CLOSER CHAPTER ONE BY JAZZATTA

jazzatta


Tiffany sangat menyukai bagaimana warna hamparan luas awan akan berubah seiring waktu yang berjalan di sekitarnya. Dia bisa duduk disini berjam-jam, memandang seluruh dunia, terkadang matahari terbenam berwarna ungu dan merah muda. Dan terkadang yang lainnya berwarna jingga menyala. Seperti awan terbakar di khatulistiwa. Keindahan dunia yang tampak jelas tergambar ini berpindah dari kepala, ke hatinya.

Dia mulai menyadari betapa enaknya tiupan angin. Seperti sinar mentari dan rumput liar.Dia tidak bisa berhenti bernafas. Memenuhi paru-parnyau dengan bau termanis yang dikenalnya.

Terkadang dia akan kemari, lebih cepat hanya untuk melihat matahari terbit. Hamparan padang rumput luas dengan ketenangannya ini memang tidak berada jauh dari rumahnya. Jadi Tiffany bisa berjalan untuk meraih tempat ini setiap harinya.

Dia menemukan tempat ini bersama kakak laki-lakinya, Adam. Saat mereka berdua pulang dari liburan dan harus menunggu seseorang lewat di jalan mereka. Tepatnya tempat dimana ban mobil mereka kekurangan angin. Awalnya, keduanya hanya ingin mencari ide sambil menunggu seseorang melintas.

1 (2)

Tetapi semakin mereka berjalan jauh, semakin mereka menemukan tempat juga pemandangan yang indah, yang berada di tengah-tengah hamparan padang rumput luas. terdapat kolam, bunga-bunga, juga pohon rindang yang menjulang tinggi.

“Aku pikir, pemandangan disini cukup indah. Bukankah begitu, Adam?”

Kakaknya lalu berpaling untuk menemukan sang adik yang kini sedang menatap terpana akan apa yang di lihatnya. Dia tersenyum untuk itu,

“Bagaimana dengan keseluruhannya?”

“Huh?”Tifany menoleh,

“Kau harus melihatnya secara keseluruhan.”

“Apa maksudnya?”

Kakaknya lalu mengembalikan pandangannya pada awan yang sedang berbicara kepada mereka,

“Pemandangan adalah sesuatu yang lebih dari sekedar gabungan bagian-bagian.”

Tiffany mengerutkan keningnya lagi,

“Sapi hanyalah seekor sapi.”

“Padang rumput itu sendiri hanyalah rumput dan bunga-bunga.”

“Dan matahari menembus pepohonan hanyalah pancaran cahaya.”

“Tetapi jika kau menggabungkan mereka,”

“Mereka akan menjadi sesuatu yang menakjubkan.”

Keeseokan harinya, Tiffany menemukan dirinya yang termenung memikirkan itu. Dia berusaha untuk mengerti apa yang di maksud kakaknya tentang lukisan dunia ini.

Ini adalah alam semesta yang luas, dia tersesat pada pikirannya sendiri. Tetapi semakin dia memikirkannya, dia semakin mengerti kenapa semua hal yang ada di tempartini, memiliki tujuan masing-masing untuk saling melengkapi. Merekatkan bagian-bagian yang terpisah, juga mencari bagian yang hilang.

Tiffany, Dad baru saja memasakkan kita makan malam. Cepat kembali,

Setidaknya begitulah kata-kata yang tertera di layar datar telfon genggamnya. Tiffany segera mengepakkan barang yang ada dan bergegas pergi dari sini,tapi sebelumnya dia sempat menghirup napas dalam dan membuangnya perlahan.

Hari ini begitu tenang disini, dia belum mau menghadapi sesuatu yang baru yang akan di mulainya esok hari.

Aku pikir esok hari tidak akan seburuk itu..

Sekolah baru adalah hal yang sulit, tapi aku tidak akan tau sampai besok..


“Jadi.. Apa kau siap untuk besok, sayang?”Tanya pria paruh baya berprawakan tegas setelah memasukan daging asap ke dalam rongga mulutnya.

Tiffany mengangguk, “Mau bagaimana lagi?”

“Kau terdengar pasrah.”Sambar kakaknya sembari terkekeh pelan,

“Bukan pasrah. Aku hanya bisa berdoa, semoga murid-murid disana bukan orang-orang yang menyebalkan.”Jawabnya sembari memutar kedua bola matanya.

Memorinya kembali memutar saat-saat dirinya masih berada di sekolah sebelumnya. Anak-anak yang penuh dengan kejahilan dan juga nakal memenuhi setiap koridor yang ada. Dirinya begitu jengkel ketika beberapa temannya melakukan hal-hal yang kasar terhadap sesama siswa. Bahkan di setiap harinya, dia akan melihat berbagai masalah yang sedang terjadi di sekolah itu.

Terutama, bullying.

Dia sempat bersyukur karena bukan dirinyalah yang menjadi santapan siswa-siswa nakal itu. Namun, dia juga merasa kasihan terhadap beberapa anak yang menjadi korban mereka.

Dia hanya tidak tahan untuk melihat itu setiap kali dia harus menapakan kakinya disana. Jadi dia meminta ayahnya untuk segera memindahkan dirinya ke sekolah lain. Yang masi di dalam kota tempatnya tinggal.

Manhattan Falls. Dimana populasinya yang begitu sedikit, menjadi keuntungan tersendiri bagi beberapa orang. Namun memang, cahaya matahari yang tipis, karena tertutup awan sering menjadi hal yang kurangnyaman.

Juga, cuaca yang berubah-ubah begitu cepat. Walaupun pada akhirnya, kota ini lebih sering di guyur hujan, sehingga menyebabkan beberapa daerahnya selalu basah.

“Dad yakin, kau akan menyukai yang ini.”


tumblr_mc2opubLGk1qmy3ugo1_1280

“Aku tidak pernah tau, kita mempunyai ruangan ini di rumah, Dad.”

“Kau juga tidak pernah memberitahuku, Adam”Tiffany menatap kesal kakaknya yang kini tertawa,

“Karna kami menunggu hingga kau cukup dewasa,”Jawabnya sembari mengacak-acak pelan rambut adiknya,

“Tapi aku sudah melewati 18 tahun ku.Dan kini 19 kalian baru saja memberitahunya,”

Dia mengerucutkan bibirnya lucu, kakaknya kembali terkekeh melihat sikap adiknya yang tak pernah menunjukan sisi dewasanya. Sementara sang Ayah hanya bisa menggelengkap pelan kepalanya sembari sibuk dengan sesuatu di meja.

“Ini.”Ayahnya lalu berjalan mendekat kepada putrinya sembari membawa kalung di kepalan tangannya.

“Huh?”

“Pakaikan ini pada adikmu, Adam.”

Adam lalu menuruti perintah Ayahnya dan mulai memasakan kalung itu kepada adik perempuannya. Tiffany hanya bisa membantu kakaknya dengan menyingkirkan sebagian rambutnya dan membiarkan Adam melingkarkan kalung itu di lehernya.

Tiffany tidak memungkiri bahwa kalung ini mempunyai batu yang indah yang menggantung. Berwarna merah menyala, dan berkilauan.

“Kau tidak boleh melepaskannya, Tiffany. Apapun yang terjadi.”Tukas Ayahnya lalu berjalan mendekat kepada anak laki-lakinya.Gadis itu hanya bisa terdiam kebingungan. Namun pada akhirna dia lebih memilih untuk bungkam,

“Ini peralatan yang baru. Dad rasa, punyamu sudah sungguh tua. Jadi Dad membuatkannya yang baru,”

Adam lalu meraih kotak itu sembari tersenyum puas, “Terimakasih Dad.”

“Apa isi kotak itu, Adam?”

Kakaknya berpaling, “Kau tidak akan mengetahuinya sampai tiba saatmu untuk mendapatkan ini juga, Tiffany.”

Gadis itu semakin bingung di buatnya. Pertama, dia sama sekali tidak tau bahwa ruangan semacam ini ada di rumahnya. Ruangan bergaya kuno yang gelap, penuh dengan buku-buku dan peralatan besi dan kayu yang tidak dia tau apa nama dan fungsinya.

Lalu, dia di berikan kalung yang indah sekaligus misterius yang kini sudah menggantung indah di dirinya. Dan sekarang, dia tidak boleh mengetahui apa yang ada di dalam kotak itu. Yang benar-benar membuatnya mati penasaran,

Jadi, malam itu juga gadis itu nekat menyelinap kembali, ke dalam ruangan yang terletak di basement rumah mereka itu. Dirinya sempat kesulitan untuk menemukan kotak itu yang padahal ukurannya lumayan besar.

Senyumnya mengembang liar ketika dia menangkap apa yang dia cari tergeletak di sudut ruangan. Dia berjalan mendekat dan mencoba membukanya. Dia bisa yakin, bahwa dirinya sempat tersengat untuk beberapa detik ketika berusaha untuk membuka kuncinya.

Saat tutup terbuka, gadis itu hanya bisa ternganga dengan apa yang kedua bola matanya kini lihat. Seribu pertanyaan kini sudah masuk ke dalam kepalanya.

Namun Tiffany tetaplah Tiffany. Dia lebih memilih untuk membiarkan waktu yang mernjawab semua pertanyaan itu. Selain dia tidak mau menentang perintah kedua pria yang sangat di hormatinya. Dia juga belum mau ambil pusing tentang ini.

Real-Vampire-kits-1800s


Itu adalah bel yang menandakan bahwa jam pelajaran telah berakhir. Gadis itu mulai bangkit dari kursinya, menyingkirkan segala hal yang ia anggap membosankan dari mejanya. Ia mulai berjalan dan beringsut keluar ruangan, mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruangan, tempat ini begitu ramai dan ia sungguh mengerti, tahun ajaran baru memang waktu yang tepat untuk semua orang menghabiskan waktunya ditempat yang mereka sebut sekolah ini.

Orang-orang terlihat begitu senang menyambut akhir musim semi ini dengan memperkenalkan diri mereka kembali, ataupun bercanda gurau dengan seseorang yang telah mereka kenal sebelumnya. Namun tidak dengan gadis dengan rambut panjang coklat yang terurai hingga punggungnya, kedua bola mata coklat yang terasa begitu gelap dan dingin juga tatapan yang tidak akan ada orang yang akan mengerti ada apa dibalik sorot mata yang tajam itu.

Ia bukanlah seorang penggemar yang mengagumi bagaimana bunga cantik memamerkan kelopaknya yang indah, bagaimana langit sore akan terlihat begitu indah dengan perpaduan jingga dan kuning yang akan menghiasi langit mereka, bagaimana orangorang merasa begitu nyaman berada ditaman yang hangat, dan bagaimana semua orang menyambut kembali pagi hari. Ia sungguh bersyukur hanya dalam hitungan hari semua ini akan kembali berakhir, dan memulai musim yang baru. Musim yang akan selalu ditunggunya setiap tahun.

Benar, ia adalah seorang pengagum dan sangat memuja bagaimana tetes air menyerupai Kristal itu menghantam tanah dan jalan disetiap sudut kota. Bagaimana itu menempel di jendela disisi kelasnya, bagaimana itu membuat banyak orang terlalu nyaman untuk berada dirumah mereka yang begitu hangat, bagaimana itu membawa hawa yang sangat gelap untuk seluruh penjuru kota, bagaimana itu membuat langit terlihat begitu redup dan awan gelap yang menggantung, membuat seluruh kota dan seisinya terasa begitu kelam dan gulita. Dan itu semua hanya untuk satu alasan, itu semua sungguh menyerupai dirinya.

Ia terlihat jengah akan sekitarnya yang mungkin saja menaruh perhatian mereka pada dirinya yang melintasi lorong yang cukup panjag ini, sesekali menyunggingkan senyum tipis pada beberapa professor yang melaluinya.

Yang ia inginkan kini hanyalah menutupi fakta bahwa warna kedua iris matanya akan berubah menjadi keemasan. Ia mempercepat langkahnya, kembali menundukkan tatapannya pada lantai-lantai yang ia yakin terasa dingin

 “God damn it!” serunya kecil.

Gadis itu mengutuk gagang pintu yang ia yakin terkunci itu. Ia kembali mengedarkan pandangannya, memastikan tidak sepasang matapun yang menangkapnya.

Detik kemudian ia mengayunkan dan mengepalkan tangannya pada gagang pintu itu. Memejamkan matanya dan merasakan aliran listrik dari jantung mengalir cepat menuju telapak tangannya “Cklek”.

Sesungguhnya ia berharap agar tidak menggunakan kekuatannya hanya untuk hal kecil seperti ini, namun rasa lapar dan hasrat yang ada dalam dirinya itu semakin memohon padanya untuk itu.

Gadis itu menyembulkan kepalanya pada ruangan dengan warna putih yang mendominasi hampir seluruh permukaan dan segala hal diruangan ini. Setelah merasakan sedikit kelonggaran dihatinya, ia beringsut masuk dengan sedikit cepat dan kembali menutup pintu yang ada dibelakangnya.

Langkahnya semakin menguat pada salah satu mesin pendingin yang ada disudut ruangan, indra penciumannya seketika menjadi sangat tajam. Mata yang sedari tadi berwana gelap kini perlahan berubah menjadi keemasan. Sesuatu dalam diri gadis itu berdesir semakin mendorong keinginanannya untuk menyelesaikan santapannya hari ini. Aroma yang baginya sangat harum itu dengan cepat menusuk masuk kedalam penciumannya, memancing kedua gigi runcing yang mulai memperlihatkan dirinya kepermukaan.

Dengan secepat kilat ia kini berdiri dihadapan lemari pendingin itu. ‘Blood Donor : Manhattan Falls High School.’ Memperhatikan bagaimana melimpahnya kantung transparan dengan cairan kental berwarna merah menggunung dihadapannya. Banyak nama dan tulisan pada sisi depan plastic itu. “Marcey, Lase, Jasa, Chasey, Mark.” Ucapnya pelan ketika namanama itu ditangkap penglihatannya. Sampai pada nama terakhir yang ditangkap, ia menarik sudut bibirnya dan itu terlihat bukan seperti senyuman hangat.

“Hogan.” Ujarnya pelan, ‘Hogan Hwang’

 “Darahmu tampak begitu busuk seperti keluargamu.”

 “Namun, bukankah seluruh keturunanmu terasa begitu lezat?”

 “Lagi-lagi kau menjadi santapan spesialku hari ini.”

 Gadis itu terus berbicara pada dirinya sendiri, entah bagaimana itu semua terasa cukup. Ia terus memperhatikan kantung yang berisi cairan merah itu yang kini berada ditangannya. Kemudian melangkahkan kakinya kearah pintu. Detik kemudian ia memejamkan kedua matanya, kembali menarik aliran dari dalam tubuhnya kepermukaan bumi yang dipijaknya, lalu dengan perlahan memutar gagang pintu itu.

Diperhatikan lorong yang sedari tadi terdenger ramai kini terdengar begitu sunyi, ia tersenyum. Di perhatikannya orangorang yang sungguh ia kenali berdasarkan namanya seperri es, beku, dan tidak memiliki kehidupan. Aktifitas mereka berhenti seiring dengan tubuh mereka lima detik yang lalu.

Ia sungguh menyukai saat-saat ini, dimana ia dapat menyaksikan ekspresi orang disekitarnya yang terkadang menjadi lucu, atau ketika orang-orang tidak menyadari kehadirannya, dan yang paling terpenting ketika ia bisa menjadi diri sendiri dan menunjukkan merupakan sosok aslinya. Diatas itu semua, ia sangat menyukai fakta bahwa dirinya, dapat menghentikan waktu.

Ia kembali menelusuri lorong, memperlambat langkahnya sembari memperhatikan sekitarnya, itu menjadi kepuasan sendiri baginya. Ia hanya tidak bisa, keluar dari Lab itu dengan mata keemasannya dan taring yang menjulang dari giginya. Orang orang tidak bisa melihatnya seperti ini. Tidak akan pernah bisa.

Semakin lama langit terasa begitu gelap.

Ia terus melangkahkan kakinya, ketukan langkah dari sepatu itu terasa seperti satusatunya sumber suara yang menggema diseluruh penjuru ruangan.

Figure-figure itu masih terdiam, dan akan terus seperti itu sesuai kehendaknya. Mereka tidak akan pernah tau apa yang dapat dilakukannya pada semua orang disekitarnya, mereka tidak akan pernah tahu bahwa ia pernah menghentikan kehidupan mereka selama beberapa menit ataupun detik.

Manusia kadang terlihat begitu lemah baginya. Manusia, spesies hidup yang telah berabad-abad mengancam dirinya, keluarganya juga sejenisnya. Selalu membanggakan bahwa jenisnya adalah yang terkuat, bahwa mereka akan membantai setiap kaum dirinya dan seluruh jenisnya. Makhluk yang menyerupai manusia namun memiliki kulit dingin seperti balok es tiap kali rasa lapar mereka memuncak, makhluk yang memiliki berbagai macam warna mengangumkan pada mata mereka yang indah.  Yaitu seperti dirinya.

Langkahnya terhenti. Pandangannya menangkap sesuatu yang ganjal diujung sana, walaupun ini begitu gelap, ini terlihat begitu jelas. Dari setiap figure mati itu, salah satu diantara mereka terdengar menghembuskan nafasnya, ia bahkan dapat mendengar degup jantungnya yang begitu cepat. Mata gadis itu sekali lagi berkedip. Rasa takut dapat terlihat di parasnya yang begitu menawan.  Dia memperhatikan sekelilingnya dan terlihat begitu takut dan bingung. Mungkin dia bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sekarang,

Tanpa di ketahuinya. Kejadian ini adalah ulah seseorang.

Sementara tidak dengan figure ini yang terlihat begitu terkejut. Dirinya merasa sedikit bersyukur bahwa lorong itu begitu gelap dan hanya memberi sedikit penerangan pada fisiknya, mungkin gadis diujung sana hanya dapat menangkap sekilas wajah dan mata keemasannya dengan samar. Tidak sama sekali menyadari bahwa gigi runcing itu kini masih menghiasi rongga mulutnya.

Kedua bola mata keemasan miliknya kembali beradu dengan kedua bola mata coklat madu gadis itu.

 Taeyeon benar-benar merasakan dirinya yang begitu terancam saat ini

Tidak mungkin… Kenapa gadis itu tidak terpengaruh kekuatanku?

Dalam hitungan detik, dia lalu menghilang di balik kegelapan lorong dan kembali melanjutkan waktu yang berjalan di sekitarnya



Tiffany mungkin benar-benar bingung akan kejadian yang baru menimpanya pagi tadi. Dia berusaha untuk melupakan itu, namun sekereas dia mencoba rasanya tidak akan mampu. Itu sangat di luar rasional. Di luar batas manusia untuk mengerti. Bahkan jika dia harus menggabungkan rumus kima atau apapun itu, rasanya sangat sulit untuk menemukan jawabannya.

Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri jika itu semua hanya mimpi belaka, namun saat itu dia benar-benar bisa merasakan dirinya yang masih bergerak dan bernafas di antara figur orang orang yang membeku. Tiffany bisa merasakan dirinya keringat dingin tadi. Langit semakin gelap dirasanya, dan yang lebih mengejutkan. Dia menangkap sosok gadis yang berdiri di penghujung lorong menatapnya dengan kedua bola mata keemasan yang berkilau. Sungguh di sayangkan dia tidak bisa melihat paras itu, karena pancaran kegelapan yang ada.

Tiffany mempertanyakan kewarasannya sekarang ini. Dia bingung harus mempercayai itu atau tidak, walaupun dalam hatinya ia yakin. Dia baru saja mengalami kejadian paling aneh yang pernah ada di sejarah hidupnya.

Dia tidak bisa menahan gejolak penasarannya akan sosok itu. Dia dengan jelas bisa melihat gadis itu yang menatapnya balik dengan tajam dan mengintimidasi. Dia ingin tahu, jika sosok itu mengetahui apa penyebab di balik itu semua. Dia penasaran jika gadis itu juga sedang di landa kebingungan dan tanda tanya seperti dirinya sekarang ini.

Sekarang disinilah dirinya. Hanya bisa terdiam di tengah-tengah kelas yang sedang berlangsung sangat tenang. Dia sama sekali belum mengenal siapapun disini, jadi tidak heran jika dia hanya duduk sendiri di bangku kosong yang terletak di dekat sudut ruangan.

Mungkin fisiknya sedang berada disini, namun jiwa fikirannya kini sedang melayang-layang mempertanyakan semua yang ada di kepalanya. Hari ini benar-benar aneh, pikirnya.

“Ssht!”Tiffany bisa merasakan bahunya yang baru saja di hantam oleh gumpalan kertas tipis.

 Lalu dia berbalik untuk menemukan dua orang gadis dengan cengiran lebarnya,

“Mau makan siang bersama?”


“Sialan!”Gadis itu membuka pintunya dengan kasar, membuat kedua temannya yang sedang merayakan kemenangan terlonjak kaget.

“Yah! Kim Taeyeon! Kau bisa mengetuk dulu sebelum masuk!”

Gadis itu lalu menatap kedua temannya jengah, dan mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk.“Lalu apa? Karna aku mengacaukan pesta kalian berdua?”

“Secara teknik, kita bukan sedang merayakan pesta. Tetapi karna balas dendam yang telah berhasil!”Sambar figure kecil yang mempunyai wajah imut sembari merobek kantung berisi cairan kental merah itu.

“Jadi, kau benar-benar membunuh Josh, Ji Eun?”

Gadis itu lalu tertawa puas, “Tentu saja. Aku bahkan merobek jantungnya terlebih dahulu.”

Sementara gadis berambut coklat yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan lalu ikut tertawa, “Kau benar-benar melakukan itu hanya karna dia menduakanmu?”

“Yah. Kau pasti juga akan melakukan hal yang sama sepertiku, Jessica. Jangan naïf.”

“Well, setidaknya aku tidak akan menyiksanya dulu seperti itu.Tapi tentu saja, manusia memang benar-benar memuakkan..”

Ji Eun lalu bangkit dari duduknya dna berseru, “Aku benar, kan!? Mereka tidak tau diri, kita sudah membiarkan mereka hidup dengan tenang. Kenapa terus membuat masalah!?”

Taeyeon hanya bisa mendengar percakapan kedua temannya yang sedang mempermasalahkan spesies tidak berguna itu. Manusia. Dia memang sedari awal benar-benar tidak menyukai ide dimana Ji Eun harus menjalani hubungan dengan makhluk itu.

Mereka begitu lemah, dan sangat manja pikirnya. Manusia adalah sesuatu yang dirinya selalu hindari. Bukan karena dia takut, namun dia hanya tidak ingin terlibat dengan mereka yang sangat merepotkan. Juga, Taeyeon, walaupun sudah hidup selama berabad-abad, masih sangat sulit untuk mengontrol emosinya untuk tidak merobek nadi di bawah kulit leher mereka, dan menghisap semua darahnya.

Dia memang vegetarian, atau dengan kata lain, dia hanya meminum darah hewan yang ada. Namun ada kalanya sekali dalam seminggu, dia akan kembali mengosumsi darah manusia karna kebutuhan hidupnya bergantung dari sana. Sebagian, terasa sangat biasa, namun tidak jarang dia menemukan itu begitu adiktif dan manis ketika dia menenggak darah milik suatu kalangan. Yang menginginkan Taeyeon dan kaumnya untuk punah.

Vampire Hunter. Memikirkannya saja sudah bisa membuat kepalanya sakit. Bagaimanabisa mereka masih berkeliaran di dunia yang di penuhi Vampire ini selama berabad-abad. Keturunannya seakan tak pernah habis mau berapa kali Taeyeon dan sejenisnya berusaha membantai mereka. Namun, dia dan yang lainnya menyadari, bahwa ini semua tidak akan pernah berakhir seberapa keras kedua belah pihak untuk mencoba.

Jadi, Kaumnya lebih memilih untuk bersikap tertutup dan bersembunyi di balik kegelapan awan, dan tidak membiarkan pemburu mereka mengetahui, bahwa mereka ada di tengah-tenah populasi manusia yang ada.

Bagi mereka yang masih terlihat muda, bahkan rela untuk mengulang sekolah berpuluh-puluh kali dan hidup berpindah-pindah. Seperti yang di lakukan Taeyeon, Jessica dan Ji Eun. Mereka sudah hidup selama dua ratus tahun lamanya dan tidak pernah sekalipun identitas mereka terbongkar. Memang ada potensi, tetapi sebelum itu terjadi. Mereka lebih dulu untuk segera meninggalkan tempat dimana mereka tinggal.

Masing-masing memang mempunyai keluarga sendiri. Taeyeon dan JiEun yang masih terikat darah saudara bertemu dengan Jessica yang dulu menjadi teman sekolah mereka bersama pada abad 18.

Awalnya sangat sulit untuk mereka mengikuti perkembangan jaman yang ada. Namun Taeyeon mulai bisa beradaptasi dengan bagaimana manusia akan bertingkah laku. Dirinya dan kedua temannya itu bahkan akan berpura-pura sedang memakan santap siang mereka yang merupakan menu makan manusia. Walaupun rasanya sangat ingin memuntahkannya kembali, mereka harus menahannya agar yang lain tidak curiga.

Tapi ketiganya akan dengan sekejap menghilang ketika ada tes pemeriksaan kesehatan. Karna yang seperti kita tau, mereka tidak memiliki darah yang mengalir, jantung berdetak, dan syaraf-syaraf yang berfungsi. Hanya ada kulit pucat yang terasa dingin ketika di sentuh, dan mampu terbakar jika mereka tidak menggunakan cincin yang menjaga mereka dari sengatan sinar matahari.

Mereka akan mengguyur wajah mereka dengan air agar terlihat berkeringat ketika mereka berolah raga. Ketiganya bahkan rela untuk terus menghadiri kelas yang ada, dan tidak menarik perhatian teman sekelasnya. Karna mereka tau, saat musim panas tiba ketiganya akan jarang datang ke sekolah karna sinar matahari yang terik. jadi mereka akan berusaha semaksimal mungkin agar terus datang ketika musim penghujan datang.

Namun, sangat menyebalkan bagi Taeyeon. karna tidak peduli seberapa keras dia mencoba untuk tidak menarik perhatian orang orang di sekitarnya, dia akan menemukan banyak pasang mata yang menatapnya ketika dia menembus angin dingin lorong sekolah.

Itu benar-benar membuatnya tidak nyaman ketika akan melakukan sesuatu.

Dia bahkan tidak tau apa penyebab banyak sorot mata itu selalu memandangnya.

“Jadi, ada apa denganmu tadi?”Tanya Jessica padanya yang kini hanya terdiam,

“Ya. Ada denganmu? Kau masuk kemari seperti orang kesurupan.”

Taeyeon berpua-pura membuang napasnya pelan, “Tidak ada.”

“Katakan saja, Taeyeon.”Ujar Jessica dengan nada seriusnya, gadis itu hanya membuang pandangannya dan menatap ke arah luar jendela.

“Aku bilang, tidak ada.”

Jessica hanya bisa terheran dengan suasana hati sahabatnya itu yang dapat berubah dengan cepat. Pertama kali dia mengenal Jieun dan Taeyeon, dia memang langsung bisa membedakan keduanya lewat sifat.

Taeyeon adalah figure yang memilih untuk diam dalam pembicaraan mereka. Dia tidak peduli terhadap apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Dia tipe-tipe yang akan lebih memilih untuk membaca buku ketimbang membicarakan hal-hal yang tidak begitu penting. Dia sedikit kasar dan begitu cuek. Sangat suka menyendiri. Dia hanya menjawab sepatah dua patah kata untuk pertanyaan yang di lontarkan kepadanya.

Sifatnya yang dingin itu memang membuat pesonanya melonjak dua kali lipat.

Walaupun begitu, dia mempunyai rasa peduli terhadap kaumnya yang sangat kental. Dia akan membela siapapun yang berusaha untuk memusnahkan sejenisnya. Apapun tantangan harus di hadapi, dan tidak peduli bagaimana cara yang harus di gunakan. Dia juga tak pernah memandang siapapun itu.

Sedangkan Ji Eun, yang merupakan sepupu Taeyeon. Mudah bergaul dengan siapa saja tidak terkecuali manusia. Bahkan dia telah mengencani hampir lebih dari seratus pria semasa kehidupannya sebagai makhluk beku ini. Dia hanya sangat menyukai rasanya mempermainkan manusia yang di anggapnya terlalu bodoh. Tidak tanggung-tanggung, dia pasti akan menghabiskan siapa saja yang pernah menyakitinya.

Namun karakternya yang sedikit ceroboh dan lucu, memang tetap mampu membuat banyak orang tak kenal takut ataupun jengah untuk lebih dekat padanya. Namun Jieun tetaplah Jieun. Walaupun dia mempunyai predikat playgirl atau gadis nakal, dia akan sangat marah jika mengetahui seseorang merendahkan Taeyeon ataupun Jessica.

Bagi Jieun, merekalah segalanya. Jadi, dia akan melakukan apapun untuk membuat keduanya tetap bahagia menjalankan hidup yang tak pernah ada akhirnya ini.

Lalu ada Jessica, dia jauh berbeda dengan Ji Eun. Dia adalah gadis yang kurang lebih seperti Taeyeon. Dia dingin, dan tidak terlalu memperhatikan sekitarnya. Namun ada beberapa aspek yang membedakannya dengan Taeyeon. Tidak jarang dia akan mencoba untuk beradaptasi dengan manusia di sekitarnya. Seperti ikut berpesta di malam hari, berbelanja di mall, dan mengukuti kegiatan-kegiatan yang ada di luar ruangan. Namun tetap, semua itu di lakukannya ketika musim penghujan datang. Dia adalah salah satu pemberi saran yang baik diantara mereka bertiga. Dia akan menjadi pendengar yang baik bagi orang yang sedang bercerita atau meminta pendapatnya,

Namun banyak sekali dari manusia yang ingin mengenalnya lebih baik. Biarpun begitu, tetap saja Jessica tidak pernah menjadikan mereka untuk menjadi teman dekatnya.dia lebih memilih untuk tetap setia bersama si Dingin Taeyeon dan Si Nakal Jieun.

Ketiganya memang di kenal sebagai dewi kecantikan di sekolah mereka. di tahun senior ini, tidak jarang untuk murid baru langsung jatuh hati untuk ketiganya saat pertama kali melihat mereka.

Mereka seperti bunga mawar melati yang bermekaran di tengah-tengah musim semi. Jika saja orang-orang disekitar mereka tau, bahwa mereka tidak akan pernah mati. Mungkin sjaa banyak dari mereka yang ingin di klaim oleh ketiganya untuk hidup bersama selamanya.

“Baiklah kalau kau tidak mau menceritakannya, Taeyeon..”Ujar Jessica pelan, lalu menyentuh lengan Taeyeon untuk merebut perhatian gadis itu.

“Ayo kita ke kantin.. Ini sudah jam makan siang.”Lanjutnya dengan intonasi yang lebih lembut,

3vampires


“Nah, kau tidak perlu repot-repot membawa makananmu dari rumah. Kantin ini cukup besar dan mempunyai menu yang enak setiap hari.”Jelas gadis jangkung itu sembari memasukan beberapa suapan makananya.

“Bukannya, kau yang sering membawa makananmu sendiri? Bahkan makan siang di kantin saja kau habiskan sampai piring-piringnya, Sooyoung-ah!”

Tiffany hanya bisa tertawa kecil melihat interaksi antara kedua temannya itu. Sedari tadi mereka berdualah yang selalu beradu argumen. Sangat berbeda dengan gadis yang satunya lagi, Seohyun.

Sooyoung, Sunny, Dan Seohyun. Tiffany merasa sangat beruntungkarna dirinya kini dapat berteman dengan ketiga gadis baik yang mempunyai karakter yang menarik. Dia sedaritadi mempelajari bagaimana kebiasaan dan sifat masing-masing dari ketiganya.

Sesekali dirinya akan tertawa di setiap candaan Sooyoung, bercerita dengan serius dan tenang bersama Sunny, dan menjadi orang yang berpikir kritis bersama Seohyun. Baginya, hari ini ternyata tidak berjalan sebegitu buruk. Jika akhirnya dia di pertemukan dengan mereka.

“Kau bercanda? Mana bisa aku memakan piring-piringnya!”

“Itu hanya ungkapan, Unnie.”Sambar Seohyun lembut,lalu tertawa pelan di ikuti oleh Tiffany.

“Dasar bodoh..”Tukas Sunny pelan, lalu menyikut Tiffany.

“Jadi, katakan. Apa alasanmu pindah kemari?”

Tiffany sempat terdiam untuk memikirkan jawabannya sebelum akhirnya berkata, “Aku hanya tidak merasa nyaman di sekolahku sebelumnya,”

“Benarkah? Kenapa?”

“Aku hanya tidak suka bagaimana murid-murid disana selalu mengintimidasi satu sama lain.”

Seohyun menautkan kedua alisnya, “Jadi, maksudmu mereka melakukan bullying, Unnie?”

“Semacam itu, lah.”

“Tapi kau tidak termasuk dalam daftar yang menjadi korban, kan?”Kini giliran Sooyoung yang ikut bebricara dalam topik mereka,

Tiffany menggeleng pelan dan tersenyum, “Aku beruntung untuk itu.”

“Lalu apa kau juga tinggal di dekat sini?”Tanya Sunny sekali lagi, dia hanya ingin menjadikan Tiffany sebagai salah satu teman baiknya. Dia memang tidak pernah menyukai ide dimana seorang murid baru harus bermain sendiri. Dan dia sangat senang bisa mengenal figur gadis ini yang periang.

Bagi Sunny, Tiffany adalah orang yang terbuka dan sangat mudah untuk di ajak bergaul. Dia menemukan dirinya yang kadang tersenyum saat melihat bagaimana setiap jawaban-jawaban Tiffany di penuhi dengan antusias yang besar. Dia seperti sosok yang tak pernah kenal lelah, dan selalu menyuguhkan senyumnya. Dia bisa mendengar nada yang begitu semangat dan penuh arti  dari gadis itu di setiap obrolan mereka. Tiffany adalah sosok yang hangat dan peduli terhadap orang lain. Karna itu juga, dia mampu membuat orang-orang sekitarnya, merasa sangat nyaman untuk terus berada di sekelilingnya.

Tidak terkecuali mereka bertiga.

“Ah aku. Tinggal bersama Ayah dan kakak laki-lakiku juga di dekat sini,”

“Wah! Kau memiliki kakak laki-laki!?”Sambar Sooyoung antusias,

“Apa dia tampan dan  seksi!?”Lanjutnya nya lagi, justru menerima pukulan kecil di kepalanya yang di berikan oleh Sunny dengan cuma-cuma.

“Yah!”

Tiffany dan Seohyun lagi-lagi hanya bisa terkekeh pelan melihat ini, bagiaman tidak. Keduanya begitu lucu ketika sedang berinteraksi, Tiffany diam-diam menyukai bagaimana takdirnya kini sedang berjalan. Dia bisa merasakan amtmosfir yang teduh dan hangat secara bersamaan sekarang. Mungkin karna figur-figur yang baik dan penuh dengan karakter kini berada di sekelilingnya.

“Maksudku, kau bisa lihat Tiffany. Dia benar-benar cantik! Apa kau tidak melihatnya!?”

Sunny memang tidak bisa memungkiri jika omongan sahabat konyolnya ini memang benar adanya. Tiffany memang begitu cantik. Dia mempunyai rambut yang lembut dan indah, proporsi tubuh yang pas, juga senyum yang sangat menawan. Dimana kedua matanya akan melikuk seperti bulan sabit ketika bibir itu menarik sudutnya untuk tersenyum. Atau tertawa.

“Jadi, akan sangat masuk akal jika dia mempunyai kakak yang tampan. Atau bahkan Ayah yang hot..”

“Puk!”Sunny kembali menjitak sahabatnya, “YAH!!”

“Bicara tentang kehot-an.. itu dia..”Sooyoung melemparkan pandangannya pada pintu masuk kantin. Ketiga temannya lalu mengikuti arah pandanganya,

Tiffany bukanlah satu-satunya yang kini merasa sangat terpana akan pandangan yang ada. Dirinya bisa menangkap figur seseorang yang sedang berjalan di antara kedua temannya dengan tatapan dingin. Tidak ada ekspresi sama sekali di wajahnya, semakin membuat daya tariknya tinggi.

Sedangkan kedua teman yang ada di sampingnya hanya saling tertawa dan bergurau satu sama lain.

Rambut hitam kecoklatan, kedua iris yang begitu menawan, bibir yang tipis, rahang yang memukau, juga tatapan yang tajam dan dalam. Tiffany tidak bisa membawa kewarasannya kembali karena sosok itu. Dia menemukan dirinya yang terdiam dan tak pernah menarik pandangannya dari figure itu yang kini semakin mendekat pada tempatnya duduk.

Disinilah dirinya, terpukau karena kecantikan seseorang yang begitu mustahil. Dia bahkan yakin bahwa dirinya masih tertarik pada seorang pria, namun nampaknya dia harus berpikir dua kali untuk itu.Gadis itu bahkan bisa membuat jantungnya berpacu sangat cepat bahkan dengan jarak yang sangat jauh. Tak pernah ia mengalami hal ini pada pria cute dan tampan yang di temuinya lebih dulu.

Dia bahkan merasa bisa tenggelam pada lautan pesona gadis itu. Namun, dia baru menyadari sesuatu.

Kulit pucat dan wajah mempesona itu kini seperti membawa sihir yang berbeda. Dia bisa merasakan aura misterius dan dingin yang ada padanya.

“Kim Taeyeon. Jika saja dia membuka sayembara seseorang untuk menjadi pasangannya. Aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengikutinya..”Ujar Sooyoung dengan menangkup wajahnya dengan kedua tangan, lalu terus memandangi gadis itu..

“Yah. Hati-hati, atau dua pengawalnya itu akan menghajarmu!”Tukas Sunny dengan intonasinya yang di pelankan,

“Aku tidak masalah jika di hajar oleh mereka berdua juga, Jessica dan Ji Eun juga benar-benar mempesona. Aku bertanya-tanya seperti apa tipe ketiganya, karna aku hampir tidak pernah melihat mereka berkencan, atau berbicara dengan murid lain.”

“Benar.. Ketiganya seperti sangat sulit untuk di jangkau.”Sambar Seohyun,

“Siapa mereka?”

Sooyoung, Sunny dan Seohyun lalu menatap Tiffany heran. Mereka benar-benar lupa jika gadis ini baru memasuki sekolah mereka hari ini. Jelas saja tampang polos penuh tanya itu terpampang jelas di wajahnya sekarang,

“Omo. Aku lupa kau adalah murid baru disini.”Kata Sunny lalu terkekeh,

Saat ketiga gadis yang mereka bicarakan itu sudah duduk di bangku mereka, Sooyoung lalu berkata,

“Yang berada di tengah tadi itu, Kim Taeyeon.” Ujar Sooyoung sembari menunjuk kecil kearah gadis yang semakin detiknya semakin dekat.

“Ya,ya aku tahu, dia begitu cantik, menawan, memuka,  rupawan, permai dan kau bisa mencari kata nomina lain yang cocok untuknya. Aku rasa semua orang mengetahuinya.” Tiffany hanya dapat terdiam mendengar perkataan Sooyoung, pasalnya ia terlalu sibuk memperhatikan gadis yang kini telah mendapat tempat mereka disudut ruangan, ia terlihat sedang berbincang kecil dengan kedua gadis lain yang bersamanya. Entah apakah alasan yang paling masuk diakal bahwa ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada mata redup itu.

“Itu Ji-Eun, ia sangat dikenal dikelas music. Satusatunya yang terlihat memiliki semangat hidup, kabarnya ia adalah sepupu dari Taeyeon. Semua pria cute yang nantinya akan kau kenal disini pasti sudah pernah mencoba mendekatinya, dan tidak ada dari mereka yang berhasil, terkecuali Josh. aku dengar ia berhasil membuat JiEun jatuh hati padanya, tapi itu semua sepertinya hanya rumor karena aku tidak pernah melihatnya dengan JiEun.”

“Ah! benar! Josh Hutcherson!” Seru Sunny mengingat kembali nama pria itu.

“Apakah kau mendapatkan kabar lainnya?” Tanya Sunny sekali lagi pada Sooyoung.

“Josh? Tidak, keluarganya sudah melaporkannya pada polisi.”

“Tunggu, ada apa dengan Josh-ini?” Tiffany terlihat begitu bingung kearah mana percakapan ini berlanjut.

“Josh sudah seminggu tidak diketahui keberadaannya. Terakhir kali teman setim-nya menemuinya di pesta milik Tyler, dan mereka tidak pernah menemukannya kembali sejak itu. Sekolah dibuat geger akan hal itu.”

“Bagaimana dengannya?”

“Ah. Dia Jessica, sungguh ia tidak jauh berbeda dengan Taeyeon. Ia terlihat begitu dingin, namun jika bersama Ji-Eun ataupun keduanya, kadang ia akan menjadi persis seperti Ji-Eun. Gadis itu adalah sahabat Taeyeon. Aku tidak pernah menemukan alasan yang cocok mengapa aku berpikir bahwa ia sangat dekat dengan Taeyeon. Dimana ada dewi itu disana selalu ada Jessica. Ini seperti mereka telah ditakdirkan selalu bersama-sama.”

“Ketiganya terlihat begitu familiar.” Ujar Tiffany, mata tidak pernah meninggalkan sosok itu.

“Familiar? Kau bahkan belum ada 24 jam berada disini.”

“Tidak seperti itu, aku seperti pernah melihat mereka disuatu tempat. Dan Kim Taeyeon terasa tidak begitu asing ditelingaku.”

“Mungkin kau pernah mendengar namanya dari seseorang, menurutku cukup wajar jika kita melihat dari sisi seperti ini. Lagipula, siapa yang tidak mengenal mereka? Maksudku, bahkan diluar Manhattan mungkin mereka juga dapat dikenali.” Sunny dan Seohyun hanya mengangguk menandakan bahwa mereka memiliki pendapat yang sama dengan Sooyoung.

“Ah, Eonni kau pasti sangat bingung sekarang.” Ujar Seohyun pada gadis brownie, sesekali terkekeh kecil.

“Satu hal yang selalu membuatku bertanya-tanya Eonni.”

“Ketiganya terlihat begitu pandai dalam mata pelajaran Sejarah.”

“Ne!” Sooyoung dan Sunny tidak dapat lebih setuju akan hal itu.

“Benar! mereka bagaikan perpustakaan berjalan. kau harus melihat ketiganya ketika dikelas Ms. Avenir, Tiffany. sangat lucu ketika Taeyeon membalikkan beberapa fakta perang Puerto Rico pada 1898 dan membuat guru itu terlihat seperti orang kehabisan akal.”

Tiffany tetap bungkam. Sesungguhnya ia sangat sulit untuk mencerna apa yang sedang terjadi hadapannya kini. Aura kelam yang dirasakannya akan ketiga sosok itu semakin mendesir kuat, meninggalkan sejuta pertanyaan yang ia sendiri bahkan tidak tahu kapan akan terjawab. Sosok gadis berambut coklat itu benar benar tidak asing baginya, bagaimana mata redup itu seperti menyiratkan sesuatu yang begitu gelap.

“Percayalah Tiffany, apapun pertanyaan yang ada di kepalamu sekarang, tidak akan pernah ada yang dapat menjawabnya.” Suara Sunny membangunkannya dari pikirannya yang sudah terlalu jauh.

Tiffany menarik sudut bibirnya, ia tidak akan membiarkan hal aneh seperti ini menghalangi hari pertamanya disekolah ini, lagipula ia sama sekali tidak ingin ikut campur tangan kedalam urusan orang lain.

Tiffany mengalihkan pandangannya pada ketiga gadis yang sepertinya akan menjadi sosok yang akan ia habiskan waktu bersama ketika selama ia disekolah ini. Ia perlahan kembali mendengarkan percakapan ketiga gadis itu kembali, sesekali melahap sandwich buatan kakaknya yang begitu lezat.

Detik kemudian, semua ini terasa aneh. Tiffany merasakan seseorang disekitarnya sedang menaruh perhatian penuh padanya, dan ia tidak merasa nyaman akan hal itu.

Sampai ia mengedarkan pandangannya pada sudut ruangan ini, entah mengapa hati dan matanya hanya berbalik begitu saja, entah mengapa ia harus mengalihkan pandangannya lagilagi kesudut ruangan.

Dan disana, mata madu Tiffany bertemu dengan kedua iris itu.

Iris milik seorang gadis yang sedari tadi berlari di kepalanya. Ia tidak mengetahui persis mengapa ia merasakan sensasi yang sangat sulit dijelaskan ketika kedua matanya beradu dengan milik gadis itu.

Ada sesuatu didalam kedua bola mata hitam itu yang menariknya untuk terus berlama-lama memperhatikannya. ada sesuatu dikedua bola mata itu yang membuatnya merasakan aura yang begitu dingin namun entah bagaimana bersamaan terasa begitu nyaman untuk menatap lamat-lamat kedua iris redup itu.

Detik kemudian, Tiffany dapat menangkap jelas bahwa sosok itu, tersenyum tipis padanya. Senyum yang terlihat tidak begitu asing baginya.

“Who are you, Kim Taeyeon?” desisnya.


How was the story so far? 

Do you guys like it?

please leave a comment and tell us what you think. 

Advertisements

84 thoughts on “CLOSER CHAPTER ONE BY JAZZATTA

  1. jd ingetin Twilight ver taeny gw tau selanjutnya pasti beda thor, dan pasti banyak ketegangan di chapt2 selanjutnya, fiksi ahhh >< suka apa lg tae cocok ngt jd vampire

    Like

  2. Menarik thor ceritanya, berasa nonton drama orange marmalade 😆
    Jangan lama2 thor updatenya 😭😭
    Di tunggu lanjutan confused sama mistakes 😂🙏
    Annyeong!

    Like

  3. woahhhh … vampire story ??? TaeNy lg …hehe
    I LIKE THAT … *nyanyi ala sistar*

    Wihhh please author jazzatta … kalo bisa apdet nya jangan lama2 ne …
    uhhh udah ngeh banget ama nih cerita …
    gw suka banget ama hal2 yg berbau vampire kek gini …

    hehe di tunggu next chap nya … hehe

    Like

  4. Woaahh pertama kali kirain yg jadi vampire si fany ternyata taeyeon. Heeemmm udh ketebak nih kaya nya cerita nya. Jadi marga yg keturunan hwang musuhan kaya nya sama spesies vampire. Apalagi udh di kasih clue isi kotak yg ada pistol dan seperti nya alat penakluk vampiree.. (ini hanya pemikiran ane )Jirrr gk sabar nihh greget jugaaa wkwkwkkw semoga cepat update yaak jazzatta. Di tunggu lohh apalagi mistake nyaa hohoho💋😆😘❤

    Like

  5. wah taeng benci manusia’ya, tp dengan ppany tidak kan
    kayanya taeny nanti saling jatuh cinta, tp perpedaan mereka nanti jd penghalang yg satu vampire yg satu penangkap vampire

    Like

  6. Yipppiiiiwwwww ff baruu
    Seger nih ceritanya, tae jd vampir dan fany hunter nya lalu mereka jatuh cinta
    Rumittt dah pasti tp gue percaya sama author wkwkwk
    Semangat thor!😘😘😘😘

    Like

  7. Bakalan keren kayaknya nih. Versi taeyeon cullen n tippany swan. Hahaha
    Ceritany bnr2 dimiripin sm twilight gt yaa thor?? Tp keren kok. Trs nnti ada yulsic jg g thor?? Biar jessica nya gak sendirian, hihihi

    Like

  8. kalau ga gara-gara owner yg super duper bawel mungkin aku gak akan tau wp ini, apa hub kalian dengan owner LS?
    ini cerita vampire, aku suka itu tapi btuh proses yg cukup lama untuk memahami setiap katanya wkwkwkwk bhsnya sangat tinggi author…
    thor sempt ngotak ngatik tadi kan d list FF ada judul yg chap, nah chap yg lain sulit d temukan… kalian benar benar kembar thor?

    Like

  9. ill answer the questions.

    good. so good. really good. to good. and the important ones is: its, warbasyah. how to tell warbasyah in english? xtraordinerih?

    i like it.

    i think it will be the great one.

    hwaiting^^

    Like

  10. lgs inget twilight hhahaha. keluarga fany vampire hunters ya? tp pasti fany blm dikasi tau apa” sama appa nya. kyk nya bakal pjg ini critanya. gw msh nunggu kelanjutan mistake nih

    Like

  11. apapun yg jazzatta tulis pst suk laaah plg q sk vmpire bhs klian tu tinggi lho kdang klu q ngobrol sk pke kta puitis kalian hhhh intiny q jg bs blajar bbrp hal lwt ff kalian. mksih ff ny sehaat sukses bhagia sll jazzatta FIGHTIIIING!!!!

    Like

  12. Kayaknya ini author nya terinspirasi dari twilight, van heil sing Dan Abraham Lincoln. Bagus lah author. semangat nulis biar reader semangat ngomen. Bahasa nya yang tingkat tinggi,menambah nilai plus. Fighting!!

    Like

  13. woahh cerita nya ttg vampir2an yaa thor..
    seruuu nih kyknya.. hehehe
    siapa yg bs nolak pesona nya vampir taeng..hahaha pany aja smpe gak bsa merem..
    oyaaa thor jgn lupa lnjtn mistake nya yaa..
    udh penasaran bgt sma klnjtn cerita nya..
    ^_^

    Like

  14. Wahhhhh .bru awal ajja uddh keren gini.. si Tae emg cocok kalo uddh.jdi. vampire ..
    Dan si Fany ko kaya kenal gtu sama Tae ??
    Okeh semangat terus ^_^

    Like

  15. wow wow woww sepertinya bakal seru ni ceritaaanyaaaaaa yeaaahh setelah hp rusak dan gk bisa fanfiction selama 2 minggu akhirnya bisa baca senangnyaaaaa
    pasti bakal selalu di tunggu updatetan jazzatta

    Like

  16. hihihi bazenggg ff nya dpet bgt feel’y 😁
    keren bgt thor crita’y, dri awal baca gue udh senyum” gaje sma tngkah laku si tatang haha :v
    tiffany jg gak klah agresif, gue demen bgt klw tiffany udh ngegodain laki’y yg tingkat byun’y udh stadium akhir haha😂
    tpi syang, knp scene yg di tunggu” malah kgak nongol, di chapter brikut’y lu janji ya thor bkan kasih adegan yg paling hot kekekekeke 😅

    Like

  17. mian thor, komen gue diatas slah alamat hihi mau di hpus jg gue kgak ngerti gmna ngehapus’y 😭
    /ini komen yg bner’y thor/
    Huaaaa crita’y keren thor, klw masalah vampir, taeyeon emang yg pling cocok

    Like

  18. cool taeyeon, i like it!
    hubungan yg rumit lgi, penasaran pertemuan taeny yg selanjutnya.
    fighting jazzatta!!

    Like

  19. vampire! kim taeyeon is a vampire!
    and hwang family is vampire hunter!
    oh goodness,,,
    mgkn kaga sih salah satu dr temen baru nya ppany vampire hunter jg???

    Like

  20. maafkan reader mu ini thor..lupa komen di ff ini..
    taesic jieun jadi vampir cantik..aq mah mau aja jadi korbanx hehehe..
    apa fany jadi pembunuh vampir?trus jatuh cinta gitu?
    ini menarik banget

    Like

  21. Keren bgt,tae jadi vampir dan keluarga fany jadi vampire hunter,kalung yang di berikan pada fany itu jadi pelindung fany dari pengaruh vampire yaa kayaknya??aku jadi penasaran apakah fany akan memburu dan membunuh vampir termasuk tae???atau tae akan membunuh fany karena keluarga fany adalah vampire hunter yang memusnahkan jenisnya tae???

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s