MISTAKES (CHAPTER FIVE) BY JAZZ

Warning! This absurd fanfiction is full of drama :p like, seriously.

I won’t take responsibility if there is any unfulfilled feeling while you read my story :p

jazz


Tiffany

Dia memanjangkan rambutnya. Sialan. Sialan.

Ya Tuhan, apa salahku hingga kau menghukumku seperti ini? harus duduk mematung disini. Memandanginya dari jauh. Tanpa bisa menyentuh atau sekedar merengkuhnya walau hanya untuk sebentar.

Melihat lekukan wajahnya yang sangat sempurna, garis tegas rahangnya yang begitu mengalihkan perhatian. Kedua bola matanya yang hangat, bibirnya yang selalu aku temukan begitu menarik. Aku benar-benar tidak bisa memikirkan waktu yang kini juga sedang berjalan. Semuanya terasa berhenti ketika dia tersenyum.

 

Omo…

Kenapa dia bisa berubah menjadi cantik dan sexy di saat yang bersamaan?

Kemana dia yang imut dulu?

Kemana wajah kekanakan yang kini terganti oleh sosok dewasa itu?

Aish,

Ini tidak benar. aku begitu terpesona sekarang.

Ini benar-benar menyiksa jika harus terus mendengar tawanya yang begitu aku rindukan. Bahkan suaranya pun kini bisa juga di sebut dalam kategori sexy. Semua yang ada pada dirinya sekarang.  sudah termasuk lingkup sempurna.

12625625_1175695522459535_1503321160_n

Author

“Aku dengar, Presdir masih lajang?”

Dan itu berhasil membuat Tiffany memalingkan wajahnya. Berusaha mencari sumber suara yang baru saja menubruk gendang telinganya. Disinilah dia, masih terduduk di antara keramaian yang ada. Sesekali menengguk minumnya. Berpura-pura mendengarkan kekasih juga teman-temannya bersenda gurau di meja.

Padahal, hati dan pikirannya kini hanya tertuju pada satu orang. Satu orang yang berhasil menjungkir balikkan hatinya hanya dengan hitungan detik. Satu orang yang sedikitpun tidak pernah beranjak dari pintu hati. Satu orang yang kini berubah menjadi sesuatu yang tidak ia sangka, akan begitu menakjubkannya.

Satu orang, yang selalu dia sakiti.

Dan kini orang itu hanya berada beberapa meter dari tempatnya duduk.

“lajang? Benarkah?”Sambar salah satunya,

”Bagaimana dewi sepertinya belum juga menemukan seseorang?”

Entah orang menyebut perasaan ini apa, tetapi Tiffany merasa tidak nyaman mendengarnya. Namun di sisi lain, dia tidak bisa mengingkari bahwa dia merasa sedikit lega mendengarnya.

“Molla. Aku hanya dengar-dengar.”

“Omo. Lihatlah. Presdir kini memakai gaun yang begitu indah.”

“Yya.. setelah aku perhatikan, dia benar-benar cantik.”

Sementara Tiffany hanya bisa setuju dalam diamnya. Tidak bisa di pungkiri. Kim Taeyeon malam ini luar biasa mempesonanya. Membuat Tiffany tak pernah berhenti merutuki penglihatannya yang tak bisa ia lepas dari gadis itu.

Perasaan takut yang tak biasa menyeruak begitu hebatnya sekarang. Mengetahui sosok itu bangkit dari duduknya, di kelilingi orang-orang bertuxedo yang gagah untuk setia di sampingnya. Tiffany tak membiarkan pandangannya kabur dari sosok itu, bahkan ketika dia mulai menghampiri meja-meja yang lain dan terlihat membungkukan badan lalu berjabat tangan. Dia terlihat memperkenalkan diri dengan ramah untuk semua karyawan yang hadir disini.

Hanya ada satu pertanyaan yang kini menyergap pikirannya,

Bagaimana jika dia menghampiri meja ini?

Tuhan, aku belum siap…


Taeyeon tampak tertawa dengan hangat mendengar beberapa candaan dari orang-orang yang baru di temuinya hari ini. bahkan dirinya sesekali tersipu malu karna mendapatkan pujian dari banyak orang. Entah mereka hanya sekedar memuji kecantikan dan kesuksesannya sekarang.

Maklum saja, untuk mencapai babak baru dalam hidupnya. Memang tidak semudah ini, dan tidak dengan waktu yang singkat.

Membutuhkan beberapa tahap yang sangat sulit baginya, walaupun pada akhirnya, dia selalu berhasil.

Hentakkan hak sepatunya semakin menusuk ke gendang telinga seseorang. Sekarang rombongannya memang sedang memyambut setiap meja yang ada di ruangan ini. hanya untuk sekedar memperkenalkan diri sembari meminta dengan lembut untuk kerja sama mereka selama dia menjabat kedepan.

Taeyeon sama sekali tidak menyadari bahwa meja selanjutnya yang akan dia hampiri, terdapat satu orang yang mungkin saja dapat membuatnya sangat terkejut sekarang.

Benar saja, pandangannya kini dengan sukses menangkap paras seseorang.

Seseorang yangtidak pernah di sangkanya akan hadir malam ini. atau bahkan detik ini juga, darahnya seperti berhenti mengalir. Senyumannya kini luntur, di gantikan dengan mimik wajah tak percaya. Bagaimana bisa dia dengan mudah mempercayai apa yang sedang kedua bola matanya lihat sekarang.

Taeyeon bahkan tidak tau kenapa dia menghentikan langkahnya sekarang. Membuat orang di sekitarnya heran dan menghentikan langkah mereka juga.

Sosok itu kini juga menatap balik darinya. Untuk beberapa saat mereka beradu tatap, ini sangat sulit untuk di jelaskan bagaimana perasaan keduanya saat ini. mungkin bagi Tiffany, dia sudah bisa memprediksi bahwa dia akan segera berhadapan dengan sosok itu,

 

Namun berbeda dengan Taeyeon yang tidak mengetahui apa-apa. ini begitu tiba-tiba dan dia belum siap menghadapi seseorang yang sudah berkali-kali menyakitinya dahulu. Tidak di ketahui dengan jelas penyebab jantungnya yang kini berpacu dengan cepat. Tapi dia menemukan dirinya menatap wanita itu dengan tatapan tidak mungkin.ia bahkan tidak mau mempercayai begitu saja bahwa sosok itu kini sedang berdiri di sana sekarang. Bahkan menatapnya dengan nanar sembari terdiam.

 

Lalu pandangannya jatuh pada telapak  tangan sosok itu yang terkunci dengan seorang pria yang ada di sampingnya. Menyunggingkan senyum terbaiknya, bersiap untuk menyambut dirinya ke meja itu. dengan hanya sekali tebak, Taeyeon bisa mengetahui bahwa dia mungkin adalah pendamping hidupnya sekarang.

Taeyeon memilih untuk memejamkan matanya untuk menyudahi adu tatap mereka. Entah kenapa ia merasakan luka luas yang sempat sembuh itu, kembali terbuka lagi. Ia benar-benar tidak bisa membedakan perasaan apa ini. terlebih lagi mengetahui sosok itu yang kini menggenggam tangan orang lain.

 

Ini semua terasa tidak nyata.

 

Saat dia kembali membuka kelopak matanya perlahan. Ternyata semuanya tak berubah.

Tiffany.

 

Dia masih menatapnya kini.

Sementara bagi Tiffany, ini juga terasa sangat mustahil. Dia merasakan sakit yang menyeruak begitu hebat ketika sosok Taeyeon malah memalingkan wajahnya kearah lain. Andai sosok itu tau, bagaimana dia sangat merindukannya. Heck, bahkan Tiffany sangat ingin melepas genggaman ini dan berlari merengkuh tubuh kecilnya kembali.

Seperti merasakan pedang hunus yang di tujukan langsung untuk hatinya,

 

sosok Taeyeon melewatinya begitu saja.

 


 

“Apa kalian sudah mendengar beritanya?”

Tiffany memang berniat untuk mengambil minumnya di pantri. Sebelum akhirnya mendengar percakapan antara beberapa dokter intern dan beberapa suster yang tengah melingkah di meja makan.

“Katanya rumah sakit ini akan segera di pindah tangankan untuk Kim Corporation!”

“Benarkah itu?”

“Bisa kalian percaya kah!?”

Itu cukup membuat Tiffany kembali meletakan gelasnya ke atas kounter. Membalikkan badannya ke arah mereka dengan rasa penasaran yang menggebu.

Gila saja, ini perusahaan milik gadis yang baru-baru ini kembali singgah di hatinya, yang sedang di bicarakan. Lebih parah, adalah seseorang yang ia sakiti berulang ulang di masa lampau. Lalu sukses membuat semua panah menyesal menghujam jantungnya kini.

Tiffany bukan menyesal karna orang itu kembali dengan segala kesuksesan yang membuntutinya sekarang. Dia menyesali semua  perbuatannya. Hal-hal jahat yang telah ia lakukan pada malaikat itu, menghancurkan hatinya beri-ribu kali. Bahkan sampai tidak ada di sisinya ketika dia mengalami hal sulit. Semua itu mampu membuat rasa bersalahnya membuncah. Mengingat semua hal keji yang sudah dia tuntaskan untuk gadis yang dulu menyandang predikat lemah itu.

Itu semua berhasil membuat bayangan gadis itu tak permah beranjak dari benaknya. Tiffany sering menemukan dirinya melamun karna memikirkan bagaimana keadaan juga kabarnya. Terdiam di kantornya sembari sesekali menertawakan kebodohannya.

Namun Tak jarang dia akan menarik sudut bibirnya untuk tersenyum karna mengingat kembali semua memorinya yang indah itu, atau membayangkan bagaimana cara orang itu tertawa untuknya. Semua pandangan itu semakin jelas untuk di lihat ketika orang itu bahkan sama sekali tak pernah meninggalkan sisinya.

Lalu Tiffany menghabiskan banyak waktunya untuk merutuki berbagai kesalahan terbesarnya itu. Dia menyakiti seseorang yang sangat menyayanginya. seseorang yang mampu membuat hari-harinya menjadi sangat berbeda, seseorang yang mempunyai tawa yang hangat juga tatapan yang teduh. Seseorang yang selalu menatapnya begitu spesial seperti perhiasan yang indah.

 

 

Bagaimana seseorang bisa menjadi sangat egois karna memikirkan masa depannya sendiri. Seperti yang Tiffany lalukan.

Bagaimana dia bisa menghancurkan hati seseorang yang dari awal sudah sangat rapuh. Dan dia bahkan membuatnya semakin parah.

Lalu disinilah dia. Menginginkan semua yang terjadi dulu, kembali terulang.

“Jjinja!! Aku mendengarnya langsung dari kepala departemen. Mungkin memang perusahaan itu sekarang benar-benar berkuasa.”

“Aigoo. Mereka bahkan menguasai teknologi, tekstil, perminyakan, entertainment sampai ekonomi. Apa mereka ingin merambati bisnisnya sampai ke bidang seperti ini juga?”

“Sepertinya begitu. Omo. Membayangkan berapa banyak profit yang mereka dapatkan saja aku bahkan sakit hati.”

Tiffany lalu terdiam, dia berusaha menangkap baik-baik apa yang sedang menembus gendang telinganya sekarang.

Benarkah itu?

Itu berarti Taeyeon akan menjadi direktur rumah sakit ini.

Ya. Benar. Itu semua karna dia adalah presiden perusahaan.

Taeyeon-ah. Kau benar-benar membuktikan semuanya sekarang. Andai aku bisa mengatakan langsung padamu, bagaimana bangganya aku pernah mengenalmu sebelumnya. Bahkan memilikimu di genggamanku.

Taeyeon-ah.. Aku merindukan mu.

Tiffany benar-benar tidak menyangka bahwa kini dirinya sudah menitihkan air mata hanya karna mengingat sosok itu.

Kau bahkan ada di dekatku, kenapa aku merasa bahwa kau begitu jauh?


 

Tiffany sesekali menyendok ice cream vanillanya. Hari ini begitu cerah, langit jernih biru tanpa ada awan sedikitpun. Membuat dirinya menjadi lebih tenang dan rileks akan pekerjaannya. Dia telah melakukan hal yang sangat tepat, dengan keluar dari lingkungan rumah sakit sam berjalan-jalan di sekitar taman. Mampu membuat semua beban yang setia menumpuk di pikirannya menjadi sedikit longgar.

Ice cream vanilla. Hanya ada satu nama yang terlintas di pikirannya saat ini. Siapa lagi kalau bukan gadis yang akhir-akhir ini nangkring di benaknya.

Kim Taeyeon…

Dia menghembuskan napasnya pelan. Memejamkan matanya merasakan angin yang berhembus damai di sekitarnya. Ia ingat, bagaimana dia dengan susah payah menyelundupkan ice cream hanya untuk Taeyeon bisa memakannya di tengah-tengah terapi. Bagaimana dirinya akan selalu menertawai cara sosok itu memakannya dengan berantakan. Lalu dialah yang akan membersihkan sekitar mulutnya dengan ibu jari. Tersenyum satu sama lain sembari menatap dalam bola mata masing-masing.

Apa kau masih menyukai ice cream, Taeyeon-ah?

Apa bahkan kau ingat momen-momen itu?

“Aw!!”Tiffany lalu berpaling untuk menemukan sumber suara yang baru saja menembus pendengarannya.

Dia menemukan gadis muda tengah terduduk di setapak taman sembari memegangi lututnya yang tampak terluka. Lalu pandangannya menangkap sepeda yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya,. Dia lalu menyimpulkan bahwa gadis itu mungkin baru saja jatuh dari sepedanya.

Jadi Tiffany memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis itu. Mungkin karna hak yang di pakainya menimbulkan bunyi. Gadis muda itu mendongak untuk menemukan sosok wanita dewasa berjas putih semakin mendekati tempatnya berada. Dia sempat mengerjapkan matanya karna mengetahui figur itu kinj tersenyum ke arahnya,

“Annyeong.”Sapa Tiffany pada gadis itu yang masih diam menatapnya.

“Oh, Annyeong.”


 

“Nah, sudah.”tukas Tiffany setelah beres menempelkan plester luka di lutut gadis itu. Dia tersenyum ramah pada dokter yang baru saja mau merawat lukanya. Walaupun ini hanya selang beberapa menit mereka bertemu.

Gadis itu mengutuk dirinya sendiri karna begitu ceroboh mengendarai sepeda itu.

“Khamsahamnida, Unnie.”Katanya dengan senyum memgembang, mereka kini duduk di salah satu bangku taman yang terletak di bawah pohon di sudut setapak.

Ini aneh, tapi Tiffany menemukan senyum itu tak asing untuk penglihatannya. Rasanya dia pernah melihat seseorang dengan senyum yang serupa dengan gadis ini. Untuk beberapa saat dia memikirkan banyak nama yang tepat, sebelum akhirnya kembali menaruh perhatiannya kembali.

“Lain kali, kau harus hati-hati.”Ujarnya pelan, gadis itu lalu mengangguk semangat.

“Ne, Unnie!”

Tiffany terkekeh melihat tingkahnya. Untuk sesaat dia mengira bahwa gadis ini mungkin masih kecil, namun melihat postur tubuhnya. Dia bisa mengetahui bahwa figur di sampingnya sudah memasuki masa remaja.

“Kiyowo, siapa namamu?”

“Hayeon, Imnida.”Tiffany sempat terdiam mendengar jawabannya. Lalu buru-buru di tepis omong kosong itu jauh dari pikirannya. Mungkin ini hanya kebetulan, katanya dalam hati.

Lalu Tiffany mulai memperhatikan lekuk wajah gadis yang baru saja si tolongnya. Ia tidak bisa membohongi ini, dia mempunya sorotan mata dan bentuk bibir yang persis dengan seseorang. Lagi-lagi ia memilih untuk menngabaikan itu , lalu memuji kecantikan alami yang dia punya.

“Nama yang bagus.”

“Benarkah, unnie? Gomashimnida.”balasnya lalu kembali tersenyum,

Aish, mereka mirip sekali ketika tersenyum..

“Are you a doctor?”

Tiffany mengangguk. “I am.”

 

Wow. Cool! Whats your name?”Jawabnya dengan girang. Membuat Tiffany untuk yang kesekian kalinya tersenyum akan sikapnya,

Lalu dia menyadari sesuatu,

“Tiffany. Your english are pretty good, tho.”

“What a beautiful name, doctor.”Lalu dia tertawa pelan,

Oh, and thankyou, doc. Actually, i’ve spent a lot of years in united states. I was just got back to korea, like, last week.”tambahnya lalu tersenyum,

Tiffany lalu memgangguk perlahan. Tidak heran anak ini mempunyai penyampaian yang sempurna dalam berbahasa inggris.

“Cool. Hoped you’ll like being here.”

“Absolutely, Doc.”

Lalu pembicaraan mereka mengalir seperti sungai. Tak jarang Tiffany menemukan gadis itu akan tertawa di candaanya, begitu juga sebaliknya. Hubungan antara dokter-pasien-yang-tanpasengaja-bertemu itu seakan lenyap. Yang ada hanya seorang wanita dengan gadis remaja yang asyik membicarakan banyak hal di tengah taman jantung kota itu.

“Jadi begitu..”

“Lalu apa kau senang menjadi seorang dokter, Unnie?”Tiffany lalu berpalinh, tersenyum mendengar pertanyaan itu.

“Ya. Ini adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan. Setidaknya ketika aku bisa melihat seseorang dapat kembali pulih dan bersenang-senang di luar lingkungan rumah sakit yang membosankan. Tetapi, akan menjadi sangat menyedihkan juga sakit di rasakan ketika mengetahui kau tidak mampu menolong hidup seseorang.”

Gadis itu lalu mengangguk pelan, bertemu dengan seorang dokter yang cantik tanpa sengaja mungkin adalah sesuatu hal yang baik. Apa lagi bisa mengenalnya,

Hayeon berpikir dokter yang ada di di sampingnya adalah orang yang menyenangkan dan sangat ramah. Padahal ini hanya melewati setengah jam yang lalu ketika mereka bertemu. Tetapi dia merasa obrolan mereka cukup panjang dan banyak. Seperti sedang bersama orang terdekat, Hayeon merasa sangat betah untuk berlama-lama mengobrol dengan dokter cantik di depannya.

 

Tak jarang Hayeon akan menyukai setiap perkataanya yang di berikan sebagai jawaban atas pertanya-pertanyaannya.

“Woa. Bertemu dengan Unnie dan mengobrol banyak seperti ini, apalagi tentang pekerjaanmu. Aku jadi ingin menjadi seoarang dokter sepertimu, Unnie. Kurasa itu akan membantu banyak orang, dan itu adalah pekerjaan yang mulia. Bukankah begitu?”

“Benar. Dan kau tidak akan menyesali pilihanmu nanti. Ini adalah pekerjaan yang menyengkan sebenarnya.”

“Kalau begitu, kau harus belajar dengan rajin, ya!”

“Of course, captain!”jawabnya lalu berpura-pura menunjukan salutnya, membuat Tiffany tak bisa menahan tawa lembutnya.

“Apa aku boleh mengunjungimu, di rumah sakit. Unnie?”

“Tentu saja. Kau boleh berkunjung sesering mungkin.”

Capture1


 

“Sepertinya, ini adalah waktu yang tepat, Presdir.”kata salah satu  dari belasan pria paruh baya yang memakai setelan jas. Duduk dengan gagah di hadapan Presdir baru mereka. Yang bahkan seorang wanita yang baru saja menginjak jenjang kedewasaanya.

“Saya tau, mungkin dengan ini kita bisa memperbaiki kerugian sebelumnya. Investor akan segera hengkang jika keadaan tidak berubah.”Wanita itu sesekali menyesap cangkir tehnya.

“Lagi pula, bidang ini tidak terlalu sulit untuk di kuasai.”Tambah wanita itu lalu menatap serius orang-orang yang ada di hadapannya.

“Jadi.. Rumah Sakit Daejung ya..”Gumamnya pelan. Hanya ada satu nama yang berhasil hinggap di benaknya kini.

Seseorang yang pekan lalu di temuinya secara tiba-tiba. Ia tidak akan menyangka akan di pertemukan secepat ini, dan dengan keadaan yang sangat-sangat menyulitkannya.

 

Bagaimana bisa dia menjalani harinya dengan tenang setelah pertemuanitu. Tak pernah terpikir di benaknya untuk kembali di pertemukan dengan kedua bola mata yang dahulu selalu menenangkannya. Mengetahui bahwa sosok itu masih menjadi milik orang lain, tidak membuat keadaanya semakin membaik. Taeyeon merasa sangat tidak memungkinkan untuknya memikirkan hal yang lebih buruk dari itu,

Apalagi pertemuan singkat itu mampu membuat detak jantungnya menggebu-gebu. Ia ingat bagaimana desiran darahnya seperti berhenti ketika kembali menatap sosok itu. Sosok yang sangat di rindukannya. Yang tak pernah beranjak dari pintu hatinya siang dan malam. Dia berdiri dengan anggun di hadapannya. Dengan telapak tangan yang masih mengunci dengan seorang pria.

Ini mungkin aneh baginya ketika harus merasakan nafasnya yang memburu ketika melihat sosok itu, tapi Taeyeon telah meyakinkan dirinya bahwa dia telah melupakan semua perasaanya. Pada akhirnya Taeyeon memilih untuk menyebutnya “rindu.” Ya. Dia yakin itulah yang menyebabkan itu semua terjadi.

Bayangan itu semakin jelas ketika Taeyeon menemukan dirinya termenung di kantor sembari mengingat memorinya dulu. Tidak bisa di pungkiri dia sangat merindukan tawa wanita itu yang hangat dan menenangkan. Dia bahkan tidak pernah melupakan bagaimana sosok itu ketika berusaha menyelundupkan ice cream ke kamar rawatnya. Taeyeon menarik sudut bibirnya untuk tersenyum ketika mengingat itu semua.

Dia benar-benar merindukan semua itu. Semua perlakuan manis yang di dapatnya dari.. Tiffany. Bagaimana wanita itu tersenyum, ia sangat menyukainya. Bahkan hingga saat ini.

Taeyeon tau ini merupakan sebuah kesalahan untuk kembali mengingatnya. Tetapi dia hanya tidak bisa menahan itu semua,  apalagi ketika dia bisa melihat kembali, cinta masa lalunya. Yang rasanya tak pernah gagal membuat hidupnya jungkir balik seperti sekarang ini.

Ada banyak sekali momen indah ketika dia melewatinya bersama wanita itu. Yang kini masih bekerja sebagai seorang dokter. Dan bahkan lebih parahnya, dia bekerja di rumah sakit yang sebentar lagi akan jatuh pada hak milik perusahaannya. Benar-benar sebuah takdir yang tak mungkin dapat di hindarinya.

Taeyeon kini berdoa dalam hatinya, berharap untuk dirinya tidak akan sering bertemu dengan sosok itu. Karna itu hanya bisa membuatnya merasa frustasi.

Tentang semua yang di perbuat Tiffany masa lalu, Taeyeon tidak menyimpan dendam apapun. Justru dia merasa sungguh bersyukur karna sosok itu mampu membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Banyak sekali faktor yang berhasil membuatnya sukses seperti sekarang, dan tidak mungkin di sanggah, jika Tiffany mengambil bagian besar dalam peran itu.

 

Fany-ah, aku harap ini hanya rasa rinduku yang berlebihan.

Kau terlihat cocok bersama pria itu, aku yakin dia adalah pilihanmu yang terbaik. Kan?

 


 

“Makan malam sudah siap, Presdir.”Kata kepala pelayan di rumahnya yang begitu megah ini. Memang, jika hanya mereka berdua yang harus tinggal disini, ini termasuk rumah yang begitu luas dan sunyi. Mungkin karna pemiliknya merupakan seorang bos besar perusahaan yang hanya tinggal dengan adik perempuannya.

“Oh ya, aku akan kesana sebentar lagi.”

Jarak dari kantor pribadinya memang agak jauh dengan ruang makan. Mengingat, dua ruangan itu ada di bangunan yang berbeda. Dia masih setia bergulat dengan berkas yang berserakan di meja kerjanya, matanya tak pernah luput untuk menilik-nilik setiap kata-kata yang ada.

“Baiklah, Presdir.”Jawabnya lalu membungkukan badan, hendak untuk berbalik. Ketika,

“Apa adikku sudah bersiap untuk makan juga?”

Pelayan itu berbalik lalu tersenyum, “Ya, Presdir. Hayeon ah-gasshi sedang menunggu anda.”

Dengan jawaban itu, berhasil membuat dirinya melepaskan semua pekerjaan yang menumpuk di depannya. Memang, hanya ada beberapa orang di hidupnya yang dapat memberikan efek seperti itu. Ia mungkin adalah seseorang yang ambisius akan pekerjaan. Tetapi jika itu sudah mengenai orang-orang yang sangat di pedulikannya, dia bahkan rela jatuh untuk mereka.

 


 

 

Ada beberapa pelayan yang membungkukan badan mereka ketika wanita itu menembus lorong dingin rumahnya untuk mencapai ruang makan. Lalu pintu di bukakan di hadapannya.

Di dapatinya sang adik tengah asyik bermain dengan ponselnya. Di saat ada hamparan berbagai macam hidangan di hadapannya. Piringnya masih kosong, pasti adiknya belum menyentuh apapun.

Dia menggeleng pelan lalu berdecak cepat.

“Ck ck ck”

Adiknya mendongak, lalu mengembangkan senyumnya karna melihat sosok sang kakak.

“Taengoo!”

“Kenapa kau belum menyentuh makananmu?.”Balas kakaknya, lalu melangkah mendekat sebelum akhirnya meletakan bokong di kursi utama.

Adiknya kembali menyengir, “Aku menunggumu, Unnie.”

Kakaknya tersenyum kecil mendengar itu. Walaupun kini tak ada sosok ayah yang mendampingi mereka di meja makan ini, dia masih bisa merasakan atmosfir yang begitu hangat.

“Lain kali, kau tidak perlu menungguku, Hayeon-ah.”

“Aish, gwenchanna. Aku hanya ingin makan malam bersamamu, karna kita kan tidak bertemu seharian.”

Kakaknya lagi-lagi menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Lalu meletakan beberapa sendok nasi di piring adiknya,

“Bagaimana harimu?”Tanya sang kakak sembari sibuk meletakan beberapa hidangan di piringnya dan si adik.

Hayeon sempat bertepuk tangan kecil, sangat bersemangat untuk menceritakannya.

“Tadi, ketika aku sedang belajar mengendarai sepeda di taman, aku terjatuh.”

Kakaknya menoleh,

Gwenchanna? Appo?”Tanyanya penuh khawatir,

“Gwenchanna. Ada orang yang menolongku tadi,”

 

Ada sedikit kelonggaran di rongga dadanya kini mendengar itu,

“Nugu?”

“Seorang wanita yang sangat-sangat cantik. Dia seperti malaikat, benar-benar baik. Dan mempunyai sifat yang menyenangkan. Senyumnya pun menunjukan bahwa dia adalah orang yang sangat ramah.”

“Dan, kau tau Unnie? Apa yang membuatnya semakin sempurna?”

Kakaknya kembali menatap sang adik dengan muka yang penasaran.

“Mwo?”

“Dia adalah seorang dokter! Bukankah itu semua kebetulan yang indah!? Dia adalah paket komplit”

Taeyeon tergelak tawanya mendengar  kata-kata sang adik yang berhasil menggelitiknya. Di sisi lain, dia bersyukur bahwa ada seseorang yang mau menolongnya ketika dia terluka. Diam-diam dia berterima kasih pada sosok yang sekarang sedang di bicarakan adiknya.

“Benarkah? Apa kau ingin menjadi sepertinya?”

Adiknya mengangguk cepat.

“Tentu saja! Mengenalnya lebih jauh membuat keinginanku untuk menjadi dokter sepertinya menjadi sangat nyata!”

“Aku ingin membantu sesama, Unnie. Aku pikir itu adalah pekerjaan yang mulia.”Tambahnya dengan senyum mengembang yang tak luput di bibirnya.

Kakaknya hanya bisa menggeleng pelan sembari terkekeh. Melihat adiknya yang seperti ini, membuat rasa penat yang menyergapnya lebih dulu sedikit demi sedikit menghilang.

Taeyeon juga menyadarai bahwa sisi dewasa adiknya kini, terlihat persis seperti seseorang. Namun ia buru-buru menepis jauh bayangannga mengetahui siapa di balik sosok itu.

“Kalau begitu, kau harus belajar yang rajin untuk menjadi seorang dokter, kan? Aku akan membantumu.”


Pria berjas yang sedang mengemudi dengan tenang itu sesekali melirik atasannya di pantulan kaca. Ia merasa agak tidak nyaman mengetahui Presdir muda itu justru mengambil tempat duduknya di depan, bukannya di belakang. Ini lebih terlihat bukan sosok Presdir yang tengah di dalam mobil, melainkan orang biasa.

“Jjo.. Presdir, anda seharusnya duduk di belakang.”Katanya agak ragu, takut-takut menganggu atasannya yang tengah memejamkan mata. Tetapi ia tau orang itu sedang tidak terlelap.

“Aku lebih nyaman disini.”jawabnya tanpa mau membuka kelopak mata.

“Baiklah, Presdir. Aku akan meminta mobil yang lebih besar.”

Wanita muda itu akhirnya membuka paksa kedua matanya. Menatap jengah pengawal pribadi sekaligus supirnya itu.

“Aish! Ini cukup! Menyetirlah dengan tenang!”

Padahal dalam hatinya, ia memilih untuk duduk di depan karna merasa sangat asing untuk di perlakukan sebegitunya dari semua pegawai. Dan dia tidak lain adalah orang yang sederhana dan rendah hati. Dia tidak mau di lihat sebagai pimpinan yang arogan dan cuek.

Pria itu lalu tersenyum dalam diamnya, untuk pertama kali dalam hidupnya dia mempunyai atasan yang se-sederhana ini. Dan dia berterima kasih untuk itu.


Terlihat sangat ricuh ketika mobil hitam itu berhasil berhenti di depan pintu masuk utama, di ikuti oleh mobil pengawal yang lain. Banyak pegawai juga petugas rumah sakit yang berbondong-bondong untuk menyaksikan kedatangan pemilik baru rumah sakit. Atau secara tidak langsung, atasan baru mereka. Orang yang memegang kekuasaan sangat besar di rumah sakit ini.

Para dokter pun tak mau kalah, mereka semua lalu dengan teratur keluar dari ruangan sesuai perintah kepala departemen masing-masing. Ini adalah harinya, pertemuan pertama dengan sang Presdir. Karna banyak dari mereka yang tidak tau perusahaan macam apa yang mampu membalik nama kan hak milik tempat mereka bekerja. Jadi bukan hanya karna formalitas untuk menyambutnya, tetapi mereka juga penasaran akan Presdir baru mereka yang katanya masih muda dan sukses. Terlebih lagi, dia adalah wanita.

“Kajja. Fany-yah!”

“Yuri-yah, aku benar-benar gugup sekarang.”Balasnya enggan untuk beranjak dari duduknya.

“Yah. Aku juga. Masalahnya bukan disitu sekarang, Fany-yah. Ini Taeyeon. Taeyeon yang dulu tidak asing bagimu. Kau tidak boleh seperti ini.”Temannya berusaha meyakinkan sang sahabat,

“Tapi.. Bagaimana jika ia memang tidak mau melihatku? Seperti kemarin? Dia jelas-jelas membenciku! Yuri-ah!”

“Jangan berpikiran seperti itu, aku yakin dia pun mengharapkanmu untuk menyambutnya hangat. Dan kau tau sendiri, bahwa dia tidak pernah membencimu. Kau adalah salah satu yang mengambil peran besar di hidupnya, Fany-ah..”

Wanita itu lalu terdiam untuk beberapa saat mendengar jawaban sahabatnya. Dia benar. Tidak bisa seperti ini, setidaknya ia harus


 

Awalnya orang-orang agak terkejut karna yang di buka bukan pintu penumpang. Melainkan, kursi pendamping pengemudi yang ada di depan. Bahkan orang-orang yang menyaksikan itu sudah mengetahu bahwa figur itu mungkin orang yang sederhana.

Direktur utama, Kepala dari berbagai departemen di rumah sakit, Profesor, juga para dokter tak terkecuali yang magang. Sudah berbaris rapih di setapak pintu masuk. Membuat jalan untuk figur itu yang kini sudah menyembulkan kaki beralaskan sepatu hak-nya.

Sementara di sisi lain, Taeyeon memutar bola matanya untuk penyambutan yang sangat berlebihan baginya. Ini hanya kunjungan pertama, dan dia bahkan bukan seorang anak dari Presiden. Walaupun ia tidak mengetahui, dengan posisinya sekarang. Ia pantas mendapatkan semua itu. Bahkan di usianya yang masih terbilang muda.

Di balik kaca mobilnya, dia bisa melihat keramaian yang tak sabar untuk menunggunya keluar. Jujur saja, walaupun baginya ini tidak nyaman, dia menemukan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Mungkin karna ia akan segera menghadapi orang-orang yang tak pernah di temuinya.

Ketika dia berhasil menapakkan satu kakinya, orang-orang mulai berbisik sembari terus mengatakan bahwa dugaan mereka benar. Bahwa atasan baru mereka Itu adalah wanita muda yang sukses.

Taeyeon lalu berdiri di dekat pintu mobilnya sembari memandang sekitar. Jantungnya berdebar tak karuan, keadaan nya tidak membaik ketika banyak orang berjas putih mulai membungkuk dengan serentak padanya. Ini dia.

Dia benar-benar berharap waktu bisa lebih di percepat karna ia sangat tidak menyukai suasana seperti ini. Taeyeon lalu membungkuk sebagai balasan rasa hormatnya. Lalu dia berpaling untuk mencari sekretaris pribadinya yang memang berbeda mobil sejak mereka berangkat dari kantornya tadi.

Lalu pria paruh baya menghampiri dirinya dari arah lain, membungkuk singkat sebelum akhirnya,

“Ne, Presdir.”

Taeyeon memutar bola matanya,

“Bukankah ini terlalu belebihan?”Katanya pelan sembari terus menatap ke depan. Tak ingin seorangpun mendengar perkataanya barusan.

“Ini adalah yang seharusnya, Presdir.”Taeyeon kembali membuang napasnya keras. Percuma saja jika dia bicara dengan sekretarisnya, ia akan selalu menjawab dengan tenang dan terlalu realistis.

Jadi Taeyeon memutuskan untuk mulai membalas senyum keramaian yang ada di depannya.

Di ikuti dengan arakan yang lumayan ramai, juga dengan orang-orang berjas gagah yang selalu setia di sekelilingnya. Taeyeon berjabat tangan dengan para petinggi-petinggi rumah sakit. Tidak semua yang terjadi disini ada di benak Taeyeon sebelumnya. Apa lagi detik ini juga, bagaimana dia bisa berdiri dengan tenang mengetahui sosok itu kini berdiri di antara keramaian jas putih di sekelilingnya. Untuk sekian kalinya dia mengutuk takdir yang sekarang berjalan di sekitarnya.

 

Bagaimana bisa semua potongan-potongan kecil itu dengan hanya kilat dapat kembali menyatu. Bahkan tanpa ia prediksi sebelumnya, seperti saat ini. tidak peduli bagaimana dia berusaha untuk mengabaikan kehadiran nya sekarang, tetapi dia masih menemukan dirinya dengan jantung yang berpacu sangat cepat. hanya karna mengetahui bahwa sosok itu sangat dekat dengan dirinya.
Ia tidak tau apa yang harus di lakukannya  sekarang. Mungkin Taeyeon memang handal menyembunyikan perasaan acaknya sekarang, karna dia masih bisa menebar pesona senyumnya untuk orang lain. Di saat ruang hatinya kini sedang di terjang badai yang tak karuan. Ia semakin dekat dengan sosok itu,

 

Sementara di sisi lain Tiffany menggigit bibir bawahnya,  berharap dengan ini mampu mengurangi rasa gugupnya. Maklum saja, ini adalah pertemuan kedua kalinya dengan seorang yang sangat dia rindukan. Yang sudah menghilang dari jalan cerita hidupnya, selama empat tahun lamanya. Pertemuan pertama mereka juga tidak di lengkapi dengan sentuhan apapun. Dan sekarang, dalam beberapa detik lagi, ia akan menyambut tangan itu. tangan yang sudah di lepasnya dengan penuh penyesalan selama ini.

Dan ini dia, Tiffany benar-benar meminta pada surga untuk segera menghentikan waktunya sekarang. Sosok itu kini berdiri persis di hadapannya,

Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

Bahkan ketika sosok itu mulai menawarkan telapak tangannya untuk di genggam, Tiffany merasakan semua bagian tubuh terasa melemas. Bahkan rasanya lutut tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Darahnya seperti berhenti berdesir, ia masih terdiam.

Ia benar-benar tidak menyangka dengan waktu yang kini berjalan di sekitarnya. Sosok ini bahkan tidak mau menatapnya saat pertama kali mereka di pertemukan kembali. Tapi kini dia jelas-jelas berada di depannya, dengan senyuman paling hangat yang ia berhasil dapatkan kembali. Walaupun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melihatnya lagi.

Menyadari sosok yang ada di depannya tak juga menyambut lengannya yang mulai terasa lelah, Taeyeon memanggilnya dengan intonasi yang sangat lembut,

“Fany-ah..”

Degeum. Degeum. Degeum.

Butuh empat tahun untukku mendengarnya lagi, Taeyeon-ah..

Tiffany sempat memejamkan matanya sebentar, sebelum kembali membukanya sembari menyambar dengan sangat lambat tangan porselen halus itu.

Dan butuh empat tahun juga untuk kembali mengenggam tangan ini,

“Anyeong, Fany-ah..”

 

 

 

Keduanya belum siap.

 

 

 

 


 

boo! hehehe!

sorry for short update, and maybe a bad one:(

i’ve tried my best for this story. 🙂 just keep your eyes on our wp, and patiently waiting for the next chapter. 

bakal banyak yang tidak kalian duga-duga di selanjutnya. janji next bakal lebih panjang ❤

oh ya, untuk flawless akan segera di post ya. sabar sedikit lagiiiii hihi. 

@JAZZATTA1

 

 

 

 

 

Advertisements

64 thoughts on “MISTAKES (CHAPTER FIVE) BY JAZZ

  1. akhirnya update juga
    gomawo ya jazzata udah update lgii jeongmall gomawo
    untuk ff kli ini bikin ikut brrdebar #lebay
    yeee ad moment taeny wlau cuman dikit tpi gk apa” kok
    miss taeny 😦
    tpi agak ksihan sih ma tiffany yg kyaknya terpojok bngett gra” hal yg pernah dia lakuin
    aq hatap taeny kembali dn ada pengorbanan dri tiffany untuk taeyeon yahh n satu lagi klo taeny bersatu kembali aq harap muncul pasangan yulsic disin n bikin moment mreka dongg
    gomawo jazzata
    jazz jjangg
    tetep smangat yahhh buat ff
    dtunggu chapter nextnya

    Like

  2. Haii haii thorr, mian baru bisa bacaa ff nya sekarang 😂😂
    Ciee yang akhirnya dipertemukan kembali nihh, aww aww, pany sama taeng perasaannya sama” nggak karuan nihh 😄😄
    Tapi di sini nggak ada scane taengsic nih 😄
    Ditunggu next chap thorr
    Sama ditungguin she keep me warm nyaa thorr 😂😂
    Penasarann tingkatt tinggii 😃😃

    Like

  3. Jadi ikut degdegkan waktu taeyeon manggil phanie “Fany-ah.” Ngebayanginnya aja…… Yaampun. Thor berhasil bgt bikin ngefeel lagilagilagilagilagilagi dan lagilagilagilagilagilagilagi *bacot. Gatau dah hrs blg apa lagi thor:( this is totally cool(or awesome?) BOTHH!!!!!! Thanku for the story thor. Thanku so much. Byebye thor.

    Like

  4. Pingback: MISTAKES (CHAPTER SIX) BY JAZZ – WARNING !!! LOCKSMITH ONLY!!!

  5. Halo Thor q new reader & q LOCKSMITH!!!! yeaaaaaa taeny aaaaaaaa q sukaaa bnr2 aaaa tiff jd dokter tae presdir huaa serasa nonton drakor tiap bca imjinasi q lnsung main.. Moga next TIFF m tae sring ktm y Thor biar g kikuk gt 😀

    Like

  6. Taeyeon sebaik apa sih hati mu, sampe tidak terbesit dendam sedikitpun di hatimu, hahaha it was good taeng ^^
    Yahh fany nya jangan gugup gitu dong, relax relax, taetae tetap akan kembali padamu kok 😜
    Hayeon gimana calon kakak ipar mu ?, perfect kan ? Kekekekeke 😅

    Like

  7. Perasaan kenapa gua yg jadi deg-degan dahh
    taenyy emangg yaa kalo dah bersatu tuh ada something gimana gituuu.
    Kyk gini dibilang bad one?? Heoll kg Caya dahh

    Like

  8. Taeng awas jagain hati mu ,jangan sampe terjebak dilubang yg sma. Yap bener yeon! Pany udh menemukan yg cocok untuknya jadi kau sama sica aja sudah haha (efek dari sikap plinplan pany) 😂

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s