YOU, AGAIN. CHAPTER THREE

Suasana kantin siang ini begitu ramai, tak terkecuali Tiffany dan teman-temannya yang memang baru saja menyelesaikan jam olahraga mereka. Meja makan mereka memang selalu menjadi pusat perhatian. Selain karna dipenuhi gelak tawa dan candaan, yang berada di dalamnya merupakan kumpulan gadis-gadis populer dan sangat menawan.

“Aku dengar, akan ada pemilihan ketua osis baru.”

“Benarkah?”Balas Tiffany sembari menenggak jus jeruknya.

“Tetapi, bukan hanya itu yang akan kusampaikan padamu,”Balas Yuri memasang wajah nakalnya. Membuat semuanya termasuk Tiffany keheranan,

“Apa? Cepat katakan.”Kata Tiffany tak sabar,

“Apa yang akan aku dapatkan sebagai gantinya?”

“Yah. Jangan bertele-tele, Yuri-ah. Kami juga penasaran.”Sambar Sooyoung dengan mulutnya yang penuh dengan daging asap.

“Geure. Geure.”

“Tebak salah satu calon kandidatnya.”Kata Yuri sembari menaik turunkan satu alisnya. Membuat Tiffany semakin bertanya-tanya di buatnya, dia benar-benar tidak tau.

“Siapa!? Apa seseorang yang kita kenal? Apa dia musuh kita? Kalau begitu kita harus menghancurkannya.”Jawab Tiffany cepat, membuat Jessica lagi-lagi hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya.

“Yah. Jangan asal bicara. Cepat beritahu, Yul.”Katanya agak dingin, dia sendiri juga penasaran.

“Kau yakin mau menghancurkan yang satu ini? Bahkan jika dia adalah…”Kini tatapan mata Yuri seperti menunjukan arah kemana mereka jatuh. Tiffany, Jessica, Sooyoung, dan teamnya yang lain mulai  mengikuti arah pandangannya.

Tiffany membulatkan matanya ketika mengetahui siapa yang di maksud Yuri.

Itu adalah.. tujuan hidupnya, Taeyeon.


 

@TiffanyHwang : UNTUK SEMUA CALON PESERTA AUDISI CHEERLEADERS SEOUL INTERNATIOL SENIOR HIGH SCHOOL. PERSYARATAN IKUT AUDISI BERTAMBAH.

@TiffanyHwang : vote untuk seseorang yang bernama depan Kim di pemilihan ketua osis periode selanjutnya. Terimakasih. Kirim bukti setelah hari pemilihan.

@TiffanyHwang : note. Jika ada yang membeberkan tweet barusan ke orangnya, kalian gagal audisi. Pengkhianat. Aku akan menemukan kalian dimanapun kalian berada. Aku akan mencincang-cincang kalian seperti daging sapi. THANKS. ❤


 

“Berani-beraninya kau!”

“PLAK!”Tamparan keras baru saja mendarat di pipi halus Taeyeon. Siapa lagi jika bukan ulah dari ayah tirinya. Perlakuan kasar memang sudah biasa di dapatnya. Untuk yang satu ini, ia dapatkan hanya karena dirinya pulang larut malam.

Kesibukannya di calonkan sebagai kandidat ketua osis sangat menyita waktunya. Terutama, dia harus menyiapkan semuanya dengan matang di sekolah bersama teman-temannya. Banyak yang harus di urus dan di susunnya sebelum hari itu tiba.

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam dan ia baru saja tiba di ruang tamu rumahnya, sebelum ayah tirinya menyalakan lampu rumah mereka yang telah mati.

Sementara, Taeyeon kini hanya terduduk di lantai rumahnya dengan air matanya yang mengalir. Di amerasakan sakit yang panas di daerah yang  baru saja di tampar ayahnya. Dia hanya tidak bisa menahannya. Dia sudah lelah akan perlakuan yang selalu di dapatnya, namun ia tak punya pilihan lain selain menerima ini semua. Karena ia tau, pria ini adalah seseorang yang terlah di nikahi oleh ibunya. Di juga yang kini bekerja untuk kebutuhan keluarganya.

Sementara, sosok ibu yang selalu di rindukan, masih berada di luar kota menjalankan pekerjaannya.

Malam itu juga, Taeyeon terlelap dengan air matanya yang masih mengalir.

Ia terus memanjatkan doa pada surga, agar secepatnya menghentikan ini semua.


 

Tiffany bukan tipe siswi yang mungkin akan datang pagi-pagi buta ke sekolah. Tetapi jabatannya sebagai ketua cheerleaders di sekolah ini kadang kala memaksanya untuk itu. Seperti pagi ini, dirinya harus mengurus berkas-berkas audisi yang akan di adakan sepekan lagi.
Ia terkadang mengutuk posisinya karna semua ini. Padahal, dirinya masih bisa mendapatkan tidur yang cukup jika dia bukanlah ketuanya.

Merasa bahwa dia harus membawa semua file ini ke ruangan cheersnya, Tiffany melangkahkan kakinya keluar ruangan kelas. Situasi sekolahnya masih sangat sepi. Mungkin karena kelas baru di mulai pukul delapan, dan jam baru menunjukan angka enam.

Dan benar saja. Ketika ia kembali menutup pintu untk melangkah lagi, dirinya di kejutkan oleh sosok yang kini juga berjalan di lorong yang sama dengannya.

Oh, no.

Dia tidak siap untuk kehilangan jantungnya lagi.


 


“Aku tidak menyangka kau akan datang sepagi ini.”

Tiffany terkekeh pelan, “Aku juga. Tetapi posisiku sebagai ketua cheers sekolah ini memang benar-benar menyebalkan.”

“Aku tau. Menjadi seorang ketua bukanlah hal yang mudah.”
Kini keduanya kembali lagi pada tempat pertama kali mereka banyak berbincang. Tiffany benar-benar berpikir keras, apa dia sudah melakukan sesuatu yang baik bagi semesta, karena dirinya benar-benar tidak menyangka. Kedatangannya di pagi buta dapat membawa berkah seperti sekarang ini.
“Benar sekali.”Balas Tiffany cepat,

“Aku dengar, kau juga menjadi salah satu kandidat ketua osis baru.”Tambahnya sembari melihat kearah Taeyeon yang kini berada di sampingnya.

Gadis itu mengangguk pelan, “Awalnya aku tidak mau, tetapi kepala sekolah memaksa. Dia bilang sikap dan nilai akademisku bisa di jadikan contoh. Tapi aku berpikir, bahwa aku tidaklah harus menjadi ketua osis untuk itu. Don’t you think?”
Kini keduanya saling beradu tatap. Seakan tidak bisa saling berkata, mereka hanya saling memandang untuk beberap detik.

Membuat Tiffany tidak lagi bisa merasakan darahnya yang berdesir.

“Ehm.”Katanya menoleh kearah lain,

“Mrs. Ju jarang berlaku seperti itu pada murid lain. Itu berarti dia menyukaimu.”

“Lagipula, Aku pikir itu cocok untukmu, Tae.”

Menyadari panggilan yang dengan lancang keluar dari mulutnya, Tiffany segera menutup bibirnya dengan kedua tangan.

Taeyeon hanya tertawa pelan melihat sikap gadis di sampingnya yang begitu lucu

“Itu panggilan yang lucu, Fany.”

“Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan itu?”

Bahkan jika Tiffany bisa mengatakan ya kepada seluruh dunia dengan semua kekuatan suaranya. Dia akan berteriak di atas gunung everest hanya karna pertanyaan Taeyeon barusan.

“Tentu saja.”Jawabnga seolah tenang, padahal hatinya sedang menjerit senang.

“Jadi, siapa sainganmu?”

Taeyeon sempat terdiam sebelum menjawab itu, “Sulli dan Donghae. Yang ku dengar, Siwon juga akan maju sebagai kandidat.”

Yah. Yang benar saja.. Mungkin aku bisa membereskan Sulli. Tapi Siwon dan Donghae? Mereka mempunyai fans yang menyeramkan disini. Dan mereka.. sangat banyak.

Omo. Bagaimana dengan Taeyeon-ku?

“Ah..”Katanya mengangguk pelan,

“Kau pasti akan memenangkan ini.”Tukas Tiffany hampir tanpa bersuara. Namun, masih dapat terdengar jelas oleh gadis yang lebih tua.

“Terimakasih, tetapi aku sungguh tidak yakin. Maksudku, Aku termasuk murid baru disini. Semua orang bahkan belum melihat keberadaanku. Ini akan menjadi persaingan yang sangat sulit untukku.”

Dengan itu, Tiffany sepat terdiam sembari memikirkan tanggapan yang tepat. Ia hanya tidak mau kata-katanya berujung mengecewakan.

“Kau tau, Tae? Kau adalah orang yang mengagumkan. Aku yakin, jika semua orang tau tentangmu. Mereka tidak akan ragu-ragu untuk memilihmu.”

Tiffany merasa dirinya sedang kerasukan setan bijak. Dia sendiri terkejut kata-kata itu keluar sendiri dari mulutnya. Ia mana pernah mengatakan kata-kata mutiara untuk orang lain? Dia hanya bisa memikirkan, bahwa ini semua hanya karena Taeyeon. Semuannya mengalir begitu saja secara natural.

Taeyeon tersenyum simpul, diam-diam dia merasakan percikan api lega dan bahagia di hatinya mendengar itu. Tiffany memang tak seperti apa yang orang-orang fikirkan.

Gomawo, Fany-ah..”

Fany-ah..? OMO. OMO. OMO. ITU PANGGILAN TERLUCU YANG PERNAH KU DENGAR.

“Kau sudah sarapan?”Tanya Taeyeon tiba-tiba. Membuat Tiffany tidak bisa mengelak, bahwa dia benar-benar lapar sekarang. Ia hanya tidak sempat untuk menikmati sandwichnya tadi pagi.

“Not yet, but it’s alright.”

Taeyeon lalu mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya, dia menyerahkan satu box yang dia punya pada Tiffany.

“Nasi goreng Kimchi, aku yang membuatnya. Rasanya tidak terlalu enak, tapi ini cukup.”

Dan Tiffany yakin, bahwa dewa-dewi cinta di langit biru sedang berada di pihaknya sekarang. Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya, akan merasakan langsung makanan buatan belahan jiwanya.

It’s okay.“Dia memang hanya berpura-pura menolak sekarang,

“Aku memaksa, Fany-ah.”

YAH. KIM TAEYEON. BERHENTI DENGAN PANGGILAN ITU. KAU MEMBUATKU GILA. KAU BEGITU LUCU.

YA TUHAN. KAU PASTI SEDANG DALAM MOOD YANG BAIK KETIKA MENCIPTAKANNYA.

“Baiklah. Aku akan mengembalikan tempatnya siang nanti, is that okay?

“Of course.”


 

“Sudah kubilang, dia tidak seperti yang kau pikirkan, Sunny.”Kata Taeyeon sembari tetap sibuk pada file-file yang di perlukannya untuk pemilihan ketua osis berikutnya.

“Tetapi semua orang juga pasti berpikiran sama denganku. Kau tidak boleh bergaul lebih dekat dengannya, Taeyeon!”Serunya agak keras, membuat Seohyun ikut menoleh ke arah mereka.

“Apa yang sedang kalian bicarakan, Eonnie?”

Sunny reflek menjawabnya agak keras lagi, “Taeyeon berteman dengan Tiffany! bisakah kau bayangkan itu!?”

Taeyeon lalu menutup mulutnya dengan satu tangannya. Wajar saja, seisi ruangan ini jadi memperhatikan mereka. Ia hanya tidak mau hal ini di ketahui banyak orang. Dia khawatir mungkin saja Tiffany akan merasa tidak nyaman karena ini.

“SSSTT!”

Jjinja!? Daebak!“Balas Seohyun menatapnya tak percaya,

“Bukankah dia benar-benar sombong?”

“NAH!”Sambar Sunny sembari melepaskan tangan Taeyeon dari mulutnya.

“Dia orang yang baik, jika kalian mengenalnya. Kalian tidak boleh berasumsi sendiri tanpa tau yang sebenarnya.”

“Aish, Jjinja!”Gerutu kesal Sunny sembari berdiri dari duduknya. Sementara Taeyeon hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya,


 

 

Like, OMG. This is the best kimhci bokumbap i ever had in my life.”Ujar Tiffany setelah merasakan satu suapan nasi goreng kimchi buatan cahay hidupnya.

Mendengar itu, Sooyoung yang masih sibuk untuk menalikan sepatunya, lalu menoleh.

“YAH. AKU MAU!”serunya agak keras lalu menghampiri Tiffany yang masih mengunyah nasinya. Ia lalu mengarahkan sendok itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya sebelum berkata,

“Omo. Aku rasa yang membuat ini adalah chef hotel bintang lima.”Katanya membelalakan mata.

Mereka tidak berbohong, makanan buat Taeyeon memang terasa sangat lezar. Gadis itu sudah mempelajari caranya memasak sejakia kecil, karna kondisi ibundanya yang tak bisa selalu hadir untuknya.

“LET ME TRY THAT!”Sambar Yuri lalu ikut-ikutan aktifitas mereka,

“AIGOO.”

“Yah. Apa seenak itu?”Kini giliran Jessica yang datang dari arah lokernya.

Mereka memang sedang berada di ruang ganti cheerleaders. Tepatnya, mereka baru saja menyelesaika latihan sesi pertama. Sebelum Tiffany memutuskan untuk memakan bekalnya yang di buatkan oleh si masa depannya. Membayangkannya saja, membuatnya merinding.

“Kau harus mencobanya.”Jawab Tiffany sembari menyuapkan lagi satu sendok kedalam mulutnya,

“Aku sedang diet.”

Dengan itu berhasil membuat Tiffany, Sooyoung dan Yuri hanya saling menatap. Sebelum akhirnya mereka menghampiri Jessica. Mengelilinginya dengan mimik jahil, membuat gadis itu menatap mereka heran,

“Yah. Yah. Apa yang akan kalian lakukan?”

Lalu Sooyoung meraih pipinya dan berusaha membuka mulut gadis malang itu lebar-lebar, tak ingin melewatkan kesempatan, Tiffany segera melakukan tugasnya untuk menyuapi sahabatnya itu.

“YAH YAH!”Katanya meronta sementara teman-temannya terus menjahilinya. Karena terpaksa, Jessica harus mengunyah nasi itu dan menelannya. Dia bersumpah, akan membunuh satu persatu temannya setelah ini.

“Bagaimana?”Tanya Tiffany sembari tertawa di ikuti yang lainnya.

“Lumayan..”

“Lumayan!? ini benar-benar enak!”Tukas Yuri cepat,

“Biar ku tebak siapa yang membuatnya.”

“SIAPA? SIAPA?”Sambar Yuri lagi,

“Kim Taeyeon, kan?”

Dengan itu, mampu membuat Yuri menjatuhkan sendok yang sedang di genggamnya. sementara, Tiffany hanya tak bisa menahan semburat merah di wajahnya.

 



 

“Nah. Latihan cukup sampai disini.”Kata Tiffany sembari menghapus keringat di wajahnya. Membuat seluruh teamnya bernafas lega. Terutama adik kelasnya yang memang sudah berlatih sangat keras belakangan ini.

“Tiffany Sunbae-nim. Aku ada pertanyaan.”Kata Fei, salah satu juniornya.

“Apa?”

“Apa peraturan yang tertulis di twittermu, kau benar-benar serius?”

Tiffany sempat terdiam berusaha mengingat tweetnya. Lalu dia menatap juniornya dengan jengah, “Yah. Apa aku pernah bercanda?”

“Ani.. Sunbae-nim..”Jawabnya sembari menunduka kepala.

That’s right, cherrys!“Balas Tiffany ceria sembari memberikan kedipan mautnya pada junior-junior yang ada.

“Bukan hanya peserta calon audisi, ini juga berlaku untuk kalian.”Sambar Jessica menguatkan pernyataan Tiffany. Membuat gadis itu diam-diam menyadari, bahwa tanpa Jessica perlihatkan, dia sudah mendukungnya untuk hal suka-menyukai Taeyeon.

“Yah. Seharusnya aku sudah tau..”Sambar Yuri sembari memutar bolamatanya,

“Kenapa harus dia, Sunbae-nim?”

“Yah. Jangan banyak bertanya, dan lakukan apa yang aku perintahkan.”Kini Tiffany hanya tidak mau orang-orang membuka mulutnya dan bertanya. Ia tidak mengharapkan kejadian yang tak terduga. Apalagi, jika publik tau, tentang perasaan yang sebenarnya untuk calon ketua osis itu.

Kenapa harus dia? Jelas saja karena dia adalah calon kekasih ketua team kalian.

 


 

“Taeyeon-ah,”

Gadis itu yang kini tengah sibuk menatap langit jingga sore hari kini berbalik untuk menemukan sosok Tiffany yang kini menatapnya teduh, untuk kesekian kalinya. Taeyeon bisa merasakan hangat yang menjalar ke sekitar ruang hatinya.

“Oh, Pani-ah.”Balasnya cepat,

Dan Tiffany bisa bersumpah, tidak ada panggilan yang paling ia sukai selain yang di berikan oleh Taeyeon. Untuknya.

“Kau lupa? Aku ingin mengembalikan ini,”Tiffany melangkah mendekat ke cahaya hidupnya. Langit sore benar-benar membuat tampak itu terlihat sangat mempesona. tak ada yang tau jika di hatinya kini sedang ada keributan.

“Oh, Apa kau menyukainya? Itu tidak terlalu enak, kan?”

Tiffany sangat menyukai ketika gadis ini bertingkah begitu sederhana. Dia sangat menyukai bagaimana Taeyeon akan mengatakan beberapa hal. Dia sangat berbeda. Di saat orang lain ingin menjadi seperti apa yang dunia inginkan. Taeyeon tetaplah Taeyeon. Tak pernah cacat sedikitpun di matanya.

“Apa yang kau bicarakan? Kau bahkan bisa membuka restaurant bintang lima, Taeyeon-ah.”Kini Tiffany berdiri di sampingnya. Perkataanya di sambut tawa hangat oleh gadisi itu.

“Ah, Aku tidak sehebat itu.”Katanya lagi,

“Aku serius, bahkan teman-temanku sangat menyukainya. Mereka mengira ini adalah buatan chef hotel. Bukankah itu lucu?”

Taeyeon lagi-lagi di buat tertawa oleh Tiffany. Dia tidak tau betapa Tiffany begitu bahagia mendengarnya, apa lagi jika itu di sebabkan oleh candaanya.

“Aku akan membuatkanmu, dan teman-temanmu lagi, lain kali.”Tambah Taeyeon, membuat Tiffany bisa merasakan hatinya yang meledak-ledak mendengar itu.

Bukankah itu terdengar sangat perfect? Jika kekasihmu akan membuatkan makanan untuk sahabat-sahabatmu.

Berkhayal terlalu tinggi, bukan perbuatan dosa, kan?

“Kau tidak perlu repot-repot,”

“Ah, aku justru senang jika orang lain menyukai masakanku.”Balasnya pelan, Tiffany hanya mengangguk sebagai jawaban. “Baiklah, Terimakasih untuk makanannya, Taeyeon-ah.”

“Anytime, Tiffany.”

“Kau baru selesai latihan?”Tanya Taeyeon, Tiffany lalu menoleh kearahnya setelah mengikuti arah pandangan Taeyeon pada langit sore.

 

“Taeyeon-ah, Ayo cepat!”Namun gadis yang di serukannya justru terdiam di sisi lain dari lapangan ini yang sangat luas. Dia hanya bisa menarik sudutnya untuk tersenyum ketika memperhatikan sekumpulan gadis cheerleaders sedang melakukan latihan mereka.

Namun, tetap saja pandangannya hanya tertuju pada satu orang. Siapa lagi jika bukan sang ketua team yang kini tengah berada di atas pijakannya sebagai bintang yang paling bersinar disana. Taeyeon hanya bisa memanjatkan doanya pada surga agar tidak ada yang menjatuhkannya.

Dia begitu menyukai bagaimana gadis itu akan tersenyum dan tertawa di sela-sela latihannya. Dia terlihat begitu cantik dan mempesona di matanya. Untuk kesekian kalinya, dia tidak bisa menghentikan keininannya untuk menatap Tiffany berlama-lama. 

Dia juga mulai mempertanyakan apa yang sedang terjadi terhadapnya akhir-akhir ini. Karena kelihatannya, Tiffany benar-benar tidak mau beranjak dari kepalanya.

Ia hanya tidak mau menaruh harapannya terlalu tinggi. Gadis itu seperti bintang yang paling bersinar di malamnya.

 

“Ah tidak juga, latihanku sudah selesai dari tadi. hanya ada sedikit gangguan tadi, makanya aku keluar agak lama.”Jawab Tiffany di selingi tawanya,

 

“Yah. Tiffany! Where are you going?”Tanya Jessica yang melihat ketua sekaligus sahabatnya justru langsung berlari bukan ke arah ruang ganti, melainkan arah lain. 

“Aku akan mengembalikan ini pada Taeyeon di atap sekolah. Aku sudah berjanji padanya,”

“Okay. Cepatlah!”

“Will do!”

Tiffany tidak mau membuang waktunya lagi untuk berdiam. Ia mungkin telah membuat Taeyeon menunggu sekarang. Ia hanya tidak mau melewatkan waktunya bersama Taeyeon yang langka. Ia hanya sangat menyukai waktu yang ia habiskan bersama gadis itu.

Dia sangat menyukai berbicara dengan Taeyeon, walaupun kadang tidak ada yang harus mereka bicarakan. Tiffany hanya tidak bisa memikirkan hal lain ketika ia bersamanya.

Dia masih melangkah dengan girangnya sebelum akhirnya kedua bola mata menangkap pemandangan yang sangat tidak ia sukai. yaitu Sulli dan teman-temannya. Mereka terlihat sedang berbincang dengan serius, itu mendorong Tiffany untuk menguping pembicaraan mereka dari balik tembok.

“Kita memang harus menghancurkan anak baru itu, agar aku memenangkan kampanye.”

“Benar. Si Kim Taeyeon itu harus di beritahu, siapa sebenarnya disini yang layak di posisi itu.”

Tiffany bisa merasakan bara api yang mulai memanas di ulu hatinya sekarang. Bagainana tidak, Kim Taeyeon yang notabenenya sebagai pemegang sah kehidupan damai di ruang hatinya, atau pemilik jiwa dan raganya, sedang menjadi bahan pembicaraan mulut-mulut jahat disana.

Ia hanya tidak bisa tetap diam disana dan mendengarkan gadis-gadis jalang itu membicarakan Taeyeonnya.

“YAH!”Serunya agak keras membuat Sulli dan teman-temannya terkejut melihat kehadirannya.  

Menyadari Tiffany yang semakin mendekat, kelimanya hanya bisa terdiam. Mereka tidak menyangka kehadiran gadis itu yang tiba-tiba.

“You guys are sucks.””Katanya ketus sembari melipatkan tangannya di dada,

“Aku dengar apa yang sedang kalian rencanakan.”

“Terutama kau, Sulli.”Tiffany kini berdiri di hadapan gadis itu yang kini menatapnya geram, Sulli juga, kini tidak bisa hanya berdiam. Ia mulai belajar untuk menghadapi Tiffany.

“Kau selalu membuat hidup orang lain repot, Tidakkah kau sadar itu?”

“Dan kalian, berhentilah menjadi kacung yang tidak berguna untuk gadis ini.”

“Mana? Tidak ada yang berani bersuara?”Gadis-sadis itu hanya bisa mengepalkan tangan mereka diam-diam mendengar setiap perkataan Tiffany.

“Tidak bisakah kalian bersaing secara sehat? Kalian benar-benar sampah tidak berguna.”

“Jika aku dengar sesuatu terjadi pada Taeyeon, aku tidak akan segan-segan menggunakan semua uangku untuk membalas kalian.”Tiffany menatap tajam kelimanya, lalu meninggalkan mereka yang masih terdiam namun menatap penuh kebencian kepergian Tiffany.

Gangguan apa?”

“Tidak ada. Hanya sekumpulan sampah yang perlu aku buang ketempatnya.”Jawab cepat Tiffany sembari tersenyum, membuat Taeyeon hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban.

Tiffany kini kembali menatap gadis di sebelahnya yang kembali fokus pada awan yang meggantung di atas kota Seoul. Dia tak henti-hentinya mengagumi kecantikan yang Taeyeon miliki. Semakin lamat ia menatapnya, semakin Tiffany bisa menyadari sesuatu,

Di pipi halus itu, tepat di penghujung bibirnya, terdapat luka memar merah yang terlihat masih baru. Dan itu membuatnya cukup terkejut. Karena Tiffany yakin, penglihatannya baik-baik saja.

“Taeyeon-ah,”Panggil Tiffany, ia berniat untuk memastikannya sendiri.

Gadis itu kini menoleh menatapnya dengan tanya,

Tiffany semakin yakin bahwa itu adalah luka, atau lebih tepatnya lebam berwarna kemerahan di dekat bibirnya. Bayangannya sudah jauh, ia hanya tidak bisa memikirkan hal yang buruk yang mungkin terjadi pada Taeyeon.

Ia hanya tidak mau, siapapun di dunia ini, menyakitinya. Bahkan dengan setangkai bunga sekalipun.

Taeyeon sedikit terkejut, ketika satu tangan Tiffany berhasil meraih wajahnya. Tangan halus itu berhasil membelai pelan pipinya, sebelum akhirnya Tiffany bertanya.

“Apa yang terjadi?”

 

 

 


 

NAH. LOH. GIMANA TUH LANjUTANNYE WKWK.

komen yaa, aku mau tau pendapat kalian tentang cerita ini. Apa semakin boring atau sebaliknya. thankyou -jazz

jazz

 

Advertisements

79 thoughts on “YOU, AGAIN. CHAPTER THREE

  1. gk boring thor justru mkin keren

    dtg pgi yg membwa berkah.. udah ketemu dpat mkan siang pula :v eaaa ty diem” mmperhtikan tiff :v diabetes gw lama”

    aigoo.. tu bpak tiri_- moga mak nya ty cpat pulang dan sadar akn kelakuan suaminya sm ty

    Like

  2. Saling jatuh cinta dan itu sangat menyenangkan,
    Di balim sikap fany yg terkadang arogan tp fany anak manis 😂😂😂
    Tae makin cinta kalo lama kelamaan memandang fany gitu ,cieehh ..taetae ..
    Yuri kaget sampe ngejatuhin sendok ,apa yuri cemburu kalo fany suka tae yah ??entahlahh

    Cerita nya bagus dan ga ngebosenin thor ,makin seru dan makin gregetan ngliat tingkah nya fany yg konyol ,di tweet nya konyol bggt 😂😂😂

    Like

  3. engga boring klu q yg bikin tuh boring hhhh btw tiff gns jg y klu sdng mengancam bnr2 komedi romntis klu q liatnya , akhirny slesai jg bca nya , kn q tunggu chap 5 dg sabar hhh & smog rating sll naik (biar ky drakor=drma korea wk3) pokokny sehat bahagia sukses sll utk kliaan pr outhor GBU CU ^-^

    Like

  4. Ahhhhhh makinnn seruuuu!!!!
    Awas aja tuh bapa tirinya tae. Gue cincang2 ky daging asap wkwkwk…
    Lanjut lah thor lanjut hehe

    Like

  5. kasihan tae bpk tirinya kejam banget sama tae. mudah2an tiffany bisa bantu tae untk lepas dri kekejaman bpk tirinya & memberikan semangat buat tae terus. lanjut ke chap selanjutnya ya thor!!!

    Like

  6. Wahh wahh si sulli teh cari ribut deh. Dibom lu nnti sama tippany sull. Ente ngbangunin singa betina itu mah 😒😒😒

    Like

  7. Tenyata bapak tiri lebih kejam dari ibu tiri 😤😤😤 beraninya tuh om2 nampar taetae!! *dilempar jumrohin fany*..
    gw disini gemes sama karakter fany yg jaim2 tapi mau 😅😆 calon kekasih calon masa depan ciaaa 😂😂😂😂 calon lurah kali ahh 😁😁😁 #kidding

    Like

  8. Cute! Manis banget sihh taeny ampe kalau bacany tuh bsa kena diabetes kalii karena terlalu sweet 😍😍😍 tiffany di cerita ini lebih agresif tp malu2. Taeyeon cool tp sweet. Menurut gw jalan ceritany udh pas, apalg ini masih awal2 dimulainy cerita cinta. Jadi menurut gw udh pas thor krn gw yg baca jd brsa greget2 gitu ngliat ke sweetan taeny hahah. Jadi ini sih menurut gw gak bosenin 😆😆😆

    Like

  9. Sesuai dengan pepatah bangun pagi akan mendatangkan rezeki begitu juga dengan panny bangun Pagi2 dan ke sekolah merupakan anugerah terindah karena bertemu sama dengan pujiaan hati bahkan diberi bonus dengan sekotak makanan… wauuu panny mank kejam juga Yah kalau udh berhadapan dengan org yg gak disukai … aduhhhh panny care bgt sih dengan tae sampai belas luka di bibir tae pun diperhatikan dengan seksama.. apa yg akan panny lakukan jika appa tae biasa berbuat kasar terhadap belahan jiwanya ???

    Like

  10. G boring kog thor makin asik. Kira2 suli and genks brani g t hadapin ancaman tiffany. Ap tae mau mulai trbuka ama fany?

    Like

  11. Huwaaaaa,,,fany da main pgang2 pipi taeyeon ja nih…hehhe

    Ih,,sulli emanh kurang ajar..
    Msak dia mau ngbisinn taeyeon sih..
    Belagu juga ni anak..

    Fany,,lndungibtaeyeon dri sulli dan antek2nya,,juga ayah tirinya..

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s