Bitter & Sweet (One Shoot) BY JAZZ

Hello. Locksmith! Back to jazzmine here.

This is my first mellow one-shoot just dreaming. Pairing our two cutie angels. Taeny.

I’ve never wrote anything this simple. Hoped you guys can feel the atmosphere.

Actually, its inspired by story titled The Last Person, by humyourheart. Hopefully, it would be sweet as much as the original.


Sesekali menyesap minumnya yang hampir dingin. Berlama-lama disini membuat udara di sekitarnya tak membaik. Malah, semakin terasa mendalam ke tulang rusuknya.

Kedinginan tak pernah seindah ini, setidaknya sebelum ia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku penonton lapangan football sekolahnya. Ia bukan seorang gadis yang tertarik untuk menyaksikan cowok-cowok keren yang bergulat dengan otot mereka menjatuhkan lawan masing-masing dan melempar gundukan bola yang di perebutkan, bagaikan permen manis yang sering di makannya dulu.

Lalu kenapa di sana? Bahkan ketika bola itu berhasil melambung tinggi saja, ekspresi nya tak berubah. Justru akan murung mengetahui yang di saksikannya menepi ke sisi lapangan yang lain.

Jatuh cinta di waktu dan kondisi yang salah dan berbanding terbalik.

Mungkin juga, dengan seseorang yang tak pernah di sangka.

Dia pernah mendengar sedikit tentang mengagumi. Itu seperti.. manis untuk di lihat, bukan?

Bahkan lebah tidak akan menghampiri sari bunga yang rasanya pahit.

Tiffany.

Dirinya bahkan tidak pernah menyukai olahraga. Heck, bahkan dia tidak berbakat dalam apapun yang terlibat olahraga. Atau  bahkan tipe-tipe nya yang lain, yang tak pernah sedikitpun menarik minatnya untuk mendalami bahkan satu bidang saja.

Apalagi, team sekolahnya yang sedang bertanding melawan team dari sekolah lain dalam perlombaan persahabatan. Ia bahkan tidak memikirkan bagaimana pertandingan ini berjalan, dan apapun hasilnya. Ia tidak peduli.

Tiffany menjaga pandangannya agar tak kabur dari sosok itu yang tak henti-hentinya menjadi pemandu suara untuk bersorak mendukung team sekolah nya dari bilik penonton.

Rambut di kuncir kuda, check. Rok mini, check. Seragam ketat cheers dengan perut ratanya yang terekspos, check. Senyum cantik bersinar, check. Dan akhir dari semuanya, kapten cheerleader yang lucu dan sexy, check check check.

Memikirkan bagaimana dirinya bisa tertarik pada seorang gadis saja, agak geli. Heck, bahkan dia sempat menge-claim. Bahwa dirinya normal.

Setidaknya itu semua, Sebelum dia bertemu dengan kapten cheerleader di tahun seniornya yang baik nan anggun itu. dia tidak pernah tau bagaimana rasanya untuk memandang seseorang dan tersenyum tanpa alasan yang jelas.

Kim Taeyeon.

Dia jelas-jelas naksir pada seseorang yang  harapan untuk bersamanya mencapai batas ke putus asaan.

Entah bagaimana lagi caranya, dia menangkap Taeyeon yang mengedipkan sebelah matanya. Dan itu secara tidak langsung, di tujukan hanya untuknya. Sebelum Tiffany kembali berpaling dan cetakan merah di pipinya semakin menyembul keluar.

Taeyeon memang sangat handal untuk terus menggodanya.

Faktanya, ketika kau mempunyai crush terhadap seseorang, kau akan menyadari, setiap hal yang ada pada dirinya, tidak peduli seberapa kecil dan saat mereka melakukannya untukmu, kau akan merasa sangat tersentuh, meskipun itu hanya suatu hal yang sangat sederhana di dunia ini.

Tiffany tak akan pernah bisa cukup akan hal itu, terutama dari kapten cheers. Kim Taeyeon. Yang-dengan-keajaiban-Tuhan. Telah menjadi pacarnya untuk beberapa bulan ini.

Ya. pacar. Kekasih. Beloved. Lover.

Memikirkan dia bisa memanggil gadis blonde berprawakan sexy itu sebagai pacarnya saja, seperti suatu ketidak mungkinan yang bahkan sudah menghampirinya lebih dulu.

Bagaimana bisa di dunia ini, dirinya yang sederhana, tidak kaya, dan berparas biasa saja bisa menjadi pacar perempuan dari kapten cheers itu yang bahkan seorang ratu dari lapisan sosial di sekolahnya.

Gemar membaca buku, apapun itu type dan genrenya. Buku pelajaran, atau novel-novel yang iseng di bacanya untuk mengisi waktu luang. Kacamata yang setia bertengger di batang hidungnya yang mancung. Sembari menyesap kopi panas yang di beli nya seharga 2000won.

Mengikuti lomba-lomba yang hanya di ikuti oleh siswa-siswa cerdas di bidang biologi, matematika atau bahkan kimia. Yang orang awam saja, bahkan tidak akan mengerti apa itu H2O, CH2O, CAco3. Atau semua jenisnya yang sangat membingungkan bagi dunia itu.

Tidak jarang dia akan menjuarai lomba cerdas cermat yang di adakan oleh pemerintah regional di tempatnya tinggal. Menghabiskan waktunya seharian di perpustakaan sekolah, adalah hobby utamanya.

Entah untuk memberikan senjata pengetahuannya agar lebih luas, atau bahkan hanya numpang tidur di bilik baca di lantai dua perpustakaan.

Lalu  bagaimana dengan dirinya yang menyandang sebagai pacar Kim Taeyeon.

Si kutubuku Hwang dan si Sexy imut Kim.

Bahkan dunia perkuliahan ini, seperti dongeng siang bolong bagi Tiffany untuk menjadi nyata. Tak sedikit yang memandangnya dengan tatapan dengki dan marah ketika menemuinya sedang bersender di depan ruang ganti cheerleader sesekali menaikkan kembali kacamatanya ke tempat semula.

Menunggu seseorang tidak pernah semenyebalkan itu. tapi, baginya menunggu cinta, ia bahkan rela untuk mendapatkan beberapa cemohan kasar dari teman-temannya.

Kim Taeyeon. Social butterfly.

Heck, bahkan siswa dari universitas lain sudah mendengar namanya. Lebih parah lagi, sebagian besar menjadi penggemar kapten cheerleader yang mempunyai senyum menawan itu. teamnya bahkan selalu menjuarai berbagai kompetisi antara daerah maupun luar Negara. Itu semua juga berkatnya, menjabat sebagai kapten di teamnya tidak semudah dia mendapatkan segalanya. Banyak yang harus di laluinya.

Ketika dia berjalan di lorong bersama teman-temannya yang kebanyakan adalah kumpulan gadis kaya yang cantik, sexy, namun sikapnya nol besar. Semua sorotan di peruntukkan untuk kumpulan bidadari khayangan itu.

Berbeda dengan Taeyeon. Dia tidak seperti temannya kebanyakan. Mungkin memang, dia agak nakal. Tapi itu tidak berarti tata karamanya buruk. Dia sopan, anggun, peduli terhadap sekitarnya. Juga tidak selalu menghina orang seperti yang di lakukan temannya.

Semua mata akan langsung menancapkan sorotan pandang mereka untuk Gadis itu, tidak peduli sedang apa dia, dan dimana dia berdiri. Decakan kagum tak sulit untuk di dengar ketika dirinya lewat menembus angin dingin lorong sekolah. Pancaran terpesona bin terhipnotis juga selalu di dapatkannya.seperti menjentikkan jari.

Dia juga seperti anak muda kebanyakan. Tidak pernah absen untuk menghadiri pesta-pesta liar yang di adakan temannya. Dia akan langsung menjadi ratu dari acara itu dan menjadi santapan lezat bagi para teman lelaki lainnya. Dengan tubuhnya yang seperti itu, ia akan langsung di lingkari beberapa pria kekar yang mencoba untuk merayunya.

Namun, Taeyeon pasti selalu menemukan cara agar dirinya tidak menjadi penutup hidangan yang manis untuk mereka. Dia memang pintar, juga licik.

Keramaian semakin berderu di telinga Tiffany saat orang-orang mulai bersiul dan bersorak girang melihat sekumpulan cheerleaders yang mempesona itu memasuki arena lapangan lagi.

Tiffany memanjatkan doa untuk surga ketika menangkap kekasihnya akan segera di sangga ke atas 6 orang piramida. Bintang nya. Bintang hatinya akan segera bersinar disana.

Dia menatap tajam pada dua pria yang seharusnya akan menggapai tubuh kecil pacarnye ketika di turunkan nanti.

Akan ku bunuh kau dengan pensil. Jika kau menjatuhkannya.

Lalu dia mendesah dengan tenang ketika mereka menangkap pacarnya dengan sangat mudah.

Memang selalu ada hal yang membuatnya tegang juga khawatir untuk melihat penampilan team cheerleaders sekolahnya. Terutama karna Taeyeon adalah seorang flyer.


tumblr_n7p611fMTu1s86yfto1_500

Tiffany bersender pada dinding dingin di depan ruang ganti pacarnya. Menunggu sembari terus membenahi kacamata yang hampir lolos dari hidungnya. Melihat ke langit-langit sembari sesekali memikirkan tema debat apa yang akan dia tampilkan pekan depan.

Sama sekali tak memperdulikan sorotan tajam yang di tujukan padanya dari siswa yang berlalu lalang. Beberapa dari mereka melontarkan ekspresi tidak percaya dan kecewa. Tak sedikit juga, yang memujinya karna sandangan dia sebagai kekasih dari kapten cheers.

“bisakah kau percaya itu?”

“Dia cantik juga,”

“Dia juga sexy.”

“Bagaimanapun, keduanya imut dan sexy.”

“Benarkah type Kim Taeyeon seperti itu?”

Memorinya kembali memutar bagaimana dirinya dan Taeyeon dengan campur tangan Tuhan  bisa menjadi pasangan. Tak pernah ada. Sejarah di keluarganya untuk mengencani orang populer nan menawan. Bahkan, Ayahnya yang merupakan ilmuan saja, bertemu ibunya di suatu lomba debat yang di adakah sekolah mereka.

 

Namun, disinilah dirinya. Duduk tepat di hadapan kapten cheers yang mempunyai kulit putih mulus porselen yang mengalihkan perhatiannya.

Tiffany memanjatkan syukur lagi, karena dirinya merupakan salah satu siswa cerdas yang di percayai sekolah untuk membimbing siswa lainnya yang tak sempat untuk mengikuti kelas karna berbagai kegiatan yang memaksa mereka untuk keluar dari lingkaran universitas megah ternama di Seoul ini.

Kali ini, dia tidak bisa mengutuk takdir. Mendapati dirinya harus membimbing Taeyeon di pelajaran yang di lewatinya, merupakan rekor terjauh yang ia capai setelah mengagumi gadis yang lebih tua itu selama setahun.

Keduanya hanya saling menatap dengan canggung. Sesekali Taeyeon mencuri pandangannya pada sorotan mata Tiffany yang malu-malu. Seakan mengerti, Taeyeon memincingkan bibirnya untuk tersenyum.

Senyuman paling licik yang hanya ia dan Tuhan yang tahu, apa maksudnya.

“Jadi, Hwang. apa kau pikir, aku menarik?”

Tutoring selanjutnya hanya terisi dengan gelak tawa riang dari keduanya yang terlihat seperti menikmati kenyamanan waktu bersama mereka. Keduanya terbuka akan kehidupan masing-masing.

Sampai Taeyeon mulai mendesak Tiffany untuk jujur akan perasaanya sendiri. karna dirinya sudah tak bisa menyangkal, bahwa dirinya tertarik dengan semua yang melekat pada gadis culun itu. tak sulit baginya untuk jatuh hati pada pesona nya yang kalem juga menyenangkan di waktu bersamaan.

Suatu hari, Tiffany akhirnya berani melawan rasa takutnya untuk menanyakan langsung pada ketua club olahraga bidang cheerleader itu.

Dirinya bertanya-tanya apa yang akan Taeyeon berikan sebagai jawaban, dari semua pertanyaan hatinya yang ia coba untuk kubur dalam-dalam.

“Yang sebenarnya?”

“Aku menyukaimu, Hwang. Sangat. Kau membuatku merasa spesial.kau membuatku tertawa,kau berbeda. Kau sangat pintar, lucu dan sedikit gila. Senyumanmu berhasil membuat semua hari beratku terasa lebih mudah.”

Dengan itu, mereka berdua tak akan bingung dengan masalah hati mereka lagi. Sudah jelas, Taeyeon adalah tambatan hatinya. Dan ia berharap, dia akan menjadi tempat pemberhentiannya untuk bahagia. Selama mungkin.

Disana. Taeyeon pasti selalu menjadi yang terakhir untuk melangkah keluar dari ruang ganti. Untuk ke sejuta kalinya, Tiffany menemukan pacarnya begitu mempesona walaupun hanya dibaluti kaus oversize putih, dengan hotpants hitam juga sneakers yang melindungi kaki putih mulusnya. Oh, tidak lupa jaket varsity pink bertuliskan namanya yang di dapat karna menjadi anggota sekaligus ketua club cheerleaders.

Kedua teman yang sedang mengajaknya berbicara itu, akhirnya menangkap sosok Tiffany dan lebih memilih untuk pamit duluan dari hadapan Taeyeon sebelum mencapai ujung lorong ruang ganti yang hanya di batasi pintu.

Taeyeon hanya mengangguk sembari menyunggingkan lagi senyumnya untuk dua anggotanya. “Annyeong, Unnie!”

Dia mengedarkan pandangannya. Menyergap sosok Tiffany yang masih bersender pada dindingnya. Masih menggunakan seragam sekolahnya. Sembari mendekap tumpukan buku, sesekali menaikkan lagi kacamatanya yang hampir merosot.

She Is so adorable. Umpatnya pelan, sebelum akhirnya berjalan mendekat ke gadis yang lebih muda itu.

“Hei.”Sapanya dengan suara lembut, Tiffany hanya membalasnya dengan senyuman. Sebelum akhirnya Taeyeon merengkuh pelan tubuh kecil Tiffany.

Tiffany yang mengetahui ini, hanya bisa memejamkan matanya. Membenamkan wajahnya di bahu Taeyeon dan indra penciumannya segera menangkap aroma khas pacarnya. Melingkarkan kedua lengannya di pinggang kecil itu.

Taeyeon mulai mengusap punggungnya dengan gerakan pelan, hal kecil ini justru membuat gadis yang ada di bawahnya jatuh semakin dalam akan sosoknya.

Merasakan sesuatu yang berbeda, karna dirinya di tarik lebih erat oleh Tiffany. Dia mengerti sesuatu, pasti ada pikiran yang mengganggu gadisnya baru-baru ini.

“Ada apa?”Tanyanya tanpa berpikir untuk melepaskan pelukan mereka.

Hanya mendapat gelengan, dia akhirnya perlahan melepaskan dekapannya. Mencari jawaban lewat sorot mata Tiffany yang nanar. Apa ada hubungannya dengan gunjingan orang? Atau bahkan dirinya? Apa Tiffany mengalami hari yang buruk?

Pertanyaan-pertanyaan itu rasanya tak jarang menghampiri benaknya. Setiap kali ia menemukan kekasihnya dengan raut wajah yang sedih.

“Apa penampilanku sebegitu jeleknya?”

Tiffany menaikkan satu alisnya. Bagaimana bisa itu di katakan jelek, ketika ia sama sekali tidak berkedip menyaksikan gerakan-gerakan sempurna dari si kapten cheers itu.

“Apa yang kau katakan, Taeyeon-ah? Itu mengagumkan.”

Mendengar jawabannya, Taeyeon merasa bahwa bukan itu hal yang mengganggu pikirannya. “Lalu kau kenapa?”

Tiffany mengambil napasnya dalam sebelum membuangnya dengan sempurna.

“Apa kau harus menjadi seorang flyer?”

“Hmm?”

Taeyeon kurang menangkap apa yang di katakana kekasihnya. Atau mungkin kurang yakin akan pertanyaan seperti itu.

“Apa kau harus menjadi yang di angkat lalu di jatuhkan lagi?”

Kali ini, Taeyeon mengerti apa yang di maksud bintang hatinya itu. dia hanya tertawa kecil mendengar pengulangan Tiffany. Mencari-cari lagi pertanyaan yang jujur di tatapannya. Mulai menurunkan nada tawanya yang hangat.

“Wae?”Tanyanya masih tertawa,

Tiffany hanya bisa memutar bola matanya mendengar Taeyeon tertawa. Ini seperti pertanyaannya hanya lelucon untuk kekasihnya. Padahal ia sedang bersungguh-sungguh.

“Bagaimana kalau kau jatuh?”tanyanya dengan intonasi yang serius,

Membuat Taeyeon menyerah akan  tawanya dan kembali menarik tubuh Tiffany untuk di sergapnya.

“Omo.. itu tidak akan terjadi, Fany-ah.”

“Di dunia ini, semuanya mungkin.”Jawan Tiffay cepat. Dia mengeratkan dekapannya pada pinggang kecil kekasihnya.

Mengetahui kekhawatiran Tiffany, bahkan untuk hal ini. Taeyeon merasa sangat tersentuh. Jarang sekali, ia mendapatkan perhatian dari orang-orang terdekatnya. Bahkan, orang tuanya pun tak pernah memperhatikan hal paling kecil yang ada di dirinya.

Sementara. Yang dimiliki Tiffany berbeda. Ia hanya  bisa jatuh dan jatuh semakin dalam akan segala perlakuannya yang ia tau, tak aka nada habisnya.

Dan ini juga menjadi tolok ukur hubunganya dengan Tiffany akan berjalan lebih lama dari pemikirannya. Setidaknya, itulah yang terus menjadi harapnya ketika ia membuka mata di setiap paginya.

“Just, don’t get hurt. You heard me?”

“Okay.”


Dia terlihat kesusahan untuk memakai heels nya yang agak tinggi. Jadi dia meloloskannya dari kakinya yang mulus untuk bisa menyetir lebih baik. Maklum saja, dia baru saja kembali dari pesta yang biasa di adakan oleh teman-teman sekampusnya. Tak mau menjadi pacar yang menjadi contoh buruk, ia lebih memilih untuk pulang lebih sore. Walaupun sore yang di maksudnya adalah pukul Sembilan malam.

Tetap saja, ia tidak ingin membuat seseorang khawatir akan kebiasaanya. Mereka baru bersama beberapa bulan, dia tidak mau di lihat sebagai gadis yang nakal, pada saat pacarnya sendiri adalah pribadi yang jauh lebih baik darinya.

Saat perjalanannya kembali, terbesit di benaknya untuk membelikan makanan kesukaan gadisnya yang mungkin sedang berada di asramanya sekarang. Melihat papan bertuliskan nama dessert korea yang terkenal, dia menepikan mobilnya.

Patbingsoo.

Aku harap dia belum tidur.

Katanya dalam hati sembari melirik kearah bingkisan yang ada di kursi penumpang. Bingkisan yang berisi rasa peduli dan perhatiannya akan pacarnya.

Tap tap

Tok tok tok

Decitan pintu terdengar. Mungkin karna lorong nya gelap, Taeyeon merasa silau ketika pintu mulai terbuka. Namun cepat-cepat dia melemparkan senyumannya pada gadis yang nampaknya belum juga tertidur itu. bahkan dia masih memakai seragam atasannya lengkap dengan kacamata yang setia bertengger di hidung mancungnya.

Taeyeon biasanya tidak akan peduli pada penampilan orang-orang sekitarnya. Tetapi ketika topik itu sampai pada kekasihnya. Ia akan memikirkannya lebih banyak.. dia terlihat lucu dengan jaketnya. Kenapa dia begitu mengagumkan? Dia cocok memakai apa saja. Dia benar-benar cantik. Hal hal seperti itulah yang menubruk pikirannya ketika mendapati sang kekasih berdiri di depannya seperti sekarang ini.

Sementara gadis di depannya, tak  bisa memungkiri kupu-kupu yang kini menari liar di bawah perutnya. Melihat sosok itu yang berdiri dengan senyumannya, mampu membuat hatinya jungkir balik sekarang.

“Taeyeon..”Katanya,

orang itu memamerkan bingkisan yang di sembunyikan di belakang punggungnya.

Mengetahui apa isinya, Tiffany tersenyum melikukan kedua matanya seperti bulan sabit.

Itu dia. Senyuman yang membuat jantungku terasa mau copot.

Aish, Hwang.

Jantungku…

Tak peduli seberapa banyak likukan senyum bibir tipis yang ia dapat dari pacarnya, ia tak akan pernah merasa bosan mengetahui alasan di balik semua senyuman itu. adalah dirinya.

“Gomawo, Tae..”

“Tiffany! Siapa yang berkunjung malem-malem begi—“

“Omo…”

Wanita  yang mempunyai rambut coklat madu dengan paras cantik itu lalu terdiam di belakang Tiffany. Mengetahui siapa yang baru menganggu sesi belajar mereka malam ini di kamar asrama sahabatnya. Untuk beberapa saat ia tak bisa begitu saja percaya apa yang sekarang di lihatnya.

“Oh? Annyeonghaseyo.”Taeyeon membungkukkan badannya. Lalu menarik sudut bibirnya untuk tersenyum pada gadis itu yang masih menganga. Memorinya kembali memutar sebentar. Rasanya dia sering melihat gadis ini.

Oh ya.. dia yang sering bersama Tiffany..

Dia merasa sedikit buruk sekarang. Gadis itu adalah teman, bahkan ia yakin sudah menjadi sahabat pacarnya. Tapi disinilah dia, ini adalah pertama kali mereka berinteraksi ketika faktanya hubungan ini sudah berjalan cukup lama.

Tersadar dari lamunannya, bukan. Mungkin lebih tepatnya di sadarkan dengan sikutan dari Tiffany yang agak keras.  Menandakan dia harus membalas sapaan kekasihnya yang menggantung tanpa jawaban.

Annyeonghaseyo..”Akhirnya dia membalas.

“Kim Taeyeon- Imnida..”Lagi-lagi Taeyeon membungkuk. Memperkenalkan dirinya. Sementara kekasihnya hanya tersenyum memperhatikan mereka berdua. Kekasih dan sahabatnya saling berkenalan.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, dia bisa merasakan atmosfir hangat antara keduanya sekarang. Sudah lama, ia ingin memperkenalkan keduanya, tetapi memang tidak pernah sempat.

Ia sangat menyukai sisi Taeyeon yang mau bergaul dengan siapa saja, tak tekecuali dengan siswa-siswi yang kopopulerannya tak secerah dia. Dia begitu sederhana. Dress itu cantik ketika dia yang memakainya. Taeyeon adalah sosok kekasih  yang hampir sempurna. Seperti itulah hatinya terus memuji figurenya. Hampir sempurna. Karna ia tau, tidak ada di dunia ini yang sempurna.

“Aku tau. Aku mengetahui semuanya tentangmu.”Balasan yang di dapat membuat Taeyeon terdiam sebentar. Lalu tertawa pelan akan penyataan itu.

Mengetahui semua tentangku? Haha.

Menyadari perkataan bodoh sahabatnya, Tiffany menatap sahabatnya dengan tatapan kematian. Ya. dia sedang melototinya dengan sejuta pertanyaan.

“Uh.. maksudku, aku tau siapa kau.”

Taeyeon mengangguk pelan lalu tersenyum dengan manisnya, “Geure..”

“Jung Jessica..”

“Okay, Jessica. Maaf untuk mengganggu malam malam begini ya..”

“Tapi sahabatmu ini mampir di pikiranku dan tidak mau pergi.”

Ketiganya tertawa nyaman, lorong dingin asrama kini hanya terisi dengan atmosfir hangat yang di timbulkan oleh ketiganya.

“Aniya.. Aniya.. kau bisa mengganggu setiap saat.”

“Jjinja? Arasseo!”Kata Taeyeon dengan senyumnya yang mengembang lalu menyeringai untuk kekasihnya.

Aish, this dork.

I am so damn happy to have her as my girlfriend.

“Kau ingin masuk, Taeyeon-ah?”tawar Tiffany, namun Taeyeon menggeleng pelan. Ia tak mau merepotkan malam-malam. Ia kesini hanya untuk memberikan camilan kecil yang ia sengaja beli untuk pacarnya. Berharap hal simple ini bisa meyakinkan gadis yang lebih muda bahwa dia serius akan hubungan yang mereka jalankan. Dan dia sangat-sangat peduli dan menyayanginya.

“Mungkin lain kali, Fany-ah. Aku tidak ingin merepotkan.”balasnya pelan. lalu  di jawab anggukan oleh Tiffany.

Taeyeon melangkah mendekat, dia mengecup kening pacarnya dengan lembut. Menahannya agar lebih lama disana, Tiffany terpejam merasakan kehangatan yang kini membungkusnya.

Kecupannya turun ke kelopak mata, lalu meluncur sempurna ke bibirnya.

Dua sejoli itu mungkin lupa, bahwa ada Jessica di antara mereka. Dan orang itu hanya bisa terhenyuh melihat momen seperti ini.

Awalnya ia benar-benar kaget bahwa Tiffany menjalin hubungan dengan di populer Kim. Dia bahkan berpikir Taeyeon adalah siswi yang sombong, nakal dan sangat bukan type sahabatnya.

Ia bahkan tidak menyetujuinya di awal, takut-takut Taeyeon akan menyakiti sahabatnya. Apa lagi, ia di kelilingi oleh orang-orang bermulut jahat yang se waktu-waktu bisa membuat tumbang sahabatnya,

Tapi. Ia semakin yakin dengan cerita-cerita yang dengan bahagia Tiffany katakan padanya dengan senyum mengembang.

Setelah mala mini, semua keraguannya akan Kim Taeyeon akan musnah.

“Selamat malam, sayang.”Ujarnya lalu melangkah mundur dari ambang pintu. Dia membungkuk lagi untuk Jessica sebentar.

“malam, Tae. Hati-hati saat menyetir. Kabari aku ketika kau sampai.”

“Pasti.”Balasnya mengedipkan sebelah mata. Membuat Tiffany tersipu malu di buatnya. Lalu Taeyeon melambaikan tangannya dan berbalik menjauh.

“YYA!! JUNG SOOYEON!”

“Aku mengetahui semua tentangmu!?”

“Yang benar saja! Kau menakutinya!”

“YYA! mianhae! Itu reflek terkejut ketika melihatnya untuk sedekat itu!”


“You are the luckiest nerd in the world.”

Dan itu berhasil membuat Tiffany untuk memalingkan wajahnya. Menemukan temannya yang mengutarakan itu sambil membolak-balik halaman buku yangdi bacanya.

Dia agak tersesat dengan perkataan temannya dan hanya bisa menaikkan sebelah alisnya. Bukan hanya karna ia tidak mengerti. Tetapi kata kata nya yang agak menyindir itu, membuatnya agak jengkel.

Jessica. Sahabat sekaligus musuh baginya. Sifatnya yang arogan dan cuek membuatnya kadang harus repot-repot memutar kedua bola matanya. Mereka bersaing di pelajaran dan berbagai hal-hal yang mengenai sekolah mereka. Tak jarang, Jessica akan selangkah lebih unggul di bandingnya.

Tetapi, mereka bersain secara sehat.

Watak Jessica akan menjadi hangat di keadaan tertentu. Walaupun dia dingin, dia akan tetap menaruh kepeduliannya juga rasa sayang akan sahabatnya itu. Apalagi, jika itu mengenai hal-hal sensitif sahabatnya yang ia alami semenjak ia menyandang sebagai kekasih ketua clun cheerleaders di sekolahnya.

“Excuse me!”balas Tiffany dengan nada nya yang jengkel.

Yah, walaupun sebutan nerd agak pas di dengar untuknya.

Karna memang itu faktanya.

“Yeah, Hwang. Bagaimana bisa kutu buku sepertimu, menjadi pacar orang paling imut juga sexy se antero sekolah!”

“Di tambah lagi dengan kepopuleran dia.”

“Atau dia yang menjabat sebagai kapten cheers sekolah kita.”

“Atau dia yang mempunyai kulit putih mulus porselen dengan wajah yang dia dan Tuhanlah yang tau, bagaimana cara mendapatkannya.”

Karna Jessica mengatakan itu semua secara bertumpuk. Tiffany tidak bisa menyangkal satupun dari perkataannya.

Semuanya benar. Jika dia memang harus mengoreksinya lagi. Dirinya mengencani orang paling di segani di kampus.

Lucu. Untuk mengingat bahwa dialah yang berhasil merebut hati orang itu.

“Apa kau menggunakan jampi-jampi!?”

Tiffany lalu menjatuhkan pukulan kecil ke kening Jessica dengan tatapan jengah. Bagaimana bisa dia melakukan itu, ketika faktanya dia adalah orang yang sangat rasional. Walaupun, sedikit gila jika itu sudah mengenai tentan kekasihnya.

“Yya!! Aku tidak semudah itu.”

“Lalu beritahu aku!”

Tiffany meletakan semua beban tubuhnya di sandaran kursi. Dia menarik napasnya dalam, cara? Dia tidak mempunyai trik atau cara tertentu untuk memenangkan hati gadis itu. Yang ia tahu, dirinya bahkan tidak mencoba untuk merayu atau sekedar menjadi orang yang berani untuk menyapa dari awal mereka bertemu.

Itu semua seperti keajaiban di tahun seniornya yang sama sekali tak pernah di duganya.

“Jika saja, Aku yang menemukan si Kim duluan.”

“Yya! Kau berkata seolah-olah dia hanyalah boneka yang aku temukan di jalan.”

“Lagipula, sekarang dia milikku.”lanjutnya.

large


“Eodiga?”

Taeyeon berpaling, sebelum akhirnya kembali melanjuti kegiatannya mengikat tali sepatu.

“Uhm? Menyaksikan kekasihku debat?”Jawabnya tanpa melihat kea rah teman-temannya yang sedang menggenggam wine di tepi kolam renang asrama khusus anggota cheerleaders ini.

Ia mendengar tawaan kecil yang seakan mengejek jawabannya. Namun Taeyeon tak pernah memperdulikan itu. dia berpikir, orang lain tak perlu ikut campur akan hubungannya dengan si culun kesayangannya. Tak perlu lah, dunia tau betapa bahagianya dia bersama si Hwang.

Baginya, dari pada menghabiskan waktu dengan teamnya dan berbicara tentang cowok-cowok keren jauh kalah menarik daripada menyaksikan kekasihnya debat di balik podium. Ia tidak perlu tau, bagaimana cowok-cowok itu workout agar mendapatkan tubuh yang sempurna yang sama sekali tak pernah menarik perhatiannya.

Ia tidak mau tau bagaimana kaya raya dan kerennya mereka. Atau bahkan, memikirkan bagaimana cara mereka berusaha memenangi hatinya. Di saat dia sudah berstatus sebagai kekasih perempuan dari yeoja yang selalu sempurna di matanya.

Seseorang yang dengan bantuan surga dapat di milikinya. Hwang Tiffany.

“Kau bercanda?”

“Nope.”

“Apa-apaan Tae. Kau tidak pernah menyukai debat sebelumnya, dia benar-benar merubahmu.”

Ada nada sindiran di jawaban Yoona dan ia tidak suka itu. tidak di saat itu mulau mengenai kekasihnya. Ia akan menjadi sangat sensitive. Namun ia buru-buru membuang semua rasa kesalnya sebelum menjadi buruk.

Untuk sejenak Taeyeon berusaha mencerna lagi apa yang di katakana temannya. Merubah? Ya. mungkin iya. Tapi dalam hal positif. Tiffany tak pernah membuatnya menjadi sosok yang berjalan di sisi yang buruk. Ia justru menjadi pribadi yang jauh lebih baik ketika bersamanya.

“Apa? aku tidak pernah bilang, aku menyukai debat sebelumnya. Seperti yang aku bilang barusan, aku datang untuk menyaksikan kekasihku yang berkarisma. Bukan sekumpulan kutu buku yang berdiri membaca puisi mereka yang begitu dramatis.”

Taeyeon tetaplah Taeyeon. Dirinya dengan segala sifatnya memang tak akan pernah pergi. Harus di akui, ia pernah berpikirkan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk membaca buku itu sangat menjijikan. Bagaimana bisa ketika yang lain sedang bersenang-senang, mereka bahkan rela untuk bermalam di perpustakaan hanya untuk belajar bersiap-siap untuk ujian esok hari.

Untuk seribu kali dia bertanya, kenapa mereka harus memakai kacamata bulat juga behel yang berderet rapih di gigi? Apa memang itu hokum alam seorang culun?

Tapi itu semua sudah berubah ketika dia bertemu Tiffany. Tidak ada lagi pemikiran seperti itu. ia justru, sangat mengagumi papan wajah Tiffany yang di hiasi kacamata. Baginya itu begitu cantik, menarik dan tidak pernah bosan untuk di pandang. Caranya membenahi kacamata, sesekali menyelipkan rambut ke belakang telinga. Itu semua sempurna.

Tatapan tajamnya ketika membaa buku, itu sangat sexy di temukannya. Tak jarang, dia akan berakhir menggoda gadis yang lebih muda dengan menghujaninya kecupan di pipi., dahi juga beberapa di ujung bibir tipisnya.

Sekali lagi di dengarnya tawa yang meledak-ledak menandakan setuju dengan jawabannya. Mungkin itu sedikit kasar, tapi itu lebih baik untuk tidak mendengar temannya terus mengatakan hal yang buruk tentang Tiffany,

“Ha-ha.”

“Benar. benar.”

“Kau jahat, Kim.”


Jika saja di dunia ini ada yang lebih menarik untuk di lihat daripada pacarnya yang sedang bergulat dengan topic debatnya. Sayangnya, bagi Taeyeon tidak ada. Menyaksikan Tiffany dari bangku penonton rasanya tidak cukup untuk mengagumi semua yang menempel pada diri kekasih nya itu.

Ketua dari team debat kali ini. debate captain? Itu terdengar sangat sexy di indra pendengaran Taeyeon. Tak berkedip dia memperhatikan semua yang Tiffany lakukan di atas sana. Mulutnya yang lugas menjawab dan memutar balikkan fakta. Wajah serius yang tidak pernah luput, juga menggoda di saat bersamaan.

Rok pensil yang membentuk tubuh kekasihnya membuat Taeyeon sesekali berdecak kagum. Sekali lagi, Taeyeon adalah Taeyeon. Atau lebih cocok Byuntaeyeon. Sejujurnya, ia tak pernah tertarik untuk terus memandangi lekuk tubuh perempuan lain. Tidak sampai Tiffany menjadi kekasihnya.

Kacamata. Check. Wajah bersinar, check. Rok pensil, check. Kemeja putih berlogokan team debate, check. Heel bercorak garis-garis, check. Dari semuanya, kapten debat yang cerdas juga sexy, check, check, check.

Mungkin dia akan menjadi orang terakhir di dalam theater untuk duduk berlama-lama disini. Sebenarnya, ia tak pernah tertarik untuk menyaksikan hal seperti ini. tidak jika bukan Tiffany yang berdiri disana.

Terbesit di  benaknya lagi. Hal-hal yang mulai menjadi pertanyaannya di hati belakangan ini. ia kadang berpikir, bagaimana berbeda dirinya  dengan Tiffany. Tetapi juga saling melengkapi di waktu yang bersamaan. Bahkan bisa menjadi hal yang indah seperti saat- saat ini. perbedaanya justru memberi warna di hubungan mereka. Tak pernah sedikitpun dia merasakan jenuh akan ini.

membuka matanya di setiap pagi yang cerah, untuk bertemu Tiffany. Adalah hal yang membuat dirinya tak pernah lupa untuk bersyukur lagi dan lagi. Juga  untuk takdir ini yang mengijinkannya bersama seseorang seperti Hwang Tiffany.

Sesi debat akhirnya berakhir. Dan itu di menangkan oleh team sekolahnya. yang di pimpin oleh kekasihnya sendiri. untuk sejuta kalinya, ia merasa sangat bangga mempunyai sosok itu yang ia tau, akan di sampingnya untuk waktu yang lama. Ia tidak hanya cantik di luarnya. Tetapi kecerdasan dan ramah hatinya, justru membuat Taeyeon jatuh dalam. Dan semakin dalam akan figurenya.

Taeyeon berniat beranjak dari duduknya untuk menghampiri sang pujaan hati. Tetapi, ia mengurungkan niatnya lagi setelah menilik lebih jelas kea rah panggung.

Disana. Pria jangkung dengan setelan jasnya yang berwarna hijau Yang ia yakin, atau bahkan bukan yakin. Yang ia tau pasti, di adalah lawan debat kekasihnya beberapa menit yang lalu. Ia tidak memperhatikan begitu jelas terhadap sekitarnya karna terlalu sibuk untuk menaruh pandangannya pada si Hwang.

Tapi dengan lemparan tatapan kea rah lawan, ia bisa langsung menebaknya.

Pria itu langsung berlari kecil untuk meraih posisi Tiffany yang masih sibuk menerima ucapan selamat dan jabatan-jabatan tangan yang menyambutnya hangat. Taeyeon tidak menarik pandangannya pada pria itu.

Dia akhirnya sampai di depan kekasihnya dan terlihat semburat merah di pipinya untuk mengajaknya bicara.

Taeyeon sangat jarang atau bahkan tidak pernah melihat kekasihnya mendapatkan rayuan dari orang lain. Ia merasa buruk sekarang. Sementara, ia terus mendapatkan siulan, di depan Tiffany. Disinilah dia, api cemburu mulai terasa di ulu hatinya dan ia sangat tidak menyukai itu.

Apalagi, dia berpikir. Jika pria seperti itu yang merayu pacarnya, merupakan suatu kemungkinan untuk gadisnya bisa saja tertarik akan sosok itu.

Tanpa memikirkan lebih jauh lagi. Dan ia tau, jika ia melewatkan ini. mungkin saja Tiffanynya akan mudah di rebut dari genggamannya,

Andwea. Tiffany milikku.

Sementara Taeyeon sudah membuat jalannya untuk mendekat. Kekasihnya tampak sedang berbincang kecil dengan pria itu sembari menyunggingkan senyum termanisnya.

“Tiffany.”

Suaranya agak berat dan dia mulai menghampiri tapakan pacarnya yang sedang berdiri disana. Berbincang sembari sesekali tertawa dengan pria yang baru beberapa menit di kenal nya.

Mendengar suara yang sangat familiar juga lembut di pendengarannya, Tiffany berpaling dan melengkungkan kedua matanya memberi senyuman paling maut yang dapat membuat cemburu Taeyeon mereda sedikit.

“Oh, Tae..”Sapanya. diam-diam dia merasa sangat senang mengetahui kekasihnya ternyata ada di gedung yang sama. Atau bahkan sudah berada disini sejak debat di mulai. Taeyeon memang seseorang yang sangat sulit untuk di tebak baginya.

Padahal, ia tau. Bahwa Taeyeon baru saja menyelesaikan kegiatannya bersama team cheerleaders. Namun, disinilah dia. membawa semua letihnya hanya untuk datang dan memberi dukungan untuk Tiffany.

Pria itu segera mengikuti arah Pandangan Tiffany. Untuk beberapa saat dia terkesima atas apa yang di lihatnya sekarang. Gadis yang menguncir rambutnya dengan indah itu membuat nya berdecak kagum. Lalu, tak bisa di pungkiri dalam benaknya. kampus yang merupakan pesaing juga musuh tempatnya belajar itu, ternyata mempunyai banyak gadis-gadis rupawan yang melelehkan hati.

tumblr_nahhn6s3h51twy5flo3_250

Tapi tetap saja, semua perhatiannya telah di rebut oleh sosok Tiffany. Tak henti-hentinya dia menaruh sorotan kagum akan ketua team debat itu.

Taeyeon memandang sebentar pria yang berdiri di depan kekasihnya itu. sebelum akhirnya,

“Kau datang? Gomawo Tae.”Ujar Tiffany pelan, lalu di susul dengan anggukan oleh Taeyeon. Lalu di tariknya pinggang kecil Tiffany untuk di dekapnya. kekasihnya agak kaget dengan pelukan tiba-tiba ini, namun dia memilih untuk membalas dekapannya yang terasa sangat hangat dan bahagia dalam diamnya.

Sementara, gadis yang lebih tua menempatkan dagunya di bahu Tiffany lalu memandang rendah pria yang ada di depannya.

“You did a great job up there, babe.”Pujinya tanpa melucutkan pandangannya dari pria yang masih menggoreskan senyum di bibirnya,

Sepertinya dia benar-benar tidak mengerti akan situasi ini. dan malah menganggap normal-normal saja bagi kedua gadis itu untuk saling berpelukan dan memanggil salah satunya, babe.

“Thank you.”Balas Tiffany lalu melepaskan sesi pelukannya.

“You must be Tiffany’s Friend.”Sambar pria itu lalu menawarkan tangannya untuk segera di sambut oleh Taeyeon.

“Im Nickhun, nice to meet you.”

Sementara gadis yang di maksudnya hanya memperhatikan tangan yang belum juga di raihnya untuk di jabat. Kekasihnya menyenggol pelan lengannya menandakan bawa dia benar-benar harus menyambutnya. Karna itu sedikit tidak sopan,

Dengan malas. Gadis yang lebih pendek meraih tangan pria itu yang terasa begitu kasar di genggamannya.

Tanganku lebih lembut dan harum untuk di genggam Tiffany.katanya dalam hati sembari menyeringai.

“Kim Taeyeon.”

Lalu tidak butuh waktu lama untuk Taeyeon melepaskannya. Tiffany hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah laku pacarnya yang terlihat tidak senang. Tebesit di kepalanya, gadis itu sedang cemburu untuk alasan yang kurang jelas. Apa lagi dengan pernyataan Nichkhun yang mengatakan bahwa dia hanya teman.

“Kau mempunyai teman yang sangat-sangat cantik, Taeyeon-shi.”tambahnya melirik di brownie dengan senyuman mengembang.

Taeyeon hanya bisa memutar bola matanya mendengar itu.

Menyadari suasana hati kekasihnya yang sudah berubah. Tiffany menggigit bibir bawahnya pelan, dia benar-benar harus masuk ke perang dingin ini. bagaimana pun, Nichkhun hanya mencoba baik padanya. Namun pujiannya tak semulus itu. karna dia secara tidak langsung memujinya di depan Taeyeon.

“Actually, she is my college cheerleaders captain.”Sambar Tiffany agak ragu,

Nickhun hanya bisa mengangguk untuk kali ini, “That’s great”

“Er.. and she is my girlfriend.”

Taeyeon hanya bisa memandang ke sekitar tanpa mau menatap pria yang ada di depannya. Hatinya agak lega karna Tiffany kini mau mengakuinya ke publik. Gadis itu memang sempat takut untuk membuka hubungannya kepada banyak orang.

Khawatir itu akan berdampak pada status sosial Taeyeon dan dia juga tidak mau terlibat lebih banyak lagi masalah dengan anak-anak kaya juga populer itu, karna berpedikat sebagai pencuri hati seorang ratu lebah di lapisan sosialnya.

Sementara, tak pernah terbayangkan dalam ruang pikirannya bahwa dua bidadari khayangan di depannya ini sedang menjalin hubungan. Heck, bahkan mereka tadi berpelukan. Kenapa dia tidak menyadari itu?

Malu, di rasanya. Tetapi, juga ada sedikit rasa kecewa karna wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu. ternyata sudah di miliki oleh orang lain lebih dulu. Terlebih lagi, dengan gadis yang ia yakin cukup populer dan pastinya dia adalah pilihan terbaik dari si brownie.

“Oh? Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, Taeyeon-shi. Aku jadi merasa bodoh.”Katanya sembari tertawa halus.

Membuat Taeyeon kembali menatapnya. Tapi kali ini berbeda, dia melihat kehangatan dibola matanya yang hitam. Kejujuran di sisi bicaranya membuatnya untuk pertama kali tersenyum untuk pria yang telah menggoda kekasihnya.

Ia tidak memikirkan hal yang buruk lagi akan pemuda ini, justru kebalikannya. Mungkin jika Tiffany bertemu dengannya lebih dulu. Akan sangat mudah baginya jatuh untuk figure yang ada di depannya. Terutama dia adalah seorang namja, pasti bisa menjaga Tiffany dengan baik.

Dan untuk pertama kalinya, dia merasa tidak percaya diri. Apa dia bisa terus di sisi Tiffany untuk waktu yang lama? Apa semuanya akan berjalan sesuai rencana? Lalu apa yang dunia akan katakan?


Tiffany merasa tidak pada tempatnya sekarang. Seperti dia seharusnya tidak berada disini. Itu mungkin fakta bahwa dia bukan type party sama sekali. terbukti dia sedang terduduk di sudut ruangan memperhatikan Taeyeon di elemennya yang lain mengambang di sekitar ruangan seperti kupu-kupu yang anggun .

Taeyeong adalah seorang flyer. Sinar di antara kegelapan lampu. Dan pusat dari perhatian, dimanapun dia berada.

Tiffany tidak biasanya cemburu oleh orang-orang di sekitar pacarnya , tapi sekali lagi, dia biasanya tidak akan mengikuti Taeyeon ke salah satu pesta sosial yang teman sekampusnya adakan. Sekarang dia telah datang ke pesta dengan Taeyeon, ia menemukan bahwa kecemburuan itu masih bukan masalah. Bertentangan dengan itu, ia benar-benar cukup bangga padanya. Dia mempercayai kekasihnya. Gadis itu tau batas-batasnya, jadi ketika Taeyeon mengatakan dia akan menyapa beberapa temannya setengah jam yang lalu, dan meskipun tidak nyaman berada di tempat yan yang seharusnya ia berada, Tiffany memutuskan untuk membiarkan Taeyeon memiliki waktu yang menyenangkan dan menunggu sampai gadis itu siap untuk pergi. Lagi pula, ini malam minggu.

Dia terkejut ketika seseorang mengambil tempat duduk di sampingnya, merobek matanya menjauh dari Taeyeon dan berbalik hanya untuk menemukan salah satu dari tamu pesta ini tersenyum dengan ramah padanya. Gadis itu tertawa melihat ekspresi Tiffany lalu bersender pada sofa. Sunny, adalah anggota dari team cheerleaders kekasihnya.

“Maaf, aku kira kau melihatku akan datang.”

Tiffany dengan malu untuk menyambut senyumnya, sebelum akhirnya menaruh pandangan pada pacarnya yang sedang bercengkrama semangat dengan beberapa atlet rugby.

tumblr_ndm2aqTCm11rgr04oo1_500

“Tidak apa-apa, aku hanya–,” ia berhenti, mencoba mencari kata yang cocok sebelum melanjutkan, “-sedikit kaget.”

Ada keheningan di antara mereka berdua untuk beberapa saat.

“Aku kira, kau akan terus mengikutinya kemanapun.”

Tiffany tertawa pelan, sekali lagi. “Aku tidak benar-benar ingin datang, sebenarnya.” “Pesta sangat bukan, diriku.”

Dia tertawa ringan, sekali lagi, ia melihat tampilan skeptis di mata Sunny. Mereka masih meragukan niat dan keseriusannya pada hubungan dirinya dan ketua club mereka. Padahal sudah beberapa bulan berjalan. Itu wajar, pikirnya. Karna mereka tidak mencoba untuk mengenalnya lebih dalam, begitupun sebaliknya.

Sunny menatapnya, dan Tiffany bisa melihat protektif halus di bawah pengawasan tersebut. Dia entah bagaimana masih ingin Sunny dan anggotanya lain percaya padanya, untuk bersama Taeyeon.. “Aku bukan seseorang yang akan menyakitinya.”

Dia memutuskan untuk mengatakan itu pada akhirnya, “Tidak akan.”

Sunny mengangguk setelah beberapa saat memikirkan sesuatu. Mungkin itu semua benar. mungkin dia dan teman-temannya hanya protektif akan ketua mereka yang sangat di sanjung. Keheningan kembali melanda lagi, lalu mereka meletakan sorotannya lagi kepada Taeyeon yang terlihat sedang tertawa bahagia karna lelucon dari temannya.

“Kau kelihatannya, tidak keberatan dengan semua perhatian yang dia dapat.”

Tiffany mengedikkan bahunya. Ia tidak tau pasti bagaimana cara menjelaskannya. Jadi dia memutuskan untuk menjawab, “Mungkin karna dia akan kembali lagi kepadaku. Di akhirnya.”Katanya lembut

Perkataanya seolah-olah dapat di dengar oleh Taeyeon. mata mereka bertemu. dia berpamitan dari grupnya, dan langsung membuat langkah kembali pada sosok Tiffany.

“Okay. Sepertinya itu petunjuk aku harus pergi. Senang berbicara denganmu.”Pamit Sunny lalu menyunggingkan senyumnya untuk si kalem Hwang. Tiffany membalas senyumannya.

“Kau tidak bersenang-senang,” Taeyeon bergumam sambil berpura-pura merajuk. Dia mengambil lengan Tiffany dan melilitkannya dirinya saat ia mengambil tempat duduk di sampingnya.

Dia tersenyum, membiarkan gadis itu bersandar dan mengunci jari-jari mereka bersama. “Aku baik-baik saja,” dia meyakinkan, karena dia benar-benar baik-baik saja. Dia tidak  terganggu dengan berada di sana, sama sekali.

Mereka duduk di sana untuk sebentar, diam-diam menonton pesta berjalan. Sesekali Taeyeon menyapa dan melambai pada temannya yang berlalu. Ada wajah penasaran juga senang terukir di papan muka mereka ketika melihat Tiffany yang  begitu dekat dengannya. Tiffany tidak bisa bersatu dengan publik dan lebih memilih menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Taeyeon. Ia merasa agak malu, karna sedari tadi teman-teman Taeyeon bersiul dengan jahilnya.

Taeyeon hanya bisa tertawa pelan mengetahui sifat pemalu kekasihnya sekarang.

“Kajja!” Kata Taeyeon dengan semangat. saat, kepalanya menyenggol main-main pada Tiffany. Dia berdiri dan menarik Tiffany yang bingung bersama, membimbingnya keluar dari pesta. Mereka melewati beberapa teman Taeyeon dan dia bersorak dengan  gembira, “aku pergi guys! Have fun! ”

Tiffany menunggu beberapa saat untuk pamit yang berlangsung agak lama itu dan di tariknya dia keluar oleh Taeyeon.

“Aku tadi baik-baik saja Taeyeon,”Dia berusaha meyakinkan lagi pacarnya yang kini sudah memakai jaketnya lagi. Menggamit tangannya lembut dan berjalan bersama di bawah lampu-lampu taman.

“Aku tau, aku hanya ingin bersamamu untuk saat ini.”


Mengejutkan, toko buku ini sedang ramai. mungkin karena diskon besar-besaran yang sedang berlangsung.tapi Taeyeon mengagumi pemandangan ini . Orang-orang rela berada disini walaupun ini adalah akhir pekan. Mereka datang dalam semua usia , dan mereka tampak seperti sedang menikmati waktu keluarga juga mencari-cari buku yang menarik untuk di bawa pulang.

Di sisi lain, dia bosan setengah mati. Dia bahkan tidak bisa berpura-pura tertarik mencari buku yang tak terhitung jumlahnya di rak-rak yang besar juga sangat banyak. Ada di setiap sudut. Sebaliknya , ia memilih untuk menempatkan perhatiannyapada gadis yang memikat pandangannya untuk sepuluh menit terakhir mereka sudah berada di toko.

Menonton Tiffany jauh lebih menarik daripada buku-buku , bahkan jika itu harus dilakukannya diam-diam juga. alis berkerut, sesekali menyelipkan helaian rambut ke baelakang telinga. matanya fokus membaca kembali buku yang dipegangnya, membalikkan halaman demi halaman. yang  terakhir menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan kecil Tiffany yang tak pernah bosan untuk di lihat. Justru semakin menarik, dari hari-ke hari.

tumblr_n88y8qtIba1qb9279o1_500

Ia kembali teringat akan percakapannya dengan Tiffany lewat seluler semalam. Sebelum mereka memutuskan untuk menyebrang ke duna mimpi.

“Apa yang kau lihat di masa yang akan datang?”Tanya Taeyeon dengan suaranya yang di lembutkan. Sebenarnya ia merasa ragu untuk menanyakan itu.

Tetapi, Tiffany menjawabnya tanpa ragu. “Kamu. Aku melihat kita bersama.”

Jawaban darinya membuat tekanan yang sudah nangkring lumayan lama di rongga dadanya melonggar. Jawaban sesederhana itu mampu membuat jantungnya mengadakan balapan liar di dalam. Mungkin karna itu berasal dari bibir Tiffany hwang.

Ia sudah mengetahui ini sebenarnya. Tiffany memang lebih sering berfikir positif di bandingkan dirinya yang selalu terjebak di sisi yang negative. Pesimis. Juga seperti orang yang kehilangan harapan.

Hatinya tidak salah memilih kali ini.

“Apa kau pikir kita akan bersama dala waktu yang lama?”Tanya Taeyeon lagi,

“Kita akan mencari jalan untuk itu, Tae. Kita selalu menemukannya.”

“berhenti memperhatikanku.”Kata-kata Tiffany seperti membawanya kembali dari lamunannya.

Dia terenyum. Masih tidak mau membiarkan pandangannya goyah. “Kenapa? Apa memperhatikan pacar sendiri itu dosa?”

“Aku tidak bisa fokus.”Jawab Tiffany masih memperhatikan buku yang di genggamnya sesekali melemparkan pandangannya pada Taeyeon. Dia tetap tidak mau menarik sorotannya dari Hwang yang kini terlihat kesal. Namun Taeyeon bisa melihat senyuman di sudut bibirnya.

Mengerjai Tiffany memang menyenangkan dan dia memilih untuk tetap bermain pandang untuk gadis yang lebih muda.

Dia kembali tertawa setelah melihat Tiffany mengembalikan buku itu ke raknya dan melipatkan tangannya di dada. Ia tau gadis itu tidak benar-benar marah lewat pandangan malu-malu juga kesalnya,

Menjadi objek untuk di lihati memang sangat tidak menyenangkan baginya, tapi jika itu adalah Taeyeon. Ia sebenarnya menari-nari dalam hati karna bisa merebut perhatian sang kekasih untuk dirinya sendiri.

“Oke. Oke aku akan berhenti.”

Namun tiba-tiba Tiffany menangkuop kedua pipinya membuatnya sedikit terkejut lalu menyeringai kecil.

“Kau memang menyebalkan,”

“Beruntung aku benar-benar mencintaimu.”

Lalu Tiffany mengecup bibirnya lembut. Menahannya disana untuk lebih lama.

“Sekarang, ayo. Kita makan siang.”

Dia menarik tangan Taeyeon dengan lembut. Lalu tidak membiarkan ada celah di antara jari-jari mereka. Keduanya berjalan di antara rak-rak buku.

“Bagaimana dengan bukumu?”

“Its fine. Ada sesuatu yang lebih penting bagiku.”

Taeyeon mengangkat satu alisnya.

“Seperti menghabiskan waktu denganmu?”Si blonde terkekeh mendengar jawaban itu. lalu mengeratkan genggamannya. Ibu jarinya sesekali menggores lembut telapak tangan Tiffany.

“Aku pikir, aku benar-benar jatuh cinta padamu, Hwang.”

Tiffany berpaling lalu tersenyum kearahnya. Ada pancaran tulus dari sorotannya. Nyaman untuk di lihat dan hangat untuk di rasakan.

“Aku tau.”

Mungkin memikirkan masa depan, bagi Taeyeon bisa di lakukan lain kali saja. Baginya, berjalan berdampingan dengan Tiffany sekarang.Adalah dimana dia ingin berada sekarang. dengan jari-jarinya yang saling mengunci sekarang, ia tau. Ia akan berada di sisinya untuk waktu yang lebih lama.


happy weekend! congrats tts for the “All Killed”  ❤

what about us~ hehehe.

please leave comment? :3

heart warming right? ❤

jazzmine39

care to check our new twitter! @jazzatta1

follow and ask us about anything~

taenyjjang!!

Advertisements

85 thoughts on “Bitter & Sweet (One Shoot) BY JAZZ

  1. Feelsnya dapet banget, karakternya keren, typonya dikitt banget, bener-bener perfect! pilihan bahasanya jg gak tinggi2 amat jadi mudah dipahami, romantisnya dapet sekali. Keren banget!!

    Like

  2. Ini luar biasa ! Saat yg paling mendebarkan ketika Nikhun muncul, sy sudah sangat takut.

    Dan saya yg bodoh dlm bhasa inggris ini sungguh kesulitan dlm beberapa kata. Tp itu bukan masalah. Kekeke

    Terimakasih mau meluangkan tulisan sebagus ini 🙂

    Like

  3. huwaaa nge feel banget ini baca nya
    swett nya minta ampunn hehe
    cocok.krakter tae di sini
    ehh hallo thor aku reader baru
    ijin baca yoo

    Like

  4. Anyeong^^ maqykim imnidha.. salken thor.. maaf sblumnya.. sy sudah baca ff ini tp blum minta ijin^^ miane thor
    TAENY momment sangat banyak euy.. gomawoGOMAWO

    Like

  5. Jwbn tiff ats pertyaan tae bner2 bkin orang jd optimis mmg kdang kita sll brpkir negatif spesimis yg sbnrny brdmpk bruk bgi dri qta sndri 😀

    Like

  6. hahaahah,
    daebak…..

    pasangan yang saling melangkapi, aku pikir feel nya dapat banget,,,
    baru kali ini aku baca ff genre YURI taeny keren…. apalagi saat taengo nanya apa yng kamu lihta di masa depan, fany langsung jawab tampa pikir KAMU… so sweet….#klepak klepak

    Like

  7. Annyeong thor… TaeNy sweet nya minta ampun jjang :D. Kirain bkal ad badai ktika nick muncul untungnya smua baik” aja. Thor ff nya daebakkk, jjang..

    Like

  8. whoaaa yg ini happy ending XD hahaha
    tp beda sama blind yah, yg ini kebalikannya, pany jd si kutu buku dan yg penting happy ending :p wkwkkw
    tae sm pany berbeda bgt, kehidupan yg berbeda, yg 1 doyan party yg 1 doyan menyendiri dgn buku2 hahahha
    tp jd pasangan yg unik, dr perbedaan itu bs buat mereka saling melengkapi ^^ hahaha

    Like

  9. Pasti imut banget kalo taeyeon jealous. Hehehe gw bangga deh taeyeon jadi pribadi yg lebih baik karna fany. Tinggal di tunggu undangan kawinannya ya taeny!!!

    Like

  10. hallo author Jazz 😄
    aku datang kesini karna yg km bilang tadi.
    ini bukan kali pertama ak baca ff dgn cerita manis seperti ini.
    ada sih drama” dikit tapi itu adalah bumbu penyedap aja.
    aku nyaman bacanya cuma.. blh ak komentar ttg penulisan dan pemilihan bahasa?
    Setelah membaca ini ak harap kalian ga salah paham ya.
    Ini murni hanya pendapat ak aja.
    Cara nulis author di cerita ini mengingatkan ak waktu ak dgn cara nulis ak kmrin”.
    Masih terasa unsur asing”nya.
    kaya baca ff di aff begitu😄.
    Enak dan nyaman dibaca cuma masih belum halus bahasanya.
    Masih blm konsisten mau pake bahasa yg baku atau informal sekalian begitu😁. Ada beberapa kata yg terasa kurang pas dibaca tapi ak ngerti maksudnya mau apa dan kemana dari alur cerita ini.
    Tadi ak liat ini postingannya Desember 2015
    . Jadi ak yakin saat ini tulisan kalian sudah lebih baik.
    Overall…. ak menikmati baca ff ini.
    Sepertinya kita bisa jadi temen juga.
    Diakhir, apapun yg ak tulis tadi, jika ada yg menyakiti.. ak mohon dimaafkan.
    Semangat nulisnya dan thanks💙

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s