Little Things CHAPTER ONE BY JAZZ.

Tiffany kecil masih berlari mengelilingi danau ini yang entah kenapa tampak sangat sepi. Ini tidak seperti hari-hari biasanya. Dia akan menemukan beberapa pasangan atau keluarga kecil akan berada di tepi danau dan menikmati sore. Tetapi tidak hari ini. Namun, dalam hati kecilnya dia merasa sedikit bersyukur, karna jika ramai, kadang dia tidak bisa bermain dengan angsa-angasa itu karena harus rebutan dengan anak-anak lainnya.

Ini sudah belasan tahun lamanya dia tinggal di perumahan yang dulu, hanya ada segelintir orang yang menempati setiap bangunan. Namun, saat ia beranjak remaja, memang banyak yang mulai tertarik pada daerah ini karena fasilitasnya yang lengkap juga lingkungan yang sangat indah.

Bagaimana tidak, perumahan ini di lengkapi dengan danau, taman bunga favoritnya. Juga bangunan-bangunan seperti cafe dan lainnya. Membuatnya hampir setiap hari selalu mengunjungi tempat terbuka untuk sekedar bermain sepulang sekolah.

Dia adalah gadis kecil yang begitu ceria di setiap harinya. Tidak pernah mengeluh, bahkan jika kondisi dan situasi keluarganya tak selalu berjalan seperti dongeng-dongeng yang di bacanya setiap malam. Tetapi, ia tau, bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali bunga-bunga yang selalu bermekaran di taman favoritnya.

Dia begitu tergila-gila akan itu. Bahkan, orang tuanya tau dimana mereka harus mencari gadis kecilnya sepulang sekolah. Karena, hampir setiap hari gadis itu akan berada di salah satu bangku taman, atau di atas perahu di danau. Atau di tengah-tengah hamparan bunga yang luas disana.

Dia selalu menyukai bagaimana bunga-bunga itu akan bermekaran, merekah indah seiring musim terus berganti. Tak jarang dia akan melukai jemarinya karena menyentuh bunga-bunga itu yang berduri. Tetapi, Tiffany tetaplah Tiffany. Dia tidak akan merasa jera, karna kecintaannya pada bunga itu sudah terlalu dalam.

Dia tidak terlalu mempunyai banyak teman. Itu sebabnya dia sangat suka menyendiri dan menghabiskan waktunya untuk menggambar bunga-bunga yang menarik perhatiannya. Dia sangat menyukai bagaimana indah warna-warni yang selalu terbentang di hadapannya. Dia hanya tidak bisa menghentikan dirinya untuk jatuh cinta pada pemandangan yang selalu saja masuk melalui kepalanya, lalu turun kehatinya. Jika, dia bisa memilih. Ia hanya ingin waktu berhenti di setiap kali dia berada di bawah langit jingga, di tengah ribuan bunga yang tengah berdiri teduh menatapnya seorang.

tulips

“Kau baik-baik saja?”Tiffany mendongak setelah melihat satu tangan yang kini di ulurkan kepadanya. Pandangannya agak kabur karena sinar matahari sore yang ikut menghiasi wajah itu. Namun, detik selanjutnya dia bisa melihat papan muka itu dengan sangat jelas ketika dia menutupi sinarnya.

Di dapatinya wajah khawatir seorang gadis seumurannya yang kini terlihat sangat-sangat menawan baginya. Kedua bola matanya coklat madu, rambutnya panjang coklat dan berponi. Membuatnya menjadi sangat lucu namun anggun di saat yang bersamaan.

Dia merasa sedikit ceroboh karena terjatuh dari sepedanya.

“Kau terluka,”Sosok itu kini berjongkok di hadapannya. Suaranya sangat lembut, menenangkan. Membuatnya sedikit lupa akan rasa sakit yang kini di rasakannya.

Dia merasa begitu bodoh karena dia bahkan sekarang lupa bagaimana cara untuk berkedip.

Gadis itu agak terheran karena mendapati sosok Tiffany yang justru kini hanya terdiam kaku. “Hey,”Katanya sembari melambaikan tangan di depan wajahnya.

“Oh…”Tukas Tiffany lalu tersadar dari lamunannya. Dia kembali menemui dua bola mata itu. “Kau bisa berdiri?”Tanya sosok itu lagi kini berhasil mendaratkan satu tangannya di lengan kiri Tiffany. Membuat gadis kecil itu sedikit tersentak. Ini aneh, ketika teman-teman yang lainnya menyentuhnya, ia tidak pernah merasakan sengatan listrik itu di tubuhnya.

Tetapi kenapa berbeda dengan gadis ini yang ada di depannya?

“Uh..”

“Biar aku bantu,”Kata sosok itu lagi membantunya kembali berdiri. Tidak bisa di pungkiri dia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian pergelangan kakinya.

Tiffany kini harus menyandarkan tubuh kecilnya pada gadis yang baru saja beberapa detik ditemuinya. Mereka berjalan berdampingan dengan satu lengannya yang harus berpangku pada pundak gadis lainnya.

“Sebaiknya kita ke bangku itu lebih dulu,”Ujarnya sembari menuntun mereka berjalan perlahan menuju bangku yang di maksudnya yang berada di bawah pohon di tepi danau.

“Aku akan mengoleskan sedikit krim, is that okay?“Tanya sosok itu yang kini terlihat mencari sesuatu di tas ranselnya. Tiffany hanya bisa menggigit sedikit bibir bawahnya menahan sakit dan mengangguk/

“Okay.”

Tiffany hanya bisa menyaksikan sosok itu melakukan perkataannya sembari mengoleskan krim itu dengan lembut di pergelangan kakinya. Dia hanya bisa menarik matanya dari gadis itu. Setiap kali ia bernafas, rasanya setiap detik juga dia tidak mampu menahan perasannya yang sedikit gugup karenannya.

“Sudah selesai,”

“Kau tidak banyak bicara, ya?”Tanya sosok itu lalu tertawa kecil. Dalam hati, Tiffany hanya bisa berkata. Kau tidak tau betapa cerewetnya aku kata orang lain.

“Aku Taeyeon. Dan kau?”Katanya mengulurkan satu tangannya menawarkan untuk di raih. Tiffany agak ragu untuk mengangkat satu tangannya.

Malunya, itu terlihat sedikit gemetar membuat gadis kecil yang ada di hadapannya terkekeh kecil dan justru mengambil satu tangannya lebih dulu.

“Kenapa? Aku bukan monster disini. Kau takut?”

“Bukan seperti itu..”

“Lalu?”

“Bisakah kau tidak menatapku seperti itu? Kedua matamu sangat tajam.”Ungakapan jujus Tiffany mengenai tatapan itu yang terlihat mengintimidasi. Namun dengan artian yang baik.

“Benarkah? kata orang justru meneduhkan..”

“Kata ibuku, justru tatapan seseorang yang tajam mungkin mempunyai maksud buruk.”

“Aku tidak butuh bantuanmu.”

Gadis kecil berambut coklat itu justru terdiam mendengarnya. Dia berdiri dan menatap Tiffany dengan tatapan sedikit tak percaya. Kedua matanya yang indah itu kini sedikit berair. Mungkin karna perkataan orang yang baru saja di kenalnya agak menyinggung perasaannya. Dia hanya seorang gadis kecil yang ingin berteman dan membantu sesama.

Apakah aku salah? Tanyanya dalam hati.

Namun, berbeda dengan Tiffany kecil. Dia merasakan sesuatu yang menghimpit rongga dadanya ketika melihat air mata itu justru menuruni satu pipi Taeyeon. Dia bisa melihat tatapan luka darinya sebelum Taeyeon memutuskan untuk berlari darinya.

Karna reflek, dia otomatis ikut berlari untuk mengejarnya. Namun, dia kembali terjatuh karena rasa nyeri hebat pada pergelangan kakinya kembali terasa saat ia mulai berlari. Dia terjatuh di lantai taman sembari ikut menitihkan air mata.


“Kau mengatakan itu padanya?”Tanya Ibunya lembut, dia terkekeh pelan. Lalu mengusap rambut gadis kecilnya dan tersenyum,

“Jelas saja dia lari.”

“Tiffany, tidak semua orang yang mempunyai tatapan tajam buruk seperti pamanmu. Beberapa membuat tatapan yang tajam namun indah. Entah bagaimana membuatmu tenang di tengah kebisingan di luar.”

“Katakan padaku, apa kau melihatnya?”

Tiffany kecil berusaha mengingat tatapan Taeyeon yang penuh dengan rasa khawatir saat melihatnya terjatuh. Tatapan itu yang tulus juga menenangkan tidak peduli dilihat dari sisi mana.

Dia mengangguk pelan, “Kalau begitu, kau harus mencarinya dan meminta maaf. Dia hanya mencoba membantumu, Tiff.”

“Karena, kau tidak akan menemukan tatapan itu di semua orang. Hanya orang-orang tertentu yang mungkin hanya singgah di beberapa bagian halaman bukumu. Bisa saja, kau tidak akan menemukannya lagi hingga akhir cerita.”

“Kau tidak mau itu terjadi kan, sayang?”

Tiffany kecil lalu mengangguk pelan lagi. Dia bertekad untuk mencari gadis itu lagi.


Sejak hari itu, Tiffany selalu menyelipkan harapan di setiap doanya agar dia bisa bertemu kembali dengam Taeyeon. Dia hanya ingin sekali saja, mampu bisa bertemu dengan sosok itu dan meminta maaf atas perkataannya. Tiffany kecil hanya  bingung dan sedih. Sedikit tersesat akan bayangannya jika dia tidak berhasil menemukannya lagi.

Hampir setiap sore selama sebulan, ia selalu berada di tempat yang sama kemana Taeyeon membawanya dan mengobati lukanya. Namun, sosok itu tak kunjung datang. Tiffany kecil hampir menyerah untuk menunggu sosok itu lagi.

Sore ini, ia hanya bisa kembali memandang hamparan luas taman bunga yang ada di depannya lagi. Dia sesekali melirik pergelangan kakinya yang tempo itu terluka. Lalu kembali menaruh pandangannya lagi.

Mungkin aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Ini salahku.

Dia menyandarkan tubuhnya pada bangku taman. Terpejam sembari menghela napasnya panjang. Saat itu juga, ia tidak lagi merasakan paparan wajahnya yang terkena sinar matahari sore. Ia tau, seseorang kini tengah berdiri di hadapannya sehingga menghalangi sinar itu.

Tiffany perlahan membuka kedua kelopak matanya untuk menemukan sosok yang selama ini di tunggunya di bawah senja sore. Dia tersenyum hangat, menatapnya penuh ketulusan.

“Kurasa, kakimu sudah membaik, kan?”Tanyanya pelan,

Sementara Tiffany kecil masih sedikit terkejut, karena kehadiran sosoknya yang tiba-tiba. Cahaya memang selalu datang di setiap kali seseorang merasa putus asa dan ingin menyerah.


“Aku mencarimu,”Ujar Tiffany pelan pada Taeyeon yang kini duduk di sampingnya. Kedua gadis kecil itu

“Benarkah?”Senyum itu merekah hebat. Dia hanya sedikit tak menyangka bahwa sosok itu bahkan mecarinya.

“Kenapa?”Lalu Taeyeon terheran di detik berikutnya,

“Aku salah mengenai perkataan ibuku. Kau tidak mempunyai maksud buruk. Maafkan perkataanku hari itu,”

“Hanya untuk itu?”

Tiffany mengangguk pelan, “Tidak baik jika aku mengatakan itu pada seseorang yang sudah menolongku.”

Taeyeon tersenyum simpul, “Permintaan maaf di terima, Tiffany!”

Dia menoleh, “Bagaimana kau tau namaku?”

“Aku selalu mendengar ibumu memanggilmu untuk kembali.”


“TAEEEE!”

“Kau mempunyai ice creammu sendiri!”Tukas Tiffany sedikit kesal karna sahabat barunya baru saja ikut menjilat ice creamnya tanpa izin.

“Punyamu lebih enak.”Katanya justru menjulurkan lidahnya dan tertawa.

“Aku kan sudah bilang! Kau harusnya mendengarku untuk memesan rasa coklat!”

Namun, gadis kecil itu justru kembali meledek sahabatnya yang kesal dengan kembali melahap ice cream yang masih di genggamnya. Membuat Tiffany hanya bisa memasang wajah kesalnya lagi. Namun, lebih memilih untuk mengabaikannya dan menyantapnya lagi.

Mereka berdua menghabiskan sore bersama di taman ini dengan bermain bersama. Atau menyirami beberapa petak lahan bunga yang ada.

Keduanya menemukan banyak persamaan dan perbedan setelah dua minggu berteman secara resmi.

Taeyeon mengetahui bahwa Tiffany adalah setidaknya kebalikan dari dirinya yang sedikit aktif. Dia tidak terlalu banyak bicara kadang. Tetapi dia akan sangat cerewet ketika sedang kesal padanya. Tiffany akan berubah menjadi lembut ketika mereka tengah bermain bersama di danau atau taman bunga. Dia menyadari betapa sahabat barunya itu sangat menyukai bunga.

Matanya akan bersinar dan memancarkan kekaguman yang berlebih ketika menemukan bunga yang sangat indah yang terkadang tidak terlihat di hamparan taman yang luas. Tiffany akan langsung terkesiap kagum sembari mengatakan “Woah” dan Taeyeon kecil tidak bisa menahan tawa kecilnya setiap kali Tiffany seperti itu.

“Ini.”Taeyeon mengulurkan satu tangkai bunga, membuat Tiffany menoleh kearahnya dan menatap bunga itu untuk beberapa detik.

“Alstroemeria.”Tambah Taeyeon tersenyum simpul,

“Masih sejenis peruvian lily, favoritmu.”

“Ibuku bilang, arti dari nama bunga ini adalah kesestiaan dan persahabatan.”

“Aku mau kita berteman dalam waktu yang sangat lama, Tiffany.”

Tiffany kecil hanya bisa mengangguk ceria sembari meraih tangkai bunga itu. Dia sempat menghirup aromanya sebentar sebelum memberikan senyum terbaiknya pada Taeyeon. “Terimakasih, TaeTae..”


Tiffany menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Dia masih menatap layar telfon genggamnya. Dia baru saja membalas pesan singkat dari sahabatnya. Namun, ada sesuatu disana yang membuatnya merasakan hangat yang selalu mengelilingi hatinya.

[Taeyeon 08.07am] You looked beautiful today.

[Tiffany 08.10am] You didn’t even see me.

[Taeyeon 08.13am] Don’t have to.

[Taeyeon 08.13am] Meet me at park at 4?

[Tiffany 08.15am] Of course. See you, silly.

Tiffany tak bisa menyembunyikan senyumnya yang mengembang. Mungkin ini hanya masa-masa pubertas dimana dia bisa merasakan sedih dan bahagia yang terkadang melewati batasnya. Bahkan hanya dengan hal-hal kecil yang menjadi penyebabnya.

Tiffany tau, bagaimana dirinya akan menjadi begitu semangat ketika itu sudah mengenai semua hal tentang Taeyeon. Pertemanan mereka sudah menginjak angka ke tujuh, semenjak kali pertama pertemuan mereka saat mereka masih delapan tahun. Kedua remaja itu selalu bersama di setiap sore untuk sekedar bertemu dan bermain bersama di taman. Bahkan, dirinya dan Taeyeon telah menanam ratusan bunga yang bermekaran dan gugur dengan cara yang indah setiap tahunnya.  Kedua remaja itu hanya terus merasakan perasaan itu yang selalu ingin bersama. Tidak peduli bagaimanapun caranya.

Tiffany sendiri, dia bisa merasakan dunianya yang selalu saja terbalik bahkan terjungkal, dalam arti yang indah. Hanya dengan kehadiran Taeyeon disampingnya. Ini akan sedikit menyulitkannya untuk tidak melihat wajah itu untuk beberapa lama.

Pernah, ketika Taeyeon dan keluarganya harus pergi keluar kota selama dua bulan. Ia hanya terus berharap dan berdoa agar sosok itu cepat kembali dan bersama lagi dengannya. Tiffany bahkan tak bisa menahan lagi rindunya saat sosok itu berdiri tak jauh lima langkah darinya. Memeluk sosok itu dengan erat sembari menenggelamkan wajahnya pada pundak gadis remaja berambut coklat itu.

Seandainya seseorang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dia akan sangat berterimakasih.

“Yah! Benarkah dia mengatakan perasaannya begitu saja?”Tanya Tiffany sedikit membelalakan matanya. Taeyeon yang masih menyirami beberapa pot bunga itu hanya tertawa.

“Aku tau, kan? Kurasa dia sudah gila.”Jawabnya masih terkekeh. Tak menyadari eksperesi wajah Tiffany yang kini berubah. Ada gambaran khawatir juga perasaan  yang tak dapat di jelaskannya sendiri.

“Lalu.. apa yang kau berikan sebagai jawaban?”

Taeyeon menoleh kearahnya, “Apa lagi? Aku melihatnya sebagai sahabat, fany-ah. Bocah itu hanya tidak mau  menyerah.”

Mendengar itu, senyum Tiffany kembali mengembang. Ia bisa merasakan beban yang tiba-tiba jatuh di pundaknya merasa langsung terangkat begitu saja. Tak bisa di pungkiri bagaimana dia merasa kasihan pada sosok Jaehyun namun, lega karena sahabatnya baru saja menolaknya.

Mungkin aku sedikit egois, jika ini semua menyangkut tentangmu, Taeyeon-ah..

Tiffany lalu merasakan kursi di sebelahnya kini sedikit bergoyang. Dia menoleh untuk menemukan Taeyeon yang kini tersandar sembari membuang nafasnya kasar.

“Aku melakukan sesuatu yang benar, kan?”Tanyanya pelan sembari menatap Tiffany tepat di titik lemahnya. Kedua bola mata yang Taeyeon tau, akan sangat sulit mencari jalan keluar jika dia sudah tenggelam disana.

Tiffany menatapnya balik. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling memandang.

“A.. Aku…”Belum sempat Tiffany menyelesaikan perkataannya. Taeyeon sudah menyentuh wajah sahabatnya dengan satu punggung tangannya. Membelainya dengan gerakan perlahan dan lembut. Membuat Tiffany sedikit terkejut akan gerakan tiba-tibanya.

“You do, realize that you have beautiful pair of eyes, right?“Kata Taeyeon pelan tak meninggalkan pandangannya pada kedua mata itu.

Lagi, Tiffany mengutuk dirinya sendiri karena merasa seperti orang yang sangat idiot ketika Taeyeon sedang memujinya. Rasanya di dalam sana sedang ada keributan yang ia sendiri belum tau penyebab pastinya. Yang ia tau, rasa bahagia yang bergejolak hanya bisa datang tiba-tiba hanya karena hal-hal kecil yang Taeyeon lakukan atau katakan padanya.

Apa hanya aku yang merasakannya, Taeyeon-ah?

Mungkin, kali ini dia memang benar-benar sudah gila karena kini dia berhasil merasakan sosok yang di sampingnya mendekat. Bahkan, Tiffany mulai bisa melihat keseluruhan wajah Taeyeon dalam jarak yang sangat dekat. Ia benar-benar tersesat akan maksud gadis yang kini ada di depannya. Dia hanya bisa merasakan terpaan hangat nafas Taeyeon kali ini. Dia bisa dengan jelas melihat pandangan itu yang kini berkiblat pada bibirnya.

Is she…?

“Taeyeon-ah!”Panggil suara remaja pria dari jarak jauh. Membuat Taeyeon menarik kembali dirinya. Meninggalkan Tiffany yang kini masih mematung, mencoba mencerna hal-hal yang terjadi begitu cepat dan sangat tiba-tiba.

Gadis remaja berambut coklat itu lalu menoleh, di ikuti oleh Tiffany yang ikut mencari sumber suara itu. Keduanya menemukan Jaehyun tengah berdiri tak jauh dari gazebo taman.

Wait here,“Ujarnya pelan, sembari mengusap pelan punggung tangan Tiffany dan tersenyum.

Sementara Tiffany yang masih agak terkejut hanya bisa mengangguk lemah tanpa mengatakan sepatah katapun.

Dia terus memperhatikan sosok Taeyeon yang berjalan menjauh untuk menghampiri pria itu yang mempunyai postur tubuh yang sedikit lebih tinggi dari mereka. Dia mengerti betul bagaimana hubungan Taeyeon dan Jaehyun juga sangat dekat. Bahkan, dengan segala keodohannya, dia bisa merasakan dirinya yang tenggelam akan kecemburuan yang  begitu dalam hanya karna mendapati mereka tengah berdua.

Tiffany mengutuk dirinya sendiri karena itu.

Tanpa menarik pandangannya dari sosok Taeyeon yang kini terlihat bercengkrama, Tiffany masih terduduk. Dengan sejuta pertanyaan yang rasanya terus berlari-lari di kepalanya. Dia merasa begitu bingung, dan tersesat.

Ini benar-benar tidak seperti dongeng yang aku baca ketika kecil. Dalam dongeng, akan sangat mudah untuk menemukan pangeran menawan dan dia segalanya yang ku inginkan. Tapi, saat ini. aku menyadari bahwa pangeran itu tidak mudah di temukan seperti yang aku pikirkan dulu. Dia tidak mengenakan mahkota dan menunggangi kuda.

Melainkan, dia adalah seseorang yang sangat lucu, membuat ku terpesona, dan mempunyai rambut yang indah. 

Dia bahkan bukan pangeran.

Kenapa?

Saat itu juga, Tiffany berhasil menangkap sesuatu yang sama sekali ia tak duga. Ia bahkan hanya bisa terdiam merasakan sakit yang perlahan meluas. Mencabik setiap bagian hatinya hingga kepingan paling kecil.

Dia membelakakan kedua matanya ketika Jaehyun mengecup bibir Taeyeon dengan menarik wajahnya. Tiffany tidak bisa memungkiri bagaimana berantakan keadaan ruang hatinya kini mendapati Taeyeon hanya terdiam membiarkan itu terjadi.

Dia lalu bangkit dari duduknya. Tanpa memperdulikan air mata yang kini membasahi kedua pipinya. Dia berlari. Meninggalkan taman dan semua mimpi buruk yang baru saja terjadi di depan matanya.


Taeyeon tidak tau harus menunggu berapa lama lagi di bawah guyuran hujan ini, yang sukses membuatnya kedinginan dan merasakan sakit kepala yang menganggu. Ia hanya bisa terus berdiri di depan halaman rumah Tiffany sembari berharap gadis itu akan keluar walaupun dengan waktu yang sangat sebentar.

Dia bahkan belum sempat mengatakan tujuannya di taman untuk bertemu dengan gadis itu sore tadi. Dia belum menyampaikan maksudnya, hingga ia menemukan bangku itu kosong dan tidak ada sosok Tiffany lagi terduduk.

Taeyeon segera berlari meninggalkan taman itu dengan Jaehyun yang tertunduk  menyesal. Penuh kekecewaan juga luka di hatinya karena penolakan Taeyeon yang berulang kali.

Taeyeon bahkan sempat terjatuh melukai kakinya ketika dia berlari kerumah Tiffany. Namun, itu semua tidak seberapa sakitnya ketika harus mendapati Tiffany membuka pintu rumahnya dengan wajah yang sembab dan tersirat luka.

“You let him kiss you!”

“I’m sorry…”

“Don’t be.”Kata Tiffany terakhir sembari membanting pintu itu di hadapan sahabatnya yang hanya bisa menunduk.

Tetap saja, Taeyeon tak pernah mengerti akan situasi yang sering ia hadapi seperti sekarang ini. Walaupun, kali ini dia benar-benar berada di ambang kebingungan dan rasa bersalah yang hebat. Ia tidak tau kenapa dia merasa seperti telah menyakiti Tiffany dengan membiarkan Jaehyun menciumnya di hadapan gadis itu.

Ia tidak tau mengapa ia merasakan penyesalan juga rasa bersalah yang menusuk-nusuk ruang hatinya ketika dia melihat air mata itu turun dari kelopak mata sahabatnya.

Ia masih menungggu disitu dengan harapan yang hampir saja hilang.


Semenjak hari itu, Taeyeon tidak pernah lagi menemukan dirinya bersemangat untuk pergi ke taman. Ia tidak pernah mengukir senyum lagi di bibirnya untuk beberapa minggu.

Jelas saja, sumber kebahagiaannya selama ini selalu saja lari darinya. Dia tidak pernah bersama Tiffany lagi, mengingat gadis itu tak mau menemuinya lagi dengan sejuta alasan. Taeyeon akan mendapati dirinya yang menitihkan air mata sembari menatap bingkai foto mereka bersama di taman bunga. Ia hanya akan terdiam untuk waktu yang lama mengingat memori yang pernah mereka lewati bersama.

Menangis dan terus bertanya kenapa semua hal menjadi sangat berantakan. Ini hanya tinggal menghitung hari untuknya pergi dari kota ini. Tetapi, dengan segala kebodohannya, dia masih belum bisa memberitahu Tiffany mengenail kepindahannya.

Bagaimana tidak, walaupun mereka pergi ke smp yang sama. Taeyeon sangat sulit untuk menemui gadis itu. Tiffany biasanya akan berpaling dan berjalan melewatinya begitu saja. Bahkan, dia akan sengaja menggenggam tangan pria teman kelasnya dan berjalan di lorong bersama. Seantero sekolah memang sedang membicarakan bahwa mereka mulai berkencan,

Dan Taeyeon tak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia merasakan itu. Merasakan sakit yang selalu merangkak keluar dari ruang hatinya tiap kali dia melihat mereka berdua.

Dan tiap kali Taeyeon berada di dekatnya, Tiffany hanya tidak bisa menahan dirinya untuk terus lari dari sosok itu sembari menggenggam rahasia yang siapapun tidak ketahui. Termasuk dirinya.


“Dia baru saja pergi,”Lalu sosok itu hanya bisa terdiam. Tidak tau apa yang kini bisa di jelaskannya secara logika. Karena lagi, dia merasa hancur untuk yang kesekian kalinya.

Ini bukan rencananya. Bukan seperti ini.

Tiffany terduduk di bangku taman di tengah hamparan taman bunga yang luas di bawah langit sore. Rasanya sudah lumayan lama semenjak terakhir dia berada disini. Ia ingat sekali, untuk menyaksikan sahabatnya bersama seseorang yang lain. Dan dia meninggalkannya begitu saja tanpa memberi alasan yang jelas.

Ia tau jika Taeyeon pasti akan selalu berada disini. Jadi Tiffany, sebisa mungkin untuk tidak kembali ke tempat yang sama. Mengetahui bahwa hatinya akan terus memilih sosok itu walaupun situasi dan waktu yang tidak pernah memihak mereka.

Dia marah pada dirinya sendiri. Dia marah karena dia tidak dapat mengatur perasaannya sendiri. Dia merasa seperti orang yang paling egois dan bodoh di saat yang bersamaan.

Tetapi, baginya memang lebih baik untuk menjauh dari sosok itu daripada membiarkan perasaan itu tumbuh. Seperti melarang bunga lily untuk bermekaran, di saat musim semi. Dan Tiffany tau, tidak peduli seberapa keras ia mencoba. Pada akhirnya, bunga-bunga itu akan terus tumbuh dan bermekaran dengan indah.

“Seorang pria membeli dua belas bunga. Sebelas bunga pertama asli. Tetapi bunga terakhir palsu. Lalu, dia berkata kepada kekasihnya. Aku akan mencintaimu, hingga bunga terakhir mati.

Senyum Tiffany mengembang liar, dia terkekeh sembari menyikut sahabatnya pelan, “Cheesy, Taeyeon-ah.”

Lalu keduanya tertawa bersama di bawah langit jingga sore yang terbakar di khatulistiwa. Hanya bunga bunga yang mengelilingi mereka, yang menyaksikan dua insan muda yang belum menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mereka.

Tiffany memijit keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut.

Mengetahui bahwa Taeyeon tidak ada di sampingnya harusnya cukup. Tapi, mengetahui sosok itu kini berada beribu mil jauh darinya untuk waktu yang lama. Entah kenapa luka lama itu seperti kembali terbuka. Dia hanya berharap seseorang bisa menghentikan dirinya berlari mendekati kekacauan.

Yang paling ia sesali adalah, dia tidak bisa setidaknya mengucapkan salam perpisahan sebelum sosok itu benar-benar pergi meninggalkan kota. Ia hanya ingin sekali saja, mendengar lagi suara itu yang selalu berhasil membuatnya lebih tenang.

Dia merindukan sosok itu yang tak pernah gagal membuatnya tertawa dengan candaan lucunya. Dia merindukan sosok Taeyeon yang selalu ada di sampingnya, menjadi orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya bahkan dalam hal yang sangat kecil.

Bahkan, jika jutaan hal di dunia ini menjadi salah, Taeyeon akan menjadi satu-satunya yang membuat segalanya akan baik-baik saja. Itulah alasan kenapa Tiffany tidak pernah berhenti untuk bersyukur karena dirinya telah memiliki Taeyeon yang selalu di sisinya. Tidak pernah beranjak.

Namun, keadaan sudah berbeda dan dia tau, dia tidak akan pernah lagi bisa mengubahnya.

Andai saja dia tidak merasakan itu. Perasaan yang semestinya tidak ada sejak awal. Dia pasti tidak akan kehilangan sosok itu begitu cepat. Seperti di ambil darinya begitu saja hanya karena sebuah kecerobohannya.

Tiffany mulai menyadari, bahwa semua ini memang salahnya. Dia tidak seharusnya menjadi sangat egois akan sosok itu. Dia tidak seharusnya menjadi satu-satunya yang selalu mengharapkan kehadiran sosok itu di setiap saat. Ini semua salahnya. Semua sudah berantakan, dan dia hanya bisa terdiam meratapi perbuatannya. Dan perasaannya. ratusan bunga telah layu dengan satu sentuhan.

Dia mengedarkan pandangannya. Dia menyadari ada yang berbeda pada dinding gazebo. Dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri pahatan kayu yang kini terpajang di samping lampu taman. Dia tidak pernah ingat ada benda ini sebelumnya.

Tiffany sedikit memincingkan matanya ketika mendapati pahatan kayu itu terukir sebuah bait demi bait kata dengan tinta yang masih basah.

I’ve met a girl that makes me want to go outside and take long walks and watch the sunset. And she smells like flowers and reminds me of daisy and she talks about universe. And she’s not just some sad story told twice over, she’s fascinating and i fall in love for her a million times a day, over and over again and i’m scared shitless.

You’ll meet her, she’s very pretty, even though sometimes she’s sad for many days at a time. You’ll see, when she smiles. you’ll love her. 

And her name is, Tiffany.

Tiffany tidak bisa memungkiri dirinya yang  begitu terkejut ketika mengenali gaya tulisan ini. Dia bahkan sempat terdiam sejenak sembari kembali memastikan, bahwa kedua bola matanya kini menangkap sesuatu yang nyata.

Bulir air matanya lolos begitu saja, membasahi kedua bibinya yang kemerahan. Dia lalu berbalik, kembali mengedarkan pandangannya. Memanjatkan doa pada surga bahwa mungkin saja sosok itu masih disini. Memperhatikannya walaupun itu terdengar sangat idiot.

Tiffany harus kembali terjatuh dan menumpahkan air matanya sekali lagi ketika harapan itu hanyalah sebuah keajaiban semata.

Dia tidak tau… dia sama sekali tidak menyadari jika sosok itu juga merasakan hal yang sama. Aku… bukan satu-satunya yang merasakan itu, Taeyeon-ah?

Dia hanya bisa terduduk sembari terisak pelan, di tengah taman di sore hari yang tiba-tiba saja menjadi sendu. Tanpa sedikitpun menyadari sosok itu yang kini sedang memperhatikannya dari kejauhan, dengan air mata yang juga sudah membasahi wajahnya sedari tadi. Lalu dia berbalik dan melangkah pergi menjauh dari taman itu. Menghindari semua rasa sakit yang selalu tertahankan di ulu hati. Meninggalkan sahabatnya dengan sejuta pertanyaan yang mungkin kini menghantuinya.

Tiffany yang masih terlarut dalam tangisnya, meraih telfon genggamnya yang baru sjaa berderat menandakan ada pesan masuk. Dia kembali terkejut ketika membaca nama yang tertera di layar.

[Taeyeon 16.57pm]

i just want you to love me the way the  flowers love the sun.

I’m sorry. We’ll meet again, i promise.


“Kau tidak pernah bosan untuk kesana, huh?”Tanya Nyonya Hwang sembari menggelengkan kepalanya pelan.

Sementara anak gadisnya yang kini menduduki bangku perkuliahan itu hanya mengedikkan bahunya.

“Bagaimana aku bosan? Taman itu adalah segalanya, Mom.”

“Of course.”

“Apa kau menunggu seseorang?”Kini nada ibundanya sedikit mengejek putrinya. Tiffany hanya bisa menoleh dan menatapnya jengah.

“Mom.”

“Okay, okay.”

“You go. I’ll make dinner fast.”


“Tiffany!”Gadis itu menoleh untuk menemukan sahabatnya yang tampak berlari kecil menghampirinya.

“Oh, Jessie!”

“Aku sudah memanggilmu lebih dari seratus kali. Kau tuli!?”Katanya dengan napas tersengal kini berdiri di hadapannya. Tiffany hanya bisa memutar bola matanya cepat.

“Oh please, don’t talk nonsense.”

“Whatever, where are you going?”

“Park.” Untuk sesaat Jessica menatapnya dengan tak percaya.

“Kau menghabiskan hampir setengah hidupmu disana. What’s in there!?”

“Nothing.”

“Then, why!?”

“You know i love flowers.”

“There is something else, isn’t?” Kini giliran Tiffany yang terdiam. Dia berpikir sejenak untuk jawaban yang akan di berikannya. Dia tidak bisa memberi tahu yang sebenarnya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini adalah rahasia yang harus ia kubur paling dalam. “No.”

“Liar.”

“Whatever, i’m going.”Kata Tiffany sembari melanjutkan langkahnya meninggalkan Jessica yang masih sibuk mengendalikan napasnya dengan teratur karena berlari.

“Yah! Don’t forget about Jongin Oppa’s party tonight!”Serunya agak keras, namun kali ini Tiffany benar-benar memilih unuk mengabaikannya.

Ini sudah hampir enam tahun semenjak dia melihat sosok itu yang sangat di rindukannya sekarang. Dia bahkan sudah menduduki bangku kuliah. Namun, tak pernah ada kabar lagi dari sosok sahabat lamanya. Mengingat dia telah mengganti email dan nomor telfonnya. Tiffany tidak bisa berbuat apapun selain menunggu dan menunggu, janji dia untuk kembali.

Dia masih menggenggam kata-kata itu di setiap harinya. Jadi, di setiap ia membuka matanya, ia selalu menaruh kepercayaan bahwa sosok itu akan pulang. Walaupun harapan itu seakan menipis waktu demi waktu. Namun, Tiffany tetap percaya pada sosok itu yang tak pernah mengingkari janjinya sedikitpun.

Dia tau, ini semua hanya masalah waktu.


“What!? You must be joking!”

“I’m not!”Tiffany tau, ini bukan ide bagus untuknya menceritakan ini kepada sahabat-sahabatnya.

“Okay. Give me a minute.”Kata Sooyoung sembari berusaha mencerna semua cerita sahabatnya barusan. “Kau menolak banyak pria baik hanya demi satu orang?”

“Itu bukan hal yang penting!”Sela Jessica. “What matters it, you’re in love with your middle school bestfriend who happens to be a girl!?”

Think about it tiff. Kalian berdua masih remaja saat itu. Siapa yang tau jika itu hanya rasa suka biasa? You know what i meant.”

“You guys, just don’t get it.”

“Make us understand, then.”Kata Jessica menyilangkan kedua tangannya di dada. Tiffany menarik napasnya kasar. Dia hanya tidak bisa membicarakan topik ini dengan kedua sahabatnya yang keras kepala.

“Aku jatuh cinta tanpa tau apa itu cinta sebenarnya. Aku tetap merasakan itu. Aku tetap jatuh cinta pada sosok itu karena tidak ada yang bisa membuatku merasakan sesuatu seperti yang dia lakukan padaku, kau tau. Dia seperti seseorang yang datang menawarkan seluruh jagat raya ketika aku hanya meminta satu planet darinya.”

“But it’s young love, Tiffany!”

“So, is young love still stupid if we had old souls?”


But  you’re not middle school students anymore, for godsake!”

“Bagaimana jika dia bahkan sudah bersama orang lain dengan bahagia? Apa kau bahkan memikirkan itu?”

“Jangan menyia-nyiakan waktumu untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti, Tiff.”

Tiffany hanya bisa tertunduk layu. Dia mengedarkan pandangannya pada langit sore. Dia benci bagaimana kata-kata temannya mampu mempengaruhi dinding pertahanannya seperti ini. Lebih lagi, kebanyakan perkataan mereka memang benar.

Dia mulai berpikir bahwa dia harus menghentikan semua ini. Barangkali Sooyoung dan Jessica benar, dia hanya menunggu sesuatu yang tidak mungkin untuk kembali. Belum lagi, bayangan dimana dia melihat sosok itu mungkin telah menemukan seseorang di sampingnya.

Meninggalkannya yang masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang terus menghantuinya setiap kali ia membuka  mata. Namun, tidak bisa di pungkiri bahwa setiap kepingan kecil dari hatinya. Masih mengharapkan sosok itu untuk pulang, Kembali padanya.

Mungkin mereka benar, Taeyeon-ah…

Ini saatnya.

“You getting more and more beautiful each day, Fany-ah.” Demi kerang laut, Tiffany kini menghentikan langkahnya. Dia terdiam tepat setelah suara itu menerobos gendang telinganya. Ia tidak bisa memungkiri ruang hatinya yang seakan mau meledak kapan saja. Di satu sisi, di juga tidak yakin dengan sistem pendengarannya yang mungkin saja susah memburuk.

Bagaimana tidak, ini seperti petir di siang bolong yang menyambarnya lebih dulu. Tak pernah ada yang memanggilnya seperti itu selain satu orang. Satu orang yang mampu menjungkir balikkan hidupnya hanya dengan jentikkan jari. Satu orang yang ia ragu, akan kembali dalam waktu dekat apalagi pada detik ini. Dengan segala keberanian juga rasa penasaran yang menggebu. Gadis itu menoleh.

“Hey.”Sosok itu tersenyum.

Dan Tiffany tau, dia bisa mati kapan saja.

Bagaimana tidak. Mereka bertemu setidaknya ketika mereka masih menduduki akhir bangku smp. Dan mereka saling mengakui untuk jatuh cinta satu sama lain. Memorinya dengan kilat kembali terputar dalam benaknya. Dan untuk kesejuta kalinya, Tiffany berpikir bahwa dia kini sedang bermimpi. Seseorang yang baru saja menghancurkan harapannya kini berada disana.

Sosok itu kini nyata. Bernapas di sudut sana. Dia memperhatikan sosok itu sejenak, rambut coklat yang gadis itu punya, kini tergerai panjang di bawah bahunya. Tersenyum tipis namun hangat menatapnya. Dia bersumpah, sosok itu semakin cantik dan menawan di wajahnya yang kini terlihat dewasa. Perawakan remaja itu sudah tidak ada. Yang ada hanya Taeyeon, dengan segala kesempurnaannya tengah berdiri disana. Sosok yang ia tau, dalam waktu dekat akan kembali memporak-porandakan lagi hatinya.

Dia kembali disaat harapan itu telah hilang. Dia pulang disaat semuanya tampak tidak pasti dan buntu.

taeyeon snsd the best album (3)


bleeeeeh. sorry banget ya kalo ceritanya rada garing. tapi gue mau buat cerita ini se simpleeee mungkin. dan ringan. awal yang bagus untuk balik ke dunia ff, i think.

so, do you guys like it? don’t forget to comment below and like. bakal seneng bgt kalo banyak yang komen. sukur2 situ pada suka. kalo ga yawes.

bye. sarangek.

img_0014

ignya @jazzatta jangan lupa ya. okk

Advertisements

71 thoughts on “Little Things CHAPTER ONE BY JAZZ.

  1. Thor…mau nanya…ff nightlights udh tamat kah…atau masih ada lanjutan..gue suka bgt ff itu.romantis..

    Like

  2. Gahhh, so inlove with this story..
    Emg klo crta TaeNy bisa bikin semua org kebawa alur crta ny..
    Ok deh thor.. semangat utk next2 chap ny..
    And selamat thor jd maba hukum.. gw jg mahasiswa hukum tp udh tinggal skripsi doang..
    Sukses thor..

    Like

  3. ^^ gomawo thor telah kembali buat Kami yg dgn setiap menunggu ff mu kapan tayang dan ini satu hal Yg gak terduga bwgd, dgn bodoh nya pany menunggu sllu menunggu hal yg gak pasti bakalan pasti dia akan dateng wlpun banyak sekali orang diluar sana Yg mau menjaga dan ada dibtiap hari pany kpn ajj membutuhkan dgn entengnya hanya ingin menunggu janji seorang sahabat Yg mengukir tulisan di gazebo menyatakan rasa perasaan nya slma ini dgn sahabat masa kecilnya^^ gomawo thor

    Like

  4. gue mau baca ini dr kapan tau.. tapi tiap mau baca pasti ada yg gangguin.. dan sekarang akhirnya tuntas juga XD

    Ada skuelnya engga thor…?

    gue kalo di sini bingung mau komen apa.. soalnya pasti bagus ❤❤

    Like

  5. Siapa bilang cerita ini garing jazz hah tunjukin orangnya gw mau nenggelemin tuh orang😂😂 canda
    Euhhhhhh love this story
    Gw jd bingung mau comnent ap jazz soalnya nih keren sumpahhhhh seperti sebelumnya selalu memuaskan
    Semangat terus jazz, atta jg yaa
    Hwaitinggggggggggg

    Like

  6. garing dr mana euy, simple tapi enak ini ff. ini gmn ceritanya tiba” taeng balik gitu? tapi untung nya pas lah dia dateng waktu fany mau nyerah

    Like

  7. Kyk gni di bilang garing, ya gak bngt lah thor, ini keren bngt, bneran, kl critanya taeny gak prnah bosen lah, di tunggu klanjutannya ya thor

    Like

  8. gua pikir itu chap pertama bakal sad banget..tpi trnyta bagian akhir nga happy lagi.. taeny ketemu lagi yeeyyy !!!!

    Like

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s