MISTAKES (CHAPTER TWO) BY JAZZ

TITLE : MISTAKES

AUTHOR : JAZZMINE

SITE : PRESENTED BY ATTALOCKSMITH

STORYLINE ORIGINALLY FROM JAZZMINE

DATE PUBLISHED : —

**

ENJOY

**

              Tiffany mempercepat langkahnya untuk meraih kamar Taeyeon.ia tidak bisa mengusir bayangan gadis itu dari pikirannya. Ia bahkan tidak lagi bisa berpikir dengan jernih, dirinya begitu saja melupakan pria yang kini mungkin masih menunggunya di kantin.

Ia melangkah dengan tergesa-gesa, keringat bahkan mulai berjatuhan di pelipisnya.Dia hanya bisa berharap, kedua matanya bisa menangkap sosok Taeyeon di ruangannya.

Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia merasakan ini, tapi yang ia tau, ia benar-benar merasa bersalah. Entah kerena apa itu, tapi kini hatinya terasa sangat sakit. Ia merasa begitu jahat untuk suatu alasan.dia bingung, dia marah, dia bisa melihat bayangan dirinya yang begitu kejam di mata Taeyeon.

Tiffany benar-benar membutuhkan jawaban atas apa yang ia rasakan sekarang.

Sekali lagi, air matanya jatuh.

(Ost- Taeyeon and The One/Like A Star)

 Taeyeon

appo…

Desisku pelan sembari terus mencengkram baju bagian luar yang menutupi rongga dadaku.Aku merasakan beban yang menghimpit organku disana, aku merasakan sesak dan sakityang teramat sangat.Hawa di sekitar tubuhku sekarang terasa seperti terbakar.

Aku bisa melihat pergelangan tanganku yang basah, keringat yang mulai berjatuhan dengan bebas di setiap papan kulit tubuhku.Aku ingin meneriaki segalanya, tapi aku hanya bisa mendapati diriku meringkuk di atas kasur menahan semua rasa sakit yang kini mengepungku.

              Mataku terpejam, aku menggigit bibir bawahku berharap ini bisa mengurangi sedikit rasa sakit yang aku rasakan sekarang.

              Aku memberanikan diri untuk membuka kelopak mataku.Tapi semakin aku membukanya, aku bisa melihat dengan jelas bayangan itu lagi.Tiffany dan pria itu.

Sakit.

              ku bisa melihat kembali adegan menyakitkan itu yang sore tadi aku saksikan sendiri. Aku bisa melihat dimana mereka bercumbu dengan bergairah, tangan pria itu yang membuka satu persatu kancing kemeja Tiffany, tangan mulus wanita yang aku cintai mencengkram kuat bagian baju belakang pria itu,                                                                    desahan-desahan sialan yang keluar dari mulut mereka membuktikan bahwa mereka benar-benar menikmati itu.

              Apa kau mencoba membunuhku pelan-pelan Fany-ah?

Aish, kalau aku pikirkan lagi, aku tidak mempunyai hak untuk cemburu, ini hanyalah cinta dari satu sisi, aku seharusnya tau itu.Tapi keputusanku untuk menerima apapun resikonya, kelihatannya adalah pilihan yang salah.Aku tidak tau jika rasanya semenyakitkan ini.Aku tidak tau, bahwa ini berpengaruh begitu besar dalam keadaan ku yang sekarang.

              Kim Taeyeon bodoh. Mana mungkin dia merasakan hal yang sama sepertimu? Seperti yang kau lihat, kan? Dia bahkan bercumbu dengan pria lain. Dia masih normal.  Dia masih bisa melihat masa depannya dengan jelas, bersama pria itu yang nantinya akan menjadi suaminya. Bisa menjaganya dengan baik, bahkan mungkin mereka juga akan mempunyai seorang anak yang lucu dan membentuk keluarga kecil yang bahagia.

              Tidak sepertiku, aku bahkan belum bisa membayangkan, apa yang akan terjadi padaku nantinya. Aku merasa seperti gagal.Aku lalai, lelah, idiot dan aku merasakan sakit.

 Sangat….

              Mungkin Tiffany akan merasa jijik ketika melihatku, melihat gadis penyakitan yang jatuh cinta pada dokternya sendiri, terlebih lagi dia seorang perempuan.

Bodoh….

Hidup ini tidak begitu adil untuk orang sepertiku.

Author/jazzmine

 “TAEYEON-AH!”

              Jessica sontak berlari menghampiri tempat tidur Taeyeon.kini penglihatannya mendapati Taeyeon yang sedang meringkuk, sesekali mengerang kesakitan sembari terus memegan kuat-kuat baju bagian luar dadanya.

              Jessica segera mengangkat kepala Taeyeon dan menjadikan kedua pahanya sebagai penyangga.Sebelum dia meraih kasur itu, tangannya sudah lebih dulu menekan tombol darurat di sekitar meja kecil sebelahnya.

              Masih dengan Taeyeon yang mengerang kesakitan, Jesscia berusaha menahan air matanyayang siap mengalir, tetapi itu percuma. Karena kini semuanya telah terjun dengan bebas di pipinya. Ia merasakan butiran-butiran hangat itu terasa sangat panas terlebih lagi dia mendengar dan melihat apa yang kini Taeyeon rasakan.

              Jessica tau, gadis di bawahnya ini pasti sedang merasakan sesuatu yang  ia yakini, itu sangat menyakitkan. Dan ia merutuki dirinya sendiri karena tidak datang lebih cepat untuk mengetahuil lebih awal keadaan Taeyeon.

              Di dalam hatinya dia terus meminta agar rasa sakit itu di limpahkanlah semua padanya .

Sica-ah..appo”

              Jessica menyeka air matanya dengan punggung tangannya, dia benar-benar tidak bisa melihat ini.

nado.. appo.. taeyeon-ah..

Tangannya tenggelam dalam halaian rambut Taeyeon dan mengelusnya dengan lembut.Kini dia bisa melihat dengan jelas wajah itu dengan jelas. Wajah yang sangat sempurna tertutupi dengan pancaran muka sedih,  kecewa, tersesat dan kesakitan.

              Satu butiran air matanya jatuh kembali bahkan sukses mendarat di kening Taeyeon.dia merunduk untuk mencium bagian itu dengan dalam. Dia menumpahkan semua rasa kekhawatiran, bingung, rindu juga sakit di kecupan itu.

              “Arra Taeyeon-ah..arra..”Katanya setelah melepaskan kecupannya dan kembali merapihkan helaian rambut Taeyeon yang berwarna coklat kehitaman.

              “Kim Taeyeon, dengarkan kata-kataku.”Kini suaranya terdengar bergetar,

              dia mengambil napas dalam-dalam, kembali menyeka air matanya, lalu dia kembari merunduk, memperhatikan kembali pahatan wajah Taeyeon yang kini sedang menahan rasa sakit yang begitu besar.

              Jessica kembali mendaratkan kecupan nya lagi, kali ini di kelopak mata Taeyeon yang sedang tertutup.

“Bertahanlah sebentarlagi. Tetap bersamaku.”

              Jessica bisa melihat Taeyeon yang mengangguk lemah,

“TAEYEON-AH!”

              Tiffany yang baru saja sampai mendapati Taeyeon yang sedang bersandar pada pangkuan Jessica. Ia bisa mendengar Taeyeon yang sedang merintih menahan sesuatu yang menghimpit di dadanya, ia juga bisa melihat gadis itu kini tengah terpejam merasakan sakit yang mendalam.

Dia berlari dengar tergesa menghampiri keduanya,

              Jessica hanya sempat menatap Tiffany sesaat kemudian lebih memilih menaruh perhatiannya kembali penuh pada Taeyeon,

              Tiffany yang menyaksikan keadaan Taeyeon saat ini tak lagi mampu menahan bendungan air mata nya. Kini bendungan kokoh itu roboh karena jarak yang ia dapati semakin dekat dengan Taeyeon, membuat penglihatannya semakin jelas menyaksikan kejadiaan menyakitkan seperti ini.

              Jessica dengan tangisnya yang masih terdengar jelas, menatap Tiffany yang sedang berdiri mematung dengan air matanya yang bejatuhan. Tatapan Jesscia padanya berubah menjadi nanar.

Baru saja Tiffany ingin meraih tubuh Taeyeon,

“Tiffany, aku mohon. Tolong bantu Taeyeon.”

“Aku benar-benar mencintai gadis ini.”

              Kedua mata Tiffany menangkap sorot mata Jessica yang kini begitu lemah.Tatapannya begitu penuh harap, dan kejujuran.Kata-kata itu dapat di tangkap alat pendengarannya dengan jelas. Sangat jelas.

Taeyeon-ah..selama ini kau benar.. dia sangat mencintaimu..

 Taeyeon-ah..

 Mianhae….


              “Tippany…”

              Jessica tersadar dari lamunannya, lalu dia menoleh.Mengedarkan pandangannya pada seorang gadis yang masih terpejam.Gadis itu menautkan kedua alisnya menunjukan ekspresi khawatirnya.

              Ia tidak yakin, dengan apa yang baru saja ia dengar. Gumaman itu, dia tidak terlalu menangkapnya karna sedari tadi yang ia lakukan hanya melamun menatap kosong ke depan. Pikirannya melayang jauh, seiring detik berjalan di sekitarnya.

              “Tippany…”

              Kicauan kecil itu keluar untuk yang kedua kalinya, dan Jesscia bisa mendengar itu dengan sangat jelas.Ia yakin, nama seseorang itu baru saja keluar dari mulut gadis itu walaupun kini dia tidak mempunyai kesadaran.

              Semakin jelas nama itu terdengar, semakin dia merasakan sesuatu yang membuat setiap napasnya semakin sakit untuk di keluarkan dari rongga dadanya. Matanya memanas, dia sudah bersiap untuk meghadapi tangisannya yang lain.

              Kali ini, bahkan lebih menyakitkan. Dia mendengar nama seseorang selain dirinya, keluar dari seorang gadis yang sangat-sangat ia cintai. Untuk ke sekian kalinya, ia merasa begitu hancur. Dia yang selama ini tetap ada di sampingnya, bahkan bisa tergantikan dengan orang baru yang datang di kehidupan mereka.

              Dia merutuki semuanya. Kenapa bukan dia yang di pilih orang itu, kenapa bukan dia yang di pedulikannya, kenapa bukan dia yang ada di pikirannya, kenapa bukan dia yang menjadi satu-satunya, kenapa dia bukan orang yang gadis itu rindukan, kenapa bukan dia yang bisa membuat orang itu tersenyum ketika mengingatnya, menangis karna kesalahannya, merasakan rindu karena dia tidak di sekitarnya, atau tertawa karena leluconnya.

               Taeyeon-ah…  haruskan aku menyerah?

               Andwea!


 

              Tidak peduli seberapa keras Tiffany ingin menyingkirkan bayangan taeyeon dari pikirannya.Ia tetap tidak berhasil.Karena kejadian kemarin benar-benar terekam dengan sempurna di memorinya. Walaupun operasi dadakan yang di lakukan untuk Taeyeon berhasil, ia masih belum bisa puas.

              Padahal, Ia juga yang memimpin jalannya operasi itu. dia bersyukur karna mendapat izin dari atasannya. Itu adalah kali pertamanya.

              Memang, dia merasakan takut yang amat besar, mengingat ini adalah yang pertama.juga, operasi ini menyangkut seseorang yang sangat berharga, dan di pedulikannya. Orang itu juga yang membuatnya nekat untuk maju sebagai pemeran utama di meja operasi.

Taeyeon.

              Tiffany mungkin masih bingung akan perasaanya. Ia tidak bisamemberi nama untuk setiap momen-momen yang sudah ia lewatkan bersama Taeyeon. itu semua indah, namun belum cukup untuk meyakinkan Tiffany, bahwa itu adalah sebuah hal yang orang-orang harapakan di kehidupan mereka kelak.

Cinta.

              Dia tidak begitu mengerti akan hal itu. ia tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri, bahkan dengan semua kenangan atau bayangan Taeyeon yang selalu berlari dikepalanya.

              Yang ia lihat, Hanya Taeyeon yang selalu ada untuknya, peduli padanya, mengerti dirinya, dan ia sayangi seperti keluarganya sendiri. Walaupun ia tidak tau harus menyebutnya apa. Yang jelas ia selalu menemukan dirinya khawatir akan Taeyeon, walaupun itu hanya hal kecil. Merindukannya saat mereka jauh, cemburu saat ia melihat Taeyeon bersama orang lainnya, walaupun itu hanya sahabat Taeyeon.

              Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia sangat merasa bersalah. ia juga merasa kondisi Taeyeon yang menurun itu di karenakan dirinya. Ia tidak mengerti kenapa ia mendapatkan pemikiran seperti itu.

              Tiffany pernah berpikir, bahwa dirinya telah jatuh untuk Taeyeon.tapi, ternyata dugaanya itu sangat mudah untuk di tepis. Ia malah memanggil perasaan itu sebagaimana sahabat lainnya.Ia terus berusaha meyakinkan dirinya dengan omong kosong itu.

              Tiffany melihat, masa depannya yang sudah jelas. Dia akan  bersama seorang pria yang sangat di pedulikannya dan juga di rindukanya sejak tahun lalu.

              Dia adalah Nichkhun, pria berdarah Thailand itu adalah kekasih Tiffany yang tahun lalu pergi ke negeri paman sam untuk alasan melanjutkan pekerjaanya. Dia bekerja di sebuah perusahaan yang ada di sana. Mengharuskan dirinya mau tidak mau, untuk pindah. Tapi, dia akan kembali ke Korea, beberapa bulan sekali..

              Biasanya, pria itu akan segera menghampiri kekasihnya di rumah sakit, atau bahkan menyiapkan kejutan kedatangan dengan berbagai rencana-rencana manis. Dia adalah pria idaman, dan semua orang tau itu.

              Maka dari itu, Tiffany dengan mudahnya melihat masa depan bersama pria imut itu. mungkin mereka akan berkeluarga dan mempunyai anak yang lucu-lucu, pikir Tiffany dulu. Tiffany juga bisa melihat bayangan dirinya dan Nichkhun bersantai duduk di kursi goyang di bawah senja menunggu anak-anak mereka datang untuk berkunjung di akhir bulan.

              Lalu ia tau, bahwa jika ia mempercayai perasaanya untuk gadis bernama Taeyeon itu, bayangannya tidak akan pernah menjadi nyata.


“Aku seharusnya datang lebih cepat. Ya kan, Taengoo?”

              Taeyeon hanya bisa tersenyum lemah mendengarnya. Walaupun pandangannya saat ini kabur, ia masih bisa samar-samar melihat wajah Jessica yang penuh penyesalan.

Taeyeon menggeleng pelan,

              “Gwencahanna..”Jawabnya hampir tidak bisa di dengar oleh Jesscia,

              Walaupun Jesscia tau, Taeyeon tidak akan pernah menyalahkannya. Dia tetap merasa sangat menyesal karena datang begitu terlambat kemarin. Tidak ada baginya yang lebih menyakitkan daripada melihat Taeyeon seperti kemarin.

              Kejadian itu begitu cepat, tapi semalaman Jesscia tidak bisa menutup matanya dengan tenang. Ia terus saja memandangi gadis yang terlelap dengan tenang itu. walaupun kadang perasaan khawatirnya menyeruak hebat, ia belum pernah setakut itu.

              Rasa takut akan kehilangan Taeyeon benar-benar tidak bisa di hadapinya.

              Sementara dari luar ruangan, wanita berkaki jenjang berjas putih terus menaruh perhatiannya pada dua insang itu. Pandangannya penuh ia jatuhkan pada gadis yang sedang berbaring. Dia bisa melihat wajahnya yang tersirat luka dengan jelas dari sini. Sama halnya seperti Jessica, ia tidak henti-hentinya merutuki kebodohannya sendiri karena lupa untuk pemeriksaan pasiennya itu.

              Pasien yang ia sangat peduli dan ingin di lindunginya. Ia merasa gagal dan tidak pantas.

              Saat ia menyadari wanita itu itu bangkit dari duduknya, ia buru-buru merapatkan tubuhnya ke dinding tepat di samping pintu. Dia menahan napasnya untuk beberapa detik, gadis berambut panjang itu membuka pintu dengan gerakan perlahan, lalu melenggang menjauh dari kamar pasien.

Tiffany.

              Tanpa basa-basi ia segera beringsut ke kamar itu dengan langkahnya yang sangat hati-hati. Dia mendapati gadis itu terpejam dengan wajah tenangnya. Cahaya rembulan yang masuk lewat jendela berhasil jatuh di paparan wajahnya.

              Langkahnya terhenti untuk beberapa detik. Mengagumi wajah pucat itu yang begitu sempurna jika di lihat dari tempatnya berdiri.

              Dia mendekat tanpa mengeluarkan suara. Kini dia berdiri tepat di samping tempat tidurnya. Di lihatnya sosok yang terpejam itu dengan tatapan nanar. Dia menilik wajahnya. Kulit putih porselennya yang sangat halus itu membuatnya kembali berpikir, bagaimana orang itu mendapatkannya.

              Tapi kemudian, ia kembali ke dunia nyata lagi.

              Perasaan menyesal benar-benar menyeruak hebat sekarang. Dengan segenap akal sehat yang di tumpuknya satu-satu, dia berpikir bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kondisi gadis ini yang memburuk.

              Walau semua orang tau, dengan hanya melewatkan satu pemeriksaan tidak akan sampai separah ini, kecuali ada hal yang menggangu dan membuat si pasien bergitu stress berat sehingga rasa sakit bisa denga tiba-tiba menghampirinya.

              Ia tetap menyalahkan dirinya sendiri dengan berbagai alasan yang bahkan ia sendiri tidak tau itu apa.

              Tiffany merunduk, dengan gerakan lembut, telapak tangannya membelai rambut coklat yang gadis itu miliki.

              Taeyeon.

              Dia sebenarnya tidak sedang larut dalam tidurnya, ia bisa merasakan terpaan udara hangat yang menghempas pipinya. Dan ia tau itu adalah nafas seseorang,

              Dia berpura-pura terpejam. Sampai akhirnya, dia merasakan sesuatu yang hangat, lembut dan basah jatuh di keningnya. Ia tau itu adalah kecupan. Lalu di susul dengan titik air yang terasa panas singgah di keningnya terlebih dahulu, lalu meluncur bebas ke sisi yang lainnya.

Ia tau, itu adalah air mata.

              Saat ia tau, bahwa kecupannya sudah mulai di lepaskan,

              Ia membuka kelopak matanya ragu, ini masih sangat sulit untuk penglihatannya menangkap siapa sosok itu. ia hanya bisa melihat bayangan orang itu sedang tersenyum hangat. Sembari sesekali menghapus air mata menggunakan punggung tangannya.

              “Taeyeon-ah..”

              Mungkin penglihatannya boleh kabur, namun Taeyeon bisa memastikan bahwa alat pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Suara itu terdengar husky namun dengan intonasinya yang lemah. Ia bisa dengan mudah mengenali suara siapa itu.

              Itu suara Tiffany.

              Entah apa yang seharusnya ia rasakan sekarang. Kecewa namun sangat bahagia bisa mendengar suara itu yang memanggilnya, lagi.

              “Maafkan aku, Tae..”

              Di ucapkan oleh Tiffany tepat setelah Taeyeon menatapnya penuh dengan pertanyaan.

              Sesungguhnya, Taeyeon tidak tau permintaan maaf Tiffany di tujukan untuk kesalahannya yang mana. Taeyeon masih bisa berpikir jernih dan memilih untuk percaya bahwa pemintaan maaf itu karena Tiffany sudah melewatkan jadwal pemeriksaan yang seharusnya.

              Kembali terbesit di kepalanya. Kejadian memilukan baginya. Bayangan Tiffany dengan pria itu kembali bermain lagi di pikirannya. Ia bisa merasakan dadanya yang memanas kembali. begitu nyata dan begitu menyakitkan.

              Tak tahan lagi, air mata Taeyeon pun meluncur bebas tanpa persetujuannya. Taeyeon memejamkan matanya kembali, tanpa melihat sedikitpun ekspresi Tiffany yang terkejut melihatnya menitihkan air mata secara tiba-tiba.

              “Tae?”Tiffany terisak saat memanggil namanya untuk kedua kali,

              Taeyeon tidak tau apa yang bisa lebih menyakitkan dari pada bayangan itu yang masih berputar menyerbu pikirannya. Ia tenggelam dalam rasa sakitnya sendiri, membuat butiran hangat lainnya terjun dengan bebas di tapakan wajahnya.

              Tidak peduli seberapa besar dan kuat rasa kecewa dan sakit yang Taeyeon harus rasakan. Ia tidak bisa mengabaikan seseorang yang sedang berdiri di dekatnya ini, terlebih lagi dengan keadaanya yang menangis.

              Pikirannya lalu mulai  bekerja kembali. Sekarang ini yang sedang tergambar di benaknya, adalah momennya dengan Tiffany yang selalu membuatnya terbang ke langit ke tujuh. Saat-saat dimana mereka tengah berdua. Pengorbanan yang telah ia lakukan untuk Tiffany, dan segalanya yang ia berikan hanya untuk seorang dokter yang sangat sukses mencuri hatinya. Bahkan dengan waktu yang singkat dan dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Karena mereka berdua adalah seorang yeoja.

              Taeyeon kembali berusaha membuka matanya yang sudah sangat basah. Air matanya memperburuk penglihatannya untuk menggapai sosok Tiffany. Dengan memandang langit-langit, Taeyeon akhirnya mengucapkan sesuatu,

              “Pany-ah..”

              Dengan hitungan detik, Tiffany berusaha menghapus air matanya dan menaruh perhatian pendengarannya lebih untuk Taeyeon, dia meraih sisinya lebih dekat,

              “Berikan aku tanganmu?”

              Tanpa basa-basi Tiffany segera menggaet telapak tangan Taeyeon. Menyatukan jemari mereka. Dan Tiffany bisa melihat ukiran senyum itu. senyuman yang ia kira tidak akan ia dapatkan lagi dari Taeyeon.

              Taeyeon berusaha menutup semua celah antara jari-jari mereka. Menggenggamnya erat seakan ia tidak mau melepaskannya untuk siapa pun itu.

              Saat pandangannya kembali jelas, Taeyeon mendapati wajah Tiffany yang basah akibat tangisannya. Namun bibir itu membentuk sebuah senyuman yang Taeyeon inginkan di dalam hati kecilnya.

              “Omo. Kau bahkan cantik saat sedang menangis.”Candaan Taeyeon memaksa Tiffany agar tertawa. Dan ia berhasil.

              Tiffany lalu menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Memberikan eye smilenya untuk gadis yang masih sangat lemah menatapnya.

              “Yya..”

              Taeyeon sebenarnya ingin membalas senyum itu dengan jelas, namun rasanya itu sangat sulit dilakukan dengan keadaannya yang seperti ini.

              “Taeyeon-ah.. mianhae..”

              Taeyeon hanya mengangguk pelan tanpa melepaskan pandangannya dari Tiffany,

              Untuk sesaat, dirinya lupa akan hal yang benar-benar mengganggu pikirannya tentang Tiffany. Bahkan ia lupa tentang Tiffany dan pria itu. itu semua mudah tergantikan memang,hanya  dengan Tiffany berada di dekatnya.


“Aku tidak merasa bahagia dengan siatuasiku yang seperti sekarang, Fany-ah.. aku tidak menyukai diriku yang sakit. Tapi aku suka, berada disini. Bersamamu.”

              Akhir-akhir ini Taeyeon memang terang-terangan dengan perasaanya terhadap dokter cantik itu. dia benar-benar tidak memikirkan apa yang sebelumnya ia lihat, dan ia tidak mau ambil pusing lagi tentang itu. yang dia tau, ia hanya tidak mau kehilangan wanita ini untuk orang lain.

Ia bahkan tidak memikirkan apa yang orang-orang akan katakana tentang itu. ia tidak begitu peduli tentang itu, yang ia pedulikan, hanya bagaimana cara membuat wanita ini bisa merasakan hal yang sama sepertinya. Walaupun hanya sedikit.

              Dia tau dia egois untuk ini, tapi tidak mungkin untuk mundur baginya. Apalagi mundur untuk belahan jiwanya.

              Ia bahkan tidak mempunyai alasan spesifik  bagaimana dia bisa jatuh terlalu dalam untuk Tiffany. Dia hanya tau, mata itu sangat indah jika di pandang. Sentuhannya sangat lembut untuk di rasakan, dan perlakuan dan sifatnya sangat nyaman untuk di terimanya setiap saat.

              “Cheessy.”Tiffany hanya bisa membalas dengan pukulan kecil di lengan Taeyeon, lalu dia menyunggingkan senyumnya.

              Mianhae, Taeyeon-ah..

              Walaupun terkesan manis, tapi sebenarnya Tiffany selalu mencari cara agar Taeyeon tidak menangkapnya dengan salah kaprah. Tiffany benar-benar hanya menganggapnya seorang sahabat yang harus di lindungi. Tidak lebih.

              Tiffany sudah mengetahui perasaan Taeyeon untuknya. Itu tidak sulit, karena Taeyeon belakang ini sudah menunjukannya secara tidak langsung. Yang lebih membuatnya menderita, dia tidak bisa melakukan apa-apa tentang itu. ia dengan keras berusaha melawan semua perasaanya terhadap gadis itu. karena seperti yang ia bayangkan, ia hanya bisa melihat masa depannya dengan Nichkhun.


Jessica Jung

              Walaupun kau bukan milikku, tapi kenapa aku merasa bahwa kini aku sedang membagimu dengan dirinya, Kim Taeyeon?

              Bahkan saat yang ada di sampingmu itu aku, kau masih membicarakan tentangnya dengan senyum yang mengembang, sesekali menyerukan namanya dengan lukisan wajah bahagia di papan wajahmu.

              Aku penasaran, apa kau pernah bercerita tentangku dengan wajahmu yang lucu itu? pancaran bahagia yang kau berikan setiap kau menyelesaikan perkataanmu tentangnya. Aku menginginkan itu.

              Setelah semua yang aku lakukan untukmu, aku merasa tidak adil, Taeng. Aku bahkan tak pernah bisa membuatmu untuk berada di dekatku untuk waktu yang lebih lama, seperti yang kau lakukan untuknya.

              Kau tidak pernah seceria dan sesenang itu ketika aku membawakan ice cream ke sukaamu. Kau tidak pernah tertawa selepas itu ketika mendengar candaanku.  Aku juga tidak bisa membuatmu berlama-lama memperhatikan telfon genggam seperti saat kau menunggunya untuk menghubungimu. Mengingat, pesanku saja kadang tak ada yang kau balas.

              Apa kau melihat aku, Taeyeon-ah? Apa kau mendengarku? Apa semua perkataanku tidak ada yang berarti bagimu? Apa aku harus jatuh dengan keras di depanmu agar kau mau melihatku? Karena aku hanya melihatmu di setiap waktu yang berjalan di sekitarku. Kau lah satu-satunya yang aku lihat, Taeyeon-ah.

              Bahkan, sekarang aku bisa merasakan luka yang meluas di dalam relung hatiku, Taeng. Kimbap ini rasanya begitu sia-sia aku buat dengan usahaku sendiri. karena sepertinya seseorang telah mendahuluiku pagi ini,

              Kalian saling menyuapi dan aku bisa melihat senyummu yang liar bermain di sudut bibirmu. Sesekali, kau menggenggam tangannya erat, lalu membelainya perlahan dengan ibu jarimu. Aku bisa  merasakan kebahagiaan yang merekah hebat di antara kalian.

Dia sesekali membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di sekitar mulutmu, dank kau tidak bisa menyembunyikan semburat malu di wajahmu. Lalu dia tertawa, dan kalian tertawa.

              Taeyeon-ah….


 

Author

              Dengan keadaan Taeyeon yang kian hari membaik, membuat semua orang yang berada terus di sampingnya merasa lega. Bukan penyakitnya yang membaik, atau dengan lamban menghilang. Tetapi suasana hatinya mampu memperngaruhi kondisinya saat ini.

              Mereka, orang-orang yang menyayangi Taeyeon, tetap bersyukur dan tak hentinya berdoa dan mengharapkan untuk kesembuhan gadis spesial itu.

              Melihat perkembang Taeyeon, Tiffany dan dokter lainnya bahkan memperbolehkan Taeyeon untuk keluar masuk rumah sakit. Maksudnya, Taeyeon di izinkan untuk mencium udara luar, dan harus kembali pada malam hari untuk bermalam di rumah sakit.

              Tidak jarang Taeyeon meminta mereka untuk membebaskannya setiap waktu, tetapi kemahiran Tiffany berbicara mampu menutup mulutnya dan tidak mengucapkan sepatah katapun.

              Siang ini, Tiffany, Taeyeon dan Sooyoung sedang berkunjung ke apartment Tiffany. Memang tidak mewah dan besar, tetapi tetap saja mampu membuat Taeyeon selalu datang kemari. Baginya, apartment Tiffany yang kecil ini sangat nyaman dan bersih. Menggambarkan yang punya.

              Interior yang ada benar-benar membuat Taeyeon bahkan berkeinginan mempunyai apartment juga, dengan Tiffany yang memilih semua dekorasinya.

 apartment-bedroom-country-cozy-loft-Favim.com-57358

Kini Tiffany sedang sibukk bergelut dengan spatulanya. Berkutik dengan bumbu-bumbu yang ada di depannya. Sesekali memasukan bahan itu ke panggangan. Bau sedap dari masakannya dapat dengan mudah di terima indra penciuman ketiganya, walaupun Taeyeon dan Sooyoung duduk di bangku yang agak jauh darinya.

              Tiffany tidak begitu mahir memasak, tapi karena dia tinggal sendiri di apartmentnya, mengharuskannya untuk bisa melakukan hal ini walaupun hanya bisa sedikit. Tapi dia terus belajar dari ibunya ketika kembali ke rumah,

              Saati ini Tiffany mau memamerkan bakatnya memasak kepada Taeyeon dan Sooyoung. Resep ddeokbokki dari ibunya pun menjadi andalannya, biasanya dia membuatkannya untuk Nichkhun, tapi rasanya tidak adil untuk tidak melakukan hal yang sama pada Taeyeon mengingat ini sudah ke sekian kalinya dia berkunjung.

              Tiffany lebih memilih hubungannya ini menjadi rahasia dari Taeyeon. Ia tidak mengetahui jelas alasannya. Yang ia tau, pasti hati kecil wanita itu akan tersakiti jika ia mengatakan bahwa dirinya telah mempunyai kekasih dan telah mempunyai rencana masa depannya.

              “Kau benar-benar orang yang rapih Tiffany!”Seru Sooyoung masih di posisi duduknya sembari sesekali melirik Tiffany yang sedang memasak, dan kembali lagi menatap layar telfon genggamnya,

              Sementara Taeyeon hanya mengistirahatkan dagunya di punggung tangan. Kedua tangannya menyangga kepalanya yang tengah tertuju kepada Tiffany. Sesekali dia tertawa kecil melihat reaksi Tiffany yang memasak. Lalu tersenyum seperti orang gila karena menyadari Tiffany yang kembali menatapnya dengan senyuman gugup.

              “Pantas saja Taeyeon menyu—“

              Belum sempat Sooyoung mengatakannya, kaki nya yang tak terbalut sepatu itu sudah di injak tiba-tiba oleh Taeyeon menggunakan tumitnya.

              “AISH!!”

              Tiffany mengumpatkan senyumnya dari mereka, dia bisa mendengar itu dan ia tidak mengerti kenapa jantungnya kini seperti sedang menari-nari di dalam sana.

              “Selesai!” Tiffany berjalan kerah keduanya sembari membawa nampan berisikan dua piring yang terselimuti ddeokbokki buatannya.

              Senyuman keduanya mengembang seiring dua piring itu di letakkan di hadapan mereka. Bersiap untuk di santap kedua singa itu. mereka berdualah yang memang paling gemar makan. Bahkan sebelum Taeyeon sakit, keduanya akan mampir ke restaurant ramen setiap pulang sekolah dan menyantap lebih dari 2 mangkuk perharinya.

              Orang-orang di sekitarnya juga bingung kenapa mereka bisa tumbuh menjadi gadis yang sangat mempesona dengan proporsi tubuh mereka yang bagus dan kurus, sementara berbanding terbalik dengan kenyataan mereka memakan semua ramen itu.

tteokbokki-recipe-3

              “jal meog-eul geos-ida….”

              Keduanya dengan segera meraih sumpit mereka memasukkan satu potong kue beras itu kedalam rongga mulut mereka, keduanya mulai mencoba untuk mengunyah.

              Tetapi ekspresi wajah mereka tiba-tiba menjadi datar. Mereka menghentikan permainan mulutnya dan membiarkan satu potong ddeokbokki itu mendekam untuk beberapa saat.

              Tiffany menaikkan kedua alisnya, sebelum akhirnya Sooyoung berhasil menelan habis semuanya,  dengan Taeyeon yang masih sama dengan ekspresinya.

              “Ottae? Ottae?”

              “Rasanya.. agak unik.”Komentar Sooyoung menjadi yang pertama sebelum akhirnya

              “Uhuk!! Uhuk!!”Sooyoung buru-buru meraih gelas yang berisi air dan menghabiskannya dalam beberapa kali tenggakan,

              “Unik apanya! Apa kau menyebut ini ddeokbokki, Fany-ah? Yang terasa Cuma cabenya saja.”Seruan Taeyeon masih dengan mulutnya yang penuh dengan potongan kecilnya. Lalu dia menelannya.

              “Kau pasti menuangkan sebotol cabai!”Tambahnya lalu mengikuti Sooyoung menenggak air dengan cepat. Tiffany hanya bisa menatap Taeyeon jengah, memutar kedua bola matanya,

              Padahal, dirinya yakin bahwa takaran yang ia masukan itu sudah cukup dan tidak mungkin kelewat pedas. Untuk membuktikannya sendiri, dia merebut sumpit dari genggaman Taeyeon lalu memasukkan potongan kecil yang di masaknya ke dalam mulutnya,

              “Uhuk!! Uhukk!!”

              Taeyeon dan Sooyoung lalu melepaskan tawa mereka melihat ekspresi wajah Tiffany yang berubah,

              “YYA!!!!”

 


 

 

(Ost- Taeyeon and Sunny/Its Love)

              “Maaf soal ddeokbokki-ku,”Tukas pelan Tiffany hampir tidak bersuara.

              Tiffany terus mendorong tubuhnya mendekat ke Taeyeon. Berusaha tidak meninggalkan jarak sedikitpun pada gadis berambut coklat itu. menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Taeyeon yang putih dan sangat halus itu. indra penciumannya menghirup aroma tubuh Taeyeon yang sangat ia sukai.

              Sementara gemericik hujan terus menari di luar ruangan, mereka hanya bersandar pada tempat tidur Tiffany. Saling menghangatkan satu sama lain. Awalnya, Taeyeon memaksa untuk kembali ke rumah sakit, tapi entah apa yang merasuki Tiffany. Dia meminta gadisitu untuk tinggal dan bermalam.

              Taeyeon bisa merasakan nafas hangat Tiffany yang menerpa lehernya. Itu membuatnya memejamkan mata sembari terus menarik Tiffany mendekat padanya. Ia sangat menyukai momen seperti ini. dimana Tiffany mengizinkan dirinya untuk lebih dekat, dan ia sangat menyukai fakta bahwa Tiffany juga menginginkan dirinya berada disini, sekarang.

              Walaupun ia masih tidak tau apa alasan Tiffany, dan terus bertanya-tanya sebenarnya bagaimana perasaan Tiffany untuknya. Taeyeon hanya melupakan semua pertanyaan itu dan diam menikmati setiap detik yang terlewatkan sekarang.

              “Aniyo..  bahkan aku menghabiskannya dan kau lihat itu.”

              “Itu lezat, Fany-ah.”Taeyeon menghirup aroma rambut Tiffany yang sangat menenangkan itu, sebelum akhirnya mengecup kening Tiffany lalu kembali mengistirahatkan dagunya di pucuk kepala gadis yang ada di bawahnya.

              Bayangan dirinya dan Tiffany tempo itu, kala Taeyeon di rumah sakit dan meminta Tiffany untuk tidur di kasurnya kembali terulang. Membuatnya mengukir senyum kebahagiaan, karena kini dirinya dapat bergantian sebagai salah satu yang berusaha menghangatkan tubuh gadis ini.

              Jawaban dan reaksi Taeyeon membuat Tiffany ikut memejamkan matanya.

              “Kau adalah koki terbaik-ku.”Tiffany menyukai setiap perkataan yang keluar dari mulut Taeyeon. Yang menyebalkan seperti tadi, maupun yang manisnya kelewatan seperti ini.

              Taeyeon benar-benar sudah menghapus rekaman itu. dimana Tiffany dan pria tidak di kenalnya bercumbu sangat mesra di hadapannya. Ia lebih memilih meninggalkan itu di belakang dan berhenti menyakiti dirinya karena hal itu.

              Dia yakin, dia bisa membuat Tiffany jatuh untuknya. Segera. Karena ia menyadari, Tiffany bahkan tidak menceritakan tenyang pria itu padanya yang berarti dia tidak terlalu serius dalam hubungannya, pikir Taeyeon.

              Taeyeon meraih punggung tangan Tiffany yang sedari tadi ada di pinggangnya menariknya untuk terus mendekat. Setelah mendapatkannya, dia menyatukan jemari mereka, berusaha menutup celah yang ada.

              Mencium punggung tangan Tiffany dalam, sesekali menghirup aroma perfume yang melekat disana.

              Tiffany yang membuka matanya melihat itu, merasa pipinya memerah dalam  kilat, dia berusaha mengumpatkan senyumnya yang mengembang dan kembali terpejam.

              Untuk ke sekian kalinya dia berpikir, ini sangat sulit untuk berpurapura tidak mengerti dan tidak mendengar apa yang telah Taeyeon lakukan dan katakan untuknya. Bahkan sentuhan kecil Taeyeon yang seperti barusan, mampu membuatnya berada di titik bimbang paling bawah dari hidupnya.

              Ini sangat sulit untuk berpura-pura tidak mendengarmu Taeyeon-ah. Menagabaikan semua sentuhanmu, ini menyakitiku. Aku hanya bisa melihat matamu dan memandanginya. Berharap kau tidak akan tersakiti olehku dan menjatuhkan butiran hangat itu dari sana.


            Taeyeon membuka kedua matanya. Ia melakukan itu terpaksa, karena paparan sinat matahari itu benar-benar membuatnya jengkel. Setelah berhasil, Taeyeon langsung menjatuhkan penglihatannya pada gadis yang ada di bawah. Tersenyum memperhatikan garis wajahnya yang sangat sempurna. Ia terlelap sesekali dengkuran halus keluar dari mulutnya.

              Taeyeon menjatuhkan kecupan pelan di dahinya, lebih lama sebagai ucapan terima kasih atas kehadiran wanita ini di hidupnya yang mengisi ruang kosong di hatinya sebelum dia datang.

              Taeyeon perlahan melepaskan dekapan eratnya pada gadis ini, membebaskan lengannya yang sudah mati rasa karena menjadi bantal gadis di bawahnya sepanjang malam.

              Setelah berhasil meloloskan semua genggamannya, Taeyeon kembali mengarahkan kecupan manis. Tetapi bedanya, kali ini dia lebih memilih menjatuhkannya di kelopak mata wanita ini yang sedang tertutup.

              Tanpa Taeyeon sadari, karena sentuhannya gadis itu telah bangun dari mimpinya. Dia berusaha keras menyembunyikan rasa bahagianya akan kecupan selamat pagi itu. dia lebih memilih berupura-pura untuk terus terlelap ketimbang membuka matanya dan mengancurkan momen pagi ini, yang sangat ia sukai.

               Awalnya, Taeyeon berniat untuk bangkit dari posisinya. Dia berhasil membuat dirinya terduduk di tepi kasur,

              Namun tiba-tiba kedua lengan seseorang dengan sigap menyergap kembali tubuhnya dari belakang. Memeluknya erat. Desiran hangat itu kembali terasa. Seseorang itu meletakan dagunya tepat di bahu Taeyeon.

              Taeyeon terkejut, namun ia buru-buru tersenyum karena merasakan pelukan itu semakin erat menyelimuti tubuh mungilnya,

              “Mau kemana, Tae?”Tanya orang itu dengan suara nyayang masih terdengar samar untuk di dengar,

              Taeyeon tertawa kecil sembari memeluk lengan yang kini sedang melingkar pinggangnya,

              “Aku harus kembali Tiffany, atau Jessica akan memarahiku, lagi.”

              Tiffany menghempaskan napasnya dalam,

              “Dia bahkan sudah melihat mu setiap hari. Apa kalian tidak puas seharian berada di dalam kamar?”

              “dan hanya Tuhanlah yang tau apa yang sedang kalian bicarakan.”

              Taeyeon kembali tertawa, tapi kali ini tawanya penuh goresan bahagia karena mendengar perkataan Tiffany barusan. Entah mengapa, ia merasa gadis di belakangnya ini sedang cemburu.

              “Kau juga melihatku setiap hari, jangan lupakan itu.”

              Itu karena aku doktermu, Taeyeon Kim.”

              “Tepat sekali.”Tiffany menenggelamkan wajahnya ke tengkuk leher Taeyeon yang terekspos di hadapannya.

              Mungkin ini hanya imajinasi Taeyeon, karena ia bisa merasakan bibir Tiffany yang mengecup lehernya lembut.


 

              (Ost- Jessica And Onew/One Year Later)

              “Aku pikir kau mempunyai malam yang indah, Nona Kim.”

              Suara itu langsung menyambar gendang telinga Taeyeon setelah dirinya berhasil masuk ke dalam ruangannya secara diam-diam. Namun nampaknya rencana itu bahkan sudah gagal sebelum dia mengetahuinya.

              Karena Jessica disana. Berdiri di ujung tempat tidurnya sembari menatapnya tajam. Sorotan kecewa dan kesal kini ia lemparkan untuk Taeyeon yang mematung di ambang pintu.

              “Oh? Anyeong Sica-ah.”Balas Taeyeon lalu berjalan menghampirinya.

              “Darimana?”Tanya Jessica dengan nadanya yang menyindir Taeyeon. Ini sudah pukul Sembilan pagi dan ia baru saja kembali ke kamarnya. Membuat seseorang Jessica di buat kaget karena tidak menemukan sosoknya di pagi hari.

              Ada banyak pertanyaan yang berlaridi pikirannya saat ini, tapi yang paling membuatnya penasaran setengah mati. Dimana dan bersama siapa Taeyeon sepanjang malam.

              “Aku bermalam di rumah Sooyoung.”Teayeon bahkan tidak mengerti kenapa dirinya harus berbohong seperti ini. yang ia tau, ia tidak mau Jessica berprasangka yang buruk jika ia mengatakan yang sebenarnya.

              Jessica tertawa renyah, lalu dia terduduk di tempat tidur Taeyeon. Menatap kosong kearahnya yang kini hanya berjarak lima kaki.

              Geojimal”hanya itu yang bisa keluar dari mulut Jessica. Membuat Taeyeon menautkan alisnya,

              “Geojimal”Ulang Jesscia sekali lagi, kali ini dia menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan yang ada. Menyembunyikan butiran hangat yang kini sudah merosot dari pelupuk matanya.

              Taeyeon tidak butuh waktu lama untuk meyadari bahwa Jesscia sudah tau jawabannya. Harusnya ia tau itu. dan seharusnya juga ia tidak berbohong. Karena bagaimanapun. Jessica selalu menemukan jawabannya sendiri.

              “Sica-ah..”Baru saja Taeyeon ingin meraih Jessica yang sedang terisak sekarang,

              “Aku tidak mengerti kenapa kau harus berbohong, Taeyeon-ah..”Ujarnya masih dengan posisinya yang sama.

              “Aku ingin mempercayainya, Taeyeon-ah..”Tambahnya dengan isakannya yang semakin nyaring di telinga Taeyeon.

              Jessica menurunkan kedua tangannya dan memperlihatkan wajah sembabnya sekarang. Menatap Taeyeon dengan nanar, sorot matanya lemah dan sakit.

              Taeyeon memang awalnya tidak mengerti dengan semua perhatian yang Jessica berikan padanya. Sungguh ia tidak tau, namun seiring waktu terus berjalan di sekitarnya, ia mulai mengerti isi hati dari sahabatnya itu selama ini. tapi tidak ada yang bisa ia lakukan tentang itu, karena baginya. Jessica adalah sahabat juga keluarganya yang harus ia lindungi, dan ia tidak akan mampu hidup tanpa Jessica di sisinya jika suatu saat nanti mereka menjalin hubungan dan akan berpisah pada akhirnya.

              Dia juga tidak mungkin sekuat itu, karena tidak membalas perasaan Jessica. Karena yang ia rasakan pada gadis yang ada di depannya, adalah sama. Dia juga sangat mengagumi sosok itu, bahkan ia bisa mengetahui bahwa perasaanya bisa juga di sebut cinta. Ia bahkan merasakan cemburu yang membara melihat Jessica di rayu oleh beberapa pria di hari-hari yang lalu. Rasa sakit melihat Jessica menjadi milik orang lain juga menyergapi relung hatinya yang paling dalam.

              Tapi, walaupun begitu. Perasaannya untuk tetap melindungi Jessica dan memilih untuk tinggal disisinya sebagai seorang sahabat lebih besar. Dan kehadiran Tiffany dapat merubah dunianya dengan tempo waktu yang sangat cepat.

              Ketika dia melihat mata Jessica, dia melihat kesungguhan, cinta, kasih sayang dan perhatian yang sangat besar untuknya.

              Tapi ketika kedua bola matanya menyergap Tiffany. Dia melihat sosok berbeda. Ketulusan, kebahagiaan, kasih sayang juga cinta yang begitu besar.

              Taeyeon kadang merutuki dirinya yang tidak mungkin bisa melihat keduanya dalam waktu yang bersamaan.

              “Apa yang kalian lakukan, semalaman?”

              Kedua mata Taeyeon membulat mendengar pertanyaan Jessica barusan. Hatinya kini membara menerima pertanyaan seperti yang bahkan keluar dari mulut seseorang yang sangat-sangat di sayanginya.

              “APA MAKSUDMU!? KITA TIDAK MELAKUKAN APA-APA!”Taeyeon meninggikan suaranya tibatiba.

              Ia sebenarnya berharap Jessica bisa membalas bentakannya itu dengan melakukan hal yang sama. Namun yang ia dapatkan, gadis itu semakin terisak di buatnya. Kembali menutupi papan wajahnya dengan telapak tangan.

              Perasaan menyesal langsung menyergapnya karena sudah meninggikan suara.

              “Mianhae…”Tambahnya berjalan lalu menghujankan depannya pada gadis itu yang masih terduduk menangis. Membelai rambutnya lembut dengan segala perasaan menyesalnya.

              “Mianhae, Sica-ah…”

              Aku bersikap seperti semuanya baik-baik saja, aku tersenyum seolah tidak ada yang terjadi, aku tertawa untuk sesuatu yang bahkan tidak lucu. Aku juga berpura-pura seolah kau tidak sedang menyakitiku, Taeyeon-ah.

              Jessica ikut menarik tubuh Taeyeon untuk terus mendekat padanya. Memeluk bagian pinggang Taeyeon dan menenggelamkan wajahnya di bagian dada gadis itu.

              Indra penciumannya bahkan bisa menangkap bau perfume seseorang dan bukan milik Taeyeon. Untuk ke sekian kalinya, ia berusaha mengabaikan itu walaupun pada akhirnya air mata tidak bisa  berhenti jatuh membasahi kedua pipinya.

              “Kau tau Taeyeon-ah. Aku merasakan cemburu yang sangat aku tidak suka ketika melihatmu bersama dokter itu. Tiffany. Caramu melihatnya, aku tidak suka itu. saat kau tertawa karena leluconnya, aku tidak ingin mendengarnya. Kau bahkan rela melakukan hal-hal yang biasanya tidak kau lakukan hanya untuk dia. Bahkan jika itu harus mengorbankan  waktu dan tenagamu. Melihatmu memberikan segalanya, membuat hatiku terasa sakit lebih lagi.”

              “Aku belum pernah mendapatkan semua itu darimu Taeyeon-ah. Walaupun ini sudah ke sekian tahun dari persahabatan kita. Juga, untukku yang sudah jatuh terlalu dalam untukmu.”

              Taeyeon merasakan Jesscia yang mengeratkan pelukannya, membuat dirinya tidak bisa melakukan apa-apa selain terus menepuk punggungnya pelan. Mendengarkan semua perkataan Jessica membuat lubang luka baru yang timbul di hatinya sekarang.

              “Ini salahku karena tidak bisa membuatmu jatuh untukku juga, “

              “Walaupun aku tau aku tidak akan pernah bisa memilikimu, tapi perasaan ini hanya terus tumbuh, Taeyeon-ah.”

              “Menunggu, mencintai dan menyesali diriku sendiri. itulah salahku.”

              “Itu semua salahku

              “Walaupun itu semua salahku, selama aku masih ada di dalam hatimu, walaupun untuk ruang yang kecil. Aku tidak masalah, Taeyeon-ah.”

              Saranghae…”

              Taeyeon mungkin tidak menyadari, karena air matanya sudah mengalir begitu deras mendengar setiap curahan Jessica yang kini di tujukan untuknya.

              Jessicalah yang berinisiatif untuk melepaskan dekapan mereka, dia lalu berdiri di depan Taeyeon yang menatap penuh dengan rasa menyesal.

              Jesscia tersenyum lalu menghapus air mata gadis di depannya dengan ibu jari, dia menankup wajah Taeyeon lalu mencoba mencari jawaban lewat sorotan matanya. Dia tidak menemukan sesuatu yang lebih besar daripada penyesalan disana.

              “Sekarang, aku akan melepaskanmu Taeyeon-ah.”

              “Menyerah untukmu, bukan berarti aku berhenti untuk perasaanku.”

              “Tapi melepaskanmu terasa lebih mudah daripada bertahan untuk terus mencintaimu seperti ini.”

              “Untuk tidak membuatmu jatuh cinta padaku sedalam yang aku rasakan, aku minta maaf. “

              Jessica memberanikan dirinya untuk melawan semua rasa takut yang menggandrunginya untuk tidak mengecup bibir lembut milik Taeyeon itu, karena kini dirinya berhasil mendaratkan satu disana. Ia menahannya agar lebih dalam dan lama. Taeyeon awalnya terkejut, tapi ia memilih untuk ikut memejamkan matanya.

              Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menenangkan gadis yang ada di depannya. Karena ia tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.

              Kedua tangan Jessica mendorong tengkuk leher dan kepala Taeyeon untuk terus mendekat. Sedangkan Taeyeon hanya terus mematung sembari terus memejamkan matanya,

              Air matanya jatuh sekali lagi, dan Jesscia bisa merasakan itu. hangat. Lalu dia menarik dirinya untuk melepaskan kecupan itu. dia tersenyum menatap Taeyeon yang masih mengeluarkan air matanya.

              “Maafkan aku karena seperti ini,”

              “Maafkan seseorang yang sangat mencintaimu, Taeyeon-ah.”

              Kau salah, Sica-ah. Bukan hanya dia yang berhasil merebut hatiku. Tapi, kau lebih dulu membuatku gila akan cintamu. Menemukan diriku yang tersenyum ketika kau menatapku hangat, membuat hatiku ingin melompat dari tempatnya. Semua perhatian dan kasih sayang yang kau suguhkan, bahkan membuatku jatuh lebih dalam.

               Gomawo Sica-ah.. manheun manheun saranghae…


J

-JAZZMINE39-

OH YAA ADA TAENY SWEET MOMENTS NYA YANG BIKIN DIABETESS!!!

https://www.youtube.com/watch?v=LXjJZayeHMo

 

 

Advertisements

91 thoughts on “MISTAKES (CHAPTER TWO) BY JAZZ

  1. akhirnya jessica dapat mengikhlaskan tae juga.. tapi gmn dengan hub taeny selanjutnya yah?? fanny memberikan tae harapan yang akan membuatnya nanti menjadi sakit lebih dalam lagi, apalagi pada saat dia tahu kalau org thailand itu pacar fanny… bisa2 penyakit tae bisa kumat lagi nih..

    Like

  2. Aahhhh sosweet sekali taennya ;3 seneng taeyon udah ga sakit lagi grgr tiffany ama nickhun. Tapi lebih kasian jessica nya. Sedih sekali. Sakit banget pasti. Wkwk pokonya semangat terus ya thor, semua ending nya bahagia buat semuanya 🙂

    Like

  3. Yeaaa.. update!!
    Haey saengie.. bolehkan unnie reader baru mu in menyapamu spt itu ^^
    Slm kenal.. mian baru komen di chap ini.. krn emng bru nemu wp mu.. dan mian jg komennya di chap two hehhehe..
    terus menulis ya.. cerita.. alurnya dan pendeskripsian keseluruhanny bagus utk penulis seusiamu.. aplgi maincast nya taeny.. hahahaha (always)
    Ditunggu chap slnjutnya.. HwaiTaeeeng!!

    Like

  4. taeng jangan lepasin sica dong, lebih baik memilih di cintai daripada mencintai
    pany ko gitu sih ke taeng kaya ngasih harapan aja padahal pany milih nikun untuk masadepanya

    Like

  5. Wihh bagus bangt crtnya thorrr 😢😢😢 ampe netes air mata. Huhuhu taetaeny gmna tuh ama tiffany? Bakal happy ending gk nih thor? Penasaran banget 😦 menurut aku ffny udh bagus kok thor, bahasany jg udh bagus. Mungkin kalo mau dtingkatin supaya lebih melow lg bhasany mungkin bsa lebih romantis dan dramatis sdkit (jgn ampe lebay ya thor hahahaha peace thor ✌) tp keseluruhanny udh bagus kok thor! Ditunggu kelanjutan chapter mistakeny ya thor 😉 btw salam kenal aku new reader di dsni 😊

    Like

  6. Kesian taetae guenya udah sakit eh tambah sakit aja liat pasangan hantu ahaha. Thor ff falling kapan dilanjut nih ? Gue nunggu pake banget itu ff

    Like

  7. Thor, ini mata dah mau lepas ini thor. Duh ngantuk gilaaaa. Tapi anehnya waktu baca taeny lagi mesra-mesraan tuh rasanya ngantuk ilanggg. Ah thor, jadi si pany milih siapa nih?:( jangan bikin kakak kepo dong dee *najis *abaikan. No more tears for tae please! Kasian dia udah sakit parah gituuuu:( please ya thor pleaseee. Dan akhirnya sica-pun menyerah bung akan perjuanganya terhadap tae. DAN YA! Pany-pun dibuat bingung oleh pilihan antara tae atau dukun mesum itu bung. Ahhh chapter ketiga sudah dipost tapi baterai lemah, selemah raga tae tanpa pany. Dan mata-pun sudah mulai jengah tidak dikasih waktu istirahat yang cukuppp. AAAHHH sayang sekali bung saya harus mengakhiri komen gak jelas iniiii. GOOALLL!! chapter tiga bakal saya baca besok!!!! *okeyanginigaknyambung. Gomawo jazz-ah for your storyyyyy. Jeongmal gomawo. Keep writing, jazzatta!! Byebye author jazz.

    Like

  8. Aku ngebut baca nya thor….
    Pdhal ini udah larut mlm yaak..
    Tp aku paksain bca krn rasa penasaran ku.
    Sweet moment taeny…
    Tae bsa aja buat ppany senang dgn kta” nya.
    Aku bingung…
    Dsnie kisah cinta nya itu spt segi 4 atau jajar genjang.
    #apaan yaaak.
    Hahah..
    Sica mencintai taeyeon, taeyeon mencintai ppany, dan ppany pnya pacar nickon tp dy jg pnya prasaan sma taeyeon.
    Ppany yg cmbru krn tae mnghbiskan wkt brsma sica,
    Pdhal dy jg kn sma kek sica…
    Dan tdi itu tae blg dy jg gila krn cintanya sica.

    Like

  9. Ppany ma Taeng labil yah….
    Akhirnya Sica ngikhlasin Taeng, kalo udah gitu mungkin gak kalo Sica berpaling sama orang laen??
    Siipp thor

    Like

  10. Astaga 😐😐😐😐 bs ia hanya dgn kata kata narik ulur perasaan reader huff😧😧 ngefell bwgddddd thor😢😢😢
    Jgn slh kan tae yg ngebuat perasaan itu muncul pany.. harapan mu lah pany memberikan pengaruh besar atas sikap tae.. jgn memberikan sesuatu jika qm tak tau itu apa?! N akhirnya banyak sekali yg tersakiti^^
    Saat jessi memepertahan kan egonya untuk cinta nyA kpd tae yg di dapet hanya kata kata maaf.. 😢😢😢

    Like

  11. sakit hati jadi jessica
    ;(
    taeyeon mending sama jessica
    taengsic taengsic shipper ada disini
    lanjut thor jazz tapi janganlah jessica tersakiti lagi
    ya thor yaaaaaaaa

    Like

  12. Jessica mencintai taeyeon, taeyeon mencintai tiffany, tapi tiffany bingung dengan perasaannya sendiri. Cinta emang bikin hidup lebih rumit ya kalau tidak bisa menerima dengan lapang dada…
    Malah ikut sakit hati ya lihat mereka kaya gini hahahaha, author di sini emang bisa bikin perasaan readernya jadi ikut terombang ambing hihihihi

    Like

  13. Pany taeng sami wae lah ,sama sama plinplan sama perasaanya..
    Kasian sama sica aja deh kalau gitu ,udh bener bener tulus & sayangnya cuma sama 1 org dan org itu plinplan dalam memilih…

    Like

  14. Udah deh fany pilih aja taeyeon ya. Apalagi yg kurang dari seorang taeyeon kim tampang? goddess, duit? beserak, harta? Gak bakalan habis. Hehhe udah lupain aja pria thailand itu.
    Salut gw lihat jessica yg mampu merelakan taeyeon.

    Like

  15. Aduuhhhh,,bingung gini ane jadinya…
    Sbenarnya taeyeon suka ma siapa sih…
    Fany juga,,klw emng da onya nickhun gak usah php gtu kali..

    Like

  16. Kasian sica…akhirnya dia ngelepas tae..😢😢
    Buat fany yg tegas donk tentuin perasaannya buat siapa.jgn buat tae makin jatuh karna perhatian mu fany ah.klo akhirnya kamu milih nikhun…taeny so sweet…😉😉😉😙😙😙

    Like

  17. heum bikin nyesek ja ni Mine,waah taeny tiada hubungan yg serius dibalik tatapan mereka bikin sy yg berdebar,jessica heum dia hnya sahabatn ja kan dgn y kasian jg gadis yg periang yg slalu jg da tuk taeyeon ini

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s