MISTAKES (CHAPTER ONE) BY JAZZ


TITLE : MISTAKES

AUTHOR : JAZZMINE

SITE : PRESENTED BY ATTALOCKSMITH

STORYLINE ORIGINALLY FROM JAZZMINE

DATE PUBLISHED : —

**

ENJOY

**

Aku bisa merasakan belakang punggungku perlahan merasakan panas yang teramat sangat, lalu menjalar ke bagian leherku, lalu menyebar ke setiap darah yang kini tengah mengalir di setiap pembuluh darahku.

Detik kemudian, aku sudah mencengkram bagian dada sebelah kiriku, aku merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian itu. Tidak henti-hentinya aku berdoa rasa sakit ini segera pergi. aku ingin teriak, tapi kelihatannya rasa sakit ini menghalangiku.

**

Tiffany

Aku mengayunkan pelan kakiku masuk ke dalam ruangan operasi. Semua perlengkapan sudah siap dan aku juga tidak ragu lagi untuk mendampingi dokter bedah utama dalam sesi operasi ini.

Sebelumnya, ketika yang lain masih menyiapkan beberapa hal lagi, aku melangkah mendekat kea rah pasien yang kini sudah tidak sadarkan diri.

Lama kelaman jarak antara tempatnya tertidur dan aku semakin dekat. Dari sini aku bisa melihat wajah gadis yang teduh sedang terlelap. Nampaknya dia telah nyaman. Aku memperhatikan setiap lekuk wajah yang di milikinya,. Dia mempunyai paras yang sangat menawan. Tuhan menciptakannya dengan sempurna.

Tapi kemudian aku menyadari, bahwa hidupnya itu tak sesempurna pahatan wajahnya. Karena pasien perempuan yang sebentar lagi akan kami bedah ini, menderita penyakit yang sangat serius yang mungkin akan mengancam jiwanya.

**

Namaku Tiffany. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang hidupku. Aku tidak begitu mempunyai sesuatu yang spesial. Aku adalah anak satu-satu nya dari keluarga sederhana yang tinggal di tengah-tengah kota Seoul. Meskipun keluargaku tidak kaya, tetapi kedua orang tuaku berhasil membesarkan aku sebagai seorang Dokter. Dulunya, aku sangat ingin menjadi aktris dan bisa bermain di layar lebar.

Walaupun aku tidak pergi ke tempat dimana aku berniat untuk menjadi seorang aktris. Tapi kurasa aku berakhir di tempat dimana banyak orang yang lebih membutuhkanku sebagai seorang dokter.

Walaupun saat ini, aku hanya dokter magang. Yang jelas, kelak pasti aku akan menjadi dokter yang mereka impikan. Membantu memberikan kepercayaan hidup kepada mereka yang sakit, meyakinkan mereka bahwa hidup ini pantas mereka perjuangkan, dan yang terakhir, walaupun kesempatan hidup mereka tidak banyak, setidaknya mereka sudah mempunyai kehidupan yang begitu indah, bukan?

Aku ingin menjadi dokter karena aku tulus ingin membantu mereka. Aku tidak mengharapkan apapun selain kesembuhan mereka. mungkin alasanku ini terlalu cliché . Tapi, ini benar-benar serius. Aku tidak bisa melihat mereka kehilangan harapan untuk hidup. Neomu apaseo. Karna mereka akan melewatkan banyak hal-hal yang begitu indah yang mungkin akan menghampiri hidup mereka nantinya.

Orang orang mempunyai karir yang berbeda-beda dan juga dengan alasan yang berbedapun mereka bergabung. Tetapi kami, kami mempunyai komitmen kepada alam, untum membantu sesama.

Dan pasien yang terbaring kaku itu adalah seorang gadis yang sebenarnya kuat. Aku sangat yakin itu.

Author

Operasi yang baru saja selesai itu akhirnya membuat orang-orang bernafas lega. Karna berjalan dengan sukses. Memang tidak berpengaruh banyak untuk kehidupan gadis itu nantinya. namun, operasi tadi mampu mengurangi rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya.

Taeyeon. setidaknya itulah yang tertera di papan nama yang menggantung kuat di sisi lain tempat tidurnya,

a suite room at Apollo Delhi. 

Taeyeon adalah anak pertama dari dua bersaudara. Dia juga merupakan anak perempuan dari seorang konglomerat di Seoul. Meski ia hanya tinggal bersama Ayah dan Adiknya, itu sudah merupakan lebih dari cukup baginya.

Dia adalah seorang yang selalu semangat, bekerja keras dan merupakan titik kebahagiaan bagi beberapa orang yang mengelilinginya. Kelakuannya yang selalu membuat orang tertawa, kesederhanaan dirinya dan kekuatan hatinya lah yang membuat dia sangat di cintai oleh orang-orang terdekatnya.

Seorang Taeyeon dapat membuat orang lain menjadi dirinya sendiri ketika berada di sisi Taeyeon.

Namun, nampaknya, Taeyeon tidak mampu berlama-lama membuat orang di sekitarnya tertawa akibat tingkah lakunya. Hari-hari yang ia lewati menjadi lebih sulit lagi ketika ia mendapati dirinya sedang kesakitan sembari terus mencengkram bajuyang melapisi dada bagian kirinya.

Ia di diagnosis menderita kardiomiopati.

Penyakit ini muncul karena kerusakan atau gangguan pada otot jantung sehingga dinding-dinding jantung menjadi tidak bergerak secara sempurna ketika memompa darah dan menyedot darah. Penderia kardiomiopati pun memiliki risiko tinggi untuk mengidap arritmatia dan gagal jantung.

“Namanya Taeyeon, kau harus focus terhadapnya dan jangan sampai lengah. Utamakan dia dari pandanganmu. Fany-ah. Jebal dowajuseyo

Tiffany mengernyit heran, apa ada pasien yang harus di utamakan? Pikirnya. Semua pasien terlihat sama di matanya, dimana yang lebih membutuhkan, itulah yang di utamakan.

Hajiman, Sunbae. Bagaimana jika aku lebih di butuhkan di tempat lain? Semuanya akan menjadi rumit.”

Pria itu sesekali memperbaiki kacamata yang terus bertengger di hidungnya, wajahnya kinipun menjadi bingung juga.

“Fany-ah, Keluarga dari pasien itu dapat menaikkan nama rumah sakit kita nantinya. apa kau tidak mau itu terjadi?”

Kini Tiffany benar-benar mengerti kenapa ia di perintahkan untuk menjaga pasien itu. Walaupun ambisinya untuk membantu sesama sangat besar, tapi ia juga wanita dewasa yang mampu memikirkan bagaimana rumah sakit tempat ia bekerja juga maju.

**

“Lagipula, Fany-ah, dia tidak mempunyai siapapun untuk menemaninya selama di rumah sakit ini. Gadis yang malang, memang begitukan nasib anak orang kaya?”

Tiffany sempat mengerutkan keningnya mendengar itu, karena tidak mungkin hal itu terjadi jika ia adalah seorang pebisnis besar yang pastinya mempunyai banyak orang untuk berada di sisinya untuk waktu yang lama.’

“Kemana orang tuanya? Kerabat dan temannya?”

“Yang ku dengar, ibunya telah meninggal. Ayahnya sibuk dan adiknya sedang sekolah di luar negeri. Dan dia tidak mempunyai terlalu banyak teman karena salama hidupnya ia tidak pernah di masukan ke tempat yang umum di kunjungi orang lain seperti public school dan lainnya.”

Hati Tiffany terasa teriris oleh pisau kecil ketika mendengarnya. Sakit sekali. Bagaimana bisa ia tadinya berpikir bahwa pasien itu sama dengan yang lainnya di saat faktanya pasien itu ternyata lebih menderita dari pada yang lainnya.

Setidaknya pasien yang lain mempunyai orang-orang terkasih untuk berada di sekeliling mereka. tidak seperti gadis cantik itu yang tidak mempunyai siapapun untuk menemaninya ketika ia jatuh.

“Tapi, aku dengar ia mempunyai dua sahabat yang mungkin nanti akan bergantian denganmu untuk menjaganya.”

Setidaknya ruang dada tiffany kini merasa sedikit lega ketika mendengar itu. setidaknya masih ada yang setia untuk mendampingi gadis malang itu.

Bunyi hentakan high heels Tiffany mampu mengisi keheningan ruangan yang super luas dan mewah ini. Maklum saja, ini adalah ruangan pasien kelas satu. Dengan banyak perabotan yang mewah dan lengkap, menjadikan ruangan ini, ruangan pasien vip dengan total bayaran yang sangat besar.

Penglihatan Tiffany kembali menangkap seorang gadis dengan parasnya yang sangat menenangkan. Meskipun seumuran dengannya, gadis ini mempunyai wajah yang lucu seperti anak kecil, pikirnya. Untuk beberapa detik, Tiffany sudah menarik sudut bibirnya untuk tersenyum tipis.

“Hmmm.”

Tiffany sempat terkejut untuk beberapa saat, tapi kemudian ia melihat kedua kelopak mata yang halus itu terbuka perlahan.

“Selamat datang kembali, Taeyeon.”

Taeyeon

Aku bisa merasakan cahaya matahari jatuh tepat di atas permukaan kulitku. Benar saja, ketika kedua mataku terbuka, paparan sinar itu juga langsung menyerbu penglihatanku.

Tapi, pantulan cahaya itu terkikis sedikit oleh papan muka seseorang. Aku masih belum bisa melihatnya dengan jelas karena pandanganku kabur. Namun untuk ke seperkian detiknya, ini semakin jelas.

Aku bisa melihat seorang gadis berjas putih tersenyum hangat kepadaku. Bahkan di saat seperti ini, aku memuji keindahan wajahnya yang sangat sempurna itu. entah mengapa, aku benar-benar nyaman memandanginya saat ini. Walaupun aku tau, mungkin wajahku kini terlihat sangat bodoh di hadapannya.

“Selamat datang kembali, Taeyeon.”

**

Uhm, apa yang harus aku ceritakan lagi disini? Kukira semuanya sudah kelihatan, kan?

Bahwa aku hanyalah seorang gadis yang lemah, sakitdan hanya sendirian di dunia ini. Bahkan kalian bisa lihat bahwa ruanganku saat ini tidak ada siapapun, kecuali aku yang hanya bisa berbaring lemah di atas tempat tidurku.

Bagiku semua nya terasa begitu mustahil saat ini.

Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana hidupku bisa menjadi lebih buruk seperti ini?

Tapi, terlepas dari itu semua. Aku masih bisa merasakan diriku yang tak pantang menyerah saat ini. Bahkan ketika aku berkaca tadi, aku masih bisa melihat Taeyeon yang lucu dan sehat,

Aku pernah melihat keajaiban sebelumnya. Doaku yang hanya ku pinta dalam hati terjawab pelan-pelan.

Tuhan memang hanya memberikan keajaibannya untuk orang yang berjuang, percaya dan terus menjadikan itu impian hidupnya. Tuhan juga menyukai orang-orang yang bisa menerima diri mereka apa adanya.

**

Taeyeon masih fokus pada buku gambarnya yang kini masih terisi sedikit goresan jari-jarinya.

Sejujurnya, dia masih belum tahu, gambar apa yang akan dia buat untuk hari ini. sebelum seseorang mengetuk pintunya…

Pintu terbuka perlahan, seorang wanita berjas putih dengan rambut yang berwarna coklat itu masuk dengan senyumnya yang teduh. Bahkan senyumannya itu tidak hanya terlukis di bibirnya, namun di matanya juga. Orang-orang menyebutnya eyesmile.

“Selamat pagi, Taeyeon.”Sapanya pada gadis yang tengah menatapnya ramah itu.

Taeyeon sempat berdecak kagum sebelum akhirnya dia membalas sapaan itu,

“Pagi, Dokter.”

Wanita itu sedikit menggeser bangku yang ada di salah satu sisi tempat tidur Taeyeon untuk di dudukinya.

Aish, panggil saja nama. Kita kan seumuran..”Katanya sedikit tertawa,

Taeyeon mengernyit heran,

“Tetap saja, kau kan dokterku.”

“Tapi aku mau menjadi dokter sekaligus temanmu.”Balasnya tidak mau kalah, Taeyeon sempat tersenyum tipis dan akhirnya menyerah dalam perdebatan kecil ini.

Geure.. Kau ingin ku panggil apa?”

Wanita itu menangkup dagunya dan berpura-pura memikirkan sesuatu,

“Tiffany?”

Taeyeon hanya menjawabnya dengan anggukan senang, dia tidak percaya bahwa kini dirinya sudah bisa menjalin pertemanan dengan cepat.

“Baiklah, Tiffany. Ceritakan tentang dirimu, bolehkah?”Tukas Taeyeon dengan mimik mukanya yang memelas,

“Hmm, apa ya?”

“Ayolah.. biar kita semakin dekat, kan?”Ucap Taeyeon menarik turunkan sebelah alisnya dengan wajah nakalnya,

Tiffany untuk kesekian kalinya tersenyum karena wajah Taeyeon yang baginya begitu lucu,

“Aku anak tunggal. Dari keluarga sederhana, tidak terlalu cantik tapi cukup untuk membuat pria jatuh dengan mudah untukku.”Jawab Tiffany memasang wajah yang tidak kalah menggodanya dengan Taeyeon.

“Wah, kau cukup percaya diri, hah?”

“Dan juga, aku dokter yang seharusnya sekarang memeriksamu, bukan mengobrol santai seperti ini,”Tiffany tertawa kecil ,

“Itu urusan gampang, kau tau?”

“Gampang? Bagimu!”Jawab Tiffany cepat, Taeyeon terkikik,

“Bagaimana denganmu, Tae?”

Sekali lagi, Taeyeon menyunggingkan senyumnya yang sangat teduh mendengar panggilan Tiffany untuk dirinya, entah kenapa, dia merasa sangat nyaman dengan panggilan itu.

“Aku anak pertama. Dari keluarga biasa-biasa sa—“belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, Tiffany sudah memotongnya,

Ya!!!bahkan jika keluarga mu mau, kalian bisa membeli rumah sakit ini!”

Taeyeon mengerutkan keningnya lalu tertawa dengan singkat,

“Oh ho ho. Aku tidak tau itu, tapi yang kuyakin, aku tidak sekaya itu.”

Tiffany memutar bola matanya tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Taeyeon barusan. Dia bahkan tau, bahwa keluarga Taeyeon memegang saham terbesar di perusahaan-perusahaan yang sukses di kota ini. Bahkan hanya dengan jentikan jari, mungkin keluarganya bisa menyingkirkan atau menaikkan derajat rumah sakit ini.

“Percayalah, Tae. Kau sangat kaya.”Ucapnya dengan suara husky nya itu. membuat Taeyeon mengerjap untuk beberapa kali, wah bagaimana bisa suaranya yang sederhana itu membuat dirinya menahan napas untuk beberapa detik.

Tidak ingin Tiffany menangkap wajahnya yang kini seperti orang idiot, dia berkata,

Arraseo, Arraseo..”

Tiffany terkekeh kecil mendengar Taayeon yang begitu saja menuruti perkataanya,

“Aku anak pertama. Mempunyai sahabat yang masing-masing sangat sibuk. Tidak pintar, dan ceroboh.”

“Yang terakhir aku yakin itu sangat benar.”

Mendengar balasan Tiffany, Taeyeon bukannya kesal, ia malah ikut tertawa. Entahlah, baginya tawa Tiffany begitu hangat dan ia ingin mendengar itu untuk waktu yang lama.

Aish, jjinja!”

“Bagaimana dengan Ayahmu?”Pertanyaan Tiffany seketika membuat Taeyeon mengerutkan keningnya, dia kembali tertawa. Tapi kali ini, tawanya terdengar sangat renyah.

“Apa kau lihat dia sekarang?”

Tiffany menggeleng pelan,

“Dia tidak ada, kan? Itulah dia.”Jawab Taeyeon singkat. Membuat hati Tiffany iba di buatnya, dia merasakan pembicaraan mereka makin serius saja dan ini membuatnya sangat tidak nyaman. Ia mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari teman barunya itu.

Tiffany memberanikan dirinya untuk menyentuh bahu Taeyeon, sebelum akhirnya dia melemparkan senyuman mautnya, juga kedua matanya yang melengkung membentuk bulan sabit.

“Tapi ada aku disini.”

de67014f1f04e5b9e70ac8f6f68df8c3


“TAEYEON-AHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Taeyeon yang tadinya sedang menatap layar datar berupa televise itu akhirnya menoleh, di dapatkannya tiga wanita yang masing masing memasang wajah khawatir dan berlari kecil ke arahnya.

Segera dia merasakan hamburan pelukan hangat dari mereka bertiga. Untuk ke sekian kalinya, dia merasa bersyukur atas ini.

“Gwenchanna!?”Tanya salah satu dari mereka sembari memeluknya sekali lagi sebelum akhirnya melepaskannya kembali dan mengharapkan jawaban yang akan membuat hatinya, oh tidak, ketiganya. tidak merasa khawatir lagi,

“Gwenchanna…”Jawab Taeyeon dengan senyumnya yang benar-benar menggambarkan bahwa dia sangat lemah untuk saat ini.

“Aku benar-benar menghwatirkanmu.”Balasnya dengan nada manja sembari mulai menggamit punggung tangan Taeyeon.

“KAMI, maksudmu…”Sahut wanita yang lainnya yang berada sedikit di belakang,

“Oh iya.. kami…”

Taeyeon terkekeh,

“Kalian tidak perlu khawatir, aku akan sembuh sebentar lagi.”

“Terutama kau, Jessica. Berhenti sering meninggalkan pekerjaanmu hanya demi melihatku!”Tambah Taeyeon kini aga meninggikan suaranya namun tidak lupa juga dengan senyumnya.

Bogoshippo….”wanita yang di panggil Jessica itu tidak menggubris perkataan taeyeon dan malah menarik kembali gadis itu ke pelukannya.

Sementara dua yang lainnya hanya bisa menatap Jessica jengah lalu tertawa kecil.

Mereka bertiga adalah Jessica, Sooyoung dan Yoona. Ketiganya adalah sahabat yang di miliki Taeyeon sejak ia kecil. Mereka awalnya tetangga di salah satu perumahan elite di bilangan kota Seoul.

Mereka bahkan bersaing untuk mempunyai halaman yang paling luas, mainan yang paling banyak, dan baju yang paling bagus semasa kecil dulu.

Justru kompetisi itulah yang membuat mereka bertiga semakin dekat.

Jessica, anak dari pasangan seorang pengusaha minyak dan pejabat kota Seoul. Dia adalah wanita yang sangat manja namun dia juga mempunyai sisi dewasa yang ia tidak tunjukan kepada orang-orang kecuali yang terdekatnya. Dia mudah cemburu terhadap apapun.

Diamendapatkan kekasih yang selalu sempurna di mata orang, tapi dia terus saja mengabaikan mereka demi seorang Taeyeon. Dia sudah lama mempunyai perasaan ini, hanya saja Taeyeon yang tidak pernah melihatnya jadi dia takut untuk mengakuinya. Bahkan dia pernah meninggalkan kencannya di tengah malam hanya untuk memastikan bahwa Taeyeon sedang tidak berkencan dengan orang lain di rumahnya. Dia bahkan rela tidak tidur, untuk nemenani Taeyeon yang sedang sakit.

Flashback

Jessica lari tergopoh di tapakan jalan yang akan membuat dirinya sampai di rumah. Dia terus berlari berusaha menghindari sekelompok kendaraan roda empat yang mengejarnya,

Dia terlibat masalah di sekolahnya. Dia di tuduh mencuri kekasih dari seorang gadis paling popular. Padahal, kekasih dari gadis itu sendiri yang mengejar Jessica. Dan sekelompok kendaraam itu di penuhi dengan “tentara” gadis itu. berusaha menggapai tubuh Jessica dan hanya Tuhan lah yang tau apa yang selanjutnya akan terjadi nantinya.

Baru saja kakinya ingin memasuki gerbang yang menjulang tinggi itu, sekelompok mobil itu juga sudah berhenti tepat di belakangnya. Jessica menoleh ke belekang, air matanya memang sudah meluncur bebas dari tadi, namun kini jantungnya terasa ingin copot. Dia bertanya-tanya apakah Tuhan masih sudi memberikannya kehidupan setelah ini.

Gadis berambut merah mencolok itu turun dari mobil yang berada di garis paling depan. Di ikuti oleh sekelompok gadis yang lainnya. Dia membawa sebuah balok kayu di tangannya,

Yang Jessica yakin, sebentar lagi balok itu akan berakhir di tubuhnya nanti.

Saat jarak mereka tinggal lima kaki, gadis berambut merah itu berhenti untuk sesaat, tertawa dan sebelum akhirnya berkata,

“Kau harus mendengarkanku, anak manja. Kau baru saja membangunkan singa yang sedang tidur.”

Dia kembali melanjutkan langkahnya, mengangkay kedua lengannya danbersiap menghamtakan balok itu..

Tapi..

BUG!!!

Balok itu akhirnya membentur punggung seorang gadis dengan keras.

Jessica membuka matanya perlahan, dia benar-benar terkejut karna dia belum merasakan benturan apapun. Tapi ketika penglihatannya jelas, dia menangkap seseorang yang kini berlutut di depannya. Kedua tangannya bersandar pada dinding gerbang dan seluruh tubuhnya berhasil melindungi Jessica dari balok sialan itu.

Jessica mengerjapkan matanya berkali-kali, dia masih tidak percaya dengan apa yang kedua bola matanya tangkap saat ini.

“Taeyeon-ah….”Lirihnya pelan, lalu air matanya kembali jatuh dengan sempurna.

Gadis dengan pahatan wajah yang sangat mempesona itu melihatnya dengan tajam namun sorot matanya kini begitu lemah menatapnya.

Lalu dia tersenyum hangat sembari terus menatap Jessica.

“Kau harusnya melawan mereka, bukan seperti ini Jessica.”

“Pabo….”Tambahnya sebelum ambruk dalam pelukan Jessica. Namun kedua matanya belum terpejam, dia hanya merasakan sakit yang amat sangat.

Jessica mendekapnya erat, mimikmuka nya benar-benar tidak bisa tergambarkan. Dia ingin teriak sekarang juga, dia ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi dia hanya mendapatkan dirinya ternganga dengan air matanya yang terus berjatuhan.

“Kau benar-benar cengeng, Jessica…”

Tepat setelah kata-kata itu, Jessica merasakan beban tubuh gadis itu semakin berat di dekapnya. Dia bisa merasakan bahwa gadis ini sudah kehilangan kesadaran,

Seketika ruang di dadanya menyempit, hatinya seperti di tusuk dengan jarum-jarum kecil, dia bisa merasakan,air matanya yang hangat jatuh lebih banyak dari yang sebelumnya. Ini benar-benar menyakitkan. Dia merasakan kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.

“Taeyeon bangun….”

“Taeyeon?”

“Taengoo?”

“Taeng?”

“Mianhae…”

Seperti itulah, Jessica jatuh cinta kepada seorang gadis cantik, ceroboh, namun mengagumkan itu. untuk pertama kalinya, dia jatuh terlalu dalam kepada sahabatnya sendiri. untuk pertama kalinya dia merasakan jantungnya yang ingin melompat keluar karna seorang perempuan.

Dan untuk pertama kalinya juga, dia merasakan benar-benar hidup ketika berada di sekitar gadis itu.

End flash back


 

“Jadi, kapan kau bisa keluar? Aku benar-benar kesepian.”Sooyoung mengatakan itu dengan mulutnya yang masih penuh dengan daging asap.

Taeyeon berdecak lalu menggeleng pelan melihat sahabatnya yang satu ini,

Yya!! Telan dulu!”Sambar Yoona cepat,

“Mungkin akan lebih lama dari yang sebelumnya, karna yang satu ini, cukup rumit.”

“kau terlalu memaksakan dirimu, Taengoo..”Tukas Jessica lembut, dia menatap Taeyeon dengan rasa rindu dan sakit bersamaan.

Ini begitu menyakitkan baginya melihat orang yang biasanya membuat dia tertawa, bahagia, bebas, kini hanya terbaring di atas kasur di rumah sakit. Dengan berbagai infuse dan obat yang memuakkan. Bahkan tatapan gadis itu sungguh-sungguh menggambarkan bahwa dia kini sedang lemah dan berharap suatu keajaiban datang padanya.

“Itu benar. Untuk saat ini kau hanya perlu memikirkan dirimu, Taeyeon-ah..”

Sekali lagi Yoona menyambar perkataan termannya, tapi kali ini ia menatap taeyeon dengan tatapan nya yang begitu nanar.

Gwenchanna…”

“jjinja! Berhenti mengatakan kau tidak apa-apa! Kalau begitu, cepat keluar dari sini dan temani aku makan ramyun ukuran super besar!!”

Taeyeon terkekeh pelan mendengar perkataan Sooyong sebelum akhirnya ia memikirkan kata-kata yang tepat dan meyakinkan untuk sahabat-sahabatnya itu,

“Kalian tau, aku sungguh merasa baik.”

Namun dengan perkataan itu, Taeyeon justru di sergap dengan tatapan ketiga sahabatnya yang menginginkan jawaban yang lebih meyakinkan dari itu,

“Kalian itu gila, aneh dan cukup bodoh. Sama seperti ku, tapi itu adalah hal yang sangat aku sukai dari kita. Kita tertawa bersama setiap saat, kalian tau sifat buruk yang aku punya, begitupun sebaliknya. Walau kadang pemahaman kita tidak sejalan, dalam mengambil keputusan kita selalu bersama. Kita tidak pernah bertengkar. Kalian selalu ada untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja, aku sungguh-sungguh bersyukur karena kalian selalu ada di sisi—ku. gomawo…”

Dan untuk ke sejuta kalinya, mereka merasa semakin utuh. Masing-masing dari mereka bahkan merasa, bahwa teman-temannya itu lebih mengenal dirinya, daripada dia sendiri. merasa begitu di lindungi, di perhatikan dan di cintai. Apalagi ketika momen seperti ini terjadi, mereka tidak membutuhkan kata-kata lagi. Saling memandang satu sama lain, adalah hal favorit yang manis ketika mereka sedang merasakan hangatnya persahabatan mereka.


 

Jessica

Sooyoung dan Yoona sudah pergi lebih dulu karna masih ada pekerjaan yang mereka tinggal. Walaupun sebenarnya mereka belum ingin pergi, tetapi Taeyeon-ku yang sedang sakit ini mampu meyakinkan mereka untuk tetap pergi dan mengurus urusan masing-masing terlebih dulu.

Tapi cara itu tidak berhasil untukku, karna bagi Jessica jung, tidak ada yang lebih penting jika di bandingkan dengan Kim Taeyeon.

Aku memaksanya untuk menuruti perkataanku bahwa aku akan tetap tinggal di sisinya. Dan itu berhasil. Dia menyerah dengan senyumnya yang tergores lemah.

Aku bisa melihat tatapannya yang kadang kosong itu, dia benar-benar bukan seperti Taeyeon-ku yang sangat gila. Kenapa penyakit sialan itu memilih Taeyeon yang sangat-sangat utuh sebelumnya? Di saat banyak orang yang ingin bunuh diri, kenapa harus Taeyeon?

Untuk pertama kalinya aku merasa tak adil dengan cara hidup ini berjalan.

Aku hanya menatap wajahnya dari samping, menikmati pemandangan paling indah yang pernah penglihatanku tangkap. Dari sini, aku bisa melihat lekukan wajahnya yang sangat-sangat sempurna. Mata itu, hidung itu benar benar-benar membuat ku gila.

Apa lagi dengan bibir merah muda yang dia punya…

Setiap aku melihat itu untuk waktu yang lama, bahkan aku bisa merasakan bahwa aku sedang mengenggak air liurku sendiri.

Aku ingin sekali mendaratkan kecupan di sana, aku ingin sekali merasakan bagaimana lembutnya bibir itu.

Shit.”

Sialan. Sekarang itu benar-benar keluar dari mulutku. Itu juga berhasil membuat Taeyeon menoleh ke arahku. Jessica pabo! Aku tidak bisa menahan rasa kesal itu ketika mendapatinya begitu mempesona dari sebelah sini.

Wae?”

“Anni…”

“Apa kau sudah makan?”Tanya Taeyeon pelan,

Aku menggeleng,

Aish… jangan lupakan waktu makanmu, Sica-ah..”

Bahkan dengan perlakuannya yang begitu sederhana, mampu membuat jantungku siap lompat dari tempatnya. Berhenti membuatku bingung, Taeng. Kau terlalu baik dan aku tidak bisa menghindari fakta bahwa aku telah jatuh terlalu dalam untukmu.

“Nanti aku akan membeli beberapa makanan di perjalanan pulang,”

Taeyeon mengerucutkan bibirnya, menunjukan wajahnya yang sangat lucu. Lagi-lagi aku tidak bisa menahannya. Dia begitu lucu

“Sekarang, Sica-ah.. kau bisa sakit..”Ujarnya pelan,

Aigoo…”balasku sembari mengacak pelan rambutnya, dia terkekeh.

Aku tenggelam dalam tawanya yang sangat-sangat nyaman itu, kita berdua hanya saling menatap, aku melihat kedua bola mata hitamnya yang begitu pekat, itu seakan menghipnotisku untuk tidak mengeluarkan kata-kata.

Dia menatapku dengan teduh, seperti kedua matanya yang sedang berbicara denganku sekarang,

Sebelum akhirnya, ada yang membuka pintu, lalu aku berpaling kearah asal suara decitan kecil itu,

Ku dapati seorang wanita berjas putih, berambut coklat kini sedang berjalan kearah kami. Sialan. Dia benar-benar menawan. Astaga. Apa itu kecantikan yang normal untuk seorang dokter di rumah sakit ini!?

Kulit putih dan kaki jenjangnya, aish. Aku merasa seperti terkalahkan.

“Wah, selamat siang semua.”Sapanya lalu membungkuk sebelum akhirnya kembali melihat kami,

Annyeong, TaeTae.”Tambahnya pelan lalu tersenyum.

Lalu aku menyadari sesuatu.

Taetae? TAETAE!!!?

Apa-apaan dia ini. memanggil Taeyeon-ku dengan seperti itu. dia pikir siapa dia. Kenapa dengan mudahnya wanita ini memanggil orang kesayanganku itu dengan nama panggilan yang terdengar lucu. aku benar-benar merasa terancam untuk saat ini

Annyeong, Tiffany”

Lihat! Lihat! Bahkan Taeyeon saja memanggilnya dengan nama utuh.

Chakkaman!!!!!!!!!!

Bukankah dia dokter disini? Kenapa Taeyeon memanggilnya seperti itu!? ada apa ini!? Are they flirting each other!?

“okay, im lost here.”Ucapku pelan,

Wanita itu kini mengulurkan satu tangannya, berharap aku menyambut tangannya itu untuk berkenalan, ah yasudahlah.

“Tiffany Hwang.”Katanya,

Aku mengangguk pelan masih dengan wajahku yang bingung dan kesal.

“Jessica Jung”

“Kalian sudah akrab?”Tambahku dengan mengangkat satu alisku, dia tertawa pelan sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku yang mungkin baginya lucu, padahal tidak.

“Kami memutuskan untuk berteman. Ya kan, TaeTae?”Lalu dia melirik Taeyeon yang kini memamerkan deretan gigi putihnya dan ikut tertawa.

Ugh. Tidak ada yang boleh memanggil Taeyeon seperti itu kecuali aku!

Well, Tiffany. Jika memang seperti itu,”Tukasku,

Kini giliran Tiffany yang mengerutkan keningnya sembari tersenyum

“Dan, kau?”

Duh! Aku ini orang yang penting dalam hidup Taeyeon! Tidak taukah dia? Oh ya dia hanya orang baru. Mungkin dia harus tau sedikit tentangku.

“Aku? orang yang memegang peran besar dalam hidup Taengoo.”

Aku mengatakan itu dengan percaya diriku yang sangat tinggi. Taeyeon mencubit pelan punggung tanganku,

“Aish… kau ini.”Ujarnya, lalu mengacak rambutku pelan.

Lalu disusul dengan tawa wanita centil itu. ini menyebalkan tapi aku menemukan wajahnya yang menawan saat ini. Bahkan kedua matanya membentuk bulan sabit ketika dia melepaskan tawanya.

“Geureu.. aku mengerti.”Ujar wanita itu pelan,

Baguslah kalau kau mengerti.

“Sica-ah pulanglah, ini sudah semakin malam dan kau harus makan.”

Lihat! Lihat! Bukankah sudah aku bilang bahwa aku akan menemaninya disini!? Apalagi dengan kehadiran wanita centil ini, aku makin tidak mau meninggalkannya.

Shirro!”

Author

Shirro!”

Jawaban Jessica membuat Taeyeon menautkan kedua alisnya, lalu dia berdecak dan menggeleng pelan. Sahabatnya yang satu ini memang keras kepala, bahkan jika berhadapan dengannya langsung.

“Baiklah, begini saja. Kau keluar, untuk makan. Lalu kau bisa kembali kesini. Tiketmu disini hanya dengan mengisi perutmu. Bukankah itu mudah?”

Tiffany hanya tetap berdiri mendengarkan percakapan mereka, niatnya untuk memeriksa Taeyeon sedikit di tunda karena kedua orang di depannya sedang berdebat kecil.

Tapi lalu Tiffany menarik sudut bibirnya untuk tersenyum mendengar perkataan Taeyeon barusan. Dia benar-benar orang yang perhatian.

Tapi dia terus bertanya-tanya siapa wanita yang kini ada di samping taeyeon itu? apa dia kekasihnya? Lalu dia juga penasaran, apa Taeyeon dan Jessica mempunyai hubungan? Apa mereka gay?

Call!

“Arraseo. Aku akan keluar sebentar, Taeng. Tapi tidak akan lama, aku akan kembali. Sebaiknya kau tetap disini, dan jangan kemana-mana”

Lalu Taeyeon mengangguk dengan yakin,

“Lagi pula aku tidak bisa kemana-mana, Sica-ah..”

Jessica tersenyum dan meraih salah satu sisi dari tempat tidur Taeyeon. Dia tidak peduli bahwa sekarang Tiffany sedang memperhatikannya.

Tapi..

Chu~

Dia mendaratkan kecupan lembut di dahi Taeyeon,

Tiffany yang melihat ini hanya menatap mereka dengan sedikit terkejut. Dia semakin yakin bahwa ada sesuatu di antara mereka berdua.

Tiffany menyimpan pertanyaan ini untuk di tanyakan pada Taeyeon nanti.

Ketika Jessica melepaskan kecupannya, Taeyeon hanya tersenyum hangat dan kembali mengacak pelan rambut Jessica. Tiffany yang sadar bahwa kini gilirannya untuk memeriksa Taeyeon segera mendekat,

Jessica memundurkan langkahnya satu ubin, lalu dia memperhatikan gerak-gerik Tiffany yang bisa saja tidak dia inginkan.

“Baiklah, aku akan memeriksa mu dulu, Tae.”

Salah satu Tes pemerikaan rutin dan sederhana untuk penyakit Taeyeon adalah merasakan denyut nadi yang ada di pergelangan tangannya, apakah itu berdenyut normal, atau berada di luar batas yang seharusnya.

Tiffany melemparkan senyumnya dulu untuk Taeyeon sebelum akhirnya dia meraih satu tangan Taeyeon.

Jessica yang berada sedikit di belakang pun berdecak kesal,

“Bisakah kau merawat Taengoo, tanpa menyentuhnya?”

Tiffany dan Taeyeon menoleh kearahnya,

Omo.. maafkan aku. Tapi itu akan sulit.”Jawab Tiffany masih dengan lengan Taeyeon yang ada di tangannya,

“Sica-ah.. kau lucu. Pergi dan makan sesuatu.”Sambar Taeyeon sekali lagi,

Jessica hanya bisa menghela nafasnya dan mengambil kangkahnya cepat, dia benar-benar merasa seperti di usir. Dia tidak ingin meninggalkan Taeyeon apa lagi dengan wanita berambut coklat itu sendiri. Entah kenapa, dia merasa tidak aman.

Dan sangat khawatir.

Padahal hampir sebuah ketidak mungkinan bahwa wanita itu akan tertarik pada Taeyeon, dia yakin bahwa wanita itu masih normal dan tidak mencoba untuk merebut Taeyeon dari sisinya.

Untuk beberapa saat dia memikirkan lagi dan lagi. Dan iya meyakinkan dirinya bahwa wanita itu masih normal dan tidak akan membuat dirinya merasa terancam.


 

“Dia benar-benar mengkhawatirkanmu, huh Tae?”

“Dia memang seperti itu,”Jawab Taeyeon sembari terus menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyeri dari jarum yang kini tengah menyengatnya di lengan atas.

“Sudah.”Ujar Tiffany sembari menarik kembali jarum suntiknya,

“Hmm..”Desis Tiffany pelan sembari membenahi peralatannya. Dia menatap taeyeon dengan wajah penasarannya, membuat Taeyeon hanya bisa menarikkan sebelah alisnya.

Dia tau pasti Tiffany mempunyai pertanyaan untuknya.

Dia tertawa pelan sebelum akhirnya memulai sesi itu,

“Katakanlah.”Katanya tersenyum, kendati Tiffany masih terus berdesis sebelum akhirnya memilih untuk duduk di bangku di salah satu sisi tempat tidur Taeyeon.

“Baiklah, mungkin ini akan terdengar aneh.”

Tiffany menghela napasnya pelan,

“Apa kau dan gadis itu.. dalam..”

Belum selesai Tiffany berbicara, Taeyeon lagi-lagi sudah menyinggungkan senyumnya. Dia bahkan sudah tau apa yang akan Tiffany katakan. Taeyeon memang tipe orang yang cepat mengerti.

Dia tertawa pelan,

“Tidak… dia memang seperti itu. Tapi kami hanya sahabat.”

Tiffany hanya mengangguk pelan, ternyata dugaanya salah. Taeyeon tidak dalam hubungan seperti itu. dia tidak mengerti dengan situasi ini, tapi ia merasakan lega di ulu hatinya mendengar itu.

“Maaf atas pertanyaanku, Tae.”Katanya pelan,

“Hei. Itu tidak apa-apa..”

“Baiklah, sebagai permintaan maaf, aku akan mengabulkan permintaanmu, Tae.”Tiffany mengedipkan sebelah matanya, lalu tersenyum nakal.

Taeyeon lagi-lagi merasakan sesuatu yang aneh sekarang. Dia merasakan udara sekitarnya seketika memanas. Jantungnya bahkan berpacu cepat melihat kedipan maut itu. ini benar-benar salah.

Namun dia mencoba untuk tetap terlihat normal,

“Benarkah!!?”Kini wajahnya penuh dengan kegembiraan, dia harus memanfaatkan ini sebaik-baiknya. Walaupun sudah ada satu hal yang dari kemarin ia sangat inginkan. Dia lalu berpikir untuk menaruh harapan itu sekarang.

Tiffany mengangguk cepat, dia tidak sadar bahwa kini dia sedang tertawa pelan melihat mimik wajah Taeyeon yang seperti anak kecil. Itu sangat lucu baginya.

“Jessica pasti tidak akan menginzinkanku untuk ini. Tapi bisakah kau membelikanku Ice cream?”Taeyeon kini memasang wajah memelasnya, kedua alisnya kini saling berpautan. Dia benar-benar mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari Tiffany.

“Hmm? Hmm?”Tukas Taeyeon dengan aegyo nya.

Tiffany untuk ke sekalian kalinya merasa sangat aneh ketika melihat Taeyeon seperti ini. Dia merasakan sesuatu yang menggelitiknya dan memaksanya untuk tertawa pelan melihat taeyeon.

Tapi ini benar-benar menyebalkan baginyabkarena tidak bisa melimpahkan kata tidak. Bahkan ia tau ini salah, Taeyeon masih belum boleh memakan makanan yang seperti itu. tapi melihat Taeyeon, ia seketika luluh denga suara Taeyeon yang begitu lembut juga wajahnya yang lucu.

Dia bertaruh bahwa Taeyeon mempunyai suara yang indah ketika bernyanyi.

Call!”

“Hajiman..”

“Kau harus merahasiakan ini dari siapapun ya. Kau masih belum boleh sebenarnya. Tapi janji adalah janji.”

Taeyeon seketikatersenyum lebar mendengar jawaban Tiffany. Dia benar-benar merasa senang sekarang. Dia memang pecinta ice cream dan semua orang tau itu. dia bahkan pernah berkata pada Jessica, jika suatu saat zombie menyerang dunia, satu-satunya tempat yang akan dia tuju adalah pabrik ice cream dan bahagia hidup disana sampai dunia habis dengan zombie itu.

Sifatnya yang lucu, dan apa adanya itulah yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa sangat nyaman untuk terus berada di samping Taeyeon yang ceroboh, unik dan menyenangkan.

“Jjinja!!? Kau memperbolehkan aku!?”Seru Taeyeon dengan tatapan tidak percayanya, Tiffany hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawabannya.

ASSAAA!!!!”


 

Tiffany kembali ke kamar Taeyeon dengan membawa satu cup ice cream rasa coklat. Favoritnya Taeyeon. Bahkan ketika Tiffany kembali, dia belum menemukan sosok Jessica di sekitar Taeyeon, entah kenapa itu membuatnya sedikit lega, lagi dan lagi.

Dia Berjalan menghampiri Taeyeon yang kini sedang terpaku pada televisinya. Sebelum akhirnya suara dentuman hak Tiffany mampu mengalihkan perhatiannya. Dia menoleh dengan tatapan nya yang sumringah melihat kantung plastic yang ia yakin itu berisi makanan favoritnya.

Melihat ekspresi Taeyeon yang benar-benar bersemangat, ide jahil baru saja menghampiri fikirannya.

Dia memperlambat langkahnya, lambat dan sangat lambat dengan wajah nakal nya.

Melihat Tiffany yang seperti itu, Taeyeon benar-benar frustasi.

Sampai Tiffany mulai menghentikan langkahnya, jaraknya dengan Teyeon sekitar lima kaki dan itu membuat Taeyeon sangat-sangat geram.

YYA!!!!!”Seru Taeyeon cukup keras, dan itu berhasil membuat Tiffany tertawa terbahak-bahak. Ini benar-benar lucu baginya melihat taeyeon yang begitu kesal.

Pany-ah… Jjebal…”Ujar Taeyeon pelan,

Tiffany menghentikan tawanya dan bahkan ia sekarang sedang tersenyum hangat mendengar Taeyeon memanggil namanya seperti itu.

Entahlah, tapi ia benar-benar menyukai panggilan itu.

“Aku suka itu,”Kata Tiffany masih belum mau menghampiri Taeyeon,

Taeyeon mengerutkan keningnya,

“Mwo?”

“Cara kau memanggilku.”

Taeyeon menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, ia benar-benar tidak menduga bahwa panggilan itu bahkan di sadari oleh Tiffany dan ia menyukainya.

“Katakan lagi.”

“Tapi kau akan memberikanku ice cream itu, kan?”Jawab taeyeon sembari menunjuk kantong plastic yang masih ada di genggaman Tiffany.

“Geure..”

“Pany-ah… yeppeuni..”

“JJebal…?”

lagi, lagi dan lagi Tiffany tidak bisa memaksa dirinya untuk tidak tersenyum. Karna panggilan lain yang baru saja keluar dari mulut taeyeon,

Ia menemukan panggilan itu sangat lucu dan ia nyaman mendengarnya.

“Tae..”

Taeyeon yang masih memasang wajah memelasnya menjawab,

“Oh?”

“Kau baru saja mengakui bahwa aku cantik.”Tukas Tiffany di selingi dengan tawanya, Taeyeon lalu tersenyun dan ikut tertawa.

Dia juga baru menyadari bahwa dia baru saja mengatakan Tiffany itu cantik dan itu semua berasal dari panggilannya barusan,

“Ah.. jjinja? Apa aku mengatakan itu? aku pasti tidak sengaja..”Jawab Taeyeon dengan wajah nya yang datar, dia benar-benar menahan tawanya sekarang.

YYA!!!!!!!! JUGULLE!!!!!?”Kini Tiffany yang berseru, giliran Taeyeon yang tertawa sekarang.

“Arasseo.. Arasseo..”

“Kau memang cantik, dan aku yakin semua orang tau itu.”Tambah Taeyeon,

degeum. Degeum. Degeum.

Tiffany merasakan jantungnya yang kini berpacu cepat. Bahkan terasa ingin keluar dari rongga dadanya ketika ia mendengar pujian Taeyeon barusan.

Tapi cepat-cepat di tepisnya rasa itu, dia lalu berjalan mendekat kearah Taeyeon.

“Baiklah, kau menang. Ini.”

Taeyeon langsung menyambar kantung plastic itu, di keluarkannya cup ice cream itu. dia membuka tutup dengan cepat, dia benar-benar bersemangat.

Dia lalu melahap satu sendoknya dengan cepat,

“Hmmm.”Taeyeon menikmati satu suapan yang baru saja mendarat di lidahnya, dan dia sangat menyukai itu.

“Mashittaaa~”

Tiffany hanya bisa menyunggingkan senyumnya melihat Taeyeon yang sesekali menatapnya bahagia,

Namun, tiba-tiba Taeyeon mengarahkan suapannya untuk Tiffany, tatapannya berharap bahwa Tiffany akan membuka mulutnya dengan segera karna ini sudah cukup membuat tangannya pegal.

“Ayo bukalah mulutmu.”Tiffany sempat menaikkan satu alisnya, lalu dia tersenyum dan menyambut tawaran Taeyeon.

“Hmmmm.”

Tiffany kini merasakan sesuatu yang tidak biasa di ulu hatinya.

Taeyeon kemudian kembali menyuapi dirinya lagi,

Tiffany tertawa pelan melihat tingkah lucu taeyeon sekarang. Pandangannya kini tertuju pada bibir Taeyeon. untuk pertama kalinya, dia menemukan bibir itu sangat menarik. Ia benar-benar memperhatikan setiap lekukannya.

Ia segera mengalihkan pandangannya kearah lain. Menyadari bahwa dia sudah menelan saliva nya sendiri. Gulp.

Detik kemudian dia menyadari bahwa taeyeon memang benar-benar anak yang berantakan. Bahkan ada banyak bercak ice cream coklat yang kini menempel pada dinding wajahnya.

“Aigoo… anak ini.”Ujar Tiffany sebelum akhirnya meraih wajah Taeyeon. membersihkan sisa ice cream yang ada di sekitar mulutnya.

Namun ia tidak mengerti kenapa ibu jarinya sekarang berhenti di ujung bibir gadis yang ada di depannya sekarang. Tiffany malah menatap lurus kea rah sentuhannya. Ya. Disana. Tepat di sudut bibir Taeyeon.

Taeyeon hanya bisa terhenyak dan memandang wajah Tiffany dengan tatapan tidak percaya.

Dia benar-benar yakin bahwa saat ini hatinya sedang mengadakan konser besar-besaran lagi. Aish. Ini membuatnya gila untuk terus menerima fakta bahwa kini Tiffany sedang menatap bagian bawah wajahnya, yang ia yakin itu adalah bibirnya sendiri.

Gulp.

Untuk pertama kalinya, dia bisa melupakan ice cream nya yang mencair hanya karna tatapan seseorang yang di tancapkan tajam padanya.

“Taengoo~ Aku kem—“

Taeyeon

“Taengoo~ Aku kem—“

kami berdua. Ya berdua. Aku dan Tiffany langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Omo. Aku benar-benar merasa seperti sedang tertangkap selingkuh sekarang.

Bahkan tatapan Jessica kini benar-benar Tajam kearah kami yang masih pada posisi semula. Tiffany segera menarik kembali tangannya. Aneh, aku merasa sedikit kecewa akan itu.

“YYAA!! KIM TAEYEON!!!”Omoya~~ aku merasa akan budak seketika karna seruan Sica yang melengking itu,

ini aneh, kita tidak melakukan sesuatu yang salah. Tapi kenapa aku merasa khawatir dan senang di saat bersamaan?

Khawatir Sica akan marah juga senang karna bisa mendapatkan tatapan maut itu dari Tiffany.

Andwea! Apa yang aku katakan?

Sekarang yang harus aku pikirkan adalah bagaimana cara meyakinkan Sica untuk kejadian ini. Aishh. Aku bahkan tidak melakukan apa-apa

“Apa yang kalian lakukan!?”

kami berdua masih belum bisa membuka mulut. Aku dan Tiffany sempat saling menatap dengan wajah yang bingung dan khawatir.

Bahkan bunyi hak Jessica yang mendekat saja sudah membuatku takut.

Tiffany segera bangkit dari duduknya, aish. Aku merasa bersalah padan Tiffany karna terlah membuatnya akan menghadapi Jessica yang sangat-sangat mengerikan ini.

Wae ire.. sica-ah.. busowo..”

Kami hanya sedang bercanda, Jessica.”Kini Tiffany memulai pembelaannya,

ya!! Kenapa aku menyebut itu pembelaan? Bahkan yang di katakannya benar! Kami hanya sedang bercanda dan memakan ice cream ini. bersama

Ini bukan pembelaan tapi kebenaran!

“Kalian tadi akan berciuman, kan!?”

Aku membelalakan mataku mendengar asumsi Jessica yang sangat tidak masuk akal itu. begitupun juga Tifany yang sama terkejutnya denganku.

“ANIYO!!!”seru kami berdua berbarengan,


 

“Jjebal.. Sica-ah.. aku tidak melakukan apa-apa. Wae ire!?”

Akupun tidak mengerti kenapa aku masih harus menjelaskan kejadian tadi kepada Jessica. Harusnya aku biasa saja karna tidak melakukan kesalahan. Aneh, tapi aku merasa berhutang penjelasan padanya.

Ada apa denganku ini!? Bahkan Tiffany juga tau kalau itu tadi bukan kesalahan. Dia masih normal begitupun aku. Ya kan, Kim taeyeon!?

Jessica masih menyilangkan tangannya di dada, aku rasa gadis ini benar-benar kesal.

Dia menatapku dengan sorot matanya yang tajam, sesekali menggelengkan kepalanya mendengar penjelasanku.

“Aish.. wanita centil itu.”Ujarnya pelan,tapi pendengaranku masih bisa menangkap itu. aku tau iti di tujukan untuk Tiffany,

lalu pandangannya kini mendapatkan ice cream yang ada di meja sebelah kasurku, dia berdecak sebelum akhirnya berkata,

“Apa itu ice cream?”

Aku hanya mengangguk pelan dan takut. Aish.. aku rasa ada monster baru yang akan segera datang,

“YYA!!!! TAEYEON-AH!!!!”Itu dia…..

“Siapa yang memberikanmu itu!? kau kan masih tidak di perbolehkan memakan itu!!!!!!”tambahnya dengan suara yang agak tinggi, membuatku kembali bergetar,

Aku bahkan bisa merasakan tanganku yang bergetar sekarang,

“Tippany…”

Jessica kini sudah bangkit dari duduknya bahkan sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.

“Gadis itu lagi? Yya!!! Kenapa dia memperbolehkanmu? Bukankah dia dokternya!?”Tukasnya dengan ucapannya yang di seret,

“Dia hanya berhutang sesuatu padaku, Sica-ah…”

“Aigoo! Taeng-ah… sudah jelas dia ingin merayumu!!”

Merayu?

“YYA!! JUNG SOOYEON!”Kini giliranku meninggikan suara,

“Perlu ke tekankan padamu! Dia itu masih normal dan kita berdua ini memang hanya berteman.”

“Maafkan aku kalau kau tidak menyukainya, Sica-ah.. tapi dia adalah orang yang baik, percayalah.”Tambahku dan akumulai menurunkan intonasi suaraku,

Jessica menarik napasnya pelan, lalu dia menatapku nanar. Aku bisa melihat air yang sudah menggenangi pelupukmatanya.

Lalu satu tetesnya terjun dengan bebas di pipinya,

That’s it.

“Mendekatlah.”kataku sembari menepuk ruang yang masih tersisa di sekitar kasurku,

dia menuruti perkataanku dan mulai duduk perlahan, hanya dalam hitungan detik aku sudah mampu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku.

Jessica mungkin memang orang yang keras kepala dan menyebalkan, tapi aku benar-benar tidak suka melihatnya menangis. Ini bukan omong kosong, tapi. Aku bicara yang sejujurnya. Bahkan aku berjanji, bahwa tidak akan membiarkan siapapun membuatnya menangis, kecuali itu tangisan haru bahagianya.

Tapi disinilah aku, membuatnya menangis seperti itu. aku akui ini bukan kali pertamaku membuatnya menangis.

Kadang aku tidak mengerti kenapa dia bisa menangis seperti ini karna hal yang aku lakukan. Aku tau itu tidak salah, tetapi aku merasakan, bahwa akulah satu-satu nya orang yang terus membuat nya menangis.

Aku masih tidak mengerti ini,

Ada apa denganmu, Sica-ah?

Ssshhh… Mianhae, mianhae….”Ujarku sembari menepuk pelan punggungnya,

“Taeyeon-ah..”

“Hmm?”

“Aku memang hanya sica yang menyebalkan, dan tidak sempurna. Aku membuatmu kesal dan khawatir, aku mengatakan hal-hal yang bodoh, melakukan hal yang salah di matamu,”

“Taengoo..”

“Di samping itu semua, kau tidak akan menemukan orang yang peduli dan mencintaimu lebih dari aku. “

Author

Sore ini, Taeyeon akan mejalani pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG). Dalam tes non-invasif ini, elektroda patch melekat pada kulit untuk mengukur impuls listrik dari jantungnya. EKG dapat menunjukkan gangguan dalam aktivitas listrik jantung, yang dapat mendeteksi irama jantung abnormal dan daerah cedera.

Baginya, sore ini mungkin akan sedikit lebih baik dari sebelumnya. Karna kini ayahnya berada di ruangan yang sama dengannya, mendampinginya sedari tadi.


“Taeyeon-ah.. maafkan Ayah, yah? JJebal..”

Taeyeon masih menyilangkan kedua lengannya dengan gagah. Dia bahkan tidak menatap Ayahnya yang sedari tadi berdiri di sudut kasurnya.

“Ayah benar-benar sibuk.. kau kan tau itu, sayang..”

Taeyeon benar-benar tidak menggubris permohonan maaf Ayahnya.

“Jadi, aku benar-benar tidak penting, ya?”

Ayahnya kini berjalan mendekatinya, dia meraih rambut anak gadisnya itu dan di selipkannya di belakang telinga,

Anniyo.. kau adalah prioritasku..”

Ucapan Ayahnya barusan, mampu membuat Taeyeon untuk melihat ke arahnya, berharap ada jawaban yang lebih meyakinkan dari itu,

“Kadang ketika Ayah mengharapkan sebuah keajaiban, ayah akan melihat matamu, lalu sadar, bahwa keajaiban itu, ada tepat di depan ayah.”Kini dia menatap nanar Ayahnya,

“Kau tau, Taeyeon. Ayah tidak pernah meninggalkan sisimu walaupun ayah jauh. Kau adalah hadiah terbaik yang pernah Ayah miliki.”Air mata Taeyeon sudah menggenangi pelupuk matanya dan bersiap untuk meluncur bebas.

Sebelum itu terjadi, Ayahnya sudah merengkuh tubuh kecilnya. Di peluknya erat dengan rasa penyesalan yang begitu besar.


“Selamat Malam, semua.”Dari balik pintu itu, Tiffany menunjukan dirinya. Ia tersadar bahwa kini Taeyeon sedang tidak sendirian, melainkan bersama Ayahnya yang menemaninya dari sore tadi. Di dalam hati kecilnya, dia bahagia melihat Ayah Taeyeon yang akhirnya datang untuk menemani anaknya hari ini.

Mengingat dia tidak pernah berkunjung kemari bahkan dari hari pertama Taeyeon disini, tepatnya empat hari yang lalu.

Ayah Taeyeon yang sebelumnya sedang menyuapi anaknya buah, bangkit dari duduknya dan sedikit membungkuk untuk kehadiran Tiffany,

Taeyeon hanya tersenyum ramah melihat kedatangan Tiffany, padahal detik ini juga hatinya sedang mengadakan konser akan kedatangan wanita cantik itu,

“Malam, Dokter.”Balas Ayah Taeyeon, Kim Joong Hyun

“Panggil saja saya, Tiffany. Mr. Kim”

Ayah Taeyeon sempat melirik anak gadisnya heran, berusaha meminta sedikit penjelasan kepada anaknya yang sedang menatapnya geli itu,

“Tapi kau kan Dokter disini?”

Tiffany tertawa kecil sebelum akhirnya menjawab

“Aku ingin menjadi temannya juga.”Jawab Tiffany sembari melirik jahil Taeyeon, sementara dia hanya melemparkan tawanya kecil,

Ayah Taeyeon mengangguk mengerti, dalim hatinya berkata, dia sangat senang mengetahui Taeyeon sudah mempunyai teman disini. Juga, setidaknya Taeyeon mempunyai seseorang untuk terus berada di sisinya ketika ia di rumah sakit ini.

“Baiklah Tiffany, karna kau sekarang temannya. Mohon jaga dia dengan baik. akuserahkan dia padamu.”

Tiffany mengangguk dengan mantap dan menyunggingkan senyumnya.

“Kau bisa percayakan TaeTae padaku, Mr. Kim.”


Taeyeon

“Kau bisa percayakan TaeTae padaku, Mr. Kim.”

Ini benar-benar menyebalkan, harus merasakan detak jantungku yang seketika berdegup cepat ketika Tiffany ada di hadapanku. Bahkan dia juga menciptakan panggilan untukku. Lagi, panggilannya begitu lucu di pendengaranku,

TaeTae. Ah aku benar-benar menyukai panggilan itu!

Aish.. apa yang aku pikirkan!? Kenapa aku bisa sangat nyaman hanya dengan menatapnya!

Ah.. jjinja! Sekarang apa yang sedang aku bicarakan!?

Ya!!! Kim Taeyeon!! Kau masih normal! Kau masih lurus di jalanmu!

“Kalau begitu, Tiffany. Saya harus pergi, kau bisa menemani gadis manja kesayanganku ini, kan?”

Appa!!”

Wae? Kau memang manja, kan?”

Dengan begitu saja, Tiffany sudah tertawa dengan lepasnya. Aish.. ini memalukan. Dia tidak perlu membicarakan sifatku di depan Tiffany.

Chakkaman! Kenapa aku merasa malu di depannya!?

“Serahkan saja padaku, Mr. Kim”

Aish..

Ayah hanya tertawa dengan situasi ini. lalu dia berbalik dan menarikku lagi ke dalam pelukannya. Aku sudah hapal ini. pasti dia akan mengatakan bahwa aku tidak boleh lupa untuk menghubunginya, makan yang banyak, dan terus tertawa. Lalu setelahnya dia akan pergi menghilang berminggu-minggu.

Sangat sedih memang mengetahui bahwa dia tidak bisa berada di sampingku untuk waktu yang lama.. tapi aku tidak boleh egois. Dia juga harus menjalani tugasnya sebagai kepala keluarga. Tapi ini wajar kan untuk merasa tidak di pedulikan!?

“Jangan lupa telfon Ayah, makan yang—“

“Banyak, dan terus tertawa”Aku sudah mendahului permainan kata Ayahku itu. dia hanya tertawa renyah sembali melepaskan dekapannya yang selalu aku rindukan setiap saat itu.

Dia memberikan kecupan lembut di dahiku sebelum akhirnya melenggang pergi dan melambaikan tangannya kearah kita berdua,

Ya, siapa lagi? Tiffany!

Tiffany masih berdiri dan menatapku hangat, dia akhirnya mengayunkan kakinya mendekat, dan setiap bunyi dentuman hak nya pun, aku bisa merasakan hawa yang tiba-tiba memanas di sekitarku.

Aishh… Otokachi!!?

“Dia benar-benar sibuk, huh Tae?”

Lagi lagi dia mengeluarkan jurus husky nya itu!

“Oh?”

Aku hanya bisa mengangguk pelan,

“Aku rasa kau mempunyai hidup yang menyenangkan, Tae.”Ujarnya sembari menarik bangku yang ada di sisi lain tempat tidur untuk di dudukinya.

Aku menaikkan satu alisku, berharap Tiffany bisa menjelaskan lebih tentang ucapannya barusan,

“Iya.. kau mempunyai sahabat yang baik dan perhatian, Ayah yang sangat menyayangimu, uang yang banyak, wajah yang cantik, kulit yang bagus.. hehe, dan kau adalah orang yang lucu, dan aku merasa sangat nyaman untuk berada di sekitarmu.”

Lalu dia mengambil napasnya dalam,

“Aku harap, kita bisa berteman untuk waktu yang lama. Jika kau tidak keberatan.”

 

Aku menyunggingkan senyum terbaikku kali ini,

“Pabo.. mana mungkin aku keberatan? Aku sangat bersyukur Fany-ah.. Gomawo..”

Kini giliran dia yang mengerutkan keningnya

“Untuk apa, Tae?”

“Karena telah merawatku, menyemangati, juga menghiburku. dan untuk tetap berada disini. Jjeongmal gomawo..”


Author

Sejak hari-hari itu, Taeyeon dan Tiffany bukan hanya sekedar pasien dan dokter, mereka adalah sahabat yang tidak pernah meninggalkan satu sama lain untuk waktu yang lama. Jika, Tiffany harus keluar kota dan meninggalkan rumah sakit. Ia tidak ragu untuk terus mengirim pesan singkat untuk Taeyeon yang masih terbaring di rumah sakit.Entah itu pagi, siang atau malam.

Tiffany terus mengingati temannya, Seohyun, salah satu dokter yang kini merawat Taeyeon, untuk tidak lupa dengan segala keperluan Taeyeon. Walaupun Seohyun meyakinkannya untuk menyerahkan semua itu dan percaya padanya, Tiffany terus memaksa untuk tetap memperhatikan Taeyeon dengan baik.

Dan ketika Tiffany kembali, ia akan segera berlari ke kamar Taeyeon dengan cepat, tanpa ragu, tanpa bimbang, yang ia genggam hanya rindu yang sangat mengganggu. Tidak jarang Tiffany menemukan Taeyeon yang sedang terlelap, menggambar, bermain consolenya atau bahkan sedang kedatangan tamu, yaitu sahabatnya atau bahkan ayah Taeyeon.

Tapi dari itu semua, Tiffany menemukan dirinya merasakan sesuatu yang aneh ketika mendapati Taeyeon sedang bersama Jessica sendirian. Ia akan mengurungkan niatnya untuk masuk, dan hanya memperhatikan mereka yang saling bergurau, berpelukan bahkan tidak hanya sekali, pandangannya menangkap Jessica sedang mengecup pipi atau kening Taeyeon. Membelai papan muka Taeyeon yang sedang tertidur.

Itu kadang membuatnya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya Jessica rasakan terhadap Taeyeon.

Tapi, ketika pandangannya menyergap sosok Taeyeon yang sedang sendiri, Ia akan langsung memeluknya erat, bahkan membuat gadis berkulit putih seperti susu sulit untuk bernapas.

Lalu mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling berbagi cerita.

Taeyeon dengan hangat menyambut cerita Tiffany yang ia tau tidak akan berhenti untuk beberapa jam kemudian. Dia akan mendengarkan dengan teliti dan mempersiapkan jawaban yang akan di berikan padanya.

Taeyeon memang mendengar yang baik. Itulah yang membuat Tiffany nyaman untuk terus berbicara dengannya, berada di sekitarnya.

Taeyeon juga semakin mengenal lebih jauh tentang Tiffany. Orang yang ia yakini, adalah cinta pertamanya.

Tunggu dulu, tapi itulah faktanya.

Taeyeon tidak pernah menyangkal lagi, bahwa kini dirinya telah jatuh sangat dalam untuk seorang gadis seperti Tiffany.

Perhatian, lucu dan paras yang sangat menawan, perkejaan yang sangat mulia, tatapan yang sangat hangat, suara yang seksi, juga sesuatu yang ada di diri Tiffany yang menjadi favoritnya. Yaitu keberhasilan Tiffany untuk membuatnya merasakan rindu yang sangat menyakitkan untuk pertama kalinya, membuatnya tertawa lepas dalam kebahagiaan yang akhir-akhir ini tidak pernah ia dapatkan, membuatnya merasa sangat spesial di saat ia bahkan tidak bisa mengenal dirinya sendiri dan hanya bisa mengutuk penyakitnya yang tidak pernah selesai, membuatnya merasakan kupu-kupu yang terbang dengan liar di dalam tubuhnya saat mendapati dirinya sedang berada di dekat Tiffany.

Taeyeon tidak pernah seyakin ini di dalam hidupnya. Ia tidak pernah bisa menghilangan Tiffany dari pikirannya.

Ia kadang merutuki perasaanya terhadap Tiffany. Ia tau ia tidak akan pernah bisa memiliki dokternya itu, tapi sepertinya semua perasaan itu hanya semakin tumbuh dan ia tidak bisa lagi mengendalikannya.

Kim Taeyeon benar-benar sudah jatuh cinta pada sahabat juga dokternya sendiri.

Ia berasumsi seperi itu, bukan tanpa bukti. Dia sudah melewati hari bahkan bulan untuk menyangkal itu semua, meskipun pada akhirnya ia tau, perasaanya benar-benar nyata.

Saat pertama kalinya, Ia merasakan hangat tubuh tiffany yang menyelimutinya sepanjang malam

Flashback

“Uhmm, Fany-ah?”

Tiffany mendongak menatap Taeyeon dan mengabaikan pesan masuk yang baru saja tertera di layar handphonenya,

“Wae?”tanyanya pelan, dia bisa melihat bibir pucat Taeyeon dan juga gertakan kecil gigi-ginya menandakan ia kini senang kedinginan.

Mengingat cuaca yang tidak menentu, akhir-akhir ini ia menemukan Taeyeon dengan kondisinya yang kadang turun juga naik.

Wajah Taeyeon juga kini sangat pucat, membuat rasa khawatir kini kembali menyergapinya.

Hujan salju yang lebat gini sedang bergemuruh di luar. Langit gelap membuat penerangan ruangan Taeyeon juga berkurang. Dan Taeyeon benar-benar membenci kegelapan,

“kau kedinginan lagi, Tae?”Tanyanya untuk kedua kali, kini dia menaruh handphonenya dan berjalan menuju Taeyeon yang kini sedang menggigil. Tiffany juga tau, Taeyeon tidak hanya merasa kedinginan, namun ia kini juga sedang berusaha melawan rasa takut akan ruangannya yang gelap.

Taeyeon hanya mengangguk lemah,

“cuddle with me, will you?”Ujar Taeyeon dengan aksen inggrisnya yang ia pelajari dari Tiffany belum lama ini,

Tiffany hanya tersenyum mendengar itu, tanpa menjawabnya ia segera melepaskan sepatu berhak tingginya itu, lalu dia meraih tempat kosong yang sudah di sediakan Taeyeon di kasurnya.

Tiffany menarik selimutnya lebih tinggi untuk menutupi tubuh mereka berdua, tanpa perintah, taeyeon segera membenamkan wajahnya di ceruk leher Tiffany. Indra penciumannya segera menangkap harum tubuh Tiffany yang sangat adiktif itu . Rasa hangat yang nyaman merambat ke seluruh tubuhnya. Membuatnya tidak bisa menahan senyum kebahagiaan yang kini sudah tergambar di bibirnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak memperdulikan keadaan gelap yang kini menyergapinya. Hanya Tiffanylah yang bisa mengusir rasa takutnyaitu.

Tiffany membelai punggung belakang Taeyeon, satu tangannya berhasil meraih tubuh Taeyeon untuk lebih mendekat tanpa ada jarak di antara mereka.Tiffany sesekali mendaratkan kecupan singkat namun dalam di pucuk kepala Taeyeon. Membuat gadis yang ada di bawahnya merasakan detak jantung yang tidak normal juga kupu-kupu yang kembali terbang bebas di perutnya.

Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, malam ini juga merupakan tolok ukur perasaanya terhadap Tiffany.

End flashback

Atau bahkan ketika Taeyeon melakukan beberapa hal manis untuk Tiffany, namun tanpa ia berharap balasan yang setimpal dengan apa yang telah ia lakukan,

Flashback

“Ayolah Taeng.. kau harus kembali ke kamarmu. Ini sudah gelap. Kau butuh istirahat. Akuyang akan mencarinya.”

141121-6

Tukas Jessica pelan sembari berusaha meraih punggu tangan Taeyeon, namun orang yang di ajaknya bicara malah menepis tangannya,

“Aku yang harus menemukannya Sica-ah. Ini salahku.”

Wajah taeyeon kini tampak pucat, keringat terus terjun dengan bebas di papan mukanya, sesekali dia memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pening

Merasakan hawa panas yang kini menyergapi tubuhnya, telapak tangannya yang basah, juga pandangannya yang kini agak kabur karna sakit dikepala yang kini semakin terasa. Ia seperti orang tersesat yang tidak mampu menemukan jalan pulang.

Jessica hanya sedari sore tadi membantunya, benar-benar khawatir akan kondisi orang sangat di cintainya ini.

Dia tidak henti-hentinya meminta Teyeon untuk berhenti.

Taeyeon memang sedang mencari kalung milik Tiffany. Yang membuat itu spesial adalah kalung itu adalam pemberian dari ibunya. Dan Taeyeon merasa bahwa dialah penyebab Tiffany kehilangan kalung itu. karna dirinyalah yang membawa Tiffany ke taman rumah sakit dan bermain bersamanya sepanjang hari.

Tiffany sudah meyakinkan Taeyeon untuk tidak pergi mencarinya sebelum dia kembali meninggalkan kota ini sore tadi, tapi Taeyeon hanya berpura-pura menuruti perintah Tiffany. Tanpa sepengetahuan dokter cantik itulah, dia kembali ke taman dan berusaha mencari kalung itu.

Sampai sosok Jessica muncul dan dia menceritakan semuanya.

Jam sudah menunjukan pukul11 malam tapi Taeyeon hanya terus menolah bujukan-bujukan yang di lemparkan oleh petugas rumah sakit dan Jessica. Mengancam mereka, jika ia tidak akan makan selama beberapa hari ke depan sebelum ia menemukan kalung itu.

“AKU MENEMUKANNYA!”

Taeyeon sempat memberitahu Jessica untuk mengembalikan kalung itu dengan mengubah fakta bahwa yang menemukannya adalah petugas kebersihan. Ia tidak mau Tiffany khawatir akan kondisinya jika ia tau bahwa Taeyeonlah yang mencarinya sepanjang malam.

Selesai dengan permintaannya, Taeyeon jatuh kehilangan kesadarannya. namun Jessica lebih dulu menangkap sosok kecil itu ke dalam dekapannya.


Kini Jessica, Taeyeon, Tiffany dan Yoona sedang bermain di taman kota. Tiffany mengizinkan Taeyeon untuk bermain keluar lingkungan rumah sakit. Menurutnya. Mungkin membuat Taeyeon bersenang-senang akan meningkatkan niat Taeyeon untuk segera sembuh dan benar-benar bisa merasakan udara segar bebas yang jauh dari aroma oabat-obatan dan orang-orang yang sakit.

Karna matahari yang kini menggantung di atas kota Seoul sangat terik, membuat keempatnya merasa sangat haus dan memutuskan untuk membeli ice cream. Namun hanya satu yang ingin melangkah ke ujung jalan untuk membelikan keempatnya ice cream. Siapa lagi kalau bukan si rendah hati Taeyeon.

Padahal dialah disini yang sedang tidak sehat

Karna ketiganya tidak setuju dengan itu, mereka memutuskan untuk membuat tim. Taeyeon dan Yoona, Tiffany dan Jessica. Awalnya Jesscia menolak untuk bersama Tiffany, namun Taeyeon berhasil meyakinkannya.

Taeyeon tau, bahwa jika salah satu di antara mereka sepihak dengannya, mereka akan kembali memulai argument kecil mereka untuk memperebutkan dirinya.

Tim yang kalah, akan berlari membeli ice cream di ujung jalan, dan kembali tanpa membuat ice cream itu meleleh.

Untuk menentukan pemenang, mereka akan bermain gunting batu kertas.

Jessica hanya duduk di bangku taman sembari mengibaskan rambutnya berharap rasa panas itu sedikit menghilang,

Sementara Tiffany dan Yoona memejamkan mata untuk mulai bermain, dan Taeyeon menjadi jurinya.

“Gunting, batu, kertas!”

Di saat Yoona menyodorkan gunting dan Tiffany kertas, Taeyeon lalu berkata….

“Yoong, kau kalah.”

End flashback


Atau bahkan ketika Taeyeon mengorbankan dirinya tanpa sepengetahuan Tiffany

Flashback

“Ya!!! kenapa berantakan sekali disini, Taeng!?”

Taeyeon dan Tiffany menoleh kearah Jessica yang sedang berdiri di ambang pintu.

Mereka hanya tertawa kecil dengan wajah yang cengengesan. Kini kamar Taeyeon memang luar biasa berantakannya. Ada banyak mainan anak kecil disini yang berserakan dimana-mana.

Bahkan di setiap sudut ruangan ini di penuhi dengan bola-bola kecil, boneka dan lainnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah milik anak-anak kamar sebelah yang taeyeon undang untuk bermain di kamarnya yang jauh lebih luas.

Kini Taeyeon

“Biar aku saja yang membenahinya, Tae.”Tiffany bangkit dari duduknya menghampiri Taeyeon yang baru saja merunduk untuk membersihkan sisa-sia makanan kecil yang tersebar di lantai kamarnya,

Namun tiba-tiba

‘AA’

Sepatu berhak tinggi Tiffany tersandung mainan dan ia kehilangan keseimbangan, beruntung, Taeyeon bisa menangkapnya terlebih dahulu,

Namun.. lengan kanan taeyeon yang menjadi penyangga tubuh Tiffany tidak mampu menahannya. Membuat keduanya jatuh dan Tiffany berada dalam dekapan Taeyeon.

Crack!

“TAENG!”

Tiffany memejamkan kedua matanya berharap tidak merasakan sakit yang ia yakin akan segera menghampirinya,

Namun ketika ia membuka matanya, ia menangkap sosok Taeyeon yang sedang tersenyum hangat. Tatapannya yang menenangkan membuat Tiffany tidak perlu repor-repot untuk berkedip.

Namun tanpa sepengetahuan Tiffany, lengan kanan Taeyeon yang tadinya menyangga tubuhnya, kini tertimpa semua berat badan Tiffany,

Taeyeon kini sedang berusaha menahan erangan kesakitannya dengan menaruh tatapannya tenggelam dalam penglihatan Tiffany. Ia bahkan masih bisa tersenyum di saat tulang yang ia yakini saat ini, sudah retak atau bahkan terbelah menjadi dua.

“Fany-ah.. hati-hati.”Ujarnya pelan,

Tiffany segera berdiri dari posisinya, dia benar-benar merasakan sesuatu yang tidak normal di irama jantungnya. Ia selalu merasakan ini, tapi kali ini berbeda.

Dia merasakan hawa yang memanas dan ia merasakan geli di perutnya, seperti ada kupu-kupu yang terbang bebas di dalamnya.

Akhirnya ia lebih memilih untuk berlari kecil meninggalkan Taeyeon dan Jessica yang masih di dalam ruangan, berharap bahwa taeyeon tidak menyadari keanehannya,

Dan seperti itulah kejadian itu berakhir, ketika Tiffany kembali, ia bertanya apa yang terjadi dengan lengan taeyeon.

Seperti biasa, gadis itu hanya menjawab tidak apa-apa dan memberikan alasan lain yang meyakinkan untuk Tiffany.

End flashback

Dan hal-hal kecil lainnya yang Taeyeon lakukan untuk Tiffany..

Taeyeon benar-benar tidak suka melihat Tiffany yang tidak jarang memijit tengkuk kakinya sendiri. Tiffany merasakan sakit dan pegal yang amat sangat karena sepatunya yang mempunyai hak tinggi itu.

Ia harus bergelut dengan sepatu itu seharian.

Akhirnya Taeyeon nekat untuk mengganti baju pasien rumah sakitnya dengan baju casual untuk pergi keluar.

Ia melangkahkan kakinya dengan bebas ke toko sepatu terdekat, memilih sepatu yang anggun namun tetap nyaman di pakai untuk Tiffany.

Dia kembali lalu meletakan kotak sepatu itu di atas meja kerja ruangan Tiffany.

“Fany-ah.. pakailah ini. semoga ini pas dan nyaman di kakimu. Berhenti memperlihatkan wajah lelah dan kesakitan mu itu di depanku hanya karna sepatu hak tinggimu itu yang jelek. –Taeyeon”


Tiffany tidak berhentinya menceritakan betapa jengkelnya dia mengetahui semua dokumen perkerjaannya yang ada di laptopnya menghilang begitu saja.itu semua karena laptopnya yang error dan dia benar-benar tidak tau cara untuk memperbaikinya.

Itu memang laptop lama, tapi ia tidak mau menggantinya mengingat biaya yang mahal dan ia tidak mau membuang-buang gajinya untuk itu.

Ia sedang menimbun sedikit demi sedikit uangnya untuk memberikan ayahnya mobil baru yang sederhana.

Taeyeon yang mendengarnya hanya bisa tertawa kecil, lalu ketika Tiffany beringsut keluar dari ruangannya, taeyeon meraih handphone nya dan memainkan jemarinya di atasnya,

“Oh! Ah-jusshi! Ne! ini Taeyeon.”

“Bisakah kau pergi membeli laptop keluaran terbaru? Yang mempunyai spesifikasi paling bagus.”

“Jjinja?”

“Ne! ne! gomashimnida~”

Dengan begitu Taeyeon berhasil memerintahkan ajudan ayahnya untuk pergi membeli laptop baru untuk Tiffany. Ia kembali meletakan latop itu di atas meja kerja Tiffany dengan sebuah kertas,

“Kau terus mengatakan laptopmu jelek, tua dan yang lainnya. Tapi kau tetap tidak mau menggantinya, dengan alasan gajimu itu untuk mengganti mobil ayahmu yang sudah sangat tua. Jadi biarkan aku membantu dokter cantik yang sangat peduli dengan orang tua nya ini. terimalah ini, Fany-ah… Ne? aku harap pekerjaanmu dengan ini menjadi lebih mudah. –Taeyeon”

Walaupun Tiffany tau, bahkan dengan membeli laptop ini dalam jumlah ribuan pun tidak akan menguras habis saku taeyeon. Dia tetap tidak mau menerima pemberian taeyeon yang satu ini.

Baginya ini terlalu berlebihan dan tidak bisa di terima dengan akal sehatnya.

Tidak peduli seberapa keras Tiffany memaksa untuk mengembalikannya, Taeyeon selalu mempunyai caranya untuk Tiffany mengubah pikirannya kembali,


“Waa! Mashitta~~”

Komen Tiffany saat kimbap itu berhasil terkunyah habis di dalam mulutnya. Kimbap ini adalah hasil jerih payah dari Taeyeon.

Taeyeon yang menyadari bahwa Tiffany selalu melewatkan makan malamnya karna pekerjaannya yang sangat sibuk, berhasil merayu ibu kantin rumah sakitnya untuk mengajarinya memasak,

Tangannya yang terisis pisau, tangisannya yang pecah karna hanya sebuah bawang, ia tidak melupakan itu. bahkan Taeyeon akan tersenyum kecil ketika mengingat hal-hal konyol yang terjadi di dapur tadi hanya untuk membuatkan Tiffany makan malam.

Dia benar-benar melakukan itu semua sendiri. dia bahkan melewati berbagai pemeriksaan untuk dirinya hari ini, hanya karena kesibukannya di dapur kantin rumah sakit. Dan melakukan yang terbaik untuk masakan pertamanya.

“Tapi.. Tae! Jangan bilang kau membuat semua ini dan melewatkanberbagai pemeriksaan hari ini!”

Taeyeon hanya menggeleng pelan dan melemparkan senyum hangatnya,

“Ani… ah-jumma membuatkannya untukmu, aku juga sudah melakukan semua pemeriksaan itu.”

Itulah jawaban Taeyeon,

Bahkan saat ini kepalanya berdenyut, keringat dinginnya terus berjatuhan, dan detak jantungnya tidak karuan karena tidak menenggak obat apa-apa untuk hari ini.

End flashback

Still author

“Aku hanya sedang menyelesaikan beberapa perkejaan di ruanganku Tae, aku merasa kurang sehat. Aku akan keruanganmu nanti sore, ya. see you tae~”

Setidaknya itulah pesan singkat dari Tiffany yang tertera di layar handphone Taeyeon.

Taeyeon segera turun dari tempat tidurnya, ia tidak peduli dengan pajama rumah sakitnya yang masih menyelimuti tubuhnya itu, ia berlari kecil kea rah kantin dan meminta ibu kantin membuatkan bubur dengan bumbu ayam panggang kesukaan Tiffany. Ibu kantin bahkan menambahkan porsinya segera setelah ia mendengar Taeyeon akan memberikannya untuk Tiffany yang sedang sakit.

Dia berharap, Tiffany akan merasa sedikit baikan dengan pemberiannya kali ini. setelah dia mendapatkannya, langkahnya tanpa ragu berjalan menuju ruangan Tiffany.

Sepanjang perjalanannya terlintas bayangan dirinya dan Tiffany begitu saja, dirinya yang sedang menyuapi bubur itu kedalam mulut Tiffany bahkan sudah bermain di pikirinnya.

Dia hanya bisa tersenyum kecil mengingat itu akan segera terjadi ketika ia berhasil sampai di ruangan Tiffany.

Baru saja tangannya berhasil meraih gagang pintu untuk di bukanya,

“Mmmh.. Khunni…”

Kini kedua sorot matanya menangkap sosok Tiffany yang terduduk di atas mejanya, Tiffany memejamkan matanya, kedua tangannya merengkuh bagian punggung belakang seorang Pria berbadan besar yang sedang menciumi leher jenjangnya,

Taeyeon merasakan kedua matanya yang memanas, menahan air mata yang kini sudah memenuhi bendungan kelopak matanya,

Bahkan air mata itu kini meluncur bebas melihat pria itu mencoba membuka satu demi satu kancing kemeja Tiffany.

Mungkin ruangan ini gelap, tapi Taeyeon sangat yakin bahwa pandangannya kini belum rusak, dan yang terjadi didepannya ini benar-benar nyata. Ia yakin itu,

Ia bahkan bisa merasakan air matanya yang hangat mengalir di kedua pipinya. Bahkan giginya menggertak kecil menandakan bahwa Taeyeon berusaha tidak mengeluarkan suara tangisannya,

Seperti ada tombak yang sangat tajam yang berusaha menembus dinding jantungnya saat ini. ruang dadanya terasa menyempit perlahan. Menimbulkan rasa sesak yang menyakitkan untuk Taeyeon.

Ia memundurkan langkahnya, menutup kembali pintu itu dengan hati-hati berharap dua insang yang sedang memadu cinta itu tidak menyadari kehadirannya,


Tiffany dan pria itu kini sedang menghabiskan makan malam mereka yang sederhana di kantin rumah sakit. Sesekali meraka bersenda gurau dan saling memukul kecil satu sama lain.

Tiffany bahkan melupakan jadwalnya untuk memeriksa taeyeon sore ini. yang ia tau, ia benar-benar merasakan bahagia mendapati pria itu kembali ke hadapannya siang tadi,

“Aku akan ke toilet sebentar, Khunni”Tukas Tiffany lalu di hanya di jawab dengan anggukan dansenyuman oleh pria di hadapannya itu, Tiffany berhasil meraih wastafel di salah satu toilet dan mulai membasuh mukanya perlahan. Membenahi dirinya yang terliat agak berantakan karna ‘permainan kecil’nya sore tadi.

“Dokter Tiffany,”Sapa ibu paruh baya yang kini berdiri di belakang Tiffany, dan Tiffany bisa melihatnya lewat pantulan kaca, ia segera berbalik dan tersenyum ramah pada ibu itu,

“Oh! Ah-jumma!”lalu Tiffany membungkuk untuk memperlihatkan rasa hormatnya,

“bagaimana bubur buatanku?”

Tiffany menautkan kedua alisnya, heran dengan pertanyaan ibu itu yang baru saja di tujukan padanya

“Apa maksud, Ah-jumma?”

“Oh? Kau belum mecobanya?”

Tiffany masih terdiam di tempatnya dengan ekspresi wajah yang tidak berubah.

“Sore tadi Taeyeon memintaku untuk membuatkan bubur untukmu. Katanya kau sedang sakit, lalu aku membuatkan porsi yang lebih untuk kalian berdua. Aku kira kalian telah memakannya bersama, karna taeyeon segera berlari menuju ruanganmu bahkan sebelum aku menyelesaikan omonganku,”

Handuk kecil yang sedari tadi ada di genggaman Tiffany kini sukses jatuh ke dasar lantai kamar mandi.


HAII ANYEONG~ TAENY SHIPPERRRRSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS.

Gue author baru disini hehe. Sebenernya, percaya engga percaya, gue kembaran si atta. seriusan tapi. Dua rius deh. Kebetulan kita sama sama locksmith dan gue memutuskan untuk bergabung membuat cerita disini. Asik wkwk.

Cuma penulis amatirrrr, yang tulisannya gaje dang a make sense:p ga sebanding sama yang udah dewa-dewa di dunia penulisan dan perlocksmith-an *LOH.

Semoga gue bisa di terima dengan baik disini. Amiiin.

Panggil aja gue mine atau jazz atau terserah berhubung nickname gue di dunia penulisan ini jazzmine *bukan nama sebenarnya* aseeek.

Semoga suka yaa!! Semoga cerita dengan plot pasaran ini bisa sedikit mengobati rasa rindu kita sama si taeny yang tak kunjung muncul lagi di sosmed…..

Ga minta apa-apa sih Cuma minta di komen aja ceritanya gimanaa, dan kalo ada saran boleeh kook gue terima banget malaaah. Hehehe.

Okee segitu dulu aja deh, selamat malam semua~ -JAZZMINE-

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

96 thoughts on “MISTAKES (CHAPTER ONE) BY JAZZ

  1. Wah ini udah berlebihan tulisannya.. tapi yg namanya rezeki ya dengan sangat senang hati dinikmati.. salam kenal ya thor.. gue locksmith paling gk bisa diem kalo udh berhubungan ama taeny.. wkwk.. awal chpter yg menarik.. tpi itu bagian yg trakhir bikin penasaran bgt thor.. next chp jgn lamalama yah.. semangattt sngat ditunggu kelanjutannya.. ok tq

    Like

  2. Annyeong..salam kenal thor!!…
    jalan ceritanya bagus,, tp kasihan si taetae sakit jantung + sakit hati….ntah sakit apa lg ygkan dia rasakan nanti?? sakit mata mungkin!!!.. semoga lekas sembuh ya taetae!!.. fanny sungguh tega dirimu mmbohongi tae..
    Ditunngu kelanjutannya thor,, hehehe…

    Like

  3. Hai mineee… Seriusan kembarannya atta ?
    Salam locksmith ahahahaha
    Kenapa si nikon harus muncul ditengah2 tarny sih mine ? Baru chap 1 uda ada si nikon huaaaa
    Semoga cepet dilanjut ceritanya hehe

    Like

  4. Haii mine slm knl …pany tega bued…kirain pany menyukai tae…kshn tae udh skt mlh mlh tmbh skt hati….di tgg klnjtnnya ..

    Like

  5. salam kenal mine…nih bagus banget ceritax seperti baca novel romantis di awalx ehh pas di akhirx muncul khunni..hadehhhh..
    tapi keren plus panjang banget..

    Like

  6. Salam kenal jg jazz^^
    Taeny nya so sweet banget diawal tp ga suka pas bagian akhirnya kenapa itu khunyuk mesti muncul sih pake adegan 18 lg, dooh…. Bener2 menyayat hati, patini is the best lah bikin taetae butthurt T_T huwwaaa….#peluksica

    Like

  7. Anyeong athoo ..
    Walaupun baru di wp ini tapi ff mu menarik.

    Aku bukan kasian dengan taeny karna bagaimanaoun mereka pasti bisa bersama
    Lalu gimana denga jessie ?
    Gmn klo jessie kamu buat sama yoona aja toor .. mereka terlihat lucu saat bersama.

    Ancaman baru buat hubungan taeny ..

    Like

  8. salam kenal 😀
    aku yang baca aja ngerasa kayak ada kupu – kupu di perut hwkhwkwhk
    lanjutkan thor…..twins sama – sama jago nulisnya….atau panggil kalian twins locksmith aja??? 😀
    LANJUTTTKAAANNN!!!!!! 😀

    Like

  9. Cieeeeeeeeeeeeeee .
    FF baru, authornya juga . Salam kenal yaa thor ^^ bagusnya panggil apa yaa, *bingung ahh mine aja deh *hoho ^^

    Btw FFnya bagus mine, saya suka (y) di sini taeng penyakitan yaa 😦 tak apalah yg penting dia masih tetap imut *plakk *abaikan . Baru awal chap sdh ada problem yaa, kamu hebat bikin galau mine *ngelusdada :’)
    Di tunggu ya mine ff selanjutnya, semangat yaa nulisnya :*

    Like

  10. Kenapa pas di akhir muncul mahkluk gak dikenal….kasian tae liat adegan yang bikin sakit hati….jadi pengen peluk tae…hahahah…

    Like

  11. Salam kenal chinggu..
    N jalan ceritanya bagus..
    N taeny ni sebenanrnya ada perasaan,,
    Tpi msih blum berani..
    Ksihan pas yg terakhir tae mergokin fany ama MR thai…d…
    Ditunggu kelanjutannya..
    SEmangat.
    N gomawo..
    >̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡ ☺k

    Like

  12. aaah taeyeon pasti potek itu T.T
    nickhun siapa’a ppany?orang yg balik lagi,atau cuma pelarian buat tippany karna dia belum yakin sama perasaan’a ke taeyeon?

    Like

  13. hai… aku baru ikut bergabung di WP ini … menarik bgt tanpa mereka sadari sekarng taeny saling menyanyangi tapi berusaha untuk menepis perasaan mereka, apa lagi fanny ,, poor taetae

    Like

    • YAKALI…. CANDA DOANG AUTHOR JAZZ HAHA. JADI BENER NIH KAMU KEMBARANNYA SI ATTA? BARU TAUUUUU. GIMANA SIH RASANYA PUNYA KEMBARAN? ENAK GAK? *LUPAKAN. YANG BUAT AMATIRAN KATA KAMU?? KAMU SALAH BESAAAAR. INI UDAH LEBIH DARI CUKUP BIKIN AKU SENYUM-SENYUM SAMA KETAWA-KETAWA SENDIRI MALEM-MALEM GINI. NGEFEEL BANGET AH. JAUH DARI KATA AMATIRAN INI MAH. SENENG DEH LIAT TAENY MOMENT DI SINI, BIKIN SENYUM-SENYUM. TYPO MASIH ADA BEBERAPA, YANG PASTI BISA BANGET DIMAAFIN, LAH! SEMANGAT TERUS NULISNYA YA AUTHOR JAZZ. TERIMAKASIH UNTUK CERITA GRATISAN TAPI GAK MURAHAN INIIIII. TERIMAKASIH BANYAK. KEEP WRITING, JAZZATTA!! BYEBYE ATHOR JAZZ. MUAHMUAH *SEKETIKAMUNTAH *JANGANBACAKALIMATTERAKHIRPLIS

      Like

  14. Annyeong….
    Haiii mine…
    Aku readers baru di blog ini….
    Udah lama sich nyari ff taeny yg taengsic nya jg ad.
    #Hahaha gue curhat.

    Aku senyum” bcanya, apa lg wkt taeny yg hampir ciuman tp di ganggu ama sica. Hahaha…
    Knp hrs ad nickon dsnie…
    Kn gagal thu mkan siangnya ama taetae.

    Like

  15. Annyeong..
    Reader baru disini….
    Ffnya bagus banget thor.. nyeseknya dapet, apalagi waktu KhunFany kepergok si Tae

    Like

  16. Astaga ampe nyesek ginie😢😢😢
    Gak tau mau ngebhs taeny or khuny disinie😔😔 lemes baca nya thor😭😭😭
    SEMOGA dgn kejadian khuny, GAK ngebuat tae nyesek n jatungnya tetep normal^^

    Like

  17. Annyeong..slm knl jazz..
    Bru nemu ni wp..ijin mnjelajah yaa
    Mskpn msh amatir tp cara penulisannya udh bgs kok tdk trlihat amatir.
    Semangat yaaah..

    Like

  18. anyyeong thor ^^
    gue lupa udah pernah komen atau belum kkk
    perasaan udah tapi gak tau di ff mana wkwkwkw
    aigoo kasihan sekali uri taetae huhu
    ahh males kalau ada si kunti kkk
    sakit banget liat khunfany

    Like

  19. Oh my god, author daebak
    Ini ff yang seru ternyata, tadi nya ga mau baca ff ini karena lebih tertarik sama yang she keep me warm, tapi lihat comment di tiap chapternya kelihatan seru, emang ternyata seru banget, mau baca next chap dulu thor 😄

    Like

  20. Mulai m3mbaca ff ini ,ijin baca ya thor hehe..
    1 chptr aja udh banyak yg di alamain, NICE!!!
    Kasian sica yg suka sama taeng tapi taeng cuma nganggep dia temen (semoga yuri ada ff ini haha) & pany punya pacar?? Poor of u taeng! 😢

    Like

  21. Gw jadi panas thor. Agh kesal. Awalnya gw suka gimana hubungan taeny eh di akhir si khunni menyerang. Aduh sakit banget ya tae. Udah jantung yg sakit eh sekarang hati yg sakit, sekujur tubuh deh.
    Kasihan gw lihat tae udah penyakitan, kecil, mmungi, mengigil kedinginan dan baik hati, masih ada yg berusaha nyakitin walopun secara gak sengaja.

    Like

  22. masih chapter pertama tapi udah sukaa, banyak rasa di sini dari mulai tae yg lucu, terus taengsic juga yang sweet, poor sica 😦 banyak banget pengorbanan dari tae, semoga bisa terbalas rasa cintanya 🙂
    fany ya ampun ternyata main di belakang tae wkwkwk yang sabar ya tae masih ada sica ini(?) hahaha
    agak berharap nanti sad ending sih biar bikin baper 😉

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s