You, Again. CHAPTER TWELVE BY JAZZ.

Itu terjadi begitu cepat. Taeyeon bahkan tak mempersiapkan dirinya akan itu. Dirinya hanya bisa terdiam di tempatnya. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Tak ada yang lain di fikirannya saat ini. Semua terasa seperti kosong. Luka di hatinya meluas. Jika ini adalah sebuah mimpi buruk, ia berdoa pada surga untuk segera membangunkannya.

Air mata itu mengalir begitu saja, mendengar perkataan perpisahan dari Tiffany, benar-benar tak terbayang di benaknya. Rasanya begitu menyakitkan hingga ia tidak bisa menahannya.
Taeyeon memasuki lagi rumah ini yang sudah beberapa hari tak ia masuki. Rencananya untuk mengunjungi rumah bibinya nampaknya ia telah mengubahnya. Ia lebih memilih untuk kembali kerumahnya, ia pikir ini adalah saat yang tepat untuk itu.

Betapa ia terkejutnya untuk menemukan sosok ayah Tirinya yang kiri berdiribdi tengah ruangan sembari terdiam seribu bahasa. Tseyeon kini telah siap dengan apa yang akan terjadi padanya. Ia bahkan telah memejamkan matanya untuk itu, namun yang selanjutnya terjadi justru mampu membuatnya terkejut.

Ayah tirinya justru mendekapnya dengan erat sembari terisak. Dia berkali-kali mengucapkan kata maaf yang Taeyeon yakin, belum pernah keluar dari bibirnya sebelumnya. Taeyeon bisa merasakan Ayah tirinya yang kini terisak.

“Maafkan aku, maafkan aku, Taeyeon-ah…”

“Ini semua salahku, aku adalah sosok Ayah yang tidak baik untukmu. Mungkin itu semua hanya karna aku mengkhawqtirkanmu. Tapi aku tau, aku menggunakan cara yang salah untuk itu.”

“Taeyeon-ah, beri aku kesempatan dan aku akan membuktikannya padamu.”

“Aku akan merawatmu dengan baik sekarang. Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi, aku tidak akan pernah meneriakimu lagi.”

“Kau bisa lakukan apa yang kau mau jika aku melakukan itu. Aku akan menunggu putriku pulang sekolah. Atau jika kau lelah, aku bisa menjemputmu di sekolah.”

“Kita akan melakukan banyak hal berdama. Hal-hal yang belum pernah kita lakukan berdua. Layaknya seorang Ayah dan putrinya.”

“Hanya… berikan aku kesempatan untuk membuktikannya.”Ayahnya semakin terisak dengan semua perkataan yang terus mengalir dari bibirnya.

Taeyeon juga, tak bisa membohongi perasaan apa yang kini mengelilingi dinginnya tembok hati untuk ayah Tirinya. Ia hanya bisa merasakan lega dan bahagia di ulu hatinya yang kini terasa semakin menghangat.

Dia juga, menitihkan air mata itu. Taeyeon justru tidak mengatakan apapun namun membalas pelukannya dan mengeratkan sembari kedua matanya dipejamkan.

Pria parug baya itu hanya bisa tersenyum bahagia sembari terus mendekap putrinya. Dia bersumpah pada dirinya untuk tetap berada di sisi putrinya hingga waktu akan memanggilnya.

“Taeyeon-ah,” Kata pria itu lalu duduk di tempat yang masih tersedia di atas kasur putrinya. Dia bisa melihat bibirnya yang pucat, Taeyeon bahkan mengeluarkan keringat.

“Taeyeon-ah, bangun. Kau demam.”Tambahnya sembari meletakan satu telapak tangannya di kening putrinya.

Pagi itu di habiskan dengan mereka berdua yang menikmati sarapan bersama di rumah mereka. Jika Taeyeon fikir, ini adalah pagi pertama dimana mereka bisa sarapan di meha makan yang sama. Ia bahkan bisa mencicipi masakan Ayah tirinya yang baginya terasa sangat lezat.

Namun mungkin karna kondisinya yang sedikit kurang sehat, Taeyeon merasa agak pusing dan dunianya berputar.

“Padahal, tadinya aku mau mengajakmu ke taman. Dan makan ice cream bersama.”Kata Ayahnya sembari memasukan daging asap kemulutnya.

“Bagaimana jika kita tetap melakukan itu? Aku benar-benar ingin kesana.”

“Tapi kondisimu sedang tidak bagus, Taeyeon.”

“Aku mohon, Appa…”

Pria itu bisa merasakan dunia yang berhenti di sekitarnya. Telat setelah ia mendengar panggilan yang ia selalu harapkan dari putrinya. Beban yang menghimpit rongga dadanya, terasa hilang begitu saja karna panggilan yang barusan ia terima dari putrinya.

Rasanya sangat bahagia hingga menemuhi ruang hatinya yang terasa sangat kosong sebelumnya.

“Baiklah.”

“Tiffany… dia adalah orang yang baik.”Kata Ayahnya tiba-tiba sembari merasakan bahagia karna melihat putrinya sangat lahap memakai ice cream.

Taeyeon sempat terdiam, “Kau bertemu dengannya, appa?”

Lagi, mendengar Taeyeon memanggil ayah. Seperti mimpi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan seindah ini.

“Dia datang tempo hari. Dia mengaku sebagai kekasihmu. Mengatakan banyak hal yang menururtku, sangat berpengaruh besar akan sikap yang ingin kurubah untukmu, Taeyeon.”

“Dia membuatku menyadari, bahwa kau sesuatu yang harus ku lindungi. Bahwa kau adalah titipian yang harus aku syukuri, tidak peduli bagaimana situasinya. Dia membuatku tau, arti pentingnya komunikasi antara Ayah dan putrinya.”

“Dia mengatakan jika kau, Adalah orang yang sangat di cintainya. Dia akan melakukan apapun demi melindungimu. Jika kekasih putriku saja bisa seperti itu, aku harus bisa melakukan itu juga.”

“Dia meyakinkanku, bahwa aku bisa menjadi figur seorang Ayah yang baik untukmu. Dan aku, akan memastikan bahwa aku bisa menjadi seperti apa yang dia katakan.”

Taeyeon menarik bibirnya untuk tersenyum ketika dia mendengar semua perkataan Ayahnya mengenai kekasihnya.

“Dia memang, mengagumkan, Appa.”

“Tentu. Kau beruntung memilikinya untuk berada di sisimu, Taeyeon-ah.”

“Aku tau, Appa…”

“Kau sudah menghubunginya pagi ini?”

“Ah… soal itu. Aku terjatuh saat turun dari bis semalam. Handphoneku mungkin tertimpa tubuhku, jadi layarnya retak dan tidak mau menyala.”

Ayahnya ternganga, “Jjinja? Kalau begitu aku akan membelikanmu yang baru besok.”

Taeyeon tersenyun hangat, “Terimakasih, appa…”

“Appa, aku berpikir untuk membelikan bunga itu untuk Tiffany. Kita bertengkar kecil kemarin. Ini salahku. Aku harus meminta maaf padanya.”Kata Taeyeon sembari menunjuk pedagang bunga yang ada di sudut lain taman.

“Itu ide yang bagus. Biar aku saja yang kesana.”Jawab Ayahnya justru di tanggapi gelengan kepalanya pelan,

“Biar aku saja, Appa”

“Tapi kau sedang sakit, Taeyeon.”

“Ini tidak akan menyakitkan untuk hanya berjalan kesana, Appa.”

“Baiklah jika kau berkata begitu…”

Lalu Ayahnya membiarkan putrinya beranjak dari tempat duduknya. Byung Hun terus memperhatikan Taeyeon hingga gadis itu mulai menyebrangi jalan lain,

Namun yang selanjutnya terjadi, justru membuatnya terkejut juga panik dibuatnya.

“Ckiiit!!”

Mobil itu menarik remnya, namun dia terlambat. Karena bagain depan mobil sukses menabrak Taeyeon yang sedang menyebrangi jalan.

Pria paruh baya itu tak menghabiskan waktunya dan langsung berlari cepat ke arah putrinya yang kini sudah tergeletak di tengah jalan.

“Taeyeon-ah!”Ucapnya itu mendapati putrinya yang masih membuka kedua matanya. Banyak orang yang kini mengelilingi Ayah dan anak itu. Sementara Byung Hun hanya bisa memangku kepala putrinya. Dia bisa melihat mimik muka Taeyeon yang kini seperti menahan rasa sakitnya sendiri. Dia merasa waktu yang berjalan di sekitar mereka berhenti.

Ini begitu menyakitinya untuk melihat putrinya seperti ini. Air matanya satu persatu jatuh membasahi kedua pipinya. Orang disekeliling mereka mulai berbondong datang dan beberapa dari mereka mulai memanggil ambulans untuk segera memberikan pertolongan.

“Appa… gwenchanna…”Ucap Taeyeon terakhir sebelum dia memejamkan matanya.

Semuanya terjadi begitu cepat. Tuan Kim bahkan bisa melewatkan detia detak jantungnya. Dia baru saja mendapatkan Taeyeon kembali. Dia baru saja ingin memulai menggam sesuatu yang indah bersama putrinya. Ini seperti mimpi buruk yang datang mendahului sebelum dia sempat melakukan satu hal saja, bersama putrinya.

“Menurut hasil CT pada otaknya yang kita ambil,”

“Putri anda, dia memiliki fraktur pada tulang temporal dan parietal kanan. dan pendarahan yang besar pada intrakranial.”

“Tetapi, ada beberapa bagian dari fraktur yang masuk kebagian otak parenkin nya. Dan saya khawatir, jika kita melakukan drainise, pendarahan akan bertambah parah.”

“Lalu? Apa yang harus kita lakukan, Dok? Tolong selamatkan putriku. Aku akan membayar berapapun. Tolong, selamatkan dia…”Balas Tuan Kin sembari tak bisa menahan kuasa tangisnya.

“Kita bisa mencoba craniactomy, langkah lain untuk memperbaiki kerusakan yang ada pada otaknya. Cara ini kesempatannya 50 : 50. Tetapi kami akan melakukan yang terbaik demi putri anda.”

“Baik, lakukan apapun yang kau bisa, Dok. Kali ini… aku belum siap untuk benar-benar kehilangannya.”

“Appa…”

Suara itu membuat Tuan Kim menoleh, mendapatu putrinya yang kini membuka kedua matanya setelah beberapa jam. Bisa di lihat tatapan sayu disana. Bibirnya pucat pasi, pandangannya seperti kabur untuk menatapnya.

“Taeyeon-ah!”Katanya lalu menghampiri tempat tidur dimana putrinya berbaring. Dia mengecup keningnya cepat, dan memandangi gadis kecilnya yang kini terlihat sangat lemah. Sama sekali bukan Taeyeon yang biasa ia lihat. Hatinya sungguh remuk nenyaksikan ini semua.

Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana hancur perasaanya tadi ketika melihat kejadian itu.

“Appa… aku harus bertemu Tiffany. Sekali saja.”Katanya hampir tanpa bersuara, Tuan Kin menggeleng pelan. Air matanya kembali jatuh.

“Kau harus disini, Taeyeon-ah.”

“Tapi… aku belum sempat…”

“Meminta maaf padanya…”

“Kita bisa lakukan itu, lain kali, Taeyeon-ah.”

“Aku mohon… sekali…. ini saja…. Appa.”

Tuan Kin lalu menoleh untuk menatap domter pria yang berbicara padanya tadi. “Operasi besar akan kita lakukan lusa nanti, Tuan Kim. Kau bisa membawa putrimu besok. Tetapi cepatlah kembali jika urusan sudah selesai. Karna Taeyeon masih dalam kondisi yang sangt lemah.”


“Taeyeon, apa Appa perlu turun juga?”

Putrinya tersenyun lemah, dia menatap sayu ayahnya. Lalu di genggamnya satu tangan figur yang kini mulai di cintainya sebagai ayah kandungnya sendiri.

“Aku akan baik-baik saja, Appa… aku akan kembali secepatnya.”

Walaupun rasa khawatir itu kini menguasai ruang hatinya. Tuan Kim hanya bisa memgangguk sebagai jawaban. Dia kembali mengecup kening putrinya sembari berkata,

“Appa akan menunggu di mobil.”

Taeyeon tersenyum hangat dan menjawabnya dengan anggukan. Sebelum ia mempersilahkan dirinya untuk keluar dari mobil ayahnya. Langkahnya begitu lambat. Dia bisa merasakan pusing hebat yang menyerang kepalanya tepat setelah ia mendaratkan kakinya di tanah.

Tak lupa di genggamannya dia membawa sebucket bunga mawar yang terdapat tulisan tangan di dalamnya. Yang tentu saja ia tujukan untuk kekasihnya.

Taeyeon hanya ingin Tiffany tau. Bahwa ia merasa sangat bodoh karena meragukan perasaanya sendiri terhadapnya. Ia hanya ingin permintaan maafnya di terima, setidaknya tidak akan ada beban yang memghimpit rongga dadanya sebelum ia memasuki ruang operasi itu.

Karena, dia sendiri tidak yakin, jika dia bisa kembali membuka kedua matanya setelah itu.

Meski pandangannya agak kabur, dan jalannya sedikit tak teratur. Taeyeon bisa mengenali sosok gadis yang kini berdiri di hadapannya.

“Irene-ah…”

“Kau tidak seharusnya ada disini, Taeyeon-ah…”Kata Irene sembari sesekali menghapus air matanya setelah mendengar cerita singkat Taeyeon tentang situasinya.

Di dalan hatinya, dia benar-benar khawatir akan sosok ini sekarang. Bahkan, lebih dari itu. Rasanya ia tak kuasa menahan rasa sakit di dadanya setelah mengetahui kondisi Taeyeon saat ini. Setelahnya, dia berpikir bahwa Taeyeon pasti sangat mencintai Tiffany. Hingga ia rela untuk menyempatkan dirinya kesini, dengan kondisi sekarat sekalipun.

Irene bahkan bisa menemukan wajah Taeyeon yang sangat pucat. Sangat berbeda dengan Taeyeon yang ia lihat di hari kemarin. Senyum hangat itu sudah tak terukir disana. Hanya senyuman lemah yang bisa ia terima dari gadis ini yang masih sangat di cintainya.

“Aku… hanya… tidak ingin… membuat… Tiffany khawatir..”

“Tapi, kau bisa meminta maaf padanya setelah operasimu, Taeyeon-ah!”

Gadis itu tersenyum, “Aku.. tidak tau.. jika aku akan.. bisa melakukan.. itu atau tidak..”

“Berhenti berbicara omong kosong. Kau harus kembali pada kami, orang-orang yang sangat mencintaimu, Taeyeon-ah. Pikirkan Tiffany, kau harus kembali padanya. Kau harus bisa berdiri lagi di depan dia. Dia pasti menunggumu.”

“Aku tau…”

“Sudah… jangan menangis.. lagi. Kau.. benar-benar.. jelek…”Komentar Taeyeon sembari menghapus air mata yang kini membasahi kedua pipi mantan kekasihnya.

Perkataan Taeyeon barusan, justru membuatnya terkekeh pelan masih sambil terisak.

“Aku… membawakanmu, makanan… buatan Ayahku…”Tambah Taeyeon sembari mencoba mencari tasnya. Dia mengeluarkan kotak makan berwarna merah.

“Dia… sangat.. mahir memasak…”

Irene tersenyum, “Persis sepertimu.”Jawabnya cepat. Taeyeon sempat tersenyum menanggapi pernyataanya. Sebelumnya menyendok bagian kecil makanan yang ada.

“Aku… akan.. menyuapi.. yang pertama.”Kata Taeyeon sembari perlahan tangannya mulai terangkat. Karna tidak mau membuat lengan Taeyeon kelelahan, Irene langsung memyambutnya.

“Terimakasih, Taeyeon-ah.”Taeyeon lalu hanya tersenyum sembari mengangguk. Mereka lalu larut akan pembicaraan singkat dan di akhiri dengan suapan terakhir sembari bergurau.

Tidak sampai…

Seseorang memanggil Taeyeon dengan suaranya yang parau “Taeyeon…”

Senyum Taeyeon mengembang ketika mendapati sosok itu yang sedaritadi di caringa. Baru saja ia bangkit dari duduknya. Mencoba menggapai gadis itu yang kini terdiam menatapnya.

“Tiffany ak–“

“Berhenti, jangan mendekat.”Kata Tiffany lebih dulu, mampu membuat Taeyeon menghentikan langkahnya.

“I love you so much, Tae. But it hurts as hell.”

“Kurasa, ada baiknya jika kita mengakhiri ini.”

“I’m sorry..”

Katanya lalu pergi tanpamendengar satu patah katapun penjelasan darinya.

Kau bahkan belum mendengarkan aku, Fany-ah…

Sekarang, apa yang harus ku lakukan?

“I’m so sorry, Taeyeon-ah…”Kata Irene sembari terus membantu Taeyeon berjalan menuju mobilnya. Taeyeon menoleh untuk kembali menyunggingkan senyumnya.

“Kau tidak perlu meminta maaf, Ini bukan salahmu..”Balasnya. Suaranya hampir tak dapat terdengar. Keringat sudah membasahi seluruh tapakan wajah cantiknya.

Ini benar-benar pemandangan yang paling menyakitkan bagi Irene.

“Aku akan, mencoba berbicara lagi pada Tiffany…”Tukas Irene, namun di jawab gelengan kepala oleh Taeyeon.

“Aku akan berusaha menemuinya sendiri nanti.. terimakasih, Irene-ah.”Kata Taeyeon terakhir.

Pandangann semakin kabur untuk melihat Irene di depannya. Sementara, Ayahnya kini keluar dari mobilnya. Berlari menghampitri putrinya. Benar saja, semakin ia dekat, ia semakin bisa meliht bahwa putrinya kini akan segera jatuh.

Namun, Tuan Kim lebih dulu menangkap Taeyeon sebelum tubuhnya kembali membentur tanah.

“Taeyeon-ah!”

Gadis itu sempat melihat kedua wajah orang yang di cintainya, sebelum ia mulai menutup kedua matanya, lagi.

Tiffany tak bisa menahan rasa sakitnya yang kini menjalar ke ruang hatinya. Bayangan dimana Taeyeon telah membohonginya, menyakitinya. Benar-benar sangat jelas. Dia tidak bisa memikirkan apapun, selain dirinya yang masih terjebak di sana. Di kenangannya bersama Taeyeon.

Dia sangat mencintai gadis itu. Dia bahkan rela melakukan apapun untuknya. Namun, ia sama sekali tak pernah membayangkan bahwa akhirnya hanya akan berakhir seperti ini. Dia bahkan tak menerima permintaan maaf ataupun penjelasan dari Taeyeon. Dan itu membuatnya semakin marah dan merasa seperti di permainkan. Dia hanya tidak bisa berpikir jernih sekarang. Dia sudah melihat sosok itu sebagai orang yang jahat, yang ternyata sama saja dengan yang lainnya.

Taeyeon adalah seorang pengecut. Pikirnya. Namun, dia tidak bisa memungkiri bahwa kini dia benar-benar masih tak percaya dengan apa yang trlah terjadi. Dia sangat mencintai Taeyeon hingga penghujung hidupnya.

Namun, apa balasan yang ia terima sekarang? Tiffany benar-benar merasa tak adil.

“Tiffany… sudahlah.”

“Aku juga, sama sekali tak menyangka jika memang Taeyeon melakukan itu. Dia orang yang sangat baik,”Hanya itu tanggapan yang keluar dari bibir Jessica setelah mendengar semua penjelesan sahabatnya.

Dia juga, sama sekali tak pernah terpikirkan bahwa Taeyeon akan melakukan itu. Dia mungkin sangat marah sekarang, tetapi seperti instingnya yang bekerja. Bahwa pasti ada sesuatu yang salah. Ia sangat yakin itu.

Seperti ada perasaan dimana semuanya menjadi tidak benar. Apa yang terjadi sekarang, seperti hal yang tidak mungkin.

“Tiffany, apa dia sudah mencoba menghubungimu lagi?”Tanya Jessica sekali lagi untuk mencoba memastikan.

“Tidak. Dia sama sekali tidak melakukan apapun setelah aku memilih berpisah dengannya.”Jawab Tiffany sembari merasakan nafasnya yang tersengal akibat menangis semalaman.

Memang, sejak siang tadi, dia lebih memilih untuk menahan semua air matanya hingga tiba di runah Jessica. Ia hanya tidak bisa membiarkan orang lain tau, jika Taeyeonlah penyebabnya. Dia masih sangat mencintai gadis itu, untuk orang lain tau kesalahannya.

Ini aneh… Taeyeon bukanlah orang yang seperti itu. Pikir Jessica diam-diam.

“Aku rasa, aku akan menginap beberapa hari disini, Jess. Aku tidak bisa pulang dan membiarkan Mom dab Dad menanyakanku berbagai hal dan pada akhirnya hal tidak berjalan sesuai yang kumau.”

“Tentu. Hanya jangan lupa kabari orang tuamu dulu.”
“Irene? Apa dia tidak masuk juga hari ini?”Tanya guru itu sembari bertanya pada siswa di ruangan ini.

Tak ada jawaban yang ia dapat. Ia hanya bisa menghembuskan napasnya pelan.

Tiffang pun, bertanya-tanya kemana perginya gadis itu. Padahal, ia ingin berbicara dengannya empat mata. Setelah apa yang ia perbuat pada hubungannya dan Taeyeon.

“Kalian tau, Kim Taeyeon?”

“Dia juga, sudah empat hari ini tidak masuk.”

Kali ini, Tiffany menoleh pada Jessica. Gadis itu hanya mengedikkan bahunya. Ia sama sekali tidak tau itu. Karena dia sendiri juga berusaha untuk tetap berada di kelasnya dan tidak bertemu dengan Taeyeon, yang kini menjadi mantan keksihnya secara sepihak. Ia masih merasa kan sakit itu yang menghimpit rongga dadanya.

Ia hanya belum siap untuk bertemu lagi dengannya. Walaupun orang-orang mulai mempertanyakan keberlanjutan hubungan mereka.

Namun, melihat situasi sekarang. Tiffany sama sekali tidak bisa mengontrol fikirannya. Ia bahkan sekarang berfikir bahwa Taeyeon dan Irene mungkin sudah pergi bersama. Mungkin mereka meninggalkan kota dan mulai menjalin hubungan lagi, pikirnya. Dan itu cukup membuat sesuatu yang ada di dalam hatinya terasa semakin menyakitkan.
Tiffany tidak tau, kenapa langkahnya sekarang membawanya kemari. Tempat dimana dirinya dan Taeyeon, selalu menghabiskan waktu bersama. Hanya mereka berdua.

Ini juga tempat dimana mereka pertama kali saling berbicara satu sama lain. Membagikan kisah pertama mereka. Hingga mereka bisa menjadi sepasang kekasih. Ini menyakitkan baginya, untuk msngingat bagimana tempat ini pernah sangat berarti bagi mereka berdua.

Bayangan dimana dirinya dan Taeyeon saling bergurau dan membagi kebahagiaan mereka satu sama lain. Senyum itu yang selalu menghangatkannya, tatapan teduh yang selalu ia dapatkan dari Taeyeon. Ia tidak pernah melupakannya.

Tawanya yang lembut, seperti alunan lagi yang terus terngiang di kepalanya. Dia masih bisa melihat dengan jelas, bagaimana sempurna paras itu dibawah sinat matahari pagi.

Dan kini, dia telah kehilangannya. Tidak, orang itu bahkan sudah menyakitinya ke titik paling bawah di hidupnya.

Taeyeon… yang telah melanggar janji mereka. Dialah yang lebih dulu menapakan kakinya menjauh. Dia yang menjadi sosok yang menyakitinya lebih dulu. Jika Tiffany bisa memilih, dia ingib semua memori yang masih menginap di relung hatinya untuk segera di hapus. Karena, jujur saja ia tak bisa menahan semua ini.

Tidak, sampai Tiffany mulai mengedarkan pandangannya. Kedua bola matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di atas kursi taman. Dia berjalan mendekati itu, dan sedetik kemudian dia ingat. Bahwa ini adalah bunga yang tempo hari di bawa Oleh Taeyeon. Yang ia tau, ini di tujukan untuk Irene. Tiffany tersenyum sedih saat meraihnya.

1483079700990.jpeg
Bunga ini sudah layu dan kering. Ia lalu bertanya-tanga kenapa Irene tidak membawa ini bersamanya?

Lalu pandangannya kembali jatuh pada sepucuh surat yang ada di dalamnya. Tiffany awalnya tak ingin membacanga. Namun, rasa penasarannya kini begitu besar.

Dan jika, seseorang diluar sana mengetahui arti semua ini. Tolong jelaskan padaku, apa yang sudah aku perbuat untuk pantas mendapatkan gadis sepertimu disamping ku.

Untuk seperkian detik aku melihat wajahmu, lalu aku berfikir. Sejak kapan aku bisa memiliki malaikat yang mempunyai hati yang sangat murni di sisiku? Aku bahkan tak melihat tanda-tandanya jika kau akan datang 🙂

Jika, saja aku bisa membuktikan oada dunia ini. Bahwa seseorang sepertiku pantas untuk bersamamu. Aku pasti akan melakukannya.

Namun, situasinya lebih sulit dari yang ku bayangkan, Fany-ah.

Tidak semudah itu. Aku begitu bodoh untuk meragukan perasaanku sendiri untukmu. Aku begitu buta untuk melihatnya dengan mataku. Kau bisa mengatakan jika, aku adalah seorang pengecut. Maafkan aku. Maaf untuk membuatmu menangis tempo hari.

Kau sangat berharga bagiku, Fany-ah. Kau tau itu? Kau adalah orang yang aku bahkan rela untuk kehilangan waktu tidurku untuk menjagamu. Satu satunya yang membuatku tidak akan pernah lelah, untuk mendengarkanmu bercerita. Satu-satunya nama yang selalu melintasi fikiranku, di saat hariku yang berat. Menjadi lebih mudah hanya karenamu.

Hanya kaulah yang bisa membuatku tersenyum, bahkan tanpa kau mencobanya. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana kau sungguh berarti saat ini.

Tapi kau adalah satu satunya yang aku takut, untuk merasa kehilangan. Aku ingin menjagamu di dalam hidupku.

Aku mencintaimu, Tiffany.
Maafkan aku.

Tiffany hanya bisa menutp mulutnya dengan satu telapak tangannya. Dia menahan suara tangis yang mungkin akan mengalir begitu saja. Air matanya sudah deras seiring dia membaca baris demi barus surat yang kini di genggamnya.

Ia tidak bisa berkata apapun.

Ia sama sekali tidak menyangka jika bunga ini di tujukan untuknya. Dan dia merasa sangat bodoh sekarang. Apa yang telah ia lalukan? Ia bahkan tak mah mendengar Taeyeon untuk berbicara sepatah katapun dan pergi begitu saja. Jika ini adalah mimpi buruk yang telah menghampirinya lebih dulu. Dia memohon pada surga untuk segera membangunkannya.

Ia… seharusnya mendengarkan apa yang akan Taeyeon katakan waktu itu.

Tiffany berjalan memasuki rumahnya yang sudah beberapa hari ia belum datangi. Langkahnya begitu layu, satu tangannya masih menggenggam bunga lengkap dengan suratnya itu. Tidak sampai, dia menedarkan pandangannya dan menemukan pria paruh baya kini tengah duduk di ruang tamu rumahnya, bersama ibundanya disana.

Tiffany bisa merasakan atmosfir yang tidak biasa. Bisa di lihat dengan jelas ekspresi ibundanya ketika menatapnya. Lalu, ia bisa melihat pria itu yang kini terlihat begitu sedih dan tak bergairah untuk hidup.

Pria itu menatapnya dengan air mata yang membasahi kedua mata. Terlihat begitu sembab dan lelah.

“Tiffany…”

Dan gadis itu, merasa bahwa sebentar lagi dia akan mendapatkan jawaban yang ia harapkan. Semua pertanyaan yang terus berlari di kepalanya. Ia akan mengetahui semuanya.

“Sore itu… Aku dan Taeyeon menghabiskan waktu bersama di taman, Tiffany.”

“Kita membicarakan banyak hal. Hingga ia memberi tauku sesuatu. Jika kalian sedang dalan pertengkaran kecil.”

“Kami tengah menghabiskan ice cream bersama. Seperti yang kau sarankan. Dia benar-benar menyukainya.”Cerita Tuan Kin sembari sesekali menghapus air matanya yang berjatuhan. The

Tiffany hanya bisa menarik sudut bibirnya untuk tersenyum tipis.

“Tidak, sampai.. dia bilang ingin membelikanmu bunga yang di jual di seberang taman.”

“Karna hari itu dia sedang sakit, jadi aku menawarkan untuk aku yang membelikannya.”Tuan Kin semakin terisak di sela ceritanya. Membuat Tiffany bisa merasakan titik air matanya mulai berjatuhan di paparan wajahnya.

“Aku seharusnya tetap melakukan itu. Aku seharusnya tidak membiarkan Taeyeon berjalan sendiri kesana…”

“Apa yang terjadi… Tuan Kim…”

“Katakan padaku…”Kata Tiffany sekali lagi, tak siap untuk mendengarkan jawaban yang mungkin saja akan membunuhnya juga saat ini.

“Tidak sampai, mobil itu menabrak putriku, Tiffany.”

Tiffany hanya bisa merasakan sakit yang hebat yang kini menjalar di rongga dadanya. Tepat setelah ia mengatakan tu.

“Kau pasti bercanda…”

“Katakan bahwa ini hanya bagian dari kebohonganmu, Tuan Kim…”

Ibunda Tiffany yang sedari tadi ikut menangis kini hanya bisa memeluk putrinya erat.

“KAU PEMBOHONG!”

“AKU TAU TAEYEON PASTI AKAN DATANG SEBENTAR LAGI!”

“YA, KAN!?”Tiffany kini tiba-tiba menjadi histeris. Membuat Ibundanya hanya bisa mendekap putrinya lebih erat. Mengatakan bahwa semua ini nyata. Mereka berdua akan baik-baik saja.

“Tiffany… Tenanglah sayang…”Tukas Nyonya Hwang sembari membelai rambut putrinya yang kini masih menangis keras.

“Tapi kenapa… aku masih bertemunya hari itu…”

“Soal itu… aku sudah bilang bahwa sebaiknya dia tetap di rumah sakit. Tapi ia mengatakan hanya harus meminta maaf padamu. Setidaknya dia bisa melihatmu sebelum dia melaksanakan operasinya.”

Tidak ada yang bisa memggambarkan bagaimana dia kini merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Rasa penyesalan paling menyakitkan yang pernah menghampiri hidupnya. Tiffany bisa merasakan rasa sesak yang kini menghimpit dadanya. Semuanya terasa seperti mimpi buruk.

Mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan akan sebegini sakitnya.

Jika saja ia bisa memutar waktu lagi. Ia pasti akan membiarkan sosok itu berjalan menghampirinya. Ia tak akan memerintahkan Taeyeon untuk berhenti.

Ia akan berlari memeluk sosok itu dengan baik segala rasa penyesalan dan kasihnya.

Seharusnya dia tau, bahwa Taeyeon tidak akan pernah melanggar janji mereka. Seharusnya ia tau, bahwa sosok itu juga begitu mencintainya, untuk meninggalkannya begitu saja. Ia merasa bodoh karena telah meragukan mereka. Kekuatan perasaan mereka sendiri.

Seharusnya, ia berada disisi gadis itu saat ini.

Bukan malah pergi, dan beranjak seakan semua adalah kesahalannya.

Tiffany berjalan lunglai ketika dirinya hampir sampai ruangan yang di tujunya. Rasanya begitu lelah, akibat terus menangis dalam perjalanannya kesini. Perkataan Tuan Kim, terus saja berdengung di telinganya seiring dia berjalan dekat dan semakin dekat.

“Tiffany… Tidak ada yang bisa kukatakan, selain.. tolong. Tetap berada di sisi anak itu. Apapun yang terjadi.”

“Aku… percaya padamu, Tiffany. Bocah itu.. benar-benar mencintaimu.”

Tangis Tiffany kembali pecah setelah ia menapakan kakinya masuk kedalam ruangan yang asing baginya.

Disana.

Bisa di lihatnya, sosok itu yang kini terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Terpejam. Seakan ia tak ingin melihat dunia.

Banyak peralatan penopang hidup yang di pasangkan kebeberapa bagia tubuhnya. Ini… seperti mimpi buruk yang Tiffany tau, jika dia sedang berada di dalamnya.

“Taeyeon, sudah menunggumu.”Ujar pelan seorang gadis yang sebelumnya tengah duduk di tepi lain tempat tidur. Memberikan jalan bagi dirinya untuk terus mendekat.

Tiffany bisa merasakan air matanya yang tadi mengering, kembali basah dengan cepat. Semakin ia mendekat, semakin rasa sakit itu tidak bisa ia kontrol. Penyesalan, rasa sakit, pilu di aduk dalam satu wadah hatinya.

“Taeyeon-ah…”

“Ada apa denganmu?”Katanya hampir tanpa suara sembari membelai rambut wanita itu pelan. Wajahnya pucat, ekspresinya datar.

“Maaf, aku terlambat…”

“Tapi, sekarang aku disini, sayang.”

“Wake up.. i’m begging you, baby.”Katanya sembari air mata itu terus berjatuhan di paparan wajah, kekasihnya yang masih menutup matanya.

“I’m so sorry…”Katanya terakhir sebelu mengecup kening itu sembari memejamkan matanya.

Yang ia tau, hanya jika Taeyeon tidak dapat membuka matanya lagi. Tiffany tidak tau apa artinya perbedaan antara mati, atau kehilangannya.img_0014

there is one until two chapter left.

Advertisements

103 thoughts on “You, Again. CHAPTER TWELVE BY JAZZ.

  1. bener bener kehidupan bgt!! emang si klo id di rasukin sm yg namanya cemburu membabi buta ga mau denger alesan apapun, dan skrg tae udah sakit mungkin koma, kejadiaj ini semoga dpt jd pembelajaran buat lu tiff biar apapun permasalahan nua hrs dengerin penjelasan pasangan lu gimanapun jg.

    Like

  2. 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
    kenapa… jadi… begini…
    why.. why.. why.. 😭😭
    gak kepikiran bakal begini ceritanya..
    ayahnya bru berubah sikapnya..
    tpi taenya.. 😭😭
    satu sisi bahagia satu sisi sedih juga..
    ya ampuuuunnn…
    penyesalan datang belakangan.. 😥😥
    hahhhhhhh…

    Like

  3. ni cobaan besar buat taeny,hanya krna rasa cinta yg terlalu besar dari mereka berdua hingga timbul kesalah pahaman.smoga taeng cpat smbuh n tiff bsa sbar dgn keadaan sekrg.love taeny kngen dgn moment mereka. mkasih author jgn bosan tuk berkarya.

    Like

  4. Disaat appa Taeng dan Taeng sudah berbaikan dan disaat Taeng ingin meminta maaf terjadilah cobaan lagi 😦

    Taeng cepat sadar yaa dri koma nya *hiikksss..
    cobaan yg mesti dilalui untuk hubungan taeny berat juga 😦

    Like

  5. aduh ni author selalu bikin ane penasaran.
    tapi yang ane salutin update nya cepet jadi penasarannya g lama-lama melanda.
    good job lah thor salut ane 😀

    Like

  6. Syedih,
    Taeyeon-ah jangan tinggalkan tiffany.
    Aku ikut bahagia untukmu. Tolong berjuanng taeyeon-ah untuk tiffany 😢😭

    Like

  7. Taeyeon itu masih koma kan.???
    Chapter kali ini sedih , walaupun udah nemu titik terang ehhh malah taeng yg masih 50 50 antara hidup dan mati 😢. .
    Gw masih percaya klo jazz gk bakal bikin ini jadi sad ending 😊😊😊😊

    Like

  8. Blum rela taeyeon mati thor😢😢 baru aja nikmati masa indahnya bersama ayah tirinya thor.. masa Ia pergi gitu saja.. gak adil thor😐

    Like

  9. OMG!!! knp jd bgini thor???? bkn menyalahkan tiffany yg udh terlanjur cemburu buta dluan, tpi gue mw menyalahkan author yg tega bkin taeny menderita kyak gini huaaaaaa 😥
    taeyeon cpatlah bangun nak #hikssss

    Like

  10. Taeng smoga slamat, mdh2n author bikin slamat hehe tae mesti nglanjutin tgs sbg ketos nya donk. Saat emosi lebih mnguasai diri. Pnyesalan emang dtg trlambat fany ah.

    Like

  11. Gue bahagia loh liat update secepet ini. Tapi tiba-tiba sakit gitu bacanyaaa 😭 jaaaazzz mereka banyak banget rintangannya, huaaaa kenapa mesti begini taeng sakitnya sekarat gituuu. Fany wajib nyeseeelll, duh tapi taeng berjuang please. Kasian fany kalo gak bahagia terus huaaaa 😭
    Jazzatta ini loh ff nya always bikin perasaan campur aduk. Kereeennn

    Like

  12. Huwaaaa,,,,😭😭😭😭
    Trnyta hp taeyeon rusak,,mkanya dia gak tw klw fany mnghubunginya…
    Mdah2an operasi taeyeon berjlan lncar..

    Like

  13. begini nih jdnya klo pd ga mau saling mendengarkan..
    pasti berujung dgn penyesalan…
    jgn sampe dehh bgtu ppany memberanikn diri utk menemui taeng dan meminta maaf malah ntar taeng nya yg udh ga bisa bertahan lg…
    u.u

    Like

  14. Lu jadi rajin jazz, Gue belum baca dua chap sebelumnya, wkwkwk
    lagian aneh” si tae, udah tau lagi sakit bukannya cepetan nyamperin fany dan lagsung minta maaf malah ketemu iren lalu suap suapan

    Like

  15. Cerita x ini bnr2 menyakitkan bgt thoorr. Si Tippany yg salah paham, si Tae yg lagi sekarat. Bener2 beraaaat 😔😔😔😔
    Thoor, gw harap lu gak bikin sad ending nntinya 😟😟😟

    Like

  16. Blm bca chap sebelumnya,langsung longkap kechap ini pas baca lngsung ngejleb,cobaan buat taeny lgi banyak bgt,semoga tae cepet bangun,biar bisa liat fany udh nyesel sama perbuatan dia

    Like

  17. yaa author jezz udh seneng liat cpet update,, tau2 huaa,, sedih2 gini jadinya. aq pkir kmrn irene ma tae mau surprise tiffany buat minta maff, coz pas mlm berantem itu, iren sempet bilang ma tae untuk cpt baikan n rencanain surprise di atap, pas becandaan ma iren fany kebru dtg, lah kok gtu ternyata jadinya,, sedih amat tae2 nya pke acara operasi segala. kasian fany nyesel bnget tuh,, yahh pkoknya ttp percya aja author ksh happy ending ya,, cpt bngun tae,,!! semangat nulisnya author jezz,, oy,, ibu tae kok blum kliatan yaa,, mksh,, 🙂

    Like

  18. Hikkksss.. bnran nangis gw thor.. kesian bgt tae2 krna pany gak mau denger penjelasan ny..
    Dan skrg lg koma.. 😢😢😢
    Kan nyesel akhir ny pany krna gak mau dngerin penjelasan tae2.. huaa..
    Smga gak sad ending..
    Di tunggu chap slnjut ny thor.. hwaitingg..

    Like

  19. semoga oprasinya berjln dgn lancar . tetap disampingnya tae appa umma . biar tae appa dpt kekuatan untuk oprsinya dgn begitu tae appa bisa kembali bersama umma .

    lanjut thor . n happy new year buat author

    Like

  20. hmm ini alurnya yg kecepetan ato sengaja di cepetin kah ?
    jujur sih kesan yg gw dpt agak terburu2 hehehhe
    tp dapet sih feelnya
    udah bagus2 tae sm appanya baikan, eh tau2nya tae malah ketabrak ckckckc
    kasian bgt ckckc mana pany salah paham lg hadehhhh
    akhirnya jd ga bagus nih 😦
    jgn sad ending dongggg
    tae harus bangun

    Like

  21. Nah kaan, tiffany. makanya jangan suka kabur2 gt aja. nyesel kan? gmna low taenya ga bangun lagi ntar. andweee……

    Like

  22. Chapter ini sedih banget jazz…semoga taeyeon gk mati biar bisa sma tiffany terus…
    Akhirny kesalah pahamanny udh tuntas ☺

    Like

  23. Udah mah koneksi waipai ku ancur gajelas baca ini…….
    Thorrrrrr hatikuuuu terobok obok hiksss 😭😭😭😭😭😭😭

    So jangan membuat kesimpulan sendiri jika belum tau kebenaran ya paniiiyaaaaa 😣

    Ini blon end kan thor?

    Like

  24. Hikmah yg bs diambil adlah jng negative thinking bs bkin runyam slh pham,tp yg nmany prasaan mmg susah dikontrol, trimksh ff ny sehat bahagia sukses sll dan slmat th baru y mhon mf ats smua slh q yg bnr2 tdk q sngaja..JAZZATTA GBU ALL FIGHTIIIIING 😀

    Like

  25. Jadi cerita kaya gini toh semua karna famy negative thinking sama taeng dah sekarang fany menyesel karna ga ngedengrin taeng sebelum tapi kenapa sedih banget thor, ga sabar nunggu next chap nya

    Like

  26. Yahhh masa mati taeyeon:( jgn donggg, gk seru klo sad ending, kesel ahhh..
    Pany salah paham, jadi gitu deh. Untung nemu bunganya trus ketemu appa tae, jadi bisa ketemu tae lagi:((

    Like

  27. Mental breakdown seketika…
    Hueee…
    Kenapa malah mau ke sad ending aja….
    Salah paham lagii..
    Padahal tae ama ayahnya udah baikannn…
    Kenapa malah jadi masalah antara taenyy…
    😢😢😢

    Like

  28. gila daebak, keren banget thor
    alurnya bener-bener ga ketebak
    asli baper nyesek banget, sedihh ╥﹏╥
    tae ya ampun kamu sweet banget ya
    thank you thor, selalu ya di setiap ceritamu ada yg bikin nyesek dan itu feelnya kerasa banget, aku suka setiap ceritamu 🙂
    fix jazzatta jadi author favorite lah, bisa ngebangun perasaan yg bikin baper buat readersnya 🙂

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s