Why Am I Like This? (Chapter One) JAZZ

Sebelumnya gue mau ngomong sebentar ya..

Gue tau apa yang pertama kali ada di pikiran kalian. Judul barulah padahal yang lain belum selesai blablablaaa. Gini yaa tenang aja semua judul disini AKAN di selesaikan. Tapi kita belum tau kapan pastinya, mungkin kalo ide kita untuk cerita itu udah pada ga mentok. gue sendiri, jazz cuma ngutang closer yang kolaborasi sama atta dan confused kan? Nah atta ada falling sama she keep me warm. Tolong maklum kalo dia bakal lama yaa dia super duper sibuk. gue juga cuma gue masih lebih luang daripada dia.

Pokoknya apapun yang kalian pikirin sekarang, kita bakal terima. Walaupun ada yang bilang kita kurang tanggung jawablah, ya terserah kalian sih.. yang penting kita untuk kalian tau,

Kita ngetik untuk kalian. Kita ngetik untuk taeny shipper. Buat ngisi waktu luang kalian dengan cerita-cerita yang kita buat. Cuma Berharap kalian suka sama apa yang kita tulis, berharap kalian ngehargain sedikit waktu kita untuk buat semua itu.

Tolong banget, jangan terus nanya kita dengan pertanyaan-pertanyaan itu. apa lagi marah-marah karna kita ngga lanjutin yang lain. Gue kadang mikir untuk berenti nulis karna capek. Jadi jangan kaya gitu lagi ya..

Kita mau berterima kasih banget sama readers2 yang dengan sabar mau nungguin kelanjutannya. Ngga pernah absen di komen box untuk terus support karya-karya kita. Makasih banget yaaa. Karna kalian, kita masih mau nulis di tengah2 kesibukan kita. Cuma untuk kalian. Sekali lagi terima kasih udah mau ngehargain tulisan-tulisan kita yang amatir itu.. 🙂

JAZZ NOTE : gue buat cerita ini cuma untuk dua sampe tiga chapter doang ya. Karna ini aslinya udah selesai dan niatnya one shoot tp kayanya lebih baik berchapter deh. Apa lagi gue ga ada cerita lagi untuk di buat panjang selain confused. Dan itu lagi mentok. Tolong nantiin endingnya ya.. Karna closer kolaborasi jadi susah untuk lanjut kecuali kita berdua lagi luang.

 

Tolong sambut baik yang ini ya, gomawo!:)

 


Taeyeon tidak bisa menarik pandangannya dari gadis yang ada di sebelahnya. Sesekali dia melemparkan penglihatannya kearah luar jendela kelas, yang langsung menghadap pada hamparan luas lapangan sekolah mereka. dia hanya tidak ingin gadis itu menangkapnya sedang memperhatikan bagaimana fitur wajahnya sangat sempurna.

Taeyeon menyukai dimana gadis itu menyisihkan rambutnya untuk di letakan di belakang telinga. Dia harus tersenyum untuk itu, apalagi dengan wajah tenangnya yang kini sibuk membaca beberapa bagian buku. Dia terlihat begitu damai dan menyejukkan di mata Taeyeon.

Dia mulai berpikir, sejak kapan baginya menjadi dosa untuk memperhatikan sahabatnya dari kecil seperti ini? Berteman dengan seorang Tiffany Hwang semenjak delapan tahun, adalah hal yang mungkin masuk akal untuk hanya sekedar memperhatikannya,

Tapi dia tidak bisa memungkiri bagaimana dia takut akan tertangkap basah karena terus memandanginya seperti seorang penguntit.

Juga, Taeyeon terus bertanya-tanya, sejak kapan sahabatnya yang ini sangat rewel dan pemarah mempunyai wajah yang nyaman untuk di lihat, walau hanya dari sisi lain. Bagimana mata itu akan membulat di beberapa kata-kata di buku, bagaimana dia akan menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, dan bagaimana pandangannya akan berbinar di sebabkan oleh buku itu yang sedang di bacanya,

Apa Tiffany mengetahui bagaimana cantik dirinya?

 Tapi, dia mempunyai rasa pede yang sangat tinggi. Bagaimana mungkin dia tidak menyadarinya?

 Yah. Sadarlah, Kim Taeyeon. ini adalah Tiffany Hwang. gadis paling galak dan rewel yang pernah ada di hidupmu.

 “Kau memandangku, seakan aku adalah orang paling cantik di dunia ini, Kim Taeyeon..”Kata gadis itu tiba-tiba tanpa menarik perhatiannya pada buku di atas meja. Membuat Taeyeon sedikit terkejut, dan merasa malu karena tertangkap basah. Namun, dia tau, dia harus bertingkah seolah-olah dirinya tak sedang berada dalam posisi itu.

“Yah! Kau mengatakan hal yang tidak masuk akal! Orang paling cantik!?”

Mwoya…”Sambungnya di ikuti tawa palsu. Dia merasa malu.

“Teruslah bermimpi, Hwang!!”Akhirinya,

Membuat Tiffany hanya bisa terkekeh pelan, lalu menyikut pelan sahabatnya yang kini mempunyai semburat merah di kedua pipinya,

Tiffany sebenarnya bukan tipe-tipe yang akan menggoda sahabatnya. Apa lagi dalam hal ini, dia hanya sangat suka untuk melihat wajah malu-malu itudari Taeyeon. terlihat sangat lucu namun menggemaskan di waktu bersamaan.

Taeyeon bisa merasakan jantungnya yang rasanya ingin lompat dari tempatnya berada. Tepat setelah Tiffany menangkap basahnya seperti itu. ia harusnya tidak merasakan ini, ia harusnya tidak kaku dan salah tingkah seperti itu.

Namun seiring waktu yang kembali berlalu, Taeyeon bisa merasakan suasana hatinya yang ribut, menjadi tenang perlahan. Dia kembali melihat kearah luar jendela, namun dia tidak benar-benar melakukan itu.

Itu di lakukannya hanya untuk menghindari tatapan jahil yang tadi di dapatnya dari Tiffany.

Yah. Sadarlah! Kim Taeyeon! kau bahkan merasa malu karna gadis cerewet itu!

 Menit berlalu, justru kini dirinya lah yang tenggelam akan buku yang ada di hadapannya. Buku ini sebenarnya tidak begitu menarik, namun rasanya ini adalah buku yang paling hebat di dunia ini, karna bisa mengalihkan perhatiannya dari Tiffany dan bahkan tidak sedikipun melamparkan pandangan untuknya.

Tanpa di sadarinya, Tiffany kini sudah memejamkan matanya. Meletakan kepalanya di atas telapak tangan yang tergeletak di atas meja. Menghadap Taeyeon, dia terlelap dengan tenang.

Taeyeon yang tidak sengaja melemparkan pandangannya pada gadis itu hanya bisa tersenyum. Dia menelusuri setiap inci garis wajah sahabatnya. Entah ia harus mengakui ini berapa kali,tapi Tiffany. Benar-benar mempunyai paras yang cantik, pikirnya. Taeyeon tidak menyadari bahwa satu tangannya kini berusaha meraih wajah itu untuk di sentuh. Namun ia mengurungi niatnya ketika melihat kedua alis gadis itu seperti akan menyatu, keningnya mengerut,

Menyadari jika waktu putri tidur itu terganggung karna cahaya matahari, Taeyeon menutupi wajah lembut itu dengan punggung tangannya tanpa menyentuh permukaan kulit sahabatnya. Dia memposisikan tangannya beberapa centi meter dari wajah itu, agar tidak tersentuh paparan sinar matahari. Menahannya disana, lalu kembali menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.

Taeyeon memutuskan untuk tetap seperti itu lalu kembali fokus pada bukunya lagi.

Di sisi lain, Tiffany bisa merasakan sedikit teduh di permukaan wajahnya. Dan nyaman di dalam tidurnya. Itu semua terjadi secara tiba-tiba ketika dia kembali membuka kedua kelopak matanya menemukan Taeyeon yang kini masih menghalangi sinar mataharti itu dengan tangannya, namun dengan pandangan yang masih di taruh pada bukunya.

Tiffany tersenyum akan itu, sebelum akhirnya meraih tangan itu dan menyatukan jemari mereka cepat. Membuat Taeyeon menoleh dan lagi-lagi terkejut akan gerakan kecilnya. Tiffany hanya bisa kembali memejamkan matanya dengan senyum yang menempel. Membawa satu tangan Taeyeon untuk di jadikannya bantalan, dengan jemari yang masih menyatu.

Meninggalkan Taeyeon yang bisa merasakan hatinya sedang mengadakan konser dan terdiam kaku menatapnya,


 

Taeyeon tidak tau kapan persisnya dia bisa merasakan jantung yang melaju lebih cepat hanya karena memadangi sahabat masa kecilnya. Awalnya dia hanya memahami, bagaimana cantik rupawan gadis berdarah Amerika itu, namun, dia juga mulai mempertanyakan dirinya sendiri yang mengagumi bagaimana sosok itu mempunyai senyum yang begitu indah.

Senyuman maut itu memang sudah ada sejak dulu, dan dia sangat menyukai bagaimana kedua mata gadis itu akan melengkung seperti bulan sabit setiap kali dia tersenyum. Namun, baru-baru ini dia menemukan itu sangat menarik. Dan nyaman untuk di pandang.

“Yah. Kau dan Tiffany terlihat seperti sepasang kekasih. Kau yakin kau masih normal?”

 Taeyeon sedikit tersentak akan pernyataan kakak laki-lakinya,

 “Yah. Apa yang kau katakan, Oppa!”

 “Apa aku mengatakan hal yang salah? Aku bisa mengetahui dari cara kalian memandang satu sama lain?”

 “Mwoya!?”

 “Biar ku beritahu, dia memandangmu seakan kau adalah satu-satunya Taeyeon. di bawah pengawasannya aku melihat berjuta makna dan maksud yang ada. Oke, itu terdengar puitis. Tapi Ayolah! Kau pasti mengerti..”

 “Kau pasti bercanda.”Katanya kembali focus pada tugas yang ada di hadapannya,

 “Yah!”

 “Dengar, Oppa. Dia sudah mempunyai kekasih dan mereka bahagia. Mereka menjadi salah satu pasangan paling serasi di sekolah. Kau puas? Dan biar aku koreksi. Kekasihnya itu adalah laki-laki.”

 “Kalian tidak membutuhkan label nama jika saling mencintai.”Sambar kakaknya cepat,

 “Dan bukan berarti seorang perempuan, menjalin hubungan dengan laki-laki. Mereka saling mencintai”

 “Juga, Tidak ada salahnya untuk perempuan saling mencintai, kan? Cinta tidak mempunyai batas limit, Taengoo.”

 “Dengar, Jiwoong. Kau berbicara hal-hal yang aneh sekarang,”

 “Dengarkan aku juga. Siapapun yang melihat kalian pasti akan berpikir yang sama denganku.”

 “Maksudku, Tiffany bahkan akan segera memelukmu ketika kalian bertemu, dia tidak ragu untuk menciummu di depan orang banyak, memelukmu untuk waktu yang lama, dan selalu menempel padamu seperti perangko.”

 “Dia seperti permen karet, kemanapun kau pergi, dia pasti akan ikut. Dimanapun ada dirimu, disitu ada Tiffany.”

 “Dia akan menjadi orang paling bersemangat dan bahagia ketika sedang membicarakanmu. Ketika menyebutkan namamu, matanya memancarkan ketulusan dan rasa kagum yang sangat jelas.”

 “Kau seperti, satu-satunya hal yang mampu membuat senyum Hwang yang mempesona itu menjadi lebih sempurna.”

 “Aku tau kalian bersahabat dari kalian masi sangat kecil. Tapi, Ayolah.. semua orang beranjak dewasa. Perasaan innocent itu tidak mungkin bertahan selamanya..”

 “Mungkin kau hanya belum menyadarinya. Mungkin kau hanya melihat dari sisi pandangmu, Taeyeon-ah…”

 “Tapi seseorang yang jatuh cinta adalah hal yang sederhana, Taengoo-ya. Kau bisa saja jatuh cinta hanya karena hal kecil tentang orang itu. Atau hal-hal yang tidak masuk akal lainnya.”

 “Sekarang biar ku Tanya, nama siapa yang terakhir kali muncul di fikiranmu ketika kau ingin tidur?”

 Tipani..

 Tapi dia sahabatku…

 


 Pani-Pani

 19.02

Tae-tae! Apa aku boleh menginap di rumahmu malam ini?

 Taeyeon sempat terdiam beberapa detik sembari terus menatap layar datarnya. Pembicaraannya dengan Jiwoong tempo hari masih terngiang sampai detik ini. Dia merasakan sesuatu yang seperti tidak mau berhenti menghantui ruang hatinya.

Sejak saat itu, dia bisa merasakan jantungnya yang berpacu lebih cepat jika kedua bola mata coklat madu itu memandangnya. Dia bisa tahan berlama-lama mendengarkan suara Tiffany yang terdengar seperti alunan lagu, tentu saja tidak. Jika dia sedang berteriak atau menceramahinya. Tapi dia baru saja menemukan wajah Tiffany yang sangat lucu ketika dia sedang dalam mood yang tidak begitu bagus. Taeyeon tidak pernah menyangka jika sentuhan sahabatnya itu kini terasa sangat.. berbeda. Dia bisa merasakan dirinya yang gugup dan kehilangan kata-kata setiap gadis itu melakukan kontak fisik dengannya.

Dia tidak pernah merasakan darahnya yang berhenti berdesir setiap kali Tiffany mencium pipinya, atau bahkah memeluknya. Dia tidak pernah salah tingkah setiap kali Tiffany memintanya untuk menyuapi makan siangnya di sekolah di depan teman-temannya. Tidak ada keributan di ruang hatinya ketika gadis itu menatap kedua matanya lamat-lamat.

Tapi semuanya sekarang, terasa sangat berbeda.

Dia berkali-kali mengutuk Jiwoong karena ini.

Jika saja pembicaraan mereka kala itu tak pernah terjadi, mungkin saja dia tidak akan merasakan rasa bimbang yang begitu besar seperti sekarang.

Taeyeon selalu meyakinkan dirinya bahwa dirinya masih berada di jalan yang lurus. Dia masih menyayangi Tiffany sebagai sahabatnya. Dia masih menyukai gadis itu untuk terus bermanja-manja padanya. Tetapi dia tidak bisa memungkiri, hatinya yang kini jungkir balik hanya karena sahabatnya, Tiffany.

Rasanya bukan ide yang baik untuk ini, untuk Tiffany menginap di rumahnya. Dia tidak bisa mengontrol perasaannya yang berantakan jika gadis itu ada di dekatnya. Apalagi, mereka pasti akan berbagi tempat tidur yang sama. Taeyeon belum siap kehilangan jantungnya…

19.10

 Uhm, sepertinya aku tidak bisa. Pani-ah. Mianhae.

Aku sedang sibuk mengerjakan tugas kimiaku. Kau tau aku harus mengulangnya, kan?

 19.11

 Jjinja? 😦 kau mematahkan hatiku, Kim…

 19.12

 Mian.. 😦

 Tidak dapat balasan untuk pesannya, Taeyeon merasa sedikit bersalah. Namun dia lalu menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya dia bisa menyingkirkan sebentar nama itu dari kepalanya, dia benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi pada hatinya yang malang jika mereka harus bekerja dengan keras karena kehadiran Tiffany di sekelilingnya,

Sebenarnya, alasan mengerjakan pr itu hanya di buat-buat. Heck, bahkan dia sudah menyelesaikannya ketika pulang sekolah tadi. Dia hanya mencari alasan untuk Tiffany tidak datang ke rumahnya malam ini.

Jadi, Taeyeon memutuskan untuk bermain video games bersama kakaknya, Jiwoong. Dia menuruni anak tangga untuk menghampiri kakaknya yang kini sedang berada di ruang makan.

“Oppa! Ayo main video games!”Ajaknya masih berdiri di atas anak tangga, dia bisa melihat kakaknya yang sedang mengunyah sereal sembari berbicara dengan seorang wanita yang membelakangi mereka.

Kakaknya menoleh, “Oh? Sepertinya kita tidak bisa jika malam ini, Taengoo-ya..”Jawabnya dengan wajah sedikit takut, Taeyeon harus menautkan kedua alisnya untuk itu.

“Wae?”

Wanita itu yang membelakangi mereka lalu berbalik. Taeyeon lalu terkesiap kaget, “Omo!”

“Ggamjagiya!”Tukasnya sembari memejamkan mata sembari menempelkan tangannya di dada.

Dia ingin sekali tidak mempercayai bahwa pandangannya barusan adalah nyata. Bahwa sahabatnya kini sudah berdiri disana dengan tatapan seribu kematian yang dia punya.

Namun, Taeyeon nampaknya harus menerima itu semua. Dia tau dirinya sedang berada dalam masalah besar, karena saat dia kembali membuka matanya. Sosok itu benar-benar ada disana. Menatapnya dengan tajam,

“KIM. TAEYEON!”

Jiwoong hanya terkekeh pelan melihat adiknya yang kini terlihat sangat ketakutan menghadapi sahabatnya.

“Omo. Jangan bunuh aku, Pani-ah.”

 


“SERIOUSLY!? VIDEO GAMES!?”

Taeyeon hanya bisa menundukan kepalanya sesekali memainkan jemarinya. Kini dia terduduk di sisi lain tempat tidur, dengan Tiffany yang berdiri di hadapannya sembari menghujaninya dengan sejuta amarah. Taeyeon bisa melihat Tiffany yang anggun dan mempesona kini sudah hilang. Yang ada hanya Tiffany yang begitu menyeramkan, seakan-akan nyawanya saja bisa hilang sewaktu-watu.

“Kau tidak mau aku menginap di rumahmu? Kenapa? Apa kau tidak mau melihatku?”Intonasinya kini melembut, membuat Taeyeon kembali mendongakan kepalanya untuk menemukan Tiffany yang kini menatapnya dalam.

“Aniyo! Bukan seperti itu! Aku bisa menjelaskannya!”

“Aku hanya ingin bermalam disini karena aku merindukanmu, Taetae..”

Taeyeon semakin panik ketika melihat kedua mata itu berkaca-kaca, seperti ingin menangis. Dia merasa sangat bersalah sekarang, dia tak berheti mengutuk dirinya sendiri di dalam hati,

“Omo. Kenapa kau menangis, Fany-ah? Lagipula, kita baru bertemu siang tadi di sekolah..”Katanya beranjak dan berdiri di hadapan sahabatnya yang kini terisak,

“Apa kau sekarang membenciku, Taeyeon-ah?”Tanyanya pelan sembari menghapus air matanya,

“Aniyo! Apa yang kau bicarakan!?”Sanggah Taeyeon cepet,

“Peluk aku?”Pinta Tiffany sembari membuka tangannya lebar, mengisyaratka sahabatnya untuk melakukan perkataanya. Karna merasa sangat bersalah untuk membuat Tiffany menangis, Taeyeon tidak berkedip untuk itu. Dia menarik tubuh kecil itu kedalam pelukannya,

“Maafkan aku..”Gumannya menenggelamkan wajahnya pada helaian lembut gadis itu, mungkin intonasi suaranya bisa saja tenang. Tetapi jauh di dalam ruang hatinya, kini kembali merasakan sejuta keributan.

“Baiklah, aku memaafkanmu. Tetapi aku akan menghukummu lain kali.”Jawab gadis itu cepat sembari menarik tubuh Taeyeon untuk lebih dekat padanya.


“Aku tau bukan karena itu, kau kemari..”

“Huh?”

“Aku tau bukan karena kau merindukanku, pasti ada sesuatu yang lain..”Jelas Taeyeon tak menarik pandangannya pada sang sahabat yang kini sedang menyeruput coklat panasnya.­­

“Apa yang kau bicarakan?”Jawab Tiffany tertawa renyah, lalu melemparkan pandangannya kearah lain. Kadang dia bertanya-tanya bagaimana Taeyeon sangat handal membaca situasinya.

“Apa orangtua mu bertengkar lagi?”

Dengan itu Tiffany beranjak dari duduknya,

“Apa Hayeon di rumah? Aku ingin bermain dengannya juga!”Tiffany justru mengalihkan pembicaraan mereka, membuat Taeyeon menarik napasnya pelan.

Dia mengerti jika gadis itu tak mau membahasnya sekarang. Lagipula, dia sudah tau jawaban sebenarnya hanya dari gerak gerik sahabatnya sekarang. Dia mengerti betul kondisi keluarga gadis itu. dia hanya tidak mau membebankan Tiffany dengan pertanyaannya dan justru membuatnya semakin sedih.

“Dia mungkin sudah tidur, ini sudah hampir tengah malam.”

“Benar juga.. Kalau begitu, bukankah kita juga harus tidur?”

Dengan itu hati Taeyeon yang sudah mulai tenang di alamnya kembali di terpa badai. Ia benar-benar lupa untuk sesaat bahwa dirinya pasti akan berbagi tempat tidur bersama sahabatnya. Dia sama sekali tidak keberatan tentang itu, hanya saja hatinya sekarang ini tidak bisa di ajak kompromi.

“Pani-ah, aku rasa aku akan tidur di kamar tamu. Kau bisa di kamarku, saja.”

Tiffany lalu menautkan alisnya heran, “Wae? Tapi aku ingin tidur di sampingmu, Tae!”

“Uhm, aku rasa kau membutuhkan ruang yang lebih luas..”Alasan Taeyeon kini semakin membuat sahabatnya kebingungan,

“Ada apa denganmu? Aku bilang. Aku. Hanya. Ingin. Tidur. Dengan.mu.”


 

Taeyeon tidak tau sejak kapan persisnya dia seperti ini. Dengan Tiffany yang kini sedang mengganti pakaian di depannya sama sekali tak membantu. Dia merasa seperti paman-paman cabul karna diam-diam menyuskuri apa yang kini tengah adadi depannya. Sejak kapan melihat gadis itu memperlihatkan kulitnya yang putih dan halus, lekukan tubuh yang sempurna menjadi hal yang sangat-sangat mendebarkan bagi hatinya?

Taeyeon tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencuri pandang pada sahabatnya yang masih sibuk di sudut ruangan. Taeyeon benar-benar merasaburuk sekarang. Dia tidak seharusnya seperti ini.

Tetapi apa daya, jika keributan di ruang hatinya berkata lain.

Apa Hwang itu bermaksud menyiksaku seperti ini!?

 Dia tidak seharusnya berganti di hadapanku!

 Mendapatkan kembali kewarasannya, Taeyeon berkata, “Hwang! pergilah ke kamar mandi dan ganti disana!”Tukasnya agak keras lalu melipatkan tangan di dada dan membuang pandangan kearah lain,

 Tiffany menoleh dengan santai sembari mulai membuka resleting celana jeansnya yang tidak nyaman,

Wae ire, Taeyeon-ah? Kau aneh.”Jawabnya pendek, membuat Taeyeon menatapnya jengah. Sebelum akhirnya membelalakan matanya karna mendapati kaki jenjang mulus Tiffany yang terekspos. Dia bisa merasakan pipinya yang memerah melihat itu,

“YAH! KAU GILA!?”Kata Taeyeon sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan gadis itu hanya terkekeh pelan,

“Ani. Kau yang gila. Bukankah aku selalu seperti ini setiap kerumahmu? Bahkan kita pernah mandi bersama waktu kecil dulu. Kau aneh, Taeyeon.”

“TAPI ITU, DULU, TIFFANY. PAST TENSE.”Jawab Taeyeon cepat masih enggan untuk menyingkirkan tangannya,

“Apa bedanya dengan sekarang?”Tanya Tiffany masih kebingungan,

“KITA 18 TAHUN, TIFFANY. YAAMPUN.”

“Tapi kau masih sering melihatku ganti baju sebelumnya. Ini aneh jika kau baru mengatakannya sekarang,”

Dengan itu Taeyeon terdiam. Dia benar-benar lupa jika sahabatnya itu adalah orang yang peka. Dia sama sekali tidak memikirkan itu. tetapi memang hampir sebagian benar. Dia sering melihat Tiffang mengganti bajunya seperti sekarang ini, tetapi keadaan sudah berbeda. Pikirnya. Dia hanya tidak bisa terus-terusan memberikan beban yang berat untuk hatinya karena terus mendapati Tifany. berada di sekitarnya. Dengan. Kulit. Mulus. Yang. Terekspos.

“Aku sudah selesai.”

Taeyeon perlahan menyinkirkan lengannya dan mendapati Tiffany yang kini terlihat nyaman hanya dengan tanktop hitam dan celana pendek tidurnya.

Ini benar-benar akan menjadi malam yang berat.

 Gadis itu bahkan masih memperlihatkan bagian tubuhnya yang mempesona. Membuat Taeyeon kembali terdiam akan apa yang di lihatnya, dia sama sekali tidak menyangka jika Tiffany justru akan memakai pakaian seperti itu untuk tidur. Dia bisa merasakan konser dihatinya semakin mengganggu,

“YAH. Pakailah pakaian yang tertutup!”

Tiffany lagi-lagi hanya bisa terheran, dia lalu tidak memperdulikan sahabatnya dan dengan santai menyelinap ke dalam selimut ranjang Taeyeon.

“Ini bukan pertama kalinya aku seperti ini, Tae. Ayo sini tidur.”Tiffant menepuk pelan bagian tempat tidur yang tersisa, mengisyaratkan Taeyeon untuk juga masuk di dalam selimut,

Taeyeon hanya terdiam menatapnya sesaat,

“Tae! Ppali!

“Kau yakin tidak mau mengganti bajumu, Dulu?”Tanya Taeyeon sekali lagi,

“TAEYEON-AH!”

Dengan itu, Taeyeon menyerah. Dengan ragu dia mulai mengikuti langkah Tiffany sebelumnya. Namun tepat setelah dirinya terbaring juga, Tiffany menenggelamkan wajahnya pada ceruh leher Taeyeon. membuat sang sahabat merasakan tensi yang rasanya akan meledak-ledak.

Dengan Tiffany yang memeluk pinggangnya agar lebih dekat, mampu membuat Taeyeon tidak bisa lagi merasakan darah yang berdesir. Dengan kulit hangat mereka yang saling bersentuhan, helaan nafas yang tenang, atmosfir yang entah mengapa terasa sangat panas baginya. Taeyeon merasa ingin mati saja.

Dia bisa merasakan debaran jantungnya yang tak normal. Dia merasa benda itu seperti akan melompat dari rongga dadanya.’

“Yah. Kenapa kau tidak memelukku balik?”Tiffany bergumam masih dengan posisinya. Membuat Taeyeon bisa merasakan geli yang menggelitik di permukaan kulit lehernya,

Tidak mendapatkan jawaban, Tiffany lau mendongak dan menatap sahabatnya yang kini terlihat sangat gugup. Bahkan dia bisa melihat keringat yang kini mulai mengalir di wajah gadis itu,

“Tae? Kau sakit?”Katanya menyentuh wajah Taeyeon,

Sentuhan itu justru membuat keadaan hati Taeyeon semakin kacau,

A.. Ani.. Gwechanna..”

 “Jjinja?”Tiffany lalu menyingkirkan piluh keringat sahabatnya menggunakan ibu jari, lalu memainkan jemarinya di pipi Taeyeon. menatap bola mata hitam itu lamat-lamat,

“Tae, kau harus tidur. Jika saja dugaanku benar, kau pasti akan sakit besok.”

Ya. Aku benar-benar sakit sekarang karena merasakan semua ini. Perasaan kacau yang aku rasa, setiap kali kau ada di dekatku.

 Tiffany mengecup kening sahabatnya dengan lembut dan kembali ke posisi sebelumnya. Dia kembali mengenggelamkan wajahnya di ceruk leher Taeyeon dan terpejam,

Sementara Taeyeon masih enggan untuk menggerakan tubuhnya, atau bisa di sebut. Dia benar-benar lemas untuk melakukan itu. rasanya dia seperti es yang meleleh dimusim panas,

“Tae, peluk aku.”Pinta Tiffany dengan manja masih terpejam, dia menarik tubuh Taeyeon agar tidak tersisa jarak di antara mereka.

Dengan ragu-ragu, juga debaran yang hebat, Taeyeon mulai ikut melingkarkan lengannya pada pingang kecil itu. menarik Tiffany agar lebih dekat padanya. Dia meletakan dagunya tepat di atas kepala gadis itu. dia bisa merasakan Tiffany yang tersenyum di bawahnya. Keduanya saling menarik erat tubuh satu sama lain.

Mungkin Taeyeon tau, jika Tiffany pasti merasakan hatinya yang tenang-tenang saja. Tapi ia hanya ingin seseorang di luar sana tau, jika kini ruanghatinya di dalam sana sudah porak poranda.

 Taeyeon menarik satu tangannya untuk di letakannya di dada. Dia bisa mersakan jantungnya yang berpacu begitu cepat, berdebar dengan irama yang tidak normal.

Aku tidak percaya ini..

 Apa yang salah dengan hatiku?

 


 

Taeyeon membuka kelopak matanya perlahan. Sinar matahari yang menerobos masuk menerpa wajahnya berhasil membuatnya terbangun. Hal pertama yang ia dapatkan adalah paras itu yang masih terlelap dengan damai. Wajah mereka kini begitu dekat, namun Taeyeon bisa merasakan kehangatan yang nyaman menyelimutinya kini. Mungkin dia sedang berdebar, tetapi rasanya itu tidak mengganggunya untuk terus memandangi wajah tenang sahabatnya.

Taeyeon bahkan bisa menghitung lentik bulu mata gadis itu. dia bisa merasakan terpaan hangat nafas lembutnya.

Tidak peduli berapa banyak aku memikirkannya,

 Tapi kau mempunyai kecantikan yang luar biasa, Pani-ah..

Taeyeon menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, dia menyentuh permukaan wajah sahabatnya kini. Dengan jemarinya, dia menelusuri lekuk wajah Tiffany yang merupakan pahatan Tuhan yang sempurna. Dari dahi, hingga hidung dan matanya. Saat dia mulai meraba alis sempurna milik gadis itu, dia bisa melihat Tiffany yang mengerutkan keningnya..

Sadar jika sahabatnya aakan segera membuka kedua matanya, Taeyeon kembali memejamkan matanya berharap dia tidak tertangkap basah kali ini.

Dia tidak merasakan gerakan apapun untuk berapa saat. Namun kemudian telapak tangan lembut itu kini gantian menyentuhnya. Dia bisa merasakan jemari itu kini bermain di bagian bibir tipisnya, dan Taeyeon tau, jika jantungnya kini sudah bekerja jauh di ambang batas normal.

Dia bisa merasakan terpaan nafas hangat itu semakin dekat menyentuh pipinya. Debaran yang begitu cepat, perasaan yang tak menentu, dan kegelisahan kini tiba-tiba menyergapnya.

“Apa yang telah kau lakukan, Kim?”

“Apa aku satu-satunya yang tidak tau?”

“Berhenti membuatku meraasakan ini, Taeyeon-ah.. kau membuatku bingung.”

Dengan itu, detik kemudian Taeyeon dengan segala kewarasannya bisa merasakan bibir lembut itu yang menyentuh miliknya singkat.

“Aku tidak pernah merasa cukup akan bibirmu, Tae..”

Lalu dia mendengar gadis itu tertawa pelan di akhirannya,

Apa yang baru saja kau lakukan, Pani-ah?

 kenapa kau seperti ini? Berhenti mencoba membunuhku..

 


 

uhm ya..sekolah kan udah mulai ya. gue sama atta bakal sibuk bangetbangetan kan. tapi kita usahain bakal tetep update. tapi coba untuk lebih sabar lagi yaa nunggunya.

makasii semuaa. jazzatta loves you guys. 

 

 

Advertisements

104 thoughts on “Why Am I Like This? (Chapter One) JAZZ

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s