WHY AM I LIKE THIS? (CHAPTER THREE END) BY JAZZ

 

jazz

 

Taeyeon hanya bisa memandang kosong kearah meja lain. Walaupun ada sahabatnya yang lain yang kini tengah mengelilinginya. Ia hanya tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Yang siang ini lebih memilih untuk menemani kekasihnya di meja yang lain. Taeyeon tidak tau jika rasanya akan sesakit ini untuk mengetahui kebenaran.

Ia begitu tersesat akan pikirannya sendiri sekarang. Taeyeon hanya tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana gadis itu mampu untuk melalui semuanya sendiri. Dia merasa begitu bodoh untuk menjadi orang yang sangat buta. Melihat senyuman Tiffany kini, justru membuat luka di hatinya meluas. Dia pernah menyakiti gadis itu, berkali-kali. Tanpa dia sadari.

Dia pernah menumbuhkan luka yang sangat dalam, untuk waktu yang lumayan lama. Juga, tanpa dia tau tentang itu. Rasanya sungguh menyakitkan jika mengetahui bahwa kita telah melukai seseorang tanpa kita tau, bahwa kita sendiri penyebabnya. Apa lagi, jika dalam kasus Taeyeon. ini adalah Tiffany. Sahabatnya. Seseorang yang kini tidak pernah meninggalkan ruang hatinya siang malam. Nama yang tak pernah sedikitpun ia lupakan dalam benaknya.

Kini Taeyeon tau, betapa dia telah melewatkan kesempatan yang begitu berharga. Bagaimana dia telah membuang semua itu dengan kebodohannya. Dia sangat menyesali semua itu. Dimana dia tidak sama sekali menyadari perasaan Tiffany. Dimana dia terlalu buta untuk mengetahuinya lebih dulu.

Dia terlambat. Kini senyum itu bukan lagi di tujukan hanya untuknya. Kini bukan hanya dia yang ada di pandangan gadis itu. Bukan hanya nama dia yang akan di ingat gadis itu ketika dia merasa sepi. Bahkan genggamannya, bukan lagi milik Taeyeon.

Dia tidak lagi memiliki Tiffany seutuhnya.

 Dan dia merasa sangat idiot karena itu.

Ia hanya ingin memutar semuanya. Ia hanya ingin mengetahui perasaan gadis itu lebih dulu, setidaknya dia pasti akan mencoba membalas perasaannya dulu. Dan bukannya menyakitinya berulang kali seperti apa yang telah ia lakukan. Ia pasti tidak akan berada dalam lubang penyesalan dimana dia berada sekarang. Taeyeon pasti sudah menggenggam tangan itu dengan erat. Dia pasti sudah memiliki senyum itu yang hanya di tujukan untuknya. Terlepas dari semua itu, dia pasti sudah merengkuh Tiffany. Hanya untuk dirinya.

Namun memang, semua itu akan terwujud jika saja dia menyadarinya lebih dulu..

Nyatanya tidak.

 “Aku penasaran kenapa Sungjae, tidak pernah mau bergabung bersama kita.”Ujar Sooyoung setelah melemparkan pandangannya pada pasangan kekasih itu.

“Benar. Lagipula, Tiffany kan sahabat kita.”

“Mungkin dia hanya merasa tidak nyaman.”Sambar Yoona kali ini,

“Kenapa? Aku bahkan tidak akan mengganggu mereka. Seharusnya jika dia mau bersama Tiffany, dia harus mengambil hati para sahabatnya juga, kan?”Jawab Sooyoung lagi, kali ini dengan nada yang tidak suka.

“Terutama Taeyeon, sahabat terdekat Tiffany.”Tambahnya lalu melirik Taeyeon sebentar,

“Ya kan, Tae?”

Tidak mendapatkan jawaban dari gadis itu yang masih menatap kosong kea rah lain, Sooyoung berdecak. “Taeyeon! Apa yang kau” lihat, sih?”

“Oh? Apa yang kau katakan tadi?”

“Yah. Kau melamun?”Tanya Yuri cepat, “Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”

“Tadi Syoung mengatakan, jika Sungjae setidaknya harus mengambil restumu sebagai sahabat Tiffany.”

Taeyeon sempat terdiam untuk sesaat, lalu kembali menaruh pandangannya pada sepasang kekasih yang kini sedang tertawa bersama di bagian meja yang lain.

Dia menarik sudut bibirnya untuk tersenyum,

“Itu tidak penting. Yang penting hanya bagaimana dia bisa membuat Tiffany bahagia. Tidak sepertiku.”

Jawabannya kali ini justru membuat semua sahabatnya kebingungan. Mereka menatap Taeyeon dengan sejuta pertanyaan. Mereka tidak pernah menduga sama sekali jika Taeyeon akan memberikan itu sebagai jawaban.

“Apa yang kau bicarakan, Taeyeon-ah?”

“Aku telah melakukan kesalahan.”

Lalu Taeyeon merapihkan semua barang bawaaanya sebelum akhirnya ia beranjak dari duduknya. Meninggalkan sahabat-sahabatnya yang semakin bingung akan perubahan sikap Taeyeon yang singkat.


 

“Hei…”Sapa gadis itu lembut pada seseorang yang kini tengah menatap kearah luar jendela kelasnya. Langit hari ini tampak biru. Dia tenggelam akan itu.

Taeyeon menoleh pada asal suara itu, lalu dia tersenyum simpul.

“Kenapa kau melamun?”Tanyanya pelan, lalu mempersilahkan dirinya untuk duduk di samping gadis itu.

“Tidak ada alasan.”Jawab Taeyeon singkat, kembali menaruh perhatiannya pada langit biru.

“Taeyeon-ah.. Ada apa?”Kini intonasinya melembut, Tiffany meraih satu tangan sahabatnya untuk di genggam. Taeyeon lalu menatap kearah genggaman itu, dia tersenyum pahit.

Aku melukaimu. Dan aku tidak tau itu. itu masalahku.

 “Sooyoung dan lainnya berkata bahwa kau mengatakan sesuatu tentang penyesalan. Mind to tell me?”

“Itu bukan apa-apa. Dimana Sungjae? Kau meninggalkannya?”

Tiffany merengut, tidak menyukai jawaban yang Taeyeon berikan padanya. “Kenapa kau menanyakan dia? Aku disini untukmu. Jangan sebut namanya ketika sedang berdua, Taeyeon.”

Bahkan di saat seperti ini, kau masih tidak mau menyebut namanya, Fany-ah. Kau membuat ini terasa begitu membingungkan. Tidak menyebut namanya ketika kita sedang bersama? Mungkihkan ada sesuatu yang juga aku belum ketahui?

 Apa itu.. Fany-ah?

 Kenapa? Bukankah dia kekasihmu?”Pertanyaan Taeyeon justru membuat gadis itu tidak nyaman.

“Jika kau merasa tidak nyaman aku disini, aku akan keluar.”Jawab Tiffany lalu bangkit dari duduknya, merasa tidak senang akan pertanyaan yang baru saja di lemparkan kepadanya. Pertanyaan yang bahkan ia sendiri tidak tau jawabannya.

Namun Taeyeon dengan sigap menarik satu lengan Tiffany.

“Penyesalan yang aku rasa sekarang itu, begitu besar. Kau tidak akan memahaminya.”

Dalam hati Tiffany merasa lega, dengan jawaban Taeyeon. setidaknya sahabatnya itu mau terbuka di saat-saat seperti ini. Walaupun ia sedikit bingung akan itu, akan perkataan Taeyeon barusan.

“Kenapa tidak? semua orang melakukan kesalahan dan mereka pasti juga menyesalinya. Tidak terkecuali kau, Taeyeon-ah..”

Tapi ini semua menyangkut dirimu, Fany-ah. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

 “Bagaimana jika kesalahan itu begitu rumit? Kau bahkan tidak menyadari bahwa kau telah menyakiti seseorang untuk waktu yang lama.”

Tiffany sempat terdiam akan itu, dirinya sedikit tersesat. Entah mengapa, membayangkannya. Ia mampu merasakan seseuatu seperti perasaan tidak nyaman.

“Bukankah itu berlebihan, untuk menyakiti seseorang dalam waktu yang lama dan dia tidak mengetahuinya?”

 Perkataan Tiffany selanjutnya mampu membuat Taeyeon kembali terdiam. Dia menoleh kearah luar. Mendengar itu dari mulut sahabatnya sendiri, memang terasa lebih menyakitkan. Dan dia benar-benar merasa sangat bersalah.

“Taeyeon, dengarkan aku.”Tiffany kembali meraih satu tangan sahabatnya,

Taeyeon menoleh, lalu keduanya kini saling beradu pandangan. Tatapan Tiffany melembut, “Aku tidak tau apa yang sedang mengganggu pikiranmu sekarang, tetapi aku hanya ingin kau tau. Bahwa aku selalu berada disini.”

“Kau bicara tentang penyesalan dan kesalahan. Semua orang melakukan itu. bedanya, hanya bagaimana cara kita menyikapinya. Aku yakin, semuanya pasti mempunyai jalan keluar. Siapapun itu, yang menyangkut masalahmu. Aku yakin, orang itu dapat memahaminya dengan baik.”

Mendengar itu, menatap kedua bola mata coklat madu itu, mendengar suara lembut namun jelas itu seketika dapat membuat Taeyeon merasakan bendungan air matanya yang roboh. Dia tidak kuat untuk menahannya. Air mata itu lalu jatuh di hadapan Tiffany.

Melihat itu, Tiffany segera merengkuh tubuh kecil sahabatnya. Dia mengusap lembut punggung Teeyeon. Menenggelamkan wajahnya pada lapisan rambut lembut Taeyeon. memejamkan matanya. Dia sungguh bingung akan kondisi gadis ini, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain terus berada di sampingnya.

Sebenarnya, ada apa denganmu, Taeyeon-ah?


 

 

“Bolehkan aku bermalam di rumahmumalam ini?”

 “Huh?”

 “Tidak boleh, ya?”

 “Bukan begitu, biasanya aku yang akan meminta untuk bermalam di rumahmu. Atau aku harus memintamu lebih dulu untuk bermalam di rumahku.”

 “Aku.. hanya ingin.. bersamamu akhir-akhir ini.”


 

Tiffany tidak tau jelas apa yang membuat sahabatnya kini begitu clingy. Dia sedikit bingung melihat perubahan sikap Taeyeon terhadapnya. Seperti sekarang ini, dia sedang berada dalam dekapan gadis itu yang sedang tertidur pulas. Dirinya bahkan mendapatkan kecupan selamat malam dan kata-kata manis lainnya dari bibir Taeyeon sebelum dia tertidur tadi.

Tiffany tersesat dalam fikirannya sendiri selama berjam-jam. Sembari memandnagi wajah teduh itu tertidur, dia terus mencari jawaban-jawaban yang mungkin ada.

 “Apa mau ku buatkan coklat panas?”

 “Biskah kita langsung tidur? Aku ingin memelukmu lagi.”

 

 

 Tiffany bisa merasakan kehangatan yang kini menyelimutinya sangat nyaman. Dia menyukai bagaimana Taeyeon akan mengusap rambutnya lalu sesekali mengecupnya lembut. Mengatakan bagaimana dia sangat berharga bagi gadis itu, mengatakan bagaimana cantiknya dia tidak peduli dalam situasi apapun.

 Dia tenggelam akan setiap kata-kata yang Taeyeon lontarkan untuknya.

 “Maafkan aku jika aku pernah membohongimu waktu itu. ketika aku mengatakan harus mengerjakan tugas dan membuatmu marah. Maafkan aku.”

 Dengan itu Taeyeon mengeratkan dekapannya. Menarik gadis yang ada di bawahnya untuk lebih dekat,

 Bukan Tiffany tidak suka perubahan sahabatnya yang baru. Ia hanya merasa sangat bingung. Dia bahkanmenyukai bagaimana lembut sikap Taeyeon saat ini. Dia sangat menyukainya.

 Tetapi ia tau.. pasti ada sesuatu yang di tutupi gadis itu. dimana dia tidak lagi bisa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya.

 “Dan Fany-ah… aku benar-benar minta maaf jika aku pernah menyakitimu lebih dalam.. maafkan aku.”

 Tiffany mendongak untuk menemukan tatapan Taeyeon yang melembut. Dia bisa melihat pengawasan yang tidak biasa dari bola mata itu. dia bisa melihat pancarannya mengatakan penyesalan yang begitu dalam. Yang dia tidak mengerti apa maksudnya.

 “Aku benar-benar menyesal, maafkan aku.”Bisik Taeyeon masih dapat terdengar oleh Tiffany.

 Dia kembali mengecup kening gadis yang lebih muda, menahannya agar lebih lama disana. Lalu kembali menariknya untuk di dekap.

 Meninggalkan Tiffany dengan sejuta pertanyaan yang berlari-lari di kepalanya.

 

kau terlihat sangat nyaman. Aku tidak mau mengganggumu. Kau perlu istirahat, Fany-ah

Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu.

 Taeyeon.

 


 

Taeyeonnie

 8.49

 Kenapa kau tidak membangunkanku? 😦

 8.50

 Sudah ku bilang, aku tidak mau mengganggu tidurmu.

 8.51

 Tetap saja, aku masih ingin berlama-lama denganmu..

 8.51

 …Benarkah? Kau tidak membenciku?

 8.52

 Apa yang kau katakan sekarang, Taeyeon-ah? Untuk apa aku membencimu? I really really love you. And you know it.

 8.53

 Bahkan jika aku telah melakukan sesuatu yang salah? Apa kau masih mau berbicara denganku?

 8.54

 Bahkan jika kau mengambil boneka unicorn pink-ku. Aku tidak akan pernah membencimu. Apalagi tidak berbicara denganmu. Aku tidak bisa melakukan itu. aku sangat-sangat mencintaimu untuk melakukan itu.

 Tiffany sempat bingung karna ia tidak mendapatkan balasan lagi. Cukup lama ia menatap layar datar itu untuk menunggu balasan. Sejujurnya, dia merasa sedikit menyesal mengatakan itu.. bukan karna bahwa hal itu tidak benar. Tetapi, ia hanya takut bahwa Taeyeon mungkin merasa tidak nyaman dengan kata-katanya. Namun dia hanya mencoba untuk jujur.

Tiffany tau, dirinya mungkin tidak akan pernah melupakan perasaan itu. perasaan yang seharusnya tidak ada untuk sahabatnya. Dia tau dirinya salah untuk itu, tetapi dia tidak bisa memaksakan perasaanya sendiri. Dia hanya sangat mencintai Taeyeon untuk melupakannya begitu saja. Walaupun ia telah melalui perjuangan yang begitu panjang untuk melihat Taeyeon bersama yang lain. Terluka untuk waktu yang lama karna itu. hanya saja, ia tidak memegang kendali akan hatinya.

Hatinya tetap memilih Taeyeon.

Sampai kapanpun.

Tidak peduli Seberapa keras ia mencoba. Jawabannya akan tetap sama.

Tiffany tau, semuanya tidak akan berjalan seperti apa yang telah ia harapkan. ia tau, Taeyeon tidak akan pernah bisa menjadi miliknya. Tetapi ia masih bertahan pada secercah harapan yang ia punya untuk gadis itu. dia masih menggantung perasaanya sendiri di atas semua perasaan yang ada. Dia tidak menunggu keajaiban, dia hanya ingin berada terus di samping Taeyeon tidak peduli bagaimana keadaanya. Ia hanya ingin terus berarti, walaupun hanya ada sedikit ruang di hati gadis itu untuknya.

Dia bahkan rela untuk merasakan sakit lagi, jika Taeyeon mungkin saja akan bersama yang lain. Tetapi ia tidak peduli. Keegoisan perasaanya untuk Taeyeon selalu menang akan itu.

Tok tok.

 Tiffany menoleh kearah pintu kamarnya. Dalam hatinya ia bertanya, siapa yang mungkin ada di balik pintu itu. karna kedua orang tuanya sedang berada di luar kota, untuk mengatur surat perceraian mereka. jadi, tidak ada orang lain di rumah ini selain dirinya.

Ia sedikit terkejut ketika mendapati Taeyeon tengah berdiri di hadapannya dengan napas yang tersengal. Keringat yang mengalir di dahinya. Dia seperti habis berlari ke rumahnya.

“Taeyeon-ah! Ada apa?”

Tanpa menjawabnya, gadis itu justru menarik dirinya untuk di peluknya erat. Membuat Tiffany kembali bertanya-tanya apa maksud dari semuanya. Karna ia begitu tersesat.

Dia bisa merasakan dekapan Taeyeon yang semakn erat.

“Kau berjanji untuk tidak membenciku. Tidak peduli apa yang telah aku lakukan..”Lirih gadis itu pelan, masih mengatur nafasnya.

“Apa kau akan membenciku…”

“Jika aku katakan.”

“Bahwa aku benar-benar mencintaimu, tidak hanya sebagai sahabat?”

Dan dengan itu mampu membuat seluruh darah yang mengalir di diri Tiffany seperti terhenti. Dia bisa merasakan jantungnya yang melewatkan setiap debaran. Dia membulatkan matanya.

Mendorong jatuh tubuh itu. lalu menatap Taeyeon yang kini telah menitihkan air matanya.

“Ada apa dengamu, Taeyeon-ah!?”

Katanya agak di tinggikan. Tidak peduli sebenarnya betapa mengejutkan namun bahagia di secara bersamaan ketika mendengar itu. dia hanya ingin menyelesaikan permainan ini. Dia harus di tampar kenyataan jika Taeyeon tidak akan pernah bisa menjadi miliknya.

“Aku tidak peduli dengan Sungjae. Aku tidak peduli dengan dunia. Bahkan semua orang yang mungkin menentangnya. Aku tidak peduli.”

“Awalnya aku mengira. Tidak mungkin aku mencintaimu seperti itu. tetapi mungkin, aku hanya tidak tau yang sebenarnya..”

Tiffany kembali membulatkan matanya ketika satu tangan Taeyeon menyodorkan sebuah buku yang sangat tak asing baginya. Dia reflek langsung meraih itu tanpa berkedip.

“Bukankah sudah ku bilang, sungguh tak sopan untu membaca diary orang?”Suara Tiffany kini bergetar, takut akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Bagaiamanapun, Taeyeon telah megetahui yang sebenarnya. Gadis itu pasti sudah mengetahui rahasia terbesarnya yang selalu ia coba kubur dalam-dalam. Dia merasakan sesuatu yang menghimpit rongga dadanya memikirkan bagaiaman reaksi Taeyeon jika mengetahui itu.

Perasaan yang seharusnya tak pernah ada.

Sekarang semuanya masuk akal. sekarang dia mengerti dengan seua perubahan sikap Taeyeon akhir-akhir ini. teaki-tekinya sudah terjawab. Dia seharusnya bisa mengetahui jawabannya.

“Kita benar-benar begitu nyaman, sampai aku tidak menyadarinya..”

“Tidak bahkan dengan hatiku sendiri mengetahui yang sebenarnya.”

Keduanya kini telah terisak di hadapan satu sama lain. Pancaran mata keduanya yang berbicara. Di bawah pengawasan itu, terdapat luka, bahagia, bimbang. Yang mereka sendiri tidak tau, apa arti semuanya. Dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

“Aku tidak tau pastinya sejak kapan, aku tidak tau bagaimana kita akan memulai. Tetapi ini hanya cukup kau dan aku tanpa orang lain tau.”

“Fany-ah.. Aku selalu menyangkalnya.. hatiku yang bodoh.”

“Maaf untuk membuatmu menunggu begitu lama.. tetapi sekarang aku menyadari semuanya..”

“Aku benar-benar mencintaimu, Tiffany Hwang.”

dengan itu, Tiffany bisa bersumpah. Bahwa hidupnya kini telah di jungkir balikan hanya dengan perkataan barusan. Ia sungguh bingung dengan apa yang harus di rasakannya sekarang. Ia begitu marah mengetahui Taeyeon telah membaca diarynya, namun dia bisa merasakan api kebahagiaan yang menjalar di ulu hatinya saat ini.

“Untuk keterlambatanku, aku minta maaf.”

“Aku ingin mengatakan ini setiap kali aku melihatmu. Aku benar-benar pengecut, kan?”

Taeyeon tertawa renyah lalu menghapus air matanya yang jatuh. Dia sungguh tidak bisa menatap dua bola mata itu sekarang. Taeyeon menunduk, dia hanya tidak tau harus bagaimana. Karna dia telah mengatakan perasaan yang sebenarnya. Dia hanya takut, jika Tiffany mungkin akan membencinya sekarang.dia mengira, gadis itu akan marah dan lebih lagi mengusirnya. Karna tindakan bodohnya saat ini.

Namun betapa jantungnya seperti berhenti untuk bekerja, saat merasakan sesuatu yang lembut kini menyentuh bibirnya. Dia masih membuka matanya saat ini. Mampu dengan sangat jelas melihat kedua kelopak mata Tiffany yang tertutup. Sebelum akhirnya Taeyeon mengikutinya.

Karna ini pertama kalinya, mereka berdua masih ragu untuk melakukannya lebih jauh. Itu adalah ciuman yang penuh innocent di antara dua gadis yang saling jatuh cinta.

“Kau tidak tau, berapa lama aku menunggumu untuk mengatakan itu. Kim..”Ujar Tiffany berbisik, sembari menyatukan kening mereka.

“Tetap saja, aku juga membencimu karna telah membaca seluruh isi diaryku..”

dengan itu, Taeyeon kembali menarik Tiffay ke dalam pelukannya. Dia menjatuhkan banyak kecupan di pucuk kepala gadis yang lebih muda sembari terisak pelan. Dia sungguh tak bisa mempercayai ini.

Dia akhirnya bisa mendapatkan sosok Tiffany di hidupnya. Secara utuh. Seperti apa yang dia inginkan. Terasa sepert mimpi siang bolong yang menghampirinya lebih dulu. Dia hanya tidak bisa memikirkan hal lain yang lebih indah dari ini. Jika ini semua mimpi, dia memohon kepada semesta untuk tidak membangunkannya untuk waktu yang lama.

Namun semua juga terasa seperti nyata di saat bersamaan. Kulit hangat Tiffany yang kini bersetuhan dengannya. Deru nafasnya yang bisa ia rasakan sekarang, suara lembutnya yang seperti alunan lagu. Taeyeon tau semua itu nyata.

“Gomawo, Fany-ah..”


 

“Unnie! Pacarmu datang!”Teriak Hayeon dari ujung tangga memanggil kakak perempuannya,

“Maksudku, sahabatmu! Cepatlah turun!”

Tiffany hanya bisa tertawa kecil mendengarnya, lalu berjalan menekat ke Hayeon yang kini berada di dekat meja makan, menyiapkan sarapan kecil untuk kakak-kakaknya.

“Mau ku bantu?”

“Oh tidak perlu, Unnie. Aku bisa. Kau tunggu saja gadis pemalas itu sebentar,”

Tiffany tersenyum, “Aku memaksa.”Jawabnya lalu membantu menyiapkan beberapa piring di atas meja. Hingga suara kaki menuruni anak tangga dengan cepat,

“Fany-ah!”Seru gadis itu lalu sedikit berlari untuk menghampirinya.

“Kau tidak membalas pesanku semalam,”Ujarnya pelan lalu memeluk gadis itu manja, dan hanya di balas tawa kecil oleh Tiffany. Dia membalas pelukannya.

“Mian. Aku tertidur..”Katanya pelan,

“Kau harus sarapan dulu, Tae..”Ujarnya lagi sembari hendak melepaskan pelukan mereka, namun Taeyeon enggan untuk itu. dia justru mengeratkan kedua tangannya.

Sama sekali tak mmemperdulikan adiknya yang kini tengah memperhatikan mereka dengan wajah heran.

“Sebentar.. aku masih mau seperti ini..”

Tiffany hanya bisa menghela nafasnya dan dengen gerakan perlahan, tangannya mengusap lembut punggung Taeyeon.

“Lihatlah. Lihatlah. Apa itu bahkan wajar untuk seorang sahabat melakukan itu?”Kata adiknya sembari melipatkan tangan di dada, membuat keduanya melepaskan pelukan mereka dan menatap remaja ituyang kini terlihat begitu heran.

“Tidak.”Jawab Taeyeon singkat,

“Lalu kenapa kalian seperti itu?”

“Tidak bolehkah?”

“Tentu saja tidak! kecuali kalian mempunyai hubungan!”Seru Hayeon yang kini makin di buat heran karna kedua kakaknya itu kini hanya tertawa.

“Lalu bagaimana dengan ini?”Tanya Taeyeon lalu mengecup bibir Tiffany singkat, membuat gadis yang lebih muda merasa sangat malu. Dia bisa merasakan semburat merah di pipinya.

Dia tidak menyangka jika Taeyeon mungkin saja mau terbuka soal hubungan mereka, apa lagi dengan keluarga mereka.

Hayeon menjatuhkan garpu yang sedari tadi digenggamnya. Mulutnya ternganga, kedua matanya membulat.

“Apa itu di izinkan?”Kata Taeyeon, lalu Tiffany menyikutnya pelan sembari tertawa.

“Atau ini?”

Taeyeon menjatuhkan kecupan di pipi gadis itu, lalu kening juga hidungnya. Membuat Tiffany merasa geli namun bahagia di ulu hati.

“Apa itu wajar?”

Namun reaski Hayeon selanjutnya membalikkan keadaan. Anak itu lalu berlari menaiki anak tangga sembari berseru.

“OPPA! SUDAH KU BILANG! AKU MEMENANGKAN TARUHAN! MEREKA BENAR-BENAR PACARAN!”


 

Sooyoung menggelengkan kepalanya. Sesekali memutar kedua bola matanya ketika melihat kearah meja lain di sudut kantin.

“Ck. Ck.ck.”

Yah. Lihatlah. Mereka berdua seperti merasa kalau dunia ini hanya milik mereka.”

Sunny menoleh untuk mengikuti arah pandangan Sooyoung. Dia tersenyum simpul, lalu melanjutkan kegiatannya untuk membaca buku. Maish belum mau menyingkirkan senyumannya. Dia merasa bahagia. Untuk sahabatnya.

Begitu juga dengan yang lainnya. Walaupun Taeyeon dan Tiffany belum mengatakan apapun pada mereka. tanpa mereka melakukannya, dia dan yang lainnya sudah tau apa yang terjadi.

“Tiffany-unnie sangat senang ketika mengatakan bahwa dia hari ini membuatkan bekal untuk Taeyeon-unnie.”Sambar Seohyun masih memperhatikan keduanya yang kini asyik untuk saling menyuap makanan sembari bercanda.

“Aku bertanya-tanya. Kenapa baru sekarang mereka akhirnya memilih untuk bersama..”Sambar Yuri,

“Maksudku, kalian sendiri tau keduanya saling jatuh cinta untuk waktu yang lumayan lama.”

“Mungkin, mereka baru menemukan kesempatan itu sekarang. Kita hanya perlu mendukung mereka sekalipun dunia ini tidak akan pernah mengizinkan mereka bersama.”Jawab Jessica sembari meyeruput jus jeruknya,

Lalu mereka terlarut pada topic yang lain hingga seorang siswa mendekati meja mereka. ke tujuhnya menoleh untuk menemukan Sungjae yang berdiri tidak jauh dari mereka,

“Aku hanya ingin bertanya satu hal mengingat kalian adalah sahabat Tiffany.”

Sooyoung memutar kedua bola matanya,

Si pengecut satu ini. Baru menghampiri kita jika ada maunya.

“Cepat katakan jangan bertele-tele.”Jawabnya ketus, “Apa kalian mengetahui alasan sebenarnya Tiffany mengakhiri hubungan kami?”

Sooyoung lagi-lagi membuang napasnya kasar. “Yah. Kau masih perlu bertanya untuk itu? lihat kearah jam satu dan kau akan menemukan jawabannya.”

“Bukankah itu Taeyeon? sahabat terdekatnya? Ada apa dengan mereka?”

Kini giliran Jessica yang angkat bicara, “Ada apa dengan mereka bukan pertanyaan yang tepat. Kenapa mereka baru bersama sekarang setelah mengetahui isi perasaan masing-masing untuk waktu yang lama lah. Yang harus kau tanyakan saat ini.”


 

“Ini masih terasa seperti mimpi..”Ujar Tiffany berbisik sembari memperhatikan setiap lekuk wajah kekasihnya. Yang begitu cantik di matanya. Pahatan tangan Tuhan yang sempurna. Yang sekarang hanya miliknya. Dia masih tidak menyangka atas ini. Dia bahkan bisa menyebut nama itu berkali-kali sebagai kepunyaanya.

Ada senyum bangga ketika ia melihat Taeyeon di kagumi oleh banyak orang. Orang itu kini sudah menjadi miliknya dan tidak akan ada yang bisa mengubah itu. Tiffany merasa begitu beruntung untuk bisa menikmati bagaimana teduhnya senyum itu, Bagaimana pengawasan lembut itu hanya di tujukan untuknya.

Kamar ini hanya di isi dengan keheningan pagi yang cerah. Dimana keduanya bis berbaring malas-malasan dan cuddling untuk sepanjang hari.

Tiffany menjelajahi setiap lekuk permukaan wajah Taeyeon dengan jari-jarinya,

“Aku rasa aku benar-benar mencintaimu, Hwang.”Ujar Taeyeon pelan, menatap paras mempesona kekasihnya yang kini semakin sempurna karena cahaya tipis matahari yang menembus jendela.

“Aku mencintaimu lebih dulu, Kim. Tidak perlu sombong,”Jawab Tiffany lalu mengecup bibir lembut milik gadis itu.

“Uhm, sebenarnya.. aku sering mencuri waktu untuk menciummu ketika kau tertidur.”Kata Tiffany merasakan malu yang tiba-tiba melandanya.

“Aku tau.”

“Jjinja?”

“Pagi itu aku sebenarnya sudah terbangun.”Kata Taeyeon tersenyum sumringah.

“Tetapi bukankah itu tidak sopan untuk mencium seseorang tanpa izin?”

“Bukankah itu juga tidak sopan untuk membaca diary seseorang tanpa izin?”

“Baiklah, kita impas. Lagi pula aku menyukai dimana kau mencuri ciuman ku beberapa kali.”

Byuntae!”

mereka berdua larut dalam berbagai topic sembari sesekali bercanda dan berbagi tawa mereka.

“Taeyeon-ah,”Tiffany mengusap pipi kekasihnya lembut,“Jangan pernah pergi. Tetap di sampingku. Bahkan jika aku mematahkanmu, membuatmu marah, membuatmu jauh dengan temperku yang buruk.”

“Aku hanya takut jika kau akan benar-benar menghilang. Karna aku menunggu sangat lama untuk bisa memilikimu, Tae..”

“Fany-ah berhenti mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.”Taeyeon tidak begitu suka bagaimana kekasihnya akan menjadi orang paling khawatir tentang kelanjutan hubungan mereka.

“Lagipula, harusnya aku yang mengatakan semua itu. aku pernah menyakitimu, aku juga khawatir jika suatu saat kau akan pergi. Tapi aku tidak peduli jika waktu itu akan datang atau tidak. karna aku memilikimu sekarang. Dan itu yang terpenting.”

“Hari ini lagi, kesekian kalinya aku melihtmu di mimpi. Tetapi kau berjalan menjauh ke tempat yang lebih gelap. Aku begitu takut saat itu.”

keduanya saling menatap untuk waktu yang lama.

“Tapi ketika aku membuka mataku. Aku melihat wajah itu yang baru saja meninggalkanku di mimpiku sendiri. berada sangat dekat. Aku melihatmu tertidur dengan nyaman di dalam pelukanku. Dan saat itu juga aku tau, bahwa kau tidak akan kemana-mana. Kau akan tetap disini. Untuk waktu yang lama. Bersamaku.”

Tiffany tidak menyadari bahwa dia sudah menitihkan air matanya. Senyumnya mengembang liar. Kebahagiaan yang memuncak yang kini menguasai seluruh ruangan hatinya.

“Terimakasih, Taeyeon-ah..”

“Tidak. Terimakasih, Tiffany. Karna telah memberikan kesempatan ini walaupun begitu terlambat.”

Taeyeon lalu mengecup kening, kedua kelopak matanya yang tertutup, hidung, lalu bibirnya. Dia hanya ingin Tiffany tau, bagaimana dia sungguh-sunguh akan hal ini. Dia hanya ingin Tiffany tau, bahwa dia tak akan kemana-mana. Bahwa dia sangat mencintai gadis ini untuk pergi begitu saja. Bahwa dia, dengan seluruh kemampuannya, akan membuat Tiffany tinggal di sampingnya.

Untuk waktu yang sangat lama.        

 


 

 

udah mentok bgt woooy gatau mau ngetik apa.. tapi semoga nyangkut di hati deh ceritanya.

maaf kalo rada garing sm typo yang bertebaran. ku tidak sempurna 😦

 

komen yeee jangan kabur lu wkwk.

jazzatta

Advertisements

85 thoughts on “WHY AM I LIKE THIS? (CHAPTER THREE END) BY JAZZ

  1. Ooh i like that ~~
    Seneng kalo ceritanya dri sedih berakhir happy ..
    Meski skrang si taetae ke hawaii ga bareng sm bininya alhasip buat mukanya yg imut jd asli jutek :”v

    Like

  2. yeeeyyyy taeny jadian … bahagia … langgeng ya taeny … hehe

    wow … selalu kalo kaka2 di wp ini kalo update cerita keren2 👍👍

    daebaakkk
    udah deh gitu ajja cuap2 nya .. bingung mau ngomong apalagi

    Like

  3. ngakak bca teriakan hayeon yg menang taruhan sama oppa nya 😀
    akhirnya penantian , kesakit hatian tipanul trbalaskan wajwk
    gantian ya yg menderita sma perasaannya pani skarang , hahahah
    langsung mtusin si sungjae tuh haha , jackpot mah jarang” jadi g pikir lama 😀

    Like

  4. Asiqueeee happy ending😁
    Tau ga sih ? Lagi serius” baca ehh nemu typo jadi ngakak wkkw
    Tapi pas baca hayeon ke bawah bikin senyum” sendiri bacanya yg tae tae nyium pany d depan adeknya ngehheehheh
    Mangats yayaya^^

    Like

  5. legaaaa…. ahirnya bersatu. emang mereka berdua ini cocok bgt kalau lovey dovey an gtu. apalagi prosesnya pake lama bgt gitu. ya pastilah bakal over hepi. Selamat taeny!!!!!

    Like

  6. Kereeennn suka sama critanyaa. Author emang jjang!!!! Slm kenal untk reader baru thor, ijin aku udh baca yg sbelumnya. Tp untk slanjutnya aku bkl sering2 ninggalin jejak. Gomawoo;)

    Like

  7. Yeay yeay yeay yeay taeny bersatuu yeayyyyyyyyy
    Bahagia bngegtt gw mrekka yg pacaran gw yang happh wkwkwkwkwk
    Ok semangat terus ya jazz
    Fighhtinggggggggg

    Like

  8. Yeyyyy akhirnya bersatu juga
    Setelah sekian lama mereka mengacuhkan perasaan yg tumbuh terhadap satu sama lain, tetap aja perasaan itu ga akan pernah bisa dibohongi.
    Jagain fany nya yang benerrrr
    Jangan meleng ke cewe lain, fany juga sama hahaha
    Ya sudah ah, bahagia kalo endingnya seperti ini 😍😍😍
    Bye Jazz, semangat ya buat bikin ff yang seger lagi hihi

    Like

  9. Yeiiy akhir nya taeny kalian memang diciptakan tuk bersama,.kedua makhluk yg sempurna dimataku 😅 terhura hura aku thor
    senang deh dgn taeny dh jadian,kasmaran nya pisan sahabat nya pun support mereka ,,daebak la thor..cukup senang deg deg’an dgn karya mu 😆 slalu mengesankan
    taeny jjang !! akhirnya jadian 🙌🙌🙌

    Like

  10. Perfecto, ending yg smpurna..
    Akhirnya daddy dan mommy aing bersatu..
    Njayy, dedek hayeon lucuk. Gilakk mpe truhan ma jinwoon oppa cmn grgr hbngan daddy dan mommy..
    .
    TaengQ authornim, ffnya keceh beud 😁😍

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s