CONFUSED (CHAPTER 1/3) BY ATTALOCKSMITH

 

TITLE : CONFUSED

AUTHOR : JAZZMINE39

SITE : PRESENTED BY ATTALOCKSMITH

STORYLINE ORIGINALLY FROM JAZZMINE39 (THIS IS REMAKE FROM 1st VERSION)

DATE PUBLISHED : —

GENRE : Drama, Romance, Yuri.

SEBELUMNYA *PENTINGGGG*

jadi, sebenernya ff ini hanya saya remake dari ff saya jaman baholaaaaaaaaaaa. cuma di benerin dikit dikit aja bahasanya. tapi karna ini emang belum pernah selesai, saya mutusin untuk mengubah karakter juga plot cerita kelanjutannya. ff ini sebelumnya pairing nya straight, saya ubah menjadi yuri. semoga feel nya masih dapet ya.

baru awal-awal kenal dunia nulis, jadi tolong syukuri apa yang ada di dalamnya ya, hehehe.

pernah saya post di suatu tempat nan jauh di mata. 


Mungkin bisa menginjakkan kaki di sekolah nan megah dan mewah itu sudah merupakan keberuntungan. Tidak terbayangkan seperti apa jika kita bersekolah disana juga. Pastinya itu akan menjadi hal yang harus di catat di rekor ajaib dalam kehidupan.

Futura Korea.

Masuk dalam peringkat ke 2 di dunia sebagai sekolah termahal yang pernah ada. Mereka memiliki tanah berpuluh-puluh hektar untuk menjadi lembaran gedung-gedungyang berdiri kokoh di atasnya. Fasilitas yang mewah dan lengkap, di lengkapi dengan guru-guru professional dari berbagai Negara. Menjadikan sekolah ini sangat di sanjung oleh semua orang.

Sangat tidak mudah bahkan kemungkinannya hampir mencapai 0% untuk seseorang yang bukan berasal dari keluarga kaya raya untuk bisa menambahkan nama mereka di daftar nama sekolah ini.

**

“Tiffany, kau akan menjadi kakak terbodoh jika kau tidak mengambil kesempatan ini!”

Gadis berambut panjang terurai yang sedikit rewel itu terus menceramahi kakaknya tanpa henti,

“Heh! Kau tau tidak, walaupun aku menghabiskan hidupku untuk berjualan roti, uangku tidak akan cukup!”

“Beasiswa itu hanya berlaku untuk satu tahun, tahun selanjutnya akan ku bayar pakai apa!? Daun!?”Tambahnya agak keras, adiknya memijit keningnya perlahan yang tiba-tiba saja terasa berdenyut.

“Kita akan usahakan bersama! Kau harus bersekolah di tenpat yang bagus agar hidup kita lebih baik!”Jawab sang adik dengan tatapan nanarnya,

Tiffany tertegun mendengar perkataan adiknya barusan, adiknya benar. Jika mereka mau hidup yang lebih baik, setidaknya mereka harus berusaha.

Adiknya tiba-tiba saja berhamburan ke pelukan Tiffany, tangisan kecil mereka bertanda bahwa mereka telah sepakat untuk menyetujui beasiswa itu. Beasiswa yang Tiffany dapat karna menjadi gadis yang sangat cerdas.

“Kita akan memikirkan cara lain, okay?”

bYTBidEF

(Hani Hwang)

**

Tiffany dan adiknya,  Hani telah melewati banyak cobaan dalam hidup mereka yang mungkin orang biasa yang tidak tangguh akan menyerah di tengah jalan. Dari kehilangan kedua orang tua karna kecelakaan, dan tidak punya sanak saudara, sampai harus hidup hanya sendiri mencari, dan menggali pundi-pundi uang untuk hidup.

Tapi mereka adalah kakak-beradik yang cukup beruntung karena memiliki satu sama lain. Tiffany bisa menjadi sosok kakak yang bertanggung jawab, sabar, penyayang dan perkerja keras dan  Hani bisa menjadi adik yang selalu mendukung kakaknya dalam susah maupun senang.

Hani tidak pernah menuntut apapun dari kakaknya kecuali rasa peduli dan sayang Tiffany.

Mereka meneruskan bisnis keluarga yang sempat terhenti ketika orang tua mereka pergi. Adalah toko roti yang berdiri tepat di seberang rumah mereka. Di bangun oleh ayah mereka dan menjadi tempat harapan mereka untuk membekali hidup.

Untung saja, Tiffany pernah di ajari untuk mengurus toko dan membuat berbagai macam roti yang lezat. Walaupun dengan bantuan beberap pegawai.

Karena tempatnya yang menarik juga roti-roti dan kuenya yang dapat memanjakan lidah, semua dagangan mereka setiap harinya habis terjual. Namun memang, ketika kembali ke permasalah untuk sekolah di Futura. Itu memang belum cukup dikarenakan biayanya yang selangit.

**

Tiffany tercengang melihat digit di akun banknya yang menurun drastis karna pembelian seragam sekolahnya. Bagaimana tidak, harganya saja bahkan melampaui pendapatan dia selama sebulan di toko. Ia tidak habis pikir.

2015-Customized-font-b-School-b-font-Sailor-Suit-Japanese-font-b-Korean-b-font-font

“Wah..bahkan aku tidak sanggup melihat label harganya”

Dia bergedik geli dan tertawa setelah mengatakan itu dan melanjutkan langkahnya kegirangan. Ia tidak mengerti bahwa kini hatinya merasa sangat senang  walaupun jumlah digit yang tertera itu nominalnya sangat sedikit.

Mungkin karena sebentar lagi ia akan merasakan udara segar dengan menghirup suasana sekolah barunya.

de67014f1f04e5b9e70ac8f6f68df8c3

**

Tiffany  

 

Lihatlah! Lihatlah! Omo! Bahkan mereka mempunyai gerbang yang sangat besar dan tinggi.Aku tidak yakin bahwa ini sekolahku, ini lebih mirip istana pangeran yang ada di dongeng-dongeng.

Woah..

Jjinja! Bahkan mereka mempunyai lapangan golf yang menghampar lebar seluas mata memandang. Aigoo. Jika penglihatanku tidak rusak, apa kah pacuan kuda itu benar-benar ada di sana?

Aku menyipitkan mataku untuk memperjelas pemandangan itu, untuk detik kesekiannya, mataku membulat. Ternyata benar. itu adalah pacuan kuda. Bagaimana sebuah sekolah bahkan mempunyai fasilitas seperti itu?

Aku kembali mengedarkan pandanganku ke setiap sudut yang bisa bola mataku jamah. Aku menarik sudut bibirku melihat kegiatan mereka yang kini berbeda-beda. Ada yang sedang berlarian tergesa, bermain di taman rumput yang hijau sembari membaca buku.

Atau sekelompok Gadis yang masing-masing dari mereka mempunyai wajah yang berkelas sedang bergurau dan sesekali tertawa.

Atau bahkan guru dengan paras mereka yang berwibawa dengan langkah mereka yang gagah.

Penjaga sekolah yang terlihat sedang memotong rumput, membersihkan kolam, sampai beberapa siswa laki-laki yang sedang asyik dengan bola mereka yang sedang di mainkan dengan lihai oleh kaki mereka.

Mereka yang melangkah memasuki gerbang ini berpakaian seragam denganku. Samar-samar aku mendengar kicauan kecil mereka,

“Sahamku turun 28%, ini buruk.”

“Berarti kau rugi 7 Miliar?”

“Iya. Ayahku pasti akan membunuhku.”

Aku tidak begitu yakin dengan apa yang telah ku dengar, tapi dari setiap mimic wajah mereka tidak menunjukan bahwa itu hanya bualan belaka. Jjinja…

Mereka mempunyai paras yang sempurna, bahkan aku tau tas yang di punggungnya itu keluaran terbaru dari merk ternama. Dan jam tangan yang mengelilingi pergelangan tangan Gadis itu adalah jam tangan dari designer dunia yang harganya mungkin saja aku bisa membeli sebuah rumah.

Ah~ mollayo!

Aku sedikit bergetar.

Oh tidak! Sekarang mereka memperhatikanku, mungkin mereka menyadari bahwa ada santapan baru yang berjalan di sekitar mereka. Mati aku.. Tuhan lindungi aku dari wajah-wajah yang mulai mengukirkan senyum licik itu..

Aku melihat wajah mereka yang menatapku sinis. Aku sedikit terkejut karena mendapatkan terjangan senyuman yang ramah dari beberapa siswa dan siswi disini. Kelihatan sekali papan muka mereka yang menyambutku hangat.

Tetapi,Kebanyakan pasang mata itu menamparku dengan tatapan jahat seperti di film-film.

Omo.

Ini pertanda buruk.

**

Aku mengayunkan kakiku agak cepat karna tidak nyaman dengan omongan-omongan mereka yang tidak sengaja menusuk gendang telingaku, memang nya mereka siapa. Aku tau lah, orang tua mereka punya uang yang jumlahnya selangit, tapi aku juga sekolah disini.Mereka harusnya menghargai murid baru. Lagipula,walaupun aku beasiswa setidaknya karna kerja kerasku, bukan hasil rengekan untuk di masukan sebagai daftar siswa disini.

Author

 

Nafas Tiffany terengah, ia benar-benar lelah untuk mengambil langkah lagi, sekarang ia benar-benar telat dan tidak tau dimana letak kelasnya. Sekolah ini memang terlalu luas. Sudah kesana-kesinitapi iatak kunjung sampai, ingin dia bertanya namun perasaan malu menyergarpinya lebih dulu.

Ia mengedarkan pandangannya kemana-mana, dan kakinya terus berlari cepat, keringat di wajah cantiknya itu bahkan mulai meluncur sempurna.

“BRUK!”

Tiffany menabrak seorang Gadis dan tersungkur setelahnya, ia kini merasakan sedikit sakit di bagian lututnya, ia mendongak, berusaha melihat siapa yang ia tabrak,

Karna sinar matahari yang jatuh tepat di papan mukanya, ia tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, lama kelaman sinar itu terhalang oleh orang itu dan kini penglihatannya semakin jelas saja

Ia melihat seseorang yang mempunyai paras yang sangat Cantik dan dingin.Ia kini berdecak, mengagumi pahatan Tuhan yang sangat sempurna berada di depannya.

Ia bahkan seketika lupa, bahwa ia baru saja menubruk seseorang dan malah terpaku diam menikmati setiap detiknya ia melihat wajah itu yang sangat mempesona.

Detik kemudian ia mulai sadar dan bangkit, dengan wajah yang bingung dan gugup Tiffany berusaha meminta maaf dan membuka mulutnya, namun entah mengapa lidahnya kini menjadi kelu.

Ia menemukan dirinya yang bungkam dengan tatapan yang sangat konyol.

Gadis dengan kacamata yang bertengger di hidungnya itu kini balik berdecak,

‘Ck!’

“Aku yakin kedua bola matamu itu masih berfungsi!”

Mendengar itu, Tiffany kini mengerutkan keningnya.Bibirnya mengerucut, memang benar, Tuhan adil, setidaknya kecantikan itu                    hanya selimut halus dari perlakuaan Gadis itu.Dia bahkan bisa menilik bagaimana sifat Gadis yang berdiri di depannya hanya dengan sebuah perkataan yang keluar dari mulutnya.

“Maaf.”Ujarnya pelan sembari menunduk,

“Minggir!”Tiffany kembali tersungkur karna Gadis tadi mendorong tubuhnya cepat, rasa sakit yang tadi berubah menjadi denyutan yang sangat menganggu di lututnya.

“Sombong sekali dia!”

Tiffany sesekali meracau dan terus berjalan dengan satu kakinya yang di geret.

Tetapi tetap saja, rekaman di kepalanya terus mengulang kejadian tadi. Dia menemukan gadis itu sangat-sangat berkarisma. Rambutnya hitam panjang menjuntai di punggungnya. Walaupun dia mempunyai tubuh yang kecil, Tiffany justru semakin menyukai itu. Tatapan tajamnya, suaranya yang berat, dalam juga lembut di waktu bersamaan. Kulit putih porselennya, garis tegas rahangnya. Itu semua sudah merupakan deskripsi dari lingkup sempurna yang pernah ia temui dalam kesempurnaan sampul fisik seseorang.

**

EHWC Empire Grand Room - classroom 5

ketika Tiffany sudah menapakkan kakinya di kelas yang sangat- sangat susah untuk di temukan, semua mata malah tertuju padanya karena datang terlambat termasuk guru yang sedang mengajarnya,

“Bahkan di hari pertamamu, kau sudah melanggar peraturan.”

Tiffany menunduk sembari mengayunkan kakinya masuk, ia benar-benar malu akan situasi ini. keringat yang bercucuran deras itu bahkan masih menghiasi jalan mulus kedua pipinya.

“Saya tidak akan memberikanmu hukuman mengingat ini adalah hari pertamamu. Sekarang perkenalkan dirimu.”

Tiffany mendongak dengan ragu menatap nanar gurunya itu berharap semua akan baik-baik saja. Berharap, ketika ia berbicara nanti, sebuah keajaiban datang dan dia akan membuka mulut dengan perkenalan yang mulus dan lancer. Dia menelan ludahnya sekali sebelum akhirnya mulai memperkenalkan dirinya,

Ia benar-benar tidak bisa mengatasi situasi ini.

Semua mata kini tertuju padanya dan tampak jelas mereka bertanya-tanya, siapa sebenarnya gadis yang kini berdiri tepat di depan kelas mereka.

Annyeonghaseyo Tiffany-imnida. Kalian boleh memanggilku Tiffany. Aku di transfer ke sekolah ini minggu lalu. bangapseummnida

Suasana hening seketika, lalu seseorang mengangkat satu tangan kananya, menandakan bahwa ada yang ingin ia ketahui dari sosok Tiffany yang kini sedang bergetar di depan,

“Apa pekerjaan orang tuamu?”

Tiffany mengangkat satu alisnya,

“Apa itu penting?”

“Katakan saja!”Yang lainnya dengan cepat menyambar jawaban Tiffany,

Tiffany menghela nafas pelan dan memutar bolamatanya, ia tidak habis pikir. Apa yang sebenarnya anak-anak ini ingin ketahui dari dirinya yang begitu sederhana?

“Kau tidak perlu menjawabnya, Tiffany.”

Tiffany membuang nafas nya lega, akhirnya ada orang normal yang mengerti situasi seperti sekarang.Dia bahkan berpikir semua orang di sekolah ini tidak beres.

Maksudnya, apa itu bahkan sopan untuk menanyakan hal seperti itu? bahkan yang lebih buruk. Dia bahkan tidak mempunyai jawaban untuk pertanyaan bodoh itu.

“Kau boleh duduk di samping Jessica.”

Tepat setelah perintah dari gurunya itu, seorang siswi mengangkat tangannya.Tiffany menatapnya kini, wajah yang ramah dan periang sudah terlukis jelas di papan mukanya.

Dengan tidak sadar, Tiffany kini tersenyum tipis melihatnya. Dan melangkah ke tempat ia duduk.

“Hai! Aku Jessica.”

**

Mereka berdua tampak sedang bergurau bersama. Baru beberapa jam saja mereka bertemu dan berkenalan, tapi mereka sudah seperti sahabat sejak lama. Mereka saling bertukar cerita, dan sudah saling mengerti satu sama lain. Sosok Jessica yang baik, sabar dan menyenangkan, membuat Tiffany merasa nyaman untuk terus dekat dengan teman barunya itu.

Jessica adalah putri tunggal dari seorang keluarga yang kaya raya.Namun kekayaan yang di miliki orang tua nya itu benar-benar tidak berarti baginya.Ia belum merasakan sesuatu yang begitu spesial dari kertas-kertas itu.

Ia bahkan juga tidak mempunyai teman di sekolah ini, karna banyak yang melihatnya hanya sebagai seorang gadis penyendiri dan aneh.

jessica_png_by_yoonhaeseokyu17_by_yoonhaeseokyu17-d76jieq

Mungkin kehadiran Tiffany akan merubah semuanya.

Sementara, di lain sisi di antara mereka, ada seorang Gadis dengan wajah dinginnya sedang mendengarkan musik melalui headset dan tidak mendengarkan gurunya yang sedang berkicau di depan kelas. Ia tidak memikirkan apa-apa. Dan ia juga,

Tidak merasakan segala perasaan dan emosi yang ada.

**

pelajaran Biologi kini sudah tiba dan semua murid di kelas ini tentunya harus pergi ke lab. Awalnya semua berjalan baik-baik saja walaupun hanya Jessica yang Tiffany ajak bicara dan begitu juga sebaliknya Jessica.

Namun ketika kegiatan di lab berakhir dan mereka harus segera kembali ke kelas, di tengah perjalanan, Tiffany baru ingat bahwa ia meninggalkan sapu tangan pemberian ibunya di ruangan itu, ia segera kembali dan menyuruh Jessica untuk ke kelas lebih dulu. Jessica mengiyakannya,

Saat ia hendak melangkah masuk, ia benar-benar terkejut mendengar erangan kesakitan dari seorang Gadis yang membelakanginya, ia berlutut dan terus merintih, memegangi dada dan juga kepalanya. Tiffany benar-benar tidak tau harus berbuat apa, ia melangkah mendekat, ia kini berdiri persis di depannya,

Di lihatnya Gadis itu yang di tabraknya pagi tadi, kini wajahnya yang sangat cantik dan dingin itu memerah, merasakan semua sakit yang kini menyerangnya, ia benar-benar tidak bisa melihat ini.

“Argh!”

Tiffany ikut berlutut di depannya, bahkan matanya kini memanas melihat Gadis itu,

“Apa yang harus aku lakukan?”

Gadis itu mendongak menatapnya, ada tatapan tidak senang juga terkejut di sana. “Pergi.”

“Aku harus membantumu.”Gadis itu kini berpaling, dan menaruh penglihatannya ke sesuatu di atas meja itu, Tiffany mengikuti kemana arah kedua matanya tertuju, ia melihat botol kapsul berwarna putih, tanpa berpikir lagi. dia segara mengambilnya dan membantu memberikannya pada Gadis itu, Tiffany menyuapi satu kapsul itu, Gadis itu sempat menatapnya heran, namun goresan sakit juga terlihat disana. Dia  pasrah dan menyambut bantuan Tiffany.

Namun ia masih menahan sakit, wajahnya semakin memerah dan erangannya semakin jelas terdengar, Tiffany kini benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ruang dadanya seketika menyempit melihat keadaan Gadis ini.

Grap.

 

Detik kemudian, Gadis itu sudah berada dalam dekapan Tiffany. Awalnya ia terkejut, namun akhirnya dia menopangkan semuanya ke dalam dekapan Tiffany.

“Kau harus tenang,”

Seperkian detik berlalu, Gadis itu kini mulai tenang dan membiarkan Tiffany menepuk-nepuk pelan punggungnya.Hal kecil itu sukses membuatnya melupakan sedikit sakitnya dan terus tenggelam dalam dekapan Tiffany.

Segera ketika Gadis itu mulai bisa menguasai tubuhnya, ia berdiri perlahan dan melepaskan dekapannya Tiffany, Tiffany ikut bangkit dan menatapnya nanar, untuk beberapa saat kedua bola mata mereka bertemu.

“Apa kau tidak apa-apa?”Tiffany berniat menyentuh lengannya,

Gadis itu langsung menepis tangannya dan mendorong tubuhnya jatuh membentur kayu yang ada di sebelahnya, kini giliran Tiffany yang terluka, ia seketika merasakan sakit yang hebat di pergelangan tangannya yang terbentur itu, ia merintih kesakitan,

“Aw!”

Dengan muka yang tidak berekspresi itu, dia berkata dengan jelasnya,

“Kau bukan siapa-siapa.”

Gadis itu berbalik dan melangkah keluar. Ia sempat terdiam sebentar dan kembali melihat Tiffany, namun ia langsung berpaling dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Tiffany sendirian di ruangan itu.

Air mata Tiffany kini jatuh di kedua pipinya.

**

Gadis itu dari tadi berusaha memejamkan matanya untuk tidur. Namun itu sia sia. Yang di dapatkannya hanyalah bayangan Gadis yang menolongnya siang tadi. Ia benar-benar tidak tahu kenapa ia malah memikirkannya.

Bahkan setelah apa yang ia berikan untuk membalas bantuannya, malah membuat sosok itu sangat mengganggu dan terus tergambar semakin jelas di rekaman otaknya,

**

“Hmm”

“Rasanya aku tidak melihat luka di lenganmu kemarin,”

Tiffany tertawa pelan, lalu menghela nafasnya dalam,

“Aku baru saja mendapatkannya.”Jawabnya ringan, sementara Jessica hanya heran dengan luka itu dan bertanya apa yang terjadi, Tiffany kembali menarik nafasnya dan mengingat kejadian kemarin,

“Tidak ada yang terjadi. Aku hanya terjatuh.”

Mendengar jawaban Tiffany, Jessica menurut saja,

“Oh ya? Bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita ke toko rotimu? Aku ingin sekali mencobanya.”Tiffany hanya menjawabnya dengan anggukan dan tersenyum hangat kepada teman barunya itu.

Dan saat itu juga di menyadari sesuatu.Ia sudah menemukan sesosok figure teman yang bisa menerimanya dalam kondisi apapun.

**

“Jessica, siapa nama Gadis itu?”Tiffany menunjuk seseorang di depan sana, Jessica mengikuti arah yang temannya tuju itu,

“Mwo? Kau tidak tau dia?”

Tiffany menggeleng dan tertawa pelan,

“Jjinja.. Tiffany.. Dia Kim Taeyeon. Putri pertama dari seorang pemegang saham terbesar di sekolah ini. Yang ku dengar, Ayahnya adalah pemilik Ltc.co”

Tiffany terbelalak mendengar jawaban Jessica, dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa ia telah menolong anak yang super kaya itu.

“Maksudmu perusahaan minyak terbesar di Asia LTC itu!?”

Jessica mengangguk,

“Dia itu pendiam dan sombong. Tidak punya perasaan.”Tambah Jessica yang hanya di jawab senyuman tipis oleh Tiffany. Ia sudah tahu itu dari pertama kali ia berhadapan dengannya. Benar-benar dingin dan tidak berperasaan.

“Dan dia juga punya…..”Belum selesai perkataan Jessica selanjutnya, Tiffany langsung memotongnya

“Sudah-sudah. Aku tidak ingin mengetahuinya lebih lanjut.”

“Oh ya! Aku meninggalkan buku ku di kelas! Sebentar ya, Jessica!”

**

Sekelompok anak muda kini tengah membuat lingkaran mengelilingi seorang gadis yang telah terjatuh dan menangis. Sesekali dari mereka terus melayangkan, telur, terigu, air kotor dan bahkan tas mereka. Sembari mengatakan kata-kata yang kasar.

“Jadi kau tidak mau memberitau kami apa yang orang tua mu kerjakan kan?”

“KARENA MEREKA SUDAH TIDAK ADA KAN!!?”

“KAU BAHKAN HANYA BEWASISWA DISINI!”

“KAU TIDAK SEBANDING DENGAN KAMI!”

“ENYAHLAH!”

Hati Gadis itu terus tersayat dengan tipis dan semakin tipis mendengar semua omongan  mereka. Ia tidak bisa membendung air matanya lagi. Semuanya jatuh begitu saja. Tubuhnya kini benar-benar kotor, bau telur yang sangat menyengat juga menyelimutinya.

“TUKANG ROTI TIDAK PANTAS DISINI!”

Salah satu dari mereka langsung menggamit gelas yang ada di meja guru dan melayangkannya juga ke kepala Gadis itu. Sehingga darah yang ada di kepalanya merembes jatuh. Ia benar-benar tidak bisa mengatasi ini.

Saat kedua kelopak matanya akan tertutup dan semakin tertutup… seorang Gadis datang dan mendekap tubuhnya erat, menjadi tameng untuknya. Punggung Gadis itu kini yang menerima semua barang-barang yang sebelumnya di lemparkan pada gadis itu.

Walaupun dalam keadaan yang sangat lemah, Gadis itu masih bisa melihat walaupun samar-samar, ia mengenali wajah itu sebelumnya. Ia sangat hafal setiap lekukan yang gadis itu punya.

Wajah itu kini tampak sangat berbeda. Parasnya yang sebelumnya dingin, kini melemparkan tersenyum hangat tepat di depan wajahnya. Kedua bola mata yang sebelumnya dalam dan gelap itu, berubah menjadi tatapan teduh yang sangat nyaman.

Lalu semuanya menjadi gelap.

**

Tiffany  

 

Aku merasakan sakit yang begitu menyiksa di kepalaku. Aku tau bahwa aku kini sedang berbaring. Jadi aku memutuskan untuk membuka kedua mataku, ini terasa sulit. Detik kemudian, aku menyadari. Bahwa aku kini sedang berada di ruang perawatan di sekolah ini.

Aku melihat Jessica yang tertidur dengan kepalanya yang di letakan ke rongga tenpat tidur yang masih tersisa. Aku tersenyum melihat wajahnya yang sedang terlelap. Menggemaskan.

Tapi kemudian aku teringat sesuatu,

Gadis itu. Orang yang sangat menyebalkan itu. Orang yang tidak tau berterima kasih dan payah. Telah menolongku tadi. Dia bahkan mendekapku, sama seperti yang aku lakukan kemarin, kan?

Melihat wajahnya yang Cantik dari dekat saja sudah hampir membuatku mati berdiri, dia benar benar Cantik, tapi sayang sekali dia bukanlah seseorang Gadis yang baik. Tapi, benarkah itu orang yang sama? Apa itu dia?

Aku harus mencari tahu.

**

Dengan keadaan yang seperti ini, aku bergegas untuk menghampiri Taeyeon dengan desiran hebat juga penasaran yang kini menyergap suasana hatiku. Segera setelah aku mengetahui dimana dia sekarang, aku berlari kecil berharap menemukan sosoknya. Aku mengedarkan pandanganku dengan hati-hati.

Akhrinya dia muncul. Itu dia. Tanpa ragu aku melangkah kearahnya, mungkin bunyi decitan lantai berhasil menyadarkannya bahwa ada seseorang yang akan mendekat, yaitu aku. Dia menatapku dengan datar. Pasti dia sedang bertanya-tanya apa yang akan aku lakukan.

“Ehmm.”Ujar ku pelan,

Sialan. Kenapa aku jadi gugup begini?

Dia menaikkan satu alisnya. “Katakan.”

Ah! Sial! Kenapa perasaan aneh sekaligus menyebalkan ini terus muncul ketika aku berhadapan dengannya. Aku bahkan merasakan tenggorokan ku yang kering juga jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya, rasanya jantungku akan meledak sekarang.

“Benarkah kau yang menolongku?”

“Kau kan?”

Dia malah menatapku dengan tatapan yang mengintimidasi untuk beberapa saat dan bukannya menjawab pertanyaan ku. aku pasti tampak seperti seorang idiot sekarang.

Tapi sungguh, kedua bola mata itu sangat mengalihkan perhatianku. Aku bisa melihat warna kornea matanya yang berwarna coklat madu. Indah sekali.

“Aku bukan tipe orang yang akan menyelamatkanmu.”

Jawabnya masih terus menatapku, seketika aku tersadar dari lamunanku. Aku sangat heran dengan jawabannya sekarang. Jelas-jelas dia yang sudah menolongku dan membawaku ke tempat perawatan. Aku sangat yakin.

“Jadi pergilah.”Tambahnya,

Aku menghela nafas dalam, menahan rasa emosi yang begitu mendidih di ulu jantungku. Aku benar benar ingin mengakhiri sebuah tinjuan diwajahnya yang sangat cantik dan halus itu. changkkaman.. tapi apa aku tega menggoreskan luka di kulit putih porselennya yang selalu sukses mencuri perhatianku itu?

Omo! Apa yang aku katakana!? Pabo!

**

Aku seratus persen yakin bahwa yang menolongku kemarin adalah dia. si perempuan sombong itu. Aku hafal sekali setiap inci wajahnya yang sangat mempesona itu. Bodoh! Ini bukan saatnya untuk memikirkan bagaimana indah wajahnya, Tiffany!

Aku berjalan dengan sejuta pertanyaan yang ada di dalam hatiku. Rasanya ini semua begitu membingungkan.

**

“Ini adalah roti terlezat yang pernah masuk ke mulutku!”Seru Jessica dengan wajahnya yang mengembang bahagia,

Aku menautkan satu alisku dan tersenyum ke arahnya,
“Kau berlebihan.”

“Oh ya, maafkan aku Tiffany karena aku tidak bisa menolongmu tadi. Aku tidak tau.”Lirihnya pelan, aku bisa melihat wajah kecewanya sekarang.

“Kau tidak perlu minta maaf, Jessica. Aku tau kau kan sedang tidak di sampingku.”

**

Author

 

Kini Tiffany dan Jessica sedang menanam tanaman kedalam pot di lantai dasar. Mereka sedang asyik menikmati setiap detik meyarakan persahabatan yang baru saja menghampiri mereka.

Hingga mereka tidak menyadari bahwa ada yang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka di atas sana. Sembari terus menggenggam sebuat pot. Orang itu berencana untuk melayangkan pot itu tepat di kepala Tiffany.

Pot itu kini jatuh dari lantai lima dan siap mendarat di batok kepala Tiffany, namun…..

Grap.

Seseorang dengan tanggap menyergap tubuh Tiffany dan menggantikan posisinya sebagai orang yang akan tertimpa pot itu. pot itu jatuh tepat di kepalanya, kini darah mengalir deras di kepalanya, namun Gadis itu tetap menunjukan wajah ramahnya di depan Tiffany.

Tiffany terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Ruang dadanya seketika menyempit melihat darah yang terus mengalir di paras Cantik itu. Beberapa tetesnya bahkan mendarat sukses di papan muka Tiffany.

Gadis itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum hangat, senyuman mematikan itu bahkan terlukis walaupun ia sedang terluka.

“Kau memang ceroboh.”Lirihnya pelan sebelum tenggelam di helaiam rambut Tiffany dan kedua kelopak matanya mulai tertutup.

**

Sinat matahari yang benar-benar terik itu menyambut kedua bola mata indah milik Gadis itu ketika ia berhasil membukanya. Ia merasakan kepalanya yang berdenyut hebat. Erangan kecil di lontarkannya.

Ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut di ruangan ini. penglihatannya berhasil menangkap sosok Gadis yang sangat cantik yang terus bermain di pikirannya belakangan ini.

Gadis itu tersenyum kearahnya,

“Kau….”Tukas pelan Gadis itu,

“Kenapa kau selalu berubah menjadi orang yang jahat dan lembut dalam waktu bersamaan?”

Gadis itu tertawa pelan, Gadis itu mengerutkan keningnya, ia tidak habis pikir pertanyaannya di jawab dengan tawanya yang manis berbeda dengan sebelumnya yang ia hanya mendapatkan hanya usiran yang di lambungkan dari Gadis ini.

“Kim Haeyeon. Kau boleh memanggilku, Hayeon.”

Tiffany terdiam menatap kedua mata coklat terangnya yang seperti madu jika ia tatap lebih dekat. Apa dia tidak salah dengar? Apa telinganya tidak bekerja dengan baik lagi? Ini semua hanyalah sebuah ilusi semata atau apa? Jujur dia berusaha untuk mengerti situasi ini.

Ia yakin bahwa nama yang di miliki Gadis ini adalah Taeyeon. Dan bukannya Haeyeon. Ia malah hafal nama lengkap Gadis ini. Kim Taeyeon  .

“Gadis jahat yang kau bilang itu, adalah kembaran-ku.”

Tiffany memijit keningnya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut tepat setelah ia menambahkan kata-katanya.

“Tidak mungkin….”

Tidak peduli seberapa keras Tiffany berusaha bahwa melawannya. Sayangnya, apa yang sedang terjadi saat ini adalah nyata, dia tetap tidak bisa percaya.

**

Setelah Haeyeon menjelaskan keadaaanya. Tiffany baru bisa percaya dengan apa yangterjadi. Ia mulai bisa menerika sosok Haeyeon yang sangat menyenangkan, lucu dan ramah.

Sedangkan Taeyeon tampak cantik dengan poni yang menghias dahinya, make up yang benar-benar mendukung karakternya yang angkuh, juga dingin itu. garis rahang yang lebih tegas, tatapannya yang tajam. Suaranya yang berat, juga bibir yang mempunyai lekuk sempurna itu. Tiffany menemukan semua itu sangat seksi.

Berbeda dengan Taeyeon. Haeyeon Rambutnya terlihat lebih hitam, potongannya terlihat lebih kalem. Ekspresi mukanya terlihat menenangkan untuk terus di pandang. Polesan make up nya yang sederhana membuat sosok itu sangat anggun di dapatinya.  suaranya yang sangat halus mampu membuat Tiffany bergidik merinding. Senyuman teduh yang tak pernah lepas dari sudut bibirnya. Tiffany benar-benar ingin melihat itu lebih sering. Dari sekarang.

“Terima kasih karna terus datang untuk menolongku.”

“Kau tidak perlu berterima kasih Tiffany, memang beginilah sifatku.”

**

Mereka bernama Taeyeon dan Haeyeon  . Orang -orang mengenal mereka sebagai kembar terseksi yang ada di sekolah ini. kebanyakan dari mereka mengagumi sosok Taeyeon yang dingin dan cuek. Namun banyak juga yang jatuh hati pada kehangatan hati Haeyeon.

Haeyeon adalah seorang yang menyenangkan, ramah, perhatian dan selalu berusaha menjadi yang terbaik di mata orang-orang. Berbanding terbalik dengan Taeyeon. Dia tidak pernah memikirkan siapapun, dia tidak bisa merasakan emosi, dan dia tidak pernah peduli dengan sekitarnya.

Ayah mereka berdua menaruh harapan banyak pada Taeyeon. Karna dirinya bersedia melanjutkan bisnisnya. Namun, Haeyeon. Dia lebih  memilih jalannya sendiri. Jadi bukan sebuah kejutan jika ayah mereka lebih memilih memperhatikan Taeyeon daripada seorang penyayang seperti Haeyeon.

Taeyeon yang di berikan fasilitas lengkap dan ia pergunakan dengan baik, berbeda dengan Haeyeon yang memilih jalan kaki untuk sampai ke sekolahnya.

**

Taeyeon kini sedang terpaku pada layar handphonenya. Dia hanya terus memainkan game-game itu setiap waktu ia di sekolah. Ia mulai merasakan lelah pada matanya, ia butuh sedikit istirahat.

Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Penglihatannya berhasil menangkap sosok Tiffany yang sedang bergurau dengan Jessica. Untuk pertama kalinya, ia merasa jantungnya berdetak cepat ketika mendengar hangat tawanya Tiffany.

Sinat matahari yang menerobos masuk, membuat sosok Tiffany semakin anggun dan manis di lihatnya.

Taeyeon mungkin tidak menyadari ini, bahwa ia kini sudah menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Senyuman manisnya itu karena Gadis yang ada di seberang sana.

Dia Tiffany.

**

“Ini.”Ucap Haeyeon sembari memberikan segelas air untuk Tiffany yang kini telah berkeringat setelah ia berlari mengelilingi lapangan ini sebanyak tiga kali.

Tiffany menatapnya bagaikan malaikat yang kini tengah turun dan menolongnya tanpa ragu.

Tiffany membalas senyumannya hangat,

“Jadi, apa kau tidak gila menghadapi sikap Taeyeon yang super menyebalkan itu?”

Haeyeon bergedik tertawa. Tawanya begitu manis sehingga membuat Tiffany hanya terpaku mendengarnya,

“Dia memang seperti itu. Tapi, justru itu yang membuat Taeyeon sebagai Taeyeon.”

Tiffany mengernyit heran dengan jawaban Haeyeon, Tiffany merasakan bahwa jawaban yang di berikan kepadanya ini adalah jawaban yang sederhana namun ia bisa memahaminya dalam lingkup luas.

“Apa yang paling menyebalkan dari dia?”Pertanyaan Tiffany membuat Haeyeon melihat kearahnya sekali lagi.

Sekali lagi juga jantung Tiffany berhenti ketika Gadis Cantik yang ada di sampingnya ini menatap dalam dengan kedua bola matanya yang indah dan tidak bisa terima dengan akal sehat itu.

“Dia tidak mempunyai perasaan, tapi dia punya rasa kepedulian sedikit. Dia tidak bisa mengatakan sesuatu dengan jelas karna rasa gengsinya yang tinggi. Dia tidak tau berterima kasih. Tidak sabaran. Sombong. Kritis. Dan cerdas. Tapi itu semua adalah sifat yang membuat Taeyeon bertahan sampai sekarang di dunia ini.”

Tiffany sedikit kaget ketika Haeyeon melontarkan satu kata yang membuatnya kini penasaran setengah mati,

“Bertahan?”

Haeyeon menarik napasnya dalam, membuangnya dan sebelum akhirnya berkata,

“Dia sakit.”Jawabnya tetap tersenyum, ada perasaan luka yang terlihat di ukiran bibirnya itu,

Rasa penasaran Tiffany kini semakin menjadi-jadi, ia terus bertanya-tanya di dalam hatinya mengenai hal ini. Dia berusaha tidak ambil pusing untuk ini, namun yang di dapatkannya hanya sekelebat wajah Taeyeon ketika ia mengerang kesakitan sebelumnya,

Dan ia mendekapnya erat.

**

Tiffany  

Saat ini, mungkin adalah pemandangan terbaik yang pernah aku lihat akhir-akhir ini. Aku tidak bisa melepaskan penglihatanku dari mereka. Mereka terlihat begitu bahagia sembari menghias kue-kue ku.

Haeyeon dan  Hani, walaupun mereka baru saja kenal untuk beberapa hari, sosok Haeyeon dapat membuat adikku sangat nyaman. Memang, karna watak aslinya yang menyenangkan dan baik, kadang-kadang membuat ku ingin sekali memilikinya. Apa itu mungkin?

“Ih..Haeyeon-unnie!!”

Entah mengapa, aku menarik sudut bibirku untuk tersenyum ketika melihat mereka sesekali bergurau.

**

Sore ini, Haeyeon mengundangku untuk ke rumahnya. Ia mau memperlihatkan sesuatu padaku. Aku tidak tau apa itu, tapi aku benar-benar penasaran di buatnya.

Akhi-akhir ini aku memang selalu menghabiskan waktuku bersamanya, bahkan di sekolah. Banyak yang melihatku dengan tatapan mengintimidasi. Tapi, selama aku di samping Haeyeon. Aku merasa aman.

Kemarin, saat anak-anak super kaya itu menjahiliku, dengan cara memesan banyak rotiku, dan ketika aku antarkan pada mereka, mereka hanya membayar dan menginjak-injak roti yang sudah aku buat susah payah tepat di depan mataku. Haeyeon mendaratkan beberapa pukulan ke beberapa siswa yang terlibat di kejadian itu.

Dia memang gadis yang tangguh.

Lalu dia berkata.

“Aku telah melihat hal yang hina, tapi kalian, bahkan lebih hina dan menijikan dari yang sebelumnya.”

“Kalian bukanlah apa-apa selain anak yang manja dan hanya bisa meminta dan merengek. Kalian tidak tau apa artinya kerja keras. Hargailah orang lain, jika kalian mau di hargai.”

aku benar-benar merasa bahwa aku telah menemukan seseorang yang mungkin akan berada di sisiku untuk waktu yang cukup lama. Aku berharap, bukan hanya aku yang merasakan ini.

perasaan kagum, terpesona, bingung juga bahagia yang membuncah di ruang dadaku benar-benar membuatku terperangkap akan sosok Haeyeon.

**

Tumblr_lu400iDbTX1qhr9wyo1_500

Rumah besar yang di kelilingi tembok-tembok tinggi ini menghadang di depanku. Tanah yang sangat luas kini siap aku tapaki. Agak sedikit ragu untuk melangkah lebih jauh lagi, tapi tatapan Haeyeon mampu membatku untuk melanjutkannya.

Aigoo. Aku bingung kenapa aku ketakutan seperti ini.

Bangunan yang menjulang tinggi bergaya klasik dan mewah itu benar-benar mempesona. Lampu-lampu yang mengelilingi rumah besar ini menyala dengan bebas, kolam air yang ada di tengahnya benar-benar terasa menyambutku.

Ada banyak penjaga berjas dan berkacamata hitam yang terus berdiri dengan gagah merjaga-jaga mungkin, bila sesuatu kejadian yang buruk terjadi di rumah ini.

**

Kami memasuki pintu besar ini, dan menelusuri karpet merah, penjaga yang bediri di sekitarnya membungkuk hormat kepada Haeyeon. Haeyeon hanya membalas mereka dengan seyuman hangatnya.

Aku melihat Pria paruh baya tengah berdiri tepat di akhir tangga dengan tatapannya yang tajam kea rah Haeyeon. Haeyeon melangkah ke arahnya dan membungkukkan badan.

“Aku pulang, Ayah.”

PLAK!

Tiba-tiba saja, pria  itu melayangkan tamparannya ke pipi Haeyeon. Aku memang terkejut, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini. ini urusan keluarga mereka.

**

Author

 

Tepat setelah tamparan itu mendarat mulus di pipi Haeyeon, Pria itu berkata dengan datarnya.

“Aku membutuhkanmu untuk perusahaanku, kau malah sibuk dengan acara amal yang sekolah selenggarakan. Kau bahkan menjadi pemimpin acara tersebut.”

“Kakakmu berjuang sendiri untuk ini, tapi kau malah menyia-nyiakan kerja keras kakakmu.”

Tiffany yang terbelalak hanya bisa mematung menyaksikan orang yang dikaguminya itu tertunduk,

Haeyeon yang ia lihat sekarang sangat berbeda dari Haeyeon yang ia tahu. Di bandingkan Haeyeon yang tertawa kini yang ia lihat hanya Haeyeon yang menunduk lemah dan berusaha tegar.

DUG!

Kepalan tangan Pria itu kini mampu membuat seorang Haeyeon tersungkur ke lantai. Tiffany dengan cepat menghampiri Haeyeon dan membantunya berdiri.

Ia benar-benar tidak bisa melihat ini.

“Kau. Pergi ke perusahaan dan gantikan posisi kakakmu.”

**

“Rumah bagus, makanan enak, dan baju yang indah”

“Meskipun ayahku berpikir, bahwa dengan itu semua ibuku akan bahagia, ibuku hanya bisa menemukan kebahagiaan setelah ia meninggalkan sisi ayahku.”

Kata-kata yang menjelaskan beberapa bagian hidup Haeyeon itu baru saja terlontar dari bibirnya sendiri,

Tiffany yang mendengarkan hanya bisa menatap nanar wajah Haeyeon yang kini berusaha tersenyum utuknya.

“Ibuku kini bahagia di suatu tempat di bagian bumi ini. meskipun ayahku sangat marah. Ia masih tetap menunggu sampai hari ini. Alasan bagaimana aku bisa bertahan seperti ini, adalah karena ibuku. Aku ingin bahagia dengan bebas dan tertawa lebih banyak.”

Detik kemudian, Tiffany tersenyum dengan hangatnya untuk Haeyeon.

“Aku iri dengan kau dan  Hani. Kalian selalu bersama-sama, bertengkar dan kembali berbaikan. Kalian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kalian sehari-hari. Aku juga ingin melakukan hal seperti itu.”

Haeyeon menarik napasnya dalam, membuangny adengan sempurna sampai akhirnya berkata, “Hidup seperti kebanyakan orang di dunia ini. aku ingin hidup seperti itu.”

“Aku tidak menyangka kalau keluargamu seperti itu.”

Tiffany memang sedaritadi mendengarkan dengan baik, ia bahkan merasakan sesuatu Dari diri Haeyeon yang belum pernah ia ketahui.

“Bagaimana aku bisa tau itu, kalau kau terus tersenyum lebar setiap hari?”

Haeyeon tertawa renyah,

“Aku hanya berharap untuk terus tersenyum.”

“Bukan karena ingin, tapi aku merasa bahwa jika aku terus tersenyum, aku mungkin akan menemukan sesuatu yang baik.”

Tiffany kini menatap Haeyeon dengan tatapannya yang sebelumnya tidak pernah ia berikan untuk siapapun.

“Ah.. sudah cukup dengan ceritaku yang membosankan.”Lanjut Haeyeon dengan senyumnya yang mengembang, ia merasa sedikit lega telah menceritakan sedikit hidupnya  yang terkadang tidak bisa ia tangani.

Tiffany menyentuh bahu Haeyeon, detik kemudian Haeyeon berpaling kearahnya,

“Jangan berusaha telalu keras.”

“Berpura-pura bahwa kau baik-baik saja, ketika kau sedang berusaha sekuat tenaga,”

“Tersenyum ketika sebenarnya kau ingin menangis.”

“Aku pernah merasakan itu.”

Grep.

Haeyeon dengan cepat menarik tubuh Tiffany itu kedalam dekapannya. Awalnya Tiffany memang terkejut. Walaupun hatinya kini ingin meledak di buatnya. Ia bisa menangani ini. bau parfum Haeyeon yang khas seketika membuatnya untuk tetap tenang. Walaupun semuanya terasa tidak mungkin untuk hal ini.

“Semua terasa mungkin ketika aku bersamamu, Tiffany.”

Tiffany kini terbelalak, Ia merasakan darah yang berhenti mengalir di dalam tubuhnya, seketika. Detak jantungnya kini bahkan  lebih cepat daripada biasanya. Ia merasakan hawa-hawa dingin yang sejuk di dalam hatinya tepat setelah Haeyeon mengatakan itu.

Dalam hatinya, ia bahkan berusaha memastikan bahwa pendengarannya kini baik-baik saja.

“Aku harap, bukan hanya aku yang merasa seperti itu.”

Kata-kata yang baru saja Haeyeon lontarkan untuknya, ia sambut dengan mendekap balik tubuh Haeyeon dengan erat. Ia merasakan kupu-kupu yang terbang di perutnya, dan ini bukan mimpi.

Haeyeon tersenyum hangat mengetahui bahwa pelukannya itu kini di balas oleh gadis yang sangat-sangat ia sanjung. Ia menenggelamkan kepalanya di rambut panjang indah Tiffany yang terurai dan berbau mawar itu.

**

Semuanya berjalan dengan baik untuk satu minggu ini, kedekatam Haeyeon dan Tiffany bahkan sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah ini. mereka bertanya-tanya bagaimana seorang Gadis berhati mulia, dengan sifat yang mengagumkan seperti Haeyeon bisa jatuh hati pada gadis miskin yang lemah. yang merupakan suatu ketidak mungkinan untuknya membuat hati Putri Cantik itu luluh di depannya.

Tapi di lain tempat, seorang Taeyeon yang tidak peduli terhadap apapun kadang merasa heran dan bertanya-tanya bagaimana bisa itu terjadi. Dia tidak ambil pusing atas hal yang baru-baru ini terjadi terhadap kembarannya. Ia terlalu sibuk untuk menjalan tugas yang di amanatatkan kepada dirinya untuk menjadi pengganti ayahnya di posisi yang tinggi itu.,

Benar sekali, ia  di angkat mencadi CEO dari perusahaan ayahnya. Tetap di bawah naungan ayahnya, Taeyeon kini sedang bekerja keras untuk mempelajari itu semua demi perusahaan Ayahnya. Ia ingin sekali melakukan yang terbaik walaupun kekebalan tubuhnya tidak memungkinkan.

Ia mudah jatuh karena penyakit yang di deritanya. Itu juga menghambat belajarnya untuk menjadi seorang pemimpin perusahaan besar.

**

Siang itu, sekolah Tiffany di gemparkan dengan berita Haeyeon yang telah meninggalkan sekolah ini demi menjalani perusahaan ayahnya. Berita itu dengan kilat juga sampai ke telinga Tiffany. Tiffany yang tadinya sedang bergurau dengan Jessica, seketika terbelalak dan tidak percaya.

**

Still Author

“Tiffany! Haeyeon sudah berangkat pagi ini!”

Tiffany dengan cepat berbalik dan mulai berlari. Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipinya, ia lari dengan tergopoh. Lututnya bahkan terasa tidak mampu untuk menopang dirinya yang tengah berlari.

Tujuannya kali ini adalah taman belakang sekolah yang biasa ia singgahi bersama Haeyeon. Ia yakin bahwa dirinya akan menemukan sosok Haeyeon disana. Ia percaya itu. ia tau, bahwa Haeyeon bukan tipe orang yang mengingkari janjinya sendiri. apa lagi ketika ia berjanji akan terus berada di sampingnya.

Tiffany tidak pernah melupakan kata-kata yang Haeyeon ucapkan tempo lalu.

**

Napas Tiffany tersenggal ketika ia berhasil sampai di taman. ia mengedarkan pandangannya berharap bahwa ia akan menemukan sosok Haeyeon disana. Ia melihat sekeliling dengan teliti sesekali menghapus air mata dengan punggung tangannya.

“Tiffany.”

Suara itu benar-benar familiar baginya. Ia hanya tau satu orang yang punya suara berat tetapi menenangkan itu.

Detik kemudian Tiffany berpaling, sungguh lega hatinya melihat sosok Haeyeon yang berdiri menghalangi cahaya matahari. Dengan setelan pakaian formal itu Taeyeon menatap Tiffany dengan datar.

Baru saja ia ingin memeluk tubuh Gadis yang baru saja mengisi ruang hatinya yang kosong itu, namun ia di dahului dengan kata-kata Gadis itu yang kini hanya diam menatapnya,

“Aku ingin kita berakhir disini.”

Tiffany menghentikan langkahnya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang ia dengar ini hanya ilusi belaka. Ia tidak benar-benar mendengar ini.

Namun tidak peduli seberapa keras ia mencoba. Ia tau bahwa pendengarannya baik-baik saja. Air mata yang sebelumnya belum keringpun, kini makin deras jatuh.

“Kau bercanda, kan?”Tanya nya getir. Suara nya parau terdengar,

“Aniyo. Semua yang aku katakan itu bohong. Kita tidak bisa bersama-sama.”

“Aku tidak bisa….”

“Berhenti. Ku mohon berhenti. Ini tidak adil.”Balas Tiffany dengan tangisannya yang semakin menjadi, tubuh bergetar, ia benar-benar tidak bisa menghadapi ini..

“Aku tidak menyukai gadis sepertimu.”

                    Andwea, Hayeon-ah..

Haeyeon tetap menatapnya dengan datar. Sama sekali tidak ada mimic kesedihan di papan mukanya. Semuanya tampak begitu nyata.

“Aku sangat menyukaimu. Itu adalah kata-kata yang tidak bisa aku katakan.”Tiffany mengatakan itu tulus walaupun ia telah menerima pengakuan yang sangat menyakiti hatinya.

“Aku tidak tau bahwa perpisahan begitu menyakitiku seperti ini.”

Haeyeon kini menatap Tiffany dengan tatapan sedih, benar-benar tidak bisa di jelaskan.

“Pergi, tidak ada lagi yang harus aku dengar, kan.”Ujar Tiffany dengan suaranya yang pelan, menahan semua sakit yang ia rasakan di dadanya saat ini.

Haeyeon tanpa berkata apapun, berbalik dan berjalan menjauh meninggalkannya sendiri. Tiffany bisa melihat punggung Haeyeon yang lama-kelamaan menghilang termakan jarak. Di saat itu juga tangisannya semakin menjadi-jadi. Hingga ia berlutut, air matanya masih jatuh.

Sementara di balik tembok itu, ada seseorang  yang sedari tadi mendengarkan mereka, wajahnya tampak persis dengan Gadis yang baru saja mencampakkan Tiffany. Taeyeon.

Ia berdiri disana dan menyaksikan bagaimana kembarannya menyakiti kekasihnya sendiri demi dirinya.

**

18 April, 2023

 

Aku tidak menyukai gadis sepeti mu, ujarmu.Pergi, kataku.

Berhenti. Tolong jangan seperti ini.Ini tidak adil.

Kau berkata ini sangat mudah dan ini tidak berarti apa-apa.Apa aku salah tentangmu? ini seperti kebohongan.Aku adalah satu-satunya yang tidak tau. tau.

 

**

 

“saya rasa, kau mengerti kenapa kau disini.”Pria paruh baya gagah yang di lihatnya tempo lalu kini berbicara dengannya dengan nada lebih pelan dari terakhir kali ia mendengarkan suara seraknya itu,

“Untuk pertemuan sebelumnya, sayaminta maaf.”

Gadis itu hanya diam dan menatap pria yang sedang berdiri dengan alis terangkat itu dengan takut. Juga ragu-ragu di hatinya akan pria ini, semakin membesar.

“Ha-ha. Saya memang seperti itu ketika di hadapan mereka.”

“Apa kau juga seperti itu terhadap Taeyeon?”Tanya Gadis itu dengan pelan, jaga-jaga agar mongannya tidak menyinggung pria itu,

Pria itu menarik nafasnya dalam, dan kembali tertawa renyah.

“Ya.”

“Kau mungkin mendapat banyak masalah dari mereka berdua, kan?”

Gadis itu menggeleng,

“Maafkan keduanya, ya.”

“Sebenarnya, kenapa anda memanggilku?”

“Tiffany, kau tau kan, Haeyeon sudah pergi. Saya tau bocah itu sangat mengagummui.”

Tiffany itu mendongak tanpa ragu menatapnya jengah,

“Tidak.”

“Dia baru saja mencampakkanku.”

Pria itu kembali tertawa, tawanya itu sungguh membuat Tiffany kesal akan pembicaraan ini. setiap jawabannya bahkan tidak mendapatkan balasan yang pasti.

“Tiffany. Aku tau, kau adalah gadis yang  baik. Aku memanggilmu kesini bukan tanpa tujuan.”

Tiffany kini sudah mengepalkan tangan yang sedari tadi di letakan di kedua pahanya.

“Aku ingin kau terus di samping Taeyeon. Aku mau kau melindunginya. Seperti yang Haeyeon lakukan untukmu.”

“APA KAU BECANDA!?”Tiffany beranjak dari duduknya,

Pria  itu juga bangkit dengan senyuman yang hangat. Tiffany melihat wajah dan kebaikan Haeyeon di papan muka yang sedang menatapnya dengan mimik penuh harap itu, seketika kepalan tangannya dan emosinya turun perlahan,

“DIA SELALU HIDUP DAMAI DI SEKOLAH. AKU TIDAK PERLU MELINDUNGINYA.”

“Aku tau itu.”

“Aku hanya ingin kau mengawasinya. Bocah itu, dia tidak mempunyai teman satu pun. Dia kesepian. Dia keras kepala. Dan dia sakit.”

“Dia membutuhkan seseorang sepertimu.”

**

Tiffany  

Gila! Gila! Aku benar-benar tidak mengerti kehidupan orang-orang yang mempunyai duit terlalu banyak. Bahkan aku mendapat bayaran hanya untuk menjadi teman si kunyuk satu itu! pertemanan itu tidak bisa di beli! Bukan begitu?

Mungkin kata kata untuk melindunginya itu terlalu berlebihan. Mungkin maksudnya aku menjadi babunya. Ya kan? Bahkan dia selalu damai di sekolah. Untuk apa aku dengannya? Lagian, dia itu sombong sekali. pemarah dan tidak sabaran.

Apa ada yang tahan di sampingnya hanya untuk sejam saja? Kurasa tidak ada.

Tapi walaupun aku berpikir panjang begini, akhirnya aku pun menerima omongan pria itu yang merupakan ayah dari si sombong juga Haeyeon yang kini pergi entah kemana meninggalkanku bersama kehidupan sekolah yang sangat menyiksa ini. tetapi tidak dengan uang yang tadinya akan ia berikan padaku. Aku menolaknya mentah-mentah.

Akan aku buktikan  pada keluarga sombong itu, bahwa uang tidak bisa membeli segalanya di dunia ini.

**

Hari ini pelajaran music, Omona~  ini sungguh membosankan. Aku tidak punya bakat disini!

Hampir setengah dari kami telah maju ke depan untuk menyanyikan beberapa lagu klasik. Ini benar-benar menjengkelkan. Semua dari kami tidak bisa menyanyi!

Semua yang telah maju dan bernyanyi hanya membuat gendang telingaku sedikit sakit, ini karna suara mereka yang nyaring dan mengganggu itu.

Untuk kesekian kalinya aku berpikir, dan yakin. Bahwa anak-anak yang mempunyai digit banyak di rekening mereka ini. hanya bersekolah untuk kesenangan semata dan dengan uang yang mereka ambil dari kantong orang tua mereka.

“Taeyeon.”

Itu dia! Nama ds sombong itu tiba juga. Mari kita dengarkan suara dari anak pemegang saham terbesar di sekolah ini.

Dalam beberapa ketukan penggaris dia mulai bernyanyi. Awalnya normal-normal saja, namun lama kelamaan suaranya menjadi menyebalkan. Bahkan aku tidak bisa mengetahui dia sedang bernyanyi atau ngobrol karena intonasinya begitu rendah.

Suaranya makin datar dan datar. Kalau begini, namanya ia sedang latihan berpidato. Bukan menyanyi,

“Waaah kau benar-benar memberikan gaya baru yang fresh untuk klasik Taeyeon. Kerja bagus cantik…”

Mwo!!? Jjinja…. Beginilah jadinya kalo seorang Putri bangsawan ujian.  Minah Songsaenim memang seperti itu. bukan hanya Taeyeon tapi pada semua murid yang berhasil merayunya dengan tas keluaran terbaru pun, ia tidak segan untuk memberikan nilai yang tinggi. Namun untuk Taeyeon, nampaknya semua guru disini tunduk padanya.

“Songsaenim! Siapapun yang dengar tau bahwa suaranya jelek abis!”

Detik setelah aku mengatakan itu, guru itu menjawab ku dengan tertawa,

“Itu karena kau terlalu banyak mendengar lagu modern makanya tidak tau! Latihan lebih banyak Tiffany!!”

 

Wah.. jjinja……….

**

“Apa kau sudah minum obatmu?”Tanyaku pelan dengan memutar bola mata pada Taeyeon yang kini sedang sibuk dengan telfon genggamnya. Aku benar-benar tidak mengerti.

Kenapa aku berdiri disini menanyakan sesuatu yang bahkan bukan tugasku untuk memastikan dia sudah menelan obatnya atau belum.

Dia benar-benar tidak pandai bergaul! Bagaimana bisa seseorang mendekatinya jika perhatiannya terhadap sekitar saja tidak ada!

Dia mendongak, dan menatapku tajam,

“Apa urusanmu?”

“Tidak usah berpikir yang aneh-aneh. Aku hanya tidak mau kerepotan melihatmu kesakitan karena telat meminum hal itu!”

Dia malah mengacuhkanku dan kembali fokus pada hapenya. Lihatlah! Lihatlah! Geure…Tidak heran kalau dia tidak mempunyai teman!

“Taeyeon.”

Ketika dia mendongak, aku sengaja mendekatkan wajahku dengannya dan berkata,

“Sebaiknya kau minum. Oke? Awas!”

Aku sempat melihat kedua bolamatanya yang hampir keluar ketika wajahku hanya beberapa centi dengannya, aigoo..dia lucu ketika seperti itu!

Aniyo!! Tiffany! Apa yang kau pikirkan!?

Karena merasa ini terlalu gila aku segera berbalik dan meninggalkannya sendirian di kelas.

**

Taeyeon  

 

Gadis itu benar-benar! Bagaimana bisa orang seperti itu hadir di dalam hidupku ini yang sudah sangat sial dan semakin bertambah sial ini. Aku tidak pernah menemukan seseorang sebegitu menyebalkan seperti dia, dia sangat mengusikku. Dia cerewet dan suka marah-marah.

Membuatku jengah ketika menghadapi orang sepertinya.

Ada saatnya dia terlihat manis.

Apalagi, ketika dia mendekatkan wajahnya denganku. Aku bisa melihat warna bolamatanya yang hitam pekat. Melihat Seluruh papan wajahnya dengan jelas, ia terlihat sangat cantik. Cetakan wajahnya sungguh sempurna, apalagi jika aku melihat bibirnya yang berwarna peach itu, benar-benar menggangguku.

**

“Jadi dia menjual roti?”

“Ya. Dan kau tau? Toko rotinya punya dia sendiri!”Sooyoung begitu antusias dengan ceritanya,

Hebat juga. Kukira dia hanya Gadis manja yang merengek ke orangtuanya untuk bersekolah disini.

“Dan dia yatim piatu. Dia hanya bersama adiknya.”

Perkataan Sooyoung kini membuat ku sangat-sangat kagum akan sosok Tiffany. Aku menarik kata-kataku yang sebelumnya. Benarkah ia berjuang sendirian di dunia ini?

“Ia adalah anak yang pintar, baik dan pekerja keras.”

Sekarang aku mengerti, kenapa Haeyeon sangat jatuh cinta dengannya. Bahkan untuk waktu yang bisa di bilang sangat singkat untuk seseorang merasakan omong kosong yang di sebut cinta itu.  Dia memang cocok dengan Haeyeon yang mempunyai sifat sama persis dengan Tiffany.

Sekarang aku berpikir, ternyata Tiffany tidak seburuk yang aku pikirkan. Mungkin sifatnya yang menyebalkan, hanya untukku saja?

Tapi setelah aku mendengar perkatan-perkataan Sooyoung barusan, itu saja sudah melebihi lingkup sempurna.

Author

 

“Tiffany, Taeyeon sakit. Tolong rawat dia di  rumahnya sendiri  yang tidak jauh dengan rumah kami. Saya sedang di luar kota.”

 

Awalnya, ketika ia membaca itu, ada sedikit gejolak kesal, tapi ketika ia memikirkannya lagi.

Ia membayangkan seorang Taeyeon sendirian di rumah, tanpa ada yang merawatnya, membuatnya sangat iba dan bergegas untuk ke rumah Taeyeon. Ia tidak mengerti perasaanya, sekarang rasa khawatir begitu menyergapinya.

Selama perjalanan, ia tidak henti-hentinya memikirkan sosok Taeyeon yang mungkin kini sedang melawan semua rasa sakit yang mungkin sedang mengepungnya saat ini.

**

Tiffany sudah mengetuk pintu kamar Taeyeon beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Karna rasa khawatirnya yang kini sangat besar, ia masuk tanpa izin dari pemilik kamar,

Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok Taeyeon yang tengah menggigil, berkeringat dan pucat. Tiffany berlari kecil menghampirinya yang sedang berbaring di atas kasur.

“Taeyeon!”

Tiffany meletakan tapakan tangannya di kening Taeyeon, ia benar-benar bisa merasakan suhu panasnya tubuh Taeyeon sekarang.

Tiffany segera keluar mencari obat yang ada untuk Taeyeon, ketika ia membuka lemarinya, ia sempat terbelalak melihat obat yang begitu lengkap,

“Kenapa banyak sekali? apa dia mempunyai farmasi sendiri? ah masa bodoh!”

Dia mengambil obat yang ia perlukan dan meletakannya di nampan bersama segelas air.

Ketika sampai di kamar, ia membantu Taeyeon bangun dan menyuapi habis obat-obat itu. Kemudian Tiffany membiarkan Taeyeon bersandar padanya dan mengompres ceruk leher dan kening Taeyeon.

Ia bisa langsung merasakan hangatnya tubuh Taeyeon sekarang. Ia sempat terdiam ketika melihat wajah pucat Taeyeon yang kini sedang terlelap. Lalu Tiffany menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, entah kenapa, melihat wajah Taeyeon dari dekat seperti ini, membuatnya nyaman untuk terus di dekatnya.

Setelah ia selesai dengan yang di lakukannya sekarang, Tiffany kembali merebahkan Taeyeon dan memilih untuk keluar dari ruangannya.

**
Kini Tiffany sedang sibuk memotong bahan-bahan yang akan di pakainya untuk membuat bubur. Ia mahir memasak, kemampuannya itu di dapatkannya dari ibunya yang telah meninggal. Dahulu ketika ia sakit, ia sering di masaki bubur ibunya yang sangat ia sukai.

Ia berusan berpikir, kenapa ia tidak membuatkannya saja untuk Taeyeon?

Tiffany dengan telaten memasukan bahan-bahan dan memasak buburnya hinggat matang. Sebelum di sajikan, ia mencoba sedikit bubur yang telah di masaknya,

Ia merasakan rasa yang tidak biasa dengan bubur buatannya. Ketika bubur itu menyambar lidahnya, ia seperti memakan bubur seperti buatan ibunya dulu.

**

Tiffany meletakkan nampannya di samping tempat tidur Taeyeon. Lalu ia menepuk-nepuk pelan lengan Taeyeon agar terbangun.

Taeyeon perlahan membuka kelopak matanya, di lihatnya Tiffany terduduk di salah satu sisi tempat tidurnya dengan wajah khawtir,

“Kau harus nya tidak memaksakan dirimu. Kau selalu berkata kau bisa menangani ini, kau baik-baik saja. Itulah yang membuat mu terus jatuh dan kesakitan seperti ini.”

Taeyeon hanya terus menatapnya dengan tatapan kosong, karna Tiffany merasa ini memalukan karena tatapan itu di tancapkan padanya, akhirnya dia menemukan kata-kata yang tepat,

“Uhmm, kau belum makan, kan?”

“Aku membuatkan bubur untukmu.”

Taeyeon hanya diam tidak menjawab tawarannya, detik kemudian Tiffany mengulurkan tangannya untuk membantu Taeyeon berdiri,

“Ayo, biar kubantu.”

Taeyeon justru pelahan bangun tanpa bantuan Tiffany. Dia malah berjalan menuju pintu kamarnya, Tiffany yang bingung hanya mengikutinya di belakang.

“Keluar.”Ujar Taeyeon pelan,

“Baiklah. Aku pergi, tidurlah kembali.”

“Tidak. Jangan kembali lagi.”

Tiffany sempat bingung dan tak tau harus menjawab apa untuk beberapa detik,

“Kenapa kau seperti ini tiba-tiba?”

“Seharusnya tidak seperti ini. ini semua karenamu.”Taeyeon menatapnya lemah,

“Taeyeon.. apa maksudmu?”

“Lupakan apa yang telah kau lihat hari ini. Ku katakan dengan jelas, kau bukan siapa-siapa.”

“Jangan mengasihaniku.”

Tidak terasa, air mata Tiffany kini sudah memenuhi pelupuk matanya, sebelum air mata itu jatuh, Tiffany berkata,

“Inilah sebabnya semua orang menjauhimu. Kau tidak mau melihat dan mendengar apapun. Jika kau mau terus hidup seperti ini, lakukanlah.”

Tiffany berbalik dan berlari kecil meninggalkan Taeyeon sendirian. Air matanya sukses jatuh ketika ia tengah berlari. Ia merasakan sakit yang amat sangat di relung-relung dadanya kini. Ia tidak mengerti kenapa ia merasakan ini walaupun hanya dengan perkataan Taeyeon.

Ketika ia berhenti,

“Wah, Tiffany.. kau bahkan menangis untuknya sekarang!? Benar-benar, rasa ibamu terlalu berlebihan kan?”

Dia segera menghapus airmatanya dengan punggung tangannya yang halus, dan kembali melanjutkan perjalanannya.

Sementara, Taeyeon hanya terduduk di belakang pintunya, memeluk kedua lututnya erat. dia menenggelamkan kepalanya. Ia kini sedang berpikir keras, bagaimana bisa Ia mengatakan itu kepada seseorang yang telah merawatnya.

Entah kenapa, perasaannya kini tidak bisa tergambarkan.

**

Tiffany  

 

Benar-benar kacau. Ini semua tidak pernah terjadi, kan? Perasaan ini tidak nyata. Aku yakin ini. Daritadi, hanya wajah Taeyeon yang terus berlari-lari di pikiranku. Ini benar-benar menyebalkan.

Untuk memikirkan Gadis sombong, dan egois sepertinya. Aku benar-benar bodoh.

Memikirkannya, aku jadi ingat akan Haeyeon. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Aku merindukan tawanya. Aku merindukan sifatnya yang hangat. Aku merindukan semua tentangnya. Aku merindukanmu, Haeyeon-ah.

**

“Kau kerumahnya!?”Dengan mulutnya yang masih penuh dengan daging asap itu, Jessica merespon omonganku yang tiba-tiba saja keluar tanpa permisi itu,

“Telan dulu!”

“KAU BAHKAN MERAWATNYA!?”Tambah Jessica agak sedikit keras, membuat orang-orang di sekitar kita menaruh pandangan mereka kearah kita

“SSST!”

“Dia juga mengusirmu, kan!?”

Aku mengangguk pelan,

“Benar-benar orang kaya sombong tidak tau terima kasih! Ya, kan?”

Jessica berbicara seolah-olah dirinya miskin, kan? Bahkan aku tau tas yang di selempangkannya itu sangat-sangat mahal. Dia memang sederhana, aku suka itu. tapi aku benar-benar jengkel ketika ia lupa bahwa ia juga seorang anak dari orangtua yang mempunyai uang sangat banyak.

Memikirkan uang yang di milikinya saja, aku mungkin akan sakit hati.

“Lagian aku membantunya karena aku ingin. Aku tidak apa-apa.”

**

Author

 

“Lagian aku membantunya karena aku ingin. Aku tidak apa-apa.”

Di balik tembok itu, seorang Gadis tengah mendengarkan pembicaraan dua orang siswi yang sedang menyantap makan siang mereka.

Kata-kata yang baru saja terlontar dari siswi berambut hitam itu, mampu membuat Gadis itu terdiam seribu bahasa.

Dia tidak mengerti, biasanya ia tidak seperti ini. dia tidak pernah mempunyai rasa bersalah, tapi ketika ia mengingat kejadian semalam, ia tidak pernah bisa berhenti memikirkannya.

Ada perasaan bersalah juga menyesal. Namun perasaan marah tidak ketinggalan menyergap ruang dada Gadis itu.

Ini semua begitu membingungkan baginya.

**

Siang ini, Seoul di guyur hujan yang lumayan deras. Semua jalan hampir di genangi air hujan yang tak kunjung berhenti.

Taeyeon yang sedang berjalan di atas becekan trotoar dengan payungnya, hanya terdiam sembari memikirkan hal-hal yang terus menganggu pikirannya belakangan ini.

Ketika ia mendongak, ia melihat punggung Gadis berambut coklat gelap panjang yang di kenalnya dengan baik untuk beberapa hari ini.

Gadis yang baru saja ia tolak mentah-mentah bantuannya.

Gadis itu terlihat berjalan tanpa menggunakan payung atau pun jas hujan. Ia hanya menggunakan ranselnya untuk melindungi tubuhnya dari air hujan yang bisa membuatnya basah.

Namun seberapa keras ia mencoba melindungi dirinya dari terkaman hujan, tubuhnya tetap saja basah.

Taeyeon berlari kecil menuju Gadis itu,  hingga akhirnya, payungnya yang lumayan besar itu juga mampu melindungi Gadis itu dari guyuran air hujan.

Gadis itu menghentikan langkahnya, begitu juga Taeyeon.

Ia berbalik dan nememukan sosok Taeyeon yang kini terdiam di menatapnya. Tatapan mereka beradu untuk beberapa detik, helaan nefas berat keduanya memenuhi gendang telinga dua insane manusia yang sedang melawan dingin dan basahnya udara itu,

Ia sempat kaget ketika Taeyeon mulai menggamit tangannya dan menyerahkan payungnya.

Ketika ia baru saja ingin mengatakan sesuatu, Taeyeon kemudian melanjutkan perjalanannya dan keluar dari lindungan payung itu. menutupi kepalanya dengan hoodie yang di kenakannya.

Taeyeon tidak mengerti kenapa dirinya menggeret kakinya sendiri untuk mendekat, bahkan memberikan paying yang menjadi satu satunya pelindung dari air yang berjatuhan tanpa henti itu. dia sungguh-sungguh tersesat akan perasaanya sendiri.

Sementara gadis yang berada di bawah atap payung itu hanya bisa menatap punggung itu berjalan cepat menjauh. Perasaanya tidak lebih baik dari Taeyeon.

Dia bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Perasaan aneh yang membuncah di ulu hatinya terasa ingin meledak. Aliran darahnya terasa terhenti mengetahui apa yang baru saja terjadi beberapa detik lalu.

**

Siang itu, sekerumunan siswa tengah tertawa lepas dan melimpahkan omongan-omongan kasar mereka pada seorang siswi yang kini tengah basah kuyup di seluruh tubuhnya.

Dia hanya menangis, dan menangis karena dalam situasi ini dia tidak bisa berbuat apa-apa. sementara temannya hanya memeluknya dan berharap bahwa dia akan baik-baik saja dan tidak mengdengarkan cibiran apapun dari siswa lainnya.

“Kau bahkan tidak menyerah untuk sekolah disini, hah Tiffany?”

“ENYAHLAH! Ini bukan tempatmu!”

“Bagaimana kau bisa berteman dengan manusia bau ini Jessica?”

“Kalian memang benar-benar bodoh.”

Benar saja, itu adalah Tiffany dan Jessica. Biasanya Tiffany sanggup untuk membela dirinya sendiri, namun untuk belakangan ini, Tiffany jadi ketakutan dan tidak bisa melawan mereka balik.

Tiffany yang kuat, ceria dan lucu itu kini hanya seorang Tiffany yang menangis, lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah mereka semua pergi dengan tawa puasnya, Jessica berinisiatif untuk mencarikan handuk untuk Tiffany dan pergi untuk sementara.

Sementara dari kejauhan, Taeyeon memperhatikan mereka sedari tadi. Ia sudah menggenggam handuk dan berniat membantu Tiffany. Dia tidak bisa berkutik tadi, padahal di dalam hatinya, ia benar-benar tidak suka melihat Tiffany di perlakukan seperti itu.

Taeyeon mengurungkan niatnya dan mulai mengambil selangkah untuk pergi menjauh.

Tiffany  

 

Grep.

Aku bisa merasakan sebuah kain yang kini menutupi bagian punggungku. Berwarna putih dan setelah aku meniliknya, ini adalah handuk yang seseorang berikan dari belakangku.

Dia berjalan ke depanku tepat, setelah aku mendongak, aku menangkap sosok Taeyeon yang kini sedang menatapku datar.

“Kau benar-benar jelek saat menangis.”

Saat Taeyeon mengatakan itu, entah kenapa, aku merasakan ketenangan dari seluruh penderitaan yang sedang ku alami.

Dia berjongkok didepan ku dan mulai menggosokan handuk itu ke rambutku, juga lengan dan baju-bajuku yang basah akibat anak-anak songong itu yang menceburkan ku ke dalam kolam.

Ketika dia tengah sibuk membantuku, aku tanpa sengaja LAGI memperhatikan wajahnya. Sial! Muncul lagi! Aku bahkan merasakan jantungku yang berdetak sangat cepat. Seperti ada konser musik di dalamnya dan bersiap untuk meledak-ledak.

Ini gila.

“Lain kali, lawanlah. Jangan merepotkan.”Ujar Taeyeon sebelum akhirnya dia berdiri dan berbalik berjalan meninggalkanku.

Siapa yang merepotkan? Dia saja kan yang mau membantuku.

Aku sudah mengetahui ini, sebenarnya, Taeyeon adalah orang yang baik, aku tau itu, namun dia tidak bisa mengungkapkan itu semua dan memilih untuk diam, membiarkan orang-orang menjauhinya.

**

Siang itu, toko roti Tiffany benar-benar sepi. Bahkan untuk hari ini, belum ada satu pelanggan pun yang mau melangkah masuk ke tokonya.

Tiffany hanya bisa terus berharap bahwa semua usahanya tidak sia-sia untuk terus melanjutkan bisnis keluarganya ini.

Karena ini keadaan terus seperti ini, Ia akan segera menutup tokonya. Sebelumnya, keadaan seperti ini tidak pernah terjadi.

Ini benar-benar membingungkan untuknya.

**

Sementara, di kediaman Taeyeon.

Taeyeon hanya duduk di tepi kolam renangnya, sembari terus senyam-senyum memikirkan seseorang yang belakangan ini menginap di pikirannya,

Ia hanya tidak bisa berhenti melihat wajah Tiffany ketika tersenyum, tertawa sampai menangis. Karena ia telah melihat semuanya. Justru semua emosi itulah, yang sangat di rindukannya untuk setiap detik.

Baginya, sangat berat untuk melihat Tiffany menangis, tapi yang bisa di lakukannya hanyalah diam karena sangat tidak mungkin untuknya bisa mendekap tubuh itu.

**

“Saya sudah membeli semua rotinya.”Wanita tua berambut putih itu mengembangkan senyumnya terhadap Taeyeon,

Taeyeon menyambut senyumannya dengan anggukan, ia pun ikut tersenyum,

Mungkin sebelumnya, senyuman sangat sulit untuk terlukis di wajah Taeyeon. Namun sejak kedatangan Tiffany itu di hidupnya, senyumannya kini tidaklah suatu kemustahilan lagi untuknya,

Karena setiap jamnya, ia selalu tersenyum mengingat tingkah lucu Tiffany.

“Kau merahasiakan namaku, kan?”

Wanita tua itu hanya mengangguk dan menjawabnya dengan senyum yang merekah,

Baginya melihat Taeyeon berada dalam keadaan bahagia seperti ini sangat tidak mungkin sebelumnya, apalagi melihat Taeyeon tertawa, dia benar-benar tidak pernah melihatnya,

Wanita tua itu merasa bersyukur karna Tiffany  dapat mengubah Taeyeon yang tidak mempunyai perasaan, menjadi Gadis berpribadi yang lebih hangat dan tenang,

“Tentu saja, Nona.”

Ia sudah lama mengabdi pada keluarga ini, tapi ini adalah kali pertama, ia melihat Taeyeon yang senyumnya merekah-rekah seperti itu.

**

Ini mungkin terdengar gila. Tetapi Tiffany menemukan dirinya terdiam di batang jendela kamarnya. Dia memeluk kedua lututnya. Menenggelamkan kepala dan sesekali membuang napasnya kasar.

Yang benar saja, ia tidak bisa menghapus bayangan wajah Taeyeon yang tidak hentinya mondar-mandir  pikirannya. Ia terlarut akan sosok itu, ia memikirkan hal-hal kecil yang terjadi belakangan ini terhadap dirinya dan gadis sombong itu.

Semakin ia menggali terlalu dalam, semakin berat pusing yang terasa menekan ujung kepalanya.

Baginya, Taeyeon adalah seseorang yang berbeda. Dia menemukan gadis itu lemah, namun kuat di waktu yang bersamaan. Dia bisa melihat tatapan kesepian, sakit, juga depresi di kornea mata indah itu.

Sosok menyebalkan itu kini memperlihatkan sisi aslinya sedikit demi sedikit. Tiffany tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari perubahan Taeyeon akhir-akhir ini. pertama kali ia menubruk seorang Taeyeon. Yang ada di hadapannya hanyalah gadis sombong, kasar dan tidak berperasaan.

Namun jauh di dalam lubuk hatinya. Ia tau, bahwa sebenarnya Taeyeon adalah gadis yang hangat dengan segala kesempurnaanya. Sama seperti Haeyeon.

Mungkin semua orang bisa memanggil Tiffany idiot, karna sekarang ia sedang tersenyum liar mengingat perlakuan kecil Taeyeon yang di berikan padanya. Walaupun wajah dingin itu tidak berubah, setidaknya sentuhannya yang hangat bisa di rasakan jelas oleh Tiffany.

Namun dengan sekelebat dorongan akal sehatnya, dirinya terbangun dari lamunan gila itu.

Nama seseorang yang kini begitu di rindukannya kembali menyeruak dari persembunyiannya, membuat lubang luka baru yang ada di hatinya kini.

Haeyeon-ah…

Terlepas dari semua yang telah terjadi di perjalanan hidupnya bertemu orang-orang baru yang mempunyai karakter yang berbeda. Haeyeon adalah salah satu yang terbaik, yang pernah ia temui.

Ia menemukan dirinya merasa sangat nyaman untuk terus berlama-lama menatap kedua bola mata Haeyeon tanpa memikirkan waktu yang tengah berjalan di sekitar mereka.

Memorinya kembali memutar balik pengalaman-pengalaman buruk yang telah menimpanya di sekolah, dan hanyaada satu orang yang berhasil melindunginya dengan dekapan hangat yang tak akan pernah puas ia rasakan itu.

Sosok dengan sifat yang mengagumkan hangat dan menyenangkan itu membuat hati Tiffany dengan mudahnya meleleh akan kehangatan perlakuannya,.

_________________________________________

 

-JAZZMINE39-

Advertisements

61 thoughts on “CONFUSED (CHAPTER 1/3) BY ATTALOCKSMITH

  1. keren…. bhasanya mudah dmengerti tpi ttp menarik. tp sbenernya agak aneh juga bayangin taeyeonnya kmbar. hehehe… aduh, bkal jd sma yg mna ini?

    Like

  2. Kira sy.. tae itu 1 dan 2 ke pribadian eehh ternyata kembar ia^^
    Hyaeon yg ramah berbanding terbalik dgn tae pendiem cuek serta sombong tp penyankitan 😔😔😔*gak tega sih😢😢😢

    Pany dan hani si sister yg di kagumi hyaeon, sikap yg mandiri bertangung jwb menjaga adek dan toko roti sangat menarik untuk di expose ke dpn kaum penguasa yg sllu bertindak se enak jidat lalu ada jessi disana^^ mnjadi shbt

    GOMAWO thor.. menarik sllu di perbincang di sinie.. ^^

    Like

  3. Gw jadi penasaran sama haeyeon. Betulkah kembaran taeyeon ? Karna pas gw baca gw merasa taeyeon dan hayeon itu satu yah gw kirain penyakitnya taeyeon itu yg punya kepribadian ganda.
    Jadi haeyeon kemana ya? Pengorbanan apa yg di perbuat hayeon sampai dia melepas tiffany?

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s