CONFUSED (CHAPTER 2/3) BY ATTALOCKSMITH

 

TITLE : CONFUSED

AUTHOR : JAZZMINE39

SITE : PRESENTED BY ATTALOCKSMITH

STORYLINE ORIGINALLY FROM JAZZMINE39 (THIS IS REMAKE FROM 1st VERSION)

DATE PUBLISHED : —

GENRE : Drama, Romance, Yuri.

SEBELUMNYA *PENTINGGGG*

maaf ya ngaret banget hehehe. terus maafin kalo ada typo. maafin kalo alur dan bahasnya tidak sesuai harapan….. maafin deh dalam hal semuanya. mianhae~ belum bisa ngemeng banyak nih. tapi cekidot!

pernah saya post di suatu tempat nan jauh di mata. 


 

“YYa!!  Sebaiknya kau cuci tanganmu itu!”

“Majja! Majja! Pasti bau nya menyengat sekali, karena habis membuat roti murah!”

“Omo. Bukan hanya tangannya. Bahkan aku bisa mencium aroma bau busuk dari kotak makannya!”

Tiffany hanya bisa terdiam sembari menatap kosong kedepan. Ia benar-benar mencoba untuk mengabailan cemohan itu. tetapi rasanya sangat mustahil untuk tidak mendengar kata-kata yang begitu menyakitkan keluar dari satu persatu teman sekelasnya.

Sementara, di sudut ruangan. Taeyeon yang biasanya tidak mau tau bahkan masa bodoh dengan situasi yang terjadi di sekitarnya. Kali ini berbeda. Dia menemukan dirinya larut akan perlakuan teman sekelasnya terhadap Tiffany. Bahkan pulpen yang kini ada di telapak tangannya, ia genggam erat-erat. Seakan-sakan itu bisa patah dengan segera.

“Bisa kah kalian diam?”

Semua sorotan mata kini berusaha mencari asal suara tiba-tiba itu. beberapa dari mereka menganga, mengetahui siapa yang baru saja berbicara.

Yap. Kim Taeyeon.

Bocah dingin tidak berperasaan itu baru saja berbicara. Tanpa melepaskan pandangan pada gadis itu, yang lainnya mengikuti gerak-gerik Taeyeon yang kini sudah bangkit dari duduknya.

“Setidaknya, dia berusaha sendiri untuk  kejelasan masa depannya. Tidak seperti kalian, bahkan tidak bisa menghasilkan uang, sedikitpun. Teruslah, merengek.”

Taeyeon  memuntahkan perkataanya sembari terus berjalan kea rah pintu keluar, tak berpaling ke arah murid lainnya yang sedang terkejut mendengar pernyataanya. Termasuk Tiffany. Dia bahkan tak berkedip.

Taeyeon berhenti di ambang pintu, hening masih menyergapi kelas itu yang suasananya berubah menjadi hening sesaat Taeyeon berbicara.

“Dasar. Anak-anak manja.”

Dengan begitu, Taeyeon mengayunkan kakinya keluar kelas. Meninggalkan orang-orang dengan kebingungan yang kini melanda pikirian mereka.


“Fany-ah”Jessica sudah beberapa kali mencoba menyadarkan sahabatnya itu dari lamunan yang akhir-akhir ini tidak ada habisnya.

“Tiffany!”

“Oh!?”Gadis itu akhirnya berpaling ke asal suara yang memanggilnya agak keras. Jessica menggelengkan kepalanya pelan, sesekali berdecak kesal.

“Siapa yang kau pikirkan?”Tanya Jesscia dingin lalu menyeruput jus jeruknya, perhatiannya kembali pada buku yang ada di meja.

“Tidak ada.”Jawab Tiffany singkat, Jesscia kembali mendongak. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa dia masih berbohong, padahal sudah berkali-kali tertangkap melamun seperti sedang memikirkan sesuatu,

Tiba tiba terbesit di benak Jessica, siapa orang yang belakangan ini menginap di pikiran sahabatnya

“Ya… jangan katakan, itu adalah Kim Taeyeon.”

Tiffany dengan kilat menatap sahabatnya dengan mata membulat, “MWO!!!!?”


 

Jessica, Pabo.

 

Bagaimana bisa dia menyimpulkan hal yang sangat tidak masuk akal? Aku? Memikirkan gadis sombong yang menyebalkan itu?

 

Ya, sedikit sih… tapi tetap saja!

 

aku benci harus mengakui ini, tapi dia benar.

 

omo! Apa yang aku katakan!?

 


 

 

Semuanya terjadi begitu cepat, berita bahwa Tiffany adalah anak beasiswa telah menyebar ke setiap penjuru sekolah. Bahkan, tentang toko rotinya, siswa yang tidak mengenal Tiffany pun tau. Banyak dari mereka yang tidak percaya, lalu melayangkan hinaan untuk dirinya. Tapi tidak sedikit juga, yang menaruh rasa kagum mereka akan sosok Tiffany. Ada juga yang memilih untuk diam ketimbang mengurusi hal yang bukan menjadi masalah untuk mereka.

Yang biasanya Tiffany akan merasa baik-baik saja jika Jessica tidak masuk. Ia menemukan dirinya menunduk menghindari tatapan ngeri dari teman sekolahnya. Dirinya yang berani juga tidak pernah peduli itu, kini menjadi sosok yang takut dan lemah untuk tanpa alasan.

Mungkin karna dia sudah mendapatkan terlalu banyak perlakuan kasar.

Pagi tadi, Jessica mengabarinya, bahwa dia tidak bisa menghadiri kelas. Lagi-lagi, itu membuat Tiffany harus membuang napasnya dalam. Ia bukan menyesali itu, tapi. Itu berarti dia harus memakan bekal siangnya sendiri. di saat yang lain berkumpul bersama menukar cerita mereka. Tetapi, Tiffany hanya memakan dalam tenangnya.

Mungkin, itu sebelum orang-orang tau siapa dirinya. Tidak aka nada sesi tenang itu lagi. Dia hanya terus mendapatkan cibiran tanpa henti dari siswa sekitarnya sekarang.

Sepanjang dia melangkah, sepertinya indra pendengarannya tidak pernah istirahat karena harus menerima suara-suara menjengkelkan itu.

“Lihatlah! Lihatlah! Bahkan dia membawa bekal nya dari rumah!”

“Omo! Apa yang dia lakukan?”

“Apa itu di perbolehkan? Bukankah kita harus membelinya dari sana?”

Itu karena, aku akan menghabiskan uang yang ku dapat susah payah hanya dengan menukarnya untuk makanan yang bahkan lidahku menolak untuk mencicipinya.

 

Bagaimana di dunia ini ada orang yang mau membayar makan siangnya untuk 120.000won!?

 

Aigoo… Saesange…

 

Awalnya, Tiffany bisa menerima cibiran itu dengan tenang. Ia bahkan memakan bekalnya dengan perlahan. Padahal, di dalam hatinya. Dia kini mati-matian berusaha menghiraukan kicauan siswa lainnya yang semakin lama, semakin menyakitkan.

Hanya soal bekal, namun lama kelamaan omongan mereka semakin jauh dan akhirnya tiba di masalah keluarga. Kini matanya memanas, mendengar orang mulai membicarakan orang tuanya yang telah tiada, atau soal dia dan adiknya adalah anak yatim piatu yang miskin. Juga tidak tau diri.

Setiap suapan terasa begitu mengganggu karena tekanan yang ia dapatkan sekarang. Waktu terasa berjalan sangat lambat di sekitarnya, dengan cibiran yang tidak ada hentinya.

Tiffany akhirnya memutuskan untuk meletakan sumpitnya. Matanya kini di pejamkan, ia benar-benar sedang berusaha mengabaikannya sembari Manahan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya. Andai Tuhan tau, betapa ia mengharapkan seseorang mau menghentikan mereka.

Tapi……..

Saat air matanya yang memaksa keluar dari kelopak matanya yang tertutup. Saat itu juga ia merasakan seseorang menutupi kedua daun telinganya dengan telapak tangan yang sangat halus. Waktu kembali melambat, ia kini tidak mendengar apapun. Dengan matanya yang masih tertutup. Ia merasakan dirinya sedang ada di ruangan yang gelap dan tenang. Untuk beberapa saat, Tiffany benar-benar menikmati ini. tanpa sadar, dia melupakan siapa yang tengah membantu menjauhkannya dari dunia nyata.

 

Tersadar dari keheningan yang di hasilkan dari situasinya sekarang. Tiffany perlahan membuka matanya.

Tuhan mungkin tidak mengirim seseorang untuk menghentikan mereka seperti apa yang di harapkannya. Namun,

Kini penglihatannya berhasil menangkap figure yang tidak pernah di sangkanya. sudah duduk di depannya, dengan kedua telapk  tangan halus porselennya yang melindungi kedua daun telinga. Dengan sorotan mata nya yang selalu tajam, berubah menjadi tatapan hangat yang menyejukkan.

Dia merasa ini adalah mimpi. Karena kini dia mendapatkan pemandangan yang ia kira tidak akan pernah ia dapatka dari orang ini sampai kapanpun. Seseorang tolong bangunkan Tiffany dari tidurnya.

Ini konyol juga tidak masuk akal. Karena dia mendapati seorang gadis yang sangat-sangat menyebalkan yang akhir-akhir ini terus terlintas di benaknya.

Sedang tersenyum kearahnya.

Jangan dengarkan mereka.

1


 

“Taeyeon-ah!”Panggil gadis berambut coklat itu dengan riang. Kedua matanya melikuk membentuk bulan sabit ketika dia tersenyum. Sementara, seseorang yang di panggilnya hanya berpaling sebentar, sebelum Kembali menaruh perhatiannya kepada buku yang sedari tadi dia baca.

Tidak mendapat jawaban, gadis itu mendengus kesal. Lalu berjalan mendekat,

“Ya!!!!!!”Serunya agak keras. Untungnya kelas sudah sepi, jadi dia tidak merusak pendengaran siapapun kecuali figure yang ada di depannya kini.

“Boya!!?”Jawab Taeyeon kesal sembari menutupi telinganya yang tiba-tiba berdengung akibat ulah temannya itu.

“Bisakah kau tidak mengabaikanku!?”

Tiffany melipatkan tangannya di dada. Lalu menaruh bokongnya cepat di bangku yang ada di depan Taeyeon. Dia menatap Taeyeon jengah, lalu berdecak.

Dia tidak percaya. Dia akhirnya berteman dengan gadis sombong, dingin dan menyebalkan ini.

“Kau ini.. berhenti membingungkanku.”Tambah Tiffany masih menatapnya dengan sorotan kesal,

Taeyeon mendongak. Dia menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat datar. Seperti tidak peduli dengan apa yang sedang temannya bicarakan.

“Sifatmu dingin dan sangat sangat menyebalkan, lalu terkadang, kau tersenyum. Ini aneh, tapi aku melihat ketulusan disana.”

Kata Tiffany sembari meletakkan dagunya di telapak tangan. Dia memutarkan bola matanya, kembali mencoba mencari kata yang tepat untuk mendeskrisikan Taeyeon.

Sementara Taeyeon hanya terus membalikan halaman ke halaman tanpa mencoba untuk mendengarkan burung yang sedang berkicau di depannya.

“Kau mengerti kan? Apa yang ku katakan!?”Tanya Tiffany membuat Taeyeon kembali menatapnya. Kali ini dengan tatapan bingung.

Mati dia.

Dia sama sekali tidak menaruh perhatian pada apa yang Tiffany bicarakan dari tadi. Ia hanya mendengar beberapa bagian, itu pun sangat samar di dengarnya.

“Oh?”

“YA!!! Kim Taeyeon!”

jjajeungnan!”(menyebalkan!)

Seperti itulah hubungan pertemanan Taeyeon dan Tiffany berjalan. Semenjak kejadian di kantin, membuat Tiffany penasaran akan seorang Kim Taeyeon dan sifat-sifat tersembunyinya.

Tidak butuh waktu lama untuknya mempelajari gadis berhati dingin dan sombong itu. ia mempunyai sifat yang hangat juga lembut yang tidak pernah ia tunjukan pada siapapun.  Tiffany adalah salah satu yang bisa membuat Taeyeon memperlihatkan sisi itu.

Selain karna permintaan Ayah Taeyeon, Tiffany menemukan dirinya nyaman untuk terus berada di dekat Taeyeon. Bukan karena perlindungan material yang dia berikan. Namun sifat Taeyeon yang justru membuatnya betah untuk berlama-lama dengannya. Ini sangat konyol untuk di katakan, tapi dia sangat menyukai sifat dingin Taeyeon yang terlihat sangat keren jika ia amati.

Bahkan. Dia menemukan dirinya mengagumi tatapan Taeyeon yang tajam juga teduh di waktu yang bersamaan. Dia juga mulai mempertanyakan hal-hal yang sudah terjadi ketika dia bersama Taeyeon.

Perlahan, mulai melupakan Haeyeon yang kini ia bahkan tidak tau kabarnya sama sekali. dan dia tidak mau merusak situasi hubungannya dengan Taeyeon dengan mempertanyakan soal itu kepadanya.


 

Kim Taeyeon…

 

Uh… sialan.

 

Lihatlah. Lihatlah. Caranya menggulung lengan kemeja nya bahkan lebih menarik perhatianku daripada harus melihat Guru Song berbicara tentang rumus luas sebuah balok yang bahkan terdengar sangat membosankan sekarang. Lagipula, aku sudah menguasainya. Tidak memperhatikannya sedikit. Tidak akan menyakitkan, kan?

 

Aku tau pendingin ruangan ini sedang mati, tapi rasanya semakin panas ketika melihat Taeyeon menyingkirkan keringat yang dari tadi jatuh ke permukaan wajahnya.

 

Omo! Omo! Omo! Dia menguncir rambutnya!

 

Aigoo.. lihatlah leher nya yang begitu menggoda. Putih seperti porselen. Aku penasaran bagaimana harum natural tubuhnya.

 

Mwo!? Tiffany! Apa yang kau bicarakan ini!!?

Garis tegas rahangnya… omo.. saesange..

 

Lalu bagaimana dengan lekukan bibirnya? Jangan di pertanyakan lagi. Dia adalah salah satu dari wanita yang mempunyai bibir seksi yang pernah aku lihat seumur hidupku.

 

So kissable…….

 


 

 

“Yasudah, begini saja. Bagaimana kalau Taeyeon yang memilih. Kunciran siapa yang akan dia ambil ,berarti dia pasangan kerja Taeyeon.”

Akhirnya perdebatan panjang mereka sampai pada ujung nya. Tiffany, Taeyeon, Jessica dan SooYoung sedang berada di ruangan biologi untuk tugas kelompok berikutnya. Jessica merasa bosan untuk terus di pasangkan bersama Tiffany. Dia ingin juga mencobanya bersama Taeyeon atau Sooyoung.

Sementara, Tiffany yang riweuh tidak mau berpasangan dengan yang lain. Karena ia benar-benar tidak menyukai bekerja bersama dua orang sombong yang sangat malas untuk membantu pekerjaan sekolah mereka.

“Call!”Jawab Tiffany juga Jessica bersamaan,

Ketiganya melepaskan kunciran mereka dan di susunnya di atas meja. Sesekali berpaling kea rah Taeyeon, jaga-jaga jika dia akan mengintip. Tapi yang di dapati mereka, hanya Taeyeon yang sedang membaca buku dengan tatapan seriusnya.

Lalu,

Dengan malas. Taeyeon bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendekat kearah meja. Dimana disana sudah ada tiga  kunciran dengan motif yang berbeda. Yang merupakan milik dari ketiga temannya yang sedari tadi berisik, mengganggu waktu tenangnya di senggang waktu pelajaran ini.

Taeyeon sempat memutar bola matanya sebelum akhirnya menunjuk kunciran yang terletak di antara yang lainnya. Itu bermotif bunga-bunga. Yang mana pemliknya segera menyambar,

“YAA!!! KIM TAEYEON!! Kenapa kau memilih punyaku!!?”

“Mana aku tau, itu milikmu.”Jawab Teyeon dengan intonasinya yang begitu datar. Membuat kekesalan Tiffany semakin melepuh di tandu perasaanya.

Taeyeon lalu berbalik,

Dengan membelakangi ketiga temannya. Dia berjalan menjauh sembari menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.

Flashback

 

Taeyeon benar-benar tidak mengerti ini. kenapa dirinya harus duduk di bangku yang bahkan tidak nyaman untuk bokongnya selama berjam-jam hanya untuk mendengarkan seseorang berbicara di depan dengan semua materi yang sangat-sangat membosankan dan tidak begitu penting.

 

Dia sudah mendengarkan musik melalui headphones nya tanpa seorangpun berani menegurnya akan hal itu. di tambah dengan guru yang sedang menjelaskan cara untuk menghitung volume air di dalam tabung, yang baginya bahkan tidak akan pernah menentukan masa depannya dengan melakukan itu.

 

Dia membenturkan kecil pensil yang di genggam ke lantai meja.

 

Taeyeon mendongak, lalu penglihatannya menangkap sosok Tiffany yang sedang bergurau dengan Jesscia sembari tertawa pelan. Jarak bangkunya dengan Tiffany memang agak jauh. Tiffany dan Jessica agak di depan, namun itu tidak menjadi penghalang untuknya melihat senyuman manis Tiffany dari tempatnya duduk.

 

Taeyeon lagi-lagi tersenyum tanpa alasan.

 

Hari ini, Tiffany menguncir rambut coklat bergelombangnya agak tinggi. Memamerkan leher putihnya yang sangat mengalihkan perhatian Taeyeon untuk beberapa saat. Lalu pandangannya jatuh pada kunciran yang sedang mengikat helaian halus rambutnya. Bermotif bunga-bunga. Benar-benar cocok untuk Tiffany.

 

“Baiklah anak-anak. Saya mau di ruangan biologi nanti, kalian menentukan pasangan masing-masing untuk projek tugas berikutnya.”

 

**

 

End flashback


 

 

Dua insane manusia yang polos itu kini duduk berdampingan. Salah satunya bahkan sudah meletakan seluruh beban kepalanya di atas meja sembari terlelap dengan tenang. Dia benar-benar sudah lelah mendengarkan guru yang sedari tadi mengoceh tanpa henti.

Berbeda dengan seseorang yang kini di sampingnya. Dia dengan serius mendengarkan apa yang sedang di jelaskan di depan. Dia merasa, setidaknya untuk kelas ini dia harus berhasil dengan usahanya sendiri. bukan karena orang tuanya. Lamat-lamat dia mulai merasa bosan untuk terus menjadi pelajar baik yang mendengarkan. Akhirnya dia membuang tatapannya ke samping.

Menemukan sosok malaikat sedang mendengkur halus dengan matanya yang terpejam. Tanpa di sangka, dia mengagumi apa yang sedang penglihatannya sergap. Setiap lekuk wajahnya, dia menyukainya. Tanpa sadar, dia menarik sudut bibirnya untuk menyimpulkan senyum.

Taeyeon menemukan Tiffany sangat damai dalam sesi tidurnya dan tidak berniat untuk membangunkan gadis cantik itu. dia berpikir, mungkin Tiffany terlalu lelah hari ini. jadi dia membiarkan gadis itu terus terlelap dan sesekali memeriksa gurunya agar dia juga tidak melihat apa yang sedang Tiffany lakukan. Ia takut, gurunya akan merusak waktu langka putri tidur itu.

Namun, setelah ia rasa cukup untuk mengagumi gadis di sebelahnya. Taeyeon mencoba untuk berpaling dan meninggalkan pemandangan teduh itu. sial dia.

Jesscia mendapatinya sedang memperhatikan Tiffany.

Dan kini dia tersenyum,

Jahil.

Taeyeon merasa dirinya sedang tertangkap basah. Bibirnya terasa kelu untuk di gerakkan. Tatapan Jesscia yang seperti itu membuatnya diam seribu bahasa. Bungkam dalam situasi yang sangat tidak nyaman ini.

“Uh… ada lebah di rambutnya tadi.”

“Tidak ada lebah disini, Taeyeon.”

“Ya. ada. Dia sudah terbang lewat jendela.”

Lalu Jesscia tertawa mengejek, sebelum akhirnya kembali menaruh perhatian pada guru mereka. Dia menggeleng pelan sembari tersenyum mematikan. Meninggalkan Taeyeon dengan semburat merah di pipinya.


 

“Oh? Taeyeon-ah.”Seseorang menyentuh pundaknya. Ia sudah bisa menebak hanya dari suaranya yang khas. Itu pasti Tiffany. Taeyeon berpaling dan mendapati Tiffany sendiri, tanpa bodyguard nya yang telah memberikan efek malu akan apa yang dia lakukan tadi.

Mengingat kejadian tadi, membuat Taeyeon kembali merasa sangat malu karena telah di sudutkan oleh Jessica hanya karena memperhatikan Tiffany. Tiba-tiba saja, rasa malu juga geli itu menggelitik kembali perasaanya.

“Kenapa belum pulang?”

Taeyeon membuang napasnya malas, lalu menjawab dengan nada seperti sedikit kecewa.

“Mr. Lee harus mengurus sesuatu. Sepertinya aku harus menunggunya lebih lama lagi.”

“Oh? Pasti dia akan sangat terlambat sampai kesini. Bagaimana kalau naik bis bersamaku? Kau belum pernah, kan? Anak manja?”

“Ya! siapa yang kau sebut manja!”

Tiffany hanya terkekeh geli. Akhirnya dia bisa membuat Taeyeon setidaknya membalas candaanya dengan beberapa kata yang Tiffany bahkan menyukai cara bicaranya.

Karena merasa tidak terima, Taeyeon akhirnya menyetujui tantangan Tiffany yang baginya agar berat. Maklum saja, dia tidak pernah di perbolehkan untuk menaiki kendaraan umum sejak kecil. Pasti selalu ada limousine yang nangkring di depan sekolah bersiap untuk mengantar dan menjemput seorang putrid raja layaknya kereta kencana di dongeng-dongeng.


 

Ini bukan hari beruntung Taeyeon. Dirinya dan Tiffany bahkan harus berlari sedikit untuk mengejar bus yang lebih dulu jalan sebelum  mereka berdua sampai di halte. Dan kini, dia dan Tiffany harus berdiri dan berdesakan di antara banyak penumpang yang juga mendapatkan nasib yang sama.

Sebenarnya, Tiffany merasakan sedikit tidak enak karena harus membuat Taeyeon

kerepotan seperi ini. tapi, setiap kali Tiffany bertanya apa dia baik-baik saja, Taeyeon

hanya mengangguk dan bahkan memberikan senyuman tipis sebagai jawaban.

Salah satu dari tangan mereka berdua, berhasil meraih pegangan yang menjadi

Penahan mereka agar tidak bergeser dari tempatnya, atau lebih parah jatuh saat bus yang mereka tumpangi menarik remnya.

Namun, karena mobil di depan bus yang berhenti mendadak,  supir bus itu menarik kasat rem nya dengan kasar. Membuat seluruh penumpang yang berdiri harus menahan tubuh mereka lebih lagi.

Namun tidak dengan Tiffany. Kelihatannya dia tidak sekuat itu bahkan untuk menopang tubuhnya sendiri.

Grep!

Karena kini, dia menemukan dirinya sudah ada dalam dekapan Taeyeon. satu tangannya masih menyentuh penyangga. Namun satunya berhasil melingkar sempurna di pinggang Tiffany.

Kepalanya bahkan sudah mendarat sempurna di dada Taeyeon. Membuatnya bisa mendengarkan degupan cepat yang di hasilkan oleh Taeyeon. Matanya membulat mengetahui situasi yang sangat nyaman dan juga canggung di waktu yang bersamaan.

Begitu juga dengan Taeyeon, dirinya benar-benar tidak bisa mengontrol ruang di jantungnya yang sedang mengadakan konser mendadak. Harum rambut Tiffany menyerbak indra penciumannya. Tumpuan tubuh Tiffany bahkan sangat ringan di rasakannya kini. Ia tenggelam dalam perasaan ini, seiring waktu yang berjalan di sekitar mereka saat ini.

Setelah masing-masing mereka, merasa cukup untuk merasakan semuanya yang terjadi begitu tibat-tiba ini. Tiffany tersadar dari mimpi indahnya, dan buru-buru kembali menarik tubuhnya untuk berdiri tegap.

Dia merapikan sedikit rambutnya sebelum akhirnya berdeham,

“Ekhem,”

“Ekhem.”Sembari berbalik dan membelakangi Taeyeon. Di genggamnya baju bagian luar yang menutupi bagian dadanya. Aneh. Dia merasakan detak jantungnya tidak kalah cepat dengan mobil balap yang ia lihatnya di tv

Ia menemukan ini lebih aneh lagi, karena dia hanya merasakan ini ketika dia berada di dekat Taeyeon.

Dan setelah beberapa menit menunggu, keduanya akhirnya bisa meletakkan bokong mereka dengan damai.

Sementara Tiffany senyumnya mengembang. Sesekali dia melihat kearah Jendela. Lalu berpaling untuk nemenukan wajah Taeyeon yang sangat menawan jika dilihat dari pandangannya.

Mereka duduk berdampingan di sisi kiri bus ini.

Taeyeon hanya terus menatap ke depan. Dia merasakan jantungnya yang masih dag dig dug akan kejadian belum lama tadi.

Tring!

Bus berhenti di salah satu halte. Tidak lama kemudian, masuklah seorang nenek tua yang begitu renta. Bahkan untuk menaiki anak tangga yang sedikit itu, dia terlihat sangat kesusahan.

Ketika berhasil membawa seluruh barangnya masuk, nenek itu sempat diam dan kebingungan. Penglihatannya berusaha mencari kursi kosong untuk di duduki. Mimiknya menunjukan harap yang begitu besar.

Taeyeon bangkit dari duduknya dan berjalan kea rah nenek itu. dia membawa barang bawaanya di kedua tangan yang kosong. Mengerti akan situasi, nenek itu tersenyum lalu duduk di tempat yang sebelumnya milik Taeyeon.

Bukan hanya Tiffany yang kini terperangah atas kejadian kecil yang sangat menenangkan hati itu. siapapun yang melihatnya, pasti akan merasa sangat kagum akan sosok Taeyeon saat ini. bahkan sorotan mata mereka benar-benar seperti tersentuh dengan apa yang Taeyeon lakukan.

Tiffany tidak lebih baik, dia jadi tidak bisa memindahkan pandangannya dari gadis bermata coklat madu itu. Taeyeon berdiri di samping tempat duduknya dan nenek tua itu.. sembari satu tangannya kembali menggenggam penyangga.

Kim Taeyeon…

 

Berhenti membuatku seperti ini…


 

“Bagaimana jika begini saja,”

 Tiffany melingkarkan kedua lengannya di dada. Wajah jahilnya ia pamerkan. Sementara Taeyeon mengangkat satu alisnya. Menunggu penjelasan lebih lanjut tentang perjanjian yang akan mereka buat.

 “Siapa yang bisa menginjakkan kaki duluan ke kelas, dialah pemenangnya.”

 “Yang kalah, harus mengerjakan tugas yang menang.”

 “Otteo?”

 Taeyeon lalu memicingkan kepalanya. Dia agak heran dengan temannya yang satu ini. Bagaimana bisa dia menyarankan hal seperti itu.

 Tapi di satu sisi, ia agak setuju. Lagi pula, itu akan lebih memudahkannya dalam mengerjakan tugas. Mengingat, Tiffany dan seluruh kemampuan otaknya yang tidak kalah dengan yang lainnya.

 Namun, rekaman di benaknya kembali memutar beberapa ocehan temannya sepanjang jalan mereka menuju rumah.

 “Aigoo, tanganku rasanya kaku sekali.”

 “Wae?”

 “Banyak pesanan yang datang tiba-tiba. Memaksaku untuk tidak tidur beberapa hari ini untuk membuat banyak kue.”

 Memang, kondisi fisik Tiffany akhir-akhir ini begitu memperhatinkan. Mata panda itu melingkar sempurna di bawah kelopak matanya. Dia sesekali mengoceh merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Memang, pesanan itu memaksanya untuk terjaga semalaman untuk membuat adonan lalu memanggangnya dengan telaten.

 Taeyeon hanya bisa mendengar cerita dan keluhan Tiffany yang tidak ada habisnya dengan wajah yang dingin namun jauh di dalam relung hatinya. Ia benar-benar tidak suka melihat kondisi Tiffany akhir-akhir ini.

 “Call!”

 


 

 

Tiffany mempercepat langkahnya. Bahkan, saat ini gerakannya bisa di sebut sedang berlari. Setiap langkahnya penuh dengan rasa kekhawatiran. Bagaimana jika dia kalah? Dia diam-diam mengutuk dirinya untuk membuat sebuah perjanjian bodoh.

 Sorotan matanya penuh harap. Agar dia tidak menemukan lawan taruhannya lebih dulu sampai di kelas.

 tidak peduli sudah seberapa paginya dia mencoba untuk datang. Tetap saja matahari sudah hampir keluar dari persembunyiannya secara matang.

 Sekarang,

 Tidak ada yang melebihi rasa bahagianya pagi ini. Betapa lega hatinya kini, tidak menemukan siapapun di ruangan kelas yang masih samar pencahayaan ini.  Ruang dadanya yang menyempit mengalami kelonggaran yang benar- benar membuat hatinya penuh akan bahagia yang meluap-luap.

 Ini mungkin berlebihan, tapi. Dia senang.

 Dia mengatur nafasnya yang memburu. Keringat jatuh dengan sempurna dari pelipisnua. Senyumnya mengembang. Bahkan bisa di bilang, dia sedang nyengir kegirangan saat ini.

 “Huh.”

 “Huh.”

 “ASSA!!!!!!!”

 Lalu…

 Terdengar bunyi tapakan sepatu seseorang. Derap langkah kakinya yang du percepat mampu menembus gendang telinga Tiffany.

 Seseorang di belakang berhasil membuatnya untuk berbalik.  Di temukannya sosok Taeyeon dengan nafasnya yang tersengal, seperti habis berlari. Sama sepertinya.

 “Bam! Bam! Aku menang!”

 Flashback

 Taeyeon berjalan dengan santai ke arah gerbang besar itu. Waktu masih menunjukan pukul 5.30. Tapi dia sudah menginjakkan kaki di depan hamparan tanah luas yang berdiri dengan kokoh sebuah bangunan yang orang-orang bilang sekolah. Padahal lebih mirip, dengan komplek kerajaan.

 Masih sisa dua setengah jam sebelum kelas akan di mulai dan siswa lain mulai berdatangan.

 Jujur saja, ini pertama kali dia merasakan udara pagi yang tenang di sekolahnya.

 Sudah hampir tiga puluh menit Taeyeon duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang di dekat gedung olahraga.

 Dia tidak tau bahwa keadaan sekolahnya bisa menjadi salah satu pendukung kebiasaanya yang menyukai tempat dimana bebas dari keramaian, dan orang-orang yang baginya sangat berisik.

 Akhirnya indra penglihatannya berhasil menangkap sosok gadis yang di tunggunya. Dia berlari dengan langkahnya yang di perlebar dari arah gerbang.

 Taeyeon lalu menarik sudut bibirnya untuk menyunggingkan senyum melihat gadis itu.

 Dia benar-benar berusaha.

 Katanya dalam hati,

 Dia mengikuti gadis itu. Tapi bedanya, dia berjalan santai di belakangnya tanpa orang itu sadar bahwa dia tengah mengekor di belakangnya.

 Setelah tak ada lagi di jarak pandangnya, Taeyeon sempat berhenti di ambang pintu gedung yang berisikan kelas-kelas ini.

 Dia menghitungnya dalam hati. Lalu mulai berlari dengan kecepatan yang tidak kalah cepat dari kijanh berlari.

 Setelah sampai di kelasnya, dia mendapati punggung gadis berambut panjang sedang membelakanginya.

 Taeyeon perlahan mengatur nafasnya yang terenggut untuk beberapa saat.

 Saat gadis itu mulai berbalik, tersenyum suringah menatapnya. Pancaran matanya penuh dengan kepuasan.

 “Bam! Bam! Aku menang!”

 


 

 

 

“Bagaimana menurutmu, Tae?”

Taeyeon mendongak. Ekspresinya tidak berubah. Kini berdiri di hadapannya, Tiffany dengan  dress jumper knitted. warnanya sangat cocok untuk kutih putih bersinarnya.benar-benar menggambarkan Tiffany yang mempunyai kelas.

“Aku tidak percaya seseorang mau memberiku sesuatu seperti ini. di luar dugaanku. Aku mempunyai penggemar!”Serunya dengan intonasi yang sangat bersemangat.

Bagaimana tidak, pagi ini. di depan pintu rumahnya. Seseorang meninggalkan kotak berwarna hitam dengan pita mas yang menghiasi. Dia begitu bingung, karena seingatnya. Dia tidak pernah memesan atau bahkan berniat untuk membeli sebuah pasang dress.

Namun, tanpa memikirkan lebih lanjut siapa pengirimnya. Yang jelas ia sudah terlanjur senang, mengetahui seseorang sudi membelikan dress yang ia yakin harganya sangat mahal. Karena ini dari brand fashion ternama di dunia.

“Indah kan, Tae?”

Ya. indah. Apa lagi karena itu melekat di dirimu.

 

“Tidak. Karena kau adalah orang yang memakainya.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya. Menggembungkan pipinya sebelum akhirnya mendengus kesal. Berkicau kecil betapa menyebalkan Taeyeon telah mengatakan hal seperti itu. tanpa di sadarinya, Taeyeon sudah mengukir senyum tipis di bibirnya. Dia harus akui ini, bahwa Tiffany berhasil merenggut semua nafas karena penampilanna yang begitu anggun di mata Taeyeon.

Ia ingin sekali memuji Tiffany, tetapi desiran gengsi dan malu sudah menyergapnya lebih dulu. Dia bahkan bingung kenapa hati beku es nya itu bahkan bisa merasakan hal-hal seperti itu. dan anehnya, itu terjadi hanya jika ia berada di depan Tiffany.

Taeyeon berbalik , hendak berjalan meninggalkan Tiffany sendiri di ruang ganti.

“Kim Taeyeon, kau begitu menyebalkan.”

Langkahnya terhenti karena mendengar itu, “Terserah.”

11048772_1600615150209777_8900060259344326793_n

Flashback

 

Taeyeon tidak mengerti, kenapa ia masih harus megikuti pelajaran tambahan ini. dia sudah cukup pusing dengan sekolah dan semua tugasnya. Kenapa ia juga harus ikut-ikutan di kelas yang khusus mengajarkan anak-anak konglomerat saja, tentang berbisnis di dunia yang makin lama, makin kejam ini.

 

Mungkin, awalnya ia memang merasa mempunyai rasa itu. tanggung jawab akan dirinya yang terlahir sebagai kakak tertua di keluarganya. Tetapi, kini sudah ada yang menggantikannya. Ia kadang merasa sedikit bersyukur atas penyakitnya, ia tau itu terdengar bodoh. Tapi Taeyeon tidak bisa membohongi perasaanya sendiri yang merasa sangat tertekan akan semua situasi yang ada di sekelilingnya. Apalagi menyangkut tentang kewajiban dan takdirnya.

 

Tapi, beruntungla dia. Seseorang yang merupakan jelmaan lain dari dirinya. Mau menggantikan posisinya sebagai kakak tertua, juga sebagai. Calon pemimpin perusahaan besar dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

 

“Beruntung, kelas kita ada di dalam Mall.”

 

Kelas khusus ini memang terletak di salah satu mall termegah yang ada di bilangan kota Seoul. Membuat Taeyeon dan teman-teman kaya rayanya, tidak merasa bosan akan kelas itu. sangat membantu memang, karena banyaknya tekanan yang selalu ada di belakang mereka.

 

Tuntutan hidup, seperti itulah orang mengatakannya.

 

Taeyeon dan temannya memanfaatkan waktu istirahat untuk sekedar melihat-lihat juga melepas penat dan lelah yang tak hentinya mengepung mereka.

 

Sampai pandangan Taeyeon jatuh pada sebuah dress jumper knitted hitam. yang terpajang dengan anggun di salah satu pameran brand terkenal juga termodis di dunia.

 

“Dia pasti akan cocok memakainya,”Umpat Taeyeon kecil, namun bisa di dengar oleh temannya. Sunny.

 

“Siapa, Taeng?”

 

“Oh? Aku tidak mengatakan apa-apa.”

 

“Wa.. ippeuda!”Temannya lalu mendekat kea rah Dress yang sedari tadi mampu mencuri perhatiannya.

 

 


 

 

Still Author View

 

Semua orang di luar ataupun di dalam sekolah pun tau. Bahwa, Taeyeon dan Tiffany kini menjadi teman baik. Walaupun yang mereka tangkap hanyalah Taeyeon yang dingin dan dengan wajah datarnya dengan sabar mendengarkan ocehan Tiffany yang tidak pernah habis. Ataupun Tiffany yang selalu tertawa dan melompat-lompat dengan Taeyeon yang fokus pada buku yang di genggamnya sembari satu tangannya di gaet oleh Tiffany.

Tapi, kini. Dimana ada si dingin Taeyeon. Disitu juga ada si periang Tiffany.

Belum lama ini, Taeyeon berhasil member pelajaran beberapasiswa perempuan yang mengerjai Tiffany habis-habisan. Mereka merusak sepeda Tiffany lalu membakarnya. Menghancurkan lokernya juga menulis kata-kata kasar di meja Tiffany.

Tanpa Tiffany ketahui, Taeyeon mengatur pertemuan dengan mereka. Awalnya Taeyeon memberikan kesempatan untuk mereka meminta maaf pada temannya. Tapi, yang di dapatinya hanyalah penolakan dengan nada gaya bicara yang menantang. Membuat Taeyeon geram.

Besoknya, mereka mendapati pemberitahuan. Bahwa mereka harus meninggalkan kelas dan pelajaran selama sebulan. Sebagai hukuman karena telah melakukan bullying. Tentunya, dengan tambahan fakta bahwa Taeyeon adalah anak dari pemegang saham terbesar di sekolah ini.

Itu sangat mudah di lakukannya, seperti menjentikkan jari.

Lalu, suatu siang. Taeyeon beralasan bahwa dirinya mempunyai urusan di sekolah yang masih harus di selesaikannya. Jadi, Tiffany berencana menaiki kendaraan umum lagi, mengingat sepedanya yang sudah tidak bisa terpakai lagi.l

Namun, karena dirinya tiba-tiba mengingat buku pelajaran yang tertinggal di loker kelas. Tiffany memutar kembali ayunan kakinya menuju kelas.

Di dapatinya sosok Taeyeon yang sedang membungkuk.

Lalu, Tiffany sadar. Gadis itu tengah membersihkan mejanya yang kotor dan penuh tulisan-tulisan menyakitkan yang di ciptakan oleh siswa lainnya.

Taeyeon sesekali menyingkirkan piluh keringatnya yang jatuh dalam jumlah yang lumayan banyak. Sembari kedua tangannya masih sibuk dengan kain lap. Tiffany menemukan dirinya tersenyum untuk suatu alasan yang jelas.

Kali ini, hatinya tak mungkin salah.

Disana, berdiri seorang gadis berambut hitam. Dengan sifat menyebalkan, juha senyumnya yang hangat di waktu bersamaan.

Dan dia telah jatuh, untuknya.

iPY49BPAARbTp


 

“Nah, jika kau menemukan soal seperti ini lagi. Kau bisa membuka lagi contoh jawaban di halaman ini.”

“tapi, ingat. Lihatlah awalan dan cari tau dulu akarnya.”

Taeyeon tidak pernah menemukan Matematika menjadi semudah ini jika dia memperlajarinya dengan siapapun. Termasuk gurunya sendiri di sekolah.

Aneh untuk di katakan, tapi ia sungguh mengerti materi membosankan, menyebalkan, juga menyusahkan ini jika Tiffany lah yang memgajarinya. Entahlah, suara dan intonasi Tiffany yang halus juga lembut, membuat Taeyeon betah untuk berlama-lama di samping Tiffany. Mendengarkannya berbicara, sesekali melirik bibir merah mudanya yang dia punya.

Taeyeon bahkan mendapati dirinya menelan salivanya sendiri setelah memperhatikan lekuk bibir Tiffany. Sebelum akhirnya kembali pada papan wajahnya dan pura-pura mengangguk tanda dia mengerti.

Nah. Arraseo?”

 Taeyeon mengangguk sembari menyunggingkan senyum tipisnya lagi. Membuat Tiffany sangat senang melihatnya tersenyum seperti itu. apa lagi jika dirinya sendiri yang menjadi penyebab di balik senyum langka yang hampir punah itu.

Namun, Tiffany kini merasa sedikit gerahdan panas secara tiba-tiba. Karena Taeyeon tidak memalingkan pandangannya dan terus menatap lurus dirinya. Dia mulai khawatir saat melihat senyuman Taeyeon yang tidak langsung luput seperti biasanya.

Kali ini sedikit lebih lama, lalu dia menunduk. Membuang napasnya perlahan, Tiffany kembali melihat Taeyeon mendongak dengan lukisan senyum teduh di papan mukanya yang menawan.

“Aku ingin berterimakasih padamu,”

Tiffany awalnya kaget mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut seorang Kim Taeyeon. Berterima kasih? Itu sangat bukan Taeyeon. Yang mana dingin, cuek dan tidak berperasaan.

Namun, Tiffany lebih memilih untuk diam, dan mengharapkan Taeyeon mau lebih terbuka lagi dengan melanjutkan kata-katanya yang menggantung,

“Sebelum bertemu denganmu, aku selalu marasa sendiri.”

“Tapi setelah mengenalmu, aku semakin sadar.”

“Bahwa punya teman satu saja, disisi kita. Sudah cukup”

“Dunia tidak terasa sepi lagi.”

“Dunia jadi menyenangkan. Dan itu semua karenamu. Fany-ah.”

Fany-ah…

 “Aku merasa bersyukur. Gomapta, Tippani.”


 

 

-JAZZMINE39-

 

Advertisements

55 thoughts on “CONFUSED (CHAPTER 2/3) BY ATTALOCKSMITH

  1. Taeny makin lengket aja. Tks to fany yg membawakan dunia yg baru untuk taeyeon jadi taeyeon gak merasa sendiri lagi. Sakitnya tae parahkah?

    Like

  2. Makin banyak moment taeny nya 🙂
    Tae sweet banget sih hahaha
    Diam-diam dia perhatian dan jadi pelindung fany ( ´ ▽ ` )ノ
    Btw kapan dilanjut ya confused? Udah setahun lebih

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s