COMPLETE – FIVE (FINAL) BY JAZZATTA

pssst! maaf ya kalo banyak typo.. maklumin hehee😊🐷

 


 

Tiffany membuka kedua matanya dengan perlahan. Dia bisa merasakan kedinginan yang sangat kosong di sekelilingnya. Mungkin kelopak matanya terasa sangat berat karena telah menangis untuk waktu yang lama. Namun tiba-tiba gambaran semalam melintasi benaknya begitu saja, gadis itu yang masih terpejam segera membuka kedua matanya.

Menemukan dirinya sendiri di atas tempat tidur ini, tidak menemukan tanda-tanda adanya orang itu. rasa takut menyergapnya begitu saja, Tiffany mulai gila akan rasa kehampaan ini lagi. mungkin dirinya sudah tidak waras, tetapi ia tidak segila itu untuk merasakan kehangatan yang benar-benar nyata semalam. Dia dengan jelas bisa merasakan figure itu yang terus mendekapnya sembari mengatakan hal-hal yang manis. Yang dia tau, ia telah mendengarnya semalam dengan baik. Dia bahkan bisa terlelap setelah figure itu menyenandungkan suaranya yang merdu.

“Tae?”

Tak ada jawaban yang ia dapat, hanya kesunyian yang ada. Dia benar-benar takut jika  sosok itu kini telah pergi lagi dari sisinya. Tiffany baru mendapatkannya kembali di hidupnya untuk waktu yang singkat. Dia baru berada di dekapannya sekali lagi, dia tidak bisa jika harus kehilangannya lagi saat ini.

Bayangan-bayangan buruk disaat sosok itu tidak bersamanya, mampu membuat kedua matanya berkaca-kaca, dia terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan,

“Taeyeon?”

Lagi-lagi dia tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Tiffany segera bangkit dari posisinya dan memutuskan untuk keluar dari kamar ini.

Apa dia merubah keputusannya?

Kau kemana, Taeyeon-ah?

Tapi kau baru saja kembali..

 


“Taeyeon-ah!”Suaranya justru menggema di ruangan ini, Tiffany sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan figure itu, dan ini membuatnya semakin takut akan kenyataan yang mungkin ada di depannya.

Dia tidak bisa berpikir dengan jernih, bayangan rasa sakit yang terus mengintai ketika orang itu tidak ada bersamanya kini semakin terasa.

“Taeyeon…”Tiffany sudah terduduk sembari memeluk kedua lututnya. Air matanya berlinang mengetahui sosok itu telah pergi lagi, dia baru saja mendapatkan Taeyeon kembali. Dan dia tidak sama sekali bersiap akan hal ini.

“Tiffany!?”Seorang figure wanita itu berlari cepat kearah Tiffany, gadis itu mendongak, sebelum dia bisa mengatakan apapun. Wanita itu kini telah mendekapnya. Tiffany mengeratkan pelukannya pada wanita ini. seakan dia tidak akan membiarkannya pergi lagi,

Taeyeon yang merasakan itu, semakin memperdalam dekapannya. Dia merasa menyesal karna telah membuat gadis di bawahnya khawatir. Bahkan hingga menitihkan air mata. Taeyeon merengkuh tubuh ini yang sangat rapuh dengan erat. Menjatuhkan berkali-kali kecupan lembut di kening juga kelopak matanya yang basah.

“Im sorry.. im sorry.. I was just out for a second..”

“Aku tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir..”

“Im here now.. im back for good.”

“Im here baby.. sshh. Im here…”

Taeyeon bisa merasakan air matanya yang juga kini mengalir. Melihat sosok ini yang telah di tinggalakannya begitu lama, kini begitu runtuh di hadapannya. Dia begitu merasa bodoh mengetahui alasan di balik semua itu adalah dirinya. Dia tidak lagi melihat Tiffany yang penuh semangat dan ceria. Yang ada hanya seorang gadis dengan tangisannya akibat luka yang ia sebabkan, ataupun beban yang harus di tanggungnya sendiri.

Taeyeon merasa buruk karena tidak pernah tau akan perjuangan gadis ini berusaha melawan semuanya sendiri. dia merasa sangat bodoh membiarkan Tiffany lepas dari genggamannya dan menghadapi lukanya sendiri. tidak berada di sampingnya untuk bersama-sama melawan itu semua, Taeyeon merasa sangat bersalah.

Tiffany masih menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher wanita yang lebih tua. Dia masih mengeluarkan air matanya dengan deras,  tangannya tak pernah meninggalkan tempatnya untuk menarik Taeyeon lebih dekat.

“Please don’t leave me..”

“I thought I had lost you…”

“Kau tidak bisa meninggalkanku lagi, tanpa mengatakan apapun. Taeyeon-ah..”

Taeyeon menggeleng pelan mendengar itu, “Apa yang kau katakan?”

“Aku tidak akan kemana-mana, Fany..”


“Semuanya baik-baik saja disini, Joong Ki-sshi.”

“Aku akan kembali besok.”

“Ya. di percepat karena kondisi Ibu Tiffany yang memburuk.”

Taeyeon tak melepaskan pandangannya pada gadis itu yang kini memejamkan matanya di dalam dekapannya. Mereka berdua memang sedang berada di kamar Taeyeon yang menghadap langsung kea rah laut. Kondisi Tiffany yang kini sedang jatuh, membuat Taeyeon sedikit kesusahan untuk menata kembali suasana hatinya.

Jadi, sedari tadi dia hanya bisa mengusap pelan rambut gadis itu, mengecupnya, sembari mengatakan hal-hal yang mungkin saja bisa membuat kesedihannya perlahan pergi.

Tiffany tidak benar-benar tidur. Dia maih bisa merasakan telapak tangan Taeyeon yang sesekali mengusap rambutnya dengan gerakan perlahan, dia bisa merasakan tangan itu yang sesekali memperbaiki posisi poni di keningnya, dia mampu merasakan bagaimana lembut bibir Taeyeon saat mendarat di permukaan wajahnya.

“Aku tau. Maaf untuk tidak mengabarkanmu..”

“Kau tidak perlu khawatir.. aku baik-baik saja..”

Tiffany semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Taeyeon. Dia berharap indra pendengarannya untuk berfungsi tidak baik hanya untuk saat ini. dia sungguh tidak bisa mendengarkan itu semua, bagaimana sepasang kekasih itu berbicara di jaringan yang berbeda . dia bisa mendengar bagaimana nada khawatir dan peduli pada suara yang ada di seberang sana. Yang berasal dari seorang pria yang kini berstatus sebagai kekasih wanita yang sangat-sangat di cintainya,

Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada bahu Taeyeon, menariknya untuk lebih dekat.

Taeyeon yang menyadari itu, tidak bisa merasakan apa-apa selain perasaan bersalah. Ia hanya belum bisa mencerna banyak kejadian yang akhir-akhir ini menghampirinya. Suatu keputusan besar yang telah ia ambil, memang mempunyai banyak konsekuensi dan dia siap menganggung itu semua. Namun tidak sekarang, karna dia masih harus mengurus banyak hal sebelum menyelesaikan semuanya.

Sebelum memilih sesuatu yang sungguh akan berperan besar dalam hidupnya,. Yang kini menjadi bayang-bayang mimpinya.

“Aku harus pergi, Joong Ki-sshi.”

“Baiklah, sampai jumpa.”

“Tentu, aku akan menghubungimu lagi nanti..”

“Saranghae, Taeyeon-ah..”

Tiffany tidak sadar telah mencengkram bagian luar punggung baju Taeyeon. Dia dengan samar bisa mendengar bagaimana tulus intonasi pria itu di seberang sana. Bagaimana dia bersunguh-sungguh mengatakan kata-kata yang menunjukan rasa cintanya untuk wanita itu.

Gadis itu namun tidak mendengar jawaban yang di berikan oleh wanita di atasnya, justru dia malah merasakan figure ini meletakan kembali telfon genggamnya, lalu mendekapnya lebih dalam lagi.

“Im sorry, you have to hear our conversation..”Katanya sembari mencium pucuk kepala gadis itu,

“Im Okay, Taeyeon..”

“Dia adalah pria yang baik,..”

“Lalu?”

“Kau harus memperlakukannya dengan baik juga Taeyeon-ah,”

“Aku selalu melakukan itu, Fany..”

“Aku tau.. hanya saja kau harus lebih perhatian padanya. Aku tidak bisa mejadi figuran yang merebutmu darinya begitu saja,”

“Lihat aku,”Perintah Taeyeon dengan intonasi yang lembut, gadis itu lalu mendongak untuk menemukan sorot yang begitu tulus dan penuh kasih itu.

“Kau tidak merebutku dari siapapun.”

“Kau tau.. aku tidak pernah bisa merasakan apapun di dalam hatiku, yang mampu membuatku bahagia, saat aku bersama dia, Fany..”

“Tapi itu semua berbeda jika denganmu..”

“Aku bisa merasakan diriku yang selalu ingin berada di sampingmu, Fany. Aku tidak bodoh untuk mengetahui siapa sebenarnya orang yang mampu menjadi sumber kebahagiaanku.”

“Dan setiap kali aku bertanya itu pada diriku sendiri,”

“Jawabannya akan selalu sama,”Sorot matanya berubah menjadi hangat dan damai, Taeyeon bisa melihat bagaimana kedua mata itu kini mulai berkaca-kaca. Dia menemukan bibir Tiffany yang tersenyum mendengar itu semua. Taeyeon tidak bisa menghitung lagi, sudah ke berapa kalinya dia jatuh cinta akan senyuman itu. akan paras itu yang sangat teduh, juga tatapan yang hangat dan nyaman itu.

 “Its always been you.. Fany-ah..”


Taeyeon dan Tiffany berjalan sejajar sembari mengenggenggam tangan satu sama lain. Tangan yang lainnya menarik koper masing-masing, senyuman tipis tergores di bibir mereka. Keduanya tidak menyangka, perjalanan bisnis yang singkat ini mampu menyatukan mereka kembali. Walaupun, belum secara resmi. Tetapi masing-masing dari mereka tau, bahwa apa yang akan terjadi ke depannya, mereka akan menghadapinya bersama.

Untuk saat ini, Taeyeon dan Tiffany lebih memilih untuk menjalankan alur cerita yang sudah tersedia, dan membiarkannya mengalir seperti sungai.

Bukan karena mereka belum mau untuk memulai hubungan kembali lagi, dari awal. Hanya saja, Taeyeon dan dan Tiffany tau, masih banyak sekali hal yang harus di urus sebelum keduanya memutuskan untuk kembali bersama. Semuanya tidak semudah menjentikkan jari. Tiffany masih mempunyai pekerjaan juga statusnya sebagai mahasiswa yang lumayan sibuk. Terlebih lagi dengan Taeyeon, dia masih terikat dengan seorang pria yang kini menyandang sebagai kekasihnya. Dia tidak bisa meninggalkan Joong Ki begitu saja untuk Tiffany.

Bagaimanapun, dunia ini masih memiliki sejuta tantangan untuk keduanya.

Dan dengan keinginan yang kuat, juga perasaan ingin memiliki satu sama lain kembali. Taeyeon dan Tiffany berniat untuk melewati rintangan itu bersama. Walaupun seisi semesta menentang mereka.

“Taeyeon-ah!”

Keduanya sempat menghentikan langkah mereka ketika suara berat itu memanggil. Mengetahui kekasih Taeyeon yang ada disana, dengan senyum mengembangnya. Tiffany hanya bisa tersenyum sedih ketika wanita itu menatapnya. Dia mengangguk pelan, memberikan jawaban atas pertanyaan itu yang tertulis di balik pengawasannya. Tiffany hanya ingin Taeyeon tau, bahwa dirinya tidak keberatan akan ini. dan wanita itu bisa menghampiri kekasihnya dengan bebas, tanpa perlu khawatir akan perasaanya.

Namun, gerakan selanjutnya justru membuat Tiffany sedikit terkejut, karena Taeyeon kini sudah menggamit paksa tangannya untuk ikut menghampiri pria itu.

Tae?”

Namun wanita itu tidak menjawabn dan  justru terus menarik tangannya,

Tiffany bisa melihat tatapan heran yang di lemparkan pria itu, dengan jarak yang semakin menipis. Dia bisa tau jika pria itu kini sedang bertanya-tanya di dalam hatinya. Sementara gadis ini tidak mengetahui apa tujuan Taeyeon kali ini,

“Joong Ki-sshi.”Sapa Taeyeon masih belum mau melepaskan genggamannya,

Pria itu lalu tersenyum, dan tanpa memberikan Taeyeon untuk melanjutkan perkataanya, dia menarik wanita itu ke dalam dekapannya. Tiffany yang melihat ini otomatis melepaskan genggaman wanita itu yang sudah melonggar.

Dia bisa merasakan luka yang meluas di dalam sana, dan dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apapun untuk itu.

“Aku merindukanmu,”Tukas pria itu pelan sembari mengeratkan dekapannya,

Sementara Taeyeon hanya bisa terdiam mendengar itu, sampai akhirnya mereka melepaskan pelukannya. Taeyeon kembali menatap Tiffany, kali ini dia memasang wajah yang menandakan bahwa dia minta maaf atas itu.

Sementara gadis itu, walaupun dengan rasa sakit yang kini menghampirinya, hanya bisa menggeleng pelan sembari tersenyum.

Aku bukan siapa-siapa, Taeyeon-ah..

Kau tidak perlu seperti ini..

“Ayo kita kembali, sekarang.”

Bukannya menjawab ajakan sang kekasih, justru kini Taeyeon sudah kembali menghadap gadis itu yang sempat terdiam,

“Apa Jessica sudah sampai?”

“Aku rasa belum, tapi kau bisa pulang duluan, Taeyeon.”

Mendengar percakapan itu, dan tidak mendapatkan balasan, Joong Ki hanya bisa mematung sembari terus memasang wajah kebingungan. Dia merasakan atmosfir yang berbeda anatara kedua wanita itu. berbeda sebelum mereka berangkan ke Jeju kemarin. Dia bisa merasakan keduanya yang kini terlihat lebih dekat,

“Kalau begitu, aku akan menemanimu sampai Jessica datang.”

“Jangan, Taeyeon. Joong Ki-sshi sudah menjemputmu, kalian harus pulang dan istirahat.”

Taeyeon lalu berpaling untuk menatap kekasihnya, “Kau tidak keberatan, kan? Joong Ki-sshi?”

Pria itu tersenyum, “Tentu saja tidak.”

Aku rasa apa yang di katakan Sooyoung dan Sunny itu benar.. yakan, Taeyeon-ah?

Kalian pernah bersama?

Waktu untuk menunggu Jessica di habiskan mereka bertiga dengan suasana hening yang ada. Joong Ki yang duduk tepat di sebelah kekasihnya, hanya bisa mendengar juga melihat bagaimana kedua wanita itu berbagi cerita. Sesekali Taeyeon akan menggenggam jemari Tiffany, dan memainkannya di pangkuan pahanya. Sebenarnya, Tiffany tidak ingin menunjukan itu terlalu jelas di hadapan kekasih Taeyeon. Dia sempat beberapa kali menarik lagi tangannya, sebelum akhirnya Taeyeon kembali melakukan hal yang sama.

Joong Ki hanya bisa tersenyum dalam diamnya. Dia akan berpaling melihat kearah lain, ketika Taeyeon sudah menatap Tiffany dengan sangat lamat dan tulus,

Pria itu tidak buta untuk menyadari situasi yang ada sekarang. Dia berusaha mengoleksi semua pecahan-pecahan kecil puzzle ini. dia berusaha mencari bagian yang hilang,

Kau masih sangat peduli pada gadis itu, kan?

Kenapa aku merasa sangat terancam sekarang?

Taeyeon-ah..

Benarkah itu semua?

Kenapa dulu kalian berpisah?

Joong Ki hanya bisa terus menutup mulutnya. Walaupun dia merasakan posisinya seperti tergeser oleh gadis itu. dia bisa merasakan sedikit luka yang mulai muncul ke permukaan. Dia memang belum sepenuhnya percaya akan fakta yang baru saja di ketahuinya kemarin. Tetapi, jika di lihat langsung olehnya, dia percaya. Bahwa semua yang di katakana dua orang itu memang benar.

Mereka pernah menjadi sepasang kekasih.

“Maksudku! Mereka berdua! Sunny! Taeyeon dan Tiffany! apa yang akan terjadi disana!? Aargh! Aku tidak bisa membayangkannya!”Sooyoung meletakan bokongnya dengan kasar di hadapan Sunny,

“Kau tau, aku rasa projek itu ada karena sebuah takdir.”

“Takdir gundulmu. Tidak ada hal semacam itu,”

“Maksudku, coba cerna baik-baik. Untuk apa mereka di pertemukan lagi setelah sekian lama, lalu bekerja di kantor yang sama. Dan kali ini mereka terjebak di pekerjaan yang mengharuskan  mereka untuk pergi jauh, hanya mereka berdua. Tidakkah kau pikir mereka di beri kesempatan untuk menyelesaikan hal yang belum tuntas?”

Sooyoung menatap sahabatnya dengan jengah, walaupun dalam lubuk hatinya dia merasa setuju dengan pernyataan itu. tetapi tetap saja, mengetahui Taeyeon akan bersama-sama Tiffany untuk waktu yang lumayan lama bukanlah ide yang bagus. Mengetahui keduanya pasti akan sama-sama merasakan sakit,

Dari awal, bukannya Sooyong membenci figure Tiffany karena telah menyakiti sahabatnya. Mungkin itu hanya factor kecil kenapa dia tidak menyukai hubungan keduanya dulu. Tetapi, sebenarnya dia juga melihat dari sisi Tiffany. dia bisa melihat masa depan yang begitu gemilang di hadapan gadis itu, dan dia tidak tau. apa sahabatnya, Taeyeon bisa memberikan itu semua. Ia hanya tidak mau keduanya mengalami rasa sakit yang akan mereka rasakan di akhir.

Jadi, semua yang ia lakukan untuk menjodohkan Taeyeon dengan teman kerjanya. Semata-mata agar keduanya bisa menjalani hidup yang mereka pantas untuk dapatkan. Kebahagiaan yang menanti di depan sana. Namun satu yang ia tidak tau, bahwa kehadiran Taeyeon dan Tiffany di hidup mereka masing-masing, adalah suatu keajaiban yang bisa membuat keduanya bahagia.

“Yah, tetap saja. Bagaimanapun, itu semua sudah masa lalu. Mereka pernah menjadi sepasang kekasih, bukan berarti mereka akan kembali bersama.”

Pria yang berniat memberikan hadiah yang di bawanya untuk kedua sahabat kekasihnya, hanya bisa terdiam di balik tembok dingin itu. Joong Ki yakin, tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Namun dia dengan jelas, mendengar suatu fakta yang baginya begitu mengejutkan. Tak pernah terlintas di benaknya jika sang kekasih, ternyata pernah menjalin hubungan dengan bawahannya itu.

Sebagian dari perasaanya tidak terima jika kini kekasihnya sedang bersama mantan kekasih untuk waktu yang sedikit lama. Jika saja dia tau lebih awal, mungkin pria itu akan mempertimbangkan izinnya untuk Taeyeon. Namun, jika di pikirkan lagi, dia tidak mau menjadi sosok kekasih yang menjadi pembatas akan karirnya. Dia tidak mau menjadi penghalang keberhasilan pekerjaanya, hanya karena cemburu yang melanda.

Seberapa keras Joong Ki berusaha melawan rasa itu, namun dia semakin bisa merasakan khawatir dan cemburu yang lumayan buruk. Pria itu memang tidak pernah menganggap remeh siapapun orang yang ada di hadapannya. Walaupun Tiffany adalah seorang wanita, masih pelajar, atau yang katanya mempunyai sifat kekanakan. Tetap saja,ia yakin, bahwa Taeyeon, kekasihnya. Memilih Tiffany karena suatu alasan yang jelas.

Joong Ki tau, Taeyeon bukan orang seperti itu yang akan memilih gadis acak. Joong ki tau, pasti ada sesuatu berbeda dan spesial di diri gadis itu. yang mungkin saja tidak akan pernah ada di dirinya,


Sejak hari kedatangannya kembali, Tiffany sudah bersama ibundanya yang kini di rawat intensif di rumah sakit di kota Seoul. Dia bahkan akann bermalam disini, jika orang-orang terdekatnya sedang tidak bisa menjaga ibundanya. Tiffany akan rela kehilangan beberapa nilai tugas mata kuliahnya, hanya demi menemani ibunya. Dia akan meminta izin untuk tidak masuk bekerja pada Taeyeon. Dan wanita itu akan dengan tulus mengizinkannya.

Taeyeon memang juga sudah berencana untuk mengunjungi ibunya, tetapi dia terus mengatakan bahwa pekerjaan yang ada masih belum mampu memberinya ruang waktu. Jadi, saat pagi tadi wanita itu mengirimnya pesan bahwa dia akan datang hari ini, Tiffany bisa merasakan senyumannya yang mengembang liar.

Memang, sejak kepulangan mereka, keduanya belum sempat bertemu lagi. rasanya seperti mimpi bagi Tiffany karena merasakan kehangatan tubuh Taeyeon sekali lagi. dia benar-benar tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak, jika orang itu terus ada di dekatnya. Mendapatkan Taeyeon kembali di dalam hidupnya, adalah salah satu anugrah yang ia syukuru hingga sekarang. Walaupun dengan kondisi ibunya yang seperti sekarang ini, Tiffany hanya bisa berharap yang terbaik untuk kedua orang itu yang sangat di cintainya.

“Jadi kalian sudah kembali bersama?”

Tiffany yang sedang mengupas kulit buah apel untuk ibunya berhenti sejenak, lalu melemparkan pandangan pada wanita paruh baya itu yang kini terbaring lemah. Ada senyuman tersirat di balik selang pernafasan itu,

“Tidak..”

“Tidak secara resmi.”Tiffany kembali melanjutkan aktifitasnya,

“Kenapa? Apa ada sesuatu?”

“Dia sudah memiliki kekasih, Mom..”

“Lalu?”

Tiffany kembali menatap ibundanya, “Lalu? Sudah jelas, itu tidak akan terjadi, Mom.”

Ibunya kembali tersenyum mendengar jawaban anaknya, “Dia menjadi kekasih orang lain, bukan berarti kalian tidak bisa bersama, Tiffany.”

“Terkadang kita tidak harus saling memiliki, untuk mencintai orang lain. Tiff.”

“Juga, semua bagian yang hilang, pasti akan jatuh ke satu tempat dimana mereka seharusnya berada. Semua terjadi karena suatu alasan,”Tambah wanita itu tidak menarik pandangannya pada putri semata wayangnya itu.

Dia mengerti betul, bagaimana kondisi putrinya sekarang. Dia tidak mau menekan Tiffany untuk segera kembali bersama Taeyeon karena keinginannya. Dia hanya ingin Tiffany tau, bahwa orang itu lah yang ia yakin, dan ia percaya untuk menjaganya selama mungkin. Bahkan jika dia sudah tidak ada di dunia ini.

Dan nyonya Hwang, tau. Waktunya untuk  bersama sang putrid, tidak akan lama lagi. dia hanya ingin memastikan gadis itu berada dalam genggaman yang ia percaya, dan orang itu adalah, Taeyeon.

“Pada akhirnya, Mom yakin kalian akan kembali bersama dan memulai semua dari awal.”

“Taeyeon adalah orang yang baik. Kau tau? Kenapa Mom sangat menyukainya?”

Kali ini Tiffany memberikan penuh perhatiannya pada omongan ibunya barusan, dia mengangkat satu alisnya, “Kenapa?”

“Dulu, waktu kau pertama kali membawanya untuk mengunjungi Mom. Mom sangat ragu untuk membiarkannya dia bersamamu. Dia perempuan, sama seperti putriku. Mom berpikir dia tidak akan pernah bisa menjagamu. Kalian berdua harus berada di tangan yang tepat, dalam lindungan seorang laki-laki.”

“Tetapi, setelah itu mom sadar. Bahwa itu semua salah. Tidak hanya dari bagaimana dia memperlakukanmu, juga Mom. Taeyeon adalah seorang figure yang sangat mengesankan. Dia sopan, rendah hati, dan mempunyai kepribadian yang menyenangkan. Jangan lupa dengan senyumnya yang cantik itu..”

Tiffany menyunggingkan senyumnya mendengar itu, “Juga.. dia sangat cantik, kan? Kau benar-benar beruntungm Tiff.”

Lagi-lagi Tiffany harus terkekeh ketika ibunya memuji mantan kekasihnya itu,

“Bukan hanya itu.. kau tau apa yang paling membuat Mom ikut jatuh hati padanya?”

“Taeyeon berhasil meyakinkan Mom ketika kami berbicara empat mata dulu. Mom sempat melihat tatapannya yang rapuh dan tidak yakin, ketika Mom mengatakan bahwa kalian mungkin saja tidak akan bertahan lama.”

“Tetapi kemudian dia mengatakan, bahwa ia akan menjagamu sampai kapapun. Dia berkata, dia juga tidak bisa melihat bagaimana masa yang akan datang nantinya. Bagaimana masalah yang akan menghampiri kalian kedepannya. Tapi yang ia tau, ia hanya akan terus berada di sampingmu apapun yang terjadi. Taeyeon mengakui bahwa dia juga sama sepertimu, dia perempuan. Dia takut akan apa yang masa depan akan bawa untuk kalian berdua. Tetapi dia berhasil untuk meyakinkan Mom, bahwa itu semua tidak akan menjadi buruk. Karena dia memilikimu, Tiffany.”

“Dia berjanji padaku, untuk selalu menjagamu. bagaimanapun caranya. Dia bahkan mengatakan, bahwa dia akan rela melepaskan apapun yang mungkin menjadi halangan untuk hubungan kalian berdua.. dia berusaha untuk bisa menjadi orang yang bisa kau andalkan, Tiff.”

“Seperti yang mom katakan dulu. Dia adalah orang yang tidak akan pernah meninggalkan sisimu, seberat apapun tantangan yang mungkin ada. Seperti matahari yang terbit dan terbenam bersamamu.”

Tiffany sudah menitihkan sedikit demi sedikit air matanya mendengar perkataan sang ibunda. Dia tidak pernah tau tentang ini. Taeyeon maupun ibunya memang tidak pernah bercerita tentang percakapan mereka.

Mendengar itu semua, Tiffany bisa merasakan dirinya yang jatuh semakin dalam dan dalam akan sosok itu.


12.30

Taeyeon-ah, apa kita bisa makan siang di luar? Ini sudah lumayan lama sejak kita makan siang bersama.

12.32

Mian, Joong Ki-sshi, aku harus ke rumah sakit. Menjenguk Nyonya Hwang, ibu Tiffany.

12.34

Benarkah? mau aku antar?

12.35

Tidak perlu, aku membawa mobilku. Kau bisa mengajak yang lain, kita akan makan siang bersama lain kali. Okay?

Pria itu hanya bisa menatap layar datar telfon genggamnya lamat-lamat. Dia bisa merasakan figure itu yang kini semakin jauh darinya. Dia hanya tidak bisa memikirkan hal yang lebih buruk daripada dia akan kehilangan sosok itu dengan segera.

Joong Ki bukan  tipe orang yang pesimis akan hal apapun. Tetapi, ketika itu sudah mengenai tentang Taeyeon, dia butuh waktu lama untuk berusaha meyakinkan dirinya bahwa mereka akan baik-baik saja. Bahwa Taeyeon tidak akan pergi dari sisinya, bahwa mereka akan bersama selama mungkin, seperti yang dia harapkan.

Namun nampaknya, semua harapan itu semakin samar untuk di lihat. Joong Ki bahkan mulai berpikir untuk berusaha mendapatkan perhatian kekasihnya lagi. bagaimanapun caranya. Dia tidak bisa membayangkan dirinya sendiri, tanpa kehadiran sosok itu. bukan perkara yang mudah memang, tetapi dia akan berusaha, selama Taeyeon masih mengizinkannya.

Dia tidak pernah menganggap Tiffany adalah rivalnya. Bagaimanapun, gadis itu berperan sangat penting dalam hidup kekasihnya, dan dia bisa menerima itu. mungkin, dia tidak pernah menganggap ini persaingan, karena dia tidak mau membuat dirinya seolah-olah sedang memperebutkan Taeyeon.

Karna ia yakin akan keyakinanya untuk kembali menggapai sosok Taeyeon. , jika memang dia harus kehilangan wanita itu, Joong Ki akan menerima keputusannya dan membiarkan orang yang di cintainya bahagia dengan orang lain.

Rasa sakit karena melepaskan seseorang lebih mudah baginya, daripada harus mempertahankan sesuatu yang bukan di ciptakan untuknya.


 

“Nah jadi, apa yang kalian tunggu?”

Tiffany melirik jengah sahabatnya yang sedari tadi tidak mau berhenti berbicara. sepanjang perjalanan mereka kembali ke ruang rawat ibunya. Tiffany agak lelah mendengar ocehan Jessica mengenai hubungannya dengan Taeyeon,

“Apa kau bercanda? Dia masih mempunyai Joong Ki, Sica.”

“Lalu?”

“Lalu? Jelas saja, tidak akan bisa. Lagi pula, bersama Joong Ki, Taeyeon akan mempunyai masa depan yang lebih jelas. Mereka cocok bersama.”

Jessica tertawa mengejek mendengar itu,

“Kau sudah gila? Taeyeon itu hanya tergila-gila padamu. Bukan pria itu.”

“Dan bisakah kau mementingan dirimu juga? Aku lelah mendengarmu terus mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.”

“Masa depan mungkin akan terlihat jauh lebih mudah, dari yang kau kira, Fany. Itu berlaku bagimu dan Taeyeon juga, jika kalian bersama.”

Jessica kembali menggeleng pelan akan perkataan sahabatnya itu,

“Lalu kalian akan tetap seperti ini?”

“Sampai kapan?”

Tiffany menundukan kepalanya, “Aku tidak tau, Sica-ah..”

“Kau mungkin tidak akan bertemu orang sepertinya lagi, Tiffany. Pikirkan ini baik-baik, apa kau pernah menemukan seseorang yang melihatmu seperti Taeyeon? Apa kau bahkan mengetahui orang lain yang memperlakukanmu begitu spesial, seperti kau permata yang kapan saja, bisa hancur? Apa kau bahkan melihat bagaimana usaha Taeyeon untuk terus mementingkan kebahagiaanmu?”

aku menyadari itu semua, Sica..

“Dia itu mungkin adalah satu-satunya di dunia ini, Fany.”

“Dia sudah kembali padamu, dan semua keputusan sekarang ada di tanganmu. Entah kau mau membuatnya menjadi milikmu lagi, atau kau akan membuangnya. Untuk kedua kali.”


 

Tiffany dan Jessica berhenti tepat di hadapan pintu yang tertutup. Namun keduanya tetap bisa menangkap pemandangan yang begitu hangat. Keduanya tanpa sadar tersenyum, melihat apa yang ada di dalam sana.

Taeyeon kini tengah bersenda gurau bersama Nyonya Hwang. sesekali keduanya akan saling terkekeh akan pembicaraan mereka. Dua wanita itu begitu larut akan topik mereka. Taeyeon dan Nyonya Hwang terlihat begitu nyaman untuk saling berbicara. Tiffany bisa merasakan ruang di hatinya menjadi begitu teduh,

Tidak ada pemandangan yang lebih indah daripada melihat kedua orang yang sangat di cintainya kini berbagi canda tawa.

“Yah. Lihatlah. Apa ada.. teman yang memperlakukan ibu dari temannya begitu hangat seperti itu? Mereka hampir terlihat seperti mertua dan menantu!”

Tiffany tidak bisa menahan semburat merah di wajahnya karena perkataan Jesscia barusan.

Gadis itu mengetuk pintunya pelan,

Lalu beringsut masuk di ekor olegh Jessica. Tiffany bisa melihat senyum Taeyeon yang mengembang saat melihatnya,

“Hey..”Sapa Taeyeon pelan pada gadis itu, yang kini berjalan mendekat.

“Maaf aku masuk begitu saja, aku tidak menemukanmu disini tadi,”

Tiffany mengernyit, “Apa yang kau katakan, Taeyeon-ah? kau bicara seolah-olah kau adalah orang asing.”

Taeyeon terkekeh pelan, “Kau tidak merindukanku?”

Gadis itu lalu menggeleng pelan sembari tertawa mendengar perkataanya, sebelum akhirnya Tiffany masuk dalam dekapan itu yang sudah lumayan lama ia tak dapatkan. Taeyeon yang sibuk dengan pekerjaanya, dia yangsibuk mengurusi kuliah dan ibunya memang tidak pernah sempat untuk bertemu setelah kepulangan mereka dari Jeju.

“Ehem. Aku masih disini, untuk kalian tau.”Sambar gadis brunette itu sembari meletakan bokongnya di sofa, di susul tawa hangat oleh Nyonya Hwang. Membuat Taeyeon dan Tiffany bisa merasakan pipi mereka yang hangat,

Lalu mereka berempat saling bersenda gurau satu sama lain. Tiffany sangat menyukai bagaimana Taeyeon akan membuat suasana menjadi lebih hangat. Apa lagi dengan dirinya yang kini sedang berbagi cerita dengan ibu dan sahabatnya.

Tiffany akan menemukan dirinya tersenyum tanpa alasan yang jelas ketika dia melihat wajah itu,

Aku rasa, aku benar-benar jatuh terlalu dalam untukmu, Taeyeon-ah..

Sangat di sayangkan kau bukan milikku, lagi..

“Ah, maafkan aku karena baru bisa mengunjungimu sekarang, Nyonya Hwang..”Maaf Taeyeon pada wanita paruh baya itu,

“Umma.”Balas Nyonya Hwang cepat,

“Ne?”

“Kau  dulu memanggilku Umma, apa itu sudah tidak berlaku karna kalian tidak bersama?”

Ada keheningan yang mengitari mereka untuk sejenak, namun Tiffany buru-buru memajukan langkahnya dan berkata, “Ey, Apa yang kau katakan Mom? Ada ada saja,”Di selingi tawa kecil di akhirannya,

Taeyeon yang mengerti tidak mau kalah, “Ne. Apa yang kau katakan, Umma?

“Kau tetap Umma ku yang sangat beharga, tidak peduli apapun yang terjadi. Sekarang, atau nanti.”Taeyeon menggenggam punggung tangan wanita paruh baya itu,

Tiffany hanya bisa mengukir senyum bahagianya melihat itu. Lagi-lagi dia di buat terpana akan sosok Taeyeon yang kini, sulit sekali untuk di gapai. Karena suatu alasan yang sangat jelas.

Dia milik orang lain.


 

Tiffany menutup kotak makan ini dengan senyum yang mengembang liar di wajahnya. Dia baru saja selesai menyiapkan makan malam unuk Taeyeon yang sore tadi mengatakan bahwa dia akan lembur di kantornya. Karena ingin beterima kasih atas apa yang sudah Taeyeon lakukan untuknya, Tiffany memutuskan untuk membawakannya baju ganti yang lebih nyaman juga makan malam yang terlewat,

Perjalanan tidak memakan waktu lama karna kondisi jalanan yang renggang. Bahkan Tiffany tidak sama sekali mengantuk di dalam taksi ini, mungkin karna dirinya begitu bersemangat untuk melihat figur Taeyeon.

Dia melangkahkan kakinya dengan pasti memasuki gedung kantornya.

Suasana yang begitu sepi karna ini sudahh hampir larut malam. Tiffany tidak menemukan banyak orang selain lorong kantor yang kosong dan gelap. Sudah lumayan lama sejak dia menginjakkan kaki disini, ia sekali lagi berterima kasih pada Taeyeon karna telah memberinya izin untuk mengambil cuti. Kalau tidak, mungkin dia akan sangat kewalahan menghadapi berbagai  masalah yang ada. Apalagi tentang pekerjaanya,

Karena jendela ruangan Taeyeon yang tidak sedang di tutupi horden, Tiffanyb bisa menangkap sosok itu yang kini sedang sibuk dengan banyar kertas di mejanya. Ia bisa melihat wajah lelah dan setres disana.

Tiffany bagaimanapun, harus tersenyum ketika melihat Taeyeon mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Apalagi ketika sosok itu menguap, menandakan bahwa dia kini sedang mengantuk,

Gadis itu mengetuk pintunya sebelum akhirnya Taeyeon mendongak, lalu tersenyum hangat untuknya. Tiffany mempersilahkan dirinya sendiri untuk beringsut masuk,

Taeyeon lalu berdiri dari duduknya berjalan mendekat dan langsung memeluk  gadis itu dengan perlahan. Meletakan kepalanya di bahu gadis yang lebih muda. Memejamkan kedua matanya, merasakan rasa nyaman yang luar biasa di tengah-tengah lelahnya.

Tiffany hanya tersenyum dan mengusap lembut punggung Taeyeon dengan satu tangannya, dia merasa sedikit kasihan akan kondisi wanita ini sekarang. Dia pasti benar-benar lelah sampai tidak bisa untuk mengatakan apapun saat melihatnya. Taeyeon membuang napasnya pelan,

“Aku lelah..”

Tiffany terkekeh pelan, “Kau sudah kerja keras hari ini..”katanya seraya menepuk pelan punggung itu,

“Mmhm.”

“Taeyeon..”Kata Tiffany berusaha melepaskan dekapan wanita ini dengan gerakan lembut, dia mulai merasa pegal dengan Taeyeon yang kini bersandar padanya,

“Taeyeon-ah, ayolah.. Aku membawakanmu makan malam.”

Wanita itu lalu menatapnya dengan girang, “Benarkah?”

Tiffany lalu mengangguk cepat, dia meletakan beberapa kotak makannya di meja kerja Taeyeon. Seraya menyiapkannya, diam-diam Taeyeon tersenyum sembari terus memperhatikan gadis itu. Ini gila untuk berpikir bagaimana dia begitu mencintai Tiffany. Mereka baru saja bertemu kemarin, tetapi dia bisa merasakan kerinduan yang berlipat ganda saat mereka tidak sedang bersama,

Kadang dia akan termenung memikirkan hal apa yang mungkin terjadi ke depannya. Selain tentang hubungan mereka, ia masih mempertanyakan apa gadis itu mencintainya juga, sebesar yang Taeyeon rasakan. Karena ia merasa seperti bernafas pada suatu ruang yang sangat penting, jika gadis itu ada di dekatnya.

Dan dia tidak akan pernah bisa hidup, tanpa ruang itu.

“Kau kemari, sendiri?”

“Mmhm. Aku tidak mau merepotkan Jessi. Lagipula, ini tidak terlalu jauh. Maksudku, apartemenku, rumah sakit, dan kantormu.”

Taeyeon harus tersenyum mendengar itu, dia menyukai bagaimana gadis itu membuat semua hal terdengar sangat sederhana. “Kau tidak perlu repot-repot, kau tau?”

“Apa yang kau bicarakan? Kau tidak pernah merepotkanku. Kau sudah melakukan hal banyak untukku, Taeyeon.”Tiffany masih menyiapkan beberapa makanannya,

“Tetap saja, ini sudah larut malam.”

Dengan itu, Tiffany lalu berbalik dan menatapnya, “Yah. Aku hafal betul bagaimana dirimu, Tae. Kau pasti akan melewatkan makan malam setiap kau lembur. Bahkan hampir setiap beberapa kali dari seminggu pada pagi hari aku akan menemukan dirimu tertidur disini.”

“Kau bisa mengatakan, aku adalah pegawai pengamatmu. Semua berkat magangku disini,”Tiffany mengakhiri dengan tawanya lembut,

Taeyeon hanya bisa memandangnya dengan penuh arti mendengar itu semua. Sebelum Tiffany merasa malu, dia kembali membalikkan badannya dan sibuk dengan halnya lagi.


 

“Aaa.”Taeyeon membuka mulutnya untuk menyambut suapan daging asap itu,

“Yah. Sekarang makanlah sendiri, kau bukan anak kecil lagi.”Tukas Tiffany menawarkan sumpitnya sembari menatapnya jengah,

Taeyeon hanya mengerucutkan bibirnya dengan lucu, “Memang hanya anak kecil, yang bisa di suapi makanan?”Katanya lagi,

Tiffany menggeleng pelan dan tertawa mendengar pertanyaan lucu itu,

“Baiklah… Baiklah..”

Sisa waktu keduanya di habiskan dengan Tiffany yang sibuk menyuapi wanita yang lebih tua sesekali mereka membicarakan topik yang menarik. Di selingi canda dan tawa keduanya yang memenuhi keheningan kantor ini.

Tidak sama sekali menyadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka sedih dari luar. Ruangan Taeyeon yang mempunyai sebagian dinding kaca memang membuat siapa saja dapat melihat dengan jelas ke dalam jika horden tidak di tutup.

Joong Ki hanya bisa terdiam di tempatnya sembari memasang senyun sedihnya,

Niatnya ingin mengajak makan larut malam dengan kekasihnya sepertinya harus kembali di tariknya lagi. Dia bisa merasakan sesuatu yang menghimpit rongga dadanya. Namun dia juga bisa merasakan rasa lega yang melonggar.

Taeyeon tidak pernah seceria dan sebebas itu jika dengannya, ia jarang sekali melihat senyum liar yang mengembang di wajahnya, ketika mereka bersama.

Melihatnya bahagia, mungkin adalah salah satu hal terbaik yang pernah ada. Walaupun itu semua bukan berasal darinya.

Dia diam-diam berterima kasih pada gadis muda itu yang mampu membuat Taeyeon kembali menjadi dirinya yang dulu.

Gadis itu benar-benar membuatmu bahagia, Huh Taeyeon-ah?

Aku sekarang mengerti kenapa kau begitu mengaguminya,


 

Taeyeon tidak menyukai ide dimana dirinya akan berada di tempat ini, saat ini. Maksudnya, dia kini di kelilingi oleh orang tuanya, kekasih, juga para pebisnis lain. Tidak, jika sekarang juga, di tempat lain, gadis yang sangat di cintainya mungkin tengah menangis menunggu hasil akhir operasi penyelamatan itunya.

Dia sama sekali tak menyentuh makannya, sedari tadi Taeyeon hanya melemparkan pandangannya pada jam dinding yang ada. Bertanya-tanya jika acara makan malam ini akan cepat selesai, karna pikirannya terus saja melayang-layang. Di benaknya hanya ada bayangan Tiffany, yang mungkin saja sedang menangis sedih akan hal ini.

Dia ingin disana. Di samping gadis itu, mendekapnya dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Tetapi dia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri, karena pada faktanya dia hanya duduk dengan kepala nya yang sedikit pening. Ia benar-benar ingin pergi dari sini, tetapi dia hanya tidak bisa membiarkan semuanya tertinggal begitu saja.

Joong Ki yang menyadari itu, hanya bisa diam memperhatikan kekasihnya. Dia sesekali berusaha mencari tau, apa yang mungkin bisa dia lakukan untuk bisa membantu wanita itu pergi dari sini. Dari makan makan bisnis ini. Dia tau, jika Taeyeon memang harus pergi ke suatu tempat, dengan nama Tiffany ada di dalamnya,

Dan pria itu sungguh mengerti, akan hal itu. Joong Ki bahkan memantpkan hatinya untuk melepaskan wanita itu, dia ingin seorang malaikat bebas dari rasa sakitnya. Dan jika memang itu semua membuat Taeyeon bahagia, dia rela untuk melakukan itu.

Pria itu tersenyum sedih, menatap wajah itu yang kini melukiskan ekspresi khawatir. Bayang-bayang dimana sosok itu nanti bukan menjadi miliknya lagi sudah sangat jelas. Dimana dia tidak berhak untuk menjaganya lagi, mengatakan cinta, dan mengecupnya kapanpun dia mau. Membayangkan dirinya yang mungkin akan jauh dari figure itu, Joong Ki bisa merasakan luka di hatinya meluas.

Mungkin ini memang saatnya,

Aku tidak tau mengapa kita semua bertahan pada sesuatu, yang kita tau akan lebih baik jika kita melepaskannya.

“Taeyeon-ah..”

Wanita itu mendongak, “Oh?”

“Ikut aku..”


 

“Aku tau apa yang menganggu pikiranmu.”

“Pergilah..”

“Kau tidak mau mengecewakan Tiffany, kan?”

Pria itu berkata dengan senyuman teduhnya, membuat Taeyeon seketika terdiam di buatnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika kekasihnya akan mengatakan itu secara tiba-tiba.

“Apa yang kau bicarakan?”

Pria itu lalu memajukan langkahnya, dia menyentuh permukaan wajah wanita itu dengan punggung tangannya dengan gerakan lembut. Dia mengamati setiap garis lekuk parasnya dengan lamat-lamat, dia ingin mengingat bagaimana rasanya bisa berada sedekat ini. Joong Ki hanya ingin menyimpan paras yang sangat menawan, teduh, juga hangat ini di memorinya.

“Aku.. melepaskanmu, Taeyeon-ah..”Katanya pelan, hanya Taeyeonlah yang bisa mendengarnya.

Wanita itu kembali terkejut ketika melihat pria yang ada di depannya berusaha menahan air mata yang menggenangi pelupuk matanya. Dia tidak lagi melihat pria yang kuat dan penuh senyuman itu. Dia tidak bisa menemukan sosok Joong Ki yang ia kenal tegar sekarang. Yang ada hanya seorang pria dengan tatapan penuh luka, dan hati yang mungkin kini sudah tersayat menjadi bagian paling kecil.

Pandangannya hanya menemukan figure pria itu yang kini terlihat begitu rapuh, dan lemah. Dia bisa melihat harapan yang mati di bawah pengawasannya. Dan Taeyeon hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri untuk itu.

“Kau tau.. mungkin mereka benar..”

“Ketika kau begitu mencintai seseorang, kebahagiaan orang itu akan jauh lebih penting melebihi apapun.”

“Dalam kasusku, kaulah orang itu, Taeyeon-ah..”

nice guy kdrama 2012 still 세상 어디에도 없는 차칸남자 episode 16 kang maru song joong ki 송중기
“Aku tidak pernah menyesali, hubungan kita..”

“Justru aku ingin berterima kasih padamu, karena hariku mungkin tidak akan secerah itu jika tidak ada kau di dalamnya, Taeyeon-ah..”

Taeyeon bisa merasakan air mata yang kini sudah membasahi kedua pipinya. Semakin dia menatap mata itu, semakin dia bisa merasakan luka yang di alaminya sekarang.

Maafkan aku…

“Tapi.. kau tau? Akan jauh lebih menyenangkan jika mengetahui kau tengah bahagia. Walaupun bukan bersamaku,”

“Aku suka mendengarmu tertawa, aku sangat menyukai bagaimana kau akan tersenyum pada suatu candaan. Walaupun itu semua bukan berasal dariku,”

“Kau tau apa yang aku pikirkan?”Tambah pria itu tersenyum lalu menghapus air mata Taeyeon dengan ibu jarinya dengan gerakan yang begitu lembut,

“Aku berpikir, bagaimana diriku yang begitu sederhana ini berhak untuk memilikimu? Apa aku bahkan bisa di bandingkan dengan Tiffany? gadis yang rasanya benar-benar membuatmu gila..”Joong Ki terkekeh pelan akan perkataanya,

“Aku melihatmu yang begitu bahagia jika sedang bersamanya. Aku bisa mendengar dan melihat tawamu yang lepas, aku bisa merasakan bagaimana nyaman dan hangat perasaamu ketika dia berada di dekatmu, Taeyeon-ah..”

“Aku harus berterima kasih padanya, suatu hari..”

“Karena telah membuat Taeyeon-ku yang satu ini.. menjadi dirniya yang begitu bebas dan berwarna. Kau benar-benar menyebalkan karena telah membuatku jatuh cinta untukmu terlalu dalam, kau tau?”

Taeyeon lalu terkekeh pelan mendengar itu, namun tetap saja, Rasanya air mata tak mau berhenti dengan segera.

“Tidak ada yang pernah bisa menahan karismaku, Joong Ki-ah..”

Apalagi mendengar tawa pria ini yang begitu hangat, dia bisa melihat sorot luka di matanya. Tetapi Taeyeon sangat mengagumi baaimana pria ini bisa menutupi semua itu, dengan senyumnya.

Itu adalah salah satu dari banyak faktor Taeyeon mau membuka hatinya dulu.

Joong Ki lalu mengecup kening wanita yang ada di hadapannya. Taeyeon terpejam sembari terus memanjatkan doa pada surga, agar sosok ini mendapatkan kebahagiaan yang melimpah, sesuai dengan apa yang ia telah berikan untuk dirinya.

Setelah  semua yang ia lakukan untuk dirinya, Taeyeon hanyabisa memberikan luka dan luka. yang tidak pernah berhenti. Dia bahkan berpikir, dia tidak berhak untuk mendapatkan pria iniyang mempunyai hati yang sungguh baik dan menenangkan ini. Dia seharusnya tidak pernah melakukan itu, tetapi dia juga tidak bisa memungkiri bagaimana hari-harinya menjadi sangat berwarna ketika Joong Ki hadir dan mengisinya dengan berbagai hal yang manis.

Saat pria itu melepaskan kecupannya, dia kembali berkata..

“Aku rasa aku sudah gila..”

“Kau bahkan masih bisa membuatku tersenyum sekarang, walaupun kau adalah hal pertama yang paling membuatku sedih kali ini.”

“Maafkan aku…”Taeyeon kini menarik tubuh pria itu untuk di peluknya. Joong Ki lalu tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada wanta ini. menenggelamkan wajahnya pada helaian lembut rambut wanita ini.

Dia sedang memotret ini di dalam benaknya. Dia ingin selalu mengingat, bagaimana rasanya memiliki Taeyeon ada di dekapannya seperti ini.

Taeyeon yang mengerti, juga mengeratkanpelukannya.

Keduanya sama-sama terdiam, tidak berkata sepatah kata pun.

Terkadang aksi memang lebih berarti ketimbang kata-kata, Dan itulah yang di rasakan keduanya.

Taeyeon dan Joon Ki hanya bisa saling mensyukuri atas kehadiran masing-masing di hidup mereka.

“Hanya karena kita tidak bisa bersama, bukan berarti aku berhenti mencintaimu, Taeyeon.”tukas Joong Ki saat melepaskan dekapannya, dia menatap kedua bola mata itu lamat-lamat sekali lagi.

Gomawo, Joong Ki-ah..”

“Kau adalah pria yang baik, Aku merasa sangat amat dan nyaman setiap bersamamu. Tetapi kau mengerti, kan.. Bagaimana aku juga jatuh untuk sosokmu.”

“Kau pantas mendapatkan seseorang  di luar sana yang mencintaimu, di setiap detak jantungnya.”

Joong Ki menangguk pelan, lalu tesenyum,

sebelum akhirnya Taeyeon giliran memajukan langkahnya, dan mengecup lembut bibirnya. Pria itu lalu terpejam, sembari meloloskan air mata yang sudah di tahannya.

Dan dengan ini, aku melepaskanmu, Taeyeon-ah..


 

“Taeng, mau kemana kau!?”Sunny sedikit berlari mengejat sahabatnya yang beberapa langkah ada di depannya,

“Ke rumah sakit. Nyonya Hwang sedang menjalani operasi besarnya.”Taeyeon tidak menghentikan langkahnya.

Fikirannya blur, tidak ada yang menghampiri kepalanya kecuali bayangan Tiffany yang pasti sedang sangat bingung dan terluka atas kondisi ibunya yang memburuk akhir-akhir ini.

“Berhenti, Tae…. Tunggu aku..”

Taeyeon menghentikan langkahnya dan menatap kesal sahabatnya, dia tidak ingin untuk di nasihati untuk sekarang ini.

“Begini, jika kau berniat untuk menasihatiku atau apapun itu yang kau lakukan bersama Sooyoung, aku tidak mempunyai waktu. Kau tau, Sunny? Aku sudah berusaha melakukan hal yang kalian berdua inginkan, Kalian mau aku untuk melanjutkan hidupku dengan orang lain.”

“Aku sudah lakukan itu semua, aku sudah mencoba semuanya dari awal bersama Joong Ki. Tapi seperti yang aku katakan dulu, dia bukan Tiffany. Dan tidak akan pernah ada yang sama sepertinya.”

“Aku berusaha begitu keras untuk belajar memulai hal yang baru bersama orang lain. Tapi aku hanya tidak bisa menghapus nama itu dari kepalaku. Mungkin kalian hanya melihatnya sebagai gadis yang manja, kekanakan dan tidak akan pernah bisa berjalan bersamaku.”

“Aku tau kami berbeda. Jalan pemikiran kami, kebiasaan kami, sifat dan bahkan untuk hal-hal kecil lainnya. Tapi.. kenapa aku tidak pernah melihat sedikitpun kecacatan pada Tiffany, Sunny-ah?”

Sunny hanya bisa terdiam mendengar semua pernyataan sahabatnya. Dia hanya bisa tertegun mendengarnya,

“Justru, kenapa aku melihatnya semakin sempurna dan sempurna setiap harinya?”

“Meninggalkannya dulu, dan berusaha mengganti posisinya dengan orang lain adalah kesalahanku.”

“Kalian berdua harus mengerti bagaimana dia berusaha merubah semua hal yang ada pada dirinya menjadi lebih baik. Bagaimana dia memperjuangkannya hanya demi bersanding denganku.”

“Apa kau tau, alasan kenapa dia meninggalkanku dulu?”

Sunny menggeleng pelan,

“Dia merasa, bahwa dia tidak pantas untuk bersamaku, Sunny-ah. Sangat menyakitkan untukku mendengarnya, dimana faktanya dia sudah sempurna di mataku.”

“Dia bahkan rela untuk menjadi sisi orang yang begitu jahat di mata orang lain, dimataku.. hanya untuk masa depanku yang katanya akan menjadi lebih baik..”

“Gadis bodoh itu…”Lirih Taeyeon sembari tersenyum pahit,

“Dia hanya memikirkan bagaimana hidupku, dan bukan miliknya.”

“Kau harus mengerti bagaimana dia kini berusaha menjadi orang yang lebih baik, hanya karena dia merasa tidak pantas untuk bersamaku dulu. Dia bukan lagi gadis yang manja dan nakal. Dia bahkan memiliki banyak pekerjaan sampingan sebelum dia kerja di tempat kita. Dia menjadi salah satu mahasiswi terbaik di kampusnya, tidak pernah mengeluh akan sesuatu. Selalu memproritaskan keluarga dan tanggung jawabnya.”

“Aku tidak mampu menjelaskan padamu, bagaimana aku sangat mencintainya, Sunny-ah..”

“Kau tidak mencintai seseorang karena kesempurnaan mereka, tapi terlepas dari kenyataan bahwa mereka tidak sempurna.”

Sunny lalu menarik bibirnya untuk tersenyum. Walaupun Taeyeon kini sudah terisak, Sunny masih bisa melihat kekuatan cinta yang kuat di bawah pengawasan wanita itu.

“Apa kau butuh tumpangan? Aku dan Sooyoung juga akan mengunjungi ibunya hari ini.”

Aku tau, Taeyeong-ah..

Aku mengerti bagaimana kau sangat mencintai gadis itu..

Dan pasti ada alasan yang jelas di balik semua itu. Yang hanya kaulah yang mengerti bagaimana Tiffany sebenarnya..

Aku yakin dia adalah gadis yang berbeda..

Dia adalah satu-satunya yang bisa membuatmu gila,

Dan jika memang dialah yang menjadi sumber kebahagiaanmu..

Maka kembalilah bersama.


 

“Fany-ah!”

Gadis itu lalu menoleh dengan cepat, walaupun pandangannya kabur karena air mata, dia bisa melihat figur Taeyeon yang tengah berlari kecil mengampirinya. Tidak butuh waktu lama untuk gadis itu berdiri dan berlari ke dalam dekapan Taeyeon.

Menumpahkan lagi semua tangisan dan lukanya pada bahu itu. Taeyeon yang mengerti, mengeratkan kedua lengannya yang melingkari pinggang gadis yang lebih muda. Menariknya untuk lebih dekat.

Mendengar tangisan Tiffany yang terdengar menyakitkan, membuat Taeyeon juga ikut menitihkan air matanya. Dia menciumi rambut lembut milik Tiffany berkali-kali, lalu kembali mengusap punggungnya pelan. Berharap gerakan kecil itu dapat memberikan sedikit efek akan kondisi gadisini yang begitu rapuh sekarang.

Taeyeon melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah Tiffany,

Dia bisa melihat sorot luka, harapan yang mati, juga kekhawatiran yang memuncak disana. Sangat menyakitkan setiap melihat Tiffany seperti sekarang ini. Dia seperti bintang yang kapan saja bisa reduh cahayanya. Berlian yang begitu berharga, yang tidak tau kapan pastinya dia akan hilang.

Saat Tiffany memejamkan matanya lagi, Taeyeon mengecup kelopak matanya lembut, menahannya agar lebih disana. Dia hanya ingin Tiffany tau, bahwa semuanya akan bak-baik saja. Bahwa dia akan selalu disini. Apapun yang mungkin terjadi.

Taeyeon lalu juga menjatuhkan kecupannya di dahi gadis yang lebih muda.

Menyatukan kening mereka dan saling mengadu sorotan penuh arti itu,

“Semua akan baik-baik saja… Fany-ah..”

 

Sementara kedua pasang mata di belakang Taeyeon hanya bisa kembali terdiam melihat adegan yang ada di hadapan mereka.

Sooyoung yang tadinya masih belum yakin untuk menuruti kemauan Sunny agar menemani Taeyeon kemari, rasanya begitu tersentuh akan hal ini. Dia merasa buruk karena tidak mengerti bagaimana Taeyeon begitu mencintai gadis yang lebih muda. Seperti yang ia tau, ia hanya tidak mau keduanya saling menyakiti, pada akhirnya. Jadi dia memutuskan untuk membantu keduanya mencari jalan keluar yang lebih baik. Yaitu perpisahan.

Tetapi nampaknya ide itu benar-benar kesalahan. Sooyoung tidak mengetahui bagaimana keduanya begitu terskakiti akan perpisahan mereka.

Apa yang aku pikirkan dulu untuk memisahkan mereka?

benar-benar bodoh…


 

 

 

 

“Ayolah.. Sooyoung-sshi. Aku dengan Taeyeon masih sendiri.. Tidak bisakah kau mengatur kencan butaku dengannya? Hmm?”

Sooyoung hanya bisa menatap teman sekantornya dengan jengah, lalu berkata,

“Eish! Sendiri gundulmu!”

“Pergilah! Aku sedang sibuk!”Tambahnya lalu mendorong Dong Won untuk keluar dari ruangannya,

“Ayolah.. Aku akan mentraktir–”

“Permisi, Sooyoung-ah.”Gadis itu lalu mempersilahkan dirinya masuk sendiri, seperti hari biasanya. Namun, saat dia mau menyapa wanita itu, dia sedikit terkejut karna menemukan pria muda di ruangan ini.

“Oh, Maafkan aku.”Katanya menundukan cepat kepalanya,

“Gwenchanna, Tiffany. Apa itu untukku!? Assa!”Sooyoung dengan cepat meraih kotak makan yang ada di tangan Tiffany. Gadis itu hanya bisa tertawa pelan melihatnya. lalu dia berjalan mendekat pada Sooyoung, namun sempat memberikan senyuman hangatnya pada pria itu.

“Hari ini aku memasaknya dengan rebusan bawang yang agak banyak. Jadi, aku tidak tau pasti bagaimana rasanya.”Katanya santai pada Sooyoung yang telah melahap sebagian besar makananya,

“Ani.. ini benar-benar lezat!”Katanya dengan mulut penuh dengan makanan,  menyadari bahwa Dong Won belum pergi, Sooyoung kembali berkata,

“Yah. Bukankah aku menyuruhmu pergi! Aish!”

“Tidak sampai kau mau mengatur kencan butaku dengan Taeyeon.”

Mendengar itu, Tiffany sempat menghentikan aktifitansya yang tengah bebenar kotak makan, dia kini memunggungi keduanya.

Sooyoung lalu membalasnya cepat, hingga bagian-bagian kecil makanan yang tengah di kunyahnya keluar dari rongga mulutnya, “YAH!!!!”

“JJINJA!!!”Tambahnya kesal, dia benar-benar berpikir bahwa pria ini sangat bodoh sekarang.

“Kalau begitu, aku akan mengantar ini juga untuk Taeyeon, Sooyoung-ah.”

Sooyoung menoleh lalu mengangguk, “Uhm, Geurae. Sampaikan pada bocah itu, kita akan ada meeting jam satu nanti.”

“Tentu saja.”Balas Tiffany santai hendak berjalan ke arah pintu,

“Kau membawakan Manajermu makan siang? Itu benar-benar bagus, Tiffany-sshi.”Puji Dong Won Tiba-tiba, membuat Tiffany menghentikan langkahnya lagi, lalu berpaling untuk melihatnya,

Gadis itu lalu tersenyum sebagai balasan, “Kalau begitu, aku permisi.”

“Baiklah, bilang kekasihmu kalau aku menunggunya di Lobby nanti.”Tukas Sooyoung lagi,

“Sure thing.”Balas Tiffany cepat sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

“Memangnya Tiffany  sudah punya kekasih?”

Sooyoung lagi-lagi hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya sembari terus mengunyah,

“Aku sekarang percaya, bahwa orang bodoh itu benar-benar nyata.”Gumamnya sembari memasukan lagi makanan ke dalam mulutnya

“Yah!”Kata pria itu cepat,

“Yah!”Balas Sooyoung tak mau kalah,

“Dia. Tiffany Hwang. Adalah. Kekasih. Kim. Taeyeon. Satu-satunya. bodoh.”

“MWO!? Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal di masuk kesini!? AISH!”

“Orang bodoh mana yang tidak mengetahui itu? Semua orang disini tau, kecuali kau!”

Pria itu lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan ini. Di luar, dia segera bertanya pada salah satu kumpulan karyawan yang ada,

“Apa kalian bahkan tau tentang Taeyeon dan Tiffany?”

“Tentu. Ku dengar mereka akan melangsungkan pertunangan segera, setelah ibu Tiffany keluar dari rumah sakit.”

“JJINJA!?”

“Mm. Kau tidak mengetahuinya, Sunbae?”

“Yah. Aku baru saja meminta Sooyoung untuk mengatur kencan dengan Taeyeon di depan Tiffany!”

“Jjeongmal!? Huahaha.”Balas para karyawan itu sembari tertawa lepas, melupakan posisi antara atasan dengan bawahan di antara Dong Won dengan mereka.

“Tenang saja, Sunbae. Tiffany adalah orang yang memiliki sifat ramah dan baik. Dia mempunyai senyum yang hangat. Semua orang menyukainya. Aku rasa, itulah kenapa Taeyeon sunbae-nim memilihnya sebagai calon istri.”


 

Tiffany sekali lagi mempersilahkan masuk dirinya sendiri ke dalam ruangan kerja kekasihnya. Dia mendapati Taeyeon yang kini sedang membelakanginya untuk membenahi lemari kerjanya.

Tiffany berjalan begitu pelan, agar tidak menimbulkan suara, sebelum akhirnya memeluk wanita itu dari belakang. Taeyeon sedikit terkejut akan itu, namun dia buru-buru memeluk lengan yang kini melingkari pinggangnya.

“Hey..”

Namun Tiffany hanya terpejam dan membuang napasnya dalam, Taeyeon yang merasakann sesuatu yang berbeda dari kekasihnya bertanya,

“Ada apa?”

“Tidak ada…”Tiffany justru menjatuhi belakang leher kekasihnya dengan banyak kecupan. Membuat Taeyeon terkekeh pelan dengan gerakan itu, dan kembali bertanya-tanya ada apa dengan gadis ini. Suasana hatinya memang sangat mudah berubah-ubah.

Taeyeon lalu melepaskan lengan itu yang mengelilinginya dengan lembut, dan menangkup wajah itu yang kini menatapnya khawatir,

“Katakan padaku apa yang mengganggumu.”

“Tidak ada.. hanya…”

“Taeyeon-ah.. Apa kau yakin dengan ini? Maksudku.. pertunangan kita nanti?”

Taeyeon menautkan kedua alisnya, “Kenapa kau menanyakan itu? Apa kita harus mengundurnya?”

“Bukan itu.. Aku hanya bertanya, Apa kau yakin dengan keputusanmu memilihku?”

“Jangan seperti ini lagi, Fany.”Balas Taeyeon dengan nada dinginnya lagi, lalu melipatkan kedua tangannya dan melihat ke arah lain. Dia tidak pernah suka setiap gadis ini mulai berkata hal-hal yang tidak masuk akal.

“Bukan begitu, Taeyeon-ah…”Tiffany meraih lagi kedua tangan kekasihnya untuk di genggam,

“Lihat aku..”Katanya pelan untuk merebut perhatian Taeyeon lagi,

“Aku hanya tidak mau  kau membuat keputusan yang salah. Karena di luar sana masih banyak yang jauh lebih baik dariku,”

“Kau terus mengatakan hal itu. Apa kau bahkan mendengarkanku ketika aku mengatakan aku begitu mencintaimu, dan aku ingin kita memulai hidup bersama? Apa kau tidak sama sekali mengerti bagaimana aku benar-benar menginginkanmu, Tiffany? Aku sudah berkali-kali meyakinkanmu, bahwa diluar sana tidak ada yang lebih baik darimu.. Kenapa kau tidak mempercayaiku?”

Tiffany merasa bersalah setelah melihat perubahan ekspresi Taeyeon sekarang. Dia bisa melihat mata wanita itu yang berkaca-kaca,

“Semua yang ku inginkan di dunia ini, adalah untuk tetap bisa berbicara denganmu, memelukmu, dan berada di sisimu untuk waktu yang sangat lama. Aku ingin selalu bertanya bagaimana harimu, dimana kita akan makan malam, sampai tertidur di sampingmu. Dan terbangun untuk melihat senyummu lagi di setiap pagi. Aku juga ingin bertengkar denganmu, dalam masalah kecil. Mendengar ocehan dan teori-teorimu yang semua orang tau, bahwa itusalah. Tetapi aku akan menerima itu semua karena aku mencintai semua hal yang ada padamu, Fany.”

“Aku tau semuanya tidak akan berjalan semudah itu, tetapi aku berpikir– bukan. Bahkan aku percaya, jika kau mau membantuku mewujudkannya. Aku yakin kita akan menemukan jalan keluar yang lebih baik.”

“Kau membuat hari hariku, menjadi hari yang terbaik di setiap hitungannya. Dan aku sungguh berterima kasih untuk itu,”

Tiffany kini sudah terisak mendengar setiap perkataan yang keluar dari bibir kekasihnya,

Taeyeon dengan cepat menghapus air mata yang sudah berjatuhan di pipi kekasihnya,

“Memilihmu sebagai pemberhentian terakhirku. Adalah keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Justru, jika aku tidak melakukan itu. Sama saja aku tidak membiarkan udara untuk memenuhi rongga pernafasanku. Itu berarti aku akan mati, Fany.”

Tiffany terkekeh pelan, sembari terus terisak mendengarnya.

begitu bodoh dariku.. untuk meragukanmu, Taeyeon-ah..

“Cheesy.”Ujar Tiffany pelan, membuat wanita yang lebih tua juga terkekeh.

Mereka berdua hanya saling menatap untuk beberapa saat, Tiffany bisa melihat sorotan keyakinan, cinta juga, kemauan yang kuat di bola mata madu itu.

“Aku adalah tipe orang yang pendiam sekarang, tetapi jika kau tau hal-hal yang ada di kepalaku. Kau akan mengerti bagaimana aku sangat mencintai, juga mempercayaimu, Taeyeon-ah.. Seberapa besar kesempatan kita nanti, dan bagaimana kita sudah melewati banyak hal. Aku sudah memikirkannya..”

“Tetapi.. jika semuanya tidak berjalan sesuai harapanku.. Maukah kau tetap berada disisiku dan mengambil semua bagian yang pecah?”

Taeyeon mengangguk yakin, walaupun air matanya kembali lolos.

“Aku akan berada disana. Di penghujung jalan kita. Mengambil setiap bagian yang pecah, mencari bagian yang hilang dan menyatukannya kembali.”

Dengan itu, Tiffany menarik wajah kekasihnya untuk di kecupnya. melingkarkan lengannya pada leher wanita itu dan memperdalam ciumannya. Taeyeon menarik pinggang itu lebih dekat dan membalasnya. Keduanya tidak menyisakan jarak sedikitpun. Memberikan kuluman yang lembut dan menyesap bibir merah mereka masing-masing dengan perlahan.

Setelah menyelesaikan sesi mereka, keduanya menyatuhkan kening kembali sembari mengatur nafas mereka yang memburu. Keduanya menarik sudut bibir mereka untk tersenyum. Merasakan kebahagiaan yang membuncah di ruang hati mereka masing-masing.

“Gosh, i love you so much.”Ujar Tiffany pelan,

“I Know. and i love you too.”

“Aku membawakanmu makan siang. Kau pasti akan menyukainya.. karena Sooyoung juga mengatakan itu lezat.”Tukas Tiffany masih mengatur nafasnya

“Kenapa kau selalu meminta pendapat dia lebih dulu daripada kekasihmu sendiri?”

“Itu adalah cara terbaik untuk merebut hati sahabat dari calon tunanganmu, Taeyeon-ah..”

 

 

 

 


 

aku agak mentok sih pas ngetik..😩

tapi semoga suka ya.. 😊😍

sampai ketemu di shoots kolaborasi kita berdua lagi okeee.❤️❤️

 

please add our wp’s line at @lck7866o hurup yg terakhir itu O ya..😉

lets getting to know each other and be friends with us!😋😋

Your Author-nim

jazzatta

 

Advertisements

75 thoughts on “COMPLETE – FIVE (FINAL) BY JAZZATTA

  1. taeny emang gx terpisahkan, walau sempat putus tp dakdir mempertemukan mereka kembali
    kata2 taeng bikin pany meleleh
    untung jungki orangnya baik, bisa melepaskan taeng walau berat rasanya

    Like

  2. Jadi mewek bacanya thor, aku nya mendalami banget cerita ini 😂😂😂, daebak lahh ,bagus mrk itu udah jadi belahan jiwa.sweett

    Like

  3. finally taeny bs bersatu jg hehehe..
    sukaaa bgt sm cerita nya nih..
    di tunggu kelanjutan ff yg lain ya thor ^_^

    Like

  4. asli gw sempet menitikan air mata sih pas baca FF ini wkwkwk XD *di chapter sebelumnya*
    tp joong ki baik yah, mau ngelepasin tae bgtu aja hahah
    tae emg ga bs idup tanpa pany deh, kepisah dikit aja ud ga bs napas hahaha
    pany tp berubah 180 derajat yah, dr yg nakal jd rajin bgt, smpe cari duit sndiri ckckck
    (y) buat FF ini hehehe ^^

    Like

  5. Waaaaaaaa,, terharuuu gw bacaanyaa thooorrr 😭😭😭😭
    Seriuus ini kereen bgt endiiingnya 😭😭😭
    Semuanya bahagia, and joong ki oppa bnr2 keren abiisss dsnii. Ganteng, baeekk argghh. Jd pacar akuu aja deh oppaa 😝😝😝

    Like

  6. Yeiiy akhirnya taeny sudah hadapi masa sulitnya berakhir dgn kebahagia .suka sangat suka dgn figure taeyeon yg gentle genggami tangan tiffany di bandara saat bertemu dgn jong ki,bener” seperti menunjukkan klo dia tulus mencintai tiffany

    Terharu biru deh thor😭😓 dgn taeny bisa bersama kembali,salut dgn jong kii mengikhlaskan 👍😊ke bahagia taeyeon tuk tiffany,bener sesuai jgn dgn judul ceritanya complete emosional nya tu bener” keren sampai di akhir kisah,,,
    taeny bersatu 😙😍🙌 sekarang keceriaan slalu menghiasi canda tawa nya 😘😘 taeny jjang
    thanks author,ini menyenangkan,semangat 👍💪berkarya thor dgn karya terbaiknya lagi,tetap ditunggu update’nnya 😄 hehehe

    Like

  7. TaeNy akhirnya bersatu setelah sempat terpisah selama 2 tahun. Memang, cinta mengalahkan segalanya. Karena cinta, Joong Ki rela melepas Taeyeon buat bersama Tiffany. Karena cinta, Sooyoung menyadari kalau memisahkan TaeNy bukanlah jalan terbaik bagi mereka.

    Like

  8. joongki oppaaaaa, AKU PADAMU…….. haha
    taeny mau dipisah gmana juga kalo jodoh mah balik lagi.
    knpa gk lngsng nikah aja biar sah sekalian.

    Like

  9. Oyeahhhh HAPPY ENDINGG!!! UWAHHHHH *prokprok👏👏
    Thanks untuk author yg udah nyelesein ff ini dan cerita author amazingg kaleee😂😂😂

    Like

  10. meski ending’y taeny bersatu, tpi kok kyak ada yg ngeganjal gitu ya thor, mngkin krna gak ada NC nya kali yak #plakk XD
    haha klw dlm segi crita sih gue puas bgt sma ending’y thor, cuma syang msih kurang greget, gue kirain ending’y sampe taeny tunangan haha
    nyesek bgt liat joongki disini, ya ampun bang sini bang sma gue aja haha
    gomawo thor udh mw nyelesain ff ini dgn sgt baik, di tunggu krya” amazing lain’y dan smoga ff yg blm rampung bsa author selesaiin secepat’y hihihi

    Like

  11. 👍👍👍👍👏👏👏 saking seneng nya ini ff end ane gk bisa ngomong apa” serius deh😂 sukses deh udah bikin reader nya di tarik ulur wkkwkw. Pokok nya ane selalu menunggu update-an ff mu thor *walaupunseringtelat* lol. Okee cukup dehh 😆💋❤

    Like

  12. Q suka dg kata “kita mncintai seseorang bkn krn dia sempurna tp justru krn dia tdk smpurna” it y klu g slah & it q mngalaminy n stuju q syng m orang yg persis ky nobita smp detik ini hehehe mksih y jazzatta sehat bahagia sukses sll 😀

    Like

  13. 😭😭😭😭😭
    Kirain tae beneran ninggalin fany, sampe ikutan sedihh aaahhh tapi ternyata enggak cuma keluar dwnk sbntar 😍😍😍😍
    Duhhhh tae keliatan bgt klo gak bisa jauh dr fany, padahal itu ada jong ki di sampingnya kan jadi ajahh ketauan..
    “Menantu sama mertua” jessi kalau ngmng suka bener dehh hahaha
    Aaahhhh sweeettt nya overloadd taenyy ❤️❤️❤️❤️💙💙💙💙
    Diabetesss iniii,, 😁😁😁😁
    Jd ini alasan jong ki jd tentara karna tae tp akhirnya ketemu dr kang 😅😅😅 fan sudah move on,,
    Dannn dari cerita ini aq bisa tau wlwpun niat dan pikiran qt baik blm tentu baik buat yg jalanin. Cukup kasih saran dan jgn paksakan keinginan ataupun saran qt karena yg jalanin dia bukan qt 😊😊😊
    Gomawo thorr sangat mengispirasi dan memberi pelajaran..

    Like

  14. lega rasanya pas joong ki melepas taeyeon akhirnya tae bisa bersama fany kembali, emang kalo udah jodoh gak bakalan kemana juga iyakan fany? kkkkk…..
    happy ending dah…

    Like

  15. Akhirnya happy ending juga..
    Duh kasihan jg liat oppa joongki, tp mau bgmna lagi daddy hrus menjadi milik mommy gmna pun caranya dan sbrpa sakit dan kcewax joongki kpda daddy, aing g peduli.. Yg penting mommy dan bahagia…
    Mian oppa.. Dirimu jd kk j untk daddy 😆
    Duuh mommy baboya, msh aj mmprtnyakn prtunangan itu.. Klo daddy g serius buat apa dia nolak joongki? Yg secara joongki itu udh sempurna d mta orang”..
    .
    Gomawo authornim, ff nya keren beud 😍😘

    Like

  16. Keren Thor, ciyus 😂😂
    Been there too, & kl udh soulmate mah soulmate aja, baca nye jd deg2an sndri , lanjut lah, suka smua mw sad/happy ending ff Taeny mah 😀 , thx Thor
    –sliweran reader 😂

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s