MISTAKES (CHAPTER FOUR) BY JAZZ

 

First, agak lucu ya baca komen para locksmith maunya taengsic di balikin lagi. lol.

 Okay. Don’t blame me.

 I’ll give it a shot :p

 


 

 4 tahun kemudian………

 “Itu benar sekali, Tuan. Perusahaan kami bahkan bisa menutupi hutang anda hanya dengan waktu singkat.”

“Kerugian yang kalian dapatkan, akan cepat terganti. Lagi pula, saham kami sudah naik 20% dari bulan lalu. Dan itu memudahkan kami lebih lagi.”

“Dengan pemasukan yang sangat besar, kami yakin. Akan mengusai semua investasi yang kalian percayakan pada perusahaan kami.”

 

“Lihat arah perekonomian, taksir laju pertumbuhan saham sangat mengesankan.”

Gadis itu mampu menyelesaikan penampilannya dengan sempurna di hadapan para konglomerat dan pemilik perusahan besar dunia yang kini anteng mendengarkan semua perkataanya hingga habis.

Sesekali mereka mengangguk untuk meresponnya,

Memang, masih sedikit takut untuknya berdiri disana, namun kemauan dan tekatnya yang membuncah mampu mengalahkan semua itu.

Sosok perempuan itu tadinya adalah seorang yang pucat, tidak mempunyai ekspresi, dan kehilangan gairah hidup. Namun, sekarang yang Nampak hanyalah perawakan tegas, berani dan sexy.

Rambut hitamnya yang menjuntai di belakang punggung, garis tegas rahangnya, bibir merah muda, dan kedua matanya yang tajam. Menjadi perhatian atas setiap pandangan yang ada di ruangan ini.

Mulutnya yang lugas dengan mudahnya menjawab pertanyaan dan argument yang di lemparkan kepadanya. Tentunya adu pendapat itu selalu di menangkan olehnya. Terlebih, karena jawaban yang Ia berikan, mampu membuat semua orang tertegun kagum.

Banyak dari para investor itu semakin menaruh kepercayaan pada wanita itu. mereka tidak ragu lagi, untuk segera menyerahkan investasi mereka bahkan dalam jumlah yang besar


 

“Kau melakukan kerja yang bagus, Taeyeon.”Kata seorang pria paruh baya itu. senyumnya tak luput dari wajahnya yang kini mulai tumbuh keriput halus.

Matanya menatap sosok yang ada di depannya dengan tatapan berbinar. Penuh rasa bahagia, bangga, dan puas.

Wanita itu adalah Taeyeon.

Sosok dirinya yang lemah kini sudah tidak ada.

Di gantikan oleh seseorang yang kini terlihat lebih dewasa dan anggun. Walaupun ia masih mempunyai babyface yang seperti orang bilang, tak mampu menutupi mimik mukanya yang tajam.

Tidak peduli bagaimana beratnya beban yang kini ia tanggung di bahunya, Taeyeon mampu mengumpatkan semua itu dengan kesuksesannya dalam 2 tahun belakangan ini.

Kepindahannya ke Amerika, banyak merubah aspek hidupnya.

Ia akhirnya bebas dengan penyakitnya. Walaupun kata bebas sebenarnya kurang tepat, karena penyakit itu masih mendatanginya sesekali. Ketika ia sedang depresi atau mempunyai pikiran yang berlebih.

Tapi secara keseluruhan, dia sudah sembuh dari banyak memori yang meninggalkan luka.

Terimakasih untuk ayah dan adiknya yang terus setia berada di sisinya. Membantunya berdiri dari keterpurukan. Lalu, bersinar layaknya bintang yang selalu menggantung di atas kota yang menjadi tempat bernaung dan persembunyiannya, New York.

Taeyeon memang tidak mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk mengunjunginya. Ia sengaja melakukan itu, karena pikirnya. Dia harus berubah terlebih dahulu dan menghapus imej gadis lemah yang melekat di dirinya.

Atas kerja kerasnya dan tekatnya untuk melepaskan itu, ia berhasil. Melawan penyakitnya dan menjadi seorang anak presiden perusahaan yang dapat meneruskan bidang keluarganya.

Taeyeon memang salah satu pewaris keluarga Kim yang memang sudah menggeluti dunia bisnis selama puluhan tahun. Namun dirinya, bukan lagi anak gadis yang meminta semuanya dari dompet ayah. Bukan lagi anak yang mengandalkan kekayaan keluarganya yang tak terhingga itu.

Dia bahkan sudah mampu membeli apartment dan mobil dengan hasil jerih payahnya sendiri. Dengan bantuan ayahnya, dia berhasil menjadi salah satu pewaris tersukses di usia mudanya.

“Di saat yang lain, bekerja keras untuk mendapatkan semuanya. Kau bahkan hanya bisa meminta dengan manja kepada ayahmu. Merengek padanya karna kau tidak mempunyai apa-apa. Kau tidak bisa menghadapi dunia ini, Taeyeon”

 Setidaknya begitulah kata-kata yang tidak pernah ia lupakan dari mulut seseorang yang sangat di cintainya.

Pernah di cintainya.

Itu bahkan seperti tamparan yang keras untuk dirinya, tapi ia terus menggantung itu di depan keningnya. Menjadikan itu sebagai bahan bakar api tekatnya.

“Ne, Appa.”

Ayahnya mengangguk, ada sorot bangga di pancaran matanya untuk anak gadis tersayang itu.

“Appa bangga padamu, Taeyeon.”

Fany-ah.. Aku berhasil.


 

Dia melangkahkan kakinya dengan riang, senyumnya mengembang. Merekah bagaikan bunga yang tumbuh subur di musim panas. Suasana hatinya memang sedang baik, apa lagi dia di izinkan untuk mengunjungi kantor kakaknya. Walaupun hanya untuk sekedar menyapa dan berbincang. Setidaknya, rasa rindunya tidak akan terasa berat lagi.

Dia berhenti tepat di meja sekretaris kakaknya

“Oh, Nona Muda. Kau datang lebih awal,”Sapa wanita melemparkan senyum sopan namun manis untuk gadis belia di depannya,

Gadis itu tersenyum lebar, dia mengangguk dengan semangat.

“Direktur ada di dalam.”Lanjut wanita itu tanpa senyuman yang luput dari wajahnya. Dengan semangat yang ke lewat tinggi itu, gadis itu melanjutkan langkahnya.

Dia tertawa kecil, mendengar panggilan baru yang masuk ke gendang telinganya. Panggilan yang di peruntukkan bagi kakak perempuannya, yang baru-baru ini mengambil alih salah satu cabang perusahaan keluarganya yang ada di kota besar di wilayah Amerika ini.

Agak geli memang, mendengarnya. Ia tak pernah membayangkan, sedikitpun. Kakak perempuannya mampu menerima posisi itu.

Hayeon bukan sosok adik yang kalem seperti kebanyakan. Tingkahnya yang konyol, juga nakal sangat berbanding terbalik dari figure kakaknya. Ketidak mahiran dia dalam segala hal menjadi tolak belakang dari Taeyeon. Sikapnya yang sangat kekanakan, membuat kakak juga ayahnya selalu jengah menghadapinya. Bahkan, di sekolahnya. Ia selalu membuat masalah yang bahkan bukan hal yang seharusnya di buat oleh anak dari keluarga konglo merat sepertinya.

Sebenarnya, ia mulai berubah menjadi seperti itu. ketika dirinya di titipkan dengan bibi nya yang ada di Amerika, dengan Ayah dan Kakaknya yang menetap di Korea sebelumnya. Bukan apa-apa, dia hanya kesepian dan ingin sekali orang-orang menaruh perhatian terhadapnya.

Akhir-akhir ini, Hayeon merasa posisi yang di ambil oleh kakaknya, mampu merebut sosok Taeyeon darinya. Padahal, tiga tahun terakhir ini. ia mulai bisa kembali merasakan bahagia yang hangat semenjak kepindahan Ayah dan kakaknya,.

Yang biasanya ia akan terlelap di dekapan sang kakak, kini ia menemukan dirinya melingkup sendiri di atas tempat tidur yang begitu besar, bahkan hanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak bisa lagi di perlakukan manja oleh kakaknya akhir-akhir ini. tidak ada lagi yang menyingkirkan pinggiran roti setiap pagi. yang baginya tidak enak untuk mendarat di lidahnya,

Umurnya boleh saja 17 Tahun, tetapi dia bersikap seperti itu, semata-mata hanya untuk mendapatkan kasih sayang yang penuh dari keluarganya, yang pernah hilang untuk beberapa waktu.

Hayeon menimbulkan kepalanya dari balik pintu, berusaha mengintip apa yang sedang kakaknya kerjakan. Takut-takut. Dia sedang sibuk dan mungkin tidak bisa di ganggu. Mungkin dia memang nakal, tapi dia masih bisa memikirkan tentang hal-hal yang harus atau tidak dia lakui demi kebaikan orang lain.

Mengetahui kakaknya yang sedang terduduk sendiri sembari bergulat dengan kertas itu, Hayeon agak lega.

“Oh? Hayeon?”

Wanita yang tadinya menaruh perhatian penuh pada kertas kertas yang menumpuk tebal itu, akhirnya berpaling setelah mendengar decitan pintu.

Dia menemukan adiknya berdiri dengan senyuman mengembang.

Taeyeon untuk kesekian kalinya memikirkan ini. Bagaimana bisa dirinya bahkan jarang untuk mengunjungi atau bahkan menanyakan kabar adik satu-satunya. Hayeon mungkin nakal, tetapi semua tingkah lalunya tetap terlihat menggemaskan di mata Taeyeon.

ia tidak bisa berpikir apa yang lebih baik, daripada melihat Hayeon dengan segala kesempurnaannya.

“Taengoo”Ujarnya seraya berjalan dengan riang kearah kakaknya,

Taeyeon tersenyum mendengar panggilan yang di berikan adiknya. Terlintas nama Jessica di benaknya karena panggilan itu.


 

“Kau bahkan tidak pernah mengantarku sekolah lagi!”

Dia mengerucutkan bibirnya, pembicaraan hangat yang di lakukannya dengan kakak yang menyandang gelar presiden perusahaan itu. Berubah menjadi kicauan manjanha beserta protesnya akan kesibukan sang kakak yang tak ada akhirnya.

Taeyeon sesekali menatap adiknya tanpa sepenuhnya meninggalkan kertas yang mengemis meminta tanda tangannya itu.

Tangan-tangan nya sibuk membolak balikan halaman. Taeyeon beberapa kali melemparkan tawa hangatnya mendengar ocehan manis sang adik.

“Kau kan tau, aku benar-benar sibuk.”

“Kalau begitu, berhentilah bekerja! Kau hanya perlu menjagaku!”

Lagi-lagi Taeyeon tak bisa menahan senyum bahagianya. Seperti memakan coklat manis mendengarnya. Setidaknya, dia di butuhkan oleh seseorang yang sangat di sayangnya. Mengetahui sifat posesif adiknya. Dia merasa tersentuh.

“Aigoo… Anak ini.”

Taeyeon mengacak rambut adiknya yang terduduk di depannya. Dia menyilangkan tangan di dada.

Tidak mendapatkan reaksi dari adiknya, Taeyeon akhirnya menutup semua berkasnya. Dia meletakan pulpen berlapis berlian itu dengan hati-hati.

“Hayeon-ah.”

Adiknya mendongak,

“Maafkan aku karena akhir-akhir ini tidak mempunyai waktu untukmu. Bukan hanya untuk ini, aku minta maaf untuk yang lalu-lau. Tidak pernah mengunjungimu. Aku tidak tau kau begitu kesepiannya disini. Aku kakak yang buruk, Hayeon-ah. Tapi aku sedang berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Maaf untuk waktu yang sedikit untuk bisa terus di sampingmu, Hayeon-ah. Kau itu manja, cengeng, dan egois. Tapi aku melihat kesempurnaan disana. Di hatimu.”

Senyuman lolos dari bibir Hayeon. Dia juga tersentuh mendengar itu dari seorang kakak yang sangat di kagumimya. Perpisahan mereka selama bertahun-tahun bahkan tak mampu membuatnya lupa atau mengurangi rasa sayangnya pada sang kakak:

Hayeon bangkit dari duduknya, berjalan memutar meja kerka kakaknya. Kini dia berdiri di hadapan Taeyeon dengan matanya yang berkaca-kaca.

Melihat itu, Taeyeon tidak menghabiskan waktunya dan memeluk sang adik.

“Taeyeon-ah. Gomawo. Aku tidak akan manja lagi, aku seperti itu agar kau selalu memperhatikanku, seorang. Tapi aku sadar, bahwa itu sangat egois. Kau juga di perlukan di perusahaan ayah, kan.”

Taeyeon mengusap lembut punggung adiknya,

Dia mengangguk kecil, menggerakan dagunya di atas kepasa Hayeon.

“Unnie, jika kau punya kekasih nanti, aku tetap akan menjadi prioritasmu, kan?”

Taeyeon lagi-lagi mengangguk tanpa ragu.

“Geure.”

“Apa kau mempunyai kekasih sebelum kesini? Apa dia tampan?”

Kakaknya terdiam. Senyuman itu kini berubah menjadi datar. Dia merasa buruk sekarang, adiknya saja mengharapkan dia untuk bersama seseorang yang pasti bisa menjaganya. Menyayanginya.

Tapi, disinilah dia. Masih tenggelam akan figur yang tak pernah berhenti menghantuinya setiap ia akan terlelap. Figur yang di matanya selalu sempurna, juga tak pernah terganti. Walaupun seisi dunia menentangnya.

“Tidak.”

Ada sedikit rasa pahit di lidahnya untuk menjawab itu.

“Wae?”balas Hayeon masih membenamkan kepalanya di bahu gadis yang lebih tinggi.

“Dia mengatakan kita tidak akan pernah bisa bersama.”

“Dia bilang, aku hanya beban. Aku bahkan masih meminta uang pada Ayah. Tidak akan ada masa depan jika bersamaku.”

Adiknya lalu melepaskan pelukan mereka, memandang kakaknya dengan tatapan tak percaya.

“Tapi sekarang kau menghasilkan uang, kan? Kau bahkan bisa membeli apapun dengan penghasilanmu yang setinggi langit itu.”

“Beban? Wah jjinja…”

“Dia tidak tau apa yang telah di lepaskannya. Melepaskan orang sepertimu, adalah kesalahan terbesar orang itu.”

“Bukan karna perusahaan, mobil, atau bahkan uang yang kau miliki. Tapi kau adalah kakak yang sangat-sangat mengagumkan, dan itu merupakan ketidak mungkinan untuk seseorang melepaskan sesuatu yang berharga sepertimu, Taeyeon-ah.”

Taeyeon hanya bisa bersyukur di dalam hatinya, untuk sosok Hayeon yang ia tau, tidak akan pernah meninggalkan sisinya.

Capture


“Benarkah? Taeyeon-unnie seperti itu?”

Gadis itu menjawabnya dengan anggukan. Ada atmosfir yang sangat hangat sedang melanda hatinya kini. Membuat keputusan seperti ini, adalah hal yang tepat. Maksudnya, untuk berada disini.

Walaupun kedatangannya belum di ketahui oleh seseorang yang sangat di rindukannya. Tapi ia dengan sabar menunggunya. Ini sudah hampir 5 tahun dan itu bukan waktu yang sebentar baginya. Apa lagi dengan bayangannya yang tidak pernah hilang dari pikirannya.

Saat mau memulai harinya, atau bahkan menutup lagi matanya. Orang itu selalu berlari-lari di benaknya. Dan ini sudah tak tertahankan. Ia harus segera mengobati rasa rindunya, tanpa mau memikirkan orang itu akan senang atau tidak atas kehadirannya.

“Dia memang sakit-sakitan”Tambah gadis itu. Hayeon. Memang, dia tidak begitu kaget setelah mendengar penjelasan dari gadis yang lebih tua di depannya. Saat kembali ke Amerika. Bahkan kondisi kakaknya berada di titik yang paling buruk di hidupnya. Bukan hanya penyakitnya, tetapi rintangan hidupnya juga. Senyum yang tidak pernah tersirat itu, Hayeon melihatnya.

Untuk ke sekian kalinya, dia merasa bersyukur. Bisa melihat kakanya yang kembali sehat, lebih sering tersenyum, dan yang paling penting. Sifat kakaknya yang dapat membuat semua orang yang di sekitarnya merasa nyaman, dan ingin berlama-lama untuk terus berada di dekatnya.

hajiman, Sica-unnie. Dia itu sangat kuat dan pintar menyembunyikan semua itu. arrachi?”

arra. Aku sangat mengenal kakakmu.”

Jessica. Bahkan untuk berada disini, dan berbincang dengan adik kandung dari seseorang yang sangat di rindukannya merupaka sebuah berkah untuk pengejarannya selama ini.

Yang di ceritakan Taeyeon dulu memang benar, adiknya sedikit lebih cerewet. Berbanding terbalik dengannya yang sangat kalem.

Jjinja!? Kalian seberapa dekat!?”

Jessica meletakan telapaknya di bawah dagu, memasang wajah berpura-pura berpikir. Sesekali terkekeh.

Moella. Kakakmu yang terus mendorongku menjauh,”

“Ey… kau kan tau dia orangnya seperti itu, jangan di ambil hati, Unnie.”

Jessica lalu menyunggingkan senyumnya. Ternyata Hayeon cepat menangkap apa yang baru saja di katakannya,

“Dia keras kepala, pabo, dan melakukan semua apa yang di inginkannya tanpa berpikir. Dia juga dingin, tapi ketika sampai untuk seseorang yang sangat di pedulikannya. Dengan sekejap, dia akan menjadi orang paling hangat yang pernah kita temui. Dia mungkin selalu berkata masa bodoh dan menyembunyikan semuanya, tetapi tanpa seseorang tau, dia adalah orang yang palingperhatian dan khawatir akan semuanya. Dia adalah seseorang yang mampu menjungkir balikkan hati kita.”

Jessica tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mengangguk tanpa ragu. Yang di katakana Hayeon semua benar. orang seperti itulah, Kim Taeyeon baginya.

Atau mungkin, bukan baginya saja. Untuk setiap orang yang dengan beruntung bisa mengenal orang itu di kehidupan mereka

“Majja.”Jawabnya lembut,

“Karena itu, semuanya jadi berantakan.”

“Oh?”

“Aku dulu benar-benar jatuh cinta pada kakakmu, karena itu. karena semua hal yang baru saja kau katakan tentangnya.”


Walaupun ini sudah genap beberapa jam setelah menginjakkan kaki disini, ia masih sesekali berdecak kagum. Bangunan rumah ini benar-benar megar dan merebut semua perhatiannya. Bahkan keluarga Kim mempunyai lapangan golf, taman yang luas. Bahkan rumah kaca yang memuat bergaai jenis tanaman.

Dan kini, Jessica berada di dalam rumah tanaman yang sedari tadi mampu membuat hatinya menjadi lebih tenang untuk bertemu gadis itu yang sangat di rindu ruang hatinya. Baginya, bertemu dengan Taeyeon setelah sekian lama ini, cukup membuat jantungnya ingin copot.

Sudah hampir setengah jam dia disini. Mengamati bebragai jenis bunga yang ada. Sungai buatan kecil menambah kesejukan di dalamnya. Dia diam-diam tak pernah berhenti mengagumi semua yang ada disini.

Apalagi, saat tau semua yang merawat ini adalah Taeyeon sendiri.

Memang, saat pandangannya jatuh ke tempat ini, banyak pelayan rumah ini yang langsung memberitahunya. Bahwa pemilik sekaligus perawat tempat ini tidak lain dan tidak bukan, adalah seorang gadis yang sekarang sedang di kantornya, menggandeng jabatan yang tinggi, juga tanggung jawab yang besar, atas kelangsungan perusahaan keluarga.

Lavender, aster, amarilis, bugenfil, carrion, hortensia.

Dan masih banyak macam bunga lagiyang Jessica dengan pintar menebaknya dalam hati. Ia tersenyum, memikirkan bagaimana Taeyeon bisa merawat ini semua di tengah kesibukannya. Dia benar-benar orang yang mengagumkan dengan segala kesempurnaannya.

“Jung Sooyeon?”

Mendengar suara itu, Jessica tidak menghabiskan waktunya untuk segera berbalik.

Dan disitulah dia. Kim Taeyeon. Seseorang yang telah mencuri semua ruang di hatinya dan tidak mau mengembalikannya lagi. Berdiri tepat di sana, dengan semua keindahan yang melekat padanya sekarang.

Tidak pernah berubah, pikirnya.

Taeyeon selalu membawa atmosfir di sekitarnya menjadi lebih hangat dan tenang.

Jessica harus terdiam dan tidak bergeming dari tempatnya. Mendapati gadis yang ia lihat dahulu. Kini terlihat sangat sehat juga jauh lebih mempesona dari sebelumnya. Dia tidak akan pernah berhenti bertanya, bagaimana bisa seseorang mendapatkan kecantikan yang luas biasa indahnya itu.

150423nrINDEX.jpg

“Taengoo-ya…”

Taeyeon mengembangkan senyumnya.

Sudah lama, Sica-ah. Kau benar-benar cantik dan terlihat dewasa sekarang.

 Jessica dengan langkahnya yang di percepat menghampiri Taeyeon. Senyum liar di bibirnya menunjukan betapa bahagianya bisa melihat Taeyeon lagi. Bagaimanapun, orang itulah yang selalu di pikirkannya beberapa tahun belakangan ini.

Taeyeon reflek memundurkan langkahnya ketika Jessica merengkuh tubuhnya dengan cepat. Menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Taeyeon. Sementara dirinya hanya bisa tersenyum lalu mengusap lembut punggung gadis yang selalu menjadi vitamin hari-harinya dahulu.

“Omo.. kau makin kurus saja,”Ucap Taeyeon pelan,

“Ne. dan kau terlihat semakin sehat,”Balas Jessica masih enggan melepaskan pelukannya terhadap gadis yang lebih tua.

Mendengar itu, Taeyeon lalu membalas dekapan Jessica. Tak kalah erat. Ini tidak bisa di pungkiri bagaimana dia benar-benar merindukan sosok Jessica. Ia sudah terbiasa menghabiskan hari-hari dengannya, jadi ketika ia pindah ke Amerika. Ia mengalami sedikit kesulitan untuk beberapa hal. Terutama dalam berbahasa inggris.

Bukan itu saja, hal-hal kecil yang biasanya di lakukan untuknya pun. Taeyeon tidak pernah melupakannya. Seperti, menyuruhnya makan, minum obat bahkan hingga tidur sekalipun.

Jessica sebenarnya tidak mau waktu kembali berjalan lagi di sekitarnya, ini begitu hangat dan ia tidak mau melepaskannya.

Tidak ada yang lebih sempurna daripada mendapati Taeyeon yang memeluknya erat, sesekali mengusap lembut punggungnya.


Kim Taeyeon

Aku rasa dengan Jessica terus bersender manja seperti ini padaku. Tidak akan membantu jantungku untuk kembali berdetak normal. Ini terasa sedikit aneh. Aku tidak bisa menjelaskan perasaan ini. begitu mengetahui bahwa dia berkunjung, seperti ada balapan liar di dalam hatiku. Dan itu hanya karna kehadiran Jessica.

Apa aku begitu merindukannya?

Semua memoriku kembali memutar saat-saat dahulu. Dimana aku mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang darinya, namun ku buang begitu saja untuk seseorang yang tidak benar-benar menginginkan keberadaanku.

Mungkin, tidak bisa menerima perasaanya adalah salah satu kesalahan terbesar dalam hidupku. Atau tidak. Aku tidak tau. Ini sangat membuatku frustasi untuk terus menatap wajahnya yang semakin cantik itu.

Yah. Kim Taeyeon. Apa yang kau katakan sekarang? Heol.

dengan kepalanya yang di letakan dibahuku, entah kenapa terasa begitu pas dan nyaman. Jari-jarinya yang mengunci milikku, terasa begitu sempurna.

“Wae? Kau terlihat canggung sekarang.”Katanya setelah menilik-nilik wajahku. Mungkin itu terlihat di ekspresiku? Pasti aku benar-benar terlihat idiot sekarang.

“Ani..”

“Jadi.. Direktur, Kim?”Tambahnya di selingi tawanya yang terdengar lembut.

Jessica yang dulu tidak pernah pergi. Dia masih suka menggodaku untuk beberapa hal-hal kecil.

Tunggu. Apa posisiku sebagai Direktur muda perusahaan bisa di sebut hal kecil?

“Yah..”kataku, aku bisa merasakan kedua pipiku yang terasa hangat karna malu.

“Aku senang, kau menjadi seseorang yang jauh lebih baik sekarang, Taengoo-ya.”

Dia lalu menarik bagian daguku untuk di tangkupnya. Mata kita bertemu. Ada pancaran bangga dan kagum disana. Aku melihatnya. Aku tak pernah melupakan tatapan itu. bahkan untuk lima tahun terakhir ini.

Memang, banyak alasan kenapa aku tidak pernah sahabat-sahabatku mengunjungiku. Itu semua ku lakukan untuk diriku yang lebih baik. Setidaknya, aku mampu merubah takdir hidupku yang terpuruk kala itu.

Bukan seperti, aku tidak mau mereka mendampingiku menuju posisi itu dimana aku bisa bersinar dan meraih semuanya, tapi, aku hanya ingin mereka tau. Bahwa semua perhatian dan peduli mereka, akan aku balas dengan membuat mereka bangga dan bahagia karna semua yang telah mereka berikan, tak pernah sia-sia dalam hidupku.

“Sekarang, kau telah menghapus semua memori yang buruk, Taenggo-ya. kau juga harus memulai yang baru, dan akan ku pastikan, itu akan menjadi lebih baik dan sempurna di waktu yang bersamaan.”

Dengan itu, seorang Jessica Jung berhasil mmebuat hatiku meleleh. Aish. Ini tidak baik. Apa jarak dan waktu bisa membuat perasaan seseorang tidak karuan seperti ini?

Dan apa yang baru saja di katakannya? Apa itu benar? apa dia sedang membuat tugas untuk dirinya dengan membuat memori bersama ku menjadi lebih baik?

“Apa kau sedang berjanji padaku, sekarang? Sooyeon-ah?”

“Ya. dan aku berniat untuk menepati janji itu.”

Senyumku mengembang liar,

“Gomawo.”Balasku lalu mengecup pelan ujung kepalanya yang berada tepat di bawah daguku.

Aku merasakan hangat yang menjalar ke setiap pembuluh darahku.

Terjerat dalam atmosfir yang begitu lama aku tidak dapatkan dari sahabatku ini.

“Kau tau, Taenggo. Di hidup ini, ada beberapa peran untuk setiap orang yang kau temui. Beberapa akan mengujimu, memanfaatkanmu, mencintaimu. Bahkan mengajarimu berbagai hal. Tetapi peran yang terpenting, adalah seseorang yang mampu membawa keluar yang terbaik dalam dirimu. Mereka langka juga menakjubkan untuk mengingatkanmu, kenapa hidup ini begitu berarti.”

Seperti sungai, perkataanya mengalir begitu saja. Menerobos masuk ke dalam otakku, lalu turun ke hatiku. Terjerat dalam kata-kata nya yang sangat sukses membuatku untuk terus mengucap syukur dalam hati. Karna telah membiarkanku kembali bertemu dengan seseorang yang membawa faktor besar dalam hidupku yang membosankan ini.

“Aku tidak tau, jarak dan waktu mampu membuatmu jadi seseorang yang sangat cheesy.”Ejekku pelan, lalu tertawa,

Dia mengerucutkan bibirnya, sebelum akhirnya lebih memilih untuk menggelamkan wajahnya ke ceruh leherku. Hehe. Mungkin dia malu.

“Yah. Jangan merusak suasana.”Katanya. bibirnya yang menyentuh dinding leherku tidak berhasil membawa kewarasanku kembali untuk saat ini.

“Arraseo. Mianhae.”

Aku kembali mencium pucuk kepalanya, lalu menariknya untuk lebih dekat. Tanpa menyisakan jarak sedikitpun.

“Aku benar-benar merindukanmu.”

Nado.”Balasku singkat, tetapi itu rasanya sudah cukup untuk mewakilkan perasaanku semuanya. Tidak bisa terabaikan, tapi aku menemukan diriku yang juga merindukan Jessica di hari-hari beratku yang lalu,

“Apa kau merawat bunga-bunga ini sendiri?”

Aku mengangguk di atas kepalanya, dia hanya mengguman tanpa mengerti.

“Di tengah-tengah kesibukanmu!?”

“Hmm.”

“Sudah ku duga…”

“Wae?”

Yokshi.. hati yang cantik memang bagaikan serbuk sari, kan? Ia terbang kesuatu tempat dan membuat bunga-bunga bermekaran. Persis sepertimu.”

Yah.. kalau begini caranya aku benar-benar tidak bisa menerima ucapannya dengan akal sehat. Kemana dia yang cerewet dulu? Ini sangat bukan dirinya. Setiap kata yang terlontar dari bibirnya tak pernah gagal membuat ruang di hatiku berubah menjadi teduh.

111111


 

 

“Jadi, kau akan disini untuk waktu yang agak lama kan, Unnie?”Tanya Hayeon masih dengan mulutnya yang penuh dengan daging asap.

Jessica menengguk minumnya sebelum akhirnya menjawab,

“Tergantung. Apa kau mau aku disini?”

Pertanyaan itu justru di jawab adikku dengan anggukan tanpa ragunya,

“Tentu! Kita bisa melakukan banyak hal!”Katanya semangat, lalu Jessica menyunggingkan senyumnya,

Sangat menyenangkan mengetahui bahwa adik juga sahabatku dapat menjadi teman dekat dengan waktuyang singkat. Keduanya memang tipe yang cocok. Sama-sama mudah bergaul, periang juga cerewet dalam berbagai hal.

Tapi justru, itulah yang membuat mereka. Menjadi mereka. Aku menemukan sorot kagum di bawah pengawasan Hayeon terhadap Jessica. Aku suka melihat keduanya tersenyum untuk satu sama lain, bercanda, saling bercerita. Bahkan pandanganku sempat menangkap mereka saling menyendokkan ice cream ke mulut masing-masing.

Aku tidak bisa menemukan hal yang begitu imut dan lucu selain melihat mereka sesekali mengerjai satu sama lain dengan merebut suapan makanan masing-masing.

Seperti saat ini.

Geure.. lalu, apa kau tidak keberatan, Taengoo?”

Aku tertawa pelan, lalu meraih punggung tangannya untuk ku gamit.

“Apa yang kau bicarakan? Aku senang kau disini, Sica-ah.”

“Gomawo, Taeng..”

Aku menaruh pandangan hangat untuknya. Aku rasa, ini semua terasa begitu mungkin. Hari-hariku disini sudah cukup membaik karna kehadiran Hayeon. Tetapi, Jessica membuat ini sempurna.

Dengan mereka berdua berada di dekatku, aku rasa tidurku malam ini akan menjadi nyaman.

Belum sempat kami melanjutkan perbincangan kecil di meja makan ini, aku merasakan telfon genggamku yang bergetar. Jessica dan Hayeon lalu sibuk dengan candaan mereka. Sementara aku berdiri dari dudukku, membelakangi mereka untuk menerima panggilan.

Author

 “What the fuck, Hyo! Aku kesana sekarang!”

Dengan itu, berhasil membuat Jessica dan Hayeon memalingkah wajah mereka untuk menemukan sosok Taeyeon yang merengut kesal sembari memasukkan kembali ponselnya.

Jujur, ini pertama kalinya bagi Jessica mendengar Taeyeon mengutuk. Yang ia tau, sahabatnya itu selalu mengatakan hal-hal yang manis dan terdengar lembut. Untuk beberapa saat dia berpikir, bahwa mungkin beban dan posisi Taeyeon sekarang mampu merubah sedikit kebiasaannya.

“Aku harus pergi,”Ucapnya sembari meraih minumnya untuk di tengguk terakhir kali.

“Wae?”Tanya Jessica singkat, “Sepertinya seseorang meretas system arus pembayaran perusahaan.”

Jawaban Taeyeon hampir membuat Hayeon tersedak daging asap yang sedang di kunyahnya.

“Itu terdengar buruk,”Komennya, Taeyeon hanya bisa mengangguk lalu berdiri dari duduknya. Dia menyempatkan untuk mengecup pucuk kepala adik juga sahabatnya sebelum akhirnya kembali memakai blazernya yang menggantung gagah di sisi lain ruangan ini.

Gerakan sederhana itu justru kembali membuat hati Jessica berdebar tak karuan di buatnya.

“Aku pergi. Jangan tunggu aku. Kalian makanlah.”

Taeyeon melemparkan senyuman paling hangat darinya hanya untuk adik dan sahabatnya kini. Dalam hatinya, dia tak pernah bosan merasa bersyukur atas kehadiran mereka saat ini.

Lalu sosoknya hilang di balik pintu. Tanpa harus mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam setiap detak jantungnya itu, Jessica merasakan sesuatu yang hilang, kini kembali ke permukaan ranah hatinya.

Yah.. apa yang aku rasakan sekarang ini? ani.. ini pasti hanya rinduku yang berlebihan.

 Jessica menyentuh bagian hatinya yang di lapisi pakaian. Ia merasakan debaran aneh disana. Seharusnya ini tidak terjadi lagi, karna ia meyakinkan dirinya, bahwa dia harus melanjutkan hidup tanpa Taeyeon sebelumnya.

Heol. Bahkan dia sudah mengeklaim bahwa dirinya bebas dari jeratan cintanya untuk Taeyeon beberapa tahun yang lalu.


“Nah, jadi seperti itu ceritanya.”

Hayeon baru saja menyelesaikan ceritanya untuk Jessica. Sementara gadis yang lebih tua sesekali menyesap coklat panasnya dan mengangguk di setiap akhir kata-kata.

Dia menjelaskan bagaimana keadaan Taeyeon saat datang ke Amerika dengan segala beban yang kokoh berdiri di belakangnya. Berawal dari penyakitnya, hingga depresinya yang memperhatinkan. Hayeon tidak melihat kakanya yang dulu begitu hangat dan ceria. Berbeda sekali dengan sosoknya yang dulu pernah ada di memorinya walaupun hanya sampai umurnya menginjak enam tahun,

Kim Taeyeon yang tiba dengan keadaan kurus, pucat juga kondisinya yang setres membuat dirinya bertekad untuk mengembalikan sosok kakaknya yang hilang. Dia tidak pernah mengharapkan apapun terjadi pada kakaknya ketika mereka jauh. Dan itu telah di langgar oleh seseorang yang ia bahkan tidak pernah temui.

Dia harus mencari tau siapa yang telah membuat kakak tercintanya seperti itu. dan apa yang telah di lakukannya? Memikirkannya saja membuat darahnya mendidih.

“Kau harus melihat tubuhnya yang begitu kurus, Unnie! Atau diagnose dokter yang mengatakan bahwa dia depresi. Itu sangat membuatku marah.”Hayeon mengatakannya sesekali mencengkram gagang gelasnya.

Jessica hanya tersenyum, untuk sesaat dia berpikir bahwa Hayeon benar-benar mencintai kakaknya.

Dia tahu betul perasaan Hayeon. Bahkan dia ada disana ketika sosok itu mempunyai waktu –waktu yang berat. Sama sepertinya, ia tidak bisa melihatnya dengan keadaan seperti. Yang ia inginkan hanya membawa kabur sosok Taeyeon dari semua masalahnya, dan kembali membuatnya bahagia seperti dahulu.

Walaupun itu semua telah berlalu, dan dia bisa melewati semua tantangan hidupnya, tetap saja. Memori yang kelam itu tidak akan pernah bisa terhapus.

Terbesit nama seseorang yang membawa dampak buruk bagi kehiduoan Taeyeo. Jessica menatap langit-langit, lalu ikut mencengkram cangkirnya yang masih agak terasa panas.

Nama yang terlintas itu, bahkan membuatnya pening sekarang.

“Arra, Hayeon-ah.”


 

Keadaan rumahnya sudah gelap total ketika ia kembali menginjakkan kakinya disana. Jam di dinding menunjukan pukul satu malam.

Pulang dengan keadaan lelah, setres dan kantuk bukanlah baru pertama kali di alami oleh Taeyeon. Semenjak ia mempunyai jabatan sebagai Direktur, hampir setiap hari dalam seminggu ia akan menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja.

Ini bukan seperti, dia adalah seorang wanita yang terobsesi bekerja, tapi ia hanya ingin mengambil semua tanggung jawab dan kerja kerasnya selama ini. Sebagai seorang Direktur, dirinya tentu tau bahwa hampir semua masalah di kantor, dia juga harus menghadapinya.

Dan dia juga tau, bahwa waktu untuk bersama keluarganya akan semakin terkikis.

Ia berjalan menaiki tangga sembari memegang penyangga. Tubuhnya terasa sangat berat karna kelelahan.

Dia menghentikan langkahnya di depan kamar tamu. Kamar yang sekarang sedang di huni oleh sahabatnya yang dengan keajaiban bisa seatap dengannya sekarang.

Taeyeon menarik sudut bibirnya untuk tersenyum mengingat bagaimana mereka kembali bertemu siang tadi.

Pada akhirnya, dia memilih untuk meraih gagang pintu itu dan menariknya secara perlahan. Takut-takut orang yang di dalam akan terbangun jika mendengar decitan pintu.

Ia dengan perlahan masuk ke ruangan yang lampunya sudah tidak menyala.

Dia mendekat hingga ke arah tempat tidur. Pandangannya menangkap sosok Jessica yang sedang terlelap dengan sangat nyaman. Wajahnya ketika di terpa sinar bulan itu jadi luar biasa cantik di mata Taeyeon.

Dia kembali tersenyum. Di dalam hatinya, dia tidak berhenti mengagumi figur itu yang masih terjaga sekarang.Taeyeon membungkuk meraih sisi tempat tidur. Tapi dia mengecup lembuh pucuk kepala Jessica. Menahannya agar lebih lama disana.

Dia tidak tau, gerakan kecil itu justru mulai membangunkan sang putri tidur.

Tidak bermaksud untuk menganggungnya, tapi Taeyeon hanya ingin melakukan sesuatu hal kecil yang menunjukkan dirinya benar-benar bersyukur untuk saat ini.

Jessica kini mengukir senyum di wajahnya. Bibir itu masih mendarat di ujung kepalanya dengan lembut. Namun dja tetap memilih untuk memejamkan matanya. Tanpa perlu menebak, ia hanya mengenali satu orang dengan lapisan bibir yang sangat lembut. Harum parfum orang itupun tak pernah berubah.

Saat Taeyeon menjauhkan kepalanya, bahkan Jessica sudah merindukan kehangatan yang baru saja mengelilinginya.

Merasakan orang itu mulai berbalik dan hendak beranjak pergi,

Jessica memutuskan untuk membuka matanya.

“Taengoo.”Panggilnya pelan, seolah-olah dia baru terbangun. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya pandangannya semakin jelas untuk menangkap sosok Taeyeon.

Yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya. Masih memakai kemeja kerjanya. Bedanya, blazer yang di kenakannya tadi sudah tidak ada.

Rambutnya yang di kuncir kuda, membuat Jessica berpikir. Bagaimana bisa seseorang terlihat seksi juga imut di waktu yang bersamaan.

“Omo. Pasti aku membangunkanmu, ya. Mianhe.”

Jessica segera menggelengkan kepalanya pelan. Lalu tersenyum,

“Ani..”

Taeyeon lalu kembali menghampirinya. Kali ini dia meletakan bokong perlahan di tempat yang tersisa di tempat tidur sahabatnya.

Mereka saling menatap. Kedua nya tersenyum.

Atmosfir semakin hangat di rasakan oleh keduanya.

“Kau pasti lelah. Tidurlah disini.”Tukas Jessica berhasil membuat Taeyeon sedikit tersentak. Ini sudah lumayan lama mereka tidak bertemu, dan sekarang dua harus tidur seranjang bersama sahabatnya yang dulu tak pernah absen mengisi hari-harinya.

“Bolehkah?”Tanya Taeyeon pelan, Jessica justru tertawa kecil mendengarnya.

“Kau tau aku menyukainya setiap saat kau ada di dekatku, Taeng.”

“Kenapa masih bertanya?”

Taeyeon tersenyum sunringah. Jessica bergeser untuk menyisakan tempat untuknya. Taeyeon tak menghabiskan waktunya untuk segera berbaring di samping sahabatnya. Menarik selimut agar kehangatan juga ikut mendekapnya.

Karna tidak ingin keadaan menjadi canggung. Jessica dengan santai menyandarkan kepalanya di tapakan dada Taeyeon. Kain halus kemeja Taeyeon bisa di rasakan di permukaan kulitnya.

Taeyeon lagi-lagi menahan napasnya untuk beberapa saat, namun semakin rileks ketika gadis yang lebih muda menenggelamkan kepalanya di ceruk leher miliknya.

Jessica sesekali menghirup harum tubuh Taeyeon yang sangat natural dan tidak sedikit pun berubah dari ingatannya dulu. Semua masih sama.

Hanya saja gadis itu terlihat lebih dewasa dan seksi sekarang. Jessica tersenyum girang mengetahui apa yang baru saja di pikirkannya.

Merasakan tangan halus yang menepuk punggungnya dengan gerakan perlahan, Jessica merasakan kantuk kembali menyergapnya kini.

Taeyeon juga memilih untuk memejamkan matanya sembari tangannya yang terus menepuk pelan, berharap gerakan kecil itu mampu membuat gadis yang di bangunkannya kembali ke dunia mimpi.

Tidak menyadari, gadis yang ada di bawahnya kini terpejam dengan senyumnya yang mengembang.

iluiliul


Semangat Hayeon pagi ini benar benar membara. Bagaimana tidak, setelah sekian lama tak pernah ada yang berkunjung ke rumahnya.

Akhirnya ada salah satu sahabat dari kakaknya yang datang bahkan menginap. Yang lebih mengasyikkan baginya, kamarnya bahkan bersebelahan.

Mungkin dia baru mengenalnya, tapi Hayeon bisa merasakan dirinya yang begitu nyaman untuk terus berlama-lama mengobrol dan bercanda bersamanya. Dia melihat sosok kakak juga sahabat di sorot mata orang itu.

Cara nya dia dapat membuat atmosfir di sekitar menjadi lebih rileks dan hangat, dia sangat menyukainya. Jessica. Sesekali dia tersenyum jahil ketika mengingat sosok itu.

Apalagi dengan masa lalunya yang melibatkan kakaknya. Mereka dulu bukan hanya sahabat, tapi keduanya juga saling mencinta. Dia lalu kembali menyeringai, bertanya-tanya dalam hatinya bagaimana jika kedua orang itu kembali merasakan hal yang sama setelah sekian lama tak bertemu dan saling menatap.

Hayeon mengayunkan kakinya dengan riang kearah pintu. Ia bermaksud untuk membangunkan Jessica dan mengajaknya untuk sarapan.

Ia mengira, mungkin kakaknya, Taeyeon. menghabiskan malamnya di kantor seperti yang sudah-sudah. Ia mulai terbiasa dengan itu dan berniat untuk mengerti keadaan kakaknya yang sekarang menggenggam masa depan yang cemerlang.

Karna tidak mendapatkan jawaban setelah mengetuk, Hayeon memberanikan diri untuk membukanya sendiri. Mengemyulkan hanya kepalanya saja di balik pintu,

Lalu terbelalak. Sebelum akhir menyadari, bahwa di tempat tidur itu, Jessica tidak sendiri. Dia sempat tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. Kakaknya yang di kira sedang berada di kantor.

Bahkan sedang mendekap tubuh kecil Jessica.

Keduanya terlihat sangat nyaman dan damai.

Hayeon buru-buru menutup kembali pintunya dengan sangat lambat.

Berdoa agar decitan pintu tak membangunkan mereka.

Dia berbalik dengan sudut bibirnya yang mengukir senyum sangat lebar. Ia tidak mengerti kenapa perasaan bahagia ini menghampirinya hanya karna mengetahui dua orang itu sedang bersama sekarang. Heck, bahkan mereka tidur di ranjang yang sama sembari berpelukan.

Baru saja ia ingin melanjutkan langkahnya. Ia mendapati ayahnya yang baru saja menyelesaikan anak tangga. Dengan mimik muka heran melihat anaknya yang paling kecil tersenyum sumringah dengan wajah jahilnya.

“Wargeure?”tanyanya menautkan satu alisnya. Sementara anaknya hanya menggeleng pelan, namun tetap tertawa.

“Ani..”

“Kau belum juga mengajak Jessica sarapan? Aish. Kita seharusnya menjadi tuan rumah yang baik Hayeon-ah.”ucapnya seraya mendekat ke arah pintu kamar tamu. Hendak meraih gagang pintu,

“Andwea appa!!”

Ayahnya berbalik,

“Wae?”

“Kau tidak boleh mengganggu pengantin baru yang masih tidur..”Jawab Hayeon menaik turunkan alisnya. Semakin membuat ayahnya bingun dan tersesat akan jawaban jahilnya.

Karna penasaran, Ayahnya justru tetap membuka pintu itu namun dengan gerakan yang juga pelan.

Tanpa di sangka, dia juga ikut menarik sudut bibirnya untuk tersenyum melihat apa yang sedang terjadi di dalam kamar tamu ini.

Dia kembali menutup pintunya,

“Arraseo. Kelihatannya kita harus menunggu mereka sebentar untuk sarapan bersama.”

12435595_1157270164302071_856488028_n


“Bagaimana tidurmu, Jessica?”tanya Mr. Kim sembari menyesap tehnya.

“Ah, itu nyaman, paman.”

“Bagus. Bagus.”

“Tentu, apalagi dengan Si Yeonnie yang memelukmu kan, unnie?”

“Uhuk!!”Taeyeon segera menyerahkan gelas berisi air penuh untuk sahabatnya yang kelihatan terkejut akan sambaran adiknya yang tiba-tiba.

Jelas saja, itu membuat Jessica tersedak daging asap yang baru saja masuk ke rongga mulutnya.

“Hayeon-ah!”

“Mwo? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”Jawak adiknya dengan santai. Menggoda mereka adalah hal yang menyenangkan dan dia berencana menjadikan itu sebagai hobby barunya.

Sementara Ayah mereka hanya menggelengkan kepala sembari menyunggingkan senyumnya.

Sejujurnya, dia menyukai sosok sahabat seperti Jessica yang selalu berada di sisi anak kebanggaan nya itu. Dahulu, hampir setiap hari ia melihat Jessica mengunjungi rumahnya. Melihat Taeyeon yang sehat sedang bermain dan bercanda dengan Jessica, merupakan sesuatu yang menghangatkan di akhir harinya yang berat.

Dan kini, ia semakin yakin. Bahwa Jessica pasti memang di kirimkan untuk membuat hari-hari anaknya semakin berwarna.

Sementara Jessica hanya bisa diam dengan semburat merah di wajahnya. Dia tidak mahir menyembunyikan rasa malunya sekarang.

“Oh, Taeyeon-ah.”

“Ne, Appa.”

“Appa berpirkir untuk menjadikanmu CEO di anak perusahaan yang ada di Seoul.”

Taaeyeon menjatuhkan sendok yang sedari tadi digenggamnya.

Ia masih tidak menangkap apa yang baru saja di katakan Ayahnya barusan. Mengerjapkan matanya berkali-kali lalu berkata,

“Appa.. Itu tidak mungkin. Kau sendiri yang memintaku untuk disini.”

“Ini sudah saatnya Taeyeon. Kau harus kembali.”

“Appa…”

Menyadari suasana yang menjadi keruh, dan melihat ekspresi Taeyeon yang tidak berubah. Justru sekarang raut wajahnya menggambarkan kesedihan.

Jessica meraih tangan Taeyeon untuk di genggamnya. Ia tau persis bagaimana perasaan Taeyeon saat ini. Kota itu mempunyai banyak luka di masa lalunya yang ia susah payah untuk menghapusnya dengan menghabiskan waktu di salah satu kota besar di Amerika ini.

“Appa, kau tau jelas kenapa aku berusaha menghindari kembali ke kota itu.”

Taeyeon mulai merasakan ibu jari Jessica yang mengusap lembut punggung tangannya.

Hayeon hanya tetap melanjutkan makannya. Dia merasa ini adalah urusan orang dewasa dan dia tidak seharusnya ikut-ikutan. Apalagi dengan atmosfir canggung seperti ini.

“Arra, Taeyeon-ah. Tapi ini adalah keputusan terakhirku. Kau sudah melakukan hal yang terbaik, dan kau berhak untuk ini. Aku akan memastikan, Hayeon juga ikut untuk kembali kesana. Lalu kita akan menggelar acara pengangkatan jabatanmu di sana.”

Taeyeon berpaling, menatap Sahabatnya. Matanya mulai berair. Tersirat luka dan ketakutan disana. Di sorotannya. Namun Jessica malah mengeratkan genggamannya, kedua matanya berbicara pada ruang hati Taeyeon langsung. Ia lalu berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tak akan membiarkan Taeyeon terluka lagi, dan akan terus berada di sampingnya.

Apapun yang terjadi.

Aku akan menjagamu, Taeyeon-ah..


 

dua bulan kemudian…

Siang ini, Tiffany bisa sedikit bernafas lega, karena dirinya bisa beristirahat walau hanya untuk waktu yang terbilang singkat. Ini hanya makan siang, tetapi beda dari yang sebelumnya, karena dia mendapatkan waktu lebih untuk tenang hingga nanti sore.

Karena ada banyak dokter magang di tahun baru ini, Tiffany merasa pekerjaannya akan sedikit berkurang. Dan benar saja, mereka gempar untuk saling merebutkan jadwal praktek mereka, dan mengharuskan Tiffany.Untuk lepas tangan.

Yap!

Tiffany sudah resmi menjadi Dokter disini.Dirinya bukan pemagang lagi, namun semua orang juga sudah mengakui bahwa dia adalah salah satu dokter yang hebat disini.Terlepas dari kesalahannya dulu, dia berubah menjadi dokter yang lebih bertanggung jawab, telaten dan bisa di andalkan.

Banyak intern, atau bahkan yang lebih senior tertarik padanya.Bukan hanya karena keahliannya, namun setiap orang tidak bisa menyangkal bahwa dia mempunyai kecantikan yang sebenarnya.Di tambah lagi, sifat baik hati yang dia punya.Membuat orang-orang di sekitar, jatuh dengan mudah dalam pesona seorang Tiffany Hwang.

Namun sayang, mereka nampaknya harus menggigit jari.Karena Tiffany sudah mempunyai kekasih yang masih setia di sampingnya.Atau tidak.

Mereka masih bersama hingga sekarang.Tidak pernah meninggalkan sisi satu sama lain. Namun keduanya merasa, bahwa hubungan mereka sangat biasa di banding yang orang-orang miliki. Mereka bahkan hanya bertemu sekali seminggu atau bahkan tidak sama sekali. Namun, rasa rindu pasti ada di antara keduanya.

Berbeda dengan Tiffany, rasa rindu yang ia punya hanya akan meledak-ledak jika ia merindukan gadis itu yang membuat hari-harinya menjadi lebih spesial, bahkan kekasihnya sendiri tidak bisa membuat dirinya merasa seperti itu.

Dia sempat menyadari ada yang berubah dari Tiffany.Wanita cantik itu kerap melamun setiap kali mereka bertemu seperti ini.Dia benar-benar tidak mengerti alasannya.Bahkan, kadang kekasihnya itu salah memanggil dirinya dengan “Tae” dia bahkan tidak mengenal siapa itu.

Suatu malam, Tiffany terserang demam dan hanya dirinya lah yang terus berada di sampingnya. Setiap kali, matanya terpejam, Nichkhun hanya mendengar nama itu keluar dari mulut kekasihnya yang bahkan kala itu tidak mempunyai kesadaran.

Nichkhun cepat-cepat menepis pikirannya yang tidak-tidak.mengurungkan niatnya untuk bertanya, walaupun pertanyaan itu sangat mengganggu baginya, demi menjaga perasaan Tiffany. Dia benar-benar mencoba melupakan itu.

“Uhm, Tiffany?”Nichkhun berusaha menyadarkan Tiffany dari lamunanya lagi. Namun ia berusaha untuk tetap pelan, tidak mau terlalu mengganggu kegiatan favorit kekasihnya itu.

Ia tidak mendapatkan jawaban dari wanita itu yang kini tangannya tetap mengaduk kopi yang sudah dingin. Namun tatapannya kosong ke depan.

“Fany.”Panggilnya untuk kedua kali, namun belum juga ia mendapat respon.

Tangan Ninckhun meraih bahu Tiffany lalu menggoyangkannya perlaha,

“Hei.”Tukasnya pelan, lalu Tiffany menggelengkan kepalanya cepat dan menaruh pandangannya pada Nichkhun dengan tepat sasaran.

“Omo!? Mianhae, pasti aku melamun lagi, ya?”

Nichkhun hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, lalu tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Tiffany hanya bisa membalas senyumnya dengan rasa bersalah.ini sudah kesekian kalinya, ia seperti ini dan kekasihnya selalu menjawab dengan jawaban yang sama.

“Apa kau mempunyai jadwal praktek penuh? lusa nanti?”Tanya Nichkhun sembari memasukan daging asap ke dalam rongga mulutnya,

Tiffany menyeruput kopi miliknya sebelum akhirnya menjawab,

“Ani… wae?”

Nichkhun menyingkirkan sisa-sisa bumbu yang ada di sekitar mulutnya dengan tisyu

“Jika kau punya waktu, bisakah kau menemaniku datang ke pertemuan di kantorku?”

Tiffany menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.Ia selalu suka sisi Nichkhun yang selalu bertanya terlebih dahulu dalam melakukan hal apapun yang menyangkut dirinya. Itu membuatnya nyaman dan merasa bahwa Nickhun benar-benar memperhatikannya,

“Tentu,”Jawabnya,

“Pertemuan apa?”Tambah Tiffany cepat,

“Pertemuan untuk penyambutan CEO baru.”Kata Nichkhun singkat lalu meletakkan garpu di atas meja bersiap untuk melanjutkan informasinya,

“Ya. Presiden perusahaan menunjuk anaknya untuk memimpin.”

Tiffany sempat mengernyit heran,

“Jadi, bosmu hanyalah hasil dari permainan ayahnya?”Tiffany lalu tertawa renyah mendengar peryataanya sendiri.

Dia tidak habis pikir tentang dunia ini bekerja.Sekarang, semua hal hanya dengan canpur tangan manusia menjadi sangat mudah.Sudah jelas, atasan kekasihnya pasti hanya anak manja yang hanya bisa merengek meminta jabatan itu di turunkan kepadanya.

Dan pasti dengan senang hati dan tidak bertanggung jawab, ayahnya melimpahkan jabatan itu seperti mainan baru kepada anak kesayangannya.

Setidaknya itulah yang tergambar di pikiran Tiffany,


wpid-tiffany-hwang-snsd-girls-generation-vogue-girl-magazine-march-issue-2014-4

“Kau bahkan tidak pernah mengatakan pada kami, soal gadismu ini.”

Untuk sesaat, senyuman di wajah Tiffany memudar sedikit.Dia merasakan sesuatu yang membuatnya sangat tidak nyaman.Dia sedikit tersinggung dengan ucapan rekan kerja kekasihnya itu.

Sekaligus, dia juga berterima kasih, karena telah membuat dirinya mengetahui, bahwa kekasihnya ini bahkan tidak mau menyebut namanya.Bahkan untuk rekan kerjanya sendiri.

“Aku pernah memberitahu Hani! Kau saja yang tidak dengar!”Balas kekasihnya itu agak keras, dia benar-benar merasa tertangkap basah.

“Iya, dia memberitahuku. Bahkan mereka sudah menjalaninya selama empat tahun. Benarkan?”

Nichkhun hanya mengangguk sembari menatap temannya yang lain dengan tatapan tajam,

“Sudah-sudah, yang terpenting sekarang kita semua melihat Tiffany langsung. Dan dia benar-benar cantik, kan?”Salah satu dari mereka berusaha mencairkan suasana kembali.

Akhirnya mereka larut dalam pembicaraannya lagi.Beberapa dari mereka tak hentinya memuji kecantikan yang Tiffany punya. Bahkan teman pria Nichkhun tidak jarang melemparkan rayuan mereka untuk gadis yang mempunyai senyuman manis itu.

Sebagai balasannya.,Tiffany hanya bisa mengatakan bahwa mereka terlihat anggun dan tampan malam ini. Walaupun ini pertemuan pertamanya dengan rekan kerja kekasihnya, dia sudah bisa merasakan atmosfir yang hangat walau di awal tadi agak canggung dan moodnya sedikit turun.

Tapi seperti yang orang bilang, Tiffany adalah orang yang terlalu rendah hati untuk bisa merasakan tersinggung atau semacamnya untuk waktu yang lama.

“Aku tidak percaya Presiden kita memecat Mr. Lee hanya untuk anaknya.”

“Iya! Bahkan aku yakin, putrinya tidak mempunyai pengalaman apa-apa.”

Tiffany hanya bisa merasakan wine yang baru saja melalui tenggorokannya tanpa meninggalkan pembicaraan mereka di pendengarannya.

“Mungkin dia hanya gadis manja, yang mengemis pada ayahnya.”

Kicauan yang satu itu hanya di jawab anggukan setuju oleh yang lainnya. Dalam hati, Tiffany diam diam juga meng-iya kan perkataan mereka yang merujuk pada putri presiden itu.

“Tapi, yang aku dengar dia sangat cantik dan sexy.”Kata salah satu pria berkemeja birubermabut cepak itu.yang Tiffany tangkap sedari tadi, pria itulah yang paling mengenal Nichkhun lewat pembicaraan mereka sebelumnya.

Ya!!!

JJinja! Mereka bilang, dia mempunyai kulit putih seperti porselen.”Belanya sembari menenggak minumnya lagi,

“Dia tidak berbohong.”Sambar salah satu wanita yang baru saja mengunyah habis suapan soup ayamnya itu.

Yang lain hanya mengerutkan kening mereka, mengaharapkan pernyataan lebih jelas dari wanita itu.

Dia menelan semuanya sebelum akhirny aberkata,

“Aku sudah dua kali bertemu dengannya. Walaupun hanyadari jarak jauh.Aku bisa melihat kalau dia benar-benar penuh karisma dan cantik. Sangat cantik.”

“Dia juga menjadi salah satu pewaris tersukses di Amerika. Kau tidak tau?”

Rasa penasaran Tiffany semakin tumbuh dengan liar di setiap argument-argument yang pendengarannya dapatkan.

Sebelum akhirnya….

“Selamat malam, semuanya.”

Ketujuh kepala manusia yang sedari tadi larut dalam pembicaraanya pun menoleh.Berusaha mendapati darimana suara itu berasal. Sampai penglihatan mereka menangkap seorang pria paruh baya yang berdiri di belakang podium.

Tatapannya lurus kedepan.Sosok gagah itu menyapa para tamu sekaligus seluruh karyawannya dengan senyuman hangat.Pembawaan wajahnya yang tenang membuat para mata yang memandangnya tetap menaruh perhatian mereka pada sosok itu.

Tetapi, tidak dengan Tiffany.

Kedua matanya sontak membulat melihat siapa yang tengah berdiri dengan tegap di atas panggung berhias dekorasi dengan tema elegan itu.

“Pasti kalian sudah menunggu lama, ya.”Tambahnya tanpa meluputkan senyum dari wajahnya.Senyum yang sangat mirp oleh seseorang yang Tiffany rindukan setengah mati. Dan kini ia melihat senyum itu ada juga di pria berjas biru laut. Banyak khayalan-khayalan yang tiba-tiba saja menyergapi pikirannya.

Tiffany cepat-cepat menyingkirkan itu, berharap ini semua tidak mungkin akan terjadi. Berharap khayalannya itu hanya karangan otaknya yang sekarang sedang tidak berfungsi dengan baik.

Dia mungkin sudah menduga ini, tetapi bayangan keluarga Kim sama sekali tak terlintas di benaknya.“

Mr. Kim….”Umpat Tiffany pelan, namun Nichkhun bisa mendengarnya walaupun volume yang ia keluarkan sangat kecil,

“Kau mengenalnya?”

Tiffany hanya bisa mengangguk pelan,

“Saya harap kalian mempunyai malam yang menyenangkan.”

“Karena itu yang saya rasakan sekarang,”

“Tentu saja, dia baru saja akan mengangkat putri manjanya sebagai CEO baru.”Salah satu rekan Nichkhun berkomentar dengan balasan tawa pelan dari yang lainnya.

“Saya membangun perusahaan ini, dengan keringat dan jerih payah saya dan ayah saya dahulu.”

“Bukan sesuatu yang mudah untuk mencapai kesuksesan saya seperti sekarang ini,”

“Namun, masa-masa gelap itu sudah di belakang, dan saya lebih memilih untuk terus maju.”

“Tentunya, saya tidak bisa untuk terus memimpin dalam waktu yang lebih lama. Tapi, sebelum saya menyerah untuk berdiri disini.Saya rasa, saya harus menjadi seorang Ayah yang baik, sekali. Seumur hidup.”

“Mungkin banyak dari kalian, yang mengatakan, saya memilih orang ini karena saya adalah Ayahnya. Saya bahkan mendengar beberapa dari kalian mengatakan dia adalah putri manja yang pastinya akan mudah mendapatkan posisi yang menggenggam kuat tanggung jawab atas banyak orang ini.”

“Tapi, saya hanya ingin menayampaikan beberapa kata tentang orang ini,”

Detik setelah kata-kata itu di lontarkan, Tiffany menelan ludahnya sendiri.Tenggorokannya terasa ingin menolak salivanya dengan keras. Ia benar-benar takut akan sesuatu sekarang. Dia berharap ini semua hanya mimpi dan dia hanya sulit untuk terbangun saat ini.

(Ost- Taeyeon ft. Jonghyun/Breath)

 


Kim Taeyeon.”

 Tidak mungkin……………

 Dan kini, tenggorokannya seperti tercekat. Tekanan di dadanya seakan memerintahkan jantungnya untuk berhenti berdetak. Dia tau ini akan terjadi. Dari awal, kedua penglihatannya menangkap sosok itu, ia hanya mempunyai satu pertanyaan. Dan kini ia telah mendapatkan jawabannya sekarang.

“Saya sangat mencintai gadis kecil itu,”Katanya di iringi tawa hangat,

“Dia memberikan kehangatan, dan kenyamanan untuk terus berada di sampingnya. Dia dalah orang yang mengagumkan. Melewati semua masa-masa sulitnya dengan terus memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Dia bertahan untuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia adalah keajaiban.”

Itu benar, Mr Kim.Putrimu adalah sebuah keajaiban yang sangat indah. Bahkan untukku.

Tiffany yang mendengarnya, merasakan titik air yang mulai merosot ke permukaan pipinya, hangat. Ia tau itu adalah air mata kebahagiaan. Entah karena ia akan melihat orang itu sebentar lagi, maksudnya orang mengagumkan itu. atau karena kata-kata yang keluar dari pria paruh baya itu yang mengharukan. Dia memutuskan untuk mempercayai keduanya.

 

“Keajaiban kecil itu, tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang mengagumkan. Dia mempunyai percaya diri yang kuat untuk memimpin kalian, dia berusaha keras untuk menjadi yang terbaik selama ini.Dia sudah membuktikannya. Saya bukan orang seperti itu, yang akan melimpahkan semuanya karena dia adalah putri dari seorang presiden perusahaan.”

 Kau hebat, Taeyeon-ah…

“Dia layak mendapatkan ini. Dia adalah hadiah terbaik yang pernah saya dapatkan. Saya sangat bangga akan percapaiannya. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat putri saya akan berdiri memimpin perusahaan ini untuk kedepannya. Saya yakin, dia adalah orang yang tepat.”

Aku bangga padamu, Tae.

Tepat setelah itu, Tiffany merasakan air matanya yang semakin deras. Jantungnya berdetak sangat cepat hingga ia kadang merasakan denyutan di pergelangan tangannya. Ini benar-benar mendebarkan baginya.Ia merasakan semua emosi yang ada.Rindu, bahagia, luka.Semuanya di aduk dalam satu wadah hatinya.

Lalu lampu yang tadinya menjatuhkan cahayanya ke ruangan ini meredup dengan perlahan. Dan mulai menembakan lagi cahayanya tepat sasaran pada seorang wanita dengan setelan jas hitam, berambut gelap jatuh menggelayuti punggung belakangnya.

Ukiran wajahnya yang sangat mempesona itu membuat banyak pasang mata berdecak kagum.Tidak mengalihkan pandangan mereka pada satu orang itu.

Untitled.png


oops. taengsic? :p

calm down.. believe in taeny :p

sorry for too much drama 🙂

care to check our new twitter! @jazzatta1 

feel free to ask and interact with us! ❤

-JAZZMINE39

 

Advertisements

87 thoughts on “MISTAKES (CHAPTER FOUR) BY JAZZ

  1. wauuu giliran fanny yang merasakan sakit sama yang tae rasakan waktu 4 tahun lalu.. yah bukan salah fanny juga sih karena pada saat itu fanny benar2 dalam keadaan kacau dan belum tahu bagaimana perasaan yang sebenarnya,,perjalanan cinta taeny baru dimulai?? gmn nasip sica??

    Like

  2. Aàaaaaaaaaaa……..
    Tanggung……..
    What the ~~~
    Ck. Taengsic kurang berasa…..
    maunya sih taengsic… tapi apa boleh buat. Kalo tangan yg ngetik maunya taeny… lirik atta…
    Gw gk mau sicca patah hati lg. Please ta. Buat taengsic… kan taeny udh banjir d mana mana.😩😩😩
    Ntuh foto bokapnya tae kok beda jauh ama tae yah???wkwkwkk…
    Hahhahahahahahaha….
    Moments manis taengsic yg gk bisa d lewatin… aih…
    “Yaiyalah nyenyak. Pan di peluk mulu ama si yeoonnie…” wkwkwkkw….
    Dukung neng jesjes untuk tae.
    Ngakak ama hubungan khunti…
    😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊
    Merry christmas ta….
    See you

    Like

  3. Wuhuuuu ini ff yang luar biasa, moment taengsic yang pas banget dan sweet di tambah lagi kejuatan di akhir ff nya..

    Udah lah, tanggo sama jessie aja…
    Hehee

    Like

  4. Hello author sebenerny aku reader lama cuma aku ganti usernamenya hahaha. Ceritany makin bagus aja thor 😂 ini wp favorite aku setelah taenyxx. Author bisa bkin para pembacany itu ikut trhnyut ama ceritanya. Btw i believe in taeny kok thor semoga akhir ceritany happy ending taeny ya thor 🙂 semangat thor!

    Like

  5. Merinding waktu baca bagian taengsic. Bener2 romantis amet. Tp percaya kok, pasti akhirnya taeny lagi(walaupun bakal penuh dengan air mata pastinya). Orang udah sayang banget dibuang-buang, sedih kan tante ppany. Kasian deh. Taengoo yang kuat ya!!!! Kamu pasti bisa dapetin tante ppany lagii. Sejauh mistakes ini, saya paling demen sama chapter ini. Gimanaya, keren bgt gitu. Almost flawless. Almost perfect. Love it bgt deh. KEEP WRITING JAZZATTA!! Byebye author jazz.

    Like

  6. Walaupun kecewa stga mati ama pany tp gw masih ngarep ending ny taeny! Taeny uda plg sip dah..
    Jujur author gw ngarep pany sdkt merasakan skt kyk yg tae rasain dlu kasian bgt tae klo di inget”😢 But still I’m taeny shipper💕 smoga mreka indah pada akhirny😭😎
    Author please buruan apdet suka bgt critanya

    Like

  7. aaah terhura tp jngn taengsic harus taeny sungguh menetrskan air mata sama kya fanny mendengarkan mr kim berbicara membanggakan taeyeon anaknya

    Like

  8. Melow drama. Kekekekekeke………. Jadi akankah taeny bersatu? Akankah Tae jatuh cinta ke fanny lagi? Lalu gmn dengan jessica, kecewa untuk keduakalinyaKah? Menurut gue taengsic emank kontra, krn di kehidupan nyata seolah demikian. Berbeda dengan taeny yg selalu nampak pro. Jd gue dukung taeny always…..

    Like

  9. dramanya wow…makin seru jadi gak sabar pengen baca lanjutannya kira-kira bakalan jd taengsic ataukah taeny….

    Like

  10. aihhhh, kenapa sih tippany masih ama si nickhun . .
    Pdahal udah jelas2 dia sayangnya ama taeyeon . .
    Sekarang taeyeon balik bilang rindu . .
    Aihhh bkin emosi aja . .

    Walaupun rada ga suka ama sifatnya tippany, tpi aqw tetep ngarep diendingnya adlh taeny. TAENY. Oke kaka . . .
    LS akut soalnya hehe

    Like

  11. Taengsic so sweet

    Author-ya .. aku tau taeny tak tergantikan , tapi aku sangat berharap jangan pisahkan taengsic .. biarkan mereka bersatu 😥

    Cepat up date ya thor

    Like

  12. Ceritanya makin seru…makin banyak dramanya..kayaknya pani mulai sadar bahwa ia melakukan kesalahan dengan melepas taeng..buat sica baby jangan pantang menyerah buat mendapatkan hati taeng..buat taeng juga moga dia bisa memilih yang terbaik baginya..buat author gomawo atas cerita..

    Like

  13. pertama kali baca ffmu bikin gue gak berhnti utk mmbcanya…bagus bngt..gak ada cacat celanya..hehe wp ini slh satu gue suka..maunya taengsic tapi taeny …yaudahlah..kalo gak taengsic cariin org lain deh buat sica hehe..apapun tae disini keren bgt..SEMANGAT buat lanjutin!!!!!

    Like

  14. wahhh..sekarang giliran fany yg terpesona sama tae..
    pasti nyesel tuh si fany..prnah nyakitin hatix tae..seru n keren banget ni cerita..
    lanjut update deh thor..

    Like

  15. thor, berasa nonton drama korea kalo baca ff lo…
    ini gue bingung, pilih taengsic apa taeny????? mau dua2nya.
    #marukdkit
    semangat nulis ya thor!

    Like

  16. Uuhhhh, lebih cepat Tiffany putus dari “orang itu” lebih baik. Toh dia juga tahu kalo apa yang ada dalam pikiran Tiffany cuma Taeyeon doang. Saat melamun, yang dilamunkan sudah jelas2 Taeyeon. Nama yang dipanggil waktu sakit pun jelas2 Taeyeon.

    Jessica ama Yuri aja. Taeyeon biar jadian ama Tiffany

    Like

  17. OMG gue gk habis pikir drimana seorang bisa membuat ff sekeren ini aduhhh gue ampe kebawa bnhet ma cerita ini dri awal ampe chap 4 behhh nggak ada cela sdikitpun omg jazz lo keren bnget
    n ff ni sumpahh gw suka apalagi karaktrr taeyeon yg beuhhhh kerennn bngett
    dtunggu next nya ya jazz
    keep write and semangat terus untuk menghasilkan karya yg lebih bagussss
    SEMANGATTT
    GOMAWO

    Like

  18. Astaga tae lebih percaya diri stelah dihina.. bangkit dr keterpurukan menjadi kan tae yeoja yg di banggakan banyak kaum hawa tak terkecuali sahabat kecilnya jessica jung.. sakit kan pany😣 gw benci lw pany stelah apa yg lw perbuat gak ngebuat tae terpuruk.. mlhn sebaliknya kan pany ^^ terimalahterimalah karma mu.. bye

    Like

  19. Nah loh gimana ini fany ?, orangnya balik loh, malah menjadi seseorang yang lebih baik, walaupun perkataanmu terhadap taeng itu sangat pedas #emangnyakeripik😂, tapi bisa menjadi motivasi untuk taeng, makasih loh tiffany hahaha
    Noh anak dua taengsic minta di cie.in kayanya wkwkwkwk, hayeon jangan jahil kau sama kakakmu ehhh hahaha

    Like

  20. Ciaaaat taengsic! Balik seoul??? Yah calon taeng galau lagi dah ,kalau pany galau sih biyarin aja toh dia punya kekasihnya… Taeng! Dirimu ama sica aja yg udh pasti harusnya -_-

    Like

  21. Jujur gw bukan taengsic shipper. Gw harap taeyeon gak jatuh cinta sama sica deh.
    Kasih kesempatan kedua lah buat taeny nya.

    Like

  22. Fany yah,,,jngan ngejudge orng sbelum tw orngnya dlu…
    Tnggalnsifat fany yg stu ini nih,,yg prlu drbah ma dia….hahahha

    Akhirnya,,stdaknya taeyeon da jdi wnita sukses brkat jrih pyahnya sndri… Dan dia da lbih shat skrng..

    Like

  23. Wah wah.. Walaupun gk jd taengsic mudah”an ada couple Yulsic.. Haha

    Anyeong thor.. Pembaca baru. Salam kenal. Hihi

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s