COMPLETE CHAPTER ONE BY JAZZATTA

Well.. kita mau coba datang dengan sesuatu yang baru. Kali ini kita pilih tema kehidupan yang lebih nyata gitu.. kaya gimana ya. semoga aja pesan2 yg ada di cerita ini bisa kalian ambil, ya.. jangan cuma dramanya doang hehe.

Maafkan kalo ada plot/kata2 yang kurang sync karena gimanapun juga kita ngetik berdua, dengan ide yang berbeda juga.

Semoga suka deh..

Oh ya.. di mohon untuk yang tidak menyukai tulisan kita, kalau ingin mengkritik/komentar tolong gunakan bahasa yang lebih sopan, dan tidak menyakiti/ menyinggung perasaan penulis.

..just.. please. If you hate our story that much, please leave us alone.. It hurts so much to read your comments.

 


 

 

Mungkin jika di dunia ini ada hal yang bisa membuat keadaan hatinya lebih cerah, hanya senyum kekasihnya yang mempunyai sejuta pesona itu. Namun kelihatannya Taeyeon tidak akan mendapatkan itu juga hari ini.

Kejadian ini bukan pertama kali di alaminya. Dimana dia harus menunggu dengan sabar di balik kemudinya, untuk waktu yang lama. Tidak ada tanda-tanda bahwa sosok itu akan segera melintasi gerbang yang menghadangnya di depan sana.

Ttidak pernah sama sekali terlintas di benaknya semua hal akan menjadi rumit seperti ini. Ia sudah cukup mengalami hari yang berat di kantornya, dan yang hanya ia inginkan sekarang, untuk bisa menemui kekasihnya. berharap dengan mendengar suara tawanya dapat membuat suasana hatinya kembali hidup.

Ada saat dimana Taeyeon berpikir untuk mempertimbangkan hubungan ini. Mengingat bagaimana berbeda mereka satu sama lain. Bagaimana sulit nya untuk menyatukan pendapat mereka yang berbeda. Bagaimana kecilnya kemungkinan mereka untuk bertahan di dunia yang tidak adil untuk memberikan mereka kesempatan melewati semuanya.

Namun Taeyeon dengan pendirian yang kokoh, dia memilih untuk terus percaya akan kekuatan cintanya untuk gadis muda itu. Ini bukan dongeng siang bolong yang harus di jalaninya, ini adalah kenyataan yang ia harus hadapi setiap harinya. Cintanya begitu dalam untuk gadis yang lebih muda itu, sampai-sampai dia tidak pernah mengerti apa arti perih kehidupan.

Yang ia tau, ia hanya jatuh untuk sosok itu yang penuh dengan pesona, karakter yang menyenangkan, juga suara yang hangat untuk di dengarnya setiap saat. Taeyeon tidak bisa menyembunyikan bagaimana bahagianya ketika melihat senyum itu bisa begitu cantik, di ikuti oleh kedua matanya yang melengkung seperti bulan sabit yang selalu di damba-dambakannya.

Ia sangat menyukai gadis itu ketika dia mulai bercerita bagaimana harinya berjalan dan Taeyeon hanya bisa terdiam mendengarkannya dengan seksama. Sesekali tersenyum karna ekspresi yang di buat oleh gadis yang lebih muda. Ia sangat mengerti bagaimana berbeda kehidupan yang mereka jalani. Jadi ia berharap dengan hal-hal kecil yang di lakukan hanya untuknya, kekasihnya bisa melihat bagaimana serius usahanya untuk menyatukan jembatan yang berbeda.

Ia tidak bisa mengharapkan yang lebih dari kekasihnya, ketika dia bahkan sudah memenuhi lingkup sempurna di matanya.

 

12.12 am

‘Apa yang sedang kau lakukan?’

 

12.13 am

 

‘On my way to office, just got back from Tiffany’s school’

12.14 am

‘The fuck is wrong with you again Taeyeon, jangan katakan jika kau menunggu nya berjam-jam untuk menjemputnya.

12.15 am

‘I missed her Syoung’

12.16 am

‘Whatever just get your ass here! Fast! Pria itu datang kembali, membawa bunga untukmu. Sangat tampan.

 

Wanita itu menarik nafasnya berat, ia melempar ponsel kearah kursi disampingnya yang kosong, mengambil kembali alih kemudinya,

Sesekali matanya meratapi ponselnya, berharap entah bagaimana akan berbunyi dan menampilkan pesan dari gadis muda itu, setidaknya ia ingin memastikan bahwa gadis itu baik baik saja, ini bukan pertama kalinya ia mengkhawatirkan gadis itu.

Gadis itu adalah Tiffany. Lebih tepatnya Tiffany Hwang. Gadis muda delapan belas tahun itu keturunan Korea Amerika. Satusatunya gadis yang dapat menarik perhatiannya malam itu. Malam ketika ia menghabiskan waktu liburnya sendiri di suatu pulau yang sangat indah di selatan Amerika.

Kala itu Tiffany sedang memejamkan matanya, menikmati musik lembut yang menghiasi ruangan, dan itu sungguh bagaikan pemandangan yang indah untuk Taeyeon.

Pertama kali dalam hidupnya ia tertarik oleh seorang gadis, tidak terlintas sedikitpun dibenaknya ia akan melewati garis yang telah ditentukan, semua itu belum termasuk Tiffany yang masih sangat belia dan menduduki jenjang terakhir di masa sekolahnya.

Enam tahun perbedaan usia tidak membuat obrolan yang dimulai Taeyeon menjadi masalah. Bahkan ketika dirinya memberanikan diri untuk memberinya segelas wine ringan untuknya, Tiffany dengan senang menyambutnya hangat.

Sungguh ia sedikit terkejut ketika mengetahui gadis itu berkata terimakasih dengan bahasa yang sama dengan yang digunakannya ketika ia tidak sengaja memuji kecantikan gadis itu dengan bahasa asalnya. Korea.

Perlahan tapi pasti Taeyeon mengerti bahwa gadis itu adalah warga negara Korea, dan tidak disangka ia juga menghabiskan liburan musim panasnya.

Obrolan mereka tidak berhenti sampai disana, tidak ketika Taeyeon menawarkan makan siang bersama keesokan harinya.

Tiffany sangatlah menawan, gadis itu begitu lembut dan riang, belum lagi selera musik, film, makanan yang begitu selaras dengannya.

Taeyeon tidak akan pernah lupa ketika ia melihat senyuman indah itu untuk pertama kalinya, senyuman yang ia yakin dapat membuat semua orang terpana. Sungguh, itu sangat menawan, hingga ia tidak tahan untuk memuji Tiffany secara langsung, bahkan disela sela obrolan mereka.

Membuat Tiffany kadang tersipu tiap kali ia memujinya.

Taeyeon sungguh membuatnya nyaman, liburan yang mereka rencanakan hanya sendiri selama dua minggu itu harus tersingkirkan, pasalnya dimana ada Taeyeon, bisa dipastikan Tiffany berada didekatnya, dan itu bukan sebuah penyesalan untuk keduanya.

Liburan berakhir. Tentu tidak membuat Taeyeon memutuskan tali perkenalannya dengan gadis yang lebih muda itu, kerap kali mereka menghabiskan makan malam bersama, bahkan Taeyeon terbilang cukup sering menjemput Tiffany dimanapun ia berada. bahkan ia akan membawa gadis muda itu untuk makan siang dan sekedar mencari udara segar diluar kota Seoul diakhir pekan.

Tidak jarang ia akan membawakan cupcake dan cheesecake favorit gadis muda itu pada dini hari ketika Tiffany membocorkan bahwa ia sedang mengerjakan tugas sekolahnya, kerap kali Taeyeon menemani gadis itu dan mengingat juga mengulas kembali pelajaran-pelajaran yang telah lama ia lupakan hanya untuk mengajari gadis muda itu. Bahkan suatu pagi ia harus menginjak pedal mobilnya hingga jarum menunjukkan angka di kecepatan hampir 80km/jam, tentu itu semua hanya agar ia tidak mendapatkan dirinya diruangan atasannya yang akan memberikan seribu kata untuknya agar ia sebaiknya tidak datang terlambat, jika bukan karena dirinya sendirilah yang pulang sangat larut dengan alasan menghabiskan waktunya bersama Tiffany, mungkin ia tidak akan membahayakan dirinya dilaju mobil yang begitu cepat.

Namun itu semua di lakukannya dengan senang hati. Perlahan tapi pasti, gadis muda itu menjadi bagian dari hari-harinya, Tiffany seperti vitamin untuk harinya, jika sehari saja ia tidak melihat wajah yang menawan itu, ia pasti akan sangat merindukannya, mendengarkan Tiffany berbicara tentang harinya lewat panggilan telepon bagaikan music yang indah dan wajib untuknya.

Tidak mudah memang ketika ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah jatuh untuk gadis muda itu, bukan hanya itu, ia jatuh ke lubang paling dalam dan begitu keras. Ia sungguh menyayangi gadis muda itu dengan sepenuh hatinya, ia sungguh menyukai bagaimana rasanya ketika kedua lengan gadis itu terkait di lehernya, bagaimana hangatnya ketika gadis itu berada dalam dekapannya, bagaimana gadis muda itu selalu membuat harinya terasa begitu ceria, dan bagaimana Tiffany selalu menyemangatinya dan selalu ada untuknya.

Tapi semua itu ditepis olehnya ketika ia memutuskan mengatakan seluruh perasaan yang sebenarnya pada gadis muda dan bagaimana ia sungguh teguh akan pendiriannya bahwa ia akan berusaha untuk terus menjaganya dan ada untuknya, bagaimana ia rela melakukan banyak hal akan hubungan yang tidak mungkin itu menjadi secercah harapan yang mungkin untuknya, berharap bahwa gadis itu memiliki perasaan yang sama, dan, ia sungguh lega mengatakan semua yang ingin diungkapkannya, dan jawaban yang ia dapat sungguh membuat hatinya jauh lebih lega dari sebelumnya.

 

01.21 am

‘Mianhe, aku sungguh lupa jika kau menjemputku hari ini, aku sudah berada dirumah Emma sejak sore, dan berencana akan menginap.’

Sungguh ia tidak memiliki banyak petunjuk bagaimana mungkin hubungan yang selama ini didambakannya dan terlihat sungguh manis menjadi begitu dingin dan terasa begitu asing.

Hatinya terasa berat membaca kata demi kata yang tertera di layar ponselnya sembari membuat jalannya menuju ruangan kantor yang sepertinya akan menjadi kamarnya untuk malam ini. Banyak pekerjaan yang belum terselesaikan karena waktunya yang habis menunggu Tiffany dan menjemputnya bahkan ketika jam kerja yang masih berlaku, dan kebanyakan dari jam itu terbuang sia sia karena gadis muda itu yang jarang menampakan batang hidungnya. Ia sungguh merasa kecewa dan kadang merasa terlalu bodoh karena telah jatuh sangat keras untuknya.

 

Apakah hubungan ini masih bisa terus berlanjut? Yang ia tahu bahkan dirinya sendiri mulai meragukannya kembali,

 


“Aku tidak mengerti kenapa Sherly terlalu begitu mencintai pacarnya, padahal dia adalah pria yang brengsek. Kau tau?”Tiffany lalu melingkarkan lengannya pada pinggang kecil Taeyeon dari belakang. Menyingkirkan helaian rambut hitam panjang yang kekasihnya punya, menjatuhkan kecupan lembut di sekeliling lehernya.

Sementara Taeyeon hanya bisa tersenyum merasakan kehangatan yang sekarang menyelimutinya di tengah-tengah badai di luar. Dia sedang sibuk untuk membuatkan kekasihnya sup hangat mengingat udara di luar sangat dingin. Sembari menempatkan beberapa bahan ke dalam panci, Taeyeon menjawabnya,

“Mungkin pandanganmu dan dia berbeda. Siapa tau, jika pria itu mungkin saja bersikap manis dan sebenarnya baik?”

Tiffany menghentikan aktifitasnya,

“Kenapa kau terdengar seperti membela Josh? Dia benar-benar menyebalkan.”

“Aku hanya mencoba melihat dari pandangan Sherly.”Taeyeon mengedikkan bahunya pelan,

Whatever. Taeyeon.”Tiffany melepaskan pelukannya dan berjalan kearah sofa apartemennya. Dia agak kesal karena kekasihnya sendiri tidak sependapat dengan omongannya tentang hubungan yang tidak berjalan baik antara Sherly dan Josh. Kedua temannya.

Seperti inilah biasanya pembicaraan mereka akan berakhir. Tiffany akan melihat semua sisi dari pendapatnya sendiri, dan kurang mengerti akan penjelasan sisi orang lain. Dia masih terlalu muda untuk memandang semua permasalahan lewat mata orang dewasa. Yang ia dan gadis seumurannya tau, bahwa argument atau pendapat mereka akan selalu menang. Dan itu sudah keputusan akhir.

Sementara Taeyeon adalah tipe orang yang lebih dewasa dari kekasihnya sendiri. dia akan melihat masalah dari pandangannya, dan orang lain. Dan berusaha mencari jalan keluar yang seimbang dan adil. Memikirkan apa yang mungkin akan terjadi di depannya. Semuanya terpikirkan dengan baik.

Taeyeon yang menyadari mood Tiffany yang berubah, mulai meletakan kembali spatulanya. Melepaskan celemek yang ia pakai dan berjalan mendekat, Tiffany hanya memutar kedua bola matanya lalu menyalakan televise yang ada di depannya.

“Aku hanya mengatakan, kita harus melihat juga pandangan orang lain.”Ucap Taeyeon lalu duduk di sampingnya, memeluk Tiffany erat untuk lebih dekat, mengistirahatkan kepalanya di bahu gadis yang lebih muda. Sementara gadis itu tak membalas dekapannya dan hanya fokus pada apa yang ada di depannya.

“Kau marah?”Tambah Taeyeon hati-hati, namun tersenyum. Dia menempelkan pucuk hidungnya pada pipi gadis itu lalu mengusapnya pelan, membuat Tiffany geli akan gerakannya. Dan terkekeh pelan,

Mendengar itu, Taeyeon tau rencananya berhasil untuk meredakan amarah sang kekasih. Dia mulai merasakan tubuh Tiffany yang merespon kembali pelukannya.


“BoOo!” sahut wanita yang jangkung itu seketika menampakkan dirinya di hadapan wanita yang seperti sudah kehilangan suasana hatinya yang hangat,

“Aku tidak terkejut.” Gumam wanita itu perlahan sembari menduduki kursi miliknya, menarik nafas berat lalu menyalakan kembali computer yang sedari siang ia abaikan.

“You have no fun!”

I am. Dimana Ji-Won oppa?” dia berkata sembari mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kemudian menyadari bahwa hari memang sudah larut, kantor terlihat begitu sepi dan gelap.

“Kau begitu lama, aku menyuruhnya pulang karena kasihan, ia menitipkan ini untukmu dan ingin bertemu denganmu esok hari untuk makan siang.” Ujar wanita jangkung itu sembari memperlihatkan seisi kantong kertas berisi bagel kesukaan Taeyeon dan sebuket bunga yang tercium begitu harum.

“Kau bisa memakannya, aku sudah menghabiskan dua porsi cornbread selama perjalanan kesini. Lagipula aku harus menjaga berat badanku.”

“Benarkah!? Assa!” Taeyeon terkekeh, kadang ia bertanya apakah sahabatnya sejak kecil ini benar benar sudah dewasa, tiap kali mata Sooyoung melihat makanan mereka selalu berbinar-binar seperti anak kecil menginginkan ice cream.

“Oh dan aku tidak bisa menemui Ji-Won oppa, aku berjanji menemani Tiffany membeli buku, untuk bersiapan ujian akhir untuknya.” Mendengar pernyataan berikut membuat wanita jangkung itu sulit menelan makanan itu sembari mencari air untuk meredakan makanan yang terhambat dikerongkongannya.

“Yah! Neo! micheosseo? Berapa kali aku harus mengingatkanmu, Tiffany bukanlah sosok yang tepat untukmu! Tiffany terlalu kekanak-kanakan and you know it! apa kau bahkan ingat ketika kau lupa membawakan sepatu kesukaannya lalu dia mengabaikanmu seharian? Atau ketika kau tertidur ketika ia ingin berbicara denganmu semalaman karena ia tidak bisa tidur dan ia menjauhimu selama dua hari dan kembali seperti ia tidak melakukan apa apa?”

“And Syoung-ah, kau harus ingat juga ketika aku sakit selama sepekan bahkan ia mengambil banyak alasan untuk tidak sekolah namun sebaliknya ia menjagaku dan menemaniku? Atau ketika ia membawakan Eomma makanan kesukaannya meskipun Eomma kala itu masih belum menerimanya, bagaimana ia menjalani hubungan ini dengan serius, aku melihatnya. Syoung-ah, please give her a chance.”

Sooyoung menarik nafasnya berat, memorinya kembali berselancar kembali ke beberapa waktu silam, ia mengingat itu semua, sejujurnya ia hanya ingin yang terbaik untuk sahabatnya, ia sungguh menyayangi Taeyeon seperti kakak kandungnya, terlebih lagi mereka bahwa melewati masa kecil mereka bersama, tidak terlintas di benaknya bagaimana sakitnya jika ia menyaksikan Taeyeon tersakiti oleh apapun, itu belum termasuk bahwa sahabatnya itu jatuh terlalu dalam untuk gadis yang lebih muda.

Ia memang tidak pernah mendukung hubungan ini, namun dikala waktu ia hanya ingin Taeyeon bahagia, ia juga mengetahui bahwa sosok gadis muda itu sungguh pantas bersanding dengannya, namun tidak untuk beberapa bulan belakangan, yang ia lihat bukan senyuman Taeyeonlah yang mengawali paginya, melainkan kecemasan atau kemuraman Taeyeonlah yang akan muncul, entah karena ia mengkhawatirkan Tiffany atau karena sahabatnya hanya merasa kesal atau hanya merasa letih.

“Aku memberikannya kesempatan, kau pasti ingat ketika aku mengajaknya makan malam untuk membicarakan hubungannya denganmu. Dan aku sungguh yakin bahwa ia bersungguh-sungguh, namun itu sudah berlalu. Sekarang yang kulihat bukan Tiffany yang selalu membuatmu tersenyum, ia kini terasa begitu asing ditelingaku, yang kulihat hanya gadis kecil manja yang selalu berkomentar tentang apapun atau menghabiskan waktunya untuk berpesta pora—“

“Kau pasti tau dia dipenghujung masa sma nya, itu semua wajar lagi pula kita pernah sepe—“

“Sebentar biar ku selesaikan. Lagipula, kau sudah dewasa, diumurmu kau sudah pantas untuk menjalin hubungan yang sangat serius, dengan seseorang yang dapat menjagamu dan memberimu kebahagiaan, bukan hanya dengan cinta, namun dengan segala yang kau butuhkan, aku tahu dihatimu yang paling dalam kau menginginkan itu semua, kau menginginkan seseorang yang akan mengantar jemputmu, memberimu kejutan, memberimu bunga dan makanan kesukaanmu, memberimu kecupan dimalam hari, menghabiskan sisa gaji miliknya dengan makan malam yang pantas untukmu dan-“

“Stop it. no lecture for tonight.” Ujar Taeyeon sembari mengalihkan pandangannya pada layar computer yang telah menyala, siap untuk menyelesaikan pekerjaan yang selama ini ia sengaja acuhkan.

“I can take care of myself. Jangan khawatir, setidaknya untuk sekarang.”

“Baik-baik aku mengerti, maafkan aku.”

I’m sorry too. Aku hanya tidak sedang ingin mendengar kenyataan-kenyataannya. Sungguh membuatku jungkir balik.”

“Okay, jadi, kau akan makan siang dengan Ji-Won oppa kan?”

“Bukankah aku sudah mengatakannya, aku akan menemani Tiffany untuk mencari buku? Tsk.” Taeyeon mendesis sedikit kesal lalu melemparkan kacang polong kearah Sooyoung yang kini terkekeh.

“Aku tahu tapi kau harus professional, lagipula ini hanya makan siang dan ia ingin membicarakan proyeknya denganmu, ini masalah pekerjaan.”

“Kau selalu mengatakan itu dan pada akhirnya ia akan membawaku ketempat romantis, kau ingatkan betapa Tiffany tidak menyukainnya.”

“Siapa yang akan lupa kejadian itu? ketika Tiffany mengirimiku pesan tengah malam dan berkata “Eonni aku tidak bermaksud untuk tidak sopan padamu, tapi bisakah kau berhenti menjodohkan kekasihku dengan Ji-Won oppa? Aku tidak mengerti kenapa kau melakukannya tetapi Taeyeon milikku. Terimakasih atas perhatiannya Eonni.” Heol.” Sooyoung menggulirkan matanya lalu menepuk kepalanya seakan akan ia tidak akan pernah melupakan bagaimana cara gadis muda itu mengklaim Taeyeon sebagai miliknya, perlahan ia mendengar Taeyeon tertawa, sedikit merasa lega bahwa suasana sudah kembali menjadi lebih hangat.

“Kau harus menemuinya besok! Biar bagaimanapun kau harus bersikap professional Taeyeon-ah!”

“Baiklah, baiklah. Tetapi tolong beritahu Ji-Won oppa agar ia benar benar membicarakan tentang projectnya, aku tidak ingin membuang-buang waktuku.”

“Tentu saja! Aku bahkan akan menghubungi Tiffany untuk meminta izinnya!”

“Yah! Jugulle!? Tidak perlu, aku akan memberitahukannya sendiri.”

“Arasseo-arasseo.” Sooyoung terkekeh sembari melemparkan tubuhnya pada sofa yang terasa begitu nyaman, sungguh ia ingin menutup matanya setelah hari yang melelahkan ini, belum lagi ia baru saja melahap dua porsi bagel, tentu ini waktu yang tepat untuk beristirahat.

“Apa yang kau lakukan? Ini sudah larut kau sebaiknya bergegas pulang.”

“Sssshh! Aku mencoba untuk tidur. Lagipula aku tidak membawa mobil, Bangunkan aku ketika kau sudah selesai.”

Taeyeon hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya perlahan melihat tingkah laku sahabatnya yang tidak pernah berubah dari waktu ke waktu.

Ia merasa bersyukur seorang seperti Sooyoung hinggap dihidupnya, kadang wanita jangkung itu membuat semua terasa lebih ringan untuknya.


11.45 pm

 Maafkan aku, aku benarbenar tidak bisa menemanimu.

Tapi aku berjanji untuk makan malam. Fany-ah…

 

                                                                                                                        12.24 p

                                           Pekerjaan jenis apa yang menyita waktu liburmu?

                                                Ini bahkan akhir pekan.

 

12.25 pm

 Aku mengatakan yang sebenarnya,

Ji-Won oppa benar benar membutuhkanku untuk proyek barunya.

     12.46 pm

Lagi-lagi om-om tampan itu. Tidak kah kau memiliki client yang lain?

 

 

12.47 pm

 Dia bukan Ahjussi. Dia masih muda.

Kau harus bersikap sopan oleh orang yang lebih tua Tiffany.

Sekali lagi maafkan aku, aku akan menjemputmu jam 7, kau mengerti?



13.05 pm

saja ia masih lebih tua satu tahun darimu, dan dia Ahjussi. Oh ya dan aku tidak, tidak mengerti.

 

 

 

13.07 pm

 Kalau begitu apakah aku Ahjumma?

Bukankah itu berarti kekasihmu seorang Ahjumma?

 

                                                                                                                        

13.45 pm

benar. Kalau begitu Aku akan mencari yang lebih muda, oh dan kau tidak perlu menjemputku, end of discussion. I’ll turn my phone off. Bye.

 

 


13.47 pm

 Tunggu, tidak, selama kau tidak memberitahukanku

Dimana kau akan berada Tiffany.




  14.00 pm

                                                             Why should i? you don’t even tell me                                                                        what’s really going on between you and him?

 

 

14.01 pm

 Him? Who are you talking about?

Ji-Won oppa? Dia hanya teman kantor yang kebetulan

Menjadi client ku juga Tiffany. Dan kami hanya akan

Membicarakan pekerjaan siang ini. Kau harus percaya padaku.



 14.32 pm

 Be honest Taeyeon, apa kau mencoba untuk melepaskanku ?

 

14.34 pm

 Mwo!? You’re talking non-sense Tiffany.

Kau kekasihku, dan kau satusatunya.

Tolong percayalah padaku.

Aku bahkan akan membatalkan janjiku untukmu.

 

                                                                                                            14.56 pm

                                                                                                            Too late.

 

 


 

Taeyeon terus mengemudikan setiran mobilnya dengan kasar, pikirannya tidak pernah lepas dari sosok gadis muda itu. wajahnya terlihat sangat lelah dan terlihat begitu khawatir. Jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari dan ia masih belum mendapatkan kabar dari kekasihnya, yang ia dapat hanyalah ibu dari gadis itu yang menyatakan perasaan khawatirnya akan anak gadisnya itu padanya,

 

Taeyeon benar benar berharap bahwa alamat kali ini, alamat yang diberikan guru dari Tiffany membuahkan hasil, setidaknya ini sudah menjadi alamat yang ke 43 yang didatanginya, sampai saat ini semua nihil dan ia sungguh tidak mempunyai petunjuk harus kemana lagi setelah ini, perasaannya campur aduk hingga ia tidak bisa melihat jalanan dengan jelas.

 

Ada ketukan yang begitu keras pada pintu itu, tentunya itu berasal dari kepalan tangan Taeyeon, sedikit berharap bahwa pemilik rumah dapat mendengarnya meskipun music yang sungguh keras itu menutupi seluruh bagian rumah.

 

Beberapa menit kemudian Taeyeon menemukan sebuah gadis belia membukakannya pintu, gadis itu terlihat begitu acak-acakan, bahkan bajunya sedikit terangkat, memperlihatkan perutnya yang terekspos,

 

“Kau siapa dan mencari apa?” Ujar gadis itu membuat Taeyeon mengepalkan tangannya, sungguh ia berfikir anak anak muda masanya kini tidak mempunyai sopan santun dengan orang-orang yang sudah jelas lebih tua.

 

“Apa benar kau Emma?”

 

Gadis itu untuk beberapa menit terdiam, memperhatikan wanita yang masih lengkap dengan setelannya dari ujung kaki hingga kepalanya, ia lalu menatap Taeyeon dengan heran,

 

“Apa aku bahkan mengenalmu?” Ujarnya sekali lagi,

 

“Tidak, kau tidak mengenalku, tetapi aku mengenal temanmu. Tiffany.”

 

“Tiffany? Hwang Tiffany? Kau siapa?”

 

“Kim Taeyeon, kekasih Tiffany.”

 

“Heol! Jangan mengada-ada.”

 

“Aku mengatakan yang sejujurnya.”

 

“Aku tidak menyangka selera Tiffany cukup tinggi, apa ramuan yang dipakainya hingga mendapatkan seorang Yeoja dewasa yang begitu hot?” Gadis belia itu terkekeh dengan wajah yang terlihat tidak sepenuhnya dalam keadaan sadar, bahkan nafasnya tercium begitu pekat akan alcohol,

 

Taeyeon mengayunkan tangannya dihadapan wajah gadis belia itu, mencoba mencari sedikit kesadaran dari gadis itu, “Dimana Tiffany?”

 

“Kau tidak akan pernah ingin tau, Taeyeon-sshi.”

 

“Biarkah aku menemuinya.”

 

“Sayangnya kau tidak bisa, ia sedang sib-uk hic!”

 

Taeyeon sudah habis akan kesabarannya, ia sungguh merasa benar benar lelah, baik fisik dan mental, ia sungguh sungguh merasa putus asa, ia hanya ingin menemui Tiffany, Taeyeon menarik gadis belia itu dan menyingkirkannya, berhasil melewati pintu utama,

 

Betapa terkejutnya ia melihat sesuatu yang benarbenar tidak pernah ada dipikirannya, disitulah Tiffany, dengan senyuman lebar yang terlihat begitu bahagianya dikelilingi teman teman gadisnya juga banyak teman lelakinya yang kebanyakan telanjang dada sembari menghisap rokok mereka, bahkan banyak bungkus snack berserakan, bau alcohol begitu sangat tajam, music yang begitu keras dan tawa yang tidak kalah menambah suasana menjadi lebih menyakitkan untuk Taeyeon,

 

Dengan cepat ia menarik gadis yang sedari siang ia cari, sungguh semuanya terasa begitu nyata, kenyataan begitu terasa kejam, ia sungguh merasakan kecewa yang sangat amat mendalam,

 

“T-Taeyeon?” Gadis itu hanya dapat terkejut melihat seseorang menarik kuat lengannya kearah luar bangunan dengan kasar, hingga keduanya sampai dihalaman depan, Tiffany memperhatikan wanita itu, ia terlihat begitu sangat letih, kedua mata Taeyeon yang merah menunjukkan amarah dan kekecewaannya, disisi lain menampakkan sisi bahwa ia terlihat begitu lelah akan semua hal yang ada dihadapinya, dan disatu titik mata itu masih terlihat sama, terlihat begitu indah untuknya, namun di saat bersama terasa begitu menyakitkan.

 

“Jadi ini yang kau lakukan!?”

 

“Digoda banyak pria yang hanya mengenakan jeans dan dikelilingi alcohol dan temantemanmu yang sungguh tidak mempunyai aturan!?”

 

“Hey! don’t say anything like that to my friends, you don’t even know them!”

 

“Oh percayalah aku mengetahui semua jenis temanmu, mereka tidak mempunyai sopan santun, liar, manja, dan tidak berpendidikan!”

 

“Kim Taeyeon!”

 

“Dan kau.. kau… apa kau benar benar Tiffany?..”

 

“What are you talking about? I am!”

 

“Apa kau mabuk?”

 

“Tidak! aku selalu mendengarkanmu Taeyeon, tidak perduli berapa lama aku berpesta aku tidak akan meminum alcohol itu lagi!”

 

“Kau… akhirnya aku menemukanmu..”

 

“Aku mengkhawatirkanmu Tiffany.”

 

“Apa kau selalu seperti ini?.. tidur dengan banyak pria… berpesta hingga pagi dan membuat orangtuamu mengkhawatirkanmu!?”

 

“What!? I don’t sleep with those guys! Aku hanya bergurau dengan mereka! bisakah kau melihat dirimu sendiri!? Kau bahkan berkencan dengan seorang pria tampan yang sudah jelas mengincarmu!”

 

“Tiffany! Berapa kali aku harus memberitahumu bahwa aku hanya bertemu dengannya untuk masalah pekerjaan! Dan tidak pernah lebih dari itu! dan kau!? Ini yang selama ini kau lakukan jika aku mengkhawatirkanmu!? Ketika aku bekerja dan tidak ada didekatmu!? Ini yang kau lakukan!?..”

 

“Fany-ah… aku selalu mengkhawatirkanmu, aku sangat menyayangimu, aku mencintaimu Fany-ah… aku tidak akan pernah mengecewakanmu, dan aku selalu berusaha untuk selalu mengerti keadaanmu, aku bahkan membatalkan semua pekerjaanku karena mengkhawatirkanmu, aku tidak mendapatkan kabar darimu, aku.. aku sungguh bingung Fany-ah, aku hampir berfikir aku akan kehilanganmu, aku.. tidak bisa menjalani itu semua Fany-ah, hal terakhir yang tidak ingin aku lakukan adalah menjalani hidup tanpa mu Fany-ah.. dan disini kau.. aku sungguh kecewa Fany-ah…”

 

“Aku merindukanmu Tiffany Hwang….,” gumam Taeyeon sembari menutup matanya dan akhirnya membiarkan air mata tak berdaya dan frustrasi mengguling jatuh di pipinya. Dia harus menemukan cara lain keluar dari kekacauan ini.

 

Dia bisa merasakan tikaman yang dalam benar-benar dalam hatinya, dan itu menyakitkan. Tangannya bergetar, lidahnya kelu melihat mata yang redup itu menyuguhkan banyak rasa sakit yang selama ini seperti ia pendam, sungguh itu begitu menyakitkan untuk melihat Taeyeon begitu sakit,

Lebih menyakitkan lagi ketika sosok itu berpaling, bersiap untuk pergi karena ia sudah terlalu lelah, Ia merasa begitu bersalah, ini seperti menyakiti seseorang yang sangat dicintainya dengan sangat kejam, apa yang telah ia perbuat hingga ia mendapat malaikat seperti Taeyeon?

Ia berlari perlahan, mendekap erat tubuh itu dari belakang, sungguh sungguh erat. Bisa dirasakan air mata yang lolos begitu saja dari matanya,

I’m so sorry…

Hanya itu yang bisa di katakannya, berharap bahwa itu akan sedikit meyakinkannnya bahwa ia benar benar menyesal, ia mengutuk dirinya sendiri menyadari bahwa dirinya begitu bodoh,

Taeyeon dapat merasakan punggungnya terasa basah dan hangat, hati yang terhimpit sedaritadi kini terasa sedikit lebih lega, entah mengapa meskipun begitu sakit hatinya saat ini, hanya dengan sentuhan gadis itu, itu semua terasa begitu sirna, apakah ia benar benar bodoh jika seperti ini?

Taeyeon memalingkan tubuhnya, melihat wajah itu kembali, wajah yang selama ini terasa begitu asing, seakan akan mencair menjadi lebih hangat dan menenangkan,

Lainnya hal Tiffany ketika ia melihat kedua bola mata itu, bola mata yang menunjukkan seberapa banyak rasa sakit yang telah ia lewati dan bagaimana kekecewaan yang ia miliki untuknya, mata yang biasanya terlihat lembut kini terlihat begitu redup, dan ia menyadari itu semua karenanya, dan itu semua menghimpit dadanya.

Detik kemudian sosok itu menariknya kedalam dekapannya, Tiffany membalas pelukanitu, sedikit lebih erat, tidak lupa menikmati keharuman yang selama ini jujur ia rindukan, ia bahkan hampir lupa bagaimana nyamannya berada didekapan Taeyeon, dan ia sungguh menyesal.

Please, don’t do that ever again..

I… promise Taeyeon. I’m sorry..

“I love you, Tiffany.”

“I love you too Taeyeon, I love you so much.”

“Thank you..”

 


“Kau tidak bisa seperti ini, Fany-ah..”Ucap Taeyeon masih berusaha meyakinkan kekasihnya yang terlihat tidak peduli, dan tetap bergulat dengan telfon genggamnya,

“Itu hanya ujian biasa, Taeyeon.”Jawabnya malas-malasan,

“Tidak penting itu ujian seperti apa, tetapi kau tetap harus mencobanya lebih keras lagi.”

Tiffany lalu menatap kekasihnya jengah, memutar kedua bola matanya sembari berkata,

“Lagipula, aku baru gagal kali ini. kau tidak bisa menyalahkan usahaku, aku sudah berusaha semaksimal mungkin.”

Taeyeon hanya bisa mendengarkan jawaban sang kekasih dengan sabar. Bagaimanapun juga, bukan hanya ujian ini yang Tiffany tidak bisa mengerjakannya dengan baik. Banyak dari tugas dan kewajibannya sebagai pelajar terus di abaikannya. Taeyeon juga merasa bahwa nilai akademik Tiffany semakin menurun dari hari ke hari dan dia hanya mampu mengingati, dan terus mengingati kekasihnya agar mau berusaha lebih keras dari biasanya. Setidaknya, itu akan membantu mengembalikan kondisi akademisnya seperti semula.

Dia hanya berusaha mengawasi kegiatan Tiffany dan berupaya untuk membantu meningkatkan keberhasilan nya demi meraih masa depan yang gemilang,

“Tetapi tetap saja, Fany. Nilai akademismu semakin menurun. Kau tidak bisa terus seperti ini.”

“Apa kau sekarang mengatakan bahwa aku begitu bodoh untuk tidak menyadarinya!?”Tiffany agak meninggikan suaranya membuat Taeyeon yang berdiri tak jauh darinya sedikit terkejut.

“Kau tidak mengerti bagaimana sulitnya aku menjalani ini semua, Taeyeon! Ini tidak semudah yang kau kira! Aku masih mempunyai kehidupan di luar sekolahku, yang kau tidak tau!”Tambahnya membuat Taeyeon hanya bisa bungkam,

“Kau mungkin bisa berkata apapun, menyuruhku untuk belajar, dan lainnya. Tapi apa kau tidak melihat dari sisiku juga? Aku kira kau yang mengatakan bahwa kita harus memandang masalah dari setiap sisi.”Perkataan Tiffany selanjutnya justru membuat Taeyeon hanya bisa berusaha menahan emosinya yang mulai tumbuh di ulu hati,

“Kau hanya orang dewasa yang tidak mengerti apa-apa. kau tidak mengerti bagaimana sulitnya aku menghadapi ini semua! Kau tidak membantu!”

Taeyeon lalu terpejam, mencerna semua kata-kata Tiffany yang di lemparkan begitu saja padanya. Dia berusaha agar tidak mengeluarkan amarahnya sekarang, karena ia tau, ini hanya akan memperburuk keadaan. Tapi tiba-tiba..

“Berhenti membuatku merasa seperti anak kecil.”

“Terlebih lagi, jangan membuatku menyesal karena telah memilihmu, Taeyeon.”

Dengan itu, berhasil membuat Taeyeon kembali membuka matanya. Bisa dirasakannya sakit hati yang kini meluas di dalam rongga dadanya. Ia tidak menyangka bahwa Tiffany akan mengatakan itu, ini semua di luar dugaanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa niat baiknya justru membuat status hubungan mereka berada di ujung jurang.

Taeyeon tak bisa menahan air matanya untuk jatuh, kata-kata itu sungguh berhasil merobohkan dinding pertahanan keteguhan hatinya.

Sementara, melihat wanita yang lebih tua menitihkan air matanya, Tiffany hanya bisa mengutuk dirinya sendiri karena telah mengatakan itu. ia betul-betul merasa bodoh sekarang. Merasakan penyesalan yang begitu  besar, kini menyergap seluruh ruang hatinya.

Baru saja dia ingin mendekat,

“Taeyeon, im sorry..”

Namun ketika langkahnya di ambil, Taeyen justru memundurkan tapakan kakinya,

Its okay, ini salahku juga karena aku kurang mengertimu, Fany.”Balasnya pelan, lalu menghapus air mata yang jatuh berkali-kali. Membuat Tiffany merasakan sesuatu yang kini menghimpit rongga dadanya ketika melihat itu,

Dia benar-benar merasa seseorang yang patut untuk di salahkan sekarang,

No, baby, im sorry..”Tiffany mencoba mendekatkan langkahnya ketika Taeyeon mulai mengambil kembali jaketnya yang menggantung. “Please, Taeyeon..”

Sementara wanita itu hanya bisa mendengar semua kekecewaan yang menusuk-nusuk gendang telinganya. Dia hanya tidak bisa menghadapi gadis itu untuk sekarang.

Im going, Tiffany. just.. stay.”Ucapnya lalu melenggang keluar dari apartment kekasihnya. Meninggalkan Tiffany yang tertunduk sembari terisak pelan,

Dirinya tidak sama sekali mengetahui, bahwa Taeyeon sudah terjaga semalaman untuk mengulang pelajaran yang ia dapat ketika masa sma dulu, demi membantu Tiffany untuk meningkatkan kembali nilainya.

Niatnya ke apartment Tiffany hari ini memang untuk belajar bersama kekasihnya, tetapi nampaknya semua itu sia-sia.


Tiffany tau dirinya begitu bodoh untuk mengatakan hal seperti itu. disinilah dia hanya bisa merutuki perbuatannya. Dia bahkan tidak menyangka jika bisa menampar kekasihnya sendiri dengan kata-kata yang tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Hubungannya yang sudah ia dan Taeyeon jaga dengan hati-hati, kini bisa terancam hanya dengan perbuatan bodohnya.

Dia tidak tau jika kata-kata itu begitu menyakiti perasaan kekasihnya,

Andai dia bisa kembali lagi, dia berjanji akan menuruti apa yang di katakan kekasihnya. Dia bahkan rela untuk melakukan apapun demi Taeyeon, demi bahagianya. Dia begitu egois karena hanya mementingkan sudut pandangnya ketika mereka berargumen kemarin. Dia tidak sempat melihat bagaimana Taeyeon hanya ingin dirinya menjadi lebih baik, dia tidak melihat itu. dia tidak mengerti niat kekasihnya yang mempunyai maksud baik, agar nilainya kembali terbang di atas langit. Menjadi bintang yang paling bersinar disana.

Tiffany menyadari, bagaimana kekanakannya dia di bandingkan kekasihnya sendiri. dia seharusnya bisa membantu Taeyeon untuk menjaga baik-baik hubungan mereka, namun disinilah dia hanya memperburuk situasi mereka yang sudah berbeda sejak awal.

Dia ingin sekali menyeimbangi kekasihnya dalam berfikir kritis. Tetapi apa daya jika jiwa mudanya masih berkobar sebagai seorang remaja.


“Kau harus memikirkannya baik-baik Taeyeon,”Ujar Sunny yang tampak lelah untuk mengingati sahabatnya akan hubungannya dengan gadis yang lebih muda. Dia tidak tahan melihat Taeyeon yang berjuang sendiri untuk mempertahankan status mereka. Dia juga tidak bisa melihat sahabatnya tampak sangat lelah karena menghadapi itu semua.

Dari awal dia mendengar tentang Taeyeon dan kekasihnya, Sunny memang kurang setuju. Selain karena gadis itu lebih muda, bahkan masih ada di bangku sma. Dia bisa merasakan sesuatu yang akan menghadang di depan sana. Sesuatu yang ia yakin pada akhirnya akan memisahkan mereka berdua. Bukannya ia tidak suka pada Tiffany, hanya dia yakin. Bahwa perbedaan mereka yang begitu terlihat akan membawa hubungan mereka ke titik paling sulit yang pernah ada. Sunny adalah orang yang kesekian di sekitar Taeyeon yang rajin untuk memperingati konsekuensi dari hubungannya bersama gadis yang lebih muda.

Terbukti, akhir-akhir ini Taeyeon sering menceritakan bagaimana situasinya bersama Tiffany menjadi semakin sulit. Dan sangat sensitive jika sudah mengenai tentang  perbedaan yang ada.

“Kalian belum terlalu jauh, masih belum terlambat untuk mengakhirinya.”

Dengan itu, Taeyeon mendongak untuk menatapnya, “Kalian sulit untuk menjalaninya, jangan buang waktumu. Taeyeon. Di luar sana masih banyak yang lebih baik dari Tiffany.”

“Lagi pula, apa kau tidak menyadari? Dia masih muda dan mempunyai masa depan di hadapannya. Apa kau ingin merusak, atau membantunya? Hanya lepaskan saja dia. Dan berjalanlah di takdir yang berbeda.”

“Bukan aku tidak menyukai Tiffany. dia adalah gadis yang cantik, ceria dan penuh semangat. Seperti yang kau ceritakan. Tak heran, kau jatuh cinta padanya. Tetapi, disinilah kalian berada. Di jalan yang berbeda. Yang sulit untuk di satukan, kalian masih terperangkap pada masa yang berbeda, kebiasaan  yang berbeda, juga perilaku yang jauh berbeda.”

“Tidak mudah memang, untuk melepaskannya. Tetapi kau harus memikirkannya matang-matang Taeyeon. Apa ini yang kau dan Tiffany inginkan?”

Taeyeon hanya bisa terdiam sembari berusaha mengolah lagi kata-kata sahabatnya. Dia tidak setuju dengan sugesti Sunny akan hubungannya dengan Tiffany. no way in hell, ia akan dengan mudah melepaskan gadis itu. Dia terlalu mencintai Tiffany untuk meninggalkannya begitu saja, dia terlalu buta akan kemungkinan yang terburuk, karena ia memiliki Tiffany di genggamannya. Ini bukan suatu permainan yang menyerah adalah satu-satunya jalan keluar.

“Kau tidak mengerti, Sunny. Aku mencintai Tiffany, aku sangat mencintainya. Dan aku yakin, kita bisa menghadapi semuanya bersama. Kau tidak mengerti bagaimana kita berdua berusaha mempertahankan hubungan ini.”

“Kalian berdua, atau hanya kau saja. Taeyeon?”

“Kami berdua. Kau tidak mengerti, dia juga sudah berusaha. Banyak sekali perbedaan yang kami sadari, kami harus menyatukannya. Dia sudah mencoba dengan keras, akupun juga. Hanya mungkin situasi yang kurang menguntungkan membuat semuanya menjadi lebih sulit.”

“Aku juga pada dalam posisi yang salah. Aku seharusnya mengerti posisinya juga. Aku harus melihat dari sudut pandangnya juga. Sunny. Dia masih melewati masa-masa remajanya yang bebas, aku harusnya tidak memaksanya untuk melakukan sesuatu yang dia tidak bisa. Aku seharusnya hanya mendukungnya dari belakang, dan tidak pernah mendorongnya untuk terpaksa menuruti semua perkataanku,”

“Tapi kau hanya ingin yang terbaik untuknya, Taeyeon. Dia juga tidak mengerti posisimu,”Sanggah Sunny cepat,

“Aku yakin dia mengetahui itu, Sunny. Dia hanya tidak bisa menahan emosi remajanya, aku bisa mengerti..”

Sunny hanya bisa membuang napasnya kasar. Ia sadar, mau apapun cara yang ia gunakan untuk menyampaikan maksudnya akan selalu dengan mudah di balikkan oleh sahabatnya, dia sudah terlalu mencintai gadis itu, dna Sunny tidak bisa melakukan apapun tentang itu.

“Baiklah, mungkin jika ini keputusanmu. Perjuangkanlah lagi, tetapi kau harus ingat. Jika kau merasa ingin menyerah, kau masih mempunyai hal yang lebih baik menanti di depanmu, Taeyeon-ah.”

Taeyeon tersenyum tipis mendengarnya, “Gomawo, Sunny-ah.”


Sorry guys, Kali ini aku yang harus meyakinkan Taeyeon.”

Tiffany menolak ajakan teman-temannya untuk ikut ke pasta musim panas yang teman mereka adakan malam ini. Namun, dia tidak mau membiarkan hubungannya dengan sang kekasih menjadi renggang seperti ini. dia harus mendapatkan maaf dan baru bisa kembali menjalani harinya dengan tenang.

“Aku akan ikut denganmu!”Sambar Jessica cepat. Mereka memang baru menyelesaikan sesi sekolah mereka, bahkan seragam juga masih melekat di tubuh ramping mereka. Namun, Tiffany tidak bisa menundanya lagi,

Ia tidak mau menjadi yang terlambat untuk kesekian kalinya, dia tidak ingin menyesal lagi.

“Kau duluan saja bersama yang lain,”

“Iya. Pasti Tiffany akan menyusulkan, nanti?”Jawab Yoona, Tiffany lalu terlihat seperti berpikir.

“Aku tidak tau, aku mungkin akan mengajak Taeyeon makan malam di luar.”

“Tuh, Aku akan menemanimu. Lalu kembali jika kalian berdua memang akan makan malam di luar.”Kata Jessica masih kekeuh dengan keputusannya. Dia hanya ingin mendampingi Tiffany untuk saat ini. karena ia tau, banyak kemungkinan yang akan terjadi jika dia berangkat sendiri. terlebih dengan kondisi mereka yang masih memakai seragam ini, memasuki wilayah perkantoran orang bertuxedo.

“Baiklah. Kami pergi duluan, ya.” Kata Tiffany pada temannya yang lain, lalu menarik lengan Jessica cepat.


Tiffany dan Jessica merasa ini bukan tempat mereka, tetapi apa boleh buat. Mereka harus tetap masuk dan menemukan sosok yang mereka cari. Mau bagaimanapun juga.

Perasaan tak nyaman kerap menghampiri mereka ketika mendapatkan sorotan intimidasi dari orang-orang yang berjalan di sekitar mereka. Jelas sekali, itu semua karena seragam yang masih mereka kenakan. Tiffany agak menyesal karena tak mau menggantinya dulu sebelum kesini,

Namun genggaman tangan Jesscia seperti menghipnotisnya begitu saja, agar melawan rasa takutnya lebih keras.

Baru saja ia ingin menghampiri meja receptionist, ada yang menepuk bahunya pelan, dari belakang,

“Tiffany?”

Tiffany dan Jessica tidak menghabiskan waktu mereka untuk berbalik, menemukan figure yang tak asing. Tiffany ingat, bahwa paras inilah yang sering bersama kekasihnya di luar lingkungan pekerjaannya. Dia bahkan ingat, ketika dirinya cemburu pada figure ini karena menghabiskan waktu dengan Taeyeon untuk waktu yang lama.

Namun Taeyeon tak henti mengingatkannya bahwa mereka hanya teman dekat, tidak mungkin lebih dari itu.

Walaupun pada akhirnya Tiffany harus mengubur semua rasa cemburunya agar tidak membuat hubungan mereka terbebankan hanya karenannya.

“Kau mencari, Taeyeon?”Katanya setelah melemparkan pandangan tanda tanyanya,

Tiffany mengangguk, “Ya. Apa.. kau melihatnya?”

Wanita itu tersenyum, lalu menyodorkan tangannya kedepan, berharap Tiffany menyambutnya dengan baik. Benar saja, Tiffany lalu menjabat tangannya pelan,

“Aku Sunny. Sahabat kekasihmu.” Sementara Tiffany hanya bisa memasang wajah sedikit terkejutnya,

Bagaimana dia mengetahui hubunganku dengan Taeyeon?

“Bagaimana kau tau?”

Sunny lalu terkekeh pelan, “Taeyeon selalu menceritakan apapun tentangmu.”DIa tersenyum hangat,

“Kau cantik. Tidak heran dia tergila-gila akan sosokmu.”Tambah Sunny, membuat Tiffany merasa sedikit malu akan pernyataanya.

“Ini temanku, Jessica.”Kata Tiffany memperkenalkan sahabatnya, mereka berjabatan tangan seperti sebelumnya.

Mereka sempat terhanyut sebentar akan pembicaraan tentang pertemuan mereka barusan,

“Jadi.. kau pasti baru pulang dari sekolahmu, ya.”

“Aku bisa melihatnya dari seragammu.”Tambah Sunny membuat mereka kembali terkekeh,

“Baiklah, aku akan menunjukanmu ruangan Taeyeon. Mengingat ini adalah kunjungan pertamamu, kan?”

Tiffany dan Jesscica mengekor di belakang Sunny sembari melihat sekelilingnya yang penuh dengan orang-orang kantoran. Ini sungguh bukan tempat kami. Pikir mereka.

Sampai akhirnya mereka berhenti beberapa langkah dari pintu suatu ruangan, Sunny menghentikan langkahnya dan berbalik,

“Taeng ada di dalam, kalian ketuk saja pintunya.”Katanya,

“Baiklah. Terimakasih, Eonni.”Balas Tiffany lalu membungkukan tubuhnya, di ikuti dengan Jessica yang melakukan hal yang sama.

“Sama-sama. Sampai bertemu lagi, Tiffany, Jesscia!”Katanya lalu melenggang pergi,

“Baiklah, ini giliranmu, Tiffany.”Ucap Jessica,

Sementara Tiffany mengambil napasnya dalam. Ia sudah mempersiapkan dirinya dengan matang saat sebelum sampai disini, tapi kenapa rasanya beban yang menghimpit justru terasa semakin sesak? Tiffany tidak yakin apa dirinya bisa menghadapo sosok Taeyeon saat ini.

Tetapi mau bagaimana juga, dia harus segera berbicara dengan orang itu. dia menyesal akan perkataanya, dan bertekad mendapatkan maaf  dari gadis yang lebih tua. Tiffany sebenarnya bukan tipe yang akan memohon maaf pada orang lain, walaupun kesalahan ada pada dirinya. Namun jika itu semua sudah mengenai tentang Taeyeon dan hubungan mereka, dia akan melakukan apapun untuk memperbaiki apa yang telah ia rusak.

Baru saja ia ingin memajukan langkahnya, pintu itu terbuka..

Lalu di tangkapnya figure kecil Taeyeon yang sedang bersenda gurau dengan seorang pria berkemeja babyblue. Lengkap dengan bunga mawar merah di genggamannya.

Tiffany awalnya tidak yakin akan pandangannya sendiri, namun ia yakin sosok itu adalah kekasihnya. Ya. dia yang kini melangkah menjauh, sembari berjalan sejajar dengan seorang pria. Sesekali tertawa dalam pembicaraan mereka.

“Tiffany. Kau tidak bisa menyimpulkan keadaan sendiri. aku tau apa yang ada di kepalamu sekarang,”

Perkataan Jessica mampu merebut perhatiannya, dia bisa merasakan amarah yang membara di jantung hatinya sekarang. Dia yang tadinya berniat mendapatkan maaf dari sang kekasih, kini telah berubah haluan.

Dia bisa merasakan sakit yang amat sangat di hatinya karna kejadian barusan. Dia masih berusaha untuk melawan semuanya, melawan amarah, cemburu, juga penyesalan yang di aduk dalam satu wadah hatinya.

Tiffany berbalik mengabaikan perkataan Jessica barusan. Ia hanya tidak mengerti dengan waktu yang kini berjalan di sekitarnya. Dia hanya ingin pergi.


Taeyeon tidak bisa memikirkan hal yang lebih buruk dari ini. dia harus duduk bersama clientnya. Seorang pria yang mapan yang dengan jelas, sudah tertarik akan sosoknya. Taeyeon bisa merasakan itu ketika dia tiba-tiba mengunjungi kantornya sembari memberikannya bunga mawar merah.  Awalnya ia ragu akan ajakan diskusi bisnisnya untuk makan di restaurant di dekat tempatnya bekerja. Baginya, itu terlalu berlebihan. Taeyeon juga tidak mau ada rumor yang beredar di tempatnya bekerja hanya karena ini.

Tapi karena pria itu memaksa, dan Taeyeon hanya merasa tidak enak menolak ajakan itu, dia hanya mencoba menjadi professional. Dalam hati, ia berdoa agar tak ada seorangpun yang melihatnya. Ia hanya ingin ini cepat selesai, kembali ke kekantornya, lalu kerumah. Atau mungkin kembali pada Tiffany.

Memang, sejak kemarin nama itu tak pernah meninggalkan kepalanya. Ia merasa sedikit bersalah karena telah memaksakan kehendaknya pada gadis muda itu. dia berpikir, bahwa tidak seharusnya dia seperti itu. dia telah melakukan kesalahan, pikirnya. Terbesit di kepalanya, bahwa dialah yang harus menyeimbangkan  keadaan mereka. jadi dia berniat untuk menyempatkan dirinya ke apartment gadis itu dan memperbaiki situasi perang dingin mereka. Gadis itu belum juga menghubunginya sejak kemarin, dan itu semakin membuat kekhawatiran Taeyeon memuncak.

Tapi dia merasa bodoh karena tidak bisa melakukan apa-apa sekarang, dia terjebak disini dengan nama Tiffany yang terus terngiang di kepalanya.

Berkali-kali dia melihat kea rah jam yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. Kira-kira sudah dua jam ia habiskan disini. Bersama pria yang sama sekali tak di kenalnya, yang lebih mengutamakan maksudnya untuk mendekati Taeyeon, melupakan tujuan utamanya. Ya itu membicarakan pekerjaan mereka.

Taeyeon menyesal untuk menerima ajakan pria ini, sungguh.


Angka jarum jam sudah menunjukan pukul Sembilan malam, Taeyeon mulai merasa lelah akan pandangannya. Berjam-jam sudah dia menatap layar itu, untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda siang tadi. Rasanya sungguh melelahkan, walaupun hanya duduk dan terus membuat beberapa lembar pekerjaanya. Apalagi dengan pikirannya yang tak pernah absen untuk mengulang nama Tiffany sejak siang tadi,

Taeyeon menghembuskan napasnya kasar, lalu dia kembali bersender pada kursi yang sudah terasa panas akibat di dudukinya terlalu lama. Dia merasa menyesal karena tidak dapat menangani clientnya cukup baik. Di karenakan pikirannya yang berantakan akan sang kekasihnya. walaupun hasil persentasi yang ia persembahkan sangat memuaskan. Dan terbayar. Taeyeon tetap merasa tak enak hati.

Dia memejamkan matanya kembali, mengingat bagaimana dirinya bisa terjerumus ke cinta yang begitu dalam untuk gadis itu. Padahal kini dirinya sedang menjadi incaran oleh beberapa pria teman kerjanya, yang begitu baik. Bukan hanya satu, atau dua yang kini sedang berbaris untuk memenangkan hatinya. Tetapi telah banyak yang mencoba mengambil kesempatan mereka untuk mendekati sosok Taeyeon yang menjadi dambaan di kantor tempatnya bekerja.

Taeyeon memang di kenal sebagai wanita yang cerdas, ambisius, perhatian juga mempunyai karakter yang menyenangkan. Sifatnya yang begitu mudah untuk menjadi pertemanan dengan siapa saja, senyumnya yang selalu ia suguhkan untuk orang-orang di sekitarnya menjadi nilai plus yang dapat di banggakan untuknya. Siapa yang tidak tertarik dengan seorang Kim Taeyeon? Dia mungkin akan menjadi hadiah terbaik di saat natal, mentari yang menghangatkan musim dingin, juga bunga yang menghiasi indahnya musim semi.

Siapapun yang mengenalnya, pasti akan langsung jatuh hati akan sosoknya yang hangat,

Taeyeon tidak pernah menyadari itu semua, dan justru itulah yang membuatnya semakin di segani oleh banyak orang. Tak hanya teman pria sekantornya, namun wanita juga ikut terpingkal hatinya jika sudah mengenalnya dengan baik.

Namun memang hanya ada satu yang mampu membalikkan keadaan itu semua. Walaupun begitu, walaupun banyak yang mengantri untuk mendekatinya, memberikannya berbagai barang yang manis, mendapatkan perhatian lebih dan hadiah yang lucu dari orang lain. Tidak pernah sedikitpun membuat hati wanita itu goyah akan seseorang. Seseorang yang kini mulai berubah karena hari yang memakan waktu.

Tidak pernah sekalipun dia berpaling akan sesuatu yang datang, dia terus yakin akan cinta dan kasihnya untuk gadis yang lebih muda. Dia sangat menyayanginya, dan ia ingin hubungan mereka bertahan selama mungkin. Karena itulah yang menjadi keinginannya ketika mereka mulai menjalin hubungan dengan sangat hati-hati.

“Apa kau pikir, kita bisa menjalani ini dengan baik?”Tanya Tiffany sembari terus menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang kekasih,

Mereka sedang berada di kamar Tiffany yang bernuansa pink yang ceria. Seperti kamar gadis remaja kebanyakan. Foto-foto yang terpampang rapih dan cantik. Hiasan dekorasi yang sangat, di sukainya. Memori yang di abadikan dalam bentuk foto kebanyakan dirinya dan teman-teman sekolahnya. Ketika hari kelulusannya di jenjang smp, drama musical yang sempat di mainkannya di acara sekolah. Atau dirinya yang menjadi salah satu anggota cheerleaders.

Ini adalah kebiasaan yang kini sulit untuk mereka berdua dapatkan akhir-akhir ini. Saling berada di dekapan satu sama lain, hanya mereka berdua. Tidak ada lagi realita di tengahnya. Berbagi cerita seakan tak ada hari esok yang akan menamparkan kehidupan yang saling berbeda, yang harus mereka hadapi.

“Tentu saja, Tiffany.”

“Ketika kau bertemu begitu banyak orang. satu, sepuluh, seratus, bahkan seribu. Lalu kau bertemu dengan satu orang, dari situ hidupmu akan berubah selamanya.”

“Dan itu yang ku rasakan hingga saat ini. aku ingin mempertahankan hubungan kita, selama mungkin.”

“Aku tidak akan pernah berhenti mencoba, karna ketika kau telah menemukan yang selama ini kau cari, dalam kasusku, itu adalah kau, Fany-ah. aku tidak akan pernah menyerah”

“Kau adalah setiap alasan, setiap harapan, dan setiap mimpi paling indah yang pernah aku miliki”.

Usai kata-katanya, Taeyeon kembali menarik tubuh kecil itu untuk semakin dekat. Di jatuhinya beberapa kecupan di pucuk kepala gadis yang lebih muda,

Sementara gadis itu hanya bisa terpejam sembaru tersenyum. Merasakan bagaimana kebahagiaan berhasil memuncak di ulu hatinya. Tepat setelah kekasihnya mengatakan itu.

“Thankyou,”Gumamnya pelan,

“I love you so much, Tae..”

“And I love you too, Fany.”

Taeyeon kembali memejamkan kedua matanya. Mengingat memori itu, membuat luka yang kini mulai ada di permukaan hatinya semakin meluas. Ia tidak pernah mengerti, apa dia sudah melakukan kesalahan. Karena tampaknya, kekasihnya justru semakin terasa jauh, dari waktu ke waktu.

Dia kembali mengeluarkan handphone dari sakunya, membuka kunci lalu membaca kembali banyak pesan singkat yang di kirimnya untuk gadis itu. sejak siang tadi. Memang, dia telah mencoba menghubungi sang kekasih, tetapi tidak satupun, panggilan atau pesan singkat mendapat jawaban.

14.00

Kau dimana sekarang, Fany-ah?

14.31

Kau tidak melewatkan makan siangmu lagi kan?

16.00

Hubungi aku, segera setelah kau menyelesaikan urusanmu.

18.00

Ini sudah di penghujung hari, kenapa kau tidak mengabarkanku?

19.00

Apa aku melakukan kesalahan?.

20.00

hubungi aku.. aku mengkhawatirkanmu.

Taeyeon bisa mengerti dengan jelas bagaimana berbedanya kehidupan yang harus mereka jalani. Perbedaan umur yang lumayan, jauh sekitar enam tahun membuatnya mengetahui batas-batas sejauh mana mereka bisa menyatukan dua pendapat yang berbeda. Dirinya yang harus bekerja seharian, berhadapan dengan orang dewasa lain, bersaing dalam ketatnya perekonomian di abad ini. harus menjadi yang terbaik dari yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang setimpal. Tak jarang setres atau depresi akan melandanya kala pekerjaan dan urusan orang dewasa lain mulai hinggap di kepalanya.

Taeyeon juga kadang merindukan masa-masa dimana dia bisa bebas layaknya anak remaja lain. Dalam kasusnya, kekasihnya sendiri. Tiffany. dia adalah siswi periang di tahun terakhirnya di sma. Dia akan menghabiskan liburan musim panas dengan pergi bersama teman-temannya, mengadakan pesta, atau ikut dalam perlombaan cheerleaders antar sekolah di kotanya. Kehidupannya sungguh berbeda dengan Taeyeon, dia di kelilingi dengan anak muda yang kini sedang menikmati masa jayanya mereka.

Sangat berbeda, bukan?

Walaupun begitu, hari-hari sebelumnya dapat mereka lalui dengan mudah. Karena kala itu kedua pendapat yang berbeda dapat di satukan. Namun keduanya menyadari, bagaimana kebiasaan, perilaku dan umur mulai tumbuh sebagai tembok yang menghalangi mereka untuk bersama.

Dirinya kembali mengingat sejak darimana kemampuan mereka untuk saling melengkapi mulai melemah?

21.00

Bukan hal yang baik untuk tidak mengabari kekasihmu sendiri, Tiffany Hwang. Hubungi aku.


Karena tidak mendapatkan balasan pesan apapun dari sang kekasih, Taeyeon menyempatkan dirinya untuk pergi sendiri mendatangi apartmentnya. Dia mengusir rasa lelah yang menyergapnya. Karna yang mungkin bisa menghilangkan itu hanyalah senyuman Tiffany. ia mengharapkan gadis itu akan membuka pintu, menyambutnya hangat seperti kebanyakan akhir dari argument mereka sebelumnya.

Tidak bisa di pungkiri jika dia begitu merindukan suara Tiffany walaupun ini hanya selang sehari, setelah pertemuan terakhir mereka.

“Tiffany?”

Tak mendapatkan jawaban, Taeyeon terus berusaha untuk mengetuk pintunya. Namun tetap saja, nihil.

Telfon genggamnya tiba-tiba bordering, bisa di lihat nama sang kekasih tertera di layar datar itu.

“Fany-ah!”

“Maaf, Apa ini Taeyeon-sshi?”

“Oh? Benar. itu aku. Apa Tiffany sedang bersamamu?”

“Iya, Taeyeon-sshi. Aku teman Tiffany, Yoona. maaf mengganggumu. Tetapi apa kau bisa kemari? Ada sedikit masalah dengan Tiffany.”

“Tentu saja, aku bisa. Bisakah kau mengirimkan alamatnya?”

“Tentu.”


Taeyeon merasa ini sangat bukan tempatnya. Dimana pesta sedang di adakan di bangunan rumah mewah yangmengahdang di depannya. Bisa di dapatinya para remaja yang sedang menghabiskan malam mereka dengan berpesta. Dari yang sedang bermain atau berbincang bersama teman sebaya, sampai bermabuk-mabukan layaknya pesta anak remaja lainnya.

Taeyeon bisa merasakan pendengaran telinganya yang sedikit terganggu akibat suara music yang di hasilkan di sini. Matanya tak lelah untuk mencari sosok Tiffany di tengah keramaian. Ia bisa menebak, bahwa mungkin saja gadis itu kini tengah dalam situasi yang sulit. Namun ia tidak tau jelasnya, seperti apa situasi itu.

Pada akhirnya Taeyeon tidak sengana menubruk seoran gadis brunette,

“Oh, maafkan aku.”Kata gadis itu membungkuk, menyadari wanita yang di tubruknya terlihat tampak lebih dewasa darinya. Mungkin karena pakaian yang di gunakan Taeyeon. Namun gadis itu belum mendapatkan gambaran paras  yang jelas akan sosok Taeyeon di karenakan lampu yang menyala.

Sementara Taeyeon hanya mengangguk,

“Taeyeon-sshi?”Kata wanita itu setelah mengenali wajahnya,

Sementara Taeyeon menyipitkan matanya untuk melihat wajah gadis yang ada di hadapannya lebih jelas, karena cahaya lampu pesta yang menganggu.

“Jessica?”Ucapnya setelah mengenali wajah ini. wajah sahabat dari kekasihnya sendiri,

“Apa kau mencari Tiffany?”Kata Jessica agak mengeraskan volume suaranya, karena hampir kalah dengan suara music yang ada.

“Iya! Apa kau melihatnya!?”

Jessica mengangguk perlahan, “Ya.  dia ada disana.”Jessica menunjuk bangunan kecil yang ada di tepi kolam renang.

“Baiklah,”Sebelum taeyeon bisa melangkah kembali, Jessica lebih dulu menarik pergelangannya,

“Jaga dia baik-baik, Taeyeon-sshi.”

Taeyeon agak heran dengan perkataan Jesscia barusan, ini seperti situasi yang berbeda yang akan menghadangnya di depan.

“Tentu saja. Kau bisa mengandalkanku,”

Taeyeon agak terkejut dengan apa yang pandangannya dapatkan sekarang. Disanalah, Tiffany bersama temannya yang sedang di kelilingi oleh banyak teman pria yang sedang bermabuk-mabukan sembari menikmatin alunan musik yang ada. Sesekali kekasihnya menggerakan tubuh seirama dengan salah satu pria. Lengkap dengan botol bir yang ada di tangannya, bisa terdengar teriakan anak remaja dari tempat Taeyeon berdiri.

Dia tidak ingin api cemburu membakarnya sekarang. Yang ia tau, ia hanya harus mengeluarkan Tiffany dari sini dan membawanya pulang dengan selamat. Taeyeon tidak bodoh untuk tidak mengetahui bagaimana remaja jaman sekarang menghabiskan waktu bersama mereka seperti ini.

Bagaimanapun, dia juga pernah muda. Tetapi ia mengakui, bahwa masa mudanya tak seberapa di bandingkan Tiffany. Mereka adalah pribadi yang begitu berbeda ketika menapaki usia remaja. Taeyeon akan menghabiskan waktunya di rumah. Membaca buku, membuat musik atau sekedar melakukan hal yanglebih berguna untuk kehidupan nyatanya. Dia akan mengikuti berbagain perlombaan menyanyi dan membut puisi. Mengingat bakatnya akan bernyangi cukup mengesankan.

Taeyeon merasa harus berperan sebagai seseorang yang mampu membawa Tiffany untuk lebih baik dalam hubungan mereka. Terlepas dari statusnya sebagai kekasih Tiffany, dia sudah hidup lebih lama dan lebih berpengalaman daripada gadis itu.

“Tiffany!”Serunya agak keras berusaha mengalahkan suara musik yang berdendang tinggi.

Gadis itu menoleh mencari asal suara, dia

“Oh, kau disini.”Katanya dengan nada santai. Taeyeon mulai menarik lengannya cepat untuk menjauh, namun segera di tepis oleh Tiffany.

“Apa yang kau lalukan!?”Katanya melepaskan genggaman Taeyeon,

“Apa yang aku lakukan!? Aku harus mengeluarkanmu dari sini!”Jawab Taeyeon tak mau kalah,

Tiffany hanya tertwa kecut mendengarnya,

“Untuk apa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah disini?”

“Kau masih bisa bertanya seperti itu!? Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu di saat kau mabuk, Tiffany!? Bagaimana jika aku tidak ada disini!? kau sudah berjanji untuk tidak melakukan ini lagi!”Tukas Taeyeon kembali menarik pergelangan tangan kekasihnya,

“Lepaskan aku! Lepskan, Taeyeon!”katanya berusaha melepaskan genggamab erat itu dengan paksa, sementara teman pria yang ada di belakang Tiffany mulai menghampiri sepasang kekasih yang sedang cekcok itu.

“Maaf, Tetapi Tiffany tidak ingin pergi bersamamu. Bisakah kau melepaskannya?”Kata salah satu dari mereka, berhasil membut Taeyeon berbalik.

“Aku tidak bisa membiarkannya seperti ini. Dia mabuk dan ada di tengah-tengah situasi yang buruk baginya. Aku harus membawanya kembali, jika tidak keberatan. Kau bisa menyingkir,”Bals Taeyeon dengan nada seriusnya yang di tekankan,

“Woah, memangnya kau siapa bisa berkata seperiti itu!? Kau bahkan terlihat tidak pantas untuk berada disini, Ah-jumma.

Mendengar itu, membuat Taeyeon merasakan amarah yang siap meletup di ujung perasaanya.

“Aku? Aku kekasihnya! Jadi bisakah kau menyingkir dari hadapanku!?”


“Kau tidak berhak untuk berkata seperti itu pada teman-temanku!”Ucap Tiffany meninggikan suaranya,

Kini mereka telah berada di depan bangunan apartment Tiffany. Pada akhirnya gadis itu menyetujui Taeyeon untuk kembali bersamanya, karena ia sadar. Akan ada masalah besar jika Taeyeon terus berada disana.

Dia mungkin mabuk, tetapi Tiffany masih memegang kendali akan alam sadarnya.

“Tentu saja aku berhak! Aku kekasihmu!”Balas Teeyeon tak mau kalah,

“Benarkah? Apa seorang kekasih akan pergi keluar dengan pria lain, sembari membawa bunga mawar di tangannya!?”

Taeyeon tersentak akan pernyataan Tiffany barusan. Bagaimana sosok itu mengetahuinya, ia juga tidak tau. Tak pernah terbesit di kepalanya jika Tiffany mengetahui tentng hal ini dengan begitu cepat,

“Apa yang kau bicarakan..?”Ucap Taeyeon terbata,

“Aku tidak bodoh, Taeyeon. Hanya pergi bersama pria itu dan jangan kembali! Apa kau pikir aku bisa mengerti ini semua? Aku mungkin hanya gadis remaja yang masih manja dan kekanak-kanakan di matamu. Tetapi aku tidak buta akan cinta, Taeyeon. Aku begitu mencintaimu, hingga tidak mampu untuk bisa melihatmu berada di genggaman orang yang lebih baik.”

“Apa kau pikir aku tidak tau, jika di luar sana banyak yang ingin merebutmu dariku? Aku baru saja ingin meminta maaf atas ulahku kemarin. Tetapi kelihatannya kau sama sekali tidak peduli. Kau bahkan pergi bersama orang lain!”

Taeyeon lalu bisa mengerti apa yg kini kekasihnya katakan, dia telah salah paham.

“Kau salah paham, Fany-ah. Biarkan aku menjelaskannya padamu..”

“Tidak perlu. Aku sudah mengetahui semuanya. Apa kau kira aku tidak tau, bahwa teman-temanmu berusaha menjodohkanmu dengan orang lain? Sungguh menyebalkan menjadi anak remaja yang mempunyai kekasih sempurna sepertimu, Taeyeon. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika orang lain memperlakukanmu lebih baik dariku, aku hanya bisa menjadi beban yang ada di setiap harimu. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana jalan pikiran orang dewasa akan bekerja. Kita begitu berbeda, Taeyeon. Apa kau tidak menyadarinya!?”

Tiffany bisa merasakan permukaan pipinya yang basah sekarang, sebenarnya ia tidak ingin mengatakan  itu semua tepat di hadapan Taeyeon. Ia bahkan berniat untuk memendam itu, namun nampaknya kondisi mabuk telah melewati batas kemampuannya untuk menahan itu.

Sementara Taeyeon juga kini ikut terisak. Dia sama sekali tidak mengetahui situasi sebenarnya Tiffany. Dia merasa seperti sosok kekasih yang buruk karena tidak bisa mendengar jeritan hati gadis itu.

“Tidak Fany, kau salah mengerti.. Maafkan aku karena bersikap berlebihan. Tetapi semua yang kau katakan, itu salah, Fany-ah..”

“Kita memang berbeda, aku sangat mengerti itu. tetapi kita selalu menemukan jalan keluar untuk itu. Kau bukan beban bagiku, sama sekali tidak. Sebaliknya, hari-hariku tak akan berjalan tanpa kehadiranmu, Fany-ah..”

Taeyeon berjalan mendekat pada gadis itu, namun justru sosok itu memundurkan langkahnya.

“Jangan seperti ini, aku minta maaf.. Tentang makan siangku bersama orang lain, kau salah faham. Fany-ah.. dia hanya client yang kebetulan mengajakku untuk berdiskusi di luar. Orang-orang juga mengatakan bahwa dia tertarik padaku, tetapi aku mengabaikan itu semua. Fany-ah. Aku hanya mencoba untuk professional..”

Aku mohon, Fany-ah.. bukan ini yang aku harapkan. Kau harus mempercayaiku..”

“Aku sudah berusaha, Taeyeon-ah. Percayalah. Kita hanya tidak bisa seperti ini lagi..”

Taeyeon buru-buru memotong perkataanya, “Tidak. Tidak. Jangan katakan itu..”

Nafasnya memburu, Taeyeon bisa merasakan sesuatu yang menjadi mimpi buruknya selama ini akan segera terjadi, air matanya semakin mengalir deras. Dan dia belum siap,

“Aku pikir kita harus mengakhiri semua ini, Taeyeon..”

Seperti ada petir yang menggelegar di atas kepalanya, Taeyeon bisa merasakan hati dan jantungnya yang terasa hilang untuk sesaat. Dia tidak bisa merasakan darah yang berdesir, dia merasakan hancur di setiap titik perasaanya.

No! please! Baby, don’t say that..”Taeyeon memaksa untuk memeluk tubuh kecil itu dengan erat, dia mengenggelamkan wajahnya pada helaian rambut Tiffany.

“Aku berjanji akan menjadi lebih baik untukmu. Aku akan berusaha lebih keras untuk mengertimu.. hanya.. Aku butuh kehadiranmu di setiap saat aku jatuh,Fany-ah.  Kau tidak bisa seperti ini..”Taeyeon melepaskan dekapannya yang tidak mendapatkan balasan, dia berusaha mencari jawaban lewat sorot mata Tiffany. namun rasanya dia tidak mampu menemukannya,

Dia tidak pernah menyangka jika hari ini akan datang. Dimana Tiffany akan mengatakan bahwa ini semua telah berakhir. Hubungan yang ia jaga hati-hati dengan segenap hatinya, akan hancur begitu saja hanya dengan kata perpisahan. Ia tidak bisa lagi memikirkan apa yang sedang menghadangnya di depan sana.. yang ia tau. Ia hanya tidak akan pernah bisa. Menjalani hari-hari tanpa Tiffany di sampingnya.

Tidak peduli bagaimana kokoh tembok perbedaan yang berdiri di antara mereka, Taeyeon sangat mencintai gadis itu lebih dari apapun di dunia ini.

 

“Maafkan aku untuk tidak mampu menjadi yang sempurna.. Maafkan aku..”

“Itu tidak benar, Taeyeon. Justru kau adalah hal paling sempurna yang pernah aku miliki, namun justru karna itu, kau tau kita tidak akan pernah bisa bersama, kan?”

“Semua kesalahan ada padaku, Taeyeon-ah.. mungkin ini aku yang terlalu sulit untuk mengerti keadaan kita sebenarnya.”

“Maafkan aku,.. terkadang kita sudah berusaha sekeras mungkin, tetapi tetap saja banyak hal yang tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan. Kau tau itu..”Tambah Tiffany dengan air mata yang tidak berhenti lolos dari kelopak matanya,

Tiffany menghapus air mata Taeyeon yang kini terus terjun dengan bebasnya, dia tidak bisa untuk melakukan ini. tetapi Tiffany tau, bahwa dia harus melakukannya sekarang juga. Sungguh menyakitkan untuk mengatakan kata perpisahan, ini bukan sesuatu yang di harapkannya. Dia bahkan berpikir, bahwa hubungan ini bisa bertahan lebih lama..

“Kau sama sekali tidak dalam posisi yang salah, Taeyeon. Kau selalu ada di sampingku, lalu kau berbisik mengatakan kau mencintaiku. Dan aku merasakan begitu damai dan aman. Karena aku tau, apapun yang terjadi semenjak hari itu, tidak ada hal yang akan berubah menjadi lebih buruk. Karena aku memilikimu.”

Tetapi, kurasa jika aku mencintaimu, aku harus membiarkanmu melanjutkan hidupmu..”


 

 

masih ada satu chapter lagi, guys!

tetep pantengin wp kita, ya! 🙂

sejauh ini, gimana menurut kalian ceritanya? 🙂 please let us know w hat you think about the story! ❤

@JAZZATTA1

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

104 thoughts on “COMPLETE CHAPTER ONE BY JAZZATTA

  1. Gilaaakk!! Ffnya keren..
    Hati aing sptri d obok” (?) feelx dapat bgt, sampai” aing jg merasakn sakit yg drasakn mommy ketika cemburu atau ketika daddy sakit hati dgn ucapan mommy.. 😢💔
    Njirrr knp sakit bgt lihat hubungan mereka merenggang & akhirnya mommy mngucpkn kata perpisahan.. #nyesekAKUT
    Andwae!! Mommy jgn mutusin daddy bgtu sj. Tdk kah mommy mlihat bgmna daddy mmperjuangkn hubungan itu dgn sngt keras (?)…
    Daddy mengabaikan semua saran soosun yg mngkin menurut mereka baik, tetapi daddy tetap memilih mu krn dia yakin bahwa mommy adalah yg terbaik untk dirinya dan untk msa dpanx kelak…
    Mommy jgn bepkir kalian itu berbeda.. Wlpon pemikiran kalian brtolak blkang tp hati tdk bisa berbohong (?)..
    Jika mommy mencintai daddy, tetaplah brsma” & jg berjuang brsmanya..
    .
    Njerr rumit beud, tp semoga aj d chp slnjtnya bkal ada titik terang untk hbungn mommy dan daddy aing.. Amin 😅
    .
    Authornim HWAITAENG!!!

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s