SHE KEEP ME WARM (2/4) BY ATTALOCKSMITH

 

**

Suasana siang itu begitu ramai, orang-orang yang begitu kelaparan sejak pagi hanya duduk disalah satu ruang membosankan akhirnya bisa melepas kantuk pada kantin yang memberikan banyak hiburan, memberikan banyak candaan dan obrolan yang membuat kehidupanmenjadi lebih, hidup. Seperti hiburan yang dapat di nikmati semua orang, hiburan yang berbau sangat baru. Hiburan itu adalah, gadis berambut hitam dengan senyuman yang paling indah dan tubuh, wajah yang begitu sempurna sedang duduk di sudut ruangan dengan beberapa orang yang mungkin ia baru kenal, tertawa begitu indahnya, bahkan ketika ia mengunyah makanannya, mata mereka tidak berhenti menatapnya, hingga ke bibir, kembali lagi ke mata, lalu ke wajah, lalu ke tubuhnya yang begitu sempurna, kembali lagi ke bibir. Entah apa yang paling menarik darinya, mungkin semuanya?

Sesungguhnya ia tidak begitu peduli akan banyak mata yang memperhatikannya, namun ada perasaan yang begitu risih, tetapi, apa yang ia dapat lakukan? Ia bahkan tahu bahwa ia menjadi pusat perhatian karena kecantikannya, atau yang ia percaya karena semua orang di sekitarnya yang selalu memujinya. “Kemarin sore aku pergi kesalah satu ruangan Art.“ ujar gadis itu,

“Lalu?”

“Dan aku bertemu dengan seseorang, dia sangat mengagumkan. Dan sangat menarik.”

“Benarkah? Seperti?”

“Jadi, ada gadis ini, dia sangat cute, rambutnya blonde, dan suaranya sangat indah ketika ia bersenandung, sangat lucu ketika ia begitu kesal.” Gadis lainnya seperti tersedak sesuatu padahal tidak sedikit makananpun menyangkut di tenggorokan mereka, namun,

“Kriterianya mendekati seseorang.” Ujar Krystal mengedarkan pandangannya pada ruangan.

“Tap-Tap.” Sosok dari luar ruangan itu berjalan dengan santainya, gadis berambut coklat gelap itu mengenakan pakaian yang begitu menggoda, dengan short pants dan sneakers berwarna putih, merapihkan belahan poninya sesekali kebelakang.

“Ah! Itu! gadis itu! seingatku rambutnya blonde.” Krystal, Sulli, juga Ji-Eun terdiam, tidak tahu harus merespon apa, apakah benar kawan baru nya ini mengidap suatu penyakit dimatanya? Pasalnya, gadis yang baru memasuki kantin itu.. sangat hot. Bukan sekedar cute.

“Are you mad!?” (Apa kau gila!?) Sahut Krystal seperti tidak terima akan pernyataan dari, Tiffany.

“Wae?” Sulli tertawa kecil melanjutkan sarapannya, sementara Ji-Eun tak hentihenti nya menikmati pemandangan setiap paginya, Taeyeon.

“Cute!? She’s freakin’ HOT!” Lanjut Krystal membanting pelan pisaunya,menikmati hobby paginya, yaitu tidak ada perbedaannya dengan Ji-Eun.

“Ya I know. But she’s really cute too though.” Tiffany kembali memperhatikan gadis yang baru ditemuinya kemarin, gadis itu terlihat begitu bersemangat pagi ini, sesekali melemparkan kecupan hangat pada pipi seorang gadis yang ada di sebelahnya, membuat Tiffany sedikit risih, yang benar saja, gadis yang menggodanya sudah memiliki seseorang!? Tsk!

Damn… kakak-ku begitu beruntung. My Sister… are so lucky.” Tiffany terenyah, wait, what?

Your sister!?” Krystal menoleh, mengangguk pelan.

“Ya, 5 detik yang lalu, gadis yang kau bilang CUTE itu, baru saja mengecup pipi gadis yang ada di sampingnya itu, kau lihat kan, itu, kakak-ku, Jessica.” Tiffany makin terasa tersesat, ia butuh penjelasan lebih tentang rasa penasarannya, entah mengapa ia memiliki perasaan yang tidak biasa pada gadis itu, yang benar saja, gadis yang baru saja di temuinya!? Apalagi, dia seorang Yeoja! Bagaimana seorang Yeoja dapat menarik perhatiannya seperti ini?

“Kau terlihat begitu bingung, akan ku jelaskan, dia, adalah, Kim Taeyeon, The Kim Taeyeon, senior kita yang begitu cantik dan hot! Ia mendapatkan gelar The Top Hottest Chick in our school! Ada banyak idiot, maksudku, pria pria Hot yang mengejarnya namun tidak pernah berhasil sedikitpun, Kim Taeyeon, beberapa kali menjalin hubungan namun tidak pernah berlangsung lebih dari seminggu,bukan, bukan ia seorang Player, namun itulah karakternya, ia mengencani semua pria yang menurutnya baik hati, well, mungkin itu sedikit cliché, tetapi bahkan kakak-ku tidak tahu menahu mengapa ia melakukannya, mungkin ia hanya bosan atau entahlah, ia sering mengganti warna rambutnya, dan harus diingat, Girls would definitely be gay for her. Yah, jika kau bertanya apa seorang Kim Taeyeon straight or…. Well, she’s straight, as a bendy ruler. Haha, Seperti yang kau lihat, Ji-Eun, ia sangat terpana saat ini, well, Taeyeon-unnie pernah sekali mencoba mendekatinya namun itu 2 tahun lalu, ketika Ji-Eun sangat tidak normal menolaknya didepan seisi kantin yang begitu ramai, Tsk! Sekarang lihatlah ia begitu menyesal dan sampai saat ini masih terpana oleh seorang-yang-ia-tolak-entah-karena-apa. Okay back to the topic, Kim Taeyeon, ia mengambil jurusan Art Music Major, dan ia sangat handal dalam bidangnya, kau akan beruntung jika ia menerima tawaran untuk mengisi acara di akhir tahun, ia akan membawakan sebuah lagu, ciptaannya, dan suaranya, urgh! Seperti surga! She’s just too perfect! Last but not least….”

“Kim Taeyeon pernah jatuh cinta, begitu dalam oleh seseorang, hubungan mereka berlangsung selama 5 tahun, namun kandas 3 tahun lalu ketika seseorang itu seperti.. mengkhianatinya… dan….. Kakak-ku adalah.. seseorang itu..I mean… Taeyeon’s Ex Girlfriend.. was.. my sister.” Tiffany yang sedari tadi begitu serius mendengarkan penjelasan yang begitu menarik itu kini tersedak, ia berusaha mengambil segelas air, yang akhirnya di berikan oleh Ji-Eun.

“Kau tidak perlu kaget, Taeyeon-unnie dan Jessica-Unnie kini hanya bersahabat.” Ujar Sulli sembari menepuk pelan punggung Tiffany.

“Ya, Kau benar, jangan lupa, Kim Taeyeon tidak pernah mengejar seseorang lagi setelah ia mengejar Ji-Eun, entah mengapa sejak itu ia berhenti mendekati seseorang, kakak-ku berkata sahabatnya hanya lelah untuk sakit hati, jadi kemungkinan Taeyeon-unnie dulu benarbenar jatuh cinta pada Ji-Eun! Well jika ia mengejarku, aku tidak akan repot repot mengambil secarik kertas untuk menolaknya” Krystal melirik sahabatnya yang sedari tadi memperhatikan Taeyeon, Ji-Eun menoleh merasa seseorang sedang menyindirnya harus, menggerutu pelan,

“Tsk! Soo-Jung-ah! Bisakah kau berhenti membuat-ku menyesal?” Ujarnya lalu kembali memperhatikan gadis sempurna itu. Tiffany hanya terkekeh, “Kim Taeyeon, meminta nomor ponsel-ku kemarin, dan aku fikir ia mencoba mendekatik-….”

“Lalu!? Apakau memberinya!? God you’re lucky! Jika kau menolaknya, sudah pasti ia akan berhenti mengejarmu! Sangat tidak mungkin ia akan melanjutkannya walaupun ia akan berkata ia akan terus mencoba” Tiffany menggeleng pelan,

“Tidak..” Ketiga gadis itu terdiam, sungguhlah bodoh kawan barunya ini. Tiffany merubah posisinya, ia membelakangi sosok itu, tidak ingin melihat sosok yang benar benar membuat jantungnya berdegup kencang bahkan ketika ia tidak melakukan apa apa. Ia mencoba focus pada makanannya, fikirannya.

Perasaannya begitu campur aduk kali ini, entah mengapa ia merasa seperti bumi yang memiliki gravitasi terhadap bulan, baru pertama kali, di hidupnya, ia begitu tertarik oleh seorang Yeoja, entah mengapa ketika ia melihat gadis itu, ia merasakan sesuatu sedang berlomba di dalam jantungnya, entah mengapa, setiap ia menangkap mata itu, ia merasakan kenyamanan dan kehangatan, entah mengapa ketika mata mereka bertemu, she feels… home. Detik kemudian ia merasakan udara hangat melawan lehernya yang jenjang, ke atas, merasakan tangan yang begitu halus menyelipkan poninya kesisi telinganya, membisikkan sebuah kata.

“Kita bertemu lagi, Tiffany-Hwang. Salam kenal” Gadis yang sedari tadi tersesat itu kini tersenyum, ia masih ingat betul suara lembut yang baru saja menyapanya. “Hello shorty.” Jawabnya sedikit ketus sekaligus mengejek itu, membuat Taeyeon terkekeh kecil. Yang benar saja, Tiffany bahkan terlihat begitu imut menurutnya, Tiffany yang dingin itu semakin membuatnya sedikit tertarik, harus di akuinya bahwa gadis itu sangatlah cantik dan menawan, tidak lupa, ia begitu.. menggoda, tetapi dari semua itu, gadis itu sangatlah cute!

Taeyeon tak dapat memungkiri bahwa jantungnya seakan berhenti ketika senyuman itu berada di peredaran wajah cantiknya, ia benar benar mengagumi sosok itu. Mungkin sudah seribu Yeoja yang sudah ia temui bahkan kagumi karena kecantikannya, tetapi Tiffany, ia sedikit, tidak, ia sangat berbeda. Entah mengapa gadis itu seperti memiliki magnet dengan daya yang tinggi untuknya. Dilain sisi ia merasa sedikit takut, sejujurnya ia belum siap membiarkan hati rapuhnya untuk jatuh lagi. Ia seakan berharap bahwa perasaannya hanya berlewat sementara, lagipula bukankah Tiffany sudah memiliki kekasih? Apa daya dirinya begitu saja, hanya pertemuan sepele membuatnya tertarik pada gadis yang memiliki senyum yang indah itu.

“Kau harus menatap matanya ketika berbicara dengan seseorang Tiffany.” Ujar Taeyeon sembari tersenyum, menarik wajah gadis itu untuk berpaling ke arahnya. Detik kemudian, ia lagi-lagi terpana melihat mata berwarna hitam yang legam itu, pantulan cahaya yang memantul pada bola mata itu membuat pandangannya tak ingin beranjak dari sana.

Tiffany benar benar memiliki mata yang begitu indah, untuknya. Ia menyunggingkan senyumnya sementara Tiffany hanya terkekeh, walaupun ingin rasanya menghindari sosok imut ini, ia tidak dapat membantah bagaimana cute sosok Taeyeon dengan wajah kekanak-kanakannya namun tampak memancarkan auranya yang sangat.. hot. Ia yakin semua pria demi mati untuk Taeyeon.

“Bisakah aku berbicara denganmu sebentar, Tiffany?” hanya anggukan kecil yang didapat Taeyeon. “Bicaralah.” Ujar Tiffany kecil lalu mengalihkan pandangannya pada makanannya. Membuat Taeyeon semakin merasa bahwa ia menganggu gadis yang sedang menyantap sarapannya itu. sejujurnya, yang ia inginkan hanyalah mengenal Tiffany lebih dekat, setidaknya melihat senyuman yang ia kagumi itu.

“Not here.” Ujar gadis brownie itu lalu tersenyum. “Pst!” Krystal menggunakan sikunya untuk menyadarkan Tiffany bahwa gadis yang sedang berbicara itu adalah Kim Taeyeon, The Kim Taeyeon, membuat Tiffany menoleh, sedangkan Taeyeon seakan mengerti sedari tadi ia hanya memperhatikan sosok yang di kaguminya itu tanpa menyadari kehadiran orang orang yang di kenalnya sedang memperhatikan mereka.

“Anyeng Soo-jung-ah! Sulli-ah.” Keduanya tersenyum hangat pada Taeyeon meskipun rasanya ingin lari sekencang mungkin keluar gedung ketika suara itu menyapa mereka. Di edarkan pandangannya pada arah lain, mendapatkan sosok imut itu tersenyum hangat ke arahnya, senyuman yang tidak akan pernah berubah, senyuman yang membuat hatinya lebih hangat.

“Anyeong, Ji-Eun-ah” Gadis yang baru disapanya itu semakin tersenyum lebar, merasakan detak jantungnya yang sangat cepat dan hanya dapat mengangguk kecil tanda membalas sapaan Taeyeon itu.

“Apa kau sibuk? Aku hanya ingin berbicara sebentar.” Ujar gadis yang kini berambut coklat itu, sementara Tiffany hanya terdiam, sedikit bingung akan apa yang harus di lakukannya. “Baiklah aku rasa kau tidak ingin berbicara denganku sekarang, kalau begitu sampai jumpa.” Gadis itu sudah bersiap untuk beranjak sampai jemari-jemari yang lentik juga lembut itu menahan lengan kecilnya.

Arraseo, Kim Taeyeon.” membuat hati gadis itu sedikit longgar, lengan itu menarik Tiffany lembut, membuat gadis itu ikut berdiri. tanpa disadarinya ia menautkan jemarinya dengan jari jari Tiffany yang lentik. Membuat gadis itu semakin merasa sedikit geli di hatinya, semacam mendapatkan suatu perasaan aneh di dalam hatinya, seperti jatuh cinta kembali, atau sebaliknya, merasa khawatir? Entahlah ia belum menemukan jawabannya, yang ia tahu sosok yang menurutnya cute itu tiap detiknya semakin membuatnya penasaran akan kelanjutan dari cerita yang tanpa di sadari dibuat oleh Taeyeon.

“Orang-orang memperhatikan kita.” Bisiknya sedikit kecil yang kiranya sadar akan banyak mata yang memperhatikan gerak mereka, tidak terkecuali sahabat Taeyeon dan teman baru Tiffany, yang mana juga sahabat-sahabat kecil Taeyeon.

“Kalau begitu biarkan, apa kau merasa risih, Tiffany?” tentu saja gadis itu menggeleng pelan, bukan risih, ia hanya merasa sedikit khawatir akan suatu hal.

“Kalau begitu, pria pria hot itu akan membunuhku.” Taeyeon terkekeh, gadis ini lucu tanpa ia menyadarinya.

“Kenapa?” Heol. Tiffany berpikir apa gadis hanya berpurapura bodoh atau benar benar bodoh? “Kenapa? Kau benar benar bertanya kenapa?” Lagi lagi sosok imut itu terkekeh,

“Kalau begitu biarkan, dan percayalah kau tidak akan terbunuh.”

“Dan kenapa itu?”

“Karena aku akan menjagamu.” Gadis itu terdiam. Seorang Kim Taeyeon nampaknya sudah sangat berpengalaman menggoda gadis gadis gadis cantik, fikirnya.

Dia benarbenar sosok yang sempurna, walaupun penampilannya sudah mampu membuat orang orang jatuh cinta, sifatnya semakin membuat orang orang jatuh terlebih dalam, yang ia fikirkan adalah, jika ia benarbenar jatuh keperangkap gadis imut yang merangkap menjadi gadis hot itu. Akankah ia bisa bangkit dan mencari jalan keluar? “Yah! Cheesy much?” Taeyeon hanya terkekeh, ia bersungguh – sungguh akan hal itu, lagipula siapa yang tidak ingin melindungi ciptaan Tuhan yang hampir sempurna itu? Entah mengapa Tiffany sama sekali tidak merasa risih atau keberatan akan gadis itu yang menarik dan mengenggam tangannya selama perjalanan hening mereka yang cukup awkward, sampai mereka berada di suatu taman yang sepi dan sunyi, terlihat awan abu menggantung di langit, sedikit suara gemuruh petir berkejaran kecil, pertanda akan hujan lebat, cuaca yang sangat bagus untuknya, benar, seorang Kim Taeyeon tidak menyukai sesuatu yang glamour dan terang, apapun itu yang memancarkan cahaya, ia bukanlah penggemar akan cahaya, namun cahaya yang ada di hadapannya sekarang, gadis yang memancarkan cahaya yang begitu indah untuknya, senyumnya, semuanya. tentu berbeda cerita.

Wait here.” Tiffany lagi-lagi terkekeh, tidak salah lagi, ia begitu menyukai cara Taeyeon yang seperti anak kecil ketika berbicara atau kadang bertingkah, ia menarik kakinya untuk duduk disebuah bangku taman, menunggu sosok konyol itu dengan segala kejutannya, harus di akui sosok yang sangat baru dikenalnya itu membuatnya semakin masuk kea rah yang lebih dalam untuk mempelajari seorang Kim Taeyeon. “Ini, untukmu.” Bunga itu tampak begitu cantik, dengan warna pink dan sedikit polesan marun, dan beberapa tangkai yang menjadi penopang. Tercium begitu harum bahkan dengan jarak pandang yang lumayan jauh.

Tiffany menyeringai kecil, gadis ini rupanya benar benar tidak menyerah, kali pertama ia di kejar seorang gadis yang gigih, bukan seperti kemarin, sepatah kata saja ia mengaku jika ia sudah memiki seseorang, maka siapapun itu akan menjauh dari Tiffany, sadar akan ketidakmungkinan yang mereka dapatkan. “Kau begitu percaya diri Kim Taeyeon.” Gadis itu tertawa kecil, memberikan sedikit paksa bunga yang ada ditangannya pada telapak tangan Tiffany yang halus itu karena ia begitu yakin gadis itu tak akan menerima bunganya, mungkin gadis ini benarbenar tidak tertarik dengannya, tetapi apa daya seorang Kim Taeyeon bukanlah karakter yang mudah menyerah seperti itu.

“Yes, i am.” Jawabnya singkat lalu tersenyum. “Sooner or later, you’ll be mine.” Sungguh rasanya ia ingin terbang sampai atap gedung melihat kedipan mata Taeyeon yang baru saja di lemparkannya. Ia terkekeh. “I’ll be what…..?” Ujarnya memberi nada sedikit tidak terima walaupun rasanya ingin ia merengkuh tubuh mungil itu. “My girlfriend of course.” Taeyeon melangkahkan kakinya mendekat pada tubuh gadis itu, “Geez! Kenapa kau begitu yakin? And why would i want to be with you!?” Tiffany rasanya benarbenar ingin melayang dibuat gadis imut yang kini tersenyum,

“uhm..’because im hot..?” Taeyeon menyeringai kecil dengan candaannya, membuat Tiffany terkekeh, gadis berambut coklat itu dengan mudahnya tersenyum hanya karena tawa kecil seorang Tiffany, sedangkan gadis yang kini terdiam seakan memikirkan sesuatu hal yang bahkan mungkin tidak begitu penting, siapa yang bisa memikirkan sesuatu yang lain ketika kenikmatan mata yang tiada tara berhadapan dengannya, dengan senyum yang begitu cantik membuat parasnya semakin menawan, mungkin akan menjadi suatu hal yang keren jika gadis yang begitu mempesona ini menjadi miliknya.

Mungkin akan menjadi sesuatu yang membanggakan jika gadis yang sangat di agungkan seantero sekolah menjadi miliknya, hanya miliknya. Wait, apa yang baru saja difikirkankannya? No way. Ia sungguh mengerti bahwa ini bukanlah dirinya, ini hanya perasaan yang akan berlalu sementara, ia bahkan sudah memiliki namja yang sangat mencintainya, yang akan selalu menjaga dan memberikan kenyamanannya. “Beep” dirasakannya ponsel yang berada disakunya itu berbunyi, sedikit aneh, pasalnya ponsel itu sangat jarang berbunyi, mengingat Kim Taeyeon bukanlah tipe wanita yang nomornya dimiliki banyak orang, hanya beberapa teman terdekatnya dan keluarganya lah yang memilikinya, sedikit aneh jika pagi seperti ini ada yang menghubunginya.

Taeyeon unnie aku membuatkan cookies untukmu.” Tergurat senyum tipis yang tulus di bibirnya yang halus, ia membalas pesan itu secepat kilat tanpa menyadari bahwa dirinya sedang bersama seseorang yang sejak tadi memperhatikannya. Sungguh Tiffany begitu penasaran akan isi diponsel gadis itu sampai sampai bisa membuatnya tersenyum seperti mendapatkan secercah kebahagiaan di pagi hari. “Kau terlihat senang.” Ujarnya sedikit menekan kata terakhirnya, membuat gadis itu kembali terbangun, memperliharkan senyumnya

“oh, Ji-Eun membuatkan ku cookies.” Jawab Taeyeon sungguh enteng, “Ji-eun? Aku dengar kau pernah mengejarnya.” Taeyeon terkekeh, darimana pula seorang Tiffany mengetahui masa lalunya, “kalau begitu kau juga pasti tau jika Ji-Eun menolakku. Tsk. Kenapa semua orang mengetahui semuanya tentangku?” Kini Tiffany tertawa kecil, tidak dapat dipungkiri sosok yang ada dihadapannya begitu polos, siapa yang tidak akan mencari tahu latar belakang, sifat ataupun detail sosok Kim Taeyeon, yang mampu membuat orang tertarik akan dirinya dari pandangan pertama, sosok yang begitu sempurna tanpa ada cacat sedikitpun.

“Kau masih mencintainya?” Taeyeon menggeleng pelan, biarbagaimanapun itu hanyalah masa lalu yang saat ini ingin di kuburnya dalam-dalam. Entah mengapa tiap kali ia mendengar nama itu hatinya sedikit lagi merasa patah berulang kali, entah mengapa ia ingin melupakan semua alasan mengapa ia jatuh sangat keras untuk gadis cantik itu dua tahun lalu, yang jelas, ia ingin melupakan itu semua. Tidak ingin merasakan sakit lagi, itulah keinginannya untuk saat ini. “Benarkah ? Geojimal!”

Taeyeon kembali tertawa kecil.

“Wae? Kau cemburu?” Tanpa disadari Tiffany melebarkan matanya, sungguh darimana kepercayaan diri Taeyeon berasal.

“I’m taken Taeyeon.” oh, right. Seorang Kim Taeyeon lagilagi terdiam, lagi lagi alasan seseorang yang mulai menarik perhatiannya bahwa mereka sudah dimiliki seseoranglah yang mampu membuatnya surut.

“So, what major are you in, Tiffany?” ujarnya sembari menyingkirkan topic sebelumnya, mencoba mengubah keadaan menjadi sedikit lebih nyaman untuknya.

“I’m in a business Major, Taeyeon. lucu sekali ketika kau bertanya, aku mengira kau sudah tahu. aku fikir kau mencari tahu tentangku, Kim Taeyeon.” Kini Taeyeon terkekeh,

“Memang benar, aku hanya mencari bahan obrolan dan membuatmu tidak risih terhadapku.” Tanpa disadarinya senyuman tulus itu tergurat di bibir tipis Tiffany,

“Aku tidak risih, seniorku.” Taeyeon tersenyum, menarik dirinya untuk duduk tepat setelah Tiffany, mencoba menikmati kedua bola mata indah Tiffany sebanyak waktu yang dapat di ambilnya,

“Tetap saja maret, april, mei, juni, juli, agustus. Hanya 5 bulan.” Tiffany balik menatap kedua mata Taeyeon yang berwarna hazel itu,

“Wow, kau benar benar mencari tahu tentangku, Taeyeon.” Taeyeon terkekeh,

“So, Business huh?” Tiffany mengangguk pelan, Business.

Ya, itulah passionnya, entah mengapa ia sungguh menyukai berada di sekitar orang yang memakai suit yang rapih dan fancy, ia menyukai angka angka yang akan berada di mejanya, ia menyukai pertandingan menyangkut saham dan sebagainya, ia menyukai berbagai transaksi yang menantang, namun bukan berarti ia menyukai harta yang berlimpah, ia hanya menyukai prosesnya, tentunya tidak banyak drama dalam business, menurutnya itu suatu hal yang menantang, mempertaruhkan semua usaha yang telah di perjuangkan untuk sebuah hasil akhir yang akhirnya bisa ia nikmati bukan untuk dirinya, melainkan orang orang yang dicintainya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana nantinya Tiffany akan memakai suit fancy yang membentuk tubuhnya, dengan tatapan dan fikiran cerdas mempresentasikan persiapan perangnya di depan para client yang mungkin tidak akan focus pada perbincangan bisnis, namun Tiffany.

Sexy.” Ujar Taeyeon sedikit pelan, sedikit ragu akan perkataannya sendiri, sekali lagi yang ia takut hanyalah gadis itu merasa risih, biarbagaimanapun Taeyeon juga Yeoja yang kebetulan mempunyai kepercayaan diri yang begitu tinggi, namun ia tetap harus berhati-hati, sasarannya kali ini begitu, mempesona. “Once again?” Taeyeon terkekeh mendengar permintaan Tiffany. “Anii.” Yang benar saja, seorang Kim Taeyeon baru saja memujinya? Yah! Bangun Tiffany! Kau tidak boleh seperti ini!

“Taeyeon-ah!” Kedua insang yang saling memperhatikan dan menikmati keindahan bola mata satu sama lain itu menoleh, mencari sumber suara itu, ah, rupanya itu adalah salah satu sahabat Taeyeon. gadis berambut coklat gelap yang hampir sama dengan Taeyeon, mempunyai paras yang begitu nawan dan dingin, mengisyaratkan lengannya untuk Taeyeon menghampirinya, “Cepatlah! Mr. Avenir mencarimu!” Dengan sepersekian detik Taeyeon bangkit, “Tiffany, aku harap aku bisa berbicara denganmu lagi.”

“You wish, Taeyeon.” Taeyeon terkekeh, memberikan secarik kertas yang tidak lain adalah nomor ponselnya, berharap dengan perbincangan singkat ini dapat mengubah keputusan Tiffany untuk tidak menghubunginya atau setidaknya menjadi temannya. Well, semua membutuhkan proses, bukan? Taeyeon mengedipkan sebelah matanya pada gadis itu, membuat gadis itu tersenyum, haha, this dork, please. It’s too cute and hot at the same time, fikirnya. Ia memperhatikan sosok yang baru saja memberinya kedipan itu berjalan menjauh, baru beberapa detik sudah banyak pasang mata yang mengagumi sosok itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak terkecuali kumpulan cowok cowok keren dan hot, ikut memperhatikan Taeyeon, yang berjalan dengan senyuman yang diakibatkan Tiffany, menghampiri sahabatnya, Tiffany sama sekali tidak memiliki ide bahwa dirinyalah penyebab senyuman Taeyeon itu.

Yah.. Kim Taeyeon, Tiffany menarik nafasnya dalam, sungguh ia bisa merasakan bagaimana tersiksanya jika seseorang berhasil mendapatkan Kim Taeyeon, mungkin ia akan mati bunuh diri karena kecemburan yang terlalu berlebihan.. Taeyeon yang sudah lenyap dimakan jarak, detik itu juga ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan memasuki kembali gedung yang tinggalkannya itu, tanpa menyadari kini seluruh mata tertuju padanya, ia sedikit merasa risih mengingat kembali bagaimana semua kepala dengan hanya beberapa detik menoleh ketika Taeyeon berjalan mewati mereka, Heol.. Kim Taeyeon, kenapa kau bisa membuat seorang Tiffany Hwang seperti ini?

 

**

 

“Seriously? Kim Taeyeon?” Ia sungguh tidak mengerti akan perkataan gadis yang sedari tadi menunggunya. Ia hanya menggeleng pelan, meletakkan bokongnya pada kursi disebelah Krystal, gadis yang baru saja memberinya pertanyaan tidak masuk akal, detik kemudian bel yang tidak asing itu berbunyi, tanda di mulainya pelajaran. Ia bersyukur tidak telat disalah satu jam yang menurutnya sangat penting. Dirinya memang tidak terlalu suka jika ia tertinggal akan sesuatu, menurutnya waktu tidak kalah penting akan hal penting lainnya, ia tidak begitu suka menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna.

Kim Taeyeon, I had nothing to do with her. We were just talking.” Ujarnya pelan pada Krystal yang tidak lain adalah pasangan sebangkunya. “Oh ya? Dan tentang apa? Kau sungguh aneh Tiff. You’re taken!” Tiffany terkekeh, “Yes, I’m taken. And what’s wrong with that? Ini tidak seperti aku akan mengencani gadis hot itu kan?” Yah, SooJung benar –benar tidak habis pikir pada sahabat barunya itu, tentu saja itu menjadi masalah, sejauh yang ia tahu, tidak ada yang bisa terlepas dari jeratan seorang Kim Taeyeon, bahkan gadis paling normal sekalipun! (straight?) “Tiffany Hwang, jangan bermain dengan api.”

Lagi lagi Tiffany terkekeh, “I’m not. Calm down Soojung-ah. I love him so much, it’s like I won’t cheat on him” Krystal menarik nafasnya berat, sejujurnya jika benar sahabat barunya ini akan mendapatkan gadis yang di idam-idamkan nya selama ini sama sekali tidak menjadi masalah untuknya, namun yang ia inginkan hanyalah Tiffany lebih mengerti bahwa sosok yang menginginkannya sangat rapuh didalam, Taeyeon benar benar bukan pribadi yang ditunjukkannya kepada semua orang, yang ia tahu, Kim Taeyeon tertarik pada sahabat barunya itu. dan itu membuatnya khawatir, tidak, dan itu membuat semuanya khawatir. Tidak banyak yang mengetahui bagaimana sesungguhnya pribadi Taeyeon. “Jika sesuatu terjadi dan mengubah kenyataan, jangan bilang jika aku tidak memperingatkanmu.” Tukasnya tanpa melihat kearah Tiffany, membuat gadis itu tersenyum, tidak akan ada yang terjadi Soojung-ah, pikirnya.

“By the way, dimana Ji-Eun? Seohyun?” Tiffany mengedarkan pandangannya pada ruangan kelas yang cukup sepi, hanya ada beberapa pasang jiwa yang sedang mengobrol sesekali mencuri pandang pada Tiffany, tentunya tanpa diketahui dirinya sendiri. “Yah! Kau ini kenapa? Mereka itu Art Major! Heol, tidak kusangka kau sepikun ini.” Tiffany terdiam, diam menertawakan dirinya sendiri, tidak bisa di percaya ia lupa akan hal seperti itu. “Ah mian, mungkin karena pre-test semester awal kemarin dilakukan di ruangan yang sama.” Soojung menggeleng pelan, teman kecil yang sempat berpisah selama 6 tahun ini dari dulu memang tidak pernah berubah, namun jauh di lubuk hatinya ia merasa senang ia dapat bertemu kembali dengan Tiffany dan kini teman kecilnya itu telah menjadi sahabatnya, sahabat yang baru, memulai persahabatan mereka dari awal. Memulai lembaran baru pertemanan mereka yang dulu sempat terputus. Biar bagaimanapun sosok Tiffany yang kadang konyol itu atau bahkan sosok Tiffany yang sedikit dingin selalu bisa di mengertinya, skillnya untuk membaca bagaimana Tiffany tidak pernah hilang, dan mungkin akan bertambah level seiring waktu yang akan di laluinya dengan Tiffany, di kursi yang sama setiap hari. “Oh berbicara tentang Pre-test, last final akan di adakan besok, sebaiknya kau pelajari bab 8, jangan sampai konsentrasimu terganggu oleh Kim Taeyeon.” Tiffany menaikkan sebelah alisnya, belum mendapatkan petunjuk akan perkataan sahabatnya barusan. “Kim Taeyeon, Jung Jessica, dan Kim Hyoyeon, akan satu ruangan dengan kita besok untuk Last Final Pre-Test Art Major mereka, Ruang 10.” Krystal yang tidak lain Soojung itu menyeringai kecil. Tiffany terdiam, mencerna kembali perkataan sahabatnya itu tak sadar jika salah satu dosen sudah memasuki ruangan, siap memulai pelajaran.

 

**

“Bisakah kau ceritakan lebih banyak tentang Kim Taeyeon?” “Uhuk-Uhuk!” Hampir saja daging bulat bulat itu masuk ke kerongkongan Krystal, dengan sigap Tiffany mengambil segelas air minum yang ada di hadapannya, menawarkannya pada sahabatnya itu. “Yah!” Sahut Soojung setelah selesai menengguk air itu, di perhatikan sahabatnya itu dalam dalam, “Ada apa denganmu!?”

“Kau hanya salah paham, aku hanya penasaran.”

“Penasaran berarti kau tertarik! Yah! Ingat lagi kata-katamu! Kau tidak akan jatuh cinta untuknya!”

“Jatuh cinta!? Ppftt. I’m not! I’m just curious about her!”

“God! You’re lucky Ji-eun not here with us!”

“Memangnya jika Ji-eun disini kenapa? Lagipula ia bukan kekasih Taeyeon.” Soojung menyeringai mendengar itu,

“Kau cemburu?” Kini Tiffany yang tersedak suapannya, yang benar saja.

“Yah!”

“Well, I’ll tell you more then. Kau lihat disana? Jika kau tidak ingin sakit hati setiap harinya, aku menyarankan jangan menjadikan Kim Taeyeon menjadi milikmu, atau kau akan menyaksikan pemandangan ini setiap hari.” Tiffany menoleh pada arah jari telunjuk Soojung, memperlihatkan Taeyeon juga temantemannya, bukan, memperlihatkan Taeyeon yang sedang di gandrungi cowok-cowok keren yang membawakannya bunga juga chocolate kesukaan Taeyeon. “Dasar kuno, yah, Soojoung-ah, bukankah itu sangat kuno memberikan bunga dan chocolate seperti itu?” Tiffany mengalihkan pandangannya pada Soojung, dan melihat seringai kecil itu, ia menundukan kepalanya, mencoba menyembunyikan sesuatu.

“Kuno? Kau yakin? Apa kau lupa kau tersenyum seperti orang gila menatap bunga yang di beri seseorang? Yang mempunyai rambut berwarna gelap, mata yang memabukkan, seseorang yang begitu cute? Hot? atau lebih jelas, Kim Taeyeon?”

“Omo! Yah! Jung Soojung!”

“Kau cemburu?” Tiffany mengangkat kepalanya mendapatkan Soojung menjulurkan lidahnya konyol. “Yah! Bukan itu yang kumaksud!”

“Yea, whatever Tiffany. Kau tunggu disini, jangan biarkan yang lain menggodamu, aku ada urusan sebentar dengan kakak-ku.” Tiffany tersigap, menahan cepat telapak tangan Soojung seketika ia berdiri.

“Yah! Kau mau meninggalkanku sendiri dengan orang orang asing!?” Soojung tertawa kecil, sahabatnya terlalu berlebihan, Ia melepaskan genggaman tangan itu perlahan, berjalan menuju meja yang sedang dipenuhi dengan tawa dan candaan juga banyak mata yang memperhatikan meja itu, tidak lain untuk menikmati seorang Kim Taeyeon yang sedang sibuk dengan not not balok yang ada di kertasnya. “Unnie.” Gadis brownie itu menoleh, mendapatkan monster kecil yang ia sayangi itu sudah meletakkan bokongnya tepat di sebelahnya. “Wae?”

“Mom meminta kau untuk datang kerumah hari ini.”

“Ah, Wae? Aku berjanji menginap dengan Taeng hari ini, ya, kan Taeng?” Taeyeon menoleh, hanya anggukan kecil yang didapat, gadis itu benarbenar serius jika mengerjakan sesuatu yang disukainya.

“Hanya makan malam. Baiklah aku akan beritahu mom, Taeyeon-unnie, Baekhyun menitipkan salam untukmu” Taeyeon menoleh, mengangguk kecil, tidak begitu tertarik akan perkataan Soojung, ia mengedarkan pandangannya mendapatkan gadis berambut hitam itu memainkan ponselnya sendirian, dengan beberapa pasang mata yang memperhatikannya, such a beauty to be hold.

“By the way Soojung-ah, sudah berapa lama kau mengenal Tiffany?” Tebakan gadis itu 100% benar, ia yakin kali ini seniornya itu benar benar tertarik dengan sahabatnya. “Bertahun-tahun lamanya, Unnie.” “Kalau begitu kau pasti sangat mengenalnya.”

“Kau bisa bilang begitu Unnie.”

“Baiklah kau akan menjadi guruku.” Taeyeon terkekeh, membuat Jessica sedikit geli, geli akan rasa bahagianya. Sudah lama ia tidak melihat senyuman tulus dari bibir tipis Taeyeon karena jatuh cinta. Ia sangat yakin sahabatnya itu sudah benar benar jatuh untuk anak baru itu, ia berharap ini bukan orang yang salah, ia harap kali ini sahabatnya benar benar mendapatkan kebahagiaan, setelah semua yang di lalui Taeyeon, pada akhirnya ia berhak mendapatkan kebahagiaan.

**

Dua gadis itu berjalan perlahan, dentuman sepatu hak mereka menggema di seluruh penjuru ruangan, nampaknya gedung sekolah sudah sangat sepi, mengingat mereka menghabiskan waktu dua jam lebih lama digedung menikmati cokelat panas sembari mengingat kembali kenangan masa kecil mereka. terdengar suara petir yang menandakan hujan lebat akan segera datang. “Kau langsung pulang?” Krystal mengangguk, tidak bisa membayangkan bagaimana nyamannya tempat tidur sampai besok pagi. “Bagaimana denganmu? Perlu kuantar? Mobilmu sedang di service bukan?” Tiffany menggeleng pelan. “No need. Nickun will come and pick me up.” Sahabatnya mengangguk mengerti, waktu yang sangat tepat, memang ia begitu penasaran bagaimana sosok kekasih sahabatnya, sosok yang selalu dipujinya setiap waktu.

“Too bad you can’t stay with me tonight, I’ll be alone.” Soojung menarik nafas berat, ini sudah kali ke tiga minggu ini ia harus tidur sendiri tanpa kakak tercintanya, meskipun jika dua insang itu disatukan dalam satu kamar akan terjadi bencana, namun tetap saja ia begitu merasa kesepian tiap kali kakaknya harus tidur di atap yang berbeda dengannya.

“Where’s your unnie?”

“She’s staying at Taeyeon-unnie’s apartment tonight.”

“Tap” Tiffany menghentikan langkahnya, membuat Soojung menoleh kebelakang menghampiri sahabatnya lalu tertawa kecil.

“What!? Why would she staying at Taeyeon’s Apartement!?”

“Well, Kakakku lah satu satu nya yang diinginkan Taeyeon-unnie untuk mengajarinya di bidang English Lecture.”

“What! Why? Her English is really good!”

“Yeah, kau bisa bilang begitu. But when it comes to English lecture, she’s at her worst.” Tukas Soojung lalu menarik lengan Tiffany untuk terus melanjutkan langkahnya, pasalnya hari hampir gelap dan ia begitu takut akan gelap, tidak menginginkan hujan lebat melanda mobilnya di perjalanan. “lagipula kenapa kau bertingkah sangat terkejut, kau benar-benar tidak jatuh cinta pada seorang Kim Taeyeon, right, Tiffany? My stupid bestfriend?”

“Pffft! Im not! Stop sayin that!”

“Well, aku hanya memastikan. Pegang katakatamu Tiffany, jika kau tidak menginginkannya berarti aku masih memiliki harapan” ujar gadis itu lalu senyum lebar tergambar di parasnya.

“Atau jika itu sangat tidak mungkin, aku akan membiarkan Taeyeon-unnie dan Ji-Eun bersama!”

“Yah! Not with Ji-Eun.”

“Wae? Ji-eun sangat mengaguminya, dan menurutku mereka sangat cocok, Ji-Eun sangatlah cantik, baik hati, ramah, pintar memasak, suaranya sangat indah, sangat cerdas, walaupun ia Junior, kemampuannya dalam bermusik hampir sama dengan Taeyeon-unnie, ia menyukai tempat yang sunyi dan menenangkan seperti Taeyeon-unnie, ia menyukai tempat gelap yang nyaman, yah bisa kau bayangkan jika mereka cuddling and give each other the warmth of themselves.… ia bahkan mendapatkan julukan malaikat yang berjalan dibumi, ia sangat sempurna, dan disana seorang Kim Taeyeon dengan segala kesempurnaannya, she’s flawless. Perfect Match!? Don’t you think?”

Sungguh Tiffany tidak menyukai topic pembicaraannya kali ini, entah mengapa jauh di lubuk hatinya ia merasa tidak nyaman dan ingin rasanya memasukkan sepatunya pada mulut sahabatnya itu. “Yah! Apa kau sengaja membedakannya dengan ku!?” Soojung terkekeh, rupanya itu berhasil, tebakannya memang tidak pernah salah. “Why would I compare you with Ji-Eun? Kau sangat berbeda dengannya, kau tidak pintar memasak, kau dingin, kau tidak ramah, kau berisik, kau menyebalkan, kau suka tempat yang berisik dengan music electro yang sangat keras, well at least you’re hot.”

“Yah!” baru saja kepalan tangan itu ingin mendarat di kening Krystal tanpa disadari mereka telah sampai di gedung depan, terlihat mobil hitam nan gagah dengan seorang pria tampan berpakaian serba hitam dengan payung ada di tangannya. “Ssh! Is that nickon?”

“It’s Nickhun.”

“Yea whatever.”

“He’s cute, isn’t he?” Tiffany tersenyum bangga, sembari memperhatikan pria yang semakin lama semakin mendekat kearah mereka itu.

“Still, Kim Taeyeon was way more cuter than him.” Soojung terkekeh, perkataannya barusan sangat jujur dari lubuk hatinya. Ia tidak terlalu suka pria yang terlihat sangat lemah dengan senyum cute seperti itu. “Fany-ah! Hey!” Pria itu mengecup bibir Tiffany cepat, membuat gadis itu tersenyum. “Khunnie, this is Krystal, my childhood bestfriend.” “Oh hello! My name is Nickhun and I’m Tiffany’s boyfriend.” Soojung memberikan senyumnya, menerima sapaan tangan pria itu. well, terlihat seperti pria baik dan pantas untuk Tiffany, kalau begitu ia tidak perlu khawatir akan Tiffany ia beruntung sahabatnya memiliki seseorang untuk menjaganya.

**

“So, how’s your day at school?” Tiffany mengambil nafas berat, sejujurnya ia tidak ingin membahas nya sekarang, sungguh terlalu lelah dan fikirannya akhir akhir ini tidak terlalu bagus untuk di keluarkan. Belum lagi setelah semua hal tentang Taeyeon yang menganggu fikirannya akhir akhir ini “Pretty good.” Jawabnya lalu menyeruput cokelat panasnya, mengalihkan pandangannya pada jendela yang menampakkan pemandangan luar yang sedang di landa deru hujan yang cukup lebat.

“Hey, what’s wrong? Kau terlihat tidak bersemangat” Ujar pria itu sembari memperhatikan Tiffany khawatir, senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya yang cute.

“Nothing, it’s just there’s a girl that confused me.” Nickhun terenyah, sama sekali tidak mengerti akan perkataan kekasihnya itu. “A girl? Bagaimana bisa seorang Yeoja membuatmu bingung? Apa dia menganggumu?” (Well, yeah, dia menganggu fikiranku.)

“Nah, lupakan. Bagaimana dengan hari mu?”

“Tidak ada yang spesial hari ini. Tapi ketika aku tau kau ingin aku menjemputmu, semuanya menjadi spesial.” Tiffany tersenyum mendengar itu, sejujurnya ia juga merindukan kekasihnya itu, sudah beberapa hari sejak ia pindah dari tempat ia menuntut ilmu nya yang lama karena suatu hal yang sulit untuk di jelaskan.

Ia rindu bagaimana pria itu akan membukakannya pintu setiap harinya, mengatakan kata kata yang begitu manis untuknya, membawakannya kue lezat buatan ibunya atau bahkan mengerjakan tugasnya ketika ia terlalu letih untuk menyelesaikannya. Gadis itu bangkit dari tempat duduknya, menarik langkahnya untuk lebih mendekat pada pria itu, diletakkannya bokong itu tepat di sebelah pria itu, menarik dagu pada wajah pria itu untuk mendekat, melumat bibir manis itu sedikit kasar. Mungkin ia juga ingin melepaskan seluruh penatnya, tidak peduli jika ada pasang mata yang memperhatikan mereka, lagipula café ini begitu sepi karena badai yang sedang berlangsung.

Tidak lama setelah mereka menikmati moment yang akhirakhir ini sulit didapat, Tiffany melepaskan pria itu perlahan, lalu menyunggingkan senyumnya pada pria itu, membuat Nickhun membalas senyumnya, mengurai rambut kekasihnya perlahan sembari menikmati keindahan bola mata Tiffany yang mampu membuatnya jatuh dan jatuh untuk gadis itu.

Tiffany mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruangan, hanya memastikan ruangan café yang sepi. Matanya melebar ketika ia mendapatkan sosok itu berdiri didepan kasir menangkap matanya, detik kemudian sosok itu berbalik memberikan punggungnya pada Tiffany dan mengeluarkan kartu yang mungkin digunakan untuk membayar pesanannya, dan disana Jessica berjalan dari sudut ruangan menghampirinya, detik kemudian keduanya berjalan begitu saja melewati Tiffany dan kekasihnya kearah pintu keluar. Mata Tiffany tidak pernah lepas dari sosok itu bahkan ketika sosok itu melepaskan jaket denimnya dan membuatnya sebagai wadah untuk menutupi dirinya dan Jessica dari air hujan yang cukup lebat. “Taeyeon”

“Kau mengenalnya? Well she’s pretty hot. and her friend too.” Ujar Nickhun yang juga sedari tadi memperhatikan kearah mana mata Tiffany tertuju. “She’s hot?” Nickhun mengangguk pelan. “but for me, you’re still the hottest Tiffany.” Tiffany tersenyum, “Apa kau fikir semua namja akan jatuh untuknya?” Nickhun sekali lagi mengangguk. “Well jika mereka tidak mempunyai seseorang dicintai sepertiku memilikimu, maka benar, semua namja bahkan Yeoja akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.”

Tiffany mengangguk mengerti, perasaan aneh itu muncul kembali, semacam perasaan risih ketika setiap kali ia harus mengetahui bahwa sosok itu tentu bisa membuat siapa saja jatuh untuknya, semacam perasaan takut.. wait.. what? Ia mengulas kembali moment sedikit intim mereka beberapa menit yang lalu, apakah Taeyeon memperhatikannya ketika ia mencium kekasihnya itu? “Wait! No!”

“Ada apa, Tiffany?” Tiffany menggeleng pelan, sadar akan kesalahannya, apa yang baru saja difikirannya? Ia seperti tertangkap jika sedang berselingkuh? Perasaan macam apa itu? Taeyeon bahkan bukan siapa siapa dihidupnya, hanya Yeoja yang beberapa hari terakhir membuatnya sedikit penasaran dan bingung, tidak lebih. Lagipula ia sudah memiliki kekasih yang sangat ia sayangi begitupun dengan pria itu. pria yang mampu menjaganya dan membuatnya selalu nyaman, yang akan selalu ada untuknya. Ya. Tiffany, kau harus membuang jauh jauh fikiranmu. Tiffany kau tidak boleh seperti ini.

**

Gadis itu masih terjaga, jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Ia tidak bisa melepas matanya pada layar ponselnya, kejadian ini terulang lagi. Setiap kali ia membiarkan dirinya untuk jatuh cinta, ia akan selalu terbangun di pagi hari, memikirkan sesuatu yang bahkan tidak perlu difikirkan, mengumpulkan segala rasa takutnya dan mengumpulnya keberanian untuk membuangnya, atau hanya meratapi layar ponselnya dan berharap lampu kecil itu menyala tanda adanya balasan.

Kim Taeyeon yang sedang jatuh cinta dan tidak sangatlah berbeda, ia bukan tipikal gadis yang selalu ketagihan akan ponselnya, ia tipe gadis yang supel dan simple, ia lebih menyukai ketenangan namun kali ini berbeda, ia bahkan rela menunggu ponselnya berharap suatu keajaiban mungkin akan datang. “Sleep, Taeyeon.” Taeyeon terenyah, membalikkan tubuhnya mendapatkan sahabatnya itu tersenyum. Ya, Jessica selalu menjadi orang yang paling mengerti akan dirinya sendiri yang bahkan kadang tidak mengerti akan dirinya sendiri. Ini sudah kali ke tiga selama empat jam yang lalu gadis itu memintanya untuk tidur dan tidak menunggu balasan Tiffany yang mungkin saja sudah tertidur, bagaimana tidak, Taeyeon mengiriminya pesan singkat pada pukul 10.

Jessica tentu sudah memperingatkan sahabatnya agar tidak terlalu serius akan perasaannya karena gadis incarannya sudah memiliki seorang kekasih yang ia yakin ia sangat menyayanginya, dan ia tidak ingin sahabatnya menjadi orang ketiga di antara mereka, bukan karena orang ketiga menurutnya hina namun ia hanya tidak ingin Taeyeon lagi lagi merasakan sakit yang luar biasa perihnya seperti dua tahun yang lalu. Jessica memang sangat menyayangi mantan kekasihnya itu, tentunya sebagai sahabat nya, tidak lebih, lagipula kisah dirinya dengan Taeyeons udah berlalu, yang ia inginkan hanyalah dirinya selalu ada untuk Taeyeon dan Taeyeon selalu ada untuknya. Meskipun sifat Jessica yang sedikit dingin, ketus juga kasar pada orang lain namun tidak pada Taeyeon. Taeyeon akan selalu menjadi sosok yang spesial untuknya.

“Aku belum mendapatkan balasan, apa kau fikir dia sengaja melakukannya?” Jessica terkekeh, menarik selimut yang lepas dari tubuh Taeyeon kembali pada tepatnya, mematikan lampu tidur yang ada di meja lalu membiarkan dirinnya kembali untuk memejamkan matanya. “Sleep.” Ujarnya singkat, memubuat Taeyeon menarik nafasnya sedikit berat. Meletakkan ponselnya pada meja. Mencoba membuat dirinya mengarungi alam mimpi yang mungkin akan lebih indah dari kenyataan.

 

**

“What!? Kau memberikan nomorku padanya? Why!?” Sahutnya sedikit keras seakan –akan ia merasa kesal pada sahabatnya itu namun gadis itu mengetahui sesuatu bahwa sesuatu didalam dirinya merasakan senang mengetahui hal itu. Membuat Soojung menyeringai kecil, biar bagaimanapun seorang Tiffany tidak akan bisa menyembunyikan sesuatu darinya. “Soojung-ah! Seriously! Ini masih jam 6 pagi dan kau membuat ini semakin menjadi sulit untukku!

“Tidak ada alasan, aku hanya memberikannya.”

“But it’s my privacy!”

“So what? It’s not like you’re an actress or something.”

“Yah!”

“Tiffany, kau serius, apa kau benar benar gila? Seorang Kim Taeyeon. Kim Taeyeon! meminta ku untuk memberikan nomormu padanya!? Kau harusnya senang, the hottest chick in our campus! Wah you really are crazy.”

“Yah! I’m taken! I have the love of my life.”

“Yeah sure. Tsk!”

“Huh!? Untuk apa “Tsk” itu!?”

“Well you said you have the love of your life and it would be definitely Taeyeon.”

“Wait, What!? It’s Nickhun, I’m straight!” Soojung menaikan sebelah alisnya, apa sahabatnya benar benar tidka bercanda. “Yea right.” Ujarnya sedikit meledek gadis itu. Tiffany benar benar tiak habis pikir akan sahabatnya, ia “Sungguh, aku tidak tertarik pada seseorang yang memiliki sesuatu yang aku sendiri memilikinya

“Benarkah, Tiffany?”

Deg

Suara itu tidak asing.

“Gulp.”

 

“Ah-eh. I-iya.” Taeyeon terkekeh, sejujurnya ia tidak tersinggung oleh perkataan Tiffany barusan, menurutnya hal seperti itu wajar jika di katakan Tiffany.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa.” Tukasnya lalu tersenyum tulus, berjalan menjauh dari kedua gadis yang kini terdiam itu. sedikit merasakan sakit namun tentu itu akan cepat menghilang, seperti yang ia yakini.

“Yah! Tiffany Hwang! Seriously! You could possibly hurt her!”

“Yah! Aku tidak tahu jika ia mendengarkan kita! Mianhe!”

“Omo, kau keterlaluan Tiffany, aku sangat yakin ia berhenti mengejarmu! Yes! Im happy if that so.”

Benarkah? Kim Taeyeon akan berhenti? Seketika perasaanya begitu merasa menyesal mengatakan hal seperti itu, hatinya terasa sedikit tergores, semacam memiliki perasaan tidak rela untuk melepaskan sesuatu, melepaskan sesuatu yang ia rasa sudah menjadi miliknya. “Apapun itu, cepat bergegas aku belum mempelajari satu bab pun” Ujar Soojung bergegas mengangkat semua bukunya. Tiffany hanya mampu mengiringinya sembari memikirkan apa yang baru saja terjadi, sedikit perasaan takut menghampirinya sampai, “Home coming party akan di laksanakan 2 minggu lagi! I can’t wait to see Taeyeon-unnie performing!”

“What?”

“Taeyeon-unnie, beserta groupnya?”

“Group? What kind of group she has?”

“Taeyeon-unnie and her bestfriends. Kau tidak ingat jika ia di Art Major? Di Art Major mewajibkan muridnya memiliki group dansa dan vocal. Semacam group seni. Dan setiap 5 bulan sekali kampus akan menggelar Home Coming Party, kau sangat beruntung kau masuk kesini di waktu yang tepat, biasanya Taeyeon-unnie tidak ikut berpatisipasi namun ini Nampak saatnya ia ikut di girl group nya. Sangat jarang kita bisa menikmatinya di atas panggung. Namun jika kau tidak puas menikmati pesona Taeyeon-unnie kau tidak perlu khawatir, aku mempunyai semua copy Taeyeon-unnie di stage.”

Tiffany terkekeh, Taeyeon memilki girl group? Dance dan vocal seperti apa yang ia tunjukan? Ia bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana sosok yang sangat cute itu menari di atas panggung, sosok yang seketik bisa berubah menjadi hot itu. Heol, ia benar benar tidak sabar untuk minggu ini.

“Kau seperti penggemar yang mengidolakan idolanya.”

“Well I am!”

“Jika Taeyeon menjadi kekasihku, berarti kau mengidolakan kekasihku. Wah sesuatu yang sangat keren sahabatku mengidolakan kekasihku.”

“Yah! In your dreams! I won’t let that happen dan aku yakin kau tidak akan membiarkannya menjadi kekasihmu!”

“Dan kenapa itu?”

“Hello Tiffany! Wake up! Kau yang selalu menolaknya mentah mentah, kau dingin, kau bahkan tidak membalas pesannya, dan beberapa detik yang lalu kau menyakiti perasaannya. Aku tidak yakin ia masih menginginkanmu.” Tiffany terdiam, semua perkataannya setengah benar memang, namun ia tidak pernah menolak mentah mentah Taeyeon yang seperti Soojung bilang, ia kadang hanya merasa bingung, apa perasaannya sungguh sungguh atau hanya lewat sementara? Tidak ada yang tahu, not even herself.

**

9.42 am

“Tsk!” Langkah kakinya terburu-buru, lorong terlihat sangat sepi dan ia mengerti alasannya. Jelas saja ia sudah tertinggal 42 menit untuk mengikuti kelas pertama Mrs. Truman di awal semester, ia terus menyalahkan alarm nya yang tidak mampu membangunkannya, alarm yang selalu berada di tasnya. Ya, gadis itu sangat menyukai dirinya datang pagi, bukan karena ia rajin, namun entah mengapa ia sangat menyukai tidur di sudut ruang perpustakaan kampusnya, baginya itu adalah tempat ternyaman yang pernah dia singgahi di kampusnya, tidak ada orang yang akan menganggunya dengan tempat yang sedikit tersembunyi itu.

Setiap mendekati akhir minggu, ia selalu berusaha untuk datang pagi dan kemudian tidur kembali di perpustakaan. Itu membuat pikirannya sedikit lega, lagipula pertemuannya dengan sang pujaan hati tadi pagi membuat hatinya sedikit sakit pasalnya ia mendengar dengan jelas bagaimana Tiffany tidak menginginkannya.

“Good morning Mrs. Truman” Gadis itu secepat kilat menuju kearah wanita paruh baya itu tanpa memperhatikan sekitarnya ia membungkukan tubuhnya tanpa meminta maaf akan kehadirannya yang sed- banyak telat. “What’s good in the morning when you’re late Ms. Kim. You even missed the pre-test!” Taeyeon membuat tubuhnya berhadapan langsung dengan wanita itu, melebarkan kedua matanya. “What!? Pre-test!? Hari pertama baru saja di mulai dan kau sudah memberikan Test!? Where’s the justice here!?” Tukasnya sedikit keras, membuat semua yang ada di ruangan tertawa kecil. “For your information Ms. Kim, hari pertama masuk di awal semester kami selalu memberikan pre-test untuk mengulas kembali semester yang lalu, ada apa denganmu? Kau seperti murid baru disini.”

“Oh, right.” Taeyeon terkekeh, “Joengmal Mianhe.”

sama sekali tidak merasa malu akan dirinya sendiri, dengan santai ia berjalan menuju mejanya terlihat sahabatnya Jessica yang sudah duduk manis dan tertawa kecil tentunya menertawakan dirinya. “Yah! Kau tidak mengingatkanku.”

“Kau pikir aku ingat? Dari 50 soal yang kujawab dalam 5 menit tanpa melihat soalnya.” Keduanya tertawa geli. Menurutnya score tidak begitu penting, tujuan mereka dari awal belajar seni karena keduanya benar benar menyukai seni, selama mereka memiliki satu sama lain untuk berbagi keanehan, mereka pikir tidak akan ada masalah. “Aku banyak melihat wajah asing disini.” Ujar Taeyeon sembari mengeluarkan keperluannya dari dalam tas.

“Tentu saja, sebagian dari mereka dari Business Major J. 3A, mereka disini untuk pre-test dan mendapat mengikuti presentasi pengulasan kampus lagi di kelas kita.” Taeyeon terdiam, ia mengedarkan pandangannya, mendapatkan sosok itu sedang tertawa bahagianya bersama sahabatnya, tidak sadar senyuman tipis tergurat di bibirnya. Senyuman itu benar benar tulus dari hatinya, entah mengapa setiap setiap kali ia melihat senyuman itu, hatinya merasa sedikit lega dan tenang, seakan seakan senyuman Tiffany lah yang membawa secercah cahaya untuk hidupnya yang begitu gelap, terdengar sedikit lucu ketika ia mendengar dirinya sendiri seringkali menggoda Tiffany.

 

**

“Mom, aku tidak akan melakukannya.” Gadis itu terus memasuki sisa sisa baju yang ada di dalam lemari pada kopernya yang besar. Wanita paruh baya itu menarik nafasnya berat, “Kau tau, Ayahmu begitu keras kepala?” Taeyeon terkekeh,

“Ya semenjak kau menikah lagi, dia menjadi sangat keras kepala.”

“Taeyeon”

“Apa aku salah? Kau meninggalkannya seperti itu, wajar jika ia bertingkah seperti itu, lagi pula siapa yang tidak sakit hati jika seseorang yang kita cintai berkhianat?”

“Taeyeon!” Pria yang sekiranya sudah berumur 40 tahun itu kini angkat bicara, sedikit tidak terima akan pernyataan anak tiri yang sangat ia pedulikan itu. perbincangan ini semakin lucu, dimana dirinya, ibu kandungnya dan ayah tirinya dalam suatu ruangan, ia sangat tidak menghargai pernikahan ibu kandungnya dengan pria itu.

Bahkan sampai sekarang ia tidak bisa memaafkan ibunya itu, setiap kali mereka dalam suatu perbincangan yang menyenangkan, itu akan berakhir dengan perbincangan yang sedikit panas, yang pada akhirnya ibunya tetap tidak akan ada di pihaknya dan akan selalu membela pria itu. baginya, pria itu hanya seorang yang berhasil merebut masa kecilnya yang cukup bahagia, seperti anak kecil normal lainnya, memiliki dua orang tua yang utuh dan menyayanginya, sampai pada suatu hari kedua orang tuanya bertengkar hebat dan mengakibatkan Taeyeon kecil terluka parah pada kakinya hingga ia harus di rawat di rumah sakit selama seminggu, sejak itu ia sedikit trauma akan seseorang yang saling berteriak satu sama lain.

Hati Taeyeon kecil memang sangat sensitive seperti anak anak lainnya. Bisa di bilang kehidupan Taeyeon cukup berat dari kecil, ia juga pernah mengalami susahnya kehidupan ketika ayahnya bangkrut dan Ibunya yang entah kemana, hingga suatu hari pada umurnya yang ke enam belas tahun Ayahnya berhasil mencapai puncak kembali dan Ibunya yang kembali dengan seorang pria yang entah darimana ia mengenalnya. Keduanya mencoba memberikan Taeyeon kasih sayang lagi mencoba mengembalikan yang selama ini hilang dari gadis kecil mereka, namun Taeyeon kecil sudah terlalu lelah akan drama di hidupnya, sehingga dia memutuskan untuk keluar rumah dan meminta apartment untuknya pribadi dari ayahnya.

“Taeyeon, kau akan mengerti keputusan kami.”

“Yea right. Bagaimana kalian meninggalkan satu sama lain dan lupa jika kalian memiliki anak yang sungguh tidak mengapresiasikan nafasnya sendiri.”

“Taeyeon!”

“Kau bahkan meninggalkanku dan Dad, apa kau tahu jika aku pernah kebingunan dan dad pun kebingungan harus membayar uang sekolah dengan apa?”

“Apa kau tahu jika suatu hari aku pernah kelaparan dan tidak ada makanan sedikitpun di meja makan?”

“Dan, apakah kau tahu seberapa berat hidupku ketika kau tidak ada dan bersama bajingan ini?”

“Kim Taeyeon! Enough!”

Taeyeon tertawa kecil, menarik kopernya dan berjalan kearah pintu, sementara wanita itu terus mengalirkan air matanya, sangat keras. Namun tidak cukup keras untuk membuat putri satusatunya untuk berbalik dan memeluknya.

“Ya, cukup. Lagipula kau tidak akan pernah mengerti bagaimana penderitaanku dan Dad.” Ia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh kebelakang, sedetikpun.

**

Hari hari berlanjut tidak sesuai harapan Taeyeon. semakin ia mengejar sosok itu, ini semua semakin terasa tidak mungkin. Tidak pernah dihidupnya ia merasa begitu gagal, bahkan dalam hal seperti ini. Kini yang ia rasakan hanyalah harapan kosong belaka. Ini sudah minggu kedua ia mengharapkan sosok itu untuk melihat keberadaannya walaupun sedikit namun nampaknya usaha yang telah ia lakukan benar benar sia sia, namun ada waktu dimana ia merasa begitu bahagia, ketika ia dapat menghabiskan waktu makan siangnya dengan Tiffany di taman yang sepi, mencoba membuat gadis itu tertawa dan selalu berhasil.

Entah mengapa melihat senyuman itu saja sudah cukup membuatnya bahagia, namun ia tetap manusia, selalu menginginkan lebih dari itu, ia tidak pernah berhenti mengirimiya pesan tiap malam, dan dari ribuan pesan yang dikiriminya ia hanya pernah mendapat 5 kali balasan dari Tiffany dihidupnya. Tidak sampai disitu ia selalu membawakan gadis itu bunga juga cokelat dan meletakkanya di loker tanpa sepengetahuan Tiffany dan selalu mengambil gambar Tiffany diam diam dari jauh yang tersenyum tiap kali ia membuka lokernya. Mengetahi gadis itu tersenyum karena dirinya untuknya sudah cukup, namun datang ketika waktu dimana ia harus menerima kenyataan yang menamparnya cukup keras, ketika ia harus menyaksikan gadis itu bercumbu dengan kekasihnya lagi dan lagi, menjemput gadis itu, memberikannya kasih sayang, juga ketika Tiffany tersenyum karena pria itu, namun tetap saja, ia tidak pernah berhenti akan kegigihannya.

3359723-beautiful-night-view-of-the-charles-bridge-in-prague

sampai detik ini ia juga belum menemukan jawaban mengapa diwaktu selarut ini ia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Memperhatikan cahaya yang terpantul di air laut yang tenang. Tiap kali ia menginginkan jawaban akan hidupnya, hatinya akan terus membawanya ketempat yang sama. Ia ingin melihat laut, namun apa daya ia hanya bisa menikmati laut kecil di pinggir kota tempat nya ia bertinggal, setidaknya tidak terlalu jauh dari tempat yang selalu ia sebut, rumah.

Ia terus memperhatikan cahaya itu, membandingkan hidupnya dengan sesuatu yang ada di hadapannya. Hidupnya seperti air yang tenang, air itu bening, ketika siang hari, ketika matahari mampu menyinarinya, memberinya penerangan sebanyak mungkin, ibaratkan dirinya yang memiliki sahabat –sahabat yang begitu peduli dengannya, bagaimana mereka membuatnya tertawa, tersenyum bahkan menangis bahagia, namun ketika malam tiba, ia menjadi gelap, satusatunya penerangan untuknya hanyalah cahaya lampu yang sewaktu-waktu bisa pergi entah kemana, ibaratkan kehidupannya yang tidak setiap saat akan bersama sahabatnya, sewaktu-waktu mereka bisa saja meninggalkan-nya sendiri, entah mungkin berapa tahun lagi, mereka sibuk akan urusan kehidupan mereka sendiri dan tidak akan ada satupun yang akan berdiri danmenjaganya, membuatnya nyaman, senang di waktu yang sama.

Waktu lah yang membuat kehidupannya gelap . Satu satunya harepan adalah cahaya itu, tidak peduli berapa lama ia mencari cahaya itu, ketika ia menemukan suatu cahaya, cahaya itu tidak lama akan pergi dan entah kemana, atau ketika ia menemukan cahaya, yang tidak cukup untuk meneranginya, entahlah, yang ia harapkan ia dapat bertemu cahaya yang akan selalu memberikannya kehangatan dan penerangan, setiap waktu.

“Kim Taeyeon?”

Dageun-dageun.

“Kim Taeyeon?” ia akhirnya membalikkan punggungnya, mendapatkan sosok gadis yang begitu cantik dengan scarf merah maroon juga coat hitam yang cukup tebal.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya sedikit terkejut setelah berhasil menebak bahwa gadis yang berdiri menyenderkan tubuhnya pada balkon benar gadis yang selama ini menghantui pikirannya. “Harusnya aku yang bertanya Tiffany Hwang, apa yang kau lakukan selarut ini dipinggir kota?” Tiffany terkekeh akan pemandangan yang sangat cute ini. Detik kemudian ia melepaskan sarung tangan hitam itu dari kedua tangannya dan memakaikan keduanya pada kedua telapak tangan Taeyeon, lalu menyembunyikan kedua tangannya cepat kedalam coat bulu yang cukup tebal itu.

“Gwenchana~”

“No! don’t take it off please, it’s freezing!”

“Araseo, thank you” Tiffany tersenyum, menarik dirinya sendiri untuk ikut bersender pada balkon itu, memperhatikan pemandangan laut dan kota pada malam hari, juga hobbynya. “Apa kau gila keluar selarut ini dan hanya memakai sweater?” Taeyeon terkekeh,

“Apartment ku hanya beberapa blok dari sini.”

“Lalu!? Apa itu berarti kau mengizinkan dirimu sendiri keluar dengan memakai pakaian tipis ini!?”

“Ini tidak tipis, aku cukup merasa hangat, terlebih lagi jika kau disini bersamaku, ini jauh lebih hangat.” Taeyeon terkekeh, ia tidak bisa menahan dirinya sendiri ketika Tiffany berada di sekitarnya, membuat gadis yang memiliki senyuman indah itu tersenyum, tidak disangka ia akan bertemu sosok cute ini malam ini, setidaknya melepas rasa risih yang ada di benaknya sejak pagi. Jujur saja ia merasa sedikit kesal karena sepanjang kelas berlangsung Taeyeon tidak menolehkan pandangannya sedikitpun padanya, Krystal terus memboykotnya dan terus berkata bahwa Taeyeon berhenti mengejarnya, sejujurnya ia tidak menginginkan itu terjadi. Sama sekali tidak, tetapi itu semua terasa tidak mungkin.

“Kim Taeyeon, ini tipis, sangat tipis, apa kau bahkan tahu seberapa dingin sekarang? It’s freakin 6 degree! Kau harusnya memakai pakai—“

“Thank you” ujarnya kecil pada telinga Tiffany, membuat gadis itu sedikit terkejut akan sosok ini yang memeluknya tibatiba. Tanpa disadari Tiffany, senyumannya kembali tergambar di wajahnya. Ia melinkarkan kedua lengannya pada pinggang Taeyeon, berharap memberikan sedikit kehangatan untuk sosok itu, sedangkan Taeyeon semakin mengeratkan gantungan lengannya pada leher Tiffany, mengistirahatkan kepalanya pada pundak gadis yang sediit lebih tinggi itu. “Your welcome, shorty

“Kau tahu, kau masih sama seperti dulu.”

“Sama? Dulu? Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Ah. Ani, let’s just forget about it.”

“Okay”

“Apa kau keberatan jika aku memelukmu sedikit lebih la-“ Taeyeon belum selesai dengan perkataannya namun gadis yang lebih tinggi itu sudah mengeratkan pelukannya, menutup kedua matanya, jujur, posisi ini sungguh membuatnya nyaman. Bukankah ia baru mengenal Taeyeon beberapa hari, namun gadis itu mampu membuatnya seperti ini. Kim Taeyeon memang bukan sesuatu yang biasa.

“Aku baru mengenalmu beberapa minggu tetapi ini tidak terasa seperti itu, it’s like I’ve been knowing you for years.” Ujar Taeyeon pelan, menutup kedua matanya, merasakan kehangatan yang kini menjalar diseluruh tubuhnya.

“Taeyeon-ah, makanan kesukaanmu Doenjang galbi, minuman kesukaan mu Avocado Juice, warna kesukaan mu biru, kau sangat suka bernyanyi, ketika kau kecil kau memiliki sepeda dan memberinya nama “Pikachu”, ketika kau sakit kau tidak ingin seorangpun menganggumu dan merawatmu, kau sangat membenci Mr. Narrow, kau sangat popular di kampus, kau lahir dibulan maret, tanggal Sembilan, kau menyukai tempat sepi, barang kesukaanmu adalah gelang pemberian ibumu yang mana sedang kau pakai sekarang.”

Taeyeon terkekeh mendengar itu, bagaimana seorang Tiffany hwang mengetahui hal hingga sedetil itu? “Kau pasti bertanya-tanya darimana aku mengetahuinya, sekarang siapa yang benar benar seperti mengenal satu sama lain seperti bertahun-tahun?” Tiffany ikut tertawa geli, tidak disangka dirinya mampu mengingat hal-hal tentang Taeyeon dengan cepat, ini semua berkat Soojung.

“Fany-ah, makanan kesukaanmu Kalguksu, minuma kesukaanmu cokelat panas, warna kesukaanmu Pink, kau sangat menyukai aksesoris, kau sangat menyukai angka, kau belajar di Business dan bermimpi untuk memimpin suatu perusahaan besar, kau menyukai music yang cukup keras,kau mempunyai suara yang cukup indah, kau tidak suka jika seseorang mengganggumu ketika kau sedang asyik dengan pekerjaanmu, kau tidak suka jika seseorang menganggu tidurmu, kau tidak pernah peduli akan perkataan sekitar tentangmu, kau memiliki banyak Namja juga Yeoja yang rela mati demi mendapatkanmu termasuk Kim Taeyeon, kau tinggal dengan ibumu sedangkan ayahmu bekerja diluar, kau dingin terhadap orang yang tidak kau kenal, kau memiliki hati yang hangat jika orang mampu melihatnya, kau merasa kesal ketika aku mengirimu banyak pesan, kau kesal pada Soojung ketika kau tau ialah yang memberikan nomormu padaku, kau memiliki banyak teman disekolahmu yang lama, kau sangat popular disana, kau selalu mendapatkan A disemua mata pelajaran, kau memiliki 4 mantan di hidupmu, kekasihmu sekarang bernama Nickhun, ia menjurus di Medical Major, ia bercitacita menjadi dokter yang hebat, ia juga bercita-cita membangun keluarga yang bahagia denganmu, dan kau sangat menyayanginya.” Tiffany sedikit melonggarkan pelukannya setelah mendengar bagian bagian akhir perkataan Taeyeon, entah apa alasannya ia seperti itu, bahkan ketika ia menyebutkan nama kekasihnya ia merasa sedikit menyesal dan risih, jika memang benar seorang Kim Taeyeon telah jatuh untuknya, pastilah hal itu akan membuat Taeyeon merasakan setidaknya sakit di hatinya, dan sejujurnya ia tidak menginginkan hal itu.

“It’s okay Tiffany, I’m okay.” Taeyeon melepaskan pelukan itu sepenuhnya, menunjukkan senyumannya yang paling tulus.

“Lagipula aku sudah tahu apa yang akan kuhadapi dari awal, aku tau ini tidak akan mudah, tetapi setidaknya biarkanlah aku seperti ini.” Ujarnya sedikit pelan, semakin membuat Tiffany merasa tidak nyaman, ia sungguh tidak ingin menyakiti Taeyeon, namun disisi lain biar bagaimana pun ia sangat menyayangi kekasihnya.

“Aku akan menikmati detik demi detik moment bersamamu karena besok kau akan berubah menjadi Tiffany yang dingin dan tidak akan melihat keberadaanku.” Ujar Taeyeon berbalik kearah kota, menyenderkan tubuhnya pada balkon. Keduanya terdiam, menikmati hembusan angin, keduanya tetap seperti itu selama beberapa menit, menikmati kesunyian dari tenggelam pada pikiran masing masing.

(How lonely must life be for you Taeyeon?) pertanyaan itu benar benar terulang kembali dalam benaknya, setelah mendengar cerita panjang dari sahabatnya tentang sosok yang sedang menikmati pemandangannya ini. Sesekali ia melirik gadis itu, bagaimana bisa ia memiliki dua karakter yang jauh berbeda, dikampus ia sosok yang cukup terkadang antusias dan dingin namun sekarang ia menjadi pribadi yang begitu lembut dengan semua katakata manisnya, membuatnya entah bagaimana merasa nyaman.

“Aku rasa akan menjadi sesuatu yang keren jika kau menjadi milikku, Tiffany.”

“Taeyeon, I’m taken. And im here because I believe you’re my friend. My senior.”

“Aku tahu, dan kau tidak perlu mengulangnya”

“I’m sorry.”

“It’s ok. Ini bukan kali pertama aku mengetahuinya, aku rasa aku semakin terbiasa akan rasa sakit itu.”

“I’m sorry.”

“Stop apologizing! It’s not your fault at all. Well it’s your fault to make me fall for you tho.” Taeyeon terkekeh, tawa itu terdengar music yang menyedihkan untuk Tiffany, ia melihat gadis itu sedikit iba.

“Someday, I will make you mine.” Tiffany terenyah, ia benar benar risih kali ini, dan Taeyeon mengetahuinya dari cara menarik nafasnya berat, namun hanya kali ini Taeyeon ingin Tiffany mengetahui bagaimana berat harinya harus merasakan perasaan seperti ini setiap hari.

“Stop sayin that! I’m straight, I’m taken, I have the love of my life, I love him so much! And I care about him! And he cares about me too! He can protect me, he could make me feel safe and warm, he could make smile, he could make me laugh, he’s.. perfect for me and I don’t want anyone else except him. Not even you.” That’s it. Pernyataan gadis itu sedetik yang lalu mampu membuat air matanya mengalir, seperti pedang panjang nan tajam menghunus ulu hatinya berulang-ulang, air mata jatuh melawan air laut itu.

“I-I’m sorry..”

Tiffany tersigap, jantungnya seakan berhenti berdetak mengetahui sosok itu menangis tersendat. Apa yang baru saja dikatakannya!? Argh! Ia sangat menyesal, sangat, sangat menyesal mengatakan itu, ia benar benar di luar kendali akan dirinya sendiri.

“Tiffany?” Suara pria yang tidak asing untuknya terdengar mendekat. Tiffany berbalik mendapatkan sosok itu tersenyum membawa mencari cokelat panas dan roti keju pesanannya. “Khunnie.”

“I got your chocolate and your bread!”

“Well, who’s your friend right here?” lanjutnya ramah, akhirnya Taeyeon mengetahui bagaimana suara kekasih dari gadis yang disayanginya itu, ia berbalik dengan wajah bersih dan tidak ada air mata sedikitpun yang mengalir membuat Tiffany sedikit terkejut, ia pasti dengan cepat menghapusnya.. perasaan bersalah seketika menghantam dadanya.

“Oh, I’m Taeyeon, Tiffany’s senior in her new school. you must be Tiffany’s boyfriend. Well, aku rasa sekarang aku mengerti mengapa gadis cantik ini selarut ini berada disini? Aku rasa kalian sedang berkencan larut malam bukan?” Ia menunjukan senyuman ya yang lebar pada pria itu, memperhatikannya dari atas sampai bawah, nampaknya benar kata Tiffany, ia seperti pria baik-baik yang ia yakin dapat menjaga gadis impiannya itu. Pria itu tertawa renyah lalu mengangguk kecil. “Well, baiklah jadi aku tidak sudah memiliki alasan untuk disini, kalau begitu sampai jumpa. You two have fun, kay? I’m leaving” Ujar Taeyeon memberikan salute candaannya pda sepasang kekasih itu, menarik dirinya sendiri menjauh. Merasakan sakit yang berlebih pada ulu hatinya. Ia tidak tahu, apa yang bisa lebih sakit dari ini.

Ini benar benar malam yang tidak diharapkannya.

 

**

“WHAT!? YOU SAID WHAT TO HER? ARE YOU INSANE!? YOU’RE HURTING HER! DON’T YOU HAVE THE SLIGHTEST IDEA HOW BAD IT WO—WAIT A MINUTE, THERE’S A MESSAGE FROM JI-EUN”

“OMG! SHE’S TOO FREAKING CUTE! I’M SHAKING!”

“OMG! I CAN’T EVEN! OMG SHE’S CUTE AND HOT AT THE SAME TIME! OMG OMG!

“LIHATLAH TAEYEON-UNNIE MENGIRIMI JI-EUN SELCA! DAN JI-EUN MENGIRIMINYA UNTUKKU!”

Girls-Generation-Taeyeon-Yuri_1395458357_af_org

 

Ya, Jung Soojeong. Aku sangat mengerti mengapa kau sangat mengaguminya. dia benar-benar.. sempurna. Belum sempat ia mengatakan sepatah katapun, sahabatnya itu sudah menarik lengannya dengan cepat, tidak butuh waktu lama hingga mereka sampai di studio kampus yang sudah cukup ramai, lampu berwarna –warni menerangi panggung, sorakan meriah kini memenuhi seluruh penjuru ruangan, tentunya semua orang disini memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk..

 

(Np – TTS – Adrenaline)

 

Detik kemudian, semua lampu mati, hanya ada bayangan hitam di hadapannya, namun, detik kemudian pula,

 

Screen Shot 2015-12-20 at 11.28.48 AM

 

Screen Shot 2015-12-20 at 11.31.47 AM

Screen Shot 2015-12-20 at 11.29.33 AM

Screen Shot 2015-12-20 at 11.28.48 AM

 

sosok itu muncul ke permukaan.

 

 

 

 

 

 

ATTA__________________________________________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________________________________________

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________________________________________

 

 

 

 

Okay so here it is guys! i l know it’s quite long since i updated my last chapter, as you guys know i’ve been so busy with school stuff or life stuff hehe. don’t forget to leave a comment, tell me what do you think  and how do you feel about this story, and make sure to give it A THUMBS UP! ^^ BUAYYY!

INTERACT WITH US ON TWITTER! @JAZZATTA1

HEHE BYEE!

Advertisements

78 thoughts on “SHE KEEP ME WARM (2/4) BY ATTALOCKSMITH

  1. Cieeee tante ppany, dah bikin tante tae-nya saya sakit hati terus, terus abis itu nyesel kan tan nyakitin tante tae mulu. Gak di sini gak di mistakes, kenapa taetae mulu yang tersakiti;( rasanya pengen aku tendang ajatuh si nickhon. Hffff. How do I think about this story? Hmm, I think it’s cool. Nah, its REALLY COOL. How do I feel about this story? I feel like…… Ah pokoknya ngefeel deh! Cuma ya kadang-kadang ada kata-kata yang harus dibaca ulang gituuu. But, it doesnt matter. I still enjoy the story. As always. Maaf bala ya thor. Bubuy. Keep writing jazzatta!

    Like

  2. wow dan nangis sumpah nangis pas baca tiffany ngomong gt ke taeyeon yg kata pas malem” itu nangis sakot banget saaakiittt banget jadi taeyeon ya tuhaaann taeyeonn buat gw aja dah
    chinguu di tunggu lanjutannya

    Like

  3. sukaaaaa …wkwk ff kedua yg gw suka setelah confused :3
    tetiba pen ngulahi upil thor ketika cecunguk anokanda masuk jadi fast -_- jadi pacar tippa lagi hihh #masihgaterima :3
    semangat thor buat ngelanjutin epepnya wkwk ..
    Kek gini gw ikhlas , tae ama sapa ajeu yg penting jgn.ma laki.aja. :v

    Like

  4. Oh my god, this wo amazing…i really like this…tiffany belum menyadari benar perasaannya pada taeyeon..perasaannya masih terlalu berat untuk nikun…tapi aku taeyeon my bias dia sangat luar biasa, pesonanya mampu mengalihkan seluruh dunia tak terkecuali fany, pada akhirnya dia akan jatuh pada tangan taeyeon…tahanlah lesakitanmu tae, aku yakin setelah itu kebahagian akan menghampirimu…..go go go!!!

    Like

  5. Pany masih aja mengingkari hti sendri, eh malah bkin tae skit hti. . . Huhu
    about this story?
    Bgus thor, aku suka cara author bkin alur sma kata2nya. Serasa nonton drama. Hehe
    good job for author!
    Semangat!

    Like

  6. Yah! Tiffany, can I say something to you? You’re so STUPID!! 😡😤😣
    Asli tega banget lu tiff gituin (?) taeyeon, ga berperi kehatian banget tau ga 😤
    Gila luh tiff nolak taeyeon gila gila gilaaaakk!! Ga nyesel emang? Taeyeon itu punya sejuta pesona choy, dan fany menyikannya begitu saja? So stupid women!!

    Huaaaaaa.. Ga tega liat taeyeon di sakitin 😟😧 dari mulai masa lalunya, keluarganya dan sekarang tiffany 😭😭😭 cini cini taeyeon aku peluk 😙😫 kasian banget sumpah, udah broken home dan harus broken heart juga? OMG!! Sangat menyakitkan 😭😭😭

    Okay thor lo emang the best dah bikin gue seneng, kesel bahkan mau nangis teriak² gara² nih cerita 😣😭
    Jujur ya, pas tiffany kisseu sama si nikon (?) hati gue bagaikan tersayat sayat pisau yg sudah karatan choy, ga rela sumpah deh ga kebayang 😣 dan taeyeon ngeliat itu??!!! Nambah atit hati gue 😭😭😭
    Tapi gue salut sama taeyeon, masih bertahan walaupun sudah jelas² tiffanynya nolak 👏👏👏
    Eh tapi setelah tiffany ngomong kaya gitu, masihkah taeyeon akan bertahan? Atau berhenti? 😕 aaaahh pokoknya jangan berhenti yaa sayang, perjuangkan terus tiffany untuk jadi milikmu.. Tapi kalo tiffany tetep gamau, yaa sama gue aja sini dah 😗 *apasih* wkwkwk 😂 bohong jangan mau kalah sama si nikon (?) itu, semangat baby.. Semoga tiffany akan membuka pintu hatinya untuk mu, amin 🙏 *kibarkanbenderaLS* wkwkwk 😂😂😂
    Oiya gue setuju banget sama kata² krystal kalo taeyeon itu emang lebih hot dan cute dari si nikon (?) dan emang untuk cowok, gue gasuka yg imut² 😛 ntar kalah imut dong ceweknya wkwkwk 😂

    Okay thor ni FF puanjaaaaang banget dan NYESEK bangetttttttt 😣😭 sampe 9.745 kata choy!! FF terpanjang yg pernah gue baca! Dan feelnya dapet banget, kecuali pas adegan fany sama nikon kisseu.. Ga bisa gue bayangin thor 😛 ga rela 😫 haha 😁

    Okaylah author atta, di tunggu next chapt dan FF lainnya yaa 😉
    Fighting!! 💪
    Saranghae 🙆😘💜 kkkk~ 😂
    *bow*

    Like

  7. pany kamu berulang kali menyakiti hatinya taeng, pasti nanti kamu nyesel deh nolak taeng yg tulus mencintaimu, kaya kasusnya jieun yg jg nolak taeng jg

    Like

  8. OMG taeng!!! kmu kuat banget. semoga suatu saat nickhun selingkuh trus tiffany menerimamu.
    gilaaaa, q feelnya terasa banget disini seolah2 kya nntob film gtu loh.
    ga sabar mnanti last chapternya. ditunggu aja deh pokoknya!!!

    Like

  9. Jadi nangis pas udah baca chap ini, chapter ini sama dengan keadaan aku saat ini, tapi bedanya di kisah orang tua nya.
    Feel nya dapet banget thor, nice nice nice fanfic ever ! 🙌

    Like

  10. wait,, whattt
    thor uhh knpa sih lo jahat bnge(becanda) ps d seru” taetae mau perform ehh udah abisssss hikss gw sedihhh
    n panny duhhh pany you make taeng cry uhh hiks hiks ksihannn bnget dan gw pas baca itu jg ikut nangisss
    pokoknya thor cepetin ya buat nextnya sumpah gw pnasaran bngett
    semangat terus ya thorr :-):-)

    Like

  11. Suka sama ceritanya walaupun bikin sedih….tae rela ngejar2 cinta fany walaupun udah jelas2 ditolak….huwwaaa…. #peluktae

    Like

  12. Fix gue benci tiffany disini -__- hih ngakunya gk suka ty “I’m stright” lah apalah tapi giliran dicuekin ty risih sendiri.. trus sms ty gk dibales sok jual mahal pdhl mah dalem ati ngarep 😬 thor bkin tf sakit hati dong.. gondok sendiri bacanya -__-

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s