Home (By Atta)

Jadwal kelas dua belas semakin lama semakin gila.

Aku bahkan hanya mendapatkan 5 jam untuk tidur tiap harinya,

Urusan sekolah dan organisasi jadi makin ruwet

ingin rasanya hanya ingin fokus untuk sekolah, tentunya diselingi nulis taeny

dan inilah hasilnya, mumpung semalem gaada tetek bengek yang harus dikerjain

emang enggak panjang sih, tapi cukuplaah untuk megobati rindu kita semua sama taeny

ya semoga sih yaa~ hehe

_____________________________________________

___________________________________________

_______________________________

Gadis itu terbangun dari tidurnya. Ia dapat merasakan sinar matahari yang kini menusuk tulang-tulangnya, memberikan sedikit kehangatannya di musim penghujan yang gelap ini. Detik kemudian tangannya meraba sisi disampingnya.

 

Lagi lagi tempat itu kosong.

Ia menarik nafasnya pelan. Sungguh ini bukan yang selama ini ada di bayangannya. Baru tiga jam ia terlelap, baru tiga jam gadis itu merengkuhnya, kini yang ada hanya sisi tempat tidur dengan selimut yang sudah rapih.

 

Ia memang tidak dapat menyalahkan kekasihnya akan itu, namun sungguh, bukan ini yang ia mau. Lagi lagi ia hanya mendapatkan dirinya menarik nafas berat ketika mengingat sudah berapa malam dingin yang ia lewati tanpa gadis itu berada disampingnya

 

Kekasihnya adalah salah satu yang akan menjadi cetakan terbaik kampusnya dari Faculty Of Medicine nomor satu di Korea itu. Ia adalah salah satu yang terbaik diangkatannya. Bahkan ia dinobatkan sebagai malaikat yang begitu sempurna, tak jarang ia mendengar banyak pujian dilontarkan padanya. Entah itu bahwa mereka sangat cocok untuk sama lain atau sekedar memuji bagaimana ia sangat beruntung memiliki Taeyeon dan sebaliknya.

 

Sekilas ia tersenyum untuk itu, namun dengan singkat pula itu menghilang. Taeyeon hampir mendekati sempurna. Ia benar-benar dan selalu menjadi kekasih yang baik untuknya. Mereka bertemu hampir tiga tahun yang lalu, di sebuah pesta malam tahun baru dan itu pasti bukan cinta pada pandangan pertama.

 

Mereka jatuh cinta perlahan, percikan tumbuh terus dan akhirnya terbakar menjadi besar sama seperti yang lainnya, dan Tiffany bahagia akan hal itu. Mereka telah hidup bersama selama dua tahun terakhir dan semuanya berjalan dengan baik, mereka tidak pernah bertengkar cukup besar untuk menggores hubungan mereka.

 

Taeyeon dan dirinya memang mengambil bidang yang sangat berbeda, Taeyeon akan berkutik dengan setumpuk buku dimejanya sementara ia akan disibukkan untuk menulis nada-nada ciptaannya lalu akan dipraktekan dengan suaranya yang begitu indah dan manis seperti coklat, atau begitu kata Taeyeon.

 

Taeyeon adalah kekasih yang sangat lembut, sabar, juga begitu menyayanginya. Satu tahun lalu, setiap pagi ia membuka matanya, ia akan mencium samar samar telur dan bacon panggang diindra penciumannya. Tubuhnya akan direngkuh setiap jaraknya semakin mendekat kepada figure yang tadinya sedang sibuk dengan masakan sarapan untuk keduanya. Lalu kecupan hangat akan mendarat di kening, pipi, dan bibirnya.

 

 

Hari-hari itu memang sungguh luar biasa untuknya, itu seperti Tiffany akan jatuh cinta berulang-ulang pada kekasihnya setiap harinya. Itu tidak terlihat sampai bahwa suatu pagi beberapa bulan yang lalu, ia terbangun dan menemukan bahwa percikan dan kupu-kupu diperutnya benar-benar pergi.

Ia tidak lagi mendapatkan kehangatan di tidurnya, tidak lagi bertukar kecupan tiap paginya, Taeyeon akan mencium pipinya setelah mengantarnya ke-kelas atau kantor managementnya, tapi itu tidak lebih dari kebiasaan. Mereka jatuh ke dalam rutinitas yang membosankan yang tampaknya tidak akan pernah berakhir. Taeyeon was great, pikirnya. Tiffany masih menyayanginya, ia sungguh mencintai Taeyeon. Tapi ia tidak membohongi dirinya bahwa ia mulai lelah akan itu. Ia mulai lelah akan Taeyeon.

 

 

————————————————————-

 

 

Gadis itu menyeruput minumnya sebelum ia melanjutkan kata-katanya.

 

“Jangan kau terima ajakannya, seriously!” Ia menarik nafasnya berat. “Bagaimana dengan Taeyeon? Apa kau sudah memberitahunya?” Ia menggeleng pelan.

 

“Apa yang akan kukatakan? “Oh, hey Tae. Josh mengajakku makan malam lagi, apakah aku boleh menerimanya?” seperti itu?”

 

“Yah! Aku hanya mengatakan kau harus memberitahunya. Setidaknya ia akan berbuat sesuatu akan hal itu.” Yuri melanjutkan perkataannya, “Aku tidak tahu Yul, aku merasa bersalah menyembunyikan semua ini darinya.”

 

“Harusnya seperti itu, ini ketiga kalinya kalian akan makan malam bersama dan Taeyeon sama sekali tidak mengetahuinya.” Tiffany lagi-lagi menarik nafasnya berat, seperti sesuatu menghimpit rongga dadanya.

 

“Apa aku melakukan kesalahan?” Yuri hanya dapat menggeleng. “Sejujurnya, aku tidak tahu Tiff. Yang aku tahu, aku ingin kau berhenti menemuinya, bagaimanapun juga Taeyeon adalah sahabatku.” Dengan itu Yuri bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan gadis berambut hitam panjang itu di meja restoran yang sepi itu sendiri, setidaknya mungkin itu akan memberi waktu dan ruang untuk sahabatnya berpikir.

 

 

————————————————————-

 

 

Ia baru saja beringsut masuk ke dalam gedung itu untuk mengambil kelas keduanya ketika ponselnya bergetar, mendesah pelan setelah melihat bahwa itu sebuah pesan yang ditujukan untuknya.

 

‘Kau tidak akan percaya ini, dosenku akan membawaku ke ruang operasi untuk mengamati Hemorrhoid Treatment! Kesempatan yang sangat langka, Fany-ah.’

 

‘Begitukah? Aku turut senang. Aku akan bersiap untuk kelas kedua lalu akan makan malam dengan Jess dan Yoona.’

 

‘Ah, mianhe. Aku mengerti. Baiklah, selamat bersenang-senang. Katakan padaku jika sudah selesai, aku akan menjemputmu. Kau mengerti?

 

‘Bukankah kau ada operasi?’

 

‘Tidak masalah, itu akan dimulai jam 9. Masih sempat untuk menjemputmu.’

 

‘Tidak perlu, kau akan merasa lelah dan kantuk. Lagipula ada Yoong dan Jessi.’

 

‘Aku akan menjemputmu, aku harus memastikan kau aman. Cerita tamat. I love you, please don’t ever forget that?’

 

Tiffany menarik nafasnya berat. Ini sungguh rumit untuknya.

 

 

——————————————————–

 

 

 

 

“Oh Tiffany Hwang, aku tidak percaya kau melakukan itu.” Tatapan seperti ingin membunuhnya itu sangat tajam sampai ia tidak berani untuk melihatnya bahkan hanya untuk lima detik. “Aku melakukan itu.”

 

“Bukan-kah kau harusnya mengerti bahwa Taeyeon akan sibuk seperti itu!? Lagipula ini semester terakhirnya!” Tiffany mengangguk pelan, sembari maknae mereka mencoba menenangkannya dengan mengusap pelan punggungnya. “I don’t know Jess.”

 

“Unnie, kau harus berbicara tentang itu dengan Taeyeon-unnie. Lagipula itu bukan salahnya untuk sibuk, bukankah ia pernah mengingatkanmu bahwa mimpinya akan menjadi lebih berat seiring waktu berjalan? Lagipula menjadi posisi terbaik dikampus ini bukanlah hal yang mudah Unnie.” Ujarnya sembari tangan itu masih mengusap pelan punggungnya.

 

“Kau  lebih baik dari ini Tiff! Aku tidak akan membiarkan sahabatku merusak hubungannya dengan cara bodoh seperti ini.” Jessica hanya dapat menatap lamat-lamat mata Tiffany yang terlihat sudah berkaca. “I know.”

 

“Lihatlah dari sudut pandang kekasihmu itu, bukankah ia sering kali mengatakan bahwa ia melakukan ini semua untukmu juga?” Jessica menarik nafas berat sebelum melanjutkan perkataannya.

 

“Jangan lakukan ini Tiff, berhenti membalas pesan atau apapun itu yang berhubungan dengan Josh. Taeyeon sangat mencintaimu, kau harus bisa mengerti dengan kesibukannya saat ini, seperti Yoong katakan, ini semester terakhirnya sebelum Ia mendapatkan gelar itu. Daripada kau mengeluh bagaimana kau lelah akan ini dan merasa bosan, mengapa kau tidak mencoba cari cara untuk berfikir bahwa kau benar-benar beruntung?”

 

“Maksudku, Kim Taeyeon yang sedang kita bicarakan. Kapan ia tidak pernah menjemputmu ditengah-tengah jadwalnya yang sungguh aku percaya bahkan orang normal lainnya tidak akan menyanggupinya dan ia tetap bersikeras untuk menjemputmu. Atau ketika ia lupa melepas stetoskopnya ketika ia membawakanmu makan siang dari gedung sebrang? Atau bahkan ketika ia merawatmu dengan sepenuh hatinya sementara ia juga harus merawat orang lain dirumah sakit? Aku ingat ketika ia menghubungiku berkali-kali untuk menemani mu terlebih dahulu sementara ia mengambil shiftnya sebentar dan meminta izin?”

 

“Taeyeon akan menjadi dokter yang hebat, Tiff. Kau tahu itu. Lagipula ia melakukan ini semua untukmu, kau pasti ingat ketika ia menjajikanmu penthouse suatu saat ini? Seorang Kim Taeyeon pasti tidak akan pernah mengingkarinya.”

 

Yoona hanya dapat mengangguk mengerti, “Unnie, kau hanya harus menunggu sebentar lagi.”

 

 

——————————————————-

 

 

 

Tiffany terus memperhatikan figure yang sedang bersenandung kecil membelakanginya, mencoba memproses perkataan kedua sahabatnya sore ini. Entah mengapa ia begitu kesulitan untuk berpikir jernih saat ini, yang ia tahu ini semua terasa begitu berbeda. Taeyeon memang tidak pernah berubah, ia tidak pernah mengecewakannya. Mungkin ia memang hanya sedikit jenuh akan ini, dan ia tidak mengetahui alasannya.

 

Detik kemudian figure itu berbalik dengan semangkuk popcorn besar dan satu soda ukuran besar, ia tersenyum kearahnya.

 

“Bagaimana dengan tawaran managementmu untuk berduet dengan musisi terkenal itu?” Tanya gadis itu ketika sampai disampingnya, “Kami akan memulai rekaman minggu depan.”

 

“Ah, kau menerimanya rupanya.” Tiffany menaikkan alisnya, “Tentu saja, bukankah ini kesempatan besar?” Taeyeon hanya mengangguk pelan. “Aku tahu, bukankah ia sangat tampan? Aku dengar ia juga sangat rendah hati.” Tiffany sejujurnya sedikit mengetahui maksud sebenarnya dibalik perkataan itu tapi lebih memilih untuk mengangguk pelan, tidak ingin memperpanjangan percakapan mereka.

 

Taeyeon seakan mengerti lalu mengambil remot untuk memulai film yang sudah dijadwalkan untuk ditonton malam ini. Detik kemudian gadis itu mendekatkan tubuhnya pada Tiffany yang bersender pada sofa itu,  merapat kedalam ceruk leher Tiffany. Setelah tidak mendapatkan respon, ia menaruk dagunya pada bahu Tiffany perlahan, “Aku akan magang di Busan selama dua minggu, apa kau akan baik baik saja?” Ujarnya sedikit pelan mengingatkan bahwa penerbangannya adalah esok pagi.

 

Itu bukanlah sesuatu hal yang baru, Taeyeon akan pergi keluar kota bahkan Negara setiap kali ia diminta untuk mendatangi dan mengamati treatment – treatment khusus selama ia masih menjadi mahasiswi Medis diluar Seoul, tetapi semua perjalanan itu tidak lebih lama dari empat hari. Namun tidak ada salahnya untuk kali ini, pikir Tiffany. Mungkin ini kesempatan untuknya mendapatkan jarak sementara dari Taeyeon. Melihat kemana ini akan pergi.

 

“Uhm.” Tiffany mengangguk pelan sembari menyantap popcornnya. “Aku akan sangat merindukanmu.” Ujar Taeyeon pelan sementara Tiffany lebih memilih untuk diam walaupun ia mengetahui bahwa ia juga akan merindukannya, “Aku akan pulang secepatnya” Tiffany menarik nafas kecil, “Okay.” berharap Taeyeon tidak mengharapkan balasan lebih dari itu. Apakah sekarang ia benar-benar berubah?

 


 

 

 

Ini benar-benar sangat buruk. Ia bahkan selalu mengambil nada yang salah tiap tangganya. Ini adalah hari ketujuh Taeyeon pergi, dan Tiffany tidak menyukainya, sedikitpun.

 

Empat hari awal memang itu bukanlah suatu masalah besar untuknya, namun ini? Ini benarbenar menguras energinya. Meskipun kekasihnya selalu menelfonnya tiap pagi, mengatakan bahwa ia harus menjaga dirinya sendiri dan tidak meninggalkan jam makan siangnya, dan mengatakan ia sangat menyayanginya, tetap saja itu tidak cukup.

 

Tiffany akan menemukan dirinya terbangun sendirian, berangkat menjalani rutinitasnya tanpa kecupan hangat dari kekasihnya, lalu akan kembali ke apartment yang begitu sepi dan kosong, begitu seterusnya. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia menunggu selama setengah jam dikampus untuk Taeyeon menjemputnya, Tiffany tidak mempercaya itu, bagaimana ia bisa berfikiran seperti itu sementara Taeyeon berada ribuan kilometer jauh darinya?

 

Ia sudah terbiasa akan kehadiran gadis itu dihidupnya, untuk memikirkan bahwa ia sempat ingin sedikit jarak darinya membuat dirinya seperti orang bodoh. Ini bahkan baru berjalan tujuh hari dan ia sungguh tidak menyukainya.

 

Ia sudah terbiasa akan sosok yang akan menjemputnya setiap saat di rutinitasnya, membawakan makan siangnya jika ia dipagi hari tergesa-gesa dikarenakan telat dan lupa menyiapkannya, Taeyeon memang yang selalu menjadi orang yang bangun paling pagi dikarenakan jadwalnya.

 

Atau ketika ia merasakan seseorang merengkuhnya dari belakang samar-samar ditengah malam. Bagaimana dengan tujuh hari berikutnya? Ia sungguh ingin menyentuh kulit itu, ia ingin melihat orbs coklat itu sekarang, ia hanya ingin sosok itu berada disampingnya saat ini,

 

Ia hanya ingin Taeyeon cepat pulang.

 

 

 

____________________________________________________________

 

 

Langit malam itu sungguhlah membuatnya merasa sedikit tenang, pandangannya ia lemparkan pada bintang yang samar-samar bersinar dari kaca bening yang sungguh besar itu. Bandara ini benar – benar mengingatkannya akan beberapa memori yang melekat dihidupnya, untuk contoh ketika ia pertama kali menginjakkan kakinya dinegara asalnya dari Negara tempat ia lahir.

Sudah dua jam ia duduk dikursi panjang itu, menanti detik demi detik kedatangan penerbangan malam ini. Sampai pada saatnya seseorang dibalik speaker itu mengatakan bahwa keberangkatan dari Amerika telah mendarat dengan selamat.

 

Detik kemudian kedua mata itu menangkap sosok yang selama ia sangat rindukan, menarik pelan kopernya, terlihat begitu cantik dan menyejukkan, tentunya dengan headphones yang mengguntai di telinganya. Tidak menyadari keberadaan Tiffany yang sedari tadi menunggunya. Tiffany tersenyum, namun ia harus mengingatkan dirinya sendiri untuk memarahi gadis itu yang terlihat lebih tirus dari dua minggu lalu karena jadwal makan yang tidak teratur.

 

Tiffany hanya menatap sosok itu yang sedang sibuk dengan ponsel sembari berjalan dengan kopernya,

 

‘Aku sudah dibandara, selamat tidur Fany-ah’

 

‘Apa yang membuatmu berfikir bahwa aku sudah tidur?’

 

‘Karena ini sudah larut? Haha, maafkan aku. Aku akan pulang secepatnya.’

 

‘Tetapi aku disini? Bisakah kau lihat arah jam 12?’

 

Kedua orbs itu menangkap matanya. Ia melambai pelan sementara Taeyeon hanya dapat tersenyum,  ia mulai berjalan perlahan menghampiri Tiffany dan tidak melepakan senyum tipisnya.

 

Ketika sosok itu sudah cukup dekat, Tiffany dengan cepat merengkuh tubuhnya, memeluknya sangat erat, menyembunyikan wajahnya pada leher gadis itu, menginginkan Taeyeon berada digenggamannya lagi.

 

ini seperti dalam mimpi untuk Tiffany dapat merasakannya, hatinya berdetak perlahan melawan detak pelan lainnya.

 

Hello, to you too.” Ujar Taeyeon perlahan lalu tertawa kecil dan membalas pelukan itu perlahan. Merasakan sensasi yang sangat dikenalnya selama bertahun-tahun, dan tidak akan pernah lelah dan bosan untuk merasakannya.

 

“Ini kejutan yang menyenangkan.”

 

Perkataan itu seperti membuat Tiffany tidak ingin bernafas untuk sementara, yang ia ketahui bahwa itu memang benar, ia sekilas tersadar kapan terakhir kali ia menyambut Taeyeon pulang atau bahkan menjemputnya dari manapun. Taeyeon-lah yang selalu ada untuknya.

 

Ia merasa sangat buruk akan dirinya sendiri, ia ingin mengutuk dirinya sendiri. Ia ingin mengatakan bahwa ia sangat mencintai Taeyeon, ia ingin mengatakan terimakasih kepadanya bahwa ia telah menjaga dan merawatnya dengan baik, ia ingin mengatakan bahwa tidak akan ada orang yang mampu menggantikannya, tidak akan ada orang yang akan mencintainya sebaik Taeyeon mencintai dan menyayangi dirinya. Tiffany ingin mengatakan ia tidak akan pernah pergi, ia ingin mengatakan bahwa ia akan mencoba mencintai dan menjaganya lebih baik lagi, ia akan mencoba menjadi yang terbaik untuk Taeyeon.

 

Diatas semua itu, ia ingin mengatakan dirinya bahagia karena Taeyeon berada dipelukannya saat ini.

 

Taeyeon seakan mengerti apa yang disiratkan, ia memeluk tubuh itu lebih erat. “I know, I missed you, and I love you too.”

 

Taeyeon pulang, bersamanya. Dan Tiffany tidak ingin ia berada dimanapun selain disampingnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

____________________________________________________________

 

atta1

 

 

 

Advertisements

52 thoughts on “Home (By Atta)

  1. serruuu 🙂 aku suka os ini walau ga terlalu banyak bikin nyesek dan baper tapi feelnya dapet
    alur ceritamya juga bagus, dikira bakal ada yg bikin nyesek tapi ternyata engga
    tae calon masa depab idaman 😆😆

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s