Night Lights CHAPTER ONE By JAZZ

“I’m so sorry, Taeyeon-ah…”

Gadis berambut brunette itu hanya bisa menatap kekasihnya nanar. Pandangannya kini kabur karena air mata yang kini menggenangi pelupuk matanya. Ia hampir tidak bisa merasakan darahnya yang mengalir.

Semua ini terasa seperti mimpi buruk yang menghampirinya lebih dulu. Jika ini benar, ia memohon untuk di bangunkan. Ia hanya tidak bisa menghadapi kenyataan dimana dia akan segera kehilangan orang yang paling di cintainya di dunia ini.

“Apa aku melakukan kesalahan? Aku akan memperbaikinya, JI Eun-ah.. aku akan berubah untukmu.”Katanya lagi dengan air mata yang berlinang. Dia mencoba meraih kedua tangan kekasihnya lagi, sebelum gadis itu memundurkan satu langkahnya.
Dia juga kini tengah menangis. Hatinya juga hancur. Namun tak separah Taeyeon yang kini bahkan terjatuh di tanah dengan kedua lututnya. Terpejam sembari terus merasakan luka di hatinya yang meluas. Dia seperti hiasan yang sudah rapuh, namun orang lain memperburuknya dengan menjatuhkannya. Memecahkannya hingga kepingan paling kecil.

Sangat menyakitkan memang baginya. Satu-satunya orang yang bisa membuat suasana hatinya jauh lebih baik, namun dia juga merupakan alasannya kenapa dia menangis.

She loves her, and it’s killing her.

Stop it. Kau tidak melakukan kesalahan apapun.”balas gadis itu yang kini semakin terisak melihat gadis yang ada di hadapannya itu kini begitu hancur. Dan dia yang menyebabkan semua ini. Ia hanya tidak bisa menahan dirinya untuk berhenti menyakiti gadis ini. Disaat dia sudah memberikan segalanya yang dia butuhkan.

“Then, why you do this to me?”Katanya. Suaranya agak parau. Hampir tak terdengar.

“I’m so sorry…”


“MICHIL CUNE SEKAI AI AI AI AI AI~~~~”

Tiffany menutup kedua telinganya saat adik perempuannya mulai mengumandangkan lagu itu lagi dan lagi. Ini sudah ke lima kalinya di pagi ini adiknya tak berhenti menyanyikannya. Dan ke lima kalinya juga dia harus memaksa kedua matanya terpejam dan menyembunyikan wajahnya ke dalam bantal.

“OMG. JUST SHUT UP, BITCH!”Katanya agak keras, hingga terdengar oleh kakak laki-lakinya yang kini tengah melangkah melewati pintu kamarnya.

“TIFFANY! WATCH YOUR LANGUAGE!”

Kakak laki-lakinya kini memasuki kamar adik perempuannya sembari menarik selimutnya. Gadis itu benar-benar tidak memperdulikannya, dia justru menarik kembali selimutnya yang berhasil di rebut kakak laki-lakinya.

“YAH!”Katanya kini kesal setelah selimut itu benar-benar lenyap dari dekapannya.

Dia membuka kedua matanya untuk menemukan kakaknya sedang menatapnya dengan tatapan seribu kematian. “OPPA!”

“Minta maaf baru aku akan mengizinkanmu tidur lagi.”

“What? that is ridiculous.”

“Tiffany. That is not what older sister says with their little sister.”

“WELL, JIKA MEREKA MEMPUNYAI ADIK SEPERTI SARAH, AKU YAKIN MEREKA AKAN MELAKUKAN HAL YANG SAMA.”

“AKU MENDENGARNYA~”Kata adiknya dari luar ruangan sembari tertawa cekikikan. emosi pagi Tiffany semakin berkobar di buatnya “I DON’T CARE!”

Sementara kakak laki-laki mereka hanya  bisa menggelengkan pelan kepalanya sembari memutar kedua bola mata. Entah cara apa lagi yang harus di lakukannya untuk membuat kedua adik perempuannya mempunyai komunikasi yang baik dan harmonis.

Sementara Tiffany kembali melanjutkan tidurnya, Siwon hanya bisa membuang napasnya pelan sembari keluar dari kamar adiknya. Dia kini menemui adik perempuan kecilnya yang kini sedang bermain rumah-rumahan dengan banyak boneka di dalam kamarnya.

“Sarah, kau tidak boleh menganggu Tiffany tidur seperti itu.”Katanya pada gadis kecil itu yang kini mengerucutkan bibirnya. “Dia benar-benar menyebalkan. Oppa tau itu kan?”

“Arra… dia memang menyebalkan. Tetapi kau tidak mau jadi ikut menyebalkan juga, kan? seperti dia.”Balas kakaknya dengan senyum jahilm dengan suara yang benar-benar di pelankannya. Dia berlutut untuk menggapai adik kecilnya.

“Of course, not.”

“Nah, makanya kau harus menjadi adikku yang penurut dan baik. Mengerti?”

Adiknya hanya mengangguk pasrah. Melihat itu, Siwon hanya terkekeh pelan sembari mengecup kening adiknya cepat. “Alright. I’ll make you guys some breakfast. Okay?”

“Okay…”

caenshlwaaaghsl

Memang masih terdengar sangat kental cara mereka melafalkan bahasa inggirs dari awal. Maklum saja, mereka memang anak-anak dari pasangan campuran Amerika dan Korea Selatan. Ayah merereka merupakan seorang konsultan firma hukum, sebelum bertemu ibunda mereka  yang bekerja sebagai pengacara di firma yang sama. Mereka menikah dan membuahkan dua anak yang mempunyai paras yang sempurna seperti mereka. Mereka memutuskan untuk menetap dan tinggal di Amerika untuk menjalankan keluarga kecil mereka.

Selain karena hasil gaji yang di terima lumayan besar. Disana, kehidupan mereka cukup.  Walapun begitu, keempatnya hidup dalam bayangan mimpi indah, persis seperti bagaimana yang dongeng-dongeng ceritakan. Konflik memang sangat jarang terjadi, bahkan hampir tidak pernah. Hanya pertengkaran kecil antara adik dan kakak yang dialami Tiffany siwon setiap pagi. Mereka sangat bahagia, hidup di bawah satu atap yang terasa sangat tedua dan nyaman.

Mereka menghangatkan satu sama lain ketika musim dingin tiba. Dengan berbagi cerita dan candaan bersama setiap harinya. Jika hari terasa semakin berat, mereka akan ada untuk satu sama lain. Saling mendukung agar bangunan hati merkea tetap berdiri kokoh dan kuat seperti keluarga mereka.

Namun, sangat di sesalkan. Keluarga ini harus kehilangan sosok ibu yang sangat mereka cintai. Tepat setelah Carey Hwang melahirkan anak perempuan keduanya, Sarah. Dia harus meninggalkan dunia ini demi, putrinya bisa menghirup udara luar untuk pertama kalinya. Dia sempat menggenggam bayi kecil itu yang terlihat sangat rapuh dalam dekapannya. Mengecupnya, sebelum akhirnya dia memejamkan mata untuk selamanya.

Meninggalkan sang suami yang hanya bisa terus menangis di setiap malamnya sebelum tidur. Putri pertamanya yang bahkan sampai saat itu belum bisa menghapus bayangannya di setiap pagi. Puta yang selalu memanggil namanya di setiap tangisnya. Dan satu lagi makhluk yang lahir dengan sempurna, putri kecil mereka yang bahkan baru bisa membuka kedua kelopak matanya untuk pertama kali.

Sampai mereka mulai bisa melanjutkan lagi hari-hari mereka seperti sedia kala. Mulai bisa di dengar lagi, gema tawa mereka yang mengisi rumah itu yang kini di tambah dengan kehadiran anggota baru keluarga mereka yang baru bisa berjalan di lantai untuk pertama kali.

Lalu, siang itu, Tiffany yang sedang menjaga adik kecilnya dirumah. Setelah sepulang sekolah. Di kejutkan dengan kabar dari kakaknya yang kala itu sedang bersama Ayahnya dirumah sakit. Mengatakan bahwa Ayah mereka terlibat dalam tabrak lari. Dan pria paruh baya itulah yang menjadi korbannya.

Sekali lagi, ruang hati kecil Tiffany dibuat membeku dan mati. Lebih lagi, hancur, ketika panggilan berikut dari kakaknya yang mengatakan bahwa Ayah mereka juga telah pergi. Menyusul ibunda mereka yang sudah meninggalkan dunia ini lebih dulu.

Saat itu, Siwon yang masih menduduki bangku kuliahnya hanya bisa menjaga dua adik perempuannya dari segala marabahaya di dunia ini. Dia bersumpah, akan melindungi keduanya dari apapun yang akan menyakiti mereka. Dan berjanji, akan berada di samping mereka, apapun yang terjadi. Bahkan jika itu akan membuat setiap tulang dari tubuhnya hancur.

Dia akan bersama mereka. Apapun yang terjadi.

Setelah menyelesaikan sekolahnya dengan sungguh-sungguh. Harapan bahwa dia harus membawa dirinya ke tangga sukses demi menjaga kedua adiknya. Siwon berhasil meraih prestasi yang begitu membanggakan. Sehingga dia bisa bekerja sebagai seorang Dokter yang mempunyai penghasilan cukup, untuk menyekolahkan kedua adik perempuannya.

Namun, karena beberapa alasan dari rumah sakit. Siwon harus di pindah tugaskan di cabang mereka yang ada di negara lain. yaitu Korea Selatan. Negara dimana ibunda mereka berasal. Belum sekalipun, mereka menginjakkan kaki disana. Liburan yang telah terancanakan dulu, sering kali batal karena berbagai alasan.

Namun, kini mereka telah pulang ke tanah asal ibunda mereka. Bahkan, menetap disini untuk selamanya. Berharap, kehidupan mereka akan membaik setiap waktunya.


“Apa kau sudah memiliki tas sekolah, Sarah?”

Pertanyaan itu keluar dari bibir Siwon, saat ia memasukkan sesendok penuh daging asap ke mulutnya.

Dalam hatinya, Tiffany berkata. Jangan bercanda. Aku bahkan membelikannya dengan susah payah.

“Tentu saja dia punya.”Sambar Tiffany memutar kedua bola matanya. Sementara adik perempuannya hanya menjulurkan lidahnya. Dan itu membuatnya kesal.

“Aku punya tas punggung, Oppa. Warna Merah. Tapi ini bukan tas merah biasa.” Katanya, “Kau mau tau apa yang membuat tas punggungku ini tidak biasa?”

Siwon tampak penasaran, dia meletakkan sendoknya ke atas piring dan menyimak baik-baik perkataan yang akan Suri katakan.

siwon-151118-2

“Memangnya di tas mu ada apa? Buaya?”

Sarah tergelak. Sungguh, Tiffany tidak mau mendengar jawaban selanjutnya.

“Karena tas punggungku ada tulisan, KEEP CALM AND LOVE TAEYEON.” Katanya penuh kebanggan. Sambil sedikit membuka mulutnya ia lantas tertawa, membuat Tiffany bisa melihat isi makanan yang baru saja dikunyahnya.

“Oh, itu bagus. “ kata Siwon, dia tampak heran, “kau menyukai penyanyi itu, ya?”

“Jelas saja. Siapa sih yang tidak suka Kim Taeyeon?”

“Aku tidak suka,” katanyasukses membuat Sarah menatapnya tajam.

“Aku sedang tidak bertanya padamu, bodoh.” Ujarnya, lalu pandangannya fokus lagi pada Siwon yang saat ini kembali melanjutkan makannya.

Menurut Tiffany, Ini menggelikan.

Maksudnya, di tengah acara makan minggu pagi pertama mereka, tentu saja ini sangat menggelikan jika mereka harus membahas tentang Taeyeon-Taeyeon itu. Karena menurutnya, kalau sudah sekali saja Sarah mengatakan nama Taeyeon, Sarah tak akan bisa berhenti. Dia akan terus memuja gadis itu sambil sesekali cekikikan dan melonjak saking terobsesinya. Perbuatan yang sering sekali dia hadapi akan Sarah ini membuatnya tak repot-repot untuk sesekali memutarkan kedua bola mata, lalu menatapnya dengan tatapan jengah.

Dan tas punggung itu. Butuh perjuangan untuknya bisa membeli tas punggung seharga 50.000 won bertuliskan keep calm and love Taeyeon  yang Sarah akan pakai setiap hari. Butuh tenaga yang tidak sedikit untuk bisa membeli tas Merah itu. Panas nya Seoul yang menyengat, dan pegal kakinya untuk terus berjalan menelusuri pusat kota dan membelinya.

 Itu konyol. Padahal tas itu sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. katanya dalam hati.

i’ll go first. Nickhun sudah menjemputku.”Kata Tiffany sembari bangkit dari duduknya.

“Yah. Apa dia tidak akan menyapaku? dimana sopan santunnya?”Balas kakaknya agak kesal, “Kau berlebihan, Oppa. Aku pergi.”

“Aku duluan, anak nakal!”Katanya sekali lagi sembari menjulurkan lidahnya pada gadis kecil itu yang kini giliran memutar kedua bola matanya.


Jalanan tampak sepi dan Tiffany sama sekali tidak kaget. Ini sudah hampir jam sepuluh malam, dan dia sama sekali tak bisa menahan gemelutuk di giginya karena menahan dinginnya tempat ini.

Gadis itu sampai di supermarket sepuluh menit kemudian. Tidak ada yang menunjukkan jalan ke supermarket, karena dia hanya tinggal lurus dan supermarket akan terpampang jelas di tikungan jalan. Ia menapakan kaki memasuki supermarket itu.

Dengan cepat, Tiffany mengambil sebungkus roti juga mayonais. Tentunya dengan mentega dan selai coklat pesanan Sarah. Dan setelah semuanya beres dan masuk ke dalam keranjang, dia berjalan menuju kasir.

Ada satu orang aneh yang ada dibelakangnya saat dia ada didepan kasir, sedang menunggunya selesai membayarkan barang belanjaannya.

“Totalnya 42.900won.”Kata kasir dengan senyum masam yang ada di bibirnya, dia tampak sayu.

Tiffany segera merogoh bagian saku jaketnya. Dan mengernyit heran. Mati dia!

“Ah, tunggu sebentar,” katanya panik pada kasir yang tersenyum miring, dia panik bukan main. Tangannya berkeringat dan bergetar saat merogoh saku celana panjangnya, dan dia sama sekali tidak menemukan uang disana.

Bagaimana dia bisa membayar seluruh barang belanjaan ini?

“Hei, cepatlah!”

Dia menoleh,

“Biar aku tebak, kau tidak membawa uang, kan?”

Katanya  tajam, wajahnya sama sekali tidak tertangkap oleh pandangannya. Tudung jaket itu seolah olah menyembunyikan dirinya dari penglihatannya..

“Berapa total barangmu?”Tanya nya pelan, dia mengernyit.

“42.900won.”Jawabnya pelan sembari memasang muka paniknya. Dia merogoh saku celana jeans panjangnya cepat. Dan meletakan belanjaan-nya. Memasukan jari jarinya, mencari sesuatu.

“Ini. Bayarlah tagihan mu. Aku juga ingin bayar.” 

Tiffany menggigit bagian dalam pipi kanannya. sebuah kebiasan buruk yang dialakukan jika sedang gugup, sambil menunggu gadis itu selesai dengan barang belanjaannya dan hendak mengucapkan terimakasih.

Ya ampun. Kenapa dia bisa sebodoh ini?!

“Thanks,” katanya setelah gadis itu selesai dengan barang belanjaannya dan berjalan kearahnya, “Thanks karena sudah membayar belanjaanku. Tapi aku berjanji aku akan mengembalikannya. Secepatnya.”

“Lupakan saja.” Dia berkata pelan,

“Tidak usah diganti,” katanya, dan dia menatap­­nya lagi sebelum akhirnya dia melenggang pergi.

Dan…. Tadi itu semua wajahnya telah menyembul. Itu adalah sosok yang di segani adik-nya. sendiri.

Kim Taeyeon. Dia begitu congkak dan sombong. Ugh! Tiffany semakin membencinya.

Tetapi, Harus dia akui, bahwa sosok itu telah menyelamatkannya dari malu karena tidak membawa uang sama sekali di sakunya.

Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu dalam seseorang yang sama sekali tidak di kenalnya, yang berhasil membuatnya melewatkan beberapa detak jantungnya.


Tiffany sedang melanjutkan perjalannya, matanya terfokus pada telfon genggam yang kini terus berbunyi. Ada banyak pesan masuknya. Kebanyakan dari mereka terkiri dari teman, juga beberapa anggota keluarmya. Tiffany sempat memutar kedua bola matanya saat nama Sarah muncul di pop upnya.

Dia memintanya untuk cepat kembali. Dan Ini benar-benar menyebalkan, Tiffany baru saja menyadari bahwa ia meninggalkan gelangnya yang lebih dulu di lepasnya tadi karena sedikit mengganggu perkajaannya untuk meraih barang-barang belanjaan. Dia mengutuk dirinya sendiri karena ia telah berjalan lumayan jauh dari minimarket itu.

Namun, apa boleh buat. gelang itu adalan pemberian Sarah dan dia membuatnya sendiri. Ia hanya tidak mau esok pagi adiknya akan bertanya mengenai itu, dan melihat bagaimana ekspresi kecewanya karena dia telah menghilangkan benda itu.

Dia harus kembali.

Tiffany dengan malas memutar langkahnya, baru saja ia ingin memajukan kakinya lagi. Dirinya sedikit terkejut ketika mendapati seseorang yang kini  bersandar pada lampu malam. Dia bersandar pada tiangnya. Menatap jalanan yang kosong dan gelap.

15-10-2010_01

Gadis itu sempat takut dan ragu untuk berjalan melewati sosok itu. Karena kini dia sedang menggunakan hoodie capnya untuk  menutupi sebagian wajahnya.

Namun, setelah menendang batu kecil yang ada di dekatnya, sosok itu melepaslan hoodie capnya dengan kasar.

Dan Tiffany, bisa langsung mengenali sosok itu walaupun jaraknya yang tidak terlalu dekat.

Kim Taeyeon.

Sudah cukup untuk bertemu dengannya dengan kejadian memalukan, kini dia harus berada hanya beberapa langkah darinya. Apa lagi yang bisa membuat harinya lebih buruk dari ini?

Tiffany sendiri tidak akan pernah tau.

Dia baru saja ingin kembali melanjutkan langkahnya, namun, dia di buat terkejut karena suara yang masuk ke gendang telinganya kemudian. Gadis itu menghentikan laju kakinya dan menoleh kearah selebritis itu.

Yang dia tidak tau menau, kenapa dia sendiri di bawah lampu malam di tengah kota yang gelap.

Gadis itu menangis sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tiffany bisa mendengar bagaimana tangisan itu penuh dengan rasa sakit, bingung, mungkin juga pilu yang mendalam. Untuk sesaat dinding dingin yang membentang di hatinya seperti mencair karena mendengar itu.

Dia tidak tau apa yang dirasakannya sekarang. Dia bahkan tidak mengenal siapa Kim Taeyeon itu. Yang hanya ia lihat, dia adalah penyanyi muda yang selalu mengembangkan senyumnya lebar di depan kamera. Seperti hidupnya berjalan bahagia layaknya kebanyakan orang.

Tiffany bahkan tidak tau, kenapa justru itu malah berdiam di tempatnya sembari menyaksikan gadis itu yang kini terlihat sangat hancur. Suaranya yang biasa ia dengan sangat indah, kini menjadi penuh luka. Dan ini terus terngiang di kepalanya, bagaimana gadis itu mengeluarkan rasa sakitnya dengan isakan yang keras.

Ini sama saja dengan jam yang rusak, kau selalu bisa menyadari kapan benda itu rusak. Namun tidak seseorang, bahkan terkadang. Kau tidak bisa mengetahui bahwa dia tengah rusak. atau hancur.

Dan Tiffany, adalah gadis yang cukup mengerti. Jika sosok itu kini tengah mengalami hal yang buruk. Dan dia merasa sedikit khawatir. Dia merasa bodoh, untuk merasakan itu. Bahkan dia sama sekali tidak mengenalnya. Mereka hanya berbicara beberapa kata karena kejadian memalukan tadi.

Sosok gadis itu yang dingin sebelumnya, sama sekali tidak tampak di matanya sekarang. Yang ada, hanya gadis biasa yang penuh luka, juga kerusakan dalam hatinya yang kini terlihat sangat menyakitkan.

Tiffany tidak tau persis, apa yang mungkin tengah menghampiri kepalanya. Dia bisa merasakan kakinya yang ingin sekali melangkah mendekati sosok itu.

Namun, dia lalu bisa mendengar suara mobil yang datang dari arah jam tiganya. Dia tetap berada di tempatnya sembari menyaksikan gadis itu mulai menaiki mobilnya dengan bantuan seseorang berjas untuk membukakan pintunya. Entah kenapa, itu membuat Tiffany merasa sedikit lega jika gadis itu akhirnya pulang dengan selamat. ia hanya tidak bisa membayangkan seseorang tengah sendiri dengan keadaan hati yang sangat kacau.

Saat mobil itu mulai kembali melaju, Tiffany tak menarik pandangannya.

Dan saat itu juga, dia bisa bertemu dengan kedua mata yang kini terlihat penuh pilu itu lewat pantulan kaca mobilnya.

Bahkan, Tiffany bisa merasakan dirinya ikut membalikkan tubuhnya untuk tetap melihat kedua mata yang menenangkan itu. Dan dia bisa melihat dengan jelas, bahwa sosok itu juga tak menarik pandangannya, bahkan hingga mobilnya menjauh di jalan yang gelap hingga tak terlihat.

Dan, untuk pertama kalinya. Dia bisa merasakan jantungnya yang berpacu cepat. Seperti, dia melewatkan beberapa detakan jantungnya.

Kenapa… aku merasakan ini? Ujarnya hampir tak bersuara sembari menyentuh bagian hatinya yang di lapisi pakaian.


Gadis itu membuka kedua kelopak matanya ketia merasakan pantulan hangat cahaya matahari mulai mendarat di permukaan wajahnya.

Sial… kenapa aku masih mengingatnya?

Dan dia tidak bisa mengelak, bahwa kejadian kecil yang ia saksikan semalam masih tidak mau meninggalkan kepalanya. Masih terekam jelas di memorinya bagaimana gadis itu menangis dan terdengar penuh luka. Tiffany bahkan tidak bisa mengeluarkan tatapan teduh itu dari ingatannya.

Dia mengutuk dirinya sendiri untuk bertemu dengan sosok itu. Seharusnya, dia membawa uangnya dan langsung berjalan kembali. Kenapa ia begitu  bodoh, untuk melupakan benda penting itu?

Tiffany mencengkram helaian rambutnya sembari mengerang jengah.

“Argh!”

Karna tidak mau ambil pusing, dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya ke bawah. Mungkin dengan semangkuk sereal bisa membantunya melupakan hal itu.

Dia sempat menemukan adiknya yang kini juga tengah menikmati sandwichnya. Tiffany menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, lalu, sebuah pertanyaan juga mulai muncuk di fikirannya.

Apa yang akan Sarah katakan, jika aku memberitahunya bahwa si Kim Taeyeon itu benar-benar hancur semalam?

Dan lagi, aku juga tidak mau membuatnya berfikir tentang itu.

Tiffany menggelengkan kepalanya pelan dan menyingkirkan semua yang ada di sana.

“Oh, kau sudah bangun. Sereal atau sandwich?”Tanya kakaknya tiba-tiba ketika melihat adiknya sedang berdiri di anak tangga.

“Sereal, please.”

“Okay.”

Lalu ketiganya menghabisi waktu sarapan bersama sembari membicarakan tentang beberapa hal. Kecuali adiknya yang terlihat murung. Tiffany baru saja ingin menanyakan apa yang mungkin tengah menganggu pikirannya. Sebelum akhirnya Sarah mulai berjalan kearah ruang tamu dan menyalakan televisi  yang ada. Tiffany, sembari sibuk dengan telfon genggamnya mengikuti adiknya yang kini terduduk di sofa.

Dia masih memainkan handphonennya untuk membalas beberapa pesan dari sahabat juga pria yang kini tengah dekat dengannya. Dan dia, berniat berbicara dengan adiknya setelah ini.

Sebelum, akhirnya gendang telinga gadis itu menangkap sesuatu,

Dan di laporkan akibat kecelakaan tunggal ini. Ayah dan adik Taeyeon meninggal di lokasi kejadian, sedangkan Ibunya dalam kondisi kritis dan tengah di rawat di rumah sakit Il Won.”

Dengan itu, Tiffany mendongakan kepalanya untuk menaruh perhatiannya penuh pada televisi.

“Poor my Taeyeon… i really want to hug her so bad..”Tukas adiknya pelan, dia memang. Kini ikut merasakan kesedihan yang sedang di alami oleh idolanya.

Tiffany bisa mengerti, kenapa pagi tadi adiknya tidak berbicara satu patah katapun dan terlihat sangat murung. Ia bisa mengerti perasaan Sarah. Itu pasti akan kau alami juga ketika seseorang yang kau kagumi sedang di uji jalan cerita hidupnya,

“Sarah, memangnya kapan kecelakaan itu terjadi?”

“Uh… sekitar tiga hari yang lalu.”

Dan kini, puzzle itu telah terpecahkan di kepalanya. Tiffany tidak lagi penasaran akan apa yang terjadi dengan gadis itu. Dia bisa faham, bagaimana sosok itu merasakan sakit yang amat dalam karena ini. Dia bisa mengerti, kenapa hanya ada luka di sorot matanya semalam.

Kenapa sosok itu menangis di tengah malam gelap, sendiri mengeluarkan semua rasa pilu yang menghimpit dadanya. Tiffany bisa tau, sekarang. Jauh di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang kini juga menganggu keadaan ruang hatinya.

Dia merasa ikut sedih, bahkan khawatir akan kondisi gadis itu. Padahal, ia sangat membenci sosok itu sebelumnya. Namun, yang ia lihat bukan Taeyeon yang penuh kebahagiaan dan tawa di depan kamera. Atau dia yang dingin dan membuatnya jengah semalam karena ucapannya yang sedikit kasar.

Dia hanya menemukan sosok itu yang tengah hancur, sendiri.

Bagaimana tidak, di balik semua kesuksesannya. Dia harus kehilangan keluara tercintanya karena kecelakaan tunggal. Sama saja, seperti menusukkan pedang hunus yang tajam ketika mengetahui orang-orang yang di sayanginya pergi begitu saja. Dan Tiffany yakin, itu cukup melukainya hingga dasar hati yang paling dalam.

Karena, dia pernah merasakan itu.

Dia pernah berada di posisi sosok itu sekarang. Dia mengerti betul, bagaimana dunia akan terasa sangat kejam baginya. Dia tau, bahwa semuanya pasti terasa seperti mimpi buruk yang kini sedang menghampirinya. Matahari seperti enggan untuk menyinari lagi dunianya. Bulan, seperti menghilang begitu saja di balik rasa sakitnya.

Semua terasa sulit untuk di bayangkan. Karena, yang ada hanya luka yang mengelilingi ruang hati dan fikirannya.

Ini pasti akan lebih menyakitkan bagimu kedepannya, Kim Taeyeon.

Kau harus  bisa menahannya sedikit lagi.


“Jadi, kau di beri waktu selama dua minggu untuk mengambil cuti-mu, Taeyeon.”

Gadis itu hanya memikir keningnya yang tiba-tiba berdenyut. Ia hanya tidak bisa memikirkan apapun sekarang. Yang ia  tau, ia hanya ingin berlari dari kehidupannya dan mengumpat di balik semua rasa sakitnya.

Gadis itu, bisa merasakan keadaan ruang hatinya yang kini begitu rusak. Dia bahkan tidak bisa menangis lagi. Terasa sangat sakit, jika dia mencoba untuk kembali mengingat memori bersama keluarganya beberapa waktu lalu. Dimana mereka berempat masih menghabiskan makan malam bersama.

Dunia seperti terasa sudah berakhir, ketika dia mendengar kabar itu. Jantungnya seperti tidak mau lagi bekerja, semuanya terasa seperti mimppi buruk yang menghampirinya lebih dulu, bahkan di saat hatinya sudah hancur karena kekasihnya meninggalkan begitu saja.

Dia tidak bisa tau, bagaimana hidupnya akan berjalan lebih buruk dan hancur saat ini. Dia hanya tidak bisa menahan rasa sakitnya, ketika melihat satu persatu orang yang di cintainya pergi begitu saja dari hidupnya.

Ini semua terjadi begitu cepat, hingga ia sama sekali tak mempersiapkan dirinya.

Dia berpikir, bagaimana orang-orang bisa seperti itu? meninggalkannya, juga menghancurkan hati itu yang begitu lemah hanya dengan waktu yang begitu singkat.

Dia berpikir, bahwa dunia ini begitu membencinya hingga harus melakukan ini padanya,

Dia sama sekali tidak melihat ini akan datang, kejadian yang begitu membuatnya jatuh hingga titik paling bawah dari hidupnya.

Dia kini menyadari. Perpisahan yang paling menyakitkan. Adalah merela yang belum sempat mengucapkan selamat tinggal, dan juga, seseorang yang tak mau menjelaskan padanya. Alasan kenapa dia harus melangkah pergi dari hidupnya begitu saja.

dia hanya membiarkan rasa sakit itu. mengambil alih kemungkinkan untuk mematikan rasa sakit karena ditinggal sendiri, hanya dirinya.

“Baiklah,”Jawabnya hampir tak bersuara kepada managernya itu.

“I’m so sorry, Taeyeon-ah…”Ujar Pria muda itu sembari menatap seseorang yang sudah dianggapnya sahabat dengan tatapan pilu.

“I’m okay, Jonghyun..”

“You’re not…”

“I will get over it. It’s been a week.”

“Tidak akan semudah itu, Taeyeon. Kau akan membutuhkan seumur hidupmu untuk bisa melepaskan orang-orang yang kau sayangi. Kau hanya tidak bisa berlama-lama membiarkan rasa sakit dan memori itu  terpendam di hatimu yang dalam. Dan menyimpannya sendiri.”

“Aku tau… aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, Jonghyun-ah…”


“Ternyata telah di ketahui bahwa hubungan Taeyeon dan Ji Eun harus berakhir sekitar seminggu yang lalu. Tepat beberapa hari setelah kejadian naas itu menimpang keluarga Taeyeon. Ji Eun bahkan mengunggah fotonya bersama seorang pria yang kini di ketahui oleh publik adalah kekasih barunya.”

What a bitch! dia meninggalkan gadis itu disaat waktu dia sangat membutuhkannya!

Apa ada hal yang lebih hina dari seseorang yang beranjak pergi begitu saja meninggalkan gadis yang tengah hancur di atas semua kesedihannya?

Jika aku jadinya, aku bahkan tak akan memaafkannya sekalipun dia mencium kakiku setelah olahraga!

Tiffany tidak percaya dengan apa yang berita gossip itu kini tengah perbincangkan. Dia lalu melihat unggahan foto si Ji Eun-Ji Eun itu dan semakin mengutuk artis itu di dalam hatinya. Lalu kemudian, di tampilkan sosok Taeyeon yang terngah berjalan sendirian di tengah malam mengenakan topi dan masker yang menutupi wajahnya.

Untuk kesekian kalinya, dia bisa merasakan hatinya yang tenggelam karena merasa simpati pada gadis itu.

Dia juga, berfikir bahwa dunia ini sedikit tidak adil bagi gadis itu. Dia hanya manusia biasa setelah semuanya. Tiffany hanya tidak bisa membayangkan, bagaimana sosok itu harus menahan semua rasa sakitnya sendirian.

Tanpa ia sadari, ia kini tengah mengepalkan tangannya sendiri, sembari terus menyaksikan acara gossip itu.

Dia merasa begitu bodoh sebenarnya, untuk terbawa suasana karena kehidupan orang lain. Namun, tak bisa di pungkiri jika dia kini benar-benar merasa bahwa dia harus membunuh gadis itu karena telah menyakiti seseorang yang  bahkan sudah hancur lebih dulu, dengan kekejamannya.

Argh, aku mungkin sudah gila sekarang.

Lebih baik ke taman untuk saat ini, siapa tau gadis itu tidak akan mampir ke kepalaku lagi.

Dalam perjalanannya ke taman, Tiffany bisa melihat beberapa mobil yang kini terparkir di dekat tempat tujuannya. Dia sedikit heran, karena ini sore hari, seharusnya taman akan sepi dan bukannya ramai akan mobil-mobil orang kantoran.

Namun, ia mengabaikannya dan terus melangkahkan kakinya maju.

Beberapa detik kemudian, dia bisa melihat kumpulan orang dengan kamera mereka yang terlihat berlarian, sembari ricuh untuk mencatat dan seperti sedang mengincar seseorang.

Dan lagi, Tiffany memilih untuk  mengacuhkan itu.

Disaat dia mulai meletakan bokongnya du salah satu bangku taman, gadis itu mulai menyalakan musik dalam telfon genggamnya dan memasangkan headset ke telinganya. Dia terpejam untuk menikmati lagu yang sedang mengaluni telinganya.

Semua terasa begitu tenang untuk saat. Dia kembali membuka matanya untuk menemukan salah satu sosok yang akhir-akhirnya telah menganggu kedamaian ruang hatinya. Seseorang yang bahkan tak di kenalnya dan sama sekali tak pernah terbayang untuk bisa mengetahui lebih dalam sosok itu.

Gadis itu, kini tengah duduk di bangku taman, tepat di seberang tempatnya  berada. Namun, bedanya, kini mereka duduk berhadapan satu sama lain. Butuh beberapa langkah jauh untuk bangku yang memisahkan mereka.

Tiffany tau, jika gadis itu mungkin sedang berusaha melepaskan penatnya untuk sesaat, sama dengan dirinya. Namun, dia tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu lagi untuk kedua kalinya.

Tiffany kembali mengedarkan pandangannya untuk menemukan kumpulan orang kini sedang berusaha menggambil gambar penyanyi itu dengan kericuhan mereka. Bunyi flashlight yang sangat mengganggu dan kebisingan mereka, pasti merusak waktu tenang gadis itu.

Yah! tidak bisakah mereka mengerti bahwa dia membutuhkan waktu sendirinya?

Apa yang mereka pikirkan!? mereka sudah gila!?

Dia jelas-jelas sedang butuh waktu privasinya! 

Aish… kenapa aku yang repot sekarang!?

Tiffany kembali memejamkan matanya. Dia baru saja merasa tenang untuk sesaat, namun kini kebisingan di kepalanya mulai untuk menganggunya lagi. Dia menarik napasnya dalam setelah merasa lebih lega sedikit.

Dia kembali membuka kedua kelopak matanya perlahan,

Dan dia bisa menahan napasnya untuk beberapa saat ketika mendapati sosok itu yang kini terdiam dengan tenang. Tidak ada ekspresi di wajahnya kini.

Sejak kapan ekspresi datar seseorang bisa menjadi sebegitu mempesona?

Yah. Yah. Yah. Apa yang baru saja aku katakan!? Jjinja!

Tiffany menggelengkan kepalanya. Namun, entah kenapa pandangannya kembali pada sosok itu yang masih terlihat kalem, walaupun dia tengah menjadi sorotan utama puluhan kamera itu.

Lalu, Tiffany bisa melihat bola kaki yang kini menyentuh sepatu si gadis itu. Dan, yang selanjutnya cukup membuat Tiffany sedikit terkejut, karena sosok itu kini tersenyum dan mengambil bola itu dengan kedua tangannya. Sebelum, seorang anak kecil menghampirinya.

Tiffany mungkin tidak buta untuk melihat sosok itu kini tengah tersenyum hangat dan bergurau dengan anak kecil itu.

Dia tidak menyadari, bahwa dia sendiri kini tengah menarik sudut bibirnya untuk tersenyum saat menyaksikan interaksi antara dua orang itu.

Dan untuk pertama kalinya dia menyadari, bahwa… Kim Taeyeon mempunyai senyum itu yang mampu membuatnya melewatkan detak jantungnya untuk beberapa saat.


“Malam ini, telah di konfirmasi bahwa ibunda Taeyeon telah meninggal dunia setelah beberapa hari koma di rumah sakit Il Won.”

Tiffany menoleh untuk kembali melihat ke layar tv itu, dia merasa sedikit lega karena adiknya mungkin telah tertidur. Jadi, dia tidak menetahui kabar mengejutkan ini mengenai idola satu-satunya.

Semua terasa begitu cepat untuknya mencerna kata demi kata yang di ucapkan presenter saat ini. Dia, tidak bisa mengerti situasi yang bahkan tidak sedang melandanya.

Dia bisa merasakan perasaan sedih juga bimbang dan bingung yang kini di aduk dalam satu wadah hatinya. Ini aneh, untuk merasakan perasaan yang tidak pernah di rasakannya untuk seseorang yang bahkan  tidak di kenalnya.

Dunia ini benar-benar tidak adil untuknya…

Dia sempat berkata itu pada dirinya sendiri sebelum telfon  genggamnya berdering. Dia membaca nama kakak laki-lakinya yang tertera disana.

“Tiffany? bisakah kau mengantarkan berkasku yang ada di meja makan? aku meninggalkannya.”

“Tentu. Kau dirumah sakit sekarang, oppa?”

“Benar. Hubungi aku jika kau sudah sampai, Okay? Jangan lupa untuk memanggil Jeehyun untuk menjaga Sarah selama kau keluar.”

“Okay,”

Tiffany menggelengkan kepalanya pelan untuk menyingkirkan pikiran itu dari rekaman otaknya. Ini sudah seperti orang asing yang mampu mengganggu setiap kegiatannya dengan berkunjung ke bayangannya sesekali.

Lupakan itu, Tiffany.

Dia bukan siapa-siapa. Sadarlah!


Tiffany melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan unit gawat darurat ini untuk menemukan kakaknya. Dirinya memang sering berkunjung ke tempat kerha Siwon mengingat dia terkadang harus mengantarkan makan siang yang tertinggal dan hal-hal lainnya yang kakak laki-lakinya terus lupakan.

Dia mengibaskan rambutnya yang sedikit basah akibat terkena rintikan air hujan yang lolos dari payungnya. Ini benar-benar menyebalkan, dia harus mengantarkan ini di tengah hujan yang lebat di luar. Namun ia tau, bahwa kakaknya mungkin sangat membutuhkan dokumen ini.

“In Na! Apa kau melihat Oppa?”Tanyanya pada salah satu suster yang kini sedang berjaga. Mereka sudah berteman semenjak kali pertama Tiffany berkunjung.

“Oh? Tiffany? dia Mungkin di ruangannya. Baru saja ia keluar.”

“Okay, thanks!”Jawab Tiffany sembari tersenyum hangat pada temannya itu.

“No Prob, Tiff!”

Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya keluar pintu, seseorang menabraknya dengan gerakan cepat. Tiffany sempat meringis kesakitan karena kamera yang di bawa pria itu mengenai bahunya.

“Oh! Maafkan aku! Maafkan aku!”Katanya cepat sembari membungkukan badannya meminta maaf pada gadis yang baru saja di tabraknya secara tak sengaja.

Tiffany hanya mengangguk sembari sesekali meringis menahan sakitnya.

“It’s okay.”Katanya, lalu pria itu sekali lagi meminta maaf padanya dan mempersilahkan dirinya sendiri untuk kembali berlari. Tiffany bertanya-tanya, apa  yang mungkin ada di ruangan lain sehingga banyak orang berkamera yang berlarian.

“Tring!”

Tiffany merogoh sakunya untuk melihat pesan yang baru masuk.

Siwon : Tiffany, aku sedang sibuk di ruangan ibunda Taeyeon. Disini banyak sekali paparazzi. Jangan kesini, tungguhlah di tempat lain. Aku akan menghampirimu nanti.

Tiffany : Jadi, ibu si artis itu ada di rumah sakit ini?

Siwon : Aku kira kau menonton berita? Il Won. Sudah jelas ini tempatku bekerja.

Tiffany : Ah iya… benar juga… aku tidak menyadarinya.

Siwon : Baiklah, Oppa akan menghubungimu lagi nanti.

Tiffany lalu kembali memasukkan telfon genggam kedalam saku celananya. Di sempat berfikir untuk tempat dimana dia bisa menunggu kakaknya. Karena pasti akan sangat ramai disini nantinya. Paparazzi akan banyak berdatangan untuk memotret dan melaporkan keadaan terkini berita yang kini sedang memanas itu.

Ah… ini membuatku bingung.

Oh ya, bagaimana jika melihat tanaman yang aku tanam di atas rumah sakit? siapa tau beberapa sudah tumbuh, persis seperti yang aku harapkan.

Tapi diluar hujan, lebat… yah. Biarlah.

Benar saja, gadis itu bisa melihat keramaian yang kini terjadi di depannya. Keadaan begitu ricuh dan bising persis seperti di taman itu beberapa waktu lalu. Untuk sesaat, dia kembali bertanya-tanya dengan kondisi sosok itu, setelah kehilangan lagi, satu orang paling di sayangi dalam hidupnya.

Ini pasti sangat sulit untuknya…

Dia sempat berusaha untuk mencari artis itu, untuk beberapa saat. Sebelum hasilnya nihil, dan dia mulai melangkahkan kakinya lagi menuju lift. Namun, tidak satupun langkahnya berlalu tanpa nama itu terus terngiang di kepalanya.

Tiffany merasa sangat idiot sekarang. Dia membiarkan orang asing terus menginap di pikirannya hanya karena kehidupan pribadinya yang kini menjadi bahan omongan orang-orang.

Gadis itu kembali membuka payungnya saat ia mulai menarik gagang pintu menuju atap rumah sakit ini. Hujan yang lebat langsung mengguyur payung hitamnya. Dia mengalami sedikit kesulitan karena ini.

Tiffany mulai menapakan kakinya keluar, dia mengedarkan pandangannya untuk mencari pot yang di tinggalkannya beberapa waktu lalu disini. Tanaman yang ia beli ketika ia terakhir kali berkunjung disini.

Namun, apa yang kini pandangannya tangkap, sangat di luar dugaanya.

Gadis itu…

Kim Taeyeon.

Dia kini sedang terduduk memeluk lututnya sembar menangis dengan keras di bawah jutaan rintik air hujan yang menyerangnya. Suaranya parau terdengar karena suara hujan jauh lebih keras dari tangisannya.

Dan untuk kedua kalinya, Tiffany bisa melihat sosok itu hancur hingga kepingan terkecilnya. Ia sungguh tidak bisa tahan untuk melihat sosok itu lagi-lagi terluka untuk yang kesekian kalinya. Dan dia bahkan tak tau alasannya di balik semua itu.

Namun, kewarasannya tampaknya bisa mengendalikan dirinya yang kini ikut tenggelam akan hancurnya sosok itu.

Tiffany lalu dengan segala keyakinanya kini, melangkah cepat mendekati sosok itu yang selama ini sudah di perhatikannya. Tidak peduli betapa kerasnya ia mencoba menghindarinya.

Sementara, di sisi lain Taeyeon sama sekali tak menyadari bahwa kini ada seorang gadis yang berlari kecil menghampirinya. Dia terus menangis memeluk lututnya sembari menenggelamkan wajahnya. Membiarkan semua rasa sakit terus menghujamnya dengan ratusan pedang hunus yang tak bosan  untuk menusuk setiap bagian jantungnya.

“YAH! APA YANG KAU LAKUKAN!? KAU GILA!”

Mendengar itu, Taeyeon mendongak untuk menemukan paras seorang gadis yang kini menatapnya dengan tatapan tak percaya. Dengan payung hitam yang turur melindunginya dari rintik deras yang berjatuhan. Pandangannya agak blur karena air hujan yang lebih dulu jatuh dari helaian rambutnya.

“KAU TIDAK BISA SEPERTI INI DI TENGAH HUJAN! ATAU KAU AKAN–“

Belum sempat Tiffany menyelesaikan perkataanya, dia bisa langsung menyadari bahwa gadis yang ada di bawahnya kini sudah mulai menutup kedua matanya. Tiffany bisa melihat bibirnya yang sudah membiru karena kedinginan. Sebelum, akhirnya tubuh itu mulai jatuh dengan perlahan, Tiffany membuang payungnya ke segala arah dan membiarkan air hujan juga membasahinya.

Beruntung, karena dia berhasil menangkap sosok itu ke pangkuannya sebelum ia terjatuh ke tanah.

Sementara, masih dengan kesadarannya. Taeyeon masih bisa merasakan seseorang kini telah meletakan kepalanya di dalam pangkuan. Kepalanya terasa sangat sakit, tubuhnya tidak kuat untuk berlama-lama tetap bangun. Dia bisa merasakan seluruh dunia yang berputar.

Sebelum akhirnya dia sempat membuka kedua matanya untuk beberapa saat, kembali menemukan paras itu yang kini menatapnya penuh khawatir. Pandangannya semakin kabur-dan kabur karena air dan rasa pusingnya yang hebat. Ketika dia mulai menutup kembali kedua matanya, Taeyeon bisa mengenali wajah itu yang sangat mempesona jika dilihat dengan jarak dekat seperti ini, sekalipun pandangannya kabur.

Dia… adalah gadis yang sama di malam itu. Dan… juga di taman.

“Nah, sebagai rasa terimakasihku, Noona bisa membeli ice cream dengan gratis di sudut sana! itu ayahku yang menjualnya!”

“Benarkah? terimakasih, Jiwoong-ah!”Taeyeon mengacak-acak pelan rambut anak laki-laki yang baru saja di kenalnya.

Mereka berdua lalu terkekeh pelan,

“Noona, sebelum aku pergi. Aku mau memberitahumu sesuatu.”Katanya selagi mengisyaratkan Taeyeon untuk memberikan satu telinganya untuk mendengar bisikannya.

“Apa itu, Jiwoong-ah?”

“Gadis yang duduk disana, dari tadi dia memperhatikanmu.”

Taeyeon menoleh untuk menemukan seorang gadis yang kini mulai bersiap untuk meninggalkan tempat duduknya. Dia membereskan beberapa barangnya sebelum dia melangkah pergi. Namun, Taeyeon lebih dulu bisa mengenali paras itu. Paras yang sudah pernah di temuinya.

Wajah cantik, dari seorang gadis yang sempat tinggal di pikirannya untuk beberapa saat.

Taeyeon harus menarik sudut bibirnya untuk tersenyum ketika menaruh pandangannya pada punggung gadis itu yang lama-lama hilang dari pandangannya.


img_0014

sorry for any mistakes on this fanfiction of mine. please leave a comment, okay?

Oh, don’t forget to check our new instagram for the latest updates! @jazzatta 

Advertisements

108 thoughts on “Night Lights CHAPTER ONE By JAZZ

Ayo kasih komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s