MISTAKES CHAPTER NINE (FINAL) BY JAZZ

typo2 yang ada tolong di maklumin ya… aku ngetiknya rada buru2.. 

jazz


“Taeyeon-ah..”

Tiffany lalu bangkit dari duduknya. Dia masih tidak dapat mempercayai apa yang sedang pandangannya tangkap kini. Rasanya seperti waktu yang terhenti hanya untuknya sekarang.

Tanpa sadar dia kembali menjatuhkan air matanya ketika sorotan itu kini sudah berhasil tertuju padanya. Tiffany mendekatkan wajahnya pada Taeyeon. Kini wanita itu sedang menatapnya damai, ekspresinya begitu tenang. Sementara Tiffany merasakan pandangannya yang kabur akibat air mata,


Telapak tangannya mendarat halus di permukaah wajah Taeyeon. Kini jarak paras mereka begitu dekat,

Tiffany bisa merasakan sesuatu yang mendobrak lagi di dalam hatinya. Air mata itu kini semakin mengalir dengan deras ketika dirinya berhasil melihat senyuman Taeyeon lagi, kini. Tanpa sengaja satu tetesnya hatuh tepat di pipi halus Taeyeon.

“Uljima..”Ujarnya sangat pelan, namun Tiffany dapat dengan jelas mendengarnya. Tiffany bisa merasakan kebahagiaanya yang memuncak sekarang,

rasa khawatir yang sebelumnya menggerogoti hampir seluruh hatinya, kini mampu lenyap hanya dengan melihat sosok itu dengan tatapannya yang sangat damai,

Namun rasanya, air mata tak mudah untuk di hentikannya. Tiffany justru merasakan tangisnya yang mengalir semakin mengalir deras,

Dia lalu kembali mengusap lembut wajah Taeyeon, memperhatikan setiap lekukan parasnya yang sempurna, walau dalam kondisi yang tidak baik sekarang. Tiffany bisa merasakan sesuatu yang hilang dari bagian hidupnya kini kembali menyatu. Dan dia tidak perlu lagi memikirkan alasan di balik semua itu,

Jawabannya hanyalah satu.

Taeyeon.

Sosok itu mungkin tidak akan pernah tau, bagaimana Dia sangat mencintai dan rela untuk melakukan apapun deminya. Tiffany tau, dengan hanya mengatakan sepatah, dua patah kata tak akan mampu memhentikannya. Jadi dia memutuskan untuk menaruh penuh perasaan cinta dan kasihnya di dalam wadah hatinya yang hanya tersedia hanya untuk, Taeyeon.

Tiffany bahkan rela untuk terjun ke dalam jurang bersamanya, jika itu memang jalan takdir yang harus di lewatinya dengan Taeyeon. Dia begitu bodoh untuk tidak menyadari itu semua di masa lalu. Tiffany tidak bisa memikirkan hal yang lebih baik, daripada mendapatkan kembali figur Taeyeon di dekapannya.

Dia begitu merasa lengkap sekarang, kebahagiaan itu meluap-luap di ulu hatinya. Tiffany tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya akan lebih hancur ketika mengetahui sosok Taeyeon tak ada lagi di sampingnya. Dia tidak tau lagi bagaimana cara menghadapi Dunia ini, jika tidak ada Taeyeon di dalamnya. Dan dia tidak mau merasakan itu lagi, tidak ingin tenggelam dalam lautan kesedihan yang begitu dalam, ketika sosok Taeyeon beranjak dari sisinya.

Tiffany mencium kening Taeyeon lembut, menumpahkan semua rasa kehilangan, bahagia, haru, dan sedih dalam kecupan itu. Menahannya agar lebih lama disana, berharap Taeyeon bisa merasakan semua rasa yang sedang menyergap hatinya sekarang.

Berharap Taeyeon tau, bahwa dirinya tak akan kemana-mana lagi.

Berharap dia tau, bahwa meninggalkannya dulu adalah kesalahan terbesar yang ia ambil dalam hidupnya.

Agar sosok ini tau, bahwa kini dirinya rela untuk melawan seluruh dunia, untuk memperjuangan cinta yang begitu kuat untuknya. Walaupun seisi semesta menentang mereka.

Tiffany lalu menyatukan kening mereka, dia bisa melihat kedua bola mata Taeyeon yang hangat itu. Dia sangat merindukan tatapan yang di miliki orang ini. Bola mata coklat madu yang begitu memikat, walau tampak sayu. Tiffany tidak pernah menemukan sorot mata yang menjadi sumber kebahagiaanya di orang lain, dia hanya menemukan itu semua di satu orang yang kini berhasil kembali dalam hidupnya. Untuk waktu yang ia tau, akan sangat lama.

“Gomawo, Taeyeon-ah..”Ungkapnya pelan,

“Untuk kembali..”

“Aku benar-benar berterima kasih.”

Tiffany memejamkan kembali matanya mencegah agar air matanya kembali jatuh. Namun itu semua sia-sia,

“Aku.. Begitu merindukanmu.”Tambahnya setelah kembali membuka mata dan beradu tatap dengannya lagi. Tiffany mengatakan itu semua dengan keteguhan hatinya selama ini.

Dia merasa lengkap sekarang.


Tiffany tak henti-hentinya menciumi punggung tangan wanita yang kini telah membuka matanya, sesekali memejamkan matanya berharap seseorang memberi tahunya. Bahwa ini semua telah nyata. Orang itu sudah bangun, dan bahkan tengah menatapnya damai sembari tersenyum tipis.

“Pany-ah..”Panggil wanita itu pelan, tanpa menghabiskan waktu Tiffany bangkit dari duduknya dan menatapnya dengan wajah sedikit khawatir,

Wae? Apa kau merasakan sakit, Tae?”Tanyanya cepat,

Taeyeon hanya tertawa pelan di balik selang pernafasannya, dalam diamnya dia merasa bersyukur atas kehadiran Tiffany disini. Dia mungkin belum mengetahui bahwa gadis itu sebenarnya tak pernah beranjak sedikitpun, tetapi yang Taeyeon tau, dia selalu bisa merasakan raga Tiffany yang tak pernah meninggalkannya.

Dan mungkin, hanya mungkin. Taeyeon berpikir bahwa Tiffany bisa pergi kapan saja, tetapi ia berdoa dalam hatinya, jika itu semua benar. Ia berharap waktu akan melambat untuknya, dan membiarkan dia merasakan bahagia yang damai. Walau hanya untuk sebentar. Seperti sekarang ini. Bersama Tiffany.

Ia tidak peduli jika Tiffany masih menjadi milik orang lain, atau bahkan jika seisi dunia sedang berusaha merebutnya sekarang. Taeyeon tidak bisa memikirkan hal yang lebih baik daripada berada di genggaman Tiffany. ia hanya tidak ingin ini berlalu begitu cepat dan kembali menghadapi hari esok dimana tidak ada wanita itu di hidupnya.

Aniyo..”Jawab Taeyeon masih tersenyum tipis, diam-diam ia menyukai wajah khawatir Tiffany yang ia paparkan sekarang.

“Kau membuatku khawatir,”Balas Tiffany lalu menjatuhkan kecupan singkatnya di dahi Taeyeon dengan lembut,

Wanita di bawahnya bisa merasakan bagaimana ketulusan seorang dokter cantik itu sekarang, ia bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang dulu pernah hilang. Kini langsung menyelimutinya dengan berbagai perasaan baru yang bahkan ia tidak bisa mengerti. Taeyeon tidak bisa mengharapkan lebih selain bersyukur untuk itu.

Namun tiba-tiba telfon genggam Tiffany berdering,

“Aku sedang berada di ruangan Taeyeon.”

“Apa?”

“Baiklah aku akan segera kesana,”

Tiffany menutup pembicaraanya dan menatap Taeyeon sekali lagi. dia lalu kembali mendekatkan wajahnya dan mengusap permukaan halus pipi Taeyeon lembut, sentuhan itu mampu membuat Taeyeon yang lemah merasakan seluruh darahnya seperti berhenti berdesir.

“Aku akan segera kembali, Tae.”Ucap Tiffany pelan lalu tersenyum, sementara Taeyeon hanya mampu menganggukan kepalanya pelan. Tiffany mulai melenggang keluar ruangan,


“Itu tidak adil, Direktur! Anda sendiri tau, Tiffany telah menyelamatkan presiden kita!”

“Saya tau, kau bisa duduk kembali, Yuri-shi.”

Sementara wanita yang sedang di bicarakan kini hanya bisa terdiam berdiri di hadapan banyak orang yang kini sedang memperdebatkan kelanjutan karirnya.

“Seperti yang kita tau, Tiffany-euisa telah menggunakan metode operasi yang bahkan sudah tidak terpakai lagi. metode yang sungguh berbahaya, yang bahkan tidak ada dokter dimanapun yang berani untuk melakukannya. Resiko yang ada sungguh besar, dan nyawa presiden di pertaruhkan.”

“Metode SAVER. Adalah metode yang sudah tidak di perbolehkan di dunia medis, dimanapun. Seperti yang kita tau, sebagai dokter dia harusnya juga mengetahui batas-batas yang ada.”

“Dengan catatanTiffany-euis ayang pernah terlibat malpraktik juga memperburuk situasinya sekarang.”

“beliau telah di nyatakan melanggar janji hokum medis yang ada.”

“Untuk saat ini, pertemuan kita akhiri. Keputusan akhir akan di sampaikan untuk pecan depan.”


“Aku kembali,”Gadis itu lalu menutup pintu yang ada di belakangnya dan kembali melenggang kea rah tempat tidur pasien. Wanita yang terbaring disana lalu hanya bisa tersenyum lemah memandangnya,

Diam-diam dia merasakan bahagia yang membuncah di dadanya. Ia dapat melihat paras itu lagi, dia bisa merasakan telapak tangan hangat itu lagi untuk yang ke sejuta kalinya. Jika ini adalah mimpi siang bolong yang menghampirinya lebih dulu. Taeyeon berdoa agak dirinya tidak di bangunkan dari mimpinya.

“Hayeon dan Jessica akan datang sebentar lagi,”Tambahnya kini sudah membelai pipi Taeyeon lembut, dia tatap lagi kedua bola mata nanar itu yang kini menatapnya rapuh,

“Aku merindukan mereka,”

“Aku tau..”

“Aku juga merindukanmu.”

Tiffany tersenyum akan itu, “Tapi aku disini sekarang,”

“Dan aku tidak berencana untuk meninggalkanmu lagi,”Ucap Tiffany lalu mengecup keningitu lembut. Menahannya lebih lama disana,

benar.. meninggalkan tempat ini tidak akan membuatku berniat untuk meinniggalkanmu lagi, Taeyeon-ah..

“Gomawo, Fany-ah..”

“Ada apa denganmu.. Kau sudah mengatakan itu lebih dari dua kali hari ini, Taeyeon..”Katanya terkekeh pelan,

“Aku hanya tidak bisa berhenti mengucapkan itu.. Aku tidak percaya kau masih disini..”

Tiffany lagi lagi merasakan ruang hatinya yang seketika terasa begitu teduh dan nyaman, untuk kembali bisa melihat kedua mata Taeyeon yang terbuka lagi. Untuk mendengar suaranya yang dalam, juga senyumnya yang hangat. Tiffany hanya bisa bersyukur untuk semua itu.

“Aku tidak pernah meninggalkan sisimu, Taeyeon-ah..”


“Jessica Unnie benar. Kau harus tau berapa lama kau tidur, Taenggu-yah!”Seru Hayeon sembari tak pernah melepaslan genggamannya pada telapak tangan sang kakak,

“Itu membuatku benar-benar takut, jika kau tidak akan membuka matamu lagi,”Tambahnya kali ini dengan nada sedih yang bisa di rasakan oleh Taeyeon.

wanita itu tersenyum lemah, lalu memandang Jessica yang kini tersenyum padanya.

“Tapi aku sudah bangun sekarang..”Jawabnya pelan,

“Aku tau. Dan aku bersyukur untuk ini.”

Jessica yang menyaksikan interaksi antara adik kakak yang sudah lama tidak di temukannya hanya bisa terdiam, dan berdoa dalam hatinya. Agar keduanya di berikan kebahagiaan yang melimpah, sebesar mereka melewati berbagai rintangan berdua.

Dia diam-diam juga sangat betrimakasih pada Surga, karna telah membawa Taeyeon kembali padanya. Pada orang-orang yang sangat menyayanginya. Ia begitu bahagia mengetahui bahwa Taeyeon telah tersadar dari tidur panjangnya. Dia begitu merindukan sosok itu, jadi tidak heran ketika ia memasuki ruangan ini. Tangisnya seketika pecah, karena mendapati Taeyeon yang tengah menatapnya hangat.

Dan ia tau, bahwa Taeyeon akan kembali untuk hal yang nyata sekarang. Walaupun semuanya tidak akan berjalan sesuai yang di harapkannya. Kebahagiaan Taeyeon jauh lebih utama di banding semua yang ia miliki.

Sekarang, tugasku sudah selesai.

Kurasa, kita harus menutup halaman kita, Taengoo-ah.

Kau harus memulai judul baru bersama Tiffany.


Taeyeon memang tengah memejamkan matanya untuk beristirahat. Namun belum sepenuhnya dia berada di alam tidurnya. Ia yakin, dirinya masih bisa merasakan sesuatu yang hangat kini tengah menggenggam telapak tangannya yang dingin.

Dan dia masih mengetahui, bahwa alat pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Dia dengan jelas dapat mendengar isakan tangis seseorang yang terdengar sendu. Sampai dia bisa merasakan butiran air hangat kini sudah jatuh di keningnya. Dia begitu penasaran dan rasa untuk membuka kelopak matan begitu mendobraknya.

Pandangannya yang agak kabur dapat menangkap paras yang kini menghalangi sinar bulan yang ada. Wajah yang selama ini menjadi gambaran indah di dalam hidupnya. Wajah paling teduh dan hangat yang pernah ia lihat di hidupnya. Kini sedang menatapnya sayu.

Memorinya kembali memutar dimana dia juga mengalami hal yang sama seeperti sekarang ini.

Hari dimana dia juga membuka mata untuk menemukan sosok Tiffany yang sedang menyambutnya dengan senyuman di bawah mentari pagi. Dan kini dia mendapatkannya lagi di bawah sinar rembulan.

Kedua bola mata madu itu tak pernah berubah. Tak pernah gagal untuk membuat jantungnya berpacu sangat cepat. Sorotan itu juga merupakan satu-satunya hal yang bisa ia pandangi hingga akhir hidupnya. Taeyeon bisa melihat luka dan bahagia yang tersirat di bawah pengawasannya.

Tiffany menangkup wajahnya, dia tersenyum tipis. Berusaha menahan air matanya agar tak terus berjatuhan dan mengenai permukaan wajah wanita yang sangat di cintainya. Yang kini tengah menatapnya penuh ketulusan,

“Maaf aku mengganggu tidurmu, kembalilah tidur.”Ucapnya pelan,

Taeyeon lalu tersenyum dan menggeleng pelan, “Kau tidak menggangguku.”

Wanita itu lalu membalas senyumnya dengan mengecup kening itu sekali lagi, sebelum akhirnya kembali menatap mata itu.

“Go back to sleep baby, im here.”

Dengan itu, Taeyeon bisa merasakan kedua kelopak matanya yang perlahan berat. Suara lembut Tiffany memang tidak pernah gagal untuk membuatnya merasa sangat nyaman. Dalam setengah sadarnya, dia bertanya-tanya kenapa wanita itu menitihkan air matanya. Dia bahkan masih sempat melihat kedua mata Tiffany yang sembab. Seperti habis menangis untuk waktu yang lama,

“Sh.. Sh…”Taeyeon bisa merasakan tangan itu yang membelai rambutnya dengan gerakan perlahan,

Dia perlahan kembali memejamkan matanya dengan tenang, sebelum untuk terakhir dia bisa menangkap suara wanita itu dengan sangat samar mengatakan,

“I love you..”


“Kau harus tau, Taeyeon.. aku berkata begini sebagai teman Tiffany..”

“Katakan,Yuri-sshi.. Ada apa sebenarnya..”

“Kau pasti tau, kan? Siapa yang menjadi pemimpin jalannya operasi terakhirmu..”

“Tentu saja.. Itu Tiffany, kan? Aku benar-benar berterima kasih untuk kerja keras kalian..”

“Kau seharusnya hanya berterima kasih pada wanita itu. Taeyeon-sshi.”

“Apa maksudmu, Yuri-sshi?”

“Hari itu.. hari operasimu.. tiba-tiba kondisimu memburuk hingga tidak memungkinkan untuk mu melanjutkan sesi operasi..semua orang di ruangan itu sudah kehilangan harapan. Bahkan professor dan kepala departemen yang mengawasi juga sudah mengatakan bahwa kita harus menyerah. Sudah tidak ada celah untukmu kembali, Taeyeon-sshi..”

“A..pa.. yang k..kau bicarakan?”

“Tapi.. gadis bodoh itu.. dengan segala rasa penyesalan juga rasa cintanya untukmu. Dia telah membalikkan harapan yang sinar itu. dia membuka celah kecil itu lebar-lebar dan membuat jalanmu kembali.”

Taeyeon hanya bisa mendengarkan semua perkataan dokter wanita ini yang merupakan sahabat dari Tiffany. Dia terdiam sembari berusaha mencerna hal-hal yang baru saja menerobos masuk ke dalam gendang telinganya.

“Saat semua orang berkata bahwa kita harus menghentikan operasi. Dia memohon pada kita untuk tetap tinggal. Dia memutuskan untuk melanjutkannya walaupun kesempatan yang ada begitu tipis, dan resiko yang mungkin di tanggung sangat besar.”

“Dia, dengan segala keyakinanya untuk membawamu kembali. Memutuskn untuk melakukan metode saver. Metode yang sudah tidak di pergunakan lagi karena peluang untuk berhasil sangat kecil. Tiffany tau betul, apa yang akan terjadi jika rencananya tidak berhasil. Selain dia bisa kehilangan pekerjaanya karna melakukan itu, lebih buruknya. Dia bisa kehilanganmu sewaktu-waktu.”

“Namun hari itu, dia berhasil membuat semua orang yang menyaksikan tindakannya hanya bisa terbungkam. Karna pada akhirnya, gadis yang sangat menginginkanmu kembali. Mampu membalikkan keadaan. Dia dengan seluruh tekadnya dan kemauannya yang kuat, berhasil menyelesaikan operasi yang semua orang bilang mustahil. Dia berhasil menyelesaikannya dengan sangat sempurna.”

Taeyeon hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara tangis yang ada. Dia memejamkan matanya, merasakan sakit yang meluas di sekitar dadanya. Satu tangannya hanya bisa mencengkram bagian jantung yang di lapisi kain tipis itu.

Fany-ah..

“Kau harus melihat bagaimana bahagianya dia setelah melihat detak jantungmu yang kembali.. kau harus melihat senyum itu yang mengembang ketika kondisimu dinyatakan stabil.”

“Kau bisa menganggap semua omonganku hanya karangan belaka, tetapi.. gadis bodoh itu benar-benar mempertaruhkan segalanya karna dia mencintaimu..”

“Termasuk mimpinya.”

Taeyeon lalu menatap wanita itu dengan pandangannya yang kabur akibat air matanya yang berjatuhan,

“A..pa.. yang kau katakan?”

“Tiffany selalu ingin menjadi dokter yang hebat semasa kecilnya. Dia berusaha untuk meraih mimpinya dengan segala hal yang dia punya. Hingga dia bisa seperti sekarang ini..”Wanita itu tersenyum setelah menyelesaikan kata-katanya.

Yuri sesekali menghapus butiran hangat itu dari pipinya, menyingkirkannya dengan punggung tangan,

“Tetapi karna keputusannya untuk menggunakan metode itu. tampaknya akan menghancurkan karirnya yang selama ini dia bangun sendiri. Tindakannya di sesi operasimu membuat komite etis dan dewan rumah sakit berpikir untuk memberhentikannya..”

“Dia telah melanggar peraturan medis yang ada.. dan sekarang semua orang sedang dalam perjalanan untuk menghancurkan mimpinya.”

“Rasa cintanya untukmu berhasil membawanya ketitik ini. Namun juga, mampu membutnya berada dalam situasi yang tidak menguntungkan..”

Yuri yang ada di hadapan atasannya, atau Taeyeon. kini hanya bisa menatap wanita itu yang tengah terisak keras dengan penuh harap.

“Taeyeon-sshi.. aku tidak pernah meminta banyak dalam hidupku..”

“Tapi.. Aku mohon, bantulah Tiffany untuk kali ini. menjadi dokter adalah salah satu mimpinya yang telah terwujud dengan banyak pengorbanan. Dia tidak bisa membuang ini begitu saja..”

“Sekarang giliranmu, untuk menyelamatkannya dari mimpi buruk..”

 


Taeyeon yang berjalan tergopoh sembari menyeret alat infusnya. dia kini berhasil berdiri di depan pintu ruangan seseorang. Sepanjang perjalananya, dia bisa merasakan sakit yang terasa begitu perih mengelilingi ruang hatinya. Air matanya berjatuhan dalam setiap langkah demi langkah yang ia ambil.

Hanya satu nama yang kini berlari di pikirannya, dan dia adalah orang yang sangat berarti. Yang rela untuk melepaskan mimpi yang ia bangun. demi kesembuhannya. Taeyeon tidak pernah tau akan hal ini, sosok itu tak pernah mengatakan apapun. Dan itu sangat menyakitinya.

Bagaimana bisa dia tertawa dalam kebahagiaanya karna telah mampu untuk membuka kedua matanyalagi. Sedangkan figure itu sedang bertarung dengan segala rasa sakitnya untuk menghadapi masa depan yang mungkin ada. Tiffany menyimpan semuanya sendiri karena tidak mau membebankan Taeyeon yang baru saja sembuh, dan dia melakukan itu semua begitu tulus semata-mata hanya demi kebahagiaan Taeyeon.

Dan Taeyeon merasa sangat buruk karena tidak berada di sampingsosok itu untuk mendengarkan ceritanya dan menjadi sosok yang lebih berarti. Dia ingin Tiffany tau bahwa, dia juga ingin mengambil peran yang besar di dalam hidupnya. Taeyeon ingin Tiffany tau bahwa dia juga, mau menjadi sosok yang berarti yang bisa menghadapi semuanya bersama. Dia ingin Tiffany tau bahwa dirinya tidak akan kemana-kemana. Tidak, setelah apa yang mereka berdua telah lalui.

Tidak, setelah keduanya mengorbankan semua yang mereka miliki untuk kebersamaan mereka. demi figure masing-masing yang ingin saling memiliki.

Untuk waktu yang sangat lama

“Taeyeon-ah!”Seru Tiffany bangkit dari duduknya setelah pintu ruangannya terbuka, dan terlihat sosok Taeyeon yang kewalahan untuk menjaga keseimbangannya. Di wajahnya bercampur keringat dan air mata yang menyakitkan untuk di pandang Tiffany.

Sebelum Taeyeon tumbang, Tiffany lebih dulu menangkap sosok itu untuk di dekapnya. Dia mengeratkan pelukannya pada sosok ini yang begitu nekat. Melihat kondisi Taeyeon saat ini, mampu berhasil membuat tangisannya pecah begitu saja.

Taeyeon hanya tersenyum tipis dan menenggelamkan wajahnya pada helaian rambut wanita yang sangat di cintainya.

“Apa yang kau lakukan, Taeyeon-ah.. kau tidak bisa seperti ini..”

“Kau belum pulih..”Tiffany terisak pelan sembari membelai rambut hitam panjang Taeyeon,

namun gerakannya selanjutnya, berhasil membuat Tiffany sedikit terkejut. Sosok ini perlahan melepaskan dekapannya dan dengan susah payah dia berhasil menangkup wajahnya. Tiffany menyentuh telapak tangan dingin itu yang kini berada di wajahnya,

dia kembali menangis setelah mendapatkan sorot mata itu yang di penuhi kekhawatiran dan luka.

“Kau.. tidak bisa.. menyimpan semuanya sendiri.. Tiffany..”Katanya terbata, di ikuti nafas yang memburu.

“Apa kau tidak mencintaiku?”Tambahnya membuat Tiffany langsung menggeleng cepat,

“Apa yang kau katakan, Taeyeon-ah!?”

“Aku benar-benar mencintaimu. Kau tau itu lebih baik dariku..”

“Lalu kenapa kau menyembunyikannya dariku?”

“A..ku.. tidak tau apa yang kau maksud..”

“Berhenti berbohong. Dan katakanlah yang sejujurnya..”

Tiffany luluh akan sorot mata itu yang penuh dengan harap dan kekecewaan. Gadis itu lalu menghapus air mata yang kini menghiasi wajah Taeyeon dengan ibu jarinya,

“Maafkan aku… aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir.”

Taeyeon menarik sudut bibirnya untuk tersenyum tipis.

“Bodoh..”

wanita itu sekali lagi menangkup wajah Tiffany, lalu berkata..

“Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan itu..”

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini. Pergi dari mimpimu.”

Sebelum akhirnya Taeyeon mengecup bibir tipis gadis itu, dan menahannya agar lebih lama disana. Keduanya terpejam, merasakan semua emosi yang di aduk dalam satu wadah hati mereka.

“Aku mencintaimu,Fany-ah..”Kedua matanya menatap nanar Tiffany,

“Aku tidak akan.. membiarkan.. orang-orang itu.. menyakitimu. Lagi.”

Lalu sosok Taeyeon kembali menutup matanya dan tumbang kedapan dekapan Tiffany yang kini terisak hebat,

“Taeyeon-ah!”

 


 

 

Lelah sekali di rasa ketika dia sudah menjabat sebagai kepala departemen bagian bedah. Bukan hanya soal mena operasi yang ia sering khawatirkan disini. Tetapi dimana dia juga harus berurusan dengan segala hal yang menyangkut tentang itu ketika semua menjadi rumit di rumah sakit. Dan dia adalah orang satu-satu yang yang di minta pertanggung jawaban.

“Yah, sama seperti, Hana. Dia benar-benar sangat menyukai permen.”

Masih dengan jas putih yang membaluti tubuhnya. wanita itu terus menyunggingkan senyumnya untuk wanita paruh baya yang duduk tepat di sebelahnya. Sesekali tertawa lembut untuk merespon pembicaraan mereka dengan baik. Di antara para wanita-wanita yang sudah hampir menginjak umur kepala tiga itu. Dia lah yang terlihat paling menawan dan berkarisma. Bukan hanya karna seragam kerjanya yang di mata orang terlihat mulia. Itu juga karena keramahan hatinya untuk keadaan sekitar. Bagaimana dia sangat mudah untuk berteman dengan siapa saja, semua orang menyukainya.

“Geujjo! Darwin bahkan memakan itu, setiap saat. Aku harus lebih mengajarkannya untuk memakan lebih banyak sayuran.”

“Ey… Biar sajalah, namanya juga anak kecil. Nanti gigi mereka juga akan tumbuh lagi. Hanya kurangkan saja porsi permennya.”

Lalu pembicaraan mereka larut dalam topik itu. Di akhiri dengan beberapa tips medis darinya mengenai kesehatan gigi anak. Sampai perbincangan mereka harus berakhir ketika bel yang di tunggu berbunyi. Wanita itu lalu berdiri dan melambaikan tangan perpisahan. Lalu melenggang untuk mengayunkan kakinya ke ruangan yang di tuju.

Lalu kedua pandangannya menangkap gadis kecil dengan senyum mengembangnya. Sedang melambaikan tangan tinggi untuk merebut perhatiannya.

“Mom!”lalu wanita itu tersenyum simpul sembari terus mengayunkan kakinya mendekat.

Gadis kecil itu berhasil di raihnya dalam dekapan singkat. Lalu mereka berdua tertawa lembut. Mungkin bagi pandangan di luar sama, bisa menyebut pemandangan ini sangat indah. Bagaimana tidak, seorang ibu yang berprofesi sebagai dokter masih lengkap dengan seragamnya. Tengah menjemput gadis kecilnya setelah menimba ilmu sedari pagi.

Umurnya tengah menginjak enam tahun. Banyak sekali hal yang sudah di pelajarinya kini. Seperti bagaimana dia memilah teman, selalu bersikap rendah hati pada orang lain, selalu berbagi dan tidak pernah lupa untuk menerbarkan senyum. Semua hal itu bahkan dalam hal sekecilpun, mungkin banyak di dapatnya dari sang ibu. Wataknya yang ceria dan selalu semangat sangat mencerminkan wanita berambut coklat itu.

Mereka akan menghabiskan waktu liburan dengan berjalan-jalan di mall. Atau sekedar mengunjungi taman dan tempat hiburan anak lain. Seperti permen karet yang selalu lekat satu sama lain, mereka sulit untuk di pisahkan. Bahkan hobi merekapun terbilang sama. Sangat senang berbelanja, terlebih lagi tentang pakaian. Mempunyai pilihan yang sama saat memilih baju juga tak jarang di alami.

Sifatnya yang sama-sama girly membuat keduanya sangat klop satu sama lain. Ibu dan anak itu hampir tidak pernah mempunyai pendapat yang berbeda. Walaupun terkadang ada konflik kecil ketika mereka di rumah, seperti sang anak yang sangat susah untuk di perintahkan tidur, atau sekedar mengerjakan pr nya. Pada akhirnya gadis kecil itu akan mengacuhkan ibunya untuk waktu yang singkat, lalu kembali berteman setelah ibunya membuatkan cookies favoritnya.

walaupun gadis kecil itu atau orang-orang mengenalnya sebagai, Kim Hana Hwang. Lahir dalam kondisi keluarga yang luar biasa kaya, dan dengan segala hal yang dengan mudah di dapatkannya dengan menjentikkan jari. Dia tidak tumbuh sebagai anak yang sombong dan kikir. Sejak dini, kedua orang tuanya selalu mengajarkan untuk saling berbagi dan peduli terhadap sesama. Apalagi, sang ibu yang notabene nya sebagai seorang dokter. Menjadikan pribadinya untuk lebih mendahului orang lain yang sedang kesusahan.

Sifatnya yang penuh ceria juga di turunkan dengan sempurna dari ibunya.

Sekarang disinilah mereka, selalu menjadi pasangan ibu dan anak yang selalu kompak dan hampir mustahil untuk di pisahkan.

“Umma tidak menjemputku, lagi?”tanya Gadis kecilnya dengan mengembungkan kedua pipinya. Bibirnya mengerucut lucu. Sang ibu tak bisa menahan rasa gemasnya akan si kecil. Lalu dia mendaratkan kecupan singkat di bibir anaknya.

“Dia sedang sibuk di kantor. Lagipula,   Mom kan ada disini.”

Anaknya justru menunjukan raut sedih kali ini, “Aku merindukan, umma.”

Wanita itu lalu tersenyum teduh untuk anaknya. “Mommy juga, sayang. Tapi dia sedang tidak bisa menemani kita akhir-akhir ini karna pekerjaannya yang begitu banyak.”

Wanita itu memang sempat mengajak   Sosok itu untuk menjemput anaknya kali ini. Mengingat dia dan figur itu yang tak pernah lagi menyempatkan waktu untuk anak mereka, menyerahkan semua kepentingannya di tangan orang lain. Seperti supir dan para pelayan yang lain, yang tentu saja sudah menganggap anak mereka sebagai seseorang yang harus selalu di perhatikan. Bahkan gadis kecil itu berhasil membuat para pekerja di rumahnya, menjadi temannya untuk di ajak bermain setiap hari.

Pekerjaan memang sudah merebut semua perhatian dan kasih sayang mereka untuk anaknya akhir-akhir ini.

Namun wanita itu lalu tersadar, bahwa setidaknya dia harus bisa meluangkan waktu untuk putri kecilnya. Apa lagi ia merasa sangat bodoh ketika mendapati anaknya sendiri terbaring lemah di atas ranjang di kamarnya. Dengan demam tingginya, membuat anak itu terlihat sangat pucat. Malam itu dia terus memanggil kedua orang tua nya sembari sulit untuk terpejam.

Tiffany yang melihatnya menghampiri ranjang sembari menangis menyesal. Bagaimana bisa dia membiarkan gadis kecil itu seperti ini,sakit di ruangan yang gelap dan tidak ada siapapun, kecuali dirinya sendiri.

Tiffany sempat mengutuk dirinya sendiri karena itu selama berhari-hari. Jadi dia memilih untuk mengambil cuti dan merawat anak satu-satunya. Ia merasa sangat buruk, bahkan pekerjaannya saja seharusnya menunjukan bahwa dia orang yang harus membantu membuat kondisi orang-orang menjadi lebih baik. Membiarkan putri kecilnya sendiri, terbaring sakit. disinilah dia, membiarkan pekerjaannya merenggut semuanya. Bahkan rasa perhatiannya untuk anaknya.

Tiffany lalu membuat perjanjian dengan dirinya. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi, itu adalah pertama dan terakhir kalinya.

 13576517_1292506010778485_2135348435_n


Tiffany yang sudah terpejam kembali membukat matanya setelah mendengar pintu kamar mereka yang terbuka. Di dapatinya sosok itu yang kini tengah memebalakanginya di dalam gelap kamar mereka.

“Taeyeon?”Sosok itu berbalik dan mendekat kearahnya, lalu melepaskan jasnya dan menyisakan kemeja pink kini di kenakannya.

Dia berlutut di sisi tempat tidur untuk menatap istrinya dalam gelap, sebelum akhirnya mengecup kening itu dengan lembut.

“Maaf untuk pulang begitu telat untuk hari ini.”Katanya sembari membelai lembut rambut milik istrinya,

Tiffany lalu mengangguk pelan,”Tidak apa. Kau harus segera istirahat.”balasnya lalu membuat ruang untuk sosok itu yang padahal masih memakai pakaian kerjanya.

Karna merasakan kelelahan yang berlebih, Taeyeon menuruti kemauan istrinya dan ikut masuk ke dalam selimut hangat itu. dia tidak keberatan dengan pakaiaannya yang kurang nyaman. Dia hanya ingin beristirahat dengan sosok Tiffany di sampingnya kini.

Segera setelah Taeyeon berhasil berbaring di sampingnya, Tiffany langsung menenggelamkan wajahnya pada ceruh leher wanita itu. memeluknya untu lebih dekat tanpa menyisakan jarak sedikitpun. Dia terpejam ketika merasakan lengan itu yang kini juga melingkar di pinggangnya dan menariknya dalam. Lalu telapak tangan itu mengusap punggungnya dengan gerakan perlahan,

“Kembalilah tidur, Fany-ah..”Katanya pelan lalu mencium pucuk kepala istrinya,

“Taeyeon..”

“Hmm?”

“Hana sangat merindukanmu. Dia mengharapkanmu untuk menjemputnya tadi.”

“Maafkan aku, aku hanya begitu sibuk akhir-akhir ini.”

“Aku tau, sayang.. tapi coba luangkanlah waktumu sedikit untuknya.”

Ada keheningan yang sempat mengelilingi mereka,

“Baiklah aku akan mengusahakannya lagi untuk putri kecil kita. Maafkan aku..”

“Tidak apa.. hanya.. tepatilah janjimu untuk kali ini.”

“Tentu.. sekang kembalilah tidur..”


Kau terlihat begitu lelah. Jadi aku tidak berani untuk membangunkanmu. Aku dan Hana akan berbelanja di mall, dia meminta untuk di belikan dress baru untuk di pakainya di acara ulang tahun teman sekolahnya.

Aku membuatkan mu sarapan di meja.

Jangan tunggu kami. Kami akan tiba di rumah saat sore tiba.

I love you.

Tiffany.


“Umma!”gadis itu setengah berlari setelah mendapati sosok yang sangat di rindukannya akhir-akhir ini. Maklum saja, ketika dia hendak pergi ke sekolah, figure itu masih terlelap, dan ketika dia kembali ke rumah. Ummanya bahkan belum pulang untuk menyambutnya,

kejadian itu bukan sekali dua kali di alaminya. Hampir setiap hari dalam bulan ini selalu berakhir dengan dirinya yang akan selalu mengatakan rindu pada sosok Ummanya.

Taeyeon menangkap gadis kecil itu dan memeluknya erat, menciumi pucuk kepalanya berkali-kali sembari mengangkat tubuhnya,

Memutarnya dengan gerakan perlahan, menghasilnya keduanya untuk tertawa bahagia.

Sepasang mata itu yang menyaksikan mereka hanya bisa terenyah haru. Tidak ada pemandangan yang lebih mengagumkan daripada kedua sosok itu yang merupakan segalanya baginya. saling bertukar rindu.

“I miss you so much, Umma.”Ujarnya dengan logat Amerika yang di turunkan dari ibunya.

Taeyeon hanya bisa tersenyum lagi menatap wajah gadis kecilnya, “Umma juga merindukanmu, Hana..”

“Aku takut Umma mungkin marah padaku, makanya kau tidak pernah menjemputku lagi.”

“Oh.. kau tidak boleh berkata seperti itu..”Balasnya lalu menyingkirkan helaian rambut anaknya ke belakang telinga dna kembali menatapnya hangat,

“Umma hanya sangat sibuk.. Aku begitu mencintaimu untuk bisa marah padamu. Kau tau?”

Sementara Tiffany hanya bisa tersenyum da memilih meninggalkan mereka berdua dan mempersilahkan dirinya ke dapur untuk membuat makan malam.

 


Sembari menunggu malam tiba, Taeyeon dan Hana kini sedang bermain di dekat perapian. Mereka saling bertukar rindu dan sesekali bercanda di setiap topic mereka.

Keluarga kecil itu berencana untuk melihat-lihat lagi apa yang mereka telah dapatkan di mall tadi.

“Jadi apa yang kalian berdua lakukan di mall tadi untuk menghabiskan uangku?”

Tiffany tergelak tertawa mendengar pertanyaan Taeyeon, lalu kembali menyibukkan dirinya lagi di meja makan.

Hana lalu menghamipiri tempatnya duduk dengan dengan senyum mengembang sembari membawa tas belanjaan yang ada.

“Kami membeli beberapa dress pink yang sangat lucu!”Katanya sembari mengeluarkan barang yang dia maksud,

Taeyeon tersenyum ketika melihat dress pink itu,

Mereka berdua benar-benar sama.

Pink, huh?

“Ini sangat indah sayang, kau mau mencobanya untuk Umma?”

“Tentu!”Gadis kecil itu lalu berbalik sembari membawa pakaiannya ke ruang ganti, Taeyeon hanyabisa terkekeh pelan melihat putri kecilnya yang begitu bahagia kini.

Tiffany lalu melepaskan celemeknya dan menghampiri Taeyeon yang kini dengan sabar menunggu putri mereka dengan senyum mengembangnya.

“Hey..”

Dia duduk lalu memeluk sosok itu dari samping, Taeyeon membalas pelukannya dan meletakan dagunya di atas pucuk kepala istrinya.

“Kau yang memilih gaunnya? Itu pink, Fany-ah.”

“Yah. Kau tidak bisa menyalahkan kami karena menjadi penggila pink!”Jawab Tiffany di akhiri dengan tawanya,

“Baiklah.. Baiklah..”

Saat mereka kembali larut dalam topic yang ada, gadis kecil itu keluar dari kamar ganti dan setengah berlari menghampiri keduanya.

“Uwah. Itu benar-benar cantik ketika kau memakainya, Hana-ya..”Puji Taeyeon di balas dengan cengiran bahagia oleh anaknya,

“Umma. Hari ini mom mengatakan sesuatu tentang figure ayah.”

Taeyeon menatap istrinya yang kini tersenyum hangat memandang mereka, Taeyeon kini sudah mendapatkan sosok kecil itu di dalam pangkuannya.

Dia agak bingung dan habis kata-kata akan perkataan anaknya barusan,

“Hana, tentang itu..”

“Biarkan aku bicara dulu.”

“Mom bilang, seorang figure ayah akan selalu berada di sana untuk menjaga keluarganya. Dia akan bekerja keras untuk memastikan keluarganya menjalani kehidupan yang baik. Dia adalah figure yang kuat dan rela berkorban demi orang-orang yang di sayanginya. Dia akan memastikan dirinya selalu menjadi pelindung bagi keluarga kecilnya.”

“Tidakkah kau mendengarku? Aku sedang membicarakanmu, Umma.”

“Aku tidak mengatakan bahwa kau adalah seoran ayah. Tapi aku berpikir bahwa kau sesuai dengan citra seorang ayah sempurna.”

“Aku menyayangi mu, Umma..”

Taeyeon tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh ketika mendengarkan itu semua dari putri kecilnya. Dia bisa merasakan gadis itu yang mencium kedua pipinya untuk menghapus air mata yang ada,

dia menarik gadis kecil itu untuk di dekapnya erat.Menciumi pucuk kepalanya sembari terisak pelan.

Tiffany juga ikut menitihkan air matanya dan bergabung dalam sesi kedua sosok itu. 

Taeyeon merasa sangat lengkap sekarang. Kedua lengannya dapat mendekap dua sosok ini yang membuat segalanya menjadi terlihat sangat sempurna.

Memiliki versi mini Tiffany yang berlarian di sekitar rumah, dengan senyuman dan sifat yang sama. Adalah salah satu kebahagiaan yang paling ia syukuri untuk saat ini.

Tiffany. Dia berterima kasih untuknya karna telah membawa Hana masuk ke dalam hidup mereka dan memberikannya kebahagiaan yang berlipat ganda.

Dia mengingat janji Tiffany bahwa dia tidak akan pergi kemana-mana. Dia dia akan tinggal disisinya untuk waktu yang lama.

Tiffany menepatinya. Bahkan memberikannya hadiah paling indah yang tidak pernah ia dapatkan dari siapapun. Itulah Hana.

Taeyeon berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga keluarga kecilnya sampai waktunya di dunia ini habis. Di penuhi bahagian yang tidak akan berakhir dari kedua sosok ini yang begitu di cintainya.

 13566222_1292505994111820_1522887772_n


 ehm ya.. gitu deh pokoknya akhirnya..

semoga sesuai dengan apa yang kalian pengen ya.. hehe.

utang aku lunas ya. hehe. jgn nagih2 mulu di line ah capek wkwk.

dont forget to leave your comment okay? tell me how you think about this story so far 🙂

line jazzatta : @lck7866o twitter : @jazzatta1

Advertisements

64 thoughts on “MISTAKES CHAPTER NINE (FINAL) BY JAZZ

  1. Akhirnya, happy ending..
    Setelah mengalami pasang srut dlm hbunganx, akhirnya mommy dan daddy bersatu dan memiliki little miyoung yg lucuk dan maniak pink jg sprti mommyx.. Wkwkwk daddy cmn mnghela nafas, tenang aj daddy uangmu g bakal habis cmn brkruang dkit aj ko..
    . hahaha 😅
    Beban di pundak sdh hilang, aing senang mlihat mereka bahagia..
    Buat author Jazz mksh FF kerenx yg sperti drakor ini..
    Njirr tanganmu g smpe krting kan pas ngetik ini?? 😂😅

    Like

  2. Kerennn happy ending.. Tp thor skali” buat ff yulsic donk
    Atau ff skitar snsd n jessica skrg.. Hohoho

    Author daebak 🙂

    Like

  3. Yeiiy akhir taeny hidup bahagia seneng rasa y taeyeon dgn keluarga kecil nya telah berkumpul.sosok hana jg bener” versi mini y tiffany yg periang dan ga lupa miliki eyesmile yg memikat.meski ni masih buat sy masih penasaran dan merasa ingin tau kebahagian apa lg taeny sempurna kan bersama.
    >>tp sy puas kok mine dgn semua alur nya komplit ada bikin patah hati,luka,tergores sampai lecet” pun ni hati rasain bagaimana perjalanan taeyeon tuk bangkit dan membuktikan dia pantas tuk memilki tiffany itu makna yg sangat luas bs sy ambil di sini.ini bukan drama yg berlebihan tp cara mine yg meluaskan y sempurna sampai ke hati para reader yg hanyut dgn mslh sampai bumbu” romantis y ja sy masih bs berdebar debar ngebaca nya.pokok nya thanks sudah berkarya dgn sangat cantik makin sy penasaran karya mine yg slnjut nya 😊😊😊

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s