You, Again. CHAPTER THIRTEEN BY JAZZ (FINAL)

Sejak hari itu, Tiffany memutuskan untuk terus berada di rumah sakit menjaga Taeyeon. Ia akan membawa baju-bajunya untuk sekedar bermalam disana. Punggungnya memang sering terasa sakit, akibat tidur di sofa. Tetapi, itu tak membuatnya menyerah untuk suatu hal yang kecil.

Baginya, melepaskan Taeyeon adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan selama ini. Ia hanya tidak ingin membiarkan itu terjadi lagi.

Tiffang akan langsung bergegas kerumah sakit ketika bel tanda pulang berbunyi. Dia bahkan izin untuk mengambil istirahat dari club cheerleadersnya. Ia beruntung, karna memiliki teman-teman yang mau mengerti kondisinya dan Taeyeon.

Sebagian dari mereka justru menjadi orang yang mengusulkan Tiffany untuk terus berada di sisi gadis itu yang masih memejamkan matanya. Banyak yang membicarakan hubungannya dengan Taeyeon. Namun, hari itu dia menjawab semua pertanyaan yang di lemparkan kepadanya lewat media sosial.

IMG_0084.JPG
TiffanyHwang : berhenti berspekulasi. I love her one and only. get well soon, Tae. Just open your eyes, baby. I miss you so much…❀️ remember that i’ll never leave your side. It breaks my heart to see you like this. Wake up, baby…

jungjessica : shit, im going to cryπŸ’”

yukyulk : we miss you, taeyeon😭😭

lisalisaa : ahaaaa aku menangisπŸ˜­πŸ˜­πŸ’”

jenniekim : sunbae-nim. Bangun dan ajarkan aku cara mencari luas bangunan2 sial itu lagiπŸ˜­πŸ˜­πŸ’”πŸ’”

Jisoosoo : keep strong, unnie!πŸ˜­πŸ˜­πŸ’”πŸ’”

RoseHan : siapapun itu yang menabrakmu, aku akan mencarinya hingga ujung dunia, unnie😭😭

sooyoungchoi : Yah. Sebaiknya kau cepat membuka matamu atau aku akan menghabiskan setiap makan siang mu, Taeyeon.πŸ˜­πŸ˜­πŸ’”πŸ’”


“Taeyeon?”

Ucap Irene setelah dirinya berhasil menangkap sosok Taeyeon yang kini mulai membuka matanya. Ini sudah dua minggu setelah operasinya dan dia baru tersadar sekarang.

Karna tidak mau gegabah, Irene langsung menekan tombol dial untuk perawat.

Benerapa waktu kemudian, ruangan ini kini sudah di penuhi dengan beberapa donter dan perawat yang bernafas lega karena mendapati kondisi Taeyeon yang tiba-tiba membaik dengan drastis. Mereka sempat putus asa dengan hasil yang mungkin akan terlihat. Namun, kelihatannya surga telah berpihak pada mereka.

Tiffany yang baru saja kembali dari rumahnya untuk mengambil beberapa baju gantinya. Di kejutkan dengan keramaian yang ada pada kamar rawat kekasihnya. Dirinya benar-benar panik, jadi dia berlari dengan cepat sembari terus memanjatkan doa agar sesuatu yang buruk tak terjadi pada Taeyeon.

Benar saja, ini seperti sebuah keajaiban untuk menemukan sosok itu kini telah membuka kedua matanya. Menatapnya dengan penuh kehangatan, persis seperti terakhir kali ia melihatnya.

Tiffany hanya bisa terdiam di sudut ruangan sembari menunggu beberapa dokter mulai memerikaa kekasihnya. Perasaan bahagia yang membuncah itu kini menguasai seluruh kerajaan hatinya.

Jika mungkin, ini adalah mimpi indah yang menghampirinya lebih dulu. Tiffany berdoa agar seseorang tidak pernah membangunkannya.

Irene juga mempersilahkan dirinya untuk keluar setelah ruangan ini semakin kosong. Dia tersenyum pada Tiffany sebelum menutup pintunya. Gadis itu membalasnya dengan senyum hangat juga.

Awalnya langkah ini agak ragu untuk mendekati Taeyeon yang kini tersenyum lemah kearahnya. Namun, yang sekanjutnya justru membuatnya terkesiap.

“Bisakah… kau kemari.. Aku merindukanmu, Fany-ah…”Kata demi kata itu berhasil di ucapkan Taeyeon di balik alat bantu pernafasannya. Kondisinya masih sangat lemah untuk banyak bicara.

Dengan itu, Tiffany berhamburan untuk kembali ke pelukan kekasihnya. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa kini hatinya di penuhi dengan kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan akan sebegini indahnya untuk mendapatkan Taeyeon kembali dalam hidupnya.


Setelah keadaan Taeyeon semakin membaik, Tiffany semakin sering untuk berkunjung dan bermalam di kamar rawat kekasihnya. Walaupun terkadang, itu membuatnya harus selalu membatalkan beberapa latihan teamnya.

Namun, dia memang di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi Taeyeon. Jadi, mereka tak akan ragu untuk membiarkan ketua mereka terus berada di sisi kekasihnya yang kini sangat membutuhkannya.

“Fany-ah…”Panggil Taeyeon pelan pada kekasihnya yang kini sedang sibuk memperhatikan telfon genggamnya.

Dia menoleh, “Oh? Kau membutuhkan sesuatu? Katakan padaku.”Jawabnya seraya berjalan mendekat ke arah kekasihnya yang masih terbaring lemas.

“Sleep here, with me?”

Tiffany menaikkan satu alisnya, itu adalah permintaan yang tak terduganya. Namun, dia hanya bisa terkekeh melihat Taeyeon menyisakan ruang di atas rempat tidurnya. Menandakan bahwa dia harus segera mengikuti permintaanya.

Tiffany kini memang tidak pernah bisa menolak apapun permintaan kekasihnya. Ini sudah seperti perintah yang setiap saat harus ia tepati untuk membayar semua kesalahan sebelumnya.

Gadis itu mulai naik ke tempat tidur kekasihnya. Taeyeon kini memeluk dari belakang sosok itu dengan erat. Sesekali mengecup pucuk kepala Tiffany yang ada di bawahnya. Gadis berambut hitam itu memejamkan matanya sekali lagi. Dia tidak pernah tau, jika bahkan dalam koma nya. Ia masih menyadari bahwa dia sangat merindukan Tiffany.

Ia sempat melihat dirinya ada di hamparan luas tanah yang di kelilingi awah putih yang damai. Kemudian, dia melihat pintu gerbang itu yang menjulang di tinggi didepannya menyentuh langit angkasa. Dia mulai melangkah kearah sana berharap sesuatu yang baik akan terjadi didalamnya. Sebelum, ia mendengar kekasihnya memanggil namanya untuk kesekian kali. Taeyeon Berbalik dan mulai melangkah kembali kedalam dekapan kekasihnya yang berdiri tepat di belakangnya,

Itu semua sebelum dia berhasil kembali mendapatkan kesadarannya. Menyadari bahwa dia kini tengah berada di kamar rumah sakit. Dan untuk itu, dia mengerti bagaimana dia bisa membuka kedua matanya lagi. Suara itu… memanggilnya untuk kembali.

“Aku bermimpi… kau memanggilku.”Kata Taeyeon pelan sembari terus menarik tubuh Tiffany untuk mendekat dalam dekapannya. Tiffany tersenyum dan mulai memeluk balik lengan yang kini melingkar di pinggangnya.

“Benarkah? Seperti apa mimpimu?”

“Kau memanggilku kembali.”Jawab Taeyeon cepat enggan untuk membuka kedua matanya. Dia masih ingin menelan semua momen ini bersama kekasihnya. Ia sempat berpikir, bahwa ia akan kehilangan sosok ini sebelumnya.

Mendengar jawaban itu, Tiffany merasa sedikit khawatir. Dia perlahan melepaskan pelukan kekasihnya. Lalu berbalik untuk melihat kedua bola mata coklat madu itu langsung. Dia bisa menemukan ekspresi tenang Taeyeon. Tiffany meraih permukaan halus wajah kekasihnya, di usapnya dengan lembut sembari tenggelam dalam tatapan Taeyeon saat ini.

“Aku memang memanggilmu, Taeyeon. Aku terus mengatakan namamu, berharap kau akan membuka matamu, dan kembali lagi padaku.”Tukas Tiffany pelan, dia bisa melihat kekasihnya yang kini mengukir senyum di wajahnya.

“Dan kau berhasil.”

“Itu benar. Terimakasih untuk kembali.”Jawab Tiffany sembari mengecup bibir kekasihnya yang pucat. Menahannya agar lebih lama disana.

“Meskipun, aku takut kau tidak disampingku. Aku lebih takut jika kau tidak ada di alam semesta ini.”

Dengan itu, mampu membuat Taeyeon bisa merasakan air matanya yang kini mulai menggenangi pelupuknya. Dia lalu menarik Tiffany kembali untuk di dekapnya. Meletakan dagunya di atas kepala sang kekasih dan terpejam. Berharap, jika mungkin saja waktu bisa berhenti ketika dia menggenggam sosok ini erat. Dia berharap pada surga, untuk segera menghentikannya.


“Yah. Apa kalian melihat kekasihku?”Tanya Tiffany pada junior-juniornya yang kini sedang berkumpul bersama di aula. Mereka ikut menjadi panitia di acara promnight senior mereka malam ini.

“Omo. You looks stunning, Sunbae-nim!”Puji Jennie sembari menepuk tangannya pelan.

Tiffany, memang kini tengah memakai gaun putih kesayangannya. Ia sengaja mempersiapkan gaun ini lagi untuk acara sekolahnya. Hanya mungkin, dia menambahkan sedikit pernak-pernik pada pakaiannya agar terlihat lebih menawan.

“Thanks.”Jawabnya sedikit tersipu,

“Kau belum bertemu dengan Taeyeon Sunbae-nim?”Tanya Rose sekarang, ketuanya hanya menggeleng pelan. “Kita tidak pergi bersama. Aku baru saja tiba.”

“Jjinja? Woah. Kau harus melihat Taeyeon sunbae-nim.”

“Tentu saja. Dimana dia? Apa kau melihatnya?”

“Aku sempat melihatnya berbincang dengan Jessica sunbae-nim tadi.”

Lalu Tiffany mengucapkan terima kasih pada juniornya dan kembali melangkahkan kakinya untuk menemui kekasihnya. Tidak bisa di pungkiri bagaimana dia begitu penasaran ingin melihat bagaimana memabukkan kekasihnya malam ini. Setidaknya itulah yang di katakan orang-orang sekitarnya tadi.

Dia sempat iri pada mereka, dia sendiri saja belum sempat untuk menemui gadis itu.

“Yah! Jessica, Sooyoung!”Kini Tiffany terlihat begitu tidak sabar. Dia sudah berjalan keliling namun, pandangannya sama sekali tak menangkap sosok ketua osis itu.

“Oh? Kau datang juga akhirnya. You looks good bytheway.”Kata Jessica menoleh, sembari memperhatikan sahabatnya dari kepala hingga kaki.

“Thanks. Kau lihat Taeyeon?”

“Dia tadi disini bersama kita. Maklum saja, dia sangat sibuk malam ini. Kau tau dia sebagai ketua acara,”Sambar Sooyoung, dia diam-diam mengagumi bagaimana Tiffany dan Taeyeon terlihat sangat mempersona malam ini.

Dan untuk pertama kalinya dia berpikir, apa bahkan dunia ini adil untuk kedua makhluk mempesona itu untuk bersama?

Baru saja Tiffany ingin berkata sesuatu, sebelum akhirnya lampu aula mati untuk seperkian detik dan kembali menyala. Namun kali ini sorot lampu itu tertuju pada seseorang yang ada di atas panggung.

Tiffany menoleh untuk menemukan sosok yang di carinya kini tengah berdiri disana.

Dan…

Sial. Dia tidak mempersiapkan dirinya untuk jatuh terpesona akan sosok kekasihnya sendiri saat ini. Taeyeon terlihat sangat cantik dan mengagumkan dengan dress putihnya yang sangat memabukkan. Tiffany memang tidak pernah melihat sisi penampilan Taeyeon yang seperti ini.

Namun, untuk ke seribu kalinya dia hanya bisa bersyukur bahwa gadis itu adalah miliknya. Gadis yang mencuri banyak perhatian orang akan kebaikan hatinya, juga parasnya yang mempesona.

kim-tae-yeon-full-5131

“What the heck. Is that my girlfriend!?”Seru Tiffany sembari tak pernah melepaskan pandangannya dari sosok itu yang kini mulai membuka acara mereka.

“Pertanyaan macam apa itu? kalau begitu, berikan saja dia padaku.”Sambar Jessica sukses membuat sahabatnya menatapnya dengan tatapan kematian.

“Bermimpi saja, kau Junk!” (sampah)

“Yah! it’s jung! not junk!”

“Like i care!”Kata Tiffany terakhir sebelum melangkah menjauh dari sahabatnya.


 

 

Kini Tiffany benar-benar merasa kesal untuk pertama kalinya karena posisi kekasihnya sebagai ketua osis. Baru saja dian ingin menghampirinya, Taeyeon langsung di hampiri oleh beberapa orang untuk mengatur kembali jalannya acara. Sebelum akhirnya, dia menghentikan langkahnya dan mata mereka bertemu.

Taeyeon tersenyum hangat kearah kekasihnya, mereka berdua hanya saling menatap untuk beberapa saat sebelum nama Tiffany di panggil keatas panggung untuk memberikan beberapa sambutan bersama sahabatnya yang lain karena telah membantu banyak dalam acara ini.

Taeyeon dengan senyum bangganya hanya bisa terduduk di salah satu bangku yang ada. Dia diam-diam sangat terpesona dengan penampilan kekasihnya malam ini.

Dia berkata dalam hati, apa yang mungkin sudah di lakukannya, untuk pantas mendapatkan gadis itu di hidupnya?

Sementara, Tiffany kini hanya tersipu malu mendapati Taeyeon yang kini menatapnya seakan hanya ada dia di dunia gadis itu sekarang.

60owwxx

Malam ini, Taeyeon dan Tiffany lebih memilih untuk tidak saling melepaskan genggaman mereka. Menikmati setiap detik kehadiran masing-masing. Sesekali Taeyeon tidak akan ragu mengecup bibir kekasihnya di depan banyak orang.

Membuktikan pada mereka, jika keduanya serius akan ini. Khususnya bagi Tiffany, dia ingin sekali lagi dunia tau, bahwa Taeyeon adalah miliknya. Kali ini, dia tidak akan melepaskannya begitu mudah.

Mendapati Taeyeon yang memejamkan matanya, tak bisa melihat kehadirannya, tak mampu bebricara dengannya. Sudah cukup membuatnya tersiksa. Dan dia bersumpah, bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi. Dia… akan berada di sisi gadis itu apapun yang mungkin terjadi.

“Taeyeon-ah..”Kata Tiffany pelan sembari kembali menarik satu tangan kekasihnya untuk digenggam.

“Hmm?”

“Ketika aku melihatmu, aku melihat seseorang sempurna yang ada di hadapanku. Lalu ada aku, seseorang yang aneh dan gila dengan semua masalahnya. Aku tidak mengerti kenapa kau memilihku. Tapi tolong, tetap berada di sisiku untuk selama yang kau bisa.”

Taeyeon merasa sangat tersentuh dengan pernyataan kekasihnya yang tiba-tiba. Dia menatap hangat kedua mata itu yang memabukkan. Di kecupnya kening gadis itu dengan lembut. Dan Tiffany terpejam saat itu.

Sebelum akhirnya dia bisa kembali manatap wajah itu. “I will never leave your side.”Tukas Taeyeon pelan, dan ia tidak pernah seyakin ini dalam hidupnya.

“I love you so much, Tiffany.”

“I love you, more. Taeyeon-ah.”

tumblr_mzpa7ika2m1sewbc1o1_1280


 

 

“Yah, Tiffany! Come here!”

Gadis itu menoleh untuk menemukan sahabatnya yang kini tengah mabuk di tengah kumpulan pria yng kini sedang berusaha menggodanya. Tiffany hanya bisa memutar kedua bola matanya melihat itu.

“Jeez! Jessica you’re so dead now!”Katanya sembari berbalik untuk menghampiri sahabatnya itu. Banyak pasang mata yang kini mendaratkan pandangan kearahnya.

Sebagian besar dari mereka memang tengah mengagumi sosok itu karena kecantikan yang dia punya rasanya tak pernah pudar sejak dulu. Maklum saja, Tiffany dan sahabatnya pergi ke kampus yang sama. Dan mengambil jurusan yang juga sama. Fashiond and Design.

Sebenarnya, ia sama tak pernah terpikirkan akan itu. Namun, entah kenapa keduanya merasa mempunyai passion yang sama di bidangnya.

Tiffany dan Jessica kini berada di tahun pertama pada kehidupan awal perkuliahan mereka. Namun, tidak bisa di pungkiri dengan kecantikan keduanya, mampu membuat semua orang di kampus tergila-gila akan kedatangan mereka. Bahkan Tiffany akan mendapatkan banyak pujian ketika dia berlalu menembus dinginnya lorong kampus.

Dirinya dan Jessica menjadi salah satu siswi yang paling di inginkan untuk menjadi kekasih banyak pria di kampus mereka. Namun, nampaknya mereka harus menggigit jari untuk itu.

Karena, semenjak kali pertama dia menginjakan kaki di kampus ini, Tiffany masih menjadi kekasih dari seorang gadis yang kini berada di jurusan kedokteran itu.

Dimana mereka telah bersama sejak tahun senior mereka di sma sebelumnya.

Tak banyak yang tau tentang hubungan mereka. Hanya beberapa teman terdekat dari keduanya yang mau membuka akan hal itu. Apalagi, dengan keduanya yang tak sering bertemu karena jadwal kelas yang begitu padat, apalagi Taeyeon.

Walaupun mereka pergi ke kampus yang sama, Tiffany sulit untuk sering menemui kekasihnya dalam waktu yang senggang. Setiap kali dia minta bertemu, mahasiswi Medical Major itu pasti sedang ada kelas, atau ada quiz di hari yang sama. Itu membuatnya kadang sedikit kesal. Namun, dia bisa mengerti bagaimana Taeyeon harus berhadapan dengan itu semua.

Jadi, dia akan langsung menghampiri asrama Taeyeon tidak peduli jika dia ada disana atau tidak. Rasa rindunya memang tak akan pernah bisa ia tahan lama-lama.

Namun, akhir-akhir ini ia sama sekali tidak bisa menemui kekasihnya karena kesibukannya secara sepihak. Jadi, ketika Taeyeon mengatakan bahwa dia harus membatalkan makan malam bersama mereka, Tiffany lebih memilih untuk bergabung bersama Jessica di party yang diadakan beberapa teman kuliahnya di asrama mereka.

“Ugh!”Tukas Tiffany sembari berusaha menarik Jessica menjauh dari tempatnya berdiri.

“Hey, beautiful.”Sapa seorang pria yang kini tersenyum menggoda padanya.

Tiffany lagi-lagi hanya bisa memutar kedua bola matanya, “Hey, Josh.”

“Kau selalu menolak makan malamku. Tapi kau malah berada disini.”Katanya lagi,

“Apa salah untuk berada disini?”

“Bukan itu maksudku. Kau selalu saja sibuk ketika aku mengajakmu makan malam. Tetapi, aku selalu menemukanmu bersama Jessica setiap waktu.”

“Duh. It’s because she is my bestfriend.”

Pria kelahiran Korea-Amerika itu hanya bisa tertawa mendengar jawaban Tiffany.

“Tapi itu tidak akan menyakitkan untuk menerima tawaranku untuk sesekali.”

Jessica yang kini berada di bahu Tiffany, sangat mabuk hanya bisa terus membuka matanya sembari menari-nati dengan alusan musik yang ada.

“Yah. Josh-eu! Apa kau tidak tau bahwa… sahabatku…. yang…. mempesona ini… sudah… menjadi… milik… orang lain?”
Kata Jessica sesekali di selingi cegukannya karena minuman alkohol.

Pria itu melemparkan tatapan tanda tanyapada Tiffany yang kini memutar kedua bola matanya.

“Sudahlah, aku harus membawanya kembali ke kamar.”Jawab Tiffany sembari ingin mengambil langkah menjauh.

“Benarkah itu, Tiff?”Tanya Josh sekali lagi.

“Tapi, kau tau sudah berapa lama aku selalu mengerjarmu.”Katanya pada gadis itu yang kini terlihat kewalahan. Dia berbalik dengan kasar,

“Look, Josh. I already told you, that i will never accept your dinner. Can you see what is that means?”Katanya dengan nada sedikit kasar.

“Who is this person?”Tanya Pria itu dengan intonasinya yang agak kecewa.

“You really don’t need to know. This is none of your business.”

Pria itu hanya bisa menunjukan mimik kecewanya sekali lagi. Dia merasa tidak adil akan tindakan Tiffany saat ini. Bahkan dia sudah melakukan banyak hal untuk memenangkan hati gadis di depannya. Walaupun dia adalah salah satu dari puluhan pria yang berusaha mendekati Tiffany.

Tapi usaha dialah yang bisa di bilang paling banyak menonjol dari yang lainnya. Josh akah selalu mengirimkan kiriman bunga ke kamar asrama Tiffany dan Jessica. Memberikannya berbagai hal yang mungkin Tiffany butuhkan seperti sepatu, tas dan barang-barang mahal lainnya. Walaupun sebagian besar dari barang-barang itu pada akhirnya akan kembali lagi padanya.

Tiffany tetap menerima yang mungkin memang dia butuhkan. Dia sempat menolak, namun pria itu memaksa dan dia mengaku akan lebih kecewa jika si gadis tak menerimanya.

“Okay, listen. Whoever that is. This guy is so lucky to have you.”Katanya dengan senyum lembut yang menghiasi wajahnya.

Tiffany kali ini sedikit tersentuh untuk perkataan Josh.

“Yes. She is indeed lucky to have me.”Kata Tiffany terakhir sebelum mempersilahkan dirinya sendiri berjalan sembari menyanggah Jessica menjauh dari keramaian ini.

Josh yang terdiam kurang percaya dengan apa yang pendengarannya tangkap baru saja.

“She?”


“Okay… How is Taeyeon going?”

“She’s so busy, Mom. I can barely see her. My texts got ignored.”

“Aw… poor my baby… Just hang in there, okay? You promised me to always stay by her side.”

“I know. I love her a little bit too much, Mom”

“I get that, honey. I love her too, she is on her way to get her future. Okay?”

“Yeah. I guess thats one way to look at it.”

“Don’t you think she would make a great doctor? And a great amount of money too?”

“Ahaha. You’re right.”

“Ahaha.”

“Okay, i gotta go now, Mom.”

“Okay, i love you. Tiffany.”

“I love you more, Mom”


“Taeyeon! Apa kau sudah mendengar beritanya?”Ucap In Na sembari berlari kecil ke arah sahabatnya sejak ia masuk kuliah ini.

Di samping karena mereka pergi ke fakultas yang sama, Yoo In Na merasa punya banyak kesamaan atara dirinya dan Taeyeon. Mereka sering berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersama, mengingat mereka juga sekamar dalam asrama mereka.

In Na sampai saat ini tidak mengetahui bahwa sahabatnya telah menjalin hubungan dengan seseorang yang lain. Jadi, dia terus berusaha mengenalkan Taeyeon dengan teman prianya walaupun selalu mendapat penolakan dari gadis yang lebih tua.

“Apalagi, In Na-yah?”

Taeyeon berbalik sembari memijit pelan keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. Dia sudah cukup lelah akan tugas-tugas dan quiz yang ada.

Memilih jurusan yang menjadi favorite semua orang memang tidak mudah. Namun, inilah mimpinya sedari dulu. Di samping, karena mendiang ayahnya yang juga berprofesi menjadi dokter. Taeyeon merasa, bahwa bidang ini cocok untuk dirinya sendiri. Mungkin, karena ia melihat seseorang yang mau membantu menjaga kesehatan orang lain terlihat sangat murni.

Cliche seperti kedengarannya. Tetapi, Taeyeon tau, jika dirinya terus berusaha keras. Ia akan meraih mimpinya ini. Dia akan menjadi dokter yang hebat dan bisa memenuhi keinginan semua orang di sekelilingnya. Terutama, Ayahnya dan Tiffany.

Sampai sejauh ini, keduanyalah yang terus berada di setiap langkahnya untuk menggapai mimpinya itu. Mereka seakan tak pernah lelah untuk mendukungnya, dengan jalan yang telah ia pilih sendiri. Dan dia, percaya bahwa kedua orang yang di cintainya itu, akan selalu berada disisinya tak peduli apapun yang terjadi nantinya.

“Kau tau, Tiffany Hwang .kurasa, dia benar-benar seorang playgirl! Aku baru saja melihatnya bercanda dengan mesra pada Josh. Lalu di hari kemarin, aku melihatnya bermain bersama anak-anak fakultas seni. Dan hanya dia perempuan disana.”

Taeyeon menarik napasnya pelan sembari membuangnya kasar.

“In Na-ya. Kau bahkan sempat untuk ke acara seperti itu, disaat tugas-tugas ini membunuh kita?”Katanya dengan intonasi tak percaya.

Gadis itu lalu ikut terduduk di sampingnya.

“Yah. Aku hanya sangat lelah dan bosan. Okay?”

“Lagipula, kau tidak perlu mengurusi urusan orang lain. Itu bukan hakmu.”Kata Taeyeon sekali lagi tak pernah menyukai setiap kali In Na akan membicarakan tentang kekasihnya.

“Jeez! Aku hanya tidak menyukainya.”

“Kenapa?”

“Tidak tau. Mungkin karna dia terlalu cantik?”Taeyeon lalu terkekeh akan jawaban itu.

“Kau serius tidak menyukai seseorang karna dia begitu cantik?”

Gadis itu hanya berdeham sembari mengangguk dan lalu sibuk membuka laptopnya. Itu membuat Taeyeon kembali tertawa dan menggelengkan kepalanya pelan.

[Taeyeon 10.41pm] Hey…

[Tiffany 10.41pm] Wow. Just wow, Taeyeon.

[Taeyeon 10.42pm] What?☹️

[Tiffany 10.42pm] Seriously, i’ve been tried to contact you. Like what, yesterday!?

[Taeyeon 10.43pm] I’m so sorry… okay? I’ve been so busy.

[Tiffany 10.43pm] i get that a lot.

[Taeyeon 10.44pm] Fany…

[Tiffany 10.44pm] i’m sorry. I just miss you so much.

[Taeyeon 10.44pm] i miss you, too.

[Tiffany 10.47pm] then, just come and see me.

[Taeyeon 10.48pm] i will, how about first tomorrow morning? Breakfast?

[Tiffany 10.49pm]  Yes, please?☹️

[Taeyeon 10.49pm] Alright, sweeheart. I’ll pick you up at 7?

[Tiffany 10.50pm] Sounds greatπŸ˜‰

[Taeyeon 10.50pm] Okay☺️ hey, In Na baru saja memberitahuku sesuatu.

[Tiffany 10.51pm] Dan apa itu, sayang?

[Taeyeon 10.51pm] Dia bilang, kau mungkin sebentar lagi akan mengencani Josh.

[Tiffany 10.52pm] What a bitch! I’ll never do that.

[Taeyeon 10.52pm] I know…

[Tiffany 10.53pm] we’re just friends. Aku bahkan telah mengatakan padanya, bahwa aku sudah 

memiliki orang lain.

[Taeyeon 10.53pm] You did?

[Tiffany 10.53pm] Yes. Thats because i wanted him to know. That i’m yours.

[Taeyeon 10.54pm] Aww☺️ Tapi kau tidak mengatakan bahwa itu aku, kan?

[Tiffany 10.57pm] No☹️ Taeyeon, sampai kapan kita harus menyembunyikan ini? Aku muak menahan keinginanku untuk mencabik-cabik pria kutu buku yang banyak sekali menggodamu di depan mataku. Can you just tell them to back off? Just say that you already see someone?☹️

[Taeyeon 10.57pm] Mencabik-cabik mereka? Are you being serious right, now? Hwang Tiffany. I can’t believe youπŸ˜‚πŸ˜‚

[Tiffany 10.58pm] I am, serious now. KimπŸ˜‘

[Taeyeon 10.58pm] Okay, okay. But they are nice thoπŸ‘ŒπŸ»

[Tiffany 10.59pm] Oh really? Just tell them that you are available then!

[Taeyeon 11.00pm] I can’t☹️ because i’m property of Tiffany Hwang. Kenapa aku harus menerima mereka disaat aku mempunyai kekasih yang sangat cantik dan… sexy?😏

[Tiffany 11.00pm] Kau sekarang mengakuinya?😏

[Taeyeon 11.01pm] Kapan aku menyangkalnya?πŸ˜‰

[Tiffany 11.01pm] Ugh. Sering.

[Taeyeon 11.02pm] Okay, aku tidak akan mengulangnya.

[Tiffany 11.02pm] You better, Honey.πŸ’‹

[Taeyeon 11.02pm] It’s late, you should sleep.

[Tiffany 11.03pm] Katakan itu pada dirimu sendiri, Taeyeon. Don’t be too stressed and tired. 

Okay? I love you. Eat a lot. You’re losing so much weight recently☹️

[Taeyeon 11.04pm] i will. You, too okay? I love you. Eat healthy, don’t be sick or over exhausted.

[Tiffany 11.04pm] Don’t worry. I got my own doctorπŸ˜‰

[Taeyeon 11.05pm] You doπŸ˜‰


Tiffany bisa mendengar ketukan pada pintu kamarnya. Dan ia bisa langsung mengetahui siapa di luar sana. Dia menarik sudut bibirnya untuk tersenyum mengetahui bahwa kekasihnya kini berada di depan pintu kamarnya.

Dan benar saja, Taeyeon kini berdiri sembari memamerkan senyum hangatnya pada sang kekasih.

“Hey…”Sapanya lembut, Tiffany yang tidak lagi bisa menahan rasa rindunya langsung mendekap sosok itu erat. Dia menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Taeyeon dan menariknya erat.

“I miss you, so bad.”Tukas Tiffany pelan sembari memejamkan matanya. Dia bisa merasakan Taeyeon yang membalas pelukannya sama erat. “I miss you too, Tiffany.”

Ini sudah beberapa lana Tiffany tidak mencium harum aroma natural tubuh kekasihnya. Ini membuatnya sedikit terbawa suasana karena rindunya yang begitu besar.

Tiffany mengakhiri sesi mereka, dia lebih memilih untuk memperhatikan sekali lagi, kekasihnya. Dia hanya bisa memautkan bibirnya melihat pemandangan yang ada di depannya.

Dia jelas sekali bisa melihat bahwa Taeyeon mungkin kehilangan banyak waktu tidurnya. Itu bisa di lihat dengan lingkaran di bawah matanya yang kini sedikit lebih terlihat dari sebelumnya. Mukanya begitu tirus dan tatapannya lelah.

Dia bisa mengerti, jika jurusan yang di ambil kekasihnya pasti akan menyita banyak waktu istirahatnya. Dia nenyetujui dengan antusias ketika Taeyeon mengatakan bahwa dia akan memilih kedokteran untuk langkah selanjutnya.

Namun, melihat kondisi kekasihnya sekarang, Tiffany berpikir dua kali untuk itu.

“Dan lihatlah, siapa yang selalu memerintahkan aku untuk selalu tidur dan makan.”Katanya sembari meraih wajah Taeyeon untuk di belainya. Tiffany menyentuh bagian bawah mata Taeyeon. Gadis itu terpejam untuk merasakan lebih sentuhan kekasihnya yang belum ia dapatkan untuk beberapa waktu.

“Eat more, Taeyeon-ah. Don’t be too exhausted. It sucks to see you like this, really.”

“I mean, you’re still looks fucking pretty. But you looks so tired. I’m worried.”

Taeyeon harus tersenyum ketika mendengarkan perkataan khawatir kekasihnya.

“I’m fine, Fany-ah.”Jawabnya pelan,

“You’re not. Promise me to stay healthy. You said you’re going to be a doctor. What kind of doctor that doesn’t take care of themselves.”

Taeyeon sangat menyukai bagaimana Tiffany akan berbicara dengan cerdasnya. Dia menyukai setiap kali gadis ini mengkhawatirkannya. Terdengar sangat lucu, namun penuh kasih di saat yang bersamaan.

“Okay. I’ll be more consider about my health.”

“Thats good to hear.”Tiffany mengecup bibir kekasihnya cepat.

“Kau tunggu sebentar di dalam, aku akan mengganti bajuku.”

“Okay.”

Taeyeon mengikuti Kekasihnya untuk mulai melangkah masuk. Dia memilih untuk duduk di salah satu sofa yang ada di depan tv. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ini baru kunjungan keduanya. Dan dia belum terlalu memperhatikan keadaan kamar Tiffany dan Jessica saat itu.

Walaupun terlihat seperti anak manja. Keduanya memang ternyata adalah mahasiswi yang rapih. Semua barang tertata di tempatnya.

“Oh, Hey Taeyeon.”Sapa Jessica menghampiri kekasih sahabatnya sembari memeluk gadis itu sekilas.

“Bagaimana kabarmu, Jessica?”Tanya Taeyeon lalu kembali duduk. Jessica mengikuti gerakannya.

“Amazing. Dan aku rasa, kau tidak terlalu baik, huh? Yang aku dengar mahasiwa kedokteran kehilangan banyak waktu tidur. ”

“Kita bahkan pernah tidak tidur dalam dua hari, Jess.”

“Omg. That is so bad.”

“I know. Tapi ini bukan apa-apa dengan hasil yang mungkin akan aku dapatkan nanti.”

Jessica mengangguk pelan. “Yeah. Mengingat kau akan menjadi dokter bedah yang hebat. Jadi pasti kau bisa mendapatkan uang yang banyak dan membiayai belanjaan si anak manja itu, kan?”

Lalu keduanya tertawa seiring topik yang mereka bicarakan berakhir dengan langkah kaki Tiffany yang mendekat.

“Aku dengar itu.”Katanya lalu duduk di samping kekasihnya. Jessica melemparkan tatapan herannya.

“What?”

“Belanjaanku?”

“Oh. Tapi aku mengatakan fakta disini. Kan?”

“Yes, practically. Aku akan belanja banyak dan kau yang akan membayarnya nanti.”Kata Tiffany besandar pada kekasihnya yang kini tertawa.

“Jangan lupa dengan baju anak-anak kita nanti. Atau kamar mereka? Atau mainan? Kau pasti akan membutuhkan gaji yang tinggi, Taeyeon-ah.”Katanya lagi namun kini kekasihnya hanya bisa kembali tertawa mendengar itu.

Bayangan dimana mereka akan bersama hingga masa depan nanti, membuat sesuatu dalam diri Taeyeon merasa kembali lebih hidup. Ia semakin bersemangat untuk mencapai cita-citanya nanti. Bukan hanya untuk bisa membiayai keluarga kecilnya nanti. Dia juga bisa menjadi seseorang yang mengambil peran besar dalam kehidupan orang lain.

“Jeez. Tiffany. Kita bahkan belum lulus kuliah!”Tanggapan Jessica hanya di sambut tawa geli dari sahabatnya itu.

“Baiklah, aku akan keluar bersama Taeyeon”Kata Tiffany sembari beranjak dan menggamit satu tangan kekasihnya.

“Kau akan kembali malam nanti?”

“Hmm. Tergantung. Apa kita memiliki kelas hari ini?”Tanya Tiffany pada sahabatnya sementara Taeyeon hanya mendengarkan dengan tenang.

“Kurasa tidak. Yang ku dengar Prof. Lee sedang pergi keluar kota.”

“Bagus!”

“Bagaimana jika kita ke tempat lain setelah sarapan, Taeyeon-ah?”

Taeyeon terdiam sejenak, dia sempat berfikir sebelum akhirnya menjawab.

“Aku berpikir untuk mengunjungi ibuku.”

“Sure. That would be great. I’ll accompany you, sweetheart.“Balas Tiffany lalu menarik tangan kekasihnya untuk keluar.

“We off, Jess!”Seru Tiffany, “See you Jessica”Sambar Taeyeon lalu keduanya menghilang di balik pintu kamarnya.

Ini membuatku semakin yakin, jika kalian akan bersama untuk waktu yang sangat lama.


 

“How was Mom doing?”Sembari memotong pinggiran roti panggang Tiffany.

Sementara kekasihnya hanya bisa meletakan dagunya di punggung tangan dan memperhatikan setiap hal kecil yang di lakukan untuknya. Dia diam-diam bersyukur bahwa di samping semua kesibukan Taeyeon, selama ini dia tidak pernah melupakan hal-hal kecil tentangnya.

“She’s good. Actually, she asked me about you yesterday.”

“Really?”

“Yes. And i said you were busy. You should call her, instead.”

“I wil.. i miss her and Dad, and Appa too.”

“I know. I miss them too.”

“Here.”Taeyeon lalu menggeser piring itu ke hadapan kekasihnya.

“Thanks.”Ucap Tiffany sembari meletakan satu tangannya di atas punggung tangan Taeyeon. Dia mengusapnya lembut.

“It’s nothing.”Balas gadis yang lebih tua tersenyum.

Mereka kemudian melanjutkan sarapan dengan berbagai topik yang mereka lewatkan karena hampir seminggu mereka tak bertemu. Walaupun, mereka sering bertemu di beberapa tempat di kampus.

Tapi mereka tak saling menyapa. Ini permintaan Taeyeon, untuk tidak menunjukan hubungan mereka di depan umum. Dia hanya tidak mau, kekasihnya mungkin akan sulit untuk di kelilingi banyak orang jika yang lain tau, bahwa dia telah memiliki kekasih.

Dan Taeyeon, ia hanya mencoba menjaga hubungan mereka dengan low profile. Dan terfokus dengan belajanya.

Walaupun, ini benar-benar menyiksa jika harus mendengar kekasihnya selalu mendapatkan tawaran makan malam oleh banyak teman pria nya. Atau, hanya menjadi dirinya yang menjadi ratu lebah di tahun pertamanya. Itu sungguh membuatnya dalam mood yang buruk ketika harus menyaksikan bagaimana usaha orang lain untuk merebut hati kekasihnya di hadapannya.

Namun, Taeyeon mempunyai kesabaran yang kuat. Terlebih lagi, dia sangat mempercayakan perasaanya pada Tiffany. Dan ia yakin, gadis itu tak akan melanggar janjinya.

Sementara, bagi Tiffany keadaan tidak begitu lebih baik. Dia ingin mencabik-cabik siapa saja yang menggoda mahasiswi jurusan kedokteran itu di hadapannya. Dia bahkan hampir berlari untuk memberikan pelajaran pada beberapa pria yang terlihat memberikan bunga kepada kekasihnya yang tengah makan siang di cafetaria kampus mereka.

Atau, dia akan sering menemukan Taeyeon berusaha mengeluarkan banyak coklat meleleh dari dalam lokernya. Atau bahkan surat cinta yang di terimanya hampir setiap hari. Rasanya, ia ingin membakar semuanya.

Dia sempat ingin mengatakan bahwa dia kini tengah menjalin hubungan dengan Taeyeon. Di jenius dari Medical Major. Tapi, beberapa kali ia sempat meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ini semua dilakukannya hanya untuk Taeyeon.

Ia hanya harus membantu gadis itu menjaga hubungan ini dengan baik. Ia tidak ingjn ada kesalah pahaman lagi seperti sedia kala. Kehilangan Taeyeon adalah hal terbodoh yang pernah ia lalukan. Dan ia tidak ingin itu terulang lagi.

“Good morning, guys.”Sapa seseorang menghampiri meja mereka. Keduanya menoleh untuk menemukan sepasang kekasih yang kini terseyum pada mereka.

“Oh, Irene-ah. Seulgi-ah”Ucap Taeyeon gembira, di ikuti oleh Tiffany. “Hey, both!”Sapanya ceria.

“Early breakfast, Taeyeon?”Tanya Seulgi,

“Yeps. Gadis manja ini tidak sabar ingin bertemu denganku.”Jawabnya sembari terkekeh.

“Yah! Jangan salahkan aku! Kau sendiri yang sibuk, bahkan aku yakin kalau kau lupa bahwa kita sedang berpacaran.”

“I agree!”Sambar Irene . Lalu keduanya hanya tersenyum sinis sembari bertatapan dan selanjutnya high five. Mereka terkekeh setelahnya.

“Aku rasa, jurusan kita memang yang paling sibuk di antara semua. Huh, Taeyeon?”Kata Seulgi hanya di jawab anggukan dan tertawa oleh gadis yang lebih tua.

“Tapi, kita tidak pernah lupa bahwa kita sedang mengencani mereka. Am i right?“Kata Taeyeon lagi,

“Benar. Kita hanya lupa bahwa mereka ada.”

“YAH!!!”Seru Irene dan Tiffany bersamaan. Lalu keempatnya sempat membicarakan berbagai hal sebelum akhirnya Irene dan Seulgi memilih untuk kembali meninggalkan pasangan ini untuk menikmati sarapan mereka.

Pada saat mereka sedang kembali dengan candaan mereka sendiri, seseorang dari belakang Tiffany berlari kecil menghampiri Taeyeon. Dia tidak mengenali rambut coklat siapa itu yang kini tengah berbicara dengan sahabat barunya.

“Taengoo!”Sapanya ceria, masih berdiri di belakang kekasih gadis yang di maksudnya.

“Oh, In Na. Kau disini?”

“Aku baru saja selesai sarapan bersama dengan Jun Woo. Kita ingin membahas project Mrs. Han bersama.”

“Ah…”

“Kau mau bergabung bersama kami?”

Gadis itu lalu menatap kekasihnya sebentar. Dia tidak mungkin meninggalkan Tiffany saat ini. Di aberjanji akan bersamanya seharian.

“I can’t…”

“Why? Who is that, by the way?”Tanya In Na masih belum mengenali punggung siapa itu. Tiffany yang sedikit kesal, lalu berdiri dari duduknya. Dia berbalik untuk menemukan In Na yang kini ternganga akan kehadirannya.

“Hi, I’m Tiffany Hwang. Taeyeon’s girlfriend. It’s nice to finally know you. Now, can you just leave us alone, please? I miss her so much, yet you disturbing our quality time now.”Katanya dengan aksen Amerikanya yang sangat fasih. Membuat gadis yang ada di hadapannya hanya bisa terdiam.

“Fany-ah…”Ucap Taeyeon sedikit kecewa dengan perkataan Tiffany barusan. In Na tetap temannya, walaupun dia mempunyai banyak sisi buruk pada dirinya.

“Uh-oh. S-sure.”

“Oh, And Yoo In Na-ssi. I’m not dating Josh now. I’ve been with MY Taeyeon for like.. two years now.”

“Ah… okay. I’m sorry…”Jawab In Na sembari berbalik dan melangkah pelan untuk menjauh dari pasangan itu.

“Fany-ah, jangan berkata seperti itu padanya. Dia orang baik.”

“Yeah, right. orang baik mana yang suka meyebarkan gossip yang bahkan tidak benar?”

“Dia hanya tidak menyukaimu. Itu saja.”

“Dan kenapa itu? Aku bahkan tidak mengenalnya.”

“Dia bilang, karena kau terlalu cantik.”Jawab Taeyeon singkat. Namun, kini mampu membuat kekasihnya terbahak-bahak. “You’re kidding, right?”

“i’m not.”

“Fyuh. What kind of reason is that?”

“I know right. Tetapi, dia ada benarnya juga. Kau terlalu cantik, jadi semua orang melihatmu sebagai satu-satunya lampu di hari yang gelap.”

Tiffany harus tersenyum untuk pernyataan kekasihnya barusan.

“Thank you.”katanya tersentuh,

Taeyeon lalu menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.

“Promise me you’ll behave next time.”

“Can’t.”

“Fany-ah!”

“Okay. Okay. Love you.”


 

“Selamat siang, omoni.”Sapa Tiffany ikut duduk di sisi kekasihnya yang kini tengah mengusap lembut batu nisan yang ada di hadapan mereka.

“Apa kabarmu, Umma?”Tanya Taeyeon pelan, walaupun keduanya tau bahwa mereka tidak akan langsung mendapatkan jawabannya saat ini.

“Maaf untuk jarang berkunjung, Omoni.”Sambar Tiffany sekali lagi, “Dunia perkuliahan benar-benar membuat kami sibuk. Terutama putrimu ini yang akan menjadi dokter nanti.”

Taeyeon harus tersenyum untuk itu. Dia menyukai bagaimana Tiffany berinteraksi dengan ibunya yang kini mungkin sedang memperhatikan mereka dari atas sana.

Ibunda Taeyeon, memang belum sempat bertemu lagi dengan putrinya semenjak ia meninggalkan rumah untuk urusan pekerjaan. Dia bahkan tidak melihat bagaimana putrinya lulus dari jenjang sma untuk yang keselanjutnya.

Rupanya, Tuhan sudah memanggilnya lebih dulu sebelum ia dapat membayar semua hutangnya pada keluarganya yang sudah lama menantikan kehadirannya di rumah. Pesawat yang di tumpanginya kala itu mengalami kecelakaan di udara. Membuatnya tidak sempat untuk kembali ke dekapan keluarga yang menunggunya.

Malam itu… saat Taeyeon mendengar beritanya dari Ayah tirinya. Dia  masih harus di rawat dirumah sakit. Itu sangat menghancurkan hatinya berkeping-keping. Dia tidak menyangka bahwa  itu akan terjadi begitu cepat, bahkan ia belum sempat untuk melihat kembali senyum itu yang selalu menghangatkannya ketika udara dingin tiba.

Namun, tidak peduli seberapa keras ia berharap untuk itu hanyalah mimpi. Kenyataan yang pahit nampaknya telah di atur untuknya. Dia begitu hancur saat itu. Keadaanya justru malah kembali memburuk, karena itu.

Namun, ada sosok gadis yang tak pernah meninggalkan sisinya dalam suka maupun duka. Dia terus berada disana, disampingnya mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja. Dia bisa melewati ini. Tiffany selalu meyakinkan kekasihnya bahwa semua akan kembali indah seperti sedia kala.

Dia berjanji, bahwa setidaknya, jika seseorang pergi dari hidupnya, akan ada banyak orang yang juga menyayanginya berdiri di sekelilingnya. Menghadapi dunia ini bersama, dan tak akan melepaskan genggaman satu sama lain.

“Hey, you’re going to be alright, Taeyeon-ah.. i love you, i will never leave your side.”Dan dengan itu juga, Taeyeon bisa memejamkan kedua matanya untuk pertama kali setelah beberapa hari terburuknya semenjak kepergian ibundanya. Dia terlelap dalam dekapan Tiffany yang tak pernah pergi dari sisinya.

“Kau tau, Omoni? kita tidak bisa berpacaran di depan banyak orang…”kata Tiffany sembari berpura-pura menunjukan ekspresi sedihnya. Lalu terkekeh menoleh kearah kekasihnya.

“Tapi, aku tidak mengeluh untuk itu. Jika, itu bisa mempengaruhi studi Taeyeon untuk meraih mimpinya.”Tambah Tiffany sembari menatap hangat Taeyeon. Gadis itu hanya  bisa merasakan kehangatan yang kini kembali menyelimuti ruang hatinya.

Dia menggamit satu tangan Tiffany untuk di genggamnya.

“Omoni, aku lupa bertanya padamu. Apa nantinya kau fikir, kita bisa membesarkan beberapa anak di masa depan?”

Taeyeon kembali terkekeh mendengar pertanyaan kekasihnya kepada Ummanya.

“Kalau iya, lebih baik perempuan atau laki-laki?”

“Atau keduanya?”

“Aku hanya ingin tau, bagaimana kelanjutan perjalananku dan Taeyeon nanti. Aku hanya ingin bersamanya sampai akhir, Omoni. Aku tidak peduli dengan apa yang mungkin dunia ini limpahkan pada kita nanti. Aku tidak melihat siapapun di masa depanku nanti, selain Taeyeon. Apakah itu wajar? dia bahkan akhir-akhir ini melupakanku. Itu mungkin, karena aku terlalu mencitainya, kan?”

Taeyeon harus menarik sudut bibirnya untuk tersenyum ketika mendengar itu semua. Dia diam-diam hanya bisa bersyukur pada surga karena telah mempertemukannya dengan sosok ini yang tak perah meninggalkan sisinya. Selalu menjadi sumber kebahagiaanya di setiap detik yang ia lewati. Menjadi satu-satunya yang terus menjadi tujuan hidupnya untuk terus melangkah maju ke depan.

Dia juga, berfikir untuk mempunyai mimpi itu bersama Tiffany. Dimana mereka, bisa hidup di bawah satu atap, atau mungkin lebih lagi, mereka dapat membesarkan beberapa anak. Melihat mereka tumbuh, dan selalu ada di setiap langkah yang akan mereka ambil.

Membayangkannya, mampu membuat Taeyeon merasakan kebahagiaan yang membuncah di ulu hatinya. Tak dapat di bohongi, jika mimpi indah itu terlalu indah bahkan hanya untuk di gambar di kepalanya.


 

 

“Oh? bisakah kau menjaganya sebentar lagi, Mom? Aku harus ke butikku sebentar, lalu aku akan menjemputnya lagi.”

“Thanks, Mom.”

“Yes. Dennis sedang bersama Taeyeon, mungkin mereka masih dirumah sakit.”

“Okay. Bye mom, love you.”


 

“Auntie! Kapan Umma akan menyelesaikan urusannya itu? Apa itu lima menit? Ini sudah hampir satu jam!”Seul Gi harus tertawa ketika mendengar anak yang baru berumur enam tahun ini terus protes sedari tadi, karena Ummanya tak kunjung keluar dari ruangan itu.

“Dennis, begini. Ummamu itu adalah seseorang yang penting disini.”

“Benarkah? Apa semua dokter itu penting?”Seul Gi lagi-lagi di buat tertawa karna perkataannya.

“Tentu saja! Siapa yang akan merawatmu ketika sakit? mengobatimu jika terluka?”

“Umma…”

“Benar. Dan itu adalah pekerjaan seorang dokter, kan?”

Anak itu mengangguk dengan lucunya, “Karena itu, Ummamu sedang ada urusan dengan dokter yang lainnya. Jadi, mereka bisa membantu menyembuhkan banyak orang sakit.”

Anak itu  hanya bisa mengangguk lagi. Dia hanya tidak sabar untuk kembali menemui Ummanya, yang sejam lalu baru meminta izinnya untuk ada urusan sebentar. Dia sedikit kesal, karena Ummanya hanya mengatakan baha itu hanya lima menit.

Tetapi, ini lebih lama daripada yang di janjikannya.

Pintu putih itu lalu terbuka, dari sana keluar sosok wanita yang masih memakai jas putihnya. Tersenyum lebar, sembari berjalan mendekati salah satu buah hatinya bersama pasangannya.

“Dennis!”Panggilnya pelan, anak itu menoleh untuk memgembangkan senyumnya lalu berlari cepat kearah Ummanya.

“Ummaaaa!”Serunya lalu sedetik kemudian dia sudah berada dalam  gendongan wanita itu.

Taeyeon lalu mengecup pelan rambut putranya. “Maaf, untuk membuatmu menunggu lebih lama…”Katanya, hanya dijawab anggukan olehnya.

“Hey, jangan marah. Aku akan membelikan mu ice cream cokelat setelah ini.”

“Jjinja!? Assa!”

“Aish, dasar anak ini…”

“Hey, jangan bertambah besar dulu. Kau sedikit berat sekarang.”Katanya lalu tertawa melihat putranya memautkan bibirnya. “Kalau aku tidak tumbuh, bagaimana aku bisa menjadi dokter seperti Umma?”

Seul Gi yang kini berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa ikut tertawa, “Kau akan menjadi dokter yang hebat seperti Ummamu, Dennis-yah.”


 

1072184_539621599439003_1994539491_o

“Hey, take it slowly, baby.”Kata Taeyeon dalam bahasa inggris pada putranya yang kini tengah menikmati ice creamnya. Dia juga, seperti ini saat menikmati dessert ini dulu. Persis seperti anaknya. Jadi, dia tidak terlalu menyalahkan anak ini karena makan begitu berantakan.

Dia mengusap bibir putranya dengan tissue yang ada sebelum telfon genggamnya berdering.

“Taeyeon, kau sudah bersama Dennis sekarang?”

“Oh. Aku bersamanya sekarang.”

“Kalian dimana sekarang?”

Taeyeon terdiam sembari memperhatikan putranya yang kini masih sibuk dengan makananya.

“Uh… di kantorku?”

“Iya, dimana lebih jelasnya?”Suara di seberang sana terdengar tidak yakin akan jawaban yang diberikan pasangannya.

“Kau tidak sedang memberikannya, ice cream kan?”

“Uh-oh…”

“YAH! TAEYEON-AH! dia baru saja sembuh dari demamnya!”

“Mian, mian. Aku membuatnya menunggu lama, jadi tidak ada pilihan lain.”

“Selalu ada pilihan lain, Taeyeon. Ugh! dia benar-benar persis sepertimu!”

“Yah, kau menyalahkanku, sekarang?”

“Of course. I’ll see you at home!”

Lalu panggilan di putus secara sepihak membuat Taeyeon tertawa lalu kembali memperhatikan Dennis yang kini telah selesai dengan makanan penutup favoritenya itu.

“Sebaiknya kita pulang, atau Mommy-mu akan membunuhku.”


 

“Nah, kau bisa mengerjakan dulu prmu sebelum Umma dan Dennis datang.”

“Can i do it, later mom?”Tanya putrinya pada ibundanya yang kini sibuk dengam beberapa bahan makanan yang dicoba untuk di letakan di atas counter dapur rumah mereka.

“No. Do it now, and i’ll help you.”Balas Ibundanya menjawab juga dengan bahasa inggirs.

Tiffany memang membiasakan putra putri mereka untuk berbicara inggris juga, selain bahasa Korea di rumah. Itu karena, mereka juga akan sering berkunjung ke kampung halamannya di Amerika. Jadi, tidak ada salahnya jika mereka juga menguasai bahasa asli mereka.

“Huft…”

“Dimana Dennis? Aku ingin bermain dengannya, Mom.”Baru saja putrinya mengatakan itu, lalu pintu utama rumah mereka terbuka. Dan masuklah seorang wanita dengan putra mereka dalam gendongannya.

“Umma!”Seru Aleyna sembari berlari kecil menuju Ummanya.

c0290c81412796f05e6c68bb08599ab8

“Hei, my little princess.”Balas wanita itu sembari meletakan putranya untuk bergantian mengangkat tubuh kecil putrinya. “How was your day?”Tanyanya setelah mengecup pipi putrinya.

“It was ordinary.”

“Aww, why?”

“Mom, lama sekali untuk menjemputku di rumah grandma. Lalu dia menyuruhku untuk mengerjakan pr tepat setelah kita sampai rumah.”

Taeyeon hanya terkekeh mendengar pernyataan anaknya.

“Yah. Fany-ah. itu bukan masalah besar untuk mengerjakannya, nanti.”

Tiffany menoleh untuk menatap pasangannya jengah, “Aku tidak percaya bahwa kau dulu adalah siswi teladan, disaat kau menyuruh putrimu sendiri untuk tidak mengejakan prnya.”

“Yah. Lihatlah siapa yang berbicara. Kau bahkan tidak pernah mengerjakan prmu dulu!”

“Yah. Karena itu, aku tidak mau Aleyna menjadi sepertiku.”

Taeyeon tersenyum, lalu menatap putrinya yang kini ada di dekapannya. “Kau dengar itu? Mom hanya tidak ingin kau menjadi siswi yang malas sepertinya dulu.”

“Okay…”Putrinya hanya bisa mengangguk pelan. Sembari tertawa.

“Now go. Bantu juga adikmu untuk menyiapkan pakaian tidurnya. Lalu kita akan makan malam bersama.”

“Alright, captain!”Lalu gadis kecil itu berlari kearah anak tangga untuk menyusul adiknya yang telah leih dulu ke atas.

Taeyeon hanya terkekeh pelan melihat sifat putrinya yang sedikit banyak dangat mirip dengan Tiffany dahulu. Mereka sama-sama mempunyai senyum yang menawan. Kepribadian yang hampir sama, dan suara yang keras.

Dia berjalan kearah Tiffany yang kini sedang sibuk mencuci beberapa sayuran yang akan di masaknya. Taeyeon memeluknya dari belakang. Meletakan dagunya di atas bahu Tiffany sembari sesekali menjatuhkan kecupan di pundak dan punggung  belakang pasangannya.

“Mau kubantu?”Tanya Taeyeon pelan,

“Nope. Kau bisa langsung mandi.”Jawab Tiffany cepat. Dengan lihai dia memainkan tangannya di atas counter ini.

“Terimakasih, Fany-ah.”

“Hmm?”

“Untuk semua ini. Untuk menjaga Dennis dan Aleyna. Untuk menjadi ibu yang baik bagi mereka. Aku benar-benar tidak mengerti akan seperti apa jadinya, jika kau tidak ada dalam hidupku, Fany-ah.”

Mendengar intonasi Taeyeon yang mulai berubah. Tiffany meletakan bahan-bahannya. Dia berbalik untuk menemukan tatapan itu yang tak pernah sekalipun gagal untuk membuatnya jatuh semakin dalam dan semakin dalam untuk sosok yang ada di hadapannya.

Dia menyukai ketika Taeyeon akan mulai mengatakan hal-hal manis seperti ini. Dia hanya tidak bisa berterima kasih lebih lagi, karena wanita ini mau membawanya ke atas altar dan mengucapkan janji, bahwa mereka akan terus bersama hingga akhir nanti. Menjaganya, dan selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka.

Terlebih lagi, keduanya telah memiliki versi mini mereka yang selalu berlarian sekeliling rumah mereka. Tiffany tidak bisa merasa lebih bersyukur dari itu. Dia diberkahi oleh figure yang mengagumkan di setiap hari nya.

“Terimakasih untuk kau juga, Taeyeon-ah. Untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, dengan gaji yang tinggi.”

“Yah!”Tiffany terkekeh lagu mengalungkan kedua lengannya di leher pasangannya.

“Untuk selalu menjemput Aleyna dan Dennis tepat waktu. Untuk bisa memberikan kartu kreditmu setiap kali kita berbelanja.”

“Yah! Fany-ah!”Tiffany kembali terkekeh dan menatap hangat kedua bola mata itu lagi.

“Dan yang paling terpenting, untuk menjaga keluarga ini. Juga tidak pernah meninggalkan sisiku. Seperti janjimu dulu.  Terimakasih, Taeyeon-ah.”

Lalu Tiffany memajukan sedikit langkahnya untuk mengecup bibir pasangannya. Namun, sebelum dia melepaskannya lagi. Taeyeon menarih pinggangnya lebih dulu untuk menahannya dan memperdalam ciuman mereka.

“Mom! Aku tidak bisa menemukan kaus kakiku!”Suara putra mereka ikut menyertai momen mereka saat ini. Namun, walaupun keduanya mendengar itu. Mereka tetap sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.

“Mom!!!”Seru Dennis sekali lagi, karna belum mendapatkan jawaban dari Mommynya. Namun, dia masih mendapatkan abaian dari kedua orang itu.

“Umma! Dimana kau meletakan tasku!? Aku tidak bisa menemukannya!”Kini, giliran putri  mereka yang  menyerukan itu.

Keduanya tertawa sebelum akhrinya mengakhiri sesi mereka. “Mereka berdua kadang begitu mengganggu, kan?”Kata Tiffany sembari menyatukan kening mereka. Dengan hidung mereka yang  masih bersentuhan. Taeyeon hanya tertawa pelan sebagai jawaban.

“Mom akan keatas, sayang. Tunggu!”Dennis baru saja mendapatankan jawaban pasti dari Tiffany yang kini berjalan menaiki anak tangga,

“Umma!”Panggil Aleyna sekali lagi, Taeyeon lalu tersadar dari diamnya. “Oh ya! Umma akan membantumu mencarinya”Jawabnya cepat sembari berlari menaiki anak tangga.

Tuhan, aku sudah mendapatkan lebih dari apa yang aku harapkan sebelumnya. Bantu aku menjaganya. Biarkan aku tetap di samping mereka untuk selamanya. Selalu ada di setiap langkah yang mereka ambil.

Dan ada saatnya jika aku akan pergi. Aku harus memastikan bahwa aku telah melakukan semuanya dengan tepat. Aku akan menjaga keluarga ini dengan segala yang aku bisa. Menjaga mereka dari ancaman  yang ada. Memastikan bahwa mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

Dan untuk kalian yang membaca ini,  suatu saat akan ada seseorang yang
akan memberitahumu. selagi dia menyingkirkan bata demi bata.
sehingga kau tidak memerlukan dinding lagi, karna orang itu,

akan melindungimu dengan segala yang ia bisa.


img_0014

So, thankyou guys for read all of our stories.

thankyou, i’m so sorry.

Advertisements

90 thoughts on “You, Again. CHAPTER THIRTEEN BY JAZZ (FINAL)

  1. Huaaa selesai jugaa bakal kangen nih hihi

    Ending yang duper super manis, gua mau dapet yang kaya taeyeon 1 aja 😦
    Pokoknya ff nya bagus. Dan semoga sukses untuk penulis kita tercinta 😘😊

    Like

  2. Keren bgt endingnya thor taeny masih tetep sweet ampe punya anak lgπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    Jgn bosen” ya thor buat epep taeny tetep semangat thorr semoga dikasih ide” yg brilian lg buat next epepnya..

    Like

  3. Taeny bener2 keluarga idaman smua para jones *tunjuk diri sndiri* pls sisain gw pcr yg kyk taeyeon πŸ˜­πŸ˜– taeny keep longlast and sakinah mawadah waromah… amiinn 😢😢

    Like

  4. Taeny emg so sweet bgt.. couple ter so sweet yg gw liat…
    Ahhh, apalagi udh ada anak2.. uhh mkin so sweet aja..
    Gw jd ikutan bahagia liat taeny happy ending..
    Krna gw pengen taeny sllu hapy ending.. haha
    hwaiting utk ff lain ny thor..

    Like

  5. Happy ending, aduhh aku mewek thor ga berhenti krna kehidupan mrka yg bner-bner manis di ff ini,kalimat demi kalimat mu bisa buat aku mewek..
    Terimakasih thor udah menulis ff yg keren..
    Semangat truz

    Like

  6. Bravoooooo!!!!!! Endingny bener2 sweeet thoooor 😍😍😍😍😍
    Dan gw suka kata2 mutiara yg lu tulis diakhir ceritaa. Love u so much Jazz 😘😘😘
    Jgn berenti tuk selalu buat cerita2 yg bener2 keren seperti biasanya πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™

    Like

  7. Kokkk sedihh ya bacanya
    Ntah kenapa :””)
    Berharap banget di real taeny begitu :””)
    Makasih buat author yg sudah memberikan cerita yg bagus iniπŸ’–πŸ’–πŸ˜š

    Like

  8. Ff yg sweet bgt, thankss jazz udh buat ff yg keren gini, happy ending. Btw anak2 nya lucu2 amat dah 😳😘😘

    Like

  9. Akhirnya happy ending! Cerita yg luar biasaa. Begitu romantis dan hangat untuk dibaca. Bkin iri! Haha..dri mulai taeny yg kuliah brg tetep bersama smpe 2thn dan akhirny mnikah dan pnya ank. What a beautiful story!
    Terimakasih udh bkin crita yg luar biasa. Knp author hrs mngatakan maaf disaat author udah bkin crita yg mngagumkan? Gue bkl kangen crita2 author ini. So keep writting! You’re my favorite authorβ™‘

    Like

  10. 😭😭😭 akhirnya happy ending seneng banget liat taeny akhirnya bersama dan mempunyai keluarga kecil dan pany tetep aja suka dengan uang nya tae πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ dan untuk author aku jomblo thor jangan dikasi kata kata kayak gitu jadi sedih πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Like

  11. Huaaaa udah end aja, happy ending punya dua mini taeny, thas jazz ditunggu proses pembuatan mini taeny nya dan ff baru tentunya

    Like

  12. woahhhhhh…
    udh finish lagi ajh fanficnya πŸ˜†πŸ˜†
    kim family…mini version TaeNy pun ada πŸ˜‚
    dan betapa bahagianya panny dengan job taeyeon ..πŸ˜‚ uangnya apa lagi :v
    masa depan Taeny indah banget itu πŸ˜‚
    ada seulrene oyyyy πŸ˜†πŸ˜†
    good job bwt ffnya yg berakhir Happy Endinggg…πŸ‘πŸ‘
    i’m always waiting for your new fanfic thor 😘😘

    Like

  13. Omgggg.. TerhAru!!!!
    Tisuuuuuuuuuu..

    Suatu hari.. Aku juga ingin mencintai & dicintAi seseorAng seperti itu!
    TAeny.. dAebak!

    Btw, si dennis cute bgtttttt

    Like

  14. Yeeeaahhhhh,,,happy ending….
    Trnyta ommanya taeyeon da ninggal ya..
    Ksian bnget blum smmpat jmpain anknya..

    Gemes bnget liat denis…hahahha
    Brrti fany jadi ibu rumah tngha btul nih…taeyeon yg sbuk mmcari nfkah..hahah

    Like

  15. Maygaad, its sweet:’)
    Aku bahagiaaa… Happy ending! Thanks thor, terimakasih dgn ceritanya yg membuat hati ikut bahagia, hahahaa
    Tpi thor, anaknya udh ada ajaa, kapan bikinnya *eh wkkwkwkw
    btw, good job thorπŸ‘πŸ‘πŸ‘ fightingggg!

    Like

  16. Gue selalu suka ketika berakhir dengan Taeny punya versi mini, that’s really cute!
    Terimakasih Jazz karena ini ga berakhir dengan tragis 😌
    Ditunggu next projectnya Jazzatta, keep hwaiting!

    Like

  17. kyaaaa ending’y keren bgt thor, gue bhkan gak bsa berhenti snyum” pas baca’y… trusss bkin ff yg sperti ini thor, knp lu hrus mnta maaf di saat kita bertrima kasih krna udh ngebaca ff yg sebagus ini hihi
    ff yg msih ngegantung di lanjutin lg donk thor, syang aja klw jd terbengkalai gitu, pdhal crita’y bgus bgt…

    Like

  18. ASIKKKKKK
    WKAKAKAKAKAKA
    AKHIRNYAAAAAAAAAA
    HAPPPPPYYYYY ENDINGGGGG
    MANTEPPP THORRRR
    wkkwwkkww
    Aduh
    Bahagia taeny bahagia pula reader nya
    Wkwkwkwkwkwk
    Terima kasih thorr
    Wkwkwkw

    Like

  19. Ending yang diharapkan. lega bgt deh. kirain ga bkalan bgini ahirnya. untung!!! tiffany emang juara deh. kalau tae kyanta uda berkali2 mlempem. tpi tiffany trus kuat. jdinya lnjut deh.

    Like

  20. Aaaaaakhir yang bahagia 😘😘😘😘😊😊😊
    Thx for u too authornim, for this good good great great story yeahhh πŸŽΆπŸŽΆπŸ˜šπŸ˜šπŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹

    Like

  21. Andaikan hubungan bisa selanggeng itu…
    Senyum2 sendiri waktu baca…
    Ow ow owwww….
    Akhirnya happy endingg…
    Puanjang lagii..
    Puas pooolll…

    Like

  22. akhirnya rampung juga, ending ya memuaskan πŸ™‚ selalu manis dan kebawa alur cerita πŸ™‚
    thanks buat ceritanya πŸ™‚
    ditunggu karya mengagumkan lainnya, semoga masih ada waktu luang buat main wp dan lanjut buat bikin ff lagi πŸ™‚ aminn

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s