FLAWLESS BY JAZZATTA

Haloo, Locksmith! Sorry for not updating our story on such a very long time. We’ve been so busy lately, we don’t even had enough time to continue our story. There is a lot of stuff that we need to take care of😩😔 like we said before, we all had this life that we must runs perfectly, right? but we’ll make it up to you. this is one of our sincerity for apologize to you. a looong, loong one shoot with two different endings.(The other endins will be posted anytime soon!) enjoy! ❤

Atta : “Be safe from the weather everyone, please keep your umbrella stay in your pocket :p”😊

Jazz :  “Please don’t get sick on this such an awful weather. Keep yourself warm guys! :)”☺️


 

 

“Tolong itu nah letakkan meja nya disana! Ya! Benar!”

Seorang pria paruh baya dengan kumis yang menjulang ke barat kini telah bersiap siap menyambut pesta pernikahan sang anak. Senyumnya sesekali mengembang mengingat anak gadis nya yang kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sudah matang untuk menikah.

“tidak! Warna ini tidak bagus, Apa kau tidak tahu? Bangsawan akan jadi saksi pernikahan anak ku. Aku ingin yang terbaik. Just do something. Aku membayar mahal bukan untuk main main.” Istri Pria itu kini mulai angkat bicara, ia menggenggam beberapa kertas yang berisi rangkaian dan rencana yang ia telah ia persiapkan untuk pernikahan anaknya.

 

Seorang gadis muda berdiri bergeming di hadapan pintu yang menjulang tinggi dan memperhatikan seluruh ruangan dan dekorasi untuk acara yang di persiapkan khusus untuknya. Ia terdiam, memikirkan bagaimana masadepannya kelak setelah ia menikahi seorang wanita yang bahkan tidak di kenalnya, bahkan mata mereka belum pernah beradu pada satu titik. Namanya, Taeyeon. Kim Taeyeon. lengkapnya. Gadis  yang memiliki mata Coklat madu ini berumur 23 tahun, Anak dari pasangan Konglomerat Kim ini berkebangsaan  Korea dan Amerika.

Ibu nya, Song berdarah Korea-Amerika sedangkan Ayahnya, Ji Sung  berdarah Asli Korea. Keduanya membuat Taeyeon memiliki penampilan yang sempurna, mampu membuat setiap pasang mata yang meliriknya akan terus memperhatikannya. Tanpa bisa menarik pandangannya dari pahatan Tuhan yang benar-benar mempesona itu. Rambut Taeyeon yang berwarna Coklat sama seperti Ayahnya, Wajahnya seperti Berlian, mampu membuat semua orang berbinar ketika melihatnya. Bibirnya yang seksi menarik keluar hasrat semua orang yang menyentuhnya. Tubuhnya yang ideal. Dia bisa menjadi tipe seorang kekasih untuk pria dan wanita seumurannya,

 

“Umma, bukankah pernikahanku masih 5 hari lagi? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya, kenapa kita sudah menyewa gedung sebesar ini?”  pertanyaan Taeyeon membuat mulut sang ibu tergugah untuk menjawab.

“Taeyeon, 5 hari kau bilang masih? Itu dalam waktu dekat sayang, tenang saja, kau pasti akan menyukainya, ia seorang model, cantik sekali.” Song lalu berlalu di hadapan Taeyeon dan berkeliling melihat lihat dekorasi ruangan yang luar biasa cantik saat ini.

 

Taeyeon selalu mengikuti langkah sang ibu untuk sekedar menanyakan beberapa hal.

“bagaimana jika ia tidak menyukaiku? Bagaimana jika ia tidak setuju dengan pernikahan ini? Kan aku sudah mengatakannya, aku tidak suka dengan perjodohan, kau fikir ini jaman siti nurbaya?” Taeyeon lalu berhenti seketika, ia melihat foto berbingkai emas, seorang wanita berambut hitam dengan senyumannya yang seperti hanya malaikan yang mempunyainya. Kedua matanya membentuk bulan sabit ketika dia melukiskan senyum di sudut Bibirnya,

 

“Itu Tiffany, cantik bukan? Umma yakin kau akan meyukai, Nah, lihat saja, wajahmu saja sudah seperti itu, baru foto loh, bukan aslinya, tenang saja, kau pasti menyukainya dan dia pasti menyukaimu dan semua akan baik baik saja. Taeyeon, Ini keinginan kami, orang tua Tiffany, Handy dan Rena itu adalah sahabat Umma dan Appa sejak kecil. Sejak SMA kami sudah berangan angan jika mempunyai Anak kami akan membuat mereka bersama, bagaimanapun keadaannya.  jadi persahabatan dan silaturahmi kami akan terjalin selamanya. Bukan kah itu terdengar sangat manis?. Lagipula kau sendiri saja susah mencari pendampingmu, contoh, Sooji, ia mencintaimu karena uang, Umma muak dengannya. Jjebal, Taeyeon-ah, do this for yourself and us. jangan kecewakan kami” Tangan Song sudah melayang lembut di bahu Taeyeon, sesekali bergerak kekiri kekanan kebelakang kedepan secara perlahan.

 

Taeyeon tersenyum dan mengangguk, ia tidak pernah ingin mengecewakan orang yang ia sangat sayangi, khususnya orang tuanya. Ia akan melakukan apa saja untuk membahagiakan mereka. Matanya kini terus memandangi wajah seorang model yang akan menjadi istrinya kelak. Betapa bahagianya ia bisa bersanding dengan wanita yang mempunya wajah seperti Bidadari. Seketika senyum di wajahnya luntur menjadi musam, kini ia berfikir bagaimana jika Wanita itu tidak mau menerimanya atau tidak menyukainya?

 

“Tae… Eh, mengapa wajahmu di tekuk seperti itu? Dia akan menjadi milikmu. seorang model cantik, bukankah itu hebat?” Tae baru menyadari Ibunya sudah kembali berkeliling dan kini Ayahnya yang menyentuh pundaknya.

Ah, ani.. aku hanya berfikir… Appa, bagaimana kalau Tiffany tidak menyukaiku? Bagaimana jika ia…”

“Eyy.. Ssst. Kau jangan berfikir seperti itu, Appa yakin ia Mau menerimamu, berusahalah untuk itu, Taeyeon-ah.” Taeyeon kini memperhatikan wajah ayahnya yang penuh dengan harapan.

“Lalu jika aku tidak berhasil membuat Tiffany menyukaiku? Lagipula setelah menikah aku akan sangat sibuk nanti, dia juga pasti akan sangat sibuk dengan pekerjaannya. Apa yang kau harapkan? Kita akan menjadi pasangan yang saling tidak mengenal nantinya” Wajah Taeyeon kini menunduk memandangi sudut sepatunya.

 

“berusahalah Tae, bukan anak Appa kalau kau tidak mampu menangani hal yang mudah seperti itu. lagipula semua orang sudah mengetahui karisma-mu itu.” Ji Sung lalu berlalu di hadapan Taeyeon. Tergurat senyum di Bibir Taeyeon. Ia kini yakin dapat menangani masalah Cinta pertama pada pandangan pertamanya lewat mediasi foto.

 


 

 

Suasana Pagi itu benar benar dingin, Baru kali ini Korea mengalami Musim Hujan yang sangat menusuk hawanya. Gadis itu tampak menggeliat di tempat tidurnya yang berwarna Ungu dan penuh kehangatan itu. Dan beberapa detik kemudian ia mulai membuka matanya perlahan.

“TELAT!” Pekiknya setelah melihat ke arah jam kecil yang berada di sisi tempat tidurnya menunjukkan pukul 10 Pagi. Wajahnya memucat, baru saja ia sadari ada sebuah pertemuan pribadi.

“Tiffany! Kau ini benar-benar gadis yang keras kepala.. Taeyeon menghubungi Mom. Dan dia sudah berada di tempat janjian!” Teriakan seorang Ibu benar benar membuat anaknya takut. Ya, itu Ibu Tiffany, Rena. Ia telah mengetuk pintu Kamar yang berlabel Ungu dan bertulisan “Tiffany Hwang” sedari 15 menit yang lalu.

“YES! MOMMY! WAIT A SEC!”

“LAGIAN KALIAN MENGATURNYA KEPAGIAN!”

Jawab Tiffany tidak kalah kencang seperti ibunya yang ada di balik pintunya.

“KAMU INI! KEPAGIAN!? INI SALAHMU KARNA BANGUN TERLALU SIANG.”

“MOM HERAN KENAPA SESEORANG MAU MENJADIKAN MU SEORANG MODEL. ATAU BAHKAN AGENSI YANG MENGEJARMU UNTUK DI KONTRAKNYA. BAHKAN MELIHAT JAM SAJA KAU TIDAK PINTAR.”Tiffany hanya tersenyum jahil dan cekikikan kecil mendengar suara ibunya yang lucu dengan sedikit logat Amerikanya ketika menasihatinya. Terdengar langkah yang menjauh dari balik pintu, mungkin ibunya kini sudah menuruni tanga.

Namanya Tiffany Hwang. Tiffany adalah gadis keturunan Amerika. Tiffany mempunyai Postur tubuh yang ideal, Rambutnya terurai panjang berwarna Hitam, matanya memiliki ketertarikan tersendiri dengan berwarna Hitam. Tiffany adalah seorang Model, Super Model tepatnya.

Kesehariannya hanya disibukkan oleh pemotretan dan pacarnya, Donghae.

Donghae. Ia adalah pujaan hati Tiffany selama satu tahun ini. Orang tua Tiffany sangat tidak mendukung hubungan anak nya dengan pria itu. Donghae memiliki sifat yang liar dan nakal. Bahkan Tiffany sering di bawa keluar negri dan pulang selama beberapa hari dan tidak menghubungi orang tua Tiffany, tapi tetap saja, Tiffany kekeuh dengan pendiriaannya menjadi kekasih Donghae, bahkan disaat Tiffany di jodohkan seperti ini mereka masih menjalin hubungan. Tiffany tidak menyukai perjodohan ini, ia berfikir ia tidak akan sering bersama Donghae seperti biasanya, tetapi meskipun begitu Tiffany menyayangi kedua orang tuanya tetapi ia tetap menjalin hubungan dengan Donghae di belakang. Tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tentu saja dengan mengatakan bahwa hubungan  mereka telah berakhir.

“Teng” Handphone Tiffany sudah beberapa kali berbunyi di saat Tiffany sedang membersihkan dirinya. Ia tersenyum sepintas membaca pesan singkat itu.

 


 

 

15.00 PM

 

 Taeyeon

Hari sudah semakin gelap, jam ku sudah mununjukan tepat pukul 15.00. Aku sudah menunggu Tiffany dan selama hampir 5 jam, kenapa ia lama sekali?. Hari ini sungguh dingin, Cafe ini pun akan segera tutup. Bagaimana cafe semewah ini Dapat tutup dengan mudahnya hanya karena badai ?

“Maaf Ah-gassi, cafe ini akan segera kami tutup karena badai semakin kencang, apakah ada pesanan lain sebelum cafe ini tutup?” Suara seorang Waitress membuyarkan lamunanku.

Ah-gassi : biasanya adalah panggilan untuk nona muda.

“ah, Ne, maafkan aku, tidak ada kurasa, wanita yang kutunggu tidak kunjung datang, mungkin ia sedang terjebak macet, kurasa aku akan segera pulang. Ini uangnya, ambil saja sisanya, ini tips dari ku. Sampai jumpa” Tubuhku berdiri dan Bibirku menyiratkan senyuman, ku dengar ucapan terimakasih dari pelayan tadi. Aku berjalan keluar, aku rasa akan terjadi hujan yang sangat lebat. Gemuruhnya begitu hebat merasuki pendengaranku.

Apa sebaiknya kutunggu Tiffany untuk beberapa menit? Mungkin saja ia akan datang. Angin berhembus dengan kencangnya, pintu cafe itu sudah memarkirkan tulisan “Sorry, we’re closed” dengan luasnya. Ku senderkan tubuhku dan melihat sekeliling, jalan raya sepi. Gigi ku mulai bergemeletuk menahan dinginnya Angin yang sedari tadi melintas di hadapanku. Sudah 17 menit aku menunggu Tiffany di depan Cafe.

 

“Be Alright….” Nada dering ponselku terdengar nyaring membentang sekeliling yang seperti sudah tidak ada kehidupan. “Mom Rena” Tulisan itu terpampan jelas di layar datar ini.

 

“Hello mom?” Aku dan Mom Rena memang sudah lumayan Dekat, 2 hari yang lalu orang tuaku, aku, juga orang tua Tiffany bersama sama makan malam di sebuah restoran berbintang di kota Seoul. sayang sekali Tiffany tidak dapat hadir karena pemotretannya. Maka dari itu orang tua kami menyuruhku dan Tiffany membuat janji pada hari ini untuk sekedar berkenalan dan berbicang tentang kehidupan pribadi kami. Nyatanya Tiffany tidak datang.

 

Hello Tae, bagaimana kencan pertamanya? Apakah menyenangkan? Have fun guys! Ohya! Katakan pada Tiffany Pemotretan malam ini Mom cancel hehehe, kalian bersenang senanglah! Nikmati waktu bersama!”

Suara Mom Rena di sebrang sana terdengar sangat bersemangat, aku tidak akan mengecewakannya. “Sejauh ini berjalan dengan baik, Mom. Ia sangat mengasyikkan.” Bagaimana orang yang ada di sebrang sana bertanya seperti itu sementara Anaknya saja tidak menepati janjinya? Mungkinkah Tiffany berbohong kepada Ibu Umma sendiri?.

Okaay! Have fun Taeyeon! Bye

“Bye Mom”

1a223-1170271_538566562949703_1658025074_n

Author

Gadis  itu dengan lemas nya berjalan dan membuka pintu mobilnya, tubuhnya menggigil, kulitnya seperti balok es jika di sentuh, Bibirnya memucat, hatinya tersayat. Dengan gelisah ia memutar kemudi kekiri dan kekanan untuk mencapai tujuannya, Rumah.

Sementara di sisi lain, Gadis berambut Hitam itu berjalan dengan senangnya, senyuman tidak pernah luntur dari wajahnya yang cantik. “Loh, Kenapa kamu sudah di rumah? Baru saja Mom telfon Taeyeon, Oh. Apa mungkin pas Mom Telfon kau sudah di mobil ya dengan dia untuk pulang? Alright, bagaimana kencan pertamanya?”

DEG

Detak jantung wanita itu seakan berhenti, jawaban apa yang harus di berikkan kepada ibunya saat ini?.

“Ey.. tetapi Taeyeon bilang bahwa itu menyenangkan. Bahkan dia mengatakan bahwa kau ada orang yang mengasyikkan.”

Belum sempat Tiffany menjawab, wanita paruh baya itu sudah mengatakan hal lain lagi.

Sebaik itu kah Taeyeon?” Batin Tiffany bertanya tanya.

“Begitulah, Mom. Fany mau ke kamar. Oh, dan itu lumayan menyenangkan.” Dengan perasaan Heran bercampur menyesal Tiffany berjalan ke kamarnya. Diraih Ponsel dari Saku celana pendeknya. Ia mengetik sesuatu untuk Kontak yang bernama “Taeyeon”

 


 

 

             “Terimakasih Taeyeon, Mom  pasti akan sangat marah jika aku berkata yang sejujurnya. maafkan aku karena tidak datang.”

 

Tergurat senyum tipis dari Bibir wanita yang di maksudnya . Ia baru saja membersihkan dirinya, hatinya berbunga bunga membaca pesan itu. Itu adalah percakapan pertamanya dengan pujaan hatinya yang bahkan belum pernah bertemu. Ia duduk di sisi tempat tidurnya lalu membaringkan posisinya.

19.22

To : Tiffany

“Tidak apa Tiffany, apa kau baik baik saja? Aku sudah menunggumu selama 5 jam di cafe itu, aku khawatir denganmu. Tapi syukurlah kau baik baik saja. Hubungi aku jika butuh sesuatu”

19.48

To : Taeyeon

“Aku baik baik saja, maafkan aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama.”

19.48

To : Tiffany

“Besok adalah hari pernikahan kita, apa kau benar baik baik saja?”

19.57

To : Taeyeon

“Ya ,Taeyeon”

19.58

To : Tiffany

Baiklah. Selamat malam, Tiffany.

*


 

 

 

 “Aku sudah berada di belakang rumahmu, cepatlah!”

              Tiffany tersenyum ketika membaca pesan singkat dari Donghae. Kata “telat” yang di katakannya bukan untuk Taeyeon. Itu untuk Donghae. Kekasihnya. Seharian Tiffany bershopping ria dengan pujaan hatinya itu. Ia memang menyayangi Donghae. Ia mengingkari janji yang telah di buat oleh orang tuanya dan Taeyeon hanya demi Kekasihnya,entah apa yang ada di fikirannya

 


 

 

25 Juli ,2024

 

              Tidak terasa Sudah seminggu setelah berlalunya pernikahan Tiffany dan Taeyeon. Rumah tangga mereka memang benar benar kacau. Mereka seakan tidak saling mengenal, pasangan yang menurut orang orang sempurna tidak seutuhnya benar benar sempurna. Orang orang berfikir,

“Betapa bahagianya mereka menikah dalam ke adaan mapan dan terencana. Tidak bisa di bayangkan masa depannya kelak. Mereka sangat sempurna”.

              Kenyataannya justru berbanding terbalik, bukan kata “Sempurna” lah yang di temukan Taeyeon. Semenjak seminggu lalu ia sudah tidur satu kamar dengan Tiffany. Bahkan mereka pindah ke Rumah yang sudah di persiapkan oleh orang tua mereka.

Sudah seminggu juga, ketika Tiffany terbangun dari tidurnya, Taeyeon sudah tidak di samping nya. Taeyeon berangkat lebih pagi untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang tertunda. Tiffany bangkit dan bersiap siap ke tempat pemotretan. Di hari hari selanjut nya.. obrolan Taeyeon dan Tiffany semakin sedikit. Tidak ada tawa, canda, bahkan topic obrolan yang mereka lakukan. Hanya bertanya kabar, bagaimana hari mereka, atau tentang pekerjaan masing-masing. tidak jarang ketika Taeyeon pulang, Tiffany sudah tertidur. Sama hal nya dengan Tiffany. Kadang begitu dia pulang, Taeyeon juga sudah terlelap. Kalau hari libur? Tiffany selalu jalan bersama kekasih nya sedangkan Taeyeon hanya di rumah. Menyelesaikan perkerjaan nya yang masih tersisa. Taeyeon memang sebenar nya menyukai Tiffany.entah sajak kapan dan alasan apa ia sudah jatuh, untuk Tiffany. Ketika Tiffany tidur lebih dulu, ia pasti mencium kening nya setiap malam. Tiffany di satu sisi, tidak sempat untuk mengetahui sisi Taeyeon lebih dalam. Ia terlalu fokus dengan pekerjaanya. Modeling.

 

Ia juga sadar bahwa ia mempunyai kekasih. Orang tua mereka terus bertanya Tanya tentang rencana mempunyai anak. Tetapi Taeyeon dan Tiffany masih tetap focus ke pekerjaan mereka. Fikir Taeyeon ia tidak akan mampu memberikan cucu dari Tiffany. Karna ia tahu, itu tidak akan terjadi dengan keadaan mereka yang seperti sekarang ini.

 

Bertepuk sebelah tangan. Mungkin kata-kata itu terlalu cliché untuk di sebutkan. Tetapi memang itu yang terjadi sekarang. Taeyeon menemukan dirinya jatuh hingga dalam akan sosok istrinya yang kini masih mempunyai kekasih. Ia sering menemukan dirinya melamun di kantor, sembari terus memikirkan Tiffany. Yang ia tau, bahkan tidak pernah sedikitpun namanya terlintas di benak gadis itu.

 

 

Malam berhiaskan Bulan Purnama kembali menghampiri keduanya. Taeyeon sudah tertidur lelap dua jam yang lalu. Pintu kamar terbuka, Tiffany berjalan perlahan dan melepas sepatu heels nya agar tidak menganggu Taeyeon yang sudah mengarungi  alam bawah sadar sedari tadi. Tiffany tersenyum hangat  memperhatikan pasangan hidupnya yang masih mengenakan Kemeja, Celana panjang, blazer bahkan Kaus kaki. “Taeyeon terlihat sangat lelah” fikir Tiffany. Dengan perlahan ia menghampiri Taeyeon dan melepaskan Kaus kaki dan blazer yang masih melekat di tubuh Taeyeon. Lalu dengan tidak sadar ia mencium kening Taeyeon.

 


 

 

“Tiffany.. bangunlah, kau tidak pergi?” Taeyeon membelai rambut istrinya itu tersenyum teduh. Ia tau jika gadis ini selalu sibuk setiap hari, setiap pagi ada saja aktivitas yang harus dilakukan istrinya, aneh saja baginya jika Tiffany masih tertidur hingga jam 10 pagi. Wanita itu membuka matanya perlahan dan menyaksikan matahari sudah terang menembus jendela kamar yang besar sebagai symbol bahwa siang akan segera datang.

“Pemotretan ku nanti siang.” Lirihnya dengan mata yang sayu. “baiklah, kau ingin sarapan apa?” tanya Taeyeon dengan intonasinya yang di lembutkan.

“Terserah saja, aku mengikutimu Tae” Tiffany kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Baiklah aku akan meminta pendapat Ah-Jumma, kau cepatlah turun, kau harus sarapan.” Taeyeon kini sudah berada di depan pintu dan bergegas kebawah.

“berikan aku waktu 10 menit” Tidak lama Tiffany terbawa kealam mimpinya kembali.


 

Pemotretan siang ini terasa lebih berat dari biasanya. Selain karna faktor kostumnya yang begitu banyak variasi dan terkesan ramai. Itu membuat Tiffany harus berkali-kali mengganti kostumnya untuk tiap sesi. mengakibatkan lelah sekaligus kadar setresnya naik drastis daripada biasanya.

Baru saja dia meletakan bokongnya lagi di kursi itu. ada suara yang mengganggu berasal dari orang yang tidak lain tidak bukan, adalah manajernya.

“Tiff!”

Tiffany mendengus kesal. Membuang nafasnya kasar sembari memasang raut wajah yang kusut. Dia lalu mendongak untuk mendapatkan manajernya yang sedang cengar-cengir.

WAEGEURE!?”

Manajernya sempat tersentak sebelum akhirnya kembali tersenyum jahil.

“Kau kasar sekali hari ini, Tiff.”Ujarnya lalu menyerahkan sebotol minuman isotonic itu. berharap sang supermodel mungkin bisa mengembalikan sedikit tenaganya. Mengingat dia mempunyai sesuatu untuk di lakukan dari Tiffany.

“Tidak usah basa-basi, Bom-ah. Ada apa?”

Yokshi.. kau memang mengerti aku.”

Tiffany lalu menenggak botol minumnya cepat.

“Begini, di luar ada crew program stasiun tv yang ingin mewawancaraimu. Kau bisa melakukannya sekarang, kan?”

Tiffany lalu menarik napasnya berat. Membuang nya dengan kasar. Ia harusnya tau jika sang manajer sudah seperti ini. pasti ada hal tidak menyenangkan yang akan datang. Ini bukan seperti dia sangat tidak suka di wawancarai, tetapi dia hanya sedang lelah. Tidak sedang dalam moodnya untuk berbicara banyak.

“Geure, bisakah kau beritahu mereka untuk menunggu sebentar? Aku ingin istirahat.”

Daebak! Aku akan segera kembali!”Seru manajernya lalu memperlebar langkahnya keluar ruangan.

 

Sesaat setelah manajernya menghilang di balik pintu. Tiffany kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa yang lembut. Matanya terpejam sebentar.

Untuk beberapa saat dia menginginkan kekasihnya sekarang menghubunginya. Menunjukan rasa sayang atau kepeduliannya akan rasa lelah yang menderanya sekarang.

Atau sekedar menanyakan bagaimana harinya walau hanya dengan pesan singkat. Tetapi, tidak ada. Tidak ada satupun pesan atau panggilan yang masuk ke selularnya siang ini.

Tiba-tiba.. Tring!

Telfon genggamnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Senyumnya mengembang, berpikir bahwa itu pasti Donghae yang sedang mengirimnya pesan.

To : Tiffany

11.10

Bagaimana harimu? Apa pemotretannya berjalan lancar, Tiffany? Jangan terlalu memaksakan diri. Istirahatlah yang cukup. Ne?:)

Seketika ia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam ruang hatinya. Yang mengirim pesan singkat berisi penuh perhatian juga rasa peduli itu bukan kekasihnya. Melainkan gadis muda yang baru-baru ini menikah dengannya.

Memang, saat pertama kali dia bertemu dengannya. Ia bisa melihat sorotan gadis muda yang mempunyai sikap pekerja keras, ambisius namun hangat di waktu yang bersamaan. Tiffany bisa menangkap sosok itu yang memiliki sisi sabar juga rendah hati hanya dengan berbicara dengannya.

Tapi tetap saja, ia merasa sangat tidak nyaman dengan semua perhatian yang di berikan kepadanya. Baginya, membangun semua keluarga membutuhkan pengorbanan dengan waktu yang lama. Bukan dengan perjodohan yang bodoh seperti ini. Ini lebih seperti mimpi buruk di usia mudanya yang telah menghampiri lebih dulu.

To : Taeyeon

11.11

              Semua berjalan lancar, Taeyeon.

To : Tiffany

11.12

Baguslah. Sekarang kau istirahatlah yang tenang. Jangan lupa untuk makan siang:)

To : Taeyeon

11.17

Tentu.

Taeyeon duduk di kursinya sembari terus bergulat dengan kertas-kertas yang dengan sempurna berserakan di mejanya. Ia benar-benar merasakan pening yang berlebih akibat kurang istirahat. Ia tidak bisa tidur dengan tenang di saat kondisi perusahaannya sedang terpuruk.

Dari awal dia tidak menyetujui untuk di tunjuk sebagai Direktur. Tetapi dia tetap saja hanyalah seorang anak tunggal dari keluarga kaya yang mau tidak mau harus menjadi ahli waris kekayaannya. Lagi pupa, dengan dirinya yang sudah mempunyai istri. Dia berpikir setidaknya dia harus melakukan sesuatu yang lebih menguntungkan untuk menghidupi keluarga kecilnya. Memberi istrinya sesuatu yang berhak untuk di dapatkannya tak terkecuali tentang hal finansial.

Taeyeon berniat untuk beranjak dari duduknya ketika di televisi layar datar itu kini memperlihatkan wajah istrinya. Ini adalah acara live dan Taeyeon tanpa sadar kembali meletakan bokongnya dan memperhatikan televisi yang setia menempel pada dinding ruang kerjanya.

Istrinya terlihat begitu menawan dengan balutan dress. Ia bisa melihat tempat photoshoot Tiffany di backgroundnya.

Untuk kesekian kalinya dia tersenyum tanpa alasan yang jelas. Dan tenggelam dalam kecantikan Tiffany yang baginya sangat tidak wajar.

“Kekasih?”

“Ya. Aku mempunyainya.”

Taeyeon tau kemana arah wawancara itu walaupun dirinya baru saja mengikuti program ini. Tvnya memang hidup sedaritadi, tetapi hanya volume yang di rendahkan agar dia lebih konsen untuk melakukan pekerjaanya.

Direktur muda itu tersenyum mengira bahwa jawaban wanita di seberang sana, mungkin dengan keajaiban di tujukan padanya.

Namun senyumnya luntur ketika gadis itu melanjutkan kata-katanya.

“Kami sudah beberapa tahun menjalin hubungan.”

Dengan itu Taeyeon semakin yakin bahwa bukan dirinya yang tengah di bicarakan oleh sang supermodel.

“Dia sangat manis, lucu dan begitu perhatian.”

“Aku tidak bisa berterima kasih lebih lagi padaNya karna telah mengirimkan pria itu.”

“Dia mempunyai banyak arti di balik kesuksesanku sekarang.”

Taeyeon memejamkan matanya. Menarik napasnya lembut. Lalu kembali melihat layar datar itu. Dapat di rasakan hantaman hunus pedang di hatinya kini. Ia benar-benar tidak mengerti dirinya yang jatuh sangat mudah akan sosok istri barunya.

Mungkin dia mengkhawatirkan terlalu banyak, jatuh terlalu cepat, juga bodoh akan hal ini. Hingga dirinya tak mengerti lagi arti sebuah sakit.

Disinilah dia, berpikir bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Tanpa mengetahui bahwa Waktu yang berjalan di sekitarnya tak merubah apapun. Taeyeon berpikir untuk lebih bisa membiasakan dirinya mendengar perkataan istrinya yang kadang terdengar menyakitkan.

Ini pilihan yang harus di terimanya dengan sepenuh hati. Setidaknya dia mempunyai tugas untuk menjaga Tiffany, tanpa harus mengisi ruang hati gadis cantik itu.

 “Tiffany.. Apa bahkan kau melihatku?”


 

Gadis berambut coklat terurai panjang dengan kaos putih dan rok abu dan sepasang sneakers putih itu terus berjalan, mengikuti arah langkah kaki nya bergerak. Entah kemana ia akan berhenti, yang jelas kini ia ingin pergi kesuatu tempat untuk melepaskas semua beban yang ada di pikirannya. Setelah menghabiskan waktunya seharian didalam ruangan yang lama-lama terasa begitu jenuh, dan seorang Tiffany yang tak kunjung memberinya kabar sejak kemarin ia meminta izin dirinya untuk pergi keluar kota alasan pekerjaan, memikirkan kelanjutan kisah hidupnya yang tidak mempunyai jalan cerita yang jelas.

Terbesit bayangan pertama kali dirinya bertemu dengan seorang gadis yang begitu nawan, pagi itu ia mengenakan gaun putih yang cantik dan panjang hingga menutupi kakinya yang ia yakin begitu indah, dengan bahu terekspos dan leher yang jenjang, mata yang begitu permai dan senyum yang terlihat begitu menghangatkan menyapanya. Untuk pertama kalinya matanya menangkap bola mata yang indah itu, setelah berhari-hari lamanya ia mengagumi sosok itu hanya dengan media portrait. Untuk beberapa detik ia memejamkan matanya, berusaha membuat dirinya sendiri untuk percaya bahwa sosok itu akan menjadi miliknya, hanya miliknya.

 

ia masih ingat persis bagaimana rambut gelap itu yang sangat cocok untuknya. Masih jelas di benaknya bagaimana ia merasakan jantungnya berdebar tidak karuan karena sosok yang ada di hadapannya kini menjadi nyata dengan senyuman yang begitu lembut. Perasaannya tampak begitu nyata.

Detik kemudian ketika gadis itu menyapanya dengan suara yang lembut, memanggil namanya.

Kim Taeyeon, I’m Tiffany Hwang. Your wife.”

12464045_928342747203106_52688790_n

Sekali lagi ia tersenyum mengingat suara itu, menyebut dirinya sebagai miliknya. Tidak ada yang mampu menandingi rasa bahagia nya pada detik itu. tidak pada saat lengan gadis itu melilit dimiliknya. Berjalan perlahan dengan gaun putih yang senada di atas altar. Berhadapan dengan sosok malaikat dan mengucapkan janji sehidup semati. Saat detik itupun Taeyeon mengetahui, bahwa janji yang diucapkannya untuk menjaga sosok malaikat itu, bukanlah sekedar janji yang ia katakan untuk semua orang yang ingin mendengarnya. Detik itu ia membuat perjanjian dengan dirinya sendiri bahwa ia akan menjaganya dengan seluruh raga ia yang miliki dan tak akan pernah menyerah untuk seorang Tiffany Hwang.

Tidak peduli seberapa sulit waktu yang akan ia jalani.

Sekali lagi ia tersenyum. Langit terlihat begitu gelap, membuatnya mempercepat langkahnya mencari suatu tempat untuk berlindung dari tetes air hujan yang mulai menghujaminya.

Ia melangkahkan kakinya pada suatu café yang terletak disisi jalan dengan model kayu yang terlihat cukup nyaman itu. tidak butuh waktu lama sampai ia menarik dirinya sendiri untuk duduk di sudut ruangan.

Merasakan hawa dingin yang seketika menusuk tulangnya. Menarik nafas berat. Hujan lebat mulai menghantam kaca yang begitu bening. Kini bayangannya pergi memikirkan apa yang sedang di lakukan Isterinya ketika hujan lebat seperti ini ? apakah ia berada di ruangan yang hangat dan nyaman? Ataukah ia sedang melakukan photoshoot, sedang bersama siapakah sosok malaikat itu? apakah ia sedang tersenyum sekarang? Apakah namanya sesekali terbesit di benak gadis itu? ia tidak tahu. Sungguh menyedihkan memikirkannya mengetahui bahwa dirinya bukanlah siapa siapa               untuk sosok malaikat itu melainkan gadis yang hanya melintasi hidupnya dan mungkingadis berpikir bahwa dirinya berusaha ingin merusak masa depan milik gadis itu, merebutnya dari seorang pria yang mungkin bisa memberikannya segalanya yang ia miliki untuk membahagiakannya.

Sungguh hatinya pecah berkeping-keping. Kenyataan begitu pahit. Mendapatkan gadis dengan senyum mengembang di luar sana sedang berlari kecil dengan seorang pria tampan yang juga tersenyum bahagia menuju ke arah café dengan jaket sang pria yang menutupi kepala gadis itu. Mata Taeyeon tak pernah luput dari pemandangan itu, matanya mengikuti hingga kedua sosok itu memasuki café dan duduk di sudut ruangan. Masih dengan tawa kecil mereka. Taeyeon memperhatikan pria itu dengan seksama, ia sungguh yakin jika pria itu adalah kekasih Tiffany. Pria yang terus diingatkan oleh Tiffany bahwa ia sudah memiliki seseorang dan Taeyeon hanya akan menjadi pasangannya untuk sementara. Pedang pedang tajam itu kembali menghunus ulu hatinya.

Tiffany sungguh terlihat begitu bahagia dengannya.

Entah apa yang ada di pikirannya hingga ia berani bangkit, kakinya membawa nya pada figure yang terlihat begitu bahagia itu. detik kemudian, mata mereka kembali bertemu, namun kali ini bukanlah kehangatan yang dirasakan oleh Taeyeon, melainkan perasaan yang begitu dingin dan asing.

Taeyeon berniat untuk terus melangkah mendekat kea rah istrinya. Sampai pendengarannya menangkap sayu pembicaraan mereka. Dia menghentikan ayunan langkahnya perlahan.

“Aku tidak menyukainya, Taeyeon.”

“Dia benar-benar pendiam, tidak tau berapa lama aku akan bertahan satu atap dengannya, Oppa. Tetapi aku sungguh sudah tidak tahan atas rumah tangga ini.”

“Jika bukan karna Dad yang memintaku, aku tidak mungkin akan menyetujui perjodohan ini.”

“Yang benar saja, Oppa. Bagaimana bisa oran tuaku memintaku untuk menikahi seorang gadis? Dia bahkan terlihat sangat lemah. Pastinya dia tidak dapat menjagaku seperti yang kau lakukan, Oppa.”

“Aku hanya ingin bersamamu, Oppa.”

“Jangan khawatir, Oppa. Cepat atau lambat aku pasti akan mengakhirinya.”

Dengan itu Taeyeon semakin memundurkan langkahnya. Hatinya kembali hancur berkeping-keping untuk yang kesekian kalinya. Setiap kepingannya mampu membuat sosok itu semakin rapuh. Kepercayaannya yang sebelumnya sangat kokoh, tumbang begitu saja. Hanya karna perkataan dari istrinya yang bagaikan angin kecil yang menerpa kepercayaannya. Namun memiliki beribu-ribu kekuatan untuk menghancurkannya. Kakinya terus melangkah kea rah pintu. Sembari memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut,

Ia berjalan menerobos hujan yang begitu lebat, bahkan pandangannya kini mulai kabur. Kata-kata it uterus terngiang di telinganya. Mengingat bagaimana sosok Tiffany dapat membuatnya jatuh lebih dalam ke dalam lubang kehancurannya. Namun, jauh di lubuk hatinya. Ia tau, bahwa suatu hal tidak akan berakhir sesuai keinginannya. Namun, dia bertekat untuk merubah akhir jalan ceritanya menjadi lebih berharga.

Namun kadang ia bertanya harus berapa banyak rasa sakit yang harus dia lalui, sampai menyerah adalah  pilihan dan jalan satu-satunya.

 

Taeyeon

 

Apakah ada rumah tangga pasangan pengantin belum pernah berciuman bahkan mengatakan kata kata romantis? Tentu saja ada. Yaitu Aku. Ciuman pertama ku dengan Tiffany ketika pernikahan kami. Bibirku bahkan mendarat di keningnya, bukan Bibirnya. Aku masih gugup pada saat itu karena kita belum terlalu mengenal satu sama lain. Aku dan Tiffany tidak seperti pasangan kebannyakan. yang ketika aku ingin berangkat kerja harus mencium Bibir istrinya singkat, ketika dasiku atau dressku yang tidak rapih sang istri merapihkannya, mengucapkan katakata romantis ketika ingin pergi ataupun bangun tidur.

 

Aku dan Tiffany cenderung berbeda 180 derajat dengan pasangan lain kebanyakan. Kami hanya menanyakan Kabar dan bagaimana aktifitas seharian. Itu saja. Aku tidak mau terlalu menganggunya dan memberi beban untuknya, aku membiarkan diriku kesepian ketika hari libur datang. Aku membiarkan Tiffany keluar dengan teman pria nya itu.

 

Taeyeon, hari ini aku pulang lebih cepat. Karna pemotretan di batalkan. Disini sudah hujan deras. Mobil ku ban nya bocor dan baru di tambal. Apakau sedang sibuk? bisakah kau menjemput ku? 2 jam lagi aku selesai.

 

Seketika Hati ku berbunga bunga membaca pesan dari Tiffany barusan. aku tersenyum bahagia, setidaknya Tiffany masih mangandalkanku sebagai seseorang yang ada di hidupnya. bukan kah itu romantis? Ketika pasanganmu meminta untuk di jemput ketika kendaraanya tidak dapat berjalan dan kau menjadi satu-satunya orang yang dapat mengirim pasanganmu kembali pulang??Mungkin dengan ini aku dan Tiffany dapat membicarakan banyak hal di mobil.

 

Ku batalkan semua meeting dengan beberapa client hari ini hanya untuk menjemput istriku. Aku berjalan riang, senyuman tidak pernah lepas dari wajahku. Ah. Senangnya..

 

 

 

Sudah 1 jam 30 menit aku menunggu. Perjalanan ke lokasi pemotretan memakan waktu 30 menit karena badai yang terlalu hebat menyebabkan macet dan banyak pohon tumbang. Dimana Tiffany? Bukankah seharusnya ia sudah selesai? Kenapa ia tak kunjung keluar. Sampai pada akhirnya mobil Jeep Hitam melintas di depan mobilku. Ia berhenti tepat di hadapan gedung itu. Lalu dari gedung itu terlihat seorang wanita berlari kecil… tunggu, bukankah itu Tiffany? Tiffany tersenyum sumringah sebelum akhirnya beringsut masuk ke dalamnya.

 

kedalam mobil jeep itu dengan seorang pria berkacamata hitam.

Baiklah, Taeyeon.  kau bisa melakukan ini. Tiffany istrimu. Ya! Tidak apa apa.it’s okay Taeyeon, I’m okay.

 

Tiffany

 

Air bening dengan kerasnya membentur bagian luar mobil ini, hujan sangat deras kali ini, mungkin Tuhan sedang marah, maybe? Aku sedang dalam perjalanan pulang bersama Kekasihku ku, Donghae. Kebetulan ia melewati tempat pemotretan ku.

“Wonderful.. Wonderful..”Telfon genggamku bordering dari balik saku jeansku. Ini aneh. Tidak ada nama yang tertera disana.

 

“Halo, dengan siapa aku berbicara?”

 

Oh, maaf menganggu Ah-gassi, ini saya… sekertaris Direktur Taeyeon.”

 

Oh ya tidak apa apa, ada apa?”

 

Saya hanya ingin menyampaikan, apakah Direktur Taeyeon segera kembali kekantor untuk sementara? Ada pertemuan yang belum ia selesaikan..”

 

“Apa maksudmu belum di selesaikan?”

 

Direktur Taeyeon meng-cancel semua meeting dengan client hari ini karena ingin menjemput Ah-gassi.. tetapi mungkin ia tertinggal 1 client yang belum ia selesaikan sebelumnya. ia sudah berangkat sejak 2 jam lalu..”

 

halo? Apa anda masih disana Ah-gassi Tiffany?”

 

Ah-gassi? Seluler DIrekturTaeyeon tidak aktif sudah kuhubungi beberapa kali

 

Ah!, ya, tentu saja akan ku sampaikan

 

 

 


 

 

Astaga. Taeyeon benar benar nekat. Ia membatalkan semua meeting demi menjemputku sedangkan aku pulang bukan bersamanya. Perasaan takut menghampiri ku, entah kenapa. Kaki gemetar menjajaki lantai lantai ini. Kulihat Taeyeon sedang duduk santai, ia terlihat sedang  membersihkan badannya, rambutnya bahkan masih basah, handuk berwarna putih mengalungi lehernya. Taeyeon terlihat fokus pada layar datar yang menayangkan ramalan cuaca.

 

“Kau melewatkan satu” akhirnya suaraku angkat bicara. Taeyeon menoleh, dapat kulihat wajahnya sedikit terkejut.

“Apa?” Tanyanya yang kini membuatku mendekat ke tempatnya duduk.

“Clientmu. Kau melewati satu” Jawabku lalu melepas sepatu heels yang sedang kukenakan.

“Ah iya! Aku lupa, tidak apa.”

“Kau terlihat lelah dan basah, mandilah! Aku akan membawakan handuk untukmu” Kini Taeyeon bangkit dari sofa dan berniat untuk kebelakang.

“Kenapa kau tidak memberitahukanku kalau kau sudah sampai!? Kenapa kau membatalkan semua meetingmu hanya demi menjemputku!? Aku bahkan tidak pulang bersamamu!” entahlah, semua itu keluar begitu saja dari mulutku. Taeyeon menghentikan langkahnya.

 

“Ah tidak apa, aku fikir, aku jarang menjemputmu, bahkan belum pernah sekalipun, tapi aku lihat kau menaiki mobil itu jadi….”

“kenapa kau lakukan itu!!!?” omongan Taeyeon ku potong dengan keras. Ah. Bodohnya.

 

Author

 

“Kenapa!? Aku bersyukur masih di anggap di mata mu. Aku bersyukur kau masih bisa mengandalkan ku! Selama ini? Kau tidak pernah melihat ku. Menatap ku sedikit saja tidak pernah. Berbicara tentang sesuatu yang panjang atau mengobrol kepada ku? Oh itu tidak mungkin bagi mu!” Taeyeon menjawab pertanyaan Tiffany, kakinya lalu berjalan menaiki anak anak tangga.Tiffany masih tak  bergeming di tempat pijakannya,

“Apa benar aku memperlakukannya seperti itu?” Lirihnya dalam hati.

 

“Uhuk-Uhuk” Suara itu terdengar menggema diruangan yang besar ini.

 


 

 

Tiffany menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, ia mulai memejamkan mata, kepalanya sangat berat. Rambut nya terasa di tarik ke atas oleh seseorang, sepertinya ia akan kedatangan tamu yang sering di panggil oleh kebanyakan orang “sakit”. Ia mencoba tertidur dengan keadaan yang sedang down seperti ini. Punggunya membelakangi punggung Taeyeon.

“Sepertinya Taeyeon sudah tertidur” fikir Tiffany yang enggan mengganggu Taeyeon tidur untuk meminta sedikit bantuan sekedar mengambilkannya obat dan air.

Kepalanya sangat pusing, ia seperti melihat dan merasakan dunia dengan gempa yang memutar. Tiffany memalingkan tubuhnya dan memperhatikan punggung Taeyeon. Tubuh Taeyeon memang sedang menghadap kearah Jendela yang menayangkan Bulan kala itu.

“Uhuk” Tiffany tidak dapat menahannya. Ia sangat takut menganggu ketenangan Taeyeon dengan batukan batukannya yang sedari ia coba tahan. Tangan kanan nya berniat ingin memeluk Tubuh Taeyeon. “Uhuk” satu lagi yang tidak dapat ia hindari.

“Sret” Taeyeon menoleh. “Ada apa Tiffany? Astaga kau sangat pucat, suhumu juga tinggi. Kau sakit?” pertanyaan yang bertubi tubi dari Taeyeon membat Tiffany tersenyum. Detak jantung Taeyeon berlomba lari ketika tangannya pertama kali merasakan bagaimana lembut kulit istrinya itu. Ia merasakan suhu yang hangat ketika mencapai puncak kening Tiffany.

I’m fine Taeyeon-ah, tidurlah.” dengan mata sayu dan suara yang parau Tiffany mencoba membuat Taeyeon untuk tenang. Taeyeon menggenggam kedua tangan Tiffany, dapat dirasakan tangan Tiffany yang basah dan berkeringat juga panas.

“Ani.. kau tidak baik baik saja, aku akan telfon dokter Tahoma. Tunggu disini, aku akan mengambilkan mu obat dan air lebih dulu.” Taeyeon bangkit dan mengenakan Sendal tidurnya, ia meraih selulernya di meja dan membuka pintu dengan tergesa gesa. Ia benar benar khawatir akan istrinya itu.


“Kata Dokter kau harus istirahat penuh, apa yang sudah kukatakan tentang menjaga tubuh dengan suhu tetap stabil?” Celoteh Taeyeon yang sedari tadi membuat kepala Tiffany semakin pusing, meskipun begitu Tiffany senang mengetahuiTaeyeon adalah orang yang sangat perhatian.

“Maafkan aku Taeyeon, lain kali aku tidak akan menerobros hujan itu lagi.” Kata Tiffany Lemas kepada Taeyeon yang sedang duduk di sofa kecil di tepi tempat tidurnya. “tidak, aku yang minta maaf sudah membiarkanmu menobros hujan dan marah marah menasehatimu saat ini.” Jawab Taeyeon sedikit khawatir.

“Gwenchanna, aku senang ternyata kau sangat perhatian kepadaku, aku tau kau mengantuk, kau tidak perlu menungguku, tidurlah.” Suruh Tiffany masih menghadap istrinya itu. mungkin kepala keluarga lebih cocok untuk di sandingkan dengan Taeyeon. Baginya gadis itulah yang menjadi pelindung keluarga kecil ini. dia juga yang menjadi sosok untuk terus memperhatikannya, memberi nafkah hingga tidak pernah berhenti menjadi seseorang yang terus berusaha memperlakukannya dengan baik.

“Tidak, aku akan menemanimu sampai pagi, aku tidak akan tidur.” Bantah Taeyeon lembut.

“Tidak apa Taeyeon, besok kau harus bekerja, kemarilah” Taeyeon hanya menggeleng pelan, ia tetap kekeuh dengan pendiriannya.

 

“kau ini keras kepala sekali! Jika kau tidak kembali ke tempat tidur ini aku tidak akan tidur!” Tiffany mulai menggertak halus Taeyeon.

“Baik-baiklah.. aku menyerah.” dengan pasrah Taeyeon berbaring di samping Tiffany tanpa memejamkan matanya sedikitpun, ia memperhatikan Tiffany yang sedari tadi mencoba memejamkan matanya.

“Ada apa?” tanya Tiffany yang sadar akan Taeyeon yang sedaritadi memperhatikannya.

“bolehkah aku memelukmu? Aku hanya ingin membuatmu hangat, tapi jika kau keberataan tidak apa apa.” Lirih Taeyeon lalu tersenyum. “well, yeah, i don’t mind

 

Taeyeon kemudian menarik tubuhnya kecil istrinya yang berbalut piyama dengan motif bunga-bunga. Untuk sesaat dia melihat istrinya sangat anggun dengan piyamanya. Kemudian ia mendekap tubuh Tiffany, tangan kanan melingkar sempurna pada tubuh Tiffany dan tangan kirinya menjadi sandaran untuk kepalanya.

“Kau hangat Tae,” Ujar Tiffany lalu memejamkan mata dengan mudahnya. Taeyeon hanya tersenyum dan terus mengecup kening Tiffany berkali kali, sesekali memeluk lebih erat tubuh Tiffany.

Saranghae.”

Lirih Taeyeon ketika ia sadar Tiffany sudah terlelap. Itulah katakata yang selalu di katakannya setiap malam jika Tiffany sudah tertidur. Tangan Taeyeon meraih kening Tiffany dan di landaskannya dengan halus. Saat ini ia ingin mempercayai kepercayaan yang sudah lama ia ingin ketahui

“Bahwa, jika ingin memindahkan suatu penyakit dari satu orang keorang lain. dengan cara menyentuh kulit orang yang sakit dengan kulit yang akan menjadi mediasinya.”

Ia benar-benar berdoa jika mitos itu benar. ini akan mejadi lebih baik jika dirinya yang jatuh sakit. Bukan istrinya.

 


 

 

                2 Minggu Kemudian

 

Hari hari di awal Tiffany Sakit, keduanya bertindak seperti pasangan yang sewajarnya, ketika salah satu di antara mereka sedang tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk berjalan maka yang satunya akan memberikan perhatian sepenuhnya. Seperti Taeyeon selama ini, ia sangat tekun merawat Tiffany. Ia selalu bangun pagi untuk menjaga Tiffany, ia selalu berangkat Kerja Siang demi istrinya, ia menyiapkan pakaian Tiffany, ia mengatur jadwal makannya, ia juga tak pernah absen mengecup kening istrinya dimalam hari sebelum dia memejamkan m atanya kedunia mimpi. Dan itu semua di sambut hangat oleh Tiffany.

Selang beberapa hari entah kenapa Tiffany merasa bosan dan kesal jika melihat Taeyeon terlalu berlebihan. Ia membenci Taeyeon ketika memaksanya untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kesehatannya, seperti yang barusaja terjadi, Jadwal Tiffany untuk beberapa minggu kedepan di batalkan oleh Taeyeon demi kesehatan Tiffany. Tentu saja supermodel ini sangat kesal karena tidak dapat menjalankan hobi sekaligus profesinya ini. .

 

Serius, dia seperti menyekapku di kamar ini, aku tidak tahan. Apa yang harus aku lakukan disini? Hanya berbaring dan makan, bahkan berat tubuh kusudah bertambah sekarang. Apa yang sedang kau lakukan Babe?” itulah katakata yang di ketikkan Tiffany selama ia memegang handphone mya.

 

Beep

“Haha. Tunggu saja sampai kau mati karena bosan di kamar itu. Apa yang kau lakukan tidak ada gunanya selama ia masih mengurungmu, aku sedang di Bar. Wanna join? Aku akan menjemput mu jika kau mau” balasan dari Donghae ternyata di sambut senang oleh Tiffany. Tergurat senyum tipis di Bibirnya.

 

Tentu saja aku mau. Apa yang aku lakukan disini? Ia sangat menyebalkan, aku terkadang membencinya. Jangan terlalu lama aku akan menunggu mu, sebelum ia kembali dari pekerjaannya. Kau tahu? Bahkan jadwal ku selama dua minggu ia cancel semua. Apa yang ia fikirkan?” Balas Tiffany kembali

 

Aku tau bagaimana rasanya itu sangat membosankan, jika aku seorang polisi aku akan menjemputmu di kamar dan berasalan jika kau memakai obatobat itu. Haha.

 

Kau bercanda? Aku sudah berhenti sejak 3 tahun yang lalu. Kau juga harus berhenti Babe, berbahaya untuk kesehatanmu, apa yang kau lakukan dengan obatobattan itu? Aku sudah katakan agar kau berhenti memakai itu! Aku kira kau sudah selesai dengan obatobat itu!”

 

Kau bercanda juga? Aku tidak akan pernah berhenti memakainya, itu semua membawaku ke surga, kau bahkan tidak tahu rasanya obat yang baru keluar akhirakhir ini, itu membuat kita melayang di udara

 

“Tidak, itu tidak benar, kau harus berhenti Babe. Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk berhenti?”

 

                  “Itu hanya janji sesaat. Kau masih tidak mengerti juga. Kembali ke topic sebelumnya, aku bosan sendiri disini, aku akan segera kesana.”

 

                  “baiklah aku menunggumu, cepatlah! Aku sudah muak!”

 


 

 

Mobil hitam itu melesat jauh dan cepat, membelah kesepian kota Seoulyang hening, Badai kencang masih bertamu di kota Metropolitan itu. Apa yang ada di hadangannya akan tersapu oleh gemuruh badai, begitu juga dengan jadwal aktivitas semua orang. Jadwal mereka sudah di tiadakan akibat Badai yang hanya datang 5 tahun sekali itu. Titik titik air menjajah tanah yang lembab, titik titik itu berubah menjadi gumpalan yang besar dan menghujani yang ada di bawahnya.

 

Tubuhnya menggigil ketika ac mobil mobilnya yang kian mendingin sedangkan tubuhnya Basah setelah dimandikan oleh Air Air Awan. Perasaannya khawatir akan istrinya terus menyergapnya, Diraihnya telepon genggamnya lalu di ketikkan huruf demi huruf yang membentuk kata “Tiffany” dan di tekannya tombol berwarna Hijau itu, yang di dapat hanya suara operator di sebrang sana memberitahukanna jika nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.

150413-07

Di gigit Bibir bawahnya. Sudah genap sepekan. Namun setiap hari yang ada di fikirannya hanyalah istrinya yang belum juga kembali ke rumah sejak hari itu. Bahkan ia tidak dapat kabar sedikitpun tentang istrinya itu. Ketika orang tua dan mertua nya menelfon ia hanya dapat menjawab. “Kami baik baik saja”. Di balik kata baik baik saja ternyata ada sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa di jelaskan ke kedua pihak itu.

“Tap..Tap..” Sepatu hitam nya menggema di ruangan yang hening ini.

 

“Ah-gassi, saya yakin Tiffany Ah-gassi baik baik saja, Ah-gassi tidak perlu mencarinya terlalu keras, Ah-gassi sedang sakit, saya takut Ah-gassi akan bertambah buruk, lebih baik beristirahatlah, dia pasti akan kembali.” Suara wanita paruh baya yang kini berada di hadapannya terdengar sulit. Gadis itu hanya berdesah kecil.

“Ah-gassi, juga sudah mengunjungi seluruh teman teman Ah-gassi Tiffany….” imbuhnya.

“Bisakah kau ambilkan aku handuk? Aku lelah” Ujarnya lalu merentangkan tubuhnya di sofa yang luas dan di menutup matanya  untuk sejenak.

“Baiklah, saya juga akan menyiapkan Air hangat nya..” Jawab wanita itu yang tidak lain adalah pembantu rumah tangga di rumah ini.

 

 


 

 

Author

 

09.00 pagi.

Wanita itu seperti perampok, ia mengendap endap di rumahnya sendiri, pelan pelan ia menaiki tangga dengan kedua sepatu di tangannya, Bibir di kunci rapat. Matanya melirik sekitarnya yang gelap, was-was.

“Cklek” diturunkannya gagang pintu emas itu. Di lihatnya seorang wanita sedang terlelap di atas tempat tidur. Setelah mengetahui itu ia berbalik berniat kembali ke bawah.

“astaga! Ah-gassi! Mengagetkan saja!” Pekik Ah-Jumma Park.

“Ah-Jumma! Kau membuatku jantungan!” Wanita itu kini melanjutkan langkah kecilnya di ikuti seorangpembantu rumah tangga itu.

Wanita itu kini duduk di sofa dan menyalakan tv yang sedang menayangkan acara gosip. “Taeyeon… ia tidak bekerja? Libur?” Tanya wanita itu lalu menyeruput Teh Hangat yang baru saja disiapkan Ah-Jumma Park.

“Dia tidak memberitahu Ah-gassi? Ah! Iya! Mana mungkin ia memberitahu Ah-gassi jika handphone Ah-gassi saja tidak aktif… DIa sakit sejak 5 hari yang lalu.. Ah-gassi tahu? Sudah 7 harian ini ia selalu keluar dan ketika ia sakitpun ia tetap mencari Ah-gassi, ia menghampiri satu persatu rumah teman Ah-gassi, menghubungi Ah-gassi bahkan ratusan kali dalam sehari, ia sama sekali tidak memberi kesempatan dirinya untuk beristirahat.” Entah kenapa semua perkataan yang keluar begitu saja dari mulut seorang pembantu rumah tangga membuat matanya memanas. Ia menggigit jari jarinya,

Tak ada yang bisa mengalahkan rasa khawatirnya akan saat ini untuk seseorang yang ia telah abaikan untuk beberapa hari belakangan.

 


 

 

“Tiffany? Kau sudah pulang? Kenapa tidak memberitahuku jika kau sudah kembali? Aku sangat mengkhawatirkanmu” Sahut Taeyeon ketika melihat wanita yang sangat di rindukannya membuka pintu yang selama ini ia tunggu tunggu yang mungkin saja akan terbuka nantinya. Dan benar saja,

“Tidak diragukan lagi, tidurlah Taeyeon, aku baik baik saja, kau harus istirahat.” Jawab Tiffany lalu berlalu begitu saja dan beringsut masuk kedalam kamar Mandi. Hati Taeyeon sangat bahagia mengetahui Istrinya kini sudah kembali dalam keadaan baik baik saja, ia tersenyum dan dengan mudah menutup matanya.

Selang 45 menit kemudian Tiffany siap untung mengawali mimpinya, ia berbaring di samping Taeyeon yang sudah terlelap, ia terus memandangi Wajah Taeyeon yang sedang tertidur sembari sesekali menyunggingkan senyumnya. Mengaumi bagaimana pahatan wajah Taeyeon yang sangat mempesona.

Rasanya sulit sekali untuk tidur bagi Tiffany, Lalu kedua tangannya menggenggam erat tangan kanan Taeyeon… akhirnya ia bisa terlelap dengan nyaman. Sungguh rasanya seperti sedang menyentuh balok es ketika menyentuh permukaan kulit Taeyeon.

 


 

 

Hari hari telah berlalu dengan kondisi Taeyeon yang semakin hari semakin membaik, tetapi Tiffany sampai hari ini tetap saja masih sering menginap di apartement Donghae tetapi tidak setiap hari, hanya dimana ketika ia kesal dan bosan saja dengan Taeyeon dan Rumah. hari ini Taeyeon sangat bersemangat sekali karena hari ini ulang tahun Tiffany yang ke 23 akan datang. Umurnya akanbertambah, suaranya akan semakin berat, sifatnya semakin dewasa, fikirannya jauh lebih matang.

Hari ini temanya adalah Candle Light Dinner dihalaman belakang. Kolam renang sudah di dihiasi lilin berbentuk hati dan membentuk kata “Happy Birthday Tiffany”. Semua itu di persiapkan Taeyeon dari pagi ketika Tiffany sudah berangkat untuk menjalin hubungan dengan profesi seorang modelnya. Dua Sofa nyaman dan satu meja bulat sudah di hias berwarna putih dengan bunga bunga segar di atasnya

Lampu lampu taman di sulap menjadi Kuning. Semua nya sudah berjalan sesuai rencana Taeyeon yang telah ia persiapkan jauh jauh hari. Inilah hari yang telah ia tunggu,tunggu, bukankah ini akan menjadi malam yang sangat romantis? Sudah berbulan-bulan pernikahan ini begitu hampa, yang pasti kali ini ia ingin membuat istrinya bahagia, ia ingin Tiffany merasakan kasih sayang darinya, ia Ingin menunjukkan sebagaimana penting wanita itu dihidupnya, seberapa berarti Tiffany untuknya, setidaknya perlakuannya yang sederhana ini akan memberi Tiffany sedikit petunjuk. Tak henti hentinya bayangan Tiffany akan tersenyum dan ia yang menjadi alasan di balik itu terus berlari dikepalanya, ini adalah malam terindah untuk Taeyeon.

 

Taeyeon

 

Aku begitu bersemangat untuk menyiapkan semuanya. Memanfaatkan hari libur tak pernah semenyenangkan ini. apalagi jika semua ini untuk istriku nantinya.

 

Semua itu lenyap, harapanku untuk membuat Tiffany tersenyum untukku, untuk bisa menjadi seseorang yang setidaknya bisa berarti sedikit dalam hidupnya.

 

Itu semua kelihatannya hanya khayalan belaka.

Semua semangat ku, bahagia ku roboh sudah malam ini. Ketika aku melangkahkan kaki ku ke lantai bawah. baru saja aku ingin mengajak Tiffany untuk ke kolam renang. Tiffany sedang bersama seorang pria yang ia katakan mantan kekasihnya.  Di sofa itu, Bibir mereka sama sama menyatu. Tapi aku tidak ingin menyerah begitu saja hanya karna hal ini. ini sunggah bukan diriku.

aku juga tidak menyesali pernikahan ini.

                 Tidak apa.. aku bukan di lahir kan untuk memiliki nya, aku ada untuk menjaga nya.

aku pergi ke halaman dan mengambil selang tanaman dan menyirami setiap lilin. Hingga mati semua. tubuhku ku lelah. Hatiku sedang mati dan aku tak sanggup untuk berkata apa apa, adegan it uterus menghantui pikiranku, membuat hatiku lagi lagi tersayat.

mungkin besok pagi saja aku mengambil lilin lilin itu. Kebetulan besok minggu. Untuk malam ini, mungkin aku akan tidur di kamar tamu.

 

Ku rebahkan tubuhku di tempat tidur ini, lupakan itu tadi semua Taeyeon… Tiffany mencintai pria itu… bukan kau Taeyeon… ini benar-benar membuatku bingung..

 

                Apa aku bahkan berhak ada untuk di sisinya? Apa aku hanya sebagai peran pendukung di hidupnya?  Tapi aku mencintainya. itu terus berputat putar di kepalaku. Rasanya ingin sekali membuang jauh jauh fikiran       itu…

 

 


 

 

“Apa yang kau lakukan Taeyeon?” Pertanyaan itu membuat Taeyeon terbelalak, Taeyeon menoleh dan tersenyum. “tidak ada, hanya berenang.” Jawabnya masih tetap tersenyum. “apa yang ada di keranjang itu?” itu lilin bodoh! Dia  sedang mengambil lilin – lilin tadi malam yang tidak jadi  ditunjukkannya padamu!. “Oh… hanya menaburi sedikit kapurit.. kolam ini sedikit kotor.” Ujar mulutnya berbobohong. Tiffany berbalik dan melaluinya begitu saja.

 


 

 

Hari ini Hati Taeyeon kembali berwarna, Ia akan mengantarkan istrinya itu ke Konfrensi Model – Model se Asia. Bukan Tiffany yang meminta Taeyeon untuk mengantarnya, tetapi keadaan yang meminta. Mobil yang biasa Tiffany pakai sedang ada masalah di mesinnya, baru saja di bawa ke bengkel oleh Taeyeon. Yang tersisa hanya satu mobil Hitam yang gagah, Mobil Taeyeon.

 

Mau tidak mau, senang tidak senang Tiffany harus bersama Taeyeon. Semua itu dilakukan Taeyeon dengan sangat senang hati, senyuman tanda kemenangan tidak pernah lepas dari parasnya yang cantik. Hati nya berdebar debar dan kembang kempis setiap detiknya.

 

Tiffany tidak berbicara sepatah katapun selama perjalan, ekspresinya datar, ia hanya sibuk memainkan telefon genggamnya sesekali Taeyeon melirik Istrinya itu. Senyuman masih belum luntur juga dari Bibirnya. Mobil hitam itu melaju sangat cepat menabrak Angin.. tapi lama kelamaan Jalannya semakin pelan..kecepetannya terasa berkurang, ia harus menepikan mobilnya itu,

 

Taeyeon yang kebingungan segera menepi mobilnya di kiri Jalan, tepatnya ini di Tol.

“Mobil semahal ini bisa mogok juga…. hah!” Desah Tiffany kesal.

“tetap saja itu tidak mengubah fakta bahwa ini tetaplah mobil…” Kekeh Taeyeon kecil lalu membuka pintu dan memperbaiki apa yang ia bisa di depan sana. Mmebuka kap mobil sembari menilik-nilik masalah yang sedang terjadi di bawah sana.

Tetapi ketika menyentuh salah satu mesin mobil tangannya tidak sengaja terkena cairan yang panas sehingga kulit Taeyeon panas dan perih, lama kelamaan luka itu terbuka.. kulit Taeyeon berubah menjadi warna putih..terasa sangat menyakitkan ketika angin menyerempet lukanya yang terbuka itu, ugh

 

“Brrm” mobil itu kini sudah berbunyi tanda usaha Taeyeon tidak sia sia. Ia menutup lukanya dengan kemejanya yang panjang meskipun ketika tersentuh bahan bajunya sangat menyakitkan. Ia bahkan tetap menahannya. Alhasil Taeyeon menyetir hanya dengan tangan kiri. Tangan kanannya sulit untuk di gerakkan karena terlalu perih untuk di rasakan.

 

“Ada apa dengan tangan mu?” Tanya Tiffany yang baru sadar Taeyeon menyetir hanya dengan satu tangan.

“Hanya belajar menyetir dengan satu tangan, ini mengasyikkan, kau harus mencobanya lain kali, tetapi hati hati” sahut Taeyeon masih terus mencoba mencairkan suasana yang dingin dan terus tersenyum. Tiffany hanya mengangguk kecil sesekali melirik Telefon selulernya.

“Nanti tidak perlu menjemputku, aku pulang bersama Donghae.” Kata kata itu benar benar membuat Senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah Taeyeon luntur, berubah menjadi datar. Taeyeon hanya mengangguk paham. Hatinya kembali mati. Itulah kehidupan hatinya, sesekali hidup walaupun sementara lalu kembali mati,seperti mati suri yang berulah kali terulang.

 


 

 

“Ah-jumma….” Pekik Taeyeon lalu membuka perlahan lahan lengan kemejanya, darah kini mulai membasahi bahan bajunya, walau tidak terlalu banyak tapi rasa yang ia rasakan teramat sakit.

Saesange…. ada apa Ah-gassi ? siapa yang melakukan ini?”

“Tidak ada, Cairan sialan itu menghajarku. Cepat ambilkan beberapa obat netralisir.. ohya dan handuk.. aku sangat lelah..” Jawab Taeyeon lalu menaiki tangga dan kembali ke kamarnya.

Wanita paruh baya itu menggeleng perlahan, tidak habis pikir akan majikannya.

 


 

 

Berkali kali Wanita itu seperti perampok di rumahnya sendiri. “tap tap” ketukan sepatu heelsnya menggema di ruangan yang besar ini, siang sudah berganti dengan malam, matahari sudah berganti dengan bulan, awan sudah berganti dengan bintang, terang sudah berganti benjadi gelap. Tetapi kasih sayang Tiffany tidak pernah berganti untuk Taeyeon, tetap saja dirumah ini hening berganti menjadi lebih hening. Baru saja Tiffany menginjak beberapa anak tangga…”Ah-Jumma! kau mengangetkanku!”..

 

“Oh! Maaf Ah-gassi! Saya hanya ingin mengambil air..” kekeh Wanita paruh baya itu lalu berlalu begitu saja.

“Ah-Jumma! Taeyeon sudah tidur?” Tanya Tiffany lalu menghampiri wanita itu.

“Sepertinya begitu Ah-gassi,.. ohya Ah-gassi! Bagaimana ceritanya Taeyeon Ah-gassi terkena cairan coolant mobil?” Wanita itu kembali berhadapan dengan Tiffany.

“Huh? Apa yang sedang kau bicarakan Ah-Jumma? Ada apa dengan Taeyeon?” Tiffany heran lalu mendekati jarak wanita itu. sementara wanita itu terdiam, teringat akan sesuatu, mungkin lebih baik jika ia menutup mulutnya? Berpikir majikannya yang satu ini bahkan tidak akan perduli akan pasangannya itu.

“Ah, mungkin seperti biasa. Baiklah Ah-gassi, kalau begitu.. selamat malam..”

“tunggu Ah-Jumma! Maksudnya apa seperti biasa?” Tiffany makin penasaran oleh pernyataan Pembantu nya itu.

“Ah-gassi, Taeyeon Ah-gassi selalu menganggapsemuanya baik baik saja padahal sebaliknya, ketika Taeyeon Ah-gassi sedang tidak dalam kondisi yang memungkinkan ia tidak pernah cerita tentang masalahnya ke Ah-gassi karena takut mengganggu ketenangan Ah-gassi, Ah-gassi Taeyeon Ah-gassi itu keras kepala..” Wanita paruh baya itu terkekeh, menggelengkan kepalanya, mengingat  bagaimana majikannya yang cukup keras kepala karena sangat menyayangi istirinya.

 

What is that even mean?

 

“kemarin pagi Taeyeon Ah-gassi di kolam renang pagi pagi itu sebenar nya membersihkan lilin yang tadi nya untuk kejutan ulang tahun Ah-gassi.. entah karena apa, Taeyeon Ah-gassi mematikan semua lilin malam itu juga. Padahal kami sudah bersusah payah membuat nya. Lagi pula mengingat Taeyeon Ah-gassi terlihat sangat bahagia ketika mempersiapkannya, selalu tersenyum tiap kali ia menyebut nama Ah-gassi. ketika kami sibuk mempersiapkan semuanya, bahkan ia menyibukkan dirinya memasak banyak makanan, tentu saya membantnya, Taeyeon Ah-gassi terlihat sangat sangat senang. ” Jelas wanita paruh baya itu panjang lebar, ia berjalan kearah dapur, meraih kotak berwarna putih itu. mengambil beberapa lembar kasa dan obat anti infeksi dan beberapa obat merah itu.

“Bisakah Ah-gassi mengganti perban tangan Taeyeon Ah-gassi? Sepertinya dia belum menggantinya.” Ujar wanita itu seraya memberikan peralatan medis sederhana itu pada Tiffany yang masih mematung, seperti pedang tajam menghunus ulu hatinya.

“Aku.. tidak pernah mengetahuinya.. Taeyeon tidak pernah berkata apapun tentang itu….” Ujar Tiffany termenung. Mulutnya seperti tercekat sesuatu. Tangannya terlihat bergetar ketika mengambil alat-alat medis itu,

 

“Bagaimana Taeyeon Ah-gassi bisa berbicara dengan anda. Tfifany Ah-gassi terlihat begitu tidak perduli pada Taeyeon Ah-gassi, dia sakit, tetapi ia tidak pernah mengatakan apapun pada anda atau setidaknya memberi kabar bagaimana keadaan Taeyeon Ah-gassi  sendiri, bahkan dengan keadaannya, Taeyeon Ah-gassi berhari hari kurang istirahat karena mencari anda, ia bahkan mengunjungi satu persatu rumah orang yang mengenal Anda, ia begitu mengkhawatirkan Ah-gassi.. dan besok ulang tahun dia. Apakah Ah-gassi bahkan tahu?hadiah apa yang akan di berikan untuk Taeyeon Ah-gassi? Ah-jumma yakin pasti indah!” jawab wanita paruh baya itu tersenyum. Seketika mata Tiffany yang memerah mulai menjatuhkan setetes berlian cair. Sembari mencengkram pegangan tangga. Ia lalu sedikit berlari kecil ke kamar.

 

Dibuka pintu itu secara perlahan, berharap tidak membangunkan malaikat yang sedang tertidur itu. terlihat sesosok wanita tengan duduk di batang jendela. Melihat bintang yang mulai redup. Dirasakan Jantung Tiffany yang terus berdetak dengan irama yang tidak karuan, Tiffany berjalan dan memeluk pelan leher Taeyeon yang jenjang dan menutup kedua mata Taeyeon dengan kedua tangannya

“Jjinja. ini menakutkan… Umma? Apakah ini kau? Kenapa kau ber-aroma seperti Tiffany?Bukahkan sudah ku bilang untuk tidak menjengukku?”Ujar Taeyeon menyentuh kedua tangan yang menutupi matanya.

“Benarkah aku beraroma seperti mom?”

“Tiffany?”

“Ne!”

“Aku tidak percaya ini Tiffany..”

“Kalau begitu apa yang harus kulakukan agar kau percaya?”

“Buka mataku biarkan aku melihat wajahmu..”

“Bukankah dengan suaraku ini sudah cukup membuktikan untukmu?”

“Anni.. aku harus memastikannya. Bahwa ini adalah istriku dan bukan hantu yang sedang menyamar sebagainya.”

“Yah.”

“Baiklah.”

“Sekarang Aku Percaya.” Ujar Taeyeon setelah berbalik dan mendapatkan sosok wanita yang begitu cantik dengan wajah yang sedikit lelah, juga mata yang sedikit memerah, .

“Selamat ulang tahun untuk umur mu yang ke 23 Tiffany! Maafkan aku pagi ini tidak sempat mengucapkannya juga kemarin…”’ belum selesai Omongan Taeyeon terpotong oleh bulir bulir air bening dari mata Tiffany.

“Tiffany? Hey ? are you okay? What’s wrong? Is anybody hurting you? “Taeyeon merengkuh tubuh gadis itu, berharap memberikan sedikit kenyamanan untuk istrinya yang kini mulai terisak. Jantungnya berdebar tidak karuan.. tidak disangka pelukannya di balas oleh Tiffany perlahan,.

“Hey.. siapa yang melakukan ini padamu? Aku pasti akan menghajarnya,ssh-ssh, it’s okay Tiffany, I’m here.”

“Kim Taeyeon…” Lirih Tiffany

Na? apa yang telah ku lakukan? Apa aku berbuat kesalahan? Kalau begitu apa? maafkan aku. I’m so sorry, please tell me.” Tanya Taeyeon heran masih tetap memeluk Tiffany.

“Kau selalu berbohong.” Jawab Tiffany Singkat, masih menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Taeyeon yang jenjang.

“Berbohong? Aku tidak pernah membohongimu, Tiffany.”

Taeyeon-ah, I’m sorry.. I’m so sorry.. for that I’ve done to you.. I’ve been such a horrible wife for you.  Aku tidak memperhatikanmu dengan baik, tidak memperlakukanmu seperti layaknya yang kau dapat, aku selalu menghiraukanmu dan.. ” Tiffany mengeratkan pelukannya, entah bagaimana pelukan itu membuatnya sangat nyaman, seperti tidak ingin melepaskannya dalam waktu dekat

Taeyeon terkekeh, detik kemudian ia mengecup kening Tiffany lembut,

“Hanya itu? Tiffany kau lucu, it’s okay, I’m okay. Lagipula rumah tangga ini juga kan bukan kemauan mu..jadi sepertinya itu wajar.”

“Tetapi tetap saja, kan? Aku sungguh keterlaluan padamu, aku bahkan tidak habis pikir dengan diriku sendiri, maafkan aku Taeyeon-ah..”

It’s okay Tiffany, really…”

Tiffany melepaskan pelukan itu perlahan, ingin melihat bola mata yang hangat itu sekali lagi, bola mata yang seketika menjadi pemandangan favoritnya kali ini.

Taeyeon lalu merogoh sakunya dan mengangkat kedua tangannya, seketika kalung berlian berlukiskan nama Tiffany sudah menggantung di leher Tiffany. Ia tersenyum pada gadis itu, perlahan menyingkirkan bulir bulir air mata yang masih terlihat di papan wajah Tiffany yang menawan dengan ibu jarinya, memberikan tatapan paling hangat untuk istrinya itu.

“Ini hadiahnya… aku membuatnya sendiri..ah-eh tidak juga tentu saja dengan sedikit- banyak bantuan temanku, maklum saja aku tidak mengambil jurusan seni, yang ku tahu hanyalah menghitung angka dan menandatanganinya” Taeyeon terkekeh. Perasaan malu membuncah di hatinya ketika ia mendapat bola mata Tiffany memperhatikan miliknya, dengan senyuman seperti bulan sabit, mampu meluluhkan hatinya, benarkah ia mendapatkan istri secantik ini?

Sementara lagi lagi Air mata Tiffany masih mengalir dengan derasnya.

 

baru kali ia sadari mata Taeyeon sangat indah, Kedua mata manusia suci itu kini saling beradu pada satu titik. Keempat bola mata itu seperti mencaricari sesuatu di sorotan hangat  yang ada di hadapanya.

 

Detik kemudian, entah dari mana keberanian itu berasal Taeyeon menggamit pinggang Tiffany, sekali lagi pandangannya tidak pernah lepas dari figure yang masih tersenyum itu, senyumnya terlihat begitu.. tulus. Detik kemudian ia memotret Bibir gadis itu dengan miliknya. Sungguh tidak perduli jika sewaktuwaktu gadis ini mungkin akan melawannya, hatinya begitu saja leleh ternyata gadis itu malah memejamkan matanya, membalas kecupannya dengan lembut perlahan memperdalam kecupan itu.hatinya sungguh saat ini tak karuan, Inilah kecupan pertama Taeyeon dengan Tiffany. Ia terus melumat Bibir manisnya. Tak lama setelah itu ia mengecup kening Tiffany lembut, tidak ada yang dapat menandingi rasa bahagianya saat ini, Tiffany tersenyum saat bola mata Taeyeon menatapnya lagi. gadis itu kembali mengecup Bibir Tiffany lembut, dengan penuh perasaan, mencoba menikmati setiap detiknya.

 

                Malam ini milik mereka berdua.. bahkan Bulan saja tidak pernah dapat memiliki malam itu sepenuhnya.

 


 

                Tiffany tak bisa memikirkan hal yang lebih menyenangkan daripada ini. Disinilah dia, di ruangan dapur yang ada di dalam rumah besar yang ia tinggali bersama Taeyeon. Dia menyadari, bahwa dirinya tak mahir memasak. pagi tadi ia bertanya pada Ah-jumma apakah beliau mungkin bisa membantunya menyiapkan  makan siang untuk figur yang sudah menghilang ketika dia membuka matanya.

                Pekerjaan yang menumpuk, apalagi tanggung jawabnya sebagai seorang direktur muda. Memakasanya untuk terus mengabdi pada perusahaan dan bahkan banyak menyita waktu santainya. Tak terkecuali waktunya dengan sang istri yang sedang hangat-hangatnya. Taeyeon kadang berpikir, untuk menyerahkan jabatannya yang tinggi. Mungkin dengan itu, dia bisa terus merasakan semua kenyamanan dan ketenangan yang di dapatkan dari Tiffany ketika mereka hanya berdua.

                Memang. Semenjak malam itu, Tiffany jadi lebih memperhatikan dirinya. Sosok cuek yang dingin itu sedikit-demi sedikit menghilang. Yang hanya adalah sosok Tiffany yang penyayang, perhatian juga lebih romantis dari biasanya. Tak jarang bahkan dirinya bermanja-manja dengan Taeyeon ketika mereka tengah bersama. Memintanya untuk pulang lebih cepat, atau bahkan untuk sekedar mengajaknya belanja bersama.

                Bahkan Tiffany akan menjadi orang yang sangat cerewet jika Taeyeon belum juga pulang ketika malam tiba. Biasanya dirinya akan terus menghubungi hingga gadis yang lebih tua menjawab, atau dia akan menunggu di ruang tamu dengan raut kesal. Lalu akan segera menceramahi Taeyeon agar dia tidak mengulanginya lagi. Tetapi situasi akan menjadi lebih hangat ketika mereka akan memejamkan mata. Tiffany akan menyempatkan dirinya untuk mengurus Taeyeon. Menyiapkan bajunya ketika orang itu tengah mandi, membawakan makan malam yang terlewat, sampai menemani gadis itu menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Hingga ia tertidur di sofa.

                Itu semua di lakukan Tiffany di tengah-tengah libur panjangnya. Memang. Karna pergantian musim, agensinya memutuskan untuk memberi supermodel itu waktu untuk istirahat. sementara, mereka mulai memberikan model baru lain untuk berkesempatan bersinar.

                “Nah, kau harus mengukusnya 15-20menit Ah-gassi.”Ujar wanita paruh baya itu. Sementara Tiffany hanya mengangguk kecil tanda mengerti.

                Ini mungkin pertama kali baginya menyiapkan makan siang. Terlebih lagi untuk seseorang yang akhir-akhir ini menginap di pikirannya dan enggan untuk beranjak dari sana.

                “Geure. Arasseo. Aku akan mengambil alih dari sini. Ah-jumma lalukanlah yang lain.”

                “Ne, Ah-gassi.”wanita itu berbalik, ada senyum tipis terlukis di Bibirnya. Perubahan sikap majikannya ini membuat hatinya lega. Setidaknya pasangan ini mulai menunjukan keseriusan mereka dalam membangun sebuah keluarga kecil.

Dan, itu juga merupakan tolok ukur bagaimana mereka berdua akan berjalan melewati banyak rintangan untuk tetap mempertahankan rumah tangga mereka. Walaupun semua hal ini hanyalah rancangan belaka. Lebihnya, itu bahkan di atur oleh orang tua mereka sendiri.

                “Oh, Bom-ah! Wae?”Tiffany tengah mengendarai mobilnya ketika telfon genggamnya berderat.

                Nama manajernya tertera jelas disana. Untuk beberapa saat Tiffany memikirkan apa alasan yang mungkin membuat manajernya harus memanggilnya. Mengingat, dia masih dalam libur panjangnya.

                Ia tak bisa menyembunyikan semburat bahagianya kali ini. Ini semua terasa begitu nyata. Nyaman di rasakannya di ulu hati.

                “Eodiso?”

                “Na? Di perjalanan menuju kantor Taeyeon. Ada apa?”

                “Mwo? Kau serius? Ani.. Tadinya yang lain ingin mengajak kau dan aku untuk pergi keluar. Mungkin liburan di luar kota.”

                “Ada apa denganmu? Tentu aku serius, pabo. Oh.. Aku tidak bisa kalau begitu,”

                “Wae?”

                “Aku baru saja ingin menjadi istri yang baik untuk Taeyeon.”

                Ada nada kemenangan di pernyataanya, membuat sang manajer sedikit terkejut.

                Tiffany menyeringai mengingat apa yang baru saja di katakannya.

                “Yah.. Kau benar-benar berubah, sekarang Tiff. Baiklah, aku tidak ingin mengganggumu. Hubungi aku jika kau membutuhkan apa-apa.”


Derapan langkah Tiffany dapat di dengar dengan jelas oleh orang-orang yang sedang berlalu di sekitarnya. Tidak sedikit yang memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. Banyak dari mereka mengetahui siapa pemilik tubuh ramping, wajah menawan, dan pesona yang begitu anggun. Tidak sulit untuk mereka mengenali super model yang namanya telah begitu luas di kenal oleh masyarakat korea selatan.

                Bahkan beberapa dari mereka berbisik, kira-kira ada keperluan apa model itu singgah di kantor mereka yang membosankan.

 

                Memang, hanya sedikit dari banyak karyawan di kantor Taeyeon yang tau bahwa Dirinya menyandang gelar sebagai istri dari seorang direktur perusahaan. Di karenakan, pesta pernikahan mereka yang sedikit private dan hanya mengundang orang-orang terdekat dari kedua belah pihak.

                Tiffany menghentikan langkahnya di depan meja resepsionis. Melepas kacamata hitamnya yang sedari tadi bertengger di batang hidungnya.

                Resepsionis dengan senyum teramahnya menyambut Tiffany.

                “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”

                “Saya hanya ingin mengetahui apa Taeyeon Kim sedang dalam waktu istirahat makan siangnya.”

                Gadis muda itu agak terkejut dengan jawaban yang di berikan padanya. Baginya itu agak asing untuk mendengar seseorang menyebut direktur perusahaan hanya dengan namanya.

                “Maaf, tetapi anda tidak bisa menemuinya sekarang.”

                “Kenapa?”

                “Beliau sedang dalam meeting dengan beberapa karyawan. Lagipula, anda harus membuat janji dulu sebelum membuat pertemuan dengan Direktur.”

                Tiffany lalu tertawa pelan. Bukan tawa ejekan, tetapi dirinya benar-benar tidak mempercayai ini. Bahkan dia tidak di kenal di lingkungan perushaan ini. Baginya ini sungguh aneh.

                Lalu wanita paruh baya dengan setelan lebih formal mengayunkan kakinya di belakang resepsionis. Sebelum kedua matanya membulat, lalu menggeser paksa gadis muda itu.

                Dia membungkuk singkat di hadapan Tiffany.

                “Omo. Selamat siang, Samunim.”

 

Samunim : biasanya di peruntukkan untuk seorang istri presiden/direktur suatu perushaan atau lembaga tertentu.

                Ada raut khawatir di papan wajah wanita itu. Takut-takut karyawan barunya membuat sedikit masalah dengan istri direkturnya.

r1ylGtu

                “Oh, siang. Aku hanya ingin tau, apa benar  aku tidak bisa menemui Taeyeon?”

                Wanita itu dalam hitungan detik mengutuk karyawan barunya dalam hati. Benar saja, pasti ada kesalan pahaman disini. Dia melirik gadis muda itu dengan tatapan mengintimidasi sebelum akhirnya kembali menaruh perhatian pada supermodel di depannya.

                Merasa dirinya telah melakukan hal yang salah, si gadis muda hanya menundukkan kepalanya. Berdoa agar setelah ini dia tak kehilangan pekerjaan karna kecerobohannya.

                Ia benar-benar malu karna secara tidak langsung telah telah melarang direkturnya unruk bertemu dengan model yang juga berstatus sebagai istrinya.

                “Apa yang anda bicarakan, samunim? Tentu saja bisa. Hanya, Direktur sedang dalam meeting dengan beberapa karyawan.”

 

                “Oh, begitu..”

                “Anda bisa menunggu di ruangan Direktur, samunim. Jika anda mau.”

                Tiffany lalu tersenyum dan menggeleng pelan,

                “Aku ingin menunggunya di luar ruang meeting. Bolehkah?”

                “Oh, tentu saja. Samunim.”

                “Saya akan tunjukan ruangannya.”Tukas wanita itu lalu melemparkan tatapan kematian untuk yang terakhir pada karyawan nya yang ceroboh. Lalu kembali menyungginkan senyum paling ramah darinya untuk istri direktur yang tampak sangat menawan hari ini.

                “Oh ya, jangan menegur karyawanmu. Itu wajar jika dia tidak mengenaliku,”Ujar Tiffay sembari menyamakan langkahnya dengan wanita itu.

                “Baiklah, samunim.”untuk beberapa saat sebelumnya, wanita itu mengira Tiffany mempunyai watak yang arogan. Selain karna pekerjaannya. Mungkin saja statusnya sebagai istri direktur menjadikannya seperti itu. Tetapi ia cepat-cepat menghapus pikiran itu. Karna faktanya yang ia dapatkan hanyalah figur seorang model yang rendah hati dan murah senyum. Walaupun papan wajahnya memiliki gambaran bahwa dia adalah orang yang sombong.


 

                Karna hanya di batasi kaca yang lebar dan menjulang tinggi antara ruangan meeting dengan tempatnya duduk sekarang. Tiffany bisa mengamati pasangan hidupnya disana. Sedang berdiri di hadapan banyak orang dengan raut percaya diri yang tinggi. Karisma yang dia miliki membuat Tiffany sesekali berdecak kagum akan penglihatannya sekarang.

                Taeyeon. Disana. Sembari mulut lugasnya yang terus berbicara. Sesekali menyinggungkan senyum dan tawanya untuk para pendengarnya.

                Tiffany menemukan ini sangat mengasyikkan menyaksikan gadis itu yang mungkin pantas untuk di panggilnya suami. Ia tidak bisa berbohong, Taeyeon terlihat sangat manly namun anggun di waktu yang bersamaan. Apa lagi pahatan wajahnya yang mempesona, juga garis tegas rahangnya yang sangat mengesankan.

                She’s seriously hot, yet so cute at the same time.

ibzQ2QtjaluU2y

Tukas Tiffany pelan pada dirinya sendiri tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Dia bertanya-tanya bagaimana bisa dia tidak melihat seorang Taeyeon yang setia yang selama ini berdiri di sampingnya dengan segala kesempurnaan yang ada.

                Menyadari bahwa pertemuan itu hampir selesai, Tiffany bangkit dari duduknya. Orang-orang yang ada di dalam ruangan juga melakukan hal yang sama dengannya. Namun, karna dia benar-benar tidak bisa menunggu lagi. Tiffany justru mengetuk sekali pintu itu sebelum mengizinkan dirinya sendiri untuk masuk.

                Di dapatinya wajah Taeyeon yang sedikit terkejut karna melihat sosoknya. Tiffany menarik sudut Bibirnya untuk tersenyum ketika penglihatannya mendapatkan Taeyeon mematung dengan semburat merah di wajahnya.

                Setiap langkahnya untuk mendekat ke Taeyeon berhasil merebut semua sorotan mata yang ada. Kebanyakan dari mereka terheran-heran siapa yang baru saja menerobos masuk ke ruang meeting. Namun, kebanyakan dari mereka juga terpana akan aura tenang dan kecantikan yang melekat alami pada diri Tiffany.

                Decakan kagum tak sulit untuk di dengar saat dirinya sudah berada di hadapan Taeyeon.

                “Selamat siang, Direktur.”sapa Tiffany di selingi tawanya. Sementara orang di sekitar mereka tetap hening di tempatnya.

                “Yah. Fany-ah..”Kata Taeyeon dengan nada malu yang dapat di dengar jelas oleh istrinya.

                Sementara Tiffany hanya terkekeh melihat tingkah Taeyeon yang malu-malu seperti ini.

                “Wah! Bukankah anda model yang terkenal itu!?”seru pria berkemeja biru dengan antusiasnya.

                Tiffany berpaling. Dengan melihatnya saja, ia langsung mengetahui bahwa itu adalah salah satu bawahan Taeyeon yang mungkin mengetahui sedikit dunia permodelan. Atau mungkin juga dia suka membaca majalah seperti wanita. Atau bahkan menyaksikan fashion show. Tiffany tertawa menyadari bayangannya sendiri.

                “Hmm.. Aku tidak tau jika aku terkenal seperti yang kau bicarakan. Jong..in-sshi?”Jawab Tiffany tenang sembari berusaha membaca kartu nama yang tertera di sana.

                “Anda kan menjadi cover majalah dunia yang di rilis bulan lalu!”Sambar wanita berjas lainnyaa dengan nada tak kalah antusias. Ssmentara belasan pasang mata yang lain hanya mengikuti armosfir ini berjalan.

                “Wah benar-benar! Itu kan Tiffany Hwang!”lalu yang lainnya ikut berseru.

                Taeyeon diam-diam tersenyum sembari mengamati wajah istrinya. Dia terlihat sangat anggun dengan dress itu, juga polesan make up yang tidak begitu tebal semakin menambah pesona naturalnya. Dalam diamnya, Taeyeon juga merasa bangga mempunyai seorang istri yang di kenal banyak orang, terlepas dari statusnya sebagai seorang istri dari seorang direktur muda.

                “Jika di lihat langsung kau benar-benar cantik, Tiffany-sshi.”Puji salah satu karyawan pria berkemeja coklat itu,

                “Apa kau mempunyai kekasih? Lalu kenapa kau kemari?”tambahnya cepat. Membuat Tiffany lagi-lagi tertawa dengan pertanyaannya. Ini benar-benar lucu di temukannya ketika dirinya bahkan di kenali sebagai model. Bukan sebagai istri bos mereka.

                Ia penasaran jika bahkan ada orang lain yang bisa melihatnya sebagai seorang nyonya muda di perusahaan ini. Ia juga mulai mempertanyakan apa Taeyeon bahkan pernah membicarakan tentang dirinya di sekitar perusahaan.

                “Aku tersanjung dengan pujianmu, Jong Woo-sshi. Im sorry. But, your boss here has already taken me as her wife.”

                Jawaban Tiffany berhasil membuat semua orang di ruangan ini begitu terkejut. Beberapa mulai berbisik. Decakan tidak percaya dengan mudah di tangkap pendengarannya.

                Karna tidak mau berbasa-basi lagi. Lagipula, makanan yang di buatnya akan segera dingin jika tidak segera di santap.

                “You’ve made me waiting for too long, baby.”ujarnya dengan aksen Amerika yang begitu memikat. Tiffany lalu menatap manja Taeyeon. Taeyeon menyingkirkan beberapa helaian rambut yang mengahalangi wajah cantik istrinya. Ini untuk ke sejuta kalinya dia jatuh pada pesona yang menawan itu.

                “Mianhae. Kau seharusnya mengabari aku dulu tadi,”

                “Anni.. Aku ingin memberikanmu kejutan.”sanggah Tiffany. Sementara karyawan yang lain masih terdiam setelah mendengar fakta yang mengejutkan beberapa saat lalu. Mereka hanya seperti patung yang hidup sedang menyaksikan kedua burung muda di mabuk cinta itu.

                “Sekarang, ayo kita ke ruangamu. Aku membuatkanmu makan siang.”Ajak Tiffany sembari meraih satu punggung tangan gadis yang lebih tua.

                Sementara gadis itu hanya membalasnya dengan anggukan juga senyuman yang mengembang.

                Sebelum mereka sempat meninggalkan ruangan, Taeyeon kembali berpaling pada karyawannya yang tak bergeming dari tempat mereka.

                “Maaf sebelumnya belum sempat memperkenalkan kalian pada istriku.”Katanya dengan nada maaf yang lembut untuk di dengar.

                Senyuman liar terlukis di wajah Tiffany mendengar gadis berambut coklat madu itu berani untuk memperkenalkan dirinya sebagai istrinya.

                “Kim Tiffany-imnida. Senang bertemu kalian semua.”sambar Tiffany membungkuk singkat.

                “Omo. Senang bertemu dengan anda, Samunim.”Mereka membalas perkenalan singkat Tiffany dengan membungkuk agak lama dari istri bos besar itu.

                “Maaf karna ketidak sopanan kami sebelumnya, samunim.”

                “Ah, its okay.”

                “Kalian makan sianglah.”Sambar Taeyeon,

                “Ne, Direktur.”


 

                Mereka duduk berdampingam di atas sofa kulit seharga ratusan juta won itu. Senyum Tiffany melebar mengetahui Taeyeon akan segera mencicipi masakannya yang di buat dengan susah payah.

                Di hadapan Taeyeon kini sudah ada beberapa macam masakan korea yang terlihat sangat menggiurkan.

                “Cobalah ini. Aku merebus daginganya agak lama agar kau bisa mengunyahnya dengan mudah.”tukas Tiffany sembari menyumpit potongan kecil daging bulgogi.

                Lalu di arahkannya ke mulut Taeyeon. Gadis itu membuka rongga mulutnya untuk menyambut suapan istrinya. Mengunyahnya dengan lahap, membuat bagian sekitar Bibirnya terlihat sedikit berantakan karna bumbunya.

                Tiffany menemukan Taeyeon yang begitu imut dengan mulutnya yang sedang penuh untuk mengunyah masakannya. Dia menyingkirkan noda di sudut Bibir pasangannya dengan ibu jari, lalu terkekeh kecil.

                “Wah. Mashitta~”Puji Taeyeon setelah potongan daging itu dengan mudah melakui tenggorokannya. Ia tidak berbohong, masakan istrinya benar-benar lezat untuk ukuran pemula.

                Tiffany tersenyum girang mendengarnya. Ia berpikir untuk lebih sering membawakan Taeyeon makan siang seperti ini. Itu semua akan menyenangkan jika dia mendapatkan respon yang bagus dari gadis itu seperti sekarang.

                “Gomawo, Fany-ah..”Ucap Taeyeon pelan, lalu menatap dalam bola mata indah yang instrinya miliki.

                “Ini bukan apa-apa Taeyeon. Ini sudah tugasku sebagai istrimu, kan?”

                Taeyeon lalu tersenyum mendengarnya.

                Istriku..

                Sungguh indah untuk di katakannya dalam hati.

                “Kau sungguh sexy ketika berbicara di depan mereka tadi.”Itu membuat Taeyeon tersedak akan suapan lain yang baru saja mendarat di lidahnya.

                Tiffany segera memberi gadis itu segelas air lalu kembali tertawa kecil menyaksikan bagaimana pemalunya Taeyeon. Bahkan hanya dengan perkataan iseng yang sengaja di lontarkannya barusan.

                “Yah…”

                “Aigoo.. Anak ini.”Tambah Tiffany kembali membersihkan sekitar Bibir Taeyeon. Sementara hatinya merasa puas karna telajhsukses membuat Taeyeon salah tingkah berkali-kali.

                Sampai dia mengunci pandangannya bada Bibir merah muda yang Taeyeon memiliki. Itu sungguh membuat detak jangungnya berdetak tidak karuan hanya karna menatapnya.

                Detik selanjutnya Tiffany sudah mengecup Bibir itu lembut. Menahannya agar lebih lama disana. Taeyeon yang sempat terkejut ikut memejamkan matanya. Tubuhnya di tarik lebih erat kerika kedua tangan Tiffany berhasil menangkup lehernya.

                “Yah. Kim Taeyeon. Pastikan bibir ini, tidak mencium siapapun kecuali istrimu.”Katanya setelah melepaskan kecupannya. Lalu jari-jarinya mulai merasakan bagaimana lembutnya Bibir Taeyeon. Mengusap kecil dan pelan bagian bawahnya. Lalu mendongak untuk menemukan Taeyeon yang menatapnya penuh arti.

                “Aku bisa memastikanmu itu, Fany-ah.”Lalu Taeyeon menyatukan keningnya dengan Tiffany. Mereka berdua kembali tersenyum sebelum akhirnya Tiffany kembali menangkup lehernya dengan satu tangan, lalu menyatukan Bibir mereka lagi. Namun kali ini mereka menyelipkan lumatan manis dan lembut disana.


 

“Tap.. tap..” Suara langkah kaki itu hampir menggema di ruangan yang cukup sunyi untuk rumah sebesar istana ini. Ia terus merapatkan jaket tebal yang di kenakannya pada tubuh mungilnya. Melepas kunciran yang sedari tadi melekat di rambut panjang coklatnya. Sembari meraih ruangan dimana ia akan menghabiskan waktunya selama berjam-jam lamanya bahkan di hari libur, ia terus menyeruput kopi panasnya. Kopi yang cukup pahit untuk membuatnya terus terjaga. Bagaimanapun setiap hari libur seperti ini ia harus terus bermalam di kantor kecil didalam rumahnya itu.

Beberapa hari belakangan ia sungguh terlena oleh istirinya, membuat jam kerjanya berkurang. Sedikit lupa akan tanggung jawab yang begitu besar akan pekerjaannya. Maklum saja, sebagai orang paling penting diperusahaan tidak memberinya banyak waktu untuk bersantai. Hanya dua alasan utama mengapa ia tidak pernah menyerah menjalankan ini, mengapa ia tidak menyerah ketika ia tidak menghabiskan waktu liburnya untuk beristirahat atau sekedar membaringkan tubuhnya berlamalama di sofa yang nyaman, yaitu, membuat orang tuanya bangga, dan untuk Tiffany.

Taeyeon merasa bahwa isterinya itu adalah tanggung jawabnya. Untuk setiap hari memberinya makanan yang lezat, pakaian branded, bermacam label berlian, banyak merk tas, dan makan malam fancy, Taeyeon merasa bahwa isterinya berhak mendapatkan itu semua darinya, walaupun jika tidak ada dirinya isterinya itu mampu memberikan itu semua untuk dirinya sendiri, namun tetap saja, Taeyeon akan terus memperlakukan isterinya itu bagaikan seorang putri kerajaan. Dan ia akan selalu menjadi kesatria yang akan melakukan apapun demi kebahagiaan sang putri. Ia begitu mencintai putri itu, bahkan ia rela jika harus membiarkan isterinya itu dengan seseorang yang dapat membuatnya bahagia.

Pepatah yang mengatkan jika manusia sangat mencintai seseorang, ia akan merasa bahagia ketika melihat orang yang dicintai mereka bahagia, meskipun mereka bukanlah alasan mengapa orang itu bahagia. Itu semua benar, menurut Taeyeon. itu bukanlah dongeng semata, ia sempat menemukan dirinya merasa sakit yang terus berulang mengetahui ketika Isterinya begitu bahagia dengan orang lain bahkan ketika dirinya telah resmi menjadi pasangannya. Ia akan terus mengutuk dirinya sendiri karena tidak mampu menjaganya, menjadi alasan dibalik senyuma itu seharian tetapi ia akan menemukan dirinya tersenyum di celah rasa sakit itu, sungguh, senyum Tiffany adalah segalanya untuknya.

Gagang pintu itu terasa begitu dingin, bahkan hingga menusuk tulangnya. Ia mengambil nafas berat, berjalan kearah pemutar music, diputarnya tombol hitam kecil itu tanpa untuk merendahkan volume suara, takut-takut isterinya akan terbangun. Jarak kantor pribadi Taeyeon dengan kamarnya memang tidak begitu jauh, hanya berbeda 2 ruangan, namun tidak ada salahnya bukan untuk berjaga-jaga. Ia melangkahkan kakinya pada kursi itu, meletakkan tubuhnya, mencari posisi senyaman mungkin untuk empat jam berikutnya.

Dibuka kembali layar yang cukup lebar itu, menyipitkan matanya ketika cahaya dari layar itu menghantam tepat wajahnya. Angka dan tulisan yang sudah tidak karuan itu kembali muncul di pandangannya. Heol. Gambaran itu selalu muncul, pria brengsek yang akhir-akhir ini ia tidak tahu kabarnya, pria yang tidak lain adalah kekasih isterinya. Tiffany tidak pernah ingin membicarakan pria itu padanya, tiap kali ia mengangkat pembicaraan hanya keheningan yang didapatnya mau tidak mau ia harus mengganti topic pembicaraan agar Tiffany merasa nyaman. Namun perasaan takut itu selalu datang entah kapanpun dimanapun, ia sungguh takut Tiffany miliknya yang akhir akhir ini membuatnya sangat bahagia akan hilang entah kemana, lagi. Walaupun ia sungguh akan melakukan apapun demi kebahagiaan Tiffany, tentu saja ada rasa tak ingin melepaskan Tiffany didalam dirinya, tidak pada pria itu.

Bahkan dirinya sendiri tidak begitu yakin bagaimana perasaan Tiffany terhadapnya, kadang ia menemukan dirinya sendiri diruangan yang sama, mencari-cari alasan mengapa Tiffany bersikap seperti ini, akankah ini hanya berjalan sementara dan semata-mata perasaan bersalah Tiffany, atau Tiffany benar benar peduli terhadapnya? Ia sungguh takut akan jawabannya, dilain sisi ia sangat ingin mengetahuinya. Namun terkadang ia akan lupa dengan itu semua, bagaimana Tiffany memperlakukannya, itu sungguh sungguh terasa seperti surga.

Setiap pagi, malaikat yang menawan itu akan membangunkannya perlahan, mencium keningnya perlahan, senyum itu akan muncul di peredaran wajahnya dan akan menyapanya untuk mengawali hari. Ia akan menyiapkan pakaian Taeyeon lebih detail, seperti rok dan blazer harus match satu sama lain, juga dengan sepatu, gelang, jam dan aksesoris lainnya, agar lebih fashion, katanya. Itulah problematika mempunyai istri seorang super model bukan?. Tak sampai disitu, Tiffany yang akhir-akhir ini mengisi waktu luangnya untuk belajar memasak, membuatkan Taeyeon sarapan yang lezat, mengantar Taeyeon sampai mobil lalu mengecup bibirnya. Belum lagi ketika Taeyeon pulang disambut hangat oleh isterinya, ia begitu tersanjung.

Don’t do that.”

Taeyeon terenyah. Jantung itu sekali lagi berdebar tidak karuan tiap kali mendengar suara yang begitu di kenalnya. Ia menoleh, mendapatkan wajah isterinya yang sedikit menahan kantuk, sesekali mengusap matanya yang ia yakin tidak gatal itu, mungkin hanya untuk menjaganya agar terjaga. Taeyeon memberikan senyumnya yang paling hangat itu pada isterinya. Memperhatikan bagaimana isterinya itu bahkan sangat menawan tanpa make-up sedikitpun, bagaimana rambut hitamnya terurai kebelakang, mata yang sedikit sayu namun tetap memancarkan cahaya indahnya, pantulan lampu yang redup pada bibir isterinya itu, dan tubuh yang begitu indah dengan kaki yang jenjang yang diperlihatkan hanya untuk Taeyeon, senyumnya semakin melebar ketika ia menyadari bahwa kesempurnaan itu miliknya. Yang ia yakin.

Do what, Tiffany?” Tiffany terkekeh mendengar pertanyaan itu, ia menghampiri Taeyeon yang masih terduduk, mengambil sesuatu lalu mengarahkannya pada pendingin ruangan.

This. It’s freezing here, dan kau mengatur pendingin ruangannya sangat rendah.” Taeyeon terkekeh setelah menyadarinya, mengingat sudah berkali-kali isterinya itu selalu memperingatkannya untuk tidak mengatur pendingin ruangan di angka paling rendah, belum lagi cuaca dingin yang sedang melanda Seoul.

“Sampai kapan kau akan meminum kopi? Itu tidak baik untuk kesahatanmu Taeyeon-ah.” Taeyeon lagi lagi tertawa kecil, hanya dengan hal sekecil itupun dapat membuat hatinya berdebar tak karuan. Ia bangkit dari tempat duduknya, menghampiri isterinnya yang baru saja mengaduk cokelat panas yang di buatnya sedetik yang lalu pada sudut ruangan, memutar tubuh Tiffany menghadapnya, merengkuh tubuh itu perlahan. Merasakan aroma khas Tiffany, ia tidak tahu bahwa senyum tipis tergambar di wajah isterinya itu ketika ia memeluknya.

It’s okay Tiffany. Terakhir kali aku keluar kamar, kau sudah terlelap di sampingku, lalu sekarang kenapa kau belum juga tidur?”

Tiffany perlahan melepaskan tubuh itu, ia memasang wajah masam mencibir juga mendesah kecil,

You haven’t kissed me yet.”

Sekali lagi Taeyeon tidak dapat merasakan denyut jantungnya, lagi lagi seorang Tiffany Hwang mampu membuatnya merasa begitu terbang jauh entah kemana, memperhatikan setiap jengkal wajah isterinya itu, begitu menawan dan cute secara bersamaan. Ia bahkan sudah mengecup bibir itu sebelum Tiffany tertidur, bahkan ketika isterinya itu masih tersadar pasalnya Tiffany sendiri yang memintanya.

You’re so cute, Fany-ah.”

Mendengar itu membuat Tiffany terkekeh, ia begitu menyukai setiap detiknya ketika Taeyeon melemparkan beribu pujian untuknya, ketika Taeyeon membuatnya merasa ialah satu-satunya gadis di dunia yang begitu beruntung karena ia adalah Tiffany. Ketika Taeyeon membuatnya merasa satusatunya yang spesial didunia. Ketika Taeyeon memperlakukannya bak seorang ratu. Ketika Taeyeon mengecup setiap inci wajah ataupun tubuhnya. Ketika Taeyeon memberi saran dan memilihkan heels mana yang cocok untuknya di pakai pada moment tertentu. Ketika Taeyeon merengkuh tubuhnya kapanpun ketika ia merasa dunia sedang menentangnya. Semua yang di lakukan Taeyeon untuknya sungguh membuatnya merasa special.

Drink this, Taeyeon-ah. To keep you warm, okay?” Tiffany membalikkan tubuhnya, memberikan gelas imut itu padanya lalu mengecup singkat bibir manis itu.

Arasseo. Sebaiknya kau tidur, Fany-ah, ini sudah terlalu larut. Aku tidak ingin kau sakit karena terlalu kurang istirahat.” Lagi lagi Tiffany terkekeh.

“Kau aneh Taeyeon-ah. Bisakah kau melihat dirimu sendiri? Kau terlalu banyak bekerja akhir akhir ini. Aku khawatir jika kau terus seperti ini tidak lama lagi kau akan sakit. Kau harusnya lebih banyak beristirahat, jadwalmu dikantor saja sudah cukup melelahkan.”

“I wish I can, Fany-ah. But it’s okay, I’m really fine though. You don’t have to worry, okay?”

How? It’s almost nine hours you’ve been here. And it’s just took 10 minutes for you to spent with me today. Even you just stay a few minutes beside me tonight, and it’s because I asked you to. What if I don’t ask you to give me a peck for me to sleep? You won’t  be with me even just a few seconds today.”

Taeyeon merengkuh tubuh yang begitu hangat itu lagi. Detik kemudian ia merasasakan sepasang lengan yang melilit di lehernya, memberinya kehangatan lebih dalam. Mencerna kembali perkataan Tiffany, merasa begitu menyesal setelah mengingatnya. Benar, seharian Taeyeon begitu sibuk dengan pekerjaannya, dan hanya tadi ia dapat bertemu Tiffany, bahkan itu karena Tiffany yang memintanya untuk menemaninya tidur, meminta satu kecupan pengantar tidur lalu tidak lama sosok itu kembali hilang di ambang pintu kamar.

I’m sorry, Fany-ah. I’m so sorry..”

Tiffany lagi –lagi terkekeh, Taeyeon baginya sangatlah berharga.

Hey, it’s okay. Kau melakukan ini semua juga untukku, kan?” rupanya candaan itu sedikit berhasil membuat Taeyeon tertawa kecil.

Yes, it’s all for you, Tiffany Hwang. My one and only pink psycho freaky beautiful all gorgeous wife.”

Kedua insang itu terkekeh, sekali lagi Tiffany mengecup bibir manis itu dengan miliknya,

Dork.

“Your dork.”

Yes, my one and only dork.”

Taeyeon lagi lagi tertawa kecil mendengar itu, tiap kali Tiffany mengucapkan katakata bahwa dirinya adalah milik Tiffany, mampu membuatnya merasakan bahwa jantungnya tidak berdetak.

“Kadang aku begitu kesal ketika mengingat kau harus bekerja seperti ini.”

“Ah.. Wae?”

Cause you don’t have enough time for me.”

I’m sorry, Dear. I’ll try my best next time, okay?”

“Noo…. Taeyeon-ah, kadang juga aku berharap kau akan berhenti dari pekerjaanmu.”

“What!? Haha, it’s impossible. Jika aku berhenti, aku harus memberimu makan apa?”

“Kau terlalu berlebihan, bahkan jika kau berhenti kita masih bisa hidup. Aku bisa menghidupimu, Taeyeon-ah. Aku masih bisa memberimu makan, memberikanmu banyak hal yang layak kau dapa—“

Sssh-sshh. It’s not gonna happen, okay? Maafkan aku jika kau merasa akhir-akhir ini aku mengabaikan mu, okay? Aku tidak akan mengulanginya lagi. Dan sekali lagi, you’re so special to me Fany-ah. And I want give all the best of me for you. Okay?”

Tiffany hanya dapat tersenyum mendengar perkataan Taeyeon. tidak bisa di pungkiri bahwa sosok dihadapannya mampu membuatnya tersanjung berulang kembali, bahkan hanya dengan hal hal kecil pun.

“Fany-ah, hari ini aku menemukan diriku sendiri tersenyum tanpa alasan, seperti orang gila persisnya, tetapi lalu aku tersadar, bahwa aku sedang memikirkanmu.”

Tiffany tidak habis pikir bahwa beberapa waktu yang lalu ia pernah menyakiti sosok yang sangat lembut ini, malaikat seperti Taeyeon. ia juga tidak habis pikir bahwa ia pernah menghiraukan sosok yang sangat peduli padanya ini, seorang wanita sempurna yang sangat berharga.

You’re so.. precious Taeyeon-ah. I’m so lucky to have you.” Tiffany menangkup wajah itu dengan kedua tangannya, memperhatikan kedua bola mata hitam yang indah itu, mendapatkan senyuman Taeyeon yang mampu membuatnya Manahan nafasnya karena senyum yang sangat menawan itu. tidak ingin melewatkan setiap detik untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu.

So do you, my Angel, so do you.”

Taeyeon sekali lagi memotret bibir itu dengan miliknya, menyatukan nafas Tiffany dengan miliknya. Merasakan manis bibir Tiffany ketika menyentuh miliknya. Menikmati keindahan pemandangan ketika Tiffany mulai memejamkan matanya, disusul dengan miliknya. Merasakan hangat nafas Tiffany melawan kulitnya. Merasakan tangan Tiffany yang menarik wajahnya lebih dalam, seperti mengetahui bagaimana ini akan berlanjut,..

Let’s stop here. Aku tahu bagaimana kelanjutannya, and I won’t ever stop if we stay like this a little longer..

Tiffany terkekeh,

“Fany-ah, just go to bed. You better have a nice rest, okay? I know you have a schedule tomorrow. And I don’t want you to get sick.”

Let’s sleep together.”

No I can’t. I still have some work to do.”

“Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu besok, please?”

“I’m sorry, Fany-ah, jika aku tidak menyelesaikannya malam ini aku tidak akan memilki waktu bersamamu besok, please let me finish this first okay? Aku akan menyusulmu.”

But I can’t sleep..”

                “Just close your eyes and put your blanket on, okay?”

                “I can’t Taetae. I’ve tried.”

                “Yes you can. Just try again once, okay?”

                “I can’t Taetae. I swear.”

                “Of course you can, now go to our room and close your eyes slowly, okay?”

                “Fine.”

Taeyeon terkekeh melihat isterinya yang melepaskan pelukannya dan melaluinya begitu saja dengan begitu dingin, kini ia mengerti bagaimana situasi yang di hadapinya, ia sungguh menegerti ketika isterinya itu tidak begitu menyukai sesuatu yang dipaksakan, tidak terkecuali darinya. Untuknya, Tiffany sangatlah lucu tiap kali ia merasa kesal hanya karena hal-hal kecil, meskipun pada akhirnya dirinya sendiri lah yang harus meminta maaf pada Tiffany, namun detik kemudian mereka akan kembali menjadi pasangan yang begitu romantic, seperti tidak ada yang terjadi.

Taeyeon berjalanperlahan kearah pintu, meraih remote control itu, mematikan pendingin ruangan dan “Click” mematikan lampu ruangan kerja yang sangat ia jaga itu. sekali lagi ia tak akan membiarkan Tiffany tertidur dengan perasaan gelisah ataupun kesal, Tiffany layak untuk beristirahat dengan tenang dan tidak ada pikiran yang menganggunya. Dan Taeyeon akan melakukan apapun untuknya.

Ia memperhatikan figure yang berbaring dan memunggunnginya itu. senyum tipis tergurat dibibirnya. Ia perlahan mendekat. Membawa tubuhnya pada tempat tidur ini, menarik perlahan selimut itu takut-takut akan membangunkan figure ang mungkin sudah tertidur itu, mendekatkan dirinya lebih dekat, sangat dekat dengan figure itu, merengkuh punggung figure yang tertidur itu perlahan. Ia tidak mengetahui bahwa sosok itu sama sekali belum tertidur, ia masih terjaga, tanpa di ketahuinya figure itu tersenyum puas, Taeyeon benar benar tidak akan membiarkannya kealam mimpi dengan perasaan yang tidak begitu menjajikan itu, itu mengapa menjadikan Taeyeon sangat spesial untuknya.

Detik kemudian Tiffany membalikkan tubuhnya secepat kilat. Kini wajahnya tepat berada dibawah dagu milik Taeyeon, masih tersenyum puas. Mengeratkan lingkaran lengannya pada pinggang Taeyeon. detik kemudian Taeyeon mengecup keningnya perlahan, menahannya lebih lama lalu melepaskannya, mengecup hidung, kedua mata, lalu bibirnya singkat. Membuat berjuta-juta kupu-kupu terbangun dari tidurnya didalam perutnya.

“Goodnight, Fany-ah.”

                “Goodnight.”

                “I love you, my Angel.”

                “I love you too, Taeyeon-ah.”


                Awalnya kedua gadis muda yang sedang di mabuk cinta itu berencana menghabiskan hari ini hanya dengan di rumah. Bermalas-malasan di atas tempat tidur, atau mungkin bangun siang di dalam dekapan masing-masing.

                Menikmati waktu senggang yang mereka punya untuk merasakan kehangatan masing-masing. Setiap detiknya begitu nyaman untuk dilewati mereka.

                Tapi itu semua rasanya tidak bisa di lakukan untuk hari ini. Tidak sampai orangtua mereka mengabari bahwa akan ada kunjungan di hari ini. Keduanya dengan malas bersiap-siap untuk menyambut orang tua mereka. Taeyeon dan Tiffany sebenarnya sedang tidak mood bertemu dengan siapa-siapa terlepas dari mereka berdua. Waktu intim mereka sangat langka. bahkan untuk hari ini orang tua mereka telah merecokinya lebih dulu.

                “Nah.. Baru kau masukan seladanya sekarang.”

                Tiffany hanya mengangguk malas sembari memainkan jarinya di atas counter. Memutar bola matanya sesekali mendengar perintah ibunda.

                “Kau ini, begini saja kau tidak bisa. Bagaimana kau mengurus Taeyeon?”Komen ibunya kali ini berhasil membuatnya berpaling.

                “Ey.. Jangan seperti itu Anne pada anakmu. Aku sudah cukup bangga mempunyai menantu sebagai model yang pintar memasak.”

                “Dengarlah. Bahkan Umma saja memujiku.”

                “Pintar? Huh. Itu menurutmu saja, Song.”

                “Mom!”Kali ini ibunya sedikit membuatnya jengah. Baginya sesi masak kecil bersama mertua dan ibundanya berjalan dengan mulus. Tidak sampai ibunya menangkap basah kemampuannya yang tidak seberapa dalam memasak.

                “Apa kau bahkan merawat Taeyeon dengan baik?”

                “Of course, mom!”

                Sementara ibu mertuanya hanya terkekeh menyaksikan apa yang sedang sahabatnya lakukan pada anaknya sendiri.

                “Ya.. Mungkin aku tidak mahir memasak. Bahkan Taeyeon saja menerimaku yang seperti ini. Kenapa jadi Mom yang meragukanku!”Ibunya menggeleng pelan ssmbadi terus bergulat dengan spatula yang di genggamnya.

                “Aigoo. Tentu saja karna  aku mengharapkan anakku menjadi istri yang baik dan pintar memasak.”

                “So. What’s up with Taeyeon, honey?”

                Tiffany mengangkat satu alisnya,

                “What’s up with her?”Tidak mengerti apa yang sedang ibunya bicarakan.

                “Maksudku, bagaimana sikapnya padamu?”

                Tiffany menyempatkan untuk tersenyum. Memikirkan jawaban apa yang akan di berikan pada ibunya. Terlebih lagi, mertua yang juga sedang mendengarkan percakapan mereka. Belumlagi, bayangan Taeyeon yang muncul di kepalanya, sangatlah sempurna dan hampir tidak bisa di sampaikan dengan kata-kata.

                “She’s too perfect mom. Dia penyayang, pekerja keras dan perhatian. Maksudku, dengan segala sifatnya yang terbilang sempurna. Aku benar-benar tidak bisa menjelaskannya.”

                Jawaban itu membuat ibu mertuanya menyunggingkan senyumnya. Dia senang mengetahui anak kebanggaanya menjadi seseorang yang berarti untuk istrinya.

                “Aw..”Ujar ibunya sekali lagi, sementara sang mertua hanya mengusap lembut rambut menantunya karna telah memberikan jawaban yang memuaskan.

                “How was business?”Pria  paruh baya itu melontarkan pertanyaan pada anak putrinya yang baru saja duduk di seberangnya.

                “Not bad, Appa. Hanya ada beberapa masalah di system pembayaran perusahaan kita. Juga, pesaingan bisnis yang semakin kuat di negeri ini, membuatku benar-benar kewalahan untuk mengatasinya.”

                Ayahnya lalu tersenyum kecut, dia tidak percaya bahwa perusahan keluarga ini sudah di kuasai oleh buah hatinya sendiri. rasa bangga yang membuncah tak dapat di sembunyikannya saat melihat Taeyeon dengan penuh tanggung jawabnya menjalankan bisnis keluarga ini.

                “Aku rasa menjadikanmu sebagai menantuku bukan pilihan yang salah.”Sambar Ayah mertuanya sesekali menyeruput tehnya. Sementara Taeyeon hanya bisa menyembunyikan rasa malu-malunya lewat bungkukan singkatnya.

                “Terimakasih, Dad.”Katanya singkat,

                “Sebenarnya, Taeyeon. Kami kesini Bukan hanya ingin menanyakan kabarmu dengan Tiffany. Karna kami yakin kau dapat menjaganya dengan baik. “

                “Kami sudah membicarakan tentang ini. dan sudah memutuskan sesuatu.”

                Taeyeon di buat heran juga penasaran akan pernyataan ayah mertuanya barusan.

                “Ada apa, Dad? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

Ada jeda sebelum ayah mertuanya kembali

                “Apa kau dan Tiffany bersedia untuk mengadopsi seorang anak?”

                Taeyeon terdiam. Seraya memasang raut terkejutnya kali ini.

                “Ayolah Taeyeon. Pikirkan lagi, kami sangat ingin mendengar cucu kami tertawa, menangis. Jadi kami juga bisa menggendongnya.”Sambar ayahnya kali ini.

                “Lagi pula, rumah tangga kalian telah berjalan dengan baik. Tidak ada salahnya jika merawat seorang anak di rumah ini.”Ayahnya kembali meyakinkannya.

                “WHAT!!!?”

                Sosok Tiffany lalu mengayunkan kakinya mendekat. Di ikuti oleh dua wanita paruh baya di belakangnya yang sedang terkekeh menyaksikan reaksi pasanganitu.

               “Appa, apa kau yakin?”

               Ayah mertuanya lalu mengangkat satu alisnya, itu pertanyaan yang aneh. Karna dirinya tau, bahwa kedua pasangan itu memang sudah siap untuk memulai lagi hidup bersama dengan seorang sosok anak.

               “Tentu saja, Miyoung.”

               Sementara dia kembali melirik anaknya yang hanya bisa terdiam dengan raut wajah yang khawatir.

               “Tapi, Appa. Kita berdua akan sangat sibuk nantinya, kalian tau Taeyeon sedang berusaha untuk mengembalikan bisnis kembali stabil.”

               “Bukan karena kami tidak suka dengan ide kalian. Percayalah, aku sendiri juga menginginkan itu.”

               Lalu Tiffany berpaling untuk menemukan Taeyeon yang membisu dalam diamnya,

               “Taeyeon juga pasti sama denganku,”

               “Tetapi aku rasa keadaan memang agak sulit.”

               Orang tua mereka hanya mendengarkan beberapa penjelasan dari wanita itu sembari sesekali menggangguk. Tapi Tiffany menangkap ketidak setujuan  pada pendapatnya di bawah pengawasan mereka. Lalu dia kembali melirik Taeyeon. Memberikan gadis itu raut wajahnya yang khawatir. Menaikkan kedua alisnya seolah memberikan tanda bahwa dia butuh pertolongan. Dengan diamnya Taeyeon memang sama sekali tidak membantunya.

               Taeyeon lalu mengangguk mengerti, dia sempat memejamkan matanya sebelum akhirnya kembali menatap istri juga orangtuanya.

               “Aku rasa tidak ada salahnya jika kita mencobanya. Lagi pula rumah ini terlalu besar untuk kita berdua. Aku yakin, bahwa kami bisa merawatnya dengan baik.”


 

Anak itu tampak begitu lucu dengan pakaian pink dan putih yang di kenakannya, dengan mata terpejam sesekali terbuka. Gadis itu tampak begitu bahagia memperhatikan sang buah hati yang terlihat begitu mengantuk sehabis menghabiskan semangkuk bubur lembutnya. Sesekali ia menghirup aroma khas yang melekat pada bayinya itu, hatinya begitu berdebar debar hanya dengan membayangkan istrinya dengan lembut menyentuh kulit halus makhluk kecil ini, meskipun istrinya terlihat tidak begitu peduli pada anaknya, namun istrinya itu tetap menjalani tugasnya, entah mengapa hanya dengan itu Taeyeon merasa cukup, ia sungguh mengerti. keharuman itu masih bertahan sejak pagi setelah anaknya itu dimandikan oleh istrinya, tentunya pakaian itu sudah pasti pilihan Tiffany.

“Taeyeon-ah, aku berangk-“

Taeyeon menoleh, mendapatkan isterinya yang sedang memperhatikannya dari balik pintu, ia bangkit perlahan menghampiri Tiffany yang masih mengeratkan gagang pintu itu.

“Baiklah, berhati-hatilah Fany-ah, stay with your phone, I’ll call you very often, okay?” Taeyeon mengecup kening itu lembut, membuat Tiffany sekali lagi tersenyum.

“Dua tahun waktu yang begitu lama untukku.” Ujar Taeyeon pelan, takut-takut isterinya akan mendengarnya, sungguh ia tidak merelakan Tiffany menjalankan profesinya dengan jarak yang begitu jauh di antara mereka, belum lagi harus membiarkan isterinya itu dijaga oleh sang mantan kekasihnya itu.

“I know. But I’ll come back soon, I’ll visit you Taeyeon, I promise”

“Tidak bisakah dipercepat? Kau meninggalkan ku dengan hana waktu yang cukup lama.”

“Maafkan aku, tapi aku sudah memberitahu Mom untuk sering mengunjungimu, ia akan membantumu menjaga Hana, okay?”

Taeyeon mengangguk perlahan, menarik senyumnya kecil, ia akan sangat merindukannya, sangat sangat merindukannya. Merindukan bagaimana ketika pagi menjelang ia akan memperhatikan rupa yang sungguh menawan yang masih terlelap di sampingnya, ia akan merindukan malam malam yang mereka habiskan bersama, ia akan merindukan bagaimana Tiffany merengkuh tubuhnya dari belakang kapan saja ketika ia sedang menyiapkan makan malam, ia akan merindukan bagaimana Tiffany ketika ia merengek padanya untuk mengajaknya keluar rumah menghabiskan waktu bersama daripada dirinya yang menghabiskan waktunya di dalam kantor kecilnya. Ia akan merindukan bagaimana Tiffany tiap detiknya akan mengiriminya pesan-pesan lucu, romantis juga rengekan padanya tiap di hari kerja. Ia akan merindukan bagaimana Tiffany menelfon dan mengatakan bahwa ia begitu merindukannya dan memintanya untuk pulang lebih cepat. Ia akan merindukan bagaimana ia memperhatikan Tiffany selalu bersusah payah didapur hanya untuk membuatkannya makanan ketika ia merasa lapar dan terlalu lelah untuk menggerakan tubuhnya.

Ia akan merindukan sentuhan lembut sosok itu setiap harinya. Membayangkan dirinya tanpa sosok Tiffany disisinya, membuatnya begitu berat hati, merasa yakin ia tidak akan menutup harinya dengan senyuman, menahan kerinduan yang menggunduk besar di ulu hatinya.

“Berjanjilah kau akan selalu menghubungiku.”

“Aku akan menghubungimu setiap malam, okay?”

“Promise me.”

“I promise Taeyeon. Now stop being childish, you’re a grown up woman.”

Taeyeon terkekeh ketika sosok itu merengkuh kembali tubuhnya, sekali lagi mencoba menikmati kenikmatannya untuk terakhir kali dalam dua tahun kedepan. Mencoba mengapresiasikan setiap detiknya dengan Tiffany saat ini, ia sungguh tidak siap untuk itu.

“Apa kau ingin menemui Hana sebelum berangkat?” Tiffany menggeleng pelan, ia tidak begitu tertarik sejak kepindahan buah hati yang begitu lembut itu dengannya dan Taeyeon. namun ia sungguh sadar akan dirinya yang memiliki tanggung jawab untuknya dan ia tidak akan mengecewakan Taeyeon untuk yang kesekian kalinya.

“Sudah tidak ada waktu, aku akan menemuimu dan Hana sesering mungkin, okay?”

“Baiklah, tetapi apa benar aku tidak dapat mengantarmu ke bandara? Aku khawatir, kau akan baik – baik saja bukan?”

“Tidak perlu Taeyeon, kau harus mejaga Hana untukku. Aku percaya padamu, lagipula ada Donghae-Oppa yang menjagaku disana, kau tidak perlu khawatir.”

“Donghae-oppa ya..”

“Hey don’t be jealous, I’ve told you like thousand times that I already broke up with him, right? He’s just a friend now.”

                “Yes, I know. I love you Tiffany.”

Tiffany menarik senyum tulusnya itu, sekali lagi merengkuh tubuh mungil itu sangat erat, sangat sangat erat. Andai saja profesi tidak menuntutnya untuk melakukan ini, ia tidak akan rela meninggalkan Taeyeon untuk dua tahun lamanya, andai saja ia tidak begitu mencitai pekerjaannya lebih dari seorang malaikat seperti Taeyeon, namun sungguh di sayangakan kenyataannya tidak seperti yang orang-orang bayangkan.

“I know Taeyeon, I know.”

Kecupan dengan seluruh cinta yang dimiliki Tiffany untuk Taeyeon mendarat begitu sempurna.


 

Taeyeon menyeruput cokelat panasnya, sesekali berusaha mengingat bagaimana rasanya dengan cokelat panas buatan Tiffany, begitu berusaha mencari perbedaannya, karena cokelat panas ini benar benar terasa berbeda dengan buata sosok itu. sosok yang kembali menjadi sosok yang paling dingin, membuat raganya terus jatuh berulang kali dalam dua tahun terakhir ini. Entah apa yang begitu beda, yang jelas ia tidak bisa mengingatnya, cokelat panas tidak menjadi favoritnya sejak saat itu. Perasaan yang membuatnya hangat pada minuman itu entah mengapa tidak berfungsi lagi. Seakan akan itu hilang seiring ia lupa bagaimana rasa sebenarnya.

“Mom tidak habis pikir dengan anak kandung Mom sendiri, ia bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun untukmu!” Wanita paruh baya itu terus berjalan kedepan kebelakang, dengan ponsel yang berada di telinganya tidak hentihentinya menunuggu respon dari sebrang.

“Mom, gwenchana. Mungkin Tiffany begitu sibuk.”

“Tetap saja kau adalah isterinya Taeyeon-ah! Tidak peduli bagaimana sibuknya ia, ia tidak akan melewatkan ulang tahunmu! Aku seharusnya tidak memberinya izin ke amerika meninggalkanmu!”

“Gwenchana, aku bisa mengerti pekerjaan Tiffany, Mom.”

“Apa yang akan ku katakan pada Eomma-mu jika ia memiliki menantu yang seperti ini?”

“Jangan beritahukan pada Eomma, ia tidak akan senang dengan hal itu.”

“Tentu saja ia tidak akan senang akan hal itu! aku sudah berjanji pada Eomma-mu Taeyeon-ah bahwa anaknya di tangan yang tepat! Now look at your wife, ck.”

Taeyeon mengambil ponselnya, senyum tipis tergurat dibibirnya ketika nama itu akhirnya untuk sekian lama muncul dilayar depan poselnya.

‘Jangan hiraukan Mom, Fany-ah. Aku akan mengurusnya. Take care.’

                ‘Baiklah, thanks Taeyeon. happy birthday. Aku akan kembali ke Korea 1 bulan kedepan.            ’

                ‘Aku akan menunggumu Fany-ah, sampai kapanpun.’

Dengan itu air matanya yang begitu bening lolos. Ia benar benar merindukan Tiffany, ia sungguh merindukan sosok malaikat yang selalu mengantarnya tidur dengan senandungan dan kehangatan yang diberikannya,

Ia begitu merindukan sosok yang selalu mengirim gambar akan dirinya sendiri yang sedang terbaring dengan senyum yang lucu dengan tulisan “I miss you, Taengoo-ya..”dibawahnya setiap malam, membuat Taeyeon terkekeh akan itu.

Ia begitu merindukan Tiffany yang setiap detik memanggilnya lewat ponsel, tidak peduli pada situasi apapun Taeyeon dengan senang hati akan mengangkatnya, meskiun terkadang Tiffany lupa bahwa perbedaan waktu mereka begitu jauh, meskipun Tiffany kadang begitu lupa ketika ia menelfon Taeyeon karena kerinduannya di jam jam Taeyeon sedang menikmati istirahatnya setelah seharian sungguh letih akan pekerjaan kantor, namun Taeyeon tetaplah Taeyeon yang begitu mencintai sosok itu, ia tidak menjadikan dirinya selalu berusaha terbangun tengah malam hingga pagi untuk menemani isterinya yang merindukannya menjadi masalah, sebaliknya ia merasa senang akan hal itu, seakan-akan   ia kehilangan rasa yang begitu letihnya, seakan akan ia lupa bahwa ia akan menghadapi kenyataan keesokan harinya.

Ia begitu merindukan sosok yang setiap waktu bertanya apakah ia sudah menjalani jam makan yang teratur, apakah ia sudah memakan makanan siang nya, apakah ia sudah menenggak vitamin di pagi harinya? Apa ia tetap menjaga kadar gula pada cokelat panasnya, ia begitu merindukan sosok itu.

Ia begitu merindukannya, sangat sangat merindukannya hingga ia kadang merasa ingin mati untuk itu.

Gadis itu benarbenar telah berubah setelah tiga bulan sejak kepergiannya ke negeri paman sam untuk menjalani profesi yang begitu dicintainya. Suatu hari ia menemukan dirinya sendiri termenung, menunggu balasan pesan yang sudah seminggu tidak ia dapat, menunggu kabar dari seorang isteri yang begitu ia cintai, membuat matanya berulang kali bengkak karena menangisi keadaannya yang tidak dapat melakukan apa apa akan hal itu.

Tiffany telah berubah, semua telah berubah. Ia tidak lagi mendapatkan puluhan pesan ketika ia terbangun dari tempat tidurnya hanya untuk memastikan dirinya baik baik saja dari Tiffany. Ia tidak lagi harus mengangkat telfon di tengah malam di jam tidurnya. Ia tidak lagi memberikan senyuman pada semua orang diharinya, bahkan pada orang orang terdekatnya. Ia tidak lagi menjadi Taeyeon yang selalu riang dan bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya hanya demi memiliki waktu luang untuk setidaknya bercengkrama dengan isterinya lewat selular. Ia tidak lagi menjadi Taeyeon yang senantiasa menunggu balasan pesan dari Tiffany, karena sungguh, ia tahu itu tidak akan pernah sampai.

Entah berapa kali sudah ia harus membohongi orang tua dan mertuanya tentang kabar dirinya yang jauh akan Tiffany, entah berapa kali sudah ia mengatakan ia dan anaknya baik baik saja, entah berapa kali sudah ia mengatakan Tiffany memperlakukannya dengan sangat baik, tidak sampai wanita paruh baya yang tidak lain ibu kandung dari Tiffany sendiri menemukan dengan sendirinya bahwa menantu kesayangannya terlihat tidak begitu cerita dan beberapa kali jatuh sakit karena dirinya kurang istirahat, memaksa menantunya itu untuk menceritakan dengan sejujurnya keadaan yang sebenarnya.

Kadang ia mendapatkan dirinya sendiri memperhatikan buah hatinya yang terlelap, mengingatkannya akan isterinya, mata yang dimiliki anak yang begitu ia cintai itu begitu mirip dengan Tiffany, walaupun anak itu bukan anak kandung dari mereka, namun Taeyeon begitu menyayanginya, ialah salah satu dari kedua alasan mengapa Taeyeon masih bertahan, tentu cintanya untuk Tiffany mampu membuatnya tetap tersenyum dihadapan Hana yang menangis yang terkadang Taeyeon tidak tahu menahu alasan di balik tangisan itu, sampai sampai kadang ia percaya jika Hana menangis karena merindukan Momnya dan bukan karena lapar atau merasa tidak nyaman.

Taeyeon selalu rutin mengirim gambar Hana kecil dipagi hari, ketika ia selesai memandikannya dan memakaikannya baju-baju yang di pilihkan Tiffany untuk anak mereka itu. meskipun pada akhirnya Tiffany tidak pernah meresponnya, Taeyeon rasa itu cukup jika Tiffany mengetahui bagaimana keadaan Hana. Ia sungguh tidak mengharapkan lebih untuk saat itu.

Ia masih tidak percaya bahwa ia telah kehilangan sosok yang begitu ia cintai. Tiffany yang peduli padanya benarbenar telah hilang, berubah, menjadi Tiffany yang harus tetap ia jaga, cintai dengan sepenuh hatinya tanpa berharap mendapat balasan akan perasaan, dan semua yang telah di lakukannya.

                “Aku merindukanmu, Fany-ah.”

Kini kepercayaan bahwa ia ditakdirkan bukan untuk dicintai, namun menjaganya, ia pegang teguh kembali.

 


 

‘I took this picture just a few minutes ago. She left with him from her hotel room.’ – X

 ‘Temanku tidak sengaja melihat ini dari akun sosial pria itu, dan mendapatkan foto ini. Keduanya tampak berfoto begitu dekat dan seperti hanya menggunakan selimut putih.’- X

Gadis itu membeku di tempat tidurnya. Hatinya begitu mati. Ia seakan tidak merasakan apa apa. Bahkan air mata itu seakan-akan sudah habis, tidak ada setetespun yang lolos dari matanya. Menatap layar ponselnya kosong. Ia tidak pernah tahu jatuh cinta bisa menyakitinya hingga dalam, ia tidak pernah tahu bahwa ia akan berada di posisi paling bawah di hidupnya.

Gambar itu begitu nyata. Sungguh nyata. Dan senyuman itu begitu nyata. Ia merasa dirinya sendiri begitu bodoh, sungguh sungguh bodoh untuk bertahan seperti ini sementara gadis yang dicintainya bahkan tidak akan pernah melihatnya sebagai seseorang yang sedikit saja berarti.

Detik kemudian ia melemparkan semua barang yang ada, benda yang berada di dekatnya, semuanya. Ia berteriak sekeras mungkin seakan berharap dengan ini sakitnya akan pulih. Ia sungguh merasakan sakit. Sungguh sungguh menyakitkan. Kenapa hidupnya harus seperti ini? Apa semua yang dilakukannya tidak pernah cukup? Apa dia telah melakukan kesalahan? Mengapa?

 ‘Tiffany, where are you.. I miss you..’

 ‘I’m working.’

Seringai kecil itu tampak begitu menyakitkan di wajahnya, lagi lagi Tiffany mematahkan hatinya hanya dengan kebohongan kecilnya. Ia segera membanting ponselnya, hingga benda itu bukan benda yang berbentuk lagi. Menjadi serpihan serpihan kecil seperti hatinya saat ini.

Tiffany tidak akan pernah menjadi miliknya.

Tiffany tidak akan pernah mencintainya, bukan begitu?

 

 


 

Sebulan tampak begitu singkat untuknya, hari ini hari terakhir ia akan menapakkan kakinya di negri yang cukup asing ini untuknya. Dengan perasaan kosong ia berjalan kearah ruangan itu, segera merapihkan beberapa kopernya. Membanting bingkai berisi dirinya dengan figure seorang pria yang baru beberapa hari yang lalu ia hina. Bahkan ia juga menghina dirinya sendiri.

Persaannya begitu hancur, perasaannya begitu kosong. Entah harus bagaimana menghadapi sosok itu setelah semua yang dilakukannya, entah seberapa besar rasa benci gadis itu terhadapnya. Entah bagaimana ia menyadari bahwa ia sungguh mencinta gadis itu, sangat. Entah seberapa besar perasaan menyesal dan seberapa bodoh dirinya. Ia bahkan tidak tahu.

Hari itu ia mendapat panggilan dari Mom yang begitu ia sayangi. Mengangkatnya dengan berat hati, ia sungguh tidak ingin menghadapi Mom yang hanya akan memarahinya. Sungguh terlalu letih untuk itu.


 

Flashback

One month before.

 “Fany-ah!”

 “Ne, Mom.”

 “Bagaimana bisa kau baru mengangkatnya!?”

 “Aku lelah Mom, jadwalku begitu padat dan sibuk”

 “Terlalu sibuk sampai sampai kau lupa hari ini ulang tahun menantuku!?”

 ‘gulp’

 “Fany-ah!”

 “Mianhe Mom.. aku akan menghubungi Taeyeon nanti.”

 “Kau harusnya meminta maaf padanya, Fany-ah. Minta maaf atas semua yang kau lakukan. Semuanya.”

 “Mom…?”

 “Mom mengetahui semuanya Fany-ah, Mom-mu mengetahuinya, tentu itu tidak mudah untuk meyakinkan Taeyeon menceritakan semuanya pada Mom. Taeyeon selalu melindungimu di hadapan kami, entah seberapa kecewa Mom dengan mu, bagaimana mungkin kau memperlakukan Taeyeon seperti itu? Taeyeon setiap hari mengkhawatirkan-mu percayalah, Mom akan menemukannya di kamar menangis karenamu dan menit kemudian Mom menemukannya tersenyum keluar dari kamarnya. Taeyeon sangat sangat menyayangimu, dan kau membalasnya seperti ini. Kau tidak menghiraukannya, sedikitpun. Bahkan hanya memberi kabar tentangmu sedikit saja kau tidak pernah.”

 “Mom..”

 “Fany-ah. Apa kau bahkan tahu jika Taeyeon telah berulang kali jatuh sakit dan beberapa minggu dirawat di rumah sakit? Apa kau bahkan merasakan bagaimana letihnya menjadi Taeyeon? Apa kau bahkan tahu bagaimana Taeyeon merawat Hana dengan sepenuh hatinya agar anak itu merasakan kasih sayang yang cukup? Apa kau bahkan tahu bagaimana padatnya jadwal Taeyeon akhir-akhir ini karena kondisi perusahaan yang menurun drastis? Apa kau bahkan tahu jika Appa Taeyeon, mertuamu jatuh sakit dan sempat kritis, membuat Taeyeon semakin rapuh dan sangat sedih? Sangat beruntung ia kembali pulih, Bahkan di saat saat itu ia tidak dapat menemui dan berada disisi appanya karena ia memiliki tanggung jawab besar untuk perusahaan dan mengembalikan keadaan perusahaan kembali stabil? Apa kau bahkan tahu bagaimana Taeyeon menjalani semua itu tanpa kau disisinya? Tanpa ada satu orangpun disisinya?”

 “Mom..”

 “Fany-ah, kau menangis? Don’t be. Karena bukan itu yang Taeyeon inginkan darimu. Aku seharusnya tidak memasangkan mu dengan malaikat itu, kan? Aku harusnya memberikannya pada Oppamu yang sudah pasti akan menjaganya dengan baik. Bukan begitu..?”

 “Mom.. andwae..”

 “Fany-ah, kembalilan. Berpisahlah dengan Taeyeon.”

 “ANDWAE!”

 “Wae? Kau menyesal? Apa kau bahkan hari ini mengirimi pesan singkat sekedar menanyakan apa ia sudah makan atau belum? Karena setahuku hari ini ia lembur di kantornya dan tidak seorangpun memperhatikan jam makannya. Taeyeon sangat menyayangimu Fany-ah. Aku begitu bangga dengan menantuku. Ia benar benar mengagumkan, bukan begitu?”

 “Mom..”

 “Wae? Pulanglah, berpisahlah dengan Taeyeon, Mom akan mengurus semuanya.”

 “Mom…..”

 “Fany-ah, Taeyeon sangat ingin membuatmu bahagia sampai ia lupa dengan kebahagiaannya sendiri. Ara?”

 “Mom! Stop it!”

 “I’ll wait for you, steph. Go back home. And don’t bring that asshole you slept with.”

 “Kk-k ka-u tahu- u-um-ma?”

 “Kau terdengar sesegukan.”

 “Mom..”

 “Ya, Mom tahu, dan itu menyakitkan jika aku harus membayangkan Taeyeon mengetahuinya, apa aku harus memberitahukannya sehingga ia dapat melepas dan berhenti bertahan denganmu?”

 “NO! Andwae Mom…”

 “Tanpa aku memberitahumu nampaknya Taeyeon mengetahuinya, aku baru mendapat kabar jika ia memiliki seorang disana yang ia kirim untuk menjagamu. Aku tidak pernah membicarakan itu padanya.”

 “W-wh-what..?”

 “Kembalilah, Mom sungguh kecewa.”


 

 ‘Tiffany, apa kau sudah memakan makan siangmu? Dan benarkah aku tidak perlu menjemputmu di bandara? Aku merindukan mu Fany-ah. Tolong balas ini.’

Dengan itu perasaannya hancur berkeping-keping. Terlalu sakit untuk membalas, terlalu bodoh untuk tidak membalasnya.

 ‘Kau harusnya tidur Taeyeon, aku yakin disana sudah larut. Jangan membuat dirimu seperti ini.’

 ‘Fany-ah! Fany-ah? Aku tidak percaya kau membalas pesanku! Ini pertama kalinya sejak sebulan lalu! Aku baik baik saja! Aku sudah cukup istirahat! (:’

 ‘Berbohonglah sepuasmu, Taeyeon-ah.’

 ‘Aniyo, aku tidak berbohong! Baiklah aku rasa ini cukup, dengan kau membalasnya saja sudah membuatku begitu lega. Good morning Fany-ah.’

 ‘Good night Taeyeon.’

 ‘I love you My Angel.’

Tiffany tersenyum pahit. Ingin rasanya ia membalasnya, ingin rasanya ia menunjukkan betapa dirinya begitu menyesal dan begitu mencintai Taeyeon. tapi, apakah pantas?

Ia yakin jawabannya,bukan yang diharapkannya.


 

“Tap-Tap” perasaan takut menyeruak seketika. Akhirnya ia sampai didepan pintu yang tertutup. Bisa dirasakan tangannya yang bergetar hebat ketika ia meraih gagang pintu itu. matanya memerah dan terasa begitu panas. Ia sungguh takut untuk menghadapi sosok itu. ia benar benar merasa hina akan dirinya sendiri

Dengan segala keberanian juga rasa bersalah yang menghimpit rongga dadanya, wanita itu berhasil menurunkan gagang pintu. Ia sengaja memperlambat gerakan agar bunyi yang di hasilkan tidak membuat kebisingam. Takut-takut yang di dalam akan terganggu karnanya,

Tiffany lalu mengayunkan kaki berlapiskan hak tingginya pelan,

Dia sedikit merasakan kelonggaran di hatinya ketika mengetahui orang itu sedang terlelap. Tiffany hanya tinggal beberapa kaki sebelum dia menghentikan langkahnya, terkesiap mengetahui sosok itu sedang memejamkan matanya sembari mendekap sosok makhluk kecil yang lembut.

Tiffany merasakan matanya yang memanas melihat pemandangan yang ada di depannya. Disana, seseorang yang telah di hancurkannya beribu kali dengan segala kesempurnaanya. Sedang terjaga di tidurnya bersama anak mereka yang kini terlihat sangat tenang dalam dekapan hangatnya. Kedua insang itu begitu indah dan Tiffany tidak bisa membohongi itu.

Tiba-tiba terlintas di benaknya dimana hari dia telah berselingkuh di belakang orang itu ketika dia menjalani pekerjaanya di negri sebrang. Dimana dia membohongi dengan keji perasaan seputih salju itu. Dimana dia tidak pernah mengetahui bahwa ada sosok malaikat tengah menunggunya pulang, di saat dia sedang bermalam di hotel bersama orang lain.

Tiffany kembali merutuki segala kebodohannya sekarang, seperti ada banyak anak panah yang tajam menghunus tepat di jantungnya. Dia benar- benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Ia tidak bisa membayangkan figur Taeyeon yang sudah rapuh, melewati semua hari terburuknya tanpa dirinya yang setia mendampingi. Tidak bisa juga tergambarkan sosok itu merawat anak mereka dengan seluruh kasih sayangnya yang tak pernah putus. Ia begitu bodoh untuk menyadari bahwa dia sangat-sangat mencintai orang itu. Sampai-sampai sebagian dari dirinya tak bisa mengerti arti sebuah kepercayaan. Karna dia sendiripun telah melanggarnya.

Air matanya tumpah begitu saja, mengalir dengan deras di selipi sesenggukan yang menyakitkan. Tiffany mencengkram bagian dadanya yang di lapisi dress itu. Lalu dengan gerakan lambat dia berlutut sembari terus menangis di hadapan dua orang yang telah di hianatinya. Dengan dosa terendah yang manusia pernah punya.


 

Tiffany memutuskan untuk membersihkan dirinya lebih dulu, matanya benar-benar sembab karna telah mengeluarkan semua air matanya begitu banyak.

Setelah merasa cukup dengan kegiatannya, Tiffany merasakan kekhawatirannya kembali begitu saja. Bahkan langkahnya begitu ragu untuk kembali menuju pintu itu.

Dia sempat terkejut karna mengetahui sosok itu tak lagi ada di atas tempat tidur. Namun hanya ada sosok figur kecil yang masih terjaga dalam tidurnya. Dia memutuskan untuk mendekati sisi lain dari tempat tidur. dapat di lihatnya ciptaan Tuhan yang masih sangat suci dan lembut. walaupun ia tidak pernah begitu memperhatikannya dulu, tapi sekarang dia menyadari bahwa yang ada di depannya sungguh ciptaan yang benar-benar menakjubkan. Terlebih lagi, dia di jaga oleh figur yang sungguh sempurna yang ia yakin dia merawatnya dengan sangat baik.

Tiffany memberanikan dirinya untuk terus mendekat. Dan inilah dia, kecupan pertama untuk sang buah hati. Dia menyesali untuk tidak dari dulu menyadari betapa berharganya sosok kecil ini. Bahkan dia kembali meluncurkan air matanya dengan bebas, ketika menempelkan bibirnya di permukaan kulit yang sangat halus. Menahannya agar lebih lama disana, dia ingin merasakan semua kasih sayang yang telah di berikan Taeyeon untuk anak ini.

Im sorry for everything, baby.”Bisiknya setelah melepaskannya,

Im sorry.”Tambahnya sekali lagi.

I will take care of you, with all of my heart from now on. Just like your umma did.”Tiffany lalu memyimpulkan senyumnya sembari memperhatikan anaknya yang masih setia terlelap.

Lalu ia baru menyadari sesuatu, anak ini memang mempunyai postur wajah yang begitu mirip dengan dirinya dan Taeyeon.

Lalu sempat berlalu di benaknya, dimana sosok yang di carinya mungkin sedang berada. Tiffany melihat jam yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. Ini sudah sangat larut dan ia tau, pasti sosok itu sedang terjaga di kantornya. Lalu Tiffany memutuskan untuk memutar langkahnya untuk menuju ruangan itu.

Benar saja, ketika dirinya berhasil melewati pintu yang terbuka sedikit itu, dia mendapati sosok yang di carinya sedang berdiri membelakanginya. Ada terpaan cahaya bulan di ruangan yang gelap ini, jadi dia bisa melihat dengan jelas punggung orang yang sangat-sangat di rindukannya.

Tiffang merasakan bibirnya yang tiba-tiba terasa kelu untuk memanggil sosok itu. Lalu dia menghembuskan napasnya dalam untuk mengurangi rasa gugupnya.

“Taeyeon-ah..”

Sosok itu lalu berbalik, Lalu untuk se sejuta kalinya hati Tiffany terasa remuk ketika mendapati sosok itu menatapnya hangat sekarang. Sinar bulan yang masuk lewat celah jendela, membuat figurnya semakin terlihat mempesona. Walaupun lingkaran hitam di bawah matanya yang begitu jelas untuk di lihat. Tubuhnya kini jauh terlihat lebih kurus di bandingkan yang sebelumnya.

Tiffany tidak menyadari tetesan air matanya yang sudah terjun dengan bebas di pipinya. Ketika sosok itu mulai tersenyum teduh.

“Kau sudah pulang, Fany-ah..”

Bagaimana dia bisa menyembunyikan itu semua hanya dengan senyuman?

Bahkan kenapa dia masih mau memberikan senyuman yang berharganya untuk orang sepertiku?

Pertanyaan itu lalu menyergapnya seiring Tiffany mempercepat langkahnya untuk merengkuh sosok itu.

Lalu tangisnya pecah untuk yang kesekian kalinya, ia memeluk erat sosok itu seperti tidak akan pernah mau melepaskannya. Menenggelamkan wajahnya yang sembab di bahunya yang berkapisi kemeja itu. Isakannya dapat menembus telinga gadis yang ada di atasnya dengan mudah.

Taeyeon tersenyum hangat, betapa dia benar-benar merindukan seseorang yang kini berhasil kembali ke dekapannya. Dia membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Seketika harum tubuh yang begitu di rindukannya menyerbak indra penciumannya.

Taeyeon menuangkan semua perasaanya dalam dekapan ini. Marah, sakit, rindu juga bahagia dia aduk dalam satu wadah hatinya sekarang. Dia menarik tubuh kecil itu untuk terus mendekat padanya. Sampai akhirnya dia bisa merasakan air hangat yang kini sudah mengalir di permukaan wajahnya.

Taeyeon sesekali menciumi pucuk kepala istrinya, lalu kembali menenggelamkan wajahnya di helaian rambut wanita yang lebih muda. Ia begitu merindukan sosok ini, yang telah menyakitinya berulang kali.

“Fany-ah, apa aku berkhayal sekarang?”Bisiknya di sela-sela pelukan mereka, Tiffany menggeleng cepat.

“Anni.. Ini aku, Taeyeon-ah.”

Lalu Taeyeon melepaskan pelukannya, dia menatap dalam kedua bola mata istrinya, seperti mencari jawaban di sana. Ia bisa merasakan sakit yang teramat sangat di ulu hati, saat memorynya kembali mengingat momen dimana dia mengetahui bahwa wanita yang ada di depannya telah berselingkuh selama mereka jauh.

Ia bisa merasakan sesuatu yang menghancurkan hatinya berkeping-keping, saat melihat wanita yang ada di depannya mulai menyentuh wajahnya dengan telapak tangannya yang halus. Ini terasa begitu tidak mungkin untuk di rasakannya.

“Kau pasti kehilangan banyak berat badan kan?”Ujar istrinya sembari mengusap pipinya dengan ibu jari. Taeyeon terpejam, ingin menikmati lebih dalam sentuhan kecil wanita yang ada di depannya.

Lalu air matanya kembali jatuh, namun cepat-cepat Tiffany menghapus itu dari papan wajah Taeyeon.

“Kau terlihat kurus.”

“Aku benar-benar, seorang istri yang buruk.”Tambahnya,

Taeyeon menggeleng,

“Jangan bicara seperti itu. Kau adalah yang terbaik, Fany-ah.”

“Geojimal.”

“Taeyeon-ah. Berhenti main-main. Kau tau aku telah meninggalkanmu, menghianatimu, bahkan dengan semua yang kau berikan padaku.”

“Aku memperlakukanmu dengan sangat jahat. Di saat kau tidak pernah berbuat kesalahan sedikitpun.”

“Sekarang aku sadar sesuatu, Taeyeon-ah. Mungkin dulu aku sering mengatakan ini. Tapi..”

“Aku mencintaimu, Taeyeon-ah. Sangat.”

Kau mengatakannya lagi, Fany-ah. Apa kau sungguh-sungguh dengan omonganmu?

“Aku berharap kau mau mempercayaiku kali ini,”

Aku tidak bisa..

“Taeyeon-ah, ak—”

“Ayo kita berpisah.”potong Taeyeon.

Seperti petir yang sedang menggelegar di luar sana, Tiffany bisa merasakan sesuatu yang menghimpit jantungnya sekarang. Darahnya seperti berhenti untuk mengalir. Ia merasakan takut juga sakit yang begitu hebat sekarang.

Tiffang kembali merengkuh cepat sosok itu sekuat tenaga. Mengeratkan kedua lengannya, menarik sosok itu lebih dekat padanya. Ia benar-benar tidak mau kehilangan sosok ini. Tidak sekarang, tidak kapanpun.

“No!”

“I can’t lose you, Taeyeon.”

“Not now. Not ever.”

“Aku benar-benar tidak mengerti ini, Fany-ah. Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kau melakukan itu?”

Tiffany mengeratkannya lebih lagi, tangisannya kini terasa semakin sakit mendengar Taeyeon menyalahkan dirinya sendiri. Ini semua jelas kebodohannya, dan dia mengakui itu.

“Tidak, Taeyeon-ah. Kau memperlakukanku dengan sangat baik. Kau sempurna, sayang.”

“Itu semua salahku.. Aku minta maaf untuk menjadi seseorang yang sangat buruk untukmu. Maafkan seseorang yang sepertiku yang hanya bisa menghancurkan kepercayaanmu, menyakitimu berulang kali, juga memberi dampak buruk bagi kehidupanmu, Taeyeon-ah.”

Tiffany lalu perlahan melepaskan dekapan eratnya. Dia menemukan Taeyeon yang menunduk, menangis sesenggukan. Ini begitu menyakitkan untuk melihat Taeyeon seperti ini. Apalagi dia yang menjadi penyebab di balik tangisnya.

“Baby, listen to me.”Tukasnya lalu mengangkat pelan dagu Taeyeon, kedua mata mereka kembali bertemu. Tiffany bisa melihat sorot mata yang penuh luka. Sosok yang ada di depannya seperti sedang tersesat akan waktu yang sedang berjalan di sekitarnya sekarang.

“Aku tau sungguh mustahil bagimu untuk memaafkanku sekarang. Tapi aku benar-benar menyesal, Taeyeon. Aku menyadari bahwa kau adalah seseorang yang sangat penting bagiku, kau adalah kepingan yang tak akan aku lepaskan. Terlepas dari ke egoisanku untuk tetap bersamamu. Aku begitu mencintaimu. Aku tidak bisa membayangkan masa depanku dimana kau tidak ada di dalamnya, Taeyeon-ah.”

“Kita akan memulai awal yang baru, bersama Hana. Menjadi keluarga kecil yang bahagia dan selalu ada untuk satu sama lain.”

“Kita bisa Berjalan-jalan di taman, memancing di danau hingga terjaga semalaman untuk menonton film. Menjemput Hana pulang dari sekolahnya, menyambutnya dengan hangat ketika dia pulang dengan melewati hari yang menyenangkan. Melihatnya tumbuh dengan baik. Hingga kita tua bersama, Taeyeon-ah.”

Keduanya terus menumpahkan air mata mereka seiring Tiffany menyelesaikan perkataanya. Dia menjadi yang mengambil langkah terlebih dulu dengan menyatukan kening mereka. Sembari menangkup kedua pipi Taeyeon dengan lembut. Berharap malaikat yang ada di depannya mau menarik kembali keputusannya.

“Please baby, just give me one more chance to fix eveything.”

“Im sorry for eveything that i’ve done.”

“I love you so much Taeyeon, please don’t do this.”

Senyum Tiffany mengembang liar saat merasakan gadis yang kebih tua menganggukan kepalanya pelan. Ia tau, mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya. Jadi ia langsung membuat perjanjian pada dirinya sendiri, untuk tidak menyakiti lagi seseorang yang ada di depannya. Bahwa dia akan terus berada di sampingnya, bahwa dia akan selalu mencintainya sampai dia menutup matanya nanti.

“Aku minta maaf. Aku akan menjadi seseorang yang bisa kau andalkan Taeyeon-ah. Seseorang yang bisa kau sandari. Aku akan memperhatikanmu lebih lagi ke depannya. Dan tidak akan pernah mematahkan kepercayaan mu lagi.”

Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, Taeyeon-ah.

“Aku benar-benar mencintaimu.”Lalu Tiffany menutup jarak wajah mereka, menyatukan kembali bibir mereka dengan segala rasa rindu dan penyesalan yang ada.


 

Tiffany tidak pernah merasa senyaman ini ketika dia berada di dalam dekapan orang lain. Dia benar-benar merasa aman dan hangat. Menandangi wajah Taeyeon yang sedang terlelap membuat banyak bayangannya yang lalu kembali muncul. Ia hanya tidak bisa berhenti menyakiti wanita ini. Tak bisa di bohongi jika ia terus mengutuk dirinya sendiri sedari tadi.

Tiffany menyadari bahwa mungkin perlakuannya selama dia pergi, membuat Taeyeon sedikit berubah. Ia bisa merasakan itu dengan jelas ketika wanita yang lebih tua berbicara lebih minim dari hari-harinya dulu. Bahkan ketika dia mengambil posisinya kembali untuk tidur di samping Taeyeon, wanita itu belum mau mendekapnya seperti dulu. Tidak sampai Tiffany mencium keningnya berkali-kali sembari mengatakan rasa penyesalannya, baru wanita itu mau melingkarkan kedua lengannya mengelilingi pinggang kecil istrinya.

 

Bahkan ketika Taeyeon pulang dari kantornya sore tadi, wanita itu hanya berlalu di hadapannya tanpa mengatakan apapun. Membuat Tiffany merasakan sesuatu yang menghinpit rongga dadanya. Terasa begitu sakit ketika mengetahui sosok itu bahkan tak mau mengecup lagi bibirnya singkat sembari menceritakan harinya di kantor. Seperti dulu.

Keadaan ruang hatinya tidak membaik ketika mendapati Taeyeon sedang mengobrol penuh canda dengan seorang gadis di ruang tamu rumah mereka. Lalu ia mengetahui bahwa gadis itu adalah mantan kekasih Taeyeon di masa mudanya. Memang, Taeyeon sempat memperkenalkan dirinya sebagai istrinya sekarang. Tapi hanya itu saja, setelah berjabat tangan, dirinya merasa seperti bukan pada tempatnya ketika dua figur itu mulai kembali bercanda sesekali melakukan skinship.

Tiffany merasakan api cemburu yang membara, tapi mengingat perlakuannya dahulu, ia merasakan sesuatu yang melarangnya untuk bersikap seperti itu. Ia berpikir, mungkin dirinya memang pantas mendapatkan itu. Ini bahkan hanya sebagian kecil rasa sakit Taeyeon yang ia rasakan sebelumnya.

Sementara, bagi Taeyeon sendiri. Ia bukan menghindari istrinya dengan alasan. Ia bahkan tidak menyimpan dendam apapun. Ia hanya merasa harus membiasakan diri dengan keadaan rumah tangga mereka sekarang. Taeyeon telah jatuh untuk sosok itu terlalu dalam, jadi merasakan sakit yang teramat sangat juga menjadi pelajarannya kini. Mungkin dengan seperti ini, perlahan itu semua akan menghilang dan ia bersama istrinya bisa saling mencintai layaknya orang lain.

Tiffany merasa seperti dia harus mendapatkan kembali perhatian Taeyeon. Dia merasa bahwa dia harus bisa membawa lagi sosok Taeyeon yang dulu. Jadi dia lebih memilih untuk lebih protektif akan pasangannya. Dia juga berusaha untuk merawat anak mereka dengan baik, setidaknya ia bisa memperbaiki pandangan Taeyeon akan dirinya mengenai Hana.

Tapi seiring berjalannya waktu, ia tidak bisa mengungkiri bahwa dia mukai menyayangi gadis kecil mereka. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan mampu merebut semua perhatiannya, bahkan dari pekerjaannya sekalipun. Tiffany kadang lebih memilih untuk menemani anaknya di rumah, ketimbang melakukan jadwal photoshootnya. Ia telah bertekad untuk berubah menjadi orang yang mengambil peran besar di keluarga kecilnya.

Termasuk menjadi ibu juga istri yang baik, bagi kedua orang yang sudah di sakitinya, berulang kali.

Ia telah meninggalkan mereka, bahkan hampir kehilangan keduanya. Dia tidak berniat untuk merasakan kembali kepahitan itu, jadi dia membuat janji dengan dirinya sendiri bahwa itu semua tidak akan terulang lagi.

 

Tangisan gadis kecilnya membuat perhatian Tiffany teralihkan, ia berhenti untuk memandangi garis sempurna wajah Taeyeon. Tak membutuhkan waktu lama untuk dia kembali bangkit dari duduknya, perlahan melepaskan dekapan Taeyeon karna takut wanita itu akan terbangun dari tidurnya. Ia tau sosok itu begitu lelah, jadi dia berniat untuk tetap membuatnya istirahat.

 

Tiffany menemukan anaknya sedang menangis terduduk di ranjang kecilnya. Ia meraih figur kecil itu untuk di rengkuhnya. Mungkin ada yang membuatnya terbangun, pikirnya. Jadi dia lebih memilih untuk memeluk anaknya sembari sesekali menepuk pelan punggungnya.

“Mom is here, baby. Mom is here. Ssh… Ssh…”

                “Go back to sleep, baby. Ssh… Shh…”

Hanya dalam hitungan detik, tangisan Hana kecil mereda, lama kelamaan tidak ada lagi rengekan yang terdengar. Mengetahui anaknya sudah kembali tertidur, Tiffany kembali meletakannya dengan sangat hati-hati kedalam ranjangnya. Dia memandang hangat sosok kecil yang kini mampu memberikan kebahagiaan yang sangat besar itu. Bukan hanya karna dia dalah anak mereka, Tiffany mungkin mulai menyadari bahwa Hana adalah keajaiban kecil yang dia dan Taeyeon harus jaga, hingga mereka menutup mata nanti.

Tiffany mengecup kening permukaan kulit anaknya yang lembut, dan menahannya agar lebih disana.

                “Sweet dream, baby. I love you so much.”

Karna terlalu terfokus dengan putri kecilnya, Tiffany tidak menyadari bahwa pintu kamar ini terbuka sedikit. Membiarkan figur seseorang bisa dengan mudah menyaksikan juga mendengar semuanya. Wanita itu berdiri memperhatikan semuanya. Mengukit senyum yang mengembang di bibirnya.

Taeyeon memang terbangun karna tangisan anaknya yang keras, namun ketika ia mau kembali membuka matanya tadi, dia merasakan istrinya yang mulai melepaskan dekapannya dan meninggalkan ranjang mereka.

Jadi Taeyeon mengurungkan niatnya, tapi rasa penasaran yang mendorongnya. Mampu membuatnya diam-diam mengekor sosok sang istri. Setelah merasakan sedikit kelonggaran di hatinya, Taeyeon memilih untuk kembali ke kamar tidur mereka. Ia bahkan tidak bisa menghapus senyumannya ketika dia kembali terpejam. Hingga akhirnya ia merasakan sisi lain tempat tidur mulai kembali di isi istrinya.

Kini Tiffany merasa sangat bingung untuk kembali merasakan dekapan Taeyeon. Berbeda seperti dulu jika dia bisa dengan bebas meminta dengan manja sosok itu untuk sekedar mengecup atau memeluknya. Ia menyadari bahwa keadaan sudah berubah. Dengan berat hati dia hanya bisa kembali menutup kelopak matanya tanpa merasakan kehangatan yang menyelimutinya.

Menyadari bahwa istrinya malah memberikan punggung belakangnya, Taeyeon tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali memeluknya dari belakang. Ia hanya sedang merasa bahagia saat ini, jadi dia tidak ragu lagi untuk melakukan itu.

Tiffany sempat tersentak merasakan lengan Taeyeon yang melingkar di pinggangnya dengan sempurna, sebelum memeluk kedua lengan yang lembut itu, dengan erat.

“Gomawo, Fany-ah..”

Dengan itu, keduanya pergi ke alam mimpi dengan senyum yang mengembang liar.

 

 


 

 

Tiffany tidak bisa menyingkirkan wajah bahagianya kini. Bagaimana tidak, dengan melihat dua sosok yang sangat berpengaruh di hidupnya saat ini, mampu melupakan semua kesedihan juga rasa khawatirnya seakan-akan menghilang begitu saja. Memang, membayangkan bahwa sosok yang ada di sebelahnya pergi untuk waktu yang cukup lama saja sudah sangat menyakitkan.

Tapi, kali ini mungkin dia bisa sedikit bernafas lega. Karna waktu keberangkatannya di tunda untuk beberapa hari. Jadi Tiffany lebih memilih untuk berdiam di rumah bersama keluarga kecilnya. Ia tidak tau akan seperti apa ke depannya nanti, yang ia tau, hanya bagaimana dia merasakan bahagia yang teramat sangat detik ini juga.

Ia tidak bisa membayangkan hari tanpa Taeyeon, tapi mungkin ini adalah sedikit rintangan untuknya bersama wanita itu. Ia tidak mau egois, ia tau, memperbaiki keadaan seperti semula tidak semudah menjentikkan jari.

Mereka bertiga sedang berada di ruang tamu rumah, dengan televisi menyala, keadaan yang hening juga cuaca yang cerah. Pagi ini terasa lebih hidup di rasa Tiffany. Selain karna dirinya bisa menghabiskan waktu bersama dua orang yang sangat di cintainya, mungkin karna sosok Taeyeon perlahan mulai kembali. Dan dia tidak bisa lebih bahagia dari itu.

Taeyeon sesekali menciumi pucuk kepala anaknya, atau bahkan sekedar mengecup bibirnya sembari tertawa geli.  Tiffany ikut tertawa akan kelakuannya itu,

“Aigoo. Bukankah kau benar-benar mirip dengan Mommy?”Taeyeon sesekali menempelken hidungnya ke permukaan kulit halus wajah anaknya. Lalu tertawa,

“Kau mempunyai eyesmile yang cantik, tidak seperti seseorang.”Tambahnya lalu melirik sebentar istrinya, lalu kembali terkekeh.

Tiffany hanya bisa menyikut pelan sembari mengerucutkan bibirnya.

“Yah.”

“Kau dulu mengatakan eyesmile ku yang paling cantik!”Cerca istrinya,

“Aku tidak percaya bahkan aku kalah dengan anakku sendiri, sekarang.”Tambahnya lalu melipatkan tangan di dada. Namun tetap mengukir senyum di wajahnya.

Taeyeon yang mendengarnya hanya bisa tertawa kecil, mengetahui bahwa sikap istrinya masih lucu seperti sebelumnya, Taeyeon tidak bisa membohongi bahwa dia benar-benar merasa lengkap sekarang.

“Jjinja Fany-ah. Kau cemburu pada Hana sekarang?”

“Hm.”Tiffany lalu memalingkan wajahnya,

“Lihatlah, Hana-ya. Mommymu benar-benar seperti anak kecil.”

Sementara gadis kecil mereka hanya terus tertawa, keduanya tau mungkin dia bisa merasakan atmosfir hangat yang ada di antara mereka.

Lalu tiba-tiba telefon rumah mereka berdering dengan kerasnya, saat Tiffany hendak beranjak untuk mengangkatnya, Taeyeon lebih cepat untuk menarik pergelangan tangannya,

“Pany-ah. saranghae.”Ujarnya dengan wajah jahil, Tiffany yang mengerti hanya bisa tertawa pelan lalu mengecup singkat bibirnya.

“Nado.”Balasnya lalu bergegas pergi, lalu meninggalkan Taeyeon yang masih sibuk bermain dengan gadis kecil mereka.

“Yeoboseyo.”Katanya untuk menerima panggilan,

“Tiffany! Mommy sudah mencoba menghubungimu 10 menit terakhir!”Kata suara paruh baya yang langsung mencercanya di sambungan lain. Tiffany sempat menjauhkan gagang teleponnya untuk menghindari suara ibunya yang melengking.

“Sorry, Mom. Aku meninggalkan handphoneku di kamar.”Jawabnya cepat,

“Benarkah? Apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

Tiffany lalu kembali mendongak untuk kembali menemukan dua orang malaikat yang sedang tertawa lembut di sofa itu. dia menatap mereka seolah permata, yang ia yakini tidak akan pernah meninggalkan sisinya. Begitupun dirinya, dia sudah berjanji sampai mati untuk terus berada di sisi mereka. Bagaimanapun caranya. Dan seperti apapun takdir yang ada di depannya. Menyakiti keduanya adalah kesalahan terbesar yang pernah ia buat dalam hidupnya, namun mengulang kesalahan itu mungkin akan dengan mudah membunuh dirinya sendiri. Karna Tiffany menyadari sesuatu, dua pahatan Tuhan yang sempurna itu adalah hidupnya. Tiffany tau, bahwa dia tidak akan mungkin bisa menjalani hidupnya tanpa mereka.

“Aku? Hanya menikmati waktu cuti dengan Taeyeon dan Hana.”Jawabnya tersenyum, ada nada bangga di sana.

“Seriously? Apa kau sudah mempersiapkan keberangkatan menantuku?”

“Tentu saja, Mom! Aku sudah melakukan semuanya. Bisakah kau tidak membahas kepergiannya dulu? Aku sedang menikmati hari ini, sampai kau membahas soal pekerjaanya.”Jawab Tiffany mendengus kesal,

“Sorry, Honey. Lalu bagaimana dengan cucuku?”

“Aku rasa Hana sangat bersenang-senang akhir-akhir ini. aku membiarkannya dan Taeyeon untuk menghabiskan waktu lebih lama. Kau tau, Mom. Kurasa mereka sangat tidak bisa di pisahkan.”

“Tentu saja! Mereka berdua itu sangat lengket satu sama lain..”

“Tidak ada pemandangan paling indah selain melihat menantu dan cucuku itu sedang bersama. Mereka terlihat sangat lcu, Gosh i miss them so much

Sementara Tiffany tidak menyadari, bahwa dia sudah mengukir senyum di bibirnya ketika pandangannya masih jatuh untuk dua sosok itu.

“Aku tau. Dan aku tidak berniat untuk memisahkan mereka. Sampai kapanpun.”

“Mom.. Aku pernah melakukan hal yang sangat buruk bukan? Aku meninggalkan mereka, dan sekarang aku mengetahui betapa aku benar-benar membutuhkan mereka dalam hidupku, Mom..”

“Tentu Mom mengerti sayang, kesalahan memang harus kau hapus. Kau harus memulai awal yang baru bersama Taeyeon dan Hana. Berjanjilah pada Mom, kau tidak akan mengulanginya lagi, Kim Tiffany. Kelak kau akan mengerti bagaimana peran mereka sangat penting dalam hidpmu kedepannya. Taeyeon adalah seseorang yang seharusnya tidak akan kau lepas dari genggamanmu, Tiffany. Dia itu langka, atau bahkan hanya ada satu di dunia ini. kau tidak berniat untuk melepaskan berlian, bukan?”

“Tentu tidak, Mom. Aku bersungguh-sungguh kali ini. aku sangat mencintainya, dan aku tidak akan membiarkan dia pergi dari sisiku, lagi. Mom. Ini adalah janjiku padamu, juga.”

 


 

Taeyeon mendengar sesuatu yang berhasil masuk ke gendang telinganya. Dia bisa merasakan panas sinar matahari yang menerpa wajahnya, ia menyadari bahwa mungkin dia masih tertidur kini. Dia bahkan belum mau membuka matanya mengingat, jika hari ini adalah hari keberangkatannya. Tapi, suaranya semakin jelas terdengar dan ia tau, bahwa itu adalah isakan tangis.

Taeyeon memutuskan untuk membuka kelopak matanya perlahan, sebelum akhirnya pandangannya yang kabur berhasil jernih. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari sumbe suara. Seharusnya dia sudah bisa menebak ini, dia menemukan istrinya yang sedang membelakangi posisi tidurnya. Bahunya bergetar menandakan dia sedang terisak. Taeyeon yang agak bingung dengan ini, sangat khawatir.

Banyak pertanyaan yang kini berlari di pikirannya. Apa yang mungkin dapat membuat istrinya menangis di pagi hari? Apa dia telah melakukan kesalahan? Ia sama sekali tidak mengetahuinya. Jadi Taeyeon dengan perlahan mulai memeluk pinggang kecil istrinya dari belakang. Meletakkan dagunya di atas bahu mulus itu, di kecupnya lembut bahu itu sebelum akhirnya berkata,

“Hey, ada apa?”

Taeyeon lalu merasakan kedua lengannya di peluk erat oleh Tiffany. Tak mendapatkan jawaban, Taeyeon semakin khawatir akan keadaan istrinya sekarang.

“Fany-ah..”Ucapnya lembut,

Sementara Tiffany lalu perlahan bangkit dari tidurnya, dia menyandar pada kepala tempat tidur. Tak lama kemudian, Taeyeon mengikuti gerakannya. Kali ini dia menghapus air mata yang berjatuhan di pipi mulus istrinya,

Dalam hitungan detik, Tiffany lalu menatapnya dengan penuh artinya, sebelum akhirnya menjatuhkan kecupan dalam di bibir Taeyeon. Dengan bibir yang masih menyatu, tangis Tiffany justru kembali pecah, membuat Taeyeon melepaskannya lalu menancapkan pandangan takut dan khawatir akan istrinya.

Apa aku berbuat kesalahan?

Apa dia akan meninggalkanku lagi?

Taeyeon tidak bisa memikirkan hal yang lebih buruk dari itu. Satu-satunya hal yang sangat di takutinya adalah merasakan kehilangan. Apalagi jika kehilangan Tiffany, lagi. Dalam hidupnya. Itu adalah mimpi buruk yang Taeyeon selalu hindari. Karena, bagaimanapun dia sangat mencintai wanita itu. Dengan sepenuh keyakinannya.

“Fany-ah, beritau aku. Apa aku telah melakukan kesalahan? Jikaiya, aku minta maaf. Please don’t leave me again,“Ucapnya dengan suara yang bergetar, berhasil membuat Tiffany menggelengkan kepalanya cepat.

Sungguh dia merasa bersalah, ia tidak mengetahui bahwa keadaannya sekarang ini justru membuat Taeyeon sangat khawatir, lebih buruknya. Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri dan meminta maaf, di saat semua yang telah terjadi adalah kesalahannya. Sedari awal.

No, no, no. Im sorry baby,“Tiffany lalu kembali mengecup bibirnya pelan, dia menghapus air matanya dan kembali memperhatikan wajah pagi Taeyeon yang baginya sangat damai. 

“Maaf karna telah membuatmu khawatir. Please don’t ever say things like i could leave you anytime soon. I will never do that. I love you so much, Taeyeon. Im sorry.”Tiffany lalu menyatukan keningnya dengan Taeyeon.

“Aku hanya.. merasa ini tidak adil untukmu.”Lanjutnya pelan, “Apa maksudmu, Fany-ah?”

“Maksudku, lihatkan kita. Aku baru saja ingin memperbaiki semuanya, dan kau harus pergi untuk waktu yang sangat lama. Menyalahkan diriku sendiri mungkin adalahsatu-satunya hal yang bisa aku lakukan, Taeyeon-ah.”

“Hey, kau tidak seharusnya berkata seperti itu.”

“Kau tau aku telah memaafkanmu, dan mungkin ini hanyalah seusatu yang harus kita lewati bersama untuk meraih kebahagiaan kita, Fany-ah.”Taeyeon kembali menghapus air mata yang jatuh dengan bebas di paparan wajah istrinya. Masih dengan posisi yang sama, Taeyeon mengecup bibir itu lembut,

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri,”Ujarnya sangat pelan, lalu kembali menarik istrinya untuk di rengkuh dalam dekapannya.

“Hanya berjanjilah padaku tentang satu hal,”

“Apa, Taeyeon-ah?”

“Jangan mencoba untuk pergi dari sisiku lagi, Fany-ah. Bahkan dengan waktu dan jarak yang nanti memisahkan. Hanya itu, Fany-ah.”

Tangis Tiffany kembali pecah di buatnya, perkataan yang sukses membuat semua perasaanya mampu di aduk dalam watu wadah hatinya. Dia mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Taeyeon,

“Aku bisa menjamin itu, Taeyeon-ah. Kali ini Aku benar-benar mencintaimu dan tidak mungkin untuk meninggalkanmu begitu saja.”


Anak itu terlihat sangat sibuk dengan banyak boneka dan pajangan-pajangan kecil di hadapannya. Sampai-sampai tidak menyadari bahwa wanita itu tengah menatapnya tidak percaya. Ini sudah pukul tujuh dan anaknya belum juga berhenti bermain,

“Hana-ya!”

Anak itu berpaling, “Yes, mom?”

“Kerjakan PR-mu selagi Mom mempersiapkan makan malam.”Ucapnya dengan nada memerintah, anaknya lalu mengerucutkan bibirnya dengan lucu.

“Bisakah aku mengerjakannya nanti?”Katanya penuh harap, menatap nanar ibunya yang sedang berdiri dengan melipatkan tangan di dada.

“Tidak. Umma-mu akan segera pulang. Cepatlah, kau bisa bermain lagi setelah selesai.”Senyumnya mengembang hebat dengan jawaban Ibunya.

“Jjinja!? Assa!!!”Lalu dia bergegas untuk meraih tas ranselnya dengan penuh semangat. Ibunya lalu menyunggingkan senyum liar melihat tingkah anaknya. Baginya, memiliki anak itu disini, adalah kebahagiaan yang ia tak akan pernah merasa cukup.

10307406_914446181971338_6570684910578942947_n

Tiffany kembali melenggang kearah dapur meninggalkan ruang tamu untuk melanjutkan masakan makan malamnya yang sempat tertunda.

Anak itu sesekali mendongak untuk melihat kea rah pintu. Dalam hati dia berharap orang yang di tunggu-tunggunya akan membuka pintu itu.  Dia sangat tidak sabar untuk menantikan seseorang itu kembali pulang.

Benar saja, menit berlalu dan akhirnya gagang pintu itu di raih oleh tangan seseorang.

“Umma!”

Senyumnya begitu cantik melihat Taeyeon yang kini berdiri di ambang pintu. Ini adalah hal yang dapat dengan mudah membuat Taeyeon merasa bahagia, mengetahui gadis kecilnya yang selalu menunggu kedatangan di tempat yang sama setiap hari. Gadis itu berlari kecil untuk berhamburan kepelukan Umma nya, yang ia sangat nantikan sedari tadi.

Taeyeon mengecup kening gadis kecilnya dengan penuh sayang, lalu tersenyum. “Hello, Young Lady. How was your day?”

Anaknya lalu terlihat berpikir sebentar, lalu mendengus kesal. “Tidak terlalu menyenangkan, aku ketiduran di kelas dan sseongsaengnim memarahiku. Bisakah kau memarahinya balik, Umma?”

Taeyeon hanya  bisa tertawa mendengar jawaban anaknya, lalu mengacak pelan rambut  pucuk kepalanya. “Aigoo, anak ini.”

“Lalu Mom hari ini sedikit cerewet. Apa yang terjadi dengannya? Dia selalu menyuruhku untuk mengerjakan pr. Dia bahkan mengatakan hal yang sangat panjang dan membosankan ketika mengetahui aku di marahi sseongsaengnim.”

Taeyeon lalu terkekeh pelan mendengar perkataan anaknya barusan,

“Dia hanya khawatir padamu, Hana-ya. juga dia tidak ingin kejadian tertidurmu di kelas terulang lagi. Kau tau kan itu adalah hal yang buruk?”Ucapnya lembut sembari membelai rambut panjang anaknya.

“Aku tau, Umma. Aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Dengan itu Taeyeon lalu kembali mengecup anaknya, namun kali ini di bibir kecil miliknya. “Pintar.”

“Lalu dimana Mommy-mu?”Tanyanya,

“Dia sedang memasak makan malam di dapur,”

“Baiklah, kau lanjutkan pr-mu dan kita akan makan malam bersama.”

Taeyeon tidak mengambil waktu banyak waktu untuk membersihkan dirinya lalu kembali melenggang ke arah ruang makan tepat setelah istrinya menyelesaikan hidangan makan malam. Tiffany merasa benar-benar senang setiap kali dia dapat menyempatkan memasak untuk dua orang favorit di dalam hidupnya saat ini.

Dan selama bertahun-tahun pula kemampuannya memasak semakin meningkat.

Dan setelah menjadi Nyonya Kim, ia tahu ia harus pandai memasak jika dia ingin mengurus Keluarga kecilnya.


 

“Tidak ada makanan yang lebih lezat dari pada masakan Mommy-mu.”Taeyeon merasa senang untuk memuji  istrinya dan melihat bagaimana dia tampak bahagia dengan itu.

 

“Aku juga memfavoritkan masakan Mom di dunia ini!”Putri mereka lalu bebricara,

 

“Dan kalian berdua adalah sebab di balik masakanku yang lezat. Sekarang makanlah dengan tenang, kalian belum memakan apapun sejak siang tadi.”

 

“Mom benar-benar tau segalanya, yakan Umma?”

 

“Mommy-mu tahu segalanya, sayang.”


 

“Hana-ya. jangan berlarian seperti itu, kau bisa terjatuh.”

“Im okay, Mom! Sepatu ini benar-benar mengesankan!”

“Dia benar-benar senang akan sepatu barunya, Tae.”Tiffany lalu menatapku lembut, dia tersenyum sembari menyingkirkan rambut liar ke belakang telingaku.

“Aku tau, dan aku berniat untuk membelikannya lebih banyak lagi.”

Ya.. Jangan lakukan itu. kau terlalu memanjakannya.”Tukasnya pelan,

“Aku tidak memanjakannya. Dia berhak mendapatkan itu karena nilainya yang terus meningkat. Kau kan mengerti,”

I get that. Tapi biarkan dia lebih berusaha lagi. Walaupun nilainya meningkat, banyak guru yang mengatakan bahwa dia sering tertidur di kelas.”Aku lalu terkekeh dan kembali menarik tubuh istriku untuk berada di dalam dekapanku. aku mencium pucuk kepalanya lembut dan tersenyum teduh,

“Bukankah dia benar-benar sepertimu? Kau dulu juga anak yang nakal dan suka tertidur di kelas.”

Ya.. siapa yang memberitahumu!?”Tiffany lalu mendongak untuk menatapku

“Mom.”Jawabku kembali terkekeh,

“Aish!”

Tiffany lalu menenggelamkan wajahnya ke ceruk leherku, membuat diriku kembali dengan bebas menciumi pucuk kepalanya berulang kali, sebelum akhirnya merasakan bahwa wanita ini mulai merasa rileks rileks. aku lalu menjatuhkan pandanganku pada gadis kecil yang sedang berlarian mengitari rumah dengan senyum yang mengembang liar. Yang  berasal dari sepatu baru yang baru saja di dapatkannya.

“Fany-ah, Gomawo.”

“Untuk apa, Taeyeon-ah?”

“Untuk tidak pernah meninggalkan sisiku, dan juga telah merawat keluarga kecil ini dengan baik. Rasa terimakasihku mungkin tidak akan pernah cukup.”

Tiffany lalu melepaskan dekapannya dengan perlahan, menatap kedua bola mataku dengan penuh ketulusan. Aku bisa merasakan kehangatan juga bahagia yang meluap-luap di bawah pengawasan matanya.

“Anni, Aku yang seharusnya berterima kasih, Taeyeon-ah. Terima kasih karna sudah memberiku kesempatan untuk bisa berada di sampingmu. Di samping Hana, untuk merasakan­­­­ kebahagiaan yang tidak pernah berujung.”

Dengan itu,  aku mengetahui suatu hal. Mungkin aku benar-benar beruntung untuk memilikinya saat ini. terlepas dari semua yang sudah terjadi di masa lalu.

Memiliki versi mini dari Tiffany berlarian di sekitar rumah adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku sangat mencintai Tiffany, memiliki seorang gadis kecil dengan senyum yang sama juga kepribadian yang sama adalah hal terbaik yang aku bisa dapatkan.

Aku sedikit  takut jika mungkin dia tidak akan menyukaiku ketika dia beranjak tumbuh. Aku tidak banyak bicara seperti Tiffany dan aku tidak sebaiknya dalam hal tertentu. Aku pikir, aku harus lebih baik dalam berbagai hal agar dia tetap menyukaiku, tapi sejak gadis itu berada dalam dekapanku, aku bisa merengkuh seluruh dunia hanya dengan merengkuhnya lenganku, dia bisa membuat ku berbicara lebih banyak padanya. Hana bahkan bisa mengerti sedikit masalahku, dan membantu meringankannya ketika semua hal berubah menjadi rumit.

Aku senang melihat senyumnya, bagaimana matanya hampir tertutup ketika dia tersenyum.

Aku bertanya pada diriku sendiri bagaimana dia dan Tiffany melihat sesuatu sambil tersenyum. Tapi terlepas dari itu, senyuman mereka adalah hal yang paling aku sukai di dunia ini. Mereka begitu indah dan aku tidak berniat untuk meluputkan senyum itu sampai kapanpun.

Dalam Seluruh hidupkudia dapat memberi alasan untukku menjadi bahagia. Mengetahui Setiap kali aku pulang dan dia berada di rumah, bersama putri kecil kami.

Aku pikir aku tidak bisa lebih bahagia dari itu. dia menjaga janjinya bahwa dia tidak akan pernah lagi meninggalkanku, bahwa aku tidak akan pernah merasakan kesakitan lagi seperti saat dia beranjak dari sisiku.

Aku berpikir untuk membelikan lebih banyak gaun dan sepatu berwarna pink, atau apapun yang mereka sukai. Mengingat dua orang itu adalah penggila pink. Aku bahkan akan menjadi sedikit lebih aktif dalam pembicaraan mereka.

Aku akan menjaga dua sosok itu yang menjadi sumber kebahagiaanku sekarang, tidak akan pernah membiarkan apapun terjadi pada mereka.

Ini keluarga kecilku dan aku bertekad untuk menjaganya.

10702211_704575252958433_5830651054917220607_n

 


 

sooooooooo, what do you think? is it a bad one? or a good one?

well, actually this is a remake from our old fan fiction back then. kalo ada yang pernah baca, yep! itu cerita kami berdua dengan cast yang berbeda! ❤

oh ya maafkan typo yang bertebaran ya! udah seliweran bakal ngebenerin! *lalu di timpukin botol*

don’t forget to comment guys, let us now what you think about this story! ❤

oh care to check  our twitter! @JAZZATTA1

anyeong~

jazzatta

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

81 thoughts on “FLAWLESS BY JAZZATTA

  1. kayaknya ini adalah ff terpanjang yang pernah gw baca…..sebel banget ngeliat kelakuan tiffany yang udah berkali-kali menyakiti hati taeyeon….beruntung banget punya pasangan kayak tae yang walaupun hatinya udah hancur tapi mau menerima kembali istrinya…menyedihkan ceritanya bikin mewek hiks…untungnya happy ending yeayy…

    Like

  2. Astaga this so loooooong, karya yg luar biasa, semuanya terasa menyentuh, sifat taeyeon yg sangat rendah hati, akan sulit mempunyai sifar seperti itu .. Taeyeon layak untuk bahagia…i love this love love…HBD mu bias kid leader..love u always

    Like

  3. “WOW” satu kata untuk menggambarkan segalanya,,
    Luar biasa bgt FF nya, bacanya sampe 7hari 7mlm saking panjangnya,,hehehe
    Awal2 bingung sama lokasi ff ini, dijakarta apa korea,, tp dimanapun yg penting cast nya taeny.
    Suka karakternya tae yg super duper sabar,, ada yahh org yg mencintai sampe segitunya udh disakiti berkali2 juga sama fany,, dan yg tadinya minta pisah luluh lantah tanpa paksaan,, 😘😘😘😘
    Greget bgt sama patini, knp coba selingkuh lagi khan ucul bgt thu,, 😡😡😤😤
    Anak mereka lucuu 😍😍😍

    Semangat buat jazztta-nim

    Like

  4. sakiiiiittttnya jd tae, but happy ending.
    paannnnyyyy aaaahhhh, you are sooo….
    tetep semangat ya thor. saya setia menunggu FF lainnya!

    Like

  5. Nice story, bener bener bisa bikin readers jadi terbawa suasana dan bagaimana rasa nya jadi taeyeon di sini. Good Job thor 😉, kalo bisa bikin sequel tiffany nya di bikin cemburu berat hohoho, biar ngerasain apa yg tae rasain juga hihihi ^^. Ok thor bye~~~

    Like

  6. Astaga taetae😔😔 sabar bwgd ngadepin sikap pany yg sok model gitu😐😐*plak emang model bukan😆😆
    Sesakit itu kah mempertahan kan sebuah cinta n menjanjikan sebuah kehidupan bahagia wlpun banyak sekali keslhan keslhan pany di mata tae.. hampir semua slh di pany😧😧 begitu besar cinta tae buatbuat kel kecilnya.. ^^ gomawo thor

    Like

  7. Lovee lovee authorr 😘😘
    Suka sama ceritanya thorr 😁😁
    Duhh taeng baiknya tak terkiraa, ihh pany mah dibelakang taeng kok gituu 😂😂 taeng udah tau pany selingkuh tapi tetep setia, sama hana nya lucukk bangett thorr 😍😍
    Ditunggu cerita yang lainnya thorr
    Fighting

    Like

  8. Wah ceritanya lngkap banget thor, bikin gw terbawa suasana. And salam knal thor gw new reader.
    Krn gw baru nemu ne ff.

    Like

  9. ceritanya keren sob 🙂 ampe bisa byangin nangis, lanjut tor semangat. salam kenal saya reader baru panggil “Pi”.

    Like

  10. DAEBAK!! Ff nya keren thor.. 😝👍🏻
    Sakit banget ya jadi tae 😭
    Baru baca ff oneshoot yg panjangnya kaya 10 chapter hehe 😁 suer alluthor jjang!!
    Ditunggu ff taeny selanjutnya 😉 hehehe 😁

    Like

  11. Kesal lihat fanny yg terus nyakitin tae, kesel juga lihat tae yg selalu ngalah. Hhhhhhh… Feelnya dapat bngt thor. Daebaklah pokoknya… Salam kenal author..

    Like

  12. aduh ni taeyeon betul” suami idaman deh. gw jadi pengen di posisi tiffany. hahahahha kasihan juga sih tapi lihat tae yang selalu mengalah sama tiffany tapi kan akhirnya juga tiffany berubah lebih baik.

    Like

  13. Ceritaaa macam apa ini bangussssss banget thor daebakkkk.. Gooddddd!!! Pertengahan pengen nangiss tae di sakitin terus ama fany tapi endingnya sempurnah banget happy ending 👏👍

    Like

  14. Pnjang bnerrr….
    Puas bnget bcanya…
    Walaupun diawal2 crita agak jngkel ma fany..
    Apalgi di prtnghan crita,,,saat dia nipu taeyeon klw dia da krjaan diluar negri slma 2 thun…pdhal nytanya di bermain api ma donghae..
    Ihhh,,sbel banget aq wktu bca part itu..
    Smpek nangis awak…😭😭😭

    Untung taeyeon orng yg pnyabarrrrrrr bnget,,stelah apa yg dlkuin fany ke dia,,gak hnya skli 2 kali pi dia ttep nhsih kesmptan buat fany tuk mnbus kslhannya…

    Dan akhirnya happy ending juga..
    Syukur deh,,fany tobat ujung2nya…hahha
    Dia bner2 mgang janjinya ke taeyeon..

    Kren bnget deh nih critanya thor..

    Like

  15. DAEBAKKKKKK!!!! FF terpanjang yang pernah aku baca wkwkwk, tapi sumpah keren banget, kalo bosa sering2 bikin ke gini supaya ga usah nunggu lama2 kalo mau update. Ini cerita tuh panjang tapi ga ngebosenin malah baru ngeh di akhir pas di liat2 lg ternyata ni cerita panjang banget wkwkwkk. Pokonya kalian author tervaforit aku❤❤❤❤

    Like

  16. Tiffany ngeselin yaa! Gak bersyukur udah punya taengo tapi masih lirik yang lain! Tapi emg usaha gakada yang sia-sia. Daebak

    Like

  17. Ngebaca ini udah kayak baca satu novel selain panjang dan gak ngebosenin plus semua problem cinta segita jadi nyatu😶 antara sedih dan kesel sama sifat tiffany yg gak nentu. Alurnya ngebawa kita mendalami dilema fany dan kebodohan taeng. Perjodohan emng kadang bkin nyesek, yg pacaran aja belum tentu punya niat nikah apalg ini dijodohin dan luckly taeng menjadi gentle juga sama keras kepalanya buat milikin tiffany. Seandainya sinetron anak jalanan diganti sama ini udah pasti rating rcti langsung jebol saking kerennya. Belajar trus yah jazzatta ><

    Like

  18. suka banget sama karya os kalian 🙂
    feelnya kerasa banget, bikin baper plus nyesek
    ahh tae baik banget sih disini, suka kalau karakter tae kayak gitu cuma agak kesel sama fany yang ga dapet balesan sakit yang setimpal sama yg tae rasain
    dia kayak ga peduli semua pengorbanan yg di lakuin taeyeon, dan terus dia juga malah selingkuh -.-
    walaupun pada akhirnya happy ending 🙂 tapi tetep aja rasanya fany belum bisa mahamin pengorbanan tae, dan dia belum dapet karma yg setimpal
    makasih buat ceritanya, aku suka hehe
    semoga terus tetep lanjut ya buat nulisnya, di tunggu banget buat karya lainnya 🙂
    jangan sampe di anggurin ya wp nya hahaha
    di lanjut juga cerita lainnya, keep hwaiting 🙂

    Like

  19. Its a good one.i love it…
    Sumpah ini ceritanya bagus bgt.sedih bahagia terharu ngaduk jdi satu…
    Cinta tae yg paling ngagumin…cinta yg sangat sejati..yg gak pernah nyerah walau disakiti berkali”..😢😢😢
    Fanyahhh…you are so lucky to have taeyeonaahh…

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s