MISTAKES (CHAPTER SEVEN) BY JAZZ

 

Sebelumnya maafkan ya kalau banyak dramanya. Jazz ngetiknya juga rada gimana gituu hahahaha. Tapi yaudahlah ya woyyyyyyyyy. Taeny begini adanya~

jazz


 

Taeyeon yang terkejut hanya bisa membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia sempat merasakan darahnya yang berhenti berdesir. Ia bahkan tak bisa mempercayai ini. seseorang yang sangat-sangat berperan dalam hidupnya ini, kini sedang memeluknya erat. Ia bisa merasakan luka lama yang tertutup kembali terbuka. Ia sangat bahagia, namun dia merasakan perih yang mendalam juga disana. Ia sedang mendengarkan perdebatan antara hati dan fikirannya sekarang.

Namun nampaknya Tiffany mampu membuatnya melupakan semua itu, genggaman Tiffany pada bahan bajunya semakin erat, membuat dirinya bisa merasakan detak jantung Tiffany yang seirama dengan miliknya. Ia merasakan sesuatu yang tidak biasa sekarang, semua rasa yang sedari tadi sangat runyam di fikirannya seperti menghilang begotu saja. Perlahan, dia mulai melingkarkan kedua lengannya di pinggang kecil milik Tiffany. Taeyeon meletakan dagunya di bahu gadis yang lebih muda. Menghirup harum helai rambut milik gadis ini, membuatnya merasakan sensasi yang dulu pernah ada. Kini kembali lagi.

Ia merasa seperti air matanya kini tidak mau berhenti mengalir, ini terus memaksa keluar namun Taeyeon menggigit bibir bawahnya mencegah isakan tangis yang mungkin akan terjadi, ia bisa mengetahui dengan jelas bahwa wanita yang ada di dekapannya kini  juga sedang menangis.

Mereka berdua berpelukan seakan tidak ada orang lain sekarang. Waktu bahkan seperti mendukung mereka untuk tetap seperti ini selamanya. Hanya langit jingga yang menggantung menjadi saksinya.

Mianhae.. Mianhae…”Gumam Tiffany semakin menenggelamkan kepalanya dalam dekapan Taeyeon,

Sementara wanita yang ada di atasnya hanya terdiam tidak mau menjawab penyataanya barusan. Ia justru merasakan bahwa Taeyeon semakin menariknya lebih dekat. Tiffany khawatir jika dia tidak mendapatkan maaf yang tulus dari wanita ini, jadi Tiffany mencoba untuk melepaskan sesi mereka dan meminta maaf untuk lebih jelas. Taeyeon sedikit kecewa akan gerakannya,

Namun Tiffany justru terkejut melihat wajah Taeyeon yang kini sudah sembab dan di penuhi air mata. Ia tidak mengetahui bahwa bukan hanya dirinya yang sedari tadi menangis, Tiffany merasa sangat bersalah karna baginya ini adalah kesejuta kalinya dia membuat wanita sempurna ini menjatuhkan air matanya. Mereka saling menatap untuk waktu yang lumayan lama, seperti bermain siapa yang berpaling duluan. Dialah yang kalah.

Namun tangan Tiffany mulai menyentuh pipi Taeyeon yang basah akan air matanya. Ibu jarinya menghapus itu dengan gerakan perlahan,

“Taeyeon-ah, aku tidak mempunyai kemampuan untuk menjelaskan apa yang hatiku rasakan sekarang. Tetapi kenapa ini terasa begitu sakit melihatmu menangis? Apa aku menyakitimu lagi?”Tiffany mengatakan itu masih dengan air matanya yang mengalir deras. Sesekali ia ternsenggak dan harus memotong kata-katanya. Dia terus menghapus air mata Taeyeon yang berjatuhan,

Yya.. jawab aku..”

“Taeyeon-ah.. aku minta maaf.”Ucapnya sekali lagi berharap Taeyeon mau menjawabnya kali ini. karna dia benar-benar tidak tau apa wanita ini telah memaafkan kesalahannya yang begitu keji. Sementara yang di lakukan Taeyeon selanjutnya membuat Tiffany membelalakan matanya.

Wanita ini dengan kilat mengecup bibirnya, Tiffany hanya bisa menatap Taeyeon terkejut, ada sorotan tak biasa disana. Untuk kesekian kalian Tiffany merasakan sesuatu yang siap meledak-ledak di dalam hatinya. Taeyeon baru saja menciumnya. Dan ini mungkin merupakan suatu hal yang mungkin bisa di catat di sejarah hidupnya.

“Berhenti mengatakan itu, Fany-ah.”

“Aku sudah memaafkanmu. Tetapi aku tidak menyangka bahwa ini justru membuatku semakin sakit, Fany-ah. Mungkin bertemu denganmu lagi bukan suatu ide yang bagus..”

Mendengar perkataan Taeyeon barusan Tiffany bisa merasakan sesuatu sedang menghimpit rongga dadanya sekarang.

“Aku benar-benar berusaha untuk melanjutkan hidupku, Fany-ah. Semua berjalan dengan lancar dan aku akhirnya bisa melupakan perasaanku yang bodoh itu, Fany-ah. Aku berhasil,”

“Tapi..aku tidak tau harus bersyukur atau menyesal karna bisa bertemu denganmu lagi, Fany-ah. Ini semua terasa begitusulit untuk-ku. dinding yang aku coba bangun selama empat tahun terkahir, roboh begitu saja hanya dengan kehadiranmu yang begitu dekat.”

Tiffany bisa merasakan hatinya yang tersayat mendengarnya, ia tidak menyangka bahwa dia telah membuat hati wanita ini sebegitu terlukanya. Harusnya dia tau bahwa Taeyeon sangat lah lemah, terutama dalam hal mencintai. Kenapa ia tidak menyadarinya?

“Fany-ah.. apa yang telah kau lakukan padaku?”

Tiffany hanya terdiam dengan air tangisnya yang terus berlinang di pipi halusnya. Dia menatap Taeyeon nanar, wanita itu kini mempunyai sorotan pandangan yang gelap. Dia terlihat begitu sedih dan terluka, Tiffany bisa merasakan kata-kata Taeyeon yang terdengar gemetar, ia tau bahwa wanita ini mungkin sedang melawan semua perasaannya. Dan Tiffany hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah ia perbuat pada wanita ini. Tiffany tau bahwa dia telah meninggalkan bekas luka yang luas di hati Taeyeon, dan dia tidak pernah merasakan begitu hina lebih dari ini.

“Taeyeon-ah..”

“Berhenti, Fany-ah.. jangan membuat aku kembali ke masa itu lagi, Maaf aku meninggalkanmu begitu saja, tetapi aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Tetapi, kita tidak bisa seperti ini, Fany-ah. Aku merasa begitu  bodoh karna masih merasakan rindu yang sangat menyiksa ini.. rindu terhadap seseorang yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain,”

“Membutuhkan waktu yang sangat lama agar namamu pergi dari sini,”Taeyeon menunjuk hatinya dengan jemari tangannya, dia juga. Sedang terisak keras sama seperti Tiffany.

“Tapi kenapa hitungan detik dapat membuatku merasa seperti orang idiot lagi karna lagi-lagi jatuh untukmu!?”

Tiffany lalu menggelengkan kepalanya pelan, dia ingin sekali mengatakan bahwa dia juga merasakan hal yang sama pada Taeyeon. Dia tidak bisa mengungkiri bahwa rasa yang dulu ia anggap mati justru menguat sekarang. Dia merasa begitu menjijikan mengetahui bahwa dia telah begitu banyak melukai Taeyeon hingga seperti ini. Hingga dia bahkan takut akan perasaanya sendiri.

“Mianhae.. Taeyeon-ah..”Baru saja dia ingin mendekat, namun Taeyeon lebih dulu memundurkan langkahnya, membuat Tiffany kembali terdiam dan menatapnya sedih,

“Cukup, Fany-ah. Aku rasa kita tidak seharusnya bertemu lagi seperti ini..”

“Kau sudah mempunyai seseorang yang akan menjagamu dengan baik. Nickhun adalah pria yang cocok untukmu, Fany-ah. Kau akan memulai masa depan yang jauh lebih cerah bersamanya, dan aku, mungkin aku hanya bisa menjadi saksinya, melihatmu bahagia mungkin adalah salah satu yang aku nantikan kedepannya, nanti.”
Tiffany sekali lagi hanya bisa menutup mulutnya, dia tersesat akan waktu yang sedang berjalan di sekitarnya sekarang. Bagaimana mungkin hanya dengan perkataan Taeyeon dapat membuatnya jatuh dalam hitungan detik. Bahagia bersama Nichkhun? Ia bisa mengakui bahwa dia pernah berpikiran seperti itu sebelumnya. Heck, bahkan dia meninggalkan Taeyeon hanya untuk mewujudkan mimpinya itu. Tapi mengapa seorang wanita yang kini ada di depannya terasa mampu untuk membalikkan mimpinya itu? apa itu adalah hal yang benar-benar dia inginkan bersama Nichkhun? Atau.. bersama Taeyeon?

Mendengarkan pernyataan Taeyeon mungkin adalah hal yang tidak ingin dia dengarkan sampai kapanpun. Rasanya semua perkataan Taeyeon tak ada yang benar baginya. Tiffany bisa merasakan kebimbangan yang luar biasa setelah perktaan  itu menyadarkannya. Dia mungkin bodoh untuk mencerna situasi ini, namun ia yakin bahwa mimpinya itu pernah ada, namun dia tidak lagi berniat untuk mewujudkannya.

Tiffany telah memantapkan hatinya sekarang. Mungkin jika saja dia tidak melepaskan Taeyeon, dia sudah bahagia bersamanya sekarang. Atau justru sebaliknya. Karna dia tidak pernah sampai di titik paling bawah dalam hidupnya hanya karna seseorang wanita yang dapat membuat hidupnya jungkir balik seperti ini.

“Jangan berkata seperti itu.. Jangan mengatakan seolah-olah kau bukan apa apa di hidupku.. itu menyakitkan, Taeyeon-ah..”Tiffany lalu memejamkan matanya. Merasakan sakit di ulu hatinya yang menyiksa mendengar itu semua.

“Apa aku mengatakan hal yang salah? Tapi kau berkata bahwa aku hanya batu penyandung, Fany-ah.. dan aku akui itu benar, dan sekarang aku hanya mencoba meyakinkan bahwa pilihanmu dulu tak pernah salah. Mungkin melepaskanku dulu adalah jalan yang terbaik yang bisa kau ambil, tapi kau tidak mengetahui bahwa itu berdampak besar bagi hidupku sekarang. Cukup aku yang merasakan itu semua, Fany-ah. Jangan membuat aku menjadi orang jahat bagimu, sekarang..”

Kim Taeyeon.. kau salah kali ini.. melepaskanmu adalah hal paling bodoh yang pernah aku lakukan dulu.

Namun lagi-lagi Tiffany hanya bisa mengutuk dirinya sendiri karna tidak melakukan apa-apa sekarang. Dia mengakui bahwa sebagian besar omongan Taeyeon benar, dia telah membuang sosok itu yang selalu ada di sampingnya. Dan kini ia tau bahwa dia telah kehilangan kepercayaan darinya. Tetapi mendengar omongan Taeyeon tentang masa depannya bersama Nichkun mampu membuatnya untuk kembali memikirkan itu lagi, ia bertanya-tanya kenapa kata-kata itu,  memulai masa depan dengan Nickhun terasa begitu salah namun terasa begitu nyata.

Mungkinkah jika dulu dia lebih memilih Taeyeon dia tidak akan merasa bimbang seperti ini? mungkihkan sosok itu bahkan yang akan menjadi orang yang mau berdir idi sampingnya saat ini? yang selalu mengisi harinya dengan semua rasa perhatian dan sayangnya? Mungkinkah semua hal akan terasa begitu mudah dan menyenangkan jika itu.. Taeyeon?

Tetapi Tiffany kemudian menyadari. Kini semua yang tersisa hanyalah mengapa? Dan mungkinkah? Dan dia tidak pernah merasa begitu bimbang di dalam hidupnya.

“Fany-ah.. sebaiknya kau bersiap. Dia akan segera tiba disini,”Tambah Taeyeon lalu mengukir senyum tipis di wajahnya. Matanya sembab namun entah mengapa masih terlihat begitu cantik di mata Tiffany. Dia bisa melihat luka di sorotan pandangannya. Dan Tiffany hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri untuk itu,

“Maaf untuk sebelumnya,”Tambahnya cepat, kemudian Tiffany tau bahwa wanita ini mungkin sedang meminta maaf karna telah mencuri kecupan singkat tadi.

“Anyeong, Fany-ah..”

Baru saja Taeyeon ingin membalikkan badannya lagi, Tiffany lebih dulu membuka mulutnya kini.

“Kau tidak akan menghindariku, kan? Taeyeon-ah? Aku rasa aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi..”

“Kenapa aku harus menghindarimu, Fany-ah? Kau bercanda? Aku akan selalu disini..”Jawab Taeyeon lalu kembali tersenyum, entah bagaimana ceritanya Tiffany justru sedih mendengarnya. Dia hanya bisa mengutuk dirinya yang kini bukan milik Taeyeon. Melainkan orang lain,dia tidak pernah puas akan labelnya sekarang. Mungkin akan berbeda jika saja dia tidak salah mengambil langkah dulu. Tetapi tetap saja, itu semua hanya mungkin.. dan dulu..


“Unnie!”Tiffany menoleh, di dapatinya Hayeon yang tengah berlari kecil mendekat ke tempatnya duduk. Pada akhirnya dia memilih untuk mengirim pesan pasa Nichkhun dan mengatakan bahwa dia bisa kembali sendiri. pertemuannya dengan Taeyeon beberapa jam lalu masih meninggalkan luka yang sakit di hatinya. Entah mengapa bertemu dengan kekasihnya menadi salah satu hal yang ia akan pikirkan lagi mulai sekarang. Itu semua karena Taeyeon..

Jadi Tiffany memutuskan untuk tetap berada di taman hingga langit menjadi gelap. Dia butuh waktu untuk memikirkan semuanya lagi. Dia merasa begitu bimbang dan tersesat, dan tentu saja butuh seseorang untuk mendengarkan semua kegelisahan hatinya.

“Apa yang kau lakukan malam-malam disini, Hayeon-ah?”

Untuk kesekian kalinya Tiffany menyadari bahwa nama gadis ini benar-benar mirip dengan orang itu. bahkan lidahnya terasa sangat familiar ketika menyebutkan namanya. Tak hanya itu, dia juga bisa merasakan hawa hangat dan nyaman yang sama ketika dia berada di dekat Hayeon.

Hayeon dan Taeyeon.. cara penyebutan yang sama membuat aku terus mengingatmu lagi, Taeyeon-ah..

“Oh! Aku baru ingat tadi aku sedang mencari-cari ice cream di minimarket dekat sini, tetapi mereka tidak mempunyai rasa vanilla yang aku suka!”celotehnya lalu duduk di samping Tiffany sembari tertawa pelan,

Sedangkan Tiffany semakin yakin bahwa keduanya begitu mirip. Bagaimana mungkin dua orang itu menyukai satu hal yang persis sama. Ice cream rasa vanilla.

Ice cream..

Taeyeon dan Hayeon..

Lagi..

Kalian begitu sama. Kalian berdua mempunyai senyum yang indah, tawa yang hangat juga pribadi yang menyenangkan. Aku merasa begitu nyaman ketika kalian berada di dekatku.

Kenapa?

Bahkan cara Hayeon mengeluh tentang sesuatu, sangat mirip dengamu Taeyeon-ah. Kalian berdua tertawa lepas akan candaan yang ada, dan aku benar-benar suka mendengarnya.

“Oh.. unnie akan membelikannya untukmu lain waktu, ya.”Ujar Tiffany pelan lalu mengacak-acak rambut Hayeon singkat,

Sementara gadis itu lalu mengembangkan senyumnya lebar, “Benarkah!? Baiklah!”

Sementara Tiffany hanya bisa tertawa pelan melihat kelakuan gadis ini yang begitu lucu. Dia sangat menyukai bagaimana kedua mata Hayeon akan berbinar menatapnya, dia bisa melihat Taeyeon di sosoknya.

Taeyeon……..

Argh! Taeyeon- ah apa yang telah kau lakukan padaku!?

“Hayeon-ah..”

Hayeon lalu menatap Tiffany dengan heran, ekspresinya kini berubah. Wanita itu terlihat sedang berpikir sesuatu, Hayeon bisa melihat wajahnya yang sembab. Terlihat sekali bahwa dia mungkin saja habis menangis untuk waktu yang agak lama. Hayeon baru bisa melihat jelas wajah Tiffany ketika lampu jalan mulai ikut menerangi,

“Unnie! Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu sembab!?”Tanyanya dengan nada khawatir sembari mencari-cari jawaban di tatapan wanita yang lebih tua.

“Apa kau baru saja menangis? Ada apa? Apa seseorang menyakitimu!? Aku akan menghajarnya!”Tambahnya lagi, membuat Tiffany lalu terkekeh pelan mendengarnya,

Bahkan caranya mengkhawatirkan seseorang benar-benar sepertimu, Taeyeon-ah.. kalian begitu lucu.

“Anni.. aku rasa aku yang menyakiti orang lain, Hayeon-ah..”

“Oh?”

“Bagaimana dokter cantik sepertimu yang bertugas merawat orang lain justru menyakiti seseorang?”Kata Hayeon lalu memasang senyumnya lagi,

“Aku yakin kau tidak bermaksud untuk menyakitinya, kan Unnie? Tenang saja.. masih banyak kesempatan untukmu memperbaiki semuanya..”

Benarkah? Masih ada kesempatan, Taeyeon-ah?

Untukku bisa mendapatkanmu lagi..

Anni.. aku yakin itu tidak mungkin terjadi… aku sudah melepaskanmu lebih dulu. Aku tidak pantas jika di sandingkan dengan seseorang yang sempurna seperti mu.

“Aku rasa aku tidak memiliki kesempatan itu lagi, Hayeon-ah.. aku telah membuang itu lebih dulu..”

Hayeon bisa mendengar kesedihan dan luka di perkataan Tiffany barusan. Dia ingin sekali menghibur hati wanita ini, namun ia tau bahwa mungkin saja Tiffany sedang mengalami hal yang buruk. Tetapi Hayeon merasa tidak ad aide yang bagus yang melintasi pikirannya sekarang. Ia tidak terlalu mengerti masalah orang dewasa dan dia mengutuk dirinya karena itu.

Tiffany sudah seperti kakaknya selain Taeyeon dan Jesscia. Dan dia sama sekali tidak ingin melihat mereka bersedih atau bahkan menangis. Baginya, seseorang yang berhasil membuat mereka menangis adalah orang yang juga menjadi musuhnya. Ia sangat menyayangi ketiganya dan bertekad untuk menjaga mereka agar tetap bahagia.

“Unnie.. jangan berkata seperti itu.. semua itu belum terlambat, lagipula aku tidak mengenal seorang dokter yang aku kagumi mengatakan hal yang menunjukan seolah-olah dia menyerah akan sesuatu. Kau sendiri yang mengatakan aku harus berusaha lebih keras agar bisa menjadi dokter sepertimu. Tapi kenapa disini kau menyerah?”Hayeon lalu menggenggam satu tangan Tiffany. Sesekali ibu jarinya mangusap punggung tangan Tiffany pelan, lalu dia tersenyum hangat.

“Kau juga, harus berusaha lebih keras untuk menyelesaikan semuanya, Unnie. Semua masih mempunyai jalan, walaupun hanya sebagian kecil dari kepingan paling besar di masa lalu. Aku mungkin tidak mampu untuk mengerti masalahmu, masalah orang dewasa. Tapi yang aku tau, aku tidak pernah mau melihatmu terus seperti ini..”

Sementara Tiffany merasa sangat bersyukur bahwa dia telah di pertemukan dengan gadis remaja yang ceria, penuh semangat, dan mempunyai sifat yang menyenangkan juga sepenyayang ini. untuk pertama kalinya dia merasa bahwa dia mungkin saja telah menemukan sosok adik yang sempurna seperti Hayeon.

Gomawo.. Hayeon-ah..”Tiffany menarik Hayeon dalam pelukannya kini. Kekosongan hatinya kini perlahan terasa menghilang karna kehadiran Hayeon sekarang. Dan dia tidak bisa lebih bersyukur dari ini. sementara Hayeon membalas pelukan Tiffany dengan erat juga. Dia tersenyum mengetahui bahwa mungkin dia telah berhasil menenangkan hati dokter di atasnya ini.


Hari-hari selanjutnya terasa begitu berat bagi Tiffany. Dia sangat menginginkan Taeyeon, dia ingin sosok itu untuk terus berada di sampingnya. Dia ingin keberadaan Taeyeon setiap waktu yang bisa mengisi hari-harinya. Dia belum yakin akan perasaannya sendiri, namun yang ia bisa percaya. Bahwa dirinya telah jatuh begitu jauh untuk sosok atasannya itu. ia tau ia begitu terlambat, tapi Tiffany tidak bisa menngingkari seberapa kerasnya ia mencoba untuk melupakan Taeyeon, semakin namanya lah yang terlintas di fikirannya setiap saat.

Yang paling ia sesali saat ini adalah dirinya yang hanya bisa memperhatikan Taeyeon dari jarak jauh. Mendengar tawanya yanghangat begitu samar. Ia pernah mencoba untuk meminta waktu orang itu untuk berbicara sebentar, namun Taeyeon menolak ajakannya  begitu saja. Bahkan bukan dari bibirnya sendiri, Taeyeon memerintahkan sekretarisnya untuk menyampaikan jawabannya itu. Tiffany sedikit kecewa akan sikap yang di berikan kepadanya, tetapi ia tau. Bahwa penyebab semua itu tidak lain adalah dirinya sendiri. dia tidak bisa menyalahkan Taeyeon yang begitu terluka akibat ulahnya dulu.

Mungkin kata-kata maaf tak akan pernah cukup, tetapi tetap saja Tiffany masih berdiri di tempat yang sama mengharapkan keajaiban agar Taeyeon mau kembali padanya. Dia benar-benar egois, dia tau itu. dia menginginkan orang itu kembali kepadanya di saat dia masih menjadi milik orang lain. Tiffany tau dirinya begitu bodoh karna mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas tidak akan pernah di dapatkannya.

Tiffany hanya tidak bisa menghentikan dirinya yang selalu saja berdiri di tempat yang salah.

Dia pernah sengaja membuatkan Presiden rumah sakit itu makan siang. Ia tau hari itu Taeyeon akan berkunjung ke rumah sakit, jadi dia memutuskan untuk menyiapkan wanita itu sedikit makan siang yang ia buat di rumah. Ia begitu senang ketika sekretaris Taeyeon mau di titipkan itu untuk di berikan padanya. Tetapi langkah selanjutnya justru membuatnya begitu kecewa, ketika si sekretaris kembali dengan wajah khawatirnya sembari tetap membawa tempat makan siang yang di berikan sebelumnya.

Seharusnya ia tau, bahwa Taeyeon tidak akan mau menerimanya. Apa yang di pikirkannya?

Tiffany hanya ingin melakukan sesuatu yang mungkin saja berarti sedikit bagi wanita yang lebih tua. Tetapi ia tidak mengetahui bahwa rasa penolakan begitu sakit menyayat hatinya. Walau itu hanya bekal makan siang. Karna dia membuatnya dengan sepenuh hati, sepenuh harapan agar wanita itu mau menerima dan melahap masakannya.

Bukan hanya itu, bahkan Tiffany merasa bahwa Taeyeon tidak mau melemparkan pandangannya lagi ke arahnya. Wanita itu selalu saja menemukan cara agar dia tidak dapat bertemu mata dengan Tiffany lagi. Entah dengan berpindah tempat, atau memerintahkan sekretarisnya untuk membuat Tiffany menjauh dari tempatnya berdiri.

Tiffany mulai mempertanyakan janji Taeyeon untuk tidak menghindarinya. Karna semuanya terasa begitu jelas jika wanita itu berusaha dengan keras untuk menjauhinya.

Siang ini rasanya begitu melelahkan untuk Tiffany, sejak pagi UGD selalu di penuhi dengan pasien. Semua itu di sebabkan karena kecelakaan beruntun yang terjadi di sudut lain kota Seoul. Dokter yang berjaga disini memang banyak, namun kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk memperhatikan bangsal vip dari pada untuk umum. Tiffany bersama Dokter lainnya yang bersedia mau tidak mau harus mengerjakan pekerjaan double.


Taeyeon melangkah masuk ke lobby utama rumah sakitnya. Di ikuti belasan dokter dari semua departemen untuk menyampaikan laporan mereka. Juga beberapa orang berjas yang bertugas untuk menjaga keselamatannya setiap saat. Mereka masing-masing mempunyai tanggung jawab tak terkecuali Taeyeon dalam mengelola perusahaanya yang kini merambati dunia medis. Seperti rumah sakit ini contohnya.

Ia akan menyempatkan dirinya berkunjung ke rumah sakit beberapa kali dalam seminggu, selalu berusaha dengan keras agar tidak di pertemukan dengan dokter itu. Taeyeon juga mengjaga jaraknya dari departemen bedah tempat Tiffany berada. Dia sebenarnya tersiksa akan perlakuannya sendiri saat ini, namun Taeyeon mengetahui posisinya berada. Tiffany akan segera menjadi istri dari orang lain. Dia tidak bisa terus jatuh untuk sosoknya, dan menjadi dirinya yang egois untuk merebut Tiffany dari genggaman orang lain.

Dia hanya tidak bisa seperti itu, walaupun harus mengorbankan perasaanya sendiri. Taeyeon bukan tipe orang yang akan jatuh pada lubang yang sama. Dia juga memikirkan bagaimana masa depan Tiffany nanti, dan dia menantikan itu. dimana wanita itu hidup bahagia bersama orang pilihannya. Mungkin dirinya akan sangat mati saat itu, tetapi mengetahui bahwa Tiffany telah bahagia, mungkin. Hanya mungkin dirinya akan terbebas dari jeratan cintanya untuk Tiffany yang terlanjur sangat dalam.

Taeyeon terheran ketika melihat beberapa dokter dan perawat yang sibuk berlarian dari arah pintu masuk bersama pasien-pasien yang baru saja di turunkan dari ambulans menuju ruangan ugd.

“Ada apa?”Tanyanya pada salah satu pria paruh baya yang memakai jas putih. Tertulis bahwa dia berasa di departemen Orthopaedi dan Traumatologi. Dr. Song. Dia adalah salah satu kepala departemen yang Taeyeon percaya, karna mampu menyampaikan setiap laporannya dengan baik akan kondisi rumah sakit.

“Ah, ada kecelakaan beruntun di dekat Cheongdam-dong Presiden. Semua pasien di alihkan ke rumah sakit kita dari Daeguk. Mereka juga sedang kesulitan disana.”

Sementara Taeyeon hanya menganggukan kepalanya, lalu terlintas di benaknya untuk juga memeriksa situasi ruang ugd saat ini.

“Sebaiknya kita ikut memeriksa situasi ruang ugd.”Ujarnya sekali lagi,

“Baik, Presiden.”

Setelah sampai disana, Taeyeon dibuat cukup terkejut. Benar saja, ini terlihat begitu ricuh dengan suara dan kegiatan yang ada. Dia bisa melihat puluhan pasien yang berlumuran darah sedang di tangani oleh dokter-dokter yang ada. Panik, ketakutan, rintihan, tangisan dengan mudah menembus gendang telinganya.

“AKU BILANG BERHENTI! INI MENYAKITKAN!”

Taeyeon lalu menolehkan pandangannya dari asal suara ribut itu, dia bisa melihat seorang pasien sedang berteriak keras pada salah satu dokter wanita yang kini terlihat memperhatikan. Banyak darah yang menempel pada jas putihnya, dia terlihat memegangi pergelangan tangannya yang kini di penuhi dengan darah.

Taeyeon tau bahwa dokter itu kini sedang terluka akibat ulah dari pasien yang baru saja membentaknya. Yang membuat Taeyeon semakin terkejut adalah hal yang selanjutnya ia lihat.

Tiffany…

Wajahnya terlihat begitu panik, lelah dan takut. Dia meringis kesakitan akibat luka yang baru saja di dapatnya dari pasien itu. perawat yang berada di sampingnya hanya bisa terdiam takut sembari terus membantu mencegah darah yang keluar dari pergelangan tangannya,

“Saya tau. Tetapi anda tidak boleh banyak bergerak. Anda mengalami pneumotoraks. Anda bisa mati”

Pneumotoraks : penimpunan darah, gas atau udara dalam rongga pleura.

“PLAK!”Satu tamparan yang begitu keras mendarat di pipi halusnya, Tiffany kembali meringis kesakitan. Air matanya kini terjatuh begitu saja karena menahan sakit yang teramat sangat.

Sementara Taeyeon membelalakan matanya menyaksikan kejadian itu. ia bisa merasakan api kemarahan yang terbakar hebat di ulu hatinya. Seseorang menyakiti wanita itu..

Taeyeon tanpa berfikir berlari mendekat kea rah Tiffany dan pasiennya. Begitu cepat menyebabkan orang-orang yang di belakangnya ikut mengejar sosoknya.

“Fany-ah!”Panggilnya lalu berdiri di depan sosok Tiffany yang kini sedang terisak keras, Tiffany sempat terkejut atas apa yang sorotannya lihat sekarang. Mungkin pandangannya kabur akibat air mata, namun dia dengan mudah mengenali sosok wanita yang kini ada di depannya.

“Taeyeon-ah..”

Taeyeon lalu meraih pipi Tiffany yang memerah akibat tamparan itu dengan telapak tangannya, matanya berair menyaksikan kondisi Tiffany sekarang. Dia merasa begitu bodoh karna membiarkan Tiffany tersakiti di depan matanya sendiri.

Dia bisa melihat goresan luka di sudut bibir wanita ini, lalu pandangannya turun pada pergelangan tangan Tiffany yang juga terluka akibat sayatan benda tajam. Masih bisa di lihatnya darah segar yang mengalir dari sana,

Taeyeon bisa merasakan api amarahnya yang berkobar di dalam rongga dadanya melihat itu semua, dan dia hanya bisa menyalahkan satu orang saat ini.

Waktu yang berjalan di sekitarnya terasa melambat, Taeyeon tau dia tidak akan pernah bisa mengontrol amarahnya sekarang. Dia bahkan bisa saja membiarkan pasien itu mati di depannya sekarang karena telah menyakiti Tiffany separah ini.

“APA YANG KAU LAKUKAN!?”Bentaknya dengan keras saat dia membalikkan badan untuk meghadapi pasien paruh baya yang masih berdiri di depannya. Dia memang menolak untuk di obati bahkan dari dia tiba di rumah sakit ini.

“BUKANKAH ITU HAL MENJIJIKAN UNTUK TIDAK MENDENGARKAN PERINTAH DOKTER!?”

“APA KAU BAHKAN INGIN MATI!?”

Pria berjas hitam yang mengelilingi Taeyeon otomatis langsung mengamankan pasien itu dan menahannya dengan segera. Membuat pasien itu menjauh dari tempat Taeyeon berdiri, takut-takut dia akan menyerah atasan mereka dengan cara yang sama kepada Tiffany sebelumnya.

“Bawa orang ini jauh dari penglihatanku.”Perintah Taeyeon langsung saja di patuhi oleh bawahannya, sementara orang-orang itu membawa pasien itu pergi, Taeyeon lalu berbalik dan menatap Tiffany kembali sekali lagi. Dia menarik wanita itu yang kini tengah menangis ke dalam pelukannya.

Semua mata kini tertuju pada keduanya, tidak terkecuali para kepala departemen yang sedari tadi mengikuti sosok Taeyeon di belakangnya,

“Maafkan aku.. Maafkan aku…”Gumam Taeyeon pelan sesekali mencium pucuk kepala Tiffany dengan lembut. Berharap tangisannya akan mereda dengan segera. Karna dia tidak bisa melihat kondisi Tiffany yang seperti ini.

Appo.. Taeyeon-ah..”Tiffany menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Taeyeon. Dia mungkin merasakan sakit yang taramat sangat di bagian fisiknya sekarang. Tetapi luka di hatinya juga semakin melebar, walaupun kini dia bisa merasakan dekapan Taeyeon lagi. Tiffany menumpahkan air matanya pada kemeja Taeyeon. Betapa dia merindukan sosok ini, betapa dia mendamba-dambakan Taeyeon akan memeluknya walau hanya untuk yang terakhir kali.

“Maafkan aku…”Taeyeon hanya bisa terus menenangkan wanita yang ada di bawahnya kini. Dia menyalahkan dirinya sendiri karna tidak bisa melindungi Tiffany tadi. Ia menyesalinya, jika saja dia bertindak lebih cepat, Tiffany mungkin tidak akan terluka di depan matanya.

Sementara para dokter hanya menundukan kepala mereka melihat kejadian yang ada sekarang.


“Ah!”Tiffany meringis kesakitan ketika jarum itu mulai menembus lapisan kulitnya yang paling dalam. Ia tidak bisa mendapatkan obat bius karna tekanan darahnya yang begitu rendah. Mungkin karna kelelahan yang ia alami sekarang.

Dirinya tidak menyangka bahwa kini giliran dia yang menjadi pasien di rumah sakit tempatnya bekerja.

Dia menahan sakitnya dan terpejam sembari satu tangannya mendekap erat pinggang kecil wanita itu. wanita yang selalu di rindukannya setiap saat, wanita yang setia menemaninya sedari tadi ia masuk ruang rawat jahit ini.

Tiffany menenggelamkan wajahnya pada kemeja wanita ini. bukan dia mengambil kesempatan dalam kesempitan, tetapi ia hanya tidak tau apa wanita ini akan sudi untuk di peluknya lagi setelah ia melewati sesi jahitnya ini. dan dia tidak mau itu semua berakhir dengan cepat, karna dia betul-betul merindukannya. Bahkan tangisannya masih jelas terdengar sekarang, bukan hanya karna sakit. Tetapi dia begitu menginginkan sosok ini untuk terus berada di dekatnya.

“Its okay, Fany-ah..”

Mendengar lembutnya suara Taeyeon membuat Tiffany seolah-olah bisa melupakan rasa sakit yang menghantamnya kini. Terlebih lagi merasakan perhatian Taeyeon yang begitu dalam saat ini padanya. Rasanya ia rela untuk menanggung semua rasa sakit asalkan Taeyeon terus berada di sisinya.


Tiffany rasanya tidak ingin terbangun dari mimpinya sekarang. Tidak jika Taeyeon kini masih terus di sampingnya, mendekapnya dalam sembari terus menjatuhkan kecupan singkat di ujung kepalanya. Senbari mengusap pelan helaian rambutnya. Dan Tiffany tidak pernah merasa lebih aman dari ini. Hanya ada dirinya, dan Taeyeon di ruangan pasien yang sunyi ini.

Berada di genggaman Taeyeon adalah salah satu hal yang sangat ia syukuri saat ini. Seperti mimpi yang menghampirinya lebih dulu di siang bolong, ia tidak pernah lupa bagaimana hangat dan nyamannya pelukan Taeyeon.

Mereka berdua terbaring di atas kamar tidur pasien sembari mendekap tubuh satu sama lain. Tidak sedikitpun realita yang mereka pedulikan sekarang, yang mereka tau, hanya keduanya yang masing-masing menginginkan satu sama lain. Lebih dari apapun.

Tiffany bisa merasakan perasaan nya yang semakin kuat untuk Taeyeon setiap detiknya. Dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk itu. Dia merindukan Taeyeon setiap waktu seakan mereka tidak pernah di pertemukan lagi. Dia menginginkan Taeyeon ke titik paling dalam di hidupnya.

“Aku tidak pernah lupa bagaimana hangatnya tubuhmu, Taeyeon-ah.”Ucap Tiffany pelan dengan semburat merah di wajahnya.

Taeyeon hanya terkekeh pelan lalu merasakan Tiffany yang semakin membenamkan wajahnya di ceruk lehernya. Ia tau bahwa wanita yang ada di bawahnya kini mungkin sedang merasakan malu akibat perkataanya barusan.

Taeyeon tidak bisa memungkiri bahwa dia juga merindukan sifat Tiffany yang seperti ini. Semua terasa seperti mimpi untuk bisa kembali mendekap tubuh kecilnya seperti ini. Dia ingin sekali terus berada di samping Tiffany hanya untuk menjaganya dari segala bahaya yang ada.

“Terimakasih untuk yang tadi, Taeyeon-ah. Jjeongmal gomawo..”

“Anni.. Aku minta maaf karna terlambat, Fany-ah.”

“Itu konyol, Taeyeon. Aku yang seharusnya berterima kasih. Mungkin bukan hanya jahitan yang aku dapat jika kau tidak datang.”

Mereka berdua kembali terdiam, justru mengeratkan pelukan masing-masing. Hanya keduanya dan Tuhanlah yang tau bagaimana mereka saling merindukan satu sama lain. Atmosfir ini begitu nyaman dan tenang, Taeyeon dan Tiffany seakan tenggelam pada perasaan mereka sendiri. Perasaan yang mereka kubur kini justru menyeruak keluar dan kembali menyelimuti mereka.

“Aku mohon setelah ini, kau tidak boleh mengabaikanku lagi, Taeyeon-ah. Itu menyakitkan, aku benci untuk tidak bisa melihatmu.”

Taeyeon tersenyum mendengarnya, dia sangat menyukai bagaimana Tiffany yang sekarang mampu mengutarakan perasaanya begitu saja. Berbeda dengannya yang dulu sangat hati-hati, bahkan untuk mengatakan rindu dan perhatiannya. Itu semua sangat sulit untuk di dengar Taeyeon di masa lalu.

“Maafkan aku, Dokter. Aku hanya tidak bisa menahan keinginanku untuk memelukmu jika melihatmu di jarak yang dekat.”

“Kalau begitu jangan.”Sambar Tiffany cepat, dia tidak bisa mengingkari kebahagian yang kini mengelilinginya ketika Taeyeon berkata seperti itu.

“Baiklah, maafkan aku, Dokter. Aku tidak akan mengulanginya lagi..”

Tiffany hanya bisa tertawa pelan, lalu mendongak untuk menatap wanita yang ada di atasnya. Kedua nata mereka kembali bertemu, andai Taeyeon tau bagaimana Tiffany dapat seolah-olah tenggelam pada sorotan orbs dalam yang ia punya. Mereka seperti itu untuk waktu yang lumayan lama.

Tatapan penuh arti, rindu, sakit, juga kenginan yang menggebu-gebu di hati mereka.

Lalu pandangan Tiffany turun pada bibir yang Taeyeon miliki. Bibir merah muda yang lembut itu seakan mengundang pandangannya untuk waktu yang lumayan lama. Lalu kembali menatap mata Taeyeon yang tidak pernah meninggalkan pandangannya.

Tiffany lalu memberanikan dirinya untuk melawan semua rasa takut dan bimbangnya kini. Ia tidak bisa menahannya,

Taeyeon yang mengerti mulai mendekatkan wajahnya pada Tiffany. Wanita itu kini perlahan menutup kelopak matanya, Tiffany bisa merasakan ruangan hatinya yang kini seperti mengadakan konser di dalam sana. Aliran darahnya seperti berhenti, jantungnya berdetak sangat cepat. Sampai ia bisa merasakan terpaan hangat nafas Taeyeon di pipinya.

Dan bibir itu berhasil menyentuh miliknya. Taeyeon menahannya untuk waktu yang sedikit lama. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk kembali menjauhkan wajahnya, tetapi Tiffany lebih dulu menarik kepalanya kembali. Kali ini Tiffanylah yang memperdalam ciuman mereka. Dia  bahkan berani menempatkan beberapa lumatan lembut disana.

Keduanya menarik kembali wajah mereka untuk bisa menghirup udara karna nafas mereka yang memburu akibat ciuman itu.

Tiffany tidak bisa membohongi dirinya sendiri bagaimana bahagianya dia saat ini. Dia berdoa jika semu ini mimpi, biarkanlah tetap seperti ini untuk selamanya.

Dia tidak pernah menyangka dirinya yang begitu penuh dengan kesalahan dan terus menyakiti Taeyeon, mampu merasakan kembali bagaimana lembut bibir itu menyapanya.

“Aku… Benar benar… Merindukanmu… Taeyeon-ah…”dia berkata masih dengan nafasnya yang tersenggal.

Keduanya lalu saling menyatukan kening mereka, Taeyeon hanya menjawab pernyataan Tiffany dengan senyumannya. Dia terpesona akan bagaimana indahnya kedua mata Tiffany jika di lihat dengan jarak seperti ini. Heck, bahkan dia bisa merasakan hangat nafas Tiffany yang menyapa wajahnya.

“Aku tau..”

Mungkin Tiffany agak kecewa dengan jawaban Taeyeon. Karna dia tidak mendapatkan balik pernyataanya. Namun dia buru-buru menepis semua prasangka buruknya dan justru ikut tersenyum.

Taeyeon kembali menarik tubuhnya untuk di dekap, dan Tiffany dengan senang hati menyambutnya. Segera ketika nafasnya kembali normal, dia mulai merasakan kantuk yang luar biasa. Mungkin karna efek obat yang baru saja di tenggaknya,

Usapan halus tangan Taeyeon di rambutnya justru membuat kedua matanya seperti memaksa untuk tertutup. Dia berusaha untuk terjaga. Dia sangat berusaha.

Dia takut jika ia tertidur, mungkin Taeyeon akan segera meninggalkan dirinya. Dia tidak mau melewati fase itu lagi, dimana dia tidak bisa mendapatkan Taeyeon di dekatnya lagi.

“Tutup matamu, Fany-ah. Kau harus istirahat..”Taeyeon yang menyadari Tiffany yang berusaha menahan kantuknya, hanya bisa terus membelai rambutnya lembut. Berharap wanita yang ada di bawahnya mau memejamkan matanya dan beristirahat.

“Aku takut… Kau akan.. Meninggalkanku lagi..” Perkataan Tiffany barusan membuat Taeyeon merasakan hatinya yang terasa mencair seperti musim semi. Dia tersenyum lembut,

“Aku disini, Fany-ah..”

“Pejamkan matamu..”Taeyeon mengecup pucuk kepala Tiffany lagi sembari menariknya lebih dekat.

“Kau… Harus… Berjanji padaku… Taeyeon-ah…”Tiffany mulai memejamkan matanya, kali ini ia benar-benar tidak mampu menahannya.

“Aku berjanji padamu, Dokter Hwang.”

Tiffany benar-benar hilang kesadarannya dan tertidur dengan sangat nyaman tepat setelah Taeyeon mengungkapkan janjinya.

Maafkan aku, Fany-ah…


Seharusnya Tiffany bisa menebaknya. Akan sangat sulit bagi wanita itu menepatkan janjinya di saat-saat seperti ini. dia terbangun tanpa ada dekapan hangat yang ia dapatkan sebelumnya. Dia begitu menyesal karena telah menutup matanya. Tiffany benar-benar merasa bodoh karna merindukan sosok Taeyeon lagi di sisinya. Dia hanya bisa menangis tersedu mengetahui sosok itu kini tidak lagi ada di dekatnya. Itu semua terjadi begitu singkat dan dirinya belum rela untuk melepaskan Taeyeon lagi..

Tiffany benar-benar berpikir bahwa Taeyeon akhirnya telah kembali, untuk sepenuhnya. Namun sepertinya itu hanya khayalan belaka, sosok Taeyeon hanya melewati fase sulit nya untuk sekejap.

Dirinya tidak bisa mengungkiri bagaimana perih hatinya mengetahui bahwa Taeyeon bahkan sudah terbang ke Negara lain untuk alasan pekerjaanya. dia baru saja mendapatkan Taeyeon lagi di genggamannya, sekarang jarak memisahkan mereka lagi untuk waktu yang lumayan lama. Empat tahun sebelumnya sudah terasa sangat sulit, Tiffany tidak bisa membayangkan bagaimana tiga bulan akan berjalan tanpa dirinya bisa melihat perawakan Taeyeon di pandangannya.

Apalagi sosok itu  tidak mengucapkan ucapan pamitnya, membuat rasa luka dan tidak tenangnya masih tertinggal di suatu tempat di ruang hatinya.

Namun itu semua berbeda ketika dia selesai membaca surat yang dititipkan untuknya. Surat yang di tulis sendiri oleh orang yang sangat berarti di hidupnya. Kim Taeyeon.

 

Fany-ah, semakin aku pikirkan. Semakin aku bingung akan semuanya yang terjadi. Apa aku pantas merasakan ini? apa kau bahkan mengerti bagaimana aku sudah jatuh untukmu terlalu dalam? Aku takut, Fany-ah.. rasanya semua terasa begitu mungkin, tetapi juga mustahil di waktu yang bersamaan ketika aku bersamamu. ini membingungkan.. bisakah kau membantuku mencari jalan keluar?

Maaf aku tidak sempat berpamitan padamu, tetapi aku harus segera pergi.

Jika kau tersenyum saat terkadang kau  memikirkanku, aku tidak akan menghilang lagi. Jadi jangan lupakan aku, Fany-ah. Terus ingatlah. Perpisahan hanya datang sekali, tetapi mengapa kerinduan selalu datang setiap saat?

Aku tidak memintamu untuk mempertahan cinta yang telah berlalu, aku hanya berharap kau tidak akan pernah melupakanku, Dokter Hwang.

Aku akan kembali.

Jaga dirimu baik-baik.

p.s. aku tidak mau melihat luka lebam, tergores, tersayat, tertusuk atau apapun itu pada dirimu jika aku kembali,

kau akan mendapatkan hukuman jika melanggarnya Hwang.

Tiffany menatap bahagia sahabatnya yang kini memasang wajah penasarannya. Dirinyalah yang di titipkan surat itu oleh atasannya sendiri.

“Bagaimana!?”Tukasnya cepat, sementara Tiffany hanya tersenyum lebar sembari memejamkan kedua matanya.

Yah. Kau terlihat bahagia! Apa dia akan kembali dan segera menikahimu!?”

Tiffany lalu membuka lebar matanya mendengar perkataan sahabatnya barusan, dia menjatuhkan satu pukulan tepat di pucuk kepala sahabatnya.

Yah. Kwon Yuri. Berhenti mengatakan hal-hal yang bodoh”Ucapnya dengan pipinya yang memerah,

Tentu saja itu tidak mungkin terjadi. Dirinya dan Taeyeon bukanlah sepasang kekasih atau terserah orang menyebutnya apa. dia tau mendapatkan sosok Taeyeon kembali mungkin akan memakan waktu yang lama dan usaha yang keras. Dan dia tidak ingin terburu-buru dalam mengambil langkahnya. Hati wanita itu masih lemah akan luka yang ia sebabkan dulu, dan Tiffany berniat untuk memperbaiki semuanya.

Bahkan jika itu untuk menecintai Taeyeon dari garis awal.

“Aw!”

“Apa aku mengatakan sesuatu yang salah!? Kalian begitu membingungkan. Sebentar kalian akan terlihat seperti dua orang asing yang tak saling mengenal, lalu besoknya kalian seperti sepasang kekasih yang siap menikah kapan saja.”

Tiffany tidak bisa menutupi rasa malunya ketika mendengar itu. Menikah. Dengan Taeyeon. Dulu sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya akan kata-kata itu. tetapi kenapa kini terdengar sangat meyakinkan di pendengarannya? Apa itu mungkin?

Membayangkannya saja, Tiffany bisa merasakan dirinya yang terbang menembus ke langit ke tujuh. Ia benar-benar berpikir bahwa dirinya bodoh karna telah mengabaikan itu dulu, dia malah menggambarkan dirinya yang menikah bersama laki-laki pilihanya dan hidup bahagia sampai kapanpun. Namun bayangannya itu terasa semakin samar dengan kehadiran Taeyeon sekarang,

Ia hanya menginginkan masa depannya bersama wanita itu. ia tau ia sangat egois, tetapi dia bisa meyakinkan dirinya bahwa Taeyeon adalah pilihan terakhir di hidupnya. Dan ia hanya bisa memanjatkan doa pada surga untuk memperlancar jalannya menuju mimpi indah itu,

“Oh! Apa yang aku katakan sekarang!? Yah! Bodoh! Bagaimana dengan Nichkhun!? Apa kau bahkan sudah menghubunginya!?”

Tiffany sekarang berpikir bahwa sahabatnya memang pandai dalam menjungkir balikan  suasana yang ada. Sedetik dia mampu membuatnya terbang dengan indah akan angan-angannya, lalu detik berikutnya dia mampu menjatuhkan dirinya di telkt laut paling dalam yang pernah ada.

“Belum. Aku akan menghubunginya, nanti.”Jawab Tiffany lalu bangkit dari duduknya,

“Sebaiknya seperti itu, Tiffany. Kau pasti membuatnya khawatir.”

Tiffany entah mengapa bisa merasakan dengan jelas cinta yang memudar antara dirinya dan pria itu. bukan  hanya baru-baru ini, namun selama kepergian Taeyeon selamat empat Tahun, dia bisa melihat dinding kokoh perasaanya untuk Nichkhun semakin rapuh termakan waktu, dan perasaanya akan Taeyeon. Terlebih lagi jika di lihat dari kondisini sekarang ini, walaupun dia tidak mendapatkan Taeyeon kembali. Atau belum. Tiffany menemukan dirinya yang terdiam memikirkan kembali bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Nichkhun.

Ia sangat mencintai pria itu, atau pernah mencintai. Tetapi tidak bisa ia pungkiri jika hanya Taeyeonlah yang mampu merebut semua perhatiannya. Ia tidak pernah merasa begitu yakin dalam hidupnya. Dia mencintai Taeyeon. Dan dia ingin bersamanya.

Terdengar sangat egois memang, tetapi Tiffany tidak mau mengulang kesalahannya lagi dan kembali pada titik penyesalan paling dalam di hidupnya. Sudah cukup dia merasakan itu dan dia tidak berniat untuk kembali ke masa itu.

Kali ini dia mempunyai kesempatan, dan dia tidak mau membuangnya lagi untuk kedua kalinya. Atau dia akan hidup dalam penyesalan seumur hidup.

“Oh, aku dengar Kabag. Song memerintahkanmu untuk pindah ke bangsal vip.”Tukas Yuri sembari mulai melahap makan siangnya, sementara Tiffany hanya mengangguk pelan. Ia masih merasakan pusing yang melanda kepalanya.

“Ya. dia bilang, itu adalah perintah dari Taeyeon.”

Yuri menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya, mulutnya masih sibuk mengunyah daging asap yang baru saja di santapnya.

Yah. Kau  benar benar beruntung! Itu berarti si Presiden yang imut-juga-sexy tidak mau kau mengalami kejadian seperti kemarin. Dia melindungimu dari jauh, Fany-ah!”

Tiffany kembali menatap sahabatnya heran, dia bisa merasakan sesuatu yang hangat yang menyelimuti ruang hatinya kini.

Benarkah itu, Taeyeon-ah?

Gomawo.. jjeongmal gomawo..

Tiffany terdiam memikirkan sesuatu yang baru saja menghampiri ruang fikirannya.

Kim Taeyeon…

Aku tidak tau jika kau mempunyai efek yang besar terhadapku..

Apa yang kau lakukan..

kau membuat semuanya terasa membingungkan, tetapi juga benar di waktu yang bersamaan.


Sejak hari itu, Tiffany bisa merasakan atmosfir yang berbeda ketika dia menginjakkan kaki di tempatnya bekerja. Ia tau bahwa bangsal vip adalah yang terbaik, tetapi ia tidak mengetahui bahwa bangsal ini benar-benar seperti lantai kerajaan. Interior yang mewah dengan alunan musik klasik, seragam perawat dan dokter yang berbeda. Juga ruangan-ruangan yang terbilang mahal dan nyaman menghiasi lantai ini.

Biasanya dia akan di sambut oleh beberapa kepala bagian departemen ketika ia tiba. Ia merasa seperti dirinya sedang di perlakukan berbeda dari sebelumnya. Dan ia tidak nyaman dengan itu. ia sempat berpikir mungkinkah semua perlakuan ini ia terima karna kejadian tempo itu? ketika Taeyeon datang dan menyelamatkannya di depan mata para pertinggi rumah sakit yang tertuju pada mereka?

Bulan ketika sudah hampir habis semenjak kepergian Taeyeon. Ini begitu menyiksa untuk menjalani hari tanpa Taeyeon muncul di pandangannya, tetapi Tiffany harus bersikap professional. Dia mungkin akan melakukan pekerjaanya dengan baik, namun di penghujung hari. Ia akan menyendiri di lantai paling atas rumah sakit, sembari terduduk terdiam memandangi langit dan merasakan rindu hebat yang melandanya akan sosok itu. dia terus menghitung hari hingga hari ini. dia bertanya-tanya, kapan tepatnya wanita itu akan kembali dari pekerjaanya?

Karna Tiffany benar-benar tidak mampu menahannya lagi. Dia bahkan akan menangis hingga tersengguk karna memikirkan sosok Taeyeon yang kini jauh darinya. Melupakan figure Nichkhun yang beberapa bulan terakhir ini mencoba menaruh perhatian lebih padanya.


“Tiffany.”

“Fany.”

Tiffany lalu mendongak menatap kekasihnya, “Apa yang baru saja kau katakan?”

Pria itu menarik napasnya dalam. Ini bukan pertama kalinya makan siang mereka berjalan dengan Tiffany yang sering melamun di sela-sela pembicaraan mereka. Ia bisa merasakan dengan jelas kekasihnya yang semakin berubah setiap harinya. Nichkhun berusaha mencari jawaban atas setiap pertanyaanya. Dia merasakan hubungan mereka yang mulai merenggang dan dia penasaran apa penyebabnya. Karna dia yakin, dia telah memperlakukan Tiffany dengan baik.

“Sebenarnya apa yang menganggu pikiran mu akhir-akhir ini, Tiffany?”

Tiffany menatap kekasihnya kosong. Dia hanya tidak bisa dengan mudahnya menjawab, bahwa dia sedang merindukan orang lain sampai ingin mati rasanya. Dia tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa dia sedang menantikan kepulangan seseorang,

“Tidak ada, Khunnie. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”

“Baiklah..”

Lalu keheningan kembali melanda keduanya. Di hari-hari sebelumnya mereka akan mengisi waktu makan siang dengan berbagi cerita. Tetapi Nickhun menyadari bahwa kekasihnya kini perlahan telah berubah. Dia tidak lagi melihat senyuman yang sering di ukir hanya untuknya, dia tidak mendengarlagi tawa hangat yang sering ia dapatkan di karenakan leluconnya.

“Tiffany, apa aku melakukan kesalahan?”Dengan itu, mampu membuat Tiffany menatapnya penuh.

Tiffany benar-benar merasa bersalah akan hubungan ini. ia tidak bisa melepaskan Nichkhun begitu saja, ketika dia masih bimbang akan perasaanya sendiri. namun dia juga tidak bisa melepaskan Taeyeon, lagi. Terlepas dari kegeoisannya untuk kedua sosok itu. yang sama-sama memiliki arti di hidupnya.

Itu.. aku yang melakukan kesalahan Khunnie. Aku hanya tidak bisa berhenti menyakiti orang-orang di sekitarku. Maafkan aku.

Tapi orang itu merebut semua perhatianku dengan mudahnya. Orang itulah yang membuatku mampu membalikkan perasaanku. Orang itulah yang terus ada di benakku dan nampaknya dia tidak akan pernah pergi. Dialah yang perlahan menggantikan posisimu…

“Jika iya, aku meminta maaf untuk itu, Fany-ah. Jangan seperti ini..”

Tiffany menitihkan air matanya mendengar permintaan maaf Nickhun yang tiba-tiba. Dia tidak pernah mengharapkan semuanya akan menjadi seperti ini. bukan ini yang ia inginkan. Dia merasa begitu hina karna telah menyakiti banyak orang di waktu yang bersamaan.

Nickhun menggamit punggung tangannya cepat setelah dia menyadari kekasihnya menjatuhkan air mata, “Aku pasti melakukan kesalahan, kan? Maafkan aku Fany-ah..”

“Hei. Hei.. berhenti mengatakan sesuatu yang konyol, Khunnie..”Jawab Tiffany sembari sesekali menghapus air matanya yang tak di sadari sudah jatuh dari tadi.

“Maafkan aku jika sikapku akhir-akhir ini berubah. Aku hanya lelah, kau tidak perlu khawatir. Aku mencintaimu.”

Tiffany merasa sangat hina karna mengatakan cinta dengan mudahnya untuk orang-orang yang ada disekitarnya. Ia tau ia membohongi dirinya sendiri dan Nichkhun. Tetapi ia tidak bisa melepaskan pria ini begitu saja, tidak ketika dirinya masih mempertanyakan perasaanya sendiri.

Maafkan aku, Taeyeon-ah…

Nickhun mengembangkan senyumnya ketika mendengar itu, namun bunyi telfon genggam Tiffany kemudian mengganggu waktu mereka.

“Fany-ah. Kabag. Song memintamu untuk segera ke rumah sakit. Fany-ah, cepatlah kemari…”

Tiffany bisa mendengar nada khawatir di seberang sana yang di hasilkan oleh sahabatnya, dia bertanya-tanya apa yang mungkin sedang terjadi di sana?

“Ada apa, Yuri-ah?”Dia menatap Nickhun dengan tatapan menyesal,

“Hanya.. cepatlah kemari.”

Yuri bukan tipe orang yang akan bercanda di waktu seperti ini. terlebih nada serius juga khawatir yang Tiffany hampir tidak pernah dengar dari karakter orang seperti Yuri. Tiffany menebak bahwa ada masalah serius di rumah sakit yang harus segera ia cari tahu sendiri.

“Baiklah, aku kesana.”

“Maafkan aku, Khunnie. Tapi aku harus segera ke rumah sakit,”

“Biar aku yang mengantarmu..”


Tiffany dengan tergesa-gesa melangkah keluar dari mobil kekasihnya, bunyi langkah haknya menggema di lobby utama rumah sakit dan dia bisa mendengar alarm darurat berbunyi.

“Code Blue. Code Blue.”

Jika alarm sudah berbunyi, dia tau bahwa ada kejadian besar yang akan terjadi di rumah sakit ini. itu adalah code penting yang di peruntukkan untuk semua dokter di rumah sakit ini ketika mereka kedatangan pasien penting, dan bahkan mungkin pasien itu sedang meregang nyawanya saat ini. Tiffany bisa melihat dokter-dokter dan perawat yang berhamburan berlari menuju pintu masuk utama rumah sakit. Suasana hiruk pikuk dan Tiffany hanya bisa mengikuti alur yang sedang berjalan di sekitarnya.

Bukan hanya bedah umum, tetapi bedah toraks, ortopedi, pernafasan, hampir semua professor dari semua bidang juga ikut berkumpul disana. Tiffany tau bahwa pasien besar kali ini mungkin adalah seseorang yang sangat penting dan itu sedikit membuatnya takut. Dia bertanya-tanya apa maksud Kabag. Song juga memanggilnya dalam keadaan seperti ini?

Dia tidak menyadari, bahwa kekasihnya sedari tadi juga mengekor di belakangnya.

Tiffany lalu menghampiri Yuri yang kini berdiri di antara dokter-dokter itu.

“Yuri-ah!”Katanya sembari berlari mendekat, sementara Yuri menoleh kearahnya dengan tatapan khawatir dan takut.

“Ada apa? Siapa yang sedang menuju kesini? Apa seseorang yang begitu penting di Negara ini?”

Sementara Yuri hanya bisa menatap sahabatnya dengan tatapan begitu redup, “Kau akan mengetahuinya nanti, Fany-ah.”

Tepat setelah Yuri mengatakan itu, mobil ambulans yang mengeluarkan bunyi daruratnya di ikuti belasan mobil hitam gagah sudah berhenti di depan mereka. Banyak orang berjas hitam ikut turun dan membuka pintu mobil ambulans utama. Tiffany entah mengapa merasakan jantungnya yang berdetak sangat cepat, jawaban Yuri sebelumnya mampu membuat rasa penasaran juga khawatirnya membuncah.

Lalu dia mengharapkan bahwa tebakannya kali ini salah. Dia benar-benar berdoa bahwa mungkin saja perkiraanya salah. Dia terus memanjatkan doanya sampai akhirnya pintu ambulans terbuka.

Tiffany tidak pernah merasa begitu terpukul di dalam hidupnya.

Disana.. orang itu. orang yang berjanji akan kembali padanya, kini memejamkan matanya di atas tempat tidur itu yang kini di kelilingi orang-orang asing berjas hitam. Dia bisa merasakan matanya yang memanas mengetahui siapa di balik semua kericuhan ini.

Wanita itu.. dia berlumuran banyak darah dan tidak sadarkan diri. Dia bisa melihat luka-luka yang cukup parah di bagian tubuhnya. Di wajahnya yang sempurna itu, tergores luka.

Tiffany memejamkan matanya, air matanya jatuh mengalir begitu derasnya. Ini pasti mimpi.

Tidak mungkin. Taeyeon telah berjanji untuk kembali padanya, dan dia masih mempercayai itu. dia bahkan masih mengingat semua perkataan Taeyeon di surat itu,

Itu bukan kau kan, Taeyeon-ah..?

Yang terbaring dengan banyak darah itu, orang lain kan?

Tapi kau berjanji akan kembali, Taeyeon-ah.

“Helicopter yang membawanya kembali, mengalami kecelakaan di lapangan udara tempatnya mendarat.”

Tiffany bisa mendengarkan dunianya yang begitu sunyi………

aku tidak mau melihat luka lebam, tergores, tersayat, tertusuk atau apapun itu pada dirimu jika aku kembali,

kau akan mendapatkan hukuman jika melanggarnya Hwang.

Tapi kau melanggar janji yang kau buat sendiri, Taeyeon-ah………


 

 

 

 

cilukbak! 

drama banget kan? 😦 maafkan.

yaudahlah ya~ taeny memang rumit. ku sampai pusyinggg

di tunggu deh komen2 yang membangkitkan hasrat menulis dari pada readers yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung. kekeke <3tapi boonk.

salam cantik, eh salah. salam locksmith! 🙂 ❤

@JAZATTA1

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

87 thoughts on “MISTAKES (CHAPTER SEVEN) BY JAZZ

  1. Yeaaaa..taeng ky abis perang berasa nonton dots, ~kekekekeke
    Kadang bingung,mereka maunya apa sih kan udh cinta tp tetep sulit…
    *readerbaper

    Like

  2. Duuh seneng lihat tae selalu peduli sama fany
    Tapi fany masih dilema aja nih, gimana dong?
    Udah deh fany sama taetae aja😅😅

    Oh nooo!!!!!! Taetae kecelakaaan??!!
    Baru uuga sembuh eh dia luka2 lagi😢😭😭
    Ayo dokter2 tolong selamatkan taetae😭😭

    Thor, cepat2 update yaa
    Aku suka kangen soalnya😳😳

    Like

  3. Thor, maafin sider yang ingin tobat ini 😭😭
    Gue janji bakal komen teruss mulai sekarang
    Maafin dosa dosa gue ya thor
    Ff lu bagus banget,jago banget muter balikin perasaaan gue
    Sekali lagi maafin gue thor

    Like

  4. Binggung gw sm fany, apa lagi yg hrs diyakinin, kalu emang cinta taeng lepasin la si nickhun. Taeng gw kecelakaan, semoga selamat deh

    Like

  5. Gileeeeeeee daeebbaakk!! Sumpaahh lu sih parah thor bisa banget jungkir balikin perasaan anee😭😭😭 , okee fix paling suka sama chapter ini , serasa gado” 😂 , addoohh fany udh pilih taetae aj daripada si khun , btw tulisan mu thor gk pernah ketebak 😂 ane sampe terhanyut baca nya kaya masuk dalam cerita *lebay😂 , yowess lah di tunggu yaak thor tulisan mu~ ohhiyee sering” aj yak thor apdet nya soal nya kadang ane suka kangen😳 Sama TULISAN NYA :v wkawka + biar readers kaga cepet lupa sama jalan ceritanya. *alasan* :v , okelaahh SEMANGAT THOR! 😘💪👏

    Like

  6. Wuuahh,jangan jauh”n lg taeyeon,tersiksa jg kn rasain kangennya..Fany jgn trus gantungi taeyeon gitu,kenapa coba harus bimbang 😔 pilih ja taeyeon tinggali tuhh khun khun ..woww ada scandal baru nih Taeny moments nya kece badai 😚😄 sampai para dokter pun ga berani melihat 😄 taeyeon gentle bener” melindungi tiffany

    ugh,andwae ..taeyeon kecelakaan??? 😭😢 taeyeon semoga dpt bertahan dan para dokter yg diturunkan bs menyelamatkan nya.. tiffany saat y keputusan dah diambil jgn tinggali taeyeon lg pa lg karena khunnie ituu tuh..😞
    emosi gue labil,greget bner lah author jazz slalu keren dengan tiap cerita nyaa ☺ thanks authorJazz

    Like

  7. . Dohh bnr thor bnyk dramanya .. krkeke
    . Tapii ttp Keren sih thor …
    . btw udah nyampek chap seven aja nihh ..
    . Khawatir wehh ama Hubungannya TaeNy yg super Ruwettt …
    Jessie mana wehh Jessie kok kgk nungul nungul eh nongol nongol …
    .

    Like

  8. Anjeeer lah chap ni..manis asem asin rame rasanya.,yah!kim taeyeon lu jaga ppany jgn sampe luka malah lu nya yg kritis u,u ppany ah~ bikin keputusan segera sblm terlambat*lagi

    Like

  9. nangis lgi bacanya
    stiap part slalu ada sdihnya ampe nangi aq bacanya
    knpa kisah cinta taeny sesedih ini hiks hiks
    tpi gkpa” banyak rintangan ntk mreka lalui aq harap mreka bersatuuu
    semangat yaaa jazz buat ff nya
    seneng bnget jazz bisa cpet update
    hwaitingg

    Like

  10. haha pas baca awal’y emang agak gmna gitu thor haha
    yaelah si fany tinggal ptusin nickhun trs jdian sma taeyeon aja susah amat -_- gmna taeyeon gak mnghindar coba klw lu sndri aja blm bsa lpasin nickhun, kdang gue gedek bgt sma fany disini..
    dannnn knp taeyeon hrus mengalami kecelakaan.?? hmmmm klw kek gini kpn taeny bsa bersatu -_-
    oh iya di chapter ini si jessica kgak nongol sma skali ya, haha tega bgt lu mah thor kekeke

    Like

  11. Hah.. As alwas yah.. Ga di ff ga di stage pasti taeny penuh drama.
    Udalah cepetan putusin aja si nickhun. Sebal bacanya hahahaha masih ada si nickhun.
    Trus ini lagi pake kecelakaan.. Bbzzz
    Abis ini si tae jangan koma please..

    Like

  12. holla..now my heart is suck!!..fany itu gue rasa hatinya serbut ya..poor fany.. tapi tae paling sakit disini..dn sica kamu dimana?..sbnrnya gue maunya taesic sih tapi kalo taeny juga gak papa..apapun SEMANGAT buat lanjutin…penulisan kamu semakin bagus aja..

    Like

  13. What the hell yeah… Mau nyatu aja ribet banget yaampun dahhh tuluuuung 😥
    Udah atuh ih satuin taeny, gereget ih ngeliat mereka yg masih dilema akan perasaannya sendiri 😥

    Si taetae masih takut akan masa lalunya, si fany masih galau akan perasaannya sama si nikhun.. Gitu aja terus sampe soshi bikin album dangdut 😭😭😭 wkwkwk 😂😂😂

    Well, untuk coretan mu itu udah no comment lah.. Menurut ku udah pas untuk di baca dan di resapi (?) wkwkk 😁 aaahh pokoknya feelnya ngena deh 😆
    Emang dirimu tuh udah paling jagonya deh bikin reader campur aduk perasaannya gara² taeny 😙
    Dan untuk apdetannya syukur alhamdulillah udah ada kemajuan, karena apdetnya ga lama² 👍

    Okaylah cukup sekian bercuap cuap rianya 😚
    See yaa~~ 😋😘

    JAZZATTA FIGHTING!!! 💪😘
    *bow*

    Like

  14. Anjayyy dahh…
    Mommy msh aj blng “aku mencintaimu” ke Khun gjah..
    Knp g blng ptus aj sih?? -,-
    Nah loh, daddy kecelakaan helikopter…😭😭
    huhuhuh g isdet kan??? G lah psti.. dia kan pemeran utama.. wkwkwkw

    Like

  15. Thooooooor, luvluvluv. Luvluvluv luvluvluv luvluvluv*. Udah itu aja. Abis ini mau langsung lanjut yang kedelapan aja. Buybuy

    *luvluvluv: love your story love your story love your storyyyyyy.

    Ahahahaha, gak bercanda. Kritik: typo. Udah itu aja serius deeeeeeh. Love your storyyyyy. Keep writing yeaa.

    Like

  16. hahhhh…susah banget nyatuin taeny..fany gak kuat pmdirian nih.udah tau syng bngt n gak mau d tinggalin tapi gak mau lepasin nikhun..
    aq harap fany sadar deh..dia udah bnyk nyakitin tae..

    Like

  17. Huwaaaa…taetae mudah-mudahan bisa selamat…. Drama banget nih kok taetae dibikin kecelakaan hadeeh…banyak banget cobaannya nih taeny baru juga sweet sebentar

    Like

  18. Akhh pengen nangis bacanya,,,

    Buat Author,maafin daku yg slalu jadi silent reader di ff mu..
    Tapi mulai sekarang janji bakalan selalu ngasih respon di tiap ff yg di update..
    Yaksokhaeyo !!

    Like

  19. Mau segimana keras menghindarnya taeyeon terhadap tiffany, tetap saja akan bersatu lagi, jodoh emang ga kemana ye…
    Taeyeon jebal bertahan ya demi Tiffany 😢
    Jangan pisahkan mereka thor, please 😢😢

    Like

  20. Aduhh mata uee bengkak dahh author keknya perlu mengeluarkan buku kyknya tentang taeny feelnya ituu lohhh..
    Taee jann matii plisss g seru kalo luu matii huaaaaaa

    Like

  21. Tarik nafassss dulu…..haaahhhhh….Scene demi scene…bikin sesek ya…bener bener author satu ini paling bisaaaa banget mengaduk ngaduk hati locksmith hahahaha…..eh salam kenal yaaa…

    Like

  22. Berat bnget cobaan taeny.
    Ugh fanny-ah jangan plin-plan dong. Putusin nickhun aja napa. Udah pilih aja taeyeon.
    Gw harap taeyeon baik” aja. Gw benci yg sad ending

    Like

  23. Ya ampuunnn,,,knpa taeyeon harus mnglami hal sperti itu…??
    Pi gak pa2 juga,,biar cpet sdar tuh fany..
    Spa yg lbih pnting dhidupnya..
    Dia mehpin nickhun ma taeyeon…
    Hadehhhh…

    Like

  24. Membacaya seperti dah terbang tinggi karena moment taeny trus jatuh karena tae tiba” harus ke Amerika lagi trus tae juga kembali dengan kondisi kecelakaan,,,

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s