WHY AM I LIKE THIS? (CHAPTER TWO) BY JAZZ

Lama kan updatenya..

udah di bilangin…

kalo readersnya pada kabur aku maklum kok. hehe

BUAT READERS PIKUN YANG LUPA CERITA AWALNYA KLIK AJA wkwkwkwk. :p


“Bukannya kelas di mulai masih setengah jam lagi?”Sooyoung melirik sahabatnya yang kini sedang bergegas sembari terus melangkahkan kakinya. Hanya ada satu kekhawatiran di bawah pengawasannya.

“Benar. Tapi aku berjanji pada Tiffany untuk membantunya mengerjakan itu selama jam istirahat.”

Gadis jangkung itu lalu memutar kedua bola matanya, seharusnya ia tak perlu bertanya. Dirinya dan Taeyeon yang kini berlari kecil menuju kantin itu, seharusnya dia sudah tahu jawabannya.

“Yah. Pelan-pelan!”Tukas Sooyoung menarik satu tangan Taeyeon, gadis itu lalu memperlambat langkah yang di ambilnya.

“Maafkan aku, Syoung-ah. Tapi aku benar-benar takut dia akan menunggu lama dan marah padaku,”Kata Taeyeon cepat lalu mengizinkan dirinya sendiri untuk berlari. Meninggalkan Sooyoung yang kini menggelengkan kepalanya dan menatap sosok kecil itu hilang di balik keramaian.

Sampai kapan kau akan seperti ini, Taeyeon-ah?

 Apa kalian berdua benar-benar tak menyadarinya?

 


 

“Bukan begitu, kau harus menggunakan rumus yang ini jika kau mau mencari jawabannya.”Taeyeon lalu mengetuk pelan kening Tiffany dengan pensilnya, membuat gadis itu meringis lalu mengerucutkan bibirnya,

“Yah!”

“Kenapa kau begitu bodoh?”Tambah Taeyeon lalu mengembalikan pandanganya pada buku,

“Kim Taeyeon!”

“Uh?”

“Aku tidak bodoh! Dan kau begitu kejam untuk mengatakan hal seperti itu kepada sahabat seumur hidupmu!”

Taeyeon lalu terkekeh mentah dan menatap gadis itu sebentar, “Jjinja..”

“Benarkah? Kalau begitu aku minta maaf.”Jawab Taeyeon lalu kembali sibuk pada buku yang ada di meja, membuat Tiffany hanya bisa menatapnya tak percaya.

Mereka berdua sama sekali tak menyadari bahwa kini mereka sedang di pertontonkan oleh sahabat-sahabat yang kini duduk di sekitar mereka.

“Yah. Taeyeon-ah, minta maaflah yang benar.”Sambar Sunny setelah menyeruput jus jeruknya,

“Itu sedikit keterlaluan, Taengoo..”Kini giliran Jessica yang ikut bicara setelah melihat Tiffany yang kini sedikit berkaca-kaca, dia meletakan satu lengannya di pundak gadis itu dan menariknya untuk lebih dekat,

Taeyeon yang kini menyadari kesalahannya, lalu menatap Tiffany yang kini terlihat hampir menangis di sampingnya. Mungkin dia menyesal akan perbuatannya, namun dia tidak bisa memungkiri bahwa gadis itu terlihat sangat lucu sekarang.

“Aigoo.. Baiklah. Baiklah.”Katanya pelan,

“Pany-ah..”Ujarnya, namun Tiffany segera melemparkan pandangannya kearah lain, membuat Taeyeon dan yang lainnya tertawa kecil. Bukan hanya karna kejadian ini, namun memang. Reaksi Tiffany kini sedikit lucu dan menggemaskan. Karna dia tengah berusaha menahan agar air matanya tak jatuh dengan menggembungkan pipinya.

Dengan gerakan cepat, Taeyeon lalu menggamit satu tangan Tiffany untuk di genggamnya, membuat gadis itu lalu menatapnya balik. Mereka hanya seperti itu untuk beberapa saat, namun Taeyeon sudah bisa merasakan jantungnya yang siap lompat kapan saja. Kedua bola mata coklat madu itu begitu inda, dia tidak pernah bosan untuk mengakuinya di dalam hati.

“Mianhae,”Ujarnya lembut, membuat gadis itu lalu mengangguk pelan,

“Peluk aku?”

Karna tak ingin membuat gadis itu bersedih lagi, Taeyeon tidak membutuhkan waktu lama untuk mendekap tubuh itu. dia mengusap punggung Tiffany pelan seraya berkata, “Aku tidak akan mengatakan itu lagi. Aku minta maaf. Kau adalah gadis yang sangat cerdas.”

“Kau tidak perlu berbohong untuk itu, Taengoo.”Sambar Sooyoung membuat semuanya lalu tertawa,

Ketiga sahabat mereka hanya bisa menyaksikan ini dengan senyuman yang tersirat. Bahkan mereka sendiri tau, jika keduanya, sudah pasti sedang di landa penyakit cinta. Tak membutuhkan waktu yang lama dan usaha yang sulit untuk itu. mereka bisa mengetahuinya hanya dengan melihat Taeyeon dan Tiffany memperlakukan satu sama lain.

“Jika di suruh memilih, kau akan memilih siapa. Antara Tiffany atau Sunmi?”

Tiffany terlihat memutar kedua bola matanya ketika mendengar pertanyaan Sooyoung yang di lemparkan pada Taeyeon. Taeyeonnya. Dalam hatinya, dia merasakan rasa percaya diri yang tinggi. Dia bahkan tau jawabannya sebelum kata-kata itu keluar dari gadis berparas menawan yang sangat berarti baginya. Tiffany yakin, bahwa orang itu juga melihatnya sebagai sesuatu yang berharga.

Dirinya tidak mungkin kalah akan seorang gadis yang baru sama memasuki hidup mereka.

“Kalian tau jawabannya,”Jawab Taeyeon santai sembari menyeruput orange juicenya.

Tiffany dengan senyum bangga lalu memeluk lengan Taeyeon, “Benar. Kalian tau jawabannya, kenapa masih bertanya?”Ikutnya, membuat Taeyeon hanya bisa menggeleng pelan akan tingkah kekanakan Tiffany yang lucu.

Sedangkan sahabat-sahabatnya hanya bisa menatap mereka jengah, “Kau benar-benar besar kepala dan sangat egois jika itu sudah mengenai Taeyeon.”Kata Sunny membuang napasnya kasar,

“Maksudmu, Taeyeonku.”Koreksi Tiffany mendapatkan helaan napas dari yang lain dan Taeyeon hanya tertawa kecil mendengarnya.

“Lagipula, Sunmi itu bukan siapa-siapa selain gadis manja dan centil yang tidak pernah berhasil merebut Taeyeon dariku.”

“Yah. Yah. Yah.”Ujar Yuri cepat, “Kau berbicara seolah-olah Taeyeon adalah milikmu.”

“Bukankah begitu?”Jawab Tiffany cepat, tak ingin siapa-siapa mengeklaim Taeyeon.

Jjinja…

“Jangan lupakan Sungjae Oppa. Dia itu kekasihmu.”

Sempat ada keheningan yang menyergap meja makan mereka. Taeyeon bisa merasakan pelukan Tiffany terhadap lengan kanannya melonggar. Dia berkali-kali mengutuk Yuri yang tidak bisa sebentar saja mengunci mulutnya dan memperkeruh suasana hati Tiffany.

“Mereka berdua adalah orang yang berbeda.”Dengan itu, Tiffany melepaskan penuh pelukannya dan segera mengemasi barang-barangnya. Dengan gerakan cepat dia berhasil berjalan menjauh tanpa Taeyeon sempat menghentikannya.

“Pany-ah!”Panggil Taeyeon agak keras, namun sosok itu tidak memperdulikan panggilannya,

“Apa aku mengatakan hal yang salah?”Tanya Yuri kebingungan, “Aish! Jjinja!”Tukas Sooyoung lalu menjitak pelan kepala sahabatnya yang ceroboh itu,

ia hafal betul bagaimana sensitifnya Tiffany jika seseorang sudah membandingkan kedua orang yang sangat di pedulikannya itu. atau lebih jelas, kedua orang yang di milikinya dalam konteks yang berbeda. Setidaknya begitu yang Sooyoung mengerti dari sahabatnya.


 

“Fany?”

Taeyeon memasuki perpustakaan ini dengan langkah yang hati-hati. Ini bukan tebakannya, ini hanya feelingnya jika gadis yang sedang di carinya kini berada disini. Sempat terbesit di benaknya untuk mencari Tiffany di kelasnya. Namun lalu dia teringat, bahwa satu-satunya tempat yang sunyi yang akan di hampirinya hanyalah perpustakaan.

Tiffany memang sangat suka membaca buku, selain karna banyak sekali buku yang menarik perhatiannya. Ia sangat menyukai bagaimana sunyi dan tenang ruang perpustakaan. Apalagi jika suasana hatinya sedang berantakan. Seperti saat ini. Perkataan Yuri mungkin hanya terdengar biasa saja di telinga orang lain. Namun Taeyeon mengerti betul apa maksud Tiffany. Dia tidak pernah suka dimana orang akan mulai membandingkan Taeyeon dan Sungjae. Atau menyebut nama mereka bersamaan.

Taeyeon tau, jika konteks itu sangat sensitive. Di tambah lagi hubungannya dengan Sungjae akhir-akhir sedang merenggang di karenakan pria berparas cute itu yang kini sedang sibuk dengan kegiatan club basketnya latihan. Persiapan untuk kompetisi antar sekolah yang akan di adakan pekan depan.

Taeyeon akhir-akhir ini memang sering mendengarkan curahan hati sahabatnya tentang kekasihnya itu. Saat itu juga dia bisa merasakan cemburu dan hatinya yang meradang bebas. Namun dia tau, ini bukan posisinya untuk merasakan itu. Ini adalah Tiffany. Sahabatnya. Yang dengan bodohnya dia, bisa jatuh hati untuk segala pesonannya.

“Fany-ah?”Panggilnya sekali lagi dengan suara yang di pelankan. Ia merasa beruntung karena pagi ini perpustakaan cukup sepi. Mungkin karna kelas akan segera di mulai kembali. Dan para siswa juga tengah menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin dan ruangan lain.

Taeyeong menghembuskan nafas lega saat pandangannya mendapatkan gadis yang memiliki coklat gelap jatuh dengan sempurna di punggungnya itu kini sedang duduk membelakanginya. Dia seperti sedang menulis sesuatu di atas meja.

Dengan langkah yang perlahan, Taeyeon mulai mendekatinya. Seiring dia berjalan, dia semakin bisa melihat jelas apa yang mungkin sedang di kerjakan gadis itu. Saat jaraknya hanya sekitar satu kaki, dia hampir bisa membaca dengan jelas apa yang sedang di tulis gadis itu. Namun kemudian lantai yang berdecit membuat Tiffany berbalik dan tampak kaget mendapati Taeyeon yang kini berada tepat di belakangnya. Tanpa menyisakan waktu, dia segera menutup buku itu dengan cepat, dan memasukannya kembali ke dalam tas.

Taeyeon yang terheran hanya bisa diam melihat tingkah Tiffany saat ini. Namun karena tidak ingin membuat gadis itu merasa tidak nyaman, dia justru memilih untuk duduk di sampingnya.

“Itu sungguh tidak sopan, Taeyeon.”Ujar Tiffany pelan, namun masih dapat terdengar oleh sahabatnya.

“Apa?”

“Untuk melihat apa yang aku lakukan tanpa seizinku.”

Yah. Kau saja tidak berbalik ketika aku memanggilmu.”

“Tetap saja, kau tidak bisa seperti itu.”

Dengan itu, Taeyeon jadi semakin heran dan penasaran. Apa yang mungkin saja Tiffany lakukan, sampai dia bersikeras sebegininya? Namun Taeyeon tetaplah Taeyeon. Dia tidak akan bisa menolak permintaan gadis itu apapun kondisinya. Dia juga mengakui bahwa dirinya tadi sedikit tidak sopan untuk mencoba mengintip apa yang sedang di lakukan Tiffany.

“Arraseo. Mianhae.”Katanya kini dengan intonasi yang di lembutkan. Tiffany sungguh senang mendengar suara yang begitu menenangkan itu. Baginya, seluruh kekacauan yang ada di hatinya saat ini bisa langsung tersapu dengan itu. Dia bisa  merasakan damai yang nyaman di sana.

“Tae, maaf jika aku kekanakan tadi.”

Taeyeon tersenyum, lalu membelai rambut gadis itu dengan gerakan perlahan, dia menatap lamat mata Tiffany yang kini seperti berbicara bahwa dia tengah menyesal.

“Hei, itu tidak apa-apa. Aku tau topik itu sangat sensitive untukmu.”

Tiffany mengangguk pelan, “Aku hanya tidak bisa memikirkan itu lebih jauh. Kalian adalah orang yang berbeda. Aku mencintaimu dan Sungjae dengan cara yang berbeda..”

Aku tau..

Maka dari itu, aku selalu takut jika suatu hari nanti kau mengetahui perasaanku yang sebenarnya.

 Apa yang akan kau katakan nantinya?

 “Aku mengerti, Tiffany…”

“Mungkin orang berpikir bahwa aku terlalu drama. Bahkan Sungjae juga mengatakan itu, Tetapi tidak, aku hanya terlalu peduli terhadap segala hal.”

“Tapi aku tidak berpikirkan seperti itu. Kau tetap Tiffany yang aku kenal. Seharusnya cinta bisa menerima apapun tentang seseorang. Bahkan, jika dia mempunyai ketidak sempurnaan.”

“Dan kau adalah satu-satunya yang menerima, apapun keadaanku. Tae..”

“Hanya saja, kau tidak sedang jatuh cinta terhadapku..”Tatapan Tiffany melembut, dia berusaha mencari sesuatu di bawah pengawasan gadis berambut hitam yang kini juga tengah menatapnyalamat-lamat. Namun Taeyeon, dengan segala kewarasannya juga ruang hatinya yang kini telah porak poranda di terpa badai. Berhasil mengakhiri kompetisi menatap mereka dan menatap lurus ke depan.

Dia hanya tidak bisa terus membiarkan Tiffany mencoba untuk terus membunuh hati kecilnya yang malang,

 Maldo andwea…

 Ada apa dengan hatiku..

 


 

 

 “Apa rencanamu setelah sepulang sekolah?”Tanya Taeyeon berbisik pada Tiffany yang kini sibuk untuk memperhatikan guru mereka yang tengah mengajar di depan kelas.

“Mungkin aku akan menemui Sungjae sebentar, dia bilang ada yang harus di bicarakan.”Jawab Tiffany juga berbisik tanpa mau mengalihkan pandangannya,

sekali lagi, Taeyeon bisa merasakan perasaan aneh itu setiap kali Tiffany menyebut namanya. Perasaan kesal di aduk dengan cemburunya yang menurutnya tidak masuk akal.

“Lalu, bagaimana jika kita kerumahku dan menonton film bersama?”

“Call!”

“Ngomong-ngomong, tadi aku melihat mantanmu. Baekhyun sedang berjalan bersama seorang gadis  di lorong sekolah.”

Taeyeon lalu memalingkan pandangannya pada jendela. Dia benar-benar tidak suka nama itu kembali masuk ke dalam gendang telinganya.

Like I care,”(Peduli apa aku.)


 

 “HAYEON-AH….”Panggil Tiffany memenuh ruang tamu keluarga Kim. Lalu gadis itu yang tengah sibuk menonton acara tv berpaling,

“Oh, Unnie!”Katanya girang, lalu Tiffany segera menghempaskan dirinya untuk duduk di sofa bersama adik perempuan Taeyeon itu. Mereka berdua langsung terlarut dalam berbagai macam topic yang menarik, meninggalkan Taeyeon di belakang mereka yang tersenyum memperhatikan keduanya.

Sembari mengaduk cangkir teh yang sedang di kerjakannya. Dia juga tidak pernah menarik pandangannya dari senyuman Tiffany yang sangat menawan disana. Dia suka bagaimana gadis itu akan tertawa di setiap candaan Hayeon. Dia tidak akan bosan untuk berlama-lama mendengarkan tawa itu yang begitu nyaman untuk di dengarnya.

Mereka menghabiskan sore itu bersama dengan menonton film bersama-sama dengan Hayeon juga di ruang tengah. Sesekali Hayeon akan menggeleng pelan dan tersenyum melihat kedua orang itu memperlakukan satu sama lain.

Tiffany yang menyandarkan kepalanya pada bahu Taeyeon sesekali menggamit tangan wanita itu lalu di satukannya jari-jari mereka. Taeyeon yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Bahkan di sela-sela film, mereka akan menyempatkan untuk membicarakan beberapa hal tentang filmnya sembari saling menatap dengan jarak yang begitu dekat.

Hayeon bisa dengan jelas melihat itu semua. Dia bisa melihat bagaimana kedua mata kakaknya akan terhanyut pada bola mata coklat madu yang di miliki Tiffany.

Kalian begitu jelas menunjukannya,

 Ini benar-benar aneh jika kalian tidak menyadarinya sedikitpun..


 “Baiklah, Aku akan pulang.”Kata Tiffany bangkit dari duduknya di atas tempat tidur Taeyeon. Dia lalu mengemasi barang-barangnya yang ada di atas meja belajar Taeyeon. Hari sudah hampir malam, dia harus segera pulang. Kalau tidak, ia akan mendapatkan masalah besar dari orang tuanya.

“Apa kau mau kuantar?”

Tiffany lalu berpaling. “Aigoo. Rumah kita hanya berjarak beberapa blok, Taeyeon-ah..”

“Tetapi tetap saja, ini sudah sangat larut.”Bela Taeyeon sembari berjalan mendekat,

“Tidak perlu.”Jawab Tiffany tersenyum pada gadis itu yang kini sudah berdiri di hadapannya.

“Baiklah, kabari aku jika kau sudah tiba di rumah nanti, Arraseo?”Taeyeon bahkan tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Dia bahkan kini mempersilahkan dirinya sendiri untuk mengecup kening Tiffany. Sahabatnya.

Entah itu adalah hal yang wajar atau tidak bagi seorang sahabat. Tetapi dia tidak begitu memikirkannya. Persetan dengan konser di hatinya yang kini sedang berlangsung.

Tiffany membalas senyumnya, “Arraseo.”

Saat punggung Tiffany menghilang di balik pintu kamarnya, Taeyeon kembali bisa merasakan irama jantungnya yang semula tidak normal. Kembali bekerja sebagaimana mestinya. Dia kadang merasa kasihan akan benda itu. Jantungnya akan bekerja sangat keras setiap kali Tiffany berada di sampingnya. Tanpa istirahat, mereka akan berpacu begitu cepat.

Seperti ada balapan mobil liar di hamparan rumput yang tenang. Berdetak dengan irama yang tidak masuk akal.

Saat Taeyeon berniat untuk membersihkan dirinya dan melangkah, dai sedikit terkejut karna pijakan kakinya berada di atas sebuah buku. Sebuah buku yang familiar baginya. Yang pasti, buku itu bukan miliknya. Ia seratus persen yakin bahwa ini adalah milik Tiffany.

Jadi dia memungutnya dan berpikir untuk mengambalikannya besok.

 

Rasanya begitu fresh dan lega setelag membersihkan dirinya. Saat Taeyeon terduduk di kasurnya dan berpikir sejenak, dia sedikit penasaran akan buku itu. Ia tau mungkin salah untuk memeriksa barang-barang orang. Tetapi rasa itu semakin menggebu. Tepat setelah ia ingat bahwa buku itulah yang ia lihat di perpustakaan siang tadi.

Lengkap bersama pemiliknya, Tiffany. Ia bahkan mendapatkan teguran karna berusaha mengintip apa yang ada di atas kertas-kertas itu.

Karna tidak mampu untuk membendung rasa penaran lagi, Taeyeon mengambilnya dari meja dan terduduk di karpet putih halus, di depan tempat tidurnya. Dia mulai membuka halaman pertama dengan rasa khawatir yang begitu besar.

ini bukan haknya. Ini bukan miliknya. Namun dia tidak bisa menahannya lagi..

Lembaran pertama, dia sudah bisa menebak bahwa ini adalah buku diary. dia seharusnya sudah tau. Taeyeon seidkit merengut membaca tanggal yang tertera. 2014. Itu sudah hampir dua tahun lamanya. ia tidak pernah tau bahwa sahabatnya mempunyai buku kecil ini yang biasa orang-orang gunakan untuk mencurahkan hati mereka.

Karena Tiffany selalu terbuka dan menceritakan apapun padanya. jadi dia tidak pernah mengira ini sebelumnya.

3 February 2014

 kau membuat hatiku seperti ini. Kau membuat semuanya berantakan, tapi kau tidak pernah menyadari itu…

Taeyeon sedikit bingung, karna Tiffany begitu jarang untuk menceritakan tentang seseorang yang di taksirnya. bahkan hampir tidak pernah. Selain Sungjae.

jadi dia terus membalikkan halaman demi halaman. Betapa jantunnya mulai berdegup sangat cepat untuk suatu alasan…

 

7 February 2014

 seseorang tolong lakukan sesuatu.. aku tidak bisa merasakan ini terhadap sahabatku sendiri..

 

 9 February 2014

 aku sempat berpikir, bahwa perasaan hangat ketika kau ada di sampingku hanyalah demam biasa. Aku berpikir inilah alasan kenapa aku terus kehilangan waktu tidurku di setiap malam..

 

10 February 2014

 Aku bisa merasakan jantungku yang  melewatkan setiap debarannya. Aku dalam masalah  besar..

 Seseorang tolong katakan bahwa ini hanya perasaan biasa..

 

11 February 2014

 Kau mengatakan jika Sunmi benar-benar cantik, dan mempesona. Kau bahkan menghabiskan hari ini dengannya, tanpa repot untuk membalas pesanku.

Kenapa aku merasakan ini lagi? Bukankah kau sahabatku?

 

18 February 2014

 Hari ini.. seorang adik kelas cute bernama Baekhyun itu mengajakmu untuk berkencan bersamanya. Dan kau, dengan senyum mengembangmu menerima tawaran itu..

Aku tidak pernah tau rasa sakit hingga saat ini menghampiriku..

 Taeyeon-ah.. apa yang harus aku lakukan?

 Taeyeon membalikkan setiap halaman dengan perasaan debar yang membara. Dia membulatkan kedu matanya ketika akhirnya namanya tertulis di salah satu halaman. Seperti pedang yang menghunus jantungnya begitu saja. Dia tidak tau apa yang kini tengah di rasakan hatinya saat ini. Hanya satu hal yang bisa ia deskripsikan.

Benar-benar kacau.

Dia sama sekali tidak akan menduga ini. Dia sama sekali tidak pernah mengetahuinya selama ini. Dia merasa begitu bodoh. Dia merasa tidak berguna sebagai sahabat gadis itu. Taeyeon mungkin tidak akan bisa menyalahkan siapa-siapa selain dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia tidak menyadarinya? Seharusnya ia bisa tetap berada di samping gadis itu dalam hari-hari sulitnya,

Tetapi yang ia lakukan hanya terus menyakitinya, tanpa sedikitpun menyadari apa yang telah di perbuatnya. Dia menyesal. Dia mengutuk dirinya sendiri karna telah menjadi sangat buta untuk melihat kehadiran Tiffany di depannya.

Dia ingin mengulang semuanya..

27 February 2014

Aku berniat untuk memberikanmu buku karangan puisi yang aku tulis sendiri hari ini. aku menulis semuanya.

 Tanpa pernah melepaskan bayanganmu, Taeyeon-ah.

 

27 February 2014

Aku salah.. ternyata aku tidak bisa menahan rasa sakitnya..

 

Taeyeon bisa merasakan air mata yang kini sudah terasa hangat di permukaan pipinya. Dia sempat berpikir dan berusaha mengingat, kira-kira kejadian apa yang mungkin terjadi pada saat itu, sehingga Tiffany harus merasakan sakit yang teramat sangat.

Lalu….

 

“Taeyeon-ah! Aku ingin memberikanmu sesua—“

 “Aku dan Baekhyun kini resmi berpacaran!”

 Tiffany lalu menghentikan langkahnya dan terdiam. Dia lalu menyembunyikan buku itu di balik punggungnya. Dalam hitungan detik, senyum itu sudah lebih dulu terukir di wajah tenangnya.

 “Benarkah? Kalau begitu, selamat Taeyeon-ah.. kalian cocok bersama..”

 “Gomawo Fany-ah!”Taeyeon memeluk sahabatnya dengan erat untuk meluapkan kebahagiaanya.

 Tanpa pernah mengetahui bahwa air mata itu sudah jatuh di saat yang bersamaan..

 Taeyeon bisa merasakan rongga dadanya yang menghimpit jantungnya. Dia bisa merasakan sakit di sana. Dia merasa begitu tidak berguna.

Sembari menarik bahan baju yang melapisi letak hatinya berada, Taeyeon terisak begitu keras. Air matanya sesekali jatuh di setiap halaman yang berhasil di bacanya.

Pany-ah.. mianhae…

 Mianhae…

 

1 Maret 2014

Aku masih belum bisa menerima kenyataan ini..

 Sebenarnya, apa yang aku lakukan?

 Apa ini semua bahkan hal yang benar?

 Siapa saja, tolong aku…

 

Isakannya semakin terdengar memenuhi ruang kamarnya yang gelap. Taeyeon sesekali menumpahkan tangisnya sembari memeluk kedua lututnya. Dia hanya tidak bisa membayangkan berapa besar rasa sakit yang telah ia sebabkan untuk gadis yang kini sangat di cintainya itu.

Yang tanpa dia sadari, sudah ia sakiti berjuta-juta kali..

 

2 Maret 2014

Hari ini kau sakit, tapi tidak ada yang menjagamu. Jadi aku, bermalam di rumahmu dan terjaga semalaman karna terlalu mengkhawatirkanmu.

 Demammu begitu tinggi dan aku begitu takut. Jadi aku berusaha dengan keras untuk membuatmu tetap hangat dan nyaman..

Tapi kenapa nama orang lain yang keluar dari bibirmu, Tae?

Taeyeon menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara isakan yang mungkin akan terdengar sedikit keras. Air mata sudah membasahi baju tidurnya,

 

“Demammu begitu tinggi, Tae..”Tiffany lalu dengan telaten mengganti secara bergilir kompres di kening Taeyeon. Sesekali dirinya akan membantu Taeyeon untuk meminum beberapa obat yang ada.

 Dia tidak pernah lupa untuk selalu memerika suhu tubuh Taeyeon untuk mengetahui keadaanya setiap waktu. Malam itu dia sama sekali tidak menutup matanya untuk tertidur. Dia terduduk di sudut ruangan untuk terus menjaga Taeyeon dalam tidurnya. Ia hanya tidak mau sahabatnya itu membutuhkan sesuatu dan malah mendapatkan dirinya yang tidak bisa membantu.

 Ia hanya sangat mengkhawatirkan Taeyeon, bahkan di atas kondisi dirinya sendiri.

 Tiffany berkali-kali hampir tertidur, tetapi ia terus melawannya.

 “Baek..ki..”

 “Baek…Hyun-ah..”

 Tiffany yang masih mendapatkan kesadarannya berjalan mendekat, dia mendapati Taeyeon dengan keringat yang membasahi permukaan mukanya. Menautkan kedua alisnya sembari terpejam. Menyebutkan nama itu berkali-kali.

 Gadis  lalu menunduk untuk menatap wajah Taeyeon lamat-lamat. Mendengar nama itu, dia bisa merasakan rasa sakit yang meluas. Namun, ia tidak boleh egois untuk merasakan itu. Taeyeon bukan miliknya. Dan tidak akan pernah.

 Tiffany lalu mengecup dahinya dengan lembut, matanya terpejam. Menahannya agar lebih lama disana. Tanpa di sadarinya, Taeyeon kini tengah mendapatkan dirinya yang tersadar. Tidak lupa, dia bisa merasakan titik-titik air hangat yang jatuh dengan bebas di atas keningnya.

 Taeyeon menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Berusaha dengan keras menahan isakan yang semakin menjadi. Dia berkali-kali menepuk baju bagian hatinya. Berusaha menenangkan keadaan disana yang kini begitu kacau. Bahkan hancur.

Maafkan aku, Fany-ah…

 Maafkan aku…

 

5 Maret 2014

 tolong katakan padaku, walaupun itu hanya kebohongan.

 Bahwa kau juga mencintaiku, seperti yang aku rasakan.

 

 9 Maret 2014

 Ssaengill Chukkae, Taeyeon-ah..

 Genap satu tahun juga aku menyimpan peraasaanku jauh darimu.

 Tahun lalu, hari dimana kita merayakan ulang tahunmu. Malam itu juga aku menyadari, bahwa aku mulai jatuh cinta untuk sahabatku sendiri.

 Taeyeon yang penuh dengan kehangatan, pembawaan yang tenang, juga wajah yang teduh. Aku jatuh cinta untuk semua itu. Aku jatuh cinta untuk setiap senyum yang ada di bibirmu, aku jatuh cinta untuk semua tatapan teduh yang kau berikan untukku.

 Aku jatuh cinta untuk seseorang bernama Kim Taeyeon. Sahabat masa kecilku hingga kini.

 Tapi, semakin aku bertahan untuk perasaanku, semakin aku menyadari bahwa itu semua hanyalah harapan kosong yang selalu aku gantung.

 Aku tau aku tidak akan pernah bisa bersamamu, tapi perasaan ini hanya terus tumbuh. Untuk menunggu dan mencintaimu untuk waktu yang lama. Itu salahku. Aku tau bahwa aku pasti akan terluka tetapi disinilah aku. masih tidak mau untuk melepaskanmu..

 Maafkan aku.

 Maafkan orang yang mencintaimu.

 Taeyeon berkali-kali mencoba menghapus air mata yang terus saja mencoba untuk lolos dari bendungannya.

 Keheningan kamarnya malam ini hanya di isi dengan isakan tangis penuh penyesalan dan rasa sakit.

Detik kemudian, telfon genggamnya yang berada di atas kasur berdering, menandakan ada panggilan masuk. Taeyeon sempat terkesiap melihat nama yang tertera di sana. Namun, dia tetap memilih untuk menjawabnya,

Namun ketika diangkatnya, keduanya malah terdiam tanpa mengatakan sepatah kata.

lalu..

Taeyeon? Kau disana?”

Isakan Taeyeon kembali terdengar setelah mendengar kembali suara itu. Suara gadis yang telah menetap di ruang hatinya untuk waktu yang sangat lama. Seseorang yang justru sangat dekat di sisinya, bahkan tepat berdiri di depannya, tanpa ia bisa untuk melihat kehadirannya.

“Taeyeon-ah! Kau menangis? Ada apa?”

Seseorang yang telah ia lewatkan. Seseorang yang pernah menaruh seluruh harapannya pada dirinya yang begitu bodoh. Untuk menyadari semuanya.

 

Dan sekarang ia tau, ia telah kehilangan sosok itu untuk orang lain.

Semua karena kecerobohannya menjadi sahabat yang tidak berguna. Menjadi seseorang yang terlalu buta, ia menyesalinya.

“Fany-ah.. Maafkan aku..”

 


 

Maaf untuk typo dan jangka waktu yang lama ya locksmith.

happy sundaay! 😉

line jazzatta : @lck7866o (itu o ya bukan NOL) hehe

jazzatta 

Advertisements

72 thoughts on “WHY AM I LIKE THIS? (CHAPTER TWO) BY JAZZ

  1. Thor ini pemainnya taeyeon dg tiffany, yuri biarkan dg jessica, kalau seperti itu aku pasti baca tiap hari dg detail, hahaha..
    Perkenalkan saya org baru di tempatmu, oke.

    Like

  2. Thor langsung aj a buat tae bilang cinta ke fany gua jeli banget ama lanjutan nih cerita please thor jangan” lama” update nya keburu kok ya gua ilang hahahaha maaf ya terlalu lebay komennya semangat thor fighting

    Like

  3. sahabat ga akan pernah bosan walaupun tiap hari selalu bersama, 😒😵 beda rasanya klu udh jdi pacar, makanyee tae, kalau udh jadian anggep aja si pany tetap jd sahabat eloo wkakakka.. umm don’t lose ur confident, certainly evryone appreciates ur hardwork. jangan terlalu keras mikirnya ya thor.. kapanpun di update pst selalu di nanti2kan kayy??😁😁

    Like

  4. Akhirnya updeat juga. Wow, kejutan fanny juga suka sama tae. Gmna bisa fanny pacaran sungjae? Hehehehe.. Mereka sama-sama suka tp g bisa ngungkapin satu sama lain.

    Like

  5. duhhhh..nyesek banget..giman prasaan fany yang 1tahun nyimpen perasaan sama tae trus taex gak tau..
    duhh bener2..sedih deh thor..

    Like

  6. Fany-ah maafkan Taetae yaa yg bru tau dan sadar akan perasaanmu, untung Taeng baca diary nya Fany.
    moga kedepannya Taeng brani ungkapin perasaannya.
    Taeny jjang…
    Author-nim jjang…

    Like

  7. Akhirnya tae membaca diary panny yang dimana di dalamnya itu curahan isi panny selama ni .. Ternyata panny duluan menyukai tae cinta yang terpendam begitu lama..kira2 apa yang panny lakukan kalau kalau tae udh baca diary nya…

    Like

  8. Sebuah diary keajaiban
    Sedih banget fany😢😢
    Ayolah kalian cepat bersatu sebelum negara api menyerang😁

    Like

  9. Sebenernya ini yg lebih nyesek sapa fany yg udah lama bett suka ama tae apa tae yg baru nyesek gegara baca diarynya fany
    Tae kg pekaan kek cowo aee dh kwkwkwkw😂😂😂

    Like

  10. Aigoooooo panyyyy agk nyesek klo jdi mushrom uhhh ksihannnn bngett tmbenn bngett pany yg lbih dulu suka ma tae
    U emnk tegar nak
    Semangatt terussss ya Jazz
    Fightinggggggggg

    Like

  11. Nyesekkk lhat daddy yg g prnh peka slama brtahun” 😣
    Aing kira daddy yg udh lama cinta ma mommy, tp stelah bca diaryx.. saoloh ini mnyakitkan buat mommy, slama brtahun” dia pendam.. duh nangis bombayyah deh jdinya (?)
    Daddy samperin mommy cpetan dah, jgn smpai mnyesal untk ke dua kalinya…

    Like

  12. Ternyata fany dah suka dari dulu ma tae,,kenapa tae telat bgt sadarnya? Fany dah punya kekasih lain,,,tpi jangan menyerah tae kejar fany dan ganti rasa sakit tuu jadi bahagia selalu,,,,

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s