MISTAKES (CHAPTER THREE) BY JAZZ

 

TITLE : MISTAKES

AUTHOR : JAZZMINE

SITE : PRESENTED BY ATTALOCKSMITH

STORYLINE ORIGINALLY FROM JAZZMINE

DATE PUBLISHED : —

**

ENJOY

**

Kemari dan temukan sesuatu yang indah? –Tae

Taeyeon memang sudah lumayan lama berdiri di sudut bangku taman rumah sakit ini. dia sudah menyiapkan kejutan untuk Tiffany. Gadis itu yakin, rencananya akan berjalan sukses.

Karna ini adalah hari ulang tahun Tiffany. Taeyeon lebih memilih untuk merayakannya diam-diam dan hanya mereka berdua saja. Walaupun, faktanya dia bahkan bisa membuat Tiffany ternganga dengan seluruh uangnya yang bisa memberikan mereka malam indah di seluruh restoran berbintang di kota seoul.

Namun, Taeyeon mengerti  jika gadis pujaannya itu tidak menyukai sesuatu yang mewah dan berlebihan. Ia sangat sensitive jika itu semua sudah mengenai uang. Apa lagi jika itu semua dari Taeyeon.

Akhirnya setelah berjam-jam mencari ide yang lebih baik, Taeyeon lebih memilih mengadakan kejutan kecil-kecilan di taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu untuk melihat tenggelamnya matahari di langit jingga.

Taeyeon mematung mengharapkan balasan agak cepat dari Tiffany karna kini dirinya sudah mulai merasa kedinginan karna angin malam.

Tae, mianhae. Aku masih ada urusan disini. Kita tunda besok, ya?

Setelah membaca balasan yang tertera disana, Taeyeon lalu menaruh penglihatannya pada lilin lilin yang menyala membentuk hati yang telah ia susun dengan hati-hati. Sesekali jemarinya terluka karna percikan api yang ia nyalakan.

Ia lihat lagi kue ulang tahun yang di hias sangat indah itu. bahkan dirinya sendiri yang membuat itu dengan susah payah. Pandangannya turun ke meja makan kecil yang di baluti kain putih, disana sudah ada beberapa hidangan makan malam yang ia juga buat sore tadi.

Lagi, lagi dirinya sendirilah yang memindahkan peralatan itu ke taman.

Mengedarkan pandangannya, dan dia menemukan proyektor yang siap di bawah pohon untuk menampilkan beberapa gambar dirinya dan Tiffany yang bersama. Yang rencananya akan di nyalakan ketika Tiffany berhasil kesini.

Namun nampaknya itu semua sia-sia. Karna wanita itu tidak bisa karena suatu alasan.

Taeyeon merasakan hatinya yang teriris, namun ia menarik sudut bibirnya untuk tersenyum perih,

Baiklah, Fany-ah. Semoga malammu menyenangkan. Selamat ulang tahun.

Saranghae.

Ini sudah ke sekian kali butiran hangat itu jatuh karena wanita yang sangat-sangat di cintainya.

Hujan gerimis kini ikut mewarnai malam kelabunya yang terasa sangat kosong. Taeyeon cepat-cepat menghapus air matanya dan berlari kearah pohon. Berharap itu bisa menghalangi tubuhnya yang kini di terjang air hujan.


Sementara di lain sudut kota seoul…..

“.Saengil chukka hamnida.”

Pria yang mempunyai wajah imut itu menyodorkan kue yang sore tadi ia beli untuk kekasihnya. Masih dengan posisinya, wanita yang ada di depannya meyambut dengan senyuman. Lalu dia memejamkan kedua matanya, memanjatkan harapan untuk yang kuasa.

Sebelum akhirnya dia meniup lilin yang masih tegak berdiri di atas permukaan kue itu. lalu pria itu meletakan kue yang di sangganya dan mendekat, mengecup dahi wanita itu lembut. Menahannya disana untuk beberapa saat.

Terguras senyum manis di bibir wanita itu,

“Gomawo..”

Katanya setelah mereka kembali pada posisi semula.

Nichkhun. Pria yang mempunyai senyuman manis itu megocek banyak isi dompetnya untuk memberikan kekasihnya, makan malam ulang tahun yang berlokasi di restaurant hotel mewah di pusat kota. Berharap wanitanya merasakan sedikit bahagia di hari spesialnya.

Senyumnya mengembang mendengar itu,

“Aku harap ini cukup, di hari bahagiamu, Tiffany.”Ujarnya dengan penuh Berharap wanitanya merasakan sedikit bahagia di hari spesialnya.

Setidaknya, ia bisa membalaskan hutangnya yang belum terbayar untuk terus berada di sisi wanita itu selama ia pergi untuk waktu yang lama.


“Oo Kau sedang dalam mood yang bagus rupayanya?”

Perkataan Yuri membuat Tiffany tersadar dari lamunan indahnya. Betapa dia tidak pernah bisa melupakan setiap perlakuan Taeyeon yang di berikan padanya. Dia tidak bisa menghapus senyuman itu yang terus menghantuinya dengan caranya yang sangat indah.

“Aish, berhenti menggangguku.”balas Tiffany lalu kembali menaruh perhatiannya pada kertas yang berserakan sempurna di atas meja kerjanya,

“Ha-ha.”Yuri tertawa dengan puas,

“Taeyeon Atau Nichkhun?”

Pertanyaan Yuri selanjutnya berhasil membuat Tiffany menatapnya geram. Dia mengeratkan genggamannya pada pulpen pemberian kekasihnya itu. Melihat reaksi Tiffany, Tawa Yuri lagi-lagi meledak,

“YYA!!!!!!!!”

“Kau mengatakan itu seolah-olah mereka berdua kekasihku. Dan aku menjadi orang jahat yang serakah karena itu.”

Yuri buru-buru menghapus air mata yang muncul di tepi kelopaknya, tawanya kian mereda, membuang napasnya bebas dalam kepuasan.

“Bukannya memang seperti itu?”

Jjinja.. Kwon Yuri………….

Baru saja Tiffany ingin beranjak dari duduknya dan memberikan temannya itu pelajaran,

“Tiffany-uisa!”

Uisa(의사) : Dokter

Tiffany dan Yuri menoleh, menemukan asal suara. Suara itu berasal dari seorang ganhosa. Nafasnya tersengal. Ia mencoba menghirup udara dengan normal dan segera memberi tahu dua dokter cantik itu tentang keadaan yang lumayan tibat-tiba ini. tenggorokannya hampir kering karena berlari berusaha menggapai ruangan Tiffany yang letaknya memang agak jauh dari UGD.

ganhosa(간호사)  : Suster

tepat setelah dia berhasil menjelaskan keadaan yang sedang terjadi di ugd, Tiffany dan Yuri mengayunkan kaki mereka kesana dengan kilat, berharap situasi di sana tidak seburuk yang sedang terbayang di benak mereka sekarang.

Benar saja, segera setelah mereka berhasil menapakan kaki di UGD. Ada seorang pasien wanita paruh baya yang sedang meronta, meringis kesakitan sembari terus mencengkram rambutnya. Tiffany memutuskan untuk memberinya satu suntikan agar dia lebih tenang.

Apa kau pikir ini adalah kekerasan rumah tangga?”

 

Tanya Tiffany pada Yuri dengan intonasinya yang di rendahkan. Berharap tidak ada yang mendengarnya.

Tiffany mengatakan itu bukan tanpa alasan. Dirinya begitu bingung, menemukan lebam-lebam yang tergambar jelas di beberapa bagian tubuh pasien wanita itu.

Dia tidak pernah memikirkan hal lain selain sesuatu yang lolos di pikirannya saat ini.

Yuri lalu melangkah mendekat dan membukatkan matanya melihat lebam-lebam yang kelihatannya baru di dapat oleh wanita itu.

Tapi buru-buru dia menyangkal itu semua, pikirannya masih harus bersifat logis dan professional sebagai seorang dokter.

“Eyyy…”

“Mungkin ini hanya faktor obatnya.”

Tetap saja, itu tidak membuat Tiffany untuk berpikir lebih rasional. Dia memang tipe-tipe dokter yang selalu membuat spekulasi sendiri berdasarkan apa yang pandangannya tangkap.

Sementara, Yuri selalu menjadi dokter  yang lebih sabar dan hati-hati di bandingkan sahabatnya.

Mereka berdua beradu tatap. Padahal, di dalamnya mereka sedang berdebat pendapat siapa yang lebih mendekati ke poin yang benar.

Sampai..

Seorang pria masuk dengan tatapannya yang kosong. Tiffany dan Yuri agak terkejut melihat tubuh pria itu yang di penuhi dengan tattoo. Jelas sekali bahwa dia seorang preman.

Dan Tiffany sudah mengambil keputusan akhirnya. Ia yakin ini adalah di sengaja. Wanita ini pasti mengalami waktu yang sulit untuk bersama pria itu.

“Anda walinya?”

Pria itu membungkuk pelan. Lalu memasang wajah khawatirnya.

“N—Ne.. dokter. Apa yang terjadi pada istriku?”Matanya nanar menatap Tiffany. Jelas sekali ia terlihat sangat sedih. Tapi, bagi Tiffany. Ia tidak mau termakan tipu dayanya.

“Tidak ada kelainan dalam check-up, dalam kasus ini. syok atau kelelahan menjadi penyebabnya.”

“Ambil saja obat yang ada di resep dan beristirahatlah dengan cukup.”

“Ttapi.. Dokter. Dia terus mengeluh sakit ke—“

“Jika kau tidak mendengar kata dokter, kenapa pergi ke rumah sakit?”

Dengan itu, pria itu berhasil dengan gopoh membawa kembali istrinya pulang. Sementara, Tiffany tidak habis pikir. Bagaimana bisa, masih ada orang di dunia ini yang mau menyiksa orang lain, tidak peduli bahwa itu adalah istrinya sendiri.


“Ini sepertinya pemecahan pembuluh otak.”Kata dokter unit gawat darurat itu. ia benar-benar yakin akan diagnosannya. Ia dengan jelas dapat membedakan sakit kepala biasa dengan tidak.

“Kalau sudah begini, bukannya pasien harusnya mengalami gejala dahulu!? Kenapa kau tidak membawanya kerumah sakit!!?”

Pria itu hanya diam tak bergeming. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia dapat memastikan, bahwa dokter perempuan itu menjawab semuanya baik-baik saja.

Kini amarah yang begtu hebat menyeruak di ujung tanduk kesabarannya.


 

 

“Kepalanya penuh darah dan kau hanya menyuruhnya pulang!?”

Direktur rumah sakit itu meninggikan suaranya. Sementara wanita berjas putih yang terduduk lemas di depannya hanya bisa menunduk,

“Tapi aku melihat tanda-tanda bahwa dia di ania—“

“APA KAU SEORANG POLISI!!?”Direktur itu memotong pembelaaanya dengan intonasi yang lebih tinggi

“Jika kau seorang dokter, bertindaklah seperti dokter! Obatilah orang sakit! Jangan menilainya sendiri!”

“Aku akan menskorsmu. Serahkan lisensimu.”

“Tapi, Direktur. Operasi minggu dep—“

“Apa itu yang penting sekarang!? Komite etik bahkan sedang berpikir untuk memecatmu, Tiffany.”

Tiffany benar-benar berada di titik penyesalan paling dalam. Kesalahannya dapat membunuh semua mimpi dan angannya untuk menjadi dokteryang hebat. Kecerobohannya perlahan bisa membuatnya semakin jauh dari tujuan awalnya menyembuhkan orang-orang sakit.

Dia terisak hebat, merasakan sesah di rongga dadanya yang seketika menyempit. Kepalanya terasa berdenyut sakit.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Taeyeon hanya bisa mondar-mandir di depan pintu apartment Tiffany yang masih tertutup rapat-rapat. Dirinya berusaha mencari kata-kata yang pas untuk menyampaikan niatnya kesini. Tetap saja, pikirannya tak mampu untuk menemukan keinginannya itu.

Ia bermaksud untuk mengajak Tiffany berkeliling kota Seoul dan merayakan ulang tahunnya yang terlewat. Taeyeon merasa masih berhutang kejutan untuk dokter cantik yang masih dalam hubungan dengan seorang namja imut itu.

Lalu pendengarannya menangkap derap langkah kaki yang beralaskan heels. Itu semakin mendakat membuatnya memalingkan wajah. Di dapati sosok wanita yang di tunggunya mendekat. Namun pandangannya jatuh ke tapakan yang akan di injaknya. Wanita itu merunduk.

Jelas sekali, ia menghindari tatapan Taeyeon yang kini hanya berjarak sepuluh kaki darinya,

Saat wanita itu kini tepat berhenti di depannya. Taeyeon hanya bisa terdiam berusaha mencari jawaban atas pertanyaanya sekarang.

“Tiff—“

“Taeyeon.”

Tiffany berhasil memotong perkataanya. Mulai menatap Taeyeon dengan tatapan nanar. Matanya sembab dan bengkak. Hidungnya kemerahan, jelas sekali dia telah mengeluarkan banyak air mata sebelum berhasil berdiri di depan wanita berambut coklat ini.

Taeyeon yang menyadari itu hanya bisa mematung,

“Pulanglah.”

Tergores kelemahan di nada bicara Tiffany. Membuat Taeyeon menautkan kedua alisnya cepat, perasaan khawatir dan takut kini mulai menggandrunginya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kenapa ia hanya mendapati dirinya dengan bibir terkatup rapat. Lidah nya terasa kelu untuk berkomentar,

“Jangan pernah kembali lagi, Taeyeon.”

Namun lanjutan perkataan Tiffany, sukses untuk mendobrak rasa gelisah yang sedari tadi meledak-ledak dalam hatinya,

Ia benar-benar bingung akan situasi ini. atmosfir ini, ia sangat membencinya. Sementara di dalam hatinya, dia terus berharap seseorang mau menjelaskan semuanya.

“Fany-ah.. aku—“

“Taeyeon.”

Bahkan panggilan yang biasanya ia dapati dari wanita itu tidak ada. Yang ia temukan hanyalah panggilan biasa yang ia hanya akan terima dari orang-orang yang tidak begitu mengenalnya.

Ia merasa begitu asing,

“Aku lelah akan semuanya.”

Kata-kata itu berhasil membuat Taeyeon mengambil langkah untuk menggapai sosok Tiffany,

“Cukup. Jangan mendekat.”Tukas Tiffany cepat lalu mengambil langkah mundur,

Taeyeon berhenti.

Dia berusaha mencari jawaban di bola mata gadis di depannya. Namun yang ia temukan hanyalah kebingungan, kesedihan, bimbang, juga penolakan. Ia benar-benar tenggelam akan itu semua dan Taeyeon bisa langsung mengetahuinya.

Taeyeon merasakan air yang mulai menggenangi pelupuk matanya, bersiap meluncur dengan segera.

“Aku tidak ingin mengenalmu lagi,”

Lalu jantungnya menolak untuk berdetak.

Andwea.. andwea..

Seperkian detik berjalan di sekitar mereka, akhirnya bendungan air mata itu telah berhasil tumbang.

“Ini semua karenamu. Aku menyerah, Taeyeon. Pergilah. Kau tau kita tidak akan pernah bisa bersama. Kau tau itu, Taeyeon. Aku hanya melihatmu sebagai seorang pasien dan ini begitu menggangguku, kau harus berhenti.”

Sementara gadis berambut coklat itu merasakan air yang semakin deras jatuh di kedua pipinya.

“Tau kah kau, aku begitu terbebani dengan perasaanmu?”

Fany-ah…..

Taeyeon hanya bisa diam sembari terus mencerna omongan Tiffany baik-baik. Ia merasakan perih yang begitu menyiksa di relung hatinya. Ini bahkan lebih menyakitkan daripada harus merasakan penyakitnya yang sewaktu-waktu akan muncul kembali,

“Kau terlalu buta untuk melihat semuanya. Jelas, tidak akan ada masa depan jika aku terus berjalan bersamamu. Di saat yang lain, bekerja keras untuk mendapatkan semuanya. Kau bahkan hanya bisa meminta dengan manja kepada ayahmu. Merengek padanya karna kau tidak mempunyai apa-apa. Kau tidak bisa menghadapi dunia ini, Taeyeon.”

Cukup, fany-ah.. kau menyakitiku……

“Kau bukan apa apa selain gadis penyakitan yang tidak mempunyai siapa-siapa.”

Dengan itu, Taeyepon berbalik. Memunggungi Tiffany yang masih berdiri tepat di belakangnya. Dia terisak, buru-buru di hapusnya air mata dengan punggung tangan,

“Fany-ah..”

Setelah sekian lama ia bungkam, ia masih sudi memanggil wanita itu yang kini menyakitinaya dengan panggilan sayang yang ia buat sendiri.

Kini, giliran gadis di belakangnya yang membisu.

“Bahkan gadis bodoh ini masih menganggap kata-katamu adalah bohong.”

Walaupun butiran hangat itu tak hentinya turun, Taeyeon masih berusaha mengumpulkan semua keberaniannya untuk menghadapai gadis yang masih mematung di belakangnya.

Dia mendengar Tiffany mulai terisak,

Uljima, Fany-ah..

“Maafkan aku karena begitu terlambat untuk menyadari semuanya.”

Saengil chukkae, Fany-ah..”

Tanpa berniat untuk mendengar jawaban, Taeyeon segera mengayunkan kakinya dengan gerak cepat, lama kelamaan ia berlari menjauh dari gadis itu yang sudah meluluh lantakan dinding hatinya yang sangat kuat,

Ia bahkan tidak sempat untuk menyampaikan tujuannya untuk datang ke apartment Tiffany dari awal.


“Ani… aku tidak percaya ini,”

“jjinja..”Yuri sesekali memijat keningnya yang  tiba-tiba saja berdenyut. Ia bahkan tidak bisa memikirkan lagi, bagaimana ceroboh sahabatnya itu.

mendengar semua yang di katakana si brunette membuat peningnya sehabis kerja tidak membaik.

Di tambah dengan cerita menyedihkan. Tak! Seperti menghancurkan moodnya begitu saja.

Tidak menghasilkan suasana hatinya beres hari ini.

“Apa kau bahkan berpikir dulu sebelum mengatakan itu padanya!?”

Tiffany terdiam. Dia masih memandang langit-langit dengan pandangannya yang kosong. Ia bingung harus menjawab apa. dia tidak benar-benar waras ketika mengatakan itu.

Atau mengatakan bahwa Taeyeon harus segera meninggalkannya.

Sungguh, ia tidak bermaksud seperti itu.

Bahkan melihat reaksi Yuri, ia baru menyadari. Seberapa jahat kata-kata itu terlontar dari bibirnya. Apa dia benar-benar menyakitinya? Sedalam itu?

“Anni… aku tidak berpikir, Yul-ah.”

“Jjinja Tiff!”

“Coba pikirkan lagi, disini.”

Yuri lalu meletakkan bokongnya di kursi hadapan Tiffany. Dia menyilangkan lengannya. Sesekali terdiam untuk memikirkan kata-kata yang lebih tepat.

“Apa kau bahkan menyadari bahwa Taeyeon juga membuang mimpi masa depannya untuk bersamamu? Coba pikirkan lagi. Dia juga mau berkeluarga, mempunyai anak, menjadi seorang ibu. Aku yakin dia sudah memikirkan itu, tapi dia dengan bulat dan yakin mau membuang semuanya untuk bersama seseorang yang bahkan tak pernah mau mengakui keberadaanya. Oke. Itu terdengar jahat,”

“Tapi, Tiffany. Disini, kau juga harus melihat bagaimana Taeyeon mengabaikan itu semua, hanya untuk bersamamu.”

Dengan itu, ia merasakan rongga dadanya menyempit. Bagaimana bisa ia tidak melihat dari sisi Taeyeon selama ini.

Mungkin obrolan hari ini, menjadi tolok ukur bagaimana dirinya bisa mencoba mengerti pengorbanan yang orang lain lakukan untuknya.

Sudah dua minggu ia tidak pernah bertemu dengan gadis itu lagi. Dimana hari dia telah mengusir nya jauh-jauh, ia menyesalinya. Dan sekarang,ia merasa sangat kesepian.

Gadis itu tak pernah mencoba untuk menghubunginya lagi.

Untuk seminggu ini juga, ia dengan alasan yang kurang jelas. Mendapatkan lisensi dokter nya lagi. Ia mulai bisa menjalani hari-harinya sebagai dokter di rumah sakit kembali.

Namun, dengan keluarnya Taeyeon dari sini, sedikit meninggalkan goresan luka di hatinya. Baginya, tidak melihat wajah yang mempunyai tatapan teduh itu, tidak bisa melengkapi harinya. Lagi-lagi, untuk alasan yang kurang jelas. Taeyeon harus meninggalkan rumah sakit ini. padahal, ia yakin Taeyeon belum sepenuhnya sembuh.

Apa itu di lakukannya untuk memenuhi keinginan Tiffany?

Tiffany benar-benar tidak tahu jawabannya, dan berharap itu bukan alasan sebenarnya. Ia tau Taeyeon bukan orang yang seperti itu.

 


“Tiff. Seseorang ingin bertemu denganmu.”

Yuri membuyarkan lamunan Tiffany di ambang pintu. Dia menyenderkan tubuhnya, menyilangkan kedua tangannya di dada. Dia masih merasa agak kesal dengan sahabatnya itu.

Tiffany berpaling, menemukan sahabatnya dengan tatapan datar. Dia tau sahabatnya itu masih dengan mood yang sama seperti kemarin. Ia mengakui kesalahannya.

Tiffany bangkit dari duduknya, memberikan senyuman untuk sahabatnya itu yang tidak bergerak dari posisinya. Yuri menatapnya dengan heran, detik kemudian Tiffany berjalan menghampirinya. Masih dengan senyuman.

“Berhenti bersikap seperti itu padaku, Yul… oh? Oh?”Ucap Tiffany dengn aegyonya. Berharap sahabatnya itu mau memaafkan kesalahannya.

Yuri hanya bisa memutar bola matanya. Lalu menatap Tiffany jengah,

“Hentikan itu. kau membuatku mudah untuk memaafkanmu.”awalnya nada yang di pakainya masih dingin, namun kelamaan Yuri malah tenggelam dalam omongannya sendiri dan ikut tertawa renyah dengan Tiffany.

Tiffany yang menyadari itu, hanya bisa mengembangkan senyumnya. Dia diam-diam bersyukur mempunyai Yuri di sekitarnya. Mempunyai sahabat yang selalu mengertinya. Tidak pernah meninggalkan sisinya.

Tiffany tanpa permisi memeluk sahabatnya itu. mengistirahatkan kepalanya di bahu Yuri. Untuk sesaat kedua matanya terpejam, mengubur rasa stressnya dalam-dalam. Dia merasakan tangan Yuri yang menepuk-nepuk punggung belakannya pelan.

“Aku benci diriku yang tidak akan pernah bisa marah padamu berlama-lama, Tiff.”

Itu membuat Tiffany menyunggingkan senyumnya.

“Itu karena kau terlalu menyayangiku.”Umpat Tiffany namun bisa di dengar dengan jelas oleh Yuri.

“Geure.. Tiff. Orang itu benar-benar sedang menunggumu sekarang.”itu membuat Tiffany melepaskan dekapannya dan melemparkan tatapan heran untuk Yuri.

“Siapa?”

Yuri menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyum yang tak luput dari wajahnya.

“Temui dia.”

Tiffany bisa melihat, ada sedikit pesan yang Yuri sampaikan lewat pancaran matanya sekarang. Walaupun ia belum menemukan jawaban siapa orang itu, Tiffany berbalik mempercepat langkahnya dengan rasa penasaran yang menggebu. Meninggalkan Yuri yang mematung tanpa senyum hilang dari wajahnya,


 

131210eab980ed8facecb69ceab5ad04

Tiffany hampir terjungkal ke belakang mengetahui siapa yang sedang berdiri bersandar pada dinding itu. seorang gadis yang bahkan ia kira tidak mau menemuinya lagi. Sesekali dia memainkan sepatunya berputar di tanah sembari melihat ke bawah. Tidak menyadari kehadiran Tiffany yang sedang memperhatikannya.

 

Dia mendongak dan mendapatkan Tiffany sedang melemparkan senyumnya.

Tidak peduli berapa kali ia merasakan sakit karena orang yang sedang tersenyum itu, ia masih bisa mendapati dirinya terpesona akan ke anggunan orang itu. bahkan jika di lihat dari sini, pancaran sinar matahari membuat orang itu seribu kali lebih sempurna dengan balutan jas putihnya.

Dia buru-buru menarik dirinya untuk tegap dan berjalan menghampiri Tiffany. Mengukir senyuman di setiap langkahnya,

“Hey.”

Tiffany benar benar bingung. Setelah semua hal jahat yang telah ia lakukan untuk orang di depannya. Dia masih sudi untuk menemuinya. Bahkan tersenyum padanya.

Dia bahkan menemukan orang itu sangat cantik hari ini. sejuta kali lebih mendebarkan melihatnya saat ini. Menatap mata orang itu membuatnya sesekali bergumam kagum, atas keindahan pahatan Tuhan yang sempurna itu.

Apa itu semua di rasakannya karena perasaan bersalah?

Sebelum Tiffany bisa membalas sapaanya,

“Maaf mengganggumu.”

Kini perasaan kecewa sedikit menyergapi Tiffany mendengar ucapan Taeyeon. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu setelah semua kebersamaan mereka. Bahkan ketika Taeyeon masih di rumah sakit ini.

Namun, ia tidak bisa menepis perasaan senang, bisa melihat Taeyeon mondar-mandir di dunia luar dengan keadaanya yang ia kira membaik.

“Taeyeon..”

“Jangan berkata seperti itu.”

Taeyeon hanya menjawabnya dengan senyuman. Dia lalu membuang napasnya cepat,

“Hufh.”

“Aku kira kau tidak mau bertemu denganku lagi.”Tukas Taeyeon cepat, membuat Tiffany sedikit terkejut. Dia yang seharusnya berkata seperti itu.

“Tae—“belum sempat, Taeyeon menggamit punggung tangan Tiffany. Membuat gadis yang lebih muda itu terhenyak untuk beberapa saat. Lalu mengikuti arah Taeyeon menuntunnya. Setelah mereka berjalan berdampingan menelusuri taman rumah sakit ini.

Lama kelamaan, Tiffany merasakan telapak tangan Taeyeon yang mengendur.

Andwea, Taeyeon-ah.

Namun percuma, karena genggaman hangat itu tetap lepas, pada akhirnya.

Tiffany menoleh untuk melihat Taeyeon yang masih menaruh pandangannya ke depan, lalu Taeyeon berpaling. Kedua mata mereka bertemu untuk sesaat.

Namun Taeyeon memilih lebih dulu untuk kembali melihat ke jalan. Membuat Tiffany sedikit kecewa atas gerakan kecil Taeyeon itu. membuatnya frustasi ingin menarik gadis itu untuk tetap menatapnya.

Namun disinilah dia, dia hanya bisa diam tak bergeming membiarkan pandangan teduh itu menjauh darinya,

“Aku hanya mau pamit.”Perkataan Taeyeon kali ini benar-benar membuat Tiffany membelalakan matanya. Dia menghentikan langkah selanjutnya. Membuat Taeyeon juga berhenti dan berbalik kearahnya.

“Wae?”Tanya Taeyeon singkat setelah melihat ekspresi Tiffany.

“Apa maksudmu, pamit?”

Namun Taeyeon malah menghindari tatapannya, membuat Tiffany merasa sedikit kesal. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban.

“Apa maksudmu, pamit! Kim Taeyeon!?”Ujarnya agak meninggikan suara, berharap Taeyeon mau menatapnya dan memberikan penjelasan.

“Aku akan pergi. Ke Amerika.”

Seseorang tolong bunuh Tiffany sekarang. Entah apa pun itu caranya, dia hanya perlu berhenti bernafas dan jatuh. Jawaban Taeyeon seperti tombak yang sedang menusuk hatinya sangat dalam. Perasaan bersalah, sedih, bingung menyeruak hebat sekarang.

Terbesit di kepalanya, bahwa dialah yang menyebabkan semua ini.

Tidak, jangan seperti ini.

“Jika ini karena ucapanku, aku minta maaf Taeyeon-ah..”Suara Tiffany mulai bergetar, air mata mulai menggenangi pelupuknya, dia menahan itu agar tidak jatuh.

Taeyeon yang melihatnya merasa lutut yang menjadi penyangganya lemas. Dia tidak mengharapkan butiran hangat itu jatuh. Apalagi dari wajah Tiffany. Cukup dia saja yang sudah menangis hingga bengkak semalam, juga karena masalah ini.

Benar-benar berat baginya untuk meninggalkan Tiffany. Sekali lagi, walau orang itu sudah menyakitinya berulang kali.

Melihat butiran hangat itu jatuh di pipi Tiffany, Taeyeon dalam hitungan detik menghapus dengan punggung tangannya.

“Anni… ini bukan karena itu, Fany-ah..”

Tiffany malah mengabaikan pernyataan Taeyeon dan mulai menggelengkan pelan kepalanya. Meraih tangan Taeyeon yang masih berada di pipinya,

“Maafkan aku…”

“Fany-ah..”Tiffany merengkuh tubuh Taeyeon untuk di peluknya. Dia meletakan dagunya di bahu Taeyeon. Tangannya terus menarik Taeyeon untuk lebih dekat, tanpa menyisakan jarak sedikitpun. Tiffany benar-benar membutuhkan dekapan hangat dan nyaman seperti ini sekarang.

Beban yang menghimpitnya kini berkurang sedikit setelah merasakan telapak tangan Taeyeon yang membelai lembut punggung belakangnya. Tiffany terpejam merasakan semua sentuhannya untuk saat ini. dia membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa penuh penyesalan, mencurahkan semuanya lewat air mata yang jatuh ke bahu Taeyeon. Membuat jaket wanita berambut coklat itu basah.

“Sshh..”Taeyeon terus mengusap punggung Tiffany, berharap gadis itu berhenti menangis karena itu hanya menambah luka di hatinya meluas.

“Maafkan aku untuk semuanya Taeyeon-ah. Maafkan perkataan ku sebelumnya, maaf karena aku belum bisa membalas perasaanmu, maaf karena hanya bisa membuatmu terus terpuruk, maaf untuk hal-hal yang membuatku seperti orang jahat di matamu. Tapi aku tidak mau kehilanganmu, Taeyeon-ah..”

“Mianhae.. jjeongmal mianhae..”

“Aku egois, aku tau itu. tapi keegoisanku terlalu besar untukmu Taeyeon-ah. Kau selalu mengatakan semuanya. Memperlakukanku dengan spesial dan berbeda. Tapi aku membalasnya dengan menyakitimu. Dan sekarang, disinilah aku memohon agar kau tidak akan pergi.”

Tiffany mengeratkan dekapannya, seakan ia tidak bisa merasakan pelukan hangat Taeyeon lagi kedepannya.

“Fany-ah…”Teaeyeon berusaha melepaskan pelukan mereka, dia ingin melihat kedua bola mata Tiffany sekali lagi. Namun gadis di bawahnya, tidak membiarkan dia untuk melakukan itu. dia malah terus mengeratkan dekapannya. Membuat Taeyeon masih sulit untuk bernafas.

Taeyeon yang sedikit terkejut, akhirnya tersenyum. Ia kembali mengusap punggung Tiffany.

“Itu tidak benar, Fany-ah. Kau tidak jahat ataupun egois. Mungkin kau tidak melihat orang-orang menyukai sifatmu yang mengagumkan karena kau tidak mau melihatnya. Mungkin kau tidak mendengar orang-orang mengatakan hal yang baik tentangmu karena kau terlalu fokus di hal yang buruk. Tidak sedikitpun menyadari bahwa kau mengagumkan, berbeda, spesial dan sangat-sangat cantik.”

Taeyeon mengatakan itu dengan semua kejujuran yang dia punya. Tanpa ragu, dia berusaha mengeluarkan semuanya. Tidak setuju dengan perkataan Tiffany sebelumnya. Mungkin dia memang masih terluka, tapi Taeyeon benar-benar melupakan itu semua saat Tiffany ada di sekitarnya.

Sedangkan Tiffany masih tidak percaya dengan apa yang Taeyeon katakan. Kata-katanya begitu menenangkan, ia kini tau dirinya semakin mengagumi sosok ini. dia diam-diam merasakan lega yang sangat bebas di hati kecilnya. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia mengharapkan Taeyeon untuk berteriak padanya, mengeluarkan semua emosi kekesalan yang ada untuknya. Bukan ini yang ia mau dari mulut Taeyeon. Ia merasa seperti orang paling jahat yang pernah Taeyeon punya, yang pernah malaikat ini punya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu.”Tukas Taeyeon kali ini ia perlahan melepaskan dekapan Tiffany. Rasa penasaran Tiffany mampu mendorongnya untuk melepaskan dekapan itu.

Taeyeon tersenyum sebelum memundurkan langkahnya, membuat jarak di antara mereka. Karena bagi Taeyeon, ia tidak akan mampu mengatakan apa-apa jika jaraknya sedekat itu dan perhatiannya pasti akan beralih ke papan wajah Tiffany yang sangat mempesona jika di lihat dari dekat. Itu membuatnya buyar dan gugup.

Tiffany yang menyadari itu hanya bisa merutuki sesal karena membiarkan gadis itu memundurkan langkahnya.

“Berbaliklah.”

Tiffany menaikkan satu alisnya, wajahnya masih basah akibat air matanya.

Taeyeon memundurkan langkahnya lagi untuk meraih sebuah bangku taman yang ada di dekatnya. Meletakan bokongnya perlahan. Dia tertawa kecil, tanpa alasan.

“Aigoo, tapi memikirkan apa yang ingin aku katakan, sedikit memalukan.”

Taeyeon yang menyadari Tiffany belum melakukan kemauannya, kembali berkata,

“Berbaliklah, Fany-ah.”

Tiffany menangkap keseriusan tatapan Taeyen untuknya dan memilih untuk berbalik. Melawan semua rasa yang menggebu di dalam dadanya untuk berlari dan kembali mendekap tubuh itu. ia bahkan sudah merindukan aroma Taeyeon yang khas walaupun ia baru saja mendapatkannya beberapa saat yang lalu.

Tiffany berusaha untuk tetap diam di tempatnya, membelakangi Taeyeon yang sudah terduduk.

“Sejak aku kecil, orang-orang di sekitarku terus mengatakan bahwa aku pintar dan cantik. Sampai-sampai aku juga berpikir seperti itu, He-he.”

Tiffany menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, mendengar itu.

“Tapi, lalu aku sadar bahwa aku bodoh.”

Senyuman Tiffany lalu hilang,

“Setelah sadar dan kembali mengingat itu, aku seperti menyerahkan segala yang kupunya.”

“Termasuk kamu, Fany-ah”

Tiffany terkejut akan perkataan Taeyeon itu namun dirinya lebih memilih untuk terus bungkam,

“Tapi setelah di pikir-pikir,”

“Aku belum pernah memilikimu sebelumnya, Fany-ah. Aku terlalu sibuk mengharapkan sesuatu yang kita tau tidak akan pernah terjadi.”

“Bodohnya, aku terus mempercayai itu. harapan bahwa kau akan menjadi milikku, aku percaya itu. setidaknya sampai aku sadar bahwa itu harapan kosong,”

“Aku jatuh untukmu terlalu cepat, memperhatikanmu terlalu banyak, memaafkan terlalu mudah. hingga akhirnya bagian dari diriku sendiri tidak lagi mengerti arti sebuah sakit.”

Maafkan aku… maafkan aku…

Bendungan air mata Tiffany kembali hancur. Air mata itu terjun bebas mendengarnya. Bahkan kini Tiffany terisak, membuat Taeyeon yang mendengarnya kembali di landa rasa yang membingungkan. Karna semuanya di aduk rata dalam satu wadah hatinya.

“Tapi, Tiffany. Setidaknya, aku harus mengatakan satu hal padamu,”

Tiffany menahan napasnya, namun itu juga sukses menjadi dorongan paksa air matanya untuk terus mengalir dalam diam. Dia terisak, namun ia mencobanya untuk tetap pelan, berusaha mendengar apa yang akan di katakana Taeyeon.

“Aku Mencintaimu,”

Tiffany bisa mendengar nya dengan jelas.

Taeyeon tertawa renyah di akhir pernyataanya. Tiffany bisa menangkap suara Taeyeon yang bergetar, dan ia tau bahwa gadis itu juga tengah menangis sekarang.

Kata-kata barusan, Tiffany sudah mengetahuinya. Ia tidak sebodoh itu sampai tidak menyadari perasaan Taeyeon. Tapi, pengakuannya kali ini benar-benar membuatnya lemas. Bahkan mendengarnya saja, ia merasa begitu berbeda. Ada desiran aneh di hatinya.

Seluruh tubuh Tiffany bahkan telah di ambil alih oleh perkataan Taeyeon. Dirinya tak bergeming.
Taeyeon berkali-kali menghapus air matanya yang jatuh begitu saja seiring semua perkataanya selesai. Dia bisa merasakan sakit juga bahagia saat ini.

Jauh di dalam relung hatinya, Taeyeon mengharapkan Tiffany untuk berbalik, mengatakan hal yang sama padanya. Tapi ia tau itu tidak mungkin terjadi, mengingat perkataan Tiffany tempo hari yang mengatakan dirinya hanya seseorang yang tidak mungkin akan dia gandeng untuk menuju masa depan.

Taeyeon lebih memilih membiarkan butiran hangat itu jatuh,  ia merasakan sesuatu yang menghimpit rongga dadanya saat ini. itu membuatnya sulit untuk membuas napasnya dengan normal.

“Jika aku datang mencarimu lagi,”

“Tolong sembunyi. Sembunyilah dariku, Fany-ah.”

“Karena aku tidak mempunyai kepercayaan lagi.”

Tiffany kini mengeluarkan semua tangisannya dengan bebas. Membiarkan isakan tangis nya dapat terdengar oleh orang-orang yang berlalu di taman ini. dia menutupi seluruh papan wajahnya dengan telapak tangan. Berharap ini semua tidak terjadi.

Tiffany benar-benar ingin berbalik sekarang. Tapi, bayangan-bayangan dirinya yang telah menyakiti Taeyeon berulang kali, mampu menahan kedua kaki jenjangnya untuk bergerak. Ia tidak bisa mengatasi ini, ia tidak akan menyakiti Taeyeon untuk ke sekian kalinya, lagi.

Ada jeda di perkataan Taeyeon dan itu membuat setiap detiknya sangat berharga, bagi mereka berdua.

“Aku pergi.”Tambah Taeyeon,

Tiffany terisak keras, masih menggelamkan wajahnya di telapak tangan. Dia mendengar pijakan kaki, dia tidak bisa. Tidak bisa untuk menghentikannya beranjak pergi meninggalkan dia sendirian. Lututnya terasa sangat lemas untuk menopang tubuhnya.

Sementara pijakan kaki itu semakin menjauh.

Tiffany jatuh terduduk menyesali semua perbuatan dan perkataanya. Sementara Taeyeon terus mengayunkan kaki menjauh, dengan tangisan. Dan luka yang mendalam.


Wanita itu menatap kosong lembaran kerja yang berserakan di atas mejanya. Lingkaran hitam di bawahnya menunjukan bahwa ia benar-benar kurang tidur. Ia bahkan terlalu lelah untuk hanya sekedar, memberi dirinya makanan yang cukup.

Pikirannya melayang jauh dari kenyataan dimana saat ini, seharusnya dia menghadiri sesi operasi yang di jadwalkan untuknya. Dia melemparkannya begitu saja pada orang lain untuk menggantikan dirinya.

Sudah tepat lima bulan setelah Taeyeon pergi. Tanpa dengan perpisahan yang nyata. Ini benar-benar membuatnya putus asa. Bahkan untuk terus mengejar mimpinya menjadi Dokter yang hebat dan di segani.

Ia tidak bisa menghapus bayangan Taeyeon yang terus menari-nari di pikirannya. Ia merindukan orang itu yang sudah berkali-kali di sakitinya. Ia rindu dekapan hangat yang selalu di terimanya ketika ia merasa dingin, ia rindu orang itu datang ke ruangannya membawakan makan siang.

Ia bahkan rindu pujian Taeyeon mengenai masakannya yang terasa buruk di lidah orang lain, ia menginginkan sosok itu yang tak pernah lupa mengingatkannya hal-hal kecil yang bahkan ia sendiri lupa untuk melakukannya. Tawanya yang khas itu, dia sangat ingin mendengarnya lagi.

Tatapan mata hangat yang selalu berhasil mencairkan hatinya yang dingin, senyumnya yang sangat teduh, juga sifatnya yang mampu membuat siapapun yang berada disisinya, bisa menjadi diri mereka sendiri.

 

Dia merindukan segalanya tentang Kim Taeyeon.

Ia membuang napasnya dengan keras, menyandarkan seluruh tubuhnya pada kursi. Menutup matanya, berharap semuanya akan terasa lebih mudah.

“Ckck”

Decakan itu mampu membuat Tiffany membuka kelopaknya kembali, menangkap sosok perempuan blonde bersandar di ambang pintu ruangannya yang sudah terbuka.

“Bukan ini yang Taeyeon harapkan darimu, Dokter Tiffany.”

large


 

“Kau hanya butuh istirahat lebih banyak, Jess. Aku akan membuatkan resep obat untukmu.”

Tiffany lalu sibuk bergelut dengan kertasnya, sesekali melirik Jessica yang masih menaruh pandangan tajam kepadanya.

“Jangan melihatku seperti itu,”Umpat Tiffany pelan, namun Jesscia dengan mudah bisa mendengar itu.

“Kau juga membutuhkan istirahat.”Balas Jessica,

Tiffany berdeham, “Hmm” tanpa repot-repot melihat kearah gadis di depannya.

Jessica lalu memutar kedua bola matanya. Ia mungkin tidak membenci dokter yang satu itu, tetapi ia juga tidak menyukainya. Tetapi dia bukanlah gadis jahat yang akan membiarkan, seseorang terlihat begitu lelah dan kurus. Apalagi, orang yang di depannya itu adalah salah satu orang yang begitu penting dalam hidup pemilik hatinya, Taeyeon. “Aku Serius.”

Tiffany lalu mendongak menatap Jessica, tatapannya kini berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kecilnya di dalam hati.

Kenapa dia begitu peduli padaku?

“Aku peduli, karna Taeyeon masih sering bertanya tentang keadaanmu.”

Jawaban Jessica kali ini, membuat kedua bola matanya membulat. Jantungnya berpacu cepat.

Ada rasa yang bergejolak disana, dan ia tidak bisa mengabaikan itu.

Benarkah itu.. Tae?

“TaeTae?”

“Ya, TaeTaemu.”

TaeTaeku? Dia menarik sudut bibirnya untuk tersenyum sekarang.

“Begini, Tiffany. Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu dari lama. Tetapi aku minta maaf baru bisa mengatakannya sekarang.”Intonasi Jesscia melemah seiring dia menyelesaikan perkataanya.

Tiffany mengangkat satu alisnya, sekarang dia benar-benar penasaran dengan apa yang akan Jessica sampaikan.

“Bodoh.”

“itu yang aku ingin katakana pertama. Kau tau kenapa?”

Tiffany menggeleng, walaupun ia bingung akan itu, tetapi bagian dari dirinya menerima itu dengan baik.

“Aku melepasnya, untuk bersamamu. Taengoo-ku. aku bahkan mengatakan, bahwa aku rela dan mengizinkan dia untuk memilihmu. Aku menyerah untuknya, karena dia selalu mengatakan namamu di hadapanku.”

Tiffany mulai mengerti arah pembicaraan Jessica. Sebenarnya, ia tidak tau bahwa Jessica bahkan sudah melakukan itu semua. Taeyeon tidak pernah menceritakan itu kepadanya. Atau hanya dia yang bodoh untuk menayadari jarak antara Taeyeon dan Jesscia yang mulai sangat renggang kala itu.

“Apa kau ingat, Tiffany? Kalung yang kau hilangkah di taman?”

Tiffany mengangguk pelan. Tatapan Jessica mulai tajam kepadanya.

“Taeng mencari itu seharian, dia bahkan melewatkan jadwal makan dan terapinya. Dia kedinginan, dan aku menemukannya sendiri dengan wajahnya yang sangat kebingungan. Hari mulai gelap, dan dia sendiri yang berhasil mendapatkan itu. Dia mengatakan untuk, tidak member tau faktanya bahwa dia yang telah menemukan itu. karena dia takut, kau akan khawatir akan keadaanya. Dia jatuh pingsan setelah itu, Tiffany.”

Tiffany merasakan air yang mulai menggenangi pelupuk matanya.

“Atau bahkan, hal-hal yang sebelumnya dia tidak pernah lakukan, ia lakukan itu semua untukmu, Tiffany.”

Lalu bendungan air mata Tiffany bocor,

Dia mulai terisak.

“Aku ingat, ketika dia menyerukan namamu, dengan senyum yang mengembang. Dia yang begitu semangat untuk membuatkan makan siang untukmu. Dia yang begitu tidak sabar menantikan jadwal cek nya agar bisa bertemu denganmu.”

Jessica menyeka butiran hangat itu dari pipinya sesekali. Sesekali ia melihat langit-langit karena terlalu sakit, untuk melihat seseorang yang telah menyakiti, Taeyeon-nya. Berulang kali.

“Kau tau, Tiffany. Mungkin dia hanya gadis lemah yang berpenyakitan. Tidak mempunyai pekerjaan selain hanya berbaring di tempat tidur rumah sakit, yang bahkan ia tidak pernah sukai, Jika bukan karenamu. Tapi dia adalah orang yang paling mengagumkan yang pernah aku temui. Aku tidak pernah mempunyai seseorang yang begitu sempurna seperti dia. membuat semuanya menjadi lebih mudah, karena senyum yang ia punya. bisa menghapus bebanku dengan tawanya yang benar-benar khas itu. hanya dia yang bisa melakukan itu semua, Tiffany. Dia memberikan kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan dari siapapun.”

Dengan itu, tangisan Tiffany semakin deras. Ia merasa ruang dadanya menyempit. Perasaanya teriris seiring perkataan Jessica yang terasa begitu keras menamparnya, ia merasa benar-benar begitu bodoh sekarang.

“Tapi, lihatlah yang kau berikan padanya sebagai balasan.”

“Kau meninggalkannya, Tiffany. Sendiri. berkali-kali. Dan dia masih terus berdiri untuk berada di sampingmu.”

Deru isakan Tiffany semakin jelas untuk di dengar. Ia benar-benar menyesali semuanya sekarang. Sepenuhnya,

“Aku benci harus mengatakan ini. tetapi, Tiffany. Orang yang rela menggantikan posisimu untuk pergi, adalah Taeyeon.”

Tiffany menggigit bibir bawahnya, bersiap menunggu lanjutan dari pernyataan Jesscia yang menggantung di akhir kalimatnya,

“Dia membuat kesepakatan dengan Ayahnya. Memohon kepada Mr. Kim untuk mempertahankanmu di rumah sakit ini, Karena kesalahanmu dulu. Karna permintaan itu tidak mudah untuk di kabulkan, sebagai gantinya dia harus pindah ke Amerika untuk pengobatan yang cukup, dan menetap di sana untuk waktu yang hanya dia dan Tuhan yang mengetahuinya.”

Maldeoandwea….

Taeyeon-ah…


Taeyeon ft. Sunny/This Must Be Love

Flashback

Walaupun sangat sulit untuknya melepaskan seseorang yang begitu di cintainya untuk seumur hidup, dia tidak mau menjadi gadis yang egois untuk terus mempertahankan rasanya yang tak terbalas, dan hanya menjadi beban bagi orang itu.

Perasaan itu ada. Kecewa, karna semua yang ia telah lakukan, dan impikan untuk masa depannya bersama orang itu, hanya mendapat balasan yang berbanding terbalik dengan semua angannya.

Bingung. Karena ia masih tidak mengerti akan semua situasinya. Akan faktanya bahwa dia benar-benar harus melepas genggaman dan berjalan menghadapi kejamnya dunia tanpa lengan yang menggamit punggung tangannya erat.

“Itu di luar kendali ku, Taeyeon.”

Jesscia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu bergaya klasik itu.

“Aku tau kau bisa, Appa. Sekali ini saja, Jjebal..”

Lalu di saut oleh suara lembut namun dalam yang Jesscia yakin, pemiliknya adalah Taeyeon. Dan ia sedang berbincang dengan pria paruh baya yang tidak lain adalah Mr. Kim,

“Kau benar-benar…”

“Apa kau begitu mencintainya?”

Seketika rasa penasaran yang benar-benar memcunbah itu mampu mendorong Jessica untuk menempelken daun telinganya ke sandaran pintu itu. berharap mendapatkan penjelasan yang lebih jelas atas apa yang baru saja ia dengarkan. Cinta?

“Nne.. Appa.”

Siapa… itu, yang kau maksud, Taengoo-ya?

“Berikan Appa alasan yang lebih kuat, Taeyeon.”

“Maksud Appa tentang.. Tiffany?”

Deg!

Jessica membulatkan matanya. Dia sudah jatuh berulang-ulang. Namun kali ini, ia sepertinya kembali jatuh di kedalaman yang hebat.

Ia mengepalkan tangannya, menutup kelopak matanya berusaha menahan semua emosinya yang kini menghujam ulu hatinya.

“Aku.. aku tidak mengerti juga, Appa. Dia berkali-kali menyakitiku, tapi rasanya, sangat mustahil untuk membencinya. Ego ku untuk terus bersamanya terlalu besar, Appa. Tapi, kau tau itu semua tidak mungkin, kan? Maka aku hanya ingin melakukan satu hal lagi, setidaknya sebelum aku melepaskan dia.. aku masih bisa menjadi orang yang berpengaruh di hidupnya, walaupun hanya sedikit.”

Tak di sangka air mata yang kini memenuhi pelupuk mata Jessica, akhirnya jatuh juga. Dia berusaha menahan isakannya agar tidak memancing perhatian, kepalan tangannya semakin kuat.

“Baiklah, appa mengerti. Besok Appa akan minta kepala rumah sakit untuk kembali menarik keputusannya agar Tiffany bisa kembali bekerja.”

Jadi ini semua karena itu….

“Tapi, sebagai gantinya. Kau harus ikut Appa ke Amerika. Mendapat perawatan yang lebih baik, dan tinggal bersama adikmu.”

 


 

huhu mianhae kalo banyak dramanya…

tapi percayalah, semua akan indah pada waktunya..xoxoxo

leave comment pls? :3

siapa yang masih sabar menunggu album dear santa ga sampe2 ya? :3 aku lelah menunggu abang~

jazzmine39 ❤

 

care to check our new twitter! @jazzatta1

follow and ask us about anything~

taenyjjang!!

Advertisements

90 thoughts on “MISTAKES (CHAPTER THREE) BY JAZZ

  1. Penyesalan slalu datang di akhir..
    Gimana fanny rasanya tersakiti??
    Itu blom sberapa kalo dibandingkan ama taeyeon.. (kesanya nyalahin fany bgt)
    Miris abis ni taeny..

    Like

  2. Asli sedih bgt, apa lg dgn kata” fany yg nolak tae, sakit bgt rasanya, fany tega bgt sm tae, demi fany tae rela brkorban apa aja smp memohon sm appa nya biar fany bs jd dokter lg, emang penyesalan itu dtg nya pst belakangan, br nyesel kan fany, klo fany emang nyesel n cinta buktiin susul tae nya keamerika, benar semua akn indah pd waktunya… thx thor dah update

    Like

  3. makasi thor lu bikin gw malem” mewek wkkwkw. tae luar biasa baiknya, kerasa itu gmn rasa penyesalan nya si fany. ini udh ending atau ada lanjutnya lg?

    Like

  4. Sedih bgt dari awal Mpe akhir hanya ada air mata aja.. Kasihan bgt tae sudah sakit + sakit hati yang ditorehkan sama Fanny.. Membatalkan pertemuan begitu saja, memberikan kata kasar yang sangat menyakitkan dan pada akhirnya tae pergi meninggalkan Fanny karena demi Fanny hanya untuk mendapatkan lisensi kedokteran Fanny.. Sedih hayati bacanya bang

    Like

  5. Sebegitu dalamkah rasa taeyeon untuk tiffany ?
    Brkorban segalanya demi seseorang yg disayangi, berapakalipun trsakiti, seberapa dalampun rasa sakit itu, asal bisa membuatnya trsenyum, semua terasa melegakan, sekalipun rasa sakit itu belum berakhir. Sekalipun kau menangis sepanjang waktu, sekalipun kau berteriak sekeras apapun, tetap tak akan bisa menghapus rasa itu.
    Huwaaaaa,,,!!! Curcol gw,,!!!,.
    Baca ff ini teringat dg masa laluku yg dulu.
    Readers baru salam kenal.
    Saya nih, sugen shipers, tapi brhubung dah jarang, atau mungkin gk ada ff SuGen lagi, jadi saya berubah haluan jadi RF shiper, hahaha,,,

    Like

  6. Sedih c pas baca ny tp tdk sampe mengeluarkan aer mata.. Feel ny kurang.. Agak lupa jg jln cerita ny.. Mungkin krna kelamaan y update ny sehingga mengurangi feel ny.. Dan d selang ff yg laen jg jd biasa biasa ajj.. Yg td ny gereget jd flat..
    Sorry y jazzmine sekedar opini
    D tggu chapter selanjut ny.. SEMANGAT

    Like

    • sebelumnya kami mau minta maaf ya karena jangja waktu untuk updatenya lama^^ kita lumayan sibuk karna sekolah. but thats alright. thanks for the critics. hoped we’ll can fix our mistakes ❤

      Like

  7. astaga kenapa taeyeon sebaik, sekeren dan semempesona itu…tidak salah aku memilihnya menjadi biasku, aku suka dengan style yang apa adanya..kasian bnget taeyeon, fany kau benar – benar menyakitinya, lihatlah? dia berkorban lagi untukmu, kau melihatnya?! aish dasar tiffany hwang!

    Like

  8. 😢😢😢😢😢😢tae dah bnyak berkorban..emng yah klo ngerasa kehilangan klo orangnya dah pergi..😢😢😢😢panny BODOH😤😤😤😤😤😤😤😤

    Like

  9. Huaa thorr 😂😂😂
    Ni air mata udah netess teruss nggak mau berhenti 😭😭
    Pany ah, kenapa km bisa sampek segitunya sama taetae, dia udah berkorbansebegitu banyaknya buat km, huhu
    Authorr sukses bikin readers mawek ini 😢😢
    Next chap bikin tae bahagia thorr 🙏😿

    Like

  10. Anjiiirrrr gue ngerasain banget ama apa yg tae rasain , sakit broh. Feelnyaa dapet bangetlah sumpah , lanjut thor

    Like

  11. Mine aku mewek bacanya, srius…
    Sakit bnget rsanya pas bca tiap kata yg kluar dr mulut ppany utk taetae….
    Huuuft,
    Kadang saat kta khlngan bru lh kta mnyadari klo trnyata dia it bgtu brrti utk hdup kta…
    Saat tae mnjauh, dsaat it pla lh ppany mnyadari klo dy butuh tae di sisi nya…
    Bahkan tae brkorban bgtu bnyak buat ppany,
    Trmasuk hrs pindah dan menetap di amerika…
    Hanya demi mmprthankan ppany agar ttp bkrja mnjdi dokter spt cta” nya….
    Bahkan sica rela mlpas tae utk ppany,
    Jka dlhat sbnarnya sica lha yg hrs nya mndptkan prhtian tae…
    Bukan ppany #keselgue
    Haaah…
    Smngat yaaa mine buat ff nya…
    Sumpeeeh feel nya dpt banget di part ini.
    Thankz yaaaa…

    Like

  12. hampir lupa sama cerita ff ini….tiffany bener2 ya…kapan sih gak nyakitin taeyeon, kayak semacam karma jg ya, sica ngejar2 cinta tae tp gak berbalas sekarang malah tae yg ngejar2 cinta fany tp malah terus tersakiti huwwaaa…

    Like

  13. pnyesalan selalu datang di akhir..fany psti nyesel abis abisan krn dirix taetae prgi..
    salut sama pengorbananx tae demi org yg dicintaix..
    sedih banget nih thor..ampe nangis aq..

    Like

  14. Aku jatuh untukmu terlalu cepat, memperhatikanmu terlalu banyak, memaafkan terlalu mudah. hingga akhirnya bagian dari diriku sendiri tidak lagi mengerti arti sebuah sakit.”
    Itu kata2 feelnya terasa bnget,,

    Keren thorr

    Hwaiting thorr!! 😀

    Like

  15. part yg bner nguras air mata, tae baik bget sih dh berkali2 disakitin masih tetap baek ja ma fany, udah mnding tae ma sica aja kn lbih mantep biar fany’y nyesel bget..

    Like

  16. Abis sudah aer mata yg gw tahan.. sesugukan gini.. ngeliat tae pergi gitu aja scra gentel😢😢 benci bwgd gw sm lw pany😠😠😠 liat skrng siapa yg lebih sakit, dirimu kan stelah tau semua penjelasan jessi tentang tae yg pergi begitu saja tp msh punya etika yg baik terhadap mu, pany!! 😢😢 aq harap tae lebih baik😊

    Like

  17. Selalu terlambat menyadari jika orang yang paling kita butuhkan adalah orang yang dengan mudah di kecewakan oleh kita, manusia memang makhluk yang egois.
    Fany-ah untuk apa menangis ?, itu semua tidak ada gunanya.
    Aishhh ini chapter bikin merinding 😳

    Like

  18. ditinggal taeyeon baru tahu tempe fany. he he
    taeyeon lupakan fany jadian aja ama sica.
    shipper taengsic mendukung always
    lanjut thor law bisa endingnyaa taengsic. he

    Like

  19. Demi ini gua kebawa hati bacanya T.T.
    Tapi kalau liat perasaanya pany yg masih pacaran sama nick jasi kesel sama dia ,kenapa belaga kehilangan kalau disebelahnya masih ada pacarnya yg dia cinta & juga taeng ngapain masih berdiri untuk org yg gk bisa ngasih dia kepastian huaaaa gue greget sama mereka berdua haha udh yeon lu sama sica aja ya walaupun gua ngarepin taeny tapi kalau pany nya begini ya gk mau juga lah kalau taeng nanti di sakitin lagi..

    Like

  20. chapter banyak bikin nyesek plus baper tapi tetep suka 🙂
    disatu sisi ngerasa rasa sakit hati tae itu sebanding dengan rasa sakit yg dia kasih buat jessica, tapi rasanya tae lebih tersakiti karena fany. semacam karma.
    dan entahlah, aku harap fany bisa ngerasain sakit akan kehilangan sosok tae, pinginnya sih fany nyesel setelah taeyeon bener” pergi dari kehidupannya 🙂
    nice story thor 🙂 keep hwaiting 🙂

    Like

  21. Terus pd akhir y sy nyesek baca nya 😭😭😭 taeyeon ku bs merasakan prjuangn mu membuat surprise itu tp nyata y tiffany heum disatu sisi sy kesak dgn sifat y meskipun sy tau dia harus utamakan kekasihnya tu.poor taeyeon kamu makin terluka dan sendiri arungi perasaan mencintai terlalu dlm itu.mine ni hnyut bikin ke bawa suasana hati jg la.>> daebak la karya nya

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s