hanya mampu tersenyum. Menyadari ini lah waktu yang banyak orang tunggu. Ketika semua masalah serasa sudah pergi, akhirnya waktu memberikan kesempatan untuk kedua insang itu bersama, setelah ribuan beban yang sudah di jalani. Ini bukan perkara yang mudah untuk sampai di titik ini untuk mereka berdua.

Semua orang juga tahu ketika Taeyeon sedang dititk paling rendahlah, Tiffany yang selalu ada disana untuknya, selalu memberikan bahunya untuk gadis blonde. Dan semua orangpun juga tahu ketika Tiffany sedang dimasa sulitnya, gadis blonde lah yang selalu di belakangnya, di depannya, di sampingnya, di hadapannya, mengulurkan tangannya unntuk membersihkan air mata yang menurutnya tidak berhak di dapati oleh Tiffany, hangat tubuhnya lah yang setiap malam selalu ada untuk Tiffany. Benar benar…. Sederhana.

She’s amazing.. right, Tae?” Taeyeon melenguh, ia kini sadar salah satu sahabatnya ternyata masih sadar, mmeperhatikan setiap gerakaannya, bisa dirasakan wajahnya kini sudah seperti direbus sampai mendidih, tertangkap basah sedang mengagumi sosok yang benar benar di kaguminya, membuat gadis berkulit tan itu terkekeh.

Yes. She is.” Lagi lagi Taeyeon tersenyum, merapihkan rambut Gadis brownie yang sedikit berantakan, meletakkan setiap helai rambut ke tempatnya. “Bagaimana dengan rencanamu? Apa besok sesuai rencana?” Taeyeon mengangguk, menoleh, menghampiri Yuri dengan segelas winenya, meneguk anggur itu dan matanya masih tertuju pada gadis brownie yang sudah terbang kealam mimpinya.

“Entahlah, aku seperti merasa.. belum siap..”

“Belum siap? Wae? Kau tidak memiliki banyak waktu lagi Tae. cepatlah resmikan atau kau akan kehilangannya.”

Taeyeon meneguk anggurnya lagi, meletakkannya di atas meja lalu kembali memperhatikan sosok dewi yang masih terlelap. “Kau tau kan Yul, apa yang sudah di lalui Tiffany untukku, apa yang sudah ia lakukan untukku, aku merasa tidak pantas bersanding dengannya.”

Yuri sedikit terkejut, ia menghabiskan anggurnya dalam sekali tegukan, menatap mata gadis blonde dalam. “Dan aku juga tahu apa yang sudah kau lalui hanya untuk bersamanya, bagaimana keseriusanmu kali ini, bagaimana ketekunanmu, dan aku juga mengerti, bahwa hanya kau lah yang pantas untuknya.” Taeyeon tersenyum mendengar perkataan Yuri, itu membuat hatinya sedikit lebih lega.

“Dan aku sangat yakin, Tiffany akan menerimamu, pikirkan lah Tae. kau sudah merencanakan ini dari jauh hari. Dan kau akan membuang rencanamu begitu saja? Ini waktu yang tepat Tae.” Lanjut gadis berkulit tan, Taeyeon terhenyak, entahlah, ia hanya takut akan penolakan, lebih baik ia didekat Tiffany daripada harus kehilangannya lagi.

“Percayalah Tae. Kau tidak akan pernah meninggalkan Tiffany kan?”

Taeyeon mengangguk, ia sangat mantap dengan hatinya, ia berjanji tidak akan pernah meninggalkan sosok itu sekalipun, tidak akan pernah, ia sangat menyangi, ani ia sangat mencintai gadis brownie itu.

“Dan aku yakin Tiffany juga tidak akan meninggalkanmu, dia akan selalu ada untukmu, begitupun juga kau akan selalu ada untuknya.”

“Lalu apa lagi yang kau tunggu Tae?”

“Apa kau menunggu sampai seseorang berhasil mengambil hati Tiffany darimu?” Taeyeon menggeleng, wajahnya serius, ada sedikit rasa takut di matanya, takut akan kehilangan sosok yang sangat ia sayangi itu.

“Jadi, lakukanlah! Kau sudah mempersiapkan semuanya Taeyeon, yah walaupun dengan sedikit bantuan kami.” Yuri terkekeh. “Tapi biarbagaimanapun, semua persiapan mu sudah matang, kau sudah mempersiapkan ini dari jauh jauh hari. Tempat, dekorasi, persiapan. Semua sempurna Tae.” Taeyeon terseyum mendengarnya, benar, semua sudah di persiapkan oleh sahabat-sahabatnya, semua sudah sempurna, apa lagi yang harus ia tunggu? Support dari sahabat-sahabatnya sudah cukup baginya, terlebih lagi ia menyangkut pautkan sosok yang sangat di sayanginya, sosok yang tidak ingin ia lepas semasa hidupnya.

“Taeyeon…” gumam Tiffany ditidurnya, sesekali meraba ruang kosong di sampingnya, mengambil guling yang dipakai Yoona sebagai tumpuan kepalanya, membuat Yuri dan gadis blonde itu terkekeh melihat tingkah gadis brownie yang masih mengarungi mimpinya.

“Sebaiknya kau membawanya kekamar Tae. sebelum ia mencium guling itu.” Taeyeon lagi lagi terkekeh, berjalan menghampiri gadis brownie, dengan lembut ia mengangkat tubuh Tiffany ala pengantin, porsi tubuh yang lebih pendek dari Tiffany, bukan berarti ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengangkat tubuh ringan gadis brownie itu.

“Oh ya, Yul.” Ujar Taeyeon menoleh kebelakang, mendapatkan sahabatnya itu sedang menggelar selimut hangat untuk beberapa gadis yang benar benar sudah tidak sadar.

“Ya?”

“Terimakasih.” Yuri tersenyum mendengar pernyataan gadis blonde yang kini tersenyum padanya. Ucapan terimakasih yang sangat tulus dari Taeyeon. Taeyeon kembali berjalan memasuki pintu yang tidak jauh dari ruang tengah, menutupnya perlahan.

“Ani, Tae. Terimakasih”

“Kau.. selalu menjadi leader yang paling terbaik untuk kami.”

**

hotel-monte-carlo

Gadis itu berdiri, menyandarkan tubuhnya pada sanggah pagar balkon, merasakan angin yang menusuk tulang di tubuhnya, mencoba mencari kehangatan pada segelas coklat panas yang ada di genggamannya, mengambil nafas panjang, memperhatikan gelapnya langit malam dan beberapa remang remang lampu yang masih menyala, kesunyian yang membuatnya tenang.

Kegembiraan yang mengisi hatinya saat ini. Sesekali mencuri pemandangan kearah dalam ruangan lewat pintu yang memang berbasis kaca. Mendapatkan gadis blonde yang terlelap, jantungnya seakan berhenti berdetak setiap kali ia memperhatikan pahatan wajah yang sempurna itu, sosok yang akan selalu ada untuknya, sosol yang sangat ia sayangi, tidur, di tempat dan kasur yang sama. Sosok yang akan berbaring di sampingnya.

Senyum tipis mengembang di bibirnya, tak henti-hentinya ia mengagumi sosok itu, sekelebat bayangan terlintas mengingat bagaimana lepasnya tawa gadis blonde itu, senyuman yang selalu ia rindukan, tawa yang selalu ingin ia dengar, belum lagi ,

mengetahui dirinya sendiri tibatiba sudah terbaring di tempat tidur yang nyaman, siapalagi yang mau membawanya kekamar kalau bukan Taeyeon, ditambah, baju kemeja putih panjang sampai atas lutut yang dikenakannya… ini bukan pakaian yang di pakainya semalam, sudah jelas Taeyeon yang menggantinya agar gadis brownie itu merasa nyaman.

Ia benar benar… merasa utuh. Merasa sangat beruntung, sangat sangat… beruntung.

Ia meletakkan cangkir itu, menghampiri sosok yang terlelap, meletakkan tubuhnya sendiri berbaring disamping gadis blonde itu, memperhatikan seluruh lekuk wajahnya, perlahan ekspresi di wajah itu berubah seiring berjalannya waktu, Tiffany mengubah posisinya menjadi setengah duduk, memperhatikan gadis blonde itu, detik kemudian sebulir air mata diikuti bulir bulir yang lain lepas dari mata Taeyeon yang tertutup turun ke pelupuk dan pipinya.

Tiffany terhenyak, sediki terkejut melihat apa yang ada di hadapannya, tidak lama setelah itu, gadis blonde mulai bergumam, wajahnya menunjukan sakit yang selama ini ia rasakan.

“Ani..”

“Aku tidak melakukannya..”

“Aku tidak berbohong..”

“Maafkan aku..”

“Andwae.. jangan mendekat..”

“Jangan mendekat… aku tidak melakukan apa apa..”

“T-tolong.. b—berhenti..”

Tiffany segera mengusap air mata Taeyeon, membelai cepat rambut Taeyeon, mencium kening gadis blonde itu beberapa kali. “Taeyeon-ah.. wake up..” “Baby, wake up…” Ia mengguncang pelan tubuh gadis blonde itu yang masih bergumam.

“T-tolong.. b-berhenti..” gadis blonde itu terus bergumam dalam tidurnya. Tiffany memanggil nama itu lagi, membawa tubuh Taeyeon kedalam pelukannya, Gadis blonde itu terbangun, sadar akan kehangatan yang menyelimuti tubuhnya, air mata tetap keluar dari matanya, “Baby, Wake up. It’s just a nightmare. I’m here.” Tiffany mengeratkan pelukannya setelah merasa pelukannya dibalas hangat oleh Taeyeon.

Ia sadar Taeyeon sudah terbangun dari tidurnya dari cara gadis blonde itu membalas kehangatannya, “Kau disini Taeyeon, bersamaku.” Ucapnya sembari mengusap pelan punggung Taeyeon. “maafkan aku Fany-ah..” “Ssshh kau tidak perlu meminta maaf, itu hanya mimpi buruk.” “Apa aku membangunkanmu?” “Ani.” Tiffany terus memeluk tubuh mungil itu, melepaskan pelukannya lalu mencium puncak kepala gadis blonde yang sudah merasa tenang.

Gadis blonde terus itu mengeratkan pelukannya, tanpa ada keinginan untuk melepaskannya.

                  Membuat Tiffany tersenyum, berharap dapat memberikan sedikit kehangatan untuk Taeyeon.

“Kau tau.. kau orang yang paling berarti dihidupku.” Lirih gadis blonde itu, merasakan kehangatan di sela sela leher Tiffany, menikmati aroma harum gadis brownie itu. membuat Tiffany tersenyum.

“Kau tau juga.. kau orang yang paling penting dihidup ku Tae. and the only one who can make me the happiest”

“benarkah? Bukankah kau hanya dapat terus melihatku lemah..”

“Kau tidak lemah.. You’re a very strong girl..”

“Dibenci..”

“Mereka hanya buta akan sebenarnya dirimu.”

“Selalu menangis.”

“Bukan berarti kau lemah bukan? Kau hanya melepaskan perasaanmu.”

“Merepotkanmu”

“Heol! Never! I’ll always be here Tae. for you. Dan jangan pernah sekali-kali kau berpikir bahwa kau merepotkanku. Karena itu sangat tidak benar.”

“Dan..”

“Enough Tae. You’re just afraid, scared, and hurt. Okay? Let me be here for you.” Gadis blonde itu tersenyum, tidak tahu harus berbuat apa, tidak tau harus mengatakan apa. Ia merasa hidupnya kembali utuh, ia merasa hanya Tiffany lah yang berhasil mendobrak rasa sakit didirinya, mengubahnya menjadi kebahagian yang abadi.

“Fany-ah.”

“Hmm?”

“Terimakasih. Karena selalu disini untukku.”

Gadia brownie itu tersenyum, semua yang dilakukannya untuk Taeyeon bukanlah apa apa dibanding apa yang telah Taeyeon lakukan, dan berikan padanya.

Tiffany perlahan mencoba membaringkan tubuh Taeyeon, tentu masih dalam keadaan memeluknya, membentangkan selimut hangat pada tubuh keduanya, ujung kepala Taeyeon di jadikan tumpuan untuk dagunya, sementara Taeyeon masih menikmati kehangatan dan aroma leher Tiffany.

“Apakahkau hari ini mempunyai jadwal yang harus di hadiri?” Taeyeon mengangguk pelan. “Ne, ada acara penghargaan yang harus ku hadiri, aku dengar kau mempunyai jadwal shooting iklan hari ini dengan Nickun, benar?” Tiffany terhenyak, tidak menjadwal pertanyaan, bingung harus menjawab apa apa. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

“Jinjja? Kalau begitu kau harus menjaga dirimu baik baik Tae. jangan biarkan mereka menyakitimu, promise me you’ll take care of yourself.” Taeyeon lagi lagi mengangguk. “Hari ini aku akan mengubah warna rambutku, permintaan dari direktur music video untuk Amber.” Ujar gadis blonde itu pelan tanpa ada semangat.

“Really? Lalu kenapa kau terdengar tidak senang? Bukankah sone lebih menyukai rambutmu yang berwarna gelap? Aku pribadi lebih menyukai rambutmu yang sekarang.” Taeyeon tertawa kecil. “Sejujurnya aku tidak menyukai rambut coklat ku, dan aku lebih suka rambutku seperti ini juga.” “Wae? Aku bertaruh coklat akan sangat bagus untukmu.” “dan.. aku rasa, semua warna rambut akan cocokmu untuk Tae.” Taeyeon tertawa kecil mendengar lanjutan perkataan Tiffany.

“Dinner?”

Tiffany tersenyum, mengangguk mengerti.

“Asa! Aku akan menjemputmu di lokasi shooting mu, ne?”

“Baiklah nona Kim. Aku akan menunggumu. Jangan paksakan dirimu untuk menyetir sendiri, mengerti?”

“Aku berniat membawa mobilku sendiri Fany-ah.”

“Mwo!? Andwae! Kakimu belum sembuh sepenuhnya Tae!”

“Ani! Aku sudah tidak merasakan sakit sama sekali!”

Tiffany merubah posisinya, membawa matanya bertemu mata teduh Taeyeon, mengangkat kelingkingnya. “Baiklah, tapi berjanjilah padaku jangan bertindak seperti pembalap. Ne?”

“Aku berjanji!” Taeyeon mengikat kelingking itu dengan kelingkingnya, menunjukan senyum paling tulus untuk Tiffany, memperlihatkan giginya yang rapih. Tiffany hanya tertawa kecil melihat gads blonde itu semakin hari semakin terlihat muda, seperti.. anak kecil.

“Ohya, aku hampir lupa, kemarin Daddy menelfonku.”

“Lalu?”

“Dia sangat menyebalkan.”

“Ah.. Wae?”

“Kau tau kan sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu dengannya, dan karena kesibukannya, panggilan ku sangat jarang di jawab. Dan ketika ia menelfonku..”

“Teruskan.”

“Ia berkata ia merindukanmu! Heol!……jadi sebenarnya anak Daddy itu kau atau aku..” Taeyeon tertawa kecil, memcubit pelan hidung gadis brownie itu. “Aigooo.. kau seperti anak kecil. ia juga pasti merindukanmu, kau kan tau dia sering bercanda.” Tiffany tersenyum mengangguk pelan menyambut kehangatan Taeyeon yang kembali ke tempatyang menurutnya paling nyaman, menyembunyikan kepalanya di balik leher Tiffany, gadis brownie itu kembali memeluknya, sangat erat.

**

Gadis blonde itu terbangun, membuka matanya perlahan, merasakan sinar matahari yang hangat menyentuh kulitnya, memperhatikan sekitar, ia menyipitkan matanya memandang jam dinding, panah menunjukkan di angka 9. senyum tipis mengembang dibibirnya ketika melihat ada catatan kecil di sampingnya.

                  “Kau tidur terlalu lama seperti beruang. Aku sudah berangkat ke lokasi shooting. Atau bahkan ketika kau membaca ini aku sudah tiba di lokasi. Jangan lupa untuk sarapan. See you tonight baby. Love –Your Angel.”

Ia bangkit dari tempat tidurnya, memberi kecupan pada kertas kecil itu lalu tertawa kecil. Diambilnya handuk di sisi ruangan, bersiap untuk jadwalnya hari ini.

**

“Cut!” semua orang bertepuk tangan, gadis berambut coklat tua itu membungkukan tubuhnya 90 derajat. Berterimakasih pada kru-kru di sekitarnya.

“Taeyeon-ah! Seperti biasanya, kau selalu cantik dan mengagumkan. Oh ya dan Rambut baru mu itu sangat cocok untukmu!” Ujar sutradara dan penanggung jawab atas video klip ini, ia berjalan mendekati Taeyeon, tersenyum. “Ah Ne. terimakasih Mr. Lee kalau begitu aku pamit kembali sekarang” Sutradara itu mengangguk lalu menepuk pundak Taeyeon, pertanda ia melakukan kerja yang bagus.

Asisten Gadis itu mengikutinya dan berjalan berdampingan dengan Taeyeon, tangannya penuh akan property dan baju baju Taeyeon. Taeyeon yang melihatnya tertawa kecil lalu mencoba membantu membawakan beberapa baju yang ringan.

“Unnie kau tidak perlu bekerja terlalu keras, kau tau? Bukankah anakmu sedang sakit? Seharusnya kau mengambil cuti.” Ujar Taeyeon sembari memindahkan beberapa baju ke tangannya. Wanita itu tertawa kecil.

“Ani Taeyeon-ah. Anak ku sudah di urus kakak-ku, lagi pula jika aku cuti, siapa yang akan mengurusmu?” candaan asistannya itu membuat Taeyeon terhenyak lalu tertawa. “Tentu aku bisa mengurus diriku sendiri Unnie.” “Tidak mungkin!” Keduanya tertawa.

Keduanya bercanda gurau sembari berjalan ke Van,tentunya untuk menjemput pujaan hati gadis itu. “Dinner with Tiffany again?” Taeyeon tersenyum kecil. Wanita itu hanya tertawa kecil melihat reaksi gadis dengan rambut barunya itu.

“Again? Baru kali ini aku makan malam dengannya setelah berbulan-bulan lamanya, Unnie tau kan bagaimana padatnya jadwalku.” “So.. apa kau merasa antusias menjemput gadis mu itu?” Taeyeon terhenyak, tertawa renyah. “Ayolah kau tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari ku Taeyeon.” Wanita lalu hanya terkekeh membiarkan Taeyeon memasuki Van dengan senyum misteriusnya itu.

“Oppa. Antarkan aku ke tempat parkir. Aku ingin mengambil mobilku.”

“Baiklah, tolong katakana pada Tiffany besok ia masih mempunyai jadwal dengan lawan mainnya hari ini. Ne?” Taeyeon terhenyak. “Bagaimana kau bisa tau aku akan menjemput Tiffany?” Sang manager terkekeh, tentu itu bukan rahasia besar jika Taeyeon sudah memaksa menggunakan mobilnya sendiri walaupun ia tidak sedang dikondisi baik untuk menyetir selain untuk Tiffany.

“Taeyeon, kau sangat mudah di baca, kau itu buku yang terbuka” Jawab sang manager lalu menginjak gasnya perlahan, Taeyeon hanya tertawa kecil. Ia membuka ponselnya, berniat untuk menghubungi Tiffany jika ia sudah selesai dengan urusannya. Matanya terpaku pada layar. Melihat 5 pesan dari Hyoyeon dan Yuri yang ia belum ia baca.

“Taeyeon! kau sudah lihat berita!?”

“Taeyeon-ah! Balas pesanku, ini darurat!”

“benarkah soal Tiffany dan Nickhun!?”

“Jika kau sudah melihat pesan ini, segera hubungi aku.”

 

“Taeyeon-ah!” Suara di sebrang telepon itu membuatnya sedikit terkejut. Ia memutuskan untuk menghubungi Yuri langsung setelah melihat beberapa pesan dari sahabatnya itu. “Oh’Yuri-ah, Wae?”

“Sudah kubilang untuk lihat berita, aku bertaruh kau juga tidak mengetahuinya, aku sangat terkejut, begitu juga member lainnya!” Taeyeon terkekeh.

“Yul, bernafas, tenanglah, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Tiffany dan Nickhun di kabarkan sangat dekat! Ara!?” Taeyeon terhenyak, menelan salivanya. Mencoba bersikap setenang mungkin.

“Benarkah..?”

“Aku dan lainnya tidak tahu pasti kabar itu benar atau tidak, tapi yang jelas itu tersebar diseluruh halaman di internet! Dan ohya, kau tidak perlu menjemput hari ini, kabar mengatakan Tiffany dan pria itu akan malam hari ini, di confirm oleh salah satu penggemar mereka.” Taeyeon menggeleng pelan.

“Ani Yul. Tiffany akan makan malam dengan ku.”

“Tae, dengarkan aku kali ini saja!”

“Lagi pula jika Tiffany akan membatalkan makan malamnya denganku ia pasti akan menghubungi ku.”

“Benar juga, baiklah. Yang penting, jangan termakan omongan sekitar, Ne? kau tau kan tipe berita seperti ini tidak sepenuhnya benar!”

“Ara.. ara..”

Gadis itu menutup panggilannya. Matanya memandang jalan yang baru saja di lewatinya, berharap mendapat jawaban secepat mungkin. Hatinya kini sungguh gelisah. Ekspresi yang sedari tadi menunjukan senyumnya kini berubah menjadi bingung.

“Wae Taeyeon-ah?”

Gadis itu lagi lagi menggeleng pelan lalu kembali memperhatikan jalan. Sang manager mengangguk mengerti bahwa artisnya kini tidak ingin membicarakannya, ia menyalakan music dari radio. “Ohya, Taeyeon-ah, bukankah ini baru jam 4? Kenapa kau menjemput Tiffany secepat ini? Bukankah ia selesai jam 8?” Taeyeon tersenyum.

Mendengar nama Tiffany selalu membuat hatinya sedikit tenang. “Aku ingin melihat proses shootingnya. Aku tidak keberatakan hanya menunggunya 4 jam, bahkan seharian juga aku sepertinya tidak mempunyai masalah.

**

Ia memasuki mobil kuning kesayangannya itu, menyalakan mesin, meletakkan tasnya pada jok disampingnya, mulai mengarahkan setiran ke kiri dan kekanan. Tidak lupa mematikan ponselnya, merasa tidak ingin di ganggu oleh apapun ketika ia sedang menghabiskan waktu dengan Tiffany.

Mobil kuning itu melaju dengan kecepatan 60km/jam. Membelah kota Seoul yang masih ramai oleh aktifitasnya. Ia terus mencoba membuat pikiran negatifnya, berharap akan segera melupakannya. Biar bagaimana pun ia tidak mempercayai rumor yang sewaktu waktu akan menghancurkan hatinya, ia percaya apa yang ia lihat. Bukan ia dengar.

Butuh waktu yang sedikit lama sampai ia mencapai tempat tujuannya, mengingat ia harus melewati beberapa jalan tol dan lokasi shooting Gadis brownie yang memang letaknya di luar kota Seoul. Dengan perasaan gembira ia menuruni mobilnya setelah memparkirkannya di parkir.

Beberapa sosok Namja dan Yeoja membungkukan tubuhnya dan memberi salam pada Taeyeon. beberapa juga menyapanya. Taeyeon merapihkan pakaiannya, sesekali merapihkan poni juga rambut bawahnya. Ingin terlihat bagus didepan gadis brownie.

Baru beberapa langkah memasuki pintu besar itu. ia sudah dapat mendengar orang orang membicarakan kedekatan Tiffany dengan pria itu. dan tentunya membuat Taeyeon semakin gelisah.

“Molla! Ini sangat mengejutkan! Mereka di kabarkan sudah 2 bulan!”

                  “Ah jinjja! Apalagi mereka saat ini sedang shooting bersama!”

                  “Aku sangat mendukung pasangan ini! Mereka cetakan yang sempurna!”

.Screen Shot 2015-07-25 at 8.53.29 PM

Mendengar semua itu, semakin membuatnya khawatir, perasaannya campur aduk, ia merasa sangat sangat kecewa akan perasaannya. Ia menggigit bibih bawahnya, mencoba menghiraukan suara suara yang ada di sekitarnya.

Ia terus berjalan, setiap langkahnya ia merasa sangat asing. Orang orang yang tidak di kenalnya terus menyapa dan tersenyum padanya, membuatnya sedikit tidak nyaman. Yang ia inginkan kini hanyalah bertemu gadis brownie itu.

“Unnie!” Ia mencari sumber suara itu, rupanya gadis berparas imut sekaligus menawan itu menghampiri Taeyeon dengan senyum indahnya.

687474703a2f2f7777772e736f6f6d70692e636f6d2f77702d636f6e74656e742f75706c6f6164732f323031332f31302f49552d74756d626c722e6a7067

“Omo! Syukurlah Ji-Eun! Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu disini!” Taeyeon menyambut pelukan singkat gadis yang sudah di anggap sebagai adiknya itu sendiri.

“Oh’ Wae? Kelihatannya Unnie senang sekali bertemu denganku! Kau merindukanku!?” Taeyeon terkekeh mendengar pernyataan gadis itu. ia mengacak ujung kepala Gadis itu perlahan sembari menunjukkan senyumnya.

“Kau terlalu percaya diri! Aku hanya bersyukur akhirnya aku dapat mengenali wajah walau seorangpun disini. Aku merasa sangat asing.” Ji-Eun tertawa renyah. “Ah… benarkah… jadi kau tidak merindukanku Unnie..”

“Ani! Tentu aku merindukanmu! Sudah berapa bulan kita tidak bertemu kan!”

“Mwo!? Lihatlah kau bahkan lupa. Kita bertemu di MB 3 minggu yang lalu! Yyah!… aku tidak menyangka kau sepelupa ini Unnie…” Taeyeon lagi lagi tertawa.

“Ah Mian… banyak yang terlintas di otakku belakangan ini, ohya, bagaimana dengan albummu? Aku dengar perilisannya ditunda.”

“Heol! Jelas sekali kau tidak mendukung album ku… Itu sudah dirilis 2 bulan yang lalu Unnieee!!!!” Gadis itu merengek seperti anak kecil kehilangan ice creamnya. Membuat Taeyeon terhenyak.. lagi lagi ia salah..

“Ah aku baru ingat! Mian-mian! Aku sudah mendengarkan albummu!”

“Geojimal!”

“Ah Jinjja!”

“Kalau begitu sebutkan salah satu judulnya, yang sedang popular di radio.”

“Uh.. Ehm… Good…day…?” Jawab Taeyeon ragu ragu sembari menggigit bibir bawahnya, membuat gadis lainnya lagi lagi terhenyak.

“YYAH! UNNIEEE! JUDULNYA THE RED SHOEESSS!”

Taeyeon semakin kewalahan melihat reaksi gadis itu yang semakin merengek seperti anak kecil, ia benar benar merasa bersalah, disisi lain ia merasa ini sangat lucu.

“Ah mian! Tetapi aku rasa aku pernah mendengarnya kok di radio! Belum lagi ketika aku menunggu di kursi ketika kau tampil, penggemarmu akan menggila “IU ! IU! IU! IU!” sangat keras. Ingin rasanya aku memberi lakban, karena mereka aku tidak bisa mendengar suara emasmu!” Taeyeon mencoba mengalihkan pembicaraannya kali ini, membuat Ji-Eun tertawa.

“Ohya! Kau pasti kesini untuk menjemput Tiffany-Unnie kan?”

“Ah ne. apa kau melihatnya?”

Gadis itu mengangguk, mengarahkan telunjuknya pada satu pintu yang cukup besar. “Terakhir kali aku menyapanya tadi siang Unnie, Tiffany-unnie mungkin masih di dalam sana.”

“Baiklah kalau begitu aku akan kesana, aku akan menghubungimu lagi nanti, Ne?” Gelak tawa Ji-eun kini terlepas membuat Taeyeon bingung. “Unnie, kau yakin?” “Ne! tentu saja!” “kalau begitu, apakah kau masih punya kontak-ku?” Ji-Eun menyeringai kecil membuat Taeyeon terpaku. “Aku sepertinya mempunyai segudang salah padamu Lee Ji-Eun!” Gadis mungil itu tertawa terbahak-bahak. “Maka dari itu kau harus menggantiya Unnie!” Taeyeon ikut tertawa, meeka bertukar kontak, “Baiklah jika begini, maka kita impas.” Ujar Ji-Eun usai menyimpan nomor dan kontak Taeyeon.

“Yyah! Tentu belum! Aku akan mentraktirmu makan malam sepuasmu sebagai permintaan maafku!”

“Ah tidak per—“

“Ani! Aku memaksa! Mianhe Ji-eun-ah aku harus pergi, aku akan menghubungimu nanti! Bye!” Sosok itu tersenyum melihat tingkat gadis dengan rambut barunya itu. mengagumi sosok itu dari kejauhan, melihatnya sedikit berlari tergesa gesa memasuki pintu itu.

“Taeyeon-unnie benar benar tidak berubah. Tiffany-unnie pasti sangat beruntung.”

**

“Ah Taeyeon-ah. Rupanya kau disini.” Taeyeon mengangguk pelan, mencoba mengingat siapa lawan bicaranya kali ini. “Kang Soo. Sutradara music video terakhir group mu?” Ah! Kini ia ingat siapa pria paruh baya ini. Ia tersenyum lebar.

“Kau sepertinya lupa denganku, baiklah kali ini aku maafkan, omong-omong, jika kau kesini untuk bertemu Tiffany,Tiffany ada di dalam, sebenarnya sudah dari sejam yang lalu shooting selesai karena beberapa alasan.”

“Ah benarkah begitu?” pria itu hanya mengangguk mempersilahkan Taeyeon untuk menyusul sahabatnya itu, baru beberapa langkah, Dirasakannya ponsel yang ada di sakunya bergetar, ia dengan cepat menekan tombol hijau itu.

“Taetae! Ini aku! Ponselku masih mati, aku menghubungi menggunakan ponsel Manager Oppa!”

“Fany-ah aku sudah-“

“Ohya! mianhe Taetae! Aku lupa memberitahumu, aku ada shooting mendadak untuk CF ku. Bisakah kita mengundurkan jadwal dinner kali ini?”

Hatinya serasa berhenti berdetak begitu saja.

“Tae?”

“Bagaimana jika besok? Aku benar benar minta maaf aku lupa memberitahumu. Aku hari ini juga tidak pulang ke dorm. Masih ada jadwal di luar kota. Mianhe Tae..”

“Tae?”

“A-ah.. N-ne.. kalau begitu sampai bertemu besok Fany-ah.”

“Baiklah! Bye! I love you Tae!”

“N-ne..”

Ia berjalan, perlahan, detak jantungnya tidak karuan, takut akan apa yang dilihatnya, perlahan ia menyentuh gagang pintu itu, menyembulkan kepalanya sedikit untuk melihat keadaan, terlihat awan yang sudah jarang, langit sedikit gelap, rupanya pintu ini tersambung ke balkon, kedua mata Taeyeon kembali menelusuri sekitarnya.

Sampai pada satu titik disisi kanan…

tubuhnya terasa kaku. Lututnya lemas begitu saja, tangannya gemetar, jantungnya berhenti berdetak, serasa ada pedang panjang yang sangat tajam menghunus nya, merasakan sakit sampai ke ulu hatinya.

Ini benar benar di luar dugaannya, benar benar di luar kendalinya. Pemandangan ini adalah yang terburuk di hidupnya.ia melangkahkan kaki nya kebelakang perlahan, tindak ingin keberadaannya di ketahui. Menutup pintu selemah mungkin.

“Appo.. neomu appaseo..”

Ia mempercepat langkahnya, berharap ia mempunyai sayap untuk terbang atau alat teleportasi untuk menghilangkan dirinya secepat mungkin. Mengikuti langkah kaki yang membawanya. Entah tujuannya kemana. menahan semua rasa yang kini…entahlah.. mencoba membunuhnya?

Screen Shot 2015-07-25 at 8.52.10 PM

Rasa sakit tergambar jelas pada wajahnya. Ia bingung harus kemana, ia benar benar tidak mempunyai tujuan, ia ingin menjauh dari orang orang asing ini. Ia terus berjalan dengan cepat. Berharap tidak ada seseorang yang mengenalnya, sampai tujuannya pada kursi panjang di parkiran yang tidak jauh dari mobilnya.

Meletakkan tubuh lemahnya pada kursi itu. menyembunyikan wajahnya terutama matanya pada kedua telapak tangannya. Mengeluarkan semua rasa sakit yang kin menghujaminya, tidka peduli jika ada seseorang yang melihatnya, yang ia tau tempat ini kini cukup sepi. Mata di balik tangan itu semakin memerah, air bening itu tak ada hentinya mengalir dari mata indahnya. Membasahi lengan panjang dan celananya.

“Tiffany dan Nickhun dikabarkan sangat dekat.”

Ia hiraukan.

“Tiffany Girls Generation dan 2PM Nickhun semakin di banjiri Tawaran.”

Ia hiraukan.

Tiba tiba bayangan ketika ia suatu hari melihat berita itu terbesit dalam otaknya, ia ingat jelas bagaimana maraknya beria itu, tetapi ia hanya menghiraukannya, ia tidak mempercayai itu semua, ia hanya mempercayai apa yang ia lihat.. ia tersadar, bukan ia tidak akan melihatnya.. tapi ia yang belum melihatnya kala itu.. di karenakan padatnya jadwal individunya.. sangat kecil kemungkinan ia dapat melihat gadis brownie itu. ia harusnya tau, kegiatannya sendiri lah yang membuatnya buta, membuat dirinya merasa Tiffany adalah miliknya, membuat dirinya berpikir bahwa gadis brownie itu akans selalu ada di sisinya. Tanpa ada orang lain yang akan mengusiknya nanti.

Hatinya semakin sakit. Jiwanya semakin hancur.

Cukup lama ia duduk di kursi itu, pikirannya seakan perlahan tapi pasti ingin membunuhnya, di bawa kedua kakinya berlari menuju mobilnya, di tarik gas itu cukup kencang, tidak perduli apa yang ada di hadapannya, sekitarnya, di jalan, yang ia pikirkan hanya kemanalah dirinya akan pergi, biarkan hatinya membawanya kesuatu tempat. Perlahan mobil itu menghilang di makan jarak. Mencoba mencari tujuan sebenarnya.

**

Sementara disisi lain, gadis brownie itu tersenyum, memperlihatkan senyumnya pada orang orang di sekitarnya. Menyapa beberapa kru yang sedari pagi menemaninya dan membantunya. Ia berjalan kea rah luar bangunan, menunggu sosok yang ia tunggu untuk melanjutkan makan malam mendadak itu.

Ia berdiri didepan bangunan itu, senyum tidak lepas dari bibirnya untuk semua orang yang menyapanya. Detik kemudian,

 Ia menyipitkan matanya, mobil itu melaju cukup cepat di hadapannya. Mencoba mengamati mobil yang sudah berada cukup jauh itu.

DEG

Detak jantungnya serasa mati. Ia tidak mampu berkata apa apa.. sampai sesosok gadis cantik mendekatinya, berhadapan dengannya.

“Oh! Tiffany-unnie! Dimana Taeyeon-Unnie? Bukankah tadi ia didalam? Menjemputmu?”

Bunuh ia sekarang.

Ia segera mengambil ponselnya, matanya terpaku pada satu pesan.

“Fany-ah aku sudah sampai.” – 40 minutes ago.

Ia segera menekan symbol telepon itu. menantikan sebuah jawaban dari sebrang sana, tidak memperdulikan gadis yang mengajaknya berbicara di hadapannya.

Sudah 2 deringan itu berbunyi tetapi masih tidak ada jawaban.

“Yeo—“ sampai suara yang ia sangat kenal menjawab panggilannya.

“TAEYEON-AH!”

 

**

HALOO KETEMU LAGI SAMA ATTA YANG UNYU UNYU :3

MAAF LAMA BANGET NGUPDATENYEEE YAAA. MAKLUM LEBARAN, INI SEDIKIT HADIAH ATAU BISA DI SEBUT ANGPAU DARI ATTA HAHAHA. MINAL AIDZIN WALFAIDZIN MAAPIN KALO BANYAK SALAH YAITU LANJUTNYA AGAK LAMA… OKEH GAUSHA BANYAK CINGCONG JANGAN LUPA KOMEN, YANG BERMUTU DIKIT JANGAN MINTA LANJUT DOANG.. ENENG BUKAN SUATU HUBUNGAN YANG BISA DI LANJUT GITU AJA BANG *PLAK -_- BTW KALO MAU TANYA TANYA KE AKU ADD LINE AJA YA

ID NYA (@LCK7866O) PAKE @ YA HEHE 🙂

Kalo responnya positif pasti lanjutnya semangat dehh 😦 *sook imut*

udah ah sampe disini aja wkwkwkk.

LEAVE A COMMENT FOR THE NEXT CHAPTER 🙂

OHYA MAAP BANGET COEG BELUM SEMPET BIKIN POSTER BUAT 4 SAMA 5 INI 😦 DIKARENAKAN KEMARIN MUDIK TERUS PULANG MUDIK NGEJAR CHAPTER 5 INI SAMA PERSIAPAN BUAT HARI SENEN, YOU KNOW LAH~~~ 😦

**

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                 

 

                                                     

                                                                       

Advertisements

115 thoughts on “FALLING (CHAPTER FIVE) BY ATTALOCKSMITH

  1. aduh mak rumit’a hubungan taeny T.T
    baru juga deg deg ser ngarepin taeny cepet makin deket bahagia.ternyata…oalah,jauh dari harapan gue ternyata 😐
    minal aidzin walfaidzin juga thor…gue tetep nunggu terus ini ff hehe 😀

    Like

  2. Waaah giliran tae udah single sekarang malah fany yang jadian, sepertinya tae akan sakit hati lagi haduuuh
    Cinta sejati memang banyak banget rintabgan yang harus dilewati
    Ditunggu next chapternya thor 😊
    Gomawo 😆

    Like

  3. ya Tuhan sesak napas aq bacax..udah mau nangis aja..giliran tae jomblo ehh fany jadian..
    baru aja seneng ehh sengsara lagi deh..

    Like

  4. Wah smakin rumit tae udahan fany nglanjutin. Tp bkn na fany dluan yg pts y thor. Haha but thats great. Pjg bkin emosi seneng ikutan sneng sedih ikutan sdih.

    Like

  5. Nah lo sakit hatinya gantian gitu ahahaha, pertama tiffany yang sakit hati eh sekarang taeng. Nyesek ya taeng baru mau jemput n lagi berbunga bunga ya ngeliat adegan kek gitu. Fany juga nih ga cerita sama tae kalo lagi punya hubungan sama si nick, apa fany takut tae marah atau sedih gitu? Tapi itu taeng ga kenapa napa kan? Jangan ada adegan tabrakan author atta hehehee. Mobilnya tae keren

    Like

  6. Jirr.. pengen gue tendang tu mukanya bangke!
    jauh-jauhlah dari MY MOMMY!
    JIrrr…jirrrr…jirrrr…sialan gue pasti mimpi buruk karna pict sama ff nie!
    Bangke!! gue benci banget sama lu!!

    Like

  7. PErasaan hubungan taeng sma ppany rumit bgt yee satu mslah kelar ehh mslah laiinn dtg ckck jdi kpn mrka bisaaa jadian donkkk gw mah kgak sbar wkwk

    Like

  8. huahhhhhhhhh netes air mata baca ini ff sakit rasanya pasti taaaaeeeeeyeeeeooonnnn fighting. omggg tiffany jangan kasih harapan kalau emang udah ama nickhun entahlah lagi males mikir keadaan skrg mereka gmna ya

    Like

  9. aduh…..itu yang dilihat taeyeon beneran apa acting aja sih??? haduh dimana ada tippany selalu ada nickhun –”
    semoga aja cuman salah liat
    ff mu ini selalu dinanti thooorrrr !!!!
    semngat buat nulisnya ^^

    Like

  10. huahhhhhhh mewek ni gue. awalny gue sng bngt krn taeyeon ud pts sm mr.B, eh stlh lnjt bc kok jd gini. tu hati taeyeon psti skt bngt. sumpah thor lu jahat bngt… gue mo lanjutin mewek gue. huahhhhh lebay bngt gue. hahaha pnjng kan komen gue. hahaha

    Like

  11. hei thor …
    aish jinja knpa ad itu si cow ckup ad baek aj udh buat sakit ….

    cptan update biar g pnsran 😀

    Like

  12. Teyon sih telat mulu nyatain cinta aja susah banget keburu disamber si khunyuk tuh patini nya…hehe.. #senyummiris

    Like

  13. sesek bnge baca ceeitanta kapan ya bisa taeny bersatu,,, giliran tiffant skarang yg deket ma nichkun adehhh kasihann taengg sabar ya

    Like

  14. Yaampun please~ nih kisah cintanya banyak banhet cobaannya ya allah tuluuuuung 😭😭😭😭😭
    Satukan lah mereka author 🙏🙏🙏
    Jangan di pisahin karena orang ketiga yg ga bermutu 😭😭😭😭😭😭 #baperkan

    Haha 😁😁😁
    Semangat author untuk next chap~
    Oiya jangan terlalu lama updatenya yaa, udah gatel nih pengen tau gimana kelanjutannya hehe..
    Fighting!!!
    Chu~ 😘😘😘

    Like

  15. Yah mkin rumit nie hub taeny..
    Padahal lgi sweet2nya hub taeny,eh ada si kunyuk yg dtang ke fany..
    Apa yg terjadi ke tae ya..
    Semoga tae kuat..
    N lanjut thor..
    Aku suka ceritanya..
    Semangat..
    N gomawo..
    >̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡ ☺k

    Like

  16. aissshh kenapa giliran tae jtuh cinta. muncul si nikonnn ??!! ahhh gue ngerasa tae lebih sakit drpada ppany (karna baekyeon)

    thorr lo suka biki gue mewek.

    next chap dipanjangin lg dikit 🙂

    Like

  17. huuffttt… -_-
    sekarang tae yg ngerasain sakit dah 😦
    liat tuh foto mata gua langsung ngantuk thor :v
    kayanya bakalan sakitan tae dripada panny ini mah…
    panny bsa2’a boongin taeyeon -_-
    awas kena karma :v
    next chap pasti bakalan greget dah 🙂
    oke im waiting for the next chapter thor….

    Like

  18. Tae cemen baru kaya gto ajj udah mewek trs kabur.. Baru tao kn gmna sakit ny liat orng yg kita sayang kissing dgn orng laen.. Itu baru skli Tae liat ny.. Nah Fany liat Tae kissing sama c cabe udh brp x.. Gmna ga ancur tu perasaan ny Fany.. Tp Fany tetap setia tetep semangat ngejar cinta ny Tae wlpun prnah ad penolakan dri Tae.. Tae cuma liat Fany kissing sama c Khunyuk skli ajj udh kelemer2..Dan itu pun masih samar Fany bnr’n kissing atw cuma sekedar..
    Gue ga suka Tae d sini plin plan gila.. Baru nyahoo lo d ambil c Khunyuk nangis Bombay.. Bagos Thor bikin Tae syok therapy biar mikir tu c Tae..

    Thor LAMA BANGET C UPDET NYA.. GUE NUNGGU NI FF UPDET SAMPE BERJAMUR.. BOLAK BALIK BOLAK BALIK KAYA STRIKAAN GUE LIAT FF LO NGAREP UPDET..

    Like

  19. Badai taeny muncul lagi, selepas bekhyun eh si gajah yg muncul skrg 😀
    lanjuuuuuut thor, penasaran dgn taeny…

    Like

  20. waduh kok gantian ini, fany nya yg kecantol sama nick, tae nya yg sakit hati. next chap semoga taeny bersatu beneran deh. kan pasti fany msh cinta sam tae, gk mungkin bisa lgs berpaling ke nickhun

    Like

  21. Awalnya sih gue udah seneng yekan taeny sweet banget , kenapa pas baca lagi hubungannya makin rumit ajaaaaaa. Dan kenapa gajah thai itu segala muncul eeerrrrrr. Ini ff nyesek parah thor dari jaman by mulaaa.
    Lanjutkan atta , chapter 6 nya ditunggu loh yah

    Like

  22. annyeong… gua reader baru disini
    numpa baca yee…. gua manggilnya apaan.
    mimin ?? thor ?

    gua sebenernya udah baca dari chap awal cuman baru sempet coment… gk papa kan ???

    oke.. buat alurnya awesome
    pada bagian konfiknya bikin deg deg an
    kisah cinta taeny rumitnya.. minta ampun
    bikin penasaran sumpahh..

    btw jalan keluarnya belon keluar yakk ??.
    cepet d kelarin yee

    lanjut
    ok.. semangattt

    Like

  23. Uyy thor lo kapan ngelanjuttin nih ceriteeee.. sudah 4 bulan lamanyaa engkau menghilang.. 5 bulan lagi tetangga gue lahiran*dor* pleaseee comeback atta comeback *ala titanic* ………..-.

    Like

  24. thor liat taeny kayak mereka saling balas membalas deh perbuatan antar satu sama lain
    kemarin tae sekarang fanyy
    taeny hrs cepet bersatu ya thor
    aku nggak tega liat mereka selalu menderita kyak gitu
    moga aja berita fany ama nick cuma boongan ya
    lanjut thor

    Liked by 1 person

  25. OY THORR. ANJIR KOK TEBAKAN SAYA(DI KOMEN PART SEBELUMNYA) SALAH YAAAAA? WAAAA GAK TERIMAA *ABAIKAN. IH MASA GITU SIIIII!? PADAHAL KAN TAENY LAGI MESRA-MESRANYA THORRR. JANGAN PISAHKAN MEREKA LAGI THORRR JANGANNN. GAK KUKU ABANG DEK GAK NANA. GAK KUNAAAAA. PERTANYAAN SAYA: INI KAPAN DILANJUT OY THOOOORRR? DITUNGGU YAAA. KEEP WRITING, JAZZATTA!! ENDINGNYA HAPPY YA THORR PLISSS. TAENY SATUIN LAGIIIIII.

    Like

  26. rahasian tuh tae gimana sakit gak liat org yng kita cintai ciuman sma orang lain ?
    karma tuh wkwk
    makin ribet ah hubungan taeny

    Like

  27. Kenapa malah sekarang panny yang kena gosip kencan ama khun..tae pasti sakit banget rasanya..tapi panny juga pernah rasain sakit yang sama…pas liat tae ama baek kiss..jadi impas😤😤sama2 dah liat kiss BY am KT..😂😂😂😂

    Like

  28. Knp jdi beginie😐😐
    apa ini pemblsan pany buat tae😢😢😢 oh my.. klo ia knp mesti sllu di tutup… wae!!

    Like

  29. Rasain lu tae. Kerjaan lu sih tarik ulur mulu. Baru aja lihat sekali udah rasain kan sakitnya tuh di sini, gimana fany yg berkali-kali lu sakitin.

    Like

  30. makin kesini makin seru 🙂
    cuma agak bingung sama chapter ini ttg hubungan tae sama baek yang tiba” kayak alurnya cepet, tapi gapapa sih masih tetep enjoy bacanya 🙂

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s